Sabtu, 20 Agustus 2016

Misteri Yang Tersembunyi 6



Kecuali ‘sialan’, Candi memang sengaja menahan suara manakala ia terperosok beberapa meter ke bawah mengikuti tanah bergerak di atas tadi. Sebenarnya ia ngeri juga meluncur deras ke bawah dalam gesekan tumbuhan liar berduri dan ujung-ujung akar di lajur lorotan itu. Tapi ia beruntung mengenakan baju lengan panjang dan celana jeans tebal. Jadi ia berusaha tenang saja mengikuti luncuran itu, sekitar 40 meter ke bawah.
Ia mendarat dengan kaki terlebih dahulu, dan hanya tergulung sedikit. Ia mendapati dirinya berada di sebuah kawasan asing. Selama seperempat jam ia menunggu sambil mempelajari sekitarnya. Si jebah di atas sana pasti sudah mengira ia mati karena terkikis ujung batuan tajam atau terantuk batu besar. Padahal, kalau dipikir-pikir, tempat ia mendarat ini tergolong empuk. Di dasar jurang ini ada tumpukan daun kering dan ilalang kering yang sengaja ditata rapi.

Candi duduk di tumpukan kering dan memeriksa anggota badan. Cuma goresan-goresan kecil di lengan. Tas pinggang utuh, dan kamera baik-baik saja, kecuali casingnya yang tergores di sana sini. Candi menatap tempat itu berkeliling. Tempat apa ini? Pohon-pohon di sekitarnya tumbuh subur dan rimbun, suhu lebih sejuk dan nyaman. Lokasinya benar-benar terlindung. Buktinya, dari tempat itu ia sama sekali tidak bisa melihat jauh, selain dinding-dinding pepohonan dan perdu liar.
Tak jauh dari tempat Candi duduk, ia mendengar suara gemericik air. Candi mendekat. Ada sebuah pancuran kecil sebesar ibu jari lewat sebatang bambu yang dibelah menjadi dua. Aliran air ini seerti disengaja dikumpulkan pada sebuah kolam kecil. Air kolam tampak bening, dengan kedalaman tak lebih dari satu meter.
Candi menangkupkan kedua telapak dan menggunakannya untuk mengais air. Sejuk sekali air pancuran itu membasuh muka, dan minum seteguk pastilah bukan gagasan buruk.
Puas minum dan membasuh muka, ia menebarkan pandangan berkeliling. Di mana-mana hanya pemandangan hijau dedaunan. Tapi tunggu dulu! Ada gubuk kecil sepuluh meter di arah kanan. Gubuk itu dibangun menjorok ke dalam tebing sehingga tak mudah terlihat dari permukaan tebing.
Perlahan Candi mendekati gubuk. Ia perhatikan baik-baik gubuk yang terbuat dari campuran kayu patahan pohon dan dedaunan. Ketika ia melongok ke dalam, ia tak melihat siapapun kecuali dua rantang logam yang kelihatan amat tua dengan onggokan kain menyerupai busana. Di depan gubuk, tiga bongkah batu ditata, melingkung bekas bakaran. Abu yang berserak di antara ketiga bongkahan batu itu tampak baru.
”Apa yang menarik dari gubukku, putri ayu?” tiba-tiba seuntai suara berat datang dari arah belakang. Terkejut Candi mencari arah suara itu. Seorang kakek, berambut putih, berkaos oblong kumal dan bercelana drill kumal kedodotan berdiri tak jauh darinya.
Candi mundur beberapa tapak. Terbungkuk si kakek mendekati gadis itu. ”Siapa kau?” tanya kakek, matanya yang berair memandang curiga.
”Saya Candi, tamu di desa ini,” kata Candi.
”Bagaimana kau sampai di sini? Tak ada jalan yang bisa dilewati untuk sampai ke sini,”
”Saya datang dari atas sana, terperosok!” kata Candi.
”Terperosok?” ulang si kakek.
”Ya, melorot. Saya tengah berjalan di sana, lalu tanah bergerak dan saya terporosok ke sini, lumayan tinggi,” ujar Candi.
”Kamu tidak apa-apa?” tanya si kakek.
”Saya baik-baik. Mujur, tidak terluka secuil pun. Kakek tinggal di gubuk ini?” tanya Candi.
”Ya, sejak jaman Jepang,” ujar kakek.
”Jaman Jepang?”
”Ya, jaman Jepang. Tahun 1942-an,” si kakek berjalan tertatih menuju pancuran dan membasuh kaki.
”Namaku Probosangkoro. Aku orang Kemiren asli. Begitu istriku wafat, aku menyepi di tebing ini. Geen kinderen, geen familie,” Probosangkoro bicara bercampur bahasa Belanda.
”Kakek tak punya anak atau sanak keluarga?” tanya Candi.
”Lho, kan barusan saya bilang tadi, tak ada anak, tak ada keluarga,” ujar Probosangkoro.
”Oo, yang bahasa Belanda tadi?” kata Candi.
Probosangkoro terkekeh menatap Candi, ”jij tidak bisa bahasa Belanda?”
”Tidak. Di sekolah kami diajari bahasa Inggris,” kata Candi. ”Kakek tinggal sendiri di sini?”
Probosangkoro menoleh Candi. ”Apa ada kau lihat orang lain di sini?”
Candi mengernyitkan kening. Kakek ini bicara tangkas. Ia pasti bukan orang sembarangan.
”Kenapa tidak tinggal di desa, kan lebih nyaman?” tanya Candi.
Probosangkoro tidak menyahut, juga tidak menoleh. Boleh jadi ia tidak suka pertanyaan Candi. ”Kau punya korek api?” tanya Probosangkoro.
”Tidak,”
”Setiap bertemu orang asing, aku selalu minta korek api. Cuma itu yang kubutuhkan kalau kebetulan bertemu orang. Tiga tahun lalu ada pencari kayu bakar dari desa lain kesasar ke sini. Dia meninggalkan satu pak korek api kayu. Dia memberi aku celana dan kaos ini. Dia orang terakhir yang aku temui,” ujar Probosangkoro, ”tebing ini bukan tempat manusia hidup. Tak ada yang suka pergi ke sini,”
Candi memperhatikan Probosangkoro berjalan mondar-mandir mencari kau bakar di sekitar gubuk. Candi membantu mengumpulkan satu dua kayu bakar dan mengikuti Probosangkoro meletakkan ranting-ranting itu di antara tiga bongkahan batu tungku. Ia kemudian mengambil beberapa potong singkong dari bagian depan gubuk dan meletakkannya di dekat tungku.
Candi duduk di tanah dan memperhatikan kesibukan kecil Probosangkoro. Orangtua ini menata ulang ranting-ranting di tungku. Dari saku celana ia mengeluarkan sepasang batu pemantik dan segumpal kapuk yang diambil dari buah randu. Gumpalan itu dilempar ke ranting-rantin kayu. Cekatan tangan Probosangkoro menggesek-gesek batu pemantik. Percikan api dari gesekan dua batu pemantik melahap kapuk kering di ranting dan sebentar kemudian membakar ranting-ranting kering itu. Ketika nyala api mulai membesar, Probosangkoro menjejalkan ranting-ranting lebih besar. Ketika ranting-ranting besar membara, ia menjejalkan beberapa barang ketela pohon ke dalam bara api.
”Ada kabar apa dari desa?” tanya Probosangkoro, mengipasi api dengan daun-daun tebal segar.
”Banyak kabar, Kek. Kakek mau dengar kabar apa?” tanya Candi.
”Apa saja,” kata Probosangkoro di tengah asap membumbung dari tungku batu.
”Selama tiga hari ini, desa Kemiren gempar!”
”Gempar?”
”Ya, Si Mbah Parto Sumartono dikeroyok orang di tengah malam, dipukuli pakai linggis. Sekarang Si Mbah belum bisa bangun,” kata Candi.
Air muka Probosangkoro berubah. ”Parto Sumartono dikeroyok orang? Mijn God! Waarom?” ujar kakek. ”Kenapa?”
”Kakek kenal Si Mbah Parto Sumartono?” tanya Candi.
Ja, zeker! Kenapa ada yang menganiaya dia?”
Setahap demi setahap Candi menceritakan peristiwa penyerangan terhadap Parto Sumartono.
“Waduh! Benar-benar vervelend orang-orang jaman sekarang. Sekarang kau baru tahu kenapa aku lebih suka menyepi di sini,” ujar Probosangkoro, duduk sebuah kursi bongkahan batu besar. ”Kau orang mana?” tanya Probosangkoro.
”Jakarta!”
”Ja...apa?”
”Jakarta, kek! Dulu namanya Batavia,” jelas Candi.
”Oh, bataafsche meisje, heh?” kata Probosangkoro.
”Apa itu?”
”Dara Batavia,” kata Probosangkoro. ”Benarkah kau tidak bisa bicara bahasa Belanda?” Probosangkoro sulit percaya.
”Sama sekali tidak,”
”Harusnya orang batavia bisa bicara Belanda.... heh, dari dulu perempuan Batavia cantik-cantik. Apa kau perempuan indo, kulitmu bersih?” tanya Probosangkoro.
”Saya orang Priangan, Kek. Sunda asli!” tutur Candi. ”Sekarang pun orang pribumi banyak yang berkulit putih, hidup bersih dan sehat,” kata Candi.
”Ya, ya, kamu harus berterimakasih pada Soekarno. Orang itu yang kasih kamu orang merdeka, bukan?” ujar Probosangkoro terkekeh, memamerkan gusinya yang melepuh dengan sisa satu dua gigi yang hitam dan kotor.
”Bagaimana kakek bisa bicara bahasa Belanda?” usik Candi.
Di luar dugaan, senyum Probosangkoro tiba-tiba memudar. Tatapannya menerawan jauh dan nafasnya jadi berat. Candi menyesal mengajukan pertanyaan yang mungkin menganggu pikiran orangtua ini.
Mata Probosangkoro yang berair menatap Candi. Ia melepas ikat kepala terbuat dari kain yang sudah tak jelas warnanya. Rambut putih perak panjang tiba-tiba saja terburai beriring dengan lepasnya ikatan kepala. Probosangkoro kini terlihat seperti seorang pertapa.
”Ketika aku masih muda, mungkin seusia kau, banyak orang asing, termasuk orang Belanda, datang dan pergi ke desa Kemiren. Mereka mencari balung butho, peninggalan-peninggalan kuno yang menurut mereka banyak bersemayam di perut Kemiren,” Probosangkoro berhenti bicara dan memeriksa singkong yang masih terbenam dalam bara kayu dengan sebatang ranting.
”Tepian sungai di seberang itu, tak henti-hentinya digali,” tangan renta Probosangkoro menunjuk ke satu sarah, ke semak-semak yang menghadap tebing curam Kali Randu. ”Pinggiran Kali Randu memang memendam peninggalan sejarah yang katanya kemudan terkenal di seluruh dunia. Banyak pemuda desa juga ikut terlibat dalam kerja penggalian sebagai buruh gali. Orang asing yang paling lama tinggal di sini adalah Kristoff von Weissernborn. Ia menggali siang malam, selama hampir lima tahun. Aku salah satu pemuda yang membantunya. Upahnya sehari sekeping uang kuningan, yang cukup buat makan sekeluarga selama dua hari. Hasil galian dibawa ke balai desa lama yang sekarang ditempati Parto Sumartono,” Probosangkoro berhenti bicara. Ia menusuk-nusukkan ranting lagi ke arah singkong bakar untuk melihat apakah singkong bakar siap disantap.
Candi membetulkan tempat duduknya, mulai menikmati dongeng si kakek.
”Suatu sore, ketika aku dan Parto menggali, di antara bongkahan tanah sangkulku menderak beberapa kepal batu keras berbentuk aneh. Aku menunjukkan pada Parto. Parto kemudian meneriaki von Weissernborn yang sedang memimpin penggalian agak jauh dari pinggiran Kali Randu bersama seorang pemuda desa bernama Kuntoro,” kata Probosangkoro. ”Bongkahan batu itulah yang kemudian dikenal sebagai fosil rahang phitecanthropus erectus yang dicari-cari von Weissernborn,” Probosangkoro berhenti bicara. Ia mengais singkong dari bakaran dan mengumpulkannya pada selembar daun segar.
”Lalu, kek?” tak sabar Candi ingin si kakek terus berkisah.
”Von Weissernborn kemudian menghadiahi aku dan Parto sepuluh kali lipat upah biasa. Parto senang, tapi aku tidak,” Probosangkoro tertunduk, wajahnnya bertabur duka.
”Kenapa, Kek?” tanya Candi.
”Tiga belas hari kemudian, setelah von Weissernborn membawa balung-balung butho itu ke Bandung dengan kereta api, aku selalu bermimpi buruk. Setiap malam aku merasa didatangi seorang besar dengan tubuh penuh bulu. Rahangnya menyeringai, bertaring pendek dan berjalan membungkuk,”
”Menurut Kakek, siapa mahkluk itu?” tanya Candi.
”Entahlah. Tapi dalam mimpi-mimpiku makhluk itu bilang ia sudah mati beratus-ratus ribu tahun lalu dan menghuni tanah Kali Randu dengan damai. Ia minta bagian-bagian tulangnya tidak dipindahkan dari tempatnya. Aku turut berdosa memindahkan tulang-tulang itu dari kuburnya yang abadi. Semula aku tahan dengan mimpi-mimpi buruk itu, tapi setahun lebih kemudian, ketika istriku mati tanpa sebab jelas, aku benar-benar tak tenang,” Probosangkoro tertunduk.
”Lurah tua, bapaknya Parto Sumartono yang memberi ijin von Weissernborn untuk membawa fosil-fosil itu keluar Kemiren juga meninggal dua tahun kemudian. Itulah sebabnya, ketika von Weissernborn kembali dari Bandung dan berniat memberi hadiah padaku, aku bikin perjanjian dengan Parto Sumartono,”
”Perjanjian apa?” sela Candi.
Probosangkoro tak lekas menjawab. Ia pandangi Candi sedemikian rupa seolah ingin terlebh dahulu memastikan gadis ini bisa dipercaya untuk menyimpan sebuah rahasia. Orangtua itu menarik nafas beberapa saat sebelum bicara.
”Sebetulnya... akulah Parto Sumartono, di Si Mbah Parto Sumartono yang kau kenal itu adalah Probosangkoro,” kata si kakek.
Candi tertegun, sulit mempercayai informasi di luar dugaan itu.
”Kau boleh tak percaya. Kami bertukar nama. Aku relakan penemuanku diakui orang lain. Aku yang minta itu,” Probosangkoro menatap Candi, dan berjalan ke arah gubuk. Dari baling dinding keropos gubuk, ia meraih sebuah foto kusam. Ia menunjukkan foto dirinya dan foto seorang pemuda lain yang mirip dirinya berdiri mengapit seorang bertampang bule.
”Yang di tengah itu von Weissernborn,“ Probosangkoro menunjuk. “Yang di kanan Probosangkoro asli, dan yang kiri Parto Sumartono asli.
“Jadi, si Mbah Parto Sumartono itu sebenarnya adalah Probosangkoro. Dan Kakek ini adalah Parto Sumartono?“ tegas Candi.
“Ya,“ Probosangkoro menelan ludah.
“Apakah von Weissernborn tahu ini?“ tanya Candi.
“Tidak. Ia selalu mengalami kesulitan membedakan aku dan Parto. Lihatlah, wajak dan perawakan kami memang sulit dibedakan. Ketika pecah perang Jepang dengan Belanda, sebagian pemuda bergabung dengan tentara Jepang, dan aku memilih menyepi di sini. Probosangkoro kuminta menempati balai desa dengan Nama Parto Sumartono, sementara orang-orang mengira aku ikut berperang bersama tentara Jepang dan tewas di medan perang. Von Weissernborn tak tahu kesepakatanku dengan Parto Sumartono. Ia mengira Probosangkoro itu benar-benar Parto Sumartono,“ kakek itu menatap dengan pandangan kosong.
Meski lamban, Candi berusaha memahami logika cerita sang Kakek. Untuk sementara, tak alasan lain selain percaya pada kisah tak terduga orangtua ini.
”Tak usah kau terpengaruh ceritaku. Tetap saja sebut aku Probosangkoro, sebagaimana aku tadi mengenalkan diri padamu. Dan aku berharap kau rahasiakan keberadaanku di sini. Aku tahu kau bisa dipercaya,”
Candi iba melihat airmuka orangtua itu. Meski terlihat sedih, kerut kulit dan bercak renta kakek ini seolah menyiratkan kelegaan ketika sebuah rahasia panjang telah tertumpah.
”Saya benar-benar ingin tahu,” Candi duduk mendekat, ”Kenapa kakek mau menceritakan ini pada saya?”
Probosangkoro mengusap mata. ”Aku telah mengasingkan diri hampir tiga perempat umurku. Mataku telah lamur, gigiku ompong, tulangku makin lemah, dan tubuhku gemetar. Ini pertanda ajal siap menjemput. Bukan tidak mungkin kaulah orang terakhir yang kulihat sebelum aku menutup mata selamanya,” tutur Probosangkoro.
Candi tak berkata-kata. Pertemuan dengan kakek ini sungguh menambah keruwetan misteri desa ini.
”Aku sedih Parto dianiaya orang,” kata Probosangkoro.
Candi tadinya hendak menceritakan soal surat dari Belanda yang diterima Pak Lurah. Tapi ia kuatir ini hanya akan menambah gundah Probosangkoro.
”Nah, ketela ini sudah siap dimakan. Ambillah,” Probosangkoro menjumput satu bongkah ketela pohon dari pembakaran. Ia juga memberikan sebuah daun lebar untuk alas makan.
Candi meniup-niup ketela yang masih panas mengepul dan makan sedikit demi sedikit.
”Kini aku lega. Kabarnya orang desa punya penghasilan baru dengan menjual barang-barang kerajinan mirip peninggalan purbakala. Aku senang penggalian ini bisa membawa berkah di saat kemarau panjang tak mampu menyuburkan tanah. Lariskah dagangan orang-orang itu?” tanya Probosangkoro.
”Lumayan,” jawab Candi mengunyah ketela rebus.
Probosangkoro menyimak berkeliling dan menatap Candi. ”Sebentar lagi sore. Sebaiknya kau segera pergi. Kau tahu jalan keluar dari sini?” tanya Probosangkoro.
”Tidak!”
”Ini agak sulit. Tapi harus dicoba,” Probosangkoro berdiri dan menunjuk ke kiri. ”Kau susuri semak-semak liar itu menuruni bukit. Tak ada bekas tapak kaki. Kau harus gunakan akal dan kecerdasanmu. Nanti kau akan tiba di pinggiran sungai di lembah sana. Dari lembah itu kau harus susuri sungai ke arah kanan, lalu berbalik ke arah matahari tenggelam sampai ketemu jalan setapak yang akan mengantarmu ke arah jalan setapak lebih besar. Ikuti terus sampai menemukan jalan besar,” kata Probosangkoro.
”Baiklah,” Candi menyeka mulut. Ia menjamah kamera dan menyiapkan lampu kilat.
”Apa itu?” tanya Probosangkoro.
”Alat potret. Saya mau ambil gambar kakek dan gubuk ini.”
Nee. Nee. Niet doen! Jangan lakukan itu,” mata Probosangkoro melotot. Rupanya ia menolak dipotret. Candi menyesal tak sedari tadi ia mencuri-curi memotretnya.
Candi mengurungkan niatnya. ”Saya pergi dulu, Kek!” kata Candi.
”Cepat pergi, dan ingat jangan pernah sebut namaku dan lokasi gubuk ini. Aku sudah cukup senang tinggal di sini sampai akhir hayat,” kata Probosangkoro.
”Saya berjanji. Terimakasih ketela bakarnya. Enak sekali,” perlahan candi melangkah ke arah semak-semak yang dimaksud Probosangkoro. Ia menoleh ke belakang dan mencari peluang memotret si kakek dari kejauhan. Sejumlah jepretan ia buat. Sayang ia tidak membawa lensa jauh. Namun, gambar Probosangkoro di depan lingkungan gubuknya yang asri dari kejauhan itu cukuplah sudah.
Candi kemudian menyapukan pandangan beberapa saat lamanya ke arah ruang terbuka yang sempit di seputaran gubuk. Tatapan terakhir ke arah Probosangkoro merupakan cara yang ia sukai untuk berpamitan kepada orangtua itu.
Setengah jam lamanya Candi menghabiskan waktu untuk menembus perdu-perdu liar dengan pohon-pohon besar tanpa adanya petunjuk jalan. Benar kata si kakek, ia perlu akal sehat,kecerdasan, dan matahari untuk bisa menemukan jalan dan tidak tersesat. Kalau ia tersesat tanpa sinar matahari, akan kacaulah perjalanan pulang ini. Bermalam di hutan sendirian tanpa makanan bukanlah ide yang baik.
Beruntung, pada saat hari mulai redup ia baru sampai di lembah di kaki tebing-tebing pinggiran Kali Randu. Dengan petunjuk sisa-sisa pendar sore sinar mentari, ia berharap bisa sampai di jalan besar menuju ke rumah Bu Parmi sebelum hari benar-benar gelap.
Sepanjang perjalanan, otak Candi dikecamuki berbagai pikiran. Akankah Probosangkoro menjadi cerita besar untuk Rio dan Danica, dan mungkin juga untuk Pak Lurah, atau untuk seluruh desa Kemiren?
Dan pikirannya kini tertuju pada Rio. Kalau ia sendiri terselamatkan dari cengkeram di jebah karena terperosok ke jurang, bagaimana dengan nasib Rio yang diuber-uber si celana longgar? Candi ingin segera tahu kabar Rio.

***

Rio tak terbiasa berputus asa. Tapi kali ini benar-benar ia habis akal. Ia sudah berputar-putar di sekitar Kali Randu tiga kali. Tapi sama sekali ia tak menemukan jejak Candi. Sejak meninggalkan Bu Lurah di jajaran kaliandra tadi, ia tak berhenti mencari. Apa yang terjadi dengan gadis ini? Di mana dia?
Rio menatap langit. Sebentar lagi gelap total. Di sekeliling tak ada rumah penduduk. Cuma jalan setapak yang mulai kelihatan kelam. Rerimbunan pohon makin membuat senja menjadi remang. Kini yang terbayang di benak adalah bayangan wajah Candi. Dalam hati ia berjanji, kalau ada apa-apa dengan gadis itu, tak segan-segan Rio akan menguliti si jebah.
Darah Rio seperti tersirap manakala semak-semak di depannya bergoyang. Ada orang menerabas pepohonan liar itu dengan cepat. Seketika Rio sigap. Bulu kuduknya meremang. Di luar dugaan, goyangan semak-semak berhenti mendadak. Tapi gesekan-gesekan kecil masih terdengar.
Rio berpikir inilah saatnya kewaspadaan berada pada beban puncak. Dua orang pengeroyok yang siang tadi beraksi sudah jelas tak puas atas kelolosannya. Liar mata Rio bergerak ke kanan dan ke kiri. Tak ada senjata. Tapi kemudian ia menemukan ide. Bongkahan batu bukan gagasan yang buruk buat senjata darurat. Perlahan ia menurunkan tangan sambil tetap mencermati setiap gerakan di semak-semak. Dua bongkah batu sebesar kepalan tergenggam di kanan dan kiri.
Manakala semak-semak bergerak lagi, seketika itu Rio menyiapkan batu dalam posisi lontar. Sekali bajingan itu muncul, mukanya tak ayal lagi tergempur barang padat itu.
Tapi tak segera musuh datang dari semak-semak. Rio jadi ragu apakah benar-benar manusia yang berada di balik rerimbunan itu. Untuk memastikan kemasygulannya, ia berteriak.
“Siapa di situ? Keluar atau kubogem batu,” hardik Rio.
Di luar dugaan, selarik suara wanita menyambar. “Rio? Kaukah itu? Candi ini!”
“Astaga, Candi, ya?” Rio menurunkan batu di genggaman.
Sesosok tubuh muncul menguak dedaunan padat. “Apa pula yang kau lakukan dengan batu siap dilempar?” tanya Candi, mengomentari Rio yang berdiri dengan posisi sangat konyol.
“Benar-benar kaukah itu?” masih tak percaya Rio pada pandangannya.
“Sialan. Tentu saja ini aku. Kau pikir aku hantu?”
“Syukurlah itu kau,” Rio berseru lega, “Kau baik-baik saja?”
“Tak kurang suatu apapun,” kata Candi.
“Bagaimana kau bisa selamat dari kejaran orang pejal bermuka jebah itu?”
“Gampang, asal kau rajin ikut latihan fitness seperti yang selama ini kulakukan. Kau sendiri bagaimana?” Candi mengamati Rio yang tampak dekil.
“Agak panjang ceritanya; sepanjang ceritamu barangkali. Tapi kita mesti tinggalkan tempat ini. Sudah gelap sekarang,” ajak Rio.
“Ayolah,” kata Candi, “Well, aku senang kau selamat.”
“Aku juga, tak lepas pikiranku padamu,” ujar Rio mulai bergegas. Ia diam sejenak, menunggu Candi bicara. Tapi gadis itu tak mengucapkan sepatah katapun. Padahal Rio menantikan sebuah ucapan, yang kurang lebih sama dengan ucapannya pada Candi barusan.
“Kamu bilang, kau tak lepas khawatirkan aku?” tanya Candi, setelah beberapa menit Rio menanti.
“Ya,” jawab Rio bersemangat.
“Sayang sekali, aku tak terlalu memikirkanmu,” tutur Candi, bernada seloroh.
“Aku tak minta komentarmu,” Rio bersungut. “Gila, jalanan begitu gelap, kita bisa kesasar,”
“Aku bawa lampu baterai,” Candi mengeluarkan sebuah lampu senter mungil, dan menebarkan sinar ke jalan.
Sepanjang perjalanan, dengan suara perlahan Candi menceritakan seluruh kejadian, mulai melorot ke jurang sampai Probosangkoro. Rio kemudian berkisah pula pengalamannya dengan si celana longgar, juga pertemuannya dengan Kuntoro. Tapi perjumpaannya dengan Bu Lurah sengaja ia tutup rapat-rapat. Selebihnya mereka tak banyak bicara ketika mereka hampir sampai di rumah Si Mbah.

***

“Kau percaya orangtua bernama Probosangkoro itu adalah Parto Sumartono?” bisik Rio di telinga Candi, sembari melempar kemasan rokok di meja pendek di ruang depan rumah Si Mbah.
Gadis itu tak segera menjawab. Ia  asyik sekali memeluk gelas teh hangat dan menempelkan kehangatan gelas itu ke pipinya. “Tadinya tidak. Tapi cerita kakek itu logis. Lagipula, ia bisa bicara bahasa Belanda. Sangat mungkin ia Parto Sumartono yang asli. Ia lebih sering berhubungan dengan von Weissernborn,” tajam Candi berbisik, sambil mengunyah biskuit.
Rio menatap Candi. “Apa lagi yang diceritakan orang tua itu?”
“Semuanya sudah kuceritakan padamu. Makin ruwet, bukan?” ujar Candi.
“Ya. Kalau benar-benar utusan Yayasan von Weissernborn datang dan menemukan bukti itu, berarti mereka memberikan uang hibah pada orang yang salah,” ucap Rio.
“Lalu apa usaha kita? Menceritakan yang sebenarnya pada Pak Lurah? Padahal kakek Probosangkoro wanti-wanti agar aku tak panjang lidah membongkar rahasianya,” tukas Candi.
Rio tak menyahut. Terlalu mendadak informasi ini untuk ditimpali reaksi. “Aku tak menduga desa ini tenyata menyimpan seribu satu teka-teki,” Rio bicara sendiri.
“Soal Kuntoro, orang yang menyelamatkanmu itu, bagaimana ia bisa membuat si celana longgar menyingkir?”
“Boleh jadi karena Kuntoro adalah salah satu dari sekian sesepuh desa yang disegani. Itu wajar,” kata Rio.
“Kakek misterius itu juga sempat menyebut nama Kuntoro,” sela Candi kemudian.
“Oh ya?” bersemangat Rio bertanya.
“Ya. Kuntoro adalah salah satu pemuda yang sedang bersama von Weissernborn tatkala Parto dan Probosangkoro menemukan fosil berharga itu,”
“Itu cuma suatu kebetulan, kukira,” timpal Rio.
“Ya, mudah-mudahan begitu. Kalau tidak, makin rumit saja teka-teki ini,”
Rio menghisap rokok dan melirik arloji. Sudah sepuluh menit melewati delapan malam. Di luar, penjagaan makin ketat dan rapat. Senjata yang dibawa, tak lagi cuma pentungan dan kelewang. Kini ada besi lancip panjang, ada pedang, ada clurit dan sejumlah gobang. Penduduk desa, agaknya sudah bertekad menggelar total war pada para penyelinap gelap.
Rio menguap, bersamaan dengan nyala lampu tekan yang meredup-redup. Gas lampu itu, pasti menurun. Rio baru saja hendak menambah pompa lampu tekan ketika tiba-tiba ada suara di pintu.
”Nuwun Sewu!”
Candi menoleh. Seorang lelaki tua, berkemeja batik, berkacamata dan bertongkat berdiri di pintu dengan santun. Segera Rio mengenali sosok ini. ”Pak Kuntoro,” Rio berdiri menyambut. Candi mengernyitkan alis. Macam cerita lenong saja; orang yang baru dibicarakan, mendadak muncul.
”Saya bermaksud menjenguk si mbah Parto. Sejak tiba kembali di desa tadi pagi, saya belum menjenguknya,” ujar Kuntoro, lelaki tua itu.
”Silakan, Pak. Langsung saja,” ajak Rio, ”Oh, ya. Nama saya Rio. Ini Candi, teman yang saya sebutkan tadi,” Rio memperkenalkan Candi.
Candi membalas uluran tangan Kuntoro yang lebih dulu diajukan.
”Ini gadis yang kau bilang kau cari-cari tadi?” tanya Kuntoro simpati, ”Syukurlah, kau menemukan temanmu ini. Sayang kalau hilang. Ia cantik, seperti cucuku,” seloroh Kuntoro.
Candi tersenyum. Cukup pintar orang tua ini bikin celetuk segar.
Tak lama kemudian Kuntoro lenyap di pintu kamar si mbah. Ada setengah jam ia menghabiskan waktu untuk mengamati dan berbicara dengan istri Sujarno di bilik Si Mbah. Sujarno sendiri sejak tadi pagi tak tampak. Kata istrinya, tak biasa Sujarno pulang malam dari kota kecamatan.
Ketika Kuntoro muncul kembali di ruang depan, Rio sudah siap dengan ucapan terimakasih, yang siang tadi lupa disampaikan. ”Kalau tak ada bapak, tadi siang saya sudah babak belur,” Rio mempersilakan Pak Kuntoro duduk di antaranya dan Candi.
Kuntoro tersenyum, ”Kalau tidak ada nak Rio, nasib Si Mbah makin tak keruan lagi,” ujarnya, kebapakan sekali.
”Bapak bisa saja,” kata Rio.
”Betul, Nak Rio. Seluruh orang desa berterimakasih pada Nak Rio. Si Mbah itu salah satu kebanggaan desa ini. Jasanya amat besar untuk kemajuan ilmu pengetahuan. Sebagai penduduk Kemiren dan tetangga dekat Si Mbah sejak bertahun-tahun lalu, saya amat bangga pada si mbah. Kau lihat kemajuan Kemiren dengan kerajinan fosil itu?” ucap Kuntoro.
”Ya,” timpal Rio.
”Sedikit banyak itu karena jasa Si Mbah, yang senantiasa memompa masyarakat untuk menelateni hikmah kekayaan Kemiren. Penggalian-penggalian lain mungkin tak akan menghasilkan karya-karya besar seperti yang ditemukan Si Mbah bersama von Weissernborn. Tapi wisatawan yang datang untuk membeli kerajinan ’kan merupakan hikmah terselubung?” Kuntoro tersenyum. Kumis warna perak yang tipis rapi memberi aksentuasi kearifan wajahnya.
”Orang yang menyerang saya tadi, apakah orang Kemiren juga, Pak?” Rio mengajukan pertanyaan yang sedari tadi ingin diajukan.
Kuntoro menaikkan alis. ”Itu yang saya herankan. Kenapa di jaman seperti ini masih ada begal. Tapi di sekitar Kali randu memang ada satu-dua pengangguran yang kerjanya menganggu orang,” jelas Kuntoro.
”Kelihatannya mereka segan pada Pak Kuntoro,” kata Rio.
”Kebetulan saja. Saya sering suruh orang bagi-bagi beras di sekitar Kali Randu. Mungkin itu salah satu orang yang biasa terima sedekah dari saya. Mereka takut kalau saya tidak bagi-bagi beras lagi,” ujar Kuntoro.
”Bapak tinggal di sekitar sini,” tanya Candi tiba-tiba.
”Rumah saya ada belakang rumah di seberang jalan itu,” Kuntoro menunjuk ke arah luar. ”Saya baru bisa menjenguk Si Mbah malam ini. Tadi pagi sampai sore saya harus memeriksa sebidang tanah saya dekat Kali Randu,” kata Kuntoro. Ia kemudian menatap arloji kuno yang melingkar di pergelangan tangan kanan. ”Senang sekali di sini banyak orang berjaga. Saidun kabarnya diopname di kota kabupaten?” kata Kuntoro.
”Betul. Kata orang-orang lukanya cukup parah. Untunglah Pak Lurah menanggung semua biayanya,” ulas Rio.
Kuntoro mengangguk-angguk. ”Oh, ya, apa yang kalian orang-orang muda ini lakukan di desa ini?” tanya Kuntoro kemudian.
”Saya mahasiswa antropologi, sedang menulis laporan tentang sejarah penemuan di Kemiren, dan teman saya ini Candi, wartawati yang tengah meliput tentang kerajinan fosil di Kemiren,” jelas Rio.
”Hebat! Saya turut senang. Promosi kerajinan Kemiren harus digencarkan. Nanti kirimkan korannya pada saya. Koran apa, to?” tanay Kuntoro.
”Tajuk Zaman!”
”Tajuk Zaman? Oh ya, saya pernah baca di Jogja. Bagus, anak muda jaman sekarang memang membanggakan hati,” tutur Kuntoro. ”Wah, tampaknya hari sudah malam. Maaf, saya minta diri dulu. Kalau ada waktu, silakan mampir ke rumah saya,” Kuntoro melangkah ke pintu. Rio menguntit langkah orang ini yang hilang dalam gelap.
Jam kuno di dinding berdentang sembilan kali. Rio mengantar Candi pulang ke rumah Bu Parmi. Rio baru ingat Danica belum datang juga. ”Kemana bule itu kira-kira? Ia bilang akan kembali ke desa sebelum gelap,” kata Rio.
”Barangkali menginap di kota kabupaten. Pernah ia bilang ia ingin melihat kraton di kota kabupaten,” timpal Candi.
”Ya, sudahlah. Besok pasti nongol. Besok apa rencanamu?” tanya Rio.
“Malam ini aku nulis laporan tentang kerajinan. Besok aku pergi ke kota kabupaten buat kirim email ke redaksiku. Mau nitip apa?”
“Tak ada. Aku mau nulis laporan besok saja, capek sekarang,” Rio merebahkan diri begitu saja di tikar dekat meja.
“Aku mau menulis di sini, mungkin tidur di sini juga,” kata Candi, “tadi sudah pamit pada Bu Parmi,”
Candi menyiapkan kertas, memilih pena bertinta hitam dan memutar ulang rekaman di hape. Tapi baru dapat dua baris, dia merasakan pelukan Rio di belakang tubuhnya.
“Apaan sih?” tanyanya menggeliat.
“Aku lega kamu selamat,” sahut Rio. “Kukira aku bakal kehilangan kamu selamanya.”
Ah, sok romantis kamu!Candi mencibir.
“Terserah apa katamu. Tapi beneran, itulah yang kurasakan.” balas Rio.
Ya, ya, aku tahu. Sekarang lepaskan, aku mau nulis.cetus Candi.
“Tidak mau.” Rio menjawab.
“Kalau begitu, bantu aku menulis.” Candi mencondongkan tubuhnya.
“Males ah,” sahut Rio.
“Terus kamu maunya apa?” tanya Candi mulai sedikit sebal.
Tidak ada,” Rio tersenyum. “Aku cuma mau peluk kamu,” katanya dengan nada konyol.
Candi kehabisan kata-kata untuk membantah. Beberapa saat mereka berdua larut dalam perasaan masing-masing, perasaan bahagia. Mereka berdua pun tanpa ragu saling berdekapan untuk beberapa lama. Rio meremas lembut jari-jari halus Candi. Gadis itu menundukkan kepala ketika Rio menyibakkan rambut pendeknya yang jatuh menutupi sebagian wajah.
Hembusan napas Rio terasa hangat di tengkuk Candi karena tubuh keduanya sudah tak berjarak. Candi menoleh, menatap sendu penuh makna. Entah keberanian dari mana, tanpa sadar Rio mengecup dan mengulum bibir indah yang setengah terbuka itu. Ah, seperti sudah bisa diduga, Candi sama sekali tidak marah. Malah dia memberikan reaksi positif dengan membalas ciuman itu. Maka, dengan penuh nafsu, keduanya berpagutan mesra. Ciuman itu berlangsung cukup lama sampai Candi melepaskan pelukan dengan muka merah dan napas terengah-engah.
Rio, jangan! Kita tidak boleh melakukan ini!” katanya setengah berbisik sambil berusaha melepaskan rengkuhan.
Tapi Rio bertahan, tak akan ia lepaskan gadis cantik ini. Bibir Candi terasa begitu manis dan lembut. Rio sangat menikmatinya. Lagipula, sudah kepalang tanggung, pikirnya.
“Kenapa, Can, apanya yang tidak boleh?” sahut Rio sekenanya sambil mendaratkan kecupan di leher Candi yang jenjang. 
Sejenak Candi meronta-ronta kecil berusaha menghindari kenakalan bibir Rio pada leher mulusnya, sementara tangan pemuda itu tengah meremasi kemontokan buah dadanya yang masih terbalut bra tipis. Beberapa kali tangan halus Candi mencoba untuk menepis, tapi segera jemari Rio kembali ke tempat semula, sampai sesaat kemudian perlawanan Candi berhenti, dan berubah menjadi desah nafas memburu serta geliatan tubuh yang gelisah.
Rio pun mengendurkan serangan, kecupan bibirnya diperlembut, demikian juga remasan tangannya berubah menjadi elusan lembut pada kulit payudara Candi dan gelitikan mesra pada puting susunya yang terasa sudah mengeras.
"Rio, sssshhh... a-aku nggak tahan,” bisik Candi pendek, dekat sekali suaranya di telinga. Dan ouw... daun telinga Rio dikulumnya, dijilatinya.
"Ikuti saja, Can. Nikmati.” bisik Rio mesra sambil menarik baju dan tali bh yang menyilang di pundak gadis itu, memperlihatkan kesempurnaan bukit montok di depan dada Candi. Begitu putih dan mulus, dengan puting mungil yang sudah mengeras berwarna merah kecoklatan. Rio mendaratkan jilatan pada ujung benda itu, tubuh Candi langsung menggeliat sambil mendesah panjang.
"Ssssssshhh... aaaahh... Rio, a-aku... mmmmmhh!”  
Rio tak mempedulikan lagi kalimat-kalimat itu karena nafsunya seperti sudah di ubun-ubun, apalagi menghadapi kenyataan ternyata tubuh Candi memang tak layak untuk dilewatkan sesenti pun.
Desah-desah resah berhamburan dari mulut Candi, geliatan tubuhnya sudah menunjukkan kepasrahan kepada birahinya sendiri. Tangannya mulai melingkar di leher Rio, rambut pemuda itu ia acak-acak di kala menyusu ke bulatan payudaranya. Betapa kuat jari lentik Candi mencengkeram kulit punggung Rio manakala puting susunya dikulum dalam waktu yang lama. 
"Auw,  ampuuunn...!” desah Candi lirih.
Perutnya yang rata berkulit putih dihiasi lubang pusar berbentuk bagus. Dia menggeliat erotis manakala bibir Rio mengecupinya. Tubuh atasnya sudah telanjang sekarang. Candi setengah rebah dengan kepala berada di sandaran kursi, sementara tangannya terlihat meremasi payudaranya sendiri. Gadis itu mengerang panjang dengan kepala mendongak dan menggoyang-goyang lirih ketika lubang pusarnya dikorek-korek mesra oleh Rio. Tubuhnya yang sintal menggeliat erotis, rupanya disitu adalah salah satu daerah sensitifnya.
"Ouw, Rio... jangaaan... g-gelii!” bisik Candi sambil tangannya menahan dagu Rio yang berniat mengecupi gundukan kemaluannya dari luar celana dalam yang sudah tampak bebercak basah.
"Kenapa, Can?" tanya Rio lembut.
"Sssssshhh... nanti a-aku nggak tahan!" jawab Candi sambil berusaha menarik tubuh Rio ke atas.
Tapi Rio tak peduli, dia sudah terlanjur bernafsu. Selanjutnya tanpa permisi, celana dalam Candi ia singkap ke samping. Fuih! Sebuah gundukan kecil yang dibelah tengah dengan rambut kemaluan yang tidak begitu lebat tampak di depan matanya, sebuah bentuk luar kemaluan wanita yang jarang sekali dipakai. Indah sekali! Belahan yang basah dengan warna memerah yang berdenyut-denyut pelan. Tak ayal lagi lidah Rio terjulur untuk menyapu dan mencicipinya. Ia jilat cairan yang mulai terlihat membasahi vagina indah itu. 
"Aaaaahhh... Rio! Kamu bandel.” erang Candi dengan tubuh semakin menggeliat hebat.
Sepasang kaki panjangnya kian terkangkang lebar; kaki sebelah kiri terjuntai ke lantai yang beralaskan tikar pandan, dan kaki sebelah kanannya ditumpangkan di atas sandaran kursi setelah Rio melepas celana dalamnya. Rambut pemuda itu ia acak-acak sambil sesekali  tangannya yang gemas mencengkeram erat kulit pundak.
Ini membuat Rio semakin kesetanan, ditambah aroma vagina Candi yang segar dan wangi, dia jadi makin ketagihan. Bibirnya segera menciumi bibir vagina Candi berulang-ulang layaknya menciumi mulut, sementara lidahnya menyelip memasuki liangnya yang basah dan menusuk masuk sampai sedalam-dalamnya. Sesekali juga Rio mengulum klitoris mungil Candi yang sudah mulai mengeras.  
"Rio, ampuuuunn... nikmat sekali.” Candi merintih-rintih dengan suara merengek seperti orang mau menangis. Pinggulnya yang bulat bergerak-gerak merespon ulah lidah dan bibir Rio yang terus menyerang di daerah selangkangannya.
"Ooowwh... Rio, sudah... aku tak tahan.” rengeknya semakin memilukan. 
Dan tiba-tiba gadis cantik itu bangkit dan mendorong lembut tubuh Rio yang tengah bersimpuh di depan vaginanya. Rio mengikuti saja apa yang Candi inginkan. Dia telentang di tikar sedangkan Candi mengikutinya sehingga tubuh mereka saling menempel dan bertindihan mesra. Payudara Candi yang montok dan kenyal kini menempel ketat di dada Rio. Wajah mereka begitu dekat hingga Rio bisa melihat dengan jelas paras cantik Candi yang tengah diamuk birahi. Ough, gadis itu terlihat begitu mempesona. 
"Rio, aku masukkan ya?” desis Candi dengan bibir indah gemetar. Alis lentik di atas mata bulatnya mengernyit, sementara matanya kini agak menyipit dan menatap Rio sendu. Dia yang tadi bilang jangan, kini malah meminta untuk dimasuki.
Rio pun mengabulkan karena memang inilah yang ia tunggu-tunggu sedari tadi. Pelan dia mendorong ke atas batang penisnya.
"Ouughhhh... pelan, Rio. Sssshhhhh... nyeri!!” keluh Candi sambil mempererat pelukan.
Rio merasakan liang senggama Candi sangat sempit sekali. Burungnya kesulitan untuk menembus. Candi yang sudah  sangat bersemangat untuk menuntaskan gairah binalnya, mulai memutar-mutar pinggul, berharap dengan begitu Rio bisa lebih mudah melakukannya. Dengan ekspresi nikmat bercampur kesakitan, di usahanya yang kelima, akhirnya amblaslah seluruh batang penis Rio tertanam di liang vagina Candi yang sempit.  
"Sssshhh... ahh, gila! Besar sekali punya kamu, Rio. Hhhh... hhhhhh...” tubuh sintal Candi ambruk ke bawah ketika penetrasi itu berhasil. 
Rio mendiamkannya sejenak, memberi Candi kesempatan untuk menarik napas. Candi diam tak bergerak di atas tubuh kurus Rio dengan napas memburu tak beraturan. Tubuh sintalnya yang empuk dan hangat menempel erat di atas tubuh pemuda ituRio sudah akan mencium bibirnya saat Candi mengeliat dan mulai menggerakkan pinggulnya.
"Oughhh," Rio merasakan gesekan-gesekan kecil ketika vagina sempit Candi mengurut-urut lembut batang penisnya. Dan dia semakin mengaduh manakala merasakan gerakan pinggul Candi menjadi semakin cepat dan kuat. Rio tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak membalas. Maka, sambil berpegangan pada buah dada Candi yang bulat, ia ikut mengayunkan batang kemaluannya.
"Rioo,  oooohhh... sssshhhh!” hanya itu desah-desah kalimat pendek yang sering terucap dari mulut manis Candi. Ia tampak begitu tak tahan menerima tusukan penis Rio di dalam lubang kemaluannya. Di sela-sela erangan dan rintihannya yang ekspresif, sesekali bibir mereka berpagutan liar. Remasan gemas tangan Rio pada payudara montok Candi yang terayun-ayun juga semakin kuat seakan tak mau lepas.
"Rio, ohhhhhh... aku hampir... ooggghhh!” gerakan tubuh Candi semakin tak beraturan. Rasanya memang sangat nikmat sekali. Pertemuan antara penis Rio dan vaginanya seperti membawa tubuh mereka melayang ke langit ke tujuh. Rasanya, tak perlu waktu lama bagi tanggul sperma Rio untuk jebol dan membanjiri rahim Candi. 
"Tunggu, Can.” desisnya pendek, dan bagaikan dikomando, tubuh keduanya serentak meregang dan Rio terpaksa mengayunkan batang kemaluannya sekuat mungkin untuk menghasilkan kenikmatan secara maksimal.
"Aaaaarrgh... Rioo! Ammpuuuunn...!” tubuh Candi menggelepar hebat di atas tubuh Rio. Kuku jarinya dengan kejam mencengkeram dada Rio sebagai pelampiasan puncak birahi kenikmatannya.
Rio merasakan beberapa kali semprotan hangat menyiram ujung kemaluannya yang masih menancap kuat di dalam vagina Candi. Lalu kemudian... hening semuanya. Rio melihat jarum jam di dinding menunjukkan angka 21.30.
Di luar sana, udara dingin menyergap desa. Para petugas Hansip memasang mata dan telinga baik-baik dan tak berhenti meronda dengan formasi tiga-tiga. Sejumlah pemuda desa lain yang tidak secara resmi bertugas juga membantu berjaga dan pasang mata.
Malam itu, desa Kemiren sepertinya tidak bisa terlelap. Sama seperti Candi dan Rio yang kembali meneruskan kebersamaan mereka setelah sempat beristirahat sejenak. Kali ini Rio di atas dan Candi di bawah. Sampai akhirnya sperma Rio meledak di dalam liang kemaluan Candi saat tengah malam tiba.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar