Kamis, 18 Agustus 2016

Putri Ular Putih 6



Sejak Surat Pernyataan itu digantungkan di pintu toko, rumah pengobatan mereka semakin ramai dikunjungi orang. Bai Su-zhen pun lebih giat bekerja tanpa mengenal lelah. Namanya semakin dikenal di segala penjuru.
Pada suatu saat, Suzhou terjangkit wabah suatu penyakit. Toko obat Bai Su-zhen menjual pil penyembuh dan pencegah penyakit itu.
Pada tanggal 14 April, Lu Dong Bin berulang tahun. Ia merayakannya secara besar-besaran di kuil keluarga Lu, yang dikenal sebagai tabib terkemuka. Xu Xian berdiri di luar memandang beratus-ratus orang yang lalu-lalang di muka tokonya. Sebagian akan pergi ke kuil Lu, sebagian yang lain kembali dari sana. Xu Xian kemudian pergi menemui istrinya.
“Hari ini keluarga Lu sedang merayakan ulang tahun,” katanya. “Karena kita juga punya toko obat, aku bermaksud pergi ke kuil untuk membakar kemenyan. Apakah engkau mau ikut?”
“Aku sangat lelah. Pergilah seorang diri, karena aku tidak dapat pergi bersamamu. Tetapi cepat-cepatlah kembali. Masih banyak pekerjaan menunggu di toko.”
“Baiklah. Aku tidak akan lama.”

Xu Xian lalu berangkat ke kuil Lu, dengan membawa beberapa batang hio. Saat itu kuil keluarga Lu telah dipenuhi pengunjung. Mereka berdoa sambil membakar kemenyan. Di luar, para pedagang ramai berjualan. Para pendeta pun memanfaatkan kesempatan dengan menjual mantra-mantra sakti yang ditulis pada kertas-kertas khusus. Xu Xian memandang ke sekelilingnya. Ia membakar kemenyan dan berdoa.
Pada saat ia bermaksud pulang ke rumahnya, dilihatnya orang-orang bergerak ke sudut kanan kuil. Seseorang berkata, “Mari kita ke sana.”
Karena ingin tahu, Xu Xian ikut berjalan mengikuti pengunjung yang lain. Di luar ruang utama, ia melihat sebuah pengumuman yang digantungkan di dinding:
“Aku diperintahkan guru-guruku untuk berdoa dan memelihara hubungan baik dengan para dewa. Apa pun penyakitmu, datanglah kepadaku. Sekarang aku di sini. Jika Anda menempelkan tulisan keramat ini di rumah Anda, kujamin semua setan dan penyakit akan hilang. Namaku Guo Wei dan aku mempunyai kemampuan menguasai elemen kehidupan dan mengusir roh jahat. Siapa pun yang datang menyembah Yang Abadi, ia tidak akan salah jalan.”
Xu Xian mengenalinya sebagai pendeta penjual obat-obatan. Ia datang mendekat. Pendeta itu memakai topi berwarna keemasan, dengan lambang swastika, lambang keberuntungan di atasnya, dan mengenakan baju penganut agama Tao dari bahan linen dan sepasang sandal. Alis matanya tebal dan mulutnya lebar. Di hadapannya, terdapat sebuah meja berisi kertas, tinta dan alat tulis, bendera dan alat-alat lain untuk keperluan upacara. Karena tidak tertarik, Xu Xian bersiap-siap untuk pergi.
Tiba-tiba pendeta itu berseru. “Wo! Wo! Ada roh jahat di sini.”
Xu Xian berhenti. Ia melihat pendeta itu sedang menunjuk dirinya, sambil berseru, “Roh jahat mendekam dalam tubuh orang ini.”
Beberapa orang yang mengenal Xu Xian tertawa. “Ia keliru. Bukankah kita semua tahu bahwa Xu Xian adalah suami Nona Bai, penyelamat kita. Tidak ada roh jahat di dalam dirinya.”
Xu Xian pun ikut tersenyum. Namun tampaknya pendeta itu tak tergoyahkan. “Namaku Guo Wei. Aku sangat berpengalaman dalam mengusir roh jahat. Orang ini dikuasai dua roh jahat. Istrinya adalah roh jahat itu.”
Xu Xian berpikir, bagaimana mungkin istriku yang tidak bersalah dikatakan roh jahat. Memang benar ia mendapat uang dengan mudah. Tetapi ia baik hati. Lalu dengan suara keras Xu Xian berkata, “Ada tiga orang di dalam rumah saya. Semuanya orang baik-baik. Bukan roh jahat.”
Guo Wei menjawab, “Aku yakin ada roh jahat di sana. Di mana keluarga istrimu tinggal?”
“Ia tidak punya keluarga. Mereka semua telah meninggal.”
“Dari mana istrimu berasal?”
“Dari Sizhou. Ia membawa dua pembantu dari sana. Karena saya belum pernah ke Sizhou, saya tidak dapat berbicara banyak mengenai kota itu.”
Guo Wei lalu memejamkan matanya, dan membukanya kembali. “Kekuatan gaibku mengatakan bahwa istrimu adalah seorang peri yang jahat.”
“Apa maksud Tuan?”
“Aku tidak tahu. Yang jelas, bila roh jahat ini tidak segera dibinasakan, akibatnya akan sangat buruk untukmu!” kata pendeta itu mengingatkan.
Xu Xian menggelengkan kepala tak percaya, “Saya yakin Tuan hanya membual.”
“Ambil saja jimatku ini tanpa harus membayar,” kata Guo Wei. “Karena bila aku meminta ongkosnya, kau pikir aku ingin menipumu. Dengan ketiga jimat ajaib ini, engkau dapat menangkap roh jahat itu dan berterima kasih kepadaku. Bila tidak terjadi sesuatu, aku takkan mengganggumu lagi.”
“Baiklah! Berikan ketiga jimat itu kepada saya,” kata Xu Xian.
Guo Wei memandang pengunjung yang berkerumun di sekelilingnya. “Tuan Xu setuju untuk memusnahkan roh jahat itu. Aku sekarang akan memberinya tiga jimat ajaib.” Ia menoleh ke arah Xu Xian dan mengajarkan cara menggunakan ketiga jimat itu. “Jimat yang pertama akan melindungimu. Engkau harus menyembunyikannya di balik kursimu. Yang kedua harus kautempelkan di pintu agar roh jahat itu tidak dapat melarikan diri. Yang ketiga adalah jimat untuk menangkap roh itu. Jika engkau melihatnya bersembunyi, peganglah jimat ini. Roh jahat itu akan kembali ke bentuk aslinya, dan setelah itu engkau akan dapat menangkapnya.”
“Kata-katamu benar-benar keterlaluan,” kata Xu Xian. Ia ragu-ragu untuk menerima ketiga jimat itu.
“Ia tidak minta bayaran,” teriak seseorang. “Jadi, tidak ada ruginya mencoba.”
Xu Xian mengangguk, “Baiklah, akan kucoba.”
Pendeta itu lalu menulis tiga tulisan keramat. Jimat yang pertama disembunyikannya pada topi Xu Xian. Jimat yang kedua dan ketiga ia letakkan pada tangan kiri dan kanan Xu Xian. “Tulisan yang ketiga ini adalah yang paling penting,” katanya mengingatkan. “Jagalah agar mereka tidak melihatnya. Lakukan seperti yang kukatakan, maka roh jahat itu akan kalah.”
“Masih ada hal lain yang saya perlukan?”
“Tidak. Aku tahu kau tinggal di Rumah Kasih. Aku akan datang ke rumahmu nanti dan melihat apa yang terjadi.”
“Kalau kukatakan hal ini kepada Bai Su-zhen, pasti ia tertawa,” kata Xu Xian kepada dirinya sendiri. Ia bergegas pulang. Setibanya di rumah ia berteriak memanggil istrinya sambil melambai-lambaikan jimat itu. “Istriku, aku bertemu seorang pendeta aneh di kuil Lu. Ia mengatakan bahwa ada roh jahat di rumah kita. Lalu ia memberiku tiga tulisan keramat untuk menangkap roh jahat itu. Lucu sekali!”
Bai Su-zhen menahan napasnya. Karena tidak juga menjawab, Xu Xian tiba-tiba merasa takut dan menahan langkahnya.
“Aku mendengar apa yang kaukatakan,” teriak Bai Su-zhen dari dalam. “Mengapa engkau tidak segera masuk?” Bai Su-zhen tertawa, “Kalau aku benar-benar roh jahat, apakah engkau akan menangkapku? Kalau bukan, orang-orang akan tahu bahwa pendeta itu penipu, ‘kan?”
Xu Xian masuk ke dalam dan menceritakan di mana ia menyimpan ketiga jimatnya.
“Lakukanlah apa yang diajarkannya kepadamu,” kata Bai Su-zhen dengan tenang. “Kalau tidak terjadi sesuatu, engkau akan merasa lega.”
Xu Xian membenarkan kata-kata istrinya. Setelah menempelkan jimat yang kedua di pintu, Xu Xian memandang istrinya. Namun dilihatnya istrinya tenang-tenang saja.
“Bagaimana dengan jimat yang ketiga?” tanyanya.
Xu Xian bersandar di ambang pintu. “Aku takut menggunakannya.”
“Apakah engkau tidak percaya kepadaku?” tanya Bai Su-zhen menantang.
“Bukan demikian. Akan kulakukan sekarang juga.” Ia segera menghadapkan jimat itu ke arah Bai Su-zhen. Namun ternyata tidak sesuatu pun terjadi. Xu Xian membiarkan jimat itu jatuh ke lantai. Bai Suzhen tetap tidak bergerak.
“Engkau tahu, dari tadi sudah kukatakan bahwa pendeta itu berbohong,” kata Xu Xian. “Tetapi mengapa ia menuduh orang yang tidak bersalah?”
“Tidakkah engkau mengerti, Semua orang di sini mengenalku. Ia telah mempengaruhimu dengan bualannya, dan memberimu jimat ini untuk menangkap roh jahat. Engkau telah membuktikan sendiri, tidak sesuatu pun terjadi. Maka engkau pun berpikir bahwa pendeta itu menipumu. Namun ingatlah, ia tidak minta dibayar dan engkau tidak memberinya uang. Tetapi engkau telah memberinya sesuatu yang lebih besar, kepercayaanmu. Setelah engkau pergi, ia akan mengatakan kepada semua orang bahwa Xu Xian, suami Nona Bai, percaya kepadanya, dan dalam waktu dekat engkau akan kembali dan memberinya uang. Dengan demikian mereka akan membeli dagangannya. Dan karena ia mengatakan bahwa ia akan segera pergi dari kota ini, maka orang-orang akan bergegas membeli dagangannya. Bukankah begitu?”
“Benar juga. Akan kudatangi ia sekarang,” kata Xu Xian dengan marah.
Bai Su-zhen memberinya secangkir teh, dan tersenyum lembut. “Apa maksudmu? Jika engkau datangi ia kembali untuk mengatakan bahwa jimatnya palsu, ia pasti akan menjawab, ‘Tuan Xu, ternyata aku keliru. Syukurlah engkau belum memberiku uang. Dengan demikian, tidak ada masalah, bukan?’ Kali ini engkau telah tertipu. Kuharap lain kali engkau lebih berhati-hati. Apa gunanya berpayah-payah mendatanginya kembali?”
Xu Xian menangkap maksud Bai Su-zhen dan dengan geram melempar ketiga jimat itu ke tempat sampah. “Pendeta tua itu penipu. Mengapa semudah itu aku dipengaruhi?”
Bai Su-zhen memanggil Xiao Qing dan menceritakan apa yang baru saja terjadi. Diperintahkannya agar Xiao Qing pun berhati-hati.
“Apakah engkau membiarkan pendeta tua itu pergi begitu saja?” tanya Xiao Qing.
“Oh, ia hanya pendeta biasa. Biarkan saja.” jawab Bai Su-zhen.
“Aku tidak setuju,” bantah Xiao Qing. “Dengarkan aku. Engkau sangat terkenal sekarang. Aku yakin ia akan mencoba lagi. Tentunya hal itu akan menimbulkan masalah. Ia harus tahu bahwa engkau tidak takut pada jimat apa pun. Engkau juga harus membuktikan kepada orang banyak bahwa ia penipu. Aku akan menciptakan angin untuk menerbangkannya ke Yunnan. Ia tidak boleh berada di kota ini. Sungguh tidak aman bagi kita.”
Bai Su-zhen berpikir sebentar. “Aku rasa engkau benar,” keluhnya. “Baiklah, tetapi jangan lukai dia.”
“Tentu saja tidak,” kata Xiao Qing tak sabar.
Bai Su-zhen menceritakan kepada Xu Xian apa yang akan mereka lakukan. Namun ia tidak menyebut rencana Xiao Qing menerbangkan pendeta itu ke Yunnan. Xu Xian menyetujui sepenuhnya rencana mereka. “Pendeta Guo benar-benar penipu. Jangan biarkan ia tinggal di kota ini.” katanya.
Kemudian Xu Xian menyewa dua tandu untuk membawa dirinya bersama Bai Su-zhen ke tempat pendeta Guo. Saat itu si pendeta tua sedang duduk menanti Xu Xian. Ia melihat Xu Xian datang bersama dua orang lainnya. Dari tempat duduknya ia dapat melihat sinar putih memancar dari rambut Bai Su-zhen dan sinar hijau dari rambut Xiao Qing. Ia berteriak ketakutan. “Roh jahat berani datang ke kuil. Gawat!”
“Lihat,” kata Xu Xian, “Itu dia di sana.”
Bai Su-zhen mendekati Guo Wei. Ia melihat pendeta itu sedang memejamkan mata sambil membaca mantra-mantra.
“Iblis, berani benar engkau datang ke mari!” kata Guo Wei.
Tanpa merasa bersalah, Bai Su-zhen menatap lurus ke matanya. “Mengapa engkau menyumpah-nyumpah? Kaubilang aku roh jahat. Suamiku telah melakukan apa yang kauajarkan kepadanya, dan ternyata tidak sesuatu pun terjadi. Itu sebabnya aku sengaja datang ke sini, agar engkau dapat mencobanya dan buktikan sendiri apakah aku benar-benar roh jahat. Dan apa yang akan kaulakukan bila dugaanmu keliru?”
Orang-orang pun mulai berdatangan, “Ya, apa yang akan kaulakukan, Pendeta?”
Guo Wei menjawab, “Ia adalah roh jahat. Seandainya kata-kataku keliru, aku akan berhenti menjadi pendeta, dan meninggalkan negeri ini.”
“Kalau aku roh jahat,” kata Bai Su-zhen, “Aku akan mati. Kalau tidak, engkau harus segera pergi. Adil, bukan?”
Bai Su-zhen melihat ke sekitarnya. Orang-orang berteriak, “Tidak, itu tidak adil!”
“Kaudengar sendiri,” lanjutnya. “Itu tidak adil. Tetapi karena aku tidak ingin menyulitkan dirimu, jadi aku menyetujui persyaratan yang kauajukan.”
“Aku akan menuliskan sebuah jimat yang harus kau telan. Aku yakin engkau akan kembali ke bentukmu sesungguhnya,” kata Guo Wei.
“Baik. Silakan,” kata Bai Su-zhen tenang. Lalu ia mengambil jimat itu dan berkata, “Aku akan menelan kertas ini. Tapi katakan dulu roh macam apa aku ini.”
Pendeta itu tidak terlalu pandai. Ia tidak tahu bahwa Bai Su-zhen secara diam-diam telah mengubah bentuk aslinya menjadi seekor rubah. Karena yang dilihatnya adalah bentuk seekor rubah, maka ia berkata, “Engkau adalah seekor rubah, bukan?”
“Baiklah. Aku adalah seekor rubah. Tuan-tuan, lihatlah. Aku akan segera memakan jimat ini.” Bai Su-zhen lalu menelan kertas itu, dan meneguk secangkir air, dan meletakkan kembali cangkir itu. Kemudian dengan tenang ia berjalan ke halaman.
Guo Wei menyadari kecerdikan Bai Su-zhen. Ia mampu menyembunyikan bentuk aslinya. Tetapi siapa yang akan mempercayai kata-katanya? Pendeta itu menjadi kebingungan dan menyadari bahwa ia tidak dapat melarikan diri.
“Nah! Aku telah menelan kertas jimatmu, dan ternyata tidak sesuatu pun terjadi” ucap Bai Su-zhen.
“Ini sungguh-sungguh aneh,” kata si pendeta tergagap-gagap.
Sementara itu Xiao Qing yang telah menciptakan lima roh berbentuk manusia, berdiri di antara orang-orang yang mengerumuni mereka. Kelima roh itu berteriak, “Usir penipu tua ini!”
Guo Wei merasa keadaannya tidak aman. Ia segera kabur, menyeruak di antara kerumunan orang, dan berlari dari pintu kuil. Xiao Qing berdiri di halaman berkecak pinggang. Matanya membelalak. Bai Su-zhen memanggilnya, “Xiao Qing, engkau tidak melakukan apa yang kuperintahkan. Tetapi orang-orang telah melihat pendeta itu pergi. Mari kita segera pulang. Aku yakin pendeta itu tidak akan mengganggu kita lagi.”
Xiao Qing memahami maksud kakaknya. Ia segera pergi meninggalkan kuil itu, lalu memanggil angin hitam yang kemudian menerbangkannya ke tempat Guo Wei yang saat itu sedang berlari menyusuri lorong. Xiao Qing mencegatnya. “Hei pendeta! Mau ke mana engkau?” panggilnya.
Melihat Xiao Qing, Guo Wei berhenti berlari. Ia tahu bahwa Xiao Qing telah menggunakan ilmu sihirnya “Dari mana engkau tahu aku ada di sini?”
Xiao Qing tertawa. “Kepandaian sihirmu harus kumusnahkan,” katanya.
“Aku tidak ingin membicarakan hal itu sekarang. Aku hanya ingin melarikan diri dari Suzhou. Aku tidak akan mengatakan sesuatu pun tentang saudaramu,” kata Guo Wei gugup.
“Aku tahu engkau sudah meninggalkan Suzhou. Tetapi suatu saat engkau akan kembali lagi bersama orang-orang yang jauh lebih pandai. Sekarang engkau harus mengikuti perintahku,” bentak Xiao Qing.
“Mengikuti perintahmu? Maksudmu, engkau akan menyakiti diriku? Oh, betapa sengsaranya aku!” tangis Guo Wei.
“Menyakitimu? Tidak. Bila aku ingin membunuhmu, aku dapat melakukannya kapan saja. Aku hanya ingin menunjukkanmu sesuatu.” kata Xiao Qing. Wajahnya yang cantik tersenyum manis, kedua jemari tangannya kini berada di atas kedua belah payudaranya sendiri. Xiao Qing mulai mengusap perlahan kedua bulatan payudara yang besar itu dari balik baju terusannya. Seolah merangsang dan menggoda Guo Wei.
Guo Wei gelagapan. Kali ini benar-benar malu pada dirinya sendiri, apalagi saat merasakan mulai ada sesuatu yang lain pada tubuhnya, sesuatu yang selama ini tidak begitu dikenalnya. Tapi entahlah, melihat provokasi Xiao Qing, perasaan itu tiba-tiba saja muncul. Astaga! Gou Wei merasa batang penisnya telah berdiri tegak, tung... tung... gila, begitu cepatnya batang itu mengeras dan mendesak di balik jubah panjangnya, seolah ingin berontak keluar.
"Kamu suka dengan tubuhku?" bisik Xiao Qing memecah keheningan.
"Ah, maafkan aku... a-aku... " sahut Gou Wei gugup. Matanya tak berkedip menatap tubuh Xiao Qing yang begitu seksi, ramping dan padat.
Xiao Qing tersenyum manis. Bibir ranumnya melebar semakin indah menawan membentuk senyuman mesra. "Kamu boleh menjamahnya bila ingin," tawarnya tanpa bisa ditolak oleh Gou Wei.
Seolah ada yang memberinya kekuatan dan keberanian, Gou Wei meraih tubuh montok Xiao Qing yang berada dihadapannya dan dipeluknya erat-erat. Kedua tangannya sedikit gemetar saat jemarinya telah berada di atas pantat Xiao Qing yang bulat, mekal dan padat. Lalu mulai meremas-remas pelan disana. Pendeta itu telah terlanda nafsu. Gou Wei sudah lupa diri, setan-setan neraka telah menyapu habis pikiran sucinya.
"Ya, begitu... lakukan sesukamu. Tubuhku milikmu saat ini." kata Xiao Qing lirih. Desakan kedua buah payudaranya yang besar pada dada Gou Wei membuat batang penis laki-laki itu semakin tegang tak terkira.
"B-baik, Nona..." sahut Gou Wei tanpa mengerti maksud perkataannya. Tanpa bisa menahan lagi, ia segera meremas-remas gemas kedua bongkahan pantat Xiao Qing yang terasa kenyal dari balik gaun panjangnya.
"Oouuhh..." Xiao Qing mengeluh lirih saat Gou Wei dengan gemas mulai melumat bibirnya. Laki-laki itu menyedot dan mengulum bibir hangatnya secara bergantian atas dan bawah. Ia melakukannya dengan selembut dan semesra mungkin, membuat Xiao Qing jadi sangat menyukainya. Bibirnya berulang kali membalas dengan memagut bibir Gou Wei tak kalah gemas. Terasa begitu nikmatnya.
"Aku menginginkanmu, Xiao Qing..." bisik Gou Wei terus terang. Pikirannya sudah tertutupi oleh nafsu.
"Ooouh... aku juga ingin... auw!" Belum habis ucapan Xiao Qing, ia sedikit menjerit kaget saat Gou Wei tiba-tiba membungkuk dan meraih tubuh montoknya. Namun kemudian ia tertawa genit dan manja ketika Gou Wei mulai membopong tubuh seksinya melintasi sesemakan menuju ke padang rumput hujau yang terbuka.
Di hamparan karpet alam, Gou Wei menikmati seluruh keindahan bidadari di hadapannya ini, mulai dari wajah Xiao Qing yang cantik menawan, lekak-lekuk tubuhnya yang begitu seksi dan montok, bayangan bundar kedua buah payudaranya yang besar dan kencang dengan kedua putingnya yang lancip, perut Xiao Qing yang ramping dan rata, juga pantatnya yang bulat padat bak gadis remaja. Gou Wei membayangkan betapa indah bukit kemaluan Xiao Qing yang kelihatan begitu menonjol dari balik rok terusannya, hmm... betapa nikmatnya nanti saat batang penisnya memasuki liang vagina yang sempit dan hangat itu. Gou Wei akan menumpahkan seluruh air mani yang sudah diatahannya selama seumur hidupnya ke dalam liang vagina gadis itu.
"Sini, aku puaskan dirimu dulu." bisik Xiao Qing, membuyarkan fantasi Gou Wei. Wajahnya yang cantik tersenyum manis, seolah mengetahui apa yang ada dalam pikiran laki-laki tua itu.
Tak tahan melihat tingkahnya, ditambah betapa sakit batang penisnya yang terjepit di balik celana, dengan cepat Gou Wei membuka ikatan celananya dan menarik turun benda itu, lalu ia menyingkap jubahnya ke atas.
"Ooh..." Xiao Qing memekik kecil saat melihat tubuh Gou Wei yang sudah setengah polos. Mulutnya sedikit melongo dan kedua bola matanya yang hitam seakan setengah melotot menyaksikan batang penis Gou Wei yang sudah tegak mendesak ke atas sampai kepala penisnya tanpa bisa dicegah menyelip keluar dari celah cawatnya. Terlihat begitu besar dan tebal, persis di
bawah pusar. Kepala penisnya kelihatan bengkak memerah karena saking tegangnya. Ukurannya memang tidak terlalu panjang, namun diameternya cukup besar, juga sangat montok dan berurat.
Melihatnya membuat Xiao Qing jadi tak tahan, cepat dia mencopoti bajunya sendiri. Hanya selang beberapa detik, ia sudah berbaring telanjang tanpa tertutup sehelai benang di atas rerumputan. Betapa putih dan mulus tubuh bugilnya, jauh lebih putih dari warna rembulan yang bersinar redup di langit. Sambil tersenyum manis, Xiao Qing memamerkan seluruh anggota tubuhnya yang paling terlarang.
Kedua buah dadanya yang ternyata memang sangat besar terlihat masih begitu kencang, sama sekali tidak kendor, membentuk bulatan indah bak mangkok mie rebus. Kedua putingnya yang kecil berwarna coklat kemerahan, mengacung tegak ke atas seolah menantang Gou Wei untuk segera menjamahnya. Di bagian bawah, terlihat tidak ada sehelai rambutpun tumbuh di selangkangannya, tanda kalau Xiao Qing rajin mencukurnya.
”Ooohh...” tanpa terasa mulut Gou Wei mendesah takjub menyaksikan keindahan siluman yang ada di depannya ini. Seumur hidup baru kali ini ia menyaksikan alat kelamin wanita dari jarak begini dekat.
Belahan bibir kemaluan Xiao Qing yang sangat tajam memerah walau sedikit kecoklatan, terlihat begitu menggiurkan dengan gelambir tipis yang saling menutup rapat satu sama lain. Meskipun Xiao Qing sudah setengah mengangkang, tapi liang vagina itu seolah tetap tersembunyi, menunjukkan bahwa benda itu memang sangat sempit walaupun Gou Wei yakin kalau Xiao Qing sudah tidak perawan lagi.
Melihatnya, batang penis Gou Wei jadi semakin perkasa. Dengan cepat kepala penisnya mendesak makin ke atas hingga melongok keluar dari celah cawat yang ia kenakan, seolah ingin mengintip apa yang sedang terjadi.
”Ohh, Xiao Qing." bisik Gou Wei lemah. Lalu sreet... dengan gemas ia merobek cawatnya yang terasa membelenggu alat kelaminnya, membuat batang penisnya yang tegang langsung mengacung keluar, setengah mengarah ke atas sambil manggut-manggut naik turun menggiurkan.
Dengan rambut setengah terurai di pipi, Xiao Qing tersenyum manis menyaksikannya. Matanya seolah meredup dan pasrah. Namun nafasnya sedikit terdengar kurang teratur menandakan ia sedang dilanda nafsu birahi.
"Gou Wei, beri aku kenikmatan..." bisiknya tanpa malu-malu.
Gou Wei tersenyum penuh gairah. ”Dengan senang hati, nona Xiao.” sahutnya.
Mata Xiao Qing melirik ke bawah, menyaksikan alat kelamin Gou Wei yang menegang keras saking kuat ereksinya. "Oohh... sshh... lakukanlah sekarang, Gou Wei!" bisik Xiao Qing sedikit lebih keras. ”Naiki aku, masuki tubuhku sekarang... sshh!!" jeritnya sembari tangan kiri memegangi lengan Gou Wei, mengajaknya untuk segera bercinta. Rupanya Xiao Qing sudah begitu bernafsunya sampai tanpa sungkan-sungkan lagi meminta Gou Wei untuk segera menyetubuhinya.
Gou Wei tersenyum penuh gairah, mereka melenguh secara bersamaan saat kulit tubuh mereka saling bersentuhan dan akhirnya merapat dalam kemesraan. Gou Wei tak pernah menyangka bisa meniduri bidadari secantik Xiao Qing, apalagi mengingat statusnya sebagai pendeta penakluk siluman.
Dari dekat, ia bisa menyaksikan betapa luar biasa besarnya payudara Xiao Qing. Warnanya begitu putih dan bersih. Kedua putingnya yang kecil mungil seakan tidak sebanding dengan ukuran susunya, berwarna coklat kemerahan, terlihat sangat menggemaskan sekali. Baru kali ini Gou Wei melihat seorang wanita memiliki susu yang sangat besar seperti Xiao Qing. Besar namun sangat padat dan kenyal, tidak kelihatan turun sama sekali. Begitu besarnya hingga ketika Gou Wei mencoba menangkup dengan telapak tangannya, ia tidak bisa melingkari semuanya.
Dalam hati Gou Wei bertanya, ”Susu sebesar ini berapa ukurannya ya?” dia jadi makin tegang sendiri memikirkannya. Dengan gemas kedua jemari tanganku yang sudah hinggap di dada mulus Xiao Qing mulai bergerak meremas-remas pelan. Wow... begitu kenyal, halus dan kencang.
"Nnghh... ouhh!" Xiao Qing memejamkan kedua matanya, dari mulutnya yang tipis keluar erangan lirih penuh kenikmatan.
Gou Wei tersenyum. "Salah sendiri sudah menggodaku. Akan kunikmati tubuhmu habis-habisan." bisiknya dalam hati penuh nafsu. Dia lalu menunduk dan mulai menghisap susu Xiao Qing yang sebelah kiri secara perlahan. Lidahnya dengan gemas menyentil putingnya dan menggigit pelan.
"Auw... nngghh!" Xiao Qing merintih semakin keras.
Gou Wei jadi ikutan terangsang. Mulutnya mulai menghisap sedikit lebih keras. Ia buka mulutnya selebar mungkin, seolah ingin menelan bukit bulat itu. Gou Wei menghisap kuat-kuat susu Xiao Qing yang sebelah kiri sampai pipinya terasa ngilu, sambil lidahnya dengan ganas memilin-milin puting Xiao Qing dengan perasaan gemas.
”Ehm... augh!” rintih Xiao Qing makin tak tahan, tubuhnya bergerak semakin liar, sementara mulutnya berulang kali memekik dan mengerang keenakan menikmati sedotan Gou Wei yang asyik menjilati seluruh permukaan bukit payudaranya hingga membuatnya basah oleh air liur.
"Aaww... ngghh... aww!" tak tahan, jemari tangan Xiao Qing meremas-remas kepalaku Gou Wei dengan gemas. Mulut laki-laki itu kini berpindah menghisap payudaranya yang sebelah kanan, sementara susunya yang kiri gantian diremas-remas dengan lembut. Seperti juga yang kiri, Gou Wei mengenyot-ngenyot payudara kanan Xiao Qing kuat-kuat hingga membuat gadis itu semakin menggeliat-geliat hebat penuh kenikmatan.
"Aaww... sudah... ngghh... sudah..." erang Xiao Qing tak kuasa menahan rasa.
Tapi Gou Wei semakin bersemangat. Ia terus menghisap, mengulum, memilin, mengenyot dan menjilati payudara Xiao Qing. Bergantian kiri dan kanan, berulang-ulang kali tanpa ampun. Setelah puas, barulah Gou Wei berhenti. Ia dapat melihat kedua buah dada Xiao Qing yang tadinya begitu putih dan mulus, kini telah basah penuh liur, dan disana-sini tampak cupang kemerahan bekas hisapan mulutnya, terutama di sekitar kedua putingnya yang kini tampak semakin tegak dan memerah.
”Aghh...” Xiao Qing berdiri dan memandangnya sayu. Wajah cantiknya yang berkeringat kelihatan memerah seolah menahan sesuatu, bibir bawahnya digigit keras seperti geram, kedua matanya yang sedikit merah memandang Gou Wei seolah meminta.
Lalu dengan cepat tanpa diduga sama sekali, Xiao Qing menggulingkan tubuh montok seksinya yang putih mulus ke atas tubuh Gou Wei, menaiki tubuh laki-laki tua itu. Kedua pahanya dibuka lebar-lebar hingga bokongnya yang bulat padat terasa begitu kenyal menghimpit buah zakar Gou Wei, sementara bukit kemaluannya yang besar terasa begitu empuk menekan batang penis Gou Wei yang sudah sangat tegang.
Sambil menyunggingkan senyuman sadis, Xiao Qing berbisik. "Sekarang lihat, apa yang bisa kulakukan pada tubuhmu."
Gou Wei yang masih terkaget-kaget menyaksikan ulah gadis itu hanya bisa melongo sambil menikmati sentuhan tubuh montok Xiao Qing pada batang penisnya. Tak berkedip ia pandangi payudara besar Xiao Qing yang mengacung kencang ke depan, memamerkan kedua buah putingnya yang kelihatan sedikit membesar keras dan berwarna coklat kemerahan.
Gou Wei masih terpana memandang keindahan tubuh Xiao Qing, ketika dengan cepat Xiao Qing mengangkat pinggulnya yang ramping ke atas, lalu membimbing batang penis Gou Wei ke depan mulut liang vaginanya dan dengan perlahan menurunkan pinggulnya.
”Oogghh... ahh...” Gou Wei mendelik dan mengerang menahan nikmat saat penisnya mulai menusuk liang vagina Xiao Qing yang merah basah. Belahan sempit itu perlahan tersibak dan menjepit batang penisnya.
Xiao Qing kini setengah membungkuk, dia memandang Gou Wei dengan senyuman manisnya kembali, bibirnya yang ranum merekah indah. Kedua buah dadanya yang besar dan kencang terlihat setengah menggantung bak buah pepaya yang sudah matang dan siap untuk dipanen. Lalu dengan perlahan ia mulai menggoyangkan pinggulnya naik turun secara perlahan, menggesekkan daging liang vaginanya dengan batang penis Gou Wei yang sudah tegang tak terkira. Seolah tidak ada hambatan, kedua alat kelamin itupun saling beradu dan bergesekan.
"Uhh... uhh... uhh..." Xiao Qing merintih kecil setiap kali pinggulnya bergerak turun, memasukkan kembali batang penis Gou Wei yang besar ke dalam liang vaginanya.
Wajahnya yang cantik bergoyang lembut seiring dengan goyangan pinggulnya yang makin lama makin terlihat menggemaskan. Kedua matanya dipejamkan rapat seolah sedang meresapi persenggamaan yang benar-benar luar biasa ini. Kedua buah dadanya yang besar terguncang-guncang begitu indah bak buah kelapa yang mau jatuh.
”Ohh... hahh... hahhh...” erang Gou Wei menahan nikmat.
Ia masih tak percaya bisa menyetubuhi makhluk cantik bak bidadari seperti Xiao Qing. Batang penisnya yang sedang menancap di liang vagina gadis itu bagai dikocok, dibelit, disedot dan dikenyot habis-habisan oleh daging lembut yang luar biasa sempit dan licin itu. Sukar untuk diungkapkan dengan kata-kata karena saking nikmatnya.
"Aaahahh..." Gou Wei mengerang panjang sambil sejenak menahan napas untuk menghambat agar air maninya tidak sampai muncrat keluar. Tapi apa daya, jepitan liang vagina Xiao Qing benar-benar membuatnya tak tahan. Apalagi ini adalah persetubuhannya selama beberapa puluh tahun, jadi pantas saja dia tidak bisa menahan nafsunya.
"Uuh... kamu sudah mau keluar?" tanya Xiao Qing genit.
"I-iya," sahut Gou Wei gemas. "ooh... aku benar-benar tak tahan lagi."
Tidak menjawab, Xiao Qing terus menggoyang pinggulnya naik turun semakin cepat. Bak tanggul jebol, sambil meremas gemas kedua payudara Xiao Qing yang bulat besar, Gou Wei menggeram keras dan melepaskan puncak kenikmatannya. "Aaagghhghghhgaahh..." teriaknya penuh nikmat. Air maninya dengan deras menyembur keluar dengan tembakan-tembakan yang keras dan kuat. Liang vagina Xiao Qing jadi sangat licin jadinya.
Beberapa saat kemudian, gadis itu bergulir turun dari atas tubuh Gou Wei, membuat penis Gou Wei yang mulai lemas seakan tercabut dari penutupnya. ”Ughh...” Gou Wei merintih kegelian. Sejenak ia termenung, memikirkan semua perbuatannya barusan, begitu lemahnya dirinya oleh yang namanya nafsu birahi. Bagaimana Gou Wei harus mempertanggungjawabkan semua ini kepada Dewa.
”Aku benar-benar gila, telah berani meniduri seorang siluman yang harusnya pantas aku bunuh.” Pikiran Gou Wei seperti buntu memikirkan semua itu.
Seakan mengerti apa yang sedang terjadi, Xiao Qing mencium mulutnya dengan hangat dan mengulum bibir bawah Gou Wei sejenak. Anehnya, Gou Wei sendiri tak bisa menolak dan membiarkan semua itu terjadi.
"Sudahlah... kalau memang ada yang harus disalahkan, akulah orang itu. Dewa pasti bisa mengerti." bisik Xiao Qing lembut menenangkan.
Mau tak mau Gou Wei tersenyum letih. "Iya, mudah-mudahan saja." jawabnya pendek.
“Mari!” ajak Xiao Qing. “Sekalipun di sini sepi, sewaktu-waktu akan ada orang lewat. Naiklah!”
Guo Wei mendapatkan dirinya terbang di langit. Ia memejamkan matanya ketakutan. Xiao Qing memegangnya erat-erat. Mereka melaju dengan cepat berkat angin ciptaan Xiao Qing. Guo Wei tidak berdaya dan terpaksa menaati perintah Xiao Qing. Ia tidak tahu berapa lama mereka terbang, namun bulan telah bersinar ketika mereka mendarat di suatu jalan besar. Mereka telah berpakaian kembali.
“Engkau berada di Yunnan sekarang,” kata Xiao Qing. “Kota terdekat kira-kira 16 km jauhnya dari sini Pergilah ke sana. Aku telah meminta kepada dewa-dewa di bumi ini untuk mencegahmu pergi dari Yunnan. Bertindaklah lebih hati-hati!”
Guo Wei tak dapat membantah.
Xiao Qing kemudian memasukkan tangan ke sakunya untuk mengambil sejumlah uang dan memberikannya kepada Guo Wei. “Ini untukmu, pakailah. Setiap kali engkau membayar dengan uang ini, engkau akan teringat pada kemurahan hatiku.”
Guo Wei tidak menyangka bahwa Xiao Qing akan memberinya uang. Ia membungkuk dalam-dalam dan berkata, “Aku sangat berterima kasih kepadamu.”
Xiao Qing menjawab, “Setidaknya, engkau telah berhutang budi kepadaku. Pergilah sekarang juga!”
Kemudian dengan mengendarai angin, Xiao Qing terbang kembali ke rumahnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar