Sabtu, 27 Agustus 2016

Paradiso 6



Fragmen 23
Voila!

“Ngiiiiiiiing…” teko itu berdenging dan mengepulkan uap ke udara, tanda air yang dijerang sudah mencapai titik didih.
Indira bergegas ke asal suara, mematikan kompor, kemudian menyendok Kopi Bali cap Kupu-kupu Bola Dunia ke dalam cangkir: dua sendok kopi dan satu sendok gula pasir seperti kesukaan ayahnya. Indira hendak menuang air panas ketika Sheena muncul dari balik punggungnya.
“B-biar aku aja.”
Indira tidak sempat menjawab, karena cewek berambut pendek dengan tato di tangan kirinya itu kini yang menuang air panas ke dalam gelas. Untuk sesaat hanya ada suara sendok yang diaduk, dan canggung atas kejadian sore tadi.
“I-indira…”
“Iya…”

“Y-yang tadi sore… maaf…” Uap panas mengepul dari dalam gelas, menerpa wajah Sheena yang ikut panas.
“Aku juga kebawa suasana, kok…” Indira tersenyum, sambil memegang punggung tangan Sheena, mengambil alih cangkir itu dan meletakkannya di nampan. Untuk sesaat wajah mereka hanya sejengkal saja, sehingga Sheena bisa mencium harum tubuh Indira.
Indira membawa nampan berisi kopi tersebut ke Studio, untuk Pak De dan Ava. Meninggalkan Sheena dengan jantung yang tak henti-hentinya berdebaran. Indira menyusuri jalan setapak yang diterangi lampu taman menuju Studio yang terpisah dari rumah utama, menuju bangunan kayu yang dikelilingi rimbun pepohonan tropis. Pak De dan Ava ada di sana, sudah sejak petang tadi dua orang itu asyik melukis di studio.
“Nah, yang diomongken dateng… panjang umur…” kata Pak De begitu melihat Indira datang.
“Ih, Ajik apa, sih!” Indira merengut, sambil meletakkan nampan berisi kopi di meja kecil di samping Pak De.
Pak De hanya terkekeh melihat tingkah anaknya. “Eh, iya sekalian kamu ada di sini… minggu depan habis Galungan, Ajik berangkat ke Paris, kamu baik-baik ya jaga rumah, ya… uhuk.. ehm,” Pak De menyeruput kopinya hingga tandas. “Yang saya bilang dipikirkan saja dulu, hahaha… huk.. ehem.. oh,” kata Pak De pada Ava. ”Saya tinggal mau ke Banjar sama Kadek sebentar. Kamu ngobol-ngobrol aja dulu sama Dira.” Pak De berlalu sambil terkekeh-kekeh dan terbatuk-batuk, yang dibalas juluran lidah Indira.
Indira duduk di samping Ava, namun kali ini pandangan Indira tersedot pada kanvas Ava. “Tadi Ajik bilang apa?”
“Ah.. e-enggak… cuma.. em.. ehem… ngasih petuah-petuah untuk pelukis nan galau ini.”
Indira terkekeh, sambil memperhatikan pemuda itu melukis. “Tumben ngelukis?” tanyanya.
Ava nyengir. “Ya iya lah, aku belum cerita ya, kalau aku lulusan S1 Seni Murni?”
“Hmm, Kak Sheena juga… ya, kalau nggak salah?”
“Oh, iya… perasaan dia pernah bilang.” Ava manggut-manggut, sambil terus menguaskan warna di atas kanvas. Sementara sepasang mata Indira tak henti-henti memandangi kanvas Ava yang masih tidak jelas itu.
“Hehe… ngelukis apa?”
“Judulnya, bidadari nan galau…”
“Alay! Hihihi…”
Ava melirik Indira. “Sekarang dah bisa ketawa-ketawa, ya… hmm.. hmm…”
“Ih, apaan sih!” Indira menonjok lengan Ava.
“Eh, jangan nyenggol… yah… mencong deh…” Ava sontak memberengut.
Indira terkikik-kikik. “Maaf… maaf…”
Ava akhirnya ikut tersenyum, setelah melihat Indira akhirnya bisa tertawa lagi setelah hampir sebulan ini murung akibat putus dengan Dewa.
“Iya, Kalau nggak ada kamu, aku sudah bunuh diri kali, ya…”
Ava tidak menjawab, karena mendadak detak jantungnya bertambah.
“Makasih ya, Ava. Aku nggak tahu, aku akan jadi apa kalau nggak ada kamu…”
Dan entah dari mana ada rasa hangat memenuhi dada sampai wajah Ava.
“…dan untung ada kak Sheena juga.” tambah Indira, sambil terkikik-kikik. “Aku nggak mau ganggu deh…”
“Lho, kalau yang ganggu kamu, nggak papa, kok…”
“Huu.. aku mau belajar, wee… U-N dah deket tauk!”
“Oh iya, met belajar ya…”
Indira terkekeh, “Ava, met ngelukis ya... jangan begadang, lho… ntar sakit.”
Ava mengangguk, “I-iya… Indira juga.”
“Dah, Ava..” Indira tersenyum, berlalu meninggalkan Ava dengan jantung yang tak henti-hentinya berdebaran.
Ava menenggak segelas kopi, yang menurutnya adalah kopi terenak yang pernah ia rasakan. Perpaduan antara kafein, senyum Indira, dan perasaan di dadanya malah membuat jantungnya semakin memburu, membuatnya tak bisa berhenti melukis sepanjang malam.
Ava terus melukis dan melukis, di benaknya terus terngiang-ngiang ucapan Pak De tadi. “Skill itu ndak penting, yang penting Jiwa. Sekarang Ava mau memberi Jiwa lukisan itu dari mana? Dari apa? Dari siapa?”
 Ava tersenyum, karena kini benaknya penuh dengan inspirasi dan mimpi-mimpi yang ia tumpahkan di atas kanvas, dan ia sudah siap memberi judul untuk lukisannya, Bidadari dan Pelukis Mimpi.

***

Pagi itu Indira harus berangkat ke sekolah, namun ia menyempatkan diri menghaturkan sesaji di pelangkiran di studio Pak De, sebelum matanya tiba-tiba tersedot oleh lukisan baru di pojokan. Ia menyelesaikan meletakkan sebatang dupa dan menghaturkan sembah takzim, sebelum mendekati lukisan itu.
“Apa ini? Lukisan Ava?” batinnya memandangi lukisan itu, lukisan yang sungguh berbeda daripada yang dilihatnya selama ini, berbeda dari yang dibuat oleh ayah maupun kakaknya dulu.
Sepasang mata Indira tak berkedip, jiwanya disedot ke alam mimpi oleh lukisan itu. Indira tak tahu, dan dirinya tak pernah tahu, kenapa dari tadi sibuk ia mengusapi matanya yang tiba-tiba berair.
“Indira! Dicariin sama ajik…” Sheena berseru dari luar studio, melangkah tiba-tiba dari balik bahu Indira. “Ah.” Nafasnya pun tercekat.

***

Fragmen 24
The Dream Carver, Pain Painter

Motor matic lalu lalang di jalan Tukad Campuhan, Ubud. Pagi masih dingin, namun bangunan yang dipenuhi ukiran khas Bali itu sudah membuka pintu. Di atasnya terbentang papan nama De’s Gallery – Fine Art Painting, berdiri gagah di deretan Artshop yang berleret-leret memagar sawah.
Kadek duduk di depan meja di ruang kecil di belakang galeri, sibuk dengan berbagai telepon dan pesanan yang dikerjakannya sedari tadi.
Om Swastyastu… Patra Bali? Buat reservasi minggu depan… atas nama Pak Dewa Gede Subrata… nggih… 300 orang….” Kadek terdiam sebentar. “nggih… bisa di atur… matursuksma…” Kadek meletakkan gagang telepon. Matanya melirik bundaran kecil di kalender, menghela nafas, dan kembali mencoreti buku tulis.
Seminggu lagi Pak De berangkat ke Paris, dua hari lagi ini beliau akan mengadakan semacam perjamuan untuk kolega dan sesama seniman, dan Kadek kebagian jadi seksi sibuknya.
Kadek menekan-nekan tombol sekali lagi. “Om Swastyastu… DHL, benar? Mau tanya, pengiriman paket ke Paris, untuk hari ini terakhir berangkat jam berapa?” Kadek melirik jam tua di dinding. “Jam 12? Nggih… matursuksma, bli.”
Telepon berdering begitu Kadek meletakkan gagang telepon.
“Halo, Om Swastyastu, De Galeri.”
Kadek? Ava nie… aduh, kok susah sekali di telepon?” terdengar suara di seberang telepon.
“Apa, Va?”
Silinder plastiknya nggak ada yang ukuran segitu.
“Cari yang ukurannya mirip-mirip. Lebih besar dikit nggak apa-apa.”
Oke.
Telepon ditutup. Kadek menghela nafas.

***

“Apa kata Kadek?” tanya Sheena yang berdiri di sebelahnya. Memandangi tumpukan silinder plastik yang biasa digunakan oleh anak-anak arsitek untuk menyimpan desain, bersusun-susun di sebuah toko alat tulis di sudut kota Denpasar.
“Yang mana aja. Lebih besar nggak apa.” sahut Ava.
“Tuh kan, gue bilang juga apa.”
“Iye... nyak... bawel, ah.“
Sheena antara cemberut dan tertawa mendengarnya.
“Yang kayak gini 10, Pak.” kata Ava, sambil menepuk silinder plastik yang ditumpuk.
Pagi-pagi sekali, Ava dan Sheena ditugasi Pak De membeli silinder plastik untuk mengirim lukisan ke Paris. Sebenarnya Sheena malas pergi berdua saja dengan Ava. Namun lukisan yang dilihatnya pagi tadi benar-benar mengusik pikirannya, dan kali ini ia tidak bisa lagi diam.
“Eh, Lukisan lo.”
Ava terkekeh. “Oh, sudah lihat? Mantep kan.. mantep kan…” katanya jumawa, enteng. Sambil membayar ke penjaga toko. “Minta nota, Pak.”
“Ge-er banget.” cibir Sheena. “No skill gitu, kok!”
“Sirik tanda tak mampu.” balas Ava cuek, menyodorkan 5 silinder yang ditali ke Sheena.
“Itu lukisan apa, sih?”
“A-da.. deh…”
“Gue serius nanya, nih.”
“Aduh, apa ya?”
“Apaan sih?! ngomong nggak jelas.”
“Yah gitu, deh. Tiba-tiba aja…”
“Maksud lu, lu ngelukis tanpa tahu yang dilukis?”
“E-mm… Mungkin?”
“Tolol.”
“Memang.”
Terdengar tawa kecil dari bibir Sheena.
Mereka berjalan ke tempat parkir. Toko alat tulis itu terletak di ruko yang berjajar di sebelah selatan Pasar Kreneng, salah satu pasar tradisional terbesar di Denpasar. Dari kejauhan Ava bisa melihat bangunan tingkat 2 yang kumal dan bau amis yang menyengat.
“Masih aja kaya gini baunya.” gumam Ava.
“Hah?”
“…Bau pasar… di mana-mana sama ya?” imbuh Ava. “Eh, lapar nggak? makan dulu yuk! Belum sempat sarapan, kan?”
“Hem…”
“Udahlah, yuk!” Ava menarik tangan Sheena. “Aku tahu warung sate gule enak di sini.”
Sheena tak menjawab, bukan karena tangannya digandeng begitu saja menyeberang jalan yang penuh dengan lalu lalang angkot, tapi karena perutnya memang benar keroncongan.

***

Warung sate itu terletak di area parkir pasar. Di sebelahnya ada dagang es campur, sementara di kanannya ada penjual nasi babi guling. Sheena menyalakan sebatang rokok, duduk di depan Ava yang memesan dua porsi sate gule.
“Minum apa?”
“Es teh.” jawab Sheena pendek.
Segera asap mengepul dari panggangan, menebarkan aroma yang khas ke udara. Pedagang sate yang berkumis sibuk mengipas-ngipas, sambil sesekali meneteskan minyak ke atas daging yang sudah mulai matang, membuat api semakin berkobar, dan asap semakin mengepul.
Ava menyeruput teh sambil melihat Sheena yang sibuk merokok. Wajah manis dibalut rambut pendek seperti laki, keindahan yang liar. 1 Bulan cewek itu tinggal di rumah Pak De, namun baru kali ini mereka makan berdua. Entah kenapa, Sheena terlihat selalu menghindari dirinya.
“Eh, kamu kuliah di IKJ, kan?” Ava mencoba akrab.
“Iya.”
“Kenal sama Sari White Shoes dan suaminya, siapa itu namanya…?” dan meluncurkan pertanyaan standar.
“Bang Rio, kenal.”
“Ah iya, Bang Rio Farabi! Waktu mereka pameran di Jogja, aku jadi panitianya, lho.” Ava mengeluarkan hp, dan menunjukkan satu foto ke Sheena.
“Oh.” Sheena menjawab pendek, lempeng.
Ava tidak bertanya lagi, karena 3 pasang piring dihidangkan di atas meja. Piring berisi nasi putih, gule sapi bersantan kental, dan sate daging dengan bumbu petis yang hitam. Aromanya mengepul ke udara bersama uap panas yang mengabut, membuat air liurnya tak henti menetes.
Sheena menyuap ragu, namun Ava benar, sate gule ini sangat maknyus. Ia akan sangat lahap memakan semua yang ada di meja, seandainya Ava tidak memandanginya seperti itu. Dari tadi pemuda itu mencuri-curi pandang melihat ke arahnya, membuatnya sedikit salah tingkah. Apakah kaus Ramones yang dikenakannya hari ini terlalu ketat?
“Semalem akhirnya aku disuruh melukis sama Pak De.” Ava mencari bahan obrolan lagi.
“Lu udah cerita.”
“Oh iya ya, haha.. akhirnya aku naik pangkat, nih.”
“Selamat, ya.”
“Buat lukisan berikutnya, aku mau pakai model. Na, kamu mau?” kata Ava, sambil mengunyah sate.
“Hah?”
“Aku serius, kamu mau jadi model? Kamu cocok lho! Kamu lebih natural dari Indira!”
Kunyahan Sheena mendadak terhenti. Kalimat Ava pernah ia dengar, terselip dalam belantara masa lalu. Memerangkapnya dalam sebuah ruang hampa, bernama nostalgia.
“Va, lu ini penginnya apa, sih?” Sheena berkata pelan.
“Aku? Aku pengin jadi pelukis hebat, aku pengin jadi kaya Affandi!”
“Ngimpi.”
“Lho, apa salahnya punya mimpi?” Lalu Ava menjelaskan tentang visi hidupnya. Bahwa hidup manusia harus dipenuhi mimpi. “Kita harus berani bermimpi, tapi jangan hidup dalam mimpi! Kita harus mewujudkan mimpi itu!” jelas Ava panjang lebar.
Sheena tak menjawab, meminum habis es tehnya karena mendadak dadanya terasa panas. Sementara Ava terus berceloteh, dengan mata yang tak berkedip memandanginya.
Ava tiba-tiba mendekatkan wajahnya. “Kalau dilihat dari dekat, ternyata cakep juga, ya...”
Mendadak wajah Sheena terasa panas. “A-apaan sih?” Sheena tidak menyelesaikan kalimatnya, karena Ava keburu memegang punggung tangannya.
“Tato-nya, cakep banget…” Ava menatap tak berkedip pada rangkaian gambar di lengan kiri Sheena. “Masterpiece… masterpiece… ada jiwanya, bikin merinding…” Ava berdecak kagum sambil terus memperhatikan rangkaian gambar berbentuk naga, dengan sisik-sisik berbentuk tumpukan manusia yang merangkak dibalut nyala api yang membentuk tulisan “Inferno”.
Sheena buru-buru menarik tangannya, meliipatnya di bawah meja, dan memilih bungkam sepanjang pagi itu.

***

Fragmen 25
The Maestro’s Apprentice

Kadek berulangkali melihat jam dinding tua di pojokan, sementara tangannya sibuk memencet-mencet tombol di HP. “buruan woy! harus dikirim siang ini!” –SEND.
Kadek menoleh, terdengar suara mesin menderu, tapi bukan itu yang ditunggunya. Sebuah mobil VW safari berhenti di depan Galeri. Seorang laki-laki gendut tergopoh memasuki ruangan yang penuh lukisan, Pak De.
“Kadek, ini sebelum saya pergi…” Pak De mengangsurkan sebuah amplop putih kepada Kadek. ”Gajimu, sekalian THR.”
“Oh, Suksma, Pak De.”
“Ava dan Sheena mana?” Pak De memegang dua amplop lagi.
“Nah itulah, Jik. Mereka lagi beli silinder buat ngirim lukisan, tapi kok belum balik juga…”
“Wah, terlalu anak itu…” Pak De mengeluarkan cerutu dari saku kemejanya, menyulutnya.
Kadek menelan ludah, khawatir. “Mungkin jalanan macet, jik…”
“Bukan, bukan masalah itu… kamu harus lihat lukisannya….” Pak De terbatuk-batuk, asapnya mengepul-ngepul. “Oh iya, Lukisannya ada di jok belakang mobil saya. Coba kamu ambil!”
Kadek melangkah ragu. Hatinya menebak-nebak.

***

Deru vespa butut memecah keheningan Ubud yang damai. Membuat beberapa turis yang berjalan di trotoar di jalan tukan Campuhan terkejut karena suara knalpot yang seperti kentut.
“Ya elah… kok dari tadi diem aja… aku ada salah ya?” kata Ava sambil memarkir vespa di belakang VW Pak De.
Sheena tak menjawab.
“Na, kalau ane ada salah maafin ane ya…”
“Dasar cowok nggak sensitif.” Sheena melengos ke dalam, Ava menyusul.
“AVA! SINI KAMU!” suara Pak De menggelegar dari dalam, begitu Ava menampakkan batang hidungnya.
Ava melangkah takut-takut, seharusnya tadi ia tidak mampir makan dulu. Wajahnya makin pucat begitu melihat lukisannya berdiri di pojokan.
Pak De menghisap sebatang cerutu, duduk menyilangkan kakinya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya yang dipenuhi uban. Matanya tidak bisa lepas dari lukisan Ava.
Melihat Sang Maestro sedang memandangi lukisannya, membuat wajah Ava pucat pasi seperti banci yang digaruk satpol PP.
Pak De menatap Ava tajam, “Apa judulnya?”
“B-bidadari dan Pelukis Mimpi.” Ava menjawab ragu, meski sudah menyiapkan judul yang (menurutnya) paling mantap semalaman.
“Ini bidadarinya. Mana pelukis mimpinya?” Jari Pak De menunjuk-nunjuk kanvas.
“Ehm...” Ava berdehem, ragu-ragu menjawab. “Sudut pandang orang pertama, Pak De…”
“Lukisanmu jelek. Masih perlu banyak belajar.”
Wajah Ava sontak makin mengkerut mendengarnya.
“Tapi tenang saja, dibawah bimbingan saya, kamu akan jadi pelukis top.” Pak De mengacungkan jempolnya. “Kamu punya potensi.” Pak De menghembuskan asap ke udara, sambil terbatuk-batuk. “Hei Kadek, kayak gini seharusnya lukisanmu. Ada taksu, ada jiwanya!”
Kadek masih terlongo-longo menyaksikan lukisan Ava. “Bener ini Ava yang buat? soalnya waktu kuliah lukisan dia unyu banget.”
Pak De terkekeh. “Yah, tekniknya jangan kamu contoh,” disusul dengan tawanya yang menggelegar. “Ava, kamu juga belajar skill sama kadek! Sheena, kamu juga!”
“M-makasih Pak De.” Dalam hatinya akhirnya Ava bersorak riang. Akhirnya aku naik pangkat dari kacung jadi murid!
“Ngomong-ngomong… kamu melukis apa? Ah, maksud saya inspirasinya dari mana?”
“Nggak tahu, Pak De… tiba-tiba saja nongol… kaya….”
“Wangsit?”
Ava menggeleng. “Mimpi.” jawabnya pelan.
Jantung Sheena seperti melompat mendengar kata ‘mimpi’.
Pak De berdecak. “Pasti bukan sembarang mimpi, sampai bisa jadi lukisan magis kaya gini.”
Ava menelan ludah mendengar pujian Sang Maestro.
“Coba kalau skillnya lebih, lukisanmu pasti sudah ikut berangkat ke Paris.” Pak De menggeleng-geleng, membelai janggutnya. Dalam hatin Sang Maestro, ia tak henti-henti mengagumi Lukisan yang membuat bulu kuduknya tidak henti-hentinya merinding dari tadi. Jiwa apa yang dimasukkan ke dalam kanvas? batin Sang Maestro.
Sheena terpaku tak berkedip. Memandangi lukisan yang menggambarkan seorang bidadari sedang tersungkur di tengah kobaran api, lengan kirinya berdarah, sayapnya putus sebelah. Di sebelahnya ksatria berbaju besi berlutut dengan dada yang tertembus pedang. Dari langit, di antara awan yang berwarna merah darah, iblis bertopeng melirik, menjulurkan tangan ke arah si bidadari.
Inferno.


***

Fragmen 26
The Rastafarian Pilgrims
-Bob-

Bulan sabit pucat menggantikan jingga senja di Pulau dewata. Malam ini, dia bercahaya malu-malu dibalik tirai awan tipis, memantul ragu di riak gelombang yang membelai teluk itu.
Dalam semesta seorang Bob, tidak ada yang lebih mendamaikan bumi selain selinting ganja dan segelas arak Bali. Juga ombak yang berdeburan diselingi irama reggae yang mengalun pelan dari speaker murahan di pojokan.
When the night has come… And the land is dark… And the moon is the only light we'll see…Bibir kurusnya komat-kamit, matanya mengawang melihat langit gelap dengan bulan sabit yang bersinar pucat.
Dalam semesta seorang Bob, hidup hanya berada pada satu titik: saat ini. Tak ada mimpi yang dicari, tak ada masa lalu yang membuntuti, yang ada hanyalah detik ini. Detik yang dianugerahkan Tuhan dengan cuma-cuma padanya -dan Bob tahu cara menikmati setiap detik dalam hidupnya.
No, I won't be afraid… no, I won't be afraid… Just as long as you stand, stand by me..” Bob menenggak segelas arak di bar-nya yang sepi. Pahit arak segera dinetralisirnya dengan hisapan asap kanabis yang membuatnya terbang menuju nirwana.
Satu-satunya yang mengusik kedamaiannya malam itu hanyalah suara mobil VW safari yang Berderu di tempat parkir “The Rastafarian Pilgrims.” Bar reggeae murahan yang terletak pinggir pantai di pinggiran Jimbaran.
“Kampret, gue kira tamu…” kata Bob, saat melihat yang datang. Seorang wanita berambut pendek dengan celana skinny jeans dan tank top putih ketat, lengan kirinya dipenuhi tatoo, Sheena.
Sheena mengendus. “Anjrit, lu nyimeng ya?”
Bob nyengir dan terkekeh, namun sedetik kemudian pandangannya sudah tersita oleh bidadari mungil yang mengintil di belakang Sheena.
“Eh, kenalin… Indira…” kata Sheena cepat.
Bob melongo seperti orang bego ketika bersalaman dengan Indira. “B-bob.”
“Ini Ava…”
Ava yang berjalan paling belakang menyodorkan tangan. “Ava."
“B-bob.” Bob bersalaman, mengucek-ngucek mata sejenak. “Fuck, man... gue mabuk…” katanya sambil menenggak satu gelas arak langsung tandas.
“Sepi banget.” Sheena duduk di barstool di samping Bob, melihat bar yang lengang.
“Bulan ini sudah terhitung Low season.” Bob menyahut pendek.
Sheena menyalakan sebatang rokok. Membuka dompetnya, dan mengeluarkan 5 lembar uang 100 ribuan.
Bob menggeleng. “C’mon man… kan udah gue bilang nggak usah dibalikin.”
Sheena menyumpalkan lembaran uang itu ke tangan Bob. “Thanks, bro…”
“Apaan sih! No man, no!” Bob protes.
Sheena malah merebut cimeng Bob, menghisapnya sekali sebelum mengembalikannya. “Kamu bener, Bob. Everything is gonna be alright...”
Kali Ini Sheena menyumpalkan uang itu di rambut gimbal Bob, membuat rastafarian itu terkekeh-kekeh. Dari hasil menjadi model telanjang di rumah Pak De (total 5 lukisan) dan menjadi asisten di galeri, pagi tadi Sheena menerima gaji pertamanya. Dan hal paling pertama yang dilakukannya adalah membayar hutangnya pada Bob.
“Na, mending buat lunasin hutang lu ke siapa itu?“
Sheena menelan ludah, teringat pada preman-preman penagih hutang itu. Perlu sedikit keberanian bagi Sheena (juga Ava) untuk keluar sarang, kembali ke keramaian di sekitar Kuta setelah peristiwa The Debt Collector tempo hari.
Ava sebenarnya berkeberatan Indira ikut, namun gadis itu bersikeras. “Malam minggu, sudah nggak punya pacar, ajakin na’e Dira jalan-jalan.” alasan Indira tadi sore.
"Haduh, cuma nemenin Sheena bayar hutang ini." Ava putus asa.
"Ikuuut."
"Nggak, kalau ketemu preman gimana?" bujuk Sheena.
"Indira bisa karate!"
"Nggak!" tegas Ava.
"Ikuuuuuuut..." Indira merajuk.
Ava dan Sheena saling berpandangan, semakin putus asa.
Sekarang Indira kegirangan karena diajak ke Bar yang di pinggir pantai. “Ava, sini!” jerit Indira saat keluar ke arah pantai, dressnya berkibar-kibar ditiup angin.
Ava bergegas menghampiri, berdiri takjub melihat saat melihat pesawat melintas begitu dekat. “Wuih, dekat bandara, yah..” Ava benar-benar dibuat takjub dengan deretan lampu yang berjajar tepat di depannya.
“Siapa dia?” tanya Bob kepada Sheena.
“Indira… kenapa, naksir? Dia bagianku.” Sheena terkekeh.
“Bukan, satunya.”
“Oh, naksir juga?”
“Kampret lu!”
Sheena terkekeh lagi.
“Mirip, ya… atau cuma perasaan gue aja.” gumam Bob sambil menenggak segelas arak, sebelum ikut terkekeh.
Kali ini Sheena memilih diam, tenggelam dalam suara pesawat yang menderu di langit, sebelum mendarat di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai. Bar itu memang terletak di pantai Jimbaran, namun tidak di leretan kafe-kafe ikan bakar yang mewah itu, melainkan sedikit ke utara, di antara Pasar Ikan Kedonganan dan Bandara. Sheena terus diam, menatap Indira yang menggandeng tangan Ava, menjauh ke arah buih ombak yang memecah pelan.
“Ava, lukisanmu.” kata Indira.
“Hehehe… kenapa? Bagus?”
“Jelek!”
“Gini deh, gara-gara lagi ngelukis diganggu.”
“Ngeles…”
“Hehe...”
Indira tersenyum kecil. “Itu lukisan apa sih? Biar jelek, tapi aku sampai merinding dan nangis ngelihatnya tadi pagi, tahu.” tambah Indira.
“Mimpi, hehe… aneh ya…”
“Iiiih… Ava aneeeh…. memang kamu bisa inget mimpi kamu?”
“Kalau sebulan mimpiin yang sama terus, inget lah!”
Indira bergidik melihat lukisan yang penuh taksu itu. Bidadari Bersayap Satu, Ksatria Tertusuk Pedang, dan Iblis Bertopeng. Mimpi apa yang dilihat Ava? batin indira, sebelum akhirnya ia sampai pada suatu kesimpulan. “Ava, kamu pasti kebanyakan main DOTA.”
Ava tertawa mendengarnya. “Maksudmu Knight Davion, Rylai Crestfall, Banehallow…”
“Iiiih, bener kan? suka main DOTA juga, ya?”
“Hahaha… nggak tahu, deh…”
Mereka tergelak-gelak, diselingi debur ombak.
“Bli, ke sini dulu!” Bob berteriak setengah teler dari dalam Bar.
“Yuk…” Ava menggandeng tangan Indira ke arah Bob. Sheena menenggak segelas arak melihat dua orang itu bergandengan tangan.
Bob mencampur arak dengan sirup lemon, soda, dan sejumput garam, kemudian dihidangkannya di atas meja. “Bob’s favourite.” katanya. “Special compliment, buat temannya Sheena.” Mata Bob terus-terusan memperhatikan Ava, menganalisis setiap gestur tubuhnya.
Ava terkekeh. “Suksma, Bli.”
Indira langsung menyambar dan menenggak habis gelas itu.
“Eh, anak kecil nggak usah ikut-ikutan!” jerit Ava yang dibalas juluran lidah Indira.
Bob terkekeh melihatnya. “Ndak papa, Saya bikinkan lagi.” Kali ini Bob membuat satu pitcher.

“I remember when we used to sit
In the government yard in Trenchtown
Observing the hypocrites
As they would mingle with the good people we meet”

Lagu mengalun, gelas diangkat. Mereka makin larut dalam perbincangan, diselingi tegukan arak dan sesekali lelucon bodoh dari Ava, dan celetukan polos Indira.
“Bob Marley.” kata Bob setengah teler, sambil menunjuk foto Bob Marley yang dipajang di samping foto Mbah Surip. “Bermimpi menciptakan perdamaian dengan menginfeksi manusia dengan virus musik dan cinta.”
Sheena terkekeh. “Tapi sayangnya keburu mati.”
“Manusia bisa mati.” Ava menenggak arak. “Tapi mimpi dan idealisme? Enggak.” Ava berkata mantap. Sheena membatu.

“Good friends we have had, oh good friends we've lost…
along the way….
In this bright future you can’t forget your past
So dry your tears I say”

Bob hidup untuk saat ini, tidak untuk masa lalu, tidak untuk mimpi-mimpi. Namun kali ini Bob dihadapkan dengan anomali yang bernama Ava, paradoks yang mendadak menjungkirbalikkan prinsip hidupnya dalam semalam.
Cara Ava berbicara, caranya bergerak dan tertawa. Juga benak Ava yang dipenuhi mimpi-mimpi, membuat Bob sadar, tak akan ada ‘saat ini’ tanpa ‘masa lalu’. In this bright future, you can’t forget the past, batinnya.
Malam ini, Bob seperti menemukan kembali sahabatnya dalam tubuh yang berbeda. Malam ini, kenangannya bersama Awan dan Sheena bergulir tanpa bisa dihentikan lagi. Semua bergulir deras, seperti sebutir air yang tahu-tahu bergulir di sudut matanya -dan buru-buru diusap. Anjrit, kenapa gue sentimental gini, batin Bob.
“Kenapa, Bli?” Ava memperhatikan riak wajah Bob yang mendadak mendung.
“Enggak… enggak apa-apa, hehe…” Buru-buru ia menenggak segelas arak.
“Beh, pasti gara-gara warungnya sepi… sante aja, bli… Everything is gonna be alright, kalau kata Bob Marley…”
Bob tergelak, teringat ucapannya sendiri. “Hahaha… iya.. apa kata Bob Marley nanti.”
Lagu berganti. “Hey, ini lagunya Souljah, kan?” Indira memecah hening, melompat turun ke lantai dansa, berkacak pinggang dan memamerkan senyumnya. “So, who want to dance, with me?”
Dua orang pria dan satu orang wanita terpaku, seperti anak SD yang disodori pertanyaan oleh gurunya.
Sedetik kemudian, satu langkah menyusul: Ava. Tangan Indira merentang, menyambut Ava yang datang ke dalam pelukannya. Sesaat kemudian terdengar cekikik tawa mereka berdua.
Indira menyandarkan punggungnya ke dada Ava. Membiarkan pemuda itu melingkarkan lengannya di perutnya. Indira tertawa kecil, mendekap lengan Ava memasrahkan tubuh mungilnya direngkuh lembut dari belakang. Indira memejam, menikmati hangat tubuh Ava dan sejuta kenyamanan yang tahu-tahu menyergap.

"Di setiap sudut kota
Kutemukan dirimu ada
Dan melambaikan tangan
Menghantar kehangatan

Ke dalam hatimu, sayang
Kucoba tuk berikan sejuta kenyamanan
Dan tetaplah ada"

Sheena memilih membelakangi mereka, berbincang dengan Bob.
“Kak Na!” Indira berseru dalam dekapan Ava.
Sheena menoleh, melihat Indira yang tersenyum kepadanya. “Sini!” Indira berseru.
Sheena menarik nafas panjang, menggigit bibir bawahnya.
“Go on…” bisik Bob.
Sheena tersenyum sebelum menyusul turun, yang disambut tawa Indira yang merekah, disusul sepasang tangan yang merentang meyambutnya, membuat Sheena tanpa ragu melangkah ke dalam pelukan Indira. Indira tersenyum dan melingkarkan lengan mungilnya di leher Sheena, membuat senyum kecil terbit dari bibir Sheena.
“Ava, Kak Na… makasih ya…”
“I-ya..” dua orang itu menjawab hampir bersamaan.
Indira terkikik, menyandarkan wajahnya di pundak Sheena.

”Bersamamu
Kuakan terus kembali
Menikmati wangi cinta dan matahari

Bersamamu
Kuakan terus kembali
Menikmati pelangi saat badai pergi”

“Makasih, ya… nggak terasa sudah 10 tahun sejak…” Indira terdiam sejenak. “Aku nggak tahu aku bakal jadi apa, kalau nggak ketemu kalian… kalau nggak ada Mama…”
“Semua orang pernah kehilangan…” bisik Sheena, membelai rambut Indira.
“…dan menemukan.” tambah Ava.
Sheena melirik ke arah Ava yang ada di belakang Indira, dan didapatinya sepasang mata menatap teduh, seperti sekumpulan uap air di biru langit yang dulu menaunginya dari panas matahari.
Sepasang tangan melingkar di pinggangnya, lengan Ava menjangkau hingga memeluk lembut tubuh Sheena, membuatnya terhenyak, sesuatu dari alam bawah sadar Sheena menggerakkan tangannya untuk melingkar di leher Ava, membelai pelan rambut pemuda itu.
Indira tersenyum, terlarut dalam hangat sepasang tubuh yang makin erat menghimpitnya. Musik mengalun pelan, tiga pasang langkah mengayun perlahan, di sela deru ombak dan jantung yang berdeburan.
Tiga bayangan menari di dalam gelap: Sheena yang diburu masa lalu, Indira yang tersesat di jalan kehidupan, Ava yang memburu masa depan. Bersama mereka saling melengkapi, saling menggenapi, meniti jalan panjang menuju: Paradiso.

”Bersamamu
Kuakan terus kembali
Menikmati wangi cinta dan matahari

Bersamamu
Kuakan terus kembali
Menikmati pelangi saat badai pergi”

***

Fragmen 27
The Crescent and The Airplanes

“Can we pretend that airplanes
In the night sky are like shooting stars?
I could really use a wish right now.
Wish right now, wish right now”

Bulan sabit bersinar pucat di langit gelap, berpendar sayu di riak gelombang. Setelah berdansa pelan, mereka bertiga memutuskan berjalan-jalan menyusuri bibir pantai, ke utara. Menikmati malam minggu yang panjang.
“Yakin kita ke sini?” Ava tersenyum kecut, sebelum sekelebat pesawat melintas cepat, tepat di atas kepalanya. Suaranya meraung keras, disusul decit ban yang bergesek pada aspal landasan pacu. “Ehm ditanyain pada diem… nggak apa-apa kita nongkrong di sini?” Ava melotot ke balik pagar alumunium yang mengelilingi komplek bandara Ngurah Rai. Di kejauhan Pesawat yang baru saja mendarat menimbulkan asap yang melayang tipis.
“Temennya kak Na, memang gila.” Indira tersenyum melihat pesawat yang begitu besar melintas di depannya.
Sheena terkekeh, teringat pada Bob yang menyarankan spot unggulan untuk menikmati pesawat yang lepas landas kepada mereka.
Mereka bertiga duduk di beton pemecah gelombang tepat di samping landasan pacu Bandara. Di depan mereka terbentang laut yang kehitaman, sementara di belakang mereka pesawat lalu lalang.
“Waduh, nggak yakin aku.” Ava menggeleng-geleng melihat lampu mobil AVSEC yang berputar pelan di kejauhan. “Balik yuk, daripada digaruk.”
“Udah, santai aja..” Indira menggamit lengan Ava, duduk di atas beton.
Ava menghela nafas. “Mending digaruk, daripada disangka teroris. Aku sudah pernah disangka teroris, tahu.” Ava meraba jambang brewoknya yang sudah mulai tumbuh lagi.
“Dendam nih ceritanya, hehehe..” Indira menggelendot manja di lengan Ava. Kakinya di celupkan ke dalam permukaan laut yang dingin.
Beberapa saat yang lalu, Bob menyarankan tempat yang yahud, yang cuma dia seorang yang tahu: yakni beton pemecah gelombang yang memagari Bandara Ngurah Rai yang menjorok ke laut. “Cocok untuk berkontemplasi,” katanya sambil terkekeh.
Malam ini mereka bertiga menikmati waktu yang sesaat seperti dihentikan Tuhan untuk mereka. Sheena yang diburu masa lalu, Indira yang tersesat di jalan kehidupan, Ava yang memburu masa depan, dan kali ini mereka menikmati saran Bob untuk menikmati saat ini.
Indira menggenggam tangan Sheena. Matanya tertuju pada tatoo berbentuk tulisan di punggung tangannya, ‘Paradiso’.
“Kak Na, apa sih artinya?”
Sheena tersenyum. “Paradiso, Surga…”
“Ooooh…” Indira cuma ber ‘oh’ mendengarnya.
“Tapi bisa juga akhir yang bahagia.” tambah Sheena.
Ava terkekeh. Indira tersenyum. Mereka semua mencari akhir bahagia-nya.
“Bagus, ya…” Indira berkomentar lagi melihat tatoo naga bersisik api neraka yang memenuhi lengan kiri Sheena.
“Iya, kan.. udah kubilang, tatoo-nya cakep banget! Kok bisa sih, kamu bikin tatoo kaya gitu, magis, bisa bikin aku mer…”
“Mimpi.” Sheena menjawab pendek.
“Hah?”
“Ini mimpi yang kulihat selama 10 tahun terakhir.” Sheena menjawab, kali ini suaranya begetar. Getir.
Indira mendekap pundak Sheena, menyandarkan kepalanya. “Semua orang pernah kehilangan…”
Kali ini perasaan Ava mendadak tidak karuan begitu mendengar kata ‘mimpi’ dari bibir Sheena. Benaknya menerka-nerka, namun sebuah tangan halus yang mendarat di pundaknya membuyarkan pertanyaannya.
“Udah, jangan deh ngomongin yang sedih-sedih lagi…” Indira merangkul keduanya. “Kita hidup di saat ini… dan yang penting sekarang Dira bahagia, bisa ketemu Ava dan Kak Na.”
Indira terbaring di atas beton pemecah ombak dan batu karang, memandang langit yang penuh bintang. Menikmati Sheena yang membelai rambutnya, juga Ava yang menggenggam tangannya.
Ava menatap Indira yang tersenyum, indah. Sheena memandang Indira yang menoleh ke arahnya, mempesona.
“Zwassssssh….” Ombak berdebur pelan. Angin malam berhembus, dingin. Namun entah dari mana asalnya hangat yang memenuhi dada ketiganya.
“Ingat di mana kita bertiga ketemu?” tanya Indira.
“Pub, kan?” kata Ava.
“The Crossing Fate.” Sheena menambahkan.
Indira tersenyum. “Tuhan jahil ya? Entah kebetulan atau apa…”
Sheena terkekeh “The Crossing Fate… takdir yang bersilangan, ya…”
Ava ikut tersenyum, “Mungkin kita sudah ditakdirkan ketemu, kali…”
“Ditakdirkan untuk saling melengkapi…” bisik Indira. Ombak berdebur, mengamini.
Dalam sepersekianmilisekon muncul memori kolektif di benak Ava dan Sheena. Ingatan Sheena saat mereka mandi sore, ingatan Ava saat mereka dilukis. Ingatan tentang tangis dan tawa Indira, semua berputar seperti tayangan film 8mm. Memori yang menggerakkan alam bawah sadar mereka untuk mendekatkan wajah masing-masing.
“NGGGGIIIIIIIIIIIIING…..” Pesawat mendarat dan menderu, mengiringi sepasang ciuman yang mendarat di pipi Indira.
Indira tersenyum, pipinya yang lembut semakin merekah, menikmati ciuman yang datang dari dua arah. Dirangkulnya kepala keduanya, dibenamkannya kedalam wajahnya, menikmati sepasang kecupan yang bertemu di bibirnya.
Tiga bibir saling berpagut dalam gelap. Ombak berdebur, seiring degub jantung dan birahi yang mulai berdesir.
Indira memejam, terkadang menatap nanar, namun yang dilihatnya hanyalah langit yang penuh bintang. Sementara tubuh mungilnya dibelai sedemikian rupa, dan Indira tidak peduli, siapa yang sedang menciumi lehernya, atau menjilati tulang selangkanya. Indira hanya kembali memejam, meresapi.
“Mmmmh…” Indira melenguh, menikmati remasan-remasan kecil pada dadanya. Entah tangan Ava atau Sheena, Indira hanya menggeliat geli, karena pahanya sekarang sedang dijamah dan dibelai, dan… “Ooh…” kemaluannya kini diusap, pelan… perlahan… “Mmmmh….” Indira menggelinjang dan melengguh pelan… menikmati…
Perpaduan antara arak yang diminum di tempat Bob, belaian di selangkangannya, dan Sheena yang menciumi dadanya, membuat Indira semakin dimabuk birahi. Indira mengerang, dan selangkangannya semakin meremang. Sesuatu di dasar jiwa Indira semakin menggelegak, bergolak-golak seiring erangannya yang ditelan ombak, dan Indira tahu malam ini akan semakin gila….
Indira menaikkan tangannya, dan dalam sekejap meloloskan dress jingganya ke atas karang. Segera indira meraih ke belakang punggung, melepas kait BH-nya, hingga kini ia tinggal terbungkus seutas tali dengan kain segitiga kecil –g-string warna hitam yang menutup kemaluannya yang tak berbulu. Tatoo mawar itu masih ada di sana, namun nampak samar, karena hanya ada cahaya bulan sabit yang redup, serta lampu landasan pacu yang berkedip-kedip.
Ombak datang, dan memecah di karang. Airnya menciprat ke kulit leher Sheena yang mulai diciumi Indira. Sheena menahan nafas, karena ciuman Indira perlahan turun ke arah bundaran kenyal yang tumpah di antara tank-topnya, membangkitkan simpul-simpul birahi yang seperti geli, dan tiba-tiba terasa meremang di selangkangannya.
“Ummh…” Sheena melenguh pelan, bibir mungil Indira melumat bongkahan dadanya sambil meremasnya pelan.
Indira tersenyum, entah karena Ava yang memeluknya dari belakang, ataukah karena ternyata Sheena tidak mengenakan Bra! Sepasang tonjolan kecil menapak jelas, mengeras dan menegang dari balik tank top Sheena -dan segera digigit pelan oleh Indira dari luar.
“Ummh…” Sheena menggeliat, menjambak rambut Indira sambil mendesis erotis di telinganya, membuat Indira semakin berani menyusupkan tangannya ke balik tank-top Sheena, meremas langsung sepasang benda kenyal itu.
“Ooooh!” Sheena melolong, kakinya menendang pelan.
“Ssssssh…” kali ini Indira yang mendesis. Ava menciumi lehernya dari belakang, meremas payudaranya, dan bahkan menyusupkan jarinya ke balik g-string-nya. “Ava… oooooh….” Indira menjerit pelan, jari Ava mencelup ke belahan kewanitaannya yang mulai basah. “Aaaah…” Indira mengerang, sentuhan Ava membuat birahinya bergolak. Lumatan dan remasannya ke tubuh Sheena semakin kasar dan liar.
“Indira… Indira… Aaaaaahh” Sheena menggelinjang, Indira membelai selangkangannya dari luar celana jeans-nya. Sheena berusaha menepis, namun lidah Indira yang bergetar di putingnya membuat otot-ototnya lemas seketika. “Aaaaah…” matanya memejam, memasrah pada setiap belaian Indira. Nafasnya semakin memburu, dadanya semakin sesak oleh birahi yang membuncah sampai ubun-ubun. Birahi yang menggerakkan Sheena untuk membuka sendiri sabuk dan reitsleiting celananya, membuat Indira leluasa menyusupkan tangan ke atas kemaluannya yang ditumbuhi bulu. Sheena memejam, segera dirasakannya hangat tangan Indira membelai labianya, berputar-putar, memijat pelan klitorisnya.
“Indira… Aaah…” Pinggul Sheena terangkat seirama pijatan Indira, berusaha menikmati belaian jari Indira pada dinding kewanitaannya.

Tiba-tiba Sheena menaikkan pinggulnya, menurunkan skinny jeansnya beserta CD-nya. Membuat Sheena dan Ava terpaku, membatu. “Hah… hah… hh… hh…” Sheena terenggah, wajahnya memerah -penuh birahi- bingung melihat dua orang yang tiba-tiba membeliak ke arahnya.
Indira sempat tak bernafas barang beberapa detik (melihat kemaluan yang ditumbuhi bulu halus itu), sebelum membantu Sheena melepaskan jins beserta CD-nya sekaligus, hingga cewek tomboi itu tinggal mengenakan tank top ketat. Indira nyengir, segera ikut melepas G-Stringnya, telanjang bulat, tanpa tabir selain rambut yang tergerai sampai dadanya yang ranum.
Ava menelan ludah, benaknya menerka-nerka apa yang akan terjadi semenit ke depan.
Indira menindih tubuh Sheena, hingga sepasang payudara mereka saling berhimpit. Sheena terpana melihat wajah Indira yang bersemu merah, namun sedetik kemudian matanya sudah terpejam menikmati lumatan bibir Indira yang memagut bibirnya.
Perlahan tapi pasti, pinggul keduanya mulai bergerak seiring debur ombak. Maju-mundur, dan berputar-putar, hingga kewanitaan Sheena yang lebat bergesek dengan kewanitaan Indira yang polos. Klitoris mereka yang saling bersenggolan, menebarkan rasa geli bercampur gatal yang meremang, mulai dari selangkangan hingga ke sekujur tubuh keduanya, membuat sesama wanita itu mengeluarkan desahan erotis seirama angin malam.
“Sssh…”
“Oooooh…”
Indira merasakan rasa geli yang menyeruak hingga ke pucuk-pucuk payudaranya. Rasa gatal yang membuat putingnya menegang keras. “Ooooh” diremasnya payudaranya sendiri, matanya memejam menikmati serbuan bibir Sheena yang mencumbui lehernya.
Dalam badai kenikmatan, Indira melirik ke arah Ava yang sudah telanjang bulat sambil mengurut kejantanannya -melihat sesama jenis itu saling cumbu. Ava mengerti isyarat Indira, segera diarahkannya kejantanannya yang sudah menegang dari belakang, tepat di belahan kemaluan Indira yang sudah dilelehi cairan kenikmatan.
Perlu sedikit usaha bagi Ava untuk mengepaskan kejantanannya tepat di kemaluan Indira yang menggelinjang
“D-diem, dulu…”
Gelap, dan Indira tak henti meradang menggelinjang. Membuat kejantanan Ava hanya meluncur-luncur di antara bibir kewanitaan dan belahan pantat Indira. Membuat dua wanita itu melenguh, dan mengerang ketika ujung kejantanan Ava menyundul-nyundul daerah sensitif mereka.
Terjebak antara birahi dan situasi, membuatnya memikirkan alternatif kedua: Ava berlutut di antara kedua paha Sheena yang membuka. Sedikit ragu, Ava menempatkan kejantanannya di belahan kewanitaan Sheena yang (juga) sudah banjir lendir.
“Ooooh… ooh.. Ava.. kamu.. mau… ap oooooh….” Sheena tidak menyelesaikan kalimatnya, karena dalam satu kali dorongan, batang kejantanan Ava memenuhi lubang sempitnya, membuat wanita itu memejam dan mengejang pelan akibat geli yang sudah lama tidak ia rasakan. “Ava… aaah… jang… aaanhhhh…”
Sheena mengejang, namun Indira segera membelai wajahnya. “Nggak apa-apa…” bisik Indira di kuping Sheena, lembut. Segera dikecupnya bibir Sheena pelan, sambil dipeluknya tubuh Sheena yang sedikit memberontak.
“Mmmmmh….. sssssh…” Sheena mendesis dalam lumatan Indira, karena kejantanan Ava yang padat dan berurat terasa panas dan berkedut-kedut. Segera memenuhi tubuh Sheena dengan gelombang birahi yang datang berguruh-guruh seiring pinggul Ava yang mulai mengayun.
Indira tersenyum melihat mata Shena mulai merem melek, menikmati kejantanan Ava yang keluar masuk. “Ssssssh… ssshhhhh…” Bibir Sheena yang eksotis mulai mendesis erotis, yang segera disambut Indira dengan lumatan buas, memagut pelan disertai sapuan lidah yang menguas-nguas.
“Mmmmh…” Indira meremas payudara Sheena sementara Ava menyodok-nyodok kemaluannya. Membuat Sheena dibuai kenikmatan yang datang dari dua arah. Pinggulnya naik turun, menikmati kejantanan Ava yang padat dan hangat. Dadanya kembang-kempis menikmati jari-jari Indira yang meremas dan memilin puting-putingnya.
“Sssssh… ssssh… Ooooh…”
“Ngguuuuuuuung.” Erangan Sheena tenggelam oleh deru pesawat yang hendak take off.
“Ummmmh…” Sheena merasakan kejantanan Ava yang menggaruk pelan dinding kewanitaannya. “Uuuumh!” nikmat sekali dibawah situ. Sementara Indira tak hentinya mencumbui leher dan dadanya, “Mmmmmh!” geli sekali di atas sini! Keduanya membuat birahi Sheenaa semakin membumbung tinggi, seperti pesawat yang melintas tepat di atas kepalanya.
“Indira…. Indira… Ooooh….” Sheena menceracau sambil mendekap punggung telanjang Indira, hingga dada bereka kembali berimpitan. “Oooh! Ooooh! Ooooh!” Sheena menjerit penuh birahi, saat kejantanan Ava menghujam kewanitaannya sampai mentok sampai dalam. Memejam, membiarkan lidah Indira menguas pelan di leher dan telinganya. “Indira… sssssh… oooh…. Ummh…”
Indira menatap wajah Sheena yang sayu, dibuai birahi yang membuncah seperti ombak yang pecah di bawah mereka. Mata Sheena memejam, namun terkadang membeliak nanar sambil menggigit ujung jarinya.
Indira terkejut, ketika Ava tiba-tiba meraih payudaranya, meremas-remasnya dari belakang.
“Mmmh…” Indira melengguh pelan, karena sedetik kemudian Ava menciumi tengkuknya membuat Indira mengggeliat geli. “Ava… oooh….” Indira menoleh pelan, dan segera bibirnya disambut oleh Ava yang langsung memagutnya. “Mmmh… Mmmmh.. plak… plak… Oooh! Ah! Ah!” Suara lengguhan mereka bercampur dengan suara paha beradu, jeritan Sheena, dan deru ombak.
Ava terus memompa dan memompa, menindih tubuh Indira dan Sheena. Sheena terus mengejang dan menggelinjang, melingkarkan pahanya di pantat Ava. Sekilas mata Sheena bertatapan dengan Ava, saling menatap di bawah ribuan bintang. Suatu dorongan di alam bawah sadarnya membuat Sheena menjangkau punggung Ava, direngkuhnya kekar otot-otot punggung Ava hingga Indira terhenyak di antara dua tubuh yang saling peluk.
Ava menatap mata Sheena yang nanar dicumbu Indira di lehernya. Ada suatu dorongan di dalam dirinya untuk membelai wajah Sheena, lembut, yang segera disambut dengan ciuman pelan pada punggung tangannya.
“Ava… Ava…” Sheena membisikkan nama Ava di telinga Indira yang semakin terhimpit oleh dua tubuh yang saling memeluk.
“Ava… Ava… sssssh….” Shena mendesis pelan, menikmati pusaran birahi yang menghujam di selangkangannya, pelan-pelan memusar di perut, ke puting yang sedang dihisap Indira, ke kerongkongannya -hingga ia menjerit, dan menyebar ke seluruh tubuh. Gelombang birahi yang membuat sekujur ototnya tiba-tiba mengejang dan menegang tanpa bisa dikendalikan lagi.
“Ooooh…. Aku sudah hampir… oh… oh…. Oooooh….” Sheena menjerit, namun jeritannya tertahan oleh laju pesawat yang hendak mendarat. Mulut Sheena mengangga, seperti kehabisan udara. Otot-ototnya berkedutan tak terkendali, dadanya membusung-busung hingga payudaranya berguncangan kesana kemari.
Indira yang tahu Sheena segera mencapai puncak, segera melumat bibirnya.
“Mmmmmh… ooohmmhhhh… mmmmhhh!!!!!!” Sheena mengerang, menjerit sejadi-jadinya. Namun jeritannya seolah terbenam dalam derum dan decit pesawat yang mendarat tepat di ubun-ubunnya.
“NGGGGGGIIIIIIIIING….. CIIIIIIIIIIIIT...”
Perlu menunggu beberapa saat, hingga tinggal hening, desir ombak, dan nafas yang terenggah. Sheena tergeletak pasrah, menikmati sisa hempasan badai orgasmenya dalam pelukan Indira yang tak henti menciumi wajahnya.
“Kak Na cantik banget kalau orgasme.” bisik Indira, yang disertai kecupan ringan pada bibirnya. Kecupan ringan yang perlahan bangkit kembali menjadi pagutan liar. “Mmmmh….” Keduanya melenguh pelan dan saling lumat.
“Mmmh! Oh!” Sheena mengernyit karena Indira tiba-tiba menggigit bibirnya.
“Ooooh…” kali Ini Indira yang mendesis di telinga Sheena. Ava tahu-tahu saja menyodok kemaluan Indira dari belakang. “Ava… aaaaah….” Indira menoleh ke belakang, segera disambut Ava yang melumat bibirnya. “Avaaaa… iyaaaah… enak… bangeetthh… Ooooh! Oooooh!” ceracau indira sambil memegangi leher Ava.
Sheena yang terengah, mendadak naik kembali birahinya melihat wajah Indira yang meringis dan mendesis erotis. Diremasnya payudara Indira yang menggantung di depan wajahnya, pelan hingga memuntir keras pada putingnya yang dipenuhi ujung-ujung saraf sensoris, hingga membuat Indira melengguh penuh nafsu.
“Ummmmh…”
Sementara Ava mencengkeram pinggul Indira, dipompanya kuat-kuat pingulnya ke dalam liang Indira, dengan kecepatan tinggi sambil menahan geli karena sesuatu yang hampir meledak di bawah perutnya.
Indira memejam. Kewanitaannya dipenuhi oleh nikmat yang berkedut-kedut, keluar masuk, berputar-putar, menggesek dinding vaginanya yang penuh cairan kenikmatan. “Mmmmmh…. Ooooh…..” Indira melolong, nikmat itu kini menjalar sampai ubun-ubunnya, membuat kepalanya terasa ringan, dan sekujur tubuhnya mendadak menggigil. Kedua pahanya melemas seketika dan ia ambruk dengan sukses di atas dada Sheena yang kenyal dengan pantat yang masih menungging. “Ooowhh… Ooooh” jeritnya, karena posisi ini malah membuat kejantanan Ava menukik tajam menghujam g-spot-nya, membuat Indira menjerit-jerit dan berkelojotan di dalam pelukan Sheena.
“Aaaaah… aah! Aaah! Aaaah!” Indira terengah di telinga Sheena, pinggulnya naik turun seiring kejantanan Ava yang terus mengayun. “Mmmmmh…” Indira membenamkan wajahnya di pangkal leher Sheena, secara refleks menghisap leher itu.
“Mmmh…” Sheena melenguh pelan, membalas Indira dengan meremas payudaranya yang kenyal.
“Ooooh…” Indira membalas meremas payudara Sheena, memilin putingnya. Ganas! Dimabuk birahi karena Ava yang tak henti menyodoknya.
“Indira… Indira… Aaaaah….” Sheena mengerang, erotis.
“Oh! Oh! Ooh!” Ava melenguh sambil menciumi tengkuk Indira yang penuh bulu halus.
“Mmmmh… mmmmmh…” di bawahnya Sheena dan Indira saling melumat dan meremas.
“NNNGGGGGIIIIIIIIIIH!!!!”
Bertiga larut dalam nafsu birahi, hingga tak mempedulikan pesawat yang tinggal landas dan menggetarkan dada ketiganya. Karena sungguh, getaran birahi itu lebih dahsyat dari suara pesawat Concorde sekalipun.
“Ava… aku sudah... auw… aku sudah hampiiir… ooooh… oooh!” Wajah Indira seperti orang kesakitan, mengejan dan mememerah di dalam pelukan Sheena.
“Indira, aku juga udah hampir…” suara Ava bergetar.
“Tahan… aaah…”
“Enggak… bis~ oooh…”
“Ooooh! Oooh!” Tubuh Indira kejang-kejang, selangkangannya terasa gatal dan semakin menyebar sekujur tubuhnya, membuatnya semakin erat mendekap tubuh Sheena.
“Ooooh!” Ava segera menarik kejantanannya dan berguling di samping Indira. “Time-up! Time-up!” Ava terenggah menghadap laut.
“Hah… hah… hah…” Indira juga terenggah, menatap Ava dengan wajah yang memerah, sayu karena orgasme yang kentang. “Hah… hh... hh... hh... Ava... nggak... seru…”
“Gila… 1 lawan dua… gitu.. hah… ha… hh… hh… gimana… nggak…. Hah… hah… ha… hh… hh…” Ava terbata, nafasnya naik turun.
Indira memberengut. Ava tidak peduli, ia memilih telentang melihat laut dan langit yang penuh bintang, mengatur kembali nafas dan staminanya. Ava tidak membayangkan, tidak pernah ada dalam mimpi-mimpinya sekalipun untuk meladeni dua wanita dalam semalam.
“Indira!” Ava tersentak, Indira sudah berjongkok menduduki perutnya sambil cengar-cengir. “Indira.. j-jangan… be-bentar dulu… aduh… ahkh..”
Indira juga tidak peduli, ia mengangkat pinggulnya, meraih kejantanan Ava, dan…
“Aaah…” Ava mengerang pelan sambil memejamkan matanya, karena sedetik lemudian yang ia rasakan hanyalah ruang hangat dan lembab yang menelan bulat-bulat kejantanannya, bergerak berdenyut-denyut seiring dada Indira yang naik turun, memburu.
“Omh..” Indira menjerit pelan saat ujung kejantanan Ava terbenam penuh di ujung rahim, dirasakannya batang padat itu menyesaki liangnya, menimbulkan nikmat yang teramat, membuat bibirnya bergetar tipis sambil tersenyum ke arah Ava.
Seperti gelombang laut, pinggul Indira mulai mengayun. Sepasang tangannya bertumpu pada dada Ava.
“Mmmmh…” Indira menggigit bibirnya, berusaha mengejar kembali orgasmnya.
Pinggul Indira berputar, kadang mengayun ke depan dan ke belakang. Matanya memejam, berusaha menghayati gerakannya yang lebih mirip tarian. Ava mengerang pelan, dirinya seperti tersedot ke dalam tubuh Indira, kewanitaan Indira seperti hidup, mengunyah-ngunyah kejantanannya ke dalam pusaran nikmat yang seluas jagat raya.
Kali ini Ava tak bisa bersuara. Bibirnya hanya terbuka sedikit, dan matanya menatap nanar ke arah Sheena yang berbaring di sampingnya.
Sheena tak berkedip menatap sepasang mata Ava, juga bibir pemuda itu yang mengerang pelan karena Indira yang berputar ganas di atas perutnya.
“ZWAAAAAAAASSSSSSHHHHH!!!!” Ombak berdebur, dan membias ke udara.
Sheena tidak tahu, kenapa saat ini bibirnya menempel di bibir Ava. Sheena tak tahu, kenapa alam bawah sadarnya memerintahkannya membelai pelan bibir Ava, mendekap lehernya, dan~ “Mmmmh….” Ava menikmati lumatan Sheena, seperti ia menikmati kewanitaan Indira yang seperti hendak menelan sekujur tubuhnya.
Pinggul Indira naik turun, maju mundur, dan berputar-putar seperti angin ribut. Indira memejam, merintih, mengerang, entah apalagi, karena suara yang keluar dari bibirnya begitu sulit di deskripsikan. Dadanya membusung, dan diremas-remasnya sendiri dadanya sambil terus merintih.
“Ooowh! Ummh… ooooh!!!!”
Namun sedetik kemudian, rintihannya mendadak berhenti seperti juga ciuman Sheena, karena cahaya putih terang tahu-tahu menyinari tempat mereka.
Ava menahan nafas. “Hah… hh… hh… sudah kubilang, kan.” bisiknya.
“Sssst…” Sheena mengintip dari balik batu, sebuah mobil pick up putih berhenti di dekap mereka. ada tulisan AVSEC (Aviation Security) terbaca samar dibawah lampu mobil. Dua orang berpakaian seragam keluar.
Indira tiarap di dada Ava. Nafasnya memburu, perpaduan antara nafsu dan ketakutan.
“Saya tadi liat di CCTV, ada sekilas di daerah sini…”
“Ah, perasaan kamu saja, Tut! Nggak keliatan CCTV di daerah perifer gini!”
“Sekilas, Man.. sekilas…”
Suara dua orang petugas berseragam semakin dekat. Suara percakapan itu terdengar sayup-sayup.
Ava menahan nafas. Kejantanannya berkedut-kedut seiring arterinya yang berdenyut kencang. “Mmmmh…” dia melenguh pelan.
“Ssssst…” Indira menutup bibir Ava dengan ciuman.
De Ja Vu. Indira pernah merasakan perasaan ini sebelumnya. Sensasi berdebar-takut ketahuan-ini benar-benar membuatnya terangsang dan meradang. Sensasi yang dulu pernah dirasakanya ketika dilukis dengan Ava, hingga birahi yang ditahannya sekuat tenaga membuat perutnya bergetar-getar tak karuan.
“Indira... kamu mau ap... mmmh...” Indira membungkam mulut Ava, pinggulnya mulai bergerak lagi sambil mengkotraksikan otot-otot kegelnya.
“Mmmmh…” Indira mengerang tertahan, mendengarkan suara petugas AVSEC yang semakin mendekat. Jantungnya berdentum-dentum seperti birahinya.
Perasaan tegang ini mensekresikan hormon epinefrin, sementara coitus yang terjadi mensekresikan hormon endorfin. Badai epinefrin endorfin yang berpusar di darahnya, menyebab kenikmatan yang datang bertambah berkali-kali lipat!
Sheena melotot melihat kelakuan keduanya. Sementara telinganya ditajamkan untuk mendengar percakapan dua petugas.
“Udah, salah lihat kamu! Balik yok!”
“Saya yakin tadi ada!” Petugas itu bersikeras.
Ava makin pucat-pasi melihat dua petugas melangkah mendekat sambil menyalakan senter. Kejantanannya melemas seketika dalam tubuh Indira, sementara Indira yang nafsunya diubun-ubun, menghentak pinggul keras-keras, namun sia-sia.
“Nah, ketemu!!!!!” petugas itu berteriak tepat di ubun-ubun ketiga orang yang bertiarap. “Sialan, ada aja orang yang main layangan dekat bandara, kalau kena pesawat gimana!” dia mengomel, mengambil layangan yang menyangkut di atas pagar, dengan benang panjang yang berkibaran ke udara.
“Hahaha… iya… iya…” Yang satunya terkekeh, sebelum menstarter mobil patrolinya, meninggalkan Ava yang pucat pasi, dan Indira dengan orgasme yang menggantung di ujung meki.
“Balik, yuk…” suara Ava bergetar.
Sheena mengangguk, Indira diam saja.

Author : Jaya S.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar