Selasa, 26 Juli 2016

Rahasia Ilmu Kebal

Cikalong, 1940

Mereka datang bertiga. Duduk mantap di atas punggung tiga ekor kuda yang melangkah hati-hati dan terkendali menempuh jalan setapak di sepanjang sisi gunung. Berlatar belakang tabir awan hitam pekat, para pendatang itu tak ubahnya tiga serangkai yang turun dari Iangit sebagai utusan setan penguasa kegelapan. Mereka memacu kuda masing-masing tanpa tergesa-gesa. Mungkin karena yakin misi yang mereka emban akan berjalan lancar dan sukses sebagaimana diharapkan. Tetapi, boleh jadi juga karena jalan setapak yang mereka tempuh sangat berbahaya.
Jalan setapak ciptaan alam itu selain sempit, juga licin bekas disapu hujan badai dinihari tadi. Keliru selangkah saja, akan berakibat fatal. Kuda bisa terpeleset, Ialu terlempar ke jurang di balik kabut tebal. Hilang lenyap bersama penunggangnya. Rohnya kemudian akan bangkit, untuk berkelana bersama roh-roh lainnya yang konon sejak ratusan tahun menjadi penguasa sisi gunung dimana kini mereka berada.

Dari lembah di bawah, kabut naik semakin tebal. Jelas sangat tidak bersahabat. Bukan saja pada ketiga orang penunggang kuda misterius itu. Melainkan juga, mendadak ikut tidak bersahabat terhadap Suparta, yang duduk mencangkung di depan mulut sebuah gua. Kabut menyebabkan Suparta tidak dapat mengawasi daerah sekitarnya. Sehingga ia mengalami kesulitan untuk dapat memastikan, apakah para pendatang itu bergerak sendirian. Atau hanya sebagai umpan agar teman-teman mereka, entah datang dari mana, bisa mendekati tempat persembunyian Suparta tanpa dicurigai.
Tetapi, mengapa pula Suparta harus kuatir?
Silahkan mereka datang berbelas-belas, bahkan kalau perlu berpuluh-puluh orang. Semakin banyak mereka, semakin gampang golok Suparta menemukan sasaran. Dan biasanya, bila korban mulai berjatuhan, maka yang masih tersisa akan lari serabutan menyelamatkan nyawa masing-masing. Namun, justru pemikiran ke arah itu pulalah yang membuat Suparta kini merasa tegang. Belum pernah ada yang berani menyatroni Suparta ke tempat ini. Selain karena jalan-jalannya berbahaya, juga karena tempat ini sudah dikenal sebagai daerah berhantu yang dikeramatkan sebagian penduduk desa di bawah sana. Suparta pun—mereka semua mestinya sudah pada tahu—kebal terhadap senjata tajam jenis apapun juga!
Hanya satu hal yang jelas mampu mendorong keberanian mereka.
Mereka kini memegang kunci yang teramat ampuh. Dan kunci itu, adalah Suparti.
Tadi malam gadis itu tak muncul di tempat pertemuan yang telah disepakati sebelumnya. Padahal tadi malam Suparta sangat bersukacita. Ia membawa oleh-oleh istimewa untuk Suparti. Daging menjangan muda—hasil buruan Suparta selama berhari-hari, yang ia kejar dari satu bukit ke lain bukit. Menjangan berkaki putih dan bertanduk putih. Yang jika dagingnya dimakan mentah-mentah dalam keadaan masih segar berdarah, akan membantu memulihkan penumbuhan kaki kiri Suparti yang pincang akibat diguna-gunai orang.
Yang didapatkan Suparta tadi malam, bukan senyum bahagia dari mulut adik perempuannya tersayang itu. Melainkan senyum kecut mengandung dukacita salah seorang kerabat yang memberitahu, bahwa sejak sore hari kemarin Suparti lenyap tanpa kabar berita. Terakhir kali orang melihatnya sedang mandi sendirian di pancuran. Ketika ia tak pulang-pulang ke rumah, barulah timbul tanda tanya. Lalu mereka temukan apa yang masih tersisa di sekitar pancuran. Bakul dan kain cucian Suparti berserakan di sana sini. Pertanda Suparti menghilang bukan atas kemauan sendiri. Dan jelas, dengan paksaan!
Suparta mengerdipkan mata agar embun dan kabut tidak membutakan pandangannya. Para penunggang kuda itu kini sudah muncul di tempat terbuka dan langsung menuju ke arahnya. Selintas, sempat timbul beberapa tanda-tanya yang menghantui Suparta sepanjang malam tadi. Apakah Suparti mereka culik hanya untuk dijadikan sandera, agar sewaktu ditangkap, Suparta tidak bertingkah macam-macam? Ataukah ada maksud-maksud tersembunyi di belakangnya? Sejauh mana mereka tahu hubungan mistis antara Suparta dan adik perempuannya itu?
Pertanyaan terakhir dibuang jauh-jauh dari benak Suparta. Bahkan Suparti tidak pernah tahu adanya hubungan mistis itu. Apalagi orang Iain. Mereka menyandera adik perempuannya, tak lebih hanya untuk maksud agar Suparta kali ini jangan coba-coba meminta lebih banyak korban untuk kemudian meloloskan diri lagi dan lagi. Pemikiran itu membuatnya lebih tenang.
Suparta bangkit perlahan, begitu para penunggang kuda berhenti tidak jauh dan mulut gua. Ia putuskan sebuah penyerahan sukarela. Dengan satu syarat dari Suparta: dipertemukan dengan adik perempuannya, yang kemudian harus mereka lepaskan dan biarkan ke mana Suparti ingin pergi. Dan diam-diam ia akan memberi isyarat atau kode-kode yang sudah mereka kenal, agar Suparti menunggunya di suatu tempat. Suparta akan berusaha meloloskan diri. Dan begitu bertemu dengan adiknya, mereka seketika itu juga hengkang sejauh mungkin dari daerah pegunungan yang sama-sama mereka cintai ini. Sebuah keputusan, yang mestinya mereka lakukan sejak dulu-dulu, ketika Suparta buron pertama kalinya.
Sewaktu memandang tamu-tamunya yang tidak diundang itu, diam-diam Suparta juga membulatkan tekad. Apabila adik perempuannya kelak ia ketahui terluka, maka Suparta akan menuntut satu tebusan nyawa musuh-musuhnya dari setiap tetes darah yang mengalir dari luka adik perempuannya itu. Siapapun yang berani menyentuh dan menciderai adiknya, mereka akan tahu rasa!
Ringkik kuda membuyarkan lamunan-lamunan Suparta.
la Ialu mengawasi ketiga orang utusan pemerintah yang duduk mantap di atas tunggangan masing-masing. Ketiganya mengenakan seragam resmi sebagai pasukan Kerajaan, lengkap dengan atribut, tanda pangkat, dan pedang yang gagangnya konon bersepuh emas murni. Yang seorang dari mereka, masih dilengkapi senjata tambahan sebagai pertanda bahwa dialah yang menjadi komandan pasukan mini itu. Yakni sepucuk pistol berlaras panjang.
Wajah-wajah bule di atas kuda, balas memandang. Wajah-wajah kaku, tegang, dengan sikap yang digagah-gagahkan. Karena Suparta dapat menangkap sinar lain di balik mata mereka: perasaan gentar yang berusaha mereka sembunyikan. Tiga pasang mata berwarna kebiru-biruan itu secara naluriah memandang serempak ke benda yang sama. Yakni golok yang terselip di pinggang Suparta.
Wajah-wajah bule di bawah naungan topi-topi lancip itu, tampak membasah. Mungkin karena sapuan kabut yang mengandung embun. Atau keringat akibat menempuh perjalanan panjang, melelahkan, dan berbahaya. Tetapi bisa jadi juga peluh itu ditimbulkan oleh kesadaran, siapa orang yang mereka hadapi dan kini harus mereka tangkap.
Tak seorang pun dari mereka berani membuka mulut terlebih dahulu. Suparta pun sengaja mengatupkan mulut rapat-rapat. Matanya memandang tajam ke mata si komandan. Saat itulah ia menyadari, mata yang ia pandang kini tampak berubah tenang, penuh kepercayaan diri. Bahkan dari balik sinar mata kebiru-biruan itu menyembur semacam perasaan puas.
Dan, mendadak Suparta dihinggapi firasat buruk.
Firasat yang sama pernah ia alami sewaktu ia masih pemuda tanggung. Ketika itu ia tiba-tiba terbangun di tengah malam buta karena sentakan firasat buruk. Esok paginya, ia temukan kedua orangtuanya mati terbunuh secara mengerikan di ladang mereka. Apa yang menghinggapi Suparta di tengah malam buta itu, berulang lagi pagi ini.
Jantungnya, berdetak kuat dan tiba-tiba. Tanpa sebab-sebab yang jelas!

***

Setelah menemukan kembali kepercayaan diri, komandan pasukan kecil itu akhirnya mampu juga membuka pembicaraan. Meski sikapnya digagah-gagahkan untuk memperlihatkan kewibawaan, toh suaranya bergetar juga sewaktu mengajukan pertanyaan: "Suparta bin Kartadireja?!"
Yang ditanya diam saja. Buat apa, toh mereka sudah tahu siapa dirinya.
Merasa dirinya disepelekan, si komandan hanya tersenyum tipis. Berusaha menekan perasaan terhina. Tangannya kemudian terulur ke bawah. Suparta melihat tangan bule itu bukan terulur ke gagang pedang atau gagang pistol. Melainkan ke dalam kantong perbekalan.
Ketika tangan itu terangkat Iagi ke atas, sudah tergenggam segulungan kertas. Jari jemari dilonggarkan sedikit, membiarkan gulungan kertas tebal tetapi lunak itu membuka sendiri. Tanpa melihal ke kertas di tangannya, si komandan berkata dengan gagah: "Surat perintah untuk menangkapmu, Parta. Hidup atau mati, atas tuduhan berbuat makar terhadap pemerintahan Ratu Yang Mulia. Dan atas tuduhan pembunuhan terhadap Kuasa Ratu di daerah ini, Kapitan Mario van Galen...!"
Kertas itu digulung kembali untuk kemudian dimasukkan lagi ke tempat semula. Si komandan meluruskan duduknya di punggung kuda, dan wajahnya tampak lebih berwaspada sewaktu mengeluarkan perintah bernada dingin menusuk: "Serahkan dirimu dengan damai, Parta!"
"Dengan syarat!" sahut Suparta, sama dinginnya.
"Kami sudah tahu..." jawab si komandan seraya menyeringai. "Syarat yang kamu orang kehendaki, ada disini...."
Tangan si penunggang kuda kemudian terulur ke gagang pistol, dengan gerakan hati-hati. Matanya dan juga dua pasang mata anak buahnya memandang kuatir pada calon tangkapan mereka. Tetapi Suparta tidak bereaksi apa-apa. la hanya diam menunggu, tanpa sedikit pun berniat menyentuh golok yang terselip dl pinggangnya.
Si komandan mengacungkan pistolnya ke arah langit kelam. Detik berikutnya, kesunyian gunung diledakkan oleh gelegar pistol yang membahana. Bunyi letusan itu seakan menggetarkan bumi tempat Suparta berpijak.
Sesungguhnyalah, yang bergetar adalah jantung Suparta.
Adik perempuannya ada di sini. Bersama mereka. Jauh di lereng gunung yang semua sisinya serba terjal, curam, berbahaya. la bayangkan penderitaan Suparti yang harus mendaki gunung dengan kakinya yang pincang. Sepanjang malam, tanpa berhenti, dan itu tentulah teramat sangat menyiksa.
Gaung bunyi letusan pistol yang memantul dari satu bukit ke lain bukit, seketika terasa bagaikan gaung kemarahan yang meluap dari balik dada Suparta. Untunglah selama buron, ia sudah terbiasa melatih kesabaran. Latihan yang menolongnya untuk tetap bertahan hidup, di tempat di mana jangankan manusia, bahkan tikus-tikus gunung pun seakan segan berkeliaran. la tetap diam, menunggu, dengan wajah semakin mengeras kaku.
Diantara sapuan angin di pepohonan, ia kemudian mendengar banyak langkah kaki mendekat. Datangnya dari arah berlawanan dengan jalan yang tadi ditempuh pasukan berkuda itu. Jalan pintas dari desa menuju lereng gunung ini, yang hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki, dan hanya oleh pengelana-pengelana gunung yang sudah terlatih.
Dari balik kabut muncullah rombongan itu. Semuanya ada lima orang, dengan Suparti menjadi orang keenam yang tampak sangat menderita. Sudah pincang, tangannya terikat pula di belakang punggung. Gadis kecil mungil itu tampak kumuh menyedihkan. Pakaiannya robek di sana sini. Belum lagi luka-luka gores yang darahnya sudah membeku akibat cuaca dingin. Mulut gadis itu dibungkam dengan segumpal kain kotor yang dibelitkan ke belakang rambutnya yang kusut masai.
Sepasang mata Suparti tampak tidak saja letih, tetapi juga putus asa ketika ia melihat saudara laki-lakinya jelas-jelas sudah masuk perangkap. Tetapi ia masih cukup tabah untuk tidak menjeritkan tangis, sementara Suparta berusaha keras pula untuk tidak menjeritkan amarah yang hampir tak tertahankan.
Suparta bermaksud mendekati adik perempuannya, namun keburu dicegah bentakan dingin si komandan:
"Maju selangkah lagi, adikmu mati!"
Dan memang itulah yang tampaknya akan terjadi, setelah Suparta melihat si pengancam di atas punggung kuda, kini sudah menunjukkan laras pistolnya. Langsung ke arah kepala Suparti.
Suparta menggeram dalam hati. la tekan nafsu ingin membunuh di dadanya. Lalu berujar lunak pada adik perempuannya: "Mereka tidak mengapa-apakanmu, Parti?"
Suparti menggeleng lemah. Geleng yang mencurigakan. Tetapi sinar mata Suparti menguatkan arti gelengan itu. Mereka tidak mengapa-apakannya, kecuali telah menyeretnya sepanjang malam ke tempat yang mengerikan ini. Suparta merasa sedikit lega. Tetapi sampai kapan? Dan bagaimana caranya agar mereka membiarkan Suparti pergi? Dan kalaupun permintaan itu dikabulkan, bagaimana Suparti turun gunung sendirian, dalam keadaan yang sudah sedemikian menyedihkan, dengan kakinya yang pincang pula?
Ganjalan yang merepotkan itu membuat Suparta mengalihkan pandang. Matanya berubah buas sewaktu mengawasi ke lima lelaki yang telah menyiksa adiknya. la mengenali mereka sebagai mantan centeng-centeng kepercayaan si asisten perkebunan, van Galen, yang kini rohnya mungkin sedang bergentayangan di sekitar mereka—mencari untuk dapat membalaskan dendamnya pada Suparta!
"Kiranya kau, Bajuri!' bisik Suparta, tajam menggigit.
Lelaki paling parlente dari kelima orang centeng itu, menyeringai gembira ke arah Suparta. "Kita bertemu lagi, bukan?" tanyanya, dengan suara setengah mengejek. Dan sebelum Suparta menangkap isi hatinya, Bajuri langsung menjura ke arah si komandan. Tampak sekali ia memburu waktu, tersirat dari ucapannya: "Kami menunggu perintah, Tuan!"
"lkat dia!" komandan bule itu menjawab pendek, tanpa mengalihkan moncong pistolnya dari arah jidat Suparta, dengan sepasang mata mengawasi hati-hati pada buronan mereka.
"Dengan senang hati. Tuan!" Bajuri mengambil alih Suparti dari cengkeraman anak buahnya, pada siapa ia meneruskan perintah. Untuk mencegah hal-hal yang tidak dikehendaki, goloknya dicabut lalu mata golok itu ditempelkan ke leher mulus Suparti, yang terpaksa mendongak saking ngerinya.
Terpaksalah Suparta membiarkan tangannya diikat oleh dua orang anak buah Bajuri. Tak seorang pun yang tahu, bahwa di balik kepasrahannya, mencuat kekuatiran yang muncul tiba-tiba. Ada apa di balik semua ini? Mengapa mereka bersusah payah menyeret Suparti ke sini, dan tidak menunggu Suparta datang untuk menyerahkan diri ke desa?
Kekuatiran Suparta kian menjadi-jadi, sewaktu melihat sebuah tonggak pendek dipancangkan salah seorang anak buah Bajuri ke tanah yang lembab basah. Setelah tonggak itu berdiri kokoh di tanah, Suparta setengah diseret ke sana. Ujung tali yang mengikat tangannya diikatkan erat ke tengah kayu tonggak. Dan sewaktu ia menatap kuatir pada adik perempuannya yang mulai mengucurkan air mata dalam tangis yang ditahan, tahu-tahu sepasang kaki Suparta telah terbelit tali, sehingga ia jatuh berlutut. Sungguh cara yang biadab mengikat tangan dan kakinya di belakang punggungnya, langsung ke tonggak kayu, sehingga Suparta benar-benar dibuat tidak berkutik.
"Apa maumu, Bajuri?" la bertanya, berusaha keras agar suaranya tetap tenang dan acuh tak acuh, meski kekuatiran dalam dadanya telah berubah jadi perasaan cemas yang aneh.
Bajuri tertawa pelan. Empat anak buahnya, sama tertawa pula. Lalu Bajuri ganti memandang si komandan berkuda, dengan sinar mata tak sabar.
Yang dipandang mengerti. Pistolnya disarungkan kembali, karena posisi Suparta yang terikat sedemikian rupa, jelas memperlihatkan situasi sudah aman. Bajuri pun menyarungkan golok pula, sementara si komandan kembali mengulurkan tangan ke kantong perbekalan di punggung kudanya. Dari kantong perbekalan ia keluarkan sebuah pundi-pundi, yang ketika dilemparkan ke arah Bajuri, memperdengarkan suara bergemerincing.
"Sepundi uang emas untuk pengabdian kamu orang pada Ratu Yang Mulia," ujar si komandan tersenyum. "Ingat peraturannya?"
Bajuri menjura dalam-dalam, kemudian menyahut gembira:
"Ingat, Tuan. Pancung kepala dibalas dengan pancung kepala pula!"
Habis berkata demikian ia bergerak cepat untuk mencabut keluar golok yang dari tadi dibiarkan terselip di pinggang Suparta. Perbuatannya itu sungguh mengejutkan lelaki malang tangkapan mereka. Barulah kini ia menyadari kenyataan sesungguhnya yang harus ia hadapi. Jawaban dari sekian banyak pertanyaan, semenjak ia ketahui mereka menyekap Suparti.
Jantung Suparta kembali berdetak. Makin kuat. Memukul-mukul di dalam, sedemikian hebat sehingga sekujur tubuh Suparta mendadak lemas, dan wajahnya berubah pucat. Semua kegagahan dan kegarangannya melenyap. Kecuali satu: sinar mata, yang kini tidak hanya memandang buas. Tetapi juga memandang penuh dendam kesumat pada manusia-manusia di sekitarnya, terutama Bajuri.
Bajuri sempat tergetar sewaktu matanya beradu dengan mata Suparta. Sekejap cuma, karena ia sudah menyeringai lagi. Lantas berujar mencemooh, "Sementara kau sibuk mencariku, kawan. Aku telah bertanya dan bertapa di sana sini, untuk mencari pula. Dan kini kau lihat hasilnya, bukan?"
Bajuri menyeringai lebar, sementara mata Suparta merah membara.
"Golokmu ini, kawanku!" kata Bajuri gembira, seraya mengamang-amangkan mata golok Suparta di depan mata pemilik golok itu sendiri. "Sungguh suatu ilmu rahasia yang hebat. Hanya dapat dimusnahkan oleh golokmu sendiri!"
"Oh ya?" sungut Suparta, memaksakan senyum di bibir.
Senyuman yang sia-sia, karena Bajuri sudah melanjutkan pula, "Aku tahu, kawan. Aku tahu! Aku tidak bermaksud mengabdikan diri pada Ratu secara cuma-cuma. Sebaliknya pun, aku tak bermaksud menerima hadiah cuma-cuma pula. Sepundi uang emas, kau lihat bukan?" lalu, dengan mata penuh kemenangan, Bajuri membuka tali pengikat mulut pundi-pundi, yang kemudian isinya ditumpahkan di depan mata Suparta. Berkeping-keping uang emas segera berjatuhan ke tanah, persis di depan lutut Suparta yang tertekuk tanpa daya.
Keping-keping emas itu bergemerlapan samar melewati mata Suparta, menari-nari liar dan penuh hinaan. Saking tak kuat menanggung hinaan itu, ia memalingkan muka. Dan matanya toh masih sempat menangkap satu keping dari tumpukan uang emas yang jatuh di tanah, menggelinding tak menentu ke arah tebing, untuk kemudian melayang ke lembah di bawah.
Hilang ditelan kabut.
Tiba-tiba mata golok menyentuh dagunya. Disertai suara menggardik dari mulut Bajuri, "Pandang adikmu, Parta! Pandang dia untuk terakhir kali, dan bersiap-siaplah untuk mati!"
Tidak ada yang mengeluarkan perintah. Namun anak buah Bajuri tampaknya sudah tahu betul apa yang harus mereka lakukan. Suparti yang tidak tahu apa-apa hanya mampu membelalak ngeri ketika bajunya yang sudah robek-robek, kini malah dikoyak-koyak. Mulutnya yang terbungkam, mengeluhkan jerit ngeri yang tak mampu keluar manakala tubuhnya dipaksa rebah menelentang dengan kedua paha dikangkangkan secara paksa.
"Jangan!" Suparta mendesah, lirih, kemudian berteriak marah, "Jangan kalian lakukan itu!"
Lalu ia berusaha melepaskan diri, yang ternyata sia-sia saja. Karena tubuhnya yang tertekuk berlulut itu tak mampu lolos dari ikatan yang kuat pada tonggak kokoh di punggungnya. Bajuri tertawa mengakak, sementara ketiga orang pasukan berkuda itu memperhatikan dengan mata penuh minat pada Suparti yang meronta-ronta liar dalam pegangan tiga orang laki-laki perkasa anak buah Bajuri. Orang yang keempat berdiri di antara kedua kaki Suparti yang mengangkang, sibuk menanggalkan celananya.
Dia memandangi Suparti dari atas ke bawah seakan matanya sedang mengagumi keindahan lekuk tubuh gadis itu. Payudara Suparti menonjol dengan begitu indahnya. Dia membuka sumpal mulut gadis muda itu.
“Tolong lepaskan saya! Jangan apa-apakan saya!” seru Suparti ketakutan. Bagaikan tersadar dari alam mimpi, dia bergerak berontak dan meronta-ronta, berusaha melepaskan pegangan di tangan dan kakinya. Namun sia-sia.
“Ehm, mulusnya!” Anak buah Bajuri mengelus-elus paha mulus Suparti. Perlahan gerakan tangannya terus naik ke atas pangkal paha. Lalu jemarinya bergerak halus menggesek-gesek selangkangan Suparti yang terbungkus celana dalam dekil.
Gadis itu sontak berontak meronta-ronta kala mendapat perlakuan tersebut. “Mmmphh… J-jangan!Wajahnya yang cantik menampakkan amarah yang amat sangat. Namun apa daya semua itu sia-sia akibat rejangan yang kuat di kedua kaki dan tangannya.
Suparta yang melihat semuanya, hanya bisa menutup mata dengan tubuh bergetar menahan tangis kesedihan yang mendalam. Dia tahu, kalau hari ini akan menjadi sejarah kelam dalam kehidupan mereka. Dilihatnya lelaki anak buah Bajuri telah melucuti celana dalam Suparti.
Lelaki itu berada persis di depan selangkangan Suparti yang telanjang, menatap penuh birahi ke sana. Kemudian dengan jemarinya pria itu menelusuri gundukan vagina Suparti dengan lembut.
Anak buah yang lain tidak ingin ketinggalan. Pakaian Suparti yang telah terbuka kancingnya hingga menyembulkan sepasang buah dada nan ranum indah, sekarang menjadi bulan-bulanan permainan tangan mereka. Dengan gemas payudara itu diremas dan putingnya dipilin-pilin kuat. Tubuh Suparti hanya menggeliat pelan dengan mata terpejam kala mendapat perlakuan tersebut. Hanya isak tangis tertahan saja yang keluar dari dalam mulutnya.
Untuk beberapa saat tubuh indah Suparti menjadi hiburan yang mengasyikan bagi para pria bejat itu. Buah dadanya diremas, dijilati dan dihisap-hisap. Begitu juga liang vaginanya, seseorang dengan rakusnya menguak benda sempit itu, lalu menjilati serta menghisapnya. Tak ada bagian tubuh Suparti yang lolos dari jamahan tangan dan mulut jahil mereka.
Suparta yang mendengar jeritan adiknya, hanya bisa mengutuk dalam hati atas tindakan bejat pria-pria tersebut terhadap Suparti yang masih suci.
Sesaat Suparti menarik nafas lega kala pria-pria yang menjamahi tubuhnya berhenti beraksi. Namun mata gadis itu tiba-tiba terbelalak ngeri kala lelaki yang sedari tadi membuka celana, kini menampakkan penisnya yang nampak tegak mengacung ke atas.
“Hei, pegangi kakinya!” lelaki itu berkata. “Aku mau memperkosanya sekarang!”
Seketika Suparti kembali meronta-ronta ketakutan, namun sia sia. Mereka segera memegangi kedua kakinya. Kemudian lelaki yang telah telanjang bulat itu duduk bersimpuh tepat di depan selangkangan Suparti. Sambil tertawa mengejek, laki-laki itu mulai menggosok-gosokkan penisnya tepat di ujung bibir kemaluan Suparti seraya menikmati ekspresi ketakutan gadis cantik itu.
Suparti yang seumur hidup belum pernah mengalami hal ini, menjerit tertahan di dalam hati. Terutama ketika akhirnya penis besar berurat itu perlahan membelah bibir serta memasuki liang vaginanya.
Terima ini, Parti Ugghh!” Pria itu berjuang merobek keperawanan Suparti.
Wajah cantik Suparti nampak mengernyit seraya kepalanya mendongak ke belakang menahan sakit. Dan beberapa saat kemudian kontol laki-laki itu pun sukses membobol keperawanannya. Nampak darah segar mengalir keluar dari pangkal paha Suparti.
Semua orang tertawa melihatnya, kecuali Suparta. Dia menangis keras dalam hati.
Sesaat kemudian Suparti hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dengan frustasi saat penis pria itu mulai bergerak maju mundur di liang vaginanya. Rasa sakit, malu, marah dan menyesal bercampur aduk di dada gadis itu.
“Aakkhh... s-sudahh… s-sakkitt… ookkhh!” pekik Suparti memohon agar berhenti diperkosa. Namun semua teriakan, tangisan dan rontaannya, malah makin membuat pria itu bertambah brutal mendorong masuk penisnya, sehingga tubuh Suparti terguncang-guncang di tanah.
Bajuri yang sedari tadi berdiri, ikut membuka celana dan tanpa basa-basi mendorongnya masuk ke mulut Suparti yang sedang kepayahan menahan sakit. Jilat! Emut! Awas kalau berani gigit!” ancamnya seraya menjambak rambut Suparti.
Kontol yang besar, panas, serta asin itu memenuhi rongga mulut gadis itu, membuat Suparti tersedak-sedak kala penis Bajuri mencapai batang tenggorokannya. Menghalangi jalan masuknya udara. Sambil memaju-mundurkan penisnya di mulut gadis itu, dengan kasar Bajuri mencengkeram rambut Suparti.
“Ookkhh… emmphh…” hanya bunyi itu yang keluar dari mulut Suparti kala kontol panjang Bajuri maju mundur di dalam mulutnya. Dia hampir saja kehabisan nafas, beruntung sekali penis di mulutnya itu tidak terlalu lama berada di dalam.
“Akkhh… terima inihh!” seru Bajuri yang tiba-tiba saja menyemburkan sperma. Cairan putih kental itu mengisi mulut dan tenggorokan Suparti, membuat gadis pincang itu tersedak-sedak serta merasa jijik.
Namun akhirnya Suparti bisa bernafas lega saat kontol Bajuri ditarik dari dalam mulutnya. Kini hanya tinggal si anak buah yang masih bertahan menyetubuhinya. Dengan penuh semangat pria itu menggenjot semakin cepat sehingga mulut Suparti hanya mampu mengeluarkan lenguhan-lenguhan menahan sakit.
“Oohh… iihh... oohh... iihh...” begitulah lenguhan Suparti kala menahan gempuran dan genjotan pria pemerkosa terhadap liang vaginanya. Disela-sela  ayunan, pria itu juga meremas-remas buah dada Suparti.  
“Shhh… ooooh… enak sekali tubuhmu, Parti.” racau pria yang sedang asyik memperkosanya.
Suparti yang tak berdaya lagi hanya bisa melenguh pelan, “Emmhhh… uummhhhh…” Matanya terpejam seraya kedua tangannya mencengkeram pangkal paha pria itu erat-erat.
Bersamaan dengan itu, “Aaahh… inihh… terima pejuhku!” teriak pria itu kala mencapai puncak kenikmatannya sembari menyodokkan penis dalam-dalam ke liang surga Suparti.
Croottt... crooot… crottt... spermanya menyembur deras ke dalam rahim sang perawan. Tidak ada jeritan yang mampu dikeluarkan Suparti ketika tubuhnya terisi oleh cairan. Dia sudah terlalu lelah untuk melawan. Begitu pula dengan Suparta, yang rambutnya dicengkeram kuat dari belakang oleh Bajuri, dipaksa untuk menyaksikan kebiadaban itu. Dia  juga tak mampu mengeluarkan jeritan lagi. Jeritan Suparta terlelan sendiri oleh keputusasaan bercampur kemarahan serta dendam yang kian membara.
Puas melampiaskan hasrat seksualnya, lelaki pemerkosa itu kemudian berdiri sempoyongan. Salah seorang temannya sudah akan bergerak menggantikan tempatnya, manakala terdengar suara bentakan Bajuri, "Cukup, Kardi!"
Yang dibentak, mengurungkan niatnya dengan wajah kecewa. Bajuri kemudian mendekat, dan mendorong si pemerkosa yang masih tersenyum-senyum dengan mata merem melek.
"Minggir kau, Sobara!"
Sementara yang lain-lainnya asyik memperhatikan apa yang diperbuat Bajuri saat itu, Suparta merasa tidak perlu lagi melihat. la sudah tahu. Darah perawan. Dan perawan itu, harus adik kandungnya sendiri!
Suparta menengadah dengan wajah sengsara, mulutnya komat-kamit tak menentu. la kemudian merunduk, menunggu nasib.
Dan nasib itu pun datang melalui Bajuri. Mantan kepala centeng van Galen itu berdiri di depan Suparta, dengan golok Suparta terhunus di tangannya. Mata golok masih berkilau, tetapi kini sudah ditempeli bercak-bercak merah. Bercak-bercak darah perawan!
Dengan sebelah tangan kembali dicengkeramkan ke rambut Suparta agar bisa menengadah, Bajuri berujar lembut tetapi menyakitkan, "Darah perawan adik kandungmu, di mata golok milikmu sendiri. ltulah rahasia ilmu kebalmu yang luar biasa itu bukan?"
Suparta tidak menjawab. Pegangan di rambutnya dilepaskan. Suparta sempat memperhatikan adiknya yang masih terbaring lemah dipegangi anak buah Bajuri. Suparti tidak melihat ke arahnya. Suparti tengah menangisi nasib malangnya. Tak peduli keadaan sekitar. Bahkan tak bercuriga apa-apa, akan datangnya nasib malang yang jauh lebih mengerikan.
Seruan tertahan, jompak kaki kuda dan ringkik liar kuda-kuda itulah yang menggugah Suparti untuk membuka mata dan mencoba mencari sumber penyebab dari keributan yang mengherankan itu. Lalu ia melihatnya. Melihat tubuh saudaranya masih terikat di tonggak kayu.
Terikat kaku, diam tak berdaya.
Tanpa kepala!
Darah yang menyembur-nyembur keluar dari batang leher Suparta yang putus total, menggelapkan pandang Suparti, dan membuatnya pingsan seketika itu juga. Sementara para penunggang kuda sibuk mendiamkan kuda masing-masing, yang sebenarnya juga menenangkan kejerian di dalam jantung mereka sendiri. Terdengar suara seseorang muntah-muntah.
Tanpa ada yang mengkomando, semua memalingkan muka dari tonggak kayu, kemudian berlalu pergi dari tempat terkutuk itu. Meninggalkan kepala Suparta yang menggelinding ke bibir tebing. Untuk kemudian lenyap ditelan kegelapan kabut yang menutupi lembah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar