Kamis, 11 Agustus 2016

Berbagi Kamar



Di ulang tahun perkawinan ke tiga, kami kembali ke hotel itu. Tempat dimana kami melewatkan bulan madu di masa-masa awal pernikahan. Memang bukan hotel yang terbaik, namun jaraknya begitu dekat dengan pantai. Itu yang kami cari, dan yang kami sukai. Setelah mengurus segala sesuatunya di resepsionis, bergandengan tangan kami pergi menuju ke kamar.
Tapi begitu kagetnya saat di dalam kami melihat masih ada koper di samping lemari, juga pakaian yang tergeletak sembarangan di sekitar ranjang. Ditambah suara seseorang yang sedang memakai kamar mandi, makin lengkaplah kebingungan kami. Harusnya kan kamar ini kosong!
Siapapun orang yang ada di kamar mandi mengetahui kedatangan kami, ia lekas menghentikan kegiatannya dan melongok keluar. Seorang pria muda, seusiaku.
”Bisa aku bantu?” tanyanya dengan busa sabun masih menempel di pipi, bisa kulihat tubuhnya yang telanjang dari balik kaca kamar mandi yang buram. Wajahku kontan memerah, apalagi di belakangnya ternyata juga ada orang lain, perempuan, mungkin istrinya. Maka lekas kupalingkan muka.

”Ehm, begini...” suamiku mulai menjelaskan. ”kami diberi kunci kamar ini, kami kira kosong, tak tahunya...”
”Mungkin ada kesalahan.” kata laki-laki itu sambil tersenyum.
”Iya, sepertinya begitu.” sahut suamiku. ”Maaf, kami sangat menyesal.” tambahnya.
Pria itu memperkenalkan diri, namanya Ivan, ”Tidak apa-apa, anda bisa bertanya ke resepsionis.” ia berkata ramah.
”Baik,” suamiku menuruti usul itu. ”Namaku Steven,” kata suamiku begitu selesai menelepon.
”Apa kata resepsionis?” tanyaku tak sabar, jengah dengan keadaan yang aneh ini.
”Semua kamar penuh. Di hotel lain mungkin juga sama, karena ini memang musim liburan. Kalau sedikit ke luar kota mungkin bisa, sekitar 40 kilo dari sini.” kata suamiku menjelaskan.
Bahuku merosot, itu tidak mungkin. Mencari kamar di peak season seperti ini, di jam segini, sama saja dengan mencari jarum di tumpukan jerami.
Ivan yang kini sudah mengenakan handuk, menatap kami dengan penuh rasa iba. ”Maaf, kalau boleh aku tahu, kalian sedang liburan atau apa?” tanyanya.
”Ah, tidak. Kami hanya ingin bernostalgia, sambil refreshing juga.” jawab suamiku.
”Sekarang ulang tahun pernikahan kami, di kamar inilah kami dulu melewatkan bulan madu.” aku menambahkan.
Ivan mengangguk penuh pengertian, ”Kalau begitu, kalian memang harus menginap di kamar ini. Ulang tahun perkawinan bukan sesuatu yang bisa dilewatkan begitu saja.” katanya sambil menatap tubuhku, seperti menilai dan mempelajarinya. Aku yakin dia memberi nilai sembilan, atau kalau tidak, delapan. Wajar saja, karena aku memang sangat cantik dan seksi.
”Tapi, sudah ada kamu disini.” kata suamiku, sama sekali tidak merasa keberatan. Sudah biasa bagi dia melihat diriku ditatap oleh lelaki seperti itu.
”Ah, itu bisa diatur.” Ivan tersenyum samar, memberiku sebuah seringaian aneh, sebelum kemudian berkata, ”kamar ini begitu besar, juga ranjangnya dobel. Kenapa tidak kita bagi dua saja?” tawarnya kemudian.
Suamiku tertawa. “Mana bisa begitu?” tanyanya heran.
”Bisa saja.” sahut Ivan. “Dengar, kami sebentar lagi akan pergi makan malam. Beri kami waktu lima belas menit untuk berganti pakaian, selanjutnya untuk tiga jam ke depan, kamar ini jadi milik kalian. Bagaimana? Daripada kalian mengemudi malam-malam begini mencari hotel lain.” bujuknya.
Aku lihat suamiku. Dia tampak sedikit terkejut, tapi juga kelihatan tertarik. Apalagi saat melihat Rosa, istri Ivanyang melongok malu-malu dari balik bahu suaminya—yang ternyata sangat-sangat cantik dan seksi. Terus terang aku sedikit cemburu karena merasa tersaingi.
”Ehm, entahlah...” sahut suamiku, sungkan kalau harus mengiyakannya langsung.
”Sebagai imbalan, kita berbagi tarif kamar; 50-50. Adil bukan? Kami akan merasa senang sekali kalau kalian mau menerimanya, setidaknya kami bisa menghemat.” kata Ivan. Rosa yang berdiri di belakangnya ikut mengangguk setuju.
”Sebentar, kurundingkan dulu dengan istriku.” kata suamiku sambil mengajakku bicara, sementara Ivan dengan diikuti Rosa keluar dari kamar mandi dan bersiap untuk berganti pakaian.
Sedikit gambaran tentang Ivan, ia lelaki muda tampan yang memiliki senyum menawan dan tampak asli. Tubuhnya lumayan tinggi, dengan rambut hitam lurus terpangkas pendek dan mata bulat yang selalu tampak melebar. Sementara Rosa sama sepertiku, sama-sama cantik dan seksi, dan selalu bisa menarik perhatian setiap lelaki untuk menyetubuhinya. Tak terkecuali suamiku, selama pembicaraan tadi, kuperhatikan kalau dia selalu melirik Rosa.
Dengan berbagai pertimbangan, kami akhirnya memutuskan akan menerima tawaran itu. ”Terima kasih,” kata suamiku sambil menjabat tangan Ivan.
”Sama-sama,” balas Ivan. Saat suamiku tidak melihat, ia melemparkan seringaian aneh kepadaku, sama seperti tadi. Kubalas perbuatannya dengan kaku.
Suamiku sendiri, dengan sedikit agak tidak sabar, menjabat juga tangan lentik Rosa. Lama ia tidak melepasnya, seperti sengaja meresapi kehalusan dan kehangatannya, sambil matanya melirik belahan payudara Rosa yang mengintip malu-malu dari balik gaun malamnya.
Kusentil tangan itu, suamiku segera melepaskannya. ”Eh, m-maaf.” katanya kepadaku, dan juga kepada Rosa. Kami sama-sama tersenyum.
Sebelum pergi, Ivan sempat berkata, ”Selamat menikmati, semoga malam kalian menyenangkan!”
”Terima-kasih, semoga kalian juga.” balas suamiku, matanya tak berkedip menatap goyangan pinggul Rosa yang begitu seksi dan ketat saat pasangan muda itu melangkah pergi.
”Awas tuh matanya copot!” kataku sambil mulai membongkar kopor.
Suamiku tertawa, dan lekas mengunci pintu kamar. ”Aku mau mandi dulu, gerah nih.” katanya.
Kubiarkan dia pergi ke kamar mandi, sementara aku mulai menata pakaian di dalam almari. Beberapa makanan dan cemilan yang kami bawa dari rumah, kutaruh di atas meja. Di rak sebelah, kutemukan tumpukan baju dalam Rosa, kucoba untuk mengintip dan melihatnya. Semuanya seksi-seksi dan begitu mini. Aku tidak dapat membayangkan kalau disuruh untuk mengenakannya, rasanya aku tidak akan sanggup. Kubayangkan Rosa yang pergi makan malam dengan pakaian seperti itu, hmm pasti akan terasa ’dingin’ sekali.
Tidak lama, suamiku keluar dari kamar mandi. Ia tersenyum saat melihatku yang menimang-nimang beha Rosa. ”Besar mana sama punya mama?” tanyanya dengan tersenyum.
”Sama kayaknya,” sahutku. Tapi lebih kencang punya Rosa, dia kan belum pernah melahirkan! tambahku dalam hati.
Suamiku memberi sebuah ciuman mesra di pipi. Ia membelai sebentar gundukan payudaraku sebelum menyuruhku untuk lekas mandi tak lama kemudian.
”Ah, lagi dong! Enak nih!” rintihku. Tapi suamiku tetap melepaskan pegangan tangannya.
”Mandi dulu, Ma, biar lebih segar.” ia berbisik.
Aku pun akhirnya mengalah. Cepat kusambar handuk yang ia berikan, sekilas kulirik tubuh suamiku yang telanjang di depan hidungku; air menetes-netes di perutnya yang tampak semakin gendut, sementara di bawah, kulihat penisnya sudah mulai sedikit ngaceng, membuatku jadi tak sabar ingin lekas merasakannya.
Maka segera, setelah memberinya ciuman sekilas, aku bergerak cepat menuju kamar mandi. Jam sudah menunjukkan pukul 7.40 malam, berarti kurang dari 2 jam lagi Ivan dan Rosa akan segera kembali. Aku harus benar-benar memanfaatkan kesempatan yang sempit ini.
Lekas kubasuh tubuh mulusku, kusabuni bagian-bagian yang sering dicumbu oleh suamiku; yaitu dada dan selangkanganku, disanalah dia paling banyak menggunakan lidahnya. Yang lainnya tidak begitu kuhiraukan karena tubuhku memang selalu bersih dan wangi. Lalu setelah gosok gigi, kukenakan handuk tanpa mengenakan apa-apa lagi di dalamnya; aku keluar dengan tubuh telanjang!
Suamiku tersenyum saat melihatku, tahu kalau inilah saat yang kami tunggu-tunggu. Disini, tidak ada anak yang akan mengganggu keintiman kami. Berdua kami bebas, kembali ke masa awal-awal pernikahan dulu. Masa-masa yang begitu indah karena kami bebas melakukan apa saja, kapanpun dan dimanapun.
”Kamu cantik sekali, sayang!” kata suamiku sambil memeluk dan mencium bibirku. Tanpa berkata apa-apa lagi, kami langsung saling melumat dan bercumbu mesra. Bisa kurasakan penisnya yang sudah mengeras mengganjal telak di perutku. Segera kubuka celana pendek yang ia kenakan hingga benda itupun langsung terlontar keluar, hinggap di atas telapak tanganku dengan begitu kerasnya.
Suamiku membelai rambutku penuh rasa sayang, ia juga menarik handukku hingga terlepas. Maka jadilah aku tergolek pasrah di depannya dengan tubuh telanjang bulat. Suamiku memulai permainan dari atas ke bawah.
”Pah, geli, Pah.. aughh,” rintihku sewaktu jari-jari tangan suami mulai menyibak belahan kemaluanku.
”Tahan dikit, Sayang!” rayunya sambil terus menyibak dan terus mengelus-elus bibir bawahku dengan begitu lembut. Seperti biasa, ia membukanya lebar-lebar, memperhatikan bagian dalamnya yang kelihatan memerah sejenak, sambil dua jarinya memainkan biji klitorisku yang sudah menyembul kencang, sebelum akhirnya mulai mencium dan menghisapnya dengan begitu rakus.
”Auw! Arghh...” kontan aku menjerit, pinggulku bergerak memutar, bukan karena sakit, namun karena nikmat.
Seperti mengerti dengan jeritan itu, sedotan dan gigitan mulut suamiku semakin kencang terasa. Lidahnya juga menusuk semakin dalam, sambil dua jarinya terus memilin dan memainkan tonjolan klitorisku. Diserang terus seperti itu, betapapun aku ingin melawan, tubuhku akhirnya tak kuasa juga. Aku mulai menggelinjang, tubuhku kelojotan, sementara tanganku menjambak rambutnya agar dia semakin kencang merangsang nafsuku.
”S-sudah, Pah.. sudah!” jeritku saat sudah tak tahan dengan gelitikan lidahnya di daerah sensitifku. Tapi ia terus saja memainkan lidahnya, malah terkesan semakin liar. Aku jadi makin kelojotan dibuatnya, rintihan dan jeritanku juga terdengar semakin keras. Apalagi sambil menjilat, tangan suamiku juga terjulur untuk memegang dan meremas-remas tonjolan payudaraku yang tumbuh semakin besar setelah aku melahirkan anak pertamapadahal dulu sudah besar, apalagi sekarang! Karena itulah ia jadi suka memegang dan meremasinya.
”Sudah, Pah... sudah!” aku kembali meminta, namun lidahnya terus saja bergerak naik turun membelai belahan kemaluanku. Tidak ingin dipermainkan lebih lama, lekas kucari batang penisnya yang sudah ngaceng keras, lalu kuremas dan kukocok-kocok benda itu hingga ujungnya yang tumpul mengeluarkan cairan mengkilat.
Akhirnya kami jadi sama-sama tak tahan. Saat aku meminta untuk yang ketiga kalinya, kali ini dengan senang hati suamiku mengabulkannya. Ia pindahkan posisi tubuhku. Kini aku berbaring melintang di atas ranjang dengan pantat setengah menggantung, kakiku terjulur ke bawah. Lalu ia mengangkat kedua kakiku, membukanya lebar-lebar, dan menaikkan keduanya ke atas pundak. Dengan begitu, lubang kemaluanku yang sudah merekah basah bisa terekspos dengan jelas di depan batang penisnya, siap untuk menampung dan membahagiakannya.
”Ahh...” aku mendesis pasrah dengan mata setengah terpejam. Mulutku terbuka, sementara tangan aku taruh di atas kepala. Dengan dada berdebar kutunggu saat penis suamiku mulai menerobos liang vaginaku.
Namun dia tidak langsung melakukannya. Suamiku hanya menggesek-gesekkannya saja sambil mulutnya mulai mencium dan menjilati putingku. Ia menghisapnya dengan begitu rakus sambil bagian bawah tubuhnya terus mendesak-desak, menggesek bibir vaginaku dengan ujung penisnya.
”Uhh...” aku jadi tak tahan. Aku yang sudah merasa sangat gatal, lekas memegangi pinggulnya. Saat penisnya tepat berada di depan pintu surgaku, segera kutarik pinggulnya kuat-kuat. Tanpa bisa dicegah lagi, penisnya yang besar itupun langsung meluncur masuk, membelah lubang kemaluanku, mengisinya begitu penuh hingga jadi terasa geli dan sangat nikmat.
”Ahh...” aku menghela nafas lega, apa yang kuinginkan akhirnya tercapai juga. Namun itu masih setengah jalan; penis itu hanya mengisi, tapi masih belum bergerak. Baru saat Suamiku mulai menggoyang tubuhnya, itulah dimana aku mendapatkan nikmat persetubuhan yang sesungguhnya.
”Goyang, Pah... cepat!” rengekku tak sabar sambil mulai menggerakkan pinggul. Gesekan alat kelamin kami, meski cuma sedikit, sudah cukup membuatku merintih nikmat.
Suamiku tersenyum saat melihat ulahku. ”Tidak sabar amat sih!” godanya sambil kembali meremas dan memijit-mijit tonjolan buah dadaku, putingnya yang mungil ia pilin-pilin ringan secara bergantian.
”Ahh...” aku tak sanggup untuk membuka suara, karena sambil terus meremas, ia juga mulai menggerakkan pinggulnya. Dengan menarik tubuhku agak sedikit ke bawah, suamiku mulai menusukkan batang penisnya maju-mundur, menggesek dinding-dinding rahimku yang sudah sangat rindu akan sentuhan, dan mengaduk-aduk bagian dalam liang senggamaku hingga jadi begitu basah dan lembab.
Tusukan-tusukannya terasa sedikit agak kasar, tapi tak apa, aku menyukainya. Malah sebenarnya, itu yang aku cari. Entah kenapa, malam ini aku ingin bermain sedikit lebih liar, lain dari yang biasa kami lakukan kalau di rumah.
Suamiku yang rupanya mengerti apa yang aku inginkan, tanpa memberiku kesempatan untuk menarik nafas, terus menggenjotkan penisnya. Dengan posisi miring saling membelakangi, lubangku jadi terasa semakin sempit, menjadikannya lebih legit dan lebih enak. Apalagi kalau sudah terangsang seperti ini, tonjolan buah dadaku juga membengkak semakin besar, membuat suamiku jadi makin gemas lagi mempermainkannya.
Sama-sama nikmat, kami jadi sama-sama tak tahan. Akhirnya, dengan diiringi sebuah jeritan pelan, kami mencapai klimak secara hampir bersama-sama. Suamiku menyembur lebih dulu, kemudian disusul olehku, hanya seilisih sepersekian detik. Selanjutnya, dengan sama-sama puas, kami saling berangkulan dan saling mencumbu untuk meredakan nafsu masing-masing.
Waktu menunjukkan pukul 10.10, ketika terdengar ketukan pelan di pintu kamar. Suamiku lekas mengenakan jubahnya, sementara aku hanya mengenakan pakaian tidur yang sangat tipis. Kuantar suamiku membuka pintu.
”Eh, maaf menganggu.” kata Ivan sambil matanya melirik kepadaku, lalu ke arah sprei tempat tidur yang sangat berantakan. Ia kemudian tersenyum penuh arti. Aku hanya bisa bersemu malu saat menerima tatapannya. Rosa, istrinya yang cantik, bergelayut manja di pundaknya, sepertinya sedikit mabuk.
”Ah, tidak apa-apa.” segera suamiku mempersilahkan mereka untuk masuk.
”Justru kami yang harusnya meminta maaf karena sudah merepotkan kalian.” tambahku untuk mencairkan suasana. Kami berempat saling memandang dan saling tersenyum kikuk, lalu tertawa berderai secara bersama-sama.
Bergiliran kami pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian, selanjutnya bersama-sama kami merapikan tempat tidur. Kuperhatikan beberapa kali suamiku melirik bulatan payudara Rosa yang menggantung indah di balik baju tidurnya, begitu juga dengan yang dilakukan Ivan kepadaku. Anehnya, aku dan Rosa sama sekali tidak merasa keberatan dengan hal itu. Entah apa yang terjadi. Yang jelas, malam ini terasa lain. Aku merasa begitu bebas, juga begitu horny. Vaginaku terasa basah terus padahal sudah ditusuk oleh suamiku tadi. Dan sepertinya itu juga yang dirasakan oleh Ivan, Rosa dan suamiku.
Akibatnya, kami yang awalnya bercanda biasa-biasa saja, kini mulai menjurus ke arah seks. Ivan tanpa malu-malu melontarkan guyonan porno, sementara suamiku menanggapinya dengan tak kalah mesum. Aku dan Rosa sebagai istri, hanya bisa tertawa-tawa saja melihat ulah mereka berdua. Sampai akhirnya, Ivan melontarkan sebuah ide konyol tak lama kemudian.
“Aku punya ide, bagaimana kalau kita bermain strip poker?” usulnya sambil menyeringai, lalu berdiri untuk mengambil setumpuk kartu dari laci meja. Rosa tertawa kecil sebagai bentuk rasa persetujuannya.
Kupandang suamiku, ia mengangguk, mengiyakan ajakan Ivan. Meski masih bingung, aku jadi tak sanggup untuk membantah. ”Gimana aturannya?” akhirnya hanya itu yang bisa kukatakan.
”Aturan? Sederhana saja kok,” kata Ivan, ia duduk kembali di samping istrinya. ”kita hanya telanjang, tidak ada pertemuan kelamin, tidak ada penetrasi tanpa persetujuan dari semua orang, dan kita dapat mengatakan tidak kalau memang tidak ingin.” terangnya.
Entah kenapa, mendengar semua itu, vaginaku langsung bergetar keras, jantungku berdetak cepat, dan darahku serasa mengalir dua kali lebih deras. Oh, dasar tubuh doyan seks! umpatku dalam hati. Kupandang suamiku; pertama ke wajahnya, ia tidak memperhatikanku, malah ia asyik menatap tubuh mulus Rosa, seperti menilainya, sama seperti yang tengah dilakukan Ivan kepada tubuhku. Ohh, lagi-lagi aku mengeluh dalam hati. Laki-laki memang sama saja, tidak bisa melihat yang cantik-cantik dan bening-bening!
Kualihkan pandanganku ke bawah, ke arah celana suamiku; sudah ada tonjolan besar disana, begitu juga dengan celana Ivan. Rupanya kedua lelaki itu sudah mulai terangsang, padahal permainan belum juga dimulai. Diam-diam aku tertawa dalam hati.  Rosa yang juga mengetahui hal itu ikut tertawa bersamaku. Maka begitulah, setelah kami semua mengangguk setuju, permainan pun dimulai.
Ivan mulai membagikan kartu. Di putaran pertama, suamiku yang menang. Sesuai peraturan, ia berhak menentukan siapa yang kehilangan apa.
 Suamiku berkata kepada Rosa dan aku. ”Lepaskan baju atasan kalian!”
Rosa dengan santai membuka baju tidurnya. Di tubuhnya yang putih mulus tampak menggantung bra tembus pandang untuk menyangga bongkahan payudaranya yang bulat besar. Suamiku langsung melongo saat melihatnya, tampak terpesona oleh puting Rosa yang bulat tegak berwarna coklat kemerahan. Begitu juga dengan Ivan, matanya tak berkedip saat melihatku mulai melepaskan baju. Karena tidak mengenakan beha, maka jadilah payudaraku yang seukuran melon 2 kilo langsung terlontar keluar. Semua orang bisa melihatnya dengan jelas. Rosa tampak membandingkan dengan punyanya, dan dia tersenyum saat melihat milikku sedikit lebih kendor. Ya iyalah, aku kan sudah pernah melahirkan, sedangkan ia belum.
”Sama-sama indah,” suamiku mencoba bersikap adil, padahal aku tahu kalau dia benar-benar terangsang saat melihat bulatan payudara Rosa.
”Iya,” dukung Ivan dengan mata terus melirik ke arah tonjolan buah dadaku, ia lalu mengajak untuk meneruskan permainan.
”Eh, tunggu dulu.” tapi suamiku menolak, kami semua segera menoleh kepadanya. ”Ivan belum kuberi hukuman.” kata suamiku. Aku dan Rosa langsung mengangguk setuju, sementara Ivan hanya tertawa saja saat tertangkap basah.
”Iya, maaf.” kata Ivan sambil mulai melepas bajunya.
Tapi suamiku cepat menahan, ”Eh, bukan itu.”
Ivan menoleh bingung, dan dia langsung tersenyum saat suamiku berkata, ”Maaf, teman, lepas celanamu!”
Ivan dengan senang hati melakukannya. Pelan ia melepas sabuk dan membuka ritsleting celananya. Rosa dan suamiku tertawa saat melihat Ivan ternyata mengenakan boxer di balik celana itu, sementara aku mendengus kecewa karena tidak jadi melihat batang besar yang sepertinya sudah ngaceng berat di balik kain itu.
”Sabar, sayang...” kata suamiku, ”doakan aku menang lagi, kujamin ia akan telanjang.” yakinnya. Aku ikut tersenyum.
Tapi ternyata, di putaran kedua, Rosa yang menang. ”Yes! Yes!” ia bersorak gembira, dan sambil memandang suamiku, ia berkata, ”Ayo, Steve, lepas celanamu!”
Aku yang tahu kalau suamiku tidak mengenakan apa-apa lagi di balik celana boxer-nya, mulai berdebar-debar kencang. Aku tak tahan membayangkan kalau laki-laki yang sudah menikah denganku selama 3 tahun ini akan telanjang di depan wanita lain. Tapi ternyata, saat suamiku melepas celananya dan memamerkan penisnya yang sudah menegak kencang di depan Rosa, aku tidak merasa cemburu sedikitpun. Yang ada, aku malah ikut terangsang! 
Sama-sama melongo seperti Rosa, kuperhatikan penis suamiku yang berkeringat. Benda itu terlihat begitu panjang dan ramping, ujungnya yang gundul sudah berwarna coklat kemerahan dengan cairan precum mulai membasahi lubangnya yang mungil. Sementara urat-urat halus yang selama ini selalu bisa membuaiku di saat kami bersetubuh, kulihat sudah bertebaran di sekujur batangnya, membuat penis itu jadi terlihat begitu menarik, juga sangat menggairahkan. Suamiku tertawa bangga dengan kejantanannya itu.
”Ehm-hem!” kuingatkan Rosa yang masih nampak terpesona menatap batang penis suamiku.
”Ah... eh, i-iya... iya...” ia tergagap-gagap. Kami semua tertawa melihatnya. Rosa lalu berpaling kepadaku dan bertanya, ”Apa kau juga tidak mengenakan apa-apa lagi di balik celana tidurmu?”
Aku tersenyum dan menggeleng; tidak. Aku memang masih mengenakan celana dalam di balik celana tidurku.
”Emm, baiklah.” Rosa mengangguk, tampak berpikir sejenak, lalu berkata kepada semua orang, ”Saya akan menawarkan Angel pilihan. Dia bisa melepas celana atau dia dapat memberikan sebuah ciuman kepada kemaluan kalian.” Rosa menunjuk para suami, yang tentu saja disambut oleh Ivan dan suamiku dengan senyum lebar. ”Hanya sebuah ciuman.” tambahnya untuk menyemangatiku.
Aku bingung, ini pilihan yang sama-sama sulit. Kupandang suamiku, ia tersenyum dan mengangguk. Tanpa perlu aku untuk menjawab, Ivan dan suamiku segera berdiri dan melangkah pelan mendekatiku. Mereka menyodorkan selangkangan tepat di depanku; suamiku sudah telanjang, sementara Ivan masih memakai celana, tapi tetap saja ujung penisnya yang ngaceng berat sanggup menusuk hidungku. Mereka berdiri bersebelahan dan saling tersenyum.
Aku ikut tersenyum meski malu-malu. Kulirik Rosa, ia menganggukkan kepala untuk mendorong keputusanku. Pelan, akupun berlutut di kaki suamiku dan mulai menjilati porosnya. Kugerakkan lidahku ke atas hingga mencapai ujung penisnya. Lalu kukecup precumnya yang berkilauan sambil kujilat perlahan sebelum kulepaskan tak lama kemudian.
”Hh...” aku menghela nafas lega. Selesai dengan suamiku, kini tiba giliran Ivan. Mulutku segera beralih ke selangkangan laki-laki itu. Pelan kujilat kemaluannya dari bawah, dari luar celana. Kucucup terus hingga naik ke atas dan sampai di sekitar ujungnya. Disana, aku juga bisa merasakan precum Ivan meski cuma sebagian. Kucucup perlahan dan kujilat sekali lagi sebelum kulepaskan sesaat kemudian.
Rosa bertepuk tangan saat aku selesai, begitu juga dengan Ivan, sementara suamiku cuma membelai rambutku mesra sebagai bentuk dukungan. Dia sama sekali tidak tahu kalau di bawah sana, jus vaginaku sudah mengalir deras membasahi liang kemaluanku. Aku terangsang berat!
Permainan kembali dilanjutkan, dan tebak siapa yang menang? Aku! Dengan seringaian penuh dendam, kukatakan pada Rosa, ”Pilih melepas beha atau celana?”
Ia memilih celana. Di balik kain itu, Rosa ternyata mengenakan daleman yang sama persis dengan behanya; sama-sama tembus pandang. Bisa kulihat kini putingnya sudah mengeras dan celana dalamnya begitu basah.
Untuk Ivan, tentu saja kusuruh ia untuk melepas boxer. Sekarang dia benar-benar telanjang, sama seperti suamiku. Kemaluannya yang menegak keras tampak berdiri kencang, bersaing dengan punya Steven. Mereka saling melihat, seperti ingin membandingkannya. Tapi bagiku, punya Ivan tetaplah lebih menarik. Meski batang suamiku lebih panjang dan besar, entah kenapa aku malah melirik terus ke arah selangkangan Ivan. Hal yang sama dilakukan oleh Rosa yang terus mencuri-curi pandang ke arah penis Steven. Mungkin sudah naluri manusia, tertarik pada barang orang lain.
”Sayang?” suamiku memanggil, meminta hukumannya.
”Ah, i-iya.” aku tersadar, cepat aku berpikir; tidak seru kalau kusuruh ia melepas baju, jadi yang paling baik adalah... ”Pergi ke Rosa, biarkan ia menjilat dan menghisap penismu sebentar.” kataku.
Rosa mendelik, sementara Ivan dan suamiku tertawa ringan. ”Hei, mau balas dendam ya?” tanya Rosa sambil mencibir, pura-pura marah.
Aku mengangguk mengiyakan, penuh kemenangan. Rasain! kataku dalam hati.
”Boleh?” tanya suamiku pada Ivan.
”Silahkan,” sahut Ivan santai.
Rosa tidak dapat membantah lagi. Dengan pasrah ia pun membuka bibirnya, membiarkan penis suamiku meluncur masuk menjelajahi rongga mulutnya. Aku dan Ivan menonton adegan itu tanpa suara. Ingin aku menyambar penis Ivan dan ikut mengulumnyayang aku yakin ia tidak akan mampu untuk menolaknya—namun aku masih ingin mengikuti aturan permainan. Jadi segera kuurungkan niatku itu.
Dua menit kemudian, suamiku mencabut penisnya dan kamipun melanjutkan permainan. Berempat, nafas kami sudah sama-sama berat. Kuperhatikan penis suamiku yang basah mengkilat oleh air liur Rosa, sementara Rosa sendiri berusaha membersihkan lelehan ludah yang membasahi bibirnya. Aku dan Ivan saling berpandangan dan saling tersenyum malu satu sama lain.
  Di putaran berikutnya, Ivan yang menang. Aku jadi deg-degan dibuatnya, melihat senyumnya tadi, sepertinya hukuman kali ini akan sangat-sangat ’berat’. Dan benar saja, untuk yang pertama saja, ia sudah menyuruh suamiku agar melepaskan beha Rosa. Tapi bukan cuma melepas biasa, ini harus dengan semesra mungkin.
”Anggap saja Rosa itu istrimu, Steve!” kata Ivan menjelaskan.
Suamiku mengangguk mengerti, ia lekas menggeser tubuhnya ke belakang tempat duduk Rosa. ”Maaf ya, permisi sebentar.” bisiknya.
Rosa terlihat pasrah, ia diam saja saat perlahan suamiku membelai gundukan payudaranya. Steve meremas dan memencetinya sebentar sebelum melepas kaitnya yang ada di belakang tak lama kemudian. Begitu beha itu jatuh ke bawah, terlihatlah buah dada Rosa yang berukuran besar, yang sungguh sangat bulat dan padat sekali. Sekarang benda itu berada dalam tangkupan tangan suamiku hingga aku dan Ivan tidak bisa melihat putingnya karena terhalang jari-jari tangan Steve.
”Ahh...” Rosa mulai bergidik pelan saat suamiku terus meremas dan membelai gundukan payudara itu. Mulutnya sedikit terbuka, sementara matanya terpejam dan erangan kecil terus keluar dari bibirnya yang tipis. Aku bisa melihat kalau celana dalam Rosa juga sudah benar-benar basah.
”O-oke, cukup!” kata Ivan mengagetkan. Suamiku kelihatan kecewa, begitu juga dengan Rosa yang kenikmatannya terputus. Tapi memang hukuman harus kembali dilanjutkan. Puting Rosa terlihat sangat tegak saat suamiku melepas pegangan tangannya.
Untuk hukuman kedua, Ivan mengatakan kalau ia akan melepas celanaku dengan tangannya sendiri. Setelah apa yang dilakukan Steven pada Rosa, aku jadi tidak bisa menolak permintaan itu. Maka jadilah aku duduk mengangkang menghadap Ivan, yang perlahan-lahan menyelipkan tangan dan menarik celana tidurku turun dari lingkaran pantat. Sambil melepas, ia tentu saja memanfaatkan kesempatan itu untuk menyentuh ringan belahan vaginaku yang masih tertutup celana dalam. Tapi karena memang sangat tipis dan juga sudah begitu basah, ia jadi seperti memegangnya secara langsung. Dengan mudah Ivan menjepit bibir vaginaku dan mengumpulkan jus kemaluanku di satu tempat, lalu diperasnya perlahan hingga aku menggelinjang ringan karena kegelian. Suamiku mengamati semua itu sambil meremas-remas kemaluannya sendiri, sementara di sebelahku, Rosa melakukan hal yang tidak jauh berbeda.
”Uhh...” aku menghela nafas lega saat masa hukuman itu berlalu. Permainan pun kami lanjutkan kembali.
Rosa memenangkan putaran kali ini. Dengan tertawa-tawa ia meminta kepada Ivan dan suamiku agar duduk di tempat tidur. ”Aku ingin mencicipi penis kalian, masing-masing enam kali.” katanya sambil mulai mencium dan mengulumnya. Setelah enam kali jilatan, ia kemudian berhenti dan beralih kepadaku. ”Dan untukmu, Manis,” dia berkata. ”Buka vaginamu lebar-lebar dan biarkan suami-suami kita menjilatinya.”
Aku pun tidak dapat membantah. Segera kubuka kakiku dan kubiarkan Ivan dan suamiku menjilatinya bergantian. Ivan yang pertama mendapat giliran; dengan lincah lidahnya membelai lorong vagina dan klitorisku. Saat benda itu sudah semakin basah, tiba giliran suamiku. Jilatannya yang begitu lezat hampir mengantarku menuju puncak kenikmatan. Tapi untung Rosa lekas menghentikannya.
Terengah-engah penuh nafsu, kami berempat, dua pasang suami istri yang sudah sama-sama ingin dan horny, melanjutkan permainan.
Kali ini giliran suamiku yang menang. Ia menyuruh aku dan Rosa agar bersandar di tepi tempat tidur. ”Van, kamu mainin payudara istrimu, sementara aku menghisap vagina istriku. Setelah lima menit, nanti kita ganti posisi.” kata suamiku. Ivan dengan senang hati melakukannya, dan kami... dengan senang hati menerimanya.
Ivan terlihat gemas dan penuh nafsu saat menggerayangi payuadara bulat milik Rosa, sementara suamiku dengan pintarnya menjilati klitorisku, menarik kembali gairahku yang tadi sempat terputus. Saat aku sudah hampir sampai, mereka berganti posisi; sekarang Ivan yang menjilati klitorisku, sementara Steven menggarap gundukan payudara Rosa. Kulihat ia memilin dan menggelitik salah satu putingnya, sambil menjilati yang lainnya, sementara di bawah, hidung dan mulut Ivan terus berada dan bermain-main di lorong vaginaku. Aku tak tahan, gairahku meledak tak lama kemudian. Cairanku mengalir deras membasahi mulut Ivan. Rosa yang melihatnya jadi kepingin, iapun berniat untuk melepas celana dalamnya, tapi suamiku lekas menghentikannya.
”Tetap pakai celanamu!” ia memerintahkan.
Aku yang lemas, jelas butuh istirahat. Ivan sepertinya tahu itu karena ia lekas menghentikan jilatannya. Hanya tangannya yang bergerak untuk memenceti gundukan payudaraku. Seharusnya itu tidak boleh karena itu tidak ada dalam perintah, tapi aku terlalu lelah untuk mempermasalahkannya. Lagian, suamiku tampaknya juga tidak keberatan, jadi akupun diam. Malah kunikmati perlakuan Ivan itu untuk mengantar sisa-sisa orgasmeku yang masih sesekali melanda.
Steve menyuruh Rosa untuk mengambil minum. Rosa menuangkan air dingin dari kulkas untuk kami berempat. Sambil meneguk, kami saling berpandangan, dan saling tersenyum penuh pengertian dengan situasi yang sangat aneh ini. Dari semua orang, hanya Rosa yang masih bisa disebut ’berpakaian’ meski celana dalamnya sekarang sudah melorot setengah paha, memperlihatkan sedikit area gelap yang tercukur rapi di selangkangannya. Sedang aku, Ivan dan suamiku sudah benar-benar telanjang bulat seperti bayi!
Aku berkata, ”Kita lanjutkan atau bagaimana?” tanyaku dengan nafas masih terengah-engah. Kalau saja mereka mengajak untuk orgy sekarang, aku tidak akan menolak.
Tapi Ivan sudah menyahut duluan. ”Tentu saja,” Ia melepaskan tubuhku dan kembali membagikan kartu. Kamipun kembali duduk melingkar, meneruskan permainan.
Tanpa disangka, aku yang menang. Segera kuminta Ivan dan suamiku untuk berdiri. ”Ros, kita jilati punya mereka, tapi kita tukar pasangan. Kamu mau?” tanyaku pada Rosa. Perempuan itu langsung mengangguk mengiyakan.
Aku mendatangi Ivan, sementara Rosa mendatangi suamiku. Perlahan-lahan kami mulai menjilati kemaluan mereka secara bersama-sama. Penis Ivan terasa membesar penuh di dalam mulutku, warnanya jadi berubah merah kecoklatan, pembuluh darah yang melingkar-lingkar di batangnya terlihat lebih jelas dari yang pernah kulihat. Yang kupikirkan sekarang adalah; betapa aku ingin kemaluan itu masuk ke dalam vaginaku, menyetubuhiku, memuaskanku. Tapi otak di belakang kepalaku melarang, aku terus mendengar, ”Belum, belum. Tunggu saat yang tepat!”
Kulirik sebelah, sepertinya Rosa juga merasakan hal yang sama; sambil menjilat, ia juga meremas-remas payudaranya, bahkan tak jarang mengelus dan menusuk-nusuk lubang vaginanya. Ia masturbasi!
Keadaan yang sama kulihat pada diri Ivan dan suamiku. Jilatan kami rupanya begitu nikmat hingga membuat mereka hampir orgasme. Kami semua begitu dekat, begitu nyata. Tapi aku lekas menarik semua orang kembali ke dalam permainan.
Putaran berikutnya, Rosa menang. Tanpa bisa dicegah, iapun segera meminta coitus. Tapi tentu saja dengan caranya sendiri. ”Ok, begini peraturannya...”  Rosa mengambil empat jack dari tumpukan kartu dan mengocok mereka sebentar, lalu meletakkan kartu-kartu itu secara terbalik di tempat tidur.
”Jack Hitam berarti wanita akan disikat di pantat. Jack Merah berarti vagina. Pria dan wanita dengan warna yang cocok bermain bersama selama 1 menit, dan kita akan terus mengulanginya sampai semua orang mendapatkan orgasmenya. ”
Ok, apapun peraturannya, aku sudah siap sekarang. Sebagai pemilih pertama, aku mendapat warna hitam. Tidak apa-apa, karena aku juga suka anal seks. Yang jadi pertanyaan adalah; penis siapa yang akan menembus pantatku?
Suamiku menarik kartunya; warnanya hitam. Dialah yang menjadi partnerku. Aku sedikit kecewa karena sempat berharap Ivan lah yang akan menyetubuhiku. Tapi tidak apalah, toh masih ada kesempatan kedua.
Ivan dan Rosa menatap tak berkedip saat Steven bergeser untuk menempatkan diri di belakang tubuhku yang kini sudah menungging pasrah. Penisnya yang panjang dan besar perlahan-lahan meluncur ke dalam lubang pantatku. Kami mulai bercinta. Di sebelah, hanya berjarak sejengkal, kulihat Ivan mulai berbaring telentang di tempat tidur dengan Rosa duduk mengangkang di atas pangkuannya, dan perlahan, wanita itu bergerak naik turun saat penis besar sang suami sudah menancap lembut di dalam liang kemaluannya. Kulihat suamiku menatap payudara Rosa yang bergoyang-goyang indah saat wanita mulai menggenjot tubuh sintalnya.
Satu menit berlalu begitu cepat. Suamiku segera menghentikan gerakannya, begitu juga dengan Rosa. Dari kami berempat, belum ada yang orgasme, maka kami pun memilih kartu lagi.
Kali ini Rosa dan suamiku menarik warna merah, sementara Ivan dan aku warna hitam. Aku tersenyum gembira. Lekas aku memposisikan diri, menungging seperti tadi. Lubang pantatku terasa penuh kembali, tapi kali ini oleh penis besar Ivan. Di sebelah, suamiku juga mulai menyetubuhi Rosa. Ia tindih tubuh perempuan cantik itu dan sambil meremas-remas gundukan payudara Rosa, ia genjot lorong vaginanya yang hangat dan kencang.
Aku merasa sangat nikmat, tapi aku tidak mungkin orgasme dari doggie style. Aku harus ditusuk di kemaluan kalau ingin menjemput rasa nikmat itu. Dan itulah yang dialami oleh Rosa, ditusuk dua kali di vagina dalam waktu yang hampir bersamaan -meski dengan penis yang berbeda- membuat dia melayang begitu cepat, dan akhirnya menjerit pelan tak lama kemudian. Wanita itu orgasme!
Begitu juga dengan Ivan; merasakan jepitan anusku yang begitu sempit dan ketat membuat dia mendengus-dengus liar. Bisa kurasakan ia mempercepat tusukannya di dalam pantatku, dan akhirnya meledak dengan kejang-kejang kecil saat cairan spermanya menyembur keluar, memenuhi lubang belakangku. Lemas keenakan, Ivan rebah di atas tubuhku. Ia memelukku begitu erat sambil menciumi pipi dan leherku, sementara tangannya melingkar di gundukan payudaraku yang menggantung indah dan meremas-remasnya pelan.
Di sebelah, suamiku menyusul tak alam kemudian. Ia menyemburkan spermanya yang kental di dalam lorong vagina Rosa.
Sial! aku mengumpat dalam hati. Kenapa aku ditinggal? Tak tahukah mereka kalau nafsuku belum terpenuhi, dan vaginaku masih ingin lebih... ”A-aku masih belum!” aku berkata dengan suara keras, kepada siapa saja yang bisa mendengarnya.
”Tunggu sebentar,” sahut Rosa sambil bermain-main dengan kemaluan suamiku. Ia berusaha menjilat dan menghisapnya untuk kembali membangunkan benda itu.
Ivan ikut bergabung dengan meraba-raba lorong vaginaku. Dia mengusap klitorisku dengan lembut sambil membelai bibir vaginaku berkali-kali. Memang terasa nikmat, tapi masih kurang. Melihat usahanya yang tidak begitu membawa hasil, Ivan ganti meletakkan mulutnya di atas gundukan vaginaku  dan mulai menghisapnya rakus.
Di sisi lain tempat tidur, kulihat suamiku sudah keras lagi, Rosa berhasil membangunkannya. Hore!!!
Segera kutarik dia dan kuminta agar segera memasukiku. Rasanya seperti mendapat segelas air setelah berhari-hari kehausan saat penis besar suamiku kembali bergerak keluar-masuk di lorong vaginaku. Ivan yang melihatnya, setelah mengecup pelan pipiku, pergi meninggalkanku; ia beralih kepada istrinya sendiri yang kini juga mulai kepingin lagi. Kini kami bermain dengan pasangan sah masing-masing.
Tak lama, akupun orgasme. Cairanku membanjir membasahi sprei kamar hotel. Di sebelah, Rosa juga mengerang keras saat menjemput orgasmenya yang kedua. Sementara Ivan dan suamiku, yang belum sama-sama keluar, bertukar pandang penuh arti. Dan seperti sudah bisa ditebak, mereka pun saling menukar pasangan; aku kembali disetubuhi oleh Ivan, sementara suamiku kembali menindih tubuh molek Rosa.
Jam sudah menunjukkan pukul 03.00 pagi saat kami mengakhiri permainan itu. Sudah tak terhitung berapa kali aku orgasme, begitu juga dengan Rosa. Yang bisa kuingat cuma Ivan yang menyemprot tiga kali di atas tubuhku; satu di anus dan dua di vagina. Sementara suamiku, empat kali mengisi rahim Rosa dengan benih kehidupannya.
Kelelahan, kami tertidur pulas; entah siapa memeluk siapa. Yang jelas, kami sama-sama puas, dan mungkin akan mengulangi lagi saat bangun esok hari.

1 komentar:

  1. The best story ever .. So wild and arousing. Sexy and naughty.
    Bayangan dan imajinasi liar hampir setiap pria memang sexy game dan swinger gitu.

    BalasHapus