Selasa, 09 Agustus 2016

Rumah Kontrakan 6



Ceritaku sebelumnya adalah saat aku jalan-jalan ke puncak bersama dengan Siska dan menemukan hal-hal yang tidak kami duga sebelumnya; yaitu melihat mas Anton dan bosnya sedang bersenang-senang dengan sekretarisnya.
Sepulang dari puncak, kami pun berpisah untuk beristirahat di rumah kami masing-masing. Minggu malam, suami Siska sudah kembali juga dari perjalanan ke puncak dan aku menyaksikan pasangan tersebut bertengkar. Kulihat Siska mencari-cari persoalan sampai akhirnya suaminya tertidur kelelahan tanpa memperdulikan Siska yang masih emosi, rupanya dia belum bisa menerima apa yang dilihatnya di puncak.
”Suamimu pasti juga akan berlaku sama denganmu, Sis, kalau melihat kau kusetubuhi, bahkan sampai berulang kali, hehehe...” pikirku.
Malam ini pikiran nakalku sedang berputar, aku teringat akan Mitha, adiknya Ece Geulis. Oh iya, kangen juga aku sama nih cewek, sepertinya sih nih cewek masih lugu banget. Aku ingat waktu dia nggak sengaja melihat torpedoku, wajahnya langsung memerah seperti kepiting rebus. Belum kau merasakan kalau torpedoku masuk ke dalam liang nikmatmu, Mith, wajahmu pasti lebih merah!

Ah, aku mau intipin dia malam ini, tapi seingatku rumahnya belum kupasang kamera pengintai. Untunglah aku masih punya sisa beberapa kamera, akupun segera naik ke atap rumahku dengan membawa beberapa kamera pengintai dan kabel. Aku berjalan perlahan menuju rumah Mitha dan berusaha mencari celah, tak sulit aku mendapatkannya karena hampir setiap rumah sama kondisinya. Aku melihat-lihat sebentar ke dalam kamarnya sebelum kupasang kameraku.
Aku melihat suatu pemandangan yang luar biasa karena kulihat Mitha tengah tertidur di kasurnya dengan hanya memakai cd dan bra warna hitam yang sexy, tepatnya dia pakai lingerie yang sungguh sexy. Tebakanku benar sekali kalau cewek ini sexy sekali dan begitu montok. Pakaian yang dipakainya waktu bertemu denganku tidak dapat menutupi kemolekan tubuhnya. Aku menelan ludah beberapa kali melihat hal itu dan torpedoku kurasakan memberontak di celanaku yang kini terasa sempit. Ingin rasanya aku turun ke bawah dan langsung menyetubuhi Mitha sekarang, tapi akal sehatku masih bekerja hingga kutahan diriku.
Lalu aku mulai memasang kamera pengintai di atas kamarnya, juga di ruang tamu dan satu lagi di kamar mandinya. Setelah memuaskan pandanganku, akupun segera turun ke kamarku dan mulai kunyalakan komputer untuk melihat hasilnya. Dengan kameraku yang lumayan canggih, aku mencoba untuk menzoom tubuh Mitha… Ooh indahnya! Tak terasa tanganku sudah mengeluarkan torpedo dan mencoba untuk onani.
Tapi, ah bodoh sekali aku! Kenapa akan kubuang percuma pejuku, kenapa tidak kulampiaskan saja nafsuku ini? Apa kupanggil saja Siska, pikirku. Tapi hari ini perasaannya sedang tidak bagus. Apakah Ece yang kusetubuhi ya? Ah, coba kulihat apakah dia sudah tertidur apa belum, dan apakah suaminya ada di rumah. Aku mulai melihat-lihat rumahnya. Kusaksikan di layar komputerku, Ece Geulis sedang menidurkan anaknya di kamar, lalu setelah anaknya tidur dia berjalan menuju lemari pakaiannya dan mengambil sepotong pakaian tidur sexy berwarna merah. Menuju kaca riasnya, dia mulai melepas baju kaos yang dikenakannya dan menggunakan baju tidur tersebut. Setelah terpakai, dia mematut dirinya di cermin sambil bergaya-gaya sexy.
Akupun tersenyum kecil melihat tingkahnya, sambil terkagum-kagum melihat kesexy-an tubuhnya. Ah, aku beruntung malam ini, ternyata ada tempat pencurahan nikmat, hehe. Segera kuambil handphoneku dan kucoba untuk sms Ece Geulis.
“Halo, Ece… sudah tidur?” sapaku. Kulihat di layar monitor, dia berjalan menuju sumber bunyi handhone dan melihat sms yang kukirim, kulihat dia tersenyum.
“Eh, kamu Ardi... aku belum tidur, ada apa ya?” jawabnya.
“Nggak ada apa-apa, Ce… cuma kangen aja pengen foto-foto Ece yang cantik pakai baju tidur yang sexy.” kataku lagi. Kulihat di monitor, dia agak terkaget mendapat sms dariku.
“Koq kamu tahu aku lagi pakai baju tidur yang sexy?” tanyanya.
“Tadi tuh aku lagi tidur, trus mimpi Ece pakai gaun malam sexy warna merah. Waktu terbangun, aku jadi ingat Ece.” jawabku berkilah.
“Oh gitu, koq bisa samaan mimpinya? Aku juga lagi pakai gaun malam sexy warna merah, Ar.” jawabnya.
“Masa sih? Ah, aku nggak percaya,” jawabku.
“Benaran, aku nggak bohong. Kalau nggak percaya, kamu datang aja kesini, mau gak?” jawab Ece.
“Emangnya suami Ece nggak di rumah?” tanyaku pura-pura.
“Nggak tuh, dia tugas malam lagi. Udah, kamu kesini aja, lagian ngapain di kamar kamu sendirian, mendingan temenin Ece disini, datang ya!” pintanya.
“Emangnya kita mau ngapain, Ce? Hehe, Ece dah kangen ya sama kontolku?” candaku.
“Huh, dasar nakal… tapi iya sih, aku kangen berat nih sama punya kamu, hihi.” jawab Ece.
“Ok deh kalau gitu, aku ke tempat Ece.” jawabku. Akupun segera beranjak, dengan hanya menggunakan sarung tanpa celana dalam, akupun menuju rumahnya dan langsung dibukakan pintu olehnya.
“Tuh kan bener aku pakai gaun merah. Sexy nggak, Ar?” kata Ece sambil bergaya di depanku.
“Wow, iya yah... Ece sexy banget, kontolku bisa ngaceng nih kalau melihat Ece begini,” candaku.
“Ah masa, coba kuperiksa... hihi.” sambil tangannya meraba sarungku dan memegang kontolku yang memang sudah membesar dari tadi. “Ih, iya lho, Ar... kontol kesayanganku sudah besar. Coba kulihat, masih sama nggak bentuknya,” katanya sambil membuka sarungku lalu dengan bernafsu segera menggenggam kontolku dan menciumnya, menjilatinya dan terus mengulumnya. Aku suka dengan apa yang ia lakukan.
“Ar, kamu kemana aja sih? Ece kangen banget sama kamu, tau! Hhhmm...” tanya Ece sambil terus mengulum kontolku.
“Shsshh... ah, aku nggak kemana-mana, Ce. Cuma belakangan ini baru masuk kerja... oh iya, Ce, Ece punya adik perempuan yang namanya Mitha ya?” tanyaku menyelidik.
“Iya... hhm, dia tinggal di sebelah rumah Ece. Kamu tau dari siapa?” tanya Ece.
“Ouch... ssshh... duh, enak banget, Ce… ahh... aku pernah ketemu sama dia, sekali di depan rumah.” jawabku.
“Iya, dia baru datang dari kampung untuk kuliah.” tambah Ece.
“Cantik juga ya, Ce, nggak kalah sama Ece cantiknya.” sambungku.
“Huh, dasar nakal… awas ya, jangan diganggu adikku itu, dia masih lugu.” kata Ece mengancam.
“Duuh… Ece cemburu ya? Aku kan masih single, Ce, masa tidak boleh kenal sama dia? Lagipula, kalau dia sudah mengenalku, pasti dia akan senang sekali... yah seperti Ece, kan senang sekali kenal dekat sama aku, heheh!” candaku sambil kuselipkan tanganku ke gaunnya lalu kuremas dadanya yang montok dan terus kupermainkan pentilnya yang terasa sudah mengeras.
“Huh, dasar nakal...” sahut Ece merengut.
“Dia belum punya pacar, Ce?” tanyaku lagi.
“Sepertinya belum... ih, kamu tanya-tanya terus, ayo donk masukin kontolmu, aku dah kangen berat nih, hihi.” sahut Ece lalu segera membuka seluruh bajunya dan membaringkan diri di sofa ruang tamu, tubuhnya yang bugil terlihat begitu menggairahkan. Aku pun segera membuka bajuku dan mendekatinya, kuminta dia untuk menungging memasang gaya doggy style. Dari belakang, aku mulai memasukkan torpedoku.
“Ohh... enaknya batangmu, Ar… uuhs... masukin yang dalam… aku kangen berat nih sama batangmu…” rintih Ece.
“Iya, Ce... aku juga kangen sama memek Ece…” balasku. Aku terus menggenjot tubuhnya dengan penuh nafsu karena malam ini Ece terlihat sangat sexy sekali. Begitu asyiknya kami bersetubuh hingga tak sadar ternyata rintihan dan erangan nikmat kami terlalu keras sampai membangunkan anaknya Ece.
“Ma, mamah lagi ngapain?” tanya anak itu sembari melihat dengan raut wajah kebingungan.
“Eh, Riri dah bangun ya… ini mamah lagi dipijat sama om. Mamah lagi nggak enak badan. Kamu tidur lagi gih, nanti mamah temani kamu setelah selesai dipijat sama om...” jawab Ece dengan nada kaget dan segera mengambil baju untuk menutupi tubuh bagian depannya yang terbuka, lalu segera merubah posisinya sehingga berhadapan muka dengan anaknya. Sedangkan aku duduk di sofa sambil memangku tubuh Ece yang bugil dan torpedoku yang tegang masih berada di dalam lubang memeknya.
“Nggak mau ah, mah… aku mau ditemani sama mamah.” jawab anaknya.
“Tapi mamah belum selesai dipijat, Ri… udah, kamu jangan nakal ya!” balas Ece.
“Uuuh... aku tidurnya disini aja deh…” jawab anaknya.
“Ya sudah kalau begitu, tapi janji nggak boleh ganggu mamah ya.” jawab Ece.
Anak itu mengangguk.
“Udah sana, ambil bantalnya bawa kesini.” kata Ece lagi.
“Iya, mah...” jawab anaknya.
“Waduh gimana nih, Ce… nanti kita bisa ketahuan lho.” kataku takut-takut.
“Udah, kamu tenang aja. Dia kan masih kecil, masih belum ngerti soal ginian. Aku juga pernah kepergok sama dia waktu main sama suamiku, aku pakai alasan yang sama, dan dia nggak banyak tanya-tanya lagi. Sudah, lanjutin aja, Ar...” jelas Ece.
“Ok deh kalo gitu. Lagian udah nanggung juga nih, masa mau jadi gatot, hehe.” balasku.
“Gatot? Apaan tuh, Ar?” tanya Ece.
“Gagal ngentot, Ce, hehehe.” jawabku.
“Ih, nakal kamu... bikin aku gemes aja.” kata Ece sambil membelai kepala dan pipiku.
Dengan posisi memangku Ece di sofa, aku menjadi leluasa untuk memegang kedua payudaranya. Aku pun mulai meremasnya. Kupilin-pilin putingnya yang mengganjal kemerahan. Tak lama anaknya muncul dengan membawa bantal guling, kelihatannya dia sudah sangat mengantuk.
“Tuh, disitu aja tidurnya, Ri.” kata Ece sambil menunjuk ke sofa yang ada di seberang kami.
“Iya, mah… mamah koq dipijatnya gak sama papah?” tanya anaknya.
“Papah kamu kan lagi kerja... badan mamah dah nggak enak banget nih, kebetulan aja om Rony mau bantuin mamah. Iya nggak, om Rony?” kata Ece menjelaskan sambil berbohong dengan mengganti namaku menjadi Rony, mungkin dia takut nanti anaknya keceplosan bicara sama suaminya.
“Iya nih, om kasian lihat mamah kamu sakit, jadi om bantuin pijitin.” balasku sembari meremas kedua payudara Ece yang ditutupi baju.
“Ohh… uucsh… sudah, kamu tidur gih. Ayo, om Rony, dilanjutin donk pijatnya... saya dah nggak tahan nih.” balas Ece.
“Ok deh,” balasku, kulihat anaknya yang masih berumur kurang dari 3 tahun itu mulai memejamkan matanya lalu tertidur. Mudah-mudahan saja dia belum mengerti, kalau tidak bisa berabe urusannya, hehe... pikirku.
Akupun mulai menciumi bagian belakang tubuh Ece sambil sesekali menggigit tempat-tempat sensitif di tubuhnya, sementara tanganku tak berhenti meremas dan memilin puting payudaranya. Ece pun bereaksi dengan mulai menggoyang-goyangkan pantatnya naik turun.
“Ooohh… uuchss… enak banget pijatan kamu, Ron… aahh… kalau tiap malam bisa dipijat sama kamu, pasti badanku sehat nih... aahs!” rintih Ece sambil terus bergoyang dan semakin lama semakin cepat. Hampir kira-kira 10 menit kami melakukan gaya tersebut hingga akhirnya pertahanan Ece pun jebol.
“Aah... enak banget, Ar... eh, Ron... teruss... aku tekan yang dalam ya... uuhh... sebentar lagi aku nyampe… aahhs... akuuu… suuudahhh, Ar…” rintih Ece dengan tubuh melengkung menahan nikmat karena orgasme.
Aku meminta Ece untuk merubah posisi dengan terlentang dan kuminta dia membuka pahanya lebar-lebar, lalu mulai kumasukan torpedoku. Segera saja kugenjot tubuh mulus Ece dan kutancapkan torpedoku dalam-dalam ke lubang memeknya.
Tubuh Ece bergoyang-goyang dan kedua payudaranya pun ikut bergoyang, membuat aku gemas untuk segera mencium dan menghisapnya. Tubuh Ece menggelinjang penuh nikmat mendapat serangan seperti itu dariku, rambut kepalaku terus diremas-remasnya kuat.
“Ayo terus, Ar... puaskan aku… sembuhkan aku, Ar… tekan yang dalam... uuuh... aahh...” rintih Ece.
“Iya, Ce... ah, tenang aja... aku pasti sembuhin kamu… badan Ece pasti sehat besok waktu bangun pagi.” balasku sambil terus kupompa lubang nikmatnya, kulihat Ece sudah mulai terangsang kembali. Kuciumi bibirnya dan lidah kamipun saling bergelut, menambah sensasi kenikmatan kami berdua.
Kira-kira 10 menit aku menggenjot tubuh Ece dan keliatannya sudah ada hasilnya. “Ooohhh... terus, Ar… aku mau nyampe nih… terus… uuuh… enak banget, Ar…” rintih Ece.
“Iya, Ce... kita bareng-bareng ya… aku juga mau ngecrot nih… aah, enak banget memek Ece.” kataku. Genjotanku pada tubuh Ece semakin cepat dan akhirnya…
“Aaahhhh... Arr, enak... terusss... aah, aku keluar, Aar!!” jerit Ece sambil melingkarkan kakinya pada pinggangku.
“Aahh… sshh… aku juga, Ce…” balasku sambil kutancapkan torpedoku dalam-dalam ke liang memeknya.
Kamipun tergeletak kecapekan di sofa. Kami beristirahat sebentar, setelah itu aku membantu Ece untuk menggendong anaknya ke tempat tidur. Lalu kami kembali ke ruang tamu dan duduk berdua di sofa dengan tubuh yang masih telanjang. Ece tiduran di pangkuanku sambil membelai torpedoku, sesekali ia juga menciuminya dengan penuh rasa sayang. Sambil berbincang-bincang, akupun membelai tubuh Ece, sesekali kuremas dan kumainkan puting payudaranya.
Setelah cukup beristirahat, kami kembali menghabiskan waktu dengan menyalurkan nafsu syahwat kami berdua hingga beberapa kali, sampai kami kelelahan tak bertenaga. Aku pun pamit untuk beristirahat di rumahku. Sebelum tertidur, masih sempat kuperhatikan Ece bercermin di depan kaca sambil tersenyum-senyum, lalu merebahkan diri untuk tidur. Kelihatannya dia puas sekali setelah kuentot berulang kali. Kumatikan komputerku dan kunyalakan alarm untuk bangun pagi-pagi sekali karena aku mau ngintip Mitha mandi pagi. Uuh, pasti indah sekali. Aku harus segera tidur karena besok hari libur nasional, aku mau manfaatkan liburanku untuk mendekati Mitha, hehe. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar