Jumat, 05 Agustus 2016

Sengsara Membawa Nikmat 12



Kini Alya sudah tak berkutik lagi, ia sangat menyayangi Opi. Alya tak ingin sesuatu terjadi pada buah hatinya itu. Sementara Opi yang mendengar keributan di ruang tengah segera keluar dari kamarnya. Melihat hal itu Bejo pun segera melepaskan cengkeraman tangannya dan memberi kode pada Alya untuk bersikap biasa saja.
“Ada apa, Ma, kok Opi tadi dengar ada suara orang yang sedang ribut?” tanya Opi pada Alya.
“Tak ada apa-apa, Sayang. Sekarang Opi masuk kamar ya, mama baik-baik saja kok.” kata Alya, meminta buah hatinya untuk masuk ke dalam kamar.
“Bener nggak ada apa-apa kan, Ma? Ya udah, Opi ke kamar ya, Ma.” Gadis cilik itu meninggalkan mamanya yang saat ini sedang dalam tekanan, dan Opi tidak mengetahui hal itu. Alya pun tak ingin memberitahu deritanya tersebut pada sang anak, biarlah semua ini disimpannya sendiri.
“Sekarang bawa aku ke kamarmu, aku ingin memakai memekmu semalaman penuh. Ayo cepat!”

Dengan sangat terpaksa Alya harus menuruti kemauan Bejo, ia pun berjalan menuju kamarnya diikuti Bejo di belakang. Berjalan di belakang Alya, tangan-tangan nakal Bejo tidak tinggal diam, orang tua itu menampari pantat Alya yang semok dan bahenol. Saat sudah sampai di dalam kamar, Bejo yang sudah merasa gairahnya memuncak sampai ke ubun-ubun, dengan kasar menarik  Alya menuju ranjang tidur. Lalu orang tua bertubuh gemuk itu membanting tubuh Alya yang dirasanya ringan ke atas ranjang empuk itu.
Posisi Alya kini tidur terlentang di atas ranjang, sementara kedua kakinya menjuntai ke lantai. Bejo kemudian melepaskan semua pakaian yang dikenakannya, orang tua buruk rupa itu kini telah bugil di hadapan Alya. Kulitnya nampak hitam legam dengan bulu-bulu lebat yang tumbuh di dada, sementara batang kontolnya sudah tegak berdiri. Melihat hal itu Alya merasa sedikit tercengang melihat perubahan pada diri Bejo yang dulu dengan sekarang; dulu kontol Bejo tidak sebesar saat ini, wanita itu bergidik ngeri melihat kontol Bejo yang tumbuh sangat besar.
 Waktu terus beranjak menuju malam, dan malam itu mungkin awal mimpi buruk bagi Alya. Sementara itu Bejo hanya menyeringai saat menatap mangsanya yang tergolek tak berdaya di atas ranjang.
“Kamu mungkin tidak tahu bagaimana tersiksanya aku saat masih berada di dalam penjara. Karena kalian lah aku harus meringkuk di penjara. Kalian telah dibantu oleh si kunyuk jelek itu, tapi si kunyuk dan suamimu yang bodoh itu telah mampus. Mungkin mereka sudah tenang di alamnya, tapi mungkin juga kalau melihat kamu sekarang, mereka pasti ingin hidup lagi. Hahaha...”
Bejo tertawa terbahak, orang tua itu mulai melucuti pakaian Alya. Dengan kasarnya ia menarik celana leging yang dipakai wanita cantik itu.
“Lihat saja nanti, aku juga akan meniduri adikmu si Lidya itu. Apakah ia masih bisa jutek saat memeknya aku coblos dengan kontolku ini? Dan aku jamin adikmu itu akan selalu ketagihan sama kontolku ini. Hahaha,” kata Bejo yang mulutnya terus menyerocos sambil menelanjangi wanita cantik itu, semua pakaian yang dikenakan Alya telah dilepaskan olehnya.
Kini wanita itu telah telanjang bulat dan tergolek lemah di atas ranjang, nampak air mata keluar dari sudut mata Alya. Dia hanya bisa menangis tanpa berani melakukan perlawanan.
“Ckckckck... lama tak bertemu, tubuhmu masih bagus juga, mbak Alya. Montok dan padat berisi, aku suka. Apalagi susumu itu, huufffftt...”
 Bejo membungkukkan badan, tangan-tangan kasarnya mulai menggerayangi tubuh molek Alya yang putih mulus. Lidahnya juga mulai menjilati daun telinga Alya, sementara tangannya meremas dan memilin payudara montok milik Alya, membuat Alya menggelinjang merasakan sensasi geli saat kumis Bejo bergesekan dengan kulitnya yang halus.
“Ugghhhhmm...”
Bejo terus melancarkan aksinya, memberi rangsangan pada Alya. Kini jilatan lidahnya telah turun di ketiak wanita cantik itu, Bejo menciumi ketiak Alya. Aroma tubuh Alya sungguh dirasakan wangi sekali olehnya, berbeda dengan para pelacur jalanan yang sering ia tiduri. Orang tua itu semakin bernafsu, jilatan lidahnya yang kasar kini beralih ke bagian payudara montok Alya. Dengan gemasnya Bejo mempermainkan payudara itu, menghisapi putingnya yang memerah. Tidak hanya itu saja, terkadang Bejo juga menggigit kecil puting payudara Alya. Membuat Alya melenguh, tangannya terlihat meremasi sprei tempat tidurnya.
“Aaaakhhhh...”
Bejo semakin intens memberikan rangsangan di daerah sensitif pada tubuh Alya, orang tua itu kini membenamkan kepalanya di selangkangan Alya. Bejo mulai menjilati liang vagina Alya.
“Ya Tuhan!” Alya menggigil tak berdaya menerima rangsangan yang diberikan orang tua itu, kenikmatan yang dulu pernah ia rasakan saat diperkosa Bejo kembali terulang. Alya memang pernah bermain cinta dengan Paidi, tapi berbeda orang berbeda pula sensasi kenikmatannya. Walaupun Bejo lebih cenderung kasar, namun dalam hati Alya mengakui bahwa orang tua itu memang pandai sekali membangkitkan birahi lawan jenisnya.
Alya menggerakkan pinggulnya karena rangsangan luar biasa yang diberikan orang tua buruk rupa itu, tubuh seksinya terlihat melonjak-lonjak. Sementara Bejo merasakan jemari Alya menjambak rambut tipisnya yang tumbuh di bagian belakang, orang tua itu tahu betul bahwa mangsanya kini telah tenggelam dalam nafsu birahi dan siap untuk disebadani. Liang vagina Alya telah basah oleh cairan cintanya sendiri.
 Bejo bangkit dari tempatnya, orang tua itu bersiap menyetubuhi wanita cantik itu. Sementara Alya sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi, toh apa yang bisa ia perbuat sekarang selain pasrah. Bejo tersenyum penuh kemenangan, kini ia bisa memiliki sepenuhnya wanita cantik yang selama ini menjadi idamannya. Alya sudah berada dalam genggamannya.
“Siap-siap digenjot ya, Mbak Alya,”kata Bejo sambil menyeringai
 Dia mulai menggesek-gesekkan kontolnya di bibir vagina Alya. Setelah dirasakan pas, kontol gemuk yang besar itu menerobos masuk ke dalam vagina Alya. Alya membeliakkan mata saat benda tumpul hampir segede lengannya itu mulai membelah liang memeknya,
“Auuuuwwwww... pelan-pelan, Pak!” jeritnya terdengar pilu sampai wanita cantik itu menitikkan air mata karena merasakan nyeri di selangkangan, kontol Bejo terasa penuh di dalam liang vaginanya.
Bejo mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur, gerakannya semakin lama semakin cepat dan terlihat mulai stabil. Alya mulai merasakan sensasi kenikmatan menjalar di seluruh tubuhnya; mulutnya menganga keenakan dan rahangnya mengeras, pandangan matanya mengabur karena kenikmatan yang ia rasakan. Kenikmatan bersetubuh dengan Bejo yang pernah ia rasakan dulu saat diperkosa oleh orang tua itu kembali terulang.
“Ahh, ahh, ahh, ahh, ahhh...” lenguh Alya pasrah saat orang tua itu menyetubuhinya.
Bejo membungkukkan badan, tangannya meraih dagu Alya. Bibir Alya yang ranum dan tipis itu ia lumat dengan rakus sambil terus memompa lorong vagina si cantik. Suara kecupan terdengar bercampur dengan suara tumbukan antara dua kelamin, tangan kasar Bejo juga meremasi payudara Alya yang montok. Jilatan lidahnya kini beralih di wilayah payudara montok itu. Saking gemasnya dengan payudara Alya yang besar, putingnya pun ia gigit dengan lembut, membuat wanita cantik itu mengerang merasakan kenikmatan luar biasa.
“Aaaaaakkkkhhhhhhhh...”
Bejo semakin bernafsu memompa vagina Alya, rintihan suara Alya seakan menjadi pemacu semangatnya. Memek Alya yang terus dirojok oleh kontol besar Bejo secara berulang-ulang itu akhirnya mengeluarkan cairan yang membanjir, Alya telah orgasme. Wajahnya yang cantik terlihat memerah seperti kepiting rebus.
“Ganti posisi, aku ingin menyetubuhimu dari belakang. Ayo berdiri dan bungkukkan badanmu.” Bejo memberi perintah pada Alya agar berdiri di tepian ranjang dengan posisi membelakangi orang tua itu.
Alya membungkukkan badan, sementara kedua kakinya mengangkang. Kedua bongkahan pantat Alya yang bulat dan mulus itu terlihat menggoda, Bejo pun meremas dan memilin bokong Alya yang semok itu. Bejo kembali bersiap menyetubuhi Alya dari belakang, ia gesekkan batang kontolnya di belahan pantat Alya yang bulat dan besar. Lalu dengan perlahan ia mulai membenamkan batang kontolnya ke dalam liang vagina Alya.
“Uuuuuuggghhhh...” Alya kembali melenguh saat kontol Bejo membelah memeknya. Masih terasa nyeri saat memeknya dimasuki batang kontol gemuk Bejo yang begitu besar.
Bejo mulai memompa vagina Alya, gerakannya semakin lama semakin cepat. Pinggangnya berulang kali bertamparan dengan pantat Alya yang mulus. “Plok, plok, plok, plok, plok...”
“Ahh, ahh, ahh, ahh, ahhh...” Alya terengah-engah tiap kali memeknya disodok oleh kontol Bejo.
 Bejo menarik kedua tangan Alya ke belakang sambil terus memompa vagina wanita cantik itu, kemudian ia lepaskan tangannya. Kini tangan kanan Bejo menjambak rambut hitam Alya yang panjang, sementara  tangan kirinya menampari pipi pantat Alya hingga meninggalkan bekas kemerahan. Bejo terlihat seperti seorang yang memacu kuda betina.
“Huh, huh, huh, huh, huhh...” lenguhan Alya terdengar berulang, sementara payudaranya yang besar terlihat bergoyang-goyang seiring gerakan maju mundur pinggul Bejo.
Bejo meraih kepala Alya ke belakang dan mendekatkan wajah cantik Alya ke arah dirinya. Bibirnya yang tebal melumat bibir ranum Alya, sambil terus menggenjot vagina wanita itu.
“Hnggh,” lenguh Alya parau.
Bejo melepaskan lumatan bibirnya. Orang tua itu semakin mempercepat gerakannya hingga saat akan mencapai puncak, ia memeluk tubuh Alya erat-erat. Sementara kontolnya dilesakkan dalam-dalam ke lorong memek Alya, sampai mentok. Dan akhirnya...
“Huuuuuuuuuuaaaaaaarrrrrrrrggggggggggggghhhhhh...” Bejo menggeram keras saat dirinya orgasme, tubuhnya terlihat mengejang. Lalu disusul kemudian oleh Alya yang juga mengalami orgasme.
“Aaaaaakkkkkkkkkkhhhhhhhhhh...”
Crt, crrrttt, crrrrttt, crrrrrttt, crrrrrrtttt... berkali-kali Bejo menembakkan spermanya ke dalam rahim Alya, beruntung saat itu Alya tidak dalam masa subur.
Alya yang merasakan tubuhnya terasa lemas akhirnya ambruk dalam posisi menelungkup, dan Bejo masih menindih di atasnya dengan batang kontol tetap berada di dalam memek. Suasana kamar menjadi hening, hanya deru nafas keduanya yang terdengar-tersengal memenuhi ruangan itu. Tak terasa malam semakin larut.
Bejo mencabut batang kontolnya dari memek Alya, lalu kemudian bangkit dan naik ke atas ranjang merebahkan tubuhnya. Bejo menyuruh Alya untuk naik ke sisinya. Alya yang masih menelungkup harus mengikuti kemauan Bejo, ia merasakan tubuhnya lemas sekali. Dengan sisa kekuatannya ia pun beralih dari tempatnya dan naik ke atas ranjang.
Malam itu di kamar Alya telah terjadi peristiwa laknat. Alya dengan terpaksa harus menuruti semua keinginan Bejo.

***

“Hoooaaammmm...” Bejo menguap sambil merenggangkan kedua tangannya.
Ia menoleh  ke samping kiri dan melihat Alya masih tertidur pulas, ada senyum penuh kemenangan pada diri orang tua itu. Wanita cantik yang selama ini ia idam-idamkan, kini sepenuhnya sudah berada di bawah kekuasaannya. Sekarang ia bisa bebas melakukan apa saja pada wanita itu sekehendak hatinya, termasuk pula menyenggamainya kapan pun ia mau. Tanpa perlu khawatir akan diganggu orang lain, karena penghalang itu kini telah tiada.
Dipandanginya Alya yang masih tidur dalam keadaan bugil.  “Hmm... sudah lama tak bertemu, tapi masih terlihat cantik dan mempesona,” batin Bejo dalam hati.
 Saat itu waktu sudah berganti pagi, jam sudah menunjukkan pukul 06.00. Nampak Alya menggeliatkan tubuhnya, apa yang terjadi semalam terasa seperti mimpi baginya. Tubuhnya masih terasa letih seperti orang yang habis bekerja berat. Ibu muda itu mengerjapkan mata, seakan tak percaya dengan apa yang sedang dia lami. Apakah ini kenyataan atau hanya mimpi buruk?
Saat menyadari bahwa itu kenyataan, Alya bergeser menjauhi tubuh Bejo.
“Hmm, kenapa menjauh dariku, Manis? Bukankah semalam kamu sudah merasakan bagaimana perkasanya aku, bahkan aku bisa memberimu kepuasan lagi jika itu yang kau inginkan.” kata Bejo.
“Pak Bejo, saya mohon tinggalkan saya... dan tolong jangan ganggu kami. Saya janji tak akan melaporkan ini ke polisi.”
Bejo menggeserkan tubuhnya mendekat ke arah Alya, lalu dengan kasarnya tangan orang tua itu memegangi dagu Alya. “Heh, dengarkan aku! Mulai sekarang kamu adalah budakku, kamu harus turuti semua keinginanku. Hanya aku yang berhak atas dirimu, dan jangan coba-coba untuk melawan keinginanku atau bahkan melaporkan aku ke polisi... karena kalau sampai kau berani melakukan itu, jangan harap kamu akan melihat anakmu lagi. Paham?” ancam Bejo.
 Mendengar ancaman itu, Alya tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia tahu ancaman Bejo adalah serius, karena ia tahu betul apa yang dikatakan Bejo itu bisa jadi kenyataan bila ia melawan keinginan orang tua itu. Tiba-tiba mata Alya terlihat berkaca-kaca, sadar mimpi buruknya baru saja dimulai. Ia tak tahu bagaimana nasib dirinya beserta anaknya kelak saat di bawah tekanan Bejo, tapi ia tak punya keberanian untuk melawan orang tua itu.
“Hehe... jangan menangis begitu, Manis. Tenang saja, aku tak akan menyakitimu. Malah, aku akan memberikanmu kesenangan setiap waktu.” Bejo terbahak. “Kini kau sudah jadi milikku, tinggal kedua saudaramu itu yang juga sama sama cantiknya denganmu. Apalagi adikmu Lidya itu, hanya dia yang paling galak diantara kalian, terlebih kepadaku. Tapi aku mau lihat apakah dia masih bisa galak saat kujebol memeknya yang pasti legit itu, hahaha.”
Bejo meraih kedua lengan Alya. “Sekarang waktunya mandi, dan aku mau kamu yang memandikanku.” kata Bejo.
Alya sudah seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, ia mengikuti saja apa yang menjadi keinginan Bejo. Dengan keadaan keduanya masih bertelanjang bulat, Bejo pun menuntun Alya menuju kamar mandi. Di dalam kamar mandi, Bejo meminta Alya untuk menyepong kontolnya.
“Sekarang kamu berlutut dan kulum kontolku!”
Tanpa membantah Alya pun segera berlutut dan mengikuti saja permintaan orang tua bertubuh gemuk dan jelek itu. Dalam pikirannya, percuma saja ia membantah keinginan orang tua itu, bisa-bisa Bejo berbuat lebih kasar kepadanya. Orang tua itu menjambak rambut Alya dan menariknya ke belakang, wajah cantik Alya kini menengadah ke atas dan bertatapan mata langsung dengan mata jalang Bejo. Wajah takluk Alya membuat orang tua itu tersenyum puas, jari-jari orang tua itu bergerak nakal memainkan rambut Alya yang panjang dan hitam. Lalu dengan kasar Bejo mendorong kepala Alya dan mendekatkan wajah Alya hingga menyentuh batang kontolnya.
“Sedot!” perintah Bejo terdengar tegas.
Alya tahu, dia harus segera melayani kemauan Bejo saat ini juga atau pria tua yang jahat itu akan menghajarnya seperti dulu. Bejo memang orang tua yang tidak berperasaan, dia bisa menyakiti setiap orang yang dianggapnya musuh.
 Alya mencondongkan badan ke depan dan membuka mulutnya perlahan. Si cantik itu menelan batang kontol Bejo dan memainkan lidah di sekitar ujung gundulnya. Alya memegang kontol Bejo dengan lembut dan mengocoknya perlahan, lalu mulai menjilati seluruh batang kemaluan lelaki tua itu. Mulai dari kantungnya yang keriput, lalu batang berukuran panjang, dan sampai ke atas lubang kencing. Jilatan lidah Alya membuat Bejo terangsang dan belingsatan, enak sekali rasanya.
Nafas Bejo kian berat, ia sangat menyukai perasaan berkuasa seperti ini. Ia merasa seperti seorang raja yang sedang dilayani oleh selirnya. Saat ini pria tua itu tahu apapun yang ia perintahkan pasti akan dilaksanakan oleh ibu muda yang seksi ini. Membayangkan wanita secantik Alya melakukan hal-hal yang memalukan membuat Bejo semakin terangsang. Kontolnya langsung menegang dengan keras, bahkan akan meledak mengeluarkan air mani seandainya tidak ditahan-tahan.
Lama kelamaan, seluruh batang pelir Bejo sudah tertelan oleh Alya. Kepalanya maju mundur bersama gerakan mulutnya mengocok kemaluan sang lelaki tua dari ujung gundul sampai kantung kemaluan. Bejo menyibakkan rambut yang menutupi wajah cantik ibu muda yang seksi itu. Ia ingin melihat langsung kontolnya keluar masuk di bibir mungil wanita secantik Alya. Pemandangan indah itu membuatnya semakin terangsang, Bejo mengencangkan cengkeramannya pada rambut Alya dan menggerakkan kepala wanita jelita itu seraya memompakan penisnya ke dalam mulut Alya.
Si cantik itu memberontak sesaat, tapi tatapan galak Bejo meluruhkan niatnya. Nyali Alya menciut dan Bejo pun membentaknya dengan galak, “Ayo dikulum terus! Kenapa berhenti?”
Si cantik itu melumat kontol Bejo seiring gerakan sang pria tua menggiling kemaluannya memasuki tenggorokan Alya dengan gerakan yang sangat cepat, sampai-sampai si cantik itu tak sempat menarik nafas. Lama kelamaan sodokannya makin cepat dan pendek, sementara nafas Bejo terdengar mendengus-dengus. Alya yakin pria tua itu pasti akan segera mencapai puncak kenikmatan.
“Mainkan kantungku,” lenguh Bejo sambil menggemeretakkan gigi.
Pria tua itu masih terus menyodokkan kemaluannya ke mulut Alya. Begitu jari-jari lembut Alya menyentuh kantung kemaluannya, Bejo tidak kuat lagi, ia langsung mencapai klimaks dengan cepat. Diiringi lenguhan panjang, Bejo menyemprotkan cairan cintanya.
“Haaaarrrgggghhhhhhhh...”
Pria tua itu memaksa Alya menerima semua semprotan pejuh dengan mulutnya, tangan Bejo bahkan memegang kepala Alya erat-erat agar si cantik itu menelan semua semprotan air maninya tanpa ada yang tersisa.
 “Telan!” desak Bejo melihat Alya yang seperti enggan menerima air maninya, perintah Bejo terpaksa dituruti oleh ibu muda yang cantik itu karena takut dengan ancamannya.
Merasakan kontolnya dikulum dan pejuhnya ditelan mentah-mentah oleh Alya membuat Bejo sangat puas. Setelah kontol Bejo menembakkan peluru pejuhnya yang terakhir, pria tua itu pun meringis dan menarik kontolnya dari kuluman Alya. Beberapa tetes air mani kental ikut terbawa saat ia menarik kemaluannya.
 “Bersihkan kontolku.” perintah pria tua itu.
Dengan hati-hati Alya menjilat dan menelan setiap tetes pejuh yang membasahi kemaluan Bejo. Bibir si cantik itu belepotan air mani sang pria tua. Alya memang sengaja tidak menelan seluruh cairan yang keluar dari kemaluan Bejo karena jijik, bau amis terasa pekat menusuk hidungnya. Cairan putih kental itu menetes dari sela-sela mulutnya dan jatuh di atas lantai. Bejo memukul-mukulkan batang kontolnya yang gemuk dan besar ke wajah cantik Alya, dan dengan senyum penuh kepuasan, orang tua bejat itu menepuk-nepuk kepala Alya .
“Hehehe, kamu pandai sekali memuaskan setiap lelaki. Sekarang masuklah ke situ dan bersihkan dirimu.” Bejo memerintahkan Alya untuk masuk ke dalam bathtub dan membersihkan diri.
 Tatapan galak Bejo membuat Alya takluk, dia melangkah masuk ke dalam bathtub. Alya membasuh wajah serta membersihkan tubuhnya. Di saat Alya sedang membersihkan diri, Bejo hanya berdiri sambil tersenyum bangga melihat wanita seksi itu kini telah tunduk dan takluk di hadapannya. Bejo melangkah masuk ke dalam bathtub dan ikut mandi bersama Alya. Aroma wangi dari bathtub yang telah bercampur air sabun begitu semerbak, membangkitkan kembali gairah Bejo yang sedang berduaan dengan seorang wanita muda berparas cantik jelita.
Bejo menarik lengan Alya mendekat ke arahnya, bibir orang tua itu telah mendarat di bibir tipis Alya yang sudah bersih dari cairan sperma. Dengan rakusnya ia melumat bibir dan membelit lidah wanita seksi itu, sementara tangannya yang kasar meremasi payudara Alya yang berukuran 34B. Payudara montok itu memang begitu indah.
Kini ciuman dan jilatan lidah pria tua itu beralih ke payudara Alya, dengan lihainya Bejo mempermainkan dua bukit kembar milik Alya tersebut. Membuat Alya menggelinjang merasakan sensasi kenikmatan yang mulai menjalar, hasrat liarnya pun bangkit dan tak mampu dibendung lagi.
“Ehmmmmm... oh tidak! Aku harus bisa bertahan.” batin Alya dalam hati.
Wanita itu berusaha menahan gejolak birahinya, namun rangsangan yang diberikan Bejo sungguh begitu hebat, wajahnya yang cantik terlihat bersemu kemerahan menahan malu.
Bejo tersenyum puas melihat ibu muda itu mulai dilanda birahi. Timbul niat jahilnya untuk mengerjai wanita seksi itu. “Sekarang duduklah kamu disitu,” Bejo memerintahkan Alya agar duduk di pinggiran bathtub.
 Dia lalu mendekat ke selangkangan Alya dan membuka lebar-lebar kedua paha wanita cantik itu. Kini di muka Bejo terpampang jelas liang vagina Alya yang nampak rapi dan bersih dengan bulu-bulu tipis yang tumbuh di sekitarnya, Alya memang wanita yang pandai merawat diri. Wajah Alya masih terlihat bersemu kemerahan, ia sudah benar-benar dilecehkan kesuciannya oleh orang tua itu.
Bejo dengan perawakannya yang gemuk dan pendek serta kulitnya yang hitam itu mulai melancarkan aksinya. Dia menciumi kemaluan Alya, hembusan napasnya dapat dirasakan oleh wanita cantik itu. Bejo menyibakkan kemaluan Alya yang berwarna kemerahan. Jari tengah kanannya bergerak nakal menelusup ke dalam memek Alya, dengan jari tengahnya dia mengocok memek Alya sambil menjilati klitoris, membuat Alya serasa seperti disengat aliran listrik puluhan ribu watt. Ibu muda itu menceracau keras, tak dapat menahan rangsangan begitu dahsyat yang menyerang tubuh sintalnya.
“Oooooouuuugggghhhhhhhhhhh... uhhmmmmmmm...”
Bejo tahu kalau wanita di depannya ini kini sedang dilanda birahi tinggi, dan siap untuk disenggamai. Dia pun bangkit dari tempatnya yang masih berada di dalam bathtub. Bejo mengocok batang kontolnya yang sudah mengeras kembali, bersiap untuk mengawini wanita cantik itu. Perlahan Bejo menempatkan ujung kemaluannya yang gundul di bibir vagina Alya, lalu mulai menekannya masuk menerobos liang vagina si cantik, membuat Alya terbeliak kedua bola matanya dan dari mulutnya ibu muda itu mendesis.
“Sssssshhhhhh...”
“Ayo, Manis, kita bersenang-senang lagi.” kata Bejo yang mulai menggerakkan pinggulnya maju ke depan dan menariknya lagi ke belakang, gerakan itu dilakukan dengan perlahan. Bejo mendengus menikmati setiap pijatan dinding kemaluan Alya yang terasa begitu nikmat, “Huuuuugggghhhhh...”
 Bejo meningkatkan tempo gerakannya menjadi lebih cepat,dan semakin lama gerakannya terlihat semakin stabil, “Ahh, ahh, ahh, ahh, ahh, ahh, ahh, ahh...” keluar desahan dari mulut Alya
Alya merasa seperti terbang melayang-layang di atas awan. Dia merasakan rasa nikmat yang sungguh luar biasa, rasanya ia ingin seperti ini terus. Wanita berdada besar itu sudah tidak peduli lagi bahwa yang sedang memberinya kenikmatan adalah pria yang sangat dibencinya. Gelombang birahi yang menyerang begitu dahsyat telah mengalahkan akal sehat Alya.
“Ahh, ahh, ahh, ahh, ahh, ahh, ahh...” Alya masih menceracau tak karuan. Dia merasakan sedang di ambang puncak kenikmatan.
Sementara Bejo masih menggenjot memek Alya dengan kecepatan stabil. Namun tiba-tiba pria tua itu menghentikan gerakannya, membuat Alya yang sedang dibuai kenikmatan mendadak seperti dijatuhkan dari atas ketinggian.
“Ke-kenapa berhenti, Pak?! Ayo terus setubuhi aku! A-aku mohon, Pak... jangan siksa aku seperti ini!” rengek wanita cantik itu.
“Aku mau melanjutkannya lagi asal kamu mau memenuhi persyaratanku,” kata Bejo mengajukan permintaan pada Alya.
“Katakan apa syaratnya, Pak! Cepat katakan!” pinta Alya yang terdengar memelas.
“Syaratnya gampang kok, kamu cukup bilang bahwa kamu mencintaiku!” kata Bejo santai.
Alya terhenyak mendengarnya. Mencintai Bejo? Menikmati permainannya mungkin iya, tapi mencintainya... “Ada syarat lainnya nggak, Pak?” Alya mencoba untuk menawar.
“Kalau kamu tidak mau, ya sudah. Kita akhiri saja permainan ini,” kata Bejo berpura-pura ingin mencabut kontol.
Alya yang sedang birahi tinggi merasa tersiksa dengan perlakuan Bejo. Ingin ia segera menuntaskan hasratnya, tapi syarat dari Bejo itu sangat memberatkan hatinya. Antara menuruti hawa nafsu atau akal sehat, Alya harus menentukan pilihan. Akhirnya dengan terpaksa ia mengucapkannya.
“Baiklah... aku mencintaimu, Pak Bejo.” kata Alya terdengar lirih.
“Apa? Masih kurang keras, aku tak bisa mendengarnya!” kata Bejo yang sengaja mempermainkan Alya.
“Aku mencintaimu, Pak Bejo!” kata Alya terdengar lebih keras dari sebelumnya
“Hehe, bagus. Aku senang sekali mendengarnya. Mulai sekarang, apapun yang kuminta, kau akan melakukannya dengan sepenuh hati. Kamu mengerti, anak manis?”
“Iya, saya mengerti.” Angguk Alya.
“Baiklah, mari kita lanjutkan lagi permainan kita.” Bejo kembali memasukkan batang kontolnya ke dalam vagina Alya. Lorongnya yang sudah basah semakin memperlancar gerakan Bejo yang mulai melakukan penetrasi, semakin lama semakin cepat, membuat ibu muda cantik itu kembali dibuai oleh kenikmatan.
“Ahh, ahh, ahh, ahh, ahh, ahh...” Alya sudah tidak peduli lagi dengan keadaan dirinya yang baru ditinggal mati suami, ia hanya butuh pelampiasan dahaga birahinya yang selama ini tidak pernah ia dapatkan semenjak memutuskan hubungannya dengan Paidi, apalagi kini dengan statusnya yang janda.
Apa yang dilakukan Bejo kepadanya saat ini seperti menggugah kembali hasrat liar Alya yang sempat terpendam. Walaupun semuanya diawali dengan keterpaksaan, namun mulai sekarang ia harus membiasakan diri untuk bisa menerima semuanya. Bagi Alya percuma saja ia melakukan perlawanan yang pada akhirnya malah akan menyakiti dirinya. Alya sudah merelakan dirinya menjadi budak nafsu Bejo, toh dirinya juga menikmati hubungan itu, apalagi di mata Alya saat ini Bejo betul-betul orang tua luar biasa yang begitu pandai membangkitkan gairah lawan jenisnya. Ditambah lagi batang kontolnya yang besar itu semakin menambah kesan kejantanan.
 Bejo semakin mempercepat tempo gerakannya, sementara dari mulut Alya kadang terdengar jeritan saat kontol Bejo menusuk di vagina terlalu dalam. Bejo hanya menyeringai melihat Alya, pria tua itu merengkuh tubuh Alya yang sintal dan mendekatkan wajahnya ke wajah wanita itu. Rakus dia memagut bibir Alya, bibirnya yang tebal melumat bibir Alya yang ranum dengan penuh nafsu.
Alya membalas pagutan itu. Bejo yang melihat mangsanya sudah mau membuka diri untuknya, merasa begitu senang karena memang itulah yang ia inginkan. Bejo semakin bersemangat dalam memompa lorong vagina Alya, membuat si cantik berdada besar itu semakin menceracau tak karuan,  hingga akhirnya ibu muda itu merasakan dirinya akan orgasme lagi.
“Aaaaaaaaaaaaaakkkkhhhhhhhhh... aku keluaaaaarrr, Paakk...” Alya menjerit panjang saat berada di puncak kenikmatan, tubuh sintalnya melengkung kemudian lemas untuk sesaat.
Bejo menghentikan pompaannya di memek Alya dan mencabut batang kontolnya dari vagina si cantik, lalu untuk sementara waktu ia memberi kesempatan pada wanita idamannya itu untuk bernafas dengan lega dan memulihkan keadaan.
 Setelah beberapa saat lamanya, Bejo pun menyuruh Alya untuk menelungkup di pinggiran bathtub dengan pantat ditunggingkan ke atas. Bejo begitu gemas dengan bokong Alya yang bentuknya membulat indah. Tangannya menampari pipi pantat itu, kemudian ia bersiap untuk kembali melakukan penetrasi ke vagina sempit Alya. Dengan kaki kiri masih di dalam bathtub sedang kaki kanan bertumpu di pinggiran bathtub, Bejo menggesekkan kontolnya di belahan pantat semok Alya, lalu perlahan batang kontolnya menerobos masuk ke dalam liang vagina si jelita. Pinggul Bejo bergerak maju mundur seiring dengan batang kontolnya yang memompa memek legit Alya, tempo gerakannya semakin lama semakin cepat.
“Ahh, ahh, ahh, ahh, ahh, ahh...” Alya kembali mendesah untuk kesekian kalinya.
Desahan dan rintihan yang keluar dari mulut Alya seperti musik pengiring yang membuat Bejo lebih bersemangat menggenjot vagina, kedua lengan Alya ditelikungnya ke belakang. Hingga suatu ketika ia merasa akan ada sesuatu yang meledak dari batang kontolnya, Bejo semakin mempercepat gerakannya sampai akhirnya ia pun menggeram.
“Huaaaaaaaarrrrrrgggggghhhhh...”
Bejo mengalami orgasme dan disusul kemudian oleh Alya yang juga orgasme untuk kedua kalinya. Tubuh gemuk Bejo memeluk erat tubuh Alya yang sintal dari arah belakang, napas keduanya tersengal-sengal. Suasana kembali hening.
“Plop!” suara batang kontol Bejo yang keluar dari jepitan memek Alya. “Hufgh... aku puas sekali hari ini, Manis. Untuk saat ini aku cukupkan sekian. Ayo kita mandi.”
 Lalu keduanya mandi bersama di dalam bathtub. Selesai mandi, Bejo merapikan diri, ia bermaksud kembali ke rumahnya pagi itu. Sementara Alya juga sudah memakai pakaiannya kembali,
“Sekarang aku mau pulang dulu, dan besok pagi kamu harus kemasi barang-barangmu karena besok aku akan membawamu ke Jakarta!” kata Bejo pada Alya.
Sebelum meninggalkan Alya, Bejo masih sempat-sempatnya meremas payudara wanita cantik itu, lalu kemudian pergi keluar meninggalkan rumah Alya.   

***

“Ugh, ugh, ugh, ugh, ughhhmmm...” lenguhan Anna yang tengah keenakan disetubuhi oleh Sabeni dan Maman.
 Wanita yang wajahnya mirip dengan artis cantik dan terkenal asal india Katrina Kaif itu sedang di-gangbang oleh bapak dan anak itu di ruang tengah. Suara desahan dan erangan dari mulutnya terdengar memenuhi seluruh ruangan. Sungguh sebuah pemandangan yang membangkitkan birahi bagi yang melihatnya, dimana seorang wanita cantik berkulit putih mulus tengah mengerang keenakan akibat disetubuhi oleh dua pria yang wajahnya sangat jauh dari tampan alias buruk rupa.
Kebetulan suasana di rumah itu memang sedang sepi karena penghuni yang lain sedang keluar rumah, seperti Hendra yang sudah pergi ke kantor sejak pagi buta, dan Marni juga sedang ke pasar, sementara Cindy sudah pergi ke sekolah, sedangkan Syane dan adiknya yaitu Jane, tidak tinggal di rumah Anna, melainkan tinggal di rumah Clara. Walaupun begitu, setiap waktu mereka juga sering main ke rumah Anna karena hanya bersebelahan.
 Anna duduk di pangkuan Sabeni dengan posisi menghadap ke arah orang tua itu, dua lubang di bawahnya sudah dipenuhi oleh kontol bapak dan anak tersebut. Kontol Sabeni berada di liang vagina Anna, sedang kontol Maman berada di lubang duburnya. Tubuh Anna yang putih mulus terlihat sangat kontras dihimpit oleh dua pria buruk rupa dengan kulit yang hitam legam.
Sudah hampir dua jam ketiganya tenggelam dalam nafsu birahi. Ditambah lagi saat itu Anna sudah berkali-kali mengalami orgasme. Perutnya yang membesar nampak begitu indah di usia kehamilannya yang sudah menapak tujuh bulan, dan pusarnya terlihat menonjol. Payudara Anna juga terlihat indah, masih nampak kencang dan semakin montok. Entah kenapa di usia kehamilannya yang semakin mendekati kelahiran si jabang bayi, gairah Anna terasa begitu menggebu-gebu, seakan-akan wanita cantik itu ingin vaginanya terus disetubuhi oleh kontol-kontol besar seperti milik bapak dan anak tersebut.
Maman terus menyodok lubang dubur Anna. Pria kerempeng dan jangkung itu semakin mempercepat gerakan, kedua tangannya berpegangan pada pinggang Anna. Hingga suatu ketika ia merasakan dirinya akan mencapai puncak. Maman pun mengeluarkan batang kontolnya dari lubang dubur Anna, kemudian untuk sesaat tubuhnya terlihat mengejang. Dari batang kontol gede dan panjang itu menyemburlah cairan kental berwarna putih mengenai pipi pantat Anna, banyak sekali cairan sperma yang dikeluarkannya.
“Haaaaarrrrrrrggggggghhhhhhhhhhhhh,” Maman menggeram keenakan.
Setelah menembakkan pejuhnya yang terakhir, dia mengambil tempat duduk agak jauh dari Sabeni. Pria kerempeng itu terlihat berusaha mengatur napasnya yang terdengar tersengal. Sementara Sabeni masih melanjutkan penetrasinya ke dalam liang memek Anna. Istri Hendra itu melingkarkan kedua lengannya di leher Sabeni, payudaranya yang montok menutupi wajah orang tua itu. Sabeni begitu gemas dengan payudara Anna, sambil terus memompa vagina, ia menghisapi payudara montok itu secara bergantian. Kadang Sabeni menggigit dengan lembut, membuat Anna semakin menggelinjang tak karuan.
“Ahh, ahh, ahh, ahh... ehhhennnnggggg!!”
Sabeni semakin mempercepat genjotannya, sampai suatu ketika ia merasakan batang kontolnya mulai berkedut seakan ada yang mau meledak. Dan tak berselang lama, Sabeni pun menggeram, “Haaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrggggggggggghhhhhh...”
Orang tua itu menembakkan pejuhnya ke dalam rahim Anna, sementara Anna juga mengalami orgasme sesaat kemudian. Cairan putih kental nampak keluar melalui sela-sela vagina sempit Anna, tubuh wanita itu ambruk memeluk tubuh renta Sabeni. Sementara Maman sudah mengenakan pakaiannya kembali dan sepertinya ia mau keluar.
“Aku mau nengok anak-anak dulu, Bah.” kata Maman. Ia bermaksud pergi ke rumah Somad yang dijadikannya sebagai markas bersama anak buahnya yang semuanya adalah preman.
Sepeninggal Maman, suasana di ruang tengah kembali hening. Anna nampak begitu keletihan dan itu wajar karena hampir tiga jam ia dihajar habis-habisan oleh Sabeni dan Maman. Hanya deru napas keduanya yang terdengar, keduanya terdiam sambil meresapi sisa-sisa kenikmatan usai persetubuhan liar di pagi hari itu.

***

Hari itu Hendra sedang meeting dengan para stafnya, mereka sedang membahas mengenai persaingan dunia usaha yang semakin ketat. Selain memiliki showroom mobil sendiri, Hendra juga masih bekerja di perusahaan jasa penyedia armada angkutan barang, posisinya sebagai direktur. Kepada anak buahnya ia menekankan untuk selalu memberikan servis yang terbaik kepada para klien karena itulah modal utama untuk menggaet lebih banyak lagi pelanggan, dengan begitu perusahaan akan semakin banyak mendapatkan keuntungan.
Apalagi sekarang juga sudah banyak perusahaan-perusahaan penyedia armada angkutan barang, bahkan bisa dibilang sudah menjamur. Beruntung untuk urusan menggaet pelanggan, Hendra tergolong piawai. Orangnya yang supel, mudah bergaul dengan siapa saja menjadikannya banyak teman maupun kolega bisnis yang suka untuk bekerja sama dengannya. Bukan hanya teman pria, namun juga banyak teman-teman wanitanya yang suka kepadanya.
 Hari sudah menunjukkan pukul 11.30, Hendra menutup meeting bersama para stafnya, “Ratna,setelah ini kamu ke ruanganku sebentar ya. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu,” kata Hendra kepada salah satu stafnya yang bernama Ratna.
 Ratna, seorang wanita cantik berusia 24 tahun, belum menikah namun sudah punya tunangan. Wajahnya yang cantik mirip seperti artis sekaligus penyanyi Raisa, menjadikan wanita itu memiliki daya pikat yang sangat kuat, bahkan Hendra saat ini sangat tertarik dengan stafnya itu.
“Iya, Pak.” jawab Ratna tanpa berpikir macam-macam.
 Hendra segera menuju ruangannya. Tak lama kemudian Ratna juga masuk ke ruangan itu. “Tutup pintunya!” perintah Hendra kepada si gadis. “Bagaimana perkembangan bisnis di perusahaan ini?” tanya Hendra pada Ratna.
 Ratna menjelaskan dengan detail mengenai perkembangan usaha di perusahaan mereka, sementara Hendra mendengarkan dengan seksama sambil menatap gadis itu tanpa berkedip sedikit pun. Awalnya Ratna merasa risih ditatap seperti itu, namun sudah menjadi tugasnya sebagai staf untuk melayani sang atasan, termasuk memberikan informasi yang jelas dan detail mengenai perkembangan perusahaan sampai saat ini, yaitu tentang kendala-kendala yang tengah dihadapi sekarang. Terlebih di musim hujan seperti saat ini, dimana banyak pengiriman barang yang mengalami keterlambatan karena di beberapa daerah sedang mengalami bencana banjir.
Sementara Ratna menjelaskan kepada Hendra, pria itu malah terpesona dengan kecantikan Ratna yang saat itu mengenakan setelan blazer dan rok ketat warna abu-abu. Ratna terlihat begitu cantik dengan busana kantoran seperti itu. Hendra bangkit dari duduknya di kursi, ia mendekati Ratna, kemudian duduk di atas meja. Jantung Ratna terasa berdesir saat posisi Hendra mendekat kepadanya, secara mereka tengah berada di dalam ruangan tertutup. Walaupun sebenarnya dalam hatinya Ratna juga mengagumi ketampanan Hendra, namun Ratna berusaha untuk menjaga diri agar tak terkesan murahan.
“Ratna, bagaimana hubungan kamu dengan tunanganmu?” tanya Hendra mulai memancing.
 Mendapat pertanyaan seperti itu,Ratna menjadi kikuk, “Kenapa Pak Hendra menanyakan itu? Baik sih, Pak. Walaupun kadang terjadi konflik kecil, tapi menurut saya itu hal biasa.” kata Ratna.
“Ehm, apakah kalian sudah pernah berhubungan layaknya suami istri?” tanya Hendra lagi.
“Kok tanyanya ke situ sih, Pak?” Muka Ratna nampak tersipu karena malu.
“Pingin tahu aja,” balas Hendra.
“Yah belum sih, Pak. Cuma, hampir saja kami melakukannya.” jawab Ratna agak malu-malu.
“Kenapa nggak jadi?” tanya Hendra lagi.
“Ah, Pak Hendra ini... tanya yang lain ajalah, Pak,” kata Ratna yang masih malu-malu
“Aku serius, Ratna.” tukas Hendra.
“Saya takut untuk melakukan itu, Pak. Saya juga takut kalau setelahnya, tunangan saya malah kabur meninggalkan saya yang sudah tidak suci lagi.” jawab Ratna.
“Bagaimana kalau ada yang mengajakmu berhubungan intim saat ini, dan orang itu mau bertanggung jawab?” tanya Hendra.
“Ehm... bingung saya, Pak.” kata Ratna ragu-ragu.
“Kenapa bingung?” tanya Hendra lagi.
“Yah, lihat-lihat orangnya sih, Pak,” jawab Ratna kemudian.
“Lihat-lihat gimana maksudnya?” kata Hendra.
“Yah orangnya ganteng apa nggak... gitu, Pak.” jawab Ratna jujur
“Bagaimana kalau orang itu adalah aku?” tanya Hendra.
Pertanyaan itu tentu saja sangat mengagetkan Ratna, ia tidak menyangka kalau Hendra akan bertanya seperti itu. Ratna terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Sementara Hendra mulai membelai rambutnya yang sebahu, Ratna masih diam saja, tak ada penolakan darinya saat Hendra memegangi dagunya kemudian mengecup bibirnya yang ranum. Nafas Ratna malah terdengar memburu.
 Dan bagaimanakah kelanjutannya, tunggu di episode berikutnya...

Bersambung

10 komentar:

  1. usul aja....lebih banyak ke petualangan bejo aja....

    BalasHapus
  2. mantaaaaaaab, masih panjang dong ceritanya dan setiap seri perbanyak adegan sex nya

    BalasHapus
  3. wow, semenjak Hendra sembuh dr mandulnya tampaknya mulai bergerak menjadi pejantan tangguh pula ni?

    BalasHapus
  4. waduuuuuh, jgn secepat itu dung Alya di bawa ke Jkt nya, di ajak aex party dl di rmh kyai bersama Ani dan Maya.
    lebih seru lg klo pa kyai melihat smua itu tp tidak mencegah tapi malahan ikut berpartisipasi

    goyang mas broooooo

    BalasHapus
  5. dilanjut lg dong petualangan bejo dan ani...seruuu....

    BalasHapus
  6. fokus ke cerita pak bejo aja plis

    BalasHapus
  7. Itu ukuran dada alya 34B ga salah , gan? Ane kebayangnya setidaknya 36B, atau misal tetap 34 cupnya ukuran D

    BalasHapus
  8. Gk enak ah,soalnya aku fans Alya x Paidi
    Tapi paidinya mati.padahal dalam bayangan aku Alya ntar bakal hamil oleh paidi punya anak dan menikah

    BalasHapus
  9. lama updatenya

    BalasHapus