Kamis, 21 Juli 2016

Jimmy Zombie



Terserah bagi kalian untuk percaya ada tidaknya vampir, manusia serigala, dan makhluk-makhluk yang kamu kira hanya rekaan pembuat cerita. Tapi jika kamu mau mengetahui kebenarannya, makhluk-makhluk dalam cerita horor itu benar-benar ada. Kenapa aku sangat yakin sekali dengan ini? Sebab aku adalah salah satu bagian dari mereka, ya, aku bagian dari mereka. Sayangnya aku tidak semenarik para vampir, atau maskulin seperti para manusia serigala.
Yup, aku bukan kelompok mereka. Tapi aku adalah makhluk yang kalian pandang sebelah mata dan menjijikkan. Aku adalah seorang yang kalian sebut sebagai ’yang-tidak-bisa-mati’, dan percaya atau tidak, aku hidup di antara kalian para manusia. Dan mungkin, aku adalah tetangga, teman, atau bahkan kekasih salah satu dari kalian. Namaku adalah Jimmy, dan aku adalah seorang zombie!
Zombie tidak bisa menulis? Wah, itu salah besar teman. Banyak cerita yang salah tentang kami, seperti yang mungkin ditayangkan di film, ditulis di novel, atau apapun yang tersebar di masyarakat.  Hmm, daripada aku menjelaskan ini, mending kalian baca saja cerita ini.

Oke, aku katakan apa yang aku ingat saja secara acak. Otak kami sudah tidak bisa berfungsi layaknya manusia normal, jadi aku tidak bisa berpikir terlalu keras.
Hmm, mari kita lihat. Ah iya, makanan. Kalian pasti menduga kami memakan cacing, bangkai, atau daging. Ugh, itu menjijikan sekali. Perlu aku tegaskan, itu tidak benar. Setidaknya aku dan orang-orang yang aku kenal tidak melakukan itu. Kami makan, namun hanya yang sangat mudah dicerna, sereal atau bubur untuk bayi. Yah, tubuh kami tidak sanggup untuk melakukan proses pelumatan makanan seperti saat kami hidup.
Tunggu sebentar, aku harus membenahi pakaianku dulu. Sekolahku tinggal beberapa meter lagi.
“Jim!” seorang remaja berumur enam belas tahun memanggilku. Meskipun kami satu kelas, tapi aku tidak akan memanggilnya sebaya. Umurku, jauh-jauh-jauh di atas Daniel, remaja yang memanggilku.
Aku hanya menoleh dan mengangguk. Bukan karena aku tidak bersemangat, tapi menjadi remaja berumur tujuh belas tahun entah sudah berapa puluh kali membuatku sedikit kehilangan emosi, atau aku pikir aku masih punya sedikit emosi di dalam tubuh ini.
Daniel sudah menjadi temanku sejak dia masih duduk di kelas delapan. Tidak ada yang spesial tentang dia, seperti bocah yang tidak menonjol lainnya. Tapi, di antara manusia lainnya di sekolah  ini, hanya Daniel yang mengetahui kalau aku adalah zombie. Yup, dia tahu betul bahwa aku bukan manusia. Bukan karena dia mempunyai kemampuan penyelidik, atau cenayang. Ayah Daniel, Bernie, adalah kenalan kaum kami. Atau lebih tepatnya, kami adalah pelanggan Bernie.
Menjadi zombie adalah sesuatu yang sangat-sangat mahal. Tidak seperti para pengisap darah, kaum zombie tidak mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan diri sendiri. Kami tetap menua, bukan, menua bukan kata yang tepat. Membusuk! Ya, membusuk adalah kata yang tepat.
Pembusukan atau kejadian tidak menyenangkan lain seperti tangan atau kaki putus, luka yang dalam, atau hal-hal yang serupa dengan itu adalah musibah bagi kaum zombie. Bukan karena kami akan tewas atau apa, tapi karena kami harus memperbaiki diri kami. Benar, memperbaiki. Tidak berbeda jika motor atau mobilmu penyok, kami harus membawa tubuh kami ke bengkel untuk mengganti suku cadang anggota badan atau ke body shop hanya untuk sekedar mempercantik tampilan luar kami.
Nah, Bernie adalah seorang penjual suku cadang yang cukup terkenal di kalangan para zombie. Entah darimana dia mendapatkan anggota tubuh manusia itu, yang jelas dia orang yang handal dalam memasang ulang anggota tubuh. Tidak diragukan lagi kualitas pemasangan oleh Bernie. Meski suku cadang yang dia jual tidak selalu bermutu bagus. Paling tidak, para zombie menyukai sentuhan tangannya dalam mereparasi tubuh.
Waktu itu, aku baru saja mengalami kecelakaan yang mengakibatkan aku kehilangan sepasang kaki. Aku pun pergi ke bengkel Bernie, dan sialnya, saat itu Daniel sedang dilatih oleh Bernie untuk menjadi pengganti dia kelak. Daniel yang mengenaliku karena kami berada di satu kelas, terdiam saat menatap ayahnya memasang sepasang kaki untukku.
Beruntung, Daniel sudah mendapat didikan dari ayahnya untuk tidak menceritakan kepada siapapun tentang para zombie, atau pekerjaan sampingan Bernie ini. Walau begitu, Daniel sering mempermainkanku dengan mengancam akan mengatakan kepada semua bahwa aku adalah seorang zombie.
Bisa saja aku mengelak dengan cara pindah dari tempat ini, tapi aku terlanjur menyukai tempat ini. Lagipula, aku baru saja mengganti suku cadangku dengan tubuh dan wajah baru. Akan menghabiskan banyak biaya untuk pindah ke kota lain hanya untuk ancaman seorang Daniel. Yah, paling tidak karena aku dan dia sering dianggap tidak pernah ada oleh teman-teman satu sekolah kami, aku merasa sedikit aman. Daniel juga akan berpikir puluhan kali sebelum mengatakan hal yang bisa membuat dia semakin dianggap aneh oleh yang lain.
Baiklah, ini adalah hari pertama kami menjadi murid baru di high school. Kata orang, hari pertama menjadi murid SMU adalah hari yang paling penting. Karena ini akan menandakan kamu akan dikenal sebagai apa sampai akhir hidupmu di sekolah ini. Apakah akan menjadi golongan kaum pesolek, tukang pamer perkakas mahal dan bermerk, golongan penggaet, bocah-bocah steroid, atau para kutu buku. Di sinilah para remaja membuat lingkaran kelompok mereka masing-masing.
Yah, selama tiga belas kali aku menjadi siswa SMU, tidak ada kesulitan. Ke-tidak-terkenalan-ku merupakan senjata ampuh, selain karena memang aku berusaha untuk tidak menonjol dan menyendiri.  Tubuhku yang bisa dibilang sedikit kecil, penampilan yang lusuh, kulit terlihat dekil, agak bau, muka pucat dengan garis hitam di bawah mata, bisa dibilang adalah alat penghilang alami jika kamu sedang berada di masa SMU. Tapi kali ini, aku merasa tahun-tahun di masa SMU akan berbeda. Bukan karena aku kembali menjadi teman satu sekolah dengan Daniel, melainkan karena kali ini para kaum bukan-manusia yang lain entah sengaja atau tidak sengaja, ikut meramaikan menjadi murid tahun pertama di sekolah ini.
Aku hanya bisa memaksa otak untuk memikirkan rencana agar tidak tersangkut-paut dengan apapun yang akan terjadi dengan kumpulan makhluk-makhluk itu. Walau firasatku mengatakan akan terjadi sesuatu hal yang membuatku akan sangat menyesal karena aku membatalkan niat untuk meninggalkan kota ini.
Yah, aku tidak tahu apakah pilihanku ini benar atau tidak. Alasanku untuk tetap bertahan selama beberapa tahun di kota ini adalah Claire, gadis berambut pirang yang sangat supel. Meskipun dia termasuk dari keluarga yang berada, gadis riang bertubuh semampai itu telah membuat jantungku kembali berdegup. Yah, mungkin kalian mengira aku berlebihan dengan mengatakan jantungku kembali berdetak. Tapi, perasaan yang disebut cinta ini datang begitu saja. Kalau para penghisap-darah, dan para manusia-serigala bisa merasakan cinta, kenapa kami kaum zombie tidak?
Bersama Daniel, aku menuju ke aula utama sekolah. Tidak ada yang aku kenali di sekolah ini. Meski sudah banyak sekolah yang aku masuki, namun sekolah ini tegolong baru di kota. Walau begitu, tempat ini selalu menjadi favorit bagi penduduk kota ini. Yah, kecuali kami. Tidak ada zombie yang mau masuk sekolah yang penuh dengan remaja-remaja yang ingin menjadi keren.
Sepasang pintu biru pucat menanti di akhir koridor, entah sudah berapa jauh kami berjalan. Kalau dilihat dari nafas Daniel, seperti lumayan jauh. Aku tidak bisa mengira karena kami zombie tidak mengenal yang namanya lelah atau kehabisan nafas. Satu lagi keuntungan menjadi seorang zombie.
Daniel mendorong pintu dengan bahu, setelah melepaskan tanganku. Sedikit keras, namun tidak membuat murid-murid baru yang sudah berada di dalam ruangan kaget. Aku tidak ingin kami menjadi pusat perhatian, dan Daniel juga mengetahui itu.
Di depan sana, beberapa pejabat sekolah sudah berada di atas sebuah panggung permanen setinggi satu meter. Satu buah mimbar kayu berwarna biru gelap diletakkan tepat di tengah panggung dengan sebuah mikropon kecil. Beberapa kursi lipat berjajar di bagian belakang panggung.
Aku segera mengambil earphone dari dalam tas. Meski ini baru pertama kali aku bersekolah di sini, aku yakin ceramah sambutan yang akan diberikan tidak jauh berbeda dengan sekolah-sekolahku dulu. Lagipula, aku berdandan ala anak emo. Pasti tidak ada yang akan protes kalau aku lebih memilih mendengarkan musik dari i-pod putih gading kesayanganku. Sementara aku lihat Daniel terlihat senang. Untuk pertama kalinya dia akan menjadi siswa sekolah menengah. Yeah, aku hanya tersenyum sinis. Tunggu sampai kamu berpuluh-puluh kali menjadi remaja, Daniel! batinku.
Walaupun SMA ini adalah sekolah favorit, namun kota kecil tetaplah kota kecil. Tahun ini secara keseluruhan hanya ada kurang dari empat ratus murid, dan itu sudah termasuk dengan mereka-mereka yang sudah di drop-out ataupun tidak pernah menampakkan batang hidungnya namun masih terdaftar sebagai murid. Yeah, walaupun ini bisa jadi keuntungan bagiku karena lebih sedikit orang, lebih sedikit tingkat ke-populer-anku.
Daniel mengajakku ke kantin setelah acara penyambutan selesai. Tempatnya tepat berada di ujung pertigaan koridor, sepasang pintu senada pintu aula menanti. Jendela bundar dari kaca menghias di masing-masing pintu. Sepertinya tidak banyak orang yang sedang berada di kantin. Aku tidak melihat keramaian, atau mungkin jarakku masih terlalu jauh untuk bisa melihat ke bagian dalam?
Daniel mempercepat langkah, lebih karena ketakutan daripada lapar. Aku yakin kalian semua pasti tahu, kantin sekolah adalah miniatur kecil dari kesenjangan sosial yang ada di masyarakat. Walaupun bukan itu yang aku bahas, melainkan keramaian yang ada di sana. Keramaian adalah pantangan bagi kami kaum zombie, kecuali kalau kamu sedang berkumpul ramai dengan saudara sesama zombie. Itu tidak masalah.
Aku yakin Daniel bisa menatap pandangan tidak mengenakkan dari mataku, jadi cepat dia mendorong pelan pintu kantin sebelah kanan dan masuk. Aku melirik dari celah pintu yang dibuka Daniel. Benar saja, kantin ini adalah medan yang penuh ranjau bagiku. Meski besar, tapi sangat-sangat ramai. Entah kemana masa-masa dimana semua orang lebih memilih makan di taman, di meja dan bangku kayu di bawah pohon.
Aku termangu sementara Daniel bergegas menuju antrian. Lebih cepat dia mengantri, akan lebih baik. Namun menunggu di sini juga bukan ide bagus, jadi aku segera mengikutinya.  Daniel menyenggol lenganku pelan, pandangan matanya mengarah ke satu titik. Aku mengikuti dan, sebuah desiran kecil melewati rongga dada. Seakan saat jantung kamu berhenti kemudian ada yang melakukan CPR dan jantungmu kembali berdetak.
Claire Hamilton, gadis yang sejak dua tahun lalu pindah ke kota ini dan satu kelas dengan aku dan Daniel saat SMP. Sekarang, dia satu sekolah dengan kami. Atau tepatnya aku memaksakan diri untuk satu sekolah yang sama dengannya.
Saking terpesona dengan kedatangan Claire, aku tidak sengaja menabrak seseorang yang sedang berbincang-bincang dengan teman-temannya di dekat antrian. “Ah, maaf.” aku reflek berucap, salah satu cara untuk menghindari masalah lebih lanjut.
“Maaf?” pemuda itu segera membalikkan badan.
“Wah.. wah.. wah, lihat ini. Anak baru. Santapan yang lezat di hari pertama sekolah.” ucap pemuda yang bertubuh lebih besar dariku itu. Aku rasa dia adalah senior di sekolah ini. Hah, kalau saja menjadi makhluk lain bukan hal menakutkan, akan aku tunjukkan surat tanda kelahiranku.
Teman-temannya tertawa, firasatku tidak enak. Daniel berusaha menarik lenganku, tapi sepasang tangan kekar menahan pundaknya. Pemuda itu mendekatkan wajahnya ke wajahku kemudian berkata pelan, “Masih ada lima belas menit sebelum bel pelajaran berbunyi. Mari kita bermain sebentar, adik kecil.”
Entah kenapa aku merasa bergidik, bukan karena aku takut akan disakiti. Tapi aku merasa, bocah ini juga bukan manusia. Aku mendengar sedikit eraman saat dia berbicara. Aku sangat yakin kalau orang ini adalah werewolf!
Segera saja dia menarik jaket biru usangku dan bergegas membawaku entah kemana. Teman-temannya mengikuti, aku lirik salah satunya mengancam Daniel agar tidak mengikuti.
Werewolf. Serigala jadi-jadian. Lycan. Manusia serigala. Banyak nama panggilan untuk makhluk-makhluk seperti Tim dan teman-temannya ini. Namun kaum kami menamai mereka Wilkardia yang terkutuk oleh darah serigala. Entah sejak kapan mereka berjalan bersama manusia normal, aku kurang mengetahui. Toh, aku juga tidak ingin mengetahui. Kapasitas memori otakku tidak perlu aku penuhi dengan hal-hal yang tidak begitu penting. Yah, mungkin bagi Dziekan, para tetua kaum zombie, sejarah para Wilkar mempunyai manfaat untuk diketahui.
Banyak hal yang sering dilebih-lebihkan tentang para Wilkar. Yah, aku akui mereka memang kuat. Bagi yang tubuhnya berotot seperti Tim dan kawan-kawannya yang kebetulan para pemain Football kebanggaan sekolah ini. Setidaknya itulah tadi yang disampaikan oleh Kepala Sekolah. Tim adalah Kapten Football, sekaligus Gelandang terbaik di tingkat SMA. Tapi tidak semua Wilkar bertubuh kekar. Ya, tidak semua. Aku pernah melihat Wilkar yang perawakannya tidak jauh berbeda denganku.
Oke, kembali ke masalah manusia serigala. Banyak yang mengira mereka bisa berubah bentuk menjadi seekor serigala besar? Aku hanya bisa bilang waw. Apa kamu percaya dengan itu? Kalau iya, berarti kamu termakan oleh cerita-cerita sebelum tidur. Hei, realistis! Jika memang benar para Wilkar bisa berubah bentuk, tentu aku adalah zombie yang menu hariannya adalah otak dan daging. Otak dan daging, huh, entah kenapa para pendongeng memberikan kedua benda itu sebagai makanan favorit kami. Seandainya aku tahu siapa orangnya, pasti akan aku kunyah sampai mati karena pencemaran nama baik.
Para Wilkar memang berubah bentuk, tapi tidak se-ekstrem yang kalian bayangkan. Perubahan hanya terjadi pada otot-otot mereka yang membesar, bahkan dalam satu cerita aku dengar pernah ada yang sampai membengkak. Kuping lancip, gigi taring, dan kuku-kuku tajam itu hanya imajinasi para penulis buku. Jangan bayangkan juga mereka berubah menjadi makhluk dua kaki dengan tubuh yang penuh bulu dan mempunyai moncong. Menurutku itu menjijikkan.
Hmm, satu hal yang aku akui sangat keren dari para Wilkar adalah peningkatan kemampuan indera penciuman, penglihatan, dan pendengaran mereka. Jauh di atas manusia normal. Bahkan insting mereka benar-benar seperti seekor serigala. Jadi, serigala jadi-jadian yang asli hanyalah manusia yang tiba-tiba menjadi kekar, kuat, dan cepat. Tidak jauh berbeda dengan para pemakai steroid. Bukan makhluk yang bisa berubah menjadi serigala saat purnama ataupun cerita-cerita lainnya. Ah, heran kenapa terkadang mereka terlihat lebih keren di dalam cerita daripada kehidupan nyata.
Sayang, kemampuan berpikir mereka tidak mengalami peningkatan. Mungkin jika kemampuan otak mereka bisa membesar seperti otot-otot mereka, keadaan akan menjadi lebih baik. Tidak seperti empat kawanan yang dengan suka ria sedang menarik, atau tepatnya menyeretku menuju satu tempat di sekolah ini yang aku yakini pasti sepi. Yah, sepertinya jaman sekarang para remaja sangat suka dengan yang namanya penggencetan. Entah kapan dan siapa yang menemukan ide brilian ini, yang jelas hampir semua remaja di sekolah melakukannya.
Trend ini juga tidak lepas dari empat sekawan Tim, Greg, Paul, dan Brad. Aku hanya mengetahui Tim, yang lain hanya aku tahu dari cara mereka memanggil. Tidak sempat untuk berpikir siapa pemilik nama siapa. Mereka memegangku dari belakang, dan mendorong aku maju ke suatu tempat. Hanya Tim yang berjalan dengan angkuh di depanku dan tiga temannya. Aku yakin dia adalah pimpinan kawanan kecil Wilkar ini. Semua perintah yang dia katakan, tidak pernah dibantah oleh tiga lainnya.
Beberapa siswa lain hanya menatapku dengan berbagai pandangan, ada yang merasa iba, ada yang tertawa, ada juga pandangan yang merendahkan. Entah merendahkan aku yang lemah, atau kelakuan konyol Tim dan teman-temannya.Semoga saja pilihan yang kedua.
Yah, kemungkinan untuk menjadi siswa autis dan tidak disadari kehadirannya sepertinya akan berakhir dalam hitungan menit. Meskipun aku sudah menunduk agar tidak ada yang bisa melihat wajahku dengan jelas, namun sepertinya Tim tidak akan membawaku ke tempat yang sepi. Karena jalan yang kami lalui semakin ramai dengan para siswa. Ini bukan balas dendam berupa adu jotos, ini adalah balas dendam dengan mempermalukan aku di depan semua orang.
Tiba-tiba, sebuah cengkraman kuat mendarat di salah satu tangan pemuda yang menarikku. “Hentikan, Tim. Dia sudah meminta maaf.” kata pemuda yang baru saja datang.
Pemuda yang dipanggil Tim terdiam, menatap sang penolongku. “Hei, Scott. Masih berlagak menjadi seorang penyelamat hah?” balas Tim. Mereka berdua saling menatap tajam satu sama lain. Mereka hanya berpandangan tanpa ada kata-kata selama dua detik, namun bagiku terasa seperti dua jam. Teman-teman Tim mendekat, dan aku mendengar lebih banyak eraman.  Scott hanya seorang diri, namun dia tidak merasa takut akan hal ini.
Dan wow, aku merasakan hawa aneh yang menakutkan muncul dari kedua orang itu. Kali ini sesuatu yang tidak aku bayangkan terjadi. Scott juga bukan manusia, bola matanya yang berwarna coklat terang tiba-tiba berubah menjadi merah pekat seperti darah. Scott adalah seorang vampire!
Aduh, sepertinya ini tidak akan berhenti hanya dengan perkataan, “Maaf, aku harus pergi ke toilet.”
Yup, benar sekali. Meski kalimat bodoh itu tidak sengaja aku lontarkan namun Tim dan Scott masih tetap saling beradu pandang. Aku tidak tahu harus melakukan apa. Bisa saja aku menghantamkan kepalaku ke kepala Tim, atau memberikan gigitan di lengan kekarnya. Walau gigitan kami tidak sekuat gigitan manusia serigala, paling tidak kami menggigit lebih keras daripada manusia.
“Scott! Tim!” sebuah suara lantang entah dari arah mana. Aku tidak bisa mengetahui persis, dan sepertinya kedua ‘teman’ baruku ini juga begitu. Aku sempat berpikir kalau ada seorang Esper, sebutan untuk orang  yang punya kemampuan paranormal, sedang berbicara ke dalam pikiran kami. Tapi ternyata tidak.
Tim berhenti begitu mendengar suara tadi, tiga temannya juga langsung berhenti. Tim melepaskan genggaman tangannya, seiring dengan Scott yang menarik cengkeraman di tangan manusia serigala itu. “Selamat Pagi, Ms. Anna!” sapa Scott sambil berlalu. Sementara aku masih menunduk, berusaha menyembunyikan diri. Seandainya aku seekor burung Onta, aku akan memasukkan kepalaku ke dalam tanah.
Aku tidak begitu mengerti, tapi seseorang berhasil membuat Tim dan Scott berhenti. Dari suara yang memanggil, aku yakin itu suara perempuan. Tim sepertinya kenal betul dengan wanita itu, atau mungkin segan lebih tepatnya. Aku terkekeh dalam hati. Rasakan, Tim! Tapi, Ms. Anna? Siapa dia? Aku jadi teringat pada Ms. Anna Green, wanita yang menerima kami di aula, yang ternyata adalah Wakil Kepala Sekolah, tidak heran dua makhluk-bukan-manusia itu tidak berani melawan. Aku masih belum berani mengangkat wajahku.
Suara langkah kaki mendekat dengan cepat menggaung di koridor. “Gregory Sullivan, Paul Simmons, Bradley Wilson!” jelas sekali sang pemilik suara hafal dengan nama-nama setiap siswa di sekolah ini. Sungguh kemampuan yang menakutkan.
Aku merasakan cengkeraman-cengkeraman yang memegang kedua lenganku berkurang setelah nama-nama tadi terlontar dari mulut seorang yang bernama Ms. Anna. Aku mendongak perlahan, namun yang aku dapati pertama kali bukanlah kaki jenjang seorang wanita dewasa dengan sepatu hak tinggi. Melainkan sepatu kets berwarna biru dengan paduan putih, dan jeans biru. Semakin aku menaikkan pandanganku, terlihat jelas pakaian yang dikenakan adalah pakaian remaja. Dan tentu saja, bukan Ms. Anna yang berdiri di depan kami.
Claire Hamilton, gadis berambut panjang hitam yang membuatku terpesona setiap kali melihat dia kini berhenti, dan berdiri tepat di depan kami. Baru kali ini aku bisa berada dalam jarak yang sangat dekat dengan Claire. Ya, bagiku sepuluh kaki adalah jarak yang sangat dekat. Mungkin kalau lebih dekat lagi, aku tidak yakin bisa menahan rahangku untuk tidak menganga, dan meneteskan air liur, secara harfiah.
Aku seakan melupakan sekitar, menguatkan kuda-kuda untuk berdiri tegap, dan menarik kasar tanganku dari cengkeraman tangan entah Greg, Paul, atau Brad. Heran, mereka juga tidak melakukan tindakan apa-apa. Seakan sama terpananya dengan aku.
Keheningan terjadi selama beberapa detik. Aku membenarkan jaket dan merapikan rambutku. Kabel earphone terlepas dari iPod, beruntung masih mengait di jaketku. Aku bisa saja berjalan pelan, dan pergi dari tempat ini. Namun, aku masih ingin melihat Claire lebih lama. Sangat jarang kesempatan ini ada.
“Selamat siang, Mr. Jimmy Zakrzewski.” sapa Claire.
Aku yakin sekali mataku terbelalak. Claire tahu nama lengkapku, atau nama lengkap samaranku. Ah, tapi sepertinya tidak masalah bagi dia. Baru saja dia mengucapkan empat nama senior di sekolah ini secara lengkap. Aku tidak tahu ada hubungan apa di antara mereka. Demi bubur gandum dengan madu, aku sangat-sangat ingin mengetahui lebih banyak tentang Claire.
“Apa yang hendak kamu lakukan dengan murid baru ini?” tanya Claire pada Tim sambil berkacak pinggang.
“Er, tidak ada Ms. Anna. Ka-kami hanya sedang bermain. Bukan begitu, um, Ji-Jim?” Tim tergagap sambil menoleh ke arahku dengan tatapan mengharap kerjasama.
Aku mengernyitkan dahi. Bukan karena si gagah Tim menjadi si gagap Tim, melainkan karena kata ‘Ms. Anna’ yang dia sebutkan. Apa dia sudah rabun atau gila? Aku semakin bingung. Pertama kenapa Claire bisa tahu tentang nama-nama lengkap kami. Kedua, bagaimana mungkin gadis yang berbadan lebih kecil dari Tim dan teman-temannya itu bisa dengan mudah membuat mereka gugup. Apalagi empat pemuda ini adalah Wilkar. Dan kenapa pula Tim memanggil Claire dengan sebutan ‘Ms. Anna.’?
Belum hilang kebingunganku, Claire melototkan mata. Memberi isyarat kepada Tim dan yang lain agar segera menjauh. Empat sekawan itu segera melangkah pergi, aku mendengar gerutuan kecil. Salah satu dari tiga orang yang berada di belakangku dengan sengaja menabrak punggung kiriku. Beruntung kuda-kudaku masih kuat.
Aku baru saja hendak bergegas melangkah menjauh setelah memeriksa barang-barangku. Barangkali ada yang hilang. Benar saja, iPod-ku tidak ada di mana-mana, tidak di saku jaket atau di kantung celana jeansku. Hanya earphone-nya saja yang tertinggal.
“Kehilangan sesuatu, Mr. Zakrzewski?” kata Claire sambil mendekat. Mengetahui aku sedang merogoh-rogoh semua saku yang ada di pakaian. Dia menjulurkan tangan, dengan sebuah iPod berwarna putih milikku.
“Ah, terima kasih!” kataku sambil mengambil iPod dari tangan Claire. Tangannya terasa lembut, atau mungkin hanya perasaanku saja yang membuatnya terasa berlebihan.
“Hati-hati dalam memilih teman di masa SMA ini, Jimmy.” nasihat Claire pelan. Entah kenapa dia berbicara dengan nada formal, sok dewasa dan berkuasa. Apa memang dia seperti ini aslinya? Yah, kamu tidak perlu mengatakan itu, Claire. Aku sangat-sangat memilih dalam hal pertemanan.
“Baik Ms. Hamilton. Sekali lagi, terimakasih. Untuk hal dengan Tim tadi.” kataku sambil memasang earphone ke lubang keluaran audio iPad.
Claire yang sudah berbalik dan hendak berlalu, tiba-tiba menghentikan langkah dan kembali membalikkan badan. Menatapku dengan tatapan tajam. “Kamu panggil aku apa tadi?” nada suaranya sekarang berubah menjadi nada seperti remaja umumnya.
“Ms. Hamilton. Ka-kamu Claire Hamilton kan?” aku sedikit panik. Akan aku gigit sampai mati diriku sendiri jika aku salah mengenali siapa nama asli Claire yang sebenarnya.
“C-claire. Si... Apa kamu sebenarnya?!” Claireatau entah siapa dia sebenarnya—terbelalak. Segera dia menarik lenganku, sedikit kasar namun tidak sekasar para Wilkar tadi. Sampai pada koridor yang sepi, dia mendorong tubuhku masuk ke dalam ruang tempat peralatan kebersihan berada.
Gadis itu ikut masuk, segera menutup pintu. Gelap. Namun terang langsung datang. Tapi bukan dari lampu yang ada di dalam ruangan ini. Melainkan dari seberkas api kecil biru terang yang muncul dari tangan wanita yang aku kenal sebagai Claire.
“Katakan apa kamu sebenarnya?! Kenapa sihirku tidak berlaku padamu, Tuan Zakrzewski?!” kata gadis api itu pelan namun terasa sangat mengancam. Apalagi aku sangat yakin kalau api sihir itu tidak hanya digunakan sebagai penerang.
Oke, sihir. Ini hal yang baru buatku. Entah aku harus bergembira atau merasa takut. Sekarang aku tahu rasanya saat seorang sukarelawan diminta untuk naik ke atas panggung untuk menjadi sasaran lempar pisau di acara sirkus pada saat karnaval.
“A-ku Jimmy. Jimmy Zakrzewski,” ucapku pelan. Suaraku tercekat di tenggorokan.
“Bodoh. Aku bertanya, APA KAMU ITU SEBENARNYA?!” Claire memegang leherku, mendorongku hingga aku tersandar pada dinding ruangan kecil ini. Dia mengangkat tangan apinya, bersiap untuk menghajarku dengan itu.
Aku akui aku sangat takut, tapi aku juga senang. Berduaan dengan Claire di tempat yang sepi, ditemani dengan nyala api. Jika matanya tidak melotot, mungkin benar-benar akan terkesan romantis.
“Tidak ada satu makhluk bernafas pun yang bisa menangkal sihirku. Kecuali mereka yang juga mempunyai kekuatan yang sama hebatnya denganku, atau lebih hebat,” geram Claire. Meski cahaya api tidak memberikan penerangan yang cukup, aku yakin aku melihat guratan-guratan hitam di wajah Claire.
Baiklah, itu menjelaskan segalanya. Claire adalah seorang penyihir. Mungkin dia tadi memberikan semacam hocus pocus kepada Tim dan teman-temannya, juga Scoot, sehingga mereka melihat Ms. Anna yang menegur mereka. Sihirnya bekerja dengan baik, untuk yang bernafas. Sayangnya, aku bukan makhluk hidup lagi.
Tidak ada cara lain menjelaskan kepada gadis ini kecuali berkata jujur. Toh, aku tidak mau mati konyol dengan dibakar. Lagipula, Claire seorang penyihir. Tentu dia mengerti tentang menyembunyikan identitas diri terhadap para manusia.
“Aku adalah zombie," kalimat itu meluncur begitu saja. Bukan karena aku lebih takut mati lagi, melainkan karena suatu perasaan yang membuatku sangat lega saat mengatakan rahasia ini kepada orang yang aku rasa aku cintai.
“Bóg-wąż? Kamu seorang bangkai-berjalan?” Claire mengerti nama asli kaum kami. Walau aku tidak begitu suka dengan sebutan dia yang kedua.
Dia menarik lengannya yang mencengkeram leherku, bergumam berkali-kali. Aku tidak begitu mendengar begitu jelas kecuali kata ‘Sial’, ‘Pantas saja’, ‘Bodoh’. Aku hanya menunggu sampai dia selesai bergelut dengan pikirannya sendiri.
Claire menatap lekat diriku. “Baiklah Jimmy. Kamu sekarang tahu siapa aku sebenarnya, dan begitu juga aku. Jadi aku harap kita sama-sama menjaga privasi kita ini. Oke?” nadanya setengah mengancam.
“Tidak,” kataku spontan.
“Apa maksudmu?” Claire tampak tidak suka aku melakukan ancaman balik.
”Harus ada bayaran untuk itu,” aku tersenyum.
”Kau!” Claire ingin melontarkan api di tangannya, tapi tidak jadi. ”Baik, apa yang kau inginkan?” tanyanya kemudian, masih dengan nada marah.
”Aku ingin tubuhmu, Claire.” kataku berani. Dengan santai kuraih tangannya, dan meremasnya pelan. Claire yang tersadar, segera menepis tanganku dan mendorong tubuhku menjauh.
”Jangan kurang ajar kau!” dia kembali mengacungkan api sihirnya. Wajahnya semakin pias dan memerah, menunjukkan perasaan marah.
”Sudahlah, Claire. Api sihirmu tidak akan menyakitiku. Kemampuanmu masih belum sehebat itu.” aku memojokkannya.
Claire terdiam. Saat kembali kugenggam tangannya, dia juga tetap membisu. Api di tangannya perlahan padam, membuat ruangan jadi sedikit gelap. Hanya cahaya buram dari jendela yang menjadi penerangan bagi kami berdua. ”Tapi hanya sekali ini, Jim.” kata Claire kemudian.
Aha, inilah saat yang aku nantikan. Dengan cepat aku mengangguk. ”Tentu saja, Claire. Kau bisa memegang janjiku.” bisikku sambil mulai membuka baju luarnya.
Aku kaget saat melihat Claire hanya mengenakan bra tipis model ikatan untuk menyangga payudaranya yang montok, juga g-string yang juga sama-sama tipis. Aku sampai membelalakkan mata melihat pemandangan indah itu. "Claire, kamu sangat menggairahkan sekali." kataku sambil merangkul pundaknya dan menuntunnya menuju meja yang ada di ruangan itu.
Bibirnya yang tipis langsung aku cium dan kulumat dengan penuh nafsu. Dia tergagap sesaat sebelum membalas lumatanku. Aku merasakan lidahnya menyusup ke dalam mulutku. Dan reflekku adalah menghisapnya. Lidah Claire menari-nari di mulutku. Sambil melumat, aku juga meraba tubuhnya. Kuremas payudara yang masih terbungkus bra tipis. Dia menggelinjang, menggeliat-geliat karena rasa nikmat yang luar biasa. Bibirnya terus kulumat, dan Claire menyambutnya dengan penuh nafsu. Kurangkul tubuhnya, bibirku lebih menekan lagi. Kusedot lidahnya, sekaligus juga ludahnya. Aku kembali meremas-remas kedua bukit buah dadanya, dan melepaskan ikatan branya. Kemudian aku mulai menjilati dan mengemut putingnya.
Claire rupanya tidak mampu menahan serangan ini, rintihan lirih perlahan keluar dari mulutnya. ”Ughhh... Jim!”
Tanganku turun untuk meraih g-stringnya. Dia makin tak mampu menahan nafsu saat jari-jari kasarku mulai merabai bibir vaginanya dari luar g-string, dan kemudian mencubit klitorisnya. Jariku meraih lubang vagina Claire, cairan kenikmatannya yang sudah mulai mengalir keluar menjadi pelumas untuk memudahkan masuknya jari-jari tanganku. Aku terus menggumuli tubuhnya dan merangsek ke putingnya lagi. Aku jilati dan hisap-hisap benda mungil itu.  Claire menikmatinya sambil merintih pelan. Kurasakan dinding-dinding vaginanya yang penuh saraf-saraf peka semakin basah dan lengket. Aku terus mengocoknya, hingga tanpa terbendung lagi, cairan cintanya mengalir dengan derasnya. Claire orgasme! Hanya dengan jilatan di puting dan kocokan jari-jari di liang vaginanya, aku berhasil mengantarkan gadis itu ke puncak birahinya.
Kepalaku diraih dan Claire meremasi rambutku. Aku dipeluknya erat-erat dan kukunya menghunjam ke punggungku. Pahanya menjepit tanganku, sementara pantatnya terangkat agar jariku lebih melesak masuk ke dalam vaginanya. Dia berteriak histeris. ”Aghhh... Jim, nikmat sekali!” Kakinya mengejang menahan kedutan liang vaginanya yang memuntahkan cairan bening. Keringatnya yang mengucur deras mengalir ke mata, pipi, dan bibirnya.
Saat telah reda, aku dengan mesra mengusap-usap rambutnya yang basah sambil meniup-niup dengan penuh kasih sayang. Aku sisir rambutnya dengan jari-jari, sementara Claire masih terlena di meja dan menarik nafas panjang-panjang. Aku terus menciumi dan menggesek-gesekkan hidungku ke payudaranya. Bahkan lidah dan bibirku menjilati dan menyedot-nyedot putingnya. Aku juga tak henti meraba-raba selangkangannya yang telah membanjir. Claire terdiam. Tampaknya dia berusaha untuk mengembalikan staminanya.
"Masih capek, Claire?" bisikku.
"Tidak. Tadi nikmat banget, Jim. Padahal kamu belum ngapa-ngapain, tapi aku sudah kelabakan seperti ini." jawabnya.
Karena jawabannya tadi, aku pun bangun dan melepaskan semua yang menempel di badanku. Dia sangat bergetar menyaksikan tubuhku. Bahuku memang bidang, tapi penuh dengan bekas jahitan. Begitu juga dengan lenganku yang kekar dan berotot. Pandangan Claire terus meluncur ke bawah, dan dia tampak makin terpesona saat melihat penisku yang besar, panjang dan keras, hingga nampak kepalanya yang bulat dengan sobekan lubang kencing yang berkilatan. Benda yang kata Bernie milik mantan bintang porno itu, terlihat sangat mengundang untuk diremas, dikocok dan diemut.
Sesudah telanjang, aku segera menarik lepas g-string Claire hingga sekarang kami berdua sudah sama-sama telanjang. "Claire, bulu kamu lebat sekali, pantas kamu tadi jadi liar." kataku sambil mengelus-elus jembutnya.
"Bukannya liar, Jim. Itu namanya menikmati,” selesai berkata, Claire mendorong tubuhku hingga ganti sekarang aku terbaring di meja. Penisku yang keras diremasnya, kemudian kepala kontolku dibasahinya dengan air liur. Claire meratakannya dengan menjilatinya pelan. Aku menggeliat kegelian. Dengan lembut diusapnya seluruh permukaan kepala penisku yang besar, aku melenguh karena saking nikmatnya. Digenggamnya pangkal penisku dan kepalanya yang basah mulai ia jilati. Sambil menjilat naik-turun, Claire juga mengocoknya pelan.
”Ughhh...” aku melenguh saat dia dengan lihai menjilati kepala dan leher penisku, semua daerah sensitif dijelajahinya dengan lidah, hingga akhirnya Claire mengemut kepalanya yang bulat bagai jamur dan mulai dikeluar-masukkan di dalam mulutnya dengan sepenuh hati.
"Claire, nikmat sekali hisapanmu," erangku sambil mengelus-elus rambutnya.
Tidak menjawab, Claire terus memompa mulutnya dengan lembut. Berkali-kali dia menjilati batang penisku, mulai dari pangkal hingga ke ujungnya, lalu terdiam lama di pangkal kepala. Sobekan lubang kencing yang ada di puncaknya dijilatinya habis-habisan. "Claire, nikmatnya... aah!" aku kembali mengerang.
Tak tahan dengan rangsangannya, aku tarik dia agar berdiri, lalu kembali kubaringkan tubuh mulusnya di atas meja. Mulutku segera mengarah ke celah vaginanya. Dengan lembut aku jilati daerah sempit itu. Pahanya kulebarkan supaya aku mudah mengakses belahan selangkangannya yang terlihat basah dan memerah.
"Aaah," ganti Claire yang melenguh keenakan.
Lidahku semakin liar menjelajahi lubang vaginanya. Bibirnya yang tipis kukuakkan dengan jari, klitorisnya yang mungil yang menjadi sasaran lidahku. Claire makin menggelinjang tak karuan. Nafasnya menjadi tidak teratur.
"Jim, ayo setubuhi aku!" erangnya meminta. Dari celah vaginanya kembali membanjir cairan bening. Aku segera menjilati cairan itu.
Setelah bersih, badannya kutarik dan aku segera menempatkan penis besarku di depan bibir vaginanya. Pelan-pelan kudorong dan kumasukkan sedikit demi sedikit, nikmat sekali rasanya. Vagina Claire terasa sangat sempit dan ketat. Saat sudah terbenam seluruhnya, aku mulai mengenjotnya maju mundur. Mula-mula pelan, tapi makin lama menjadi semakin cepat dan keras. Penisku amblas semuanya ditelan oleh vagina Claire yang sempit.
"Aah," erang Claire lagi saat aku terus saja mengenjotkan kontolku dengan kecepatan penuh, hingga akhirnya terasa vaginanya makin berdenyut mencengkeram batang penisku.
"Terus yang cepat, Jim. Aku mau nyampe nih, aah..." jerit Claire dengan liar.
Aku terus saja mengenjotkan penisku, sampe akhirnya, "Aah, Aku keluar, Jim! Ahh..." kembali Claire berteriak. Kurasakan semburan dahsyat dari liang vaginanya menyiram telak batang penisku.
Aku segera menghentikan genjotan. Kembali aku membelai-belai rambutnya dan mencium bibirnya dengan mesra. ”Enak, Claire?” tanyaku dengan penis masih menancap dalam-dalam.
"Mantab sekali, Jim. Hebat juga kamu, baru sebentar, sudah bisa bikin aku nyampe dua kali," katanya.
Aku mencabut penisku dan meminta dia untuk menungging. Claire segera melakukannya. Aku pun menancapkan kembali penisku, kali ini dari belakang. Pinggulnya kupegangi sambil menggerakkan lagi penisku keluar masuk dengan cepat, rasanya penisku masuk lebih dalam lagi ke vagina Claire, nikmat sekali rasanya. Claire membalas dengan menggerakkan pinggulnya maju mundur, dan juga sesekali memutar-mutarnya. Aku yang keenakan segera meremas-remas tonjolan buah dadanya yang menggantung indah dan memelintir putingnya. Claire yang kegelian menjerit-jerit karena nikmatnya.
"Sial kau, Jim. Kau apakan diriku?” tanyanya dengan suara parau.
Aku membalas dengan berbisik di telinganya, ”Claire, aku mau keluar nih, di dalam ya?" kataku sambil terus meremas payudaranya.
"Iya, terserah kamu." jawabnya sambil terus memaju-mundurkan pinggulnya untuk mengocok-ngocok batang penisku yang menusuk di vaginanya.
Sambil menciumi  bibirnya, kupegangi pinggul Claire yang bulat dan lebar. Kuayun kuat-kuat hingga gerakan pinggulnya semakin cepat dan brutal. Sepertinya dia sudah akan sampai lagi, kurasakan vaginanya kembali berdenyut-denyut kencang, "Jim, aku mau keluar lagi, bareng yuk?" katanya terengah-engah.
Terus kugerakan pinggulnya maju-mundur dengan cepat sampai akhirnya spermaku muncrat menyembur-nyembur di dalam liang vaginanya. Bersamaan dengan itu, Claire juga orgasme kembali.
"Nikmatnya..." erangku saat cairannya menyembur deras, bercampur dengan air maniku. Claire menelungkup lemas di atas meja, aku segera memeluknya  dan mengecup bibirnya, sementara kontolku masih menancap di dalam lubang vaginanya.
"Aku lemas sekali, Jim. Tapi nikmatnya luar biasa," kata Claire lirih.
"Yakin cuma mau sekali saja main denganku?” tanyaku menggodanya.
"Lakukan lagi, Jim. Aku menyukainya." jawabnya penuh harap.
Aku yang memang masih belum puas, segera membalik tubuhnya dan meremas-remas payudaranya penuh nafsu. "Kamu cantik sekali, Claire. Aku menyukaimu. Payudaramu besar dan kencang." kataku dan kembali aku mencium bibirnya.
Kami beristirahat beberapa menit sampai akhirnya aku bangun dan segera mengarahkan mulutku ke lubang vaginanya. Aku tahu titik kelemahan Claire ada di daerah itu. Aku kembali menjilati vaginanya. Ujung lidahku kembali menelusup masuk ke celahnya yang sempit. Rambutku segera diremas-remas dan ditekan-tekan olehnya. Claire meminta supaya lidahku lebih masuk lagi ke lubang vaginanya dengan menggelinjangkan pantatnya ke atas dan ke bawah. Kupegangi pahanya erat-erat agar dia tidak banyak bergerak. Claire akhirnya cuma bisa mendesah-desah nikmat menikmati jilatanku. Aku terus  merangsang nafsunya hingga aku merasa cukup. Aku pun melepaskan vaginanya dan kembali menaiki tubuhnya.
"Kamu kuat sekali sih, Jim. Baru saja keluar, sudah mau masuk lagi," kata Claire.
Aku tidak menjawab. Segera kugenggam batang penisku dan kuarahkan ke lubang vaginanya. Dia menggelinjang saat kepalanya yang tumpul mulai menyentuh dan mendorong bibir vaginanya hingga terkuak dan meluncur masuk dengan begitu mudah. Kemudian aku mulai melakukan pemompaan, kutarik pelan kemudian kudorong. Kutarik pelan dan kembali kudorong masuk. Begitu terus aku ulang-ulang dengan frekuensi yang makin lama makin cepat dan keras.
”Ahhh… Jim!” merintih keenakan, Claire mengimbangi secara reflek. Dia menggoyangkan pinggulnya seirama dengan genjotan penisku. Payudaranya yang besar berguncang-guncang. Segera kupegangi agar benda itu tidak menabrak satu sama lain. Aku tidak mau kalau aset Claire yang sangat berharga itu sampai terluka.
Keringat kami saling bercampur, mengalir dan berjatuhan di antara pelukan tubuh kami yang semakin erat. Aku dan Claire saling memandang, tapi tetap dengan goyangan pinggul yang sanggup membuat meja kokoh itu ikut berderak-derak seirama.
"Claire, nikmat sekali tubuhmu." kataku jujur.
"Burungmu juga enak, Jim, panjang... uh, besar lagi." sahut Claire.
Posisi nikmat ini berlangsung bermenit-menit, sampai akhirnya sodokan penisku semakin bertambah kencang dan cepat. Sambil meremas-remas payudaranya, setelah Claire keluar dua kali secara berturut-turut, aku pun menyemburkan spermaku kembali. Penisku berdenyut-denyut keras saat menguras semua isinya. Uhh... aku jadi lemas sekali. Aku langsung terkapar di lantai.
”Ayo pakai bajumu. Sebentar lagi bel berbunyi.” Claire mengingatkan.
Meski dengan agak malas, aku pun melakukannya. ”Kapan-kapan, aku boleh minta lagi kan, Claire?” tanyaku penuh harap sambil mengenakan lagi celanaku.
Claire menjawab sambil mengacingkan baju seragamnya. ”Kita lihat saja nanti.” Setelah selesai, dia segera berbalik dan membuka pintu perlahan, mengintip dari celah apakah ada orang lain di koridor. Dia dengan cepat membuka pintu. Aku simpulkan tidak ada orang lain.
Claire menarikku keluar tergesa, kemudian mengajakku berjalan berdampingan. Aku mengikuti saja. Toh, aku memerlukan dia untuk melindungiku dari kawanan Wilkar yang sekarang entah berada di mana.
“Ehm, Claire…” aku mendekatkan kepala saat berbisik. Claire mendeham. “Kamu sekarang jadi siapa? Ms. Anna, atau Claire si gadis berambut panjang yang aku su... eh maksudku, yang sering aku lihat saat SMP?” bahkan aku merasa pertanyaan ini konyol setelah aku berhasil menikmati tubuhnya.
“Kenapa kamu mementingkan hal itu?” Claire balik bertanya.
“I-itu, kalau kamu jadi Ms. Anna, tentu semua orang akan bertanya-tanya. Aku terlibat kasus apa sampai seorang Wakil Kepala Sekolah menggiringku,” aku menarik nafas sejenak. Dia tidak berkomentar. Aku melanjutkan, “Kalau kamu menjadi gadis cantik yang bernama Claire, semua orang juga akan bertanya-tanya. Kenapa si cantik mau berjalan berdampingan dengan si buruk rupa?”
Claire berhenti sejenak. Aku ikut berhenti. Sebelum dia sempat berkomentar, aku melanjutkan. “Maaf, tapi kedua-duanya bukan pilihan yang bagus buat aku. Kamu tahu kan, orang seperti aku harus berada di bawah radar semua orang. Kedua pilihan itu tentu akan membuat aku popular di sekolah ini.”
Dia tersenyum dan memegang pundakku. “Tenang, Jim. Aku hanya seorang petugas kebersihan sekolah,” ucapnya sambil kembali berjalan. “Tentu tidak ada yang akan bertanya-tanya, kan?”
Aku mengangguk dan semakin tertarik saja dengan gadis ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar