Senin, 25 Juli 2016

Tutur Tinular 7



Hak cipta © Buanergis Muryono & S.Tidjab

Di pinggir desa Manguntur siang itu cuaca cukup cerah. Langit berhias awan-awan sirus hingga cakrawala biru tampak elok, menyejukkan mata. Matahari tidak terlalu terik, angin semilir mengayunkan dedaunan. Rumpun daun-daun pandan sesekali gemerisik bergesekan, suaranya kadang menakutkan. Dari kejauhan tampak seorang penunggang kuda. Derap kuda itu makin lama makin keras dan makin dekat.
Seorang gadis yang sedang memetik daun pandan berhenti sejenak memperhatikan pemuda yang menghentikan kuda di dekat tegalannya. Pemuda itu melompat turun dari punggung kuda hingga binatang perkasa cokelat tua itu meringkik. Gadis cantik itu pura-pura tidak mengetahui kedatangan pemuda yang melangkah menghampirinya. Ia makin menyibukkan diri memotong daun-daun pandan yang dianggap sudah cukup tua.
"Ah, gadis Menguntur memang rajin-rajin. Sepagi ini sudah turun ke tegalan untuk memetik daun pandan," sapa pemuda itu hingga mau tidak mau gadis cantik di depannya menghentikan pekerjaannya dan memandangnya sekilas dengan sedikit curiga.
"Siapakah Tuan dan apa maksud Tuan datang kemari?"
"Aku Arya Dwipangga dari desa Kurawan."

"Apakah Tuan masih saudara dengan Arya Kamandanu?"
"Dia adikku."
"O, kalau begitu pasti Tuan bermaksud menemui sahabatku, Nari Ratih."
"Aku gembira sekali kalau kau sudi menolongku."
"Menolong bagaimana yang Tuan maksudkan?"
"Antarkan aku menemui Nari Ratih."
"Saya tidak keberatan mengantarkan Tuan. Rumah sahabatku tidak jauh dari sini." Beberapa saat lamanya gadis itu seperti berpikir, lalu kembali melanjutkan ucapannya, "Tapi apakah dia mau menerima Tuan, itulah soalnya."
"Aku datang dengan maksud baik. Mengapa dia tidak mau menerimaku?"
"Sahabatku itu sekarang mengurung di kamarnya terus menerus. Tidak mau berbicara dengan siapa pun."
"Ah, kasihan sekali sahabatmu itu. Aku ikut prihatin atas kesedihan yang baru dideritanya."
"Dari mana Tuan tahu dia sedang bersedih hati?"
"Akulah yang membuatnya bersedih. Akulah yang bersalah, karena itu aku datang untuk minta maaf padanya."
"Hemh, baiklah. Tinggalkan saja kuda Tuan di tegalan ini. Mari ikut saya." Gadis cantik itu meletakkan potongan daun pandan, menjemurnya, mengebas-ngebaskan tangannya yang kotor lalu melangkah mendahului Arya Dwipangga.
Arya Dwipangga menambatkan kudanya pada sebuah batang pohon kelor. Kemudian ia mengikuti langkah gadis cantik itu pada jalan setapak di sisi tegalan sambil memperhatikannya dari ujung kaki sampai ujung rambut. Ia mengerutkan dahinya ketika melihat tumit gadis cantik itu sedikit pecah-pecah, kasar dan cokelat. Sementara di sela-sela tumit retak itu ada garis-garis hitam. Jemari kakinya agak melebar. Lincah dan trengginas langkah gadis di depannya itu hingga tidak lama kemudian sampailah mereka pada sebuah rumah yang terbuat dari papan kayu jati dan beratap sirap.
Cukup besar juga rumah Rekyan Wuru itu. Memiliki pekarangan yang luas ditanami dengan berbagai umbi-umbian. Ada talas, ketela, ganyong, klerot, serta berbagai macam pohon buah-buahan. Gadis cantik itu mengetuk pintu, sedangkan Arya Dwipangga menunggu agak ke samping depan dengan hati berdebar-debar.
"Ratih! Ratih! Buka pintunya, Ratih! Ratih, ini aku, Palastri yang datang!"
Terdengar dari langkah di dalam, dan palang kancing pintu yang dibuka dengan agak malas. Tidak lama kemudian, daun pintu segera terbuka dengan suara gemeretak dan derit cukup panjang.
Arya Dwipangga terbelalak matanya sambil menelan ludah. Ia sangat terpesona dengan kecantikan seorang gadis yang membukakan pintu. Alangkah sempurna gadis itu, wajahnya bercahaya ketika ia keluar dari gelap, dan pias cahaya matahari membias di wajahnya yang bersih. Rambutnya tergerai, kulitnya bersih terbungkus kain cokelat kembang-kembang. Kakinya juga sangat bersih menapak di lantai kayu rumahnya yang serba cokelat seperti baju yang dikenakannya. Bibirnya mungil di bawah hidungnya yang bangir. Kerjap matanya yang indah dengan bulu mata nan lentik, ditambah alis mata yang sangat rapi dan indah bak bulan sabit.
"Ada apa, Palastri? Siapa yang kau bawa kemari ini?" duh, suaranya juga merdu dan menggemaskan. Setiap kata selalu diikuti desah dan decak napas nan halus.
"Dia saudara tua Arya Kamandanu. Dia ada keperluan denganmu, Ratih." Palastri membalikkan tubuh dan mengangguk pada Arya Dwipangga "Tuan! Tuan? Apa yang Tuan lihat?"
Arya Dwipangga gelagapan karena terlalu asyik dengan pemandangan barunya, "Eh, tidak... aku... aku... a-apakah gadis di depanku ini yang bernama Nari Ratih, puteri tunggal RekyanWuru?"
"Inilah sahabatku itu, yang Tuan cari."
Nari Ratih dengan dingin memandang Arya Dwipangga. "Saya tahu Tuan datang kemari pasti ada hubungannya dengan Kakang Kamandanu. Saya sudah berjanji dalam hati tidak akan menyentuh persoalan itu lagi. Silakan Tuan pergi." Nari Ratih mundur selangkah kemudian tangan kanannya menarik daun pintu.
"Ratih! Ratih!" Palastri berusaha mencegah sahabatnya, namun Nari Ratih dengan wajah tidak senang segera menutup pintu agak kasar. Palastri mengangkat bahu dan tidak berani memandang ke arah Arya Dwipangga yang tampak gugup dan kebingungan.
"Bagaimana, Tuan Dwipangga? Nari Ratih sudah menutup lagi pintunya."
"Kalau begitu tidak ada pilihan lagi. Aku harus kembali ke Kurawan."
Mereka segera meninggalkan rumah Rekyan Wuru tanpa sepatah kata pun. Mereka disibukkan oleh bisikan hati dan pikiran masing-masing Arya Dwipangga segera kembali ke Kurawan dengan bayangan wajah Nari Ratih terus melekat di dalam ingatannya. Menurut penilaiannya, Nari Ratih adalah gadis paling cantik, paling sempurna yang pernah dijumpainya selama ini. Karena itu diam-diam Arya Dwipangga bermaksud memikat hati gadis Manguntur itu. Maka bermunculanlah bait-bait syair yang indah, yang tidak lagi mewakili adiknya melainkan dikirim atas namanya sendiri.

***

Suasana malam kian mencekam. Keheningan menyelimuti desa Kurawan yang telah berhias kabut tipis. Dingin menyusup dan menggigit. Terdengar alunan seruling bambu mendayu-dayu. Seorang pemuda gagah dan tampan sangat gelisah di pembaringan dengan berbantal kedua tangannya. Dari bibirnya menggetarkan sesuatu yang hanya ia ketahui sendiri.

Sekalipun aku tahu pintu rumahmu terkunci.
Aku ingin mengetuknya berulangkali.
Angin yang menghembus bumi menjadi saksi.

Penyesalan Dwipangga menyentuh ke dasar hati. Mendapatkan ilham yang sangat indah, ia segera bangkit kemudian menuangkan dalam goresan-goresan di atas lontar. Tidak lama kemudian, ide-idenya itu sudah berwujud sebuah bait syair. Ia tersenyum dan membacanya berulang-ulang.
Beberapa hari kemudian, syair-syair itu telah berpindah Tangan. Lontar-lontar itu telah dibaca oleh seorang dara jelita dalam kamarnya. Sambil berbaring dan mengingat-ingat keras tentang siapa pengirim syair-syair itu.

Nari Ratih!
Kau adalah sebongkah batu karang
Tapi aku adalah angin yang sabar dan setia
Sampai langit di atas terbelah dua
Aku akan membelai namamu bagaikan bunga
Pada malam yang lain dara jelita itu juga menyimak
syair lainnya. Ia perhatikan dengan jantung berdetak
menggemuruh dan hati berdebar-debar. Tangannya pun
gemetaran memegang lontar itu
Hujan sore itu turun dengan sedihnya
Tanpa angin tanpa pelangi
Apakah itu pertanda harapanku akan sia-sia9
Kulewati malam yang dingin ini dengan gemetar
sambil terus mengenang wajahmu.

Gadis cantik itu menghela napas. Meletakkan lontar itu di sisinya kemudian memiringkan tubuhnya seraya mendesah sendu.
"Ohh, Arya Dwipangga. Apa maksudmu mengirim syair-syair begini padaku? Syairmu membuatku gelisah sepanjang malam. Apakah kau sengaja melakukannya untuk menyiksaku?"
Sejak syair-syair itu datang dan terus mengalir bagai air Sungai Manguntur yang bening, dara jelita itu seperti hidup tanpa gairah. Pada pagi itu seperti biasa ia pergi ke sungai bersama sahabat setianya. Kepedihan hatinya turut membuat sahabatnya prihatin.
"Kau pasti kurang tidur, Ratih. Matamu agak merah."
"Dia tidak mengirimkan daun lontar lagi, Palastri?"
"Aih, aih. Kau ketagihan rupanya."
"Jangan begitu, Palastri. Aku bersungguh-sungguh."
"Huu, siapa berkata kau tidak bersungguh-sungguh?"
"Aku mulai tertarik membaca bait-bait syairnya."
"Sayang sekali. Sudah dua hari dia tidak datang. Jadi, yah... terpaksa kau harus sabar menunggu, Ratih."
"Palastri! Bagaimana kalau aku menemuinya?"
"Hee! Jangan terburu nafsu begitu, Ratih. Nanti bisa kecebur lebih dalam, kau bisa celaka."
"Kau bilang dia sering duduk sendiri di tepi padang ilalang itu?"
"Dia yang berkata begitu. Entah benar, entah tidak."
"Palastri, aku akan minta tolong padamu, yah?"
"Huuus. Jangan minta aku mengantarmu ke sana."
"Bukan. Aku akan pergi sendiri ke sana. Tapi kalau misalnya ayahku mencariku, tolong katakan bahwa aku sedang pergi mengunjungi seorang kawan."
"Aduh. Sekarang orang tua menjadi sasaran dusta. Ini bisa gawat, Ratih. Apa kau sudah berpikir masak-masak?"
"Kau kira aku pergi menemuinya untuk apa? Aku hanya akan menemuinya untuk memaafkannya. Dengan begitu, dia tidak lagi mengirimkan syair-syairnya padaku."
Sejenak keduanya terdiam. Menikmati gemericik air Sungai Manguntur yang membual-bual menuju lembah. Percikan-percikannya tampak melompat-lompat saat mendera bebatuan. Angin lembut mendesau mengelus kulit mereka yang kuning langsat. Rambut mereka yang tergerai melambai-lambai. Sesekali keduanya membetulkan rambut yang tersibak angin dan jatuh pada dahi mereka. Bau kembang rumput dan bunga-bunga hutan kadangkala sampai pada penciuman mereka. Dalam kebisuan itu mereka berusaha menikmati alunan merdu kidung bumi pertiwi yang selalu mengalunkan nyanyiannya.
Pada senja itu di langit sebelah barat tampak kuning Jingga kemerahan. Awan-awan yang bergumpal-gumpal bagaikan emas perak. Bertebaran memenuhi cakrawala. Padang ilalang tampak bagaikan lautan emas. Bunga-bunga ilalang yang putih bersih berubah menjadi emas kemilau oleh pantulan cahaya senja. Jika angin bertiup maka gelombang bunga itu tampak indah sekali. Makin mempesona tatkala bunyi berisik berangkai-rangkai bagaikan lagu dan syair diiringi musik nan harmoni. Kembang-kembang ilalang penarinya, berisik dedaunnya adalah musiknya.
Seorang gadis jelita melangkahkan kakinya pada jalan setapak di pinggir padang ilalang. Keringatnya mengucur pada pelipisnya. Bahkan butir-butir keringat itu mengembun pada dahi dan hidungnya, yang bangir, Ia terus melangkah perlahan-lahan. Hati-hati sekali karena tidak ingin kakinya yang lembut menginjak duri-duri tajam. Ia berhenti sejenak. Dahinya berkerut dan napasnya tertahan, detak jantungnya makin menggemuruh tatkala melihat seseorang duduk di atas batu hitam memunggunginya.
"Ah, benar. Dia duduk di tepi padang ilalang ini, di atas sebuah batu hitam. Ahh, bagaimana ya?" gadis itu merasa malu sekali untuk menghampirinya. Namun, kalau tidak ia juga kasihan melihatnya duduk merenung seperti arca batu begitu. Kecamuk hati gadis itu terus mendesaknya untuk melangkah mendekati orang yang duduk agak jauh di depannya.
Karena tidak melihat jalan di depannya, tanpa sengaja ia menginjak ranting kering hingga menimbulkan suara berderak. "Ahh...!" pekiknya seraya menutup mulutnya dengan tangan kirinya. Hal itu membuat seseorang yang duduk di atas batu hitam itu terkejut dan membalikkan tubuhnya seraya bangkit. Pemuda tampan dan bertubuh tinggi besar itu terperangah.
"Hei? Apakah aku sedang bermimpi? Bukankah kau Nari Ratih?"
"Tidak. Tuan tidak bermimpi. Aku memang Nari Ratih."
"Kalau begitu aku adalah orang yang paling beruntung di dunia ini. Ketika aku sedang duduk dalam sunyinya padang ilalang ini tiba-tiba ada seorang bidadari dari kayangan dikirim untuk menemaniku."
"Ah, Tuan pandai memuji."
"Marilah, kita duduk di batu yang di sana."
"Tidak. Di sini saja."
"Di sana saja. Kita bisa melihat pemandangan yang indah terbentang di sebelah utara padang ilalang ini. Sawah, pohon-pohon mahoni di sepanjang jalan, gunung membiru di kejauhan, bisa kita lihat semua. Ayo! Jangan malu padaku."
"Baiklah. Tuan jalan di depan. Aku di belakang."
"Kau takut aku akan menciummu?"
"Ah, tidak, mengapa... mengapa Tuan berkata begitu?"
"Jangan panggil aku Tuan. Panggil saja aku Kakang. Itu akan terdengar lebih merdu."
"Tidak. Aku akan memanggil Tuan saja."
"Baiklah. Terserah padamu.”
Angin mendesau menggoyangkan daun-daun nyiur di kejauhan. Suara gemerisik daun ilalang juga menyambut embusannya. Sepasang muda-mudi itu menikmati senja hingga menjelang petang. Pada awal pertemuan itulah yang membuat gadis jelita desa Manguntur itu semakin gelisah.
Malam harinya ia tidak bisa tidur. Menggelimpang ke kanan dan ke kiri dengan desah napasnya yang terasa berat. Betapa indah kenangan di pinggir padang ilalang itu, "Arya Dwipangga. Baru pertama kali aku mengenal laki-laki seperti dia." Nari Ratih tersenyum.
Padang ilalang menurutnya makin indah dan mempesona. Kembali ia tersenyum membayangkan pemuda itu, "Sungguh berbeda dengan adiknya. Arya Dwipangga lebih terbuka. Dia pandai sekali menyenangkan hati seorang wanita. Dia juga lembut dan mudah menuruti keinginan orang lain."
Nari Ratih menghempaskan napas, bibirnya sampai manyun. Geleng-geleng kepala dan makin resah, ia raba telinga kirinya, "Ohhh, tadi dia menyentuh telinga kiriku. Sampai gemetar seluruh tubuhku. Apakah dia sengaja melakukannya? Mengapa aku tak pernah mengalami guncangan perasaan seperti ini selama duduk bersama Kakang Kamandanu?"
Gadis itu kembali geleng-geleng kepala, kini yang melekat di pelupuk matanya adalah Arya Kamandanu, "Kakang Kamandanu memang baik, tetapi dia tidak pernah mau mengerti suara hatiku. Dia sering menyakitkan hati dan membuatku kecewa. Ahh, Arya Dwipangga, kau memang lebih dari yang lain. Apakah karena aku telah terpikat olehmu?"
Gadis cantik itu kembali memiringkan tubuhnya, menggigit bibirnya sendiri. Bahasa hatinya selalu memburu dalam benaknya. Kembali ia tidur telentang dan mendesah. Teringat syair yang dibacakan Arya Dwipangga di tepi padang ilalang. Suara pemuda itu kembali terngiang di gendang telinganya.

Jika hari telah tidur di pangkuan malam
Kukirim bisikan hatiku ini bersama angin
Biarpun bulan pucat kedinginan
Biarpun bintang merintih di langit yang jauh
Aku akan tidur dengan tenang
Sambil memeluk senyummu dalam kehangatan mimpiku.

Lontar itu diletakkan di bawah alas tidurnya. Kemudian ia berbaring menatap langit-langit kamar yang penuh dengan bayang-bayang wajah kekasih hatinya. Gadis itu berbantal kedua tangannya. Tidur tanpa selimut-hingga tubuhnya yang indah tampak jelas lekuk-lekuknya. Dua gugusan bukit dadanya bergerak naik turun seiring napasnya yang lembut dan sesekali mendesah. Kedua pahanya terangkat ketika ia menekuk lututnya hingga kulitnya yang kuning langsat tampak indah memantulkan cahaya dian nan temaram. Ayu, seindah dan semolek bidadari dari kayangan yang membaringkan tubuhnya setelah letih seharian bertamasya mengarungi mayapada.
Tubuh indah itu sangat sempurna. Rambutnya yang hitam bergelombang terurai menutupi leher jenjangnya, payudara dan perutnya yang memiliki mangkuk pusar begitu indah. Dara jelita itu tersenyum. Mengurai kedua tangannya dari kepalanya. Lalu meraba kedua pipi yang montok, ke dagu yang indah bagai lebah menggantung, terus merayap ke lehernya yang jenjang, kemudian ke gundukan bukit dadanya yang padat berisi. Ia masih tersenyum, mendesah penuh gairah.
Lalu kedua tangan halus itu merayap ke perutnya dan akhirnya memeluk kedua lututnya. Kembali ia menyelonjorkan kedua kakinya. Memiringkan tubuhnya hingga terdengar derit tempat tidurnya. Kembali ia tidur telentang dengan berusaha keras memejamkan mata sambil tetap tersenyum. Napasnya sangat lamban dan lembut sekali hingga desah pun nyaris tidak kedengaran. Dagunya bergerak menengadah menantang langit. Ia melihat seorang pangeran bermahkotakan emas, bertatah intan berlian. Sang pangeran itu tersenyum padanya. Gadis cantik itu terpukau, berdiri mematung sambil membelalakkan matanya.
"Kakang Arya Dwipangga!" teriaknya.
"Nari Ratih permaisuriku!" Pemuda tampan itu mengembangkan kedua tangan dan tersenyum penuh kasih cinta. Langkahnya makin cepat, setengah berlari, berlari dan akhirnya merengkuhnya dalam pelukan hangatnya.
Mereka saling berangkulan, keduanya hanya berbicara dalam bahasa desah napas dan jemari. Langit yang biru bening berhias awan-awan putih bagaikan kapas dan bulu domba. Angin semilir menyejukkan sepasang dewa-dewi yang sedang bercengkerama.
”Ratih... hhh.. bagaimana perasaanmu?” bisik Dwipangga mesra.
Gadis itu memandangnya dan tertawa renyah. ”Hmm... Ratih bahagia sekali, Kakang. Rasanya nikmat ya berpelukan sambil telanjang seperti ini.” ujarnya polos. Ia sendiri juga tidak mengerti, sejak kapan mereka melepas pakaian. Tahu-tahu saja tubuh keduanya sudah sama-sama telanjang sambil semakin erat menempel.
”Iya, Ratih. Anggaplah aku suamimu saat ini.” bisik pemuda itu nakal.
”Ahh... Kakang. Kalau begitu, lekas cumbui isterimu ini. Beri istrimu kenik... mmbhh!!” belum sempat gadis itu selesai berbicara, Dwipangga sudah melumat bibirnya. Iapun membalas ciuman itu dengan mesra. Nari Ratih menjulurkan lidahnya ke dalam mulut sang kekasih dan langsung mengulumnya hangat, begitu juga sebaliknya.
Kini jemari tangan pemuda itu juga mulai merayap ke bawah, menelusuri sambil mengusap mulai dari pinggang hingga ke pinggul Nari Ratih, dan meremasnya gemas tak lama kemudian. Ketika tangannya bergerak ke belakang, gadis itu mulai menggoyangkan seluruh badannya, menggesek tubuh si pemuda yang bugil. Terutama pada bagian selangkangan dimana terdapat benda coklat panjang yang sudah sangat tegang, yang menekan gundukan bukit kemaluannya dengan begitu lembut.
Nari Ratih menggerakkan pinggulnya secara memutar untuk menggesek-gesekkan batang penis itu di permukaan bibir kemaluannya sambil sesekali ditekan-tekannya halus. Akibatnya, Dwipangga jadi menggelinjang kegelian, beberapa kali kepala penisnya yang tegang memasuki belahan bibir kemaluan Nari Ratih. Gadis itu hanya merintih kesakitan dan memekik kecil saat menerimanya.
”Auw! Kakang, sakit!” erangnya.
”Ahh... Ratih, punyamu empuk sekali... ssshh...” pemuda itu melenguh keenakan.
Beberapa menit kemudian, setelah mereka puas bercumbu bibir, Dwipangga  menggeser tubuhnya ke bawah sampai mukanya tepat berada di atas kedua bulatan payudara Nari Ratih. Kini ganti perut si pemuda yang menekan kemaluan gadis cantik itu sambil kedua tangannya secara bersamaan mulai menggerayangi gunung kembar miliknya. Pemuda itu menggesekkan ujung-ujung jemarinya, mulai dari bawah dada hingga ke atas perut, lalu kembali naik menuju gumpalan bukit kembar sang kekasih yang kenyal dan montok.
Nari Ratih merintih dan menggelinjang antara geli dan nikmat saat menerimanya. ”Kakang, geli!” erangnya lirih, sama sekali tak menyangka kalau pemuda idaman hatinya akan begini pintar dalam memberikan sentuhan.
Beberapa saat pemuda itu terus mempermainkan kedua putingnya yang mungil kemerahan dengan ujung jari-jemarinya, sesekali juga dijepit dan dipuntir-puntirnya dengan lembut. Akibatnya, Nari Ratih semakin menggelinjang dan mendesah tak karuan. ”Kakang...” lirih gadis itu saat secara bersamaan, Dwipangga mulai meremas-remas gemas kedua gundukan payudaranya.
”Aaw... Kakang!” ia mengerang dengan kedua tangan memegangi kain sprei kuat-kuat. Sementara si pemuda tampak semakin menggila. Tak puas meremas, kini mulutnya mulai menjilati kedua bukit kembar yang membusung indah itu secara bergantian. Lidahnya menjilati seluruh permukaannya yang halus mulus sampai menjadi basah, mulai dari yang kiri lalu berpindah ke yang kanan, sambil sesekali digigit-gigitnya kecil putingnya yang mungil kemerahan. Terus seperti itu sampai Nari Ratih berteriak-teriak keenakan.
Lima menit kemudian, bukan saja lidah Dwipangga yang menjilat, bahkan kini mulutnya juga ikut beraksi menghisap kedua puting sang gadis. Ia seperti tak peduli dengan Nari Ratih yang menjerit-jerit dan menggeliat-geliat kesana-kemari. Pemuda itu terus melakukannya kuat-kuat, bibir dan lidahnya dengan sangat rakus mengecup, mengulum dan menghisap sambil sesekali kedua jemarinya memegang dan meremasi gundukannya yang terasa empuk dan kenyal di dalam genggaman.
”Ahh... hh... hh...” Nari Ratih hanya bisa mendesis, mengerang, dan beberapa kali memekik kuat ketika gigi Dwipangga menggigiti putingnya dengan gemas, hingga tak heran kalau di beberapa tempat di kedua bulatan payudaranya, nampak warna kemerahan bekas hisapan dan gigitan pemuda tampan itu.
Cukup lama Dwipangga menikmati kekenyalan dada Nari Ratih, sebelum bibir dan lidahnya mulai merayap turun ke bawah. Ia mengecup dan membasahi seluruh permukaan perut Nari Ratih yang langsing dan ramping. ”Ahh...” gadis itu mengerang lirih, terutama saat mulut Dwipangga bergeser lebih ke bawah lagi, tepat menuju ke gundukan bukit kemaluannya.
”Buka pahamu, Ratih.” teriak pemuda itu tak sabar, posisi paha Nari Ratih yang kurang membuka membuatnya kurang leluasa untuk mencumbu.
”Oooh... Kakang!!” gadis itu hanya bisa merintih lirih. Dia membetulkan posisinya dengan membuka kedua belah pahanya lebar-lebar.
Dengan sangat terangsang sekali, Dwipangga memandangi liang kemaluan Nari Ratih yang sudah ditumbuhi bulu namun tidak cukup lebat. Kulitnya sungguh kencang, tampak tidak keriput sedikitpun. Bibir vaginanya kelihatan gemuk padat berwarna merah sedikit kecoklatan. Sedangkan celah sempit yang berada di antara kedua bibirnya masih tertutup rapat.
”Ahh... Kakang mau apa?” tanya Nari Ratih sambil tersenyum malu. Wajah cantiknya sedikit kusut dan berkeringat.
”Milikmu indah, Ratih!” bisik Dwipangga sambil menurunkan kepala, sontak muka dan mulutnya langsung menempel di permukaan kemaluan Nari Ratih.  Hidungnya yang mancung menyelip di antara belahannya yang mungil. Dwipangga mengecap-ngecapkan bibirnya untuk mulai melumat bibir kewanitaan Nari Ratih yang sebelah bawah, sementara jemari tangannya merayap ke balik paha untuk meremas-remas bokong bundar gadis cantik itu.
”Ahh... Kakang!” rintih Nari Ratih saat Dwipangga mulai mencumbui bibir kemaluannya secara bergantian seperti saat mereka berciuman tadi. Ia menjerit-jerit penuh kenikmatan sambil tubuhnya menggeliat hebat dan terkadang sampai meregang kencang. Beberapa kali Nari Ratih menjepitkan kedua pahanya ke kepala Dwipangga yang tampak semakin asyik mempermainkan celah bibir kemaluannya.
Melihat tingkah gadis itu, Dwipangga semakin bersemangat menggerakkan lidahnya. Ia pegangi kedua bokong Nari Ratih yang sudah berkeringat agar tidak banyak bergerak, sepertinya dia tidak rela melepaskan pagutan bibirnya pada kemaluan gadis itu. Dengan nafas terengah, Dwipangga terus memburu. Disibakkannya bibir kemaluan Nari Ratih dengan jemari tangannya sampai terlihat daging mungil berwarna merah yang sudah sangat basah. Agak di sebelah bawah, terlihat celah liang kemaluan Nari Ratih yang amat sangat sempit, juga sama-sama berwarna merah.
”Auw! Kakang... sakit!” pekik gadis itu saat Dwipangga mencoba untuk membuka lebih lebar lagi.
”Maaf, Ratih. Sakit ya?” bisiknya khawatir.
Dia mengusap dengan lembut bibir kemaluan gadis itu agar sakitnya sedikit berkurang, sebentar kemudian disibakkannya kembali pelan-pelan. Celah merahnya kembali terlihat, ada tonjolan daging kecil sebesar kacang hijau di belahan atasnya yang sempit. Dwipangga tahu, inilah bagian paling sensitif dari kemaluan wanita. Secepat kilat dengan rakus ia julurkan lidah kesana dan mulai menyentil-nyentilnya lembut.
”Awu! Kakang!” Nari Ratih langsung memekik keras sambil menyentak-nyentakkan kedua kakinya ke bawah. Ia mengejang hebat, pinggulnya bergerak liar dan kaku hingga jilatan Dwipangga pada biji klitorisnya menjadi luput.
Dengan gemas pemuda itu memegangi kuat-kuat kedua paha Nari Ratih, lalu kembali menempelkan bibir dan hidungnya di atas celah kemaluannya. Dwipangga menjulurkan lidah sepanjang mungkin, menelusupkannya menembus jepitan bibir kemaluan Nari Ratih untuk kembali menyentil dan mempermainkan tonjolan klitorisnya.
”Auw! Ahh... ahh...” gadis itu kembali memekik tertahan, tubuh mulusnya kembali mengejan dengan kedua kaki menghentak-hentak cepat. Ia juga mengangkat pantatnya ke atas sehingga lidah Dwipangga semakin dalam memasuki celah bibir liang kemaluannya.
Rasa nikmat yang diterimanya begitu luar biasa hingga tak sampai satu menit kemudian, Nari Ratih sudah terisak menangis saat ada semburan lemah dari dalam liang kemaluannya. Cairan hangat yang agak kental itu mengalir keluar banyak sekali. Dwipangga masih terus menyentil-nyentil klitorisnya dengan ujung lidah untuk beberapa saat sampai akhirnya tubuh gadis itu terkulai lemah dan akhirnya jatuh kembali ke dalam pelukannya. Nari Ratih melenguh panjang pendek meresapi segala kenikmatan yang baru saja ia rasakan. Seluruh selangkangannya tampak basah penuh air liur bercampur lendir kenikmatan. Dwipangga terus menjilatinya, ia melakukannya sampai seluruh permukaan kewanitaan Nari Ratih kering dan bersih.
"Kamu puas, Ratih?" bisik pemuda itu lembut, namun Nari Ratih sama sekali tidak menjawab. Matanya terpejam rapat, hanya mulutnya saja yang menyunggingkan senyum penuh kebahagiaan.
Mereka berciuman sejenak sebelum Dwipangga meminta gadis itu untuk jongkok. ”Kakang mau apa?” tanya Nari Ratih penuh kebingungan.
”Kamu kan sudah, sekarang giliranku.” kata Dwipangga sambil menyuruh gadis itu untuk menjilati serta mengulum batang penisnya yang sudah tegak berdiri.
”Jijik, Kakang...”
”Lakukan saja, pelan-pelan. Aku saja mau mencium punyamu, masa kamu tidak mau?”
Tidak bisa membantah lagi, gadis itupun mulai membuka mulutnya. Pelan ia ciumi ujung penis Dwipangga sambil mengocok-ngocok lembut batangnya yang hitam kecoklatan.
"Enak sekali, Ratih. Kamu memang pintar, cepat sekali belajar.” bisik Dwipangga saat gadis itu mulai mengulumnya. ”Terus emut, Ratih. Ahh...” erangnya. Bisa ia rasakan lidah Nari Ratih yang basah menari kesana-kemari di batang penisnya. Dwipangga mengerang sambil memegangi kepala gadis itu untuk menenggelamkan lebih dalam lagi ke ujung selangkangannya.
Nari Ratih yang tahu apa yang diinginkan oleh sang kekasih, segera menjulurkan lidahnya lebih dalam lagi sambil mengocok-ngocok batang penis itu cepat. Dua bolanya yang menggantung indah juga ia cucupi berkali-kali. Rangsangan yang semakin hebat itu membuat Dwipangga merintih dan merespon dengan menggerakkan pantatnya maju-mundur di mulut Nari Ratih. Selang beberapa lama, iapun tak tahan sudah. Cepat laki-laki itu berinisiatif untuk segera menancapkan batang penisnya di lubang kemaluan sang kekasih.
Dwipangga menelentangkan gadis cantik itu, paha Nari Ratih yang putih mulus ia kangkangkan lebar-lebar, lalu pantatnya yang bulat ia ganjal dengan menggunakan bantal. "Untuk apa, Kakang?” tanya Nari Ratih polos.
"Biar gampang, kamu tidak merasakan sakitnya." jawab Dwipangga sambil mulai menelungkup di atas tubuh mulus gadis itu. Penisnya yang besar ia gesek-gesekkan di belahan kemaluan Nari Ratih yang sudah banyak lendirnya.
"P-pelan-pelan, Kakang!” bisik Nari Ratih tanpa berani memandang, ia biarkannya saja saat Dwipangga mulai mendorong batang penisnya.
”Aku masukkan, tahan ya!” bisik Dwipangga, dan tanpa menunggu jawaban, dengan sedikit agak kasar ia menarik kaki Nari Ratih lebih terpentang hingga selangkangannya menjadi terbuka lebar. Dia juga menarik bokong gadis itu ke arahnya sehingga batang penisnya yang kaku menempel di atas kemaluan Nari Ratih yang masih nampak basah.
”Jangan kasar, Kakang. Pelan-pelan saja! Ratih takut!" sahut gadis itu polos penuh kepasrahan.
Dwipangga sedikit menyibakkan bibir kemaluan Nari Ratih dengan jemari kirinya, lalu diarahkannya kepala penisnya yang besar ke liang yang sempit itu. Dia mulai menekan dan gadis itu pun meringis. Dwipangga menekan lagi... akhirnya perlahan-lahan liang kemaluan itu membesar dan mulai menerima kehadiran penisnya. Nari Ratih menggigit bibir saat lubang kemaluannya mulai menjepit nikmat batang penis sang kekasih.
"Tahan, Ratih..." bisik Dwipangga penuh nafsu. Nari Ratih hanya mengangguk pelan, ia memejamkan mata rapat-rapat sambil kedua tangannya memegangi bahu laki-laki itu.
Dwipangga membungkukkan badannya ke depan agar pantatnya bisa lebih leluasa menekan ke bawah. Dia memajukan pinggulnya dan akhirnya batang  penisnya mulai tenggelam di dalam liang kemaluan gadis itu. Dia terus menekan dengan pelan hingga akhirnya berhasil menembus selaput tipis yang menghalangi. Terasa penisnya menancap dalam sekali di celah kemaluan Nari Ratih yang kini sudah tidak perawan lagi.
”Sakit, Ratih?” tanya Dwipangga.
Gadis itu menggeleng. Dwipangga segera menciumnya, dan sambil berpegangan pada gundukan payudara Nari Ratih yang sebesar kepalan tangan, iapun mulai menggoyang. Pelan ia tarik batang penisnya sampai hampir separuh, lalu ditusukkannya lagi dalam-dalam. Begitu terus berkali-kali, hingga pelan namun pasti, Nari Ratih yang awalnya meringis kesakitan, kini mulai mendesah dan merintih penuh kenikmatan. Bahkan gadis itu mulai menggerakkan pinggulnya memutar untuk mengimbangi ayunan Dwipangga yang kini mulai bertambah cepat. Nari Ratih sama sekali tidak peduli dengan lendir kental berwarna merah yang mengalir pelan membasahi selangkangannya.
”Kamu benar-benar masih perawan, Ratih!” bisik Dwipangga saat melihatnya.
Nari Ratih terkesiap! Perawan? Bukankah aku sudah... Kesadaran yang datang tiba-tiba itu membuat Nari Ratih menangis. Bayangan Dwipangga yang sedang menyetubuhinya langsung terbuyarkan, berganti dengan keluh kesah laki-laki itu yang kecewa karena kehormatan kekasih hatinya ternyata telah rusak akibat perbuatan tiga orang laki-laki tua. Perih batin Nari Ratih kalau mengingat hal tersebut.
”Akankah kakang Dwipangga mau menerimaku yang sudah kotor ini?” bisiknya dalam hati. Namun setelah pertemuan dengan Arya Dwipangga di tepi padang ilalang itu, hatinya semakin gelisah. ”Tidak. Aku tidak peduli. Aku akan mengejar cintaku. Aku harus mendapatkannya. Kalaupun nanti dia kecewa, setidaknya aku pernah merasakan kebahagiaan.” tekad Nari Ratih.
Begitulah, dengan satu keputusan, ia tidur malam itu. Keesokan harinya, ia pergi lagi ke tepi padang ilalang. Namun Nari Ratih sangat terkejut saat mendapati bukan Arya Dwipangga yang ia temui di sana. Napasnya serasa terhenti dan detak jantungnya jadi kian memburu, kedua tangannya yang terlipat di dada mendadak gemetar.
Dalam hatinya Nari Ratih berkata-kata, menyusun kalimat yang terbaik untuk menghadapi pemuda itu, "Ohh, bagaimana ini? Mengapa Kakang Kamandanu yang duduk di situ? Mana Arya Dwipangga? Oh, apakah aku harus kembali saja? Tetapi bagaimana dengan Kakang Kamandanu? Apakah tidak sebaiknya kutemui dia? Ah, tidak. Aku tidak akan menemuinya lagi. Ohh, Nari Ratih. Kau tergolong wanita yang tidak setia. Mengapa kau begitu cepat berpaling pada pria lain?"
Ketika Nari Ratih tengah sibuk tercekam oleh pikiran-pikiran yang berkecamuk dalam benaknya, mendadak tak jauh dari betis kakinya yang indah muncul seekor ular pohon. "Aawwh!" gadis itu terpekik. Betisnya dipagut ular, namun bersamaan dengan itu seorang mendekapnya dari belakang hingga ia tak mampu berteriak.
"Okh, ekh, okh...!" Orang itu semakin erat membekapnya, namun ketika orang itu menunjukkan wajahnya di depan matanya, ia pun terbelalak. "Ohh..."
"Sssstt! Jangan keras-keras. Adikku ada di sana. Kalau dia tahu kita berada di sini, bisa terjadi keributan."
"Kakiku..." desah Nari Ratih merasakan nyeri pada betisnya.
Arya Dwipangga terkesiap melihat kaki Nari Ratih, "Betismu berdarah."
"Terasa pedih dan agak nyeri, ohh..."
"Jangan cemas. Mari kita mencari tempat yang tenang. Aku akan berusaha mengeluarkan bisa ular pohon itu dari kakimu."
"Oh, ke mana?"
"Tenanglah! Aku tahu tempat yang aman. Mari, pegang pundakku dan aku akan memapahmu."
"Ohh, oh!... maaf, Tuan."
"Pegang saja, supaya kau jangan terjatuh. Hati-hati! Pelan-pelan saja jalannya agar tidak menimbulkan suara."
Pemuda itu memapah Nari Ratih dan mereka berdua diam-diam meninggalkan tepi padang ilalang. Mereka melangkah ke arah selatan, ke arah Candi Walandit yang tampak berdiri kokoh di balik bukit. Burung-burung kecil bercericit menerima kehadiran mereka. Burung-burung kecil itu berlompatan dari dahan ke dahan, bahkan ada yang langsung terbang meninggalkan tempat itu karena merasa terganggu oleh kehadiran manusia.
Mendadak jantung Nari Ratih berdebar keras ketika Arya Dwipangga mengajaknya di Candi Walandit di mana ia pernah dipaksa oleh Dangdi yang menginginkan kehormatannya. Ia menghentikan langkahnya di halaman candi, "Ohh, sudah. Di sini saja, Tuan."
"Mengapa kita tidak istirahat di dalam saja? Ruangan candi itu cukup luas dan kita bisa leluasa mengeringkan keringat. Ayo, kita masuk."
"Tidak. Di sini saja."
"Kau seperti ketakutan melihat candi itu. Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa." Padahal dalam hatinya Nari Ratih ingin mengatakan bahwa di candi itu, Arya Kamandanu dan Dangdi berkelahi karena membelanya, bahkan kini ia masih menyimpan kainnya yang sobek oleh kekasaran Dangdi.
Arya Dwipangga bersabar, dan ia ikut menghentikan langkah lalu mencarikan tempat yang nyaman untuk Nari Ratih. "Baiklah, sekarang aku akan mengeluarkan bisa ular pohon itu. Kalau tidak kukeluarkan, betismu bisa kaku dan membengkak."
"Apakah bisa ular itu berbahaya, Tuan?"
"Mengapa? Kau takut kehilangan sebelah kakimu? Hmm, itu tidak akan terjadi. Kalaupun terjadi, aku bisa menggantikannya dengan dua belah kakiku."
"Sudahlah. Tuan jangan menggoda saya terus."
"Kau tidak usah khawatir, Ratih. Bisa ular pohon itu tidak berbahaya. Nah, maaf." Pemuda itu menyentuh betis gadis cantik itu sehingga gadis itu terkejut.
"Ohh, Tuan! Tuan telah memegang betis saya."
"Betismu tidak berkurang indahnya walaupun kupegang sepuluh kali sehari."
"Tapi, itu tidak boleh, Tuan. Itu berarti lancang, bukan?"
"Aku kan harus mengeluarkan bisa itu. Mengapa tidak boleh memegang betis kakimu? Sekarang kau harus menganggapku sebagai tabib."
"Dengan apa Tuan akan mengeluarkan bisa itu?"
"Bisa itu harus kusedot dengan ini, mulutku. Lihatlah!"
Dengan agak ragu Nari Ratih membiarkan Arya Dwipangga menyibakkan kainnya yang menutupi sebagian betisnya. Pemuda itu hati-hati, lalu merunduk dan segera mengecup betisnya yang terluka oleh pagutan ular, "Hmmh, hemhh." Pemuda itu berkali-kali mengecup betis gadis cantik yang terpagut ular pohon itu.
Darah Nari Ratih terasa tersirap olehnya. Bulu romanya merinding ketika permukaan kulitnya yang lembut tersentuh oleh bibir pemuda itu. Hatinya berdebar-debar oleh kenakalan pemuda yang berniat menolongnya. Pikirannya melayang-layang ke mana-mana, terutama ke bayangan indah semalam dimana Arya Dwipangga tengah menyetubuhinya.
Setelah mengecup dan menyedot betis indah itu, kemudian pemuda itu meludahkan darah kehitam-hitaman. Berulangkali Dwipangga melakukan hal yang sama hingga membuat Nari Ratih menggelinjang dan menggigil. Ia merasakan getaran-getaran halus menyusup di dalam hatinya, kemudian menjalar ke seluruh urat syaraf tubuhnya.
Pada ludah yang terakhir kali sudah tampak bersih, maka pemuda tampan itu menghentikan kecupannya. Ia pandang lekat-lekat gadis cantik di dekatnya yang ternyata masih memejamkan mata. Dielusnya betis mulus itu penuh dengan perasaan kemudian ia menyentuh dagu yang indah bagaikan lebah menggantung itu.
"Mengapa napasmu tersengal-sengal, Ratih?"
"Ehh, tidak. .. Tidak apa-apa."
"Sakit, ya?"
"Eh, ya, agak sakit sedikit."
"Kalau begitu sekarang kau baringkan tubuhmu sebentar di atas batu pipih ini." Arya Dwipangga meletakkan batu pipih yang terlepas dari bangunan halaman candi, "Ayo, baringkanlah."
"Oh, terima kasih, Kakang Dwipangga."
Jejaka tampan itu membiarkan gadisnya terbaring dan memejamkan matanya. Sambil menelan ludah ia raba dadanya sendiri yang menggemuruh menyaksikan gugusan-gugusan yang menyembul di balik kain gadisnya. Gugusan-gugusan itu naik turun seiring napas gadis itu yang sangat lembut.
Pada saat yang sama namun di lain tempat, seorang perempuan tua menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengatur napasnya yang terengah-engah. Sudah sekian lama ia berjalan menyusuri desa Kurawan dan pada saat itulah hatinya baru terasa lega karena melihat momongannya duduk terpaku memandang pemandangan seorang diri di atas sebuah batu hitam.
"Nggeer!... Angger Kamandanu! Oh, apa yang Angger lakukan di tempat ini? Bibi mencari ke sana-kemari dari tadi."
"Mengapa Bibi mencari saya?" tanya pemuda itu tanpa menoleh.
"Angger kan belum sembuh benar? Angger masih perlu istirahat."
"Saya sudah sembuh, Bi. Biarkan saya di sini. Bibi pulang saja."
"Jangan begitu, Ngger. Bibi tahu Angger belum sembuh benar. Kemarin saja Angger masih mengeluh pusing. Mengapa Angger membohongi Bibi Rongkot yang sudah tua ini?"
"Bibi tidak usah memikirkan saya."
"Ah, bagaimana bisa begitu? Angger Kamandanu dan Angger Dwipangga adalah momongan Bibi sejak masih anak-anak. Sudah lima belas tahun Bibi momong Angger berdua. Tapi mengapa Angger berkata begitu? Apakah Angger Kamandanu sudah tidak menginginkan Bibi tinggal bersama Angger lagi?"
"Oh, bukan begitu maksudku, Bi. Maafkan kalau kata-kataku tadi menyinggung perasaan Bibi."
"Yah, mungkin karena Nyi Rongkot ini sudah tua bangka. Orang kalau sudah tua tidak berguna lagi. Dia hanya bertambah cerewet, banyak tingkah, sedangkan hasil pekerjaannya tidak sempurna lagi. Mungkin Angger sudah bosan melihat Bibi."
"Oh, mengapa Bibi berkata begitu? Bagaimana saya bisa bosan pada Bibi? Bibi sudah saya anggap sebagai ibuku."
Mendengar jawaban pemuda itu, perempuan tua itu matanya berkunang-kunang. Kemurungannya seketika sirna. Butiran bening meluncur pada pipi keriput itu. Dipandanginya pemuda tampan di depannya lekat-lekat.
Pemuda itu bangkit dan memandang sekilas padanya. "Sudahlah, Bi. Jangan membuat hati saya bertambah sedih."
"Ngger, apa sebenarnya yang menggelisahkan hati Angger? Hemm, apakah soal gadis desa Manguntur itu?"
"Entahlah, Bi."
"Jangan terlalu dipikirkan, Ngger. Nanti Angger bisa bertambah sakit. Anggap saja semua itu merupakan suatu pengalaman yang berharga untuk membina masa depanmu. Menurut Bibi, soal jodoh bukan di tangan kita, Ngger. Jodoh sudah ditentukan oleh para dewa penentu jodoh. Kalau memang Nari Ratih itu jodoh Angger Kamandanu, biarpun dia lari ke atas Gunung Semeru, tetap saja akhirnya akan jatuh ke pangkuan Angger. Percayalah kata-kata Nyi Rongkot yang tua ini."
"Ya, Bi. Aku percaya. Tapi kadangkala hati ini tidak mudah untuk menerimanya. Hati dan pikiran selalu bertentangan. Sering kali aku tidak bisa memahami apa yang terjadi."
"Ngger, jangan memikirkan apa yang sudah terjadi. Pikirkan saja apa yang belum terjadi. Apa yang sudah terjadi biar mengendap sebagai pengalaman hidup. Kata orang-orang tua, pengalaman adalah guru kita yang paling sempurna. Guru manusia hanya mengajarkan satu sisi kehidupan saja. Sedang guru pengalaman mengajarkan lebih lengkap."
"Kata-kata Bi Rongkot dalam sekali."
"Itu pun berkat pengalaman Bibi ketika muda dulu, Ngger."
"Terima kasih, Bi. Nasihatmu kembali membesarkan hati ini."
"Sudahlah, Ngger. Jangan banyak berpikir yang tidak-tidak. Pikiran yang tidak sehat bisa merusak diri kita. Nah, sekarang mari kita pulang. Duduk merenung sendiri di tempat seperti ini bisa menjadi sahabat setan."
"Baiklah, Bi, mari kita pulang. Tempat ini memang menyakitkan untuk dikenang."
Pemuda itu kemudian merangkul pundak perempuan tua yang sangat memperhatikannya. Keduanya lalu berjalan beriring menuju tempat tinggal Mpu Hanggareksa melalui jalan setapak di tepi padang ilalang. Dalam perjalanan pulang, keduanya sedikit pun tak mengeluarkan suara. Mereka sibuk dengan bisikan hati masing-masing. Hanya desah angin yang semakin jelas dalam pendengaran mereka. Daun-daun gemerisik menyambut hadirnya hembusan angin pada hari itu.
Pada saat yang sama, suasana sunyi mencekam di sebuah bangunan kuno di balik bukit. Seorang pemuda tampan dan gagah tersenyum sendiri memperhatikan gadisnya menggeliat dan mengusap pelupuk matanya dengan punggung tangannya. Bibir gadis cantik itu merekah. Perlahan matanya yang bening terbuka. Dahinya mengerut dan ia terkejut.
"Oh, mengapa... mengapa aku bisa tidur di bangunan candi ini?"
"Aku yang membaringkanmu di sini, Ratih."
"Oh, Kakang Dwipangga. Kakang terlalu lancang!"
"Ratih. Bukan karena aku tidak tahu kesopanan dan tata krama. Aku hanya kasihan melihat tubuhmu terbaring di halaman candi yang kotor berdebu sementara matahari semakin panas menyengat kulitmu. Tapi, yah, kalau kau keberatan aku pun bersedia memindahkanmu ke sana."
"Ih, itu tidak lucu, Kakang! Aku bukan barang perhiasan yang bisa dipindah ke sana kemari."
"Siapa yang mengatakan kau barang perhiasan? Kau adalah seorang dewi. Kau adalah bidadari yang turun dari langit melewati tangga pelangi untuk membuat isi dunia ini menjadi cerah dan bahagia."
"Kakang...."
Pemuda itu tersenyum, tangan kirinya merengkuh bahu lembut gadis itu. Ia hela napas dalam-dalam untuk mengatasi detak jantungnya yang kian menggemuruh, berdebar dan tak menentu.
Gadis itu menyandarkan kepalanya pada dada bidang pemuda yang merengkuhnya. "Kakang Dwipangga..." mendesah dan lembut suaranya.
"Kau sekarang memanggilku, Kakang. Mengapa tidak Tuan?"
"Rasanya tidak enak memanggil Tuan. Terlalu kaku. Kakang lebih akrab dan lebih sopan. Hemh, apa Kakang keberatan?"
"Bukankah aku lebih dulu memintamu memanggil Kakang?"
"Oh, Kakang Dwipangga. Bolehkah aku bertanya?"
"Silakan. Aku akan berusaha menjawabnya dengan baik."
Gadis itu merenggangkan pelukan pemuda yang mulai mencuri hatinya. Membetulkan beberapa helai rambutnya yang menghalangi matanya. Memandang menengadah pada jejaka tampan yang meremas jemarinya dengan senyuman manja.
Kembali gadis itu merebahkan kepalanya bagaikan keletihan sambil berbisik, "Kakang Dwipangga pandai sekali menulis syair. Semula kukira Kakang Kamandanu yang menulis syair-syair itu. Dari mana Kakang belajar menulis syair?"
"Menulis syair tidak bisa dipelajari."
"Masak begitu?"
"Memang begitu. Menulis kata-kata indah ada kamusnya, tapi menulis syair membutuhkan bakat yang khas."
"Tampaknya kau tak bisa hidup tanpa syair."
"Bagiku hidup ini adalah syair. Apa yang kulihat, kualami, kudengar, kusaksikan adalah lantunan-lantunan bait syair. Kau tidak percaya?"
Nari Ratih mengernyitkan alis.
"Nah, dengarkan! Seekor kijang kencana terbaring di atas lempengan batu dan Candi Walandit tak bisa mendongeng lagi tentang cerita lama yang sudah usang yang selama ini dibangga-banggakan. Megapun tersingkap. Angin berhenti. Pohon-pohon tersentak lalu terdiam. Burung-burung tak berkicau lagi. Desah napas pun tak terdengar lagi kena pesona gaib kijang kencana yang masih tidur di atas lempengan batu."
Selesai membacakan syair itu, semakin erat jemari mereka berjalinan. Keduanya mendesah. Kepala pemuda tampan itu direbahkan di atas kepala dara jelita yang bermanja di dadanya.
"Syairmu indah sekali. Tapi siapakah yang kau maksudkan dengan kijang kencana itu?"
"Kijang kencana itu bernama Nari Ratih, seorang gadis dari desa Manguntur."
"Ah, Kakang Dwipangga." Mesra dan manja gadis itu mencubit sayang pada lengan pemuda yang makin erat memeluknya.
"Nari Ratih...!"
"Oh, Kakang!"
Dwipangga menatap gadis itu sambil perlahan bibirnya mendekat dan menekannya lembut saat keduanya bersentuhan. Mesra ia mengulum bibir tipis Nari Ratih dalam-dalam. Dwipangga juga mengarahkan ciumannya ke tengkuk leher gadis itu sambil menjilati kulitnya yang putih mulus.
”Emh... ohh...” hanya itu yang bisa keluar dari mulut Nari Ratih.
Kini ciuman dan jilatan Dwipangga mengarah ke dagu dan dadanya, juga terus ke bawah, ke arah gundukan payudaranya. ”Ratih, bajumu aku buka yah?” bisiknya merayu.
”Eemh...” lagi-lagi gadis itu hanya bisa merintih. Mereka kembali berciuman sementara jari-jari Dwipangga perlahan merayap turun dan menyentuh gembungan di balik kain kemben Nari Ratih dan dengan lembut mengurai ikatannya.
Sekejap saja, bulatan dada gadis itu yang putih montok sudah terlihat jelas. Dwipangga segera menyentuh dan meremas-remasnya dengan segenap perasaan. Dipijitnya payudara itu perlahan-lahan, bergantian antara yang kiri dan yang kanan, mencoba merasakan betapa empuk dan hangatnya benda bulat itu. Putingnya yang mungil kemerahan juga ia pilin-pilin ringan.
”Auhh... kakang!” Nari Ratih merintih saat kepala Dwipangga menunduk untuk meraup gundukannya dengan menggunakan mulut. Pemuda itu dengan rakus mulai menjilat dan menggigiti lembut puting susunya, membuatnya langsung merintih keras penuh rasa nikmat.
Dwipangga mengulumnya sambil lidahnya memainkan puting Nari Ratih yang berwarna coklat kemerahan. Dia juga menggerayangi tubuh gadis itu dengan meremas-remas buah pantatnya yang padat berisi. Dilanjutkan dengan mengusap selangkangan Nari Ratih pelan-pelan, tepat di bagian bibir kemaluannya.
Namun saat Dwipangga ingin memasukkan tangannya ke celahnya yang sempit, mendadak gadis itu memekik dan lekas bangkit berdiri untuk melepaskan pelukannya. Dwipangga mengerutkan dahi kecewa, namun ia langsung bisa mengerti begitu mulai terdengar derap kaki kuda dari kejauhan yang kian mendekat menghampiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar