Minggu, 24 Juli 2016

Silent Rose Series 4


Case 4 : End of Silence bag.1

Ian terdiam memandangi tempat dimana dia berada saat ini, terduduk di sebuah kursi single seat sofa yang cukup nyaman berwarna senada dengan sebuah coffee table di depannya. Dinding-dinding ruangan itu dilapisi wallpaper bermotif daun maple berwarna krem lembut. Beberapa perabot disekitarnya cukup mewah. Sebuah lemari es kecil di bawah televisi plasma tiga puluh dua inci berwarna hitam. Dia berada di sebuah kamar hotel, suasananya cukup nyaman. Satu hal yang tidak membuatnya nyaman adalah kedua tangannya yang terbogol di kedua pegangan kursi.
Di kamar yang berada selisih tiga kamar dari tempat Ian berada, beberapa petugas kepolisian tampak sibuk. Beberapa diantaranya berseragam, beberapa mengenakan sarung tangan karet di tangannya. Garis kuning kepolisian tampak membentang di pintu masuk kamar tersebut. Dean mengamati tim forensik yang tengah memeriksa isi ruangan tersebut, tidak jauh dari tempatnya berdiri Rio tampak asyik memeriksa sisi kamar dekat jendela, sesekali Rio melongokkan kepalanya ke luar jendela.

Sebuah senapan laras panjang Blaser R93 Tactical buatan Jerman yang sering digunakan oleh kepolisian Prancis dan tentara Bulgaria bertengger anggun di tripod penopangnya. Moncong senapan itu sedikit keluar dari jendela, mengarah tepat ke sebuah jendela di gedung seberang kamar itu. Jejak mesiu masih hangat di ujung senjata itu, pertanda bahwa senjata itu baru digunakan. Rio mengamati senjata itu dari jauh, senjata itu nyaris saja merenggut nyawa seorang politikus ternama di Indonesia, Ahmadi Fahsa, salah satu tersangka utama kasus mega korupsi suap impor daging sapi. Fahsa beruntung Rio dan Dean berhasil membaca dan menggagalkan aksi pembunuhan tersebut.
Detektif muda berbakat itu tersenyum saat melihat isi sebuah kantong plastik diantara beberapa barang yang diamankan oleh tim forensik. Sebuah puntung rokok bercap mawar merah di gabus penghisapnya. Dari sekilas mengamati saja, Rio yakin puntung roko itu asli, sama dengan yang biasa ditemukan di TKP yang berkaitan dengan Silent Rose. Rio tidak lama-lama mengamati puntung rokok itu, dia bergegas ke arah Dean.
“Apa rencanamu berikutnya, Rio?” Dean bertanya setengah berbisik.
Rio menjawab dengan isyarat agar Dean mengikutinya, kedua detektif itu keluar dari kamar tersebut. “Kita akan mengorek keterangan tentang Silent Rose dan siapa yang berada di belakangnya,” Rio berbisik pada Dean.
“Kalau begitu kenapa tidak kita bawa ke kantor? Disana kita bisa menginterogasinya lebih lanjut,” raut wajah Dean terlihat cemas.
“Yang kita hadapi itu Silent Rose, Dean! Selama ini kita tidak tahu apa yang akan dia lakukan, apa kau akan mengambil resiko kehilangan Silent Rose di perjalanan menuju ke kantor polisi?!” Rio mengemukakan pendapatnya, mencoba meyakinkan atasannya bahwa menahan Silent Rose di hotel adalah keputusan terbaik.
“Aku tetap merasa lebih baik kita membawanya ke kantor.
“Cara berpikir yang kuno untuk seorang detektif, Dean. Maaf kalau terdengar kasar, tapi itulah yang biasa dilakukan oleh seorang polisi saat berhasil menangkap tersangka kan? Membawa mereka ke kantor polisi untuk diinterogasi, apa kau pikir Silent Rose tidak memikirkan kemungkinan itu?”
Dean terdiam sejenak, dia sadar betul yang dihadapinya sekarang bukan penjahat biasa. Silent Rose begitu licin, begitu sukar untuk ditebak. Bukan tidak mungkin Silent Rose sudah menyiapkan rencana untuk kabur.
“Kita harus berpikir berbeda, melakukan hal di luar rutinitas. Itu yang kita perlukan saat menghadapi penjahat penuh taktik semacam Silent Rose,” Rio kembali menegaskan argumennya, kali ini dia yakin Dean tidak akan dapat membantah.
“Mungkin kau benar, Rio,” Dean menyetujui pendapat Rio. “Tapi itu artinya kita perlu melakukan strategi khusus juga untuk mengurai kasus itu. Jika Kepala Polisi sampai tahu…”
“Disitulah strategi pertama kita, komandan Dean,” Rio tersenyum sambil menepuk bahu Dean. “Jaga supaya hanya kita berdua yang tahu,” lanjutnya enteng.
Ian masih merasakan pening di kepalanya akibat serangan stun-gun yang diluncurkan oleh Dean. Dia mencoba menggerakkan kedua tangannya yang terborgol. Namun bagaimana pun, dia bukan man of steel yang bisa dengan mudah mematahkan besi-besi borgol. Ian menghentikan usahanya saat mendengar pintu kamar terbuka. Rio dan Dean terlihat mendekatinya. Rio mengambil kursi dan duduk tepat di seberang Ian, memandang tajam dengan sebuah senyum samar di raut wajahnya.
“Bagaimana keadaanmu, Silent Rose?” Rio membuka pembicaraan, ini adalah pertama kalinya mereka berhadapan face to face.
“Sudah kubilang kalian salah tangkap!” Ian mencoba berontak. “Namaku Ian! Kalian salah tangkap!”
“Setiap aku menangkap seorang penjahat, aku tidak pernah berharap penjahat itu akan langsung mengaku,” nada Rio terdengar begitu datar, dengan penekanan samar di setiap kata yang diucapkannya. “Kau tertangkap di dalam sebuah ruangan, bersama sebuah senjata laras panjang beberapa menit setelah terjadi penembakan.
“Aku tidak tahu! Aku tidak menyewa kamar itu! Aku menyewa kamar di seberang kamar itu! Entah bagaimana aku bisa ada di sana.
“Dan itu alasanmu menyerang kami berdua?” pandangan detektif muda itu semakin menajam.
“Kalian datang mendobrak pintu beberapa menit setelah aku terbangun, aku terkejut! Kalian menodongkan senjata padaku! Apa aku harus diam dan menerima tembakan kalian?”
“Kami tidak menembak,” Dean berkomentar.
“Belum… tepatnya,” Rio menimpali. Dalam sebuah interogasi, keberadaan sebuah tekanan sangat diperlukan. Dalam hal ini Rio berusaha memberi tekanan pada Ian dengan meyakinkannya bahwa mereka tidak akan segan menembak.
“Mana aku tahu kalian polisi? Kalian tidak berseragam,” Ian mencoba membela diri.
Dean dan Rio terdiam, saat mendobrak mereka memang lupa menyebutkan identitas kepolisian mereka.
“Ceritakan bagaimana kau bisa sampai di ruangan itu?” Rio memberikan kesempatan Ian untuk menjelaskan alibinya, dengan harapan ada kecacatan dalam ceritanya nanti.
“Aku datang untuk meliput pertemuan para pembuat Game lokal Indonesia yang diadakan di ballroom hotel ini kemarin malam. Agar bisa lebih santai, aku menyewa kamar di hotel ini. Kamar 1303 atas nama Christian D Ambaraksa.
Dean mengeluarkan notes kecil dan mulai mencatat poin-poin penting yang diceritakan oleh Ian.
“Semalam, aku berada di ballroom hotel, acara dimulai pukul tujuh malam, aku baru datang saat acara sambutan selesai, acara selesai sekitar pukul sebelas malam. Setelah menyimpan peralatanku di kamar, aku memutuskan untuk bermain ke diskotik di lantai atas hotel, sedikit refreshing.”
“Di sana aku minum beberapa gelas, lalu…” Ian terdiam sejenak, mencoba mengingat. “Aku bertemu seorang gadis, gadis yang cukup cantik, kami berkenalan, mengobrol banyak hal. Ah! Dia juga salah satu pembuat game lokal. Akhirnya gadis itu mengundangku ke kamarnya… ini kamar gadis itu!!” Ian setengah bersorak, seolah dia berhasil mengingat sesuatu.
“Kau punya nama gadis itu?” Dean bertanya.
Ian menggeleng, “Cathy… aku tidak tahu nama lengkapnya, tapi nama panggilannya Cathy.
“Apa yang kalian lakukan di kamar itu?” pertanyaan selanjutnya meluncur dari mulut Dean.
“Bukankah aku berhak didampingi seorang pengacara? Aku kan warga pembayar pajak juga?” Ian mencoba mempertanyakan hak-nya sebagai warga negara.
“Tidak dalam kasus kali ini!” Rio menggebrak meja, mencabut pistolnya dan menodongkan tepat ke kepala Ian. Ian terkejut tanpa bisa bereaksi.
“Tahan, Rio!!” Dean membentak bawahannya. Sesaat suasana menegang.
“Kau lanjutkan ceritamu tanpa banyak berbelit-belit, satu saja kebohongan maka kepalamu akan kuledakkan,” ancam Rio tanpa menurunkan senjatanya.
“Turunkan senjata itu, Detektif!!” Dean membentak makin kencang, Rio terdiam dan menurunkan senjatanya.
Lanjutkan ceritamu,” perintah Dean pada Ian.
“Kami melakukannya, bercumbu, dan diakhiri dengan sebuah persetubuhan yang hebat bagiku, dia gadis terseksi yang pernah aku nikmati. Kami mencoba banyak posisi, dan desahannya sangat luar biasa…”
“Kami tidak perlu cerita panas dari seorang jurnalis amatir sepertimu,” Rio memotong cerita Ian.
“Setelah itu aku tertidur. Ketika bangun hari sudah siang, aku masih cukup bingung melihat senjata ada di dekat jendela. Tidak lama kemudian kalian masuk dengan beringas, aku ketakutan dan mencoba lari.
Dan sebuah stun gun mencium tengkukmu,” Rio menyempurnakan cerita dari Ian.

***

Green File Café, 1 Bulan yang lalu

Suasana kafe bernama Green File itu terlihat lebih tegang dari biasanya, papan bertuliskan ‘CLOSED’ tergantung di depan kafe yang biasanya sepi pengunjung. Ian membiarkan segelas Cappucino dinginnya tak tersentuh, dia menatap dingin ke layar televisi di sudut kafe. Seorang gadis cantik; Evangeline Irene duduk tepat di sampingnya.
“Berita mengenai surat ancaman yang dilakukan oleh pembunuh bayaran bernama Silence Rose membuat gempar pihak kepolisian, surat itu sampai ke meja Komisi Pemberantasan Korupsi satu minggu yang lalu,” Frida Lidwina, presenter cantik tampak sedang membacakan berita yang sedang hangat akhir-akhir ini.
“Berita mengenai surat ancaman ini terkuak setelah tragedi pembunuhan terhadap salah satu tersangka dari kasus suap impor daging sapi yang terjadi dua hari yang lalu. Juru bicara KPK menyalahkan pihak kepolisian yang dinilai telah mengabaikan laporan KPK perihal keberadaan surat ancaman dari Silence Rose,” Frida meneruskan beritanya.
Layar televisi kini menayangkan Ipus Irjan, Wakil kepala polisi yang memberi pernyataan resmi mengenai tudingan KPK tersebut. “Kami tidak mengabaikan surat ancaman tersebut, kami sudah melakukan banyak upaya untuk memecahkan dan upaya perlindungan. Namun itu adalah insiden yang tidak dapat dihindari. Kepada pihak korban, kami mengucapkan belasungkawa yang besar,” ujar Ipus Irjan tenang.
Gambar di layar kembali menunjukkan studio dimana Frida Lidwina tampil anggun dalam balutan gaun panjang press-body berwarna biru muda. Tubuhnya tampak ramping dan seksi. Di samping Frida telah hadir dua orang, satu diantaranya adalah Ipus Irjan yang mengenakan seragam kepolisian. Dan di sebelah Ipus, Budi Jonan, juru bicara KPK mengenakan setelan jas abu-abu.
“Bapak Ipus,” Fidya membuka pembicaraan. “Anda mengatakan kepolisian telah menanggapi surat ancaman itu sebagai sesuatu yang serius. Sejauh apa anda akan mengambil langkah antisipasi?”
“Nona pasti tahu kalau mengemukakan strategi saat siaran langsung seperti ini, sama saja dengan membantu sang pelaku. Silence Rose bukanlah hal baru bagi kami, selama lebih dari lima belas tahun kami memburu kriminal ini,” Ipus Irjan memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Fidya mengenai strategi antisipasi.
CLAPP!!
Televisi di sudut ruangan kafe itu mendadak mati. Wise Crow meletakkan remote dari tangannya. Ian dan Eva mengalihkan perhatiannya pada Wise Crow yang kini meneguk segelas vodka di tangannya.
“Kau tidak melakukan hal bodoh seperti itu kan, Rose?” nada suara Wise Crow terdengar begitu dingin, mata pak tua itu tidak lepas dari wajah Ian.
“Siapapun itu, jelas bukan aku,” Ian menjawab sambil meneguk Cappucino-nya. “Tidak ada untungnya juga bagiku.
“Kupikir juga begitu,” Wise Crow menjawab ringan sambil mengambil sebuah gelas kaca dan membersihkannya. “Tapi hal seperti ini sangat merepotkan, seorang copycat selalu merepotkan,” lanjutnya, ada tekanan saat ia mengucapkan kata ‘copycat’.
“Apa aku bergerak terlalu mencolok?” Ian bertanya.
“Kebocoran…” Wise berkata pelan. “Hanya itu yang bisa aku katakan. Puntung rokok itu adalah ciri khas-mu dan siapapun copycat itu, dia memiliki barang asli! Ada kebocoran disini, dan itu harus diselidiki.
“Kau tidak menuduhku kan, Pak Tua?” Ian berusaha menahan agar nada bicaranya tidak terkesan emosi.
“Tentu tidak, Rose, dulu Ayahmu sempat bekerja sama dengan Noisy Cannary, ada kemungkinan Noisy Cannary adalah pusat dari semua ini.
“Kalau begitu mari kita temui Noisy Cannary,” Ian mengusulkan sebuah solusi.
“Noisy Cannary sudah mati, Rose,” Wise Crow berhenti bicara untuk sesaat. “Setidaknya itu yang dilaporkan oleh Lazy Frangipani.
“Setidaknya? Apa tidak ada bukti nyata soal kematian Noisy Cannary?” Ian mencoba mengejar penjelasan. Sebenarnya dia sudah tahu perihal kematian Noisy Cannary, karena Silent Rose-lah yang menghabisi Noisy Cannary.
Wise Crow menggeleng, “Hanya ada sepuluh ruas jari yang memang milik Noisy Cannary. Saat ini, Lazy Frangipani sedang dalam pengawasan ketat Association.

Keadaan hening sesaat. Eva tidak berani berkomentar sedikitpun. Jika bisa memilih, Eva pasti akan lebih memilih untuk tidak mendengar apapun saat ini.
“Informasi dan rokok itu bisa saja diberikan Noisy Cannary kepada sang ‘copycat’ sebelum dia meninggal,” Wise Crow kembali membuat perhitungan probabilitas. Pengalaman membuat Wise Crow menjadi lebih tajam dari agen tipe B lainnya.
“Aku yang akan mengurus penyelidikan soal kebocoran itu,” Wise Crow berkata sambil meletakkan gelas yang telah dibersihkannya, “Dan kau juga terkena dampak hal ini Silent Rose. Association memberikanmu DO untuk menghabisi copycat itu. Kau mendapatkan hak khusus untuk itu,
“DO?” Eva tidak bisa menahan rasa ingin tahunya. Satu-satunya arti DO yang dia tahu adalah Drop Out. Apakah itu artinya Silent Rose dikeluarkan dari Association?
Direct Order,” Ian menjelaskan secara singkat. “Itu adalah tugas yang diberikan secara langsung dan tak dapat ditolak atas alasan apapun. Dan untuk menjalankan DO maka aku diberi hak khusus untuk melakukan apa saja.
“Jadi apa yang bisa kubantu?” tanya Wise Crow kemudian.
Ian tidak segera menjawab, memandang kosong pada segelas Cappucino yang tinggal separuh. Seolah menangkap keresahan di dalam diri Ian, Eva menepuk paha sang Silent Rose. Ian menatapnya, menatap gadis yang kini tersenyum padanya.
“Bagaimana caranya membunuh target yang tidak diketahui?” tanyanya pada Wise Crow.
“Aku sama tidak tahunya denganmu,” jawab Wise Crow sambil mengangkat kedua bahunya.
“Hmm… ya, ya…” Ian mengangguk-ngangguk. “Sepertinya Association juga tidak tahu banyak tentang Silent Rose palsu ini.
“Karena itulah DO diturunkan,” Wise Crow menimpali, raut wajahnya masih tampak tenang. “Selama DO belum diselesaikan, Association akan menganggapmu sebagai ancaman. Kau tahu akibatnya bukan? Kali ini kau tidak bisa berharap banyak padaku atau Association.
“Aku mengerti,” Ian beranjak dari kursinya, sebentar dia menatap ke arah Eva. “Lakukan sesuatu untukku Pak Tua, tolong jaga Eva. Aku akan menitipkannya di sini selama aku mengejar Silent Rose palsu itu.
“Aku ikut,” Eva menyela.
“Kau lebih aman disini, Eva,” jawab Ian dingin. Eva memandang Ian dengan pandangan kecewa.
“Kau harus menjamin keselamatan Eva, Pak Tua. Jika tidak aku takkan segan memburumu,” Ian memberi sedikit tekanan pada Wise Crow, untuk memastikan keselamatan Eva. Entah untuk apa dia melakukannya.
“Kau bisa pegang janjiku, Silent Rose,” Wise menjawab kalem. “Apa rencanamu?”
“Mencari informasi, aku harus menemukan siapa Silent Rose palsu itu dulu. Aku tidak punya informasi, kau juga, Association juga,” Ian berhenti sejenak, memandang ke arah televisi yang tidak menyala. “Tapi sepertinya, para polisi punya informasi lebih dari yang kita miliki.
“Ide bagus,” timpal Wise Crow masih dengan nada yang tenang. “Dan setelah kau dapat informasi itu?”
I prefer to keep silent until the rose bleeding.” jawab Ian penuh misteri.

***

“Christian D Ambaraksa... oke, silakan masuk,” gadis muda berpakaian blazer merah mempersilahkan Ian untuk masuk setelah memastikan nama Ian terdaftar dalam daftar undangan dalam acara bertajuk Gathering Akbar Game Master Indonesia. Ian duduk di tempat yang sudah disediakan untuk pers, beberapa jurnalis lain tampak siap dengan kameranya masing-masing, siap meliput even yang jarang ada di Indonesia. Ian mengeluarkan Canon EOS 6D miliknya, sesuatu menyenggol bahunya saat hendak memasang lensa tambahan pada kameranya.
“Ups, maaf,” seorang gadis manis meminta maaf pada Ian saat secara tidak sengaja sang gadis menyenggol pundak Ian. Ian sempat memperhatikan gadis itu selama beberapa menit sebelum tersenyum untuk menandakan dia tidak mempermasalahkan hal itu. Gadis itu lantas mencari nomor kursi yang sudah disiapkan untuknya. Sekilas Ian melihat tag-name yang tergantung di leher gadis manis tersebut.
Sesungguhnya tidak ada yang menarik dari even tersebut. Satu-satunya alasan Ian menghadiri acara ini adalah karena even ini diadakan di hotel yang paling dekat dengan tempat yang diperkirakan sebagai tempat eksekusi nama berikutnya dalam surat ancaman dari Silent Rose palsu. Dua dari empat nama telah di eksekusi menggunakan sebuah senjata laras panjang jarak jauh. Sang eksekutor rupanya cukup handal dalam menggunakan senjata. Ian telah menghabiskan banyak waktu di ruang kerjanya, menyusun perhitungan dan analisa mengenai kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Besok siang, Ahmadi Faasa yang menjadi tersangka utama akan melakukan konferensi pers terbuka di bangunan yang berada tidak jauh dari hotel tempat diadakan even ini. Besar kemungkinan Silent Rose palsu akan memanfaatkan situasi tersebut.
Ian melirik ke gantungan kunci yang ada di atas mejanya. Kamar 1303 yang terletak di lantai 13 adalah kamar yang disewa olehnya. Ian tidak sembarangan memilih kamar. Lantai 13 adalah lantai yang paling tepat untuk melakukan penembakan. Pemandangan disana cukup jelas, dan ketinggian serta tekanan angin pada lantai tersebut cukup mendukung. Silent Rose bukan penembak jitu amatir, Lokasi penembakan adalah hal krusial yang harus diperhitungkan dengan seksama. Penentuan lokasi adalah pelajaran dasar yang didapat oleh semua agen Association.
Jarum jam pada arloji Ian menunjukkan pukul sebelas malam saat acara tersebut usai. Ian bergegas menuju kamarnya, mencuci wajahnya di wastafel dan menghela nafas. Tanpa banyak bicara Ian berganti pakaian dan menuju ke cafe di lantai atas hotel.
Hingar bingar musik yang dimainkan oleh seorang DJ berbaur cantik dengan warna-warni lampu disco yang berpendar memenuhi ruangan. Beberapa orang tampak asyik menggoyangkan tubuhnya, beberapa terlihat duduk santai sambil mengobrol. Di beberapa tempat terlihat sepasang laki-laki dan perempuan yang sedang asyik bercumbu. Ian memasuki café itu dengan santai, mendekat ke meja bartender yang tengah meracik minuman.
“Punya Brennivin?” Ian bertanya pada seorang gadis berusia sekitar dua puluh enam tahun yang menjadi bartender malam itu. Gadis itu mengangguk lalu berpaling ke lemari kaca penuh minuman di belakangnya. Ian mengalihkan pandangannya pada keadaan sekitar, di sebuah meja tampak seorang pria tua dengan dandanan yang perlente. Pria itu tampak asyik berbicara dengan tiga orang gadis muda yang tengah mengitarinya, sesekali gadis-gadis muda itu tertawa.
Suara gelas yang beradu dengan meja kaca mengalihkan perhatian Ian, gadis bartender telah menyiapkan minuman pesanannya. Brennivin adalah minuman keras asal Skandivania, dibuat dari kentang lembek yang difermentasi bersama dengan biji-bijian. Tidak sembarang orang bisa menahan kerasnya Brennivin, Ian bukan peminum, namun bertahan dari kerasnya sebuah minuman, merupakan salah satu mata pelajaran di Association.
“Esshh…” Ian meringis saat meneguk brennivin-nya, membuat gadis bartender sedikit menahan tawa karena raut wajah Ian yang seperti kera tercekik.
“Mau aku perhalus sedikit?” tanya gadis bartender itu.
Ian menggeleng, “Nggak apa-apa kok,” jawabnya sambil melemparkan kembali pandangan ke sekitar.
Sesuatu menangkap perhatian Ian, seorang gadis dengan tank-top biru muda dan celana jeans ketat memasuki kafe. Gadis itu lantas berjalan melewati sebuah pintu tepat di sudut jauh ruangan.
“Itu pintu kemana?” Ian bertanya pada gadis bartender sambil menunjuk ke pintu yang baru saja dilewati gadis bertank-top biru.
“Atas, atap dak. Jarang ada yang kesana. Kecuali… you know lah,” jawab gadis bartender itu sambil terkikik geli. Ian mengangguk paham, beberapa menit kemudian Ian meletakkan beberapa lembar uang ratusan ribu di bawah gelasnya dan bergegas menyusul gadis bertank-top biru.
Suasana di atap lebih tenang dibandingkan di dalam, namun pencahayaannya tidak lebih terang dari di dalam kafe, hanya saja di sana tidak ada lampu warna-warni yang berpendar. Ian melayangkan pandangan, mencoba membaca situasi disana, perhatiannya sempat teralih pada suara desahan di sebuah tempat gelap di bawah tandon air raksasa. Dari asal suara, Ian dapat melihat siluet seorang gadis dan seorang pria. Kepala sang gadis naik-turun diantara kaki sang pria, tampaknya dia sedang memberi blowjob pada sang pria yang sesekali mengerang keenakan.
Ian melangkahkan kakinya ke tepi bangunan, mengabaikan pasangan mesum tersebut. Atap itu dilindungi dengan pagar kawat BRC setinggi dua meter untuk memastikan tidak ada yang bisa berakrobatik dengan terjun dari ketinggian. Dari tepi pagar Ian dapat melihat dengan jelas gedung yang besok akan menjadi tempat pertemuan Ahmadi Faasa. Tempat ini cukup bagus untuk jadi lokasi penembakan, namun bukan tempat terbaik karena orang dapat dengan mudah melihat sang penembak.
Mata Ian menangkap sosok gadis bertank-top biru muda. Gadis itu duduk di atas sebuah pipa besi Air Conditioner sambil menghisap rokoknya. Angin di atas sini cukup tinggi, namun gadis itu tidak terlihat kedinginan. Gadis itu sempat menoleh saat Ian berjalan ke arahnya.
“Menghabiskan waktumu sendirian?” Ian menyapa gadis itu. “setelah seminar yang cukup membosankan.
“Kau...?” gadis itu bertanya balik.
“Yang kau senggol saat kau mencari tempat dudukmu,” jawab Ian sambil melempar senyum. Ya, gadis itu adalah gadis yang sama yang telah menyenggol bahunya saat Ian hendak memasang lensa tambahan pada kamera Canon EOS 6D miliknya.
Gadis itu tertawa renyah, dan diam saja saat Ian mengambil tempat tepat di sebelahnya.
“Kenapa tidak menikmati malam di bawah?” Ian membuka pembicaraan.
“Bukankah tidak sopan bicara tanpa memperkenalkan diri terlebih dahulu?” gadis itu menjawab dengan nada sedikit menggoda.
Ian menepuk keningnya, “Maaf… aku Ian,” ujarnya sambil menyodorkan tangan.
“Cathy,” jawab gadis itu seraya menjabat tangan Ian. “Sering kesini?”
“Tidak, baru kali ini.
“Oh, aku sering, tapi aku kesini bukan untuk musik berantakan seperti yang disodorkan di bawah.
“Mencari ketenangan di tempat tinggi sambil berharap penat akan terjun dari sini?” Ian menegaskan. Cathy tertawa mendengarnya.
“Apa yang dilakukan gadis manis sepertimu sendirian di tempat dimana penuh aura mesum begini?” Ian memandang ke beberapa tempat gelap dimana beberapa pasangan telah memulai aksinya.
“ini,” Cathy mengangkat sebotol minuman di tangannya. Ian memperhatikan label pada botoi minuman itu dengan seksama.
Jim Beam,” ucap Ian setelah membaca label pada botol tersebut. “Bourboun Whiskey yang dibuat di Clermont, Kentucky.
“Waw, kau punya pengetahuan cukup dalam soal minuman,” sahut Cathy. “Jika senggang aku membawa minuman ini kemari, kau tahu efek dari minuman ini?” Gadis itu tampak bersemangat.
“Itu memabukkan,” jawab Ian singkat. “Beberapa tingkat diatas Jack’s Daniels.
“Dan membuatku horny…” nada suara Cathy kini terdengar sangat menggoda. “Kau tahu? Sangat seru saat berhasil membuktikan bahwa lelaki adalah makhluk rendah yang bisa dengan mudah tergoda. Itu sebabnya aku memilih tempat ini.
“Maksudmu?”
Cathy menggeser duduknya mendekat, kini Ian dapat melihat belahan dada yang mengintip dari kerah tank-top Cathy. “Aku minum disini, sambil menyaksikan samar-samar mereka yang bercinta disini,” Cathy berkata, mengarah ke pasangan-pasangan yang berbuat mesum di tempat gelap sekitar mereka.
 “Dan itu membuatku horny, lalu aku mulai membuka pakaianku, mendekat ke pasangan-pasangan dan memuaskan sang lelaki. Terakhir aku kemari, aku berhasil membuat lima lelaki meninggalkan pasangan mereka. Mereka menyetubuhiku ramai-ramai disini.
Ian menangkap sesuatu yang aneh dari gadis ini, ada sisi ekshibionis dan hyperseks yang sangat kuat di dalam gadis di dekatnya. Ian belum sempat bereaksi saat Cathy menyodorkan botol Jim Beam padanya.
“Minumlah, dan kita nikmati malam ini,” tawar Cathy.
Ian menenggak cairan dalam botol Jim Beam yang ditawarkan oleh Cathy, dia menghela nafas panjang sambil menunduk, seolah kepalanya berat akibat pengaruh minuman keras. Gadis disampingnya, Cathy juga tidak kalah mabuknya. Bedanya, jika Ian mabuk dalam diam, Cathy tidak, sudah hampir tiga puluh menit gadis cantik itu meracau tentang banyak hal. Tentang kekasihnya yang meninggalkannya, bagaimana ia lalu terlibat dalam cinta sejenis yang berkembang menjadi cinta segitiga. Bagaimana ia sempat menjadi simpanan seorang pejabat. Ian menyimak semua itu dengan diam, tanpa ekspresi, seolah larut dalam pikirannya sendiri.
“Ah.. mulai membosankan disini,” ujar gadis cantik itu. Ian menatap wajah cantik Cathy. Gadis itu tiba-tiba berdiri dan meregangkan badannya dengan mengangkat kedua tangannya, membuat buah dada gadis itu makin membusung.
“Mau pergi ke kamarku?” suara Ian terdengar berat dan lemah.
“Oh, tidak…” jawab Cathy. “kau yang akan ke kamarku… tapi setelah yang satu ini.
“Yang satu ini?” Ian mendongakkan kepalanya, memandang wajah Cathy yang sedang asyik memandang tiga orang pemuda yang tengah mengobrol beberapa meter dari tempat mereka berada sekarang. Sebersit senyum tipis muncul di wajah Cathy kemudian.
Watch this,” gadis itu bergerak melangkah ke arah tiga pemuda yang masih asyik dengan obrolan mereka. Ian memutuskan untuk tidak bereaksi.
Cathy mengibaskan rambut panjangnya yang tergerai indah, beberapa langkah kemudian dia mengejutkan Ian dan beberapa mata disana saat sehelai tanktop biru terlempar ke lantai beton. Cathy melepasnya dengan sengaja, tanpa perasaan risih ataupun ragu, gadis itu terus melangkah ke arah tiga pemuda yang kini mulai mengalihkan perhatian padanya. Cathy bergerak dengan sensual, layaknya seorang peragawati yang berjalan di atas catwalk, mengabaikan angin malam yang kini menerpa payudara telanjangnya. Ian dapat melihat dari kejauhan mata tiga pemuda yang tak lepas memandang bukit kembar gadis cantik itu.
Ian terus memandang gerak-gerik gadis yang baru dikenalnya itu, Cathy tidak terlihat canggung saat bersalaman dengan ketiga pemuda itu, mereka tampak berbincang-bincang sebentar entah apa yang mereka bicarakan, tidak lama kemudian Cathy tampak tertawa kecil, begitu juga ketiga pemuda yang kini jelas-jelas melahap bukit kembar gadis itu dengan mata mereka.
Seseorang dari mereka tampak berbisik pada Cathy. Cathy tertawa kecil untuk sesaat, sebelum kemudian matanya terpejam seolah sedang merasakan sesuatu, Ian berpindah duduk ke tempat dimana dia bisa melihat apa yang mereka lakukan lebih jelas. Dari posisi Ian yang sekarang terlihat satu dari tiga pemuda itu tengah memainkan putting kanan payudara gadis cantik itu.
Ketiga pemuda itu menatap Cathy sambil berbicara, bibir Cathy tampak bergerak membalas ucapan mereka. seorang dari mereka bergerak ke belakang Cathy dan memeluknya dari belakang, beberapa detik kemudian badan Cathy tampak sedikit terlonjak saat pemuda di belakangnya mulai meremas kedua payudaranya. Tubuh Cathy kini tampak tersandar di dada pemuda itu, matanya terpejam dengan bibir setengah terbuka. Sebuah kilatan cahaya mendadak menarik perhatian beberapa mata di atap itu, kilatan lampu flash dari kamera ponsel salah seorang dari ketiga pemuda itu. Cathy tidak menunjukkan perlawanan sama sekali, bahkan saat lampu flash itu kembali berpendar hingga lima enam kali lagi.
Dua pemuda yang lain tampak mulai ikut bermain dengan tubuh Cathy, mereka melepas ikatan sabuk celana Cathy dan tampak berusaha melucuti celana jeans ketat yang dikenakan gadis itu. Mereka tampak kesulitan sebelum akhirnya berhasil menarik turun celana jeans tersebut hingga di bawah lutut Cathy. Ian dapat melihat celana dalam Cathy menyusul turun beberapa detik kemudian.
“Ahhh!!” kali ini Cathy terdengar memekik nyaring.
Ian melihat sekitar, kini banyak pria yang memandangi aksi tiga orang pemuda itu dari kejauhan. Ian kembali memandang ke Cathy, pemuda di belakang Cathy masih memainkan payudaranya, sedang pemuda di depannya terlihat sedang melakukan sesuatu pada kemaluan gadis cantik itu. Gadis cantik itu kini tidak lagi diam terpejam, desahannya mulai terdengar samar bersamaan dengan deru nafasnya.
Mendadak pemuda di belakang Cathy mengangkat sedikit tubuh sang gadis, teman-temannya bereaksi dengan sangat rapi, meloloskan celana jeans berikut celana dalam gadis itu. Dengan asal pemuda itu melempar celana Cathy, kini gadis cantik itu benar-benar telanjang bulat. Cahaya remang disana tidak mampu menutupi putih-mulusnya kulit gadis cantik itu. Pemuda di depannya mendekat dan mengucapkan sesuatu, Cathy lantas menggeleng, namun pemuda itu terus bicara, sepertinya sedang terjadi ketidak-setujuan diantara mereka. Cathy tampak berontak saat pemuda di depannya mulai menurunkan resleting celana dan mengeluarkan batang kejantanannya. Rontaan gadis itu sia-sia karena tubuhnya ditahan oleh pria di belakangnya, Cathy masih saja menggeleng-geleng saat pemuda di depannya bergerak maju, merapatkan tubuh sambil memegangi penisnya yang sudah keras menegang. Cathy tampak sedikit panik sambil menggeleng saat tubuh kedua pemuda itu menjepit tubuh indahnya.
Seketika ekspresi wajah Cathy berubah, matanya terpejam rapat seolah menahan sesuatu, pemuda di depan Cathy memegang pinggul gadis cantik itu lalu tampak seolah menghantamkan tubuh bagian bawahnya ke arah gadis itu.
“Akh!” Cathy memekik sekali lagi, mulutnya terbuka lebar.
Pemuda di depannya bergerak seolah memompa, dapat disimpulkan, pemuda itu sukses menyetubuhi gadis cantik itu dan kini tengah memompa liang kenikmatan gadis itu. Pemuda itu terus bergerak, membuat tubuh gadis itu terlonjak-lonjak tertahan oleh pemuda di belakangnya. Payudaranya tampak samar berayun seiring pompaan penis di vaginanya.
Laki-laki yang menyetubuhinya mengangkat kedua kaki Cathy. Reflek, gadis itu merangkulkan tangannya ke leher sang pria agar tak terjatuh. Pria di belakang Cathy kini bergerak menyingkir, tampak jelas kini gadis cantik itu tengah disetubuhi dalam posisi memanjat pada tubuh laki-laki itu.
Stamina jelas menjadi kunci dalam posisi seperti itu, dan dengan postur tubuh sekurus pemuda yang tengah menyetubuhi Cathy, Ian yakin dia tidak akan kuat lama dalam posisi itu. Dan benar saja, tidak lama kemudian dia menurunkan tubuh Cathy, membuat penisnya otomatis terlepas dari vagina gadis itu. Pria itu memberi aba-aba pada temannya, seorang dari mereka maju mendekat. Tubuh gadis itu didorong hingga menungging, tangannya bertumpu pada paha pria lain di depannya, Cathy memekik lagi tidak lama kemudian, saat pria di belakangnya kembali mengisi vaginanya dengan penis.
Ian memalingkan pandangannya sejenak ke arah botol Jim Beam yang ditinggalkannya, dia bergegas mengambil botol itu. Dan saat ia kembali ke posisi duduknya, Cathy tengah dipompa dari belakang dengan kencang, hanya gumaman dikeluarkan gadis cantik itu lewat mulutnya yang kini dipenuhi oleh batang kejantanan laki-laki di depannya. Pria yang menyetubuhinya tampak menggempur makin kencang, Kini orang-orang lain tampak menonton makin dekat. Genjotan pria itu tampak makin kasar, seolah mengejar sebuah kenikmatan.
“Jangan!!” Cathy kini berteriak, mulutnya sudah bebas dari penis, tangan kanannya berusaha melepaskan cengkeraman di pinggul seksinya. Kepalanya menoleh ke belakang.
“Mas! Jangann!!” ujarnya saat tubuh telanjangnya berguncang makin cepat akibat sodokan sang pemuda. Laki-laki itu tampak tidak peduli dan terus memompa penisnya makin kencang sebelum membenamkan penisnya dalam-dalam dan melenguh…
“Mass!! Akh!!” Cathy memekik saat laki-laki itu tampak bergetar, tubuh gadis itu ikut bergetar matanya terpejam, tampaknya cairan yang menyembur di dalam tubuhnya membuatnya mencapai orgasme. Cathy merasa badannya sangat lemas, gadis itu terkulai lemah saat laki-laki yang baru menyetubuhinya mencabut penis dari vaginanya.
Tubuh telanjang Cathy dibaringkan ke lantai beton atap, laki-laki yang tadi menikmati mulutnya membuka kedua kaki gadis cantik itu. Cathy sempat menggeleng pelan, lalu melenguh saat penis laki-laki itu mulai memasuki tubuhnya. Laki-laki itu menyetubuhinya dengan posisi konvensional. Sambil menindihkan tubuhnya pada gadis cantik itu, pria itu bergerak teratur sambil menciumi leher dan wajah cantik Cathy. Gadis itu mendesah, pertanda dia menikmati persetubuhan ini.
Bersetubuh dengan tempo lambat dan dalam seperti itu memerlukan konsentrasi yang tinggi, dan pria itu melakukannya dengan baik, dia dapat menjaga tempo irama permainannya dengan konstan dan mantap. Kali ini, Cinthya tampak terbuai, gadis itu memejamkan matanya dan mendesah setiap batang kejantanan menggesek dinding-dinding bagian dalam vaginanya.
Laki-laki itu menaikkan temponya dengan rapi, tidak terburu-buru dan tidak terkesan kasar, semakin cepat tempo pompaan sang pria, semakin keras desahan dan erangan Cathy, bahkan kini Cathy tampak ikut menggerakkan pinggulnya mengejar kenikmatan. Cathy memeluk tubuh laki-laki yang tengah menikmati tubuh indahnya, matanya terpejam, sesekali tubuhnya menggeliat dan mengerang, hingga akhirnya tubuh Cathy menggelinjang dan menegang, gadis cantik itu telah mencapai kenikmatan duniawi untuk yang kedua kalinya.
Setelah orgasme selama beberapa detik, badan gadis cantik itu melemas, laki-laki yang menyetubuhinya melumat bibir indah gadis itu. Cathy membalas lumatan dan ciuman sang pria dengan ganas. Laki-laki itu melepas ciumannya, menatap Cathy dan mengucapkan sesuatu yang dijawab dengan anggukan oleh gadis cantik itu. Setelah mendapat jawaban, laki-laki itu kembali memompa, menikmati jepitan vagina gadis cantik itu.
Pria itu memompa tubuh telanjang Cathy dengan kencang, membuat kedua payudara gadis cantik itu berayun mengikuti sodokannya. Cathy sudah cukup lemas untuk bersuara hanya sesekali erangan lepas dari mulutnya. Tidak lama kemudian, pria itu mengatakan sesuatu pada Cathy. Kali ini Cathy menggeleng.
Nafas laki-laki itu terdengar makin berat, pertanda dia akan mencapai ejakulasinya. Cathy berusaha bangkit, namun laki-laki itu mendorongnya kembali berbaring.
“Nggak, mas!! Jangan di dalam!!” kali ini Cathy terlihat panik, rupanya tadi laki-laki itu memberitahu Cathy bahwa dia akan melepaskan benihnya di dalam rahim gadis cantik itu dan Cathy keberatan. Laki-laki itu menyodok gadis itu makin kencang.
“Mas! Aku subur!!” pinta gadis cantik itu memelas.
Sia-sia, beberapa sodokan berikutnya dan laki-laki itu membenamkan seluruh batang kejantanannya sambil menggeram dan mengejang, memuntahkan isi penisnya ke rahim sang gadis.
Pria itu lalu mencabut penisnya, membenahi lagi celananya dan memanggil rekannya yang belum menikmati tubuh Cinthya. Di luar dugaan, rekannya enggan ikut menikmati tubuh Cathy. Ketiga pria itu lantas meninggalkan Cathy begitu saja.
Ian menyambar botol Jim Beam di sampingnya dan bergegas mendekati Cathy, sebelum orang lain mendekati gadis cantik itu. Ian membantu gadis itu untuk bangun dan lalu bergegas memungut pakaian Cathy.
“Bagaimana aksiku?” ujar gadis itu setengah mabuk.
“Kau gila,” jawab Ian. “Sekarang beri tahu aku nomor kamarmu, biar kuantar kau kesana.
Pintu kamar bernomor 1304 terbuka, Ian memapah Cathy masuk ke dalam kamar tempat gadis cantik itu menginap.
“Aku tidak menyangka kau menginap tepat di seberang kamarku menginap,” Ian menunjuk ke pintu kamar seberang dengan angka 1303 berbahan logam yang dicat warna emas menempel di daun pintunya.
“Kau tidak akan mendapatkan pemandangan jendela di kamar itu,” Cathy berbaring di tempat tidur sambil menunjuk ke arah jendela.
Ian mendekat ke arah jendela kamar tempat Cathy menginap. Dari jendela itu, Ian dapat dengan sangat jelas melihat gedung tempat dimana salah satu sasaran Silent Rose palsu akan mengadakan pertemuan besok siang. Ian memandang sejenak ke arah bangunan, otaknya bekerja, mencoba mereka apa yang akan terjadi dalam bangunan itu besok. Ahmadi Faasa, salah satu tersangka yang kini diincar oleh pembunuh maniak yang memalsukan codename Silent Rose. Ian membayangkan posisi para petugas kepolisian, detektif dan intel yang akan bertugas untuk mengamankan berlangsungnya pertemuan.
Ian membuka jendela, sedikit mengintip ke luar jendela. Kamar ini sulit untuk dilihat dari pos-pos penjagaan yang diperkirakan. Sebaliknya, kamar ini memiliki jangkauan pandangan yang sangat jelas. 1304, Ian menghapal nomor kamar yang merupakan titik terbaik jika suatu saat ada Case dengan target berada di gedung sebelah hotel ini. Pikiran itu mendadak menyadarkan Ian, jika dia adalah Silent Rose, dan dia harus membunuh target di gedung sebelah, sudah pasti inilah kamar yang akan dipilihnya!!. Dan itu artinya besar kemungkinan Sang copycat akan muncul di kamar ini.
KRIIING… KRIIING…
Ian belum sempat memikirkan rencana untuk menjebak sang Copycat, saat merasa lehernya tertusuk sesuatu yg kecil dan tajam. Pandangannya segera mengabur, dan kesadarannya sirna seketika setelah mendengar suara seorang pria di telepon yang di-loudspeaker ; “Kerja bagus, Cathy…”

***

Terpaan angin serasa membelai kulit wajah Ian yang mulai kembali mendapat kesadarannya. Cahaya mulai tertangkap retina matanya, merefleksikan apa yang ada di hadapannya. Ian terbaring di ranjang, dia masih dapat mengenali interior kamar di tempatnya berada saat ini. Itu artinya, dia masih ada di hotel yang sama. Ian melayangkan pandangan matanya ke sekelilingnya, mencoba mencari sosok lain di dalam kamar itu. Namun hasilnya nihil, tidak ada seorangpun disana, satu-satunya yang bergerak selain dirinya hanyalah tirai jendela berbahan kain yang melambai-lambai tertiup angin. Jendela itu terbuka, dengan sebuah senapan laras panjang Blaser R93 Tactical bertengger tak bergeming di atas tripod.
Dengan sedikit berat Ian berusaha bangkit dari tempat tidur itu, tubuhnya masih cukup lemas, sepertinya Cathy, gadis cantik itu telah menyuntiknya dengan semacam obat bius. Ian melayangkan pandangan ke jam dinding digital di ruangan itu, menunjukkan angka 13.30 yang berkedip-kedip. Tiba-tiba terdengar beberapa derap langkah dari luar kamar, Ian baru saja pulih dari pengaruh obat saat pintu kamar terbuka paksa. Menghasilkan suara keras akibat benturan pintu dengan dinding kamar. Dua orang bersenjata merangsek masuk ke dalam ruangan.
“JANGAN BERGERAK!!” seorang diantaranya menghardik seraya menodongkan sepucuk pistol Smith & Weston 45ACP ke arah Ian.
Tidak perlu lama bagi Silent Rose untuk mengenali dua orang yang ada di hadapannya kini. Tentu saja, tidak mungkin dia tidak mengenali para pengejar utamanya ; Detektif Dean dan Rio.
Sejenak Dean melepaskan pandangannya ke senapan laras panjang di jendela yang terbuka, saat itulah Ian dengan cepat merangsek maju, memutuskan untuk membela diri. Rio menangkap gerakan Ian dan dengan sama tangkasnya, detektif muda itu mendaratkan satu tendangan sepatu larasnya ke perut Ian, membuat Ian kembali terjengkang dan mengaduh saat punggungnya menghantam tepi ranjang hotel. Tanpa memberi kesempatan, Rio bergerak menangkap tangan Ian, menelikungnya ke belakang sehingga Ian tidak dapat menggunakan kedua tangannya. Ian meronta, perlawanannya belum selesai, namun satu sengatan stun-gun pada tengkuknya kembali mengantarkan Silent Rose pada ketidak sadaran.
“Kita bawa ke kantor,” Dean menatap Ian yang kini tersungkur, sedari tadi mereka tidak sempat menyadari bahwa Ian hanya menggunakan boxer saja sebagai penutup tubuhnya.
“Kita pindahkan sebelum tim forensik datang, bantu aku, Dean,” Rio mulai mengangkat tubuh Ian.
“Hah? Kau gila?” alis Dean berkerut mendengar ucapan detektif bawahannya itu.
“Dengan segala hormat, Dean. Kita sudah mencoba mengikuti langkah demi langkah Silent Rose selama bertahun-tahun. Dan kita tidak pernah sedekat ini! Aku juga tidak pernah berpikir Silent Rose, akan melakukan penembakan dalam keadaan nyaris telanjang seperti pria ini. Tapi kita tidak bisa melepaskan kemungkinan sekecil apapun!!”
“Ya, dan oleh karena itu kita akan membawanya ke kantor untuk diinterogasi.
“Berapa kali Silent Rose bisa lolos dari kita? Terlalu beresiko untuk membawanya ke kantor sekarang. Percaya padaku, Komandan!” kali ini Rio memanggil Dean dengan sebutan komandan, sesuatu yang belum pernah dia lakukan sebelumnya.
Dean memandang Rio sejenak. “Terserah kaulah,

***

Dean menyimak dengan seksama apa yang baru saja diceritakan oleh Ian. Seorang gadis bernama Cathy yang terdengar sangat binal. Selama ini mereka belum pernah memiliki pikiran bahwa Silent Rose adalah seorang wanita. Keadaan hening sejenak, Rio menatap tajam ke arah Ian, memperhatikan dengan seksama dari ujung kaki hingga ujung rambut.
“Percuma kau berusaha untuk menutupinya, Silent Rose. Aku tahu itu adalah dirimu,” nada suara Rio terdengar datar. Ian membalas tatapan mata Rio dengan tatapan yang seolah berkata ‘what the hell??’
“Kau akan tetap disini bersama kami sampai penyelidikan selesai,” Dean menutup notes kecilnya. “Gadis bernama Cathy itu… kami akan menemukannya.
“Ada hal lain yang ingin kau sampaikan, Silent Rose?” Rio bertanya. Ian mengalihkan perhatian dari pandangan mata detektif muda itu. Tangannya masih terbogol rapat. Ian harus mengakui, ada satu sisi yang menarik dari Detektif muda bernama Rio ini. Sesuatu yang sangat menarik.
Dering telepon memecah keheningan di ruangan tersebut. Dean beranjak menjauh untuk menerima panggilan. Rio masih menatap dalam-dalam ke arah Ian.
“Itu kau, kan?” tanya Rio setengah berbisik.
“Apanya yang itu kau?” Ian menunjukkan ekspresi tidak mengerti.
Yang membunuh Kepala polisi Komang Mahendra, tiga tahun yang lalu,” mimik serius tampak kental pada raut wajah Rio. Tatapannya terasa makin tajam, seolah hendak membaca setiap gerakan tak terlihat pada kulit wajah Ian.
Ian menggeleng, “Aku tidak tahu apa yang kau katakan,” ujarnya kemudian.
Dean kembali diantara mereka, mendekat ke Rio dan membisikkan sesuatu. Sejenak raut wajah Rio berubah. Dengan kemampuan pengamatannya yang tajam, Ian dapat merasakan bahwa apapun yang baru saja dibisikkan oleh Dean, bukanlah kabar baik baginya.
“Cerdik sekali,” Rio menggumam samar, matanya kembali menatap ke arah Ian, senyum samar tersungging di bibirnya. “Kau hampir menipuku lagi, Silent Rose,” kali ini suaranya terdengar jelas. “Dengan sengaja hanya menggunakan boxer saat melakukan eksekusi, untuk mengecoh pihak kepolisian, sehingga kau akan lolos dengan memanfaatkan status saksi kunci.” Rio beranjak dari kursinya dan berjalan mendekat ke arah Ian. “Sayang… trik murahan itu tidak akan berhasil melawan kami.
“Apa maksudnya?!” nada suara Ian meninggi. “Sudah kubilang aku bukanlah Silent…”
Ian tidak dapat menyelesaikan kalimatnya, sebuah bogem mentah membungkamnya. Rio melepaskan tinju tepat ke rahang kanannya, membuat kepalanya berpaling ke kiri dengan seketika. Anyir… Ian dapat merasakan bibirnya berdarah akibat hantaman tiba-tiba itu. Dean berdiri dari kursinya, tampak terkejut dengan tindakan detektif muda itu.
“Kau masih berusaha untuk mengelak!! Setelah kami menemukan bukti sidik jarimu pada senjata itu!” Rio mencengkeram kedua bahu Ian, membuat kursinya berputar hingga kini mereka berhadapan sangat dekat. “Aku tidak akan memaafkan, tidak akan pernah! Silent Rose akan kukirim ke tiang gantungan, seperti yang dilakukannya pada Kepala Polisi Komang Mahendra!” Usai bicara, tanpa ampun Rio melayangkan lagi dua tinjunya ke rahang Ian.
“CUKUP!! RIO!!” Dean membentak, sambil bergegas menahan kedua bahu detektif muda itu.
Rio masih menatap Ian dengan tatapan marah, seolah menyimpan sebuah dendam kesumat yang telah menunggu lama untuk dilampiaskan. Rio mengibaskan pundaknya, dan tanpa menghiraukan Dean, dia melayangkan satu tinju lagi.
BUKK!!
Rio tersungkur jatuh, Dean meninjunya lebih dulu. Sepertinya Dean sudah kehabisan akal untuk menghentikan aksi main hakim yang dilakukan oleh detektif muda itu. Rio memandang ke arah Dean, bibirnya berdarah.
“IKUT AKU!!” Dean menghardik, belum pernah sebelumnya Rio melihat Dean berkata dengan penuh emosi seperti yang dilakukannya saat ini. Rio bangkit dengan setengah terhuyung, tinju Dean cukup keras, detektif muda itu mengikuti langkah Dean keluar kamar.
Setibanya mereka di luar kamar. Dean mendorong tubuh Rio hingga punggungnya menghantam dinding. “Kau sudah gila apa?! Kendalikan dirimu!!” Dean berkata penuh tekanan, matanya menatap tajam pada detektif muda di depannya.
“Dia Silent Rose!” Rio membantah.
“Itu belum pasti!! Kita punya asas praduga tak bersalah! Penyidik memang menemukan sidik jarinya di senapan laras panjang itu, namun apa kau tidak berpikir bisa Silent Rose membuat pemuda itu memegang senapan saat dia tidak sadarkan diri?!”
“Itu trik-nya!! Dia sengaja melakukan itu, agar kita tidak mengira bahwa dialah Silent Rose! Semuanya adalah trik! Penampilannya yang setengah telanjang, dan cerita palsunya. Dia bahkan sengaja menyewa kamar di depan TKP hanya untuk mengelabui kita!” Rio membantah argumen yang disampaikan Dean.
"Kau boleh beropini apa saja!! Tapi bicaralah dengan bukti!!" Dean menghardik Rio. "Dengan tertangkapnya Silent Rose, berakhir juga pencarian kita," Dean berhenti sejenak, mencoba mengatur nafasnya. “Tapi itu jika dia BENAR-BENAR Silent Rose!”
Rio menatap Dean dalam-dalam. "Seharusnya ini tidak berakhir disini, seharusnya ada sebuah fakta mengejutkan yang lebih besar setelah kita menangkap Silent Rose."
“Itu jika dia benar-benar Silent Rose!!” Dean memberi tekanan lebih pada kata ‘benar-benar’.
Rio kembali diam, tampak emosinya sudah mulai kembali tenang. “Aku terbawa emosi, maaf…” hanya itu kalimat yang keluar dari lidah Rio. “Kita sudah sedekat ini… aku… aku…”
“Aku mengerti perasaanmu, kau sangat mengagumi almarhum mantan kepala polisi kita Komang Mahendra yang dibunuh oleh Silent Rose. Kendalikan dirimu, jika pemuda itu memang Silent Rose, kita akan menemukan bukti untuk mengirimnya ke tiang gantungan, seperti yang kau katakan sebelumnya,” Dean mencoba menenangkan Rio.
“Dia sudah seperti Ayah bagiku…” Rio berhenti, memejamkan mata dan menarik nafasnya dalam-dalam. “Sekarang? Bagaimana cara kita mencari bukti?”
“Kita harus menyelidiki apakah yang diceritakannya benar. Aku akan mengambil sample darah dan urine pemuda itu untuk diperiksa, apakah ada kandungan obat bius di dalamnya.
“Tentu saja…” Rio menepuk dahinya sendiri. “Kenapa aku tidak memikirkan hal itu?
“Dan satu lagi, seperti yang kita ketahui, tembakan Silent Rose kali ini meleset, belum pernah terjadi sebelumnya. Silent Rose pasti akan berusaha menghabisi Ahmadi Fahsa lagi. Namun, jika pemuda itu adalah Silent Rose, maka tidak akan ada aksi berikutnya.
“Jika terjadi pembunuhan lagi, maka dia bukan Silent Rose,” Rio menegaskan analisa yang dilakukan Dean.
Kedua detektif itu kembali larut dalam hipotesa-hipotesa mereka, memanfaatkan data dan pengalaman mereka selama mengejar Silent Rose. Sementara itu, ketika dua detektif itu sedang beragumen di koridor hotel, Ian sedang memikirkan hal lain. Bukan keadaannya yang terikat tak berdaya yang tengah dia pikirkan. Dalam diamnya, Ian mencoba mengingat pesan terakhir yang dikatakan Noisy Cannary. Bank Emerald Bandung. Tidak ada Bank Emerald di Bandung! Bank asing itu hanya ada di kota Jakarta!
Di dalam keputus asaan-nya itu sekilas terbayang wajah Wise Crow. Mungkin Wise Crow dapat memecahkan pesan itu, bukankah sandi-sandi dan pesan rahasia adalah keahlian para agen tipe B, bermain dengan teka-teki yang sangat rumit.
Ian meringis sedikit saat merasakan sakit di rahangnya akibat pukulan dari Rio. Tentu rasa sakit seperti itu tidak seberapa baginya, dia pernah merasakan yang lebih buruk ketika di pelatihan dulu. Keadaan telah berjalan seperti yang dia inginkan, dia kini telah berhasil masuk ke dalam jaringan kepolisian, meski ada beberapa hal yang terjadi di luar rencana dan prediksinya. Kini Ian harus mencari cara untuk merubah keadaan menjadi keuntungan baginya. Tanpa bantuan pasokan alat ataupun senjata, tanpa bantuan Wise Crow, tanpa bantuan siapapun, dengan segudang probabilitas dan rencana yang bermain di dalam pikirannya.
Silent Rose yang sesungguhnya, sedang bergerak dalam diam. Dimana setiap gerakan jarum terkecil dari jam analog sangat menentukan dan dapat merubah keadaan.

~as always, he’s prefer to keep silent until the rose bleeding ~

***

Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia, Jakarta.
Dua mingggu pasca tertangkapnya Ian.

Ruang aula gedung Mabes Polri terlihat ramai malam itu, setidaknya ada tujuh baris kursi yang dipenuhi oleh para ‘kutu berita’ dari berbagai media massa. Ruangan berlantai keramik berwarna dasar krem, dihiasi warna coklat sebagai warna dasar seragam kepolisian itu tampak rapi seperti biasanya. Beberapa wartawan tampak asyik berbincang, membicarakan tentang kemungkinan berita yang merupakan topik terpanas akhir-akhir ini.
Jenderal (Pol) Barat Pradapa tampak sedikit nervous, kumis tebalnya tampak naik turun setiap dia menarik nafas. Pria yang saat ini menjabat sebagai Kapolri itu duduk di kursinya tanpa perasaan nyaman sedikitpun. Duduk di seberang mejanya, dua detektif paling berprestasi yang pernah dimiliki oleh kepolisian ; Dean dan Rio.
“Kalian yakin?” suara Barat Pradapa terdengar berat namun tidak dapat menyembunyikan kekhawatiran di intonasi suaranya. “Hal ini akan membawa pengaruh besar ke khalayak ramai.
“Sejauh ini kami yakin, meski bukti belum terlalu kuat,” Dean mengomentari kekhawatiran yang terlihat di raut wajah Kapolri Barat Pradapa.
Wajar jika Kapolri itu khawatir, tidak setiap hari kepolisian mengadakan konferensi pers, apalagi topik kali ini mengenai kriminal yang kontroversial. Pihak pemerintahan dan kepolisian sepakat bahwa Silent Rose adalah kriminal, sedang di pihak lain, ada beberapa simpatisan yang justru menganggap Silent Rose adalah keadilan yang sesungguhnya.
Kami yakin dengan tersangka yang saat ini kami amankan. Dia adalah Silent Rose,” tambah Rio mencoba meyakinkan.
“Akhir-akhir ini semua penuh dengan tekanan,” kumis tebal Kapolri Barat Pradapa tampak bergerak samar saat dia bicara. “Dengan adanya konferensi pers ini, mereka semua juga akan tahu bahwa kita tidak hanya berpangku tangan terhadap teror Silent Rose pada kasus daging impor ini. Para cicak-cicak KPK juga bisa melaksanakan tugas mereka tanpa banyak alasan.
Pria itu berdiri dari kursinya dan menarik nafas panjang. “Aku akan memulai konferensi ini, kita akan menyatakan bahwa kita telah menangkap tersangka yang dipercaya sebagai Silent Rose. Dean, Rio, setelah konferensi ini, aku harap kalian dapat menemukan bukti yang memberatkan.” Kapolri Barat Pradapa bergegas ke arah pintu ruangannya.
Sesampai di depan pintu, Pria kelahiran Jombang, Jawa Timur 10 Januari 1956 ini berbalik ke arah Dean dan Rio yang hendak mengikutinya. “Dimana Silent Rose itu sekarang?” tanyanya kemudian.
Dean tersenyum, “Di tempat yang aman,” jawabnya diplomatis.

***

“Dengan ini kami pihak kepolisian menyatakan telah menangkap orang yang diduga kuat sebagai Silent Rose. Saat ini kami tidak dapat mengkonfirmasikan siapa dan dimana orang itu kami tahan. Hal itu untuk meminimalisir gagalnya usaha kami kali ini. Beberapa bukti telah kami dapatkan untuk memberatkan tersangka tersebut. Saat ini kami tengah berusaha mengumpulkan bukti-bukti yang lebih kuat dan otentik sehingga dalam waktu dekat, diharapkan status tersangka tersebut dapat ditetapkan sebagai terdakwa.” Kapolri Barat Pradapa terlihat cukup tenang dalam menyampaikan pernyataannya,
Keadaan seketika menjadi cukup ramai dengan gumaman-gumaman para wartawan yang menghadiri konferensi pers tersebut. “Kami ingin melihat tersangka itu,” salah seorang wartawan berseru. Perhatian semua orang dalam ruangan mendadak tertuju padanya, sebelum kembali ke Kapolri Barat Pradapa yang kini tampak bingung.
"Kalian akan melihatnya setelah status terdakwa ditetapkan. Saat ini kami butuh waktu untuk mencari bukti yang lebih kuat. Kami tidak main-main,” Dean menimpali, mencoba meng-cover Kapolri Barat Pradapa yang tampak bingung. Meski masih tergolong muda, hampir semua wartawan tahu kredibilitas Dean maupun Rio yang luar biasa dalam menyelesaikan beberapa kasus kriminalitas dengan tingkat akurasi yang sangat baik. Jika detektif sehebat Dean saja meminta waktu, itu artinya mereka sedang bekerja keras.
Fidya Lidwina kembali terlihat di monitor, namun belum sempat Frida membacakan beritanya, televisi sudah dimatikan. Eva menoleh ke Wise Crow yang baru saja mematikan televisi. Pria tua itu tampak dengan tenang mengambil selembar kain dan kembali menggosok gelas-gelas kacanya.
“Apa anda tidak akan melakukan sesuatu?” Eva bertanya pada Wise Crow, gadis itu jelas terlihat khawatir dengan keadaan Ian yang tanpa kabar. Meski terlihat penuh kekhawatiran, gadis muda itu masih terlihat cantik.
“Apa ada yang mengabarkan bahwa yang mereka tangkap itu adalah Ian?” Mr. Wise bertanya balik, dengan nada datar yang sulit ditebak. Bahkan tanpa menghentikan kegiatan mengelap gelasnya sekalipun.
“Tidak…” Eva menggeleng. Gadis itu diam beberapa detik, memandang kosong ke arah gelas di tangan Wise Crow. “Benar juga, tidak mungkin Ian tertangkap semudah itu. Jadi menurut Paman, siapapun yang mereka tangkap jelas bukan Ian? Artinya mereka telah menangkap Silent Rose palsu itu,” raut wajah Eva memperlihatkan sedikit kelegaan.
“Oh, menurutku itu pasti Ian…” Wise Crow meletakkan gelas di tangannya dan memandang pada Eva yang bereaksi dengan mengernyitkan alisnya. “Hanya akan menambah tingkat kesulitan jika benar Silent Rose palsu tertangkap lebih dulu oleh kepolisian. Jika saja Ian tahu identitas copycat brengsek itu, mungkin dia bisa menghabisinya diam-diam. Tapi Ian tidak tahu, bahkan tidak secuil informasi pun.
“Polisi lebih punya informasi lebih,” Eva menanggapi ucapan Mr. Wise. “Jadi Ian menyerahkan diri ke mereka, agar mendapat informasi tersebut?”
“Dia memilih memainkan permainan dengan cara yang paling berbahaya,” Wise Crow mengambil gelas lain untuk dibersihkan. “mungkin dia membuat dirinya tertangkap dan menunggu sampai polisi mengungkap keberadaan Silent Rose palsu. Begitu Silent Rose palsu itu ditemukan, dia baru bergerak menghabisi sang target.
“Bagaimana kalau tidak? Bagaimana kalau polisi tidak pernah berhasil mengungkap identitas Silent Rose palsu itu?” Eva bertanya sekali lagi.
“Maka itu adalah musibah baginya, dia harus menemukan cara untuk meloloskan diri dari kepolisian. Dan jika dia sampai menyandang status buronan, kami harus membersihkannya.
“Membersihkannya?” Eva mencoba memperjelas apa yang didengarnya. “Siapa?”
“Association,” Wise Crow berkata pelan. “Direct Order punya jangka waktu yang tidak banyak, jika dianggap melakukan tindakan yang membahayakan Association maka kami tidak punya pilihan lain selain melenyapkan ancaman itu.
“Tidak adakah yang bisa kau lakukan?” kali ini nada suara Eva terdengar sedikit memohon.
Wise Crow memandang tajam ke arah gadis manis itu. Sudah tiga minggu gadis itu menumpang tinggal di Green File Café. Pandangan Pak tua itu kini menyusuri lekuk pinggang gadis itu, dan terus hingga ke wajahnya.
“Kau ingin tahu jawabannya?” tanya Wise Crow dingin.
Eva mengangguk.
“Ikut denganku,” Wise Crow memberi isyarat pada Eva untuk mengikutinya ke ruang kerjanya, dan dia memberi aba-aba pada Juna, karyawannya untuk menggantikannya di meja bartender. Gadis manis itu mengikuti langkah Wise Crow menuju ke ruang kerja Pak tua itu.
“Tutup pintunya,” Mr. Wise memerintahkan Eva untuk menutup pintu ruangan tersebut.
Eva beranjak untuk menutup pintu, dan ketika dia berbalik, dia cukup terkejut melihat Pak Tua itu kini telah menanggalkan celananya. Penis Pak Tua itu memiliki diameter yang cukup besar, terjuntai malas di antara kedua paha telanjangnya. Eva bergidik melihatnya.
“Kau tahu apa yang harus kau lakukan,” ujar Mr. Wise dengan sedikit senyum picik tersungging samar di wajah keriputnya.

***

Gemericik air yang keluar dari shower memenuhi kamar mandi di hotel berbintang tersebut. Di luar kamar mandi, Dean sedang membersihkan Smith & Weston 45ACP nya dengan sapu tangan. Rio bersandar pada dinding luar kamar mandi sambil menghisap dalam-dalam rokoknya.
“Aku sedikit bingung dengan semua ini,” Dean berkata sambil mengisi amunisi ke senjatanya. “Hasil tes urine dan darah menunjukkan adanya kandungan zat kimia lipolichity dengan konsentrasi padat. Hal itu mendukung kebenaran dari cerita yang disampaikan pemuda itu.
“Bisa saja dia menyuntikkan zat itu ke dirinya sendiri kan?” Rio menanggapi.
“Berdasarkan hasil pemeriksaan, zat itu sudah beredar di dalam darah pemuda itu sekitar antara pukul dua dan tiga pagi. Efek dari dosis terkecil zat tersebut dapat menyebabkan kehilangan kesadaran selama dua belas jam. Kalaupun pemuda itu menyuntik dirinya sendiri, dia baru bisa sadar setelah pukul dua siang,” Dean memperjelas hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh tim laboratorium kepolisian.
“Dan?” Rio menunggu lanjutan dari ucapan Dean.
“Kita segera berlari ke kamar itu begitu penembakan terjadi, memakan waktu sekitar sepuluh menit dari tempat kita ke kamar tersebut. Saat mendobrak, aku masih ingat betul angka di jam dinding kamar itu menunjukkan pukul 13:30.
“Artinya penembakan terjadi sekitar pukul 13:20, dimana seharusnya saat itu tersangka kita harusnya baru mendapat kesadarannya atau belum sadar sama sekali,” Rio menyempurnakan analisa Dean.
“Artinya tersangka kita punya alibi yang cukup kuat,” Dean menegaskan.
“Satu trik lagi,” Rio bergerak ke arah tempat sampah dan mematikan rokoknya. “itu satu trik lagi yang digunakan oleh tersangka. Dengar Dean, bagaimana kalau kita coba melihat dari sisi positifnya sekarang… sejak kita menahan pemuda sialan ini, Silent Rose tidak bergerak lagi.
“Ya, itu yang jadi pemberat bagi tersangka kita,” Dean membenarkan ucapan Rio. “Namun bukti-bukti yang kita miliki masih minim. Kita perlu bukti lebih kuat untuk merubah status tersangka menjadi terdakwa.
“Bagaimana dengan gadis bernama Cathy itu?” Rio menanyakan satu nama yang sempat disebutkan Ian.
“Tim penyelidik sedang bekerja keras mencari identitas gadis itu. Sepertinya gadis itu sudah meninggalkan Jakarta.
“Kau tahu kenapa aku begitu yakin pemuda itu adalah Silent Rose, Dean?” tanya Rio kemudian, nada suaranya terdengar pelan, setengah berbisik. Dean menggeleng.
Rio menoleh sejenak ke arah kamar mandi, memastikan bahwa tidak ada suara aktivitas yang mencurigakan di dalamnya.
“Kau tahu aku pernah berpapasan dengan Silent Rose sebelumnya, tujuh tahun yang lalu. Saat aku masih baru bergabung dengan kepolisian,” Rio mengambil sebatang rokok dan mulai membakarnya lagi.
“Ya, kau jadi satu-satunya saksi mata pada malam itu,” Dean menanggapi.
“Malam itu aku dan Jenderal (Pol) Komang Mahendra sedang menguntit seseorang, aku tidak tahu kalau yang kami kejar adalah orang yang berbahaya seperti Silent Rose. Waktu itu kami bersembunyi di sebuah gang kecil di antara dua gedung bertingkat tiga. Dan teriakan seorang wanita menarik perhatian kami,” Rio diam sejenak, menghisap dan menghembuskan asap rokoknya yang mengepul.
“Beberapa meter dari kami, tepat di seberang jalan,” Rio kembali melanjutkan ceritanya. “Seorang wanita sedang berebutan tas tangan dengan seorang pria, mereka saling tarik sampai akhirnya sang pria memukul wanita tersebut. Setelah itu, pria itu mulai lari, sang wanita meneriakkan kata ‘jambret’ dan meminta pertolongan, saat itu aku sudah hendak mengejar penjambret itu namun Jenderal Komang menahan pundakku.
Dean menggeser duduknya saat Rio menghentikan ceritanya untuk sejenak. Dean memang pernah mendengar dan membaca detail peristiwa dari berkas laporan kematian Jenderal (Pol) Komang Mahendra, namun baru kali ini dia mendengar langsung dari Rio.
“Jenderal Komang memintaku untuk tidak mengabaikan penjambret tersebut dan memberitahu polisi lain untuk mengurus penjambret tersebut. Tapi yah… kau kenal bagaimana aku, aku tidak bisa tinggal diam melihat sesuatu terjadi di depan mataku. Kami berdebat cukup sengit waktu itu.
“Dan akhirnya?” Dean bertanya.
“Aku memutuskan untuk tetap mengejar penjambret tersebut, rasa idealisku masih cukup besar… kurasa sampai sekarang pun belum berubah. Aku mengejar dan menangkap penjambret tersebut. Hanya butuh waktu sepuluh menit saja untuk meringkus dan kembali ke tempat pengintaian kami, saat itu aku bertabrakan dengan seseorang, aku tidak sempat melihat wajahnya, waktu itu aku fokus untuk segera kembali ke posisi pengintaian.
“Sepuluh menit?” Dean mengernyitkan alisnya. “Kau ingin memecahkan rekor?”
“Yup! Rekor penangkapan tercepat dan terbaik. Namun sepuluh menit itu adalah kesalahan, karena saat aku kembali, darah sudah mengalir dari leher Jenderal Komang…”
Rio terdiam, Dean terdiam dan keadaan mendadak menjadi hening dalam kekakuan, hanya gemericik air dari shower yang terdengar.
Penjambret itu?” Dean bertanya.
“Dia dibayar oleh seseorang sebesar dua juta, hanya untuk mengambil satu tas dari pejalan kaki disana, terserah siapa saja. Saat aku keluar dari gang untuk mengejar, saat itulah Silent Rose tahu tempat pengintaian kami, dan dia membunuh beliau dengan sangat cepat. Itu semua hanya trik, Dean… trik licik yang dilakukan oleh Silent Rose!!”
Ekspresi wajah Rio menunjukkan emosi yang susah dilukiskan, kecewa, marah, sedih semua seolah bercampur menjadi satu di setiap jengkal wajahnya. Dean menyodorkan sekaleng soda dingin untuk menenangkan perasaan Rio.
“Itu bukan salahmu,” ujar Dean menenangkan.
“Seharusnya aku tak pernah meninggalkan tempat itu…” gumam Rio lirih.

***

Suhu ruangan di ruang kerja Wise Crow terasa gerah, meski pendingin ruangan itu menyala. Mata Pak tua itu terpejam, kenikmatan tampak di raut wajah keriputnya. Sesekali pria tua itu melenguh menikmati apa yang terjadi pada tubuh bagian bawahnya.
Berlutut di hadapan Mr. Wise, Eva tengah menggerakkan kepalanya maju-mundur beraturan, mulut gadis cantik itu kini tengah menghisap batang kejantanan pria tua itu. Eva memejamkan matanya, sambil sesekali menghisap dalam-dalam penis Mr. Wise. Pakaian Eva masih lengkap, T-shirt ketatnya masih melekat di tubuhnya, begitu pula dengan busana lainnya, namun tidak bisa disangkal, berada di ruangan kecil sambil menghisap penis seseorang turut menaikkan libidonya.
Eva memainkan lidahnya seolah itu adalah batang kejantanan yang sangat disukainya, meski dalam hatinya dia tidak menginginkan hal ini. Gadis cantik itu telah memilih untuk menjalankan perannya demi bantuan untuk Ian sang Silent Rose. Kali ini, meski tanpa diminta oleh Ian, Eva berusaha sebaik mungkin untuk mensupport Ian.
“Ouhhh....” Mr. Wise melenguh saat Eva memasukkan tiga perempat batang kejantanannya ke mulut mungil sang gadis.
Eva menahan nafas, berusaha memasukkan penis tua itu lebih dalam lagi ke tenggorokannya, Gadis muda itu menahan penis itu tetap dalam posisi terdalam yang bisa dicapainya untuk beberapa detik sebelum kembali menarik lepas penis itu. Eva melayangkan pandangannya sejenak pada Mr. Wise, pria tua itu kini tampak sedikit bergetar saat Eva menggerakkan lidahnya, menyapu kepala penis pria tua itu dengan gerakan yang lamban namun penuh tekanan. Gadis itu lalu kembali berkosentrasi pada penis tua itu dan kembali menggerakkan kepalanya maju-mundur, membuat batang Mr. Wise terkocok dalam mulutnya.
Setelah beberapa saat, Mr. Wise menahan kepala gadis cantik yang tengah memberinya fellatio kelas tinggi dan mencabut penisnya dari mulut Eva. “Kau hampir membuatku bobol tadi,” ucap Pria tua itu, senyum cabul tersungging di wajahnya.
Pria tua itu mengangkat tubuh Eva berdiri sebelum dengan rakus lidahnya bergerak mencium leher gadis cantik itu. Eva memejamkan mata, mencoba tetap fokus pada perannya, jika dia mencoba melawan sentuhan ransangan yang diberikan Mr. Wise, tentu dia tidak akan bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik. Bagaimanapun, dia harus bisa larut dan menikmati permainan Wise Crow.
“Sshh...” tubuh gadis cantik bergidik saat tangan besar Wise Crow meremas buah dadanya dari luar T-shirt ketatnya. Eva mendesis saat merasakan kenikmatan mulai masuk ke dalam tubuhnya. Mr. Wise memainkan payudara ranum gadis itu dengan remasan-remasan yang cukup bertenaga, tidak terlalu keras, namun cukup untuk membuat gadis itu menggeliat dan mendesis keenakan.
“Dadamu padat sekali,” di sela-sela kegiatan mesumnya Mr. Wise masih sempat berkomentar. Eva memejamkan matanya, mencoba menstimulasi dirinya sendiri dengan imajinasi agar dapat lebih menikmati rangsangan demi rangsangan yang diberikan pria tua itu.
Tidak puas dengan itu, Mr. Wise menarik T-shirt Eva naik hingga terlepas lewat leher dan kedua tangannya. Kulit tubuh Eva yang putih serta buah dadanya yang masih tersangga oleh bra berwarna krem yang dikenakannya. Eva pasrah saat pria tua itu menanggalkan penutup terakhir dadanya. Wise Crow memandangi payudara Eva yang kini tersaji telanjang di depannya, menampakkan puting mungil kecoklatan muda yang menggiurkan. Dada Eva memang cukup indah dan padat. Nafas Wise Crow memburu saat pria tua itu mulai menghisap puting kiri gadis cantik itu, membuat gadis itu menggelinjang dan mengerang.
Wise Crow bermain cukup lama dengan dua buah bukit yang membusung indah itu. Setelah puas bermain dengan dada Eva, jari-jemari pria tua itu bergerak turun dan mulai melepas kancing celana yang dikenakan Eva. Gadis cantik itu menggerakkan tubuhnya, memudahkan Mr. Wise untuk melucuti celana beserta celana dalamnya dengan cepat.
“Enghh…” Eva mengerang saat jari tengah gemuk Mr. Wise menyentuh bagian kewanitaannya, tubuh gadis itu terlonjak seolah tersengat sesuatu saat jari itu menyentuh klitorisnya. Tidak butuh waktu lama untuk membuat vagina gadis itu basah atas cairannya sendiri. Erangan demi erangan semakin terdengar tatkala Mr. Wise memainkan jarinya.
Mr. Wise tampaknya tak ingin berlama-lama dengan foreplay-nya, dia membalikkan tubuh telanjang Eva. Seakan mengerti apa yang diinginkan oleh Mr. Wise, Eva membungkukkan punggungnya, kedua tangan gadis itu bertumpu pada meja kerja Mr. Wise. Tanpa banyak suara dan gerakan, Mr. Wise meremas pantat bulat gadis itu, kemudian tangannya bergerak mencengkeram pinggang indah Eva.
“Buka sedikit kakimu,” perintah Mr. Wise, Eva menggerakkan kakinya sedikit tanpa bicara sepatah katapun. Tubuhnya sedikit terlonjak saat dia merasakan sesuatu yang keras, lembut dan hangat menggesek gerbang kewanitaannya. Mata keduanya lalu terpejam, erangan keluar nyaris bersamaan dari kedua manusia berlainan jenis ini saat sedikit demi sedikit penis pria tua itu memasuki tubuh sempurna Eva.
Wise Crow tidak menunggu lama, pria tua itu memacu penisnya sambil mengerang menahan kenikmatan yang diberikan oleh jepitan vagina gadis muda itu. Di lain pihak, Eva memejamkan kedua matanya, tubuhnya terayun-ayun mengikuti pompaan Mr. Wise. Sodokan demi sodokan memberinya kenikmatan yang benar-benar membuainya. Penis besar Mr. Wise bergerak teratur menggesek dinding kewanitaannya.
Eva menggigit bibir bawahnya, tangannya mencengkeram pinggiran meja saat Mr. Wise menaikkan tempo genjotannya. Desahan-desahan kini terdengar makin nyaring saat Eva menekuk sedikit punggungnya ke atas. Melihat postur tubuh Eva yang terlihat sangat seksi, Mr. Wise memindahkan tangan kanannya ke payudara Eva, meremas dan menjadikannya acuan dorong saat penisnya menyodok makin kencang.
Semua yang dilakukan Mr. Wise memberi kenikmatan luar biasa pada diri Eva, sebelah payudara Eva yang bebas tampak terayun-ayun. Bibir Eva merekah saat gadis itu mengerang keras, badannya menegang, menikmati sebuah kenikmatan yang merambat cepat dari dalam liang kewanitaannya ke seluruh bagian tubuh yang lain. Gadis cantik itu telah mencapai orgasmenya.
Melihat lawannya telah takluk atas keperkasaannya, senyum tersungging di bibir Mr. Wise. Pria itu tampak puas bisa menaklukkan gadis muda seperti Eva di usianya yang sudah tidak muda lagi. Mr. Wise tidak ingin membuang waktu, dia kembali menggerakkan penisnya merojok vagina gadis cantik itu. Tubuh Eva berayun-ayun makin kencang, hanya desahan lemah yang keluar dari bibir gadis itu. Sebisa mungkin Eva memantapkan pegangannya ke tepi meja saat Mr.Wise menungganginya makin cepat dan kasar.
“Argh!!” setelah beberapa menit memompa gadis itu akhirnya Mr. Wise menyerah. Pria tua itu membenamkan penisnya dalam satu hujaman, membuat Eva merintih terkejut. Tidak lama kemudian batang kejantanannya menumpahkan isinya ke rahim gadis muda itu, badan pria tua itu berkelonjotan sesaat, menggambarkan kenikmatan yang dia rasakan. Setelah puas, barulah Wise Crow mencabut penisnya dan menyambar celananya.
Eva berlutut memegangi pinggiran meja, kakinya terasa lemas, gadis itu berusaha untuk mengatur kembali nafasnya. Bulir-bulir keringat kini membasahi kulit telanjang gadis itu, membuatnya terlihat berkilau dan menggiurkan.
“Kau bertanya apa ada yang bisa kulakukan untuk membantu Silent Rose?” tanya Mr. Wise, nafasnya masih tersengal-sengal. Eva menoleh ke arah Wise Crow yang kini telah mengenakan kembali celananya lalu mengangguk lemah.
“Well… tidak ada yang bisa kulakukan.” Wise Crow berkata datar, senyum licik tergambar samar di wajahnya.
“Apa?!” Eva terbelalak, nafasnya serasa tercekat di tenggorokan.
“Ian sendiri yang memutuskan untuk menyimpan sendiri rencananya. Tidak ada yang bisa kulakukan. Jika aku tidak tahu apa-apa, aku tidak mau mengambil resiko membahayakan diri atau merusak rencana Silent Rose.”
Eva tampak sebal menyadari bahwa dia telah menyerahkan tubuhnya secara sia-sia. Dalam hati dia mengutuk apa yang baru saja dilakukan oleh Pak tua sialan di hadapannya ini. Namun gadis itu hanya diam, percuma dia mengumpat atau marah, semua sudah terjadi dan dia sudah disetubuhi.
“Tapi…” Mr. Wise melanjutkan ucapannya. “Association tidak akan tinggal diam jika dia memang melakukan sesuatu yang membahayakan organisasi. Mungkin mereka akan melakukan sesuatu.”
Kalimat terakhir Wise Crow seolah memberi harapan tipis pada Eva. Meski hanya kemungkinan kecil, namun itu satu-satunya harapan yang saat ini bisa dipegang oleh gadis cantik itu. Eva bangkit perlahan dan memunguti pakaiannya tanpa menatap Mr. Wise sedikit pun.
Sementara di meja bartender, Juna tampak bingung mencari tissue untuk membersihkan cairan spermanya yang meluber akibat apa yang dilihatnya di layar kecil di depannya.

***

Kamar hotel tempat disekapnya Ian
Tiga hari pasca konferensi pers.

Ian tampak terduduk lemah di atas kursi, tangannya masih terbogol rapat, borgol itu sendiri telah meninggalkan garis samar di kulit pergelangan tangannya. Wajah Ian tampak lebam di beberapa tempat, hasil interogasi Rio dan Dean yang makin lama makin keras. Dalam hati Ian tertawa kecil. Dia paham betul, saat interogasi semakin dekat dengan aksi kekerasan, itu artinya para polisi mulai menemui jalan buntu. Kini tinggal menunggu waktu sampai dia bisa dinyatakan tidak bersalah.
Pandangan Rio tampak tajam ke arah pemuda di depannya, satu-satunya tersangka dalam kasus kali ini. Berkali-kali dalam benaknya Rio mencoba mengingat sosok yang menabraknya tujuh tahun lalu, namun keadaan malam yang gelap berhasil menghalanginya mengingat. Rio menarik pistolnya saat mendengar suara pintu terbuka, berhadapan dengan Silent Rose menaikkan tingkat kesiagaannya, dia tidak ingin ada celah sedikitpun.
Tonight rose will silent forever.” Terdengar suara Dean dari arah pintu.
Rio menurunkan senjatanya dengan lega, Dia dan Dean menggunakan sebuah sandi untuk mengenali satu sama lain. Siapapun yang masuk harus mengucapkan sandi tersebut. Jadi meskipun Rio mendengar suara Dean, namun Dean tidak menyebutkan sandi, saat itu Rio harus curiga, bisa saja seseorang menodong Dean dan masuk bersamanya ke dalam kamar.
“Kemarilah, Rio.”
Rio melayangkan pandangannya sekali lagi ke arah Ian, memastikan tersangka satu-satunya tetap terikat dan tak berdaya. Setelah memastikan, Rio beranjak ke ruang tengah, menemui Dean yang tampak kusut. Kedua tangan Dean bertumpu pada meja sambil memegangi kepalanya sendiri.
“Apa ada kabar terbaru?” tanya Rio.
Dean mengangkat wajahnya. “Ya, tim penyelidik berhasil mengidentifikasi gadis bernama Cathy itu.”
Rio bergegas duduk di sebelah Dean dan membakar sebatang rokok. “Lalu? Apa gadis itu berhasil ditangkap?”
“Gadis itu berada dalam ancaman,” tukas Dean sambil melongokkan kepalanya ke arah dapur, tempat Ian disekap. “Seseorang mengancam gadis itu melalui telepon, mengirim beberapa lembar foto pribadinya dan menyuruhnya mengikuti instruksi.”
“Kau sudah bertemu dengan gadis itu?”
“Ya.” Dean mengangguk. “Setelah ini kau bisa menemuinya di kantor kalau kau mau, mungkin kau ingin menginterogasinya sendiri.”
Rio menggeleng. “Tidak perlu, dari awal aku sudah menduga gadis itu cuma alat. Dan kecil kemungkinan Silent Rose menemui langsung gadis itu kan?”
“Tepat sekali!” Dean menjentikkan jarinya. “Gadis itu hanya menerima ancaman, instruksi dan uang tunai sebesar empat puluh juta. Lalu siapapun yang mengancam gadis itu, dia melakukannya via telepon.”
“Sudah kau periksa ponsel gadis itu?”
“Itu hal pertama yang kulakukan. Hasilnya negatif, orang itu menelepon dari nomor yang tidak terdaftar di operator manapun.”
“Wow,” Rio menggeleng. “itu hal yang belum pernah terjadi di Indonesia sebelumnya, itu pasti terkait dengan teknologi. Kau sudah mencoba mensinkronisasikan cerita gadis itu dengan apa yang disampaikan tersangka kita?”
“Ya.” Dean menjawab pelan. “Semuanya cocok… ada beberapa bagian yang tidak sama, namun setelah aku desak, akhirnya gadis itu menceritakan sebenarnya, dan kali ini semuanya cocok.”
Keduanya terdiam untuk sesaat, mereka berpikir, ditemukannya Cathy yang merupakan tokoh penting dari kasus kali ini bukannya memberi keuntungan justru makin mengaburkan investigasi. Ian kini semakin jauh dari status terdakwa.
Dering ponsel memecah keheningan, Dean mengangkat ponselnya, setelah membaca nama yang tertulis di layar ponsel, dia menerima panggilan itu.
Rio melayangkan pandangannya ke dapur, naluri detektifnya belum mempercayai kenyataan bahwa mereka semakin jauh dari Silent Rose. Bahwa pemuda yang kini mereka sekap sebagai tersangka benar-benar tidak bersalah. Kemungkinan bahwa Ian bukanlah Silent Rose memang semakin besar. Tapi bagaimana kalau itu ternyata trik? Itu hanya permainan rencana yang dimaui oleh Silent Rose. Mungkin saja Silent Rose menonton kala mereka mengadakan konferensi pers dan tertawa dalam hati. Membayangkan sosok Silent Rose dengan senyum lebarnya saat menyaksikan mereka bermain sesuai rencana membuat Rio merasa muak. Rasanya, kini mereka tak ubahnya sebuah bidak dalam sebuah papan catur berdarah.
Rio menangkap kecemasan dan ketidak-percayaan muncul di wajah Dean setelah Dean menutup panggilan. “Siapa yang menelepon?” tanya Rio pada Dean.
“Kapolri kita…” Dean diam sejenak, tidak segera menyelesaikan ucapannya. “Ini buruk,” ujarnya kemudian.
Rio memandang Dean dalam kebingungan. “Ada apa, Dean?”
“Wijatmoko… salah seorang tersangka kasus daging impor yang masuk dalam daftar nama pada surat ancaman Silent Rose…” Dean diam lagi. “Dia terbunuh dengan tembakan jarak jauh. Silent Rose membunuhnya.” ucap detektif itu getir.

***

Hawa ruangan kerja Kapolri Barat Pradapa terasa sangat tidak enak, Kapolri berkumis tebal itu tampak memegangi kepala dengan kedua tangannya, keresahan tampak jelas terpancar dari seluruh gerak tubuh Kapolri tersebut. Bagaimana tidak, baru beberapa hari yang lalu dia mengumumkan pada media massa keberhasilannya menangkap tersangka pembunuhan berencana yang disebut Silent Rose. Dan saat ini satu nama dari daftar ancaman terbunuh, membuat polisi terpaksa menelan ludahnya sendiri.
Jenderal (pol) Barat Pradapa mengangkat wajahnya saat pintu terbuka dan dua detektif terbaiknya; Inspektur (pol) Dean dan detektif Rio memasuki ruangannya. Setelah menutup pintu kedua detektif itu duduk di kursi tepat di seberang meja kerja Kapolri. Keduanya tidak berani mengucapkan sepatah katapun.
“Bangsat!!” Kapolri Barat Pradapa mengutuk keras sambil membanting beberapa koran ke atas meja kerjanya. Koran-koran itu penuh menjadikan kegagalan polisi sebagai headline beritanya, dirangkai dengan judul-judul yang memojokkan kepolisian seperti ‘Kegagalan Polisi’, ‘Pernyataan palsu Kapolri, Bagaimana kita bisa percaya pada polisi’ atau ‘Polisi menipu semua’, dan beberapa judul yang jelas-jelas menghina kepolisian.
“Bagaimana kalian akan menjawab semua ini!!” kemarahan terdengar jelas dari bibir Kapolri. “Seharusnya aku tidak menuruti keinginan kalian untuk mengadakan konferensi pers!” Pria berkumis itu tampak sangat geram, tangannya terkepal.
“Konferensi itu tetap harus dilaksanakan, Jenderal,” Dean menjawab dengan tenang. Kemarahan Kapolri bukanlah hal yang tidak diprediksikan olehnya, detektif kawakan ini menunjukkan kualitasnya untuk tetap terlihat tenang dan sopan dalam keadaan apapun. “Bagaimanapun, konferensi pers itu tetap membawa kemajuan bagi investigasi kami.”
“Dan menambah jatuhnya korban lagi?!!” Kapolri tampak makin geram dengan jawaban Dean. “Membuat kepolisian kehilangan muka?! Itu yang kalian sebut sebagai kemajuan?!!”
“Kami tidak meminta agar perlindungan khusus pada korban-korban terancam untuk dicabut kan?” kali ini Rio membantah, seperti biasa, Rio masih mudah terpancing emosinya. “Meskipun pernyataan mengenai tertangkapnya tersangka Silent Rose diumumkan tidak seharusnya penjagaan dan perlindungan terhadap korban terancam dilonggarkan hingga kasus ini benar-benar tertutup!”
Dean menepuk pundak Rio, meminta detektif bawahannya itu untuk tetap menggunakan kepala dingin. Tepukan itu membuat Rio tidak melanjutkan argumennya. Kapolri Barat Pradapa terdiam sejenak, memang benar seharusnya pihak kepolisian tidak lengah dan tetap menjaga ketat para korban yang tercantum dalam daftar ancaman Silent Rose. Jika saja pihak kepolisian yang bertanggung jawab atas keamanan para korban terancam tidak lalai, mungkin korban bisa diselamatkan. Meski nama baik kepolisian akan tetap tercemar.
“Sebenarnya, Jenderal…” Dean membuka kembali pembicaraan yang sempat terhenti, nada diplomasinya terdengar penuh kehati-hatian namun meyakinkan. “Konferensi pers itu akan menjadi tantangan bagi Silent Rose untuk kembali bergerak. Kami menangkap seorang tersangka, dan untuk memperkuat keyakinan kami, kami harus mengirimkan sebuah umpan. Seandainya tersangka yang kami tangkap adalah Silent Rose, maka tidak akan terjadi apa-apa.”
“Jadi tersangka yang kalian tangkap itu positif bukan Silent Rose?” Kapolri Barat Pradapa menegaskan.
“Belum tentu, Pak,” Rio menyanggah kesimpulan yang diambil oleh Kapolri. “Selama ini tidak ada tanda-tanda bahwa Silent Rose selalu bergerak sendirian. Bisa saja ada orang di luar sana yang membantu Silent Rose.”
“Maksudmu… Silent Rose bukan satu orang saja?” pria berkumis tebal itu bertanya, mencoba menarik kesimpulan dari apa yang disampaikan detektif muda berbakat di hadapannya.
“Ada kemungkinan untuk itu.” Dean menjawab singkat. “Aksi terakhir menunjukkan kemungkinan adanya tersangka lain.”
“Bagaimana dengan tersangka yang kalian sekap? Apa bisa dinaikkan menjadi terdakwa?”
Pertanyaan yang baru saja diluncurkan oleh Kapolri Barat Pradapa membuat dua detektif di depannya mendadak diam. Dengan malas Dean menggeleng.
“Penyelidikan menunjukkan kemungkinan tidak bersalahnya tersangka.” Dean menjawab.
“Tapi kami akan menemukan bukti.” Rio menyahut. “Aku yakin sekali dia turut ambil bagian dalam kasus kali ini.”
“Keyakinan saja tidak cukup, detektif Rio!” Nada suara Kapolri Barat Pradapa kembali meninggi. “Kalian hanya berjalan di tempat dengan keyakinan naif kalian! Aku ingin bukti nyata! Dan untuk itu kau akan dikeluarkan dari kasus ini.”
Kalimat terakhir yang diucapkan Kapolri membuat Dean maupun Rio tersentak kaget.
“Maksud Bapak?” Rio tidak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Sutan Abdila, Kepala Polisi Malasyia semalam menghubungiku, dan dia memberiku saran untuk menangani kasus ini. Aku memutuskan untuk meminta bantuan pihak luar yang lebih ahli dalam kasus pembunuhan berantai disertai surat ancaman seperti kali ini.”
“Pihak luar? Maksud Bapak detektif swasta?” Dean mengernyitkan alisnya, sejauh yang dia tahu tidak ada lembaga swasta di Indonesia yang memiliki detektif lebih baik dari Rio dan dirinya.
“Bukan swasta juga, bisa dibilang aku telah melakukan kerjasama antar negara. Aku mengajukan permohonan ke pihak asing dan mereka mengirimkan salah satu agen terbaik mereka yang pernah membantu beberapa kasus terkait pembunuhan berantai di Asia. Dia telah membantu menangkap pembunuh berantai di prefektur Yamaguchi – Jepang, Juli 2013 lalu. Dan dia melakukan dengan sangat baik.”
“Anda meminta kami untuk bekerja sama dengan pihak asing itu?” Rio menegaskan.
“Dean, bukan kau.” Kapolri tampak yakin dengan keputusannya. “Seperti yang kubilang, kau dikeluarkan dari kasus yang terkait dengan Silent Rose.”
Ekspresi Rio berubah seketika, dia benar-benar tidak percaya, setelah bertahun-tahun dia berusaha meningkatkan daya analisa, ketelitian, dan berbagai kemampuan lainnya hanya untuk mengejar seorang Silent Rose. Dan kini dia disingkirkan begitu saja? Tangan Rio mengepal membayangkan pintu pengejarannya terhadap sosok yang membunuh Komang Mahendra ditutup begitu saja tepat di depan matanya sendiri.
“Dengan segala hormat, Bapak Kapolri,” Dean mencoba memberi komentar, dipandangnya Rio dan Kapolri bergantian sebelum melanjutkan ucapannya. “Selama ini Rio telah memberi banyak kemajuan dalam penyelidikan kepolisian dengan analisanya yang tajam. Jujur saya rasa saya tidak bisa melakukan investigasi dengan baik tanpa kehadiran detektif Rio.”
Kapolri terdiam sejenak, memandangi Dean dengan seksama. “Jadi kau keberatan jika Detektif Rio ditarik dari kasus ini, Inspektor Dean?”
“Tepat sekali, Jenderal.” Dean menganggukkan kepalanya. “Selama ini Rio selalu berhasil melihat apa yang tidak saya lihat. Rio dan saya telah mengikuti jejak Silent Rose ini sejak awal dia beraksi. Menurut saya, dengan tambahan tenaga ahli akan menjadi pembelajaran yang baik bagi kami sekaligus meningkatkan pencapaian dalam kasus ini.”
Jenderal (pol) Barat Pradapa mengangguk-angguk setuju. “Baiklah kalau begitu,” ujarnya kemudian.
Pembicaraan terhenti sesaat ketika pintu ruangan diketuk, seorang petugas berseragam membuka pintu ruangan Kapolri. “Bapak, Mr. Christ Oakland telah tiba dan ingin menemui anda.” ujar petugas itu sopan.
Kapolri Barat Pradapa mengangguk. “Panggil dia kemari, aku ingin sekaligus mengenalkannya pada Inspektor Dean dan Detektif Rio.”
“Orang asing?” tanya Rio pada Kapolri. “Aku pikir dia orang Jepang atau setidaknya Asia.” Wajahnya menunjukkan ketidak-sukaan. Rio memang kurang suka dengan orang barat.
“Dia warga negara Amerika,” Kapolri menjelaskan. “Salah satu agen terbaik, aku sudah membaca resume-nya, dia spesialis dalam penyelidikan dan mata-mata.”
Pintu terbuka, seorang pria asing berkulit putih mengenakan setelan jas hitam yang rapi masuk ke dalam ruangan. Rambut pria itu berwarna pirang, dengan potongan emo yang cukup rapi. Bola mata pria itu berwarna biru, lesung pipit terlihat di pipi kanan-nya ketika dia maju dan bersalaman dengan Kapolri.
“Selamat datang di Indonesia tuan Christian Oakland.” sambut Kapolri Barat Pradapa.
“Christ Oakland, bukan Christian, Jenderal Pradapa.” Christ mengoreksi ucapan Kapolri.
Kapolri beranjak dari kursinya, memperkenalkan Dean dan Rio pada Christ. Christ menjabat tangan keduanya.
“Aku tidak menyangka bahasa Indonesiamu cukup bagus. Ini Inspektor Dean, kepala penyelidikan dalam kasus Silent Rose ini,” Kapolri mengarahkan pandangannya pada Dean. Dean tersenyum dan menyambut jabatan tangan pria asing tersebut. “Dan ini…” Kapolri mengerling pada Rio. “Detektif Rio, detektif terbaik yang kami miliki saat ini.”
Rio menatap tajam pada mata biru pria asing di depannya, lalu menerima jabatan tangan Christ.
“Mohon bantuannya, Agen Christ...”
“C-O,” ucap pria asing itu sambil tersenyum.
“Maaf?” Dean dan Rio menyahut hampir bersamaan.
“Jika kalian hendak memanggilku sebagai Agen, biar kuperkenalkan diriku. Aku Agen C.O, itu nama lapangan yang diberikan bagiku. Clever Owl, FBI.” ucap pria itu dengan nada yang cukup datar.
“Burung hantu, itu sebutan bagi mata-mata terlatih bukan?” Rio bertanya.
“Kau tahu cukup banyak, Detektif.” Senyum ramah kembali muncul di wajah Clever Owl. “Aku memang spesialis investigasi dan mata-mata dari FBI.” Clever Owl mengambil kursi tepat di samping Rio. “Jadi, apa yang kita dapatkan dalam kasus ini?”
“Tidak disini,” Dean menyahut. “Kita akan membahas kasus ini di tempat khusus, jika anda tidak keberatan, Pak Kepala?”
“Tentu saja!” kapolri Barat Pradapa menjawab permintaan Dean. “Lebih baik kalau kalian membahas kasus ini di tempat yang lebih aman dari kantor polisi. Kebocoran bisa terjadi dimana pun.” Dalam hati Kapolri merasa sedikit bingung, bahkan sampai saat ini dia tidak tahu siapa dan dimana tersangka itu disimpan oleh Dean, dia hanya dapat memberikan kepercayaan penuh pada Dean.
Dean mohon diri dari ruangan tersebut. Diikuti oleh Rio dan partner baru mereka Clever Owl dari FBI. Sekilas Rio dapat melihat bahwa Clever Owl adalah agen terlatih yang benar-benar memiliki intelegensi tinggi. Ada kemungkinan dia dapat membantu menyelesaikan dan mengungkap siapa sebenarnya Silent Rose.
“Hanya tinggal satu nama dalam daftar ancaman yang tersisa.” ujar Dean dalam mobil di sela-sela perjalanan mereka meninggalkan Mabespolri. “Ahmadi Fahsa. Silent Rose gagal mengeksekusinya beberapa minggu yang lalu.”
“Gagal?” Clever Owl mencoba memperjelas apa yang diucapkan Dean.
“Tembakannya meleset, saat itu tanpa disengaja Ahmadi Fahsa menunduk mengambil catatan yang terjatuh dari sakunya, dan itulah yang membuat tembakan Silent Rose meleset.”
“Tapi dia tidak pernah meleset sebelumnya, kan?” Agen FBI itu kembali bertanya.
“Tidak,” Rio berkomentar. “Baru kali ini dia meleset, tidak di semua kasus Silent Rose menggunakan tembakan jarak jauhnya, seringkali dia menggunakan semacam trik untuk menghabisi targetnya. Dan baru kali ini juga dia menggunakan semacam surat ancaman.”
“Seolah meminta kepolisian untuk menghentikan aksinya.” komentar Clever Owl. “Jika terlalu banyak ketidakmiripan dengan kasus-kasus sebelumnya, kenapa kalian yakin pelakunya Silent Rose? Bisa saja seseorang mengirim surat palsu menggunakan nama Silent Rose?”
Dean membuka dashboard mobilnya, mengambil sebuah benda yang terbungkus kantong plastik transparan dan menunjukkannya pada Clever Owl. Clever Owl menerima bungkusan itu dan memandangnya dengan heran.
“Itu ciri khas Silent Rose,” Rio berkata. “Dia selalu meninggalkan puntung rokok dengan logo mawar sebagai ciri khasnya. Dan kami telah menyelidiki, puntung rokok yang tertinggal di TKP adalah benda yang dibuat oleh pabrik yang sama.”
“Jadi Silent Rose itu semacam sales rokok?” Clever Owl mencoba berkelakar, tidak satu pun tertawa. Dean dan Rio telah banyak memutar otak untuk memecahkan kasus ini.
“Bagaimana kita bisa mendekati Silent Rose dengan seputung rokok tanpa jejak saliva atau sidik jari seperti ini?” Clever Owl kembali serius.
“Saat tembakannya meleset, aku dan Dean berhasil menemukan lokasi penembakan, dan kami menangkap satu tersangka.”
“Oh! Itu satu kemajuan pesat! Jadi kalian menangkap Silent Rose?”
“Mungkin,” Dean menjawab dengan nada datar. “Atau mungkin kami hanya menangkap pemuda tak beruntung yang masuk dalam perangkap Silent Rose.”
“Kau akan tahu saat menemui tersangka. Kami ingin tahu pendapatmu mengenai dia.”
“Jadi saat untuk sementara pembunuhan itu berhenti, kalian berpikir telah menangkap Silent Rose? Padahal itu mungkin hanya trik untuk mengalihkan perhatian kalian semua.”
Tidak satupun dari kedua detektif kita menanggapi kesimpulan yang diambil oleh Clever Owl, seorang agen rahasia dari FBI. Rio memandang ekspresi pria asing itu dari spion mobilnya, harus diakui, pria asing ini cukup cerdas karena mampu membaca apa yang terjadi dalam waktu sangat singkat.
“Kita lihat saja,” ucap Clever Owl kemudian. “Sepertinya kita bisa membalik keadaan dan menciptakan perangkap untuk pembunuh yang kalian sebut sebagai Silent Rose ini.” tambahnya dengan penuh percaya diri.
Sesuatu muncul di benak Clever Owl, agen rahasia FBI yang kini menjadi ancaman bagi Silent Rose. Sesuatu yang dapat menjadi perangkap bagi Silent Rose. Apakah Silent Rose dapat lolos dari cengkeraman dua detektif terbaik dan satu agen FBI ini?.

“The Rose Will End Soon if He don’t move faster”


BERSAMBUNG
Author : Rainmaker

Tidak ada komentar:

Posting Komentar