Jumat, 12 Agustus 2016

Desahan Tengah Malam 2



Hak Cipta © Tara Zagita

Dari kamar Susilo, teriakan Norman itu terdengar tidak terlalu keras, tapi jelas. Susilo yang belum tertidur nyenyak itu menjadi curiga. Ia menelengkan telinganya, menyimak suara dari kamar Norman. Dahinya berkerut menandakan perasaan anehnya.
"Sinting dia. Hampir pukul dua pagi masih teriak-teriak juga. Ada apa sih?" gerutu Susilo sendirian.
Suara gaduh dari kamar Norman itu benar-benar mengganggunya, sampai-sampai ia terpaksa bangkit dan turun dari ranjang. Untuk melangkah keluar dari kamar. Susilo ragu-ragu. Ia masih menyimak suara gaduh yang mirip seseorang sedang bergelut mengalahkan sesuatu. Mulanya Susilo menyangka Norman sedang membawa perempuan masuk ke kamarnya, namun setelah makin disimak, ternyata suara erangan Norman itu tidak mirip seseorang sedang mencumbu kekasihnya. Tapi lebih mirip seseorang yang sedang bertengkar.

Prang...! Suara di kamar Norman semakin jelas. Berisik dan gaduh. Entah apa yang telah jatuh dan pecah sehingga suaranya sempat membuat Susilo tergerak kaget.
"Aneh. Kenapa aku jadi merinding?" gumam Susilo sambil melangkah mendekati pintu. Ia bermaksud mengingatkan Norman agar tidak menimbulkan suara gaduh yang mengganggu, tapi hatinya menjadi bimbang, dan ia berdesir merinding saat hendak membuka pintu.
Brak...! Prang...! Sekali lagi kamar Norman bagai mengalami gempa. Agaknya sesuatu telah membuat kamar itu menjadi porak-poranda. Susilo pun akhirnya keluar dari kamar.
"Astaga...!" Susilo terpekik tertahan. Jantungnya berdesir ketika ia melihat sosok manusia berdiri di depan pintu kamarnya. Untung saja ia tidak menjerit, karena ia buru-buru menyadari bahwa sosok manusia itu adalah Denny. Sambil membungkus badannya dengan selimut, Denny memandang pintu kamar Norman dan melangkah mendekati Susilo.
Ia bertanya pelan, "Ada apa dia? Ngamuk sama siapa sih?"
"Mana aku tahu? " Susilo menjawab dengan bisikan.
Yoppi keluar juga dari kamarnya yang berjarak dua kamar dari kamar Norman. Ia bergabung dengan Denny dan Susilo, di depan kamar Susilo. "Berkelahi dengan siapa si Norman?" tanya Yoppi. Ia mengerjap-ngerjapkan mata karena terbangun dari tidurnya.
"Tadi ia menanyakan tentang perempuan," kata Susilo. "Ia mengaku mendengar suara perempuan memanggilnya."
"Perempuan?!" Alis Yoppi yang tebal hampir menyatu karena heran. Tangan Yoppi menggaruk-garuk pinggang sambil masih mengerjap-ngerjap pertanda masih mengantuk.
"Wah, gawat. Jangan-jangan dia membawa masuk perek," kata Denny. "Kalau ketahuan ibu kost, nggak enak kita!"
"Atau, siapa tahu ia berkelahi dengan pencuri?" kata Yoppi.
Kemudian, Susilo memberanikan diri mengetuk pintu kamar Norman. "Nor...?! Nor, ada apa sih? Sudah lewat malam ini, Nor!"
Jawaban yang ada hanya suara Norman yang menggeram-geram seakan sedang mengalahkan sesuatu. Ketiga teman kost itu menjadi cemas dan makin curiga. Yang menambah mereka cemas ialah suara Norman dalam satu teriakan rasa sakit.
"Aaaow...! Uh, uh... uh... hiaaah...!" suara itu sangat jelas.
"Dobrak saja pintunya," kata Denny kepada Susilo dan Yoppi yang berusaha menggedor pintu kamar Norman.
"Sialan! Aku jadi merinding sendiri. Aku mencium bau wangi," kata Denny.
"Aku juga mencium bau parfum enak," sambung Yoppi.
"Kurasa benar. Norman memasukkan perek ke dalam kamarnya."
Itulah yang membuat mereka ragu-ragu. Mereka tidak tahu, bahwa di dalam kamar Norman sedang berusaha mengalahkan gerakan tangan kanannya yang sepertinya bernyawa sendiri itu. Tangan kanan itu sudah ditekan mati-matian menggunakan tangan kiri, namun gerakannya masih belum bisa dikendalikan. Tangan itu seolah-olah sosok makhluk tersendiri yang bergerak memukuli wajah Norman sendiri.
Bahkan, ketika tangan kanan itu bergerak sendiri mengambil gunting, Norman berusaha menariknya. Tapi, tenaga Norman yang telah digerakkan kekuatan penuh itu tidak mampu menarik tangan kanan yang hendak memegang gunting. Tangan tersebut seakan mempunyai kekuatan yang lebih besar dari seluruh kekuatan tenaga Norman sebenarnya.
Lalu, ketika gunting itu telah digenggam oleh tangan kanan secara kokoh, tiba-tiba gerakan tangan kanannya itu melesat ke arah dada. Norman menjerit kesakitan, karena ujung gunting itu menancap di bawah pangkal pundaknya. Darah mulai mengucur keluar dan Norman masih terengah-engah melawan kekuatan tangan kanannya. Tangan yang menggenggam gunting itu seakan ingin menusuk-nusuk tubuh Norman sendiri dengan tanpa mengenal ampun lagi.
Norman berusaha menahan dengan seluruh kekuatan dan tenaga yang dikerahkan. Ternyata hal itu tidak mampu. Gunting itu bergerak sendiri ke arah dada Norman. Pada waktu itu Norman tak ingin ditusuk oleh dirinya sendiri. Ia berusaha memegangi tangan kanannya dengan tangan kiri, sampai-sampai ia berguling-guling di lantai. Tetapi, pada satu detik tertentu, gunting itu berhasil mengenai perutnya. Jubbb...!
"Aaaow...!" teriaknya. Rasa sakit membuat ia makin mendelik. Tapi beruntung sekali gunting itu tidak masuk terlalu dalam, hanya beberapa mili dari ujung gunting.
Brakkk...! Pintu berhasil didobrak oleh Denny dan Susilo. Ketiga orang itu terbelalak tegang melihat Norman berusaha menikam tubuhnya dengan gunting. Mereka menyangka Norman hendak melakukan bunuh diri, sehingga Denny pun berteriak, "Jangan gila kau, Norman!"
"Cegah dia! Dia mau bunuh diri!" seraya berkata begitu, Yoppi mendorong kedua temannya, dan Susilo serta Denny segera berusaha menyergap Norman.
Saat itu Norman menyadari kehadiran ketiga temannya, tetapi ia tidak bisa mengendalikan gerakan tangan kanannya. "Pergi! Jangan dekati aku, nanti kalian celaka...!" teriak Norman.
Gunting itu sedang ditahan kuat-kuat, karena hendak menusuk ulu hatinya. Norman mengerahkan kekuatannya, otot lengannya tampak bertonjolan. Namun, bagi mereka yang tidak tahu, Norman disangka sedang ragu-ragu untuk menusukkan gunting ke dalam tubuhnya.
"Lepaskan gunting itu! Lepaskan!" teriak Denny. "Jangan picik kau, Norman...!"
Denny berusaha merebut gunting di tangan kanan Norman, tetapi baru saja mendekat, tiba-tiba tangan kanan itu bergerak di luar kontrol kesadaran Norman. Gunting itu mengibas cepat dan mengenai lengan Denny. "Aaaow...!" pekik Denny kesakitan.
"Menjauh! Kalian menjauh dari aku. Ohw... aku tidak bisa mengendalikan tangan ini!" teriak Norman sambil berusaha mengekang gerakan tangan kanannya.
"Sergap dari belakang!" teriak Yoppi dalam kepanikan.
Maka, Susilo pun berusaha menyergap Norman dari belakang. Tetapi, sebelum Susilo berhasil mendekap tubuh Norman, tubuh itu berputar terbawa gerakan tangan kanannya. Gunting terarah lurus ke depan, sementara tangan kiri Norman masih memegangi tangan kanannya untuk menahan gerakan misterius itu.
"Aaaow...! Kau melukaiku, Nor...!" teriak Susilo yang berhasil tergores dadanya oleh kibasan gunting tajam itu.
"Aku tidak bisa menahan gerakan tanganku! Oh.... Tolong! Lekas tolong akuuu...!" Norman mendelik-delik dengan mengerang mengerahkan tenaga untuk menahan diri. Ia jatuh berlutut karena berusaha semaksimal mungkin menahan gerakan tangan kanannya yang kini kembali mengacungkan gunting ke arah dadanya.
"Pukul dia biar pingsan!" teriak Yoppi, namun ia sendiri tak berani maju setelah melihat Susilo dan Denny berdarah karena terkena gunting tersebut.
"Dia kemasukan setan!" pekik Denny yang berlari ke arah pintu.
"Tolong...! Aaaoh... tolong aku... hiaaah...! " Norman berusaha habis-habisan menahan gerakan tangan kanannya. Dan, tiba-tiba ia menjerit tertahan, "Aaahg...!"
"Normaaan...!" teriak Susilo di puncak kepanikan.
Norman membelalakkan mata dalam keadaan berdiri dengan lutut menghadap ke arah ketiga temannya. Tubuhnya menjadi kejang sesaat, karena waktu itu gunting telah berhasil menghunjam dada, menembus sampai ke bagian pangkalnya, tepat mengenai jantungnya. Darah pun menyembur ke mana-mana. Wajahnya yang mendelik dan kaku itu terkena percikan darah sendiri hingga tampak mengerikan.
Denny diam tak bergerak. Shock. Susilo berteriak-teriak tak karuan dengan mata berkaca-kaca, tak tega menyaksikan keadaan Norman. Sementara itu, Yoppi berlari dengan panik menggedor setiap pintu kamar sambil berteriak-teriak mengagetkan mereka yang sedang tertidur nyenyak.
"Norman bunuh diri...! Norman mati bunuh diri...!" seru Yoppi dengan suara tak tanggung-tanggung lagi kerasnya.
Perlahan-lahan tubuh Norman limbung. Tangan kanannya masih memegangi gunting yang menikam jantungnya sampai ke bagian pangkal. Kemudian, tangan kanan itu mulai melemas bersama gerakan limbung tubuh Norman. Lalu, ia pun tergeletak di lantai yang banjir karena darah. Matanya masih mendelik ketika ia menghembuskan napas terakhir di depan Denny. Semakin shock Denny menyaksikan kengerian itu, semakin pucat sekujur tubuhnya. Ketika teman-teman satu pondokan menghambur ke kamar Norman, Denny jatuh terkulai tak sadarkan diri. Lalu, menyebarkan berita tentang kematian Norman. Semua mulut mengatakan, Norman mati bunuh diri.
Hamsad, sebagai teman dekat Norman yang pernah tinggal sekamar dengan Norman, merasa tak yakin jika Norman sampai bunuh diri. Dalam rona kesedihan yang dalam, Hamsad menjelaskan kepada mereka, "Tiga bulan aku pernah tinggal sekamar dengannya, dan aku tahu kekerasan hatinya. Norman bukan pemuda cengeng. Norman cukup tangguh dalam menghadapi kesulitan apa pun. Tak mungkin rasanya jika ia mati bunuh diri."
"Tapi, aku melihat sendiri saat ia menikam kan gunting itu ke arah dadanya," kata Yoppi meyakinkan.
Hamsad menghempaskan napas dukanya. Kemudian, ia berkata dengan pelan, "Pasti ada sesuatu yang tak beres pada dirinya."
Tiga hari setelah jenazah Norman dimakamkan di kota asalnya, para penghuni pondokan itu masih ramai membicarakan tentang kematian Norman. Salah satu di antaranya ada yang berpendapat, Norman melakukan hal itu karena ada masalah dengan Arni.
"Mungkin ia takut menghadapi Arni. Mungkin Arni hamil dengannya," tutur Bahtiar kepada teman-temannya yang meriung di depan kamar Yoppi. Saat itu, Hamsad juga ada di situ dan menyimak beberapa kemungkinan dari mereka.
"Aku juga punya praduga begitu," kata Denny. "Tetapi, aku telah menghubungi Arni secara pribadi, dan menanyakan hal itu."
"Lalu, apa kata Arni?" tanya Yoppi.
"Dia mengaku belum pernah dijamah Norman. Dan, memang kenyataannya mereka baru taraf saling menaksir saja. Belum berpacaran mutlak, kan?"
Yang lainnya manggut-manggut. Mereka memang tahu, bahwa Norman sedang naksir Arni, mahasiswi seni tari itu. Mereka juga tahu, bahwa Arni sedang mempertimbangkan untuk menerima kehadiran Norman. Maka, mereka pun sepakat, bahwa praduga tentang kehamilan Arni adalah tidak benar.
Susilo yang sejak kematian Norman menjadi orang bego. banyak melamun, sering terbengong-bengong di depan kamarnya, kali ini ia mulai ikut bicara. "Beberapa menit sebelum almarhum meninggal," kata Susilo. "Ia sempat keluar dari kamar. Waktu itu, aku habis dari kamar mandi. Almarhum menanyakan tentang suara perempuan."
Semua mata tertuju pada Susilo. Bahtiar bertanya pelan ketika Susilo mengatur pernapasannya. "Suara perempuan bagaimana?"
"Almarhum Norman mendengar suara perempuan memanggil-manggilnya. Dan, mencari keluar kamar, lalu berpapasan denganku."
"Kau sendiri mendengar suara perempuan itu?" tanya Ade, yang kamarnya dekat kamar mandi.
"Tidak," jawab Susilo sambil menggeleng. "Aku tidak mendengar suara apa-apa. Tetapi, sebelum kudengar suara gaduh dari kamar Norman, aku sempat mendengar Norman seperti bicara dengan seorang perempuan. Aku mendengar ia menyebut namanya."
"Kau masih ingat nama yang disebutkan Norman?" tanya Yoppi.
Susilo mengangguk dalam tatapan mata menerawang. Lalu, ia berkata pelan, "Kismi...!"
Hanya Hamsad yang terperanjat ketika itu. Yang lain masih tertegun tak mengerti maksudnya. Tetapi, Hamsad yang sejak tadi menyimak pembicaraan dan pendapat dari mereka, kali ini bagai ada sesuatu yang menusuk punggungnya, hingga ia menegakkan badan.
"Kismi...?!" tanyanya kepada Susilo yang tertegun dibungkus duka.
"Ya, Kismi...! Kupikir... Norman menyuruh perempuan menciumnya. Tetapi, setelah kupikir-pikir, ternyata dia tidak menyuruh perempuan menciumnya, melainkan menyebutkan nama perempuan itu. Kismi."
"Kau yakin begitu?" desak Denny.
Susilo mengangguk. "Ada rangkaian kata lain ketika ia mengatakan Kismi. Sebentar, Kis...? Itu katanya. Setelah itu, ia membuka pintu, dan memanggil nama Kismi, sepertinya mencari-cari perempuan itu."
"Ah, mungkin kau memang salah anggapan," ujar Bahtiar menyangsikan.
Hamsad buru-buru menyahut, "Tidak! Sus benar. Norman memang pernah bercerita padaku tentang Kismi, perempuan yang dikenalnya di sebuah motel."
"Ooo... jadi, Norman punya cewek baru yang namanya Kismi? Begitu?" ujar Denny.
Kemudian, Hamsad menceritakan apa yang pernah diceritakan Norman kepadanya. Ketika itu, mencuatlah praduga baru dari mulut Bahtiar, "Kalau begitu, dia punya problem dengan Kismi, sehingga ia nekat bunuh diri!"
Sejenak suasana menjadi hening, karena masing-masing menekuni analisa dalam benaknya. Beberapa saat setelah keheningan itu mencekam, Denny berkata dengan nada sedikit menggeram, "Aku akan menemui Kismi! Aku merasa ditantang untuk mengejar misteri kematian Norman, karena teman kita yang malang itu sempat melukaiku dan menikam dirinya sendiri di depanku, di depan kau, dan kau juga Yoppi," seraya Denny menuding Susilo dan Yoppi.
"Kalau ingin mencari dia, datanglah ke motel itu. Kurasa bagian front-office pasti mengenal nama Kismi!" ujar Hamsad. "Hostes itu menurut Norman termasuk hostes eksklusif, yang mungkin biaya pemakaian semalam sama besarnya dengan uang semestermu!"
Denny merasa berhutang budi kepada Norman, karena dulu ketika ia sakit, membutuhkan sumbangan darah, Norman-lah yang mendonorkan darahnya secara sukarela. Dan, kali ini, Denny ingin melacak penyebab kematian Norman yang menurutnya punya keganjilan semu. Denny yakin, pasti ada tabir misteri di balik kematian Norman. Barangkali juga ada hubungannya dengan perempuan malam yang bernama Kismi. Atau setidaknya Denny bisa memperoleh informasi dari Kismi tentang benar dan tidaknya pada malam itu Kismi datang ke pondokan mereka.
Uang bukan masalah bagi Denny, karena ia memang berlimpah uang. Ayahnya direktur sebuah bank ternama di ibukota, dan Denny sendiri punya simpanan di beberapa bank. Sebenarnya, ia bisa hidup dari uang simpanannya itu. Tak perlu kuliah, ia sudah bisa memperoleh pekerjaan. Tetapi, ayahnya punya gengsi tinggi, sehingga anaknya dipaksa harus memperoleh gelar sarjana penuh yang kelak akan dikirim ke Amerika untuk memperdalam study bidangnya. Kalau saja Denny mau, tahun-tahun kemarin ia sudah kuliah di Amerika. Tapi, Denny belum punya niat untuk ke sana, karena ia merasa malu jika ke Amerika hanya modal ijazah SMA saja. Ia harus punya modal khusus sebelum ia meraih gelar doktoral di Amerika.
Denny datang ke motel itu bersama Hamsad, sebab Hamsad punya dendam tersendiri atas kematian Norman, sebagai teman dekatnya yang sudah dianggap saudara sendiri. Mereka berdua berlagak menjadi tamu yang ingin menyewa dua tempat di motel itu.
"Hanya tinggal satu kamar, Bung," kata bagian front-office kepada Denny. "Maklum, malam minggu begini, biasanya harus bocking dulu sehari atau dua hari sebelumnya."
Denny memandang Hamsad, seakan meminta pertimbangan. Lalu, Hamsad berkata kepada petugas tersebut, "Tinggal satu, tapi yang sebelah mana, Bung?"
"Agak jauh dari pantai. Hm... ini, di kamar Melati." Petugas itu menunjuk pada denah dalam brosur.
"Bagaimana dengan kamar sampingnya? Motel Seruni ini?"
Sejenak tak ada jawaban dari petugas tersebut. Denny menimpali pembicaraan itu, "Apakah Motel Seruni juga sudah dibocking orang?"
"Belum. Tapi..." petugas front-office sedikit ragu. Tapi, karena Denny memandangnya dengan kerutan dahi pertanda merasa aneh, maka petugas itu pun melanjutkan kata-katanya, "Kamar itu jarang ada yang mau memakainya."
"Kenapa?" desak Hamsad.
"Tempatnya kurang nyaman. AC-nya sering macet, dan saluran airnya kadang tersumbat. Hm... belakangan ini memang tidak kami tawarkan kepada tamu, sebab kami belum sempat membetulkan beberapa kerusakannya. Tapi, kalau Bung mau, bisa saja. Di sana juga ada kipas angin, kalau-kalau AC tidak berfungsi."
"Oke!" jawab Hamsad tanpa meminta persetujuan Denny. ”Tapi, kami perlu teman. Kalau ada... tolong panggilkan yang bernama Kismi."
"Kismi...?!" petugas itu bingung. "Di sini tidak ada yang bernama Kismi. Mungkin Bung salah nama."

***

Jawaban petugas dianggap hal yang wajar. Pada umumnya mereka saling berlagak tidak mengenal perempuan panggilan, tidak menyediakan hostes, tidak menyediakan wanita penghibur, dan semua itu hanya kamuflase saja. Denny dan Hamsad sudah tidak heran lagi. Mereka tetap menempati kamar-kamar yang telah dipesan. Kamar-kamar itu merupakan sebuah bangunan tersendiri, berbentuk semacam rumah-rumah penduduk yang satu dengan yang lainnya terpisah. Bangunan-bangunan tersebut tidak memakai nomor, melainkan memakai nama bunga. Dalam setiap rumah motel, terisi beberapa perabot rumah tangga, terdiri dari satu ruang tamu, satu ruang tidur berukuran besar, dapur, dan kamar mandi.
"Kau di kamar mana? Melati atau Seruni?" tanya Hamsad kepada Denny.
"Aku di Seruni saja. Tapi, bagaimana dengan Kismi? Kalau mereka tidak bisa menyediakan perempuan itu, kita sia-sia bermalam di sini!"
"Bisa kita atur lewat telepon, nanti. Biar aku yang bicara."
"Kau sendiri mau pakai dia?" tanya Denny.
"Pakai dan tidak itu urusan nanti. Tapi, kalau Kismi sudah datang, segera kau telepon aku melalui kamarmu. Kita akan bicara bertiga, siapa tahu bisa menyimpulkan sesuatu yang berguna. Aku sendiri tidak perlu perempuan lain. Aku hanya ingin bertemu dengan Kismi, ingin melihat seperti apa perempuan itu."
Mereka masuk ke motel itu memang sudah malam. Pukul 8 mereka memesan kamar tersebut. Letaknya berseberangan. Masing-masing mempunyai bangku taman di bawah payung berwarna-warni. Telepon di kamar Denny berbunyi. Hamsad yang menghubunginya. Kata Hamsad kepada Denny, "Aku sudah paksa petugas itu untuk mengirimkan penghibur hangat yang bernama Kismi. Kukirimkan ke kamarmu. Den."
"Apa katanya, Ham?"
"Yah... mereka mau usahakan. Tapi, mulanya mereka ngotot dan tetap tidak mengaku mempunyai 'anak buah' yang bernama Kismi. Lalu. kubujuk mereka, kucoba untuk mencarinya, dan akhirnya mereka suruh kita menunggu, hahaha..." Hamsad tertawa.
"Agaknya Kismi perempuan yang cukup eksklusif," kata Denny dalam tersenyum. "Mungkin tidak semua orang bisa menemui Kismi, Ham. Kurasa tarifnya jauh di atas yang lain."
”Itu kan bisa diatur," kata Hamsad dalam nada kelakar.
Suara debur ombak terdengar, karena memang motel itu dibangun di kawasan pantai. Adakalanya hembusan angin kian bergemuruh, seakan menyatu dengan deru ombak memecah karang. Di dalam kamarnya, Denny mulai gelisah. Sudah pukul 11 malam, tak ada perempuan yang datang. Hamsad sempat mendatangi kamar Denny, karena berulangkah ia menelepon Denny dan menanyakan perempuan pesanannya, Denny selalu menjawab, "Belum datang."
Mungkin karena rasa penasaran yang menggelitik, maka Hamsad pun datang ke kamar Denny itu. Dan, ia membuktikan sendiri bahwa di kamar itu Denny sendirian, tanpa teman wanita yang diharapkan. "Aku sudah menghubungi resepsionis, dan menurutnya Kismi sedang dijemput," kata Hamsad. "Bersabarlah."
"Yang harus bersabar aku atau kamu? Kulihat kau yang kelihatan nggak sabar lagi, Ham," kata Denny seraya tertawa pelan.
Hamsad kembali ke kamarnya: kamar Melati. Rupanya ada satu keisengan yang ia lakukan di kamarnya itu. Tak jauh dari kamarnya, terdapat kamar motel lain. Kamar Mawar. Di kamar itu, agaknya penghuninya tidak menyadari kalau lampu terang di dalamnya menampakkan sebentuk bayangan dari luar kamar yang gelap. Dari jendela dapur, Hamsad memperhatikan ruang tidur yang terang di kamar Mawar itu. Karena di sana tampak gerakan-gerakan dua orang yang bercumbu dalam bentuk bayangan. Dari kamar Denny, bayangan itu tak akan terlihat. Tapi, dari kamar Hamsad bayangan dua makhluk bercumbu di atas ranjang itu terlihat jelas.
Denny sendiri asyik menikmati acara TV Malaysia yang menyajikan film kesukaannya. Ia tidak begitu menghiraukan apakah wanita pesanan itu akan hadir atau tidak. Ia juga tidak bertanya-tanya dalam hati: mengapa sampai larut malam perempuan itu belum muncul? Yang ada dalam pikiran Denny saat itu adalah rangkaian cerita film detektif yang menjadi kegemarannya.
Pukul 12 malam lewat dua menit, tiba-tiba TV menjadi buram. Seolah-olah salurannya terputus. Layar TV menampakkan bintik-bintik seperti semut sedang kenduri. Saat itu, barulah Denny menyadari tujuan semula. Ia melirik arlojinya dan mendesah. TV dimatikan, ia berbaring sambil mulai menerawang pada masa-masa kematian Noman. Bayangan tubuh Norman yang bermandikan darah terpampang kembali dalam benaknya. Bergidik badan Denny mengingat kengerian itu. Meletup emosinya, ingin mengetahui penyebab kematian Norman.
Debur ombak terdengar samar-samar di sela siulan angin pantai. Kali ini, hembusan angin itu terasa cukup aneh. Denny sesekali berkerut dahi, karena suara angin yang berhembus itu menyerupai lolong serigala menelan malam. Hati Denny menjadi gelisah, ada debaran-debaran aneh yang ia rasakan ganjil. Tanpa ada sesuatu ia bisa mengalami debaran, dan ini adalah hal yang aneh baginya.
"Ada apa?" batinnya pun bertanya demikian. Gagang telepon diangkat. Denny bermaksud menghubungi Hamsad, karena makin lama ia merasa semakin merinding dan berperasaan resah. Namun, baru saja ia hendak menekan nomor telepon kamar Melati, tahu-tahu terdengar suara ketukan pintu yang lembut.
Denny berhenti spontan dari segala geraknya, ia ingin menyimak suara ketukan pintu itu. Ternyata, untuk kedua kalinya pintu itu terdengar lagi diketuk. Lembut. Sopan. Pasti bukan Hamsad, pikir Denny. Ia bergegas turun dari ranjang berkasur empuk dan berseprei halus lembut. Ia merapikan rambutnya sesaat, kemudian segera membukakan pintu.
"Selamat malam," sapa seorang perempuan yang memiliki sepasang mata indah dan bibir yang sensual.
"Malam..." jawab Denny sambil merasakan debar-debar di dadanya. Ia sedikit gugup, karena baru kali ini ia melihat perempuan cantik yang memiliki nilai kecantikan luar biasa. Sungguh mengagumkan dan menggairahkan.
"Anda yang bernama Kismi?"
"Benar. Anda yang membutuhkan saya, bukan?" kata Kismi dengan suara serak-serak manja. Lalu, ia melontarkan tawa yang pelan namun memanjang.
"Kupikir kau tak akan datang. Kupikir malam ini kau ada kencan dengan boss lain," kata Denny memancing diplomasi.
"Tidak semua orang bisa kencan denganku. O, ya... siapa namamu?"
"Denny."
Kismi tertawa lagi. Pelan dan pendek. Denny berkerut dahi sedikit dan bertanya, "Kenapa tertawa?"
"Namamu seperti nama bekas cowokku yang dulu. Tapi, wajahnya jauh lebih tampan wajahmu dan aku yakin hatinya lebih lembut darimu," kata Kismi seraya meletakkan tas kecil yang tadi tergantung di pundaknya.
"Kau mau minum apa? Bir?" tanya Denny seraya membuka kulkas yang telah penuh dengan-minuman dan buah-buahan.
"Aku biasa air putih, yang lainnya tidak," kata Kismi.
Kemudian, Denny mengambilkan air putih untuk Kismi. Malam melantarkan keheningan yang romantis. Tetapi, bagi Denny, malam itu bagai malam yang penuh teka-teki indah. Malam itu terasa menghadirkan sesuatu yang meresahkan dan membuatnya merinding, tetapi penuh dengan buaian mesra dari sang sepi.
Tak henti-hentinya Denny menatap Kismi yang memang mempunyai nilai kecantikan dan lekuk tubuh sintalnya yang eksklusif. Ia mirip seorang ratu. Hadir dengan mengenakan gaun longdres putih berenda-renda pada bagian perut dan lehernya. Bau parfumnya sangat halus dan lembut. Enak dihirup beberapa saat lamanya. Rambutnya yang diikat ke belakang, sehingga tampak lehernya yang jenjang itu berkulit kuning langsat, bagai menantang untuk dikecup. Bibirnya yang sensual itu pun sesekali membuat hati Denny deg-degan karena menahan gejolak nalurinya yang masih ingin dikendalikan. Longdres putih itu terbuat dari bahan semacam sutra tipis, sehingga begitu membayang jelas lekuk tubuhnya yang sexy di balik gaun itu. Berulangkah Denny menelan air liurnya sendiri. Ia lebih suka bungkam sambil menikmati kecantikan yang luar biasa itu ketimbang harus bicara panjang lebar.
"Mengapa diam saja?" tegur Kismi yang sudah duduk di pembaringan, sementara Denny duduk di meubel dekat ranjang, menatap Kismi tak berkedip. "Untuk apa kau kemari kalau hanya memandangiku? Kau rugi waktu lho."
"Jadi.... jadi apa yang harus kuperbuat, menurutmu?" Denny masih sedikit kikuk dan menggeragap karena ia bagai dibuai oleh keindahan yang tiada duanya.
"Apa perlumu kemari?" tanya Kismi.
Denny jadi bingung menjawabnya. Sepertinya ada suatu kekuatan magis yang membuat Denny lupa segala-galanya dan hanya memikirkan keagungan seraut wajah cantik yang siap menyerahkan diri padanya.
"Kau baru pertama kemari, bukan?" Kismi mendekat sambil menyentil hidung Denny. Pemuda berwajah halus dan bersih itu hanya mengangguk. Kismi menyambung lagi, "Kau bisa penasaran dan ketagihan lho kalau bermalam di sini bersamaku."
"Apakah banyak yang... yang seperti itu? Hem... maksudku, apakah banyak yang ketagihan padamu?"
Kismi mengangguk, lalu berkata, "Tapi tidak semua kulayani. Aku pilih-pilih jika harus mengulang kemesraan dengan mereka. Memang ada yang kulayani lagi, tetapi hanya satu-dua."
"Termasuk aku?"
"Mana aku tahu. Kita belum saling menukar kenikmatan, bukan?"
"Kau ingin tahu kehebatanku?" tantang Denny sok berani, walau sesekali ini mengusap lengannya karena merinding.
"Apa kau lelaki yang hebat?" Kismi tak kalah menantangnya.
"Kau ingin buktikan?"
"Tentu. Hanya pada lelaki yang hebat bercinta aku akan tunduk kepadanya. Kalau kau berhasil menundukkan aku, maka kau akan hidup berlimpah kemegahan dan kebahagiaan."
"Kenapa kau berkata begitu? Apakah kau sedang memburu pasangan yang sesuai dengan idamanmu?"
"Tidak terlalu memburu, tapi kalau memang ada yang bisa berkenan di hatiku, barangkali dialah yang kupilih untuk selamanya..." kata Kismi sambil merayapkan jari telunjuknya ke dagu Denny, kemudian merayap ke bibir pemuda itu, dan Denny menyambutnya dengan ujung lidahnya.
"Oh..." Kismi mendesah dengan mata mulai membeliak sayu.
Denny tergugah, dan semakin terbakar naluri kejantanannya. Ia mulai memberanikan diri meraba pipi Kismi sementara bibir dan lidahnya sibuk menghisap-hisap jari-jemari Kismi yang sengaja bermain di mulutnya. Tangan Kismi yang kiri berusaha melepas tali gaun yang terikat di pundak kanan-kirinya. Simpul tali itu hanya ditariknya satu kali, lalu gaun terlepas sebelah. Yang satu ditariknya kembali simpul talinya, dan kini gaun lembut itu terlepas dari tubuh Kismi. Ia ternyata tidak mengenakan bra di balik gaun. Hanya sebentang kepolosan yang halus mulus yang ada di balik gaun. Dan kepolosan itu sangat menghentak-hentakkan jantung Denny karena kepadatan dadanya yang menonjol dalam keindahan yang ideal. Padat, besar dan menantang.
Denny segera menarik tubuh gadis itu ke pangkuannya, tangannya langsung meraih buah dada Kismi karena memang terlihat begitu montok mengundang, diremas-remasnya lembut sambil menciumi batang lehernya yang putih jenjang. Kepala Kismi terdongak ke atas sambil mendesiskan erangan serak-serak manja. Matanya membeliak sayu. Tangan kirinya segera melepas ikatan rambutnya dengan gerakan gemulai, maka tergerailah rambut hitam yang punya kelembutan bagai benang-benang sutra itu. Rambut itu ternyata sepanjang punggung dan berbentuk lurus tanpa gelombang. Gerakan kepalanya yang mendongak makin ke belakang seakan memberi kesempatan bagi Denny untuk mengecupi lehernya.
Denny tak sabar, kemudian ia melepaskan tangan kanan Kismi yang masih memeluknya. Kini bibir dan mulut Denny mulai merapat ke tonjolan buah dada perempuan cantik itu, membuat suatu kecupan kecil di puncaknya yang mungil hingga membuat Kismi semakin mengerang panjang.
"Ouuuh...! Dennyyy...!"
Ucapan kata dalam bentuk desah serak memanja itu begitu mempengaruhi jiwa Denny. Ia makin dibuai oleh suara yang memancing api birahi itu. Denny pun akhirnya memburu tanpa bisa menahan diri lagi. Tak ada niat untuk menunda sedikit pun. Tak ada hasrat untuk berucap kata apa pun. Denny telah mabuk dan lupa segala-galanya. Dengan penuh nafsu ia usap-usapkan wajahnya ke buah dada Kismi yang menonjol dengan begitu gemas, sambil tangannya mulai menggerayangi paha gadis itu dari belahan gaun putihnya yang berenda-renda.
Sementara itu, tangan Kismi pun tak mau tinggal diam. Ia pandai menyusupkan jemarinya ke lekuk-lekuk tubuh yang peka dari seorang lelaki. Ia memang jago. Hebat. Ia memang berpengalaman, jauh di atas segala pengalaman Denny.
"Ooouh... kau terbakar, Sayang..." bisik Kismi sambil menggeliat, bergerak maju bagai menerkam Denny. Pada waktu itu, tangan Kismi sudah berhasil melepas kancing baju Denny. Bahkan bagian atas tubuh Denny itu sudah tidak dibalut selembar benang pun. Denny yang sedang asyik membenamkan wajahnya di antara kedua bukit Kismi tidak menyadari keadaan dirinya yang sudah demikian. Bahkan ia tidak tahu kalau celananya telah terlempar di lantai tak jauh dari kursi empuk itu.
“Gila, bagus sekali! Kencang lagi.” kata Denny ketika menatap kembali sepasang buah dada Kismi yang sudah telanjang, dan langsung kembali mengulumnya dari satu puting ke puting yang lainnya. Jari tangannya juga sudah menyusup ke liang kenikmatan gadis itu. Kismi yang merasa kegelian diserang atas bawah, hanya bisa mendesis-desis sambil menggeliat pelan.
“Aku ingin merasakan vaginamu yang masih segar itu, Sayang” bisik Denny yang tanpa menunggu jawaban, langsung meminta Kismi untuk duduk mengangkang di atas ranjang.
Bagai seorang ratu yang benar-benar pasrah kepada pasangannya, Kismi pun melakukannya. Dibiarkannya Denny memelototi bagian kewanitaannya dengan begitu bebasnya. Benda itu masih nampak sempit dan memerah, Denny menatapnya dengan sorot mata penuh nafsu. Tak tahan menunggu, Kismi segera menarik kepala pemuda itu dan dibenamkan ke arah liang vaginanya. Lebih baik menerima jilatan daripada dipelototi seperti itu.
Pelan Denny mengusap-usapkan kepalanya di vagina Kismi, dia melahap benda itu perlahan-lahan bagai tidak ingin merusaknya. Kismi memejamkan mata berusaha menikmati, perlahan birahinya mulai naik. Ditekannya kepala Denny lebih dalam ke bibir selangkangannya. Cukup lama pemuda itu menjilatinya sambil memainkan kedua putingnya hingga membuat Kismi merintih geli sekaligus nikmat, semuanya bercampur menjadi satu.
Denny yang sudah capek menjilat, kini berdiri. Ia menarik turun celana dalamnya hingga  tampaklah penisnya yang sudah panjang menegang. Kismi segera menyambar dan memeganginya, lalu mengocoknya dengan begitu lembut sebelum kemudian menyodorkan benda itu ke dalam mulutnya. Setelah menjilatinya sejenak, dengan senyum halus ia usap-usapkan penis itu ke pipi dan putingnya.
”Ohh...” Denny mulai mendesah. Ia yang sudah benar-benar tak tahan segera berlutut di antara kedua kaki Kismi. Disingkapnya gaun gadis itu yang belum terlepas, lalu menyapukan kepala penis di bibir vaginanya yang sudah memerah lembab. Sambil memandang Kismi penuh nafsu seakan hendak menelannya hidup-hidup, ia mendorong penisnya.
Denny menciumi Kismi gemas setelah berhasil memasukkan semua batang penisnya ke vagina gadis itu. Dibandingkan dengan punya Norman, penisnya memang lebih kecil, namun tetap saja terasa nikmat di vagina Kismi yang sempit. Sambil menciumi leher jenjang gadis itu dan meremas-remas bongkahan buah dadanya yang montok, ia mulai aktif menggoyang. Tangannya begitu rajin menjamah seluruh tubuh Kismi, begitu juga dengan lidah dan bibirnya. Tak henti-hentinya Denny menjelajah leher dan telinga Kismi sambil terus mengocok pelan penuh nikmat hingga membuat mereka sama-sama menggelinjang penuh kepuasan.
Kismi meremas gemas rambut Denny dan mulai menggoyang pelan pinggulnya mengimbangi gerakan pemuda itu. Ia juga mendesah-desah penuh kenikmatan untuk menambah gairah mereka. Kismi berharap Denny bisa cepat menyelesaikan permainan itu, sama seperti pemuda-pemuda lain yang sudah berkencan dengannya. Tapi diluar dugaan, hampir limabelas menit dia mengocok, Denny tampak masih belum berpengaruh. Malah yang ada, dia minta ganti posisi. Sekarang Kismi menungging di ranjang dan Denny mengocoknya dari belakang.
Sebenarnya ini posisi favorit Kismi, tapi karena Denny mengocok dengan begitu keras, ia jadi tidak bisa merasakan kenikmatan. Pinggul Denny terus menghentak kuat di tubuhnya untuk mempercepat kocokan, sambil tangannya meremas-remas buah dada Kismi yang menggantung indah. Tubuh pemuda itu seolah memeluknya dari belakang, tapi terganjal oleh bokong bulat Kismi yang begitu besar. Kismi menggoyang pantatnya untuk mengimbangi, tubuh mereka saling berimpit untuk sama-sama memuaskan.
Deburan ombak di pantai terdengar bergemuruh bercampur deru angin. Gemuruhnya ombak itu, masih belum sebanding dengan gemuruhnya darah Denny yang dibuai kehangatan cinta Kismi. Perempuan itu lebih galak dari singa, dan lebih buas dari beruang. Tak segan-segan ia menjadi juru mudi dalam 'pelayaran' itu. Tak ada lelahnya ia menghantar Denny ke puncak kebahagiaan yang diharapkan setiap lelaki. Bahkan, Denny sempat memekik keras dalam suara tertahan ketika Kismi sengaja memancing Denny untuk berlayar lagi. Dan berlayar terus. Puncak-puncak kebahagiaan Denny telah dicapai beberapa kali, tetapi Kismi masih ingin memacu diri untuk makin menggila, meremas-remas tubuh Denny, mencari puncaknya sendiri.
"Aku lelah, Kismi... oh... berhentilah...!" Denny terengah-engah dengan bermandikan keringat. Tetapi, Kismi tak mau berhenti. Masih saja ia mengerang, mengeluh, mendesah dan mendesis di sela setiap gerakannya yang luar biasa hebatnya.
"Kismi... oh... kita istirahat dulu. Sayang! Aku capek...!"
Kismi bahkan mengerang berkepanjangan sambil terus bergerak seirama dengan kemauan hatinya. Denny hanya terengah-engah dan sudah mengalami kesulitan menuju ketinggian puncak asmaranya. Akhirnya ia biarkan Kismi berlaga seorang diri. Ia biarkan Kismi berbuat apa maunya, dan Kismi pun merasa diberi kesempatan. Ia jadi lebih menggebu lagi.
Denny mulai merasa pusing. Matanya berkunang-kunang. Napasnya sesak, dan perutnya terasa mual. Namun demikian, Kismi masih tetap mendayung sampannya menuju samudera kebahagiaan, sehingga mau tak mau Denny pun memekik lagi karena tiba di puncak khayalan mesranya. Dalam hati, Denny hanya bertanya-tanya dengan lemas, kapan 'pelayaran' itu akan usai? Haruskah ia menolak dengan kasar, atau membiarkan ia jatuh pingsan ditimpa sejuta kenikmatan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar