Sabtu, 13 Agustus 2016

Terjebak Nostalgia 3



Episode 7
Love! Fool

2,5 tahun yang lalu...

5 Bulan berlalu setelah kejadian di rooftop tempo hari. Lama aku menunggu, menanti Liz membuka hati, hingga akhirnya di acara Tahun Baru, aku kembali memberanikan diri.
Waktu itu bulan Januari, 2011. Tepat di pergantian tahun, di antara kilauan kembang api, Liz mengangguk ketika aku kembali memintanya jadi pacarku. Kali ini dia tersenyum cerah, memelukku erat-erat di bawah langit yang dipenuhi ribuan cahaya.
Keesokan harinya tulisan “Adipati Jaya Mahardika is now in relationship with: Eliza Mayarani” sudah terpampang di halaman Faceook-ku. Penyakit JOMBLOKRONINGITIS yang kuderita selama bertahun-tahun sirna sudah.
Tahun Baru, Pacar Baru, asyiiik...

Kehadiran Liz di dalam hidupku setidaknya membuatku lebih bersemangat dalam kuliah. Aku jadi jarang membolos karena Liz selalu mengajakku sarapan dan berangkat bareng. Sekarang aku juga lebih rajin membuat tugas, karena Liz mengajakku mengerjakan tugas bersama di kamarku, dan bobok bersama tentunya, hahaha...
Untuk merayakan keberhasilan ini, aku, Liz, juga teman-teman yang membantu perjuanganku: Grace, Slamet, dan KW pergi ke sebuah konser musik.
Ngayogjazz namanya, konser musik yang dihelat tahunan. Jika biasanya konser Jazz bertempat di gedung pertunjukan, maka Ngayogjazz diadakan tengah perkampungan khas Jogja. Tapi jangan salah, lihat dulu line up musisi-nya: Glenn Fredly, Tohpati, Gugun Blues Shelter, Iga Mawarni, Syaharani and Queen Fireworks. Mantap, dah! dan yang jelas: gratis.
Aku dan Liz selera musiknya sama. Grace dan KW juga. Cuma aku kasihan pada Slamet, dari tadi dia menunggu-nunggu artis idolanya: Eni Sagita, aseloleeey...
Satu-satunya alasan Slamet ikut adalah biar bisa dekat-dekat dengan Grace. Aku heran, kenapa anak itu masih nekad mengejar-ngejar Grace, padahal dia tahu: selain Grace nggak suka laki-laki, wajah mereka bagaikan Gurun Sahara dan Kutub Utara, bagai Lamborghini dan Metromini, bagai rok mini dan karung goni.
Hush, udah ah, anaknya orang jangan dihina terus-terusan.
Malam ini ada yang berbeda, sebab sekarang Liz resmi berstatus pacarku. Saat ini Liz kembali mengenakan baju yang feminim dan berdandan. Hal ini cukup melegakan, sebab dengan potongan rambut pendeknya+dandanan acakadut, aku sering dikira pacaran dengan cowok.
Sekarang Liz nampak begitu cantik, dengan baju feminim ditambah dengan potongan rambutnya yang pendek seperti lelaki, menghasilkan kontradiksi yang sangat adiktif, begitu seksi! Ugh...

"Take me to your place
Where our hearts belong together
I will follow you
You're the reason that I breathe

I'll come running to you
Fill me with your love forever
I'll promise you one thing
That I would never let you go
'Cause you are my everything"

Suara merdu Glenn Fredly terdengar dari kejauhan. Aku dan Liz bergandeng tangan di sepanjang jalan setapak yang diterangi obor dan rangkaian lampu, menuju panggung tempat Glenn mentas. Grace dan KW ingin melihat performer lain di panggung yang tersebar di tempat itu. Slamet? Entah.
Liz tampak heran melihat aku yang seperti mencari sesuatu. “Nyari apa sih, Jay? Nyariin Slamet?” Liz bingung melihatku merogoh kantung baju dan celana, meski aku ikut bingung gimana ceritanya Liz berpikir Slamet sampai bisa ada di kantongku.
“Gawat!”
“Apa, Jay? Ada yang hilang? HP? dompet?”
“Hatiku, kamu yang ambil, yah? Hehehe.”
“Iiiiiiiih gombaaaal!” Wajah Liz tersipu dan merona merah. “tapi lucu, hihihi.... Kamu so sweet banget sih, Jay.”
“Ya iyalah, Ajay: tampang gorilla hati Raisa.”
Liz terkekeh-kekeh, menyandarkan kepalanya di bahuku, membiarkan aku menggandengnya mesra. “Seneng deh, jadi pacar kamu.” Liz berkata manja.
“Huuuuu, sama yang dulu juga pasti bilang gitu..” godaku.
“Iiih! Kamu kok gitu sih, Jay? Enggak kok, Jay.. enggak salah lagi, hehe,” Liz terkekeh-kekeh jahil.
“Weits, liat aja, ntar kalau ketemu Bang Igo pasti salah tingkah.”
Entah ini Deus Ex Machina atau apa. Ternyata yang kukatakan menjadi kenyataan. Saat hendak menuju venue, kami berpapasan dengan Bang Igo, ia sedang bergandengan tangan dengan Mbak Nia, seniorku juga. Liz tampak agak panik bertemu dengan mantan pacarnya.
“Jay! Rangkul aku, cepetan!”
“Hah? Ngapain?” aku sebenarnya kurang suka dengan hal ini.
“Udaaah... cepeet!”
Akhirnya aku merangkul Liz di depan Bang Igo. Ia tampak cuek saja, sementara Liz sendiri salah tingkah.
“Liz, aku nggak suka caramu.” kataku kemudian.
“M-maaf Jay, b-bukan maksud aku..”
“Udaaaaaah, ah! Liz! kenapa sih kamu nggak bisa lupain dia?!”
Terus terang, aku tidak menyukai sifat wanita yang satu ini. Sampai sekarangpun aku tidak bisa menalarnya. “Ex-Boyfriend Rivalry Syndrome” begitu aku menyebutnya. Kita ambil contoh: melihat Anang dan Ashanty menikah, Syahrini buru-buru (pura-pura) tunangan sama Bubu. Begitu juga Ayu Dewi, yang langsung pamer pacar begitu tahu Zumi Zola mau lamaran. Okky Agustina kemarin juga begitu, ah pokoknya banyak deh! (kelihatan banget kebanyakan nonton infotaiment).
Bukan kenapa-kenapa, menurutku hal ini hanya menjadikan orang-orang seperti Bubu -dan aku- sebagai pelampiasan semata. Dan terus-terang, sekarang aku jadi merasa Liz menerima cintaku, hanya karena Bang Igo mendapat pacar baru.
Terlalu sadis caramu... menjadikan diriku... pelampiasan cintamu.. agar dia kembali padamu.. tanpa peduli sakitnya aku.. du du duuu…” aku menyanyikan lagu dari Afgan untuk menyindir Liz. Agak kekanakan memang.
Alhasil, malam itu kami bertengkar hebat. Liz ngambek, berjalan meninggalkanku. Aku berpikir: kalau dia menoleh, aku akan mengejarnya. Namun, sampai ujung koridor dia tak menoleh juga.
Sementara Glenn Fredly di atas panggung, menyanyikan sebuah lagu,

"Kasihku
Sampai disini kisah kita
Jangan tangisi keadaannya
Bukan karena kita berbeda"

"Dengarkan
Dengarkan lagu.....lagu ini
Melodi rintihan hati ini
Kisah kita berakhir di Januari"

Malam itu tanggal 11 Januari, dan entah kenapa, aku seperti mendapat firasat buruk.

***

Sudah seminggu itu kami perang dingin. Di kampus, Liz tidak mau menyapaku, dan sejak saat itu dia juga tidak pernah mampir ke kost-ku lagi, apalagi meng-SMS-ku. Sebenarnya aku ingin menghubungi Liz. Tapi, Sorry lah ya, gengsi! Biar Liz yang SMS duluan. Toh, dia yang salah!
Kembali menginjak malam minggu. Malam itu aku nongkrong di kamar KW a.k.a Kunto Wicaksono, sambil nonton VCD drama Korea yang kami sewa di komputernya. Lumayan, buat menemani weekend yang sepi karena Liz masih ngambek.
“Masih berantem?” tanyanya.
“Iya.”
“Lama banget.”
“Nggak tahu.”
“Oh.”
“Yah.”
Begitulah kalau ngobrol sama KW, absurd abis.
KW ini anaknya ganteng, mirip Adipati Dolken yang jadi Keenan di film Perahu Kertas. Tapi KW sendiri nggak tahu, kalau dirinya jadi idola nomor satu di angkatan kami, baik di kalangan cewek, maupun di kalangan cowok.... uhuk... uhuk... masalahnya, KW ini anaknya pendiem abis, computer geek dan gadget freak. Satu-satunya hal yang menyatukan kami hanyalah: DoTA dan Drama Korea.
Tak terasa kami sudah menonton 5 episode. Aku menghela nafas, karena ikutan galau menonton drama tentang cewek yang selingkuh sama mantan pacarnya.
Duh, mudah-mudahan Liz enggak...
Tidak...
Tidak...
Tidak...
Bersihkan pikiran...
Tiba-tiba ponselku bergetar, satu pesan diterima. Buru-buru aku membuka dengan harap-harap cemas. “WetengQ kencot ^_* Burjo yuk, ” lengkap dengan smiley.
Bangsat, ternyata SMS dari Slamet.
“Jay, kalian itu sama-sama sableng, sama-sama lucu.”
“Aku dan Slamet?”
“Kamu dan Liz, hahaha... kalian itu sama, gengsi kalian juga sama-sama tinggi. Saya yakin, Liz pasti juga kangen kamu.” tiba-tiba KW berkata panjang lebar, nggak ada angin nggak ada hujan. “Kadang musuh yang harus kita kalahkan itu ada di dalam diri: Ego,” ucap KW dengan suaranya yang kalem.
Rekor Dunia, barusan adalah kalimat terpanjang yang pernah diucapkan KW. Seharusnya aku buru-buru mengalungkan karangan bunga di lehernya. Aku juga nggak menyangka kalau KW yang pendiam bisa membantuku dengan memberi petuah-petuah bijak, yang jauh lebih bermanfaat daripada Slamet.
KW benar, Kadang-kadang cinta mengalahkan ego. Akhirnya aku memberanikan meng-SMS Liz duluan.
Gy Ng4pZ?” begitu bunyi SMS ku.
Lama tak ada balasan. Resah, aku menggigit-gigit kuku sambil berguling-guling di kasur seperti ABG labil yang baru kena setrum.
Tak seberapa lama ponselku kembali bergetar, 1 pesan diterima, “Gag gy ngap2z, wetengQ kencot ki.”
Bangsat, salah kirim ke Slamet.
Aku menulis ulang SMS untuk Liz.  L1z, dH m4m?
Tak ada balasan.
S1h mRh e4?
Tak ada balasan.
mUPn Q e4
Tak ada balasan.
L1z, Q tH q 4l@y
Tak ada balasan.
Huft, daripada lama menunggu, aku segera menelpon Liz, namun, “Pulsa anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan ini…” Suram.
Aku kembali berguling-guling tidak jelas, kali ini sambil memeluk bantalnya KW seperti ABG labil yang baru sadar dirinya hamil, hingga akhirnya Slamet nonggol di depan pintu kamar KW, melongo melihatku yang seperti orang kesurupan.
Slamet pergi tanpa banyak kata. Sesaat kemudian kudengar pintu kamarnya dibanting.
Akhirnya aku memutuskan untuk langsung pergi ke kost-an Liz. Agar lebih mantap, aku menyempatkan diri membeli bunga. Aku memacu motor bututku sampai di deretan toko bunga di Jl. Achmad Jazuli, Kotabaru.
“Mas, yang ini berapa?” kataku menunjuk mawar merah.
“Rp. 3000 setangkai, mau cari berapa tangkai?”
“Wah, murah banget. Cinta saya nggak murahan, Mas! yang ini berapa?” aku menunjuk mawar putih.
“Rp. 5000,” jawabnya dingin.
“Nah, ini baru berkelas.”
“Berapa tangkai?”
“15 tangkai lah, Mas. Nggak pakai lama!” tandasku mantap. Harus 15 batang, karena ulang tahun Liz tanggal 15 Februari.
Dengan wajah bersungut-sungut, Tukang Bunga itu pun merangkainya menjadi buket yang indah.
“Ya elah mas, masa durinya nggak dipotong? Cinta saya nggak berduri, Mas!” protesku.
Tukang Bunga itu pun memotong durinya dengan wajah kesal. Kok ada orang cerewet kaya gini, mungkin begitu pikirnya
Aku membuka dompetku. Aku menemukan hanya selembar uang Sepuluh Ribuan, beserta beberapa receh. Aku lupa, uangku sudah habis kupakai menyewa VCD dorama.
“Eng... satu tangkai aja deh, mas.” kataku sambil garuk-garuk kepala.
Wajah Tukang Bunga langsung merengut.
“Eh, mawar merah aja Mas, yang 3000-an.”
Wajah Tukang Bunga tambah merengut.
“Tapi pilihin yang paling bagus! Biar murah, cinta saya nggak murahan, Mas!”
Wajah Tukang Bunga tambah merengut lagi, ditekuk seperti bebek ngambek.
Nggak pakai lama aku langsung kabur dari tempat itu, meluncur ke kost-an Liz. Wkwkwkwkwkwk...
Sampai lampu merah di depan Mirota Kampus, aku terhenti lama, jalanan agak macet karena akhir pekan. Dari tempatku berhenti, aku bisa dengan jelas melihat orang-orang yang sedang makan di KFC di seberang jalan.
Lho... Lho... Eh?
Aku mengernyit, seperti mengenali sosok yang sedang makan di sana, saling meyuap mesra.
Aku hanya berkata dalam hati, berharap salah melihat.

Terlalu sadis caramu
Menjadikan diriku
Pelampiasan cintamu
Agar dia kembali padamu
Tanpa perduli sakitnya aku

Tega niannya caramu
Menyingkirkan diriku
Dari percintaan ini
Agar dia kembali padamu
Tanpa perduli sakitnya aku

Semoga Tuhan membalas semua yang terjadi kepadaku
suatu saat nanti
Hingga kau sadari sesungguhnya yang kau punya
Hanya aku tempatmu kembali
Sebagai cintamu
Hanya aku tempatmu kembali

Namun, wajah itu, potongan rambut itu, tak salah lagi.
Jantungku seperti berhenti berdetak. Liz dan Bang Igo sedang suap-suapan di sana!
Tidaaaaaaaaaaaaak!!!!!
Mawar merah di tanganku jatuh ke atas aspal. Kalaulah ini film, maka mawar yang jatuh itu akan di-shoot dalam adegan slow motion dan diiringi intro lagu Bunga Terakhir.

Engkaulah yang pertama,
menjadi cinta,
tinggallah kenangan
Berakhir lewat bunga,
seluruh cintaku,
untuknya

Agar lebih dramatis, Tokoh Utama akan menjerit ke arah langit, “Tidaaaaaaaak!!” berlari histeris menyeberang jalan namun ditabrak oleh odong-odong.
Epic.

Bunga terakhir….
ku persembahkan kepada yang terindah,
sebagai suatu tanda cinta untuknya

Bunga terakhir…
menjadi satu kenangan, yang tersimpan,
tak ‘kan pernah hilang ‘tuk selamanya…

***

Episode 8
Cinta itu Perih, Jenderal!

Eh, setelah kuperhatikan lebih dekat lagi, ternyata mereka dua orang cowok. Yang satunya tipikal ‘cowok cantik’, rambutnya dipotong mirip Liz. Dan yang satunya brewokan mirip Bang Igo.
Orang-orang yang menunggu di lampu merah melihatku dengan tatapan aneh, karena barusan aku berteriak seperti adegan-adegan sinetron, untung aku belum ditabrak odong-odong.
Tengsin...
Tengsin...
Tengsin...
Tengsin...
Aku memungut kembali mawar yang jatuh. Sepertinya aku terlalu banyak nonton Drama Korea, atau mulai sakaw akan meki-nya Liz, sampai-sampai berhalusinasi. Sekilas kulihat mereka -dua cowok itu- bercanda mesra. Aku bingung, kenapa akhir-akhir ini di Jogja semakin banyak orang-orang ‘seperti itu’.
15 menit kemudian, aku sampai di depan kost Liz. Sebuah mobil terparkir di halaman, dan aku mengenali itu mobil siapa. Benar saja, ketika sampai di kamar Liz, yang punya mobil sedang tiduran santai di atas kasur.
“Mpret, ngapain ente di sini?” tegurku.
“Jiah, panjang umur. Baru aja diomongin.” ia mengekeh santai, sambil memainkan laptop.
“Liz mana?”
“Noh, lagi mandi.” Ia menunjuk ke arah kamar mandi dalam yang ada di sana.
Grace, kamu ngomong sama siapa?” Liz menjerit dari dalam kamar mandi.
Aku melotot, memberi tanda agar Grace tutup mulut.
“Tukang Aqua!”
Aku menggeret Grace keluar kamar, aku juga nggak menyangka bakalan ketemu sama cewek bitch itu di sini.
Grace melirik mawar yang kubawa, “E cie... romantis banget. Kalian itu ya, sama-sama sayang, sama-sama kangen, tapi sama-sama gengsian.”
Wah, kok sama seperti yang dibilang KW?
Deg-degan aku menunggu Liz selesai mandi. Sambil menunggu, Grace bercerita kalau selama seminggu ini Liz tiap malam nangis bombay, curhat ke dirinya gara-gara kami berantem.
Aku cuma manggut manggut mendengarnya, Jadi begitu ceritanya...
Tak lama kemudian, Liz keluar kamar dengan handuk di kepalanya. “Eh, Jay.. apa? Ngapain kamu ke sini?” Sepertinya Liz tak menyangka ada aku di sana.
“Eng eh.. anu.. ini.. buat kamu..” aku menyerahkan bunga pada Liz.
“Apaan, nih? Sogokan ceritanya?” Liz mengambil mawar itu, pura-pura cemberut.
“Eng.. iya... eh Liz.. jangan cemberut dong..”
“Emang kenapa?”
“Kalau senyum, cantiknya nggak kalah sama bunga mawar, lho.”
Liz tidak bisa menahan senyum di bibirnya. Ia menonjokku pelan, “Tukang gombal.” Grace cuma cengar-cengir melihat kami seperti remaja yang kasmaran.
“Liz, a-aku... m-minta maaf... ya...”
“A-aku k-kali yang s-salah... maaf, ya... Jay...”
“I-iya... hehe... Eh, Liz.. kamu udah makan lum?”
“B-belum.. Aku... a-aku ganti baju dulu, ya.”
“Eh, Liz!” ucapku ketika Liz hendak berbalik.
“Apa?”
“Nanti makannya jangan yang mahal-mahal.”
Sudah tanggal tua, di dompetku hanya ada uang Rp.6000, tadi habis buat beli bunga + dipalak tukang parkir.
“Huu.. mahasiswa kere..” Liz menjulurkan lidahnya, dan seketika itu suasana kembali cair. “Btw, makasih bunganya yaaaaa,” Liz mencium kelopak bunga sambil tersenyum, cantik sekali.
Liz masuk kamar. Aku menoleh ke arah Grace yang tersenyum lebar sambil mengacungkan sepasang jempolnya.
Mission acomplished...

***

Malam itu Liz mengenakan Coat lengan panjang warna abu-abu, dipadu leggins ketat. Coat itu cukup panjang sampai menutupi atas lututnya. Ah, Liz memang benar-benar bidadari.
“Yuk, my prince..” kata Liz.
“Kawulo, Gusti Ratu.” kataku sambil membungkuk.
“Grace titip kamar, yaa... ntar malem aku ‘tanya-tanya’ lagi.” Liz melambai ke arah Grace yang masih asyik dengan laptop-nya.
“Tanya-tanya apa?” aku mengernyit penasaran.
“Mau-tahu-aja,” balas Grace sambil bercekikikan dengan Liz.
Aku merasa ada yang aneh, tapi aku tidak begitu peduli. Akhirnya aku dan Liz makan Nasi Goreng dekat kampus. Aku memesan yang paling murah, kasta terendah dari menu di tempat itu: Nasi Goreng Kosong, tanpa daging, tanpa telur, tanpa sayur (untungnya masih pake nasi), yang sepiringnya cuma 6000 Perak. Yah masih dalam budget lah, nanti parkir biar Liz yang bayar.
“Tadi kamu SMS, ya..? maaf ya, Jay. Aku lagi mandi..”
“Iya..”
“Kamu kok repot-repot beli bunga, sih? padahal kan lagi kere.. udah, nanti aku aja yang bayar makanannya,” ucap Liz sambil mengusap nasi yang menempel di daguku.
“Yaaaah..”
“Kenapa? Santai aja kali..”
“Yaaah, tahu gitu aku pesan nasi goreng seafood yang paling mahal sekalian!”
“Hahaha.. dasar kere!!” Liz tertawa terbahak-bahak sampai nasi goreng berhamburan dari mulutnya.
Aku menyeruput air putih+es batu dari gelasku. “Liz..” kataku kemudian.
“Apa?
“Aku kangen kamu.”
“Aku juga.” Liz menggenggam tanganku. “Jay, dari semester satu kita sama-sama, dan seminggu ini aku baru tahu ternyata bisa sesakit itu waktu kamu nggak ada.”
Aku mengusap-usap rambut pendek Liz. “Maafin aku ya, sudah kekanak-kanakan.” sekali lagi, cinta telah mengalahkan ego, sodara-sodara.
“Maafin aku juga yah, Jay.”
Kami terdiam.
“Kita jangan berantem lagi, ya.”
“Iya.”
“Janji?”
“Janji.” Kami saling mengaitkan kelingking.
“Aku sayang kamu–“
“-aku sayang kamu” ujar kami hampir berbarengan, flip-flop. Kami berpandangan, sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak. Nasi goreng berhamburan dari mulut kami.
Lama kami bercanda, sambil saling menyuap. Mungkin ini yang sering dibilang oleh orang-orang, cinta akan terasa manisnya jika setelah bertengkar.

Lihat langit di atas selepas hujan reda
dan kau lihat pelangi
Seperti kau di sini hadirkan sriwedari
dalam suka duniawi

Dan kita berpijak, lalu
kau merasakan yang sama sepertiku

Suara hati kita bergema
melantunkan nada-nada
Melagu tanpa berkata
seperti syair tak beraksara

“Jay, habis ini aku mau kasih kamu kejutan.” ucap Liz pasti, dengan senyum cerah dan mata yang berbinar.
Aku tidak tahu apa yang dimaksud, karena setelah itu Liz mengambil sesuatu di kostnya -tas ransel.
Aku tidak tahu apa-apa, aku tidak mendapat firasat apa-apa...

***

KW tersenyum lebar saat melihatku datang bergandeng tangan dengan Liz, dan Slamet sekarang ada di kamar KW, menggantikan posisiku menonton Drama Korea. Berkali-kali anak itu mewek sambil nangis bombay.
“Jaaaaay.... f-filmnya... filmnya... sedih buangeeeet... hueeee... hueeee.....” Jiah, padahal Si Slamet selalu bilang Drama Korea cuma buat bencong.
Sesampainya di kamarku, Liz menyalakan komputer dan menyetel lagu di winamp, Hujan Mata Pisau, mengunci pintu, dan aku tahu apa yang akan terjadi.
Liz tersenyum nakal, mengeluarkan isi tasnya di atas kasur.
“Astaga!! Ente sakit, Liz!!!!!” aku melotot, dramatis. “Dapat dari mana barang-barang kayak gini?!!”
Lututku bergetar melihat barang-barang yang ada di atas kasurku: Topeng bulu warna hitam, borgol, lakban, penyumbat mulut, tali tambang, cambuk, satu set lilin, dildo dari kayu, dildo silikon, dildo dengan dua cabang, dildo dengan strap-on, lotion, entah apalagi.
“Dari Grace, hehe.”
Hah, ternyata Grace punya hobby aneh kaya gini!
“Ini… ini… mau diapaiiiin..” suaraku bergetar sambil memegang penis buatan itu. Aku salah menekan tombol dan benda itu mulai bergerak liar, bergetar dan menggeliat-geliat di lantai.
“Adaaa dehh” Liz tersenyum nakal.
“Liz, jangan bilang kamu mau...” aku menggeleng gusar, “Nggak! ini namanya penyimpangan seks!!”
“Kamu yakin?” Liz menatapku nakal.
“Hah?”
“Kamu Y-A-K-I-N?”
Aku menahan nafas ketika Liz pelan-pelan membuka kancing coat-nya satu persatu dalam gerak slow motion. Tubuh Liz, atau apa yang ada di balik coat itu muncul sepotong-sepotong seperti potongan misteri dalam novel Sir Arthur Conan Doyle.
Sesaat kemudian coat itu sudah tergeletak di lantai.
Mataku tak berkedip melihat badan Liz yang seksi terbungkus lingerie warna hitam ketat dari bahan kulit sintetis yang mengkilat. Lingerie itu berbentuk bustier yang menutupi dadanya dengan ketat, sehingga payudara Liz tampak tumpah ruah ke atas. Di bagian perutnya bustier tersebut menyebar menjadi tali-tali berbentuk jala yang menutupi perut Liz yang ramping, melingkar di pinggulnya, kemudian menahan selembar kain kecil yang menutupi area pubisnya. Kecil sekali, sehingga bulu kemaluan Liz... ah, rupanya Liz sudah mencukur rambut pubisnya. Leggins yang kukira dipakai Liz, ternyata adalah sepasang stocking yang menutup tungkai jenjangnya sampai paha.
Aku menelan ludah, belum pernah aku melihatnya seseksi ini.
“Itu… juga.. punya Grace…?”
“Enak aja, ini punyaku tahu!”
Sekarang aku baru tahu, Liz sengaja membeli lingerie itu buat aku.
Sesaat kemudian Liz sudah melumat bibirku. Pelan-pelan ciumannya turun ke leherku, dan menjelajah sampai putingku.
Liz seperti Nephentes yang memikatku -seekor lalat yang malang- sehingga jatuh dalam perangkapnya. Tanpa sadar, satu persatu pakaianku terlepas, berserakan di lantai. Tahu-tahu aku sudah telanjang bulat, tanganku terborgol di kaki meja belajarku. Aku meronta, namun Liz segera duduk di atas perutku. Liz mengecup bibirku, sebelum menjilati leher dan belakang telingaku. Tubuhku terasa lemas, aku merasa seperti domba yang pasrah sebelum disembelih.
“Jay, kamu tenang aja, sayang..” kata Liz sambil menyentuh bibirku.
“I…iya… ” aku menelan ludah, bergemetaran setengah mampus.
Liz kembali melumat bibirku, kali ini lebih buas dan lebih ganas dari sebelumnya, ciumannya turun perlahan menyusuri garis tengah badanku.
“Aaaah... Lizz! aw! aw! Aw! Aw! Aw! aw!” aku berteriak-teriak kegelian saat lidah Liz menari-nari di perut-bawahku.
“Hehe.. wah teriakannya mantep banget sih? Kayak iklan minuman aja.” kata Liz. Ia bangkit, dan menyalakan lampu belajarku. Lampu kamar kemudian dimatikannya, sehingga kamarku hanya dipenuhi cahaya yang temaram.
Liz berdiri di atasku, mengenakan topeng dan membawa cambuk. Cahaya lampu belajar berpijar menimpa lekuk tubuhnya yang dibungkus pakaian Spandex ketat. Dengan potongan rambutnya yang pendek, Liz sungguh cantik bagaikan seorang dewi -Dewi Kematian-.
Aku menelan ludah melihat Liz yang berpakaian bak Dominatrix. Aku memang seringkali menonton bokep BDSM, namun aku tak menyangka akan mengalaminya sendiri.
“Plakkk!!” sabetan cambuk mendarat di dadaku.
“Apa lo liat-liat?!”
“Lho? Eh?!! Liz?! Anjrit! Sakit tahu!”
“Ctarrrrrr!!! Ctaaaaaarrrr!!!!”
“Kampreeeet! Saaakit, Liz!”
“Liz? Siapa itu Liz? Panggil aku Tuan Putri!” Liz sepertinya benar-benar menghayati perannya.
“Ctaaaaaaaaaar!!!!” kontolku dipecut.
“Adoooooh!!!! Tega ente, Liz! Aduuh!” Aku meronta, namun tanganku terikat borgol.
“Diem kamu, Lonte!” Liz melotot sambil menjambak rambutku.
Liz sangat menikmati ini.
“MET! SLAMET!! TOLONGIN ANE, MET!! KW!! TOLOONG!!” Aku berteriak memanggil tetangga kost-ku, namun Liz dengan sigap membekap mulutku, dan menyumpalnya dengan lakban.
“MMMH!!” aku histeris, aku menatap nanar ke arah Liz, memohon belas kasihannya.
Liz punya belas kasihan, namun ‘Tuan Putri Dominatrix’ ini tidak. Berkali-kali ia menyabetkan cambuknya ke atas tubuhku yang telanjang. Rasa sakit dan perih memicu sekresi hormon adrenalin ke dalam aliran darahku, dan meningkatkan frekuensi nafas dan denyut nadiku.
“Ctaaaarrrr!!!! Ctaaaarr!!!!!!” lecutan cambuk mendarat di atas kemaluanku yang menegang. Konsentrasi adrenalin yang tinggi di darahku menimbulkan efek anestesi yang menakjubkan. Rasa perih yang semula kurasakan berganti dengan rasa binal yang nikmat.
“Diam!! Plak!!” pipiku ditampar.
Ummh hhit mhee!Dafuq? sepertinya aku terlarut dalam permainan Liz.
“Apa?!! Ngomong yang jelas!! Ctarr!! Ctarrr!! Ctarrr!!!” perutku dipecut.
Ummmh! Yhhess!Madesu, lama-lama aku ikutan sakit jiwa...
Liz menyalakan lilin. Keringat dinginku mengucur. Aku sering menonton bokep BDSM, dan tahu ini akan menuju ke mana. Liz mendekatkan lilin itu ke wajahku. Pupilku bergerak mengikuti nyala api yang-menari-
nari.
Darah itu merah, Jenderal!” teriak Liz.
“Mmmmh!” aku melotot.
Lilin ini panas, Jenderal! Seperti gairah!
Ya elah, semua orang juga tahu lilin panas, es lilin baru dingin.
Liz meneteskan tetesan lilin cair ke atas dadaku yang berbulu. Panas! Lilin itu panas! Jenderal! Aku melotot, meronta tidak karuan, namun Liz menjambak rambutku.
“Mmmmh!! Mmmh!!!” air mataku sudah menetes.
Liz tetap meneteskan cairan panas itu. Kali ini sepertinya Liz khilaf, ia terlalu dekat mengarahkan lilin yang menyala itu ke dadaku. Apinya mengenai bulu dadaku yang lebat dan dipenuhi lelehan lilin yang membeku. Seketika itu juga, api membakar dadaku... secara harafiah.

Jakarta kebanjiran
Di Bogor angin ngamuk
Dada ane kebakaran
Gara-gara pacar gemblung

Hati ane gemeteran,
Wara-wiri keserimpet
Dada ane kebakaran
Gara-gara pacar gemblung

Haaaati-hati pacar gemblung!
Haaati ane jadi dag-dig-dug!

Nyaaaak toloooooong!!!!!

Aku histeris, Liz panik. Aku menjerit, Liz ikut menjerit dan dan menepuk-nepuk dadaku untuk memadamkan api.
Dramatis.
“Hehe,” Liz nyengir tanpa rasa bersalah, dan aku hanya bisa menatap sedih ke arah bulu dadaku yang indah, kini gosong sebagian.
“Jangan protes kamu, Lonte!!!! Itulah api asmara!!” namun cepat ia kembali kepada perannya sebagai Yang Mulia Tuan Putri Dominatrix yang kejam dan bengis.
Liz memasang caps pada penisku, kemudian mengangkang di atas perutku. “Diam kamu! Lonte!” Liz mendorong tubuhku kasar, sebelum memasukkan penisku ke dalam vaginanya.
“Mmmh.. harder!! You, fuck!” Lizz berteriak-teriak sambil memompa pinggulnya. Ia mengunggangiku seperti kesetanan, jika tidak mau dibilang memperkosaku. Pinggulnya bergerak dengan kasar senada dengan kata-kata kasar yang dikeluarkannya.
“Plak!! Plak!!” Sekali dua kali tamparan mendarat di pipiku. Rasa sakit yang kurasakan sebelumnya, ditambah dengan jepitan vagina Liz yang peret menimbulkan sensasi kenikmatan yang tak terperi.
“Ooooh!! Ohh! Damn! You bastard!!!Liz berteriak-tidak jelas.
“Mmmh.. mmmh..” aku merem-melek keenakan.
“Plak!!” tamparan mendarat di pipiku. “Shut up! You son a bitch!
“Mmmh.. Yhess.. hhit mhe!”
“Plak!!!”
“Ooooh! Oooh!!”
Liz begitu menikmati permainan ini. Ia menggerakkan pinggulnya seperti kesurupan. Keringat sudah membasahi wajahnya yang secantik bidadari –bidadari dari neraka.
“Mmmh.. mmmh..”
“Plak! Oooh!! Oooh!!” Liz menjerit-jerit. Tangannya menjangkau penis buatan -dildo- dan menyalakannya. Dildo itu bergetar hebat. Liz menyeringai dengan sadis ke arahku. Aku menatapnya nanar, memohon belas kasihan, aku tahu apa yang akan dilakukannya.
“Mmmmh... aaaamh!!!” aku berteriak, mataku melotot saat Liz memasukkan dildo itu ke dalam anusku. Perih! Penderitaan itu perih! Jenderal!
Aku tak pernah paham kenapa sebagian orang menyukai anal sex.
Liz kembali menggoyang pinggulnya. Mekinya yang peret kembali memijat-mijat penisku. Kenikmatan yang kudapat dari bagian depan tubuhku, dan rasa perih yang kudapat dari bagian belakang tubuhku menimbulkan suatu keseimbangan yang harmonis seperti yin dan yang.
“Mmmmh! Mmm!” wajahku sudah terbakar nafsu.
“Yeah?! You enjoy it? Fuck?”
“Ummmh.. yeess.. ooh..” mataku setengah terpejam.
“Plak! Then do it harder!! Motherfucker!! Plak! Plak!!”
Liz semakin liar menunggagiku. Aku tahu, di balik topeng yang dikenakannya itu, ia juga sudah dipenuhi birahi yang memuncak.
“Ooooh.. ooooh! Fuck me! Ooh!” Liz semakin terbawa suasana, tiba-tiba ia mencekikku.
“Mmmh.. Lhhiz? Jhangan!”
Liz malah mempererat cekikannya di leherku. “Ooooh!! Ooooh!!” teriakan Liz semakin kencang seperti cekikannya. Selamat tinggal dunia.
Aku tidak bisa bernafas. Otakku kekurangan oksigen. Aku pernah membaca di majalah kesehatan: bahwa kondisi di mana sel otak kekurangan oksigen, malah akan menimbulkan rangsangan seksual. Mungkin hal ini yang menyebabkan kenapa pada mayat orang gantung diri ditemukan bercak sperma, dan aktor David Caradine mati saat mencoba mengikat dirinya sendiri demi memperoleh kepuasan seksual.
Pandanganku mengabur, kepalaku terasa ringan. Sesaat kemudian aku merasa melayang, tubuhku bergetar-getar hebat dil uar kendaliku.
“Ooooh.. JAAAY!!” Liz berteriak, sebelum memelukku. Aku merasakan tubuhnya juga bergetar hebat.
Tubuhku mengejang, tubuh liz mengejang. Tubuh kami menggelinjang bersama. Untuk sesaat, aku seperti tidak sedang berada di bumi.
Saat kesadaranku pulih, aku merasakan tubuh Liz yang rebah di atas tubuhku yang masih terasa cenat-cenut. Yah, begitulah cinta, cenat-cenut namun indah.
“Hehehe..” Liz tertawa, agaknya dia sudah kembali menjadi dirinya.
“Mmmh.. mmmh..” Liz melepas lakban yang menutup bibirku, dan mengecup bibirku.
“Asyik kan?” katanya.
“Hehe... belajar dari mana sih?”
“Dari bokep-nya Grace.”
“E’et dah, jangan sering-sering ya.. bisa jebol pantat ane.”
“Iyaa.. sebulan sekali deh..” katanya lagi.
“Iya.. iya.. tapi bulan depan kamu yang diiket ya,” kataku.
“Huu..” Liz menjulurkan lidahnya. Ia masih terbaring di atas tubuhku, sambil membelai-belai bulu dadaku yang gosong.
“Jay.. gawat..” kata Liz tba-tiba.
“Apa?”

“Kunci borgolnya ketinggalan di kost!”
“Ya elah, tega kamu, Liz..”
“Hehehe… bentar ya,” Liz segera berlari ke luar kamar.
“Liz!”
“Apa?”
“Bajunya dipake dulu!”
“Oh!”
“Topeng ma pecutnya ditaruh dulu!”
Oom Roy dan anak-anak lantai dua yang baru pulang futsal lewat depan kamarku, memandangi Liz yang berpenampilan seperti dominatrix dengan tatapan aneh. Sementara aku terikat dalam kondisi telanjang dengan dildo yang masih menancap di anus.
Semenjak saat itu, aku dan Liz kapok melakukan eksperimen yang aneh-aneh lagi.

***

Keesokan harinya.

Aku berjalan dengan pincang sambil menggotong-gotong tumpukan kertas. Pantatku masih perih, sehingga agak sulit berjalan.
“Jay, ntar pas libur semester, kamu jadi ikutan jalan-jalan sama anak-anak, nggak?”
“Ke Bali?”
“Hu-uh.”
“Bagaimana bisa pintar? Buat makan saja aku sulit. Teman-teman malu bermain denganku.” aku menirukan iklan layanan masyarakat yang populer tahun 90-an, tentang bibir sumbing.
Liz terkekeh-kekeh, mencubitku. “Kan masih lama, kamu nabung dulu, nah. Toh, nanti ke sana-nya road trip naik mobil, dan nginep di villa-nya Grace di Ubud.”
“Pengen sih, tapi ntar aja deh, waktu kita bulan madu.”
Liz mencubitku, “Udah ah, ikut aja, siapa tahu kamu nikahnya bukan sama aku.”
Mendadak hening.
Perih juga mendengar kata-kata Liz barusan.
“Hehe.. Iya.. iya.. liburan semester kita ke sana ya..”
“Asyiiik, nanti kita jalan-jalan ke Kuta, ya?”
“Tapi aku pinjam uangmu, hehe.”
Liz terbahak dan menoyor kepalaku.
“Yuk, ah... sekarang bantuin dulu,” kataku, sambil memasukkan buku-buku, laporan, dan kertas bekas ke dalam kardus.
Tak lama kemudian seorang laki-laki datang dengan mengendarai motor. Setelah menimbang tumpukan kertas dalam kardus, ia memberikan dua lembar uang 50-ribuan kepadaku.
“Lumayan.. buat nambah-nambah APBN.” kataku sambil mengipas-ngipas uang hasil penjualan kertas bekas itu.
“Haduh.. haduh.. susah punya pacar KEREN, tapi huruh’N’ nya diilangin, ahaha.”
“Haha..” aku menyosor pipi Liz, ia menghindar sambil tertawa-tawa. Ah, begitulah cinta, kadang berantem, kadang baikan, kadang sakit, kadang nikmat.
Waktu itu aku berharap, kebahagian ini jangan cepat berlalu.

Author : Jaya S.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar