Rabu, 03 Agustus 2016

Ochi, Kakakku yang Seksi 12



Hampir setiap hari kini aku suka mengawasi depan rumahku sendiri seperti orang yang paranoid. Kejadian terakhir di mana kak Ochiku digagahi sungguhan oleh Pak Amin benar-benar membuatku menjadi terbayang-bayang setiap saat. Bahkan yang tak bisa kulupakan benar adalah ketika kak Ochi dipaksa oleh bandot tua itu untuk memuaskan nafsu bejatnya di dalam kamar mandi. Yang mana aku hanya kebagian melihat ekspresi wajah kak Ochi yang sengaja melongok keluar dari celah pintu ketika mereka melakukan hubungan badan berdua dengan heboh.
Seolah terjawab sudah semua rasa penasaranku selama ini, bahwa kakakku yang cantik, berjilbab, sopan dan terhormat memang benar-benar melakukan semua persetubuhan itu dengan orang-orang yang tak jelas asalnya itu secara diam-diam. Dari tukang antar makanan, sopir tak jelas, sampai tukang nasi goreng, bahkan bandot tua peminta sumbangan juga ambil kesempatan menyerobot untuk menikmati tubuh indah dan bening kakak kandungku yang sudah menikah.

Yang tadinya kakakku hanya menjadi objek fantasiku saja kini benar-benar seperti ingin mewujudkan semua keinginanku. Hanya saja kini aku malah seperti tidak rela. Tapi entah tak rela karena tak ingin kakakku digagahi orang-orang asing seperti mereka-mereka, atau memang aku yang ingin juga ikut merasakan tubuh seksi kakakku juga..
Melihatnya berseliweran di rumah hanya mengenakan tanktop, celana pendek nan ketat, membuat pikiranku tak hanya terbang untuk membayangkan andaikan aku dapat menggagaghi kakakku sendiri, tapi laki-laki seperti apa lagi yang akan beruntung menindih paksa kakakku yang memang suka kecentilan sama orang-orang aneh itu. Tak heran mereka pasti terkonak-konak menghadapi gaya manjanya kak Ochi.
Setelah pertemuan terakhir dengan Pak Amin, aku belum melihat kak Ochi didatangi orang tua itu ataupun pergi untuk urusan bakti sosial lagi. Walau jujur aku tak suka melihat Pak Amin memaksa untuk menuntaskan hasratnya pada kakakku, tapi tak bisa kupungkiri melihat kekontrasan dua tubuh berbeda strata itu saling bergerak terguncang ketika bersetubuh selalu membuatku jadi ingin melihat lagi. Dan apabila memang suatu saat nanti akan mengunjungi tempat yayasan yang Pak Amin kelola, aku jadi tak tahu harus mencegah kak Ochi, atau malah aku ingin menonton kakak kandungku diperlakukan seperti itu lagi. Aku sangat kesal bila harus selalu berada di posisi tersiksa seperti ini. tapi aku tak bisa memungkiri aku juga menikmatinya.
Senakal-nakalnya kak Ochi menyiksa birahiku, ia juga tetap kakakku. Apalagi sudah beberapa hari ini kak Ochi sengaja tidak keluar rumah, hanya untuk menemaniku di rumah saja. Habis sudah kakak aku crotin seperti aku tak ingin kehilangan kesempatan untuk bersama dengan kak Ochi sebelum dia balik ke rumahnya. Yang mana aku sengaja bolos sekolah juga demi tak mau melepas kesempatan untuk berduaan saja bersama kakakku. Kak Ochi memang marah apabila aku tak sekolah, tapi aku berjanji untuk ikut les siang ini agar tak ketinggalan amat pelajaran sekolah.
“Diminum dulu deh, masa udah mau pulang aja, minumannya cuman diliatin aja”
“Iya, makasih yaa... nih pada kita minum.
“Tapi makasih banget loh ya, Echi dan Lala... udah jauh-jauh kesini nengokin aku.”
“Ah, biasa aja kali, Ochi. Namanya juga temen... ya udah, kita pamit dulu yah. Yuk, Fadel, kita pada pamit yah.” sapa teman kak Ochi ketika mereka semua hendak pamit setelah datang menengok kakakku yang sudah beberapa hari ini tinggal di rumah.
Penampilannya sekarang pastinya berbeda dengan bila hanya berdua denganku yang kadang nyaris tanpa pakaian. Saat ini dia menerima tamu teman-temannya dengan busana serba tertutup; berjilbab, kemeja lengan panjang, dan rok yang menutupi sampai ke bawah mata kaki. Kak Ochi terlihat sangat cantik dan anggun.
Aku yang sedang asik bermain PS di ruang tengah hanya mendengar saja pembicaraan mereka di ruang tamu hingga akhirnya tamu-tamu kak Ochi pamit dan memanggilku. Fiuh, akhirnya mereka pulang juga. Aku ingin segera berduaan dengan kak Ochi lagi.
“Adeek, temen-temen kakak mau pamit niih.. sini dooonk.”
“Hehehe... iya, kaak.” susulku ke ruang tamu sambil cengengesan berdiri di samping kak Ochi.
“Balik dulu yah, Fadel... kamu jagain tuh kakakmu, jangan ampe Ochi kecapekan ngurusin kamu doank, hihihi...” ujar salah satu teman kak Ochi yang namanya Echi itu. Manis juga sih kalau dilihat, sama-sama berjilbab, dan imut juga. Hanya saja kak Ochi tetap yang tercantik dan terseksi buatku. Dan yang pasti kakak ternakal dalam hidupku.
“Tuuuh, deeek... dengerin kata temen-temen kakak, ngurusin semua keinginan kamu udah kayak pengen ngelahirin ajah, hihihi...” jawab kak Ochi bercanda sembarangan yang disambut tawa teman-temannya.
“I-iya deh, kak.” aku menjawab malu, tapi segera merapatkan tubuhku tepat di sebelah kakakku.
“Iya iya doank kamunya tuh, Fadel... makanya cari pacar donk biar nggak gangguin kakakmu terus, hihihi...” celetuk mereka yang makin lama makin menyudutkanku seolah aku seperti anak manja yang hanya bisa mengganggu saja.
Tapi apa yang dilakukan oleh kakakku berikutnya benar-benar membuatku tak kusangka. Tiba-tiba kak Ochi merangkulku sambil mengacak-acak rambutku dan tersenyum manis. “Hihihihi... namanya juga Fadel, Chi... Apa jadinya dia kalau nggak ada Ochi di sampingnya. Iya nggak, dek?”
“Hehehe...  kakaak,” sambil tersenyum malu, aku makin merapatkan tubuh dalam rangkulan kak Ochi yang mengakibatkan kepalaku semakin menekan ke payudaranya. Rasanya sungguh lembut serta empuk sekali. Hampir mimisan aku dibuatnya.
Sambil masih berangkulan di teras rumah, mereka akhirnya pulang bersamaan dan meninggalkan kami berdua yang masih saja saling mendekap. Aku rasanya tak ingin lepas dari situasi yang hangat ini.
“Adeeeek... mereka udah pulang tuh, deek.”
“Hehehe... iya tuh, kak, tinggal kita berdua deh.” kataku sambil mulai melingkarkan tangan pada pinggang kakakku yang ramping. Dan perlahan tapi pasti otongku yang mulai menegang keras kutempelkan pada pinggul kak Ochi.
“Iiih... mulai deeeh. Kayak ada yang nohok-nohok kakak nih di bawah, hihihi... apa tuh yaaa?”
“Kak Ochi, pengeeen... boleh yaaa?” ucapku memelas sambil cengengesan melihat kakakku yang tersenyum pura-pura risih kuperlakukan seperti ini.
“Adek tuh pengen apa siiih?”
“Pengen lagi, kaaak...”
“Haduuuh, kamu tuh yaaa...” dengan gemas kak Ochi mencubit hidungku sambil melanjutkan, “Abis deh pakaian-pakaian kakak kalo kayak gini. Kamu mau jadi kayak anjing yah, nandain semua pakaian kakak pake peju kamu, hihihi... dasar mesum.”
“Hehehe.. kan mesumnya sama kak Ochi doang. Pliss donk, kaak, lagiii...”
“Tapi beneran yah abis ini kamu les bimbel? Pake bolos sekolah segala kamu tuh, mau jadi apa sih nanti gede?”
“Mau jadi suami kakak, hehehe... kak Ochi jadi istriku deh.”
“Hihihi... gila kamu, dek. Kakak kan sudah nikah... masa kakak punya suami dua?”
“Pokoknya aku mau nikah sama kak Ochi, titik!”
“Hmm, kamu pengen banget nikahin kakak?”
“Mau banget, kaaak! Mauuu!” jeritku sambil memeluk tubuh kak Ochi makin kencang.
Oke deh... boleh nikah, tapi nggak boleh kawin, hahaha!” tawa kak Ochi meledak, menurunkan kesenanganku dalam sekejap. Tapi justru membuatku makin gemas karena tingkahnya yang suka menggoda itu.
“Aahh! Kak Ochi nakaal,
“Iiih, adeeek! Lepasin doonk... geli nih, deek! Hihihi! Adeeek!”
Kami bercanda sambil aku masih memeluk kak Ochi dari belakang yang akhirnya kami terduduk di kursi teras dengan kak Ochi terpangku di atas pahaku hingga menjepit kontiku karena terhimpit pantat kakak dengan agak keras. Sambil masih memeluk, kami malah jadi terdiam berdua. Dengan suasana siang hari di mana di luar pagar rumah banyak orang lalu lalang. Ada yang berjualan, ada anak-anak pulang sekolah, juga ada rombongan ibu-ibu yang sedang ngerumpi sambil berjalan melewati depan rumah kami.
Memikirkan semua aktifitas di luar dengan posisi seorang kakak yang sedang menduduki adik kandung dengan penisnya yang sedang menegang keras membuatku makin tak tahan untuk menggoyang-goyangkan pinggulku hingga menggesek-gesek belahan pantat kak Ochi. Walau masih mengenakan rok, aku bisa merasakan belahan itu seolah aku langsung menyentuhnya.
“K-kaaak...”
“Adeeek... kamu ngapain kakak, deek?”
“A-aku lagi... lagiii...” jawabku terputus-putus menikmati semua perbuatan cabulku pada kakak kandungku sendiri.
“Adek lagi mau menodai kakak kandungnya lagi yaah? Kayak tadi malam? Hihihi...” ucap kak Ochi balik tanya dengan nada manja dan genit yang sengaja mengundang hasrat kelakianku untuk terus menggesek pantatnya makin kuat.
“Uuugh... i-iya, kaak. Abis kakak nakaal, kakak jahat sama aku.”
Adeeek... kok kakak dibilang gitu sih?”
“Kak Ochi mau-mauan aja dientot sama orang-orang nggak jelas seperti mereka-mereka yang pernah gangguin kakak.”
“Lagian kamunya juga sih, dek... pake punya fantasi yang aneh-aneh tentang kakak sendiri.
“Iya sih, kak. Tapi kan... aku nggak rela, kaak. Aku nggak suka kakak digituin sama mereka.”
“Ya udah. Kalo emang itu mau adek, kakak nggak ngelakuin lagi deh.”
“Hah?! Beneran, kak?” seruku girang mendengar ucapan kakak yang masih di atas pangkuanku itu.
“Ummm... iya nggak yaah? Tapi kamu nggak boleh mesumin kakak lagi yah, hihihi...”
“Yaaah, kak Ochiaa! Jahat aaah!”
“Hihihi... adeeek! Udah ahh... kamu janjinya mau les kaan?”
“Gak mau, kak, mau di sini aja.”
“Adeeek...” kak Ochi melepaskan pelukanku, lalu menghadapku dan mengecup keningku dengan cukup lama dan lembut sekali, “Kakak nggak bakal kemana-mana kok... yah?”
Melihat senyum kakak yang hangat membuatku rasa kesal dan sebalku padanya langsung padam. Seperti terbawa suasana, aku lalu memberanikan diri memajukan wajahku untuk mengecup bibirnya yang ternyata kak Ochi pun menyambutku. Kami pun berciuman mesra di teras depan dengan suasana cukup ramai siang itu.
“Kak Ochiii... hehe.”
“Cabul kamu, kakak sendiri dicium, hihihi... sana berangkat les.”
“Iya, kak Ochiku yang baik dan cantik. Pokoknya jemput aku yah, aku nggak bawa motor loh, kak... hehe.
“Iyaa.. nanti belajar yang rajin yah, dek.”
“Iya deh, kak.”
“Nah, gitu donk. Jangan bayangin kak Ochi yang enggak-enggak sama penjual somay depan gedung bimbel kamu yah.. hhihi.”
“Aahh! Tuh kan, kakaak!”
“Iya, iya, adeek... kakak becanda kok!”

***

Hari sudah sore banget. Setelah mengikuti les bimbel yang cukup membosankan itu, aku membeli minuman soft drink di luar bangunan bimbel. Uang yang kulihat di dalam dompet benar-benar pas-pasan. Andai tidak dijemput kakakku sebentar lagi, pastinya aku akan pulang berjalan kaki karena merelakan uang naik ojek ini untuk melepaskan dahaga di sore hari. Tapi untungnya kak Ochi akan menjemputku sore ini. Aku benar-benar tak sabar untuk bertemu dengan kak Ochi lagi dan menghabiskan sisa waktu hari ini untuk memeluknya dan berguling-gulingan lagi. Apalagi siang ini aku masih merasa sangat kentang. Aku sangat merindukan masa-masa mesum ketika tengah berduaan dengan kakakku.
Setelah kutunggu cukup lama, entah kenapa kak Ochi belum muncul-muncul juga. Apa kak Ochi ada kenapa-kenapa di perjalanan menuju kemari? Aku sampai membayangkan peristiwa yang membuat kak Ochi harus berurusan dengan orang asing lagi yang berujung… Ah, segera kutepis dan membuang jauh-jauh pikiran itu. Kak Ochi pasti datang kemari. Kecuali bila kak Ochi ada urusan mendesak yang akhirnya membuat kakakku tertahan hingga belum bisa berangkat menjemputku.
Untuk membuang pikiran itu, aku segera menghubungi kak Ochi, dan langsung tersambung. "Kak, kok belum jemput aku sih?" tanyaku di telpon.
"Iya, dek, ini juga rencananya pengen jemput.”
“Aku udah nunggu dari tadi nih, kaak.”
“Hihihi... adek kangen yah sama kak Ochi?”
“Iya nih, kak, buruan doonk.”
“Ummm... tapi teman-teman adek tiba-tiba pada datang ke rumah nih." jawab kak Ochi dengan agak gelisah di sana.
"Hah?! Siapa sih?”
“Siapa lagi kalo bukan teman-teman mesum kamu itu.”
“Aduh! Suruh mereka tunggu aja deh, kak. Kakak ke sini dong, cepetan jemput aku."
"Iya, tapi... uuugghhhh..." mendadak suara kak Ochi melenguh manja dengan tiba-tiba.
"Kak? kak Ochi?"
"Teman-teman kamu nakal tuh, dek... sshhhh, adeeeek... eegghhhh, baju kak Ochi jadi robek tuh kan! Jangan donk, Do... geli. Kamu juga Bono, Feri, Yanto, tangannya pada nakal banget sih?" ujar kak Ochi tak sadar bicara sendiri menghadapi mereka semua ketika berbicara denganku.
"Kak? Kak Ochi? Kakak!?"
"Aduh, dek, gimana nih? Kayaknya kakak nggak bisa jemput kamu deh, teman-temenmu nakal banget sih. Kamu bisa pulang sendiri kan?”
“Loh?! K-kok?”
“Tapi buruan yah, dek. Liatin deh, mereka ngapain aja ke kakak nih, bandel banget loh, hihihi..."
Tiba-tiba panggilan terputus. Aku kini semakin panik. Kakakku kembali dicabuli oleh teman-temanku!
Segera aku cari pangkalan ojek terdekat. Aku ingin segera menyelamatkan kakakku dari teman-temanku, tapi uangku habis. Terpaksa aku jalan kaki ke rumah. Cukup jauh tentunya bila berjalan. Kak Ochi... tunggu aku, aku tak rela kalau kakak diapa-apain oleh mereka!
Aku berlari pulang. Di tengah jalan aku coba hubungi kak Ochi lagi, tapi tetap tak diangkat. Aku sungguh geram memikirkan kejadian ini, tapi entah kenapa aku malah penasaran seperti apa dan sejauh mana mereka memperlakukan kak Ochi. Padahal baru saja aku tak mau kalau kakakku diapa-apakan lagi oleh orang-orang yang tak jelas. Kini celanaku mendadak semakin sesak. Kak Ochi…
Tak lama tiba-tiba kak Ochi menghubungiku.
“Kak?” sahutku cepat.
"Sorry nih ya, bro, kita sampe di rumah duluan, hehe... abis lo rajin banget sih pake bimbel segala." Suara Dado? kenapa dia yang pakai HP kakakku? Kelewatan lama-lama nih anak.
"Heh! Lo ngapain di rumah gw?" aku membentak Dado karena khawatir apa yang dia lakukan pada kak Ochi.
"Ya maen lah, bro. Sekali-sekali nemenin kak Ochi, bro, kasian sendirian di rumah, hehe..." tawanya cengengesan.
"Do, lo kurang ajar ya pake HP kakak gw sembarangan... mana kak Ochi?" tanyaku tak sabar menghadapi tingkah menyebalkan Dado.
"Hehe, kakak lo lagii... lagi makan, bro, hehe. Makan siapa ya?” Dado sengaja menggodaku dengan ucapan-ucapan tak jelas, sengaja membuatku penasaran.
"Do, awas lo ya macem-macem ma kakak gue!"
"Heheh... kaga, bro, bukan gua. Si Bono tuh, lagi ngasih bon-bon ke kakak lo, hahaha!" terdengar suara tawa Dado dan temanku yang lain, sepertinya panggilanku di loudspeaker.
"Iye, bro, kakak lo lagi sibuk nih ama Bono... Bon, ngomong donk! Diem aja lo dari tadi," terdengar suara Yanto ikut nimbrung disana.
"Eegh, bro... sshh... sumpah enak bener!" Bono bersuara terputus-putus seperti sedang merasakan sesuatu.
"Bon! Lo apain kakak gua?"
"Uhuk-uhuk... sakit, Bono. Pelan-pelan donk." akhirnya terdengar suara kak Ochi yang sedang terbatuk-batuk. Kenapa kak Ochi sampai batuk-batuk gitu?
"Deek, si Bon-bon jelek nih, jahat ma kakak…" di tengah batuknya, kak Ochi masih berusaha untuk bicara.
"Kak Ochi! Duuh... kak Ochi lagi diapain sih, kak?" teriakku tidak rela dan kesal atas perlakuan teman-temanku yang kedengarannya sedang melecehkan kakakku, tapi aku hanya bisa menduga-duga sedang diapakan kakakku karena aku memang tidak ada di sana.
"Bro," potong Bono, "mending... eghh, lo kesini dah... liat sendiri, rasain sendiri, hehe... ugghh, kak Ochi..." Bono seperti terengah-engah menahan sesuatu sambil berusaha bicara denganku.
"Bon! kampret lo ya... lo apain kakak gue?" tanyaku tak sabaran.
"Bukan gua, bro, yang ngapa-ngapainin, hehe... tapi kakak lo yang ngapa-ngapain gue, hehe..." terdengar suara ramai di sana, sepertinya mereka meledekku dan kak Ochi.
"Aduuh, adeek... rambut kakak dijambak niih." kak Ochi yang sepertinya sedang diperlakukan tak senonoh malah merespon dengan manja seperti tidak merasa dilecehkan oleh teman-temanku.
"Jadi lonte nggak boleh berisik, hehe..." terdengar suara Feri dan disertai tawa temanku yang lain, sangat merendahkan derajat kakakku dan membuat telingaku panas. Tapi membayangkan situasi kakakku yang sedang dikelilingi teman-teman jelekku di sana, kenapa malah membuat otongku perlahan semakin keras?
"Eh! Enak aja, siapa yah yang panggil kakak lonte tadi?" terdengar kak Ochi menghardik.
"Feri, kak... Feri tuh!" seru temanku lainnya serempak, sepertinya heboh sekali disana.
"Eh! Bangke lu ya, Fer, lo panggil apa kakak gua?" seperti tidak terima, aku juga ikutan menghardik Feri. Memanggil kak Ochi dengan sebutan lonte? Tiba-tiba terbayang kak Ochi sebagai seorang lonte. Lebih rendah lagi, lonte yang dikerjai, tidak dibayar, hanya dijadikan mainan untuk teman-temanku yang bermuka mesum. Budak pelampiasan. Aduuh, celanaku semakin sempit, aku tak bisa berdiri tegak lagi.
"Adeek... cepet pulang ya, dek. Masa kakak diperkosa sama temen-temen kamu sendiri sih? Nakal bener nih, dapet temen dimana sih, dek? Hihi... aduh! Jangan tarik-tarik kepala kakak dong, Bon..." kak Ochi yang tengah bicara denganku seperti dipaksa untuk melakukan sesuatu.
"Nganggur nih, kak... buruan donk." Bono seperti memaksa kak Ochi untuk melakukan sesuatu.
"Adeek, cepet pulang yah... kakak lagi disuapin Bon-bon yang item dekil nih, bau lagi. Uughh... mau liat nggak, dek? Hihihi..." terdengar suara manjanya dibuat-buat semanis mungkin.
"Kak Ochi! Bon-bon item apaan sih?" aku tak mengerti, maksud bon-bon itu permen kah? Tapi bon-bon hitam, dekil, dan bau?
"..." Sunyi, tak ada jawaban.
"Kak!" panggilku dengan keras.
"..." Tetap sunyi tak terdengar apa-apa.
"Bro, jalan pulangnya lama-lama aja yak... kapan lagi bikin senang temen sendiri, hehehe. Lagian keliatannya kakak lo suka banget tuh, bro... keliatan nggak? Hehe, kakak lo mangapnya gede bener ampe gak muat, hahaha..." tawa Dodo agak merendahkan kak Ochi.
"Do!" teriakku tak tahan lagi.
"Kak Ochi, nganggur nih... jejalin dua bon-bon yak?"
Tiba-tiba telpon ditutup dari sana. Kucoba hubungi semuanya, langsung pada tidak aktif. Aku tak dapat berpikir apa-apa kecuali membayangkan kak Ochi yang sedang dikerjai dan dilecehkan oleh teman-temanku di rumahku sendiri. Untuk kedua kalinya! Bahkan aku saja belum memperlakukan kak Ochi lebih jauh dari sebelum-sebelumnya seperti yang sedang dilakukan teman-temanku yang jelek dan tak layak buat kak Ochi ini.
Ugh, kak Ochi, aku nggak terima! Tapi kok aku penasaran seperti apa pemandangan kak Ochi saat dikerjai oleh teman-temanku yang jelek dan dekil itu. Bahkan untuk kejadian terakhir ketika kak Ochi bersama mereka saja tidak sejauh ini. Secepat kilat aku ambil langkah seribu untuk pulang ke rumah.
Dengan jantung berdebar-debar, di kepalaku terus terbayang akan kak Ochi ku yang cantik, putih, bersih, dicabuli oleh teman-temanku sendiri.. bahkan mengingat kejadian terakhir seperti dengan suka rela...
Tunggu aku, kak Ochi!

***

Sambil pegang BB, sedari tadi aku mondar-mandir di ruang tamu. Sampai jam segini kak Ochi belum pulang-pulang juga. Mana kak Ochi belum masak apa-apa lagi. Untung masih ada sisa beberapa mie instant di lemari dapur. Kalau tidak, aku sudah pingsan kelaparan.
Sesekali aku intip lewat jendela kalau-kalau kak Ochi sudah pulang. Padahal sudah jam 9 malam, tapi sama sekali tidak ada kabar. Kemana aja sih kak Ochi?
Aku mengingat kembali kejadian tadi sore. Kak Ochi seperti sedang digodain teman-temanku. Dado, Feri, Yanto, dan Bono. Dan nggak ada satu pun yang keliatan enak dipandang kalo berdiri berjajar dengan kak Ochi. Terlalu jauh kelasnya. Tapi kak Ochi seperti terima-terima aja digangguin seperti itu. Bahkan aku ingat ketika kak Ochi menanyakan padaku, “Apakah aku mau melihat apa yang dia lakukan atau tidak?”
Sepenggalan kata-kata yang kuingat adalah:Pakaian kak Ochi robek”, “Rambut kak Ochi dijambak”, “Kak Ochi makan bon-bon item dekil”, dan yang terakhir Dado bilang;Jejalin dua bon-bon”.
Baru saja siang ini kami bicara dan kakak janji tak akan melakukan kenakalan-kenakalan ini lagi. Tapi membayangkan kak Ochiku yang sedang dikuasai oleh mereka-mereka ini, kenapa justru aku yang galau dan seperti kembali ke fantasi-fantasi yang pernah aku inginkan dulu. Padahal seharusnya aku tak rela.
BB-ku mendadak bergetar, muncul nama panggilan masuk dari kak Ochi. “Kak Ochi!” aku langsung mengintip lewat jendela.
“Adeek... kakak udah pulang nih, tolong bukain gerbangnya donk?”
Agak lega akhirnya mendengar kembali suara kak Ochi, tapi agak sebal juga karena membiarkanku khawatir tanpa kabar. Terutama kejadian tadi sore.
“Kak Ochi buka aja sendiri, masa bisa keluar gak bisa masuk sendiri? Lagian adek males keluar,” ucapku dengan sebal.
“Iih... adek kok gitu siih? Sini doonk, keluar... bukain, kakak capek niih. Pliiss, hihi...” kak Ochi masih sempat-sempatnya bernada manja, memang kak Ochi capek habis ngapain? “Hihi, adek marah ya kakak nggak jemput tadi? Maaf ya, deek... sebagai gantinya, kakak buka sendiri deh gerbangnya. Tapi bener nih, adek nggak mau liat kakak buka gerbang di luar?”
“Hah? Maksud kak Ochi?” tiba-tiba aku menjadi penasaran dari kata-kata kakakku itu. Apa yang mau kak Ochi tunjukkan padaku?
“Eh, Adek... tau kan kalo sehari-hari tuh kak Ochi selalu pake jilbab?” tanyanya membuatku bingung.
“Iya, semua orang juga tau,” jawabku masih sok ketus.
“Dan Adek tau donk kalo di luar, kakak biasanya dikenal rapi dan sopan?” lanjut kak Ochi seolah mengarahkanku ke sesuatu yang aku masih belum tau.
“Iya... Fadel tau kok, kak.” jawabku semakin penasaran.
“Hmm... adek mau tau nggak rasanya kalo liat kakak keluar dari mobil cuma pakai kemeja dan celana dalam putih saja.. hihi,” jawab kak Ochi membuatku panas dingin.
“Rambutnya nanti kakak gerai deh, pasti adek suka liatnya, hihihi... ayo, adeek, sinii...” undang kakakku dengan centil.
Tanpa menunggu-nunggu, aku langsung keluar menuju teras dan merapat ke pagar sambil melongokkan kepala keluar agar dapat melihat aksi nakal kak Ochi.
Dengan jantung berdebar aku menunggu kak Ochi keluar dari mobil. Kulihat pintu mobil terbuka dan sosok kak Ochi yang ternyata hanya menggunakan kemeja dan celdam putih dengan santai berjalan menuju ke pintu gerbang dan menggesernya sendiri.
Gila! Kak Ochi bahkan tidak melihat kanan kiri dulu, bagaimana bila ada orang sekitar yang melihat tingkahnya? Kak Ochi benar-benar makin nakal. Bahkan sebelum akhirnya kak Ochi masuk ke mobil lagi, ia sempat bergaya imut ke arahku dengan memiringkan kepala dan menempelkan telunjuknya ke pipi yang ia gembungkan.
“Uugh, kak Ochi... kakak kok binal banget siih?” aku tak kuat melihat gaya imutnya. Sampai mobil masuk ke dalam rumah, baru aku menghampiri kak Ochi.
“Hihi.. adeek, sorry yaa... kakak tinggal tadii.” gaya imut kak Ochi keluar saat sedang meminta maaf.
“Kak Ochi tuh kemana aja sih?” aku mulai membuka serangan pertanyaan.
“Iya, deek. Kakak tuh tadinya mau jemput adeek, tapi tadi tau-tau temen adek pada dateng, berempat lagi.” jawab kak Ochi memasang tampang pura-pura sebal.
“Ngapain sih pada dateng? Ga bilang-bilang lagi. Sialan tuh anak-anak.” gerutuku.
“Tadinya mereka tuh nungguin adek. Tapi karena kasian nunggu kelamaan, jadi kakak deh yang ngeladenin mereka.”
“Trus tadi mereka ngapain sih, kak? Kakak digangguin lagi ya sama mereka?” tanyaku penasaran.
“Hmm... iya sih, mereka gangguin kakak terus, dek. Mau mandi... nggak boleh. Mau angkat BB ada telpon masuk... nggak boleh. Mau ganti baju juga nggak boleh. Mana kakak tadi cuma pake kimono sutra waktu mau mandi... robek lagi,” katanya pelan dengan gaya manja.
“Hah? Pada kurang ajar tuh! Kuhajar nanti kalau ketemu. Makin ngelunjak semuanya,gerutuku dengan jantung berdebar tak karuan untuk mendengarkan cerita lanjutan dari kak Ochi.
“Iya tuh, dek... hajar aja nanti kalo ketemu, hihi. Ya udah dek yaa, kakak mau mandi dulu... lengket nih badan, mana bau lagi.” kak Ochi berjalan gontai ke dalam rumah menuju kamar mandi.
“Kak Ochi, tunggu dulu... kak Ochi darimana aja ampe jam segini baru pulang?” aku masih penasaran kemana saja kak Ochi pergi.
“Hehe... kakak tadi jalan-jalan, dek.
“Jalan-jalan? Sama siapa, kak? Jangan-jangan sama mereka berempat ya?”
“Iyaah... tapi nanti aja ya ceritanya, kakak capek nih, dek. Kakak mandi dulu ya.” kak Ochi memohon dengan memelas.
“Nanti dulu, kak. Udah dianggurin, sampe cuman makan mie doank, udah mau ditinggal mandi aja.” aku mulai merajuk.
“Ihh, adek nii... iya deh, adek mau tau tadi kak Ochi ngapain aja? Eh! Lebih tepatnya siih... diapain aja kakak kamu ini, hihi...” kak Ochi megerling padaku.
“Hah?” aku pasang tampang melongo.
“Hayoo! Mupeng deh, adeekk... jelek tau.” Pinggangku dicubitnya dengan keras.
“Aduh! Kakak diapain sih sama mereka tadi siang?” tanyaku sambil mengusap-usap pinggangku yang sakit karena cubitan gemas kak Ochi.
“Kakak juga bingung sebenarnya mau cerita dari mana, dek. Dado tuh yang gangguin kakak terus dari tadi...” kak Ochi mulai bercerita sambil mengingat-ingat.
“Dado emang rese dari dulu. Udah jelek, item, bau...” aku mengingat kelakuan salah satu temanku itu yang super cabul.
Tapi adek kebayang nggak sih kalo kak Ochi di-en-tot sama si Dado yang item, jelek, dan dekil itu?” potong kak Ochi seolah balik mempertanyakan kemarahanku di samping keinginanku agar kak Ochi tidak sembarangan disetubuhi orang lagi.
“Hah?! Yaaah... kakaak!”
Kebayang nggak, dek, kaloo... dua buah dada kakak ini diemut-emut sama... Feri dan Yanto. Mereka juga item dan dekil kan, dek? Teman-temanmu sendiri lagi semuanya, Hihi...” kak Ochi menjelaskan dengan sengaja membuatku bermain-main dengan khayalanku sendiri.
Tiba-tiba kak Ochi membuka rahangnya sampai mulutnya menganga cukup lebar sambil memejamkan mata, lalu mengatupkannya kembali.
Kak Ochi kenapa buka mulut lebar-lebar?” tanyaku heran melihat tingkahnya.
“Hihi... adek inget nggak tadi kakak sampai batuk-batuk waktu Dado telpon adek pake BB kakak? Emmm... kebayang nggak, dek, kalo mulut kakak ini... dijejalin kontolnya si Bon-bon?”
“Auugh, kakaaak...” membayangkan kak Ochi yang imut tengah mangap untuk melahap jejalan kontol hitam membuat kantung otongku terasa sakit karena menanti untuk dimuncratkan. Aku malah seperti lupa dengan janji kak Ochi.
“Yee... adek dah nggak tahan yaa? Mesum tuh mukanya,” ledek kak Ochi.
“Kak! Beneran gak sih kakak dientot?” tanyaku penasaran.
“Umm... beneran nggak ya? Menurut adek gimana... penting yah, dek?”
“Uuugh, kak Ochi... pliss jawab doonk.” kini aku memohon agar kak Ochi menuntaskan rasa penasaranku.
“Hihihi... emang adek pengen yah liatnya? Hayooo, katanya nggak pengen kakak dtindih-tindih orang, hihihi...”
“Emmm... a-anu, kaak.. aku nggak rela kok.” jawabku berusaha mati-matian yakin dengan pendirianku walau otak mesum dan kontiku selalu berkata lain.
“Uuh... kasian adek kakak yang mesum ini. Liat deh tuh bawahnya udah nunjuk-nunjuk kakak, hihihi... udah nggak tahan yah? Dasar, katanya nggak mau mesum.” kak Ochi benar-benar membuatku tersiksa dipermainkan seperti ini. Uughh, kakakku yang cantik!
“Kakak sih sukanya godain orang terus.”
“Sebenarnya salah kakak juga sih, dek... ngeladenin temen-temen adek cuma pake kimono aja, hihi. Tapi lucu juga liat muka temen-temen adek tadi waktu tau ternyata kakak nggak pake apa-apa di balik kimono mandi itu.” kak Ochi mulai cerita.
“Uugh, kakak nakal banget sih? Nemuin mereka nggak pake daleman, mana luarannya cuma kimono doank.” desahku sambil mulai mengocok otongku yang semakin mengeras.
“Terus si Dado tiba-tiba minta ambil gambar kakak cuma pakai kimono... awalnya kakak nolak, tapi karena kakak pengen cepet mandi trus jemput adek, jadi ya kakak ladenin bentar. Lanjutannya malah pada pengen ikut foto ama kakak, ampe badannya pada nempel-nempel.”
“Trus, kak, kok bisa sampai rame bener tadi?” aku memotong dengan penasaran.
“Ituu... kimono kakak miring-miring, jadinya keliatan deh susu kak Ochi yang sebelah. Kayak gini...” Ya ampun, kak Ochi memperagakannya dengan membuka kancing baju dan memperlihatkan sebelah susunya yang putih dan mengkal indah.
“Kakak lupa siapa yang mulai, tau-tau kakak udah dipegang-pegang, dek, sama temen-temenmu itu. Tapi lucu aja liatnya, kayak belum pernah liat toket aja.” kak Ochi mulai menjelaskan dengan bahasa yang makin vulgar dan kotor untuk orang yang terkenal rapi dan sopan di kalangan masyarakat sekitar.
“Trus kakak diem aja tuh dipegang-pegang?”
“Kakak bingung juga sih, dek, kan kakak lagi sambil telpon adek... hihi.
Aku ingat tadi kak Ochi telpon dan bilang kalau sedang digrepe-grepe sama mereka. “Aah, kakak mau aja dipegang-pegang mereka.”
“Kakak juga nggak mau kali, deek, tapi merekanya maksa terus... mana tadi tau nggak kamu, dek, masa kakak disuruh masukin kontolnya si Bon-bon ke mulut kakak... udah item, bau apek lagi.“
“Hah! Serius, kak?” Seperti tak percaya, ternyata benar yang dimaksud permen bon-bon adalah kontolnya Bono. Kak Ochi bener-bener binal. “Terus kakak mau aja?” tanyaku lagi.
“Abisnya kakak dipaksa tuh sama Bon-bon, katanya udah nggak tahan lagi liat kakak... mana pake dipegang lagi rambut kakak.” jawabnya sambil sesekali mengamatiku yang sedang terus mengocok. “Dek, kepala kakak dijambak sama Bon-bon, trus ditekan sampai ke pangkal kontolnya lho, dek. Kebayang nggak sih... liar banget tuh si Bon-bon, adek ketularan dia ya mesumnya?”
Kurang ajar bener tuh Bon-bon. Udah memperlakukan kak Ochi dengan seenaknya saja. Tapi kak Ochi juga binalnya gak ketulungan. Mau aja dimakan sama teman-temanku.
“Ya udah, dek, ya... kak Ochi mau mandi dulu. Pliss, kakak udah nggak tahan niih.”
“Yah, kak! Kak Ochi juga belum cerita tadi kemana aja?”
“Nanti ya, dek. Janji deh, nanti kak Ochi terusin... tapi kakak mandi dulu.kak Ochi tampak memohon sekali.
“Ya udah deh.” Sial, mana nanggung lagi denger ceritanya. Aku masih penasaran kak Ochi diapain aja tadi sama mereka.
“O iya, adek dah makan belum? Nanti kak Ochi buatin yah,” kak Ochi memang binal dan nakal, tapi selalu ingat kalau adeknya lapar, walau sebenarnya aku sudah makan. Oh, kakakku yang baik dan cantik.
“Ga usah, kak Ochi aja deh. Fadel tadi udah makan mie instant kok.”
“Ya ampun, adekku baik bener sih nggak mau ngerepotin kakaknya, hihi.” Rambutku diacak-acaknya dengan gemas. “Dek, besok temenin kakak ke acara nikahan ya?
“Iya, kak Ochi yang cantik.” Sebenarnya aku malas ikut acara kondangan, tapi demi menemani kak Ochi.
Kak Ochi berjalan dengan gontai menuju kamarnya yang setelah ditutup ternyata terbuka lagi pintu itu. “Adeek! Sini deh, dek.” Tiba-tiba kak Ochi melongokkan wajahnya dari sela pintu kamar, memanggilku.
“Ada apa, kak?” penasaran dengan panggilan kak Ochi, aku pun mendekatinya.
“Ini, baju seragam sama celana dalam kembalikan ke Dado yah, hihi...” kak Ochi melempar satu stel itu ke arahku.
“Apa! Punya Dado?” Tercium seragam yang bau keringat apek tak karuan itu. Lalu celana dalam cowok? Banyak noda-noda aneh di sisi dalam celana dalam terkutuk itu. Cairan-cairan putih yang baru saja mengering sehingga bagian bawah kain tampak kaku seperti dikanji, bahkan juga ada bercak-bercak berwarna kuning yang sudah memudar. Lalu aku memandang kak Ochi dengan tatapan penuh keterkejutan. Aku jadi benar-benar penasaran apa saja yang kak Ochi lalui saat ia keluar tadi.
“O iya, dek, kakak lupa... tau nggak sih kalo besok kakak mau diajak keluar lagi sama Dado, tapi kakak bilang nggak mau.”
“Uuugh... bagus deh, kak, ngapain juga mau jalan sama dia? Enak aja tuh kampret!” jawabku setengah bersungut. Kampret tuh orang, kak Ochi udah diapain aja sih?
“Itu juga sih yang kakak bilang. Tapi dia malah mau main ke rumah besok minggu tuh, dek, hihi...
“Apa?!” tanyaku kaget.
Di tengah kekagetan, aku hanya bisa melihat kak Ochi yang sudah menghilang dari balik pintu kamarnya yang kini tertutup rapat. Aku tak bisa membayangkan apa yang akan kami lalui besok.

4 komentar:

  1. Sebenernya ini cerita saya ikut in Dari awal Karena saya suka banget sama karakternya si ochi, tp lama kelamaan saya bosan juga Karena alurnya selalu sama, dan ujung ujungnya si fadel cuma bisa Nahan Konak dan dengerin cerita Dari si ochi. Dan ochinya seperti bukan wanita berjilbab yang Ada di awal cerita yang keliatan malu malu tapi mau

    BalasHapus
  2. ceritanya keren sih, tapi dari dulu gini2 aja, coba dibuat baru biar ga bosen, contohnya dari PoV nya si Ochi.

    BalasHapus
  3. sudah mendekati ending ceritanya nih ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. endingnya sampe keberapa nih...? btw q tertarik bikin kelanjutan karakter ochinya....

      Hapus