Senin, 15 Agustus 2016

The Witch Odyssey



”Wade!” teriak Erik dari atas gerobak yang ditarik oleh kudanya yang setia. Suaranya mengundang perhatian penduduk yang lalu lalang untuk menengok dan melihat apa sesuatu telah terjadi.
“Jangan keras-keras, aku belum tuli!” kata pria dengan jenggot yang panjang dan lebat keluar dari toko daging sambil mengayunkan pisau daging yang dipegangnya. Badannya tidak terlalu tinggi, hanya sekitar setengah tinggi manusia pada umumnya, namun terlihat besar berotot. Itu karena ia adalah seorang Dwarf. “Suaramu dapat terdengar ke seluruh Arlath.”
Arlath, sebuah desa kecil yang terletak dekat rawa Phantasma tidak jauh dari pegunungan Fade di wilayah Laurentia Utara. Bagian dari kerajaan Laurentia yang didirikan hampir lima ratus tahun yang lalu oleh Ratu Lauren, yang dijuluki Warrior Queen. Julukan itu diterimanya setelah Ratu Lauren bersama para ksatrianya memberantas para Orc dan Troll yang sebelumnya menguasai wilayah yang nantinya menjadi kerajaan Laurentia.

“Maaf-maaf,” kata pemuda berambut gelap itu, “lihat apa yang berhasil kubunuh.” Erik mengangkat kain di gerobaknya. Di balik kain itu terlihat seekor babi hutan. Namun bukan babi hutan biasa, tapi seekor Verris, babi hutan liar yang memiliki ukuran tubuh sangat besar, yang terbesar yang pernah dilihat adalah lima kali ukuran babi hutan biasa. Orang-orang yang tadi lalu lalang langsung berhenti dan menghampiri gerobak Erik untuk melihatnya.
“Hoo,” mata Wade terlihat berbinar-binar sambil mengelus-elus jenggotnya. Ia mendekat ke gerobak dan memeriksa Verris tersebut, “Benar-benar tangkapan yang luar biasa. Apa ini mahluk yang mengacak-acak pertanian si tua Hayde?”
“Benar. Hayde membayarku untuk melacak pelakunya. Aku mengikuti jejak yang ditinggalkan menuju Hutan Gelap. Disana jejak itu berakhir pada mahluk ini.”
“Kamu membunuhnya seorang diri?” seorang penduduk bertanya pada Erik.
“Iya.” jawab Erik singkat. Ia bukan tipe orang yang suka membanggakan hasil perbuatannya di depan banyak orang. Ataupun tipe orang yang bercerita panjang lebar bagaimana ia melakukan sesuatu.
“Lalu kenapa kamu memanggilku?” Wade bertanya.
“Kupikir kamu berminat membelinya. Hewan ini memiliki daging yang banyak dan kamu juga dapat menjadikan bulunya yang lebat sebagai selimut.”
Wade kembali mengelus-elus jenggotnya sambil berpikir, “Bagaimana kalau kubeli seharga tiga keping emas?”
Erik mengerenyitkan dahinya. “Ayolah, jangan pelit-pelit. Ada sekitar dua ratus kilogram daging dari hewan ini. Dengan harga 50 keping perunggu per kilo, kamu akan mendapat sepuluh keping emas. Bagaimana kalau lima keping emas?”
“Empat keping emas.” tawar Wade.
“Baik, empat keping emas ditambah lima kilo daging asap terbaik yang kamu punya, bagaimana?”
“Setuju.” Wade bersalaman dengan Erik sebagai tanda jadi. Ia lalu berteriak memanggil asistennya, seorang pemuda yang terlihat lemah, untuk membawa Verris tangkapan Erik masuk ke dalam toko. Si asisten yang melihat ukuran hewan tersebut terlihat bingung bagaimana ia akan memasukkan hewan itu seorang diri.
Wade menyerahkan kantung kecil berisi lima keping uang emas dan daging asap dibungkus kertas seberat yang dijanjikan kepada Erik sebagai pembayaran. Ia lalu mengajaknya menuju kedai minum di seberang tokonya untuk merayakan sambil menunggu si asisten mengerjakan tugasnya.
“Erik, kulihat kamu mendapat buruan besar kali ini.” kata Rowan, pemilik kedai minum merangkap bartender, begitu melihat Erik membuka masuk ke dalam kedai.
Kedai milik Rowan ini merupakan tempat berkumpulnya warga desa di malam hari. Juga menjadi tempat para warga bersosialisasi dan bertukar cerita maupun gosip. Namun pada siang hari, seperti saat ini, kedainya terlihat sepi. Hanya satu atau dua pelanggan yang terlihat karena sebagian besar penduduk bekerja di ladang maupun berburu. Karena itu hanya terlihat satu pelayan yang bekerja di siang hari sementara pada malamnya terdapat lima sampai enam pelayan.
“Segelas besar Ale,” kata Wade duduk di depan meja kedai sementara Erik menarik kursi di sebelahnya. “Apa yang kamu mau?”
“Segelas jus anggur.”
“Apa? Jus anggur?” Wade menggebrak meja. Bukan karena marah tapi karena jus bertentangan dengan prinsipnya. “Kamu sudah sembilan belas tahun, sudah dewasa, orang dewasa tidak minum jus anggur.” Wade menceramahi Erik. “Rowan, berikan segelas Ale untuknya.”
Rowan meletakkan segelas besar Ale di depan Wade serta gelas yang lebih kecil dihadapan Erik. Sebenarnya Erik tidak terlalu suka meminum Ale, rasanya yang pahit dan kandungan alkoholnya yang tinggi membuatnya pusing hanya dengan beberapa gelas saja. Ia lebih menyukai jus anggur yang manis, walau mengandung alkohol tetapi kadarnya jauh lebih rendah. Tetapi kali ini ia mengikuti kemauan Wade. Erik telah belajar dari pengalaman bahwa pelanggan yang senang, dalam hal ini Wade, akan lebih bermurah hati ketika nantinya ia membawa sesuatu untuk dijual. Erik meminum seteguk Ale sambil berusaha tidak menunjukan mimik tidak suka. Wade tertawa sambil menepuk-nepuk punggung Erik.
“Setelah ini kamu akan langsung pulang?” tanya Rowan sambil mengelap gelas-gelas dibalik meja kedai.
“Tidak. Aku harus ke tempat Gareth untuk membeli pedang baru, Verris itu mematahkan pedangku.” Erik menarik gagang pedang dari sarung yang terikat di pinggangnya. Bilah pedang yang menempel pada gagang tidak lebih panjang dari pisau buah. “Setelah itu aku harus membeli bahan makanan dan obat untuk Anya.”
“Kalau begitu tolong sekalian berikan ini pada Gareth.” Rowan mengeluarkan satu drum kecil berisi lima liter Ale terbaiknya dan meletakkannya diatas meja. “Sekalian tanyakan pada Anya apa ia dapat membuat kue tart lagi, banyak pelangganku yang menyukainya.”
“Akan kutanyakan. Kalau begitu aku pergi dahulu, aku tidak ingin sampai rumah terlalu gelap.” Erik menghabiskan minumannya dengan sekali teguk sambil memejamkan mata. Begitu hendak membayar Rowan menolaknya. Erik berterima kasih lalu mengapit drum minuman untuk Gareth diantara lengannya dan menenteng daging dari Wade di tangan satunya.
Ia meletakkan bawaannya diatas gerobak, tampaknya asisten Wade berhasil menurunkan buruannya, lalu menutupinya dengan kain. Begitu ia naik di atas gerobak, Erik memacu kudanya untuk berjalan. Jalan batu yang dilaluinya membuat gerobaknya dapat melaju dengan lancar. Tidak sampai dua ratus meter, ia menghentikan gerobaknya lagi. Dari gedung dimana ia berhenti, terdengar suara logam saling beradu. Asap mengepul keluar dari cerobong asap berukuran besar. Erik mengambil drum minuman dari gerobaknya. Ia membuka pintu dengan ukiran palu kemudian masuk ke dalam.
Ruangan itu penuh dengan rak-rak berisi berbagai macam barang-barang logam. Mulai dari pedang, kampak, sampai palu berukuran besar. Tetapi selain senjata juga terdapat alat-alat untuk bertani, pisau-pisau, bahkan tapal kuda. Sebagai satu-satunya pandai besi di Arlath, Gareth, pemilik tempat ini, membuat hampir semua kebutuhan penduduk yang dibuat dari logam.
“Hey, apa ayahmu ada?” tanya Erik pada gadis seumur dirinya yang sedang mengatur barang-barang di salah satu lemari.
Gadis yang disapanya terkejut dan menjatuhkan pisau yang sedang dipegangnya. Ia membalikkan badan lalu dengan gugup menjawab pertanyaan Erik, “A-ayah ada dibelakang, kamu langsung saja kesana.”
Erik menghampiri gadis itu kemudian memungut pisau yang dijatuhkannya kemudian menyerahkannya. Gadis itu mengambilnya sambil menundukkan kepala. “Kamu harus lebih hati-hati, berbahaya kalau kamu menjatuhkan benda tajam seperti ini.” kata Erik.
Gadis itu menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apa-apa ketika Erik menuju ke pintu menuju bagian belakang dari bangunan. Begitu ia membuka pintu, terlihat ruang terbuka dengan tungku api besar. Seorang pria botak tampak sedang memanaskan besi di dalam tungku untuk melunakkannya sehingga mudah diolah. Otot-ototnya bekerja keras ketika ia mengeluarkan besi berwarna kuning menyala, meletakkannya pada besi landasan dan memukulkan palunya berkali-kali. Begitu ia menyadari kehadiran Erik, ia memberi tanda agar Erik menghampirinya. Ia mencelupkan besi yang baru ditempanya ke dalam air.
“Apa yang bisa kubantu kali ini?” tanya Gareth.
“Aku membawakan titipan Rowan.” Erik meletakkan drum minuman yang dibawanya di meja kerja Gareth, jauh dari api. Erik lalu mengeluarkan dan menunjukkan pedang patahnya. “Aku juga ingin membeli pedang baru.”
Gareth mengambil pedang patah yang dipegang Erik, dilihatnya sebentar lalu dilemparkannya ke drum kayu besar berisi besi bekas. “Ini sudah kedua kalinya bulan ini. Kemarilah.” Gareth berjalan masuk ke dalam toko menuju lemari etalase, dekat dengan tempat anaknya yang sedang bekerja. Dari dalam ia mengeluarkan sebilah pedang. “Bagaimana kalau kamu memakai pedang ini, terbuat dari baja yang jauh lebih kuat dan tajam daripada pedang besi yang selama ini kamu gunakan.”
“Tapi harganya juga jauh lebih mahal.” kata Erik begitu melihat label harganya, satu keping emas. Cukup jauh dari pedang besi seharga lima belas keping perak yang biasa digunakannya.
“Kamu itu terlalu perhitungan.” Gareth menghela nafas. “Kamu tidak boleh pelit dengan senjata yang akan melindungimu. Bagaimana kalau pedangmu patah ketika bertemu musuh? Bukan hanya kehilangan senjata, kamu dapat kehilangan nyawa.”
“Ya, aku masih harus memperhitungkan pengeluaranku yang lain. Selain kebutuhan sehari-hari, masih ada pengeluaran untuk obat Anya yang tidak murah.”
“Darah pedagang orang tuamu ternyata masih kuat walau kamu pernah menjalani pelatihan sebagai seorang ksatria.” Gareth memasukkan kembali pedang yang dipegangnya ke dalam lemari. Erik menanggapinya dengan tersenyum. “Bagaimana kalau kamu menikah saja dengan anakku, nanti kuajarkan membuat pedangmu sendiri? Tentu akan lebih hemat bukan.”
Terdengar suara logam jatuh ke lantai begitu Gareth berkata demikian. Anak gadisnya menjatuhkan semua yang dipegangnya. Gadis itu buru-buru merapikannya dengan wajah merah lalu keluar ruangan melalui pintu belakang.
“Seperti yang kamu lihat, selain pendiam dia juga agak ceroboh. Aku jadi khawatir kalau suatu saat nanti aku meninggal. Lagipula kelihatannya juga dia suka padamu.”
“Jangan becanda begitu. Aku beli pedang yang biasa saja.” Erik mencoba mengalihkan pembicaraannya. Ia membayar begitu Gareth mengambil dan memberikan pedangnya, kemudian keluar dari toko dengan terburu-buru. Erik
selalu menghindari pembicaraan mengenai pernikahan, beberapa orang di desa mulai berusaha menjodohkannya dengan anak gadis mereka. Sudah praktik umum di daerah perdesaan dimana pria berusia di atas delapan belas tahun dinilai sudah pantas menikah.
Erik berjalan kaki sebentar menuju toko serba ada dan membeli bahan-bahan makanan serta berberapa tanaman obat. Setelah merasa sudah memperoleh semua yang dibutuhkan, ia kembali ke gerobaknya kemudian memacu kudanya. Ia berbelok keluar dari jalan utama yang dilapisi batu menuju jalan tanah. Jalannya tidak rata dan kalau hujan turun maka akan dipenuhi oleh genangan lumpur. Setelah lima ratus meter, ia kembali menghentikan keretanya dan menuntun kudanya masuk ke halaman sebuah rumah. Rumah itu tidaklah bagus maupun besar, bahkan sudah terlihat tua dibanding bangunan lain, lumut hijau memenuhi tembok luarnya, tetapi itulah rumahnya.
“Untunglah kamu sudah pulang,” seorang wanita paruh baya keluar dari dalam rumah. Wanita itu bernama Sarah, ia adalah istri tetangganya. Sarah sering menjenguk Anya ketika Erik harus berpergian karena khawatir dengan gadis itu. Sarah sudah seperti keluarga sendiri bagi Erik dan Anya. Namun kali ini panik yang terlihat di wajahnya, “Anya… peyakit Anya kambuh!”
Mendengar kabar itu, Erik berlari ke dalam rumah, menjatuhkan begitu saja bungkusan-bungkusan yang telah dipegangnya kembali ke atas gerobak, menuju kamar Anya. Disana ia mendapati adiknya terbaring diatas kasurnya. Selimut tua menyelimuti tubuhnya. Erik berlutut disamping tempat tidurnya, memegang tangan Anya. Sementara tangan yang satu lagi memegang dahi adiknya. Demam yang dialami Anya tinggi sekali.
“Tadi ketika bibi datang kesini, kutemukan dia terbaring di lantai. Lalu kubawa dia ke kamar kemudian menunggumu pulang.” kata Sarah yang berdiri di luar kamar.
“Aku harus memanggil tabib.” kata Erik, dari nada suaranya siapapun yang mendengar akan tahu seberapa khawatirnya ia akan kondisi Anya.
“Bibi saja yang memanggil tabib, kamu temani adikmu disini.”
“Bibi, terima kasih.” kata Erik begitu Sarah hendak pergi. Wanita itu menganggukkan kepalanya lalu bergegas mencari tabib.
Erik hanya bisa menunggu hingga tabib datang, tidak ada yang dapat dilakukannya, ia merasa sama sekali tidak berdaya. Sejak kecil kondisi tubuh Anya lemah, sehingga ia mudah jatuh sakit setiap waktu. Keadaan inilah yang membuat Erik kembali ke desanya setelah kematian kedua orangtuanya akibat kecelakaan. Dua tahun yang lalu, hanya berberapa bulan sejak ia lulus dari pelatihan menjadi ksatria kerajaan Laurentia, ia menerima surat mengenai kecelakaan yang menimpa orang tuanya, surat itu membawanya kembali ke Arlath untuk menjaga adiknya, walau harus meninggalkan impiannya menjadi ksatria. Akan tetapi Erik tidak menyesal melakukannya, ia sangat menyayangi adiknya.
“Kak… kakak sudah pulang?” kata Anya dengan suara pelan. Ia berusaha bangun tapi Erik mencegahnya.
“Kamu tiduran saja disini, bibi sedang memanggilkan tabib untukmu.” kata Erik lembut.
“Tapi…”
“Tidak ada tapi, turuti apa kata kakakmu ini.”
“Kakak…” bisik Anya setelah ia kembali tiduran di kasurnya sambil menarik selimutnya hingga menutupi setengah wajahnya.
“Hmm…”
“Apa kakak membenci Anya?” tanya Anya diikuti oleh suara batuk, nafasnya terdengar berat.
“Tentu saja tidak. Kenapa kamu berpikir demikian?”
“Sebab…” Anya kembali batuk, “Sejak kepergian ayah ibu, kakak harus mengurus Anya, bekerja keras mencari uang, bahkan karena Anya, kakak meninggalkan impian kakak sejak kecil.”
“Kamu jangan berpikir yang macam-macam. Yang harus kamu tahu, kakak akan melakukan apa saja agar kamu bisa sembuh. Sekarang kamu istirahat saja sampai tabib datang.” Erik mencoba menenangkan Anya. Ia tahu pertanyaanya itu disebabkan oleh demamnya sebab Anya biasanya merupakan gadis yang ceria dan mampu membuat siapa saja tersenyum.

***

Aku pasti tertidur, pikir Erik ketika ia membuka mata dan mendapati dirinya terbaring di kursi panjang yang selama ini menjadi tempat tidurnya. Karena ketika ia tinggal sebelum orang tuanya meninggal, ia berbagi kamar dengan Anya, yang tidak masalah ketika dirinya masih umur dua belas dan Anya berumur sepuluh tahun. Namun setelah dewasa, tidak mungkin ia tinggal satu kamar dengan Anya. Erik juga tidak mau tidur di kamar orang tuanya, yang akhirnya dibiarkan kosong, karena itu ia menjadikan kursi panjang di ruang tamu merangkap ruang keluarga merangkap ruang makan dan dapur menjadi tempat tidurnya.
Erik bangun lalu menuju kamar Anya untuk memeriksa keadaannya. Ia melihat Anya tertidur lelap lalu memegang dahi Anya, demamnya belum juga turun. Tetapi setidaknya batuknya sudah berkurang setelah diberikan ramuan obat oleh tabib. Erik kembali ke ruangan depan lalu duduk di depan meja makan. Bungkusan belanjaannya terletak diatas meja makan setelah sebelumnya ia memindahkannya dari gerobak. Ia mengeluarkan sepotong roti dari salah satu bungkusan itu, ketika ia menarik tangannya bungkusan kecil ikut keluar dari dalamnya. Bungkusan berisi gula-gula warna warni dengan buah kering di dalamnya. Sama seperti Erik, Anya juga menyukai makanan manis dan gula-gula itu merupakan kesukaan mereka berdua. Erik membeli gula-gula itu untuk Anya yang ia tahu akan membuatnya senang. Tetapi sekarang manisan itu membuatnya mengingat kembali percakapannya dengan tabib setelah ia memeriksa Anya.
“Saya minta maaf. Saya tidak tahu bagaimana cara menyembuhkan adikmu. Saya tidak pernah melihat penyakit seperti ini. Yang dapat saya lakukan hanya memberikan obat untuk gejala-gejalanya.”
“Apa dengan begitu ia masih dapat sembuh?”
“Saya tidak tahu, maaf. Namun jika ia tidak membaik dan menjadi semakin parah maka dalam berberapa hari… ia dapat meninggal.”
Mengingat ucapan tabib membuatnya kesal tidak tertahankan sampai ia memukul meja dengan keras. Roti yang tadi dikeluarkannya terjatuh ke lantai, hancur terkena tinjunya. Erik kesal bukan kepada tabib itu, tetapi kepada dirinya sendiri. Ia tidak dapat berbuat apapun disaat orang yang disayanginya dalam bahaya. Ia merasa tidak berguna.
Merasa sesak di dalam rumah, Erik memutuskan untuk menenangkan pikiran. Ia keluar dari rumah lalu menelusuri jalan desa tanpa tujuan yang pasti. Udara malam yang dingin membuat para penduduk memilih tetap tinggal di dalam rumah dekat dengan perapian, membuat jalanan sepi tanpa ada orang sama sekali. Satu-satunya tempat yang ramai adalah kedai Rowan. Ia melangkah kesana berpikir untuk meminum berberapa gelas jus anggur atau mungkin Ale, tetapi berhenti disamping bangunan kedai. Ia bersandar pada sisi bangunan yang gelap dan tidak terlihat dari dalam maupun dari pintu masuk kedai. Akal sehatnya menahannya, mengingatkan kalau ia harus merawat Anya, masih ada kemungkinan Anya dapat bertahan.
“Apa kamu sudah mendengarnya?” Erik mendengar suara yang dikenalinya, ia mengintip dari sudut dinding kedai, suara milik Sarah. Wanita itu telanjang, payudaranya yang besar tampak bulat menggoda. Ada seseorang yang meremas-remasnya, memelintir putingnya, hingga membuat Sarah mendesis kegelian.
“Aku sudah mendengarnya. Anakku melihat tabib keluar dari rumah Erik, jadi ia menanyainya apa sesuatu telah terjadi. Tabib menceritakan keadaannya kemudian anakku memberitahukannya padaku.” terdengar suara Gareth. Dia melepaskan payudara Sarah dan berdiri. Diberikannya penisnya yang telah menegang pada wanita itu untuk diemut. Sarah menerimanya dengan senang hati.
“Kasihan sekali gadis itu.” kali ini terdengar Wade berbicara. Erik tidak melihatnya tadi karena tubuh gempal Wade tersembunyi di bawah tubuh montok Sarah, hanya kaki pendeknya yang kelihatan. “Menurutmu apa yang akan terjadi?” penis Wade menancap dalam di liang kewanitaan Sarah yang sempit dan bergerak liar disana. Kontras dengan badan Wade yang mungil, penisnya ternyata besar dan panjang. Pantas saja Sarah terkejang-kejang menerima sodokannya.
“Tabib tidak mengatakannya terus terang kepada Erik,” Sarah terdengar sedih ketika mengatakannya, “tapi ketika kutanya, ia berkata kalau tidak ada harapan bagi Anya untuk bertahan.” selesai berkata, ia memasukkan kembali penis Gareth ke dalam mulutnya dan menghisapnya dengan rakus.
Mendengar itu jantung Erik nyaris berhenti. Jadi Anya akan benar-benar meninggal? Tanyanya pada diri sendiri. Biasanya dia akan tergoda untuk ikut bergabung kalau ada ’pesta’ seperti sekarang. Tapi kondisi Anya yang genting membuatnya tidak bersemangat. Bahkan penisnya saja tidak mau menegang meski di depan sana tubuh bugil Sarah tampak mulus menggoda.
“Erik pasti akan sedih sekali, anak itu sangat dekat dengan adiknya. Seandainya ada sesuatu yang dapat kita lakukan.” kata Gareth. Nafasnya mulai mendengus, mukanya memerah gelap. Hisapan Sarah pada batang penisnya terasa sangat nikmat sekali.
“Sebenarnya… mungkin ada yang bisa kita lakukan.” Wade terdengar ragu mengatakannya. Tangannya mengelus-elus paha mulus Sarah sambil menusukkan penisnya semakin cepat. “Kalian tentu tahu tentang penyihir tua yang tinggal di rawa Phantasma?” tanyanya kemudian.
“Tidak!” Sarah berkata dengan keras. Tubuh mulusnya yang putih dan montok telah basah oleh keringat. Melayani dua orang selama dua jam mau tak mau membuat staminanya terkuras juga. “Jangan katakan tentang penyihir itu kepada Erik.” cegahnya.
“Sarah benar. Penyihir itu berbahaya.” Gareth setuju dengan Sarah. Dia menarik kepala perempuan itu agar kembali menghisap penisnya.
“Aku hanya berpendapat.” kata Wade, penisnya mulai terlihat berkedut-kedut, tanda kalau sebentar lagi akan segera meledak. “Rumor mengatakan kalau penyihir yang tinggal di rawa adalah salah satu penyihir terkuat di kerajaan ini, bahkan dikatakan ia dapat membunuh dewa sekalipun. Kalau ia sekuat itu, mungkin saja penyihir tua itu dapat menyembuhkan Anya.” makin ia percepat goyangan dan tusukannya.
“Tapi rumor juga mengatakan kalau penyihir tua itu haus darah, dan akan membunuh siapa saja yang berani muncul dihadapannya!” kali ini Sarah terlihat sedikit berjengit. Tubuh mulusnya bergetar saat dari dalam cairannya menyembur cairan bening yang cukup banyak. “Kalau Erik mendengar apa yang baru kamu katakan ia akan langsung membawa Anya mencari penyihir itu. Maka mereka berdua akan mati.” wanita itu menghela nafas, terlihat sangat menikmati orgasmenya.
Wade menyusul tak lama kemudian, spermanya yang berwarna hijau kemerahan muncrat memenuhi rahim Sarah. Begitu juga dengan Gareth, pejuhnya terlontar deras membasahi mulut dan kerongkongan wanita cantik itu. Bertiga mereka memekik berbarengan penuh kepuasan.
Erik tidak mendengar lagi kelanjutan dari pembicaraan ketiganya. Ia sudah pergi dari sana, berlari kembali ke rumah. Sesampainya, ia mengambil ransel kulit miliknya dan mengisinya dengan makanan dan air. ia juga meletakkan jerami yang kemudian ditutupi selimut pada gerobaknya. Setelah mendengar percakapan tadi, ia memutuskan untuk pergi pagi-pagi sekali membawa Anya menuju Rawa Phantasma.
“Aku harus menemui penyihir itu lalu memintanya menyembuhkan Anya.” tekadnya.

***

“Kakak, kita akan kemana?” tanya Anya ketika ia terbangun terbaring diatas tumpukan jerami di dalam gerobak.
“Kita akan ke kota mencari tabib lain untukmu.” Erik berbohong mengenai tujuan mereka. Ia tidak ingin Anya khawatir dan berpikir macam-macam. “Kamu tidur saja lagi.”
Pagi-pagi sekali ketika seluruh desa masih tertidur, Erik sudah mengemudikan gerobaknya keluar dari desa. ia bahkan tidak membangunkan Anya terlebih dahulu untuk memberitahukan kalau mereka akan bepergian, Erik menggendongnya ketika Anya masih tidur dan meletakkannya di dalam gerobaknya. Butuh waktu empat jam untuk melewati wilayah yang tidak rata karena tidak memiliki jalan, sebab tidak ada yang ingin pergi ke rawa Phantasma, dengan bukit-bukit kecil menghalangi jalan membuat Erik harus memutarinya. Namun akhirnya mereka sampai di tepi rawa.
Erik menghentikan kudanya lalu turun untuk memeriksa keadaan Anya. Ia kemudian mengamati rawa dihadapannya, lalu menyadari kalau ia tidak tahu darimana ia harus mencari penyihir itu. Rawa Phantasma merupakan rawa yang cukup besar, dikatakan butuh waktu empat hari berkuda selama lima jam tiap harinya untuk mengelilingi rawa ini. Erik bertanya pada dirinya bagaimana menemukan satu orang di tempat seluas ini. Ia mengamati barisan pepohonan yang terendam air, beberapa merupakan pohon kering dan sudah mati, ketika ia melihat bagian rawa yang tidak tergenang. Lebarnya yang hanya cukup untuk dua orang jalan berdampingan tampak seperti jalan masuk dimata Erik. Ia memeriksa sejenak untuk memastikan jalan itu benar menuju ke dalam rawa, ketika yakin ia kembali ke gerobaknya. Erik mengikat kudanya di salah satu pohon di tepi rawa setelah itu ia menurunkan Anya dari atas gerobak. Anya tetap tertidur bahkan ketika Erik menggendongnya di pundaknya. Sepertinya tubuh Anya yang semakin lemah membuatnya sulit untuk tetap terbangun. Setelah memastikan Anya tidak akan terjatuh dari gendongannya, Erik berjalan perlahan melawati jalan kecil itu dan masuk semakin dalam ke rawa Phantasma.
Setelah berjalan berberapa lamanya ke dalam rawa-rawa, Erik mulai menyadari sesuatu. Udara rawa tidaklah bau seperti yang ia kira, memang ada aroma tumbuhan yang membusuk tetapi juga ada aroma tumbuhan yang lain, secara keseluruhan memiliki aroma tanah yang kuat yang cukup enak di hidung. Air di rawa tersebut juga mengalir pelan, salah satu alasan rawa tersebut tidak berbau busuk. Erik terus berjalan dengan Anya di punggungnya, terus mengikuti jalan yang terlihatnya tanpa mengetahui apakah jalan yang diambilnya adalah jalan yang benar. Sejam setengah berlalu, Erik mulai merasa lelah, tangan dan pundaknya terasa pegal, ketika ia melihat asap putih dibalik pepohonan. Erik mulai mempercepat langkahnya, beberapa kali hampir terpeleset karena lumut memenuhi jalan yang dilaluinya. Di ujung jalan terlihat sebuah pondok kayu. Pondok tersebut berbentuk seperti tiga buah bangunan berbentuk lingkaran yang saling menyatu pada sisinya dengan memiliki atap masing-masing. Pada bangunan tengah, yang terbesar, asap putih yang dilihat Erik keluar dari cerobong asap. karena letaknya di sebuah pulau kecil di tengah-tengah rawa, sebuah jembatan kayu menghubungkan tempat Erik berada dengan pondok tersebut.
“Permisi, ada orang didalam.” Erik berseru sesampainya ia di depan pondok. Ia mengulanginya dua kali lagi sebelum seseorang keluar dari dalam pondok.
Dari dalam pondok terlihat seseorang dengan memakai jubah hitam berkerudung, tubuhnya terlihat bongkok. Ia membawa tongkat berbentuk aneh, disatu sisi memiliki hiasan tongkat dengan bola kemerahan di tengahnya, di sisi yang lain seperti pisau melengkung dengan ornamen di sekitarnya. Sosok itu tidak melangkah jauh dari bayangan kanopi di beranda gubuknya sehingga Erik tidak dapat melihat wajahnya. Ia hanya dapat melihat rambutnya yang berwarna putih panjang muncul dari balik kerudungnya.
“Pergi dari sini!” suara serak memperingatkan Erik.
“Saya tahu siapa anda,” Erik maju berberapa langkah, “tolong, saya mohon sembuhkan adik saya.”
“Kamu salah orang.”
“Tidak, saya yakin anda adalah penyihir yang aku dengar. Penyihir yang dapat membunuh dewa sekalipun.”
“Hahaha.” Penyihir itu tertawa, suaranya yang serak membuatnya terdengar menakutkan. “Kalau begitu apa sebaiknya kubunuh saja kalian disini. Sekarang pergi, jangan ganggu aku lagi!”
“Saya bersedia melakukan apa saja kalau anda mau menyembuhkan adik saya!” seru Erik ketika penyihir itu membalikkan badan dan hendak menutup pintu.
Penyihir itu berhenti sesaat, mungkin memikirkan penawaran Erik, namun ia membanting pintu sambil berkata, “Pergi!”
“Saya tidak akan pergi,” kata Erik dengan suara keras. Ia menurunkan Anya dari gendongannya kemudian berlutut, Anya dibaringkan di depannya dengan paha Erik sebagai bantalnya. Sakitnya terlihat semakin parah, panas tubuhnya meningkat dan wajahnya terlihat semakin pucat. “Mereka berkata kalau adikku tidak akan selamat. Satu-satunya harapan adalah anda. jika saya pergi maka ia akan meninggal. Karena itu saya akan tetap berada disini hingga anda mau menyembuhkannya.”
Entah berapa lama ia berlutut disana, kakinya terasa pegal sekali karena harus menopang kepala Anya juga. Matahari sudah mengarungi langit dan sudah waktunya bertukar posisi dengan rembulan ketika pintu pondok terbuka. Sang penyihir berdiri di depan pintu lalu berkata, “Apa kamu benar akan melakukan apa saja? Bahkan menjadi budak penyihir tua ini?”
Erik langsung menganggukkan kepalanya, ia tidak perlu berpikir panjang, baginya keselamatan Anya adalah yang utama.
“Bawa dia masuk.” kata penyihir itu setelah menerima jawaban Erik. Ia membalikkan badan lalu menghilang ke dalam pondok, tetapi pintu pondok dibiarkan terbuka. Sementara itu Erik berdiri dengan susah payah, kakinya mati rasa, lalu membawa Anya masuk.
“Letakkan di ranjang itu.” Penyihir menunjuk sebuah ranjang kecil di sudut ruangan.
Erik mengikuti perintahnya. Setelah meletakkan Anya, ia melihat ke sekeliling isi pondok si penyihir. Ternyata tidak semenakutkan yang dipikirkannya. Selain kuali besar di tengah ruangan, botol-botol berisi kulit ular, kelelawar mati, kodok yang dikeringkan, dan lain-lain, pondok itu tidak jauh berbeda dengan rumah pada umumnya. Bahkan pondok itu terlihat lebih terawat dan bersih daripada rumahnya sendiri.
“Sekarang kamu keluar!” perintah penyihir itu. Erik merasa ragu, ia tidak ingin meninggalkan Anya sendirian dengan si penyihir. “Terserah kamu saja kalau begitu.” Si penyihir menghampiri Anya lalu mulai membuka pakaian Anya.
“Apa yang anda lakukan?” Erik panik lalu membalikkan badan.
“Kalau mau mengobatinya, aku harus membuka bajunya. Kalau kamu mau berada disini lebih baik diam dan bantu aku atau kamu keluar saja.”
”A-aku keluar saja.” dengan cepat Erik sudah berada di beranda lalu menutup pintu di belakangnya. Ia duduk bersandar pada dinding pondok, ia merasa lelah. Angin yang bertiup sepoi-sepoi dan aroma rawa-rawa membuatnya mengantuk. Walau berusaha melawan rasa kantuknya, ia akhirnya tertidur.
“Bangun!” seseorang memukulkan tongkatnya ke kepala Erik, membuatnya terbangun seketika karena kaget.
Erik memutar kepalanya menuju arah datangnya suara. Di belakangnya, ia melihat seseorang berdiri pintu pondok. Seorang gadis berkulit putih dengan rambut yang tak kalah putih. Mata merahnya memandang Erik lembut.
“Ayo masuk.” suara yang merdu dan jernih keluar dari mulutnya, sangat berbeda dengan suara si penyihir.
“Siapa kamu?” tanya Erik ragu-ragu. “Kemana penyihir yang tinggal di pondok ini?”
Gadis itu mengetukkan kembali tongkatnya ke kepala Erik. “Dasar bodoh,” katanya, “Aku tinggal disini, aku pula yang menyembuhkan adikmu. Baru dua jam, tapi kamu sudah lupa?”
Erik mengamati gadis itu, ia memegang tongkat yang sama dengan penyihir itu, ia juga mengenakan jubah yang sama serta memiliki rambut putih yang sama. “Tapi penyihir yang waktu itu bertubuh bongkok dengan suara yang serak?” Erik masih belum percaya kalau gadis di depannya merupakan penyihir itu.
“Apa aku harus menerangkannya satu-satu.” Gadis itu terlihat kesal akan pertanyaan Erik. “Aku bisa berubah jadi apa saja.” dia kembali masuk ke dalam pondok. Erik mengikutinya dari belakang, ia masih kaget atas identitas sebenarnya penyihir itu yang ternyata seorang gadis yang tidak lebih tua dari dirinya, dan terlihat menarik di matanya.
“Uhm, kalau boleh tahu siapa nama kamu? Namaku Erik.” Ia bertanya. Erik melihat Anya masih berada di ranjang  yang sama, namun wajahnya tidak lagi pucat seperti sebelumnya, nafasnya teratur, dan ia tertidur pulas.
“Berikan tanganmu!” perintahnya tanpa repot menjawab pertanyaan Erik.
Erik tidak tahu apa yang penyihir itu akan lakukan. Ia bertanya dalam hati apa penyihir itu akan mengambil tangannya sebagai bayaran? Walau demikian, ia tetap mengulurkan tangannya. Si penyihir menyentuhkan kepala tongkatnya ke lengan Erik. Bola merah pada tongkatnya berpendar lalu sebuah benda hitam, seperti pita kecil, keluar dari dalamnya. Benda itu menyayat kulit lengan Erik lalu masuk ke dalamnya. Erik dapat melihat benda tersebut meliuk-liuk di bawah kulitnya, perlahan-lahan membentuk sebuah huruf lalu menjadi sebuah kata. Erik membaca kata tersebut, ‘NOIRE.’
”Panggil aku Noire.” kata gadis itu kemudian. Nama yang sama dengan kata di lengan Erik. “Sekarang kamu menjadi budakku. Setiap kali tulisan di tanganmu terasa panas dan menyala, kamu harus segera datang kesini. Jika lebih dari enam jam kamu belum tiba, maka tulisan itu akan menjadi racun dan kamu akan mati. Mengerti?”
“Saya mengerti.” kini hidup Erik berada di tangan penyihir bernama Noire. Ia menjadi budak yang harus mengikuti setiap keinginannya.
”Dan sekarang, sebagai tugas pertamamu,” penyihir itu menyandarkan tongkatnya di dinding dan tersenyum pada Erik, giginya yang putih bersih terawat kelihatan indah, serasi dengan bentuk bibirnya yang tak terlalu lebar.
”PUASKAN AKU...!!!” bisiknya mesra sambil berjalan mendekat.
”Ah, aku...” Erik mengundurkan langkah, terlihat bingung dan ragu dengan situasi ini. Wajah cantik Noire kini sudah berada di dekatnya, begitu dekat hingga hembusan nafasnya yang hangat sampai terasa menerpa dagunya.
Wajah gadis itu kelihatan sedikit berkeringat, sorotan kedua matanya yang sedikit sipit kelihatan begitu sejuk dalam pandangan Erik, hidungnya yang putih mbangir mendengus pelan, dan bibirnya yang ranum kemerahan terlihat basah setengah terbuka. Aduh cantiknya! Sejenak Erik terpana dengan kecantikan wajah Noire yang alami. Tanpa sadar dan tanpa dapat mencegahnya, ia mendekatkan mukanya dan... semuanya seolah terjadi begitu saja tanpa Erik mengerti sama sekali, seolah ada magnet yang menuntun dan membimbingnya di luar kesadaran. Dalam 2 detik bibirnya telah mengecup lembut bibir Noire yang setengah terbuka. Begitu terasa hangat dan lunak. Erik memejamkan kedua matanya menikmati kelembutan bibir hangat gadis itu, terasa begitu manis.
Selama kurang lebih 10 detik dia mengulum bibir Noire, meresapi segala kehangatan dan kelembutannya. Erik bisa melihat betapa wajah Noire yang cantik kelihatan semakin cantik. Kedua pipinya yang putih bersih bersemu merah bak boneka barbie, kedua matanya yang sipit memandang redup kepadanya, sementara kedua belah bibirnya masih setengah terbuka dan merekah basah menawan hati.
”Hmm...” bisik Erik setengah tak percaya. Kalau jadi budak akan senikmat ini, ia tidak akan kecewa. Di bawah, sesuatu yang hangat mulai menyelubungi tubuhnya, sesuatu yang sangat ia kenal. Erik merasa batang penisnya mulai tegak berdiri! Gila! begitu cepatnya benda itu mengeras dan mendesak celana kulitnya seolah ingin memberontak keluar.
”Aku yakin kamu bisa memuaskan aku, Erik.” Noire berbisik lirih, ia tersenyum semakin manis. Bibir ranumnya yang barusan dikecup Erik terlihat semakin indah menawan membentuk senyuman mesra.
”Eh, i-iya, pasti.” sahut Erik, tak tahu harus menjawab apa. Tapi memang benar, semua wanita yang pernah tidur dengannya menyatakan puas dengan pelayanannya.
”Ya sudah, kalau begitu cepat lakukan.” sahut Noire enteng. Kedua matanya memandang Erik dengan sejuta arti.
Tanpa menunggu lama, Erik segera meraih tubuh ramping Noire yang berdiri tersenyum di hadapannya dan membawa ke dalam pelukannya. Gadis itu lemas saja menyambutnya, dia membiarkan tubuhnya yang seksi dan montok berada dalam dekapan Erik. Memang itu yang dia cari. Wajah Noire yang cantik bak bidadari kahyangan memandang Erik pasrah. Senyum manis di bibirnya terlihat kian menggoda. Kedua pipinya kelihatan semakin memerah pula, menambah kecantikannya. Erik semakin terpana.
”Perlakukan aku layaknya kamu lelaki sejati, Erik.” bisik Noire lirih setengah kelihatan berharap.
Kedua tangan Erik yang memeluk erat pinggang Noire terasa sedikit gemetar memendam sejuta rasa. Dan tanpa terasa jemarinya telah berada di atas gundukan pantat Noire yang bulat, mekal dan padat. Perlahan Erik mengusapnya mesra sambil berbisik. ”Kamu adalah ratuku!”
Jiwa pemuda itu telah terlanda nafsu. Dia lupa diri, setan-setan dari neraka telah menyapu habis pikiran dan akal sehatnya. Desakan kedua buah payudara Noire yang besar pada dadanya membuat batang penis Erik semakin tegang tak terkira. Perlahan kedua tangannya merayap untuk meremas gemas kedua belah pantat Noire yang terasa kenyal dan padat dari balik jubah hitam tipisnya.
”Oouuhh...” Noire mengeluh lirih.
”Kita lakukan disini?” tanya Erik, terlihat semakin bernafsu. Noire sudah mengusap-usap penisnya sekarang.
”Tidak ada tempat lagi.” Noire melepas jubahnya dan menghamparkannya di lantai sebagai alas. Satu-satunya ranjang yang ada di rumah itu ditempati oleh Anya yang masih tertidur pulas.
Erik melirik adiknya, terlihat sedikit bimbang. ”Dia tidak akan bangun sampai 2 jam ke depan.” tapi Noire menenangkannya.
Mengangguk mengerti, Erik dengan gemas kembali melumat bibir tipis gadis itu. Ia menyedot dan mengulum bibir hangat Noire secara bergantian dengan mesra atas dan bawah. Kecapan-kecapan kecil terdengar begitu indah, seindah dawai alunan musik surgawi. Kedua jemari tangan Erik masih mengusap-usap sembari sesekali meremas pelan kedua belah pantat Noire yang bulat, padat dan kenyal. Erik masih menahan diri untuk tidak bergerak terlalu jauh, walau sebenarnya hatinya begitu ingin sekali meraba selangkangan atau meremas payudara Noire yang terlihat begitu menggoda. Sudah nalurinya untuk bersikap lembut dan romantis pada perempuan, bahkan bila itu seorang penyihir sekalipun.
Erik mengecup bibir Noire selembut dan semesra mungkin, dan terlihat gadis itu sangat menyukainya. Bibirnya yang terasa hangat dan lunak berulang kali memagut bibir Erik sebelah bawah. Erik membalasnya dengan memagut bibir Noire yang sebelah atas. Oh, terasa begitu nikmat. Dengusan pelan nafas gadis itu beradu dengan dengusan nafas Erik, dan berulang kali pula hidung Noire yang kecil mbangir beradu mesra dengan hidungnya. Erik merasakan kedua lengan Noire telah melingkari lehernya, jemari tangannya mengusap mesra rambut Erik yang lurus tak beraturan.
Batang kejantanan Erik terasa semakin besar dan mendesak liar di dalam celananya. Dia mulai merasa kesakitan, apalagi karena posisi tubuh mereka yang saling berpelukan erat membuat batang penisnya yang menonjol dari balik celana itu terjepit dan menempel keras di perut Noire yang empuk.
Sampai disitu, Erik tak mampu menahan diri lagi. Birahi telah mengalahkan akal sehatnya. Keyakinan dan pikirannya seakan telah tertutup oleh lingkaran nafsu yang amat dalam. Seolah menemukan pelampiasan, Erik segera melepaskan pagutan bibirnya pada bibir Noire. Ah, wajah cantik gadis itu kelihatan semakin berkeringat, bibirnya yang basah oleh liur Erik merekah indah, terlihat begitu ranum bak bibir gadis remaja. Kedua bola matanya sedikit redup dan memandang Erik resah. Ada sejuta keinginan terpendam dalam sorot mata itu. Erik bisa menduga, sebagai wanita dewasa, Noire pasti tak tahan hidup sendirian di tengah rawa, bagaimanapun ada hasrat yang harus dipuaskan. Erik hanya bisa menduga-duga dengan apa Noire melampiaskan kebutuhan batinnya selama ini. Dengan binatang atau dengan siluman penghuni rawa? Ah, entahlah.
”Aku menginginkanmu, Erik.” bisik Noire terus terang. Terlihat kalau keinginan seks-nya sudah menggebu-gebu.
”Ahh, aku juga ingin, oouhh...” belum habis ucapannya, Erik sudah membungkuk dan meraih tubuh montok Noire dalam pondonganku. Gadis itu agak sedikit kaget melihat tindakannya, namun sejenak kemudian ia tertawa genit dan manja ketika Erik mulai membopong tubuh seksinya keluar melintasi ruang tengah menuju ke halaman belakang. Lengan kanan Noire merangkul leher Erik sementara jemari tangan kirinya mengusap mesra kedua pipi dan wajah si pemuda. Noire kelihatan senang dibopong seperti itu.
”Tidak ingin dilihat oleh adikmu ya?” tebaknya sambil tersenyum manis.
”Iya,” Erik mengangguk. ”Lebih aman disini. Tidak akan ada orang yang melintas.” di bawah sebuah pohon maple tua, Erik menurunkan tubuh Noire  dari bopongannya. Mereka berdua saling berpandangan mesra sebelum akhirnya kembali berpagutan.
”Aah...” melenguh, Erik menikmati seluruh keindahan bidadari di depannya ini, mulai dari wajah Noire yang cantik menawan, lekuk-lekuk tubuhnya yang begitu seksi dan montok, bayangan bundar kedua bukit payudaranya yang besar dan kencang, dengan kedua putingnya yang lancip, perut Noire yang ramping dan rata, juga pantatnya yang bulat dan padat bak gadis remaja, mm... betapa nikmatnya nanti saat batang penis Erik memasuki liang vagina Noire yang sempit dan hangat yang kelihatan begitu menonjol dari balik keketatan celananya. Akan kutumpahkan sebanyak mungkin air maniku ke dalam liang vaginanya sebagai bukti kejantananku, tekad Erik dalam hati.
”Lakukan, Erik. Aku yakin kamu pasti bisa.” Noire tersenyum manis, seolah bisa mengetahui apa yang ada dalam pikiran si pemuda. Kedua jemari tangannya kini berada di atas kedua gundukan payudaranya sendiri. dia mulai mengusapnya perlahan, seolah merangsang dan menggoda Erik.
Tak tahan melihat tingkahnya, Erik mulai membuka kancing kemeja kulitnya satu persatu dengan cepat, lalu melemparkan baju itu sekenanya ke samping. Pandangan kedua matanya tak pernah lepas dari tubuh Noire yang terlihat semakin menggoda. Tak puas sampai di situ, karena penisnya terasa semakin ngilu dan sakit, dengan jemari gemetar menahan nafsu, Erik mulai membuka sabuk celana panjangku dan sruut... celananya melorot hingga mata kaki.
”Ooh...” Noire memekik kecil saat melihat tubuh Erik yang setengah polos. Kedua jemari tangannya semakin kuat meremas payudaranya sendiri, mulutnya yang manis sedikit melongo, sedang kedua bola matanya yang memerah setengah melotot memandang tubuh Erik bagian bawah. Disana, melongok keluar dari dalam celana dalam si pemuda, tampak batang penis Erik yang sudah tegak berdiri. Benda itu terlihat begitu besar dan tebal, mendongak ke atas persis di bawah pusar. Ujungnya kelihatan bengkak memerah karena tegang yang tak terkira. Meski tidak terlalu panjang, hanya sekitar 14 centi, namun terlihat cukup montok dan berurat, tidak akan cukup  digenggam oleh jari-jari Noire yang lentik dan mungil.
Erik mengusap pelan batang penisnya yang sedang berdiri nakal itu dari balik celana dalam. Hmm, terasa begitu nikmat. Ada sedikit cairan bening yang keluar dari ujungnya dan menempel di jemari tangannya. Ia memejamkan mata sejenak untuk menikmati sensasinya. Ketika membuka mata kembali, dilihatnya Noire sudah tidak berada di hadapannya. Kaget, instingnya membimbingnya untuk menoleh ke samping kiri dan... astaga! Dia terbeliak kaget saat matanya menyaksikan pemandangan indah yang begitu luar biasa, begitu mempesona, begitu menggairahkan, begitu aahh... Erik tidak tahu harus berkata apa.
Kedua matanya melotot sampai ingin keluar menyaksikan tubuh Noire yang kini telah berada di atas rerumputan tanpa tertutup sehelai benang pun. Entah kapan gadis itu melepas bajunya dan menggunakannya sebagai alas. Begitu cepat sekali. Erik tak berkedip menatap tubuh molek yang bugil telanjang bulat itu, betapa putih dan mulus, jauh lebih putih dari tubuh Sarah. Tersenyum, Noire memamerkan semua keindahannya, kemulusannya dan kemontokan lekak-lekuk tubuhnya yang bersinar bak gadis usia remaja.
”Kemarilah!” sambil tersenyum manis ke arah Erik, Noire merebahkan tubuhnya telentang dengan posisi setengah mengangkang, mempertontonkan seluruh anggota tubuhnya yang paling terlarang.
Kedua buah dadanya yang ternyata memang sangat besar terlihat masih begitu kencang, sama sekali tidak kendor, membentuk bulatan indah bak buah semangka. Kedua puting payudaranya yang kecil berwarna coklat kemerahan mengacung ke atas seolah menantang Erik untuk segera menjamahnya. Begitu pula perutnya masih terlihat ramping dan seksi tanpa lipatan lemak, menandakan Noire belum pernah melahirkan seorang anak. Dan tentu saja begitu, karena sebagai seorang penyihir, Noire dilarang untuk mempunyai keturunan.
Erik menelan ludah melihatnya, apalagi saat menatap bagian bawah tubuh Noire yang ternyata tidak memiliki sehelai rambutpun. Rupanya gadis itu rajin mencukur habis bulu kemaluannya, atau memang seorang penyihir tidak mempunyai bulu? Entahlah.
”Ohh...” tanpa terasa mulut Erik mendesah takjub menyaksikan keindahan itu. Seumur hidup baru kali ini ia menyaksikan alat kelamin sesempurna ini.
Belahan bibir kemaluan Noire sangat putih dan mulus walau sedikit kecoklatan, terlihat sangat tebal hingga membentuk sebuah bukit kecil di bawah pusarnya. Labia Mayoranya terlihat masih saling menutup rapat satu sama lain meskipun Noire sudah setengah mengangkangkan kedua pahanya, seolah menyembunyikan liang vaginanya yang memang sangat berharga. Ini berarti liang vagina Noire pasti masih sangat sempit. Dari lekukan panjang yang terbentuk dari kedua belah labia mayoranya itu, Erik sedikit dapat melihat dan menduga betapa merahnya liang kenikmatan milik gadis itu.
Batang penisnya yang semula agak lemas kini langsung kembali perkasa. Dengan cepat Erik merasakan kepala penisnya kembali mendesak ke atas, melongok keluar dari celah celana dalamnya seolah ingin mengintip apa yang sedang terjadi di luar sana. ”Ohh, Noire.” bisik Erik lemah. Batinnya menyerah kalah. Dengan kasar ia robek celana dalamnya yang terasa kekecilan bagi alat kelaminnya hingga batang penisnya yang sudah tegang itu langsung mengacung keluar setengah mengarah ke atas sambil manggut-manggut naik turun menyetujui pikiran mesumnya.
Erik sedikit heran juga menyaksikan batang penisnya yang kelihatan sedikit lebih besar dari biasanya, begitu pula dengan kepala penisnya yang terlihat begitu nanar dan mekar berwarna kemerahan saking tegangnya. Urat-urat di seluruh permukaan batang penisnya sampai menonjol keluar semua membentuk guratan-guratan kasar setengah melingkar.
Dengan lutut setengah gemetar seakan tak percaya bisa mengalami semua itu, perlahan-lahan Erik mulai berjalan mendekat menyusul Noire yang sudah menunggu sejak tadi. Dengan rambut setengah terurai di pipi, Noire tersenyum manis menyambutnya, memamerkan keindahan bibir dan gigi-giginya yang putih menawan. Matanya meredup dan pasrah,namun nafasnya terdengar sedikit kurang teratur, menandakan kalau gadis itu juga dilanda nafsu birahi yang amat sangat.
”Ratuku.” bisik Erik penuh nafsu sambil membaringkan tubuhnya persis di sebelah kanan tubuh Noire yang bugil. Ia pandangi wajah cantik mempesona milik gadis itu, lalu dengan jemari gemetar, dielusnya mesra kedua belah pipi Noire yang halus.
Noire tersenyum manja kepadanya. ”Ayo, beri aku kenikmatan.” bisiknya tanpa malu-malu. Sorot matanya terlihat lemah seolah memohon.
Erik tersenyum penuh gairah. ”Aku akan memberimu kepuasan. Ah, kamu lihat penisku, dia yang akan memberimu kenikmatan.” bisiknya nakal.
Noire melirik ke bawah menyaksikan alat vital si pemuda yang besar dan keras saking kuatnya ereksi. ”Ah, lakukanlah sekarang! Cepat!” tiba-tiba ia berbisik sedikit keras, membuat Erik terkaget-kaget.
”Sekarang?” tanya Erik heran, sedikit kurang nyambung.
”Yaa, sekarang! Naiki aku! Masuki tubuhku sekarang! Sshh..” bisik Noire semakin keras sembari jemari tangan kirinya memegang lengan si pemuda. Rupanya dia sudah begitu bernafsu hingga tanpa sungkan-sungkan lagi meminta Erik untuk segera menyetubuhinya.
Namun Erik yang masih ingin mencumbu terlebih dulu, tidak melakukannya. Ia ingin menikmati kehalusan kulit tubuh Noire, meremas-remas dan menghisap kedua puting susu gadis itu sampai puas, dan yang paling ia gemari adalah mencumbu alat kelamin Noire sampai gadis itu orgasme, seperti yang sering Erik lakukan terhadap Sarah. Ya, sebagai budak yang baik, ia akan melakukan semua itu.
”Sabar dulu, sayang.” bisik Erik mesra, merasa diatas angin. Dia bisa menduga, mungkin Noire terlalu lama menahan keinginan seksualnya sampai begitu kesempatan itu datang, ia sudah tak mampu lagi menahan gejolak birahinya yang sekian lama tertahan.
”Ahh, lakukan sekarang, Erik!” jerit Noire setengah memaksa. Tanpa rasa malu sedikitpun, jemari tangan kirinya kini sudah berada di atas selangkangannya, mengusap-usap bukit kemaluannya yang montok merangsang agar Erik tertarik dan segera memasukinya.
”Kamu yakin, kita tidak bercumbu dulu, sayang?” Erik bertanya.
”Ayo, jangan goda aku terus.” sahut Noire gemas, wajah cantiknya kelihatan memelas.
Menggeser tubuhnya, Erik dengan sigap segera menaiki tubuh Noire yang telanjang menggoda dan menindihnya cepat. Mereka melenguh nikmat secara bersamaan saat kulit tubuh mereka saling bersentuhan dan akhirnya merapat penuh kemesraan. Erik tak pernah menyangka bisa meniduri bidadari secantik Noire. Batang penisnya yang berdiri tegak seakan kena setrum saat menyentuh bukit kemaluan Noire yang halus dan sangat empuk. Dengan nakal, kepala penis itu menyelip diantara bibir kemaluan gadis itu. Terasa sangat licin dan rapat.
”Hmm...” Erik melenguh nikmat saat menggesekkan ujung penisnya ke  celah labia mayora milik Noire.
Noire yang mengira Erik akan segera menyetubuhinya, segera membuka kedua pahanya lebar-lebar. Erik bisa merasakan betapa halus dan mulusnya kulit paha Noire yang sekarang mengapit pinggangnya lembut. Sengaja ia tidak menekan pinggulnya terlalu ke bawah agar jangan sampai kepala penisnya terdorong masuk menembus liang vagina Noire, Erik masih ingin bermain-main terlebih dahulu, menggoda penyihir cantik itu.
Sambil mengusap mesra rambut Noire yang putih panjang, mulut Erik dengan gemas kembali mengecup dan mengulum bibir gadis itu. Secara bergantian ia melumatnya atas dan bawah. Dengan tak kalah mesra, Noire membalas cumbuan si pemuda, sesekali lidahnya dijulurkan agar Erik bisa menghisap dan mengulumnya penuh nafsu. Terasa begitu gurih lidah dan bibirnya.
Sementara bibir mereka menyatu, Erik merasakan dua sensasi indah di dua tempat yang paling terlarang pada tubuh Noire. Pertama di selangkangan gadis itu, kedua di bagian dada Noire yang luar biasa besar, yang terasa begitu kenyal dan padat saat menekan dadanya, kedua puting Noire yang lancip seakan menggelitik kulit dada Erik. Di bawah, kedua jemari tangan gadis itu dengan halus mengusap-usap gemas daging bokong Erik, berulang kali mencoba untuk menekannya agar batang penis sang pemuda segera memasuki liang vaginanya. Namun Erik tetap bertahan agar pinggulnya tetap setengah terangkat, hanya kepala penisnya saja yang sedikit terjepit diantara labia mayora Noire. Butuh suatu kesabaran ekstra agar rasa nikmat pada kepala penis yang sudah setengah terjepit itu tidak membuatnya berbuat lebih jauh lagi, menuruti keinginan si penyihir cantik yang sudah ngebet minta disetubuhi.
Sesekali Noire dengan tak sabar menyelipkan jemari tangan kanan diantara selangkangannya, lalu dengan gemas meremas batang penis Erik dan mengarahkan kepala penis pemuda itu yang sudah setengah terjepit ke mulut vaginanya yang terasa licin dan buntu, menandakan liang itu sangat jarang dipakai. Tapi Erik segera menarik pinggulnya ke atas begitu merasa geli-geli nikmat pada ujung penisnya.
”Ayo, Erik. Jangan goda aku seperti ini!” Noire berbisik lirih. Bibirnya yang ranum kemerahan tampak sangat basah, penuh air liur sang pemuda. Wajah cantiknya sudah berkeringat basah, kelihatan sekali kalau ia sudah sangat ingin disenggamai. Kedua matanya yang semakin sipit memandang Erik lemah seolah memelas, membuat sang pemuda jadi kasihan juga saat melihatnya.
”Kamu sudah kepingin sekali ya?” bisik Erik gemas sambil kembali mencium bibir gadis itu yang basah memerah. Hanya lima detik mulutnya berada disitu karena selanjutnya ia melepasnya dan bergerak ke atas.
”Oouuhh...” Noire merintih manja saat bibir dan lidah Erik mulai menggelitiki telinga kirinya. Sesekali pemuda itu juga menggigiti cupingnya, membuat Noire menggelinjang geli keenakan. ”Nngghh... engghh... Erik!” pekik gadis itu lirih. Ia sangat terangsang sekali dengan ulah si pemuda.
30 detik kemudian, Erik menggeser tubuhnya ke bawah. Kini saatnya untuk bermain-main dengan kedua payudara Noire yang bulat dan padat. Ia merebahkan perutnya, merapat ke tubuh hangat gadis itu, dan mm... bisa dirasakannya gundukan kemaluan Noire yang membukit menekan perutnya, sedikit ada rasa kasar disana, seperti bekas kalo ada rambut yang baru saja dicukur. Rupanya penyihir juga mempunyai jembut!
Dari dekat, Erik bisa menyaksikan betapa luar biasa gundukan payudara gadis itu. Benda itu begitu besar, warnanya sangat putih dan mulus, bersih sekali. Kedua putingnya yang kecil lucu seakan tidak sebanding dengan besar bulatannya, berwarna coklat kemerahan. Baru kali ini Erik melihat seorang gadis memiliki susu yang sangat besar, padahal Noire tidak pernah menyusui. Selama ini payudara terbesar yang dilihatnya adalah milik Sarah, wanita berumur yang sudah memiliki 3 orang anak, yang mana itu adalah hal yang lumrah.
Erik mencoba memegangnya, bahkan dengan jemari tangan yang terbuka lebar pun ia tidak bisa menangkup semuanya. Benar-benar luar biasa, extra large. Erik jadi makin gemas karenanya. Dengan penuh nafsu jemari tangannya yang sudah melingkar di atasnya bergerak meremas-remas pelan. Hmm, rasanya begitu kenyal, kencang dan hangat.
”Nngnngghh... oouuhh...!” Noire memejamkan kedua mata menikmatinya, sementara mulutnya yang basah mengerang keenakan.
Erik tersenyum. ”Enak kan?” bisiknya menggoda. Tanpa menunggu jawaban, ia menunduk, mulutnya mulai menghisap rakus puting susu Noire yang sebelah kiri secara perlahan. Dia dengan gemas menyentil puting mungil yang sudah menegang itu dengan ujung lidahnya dan menggigitnya pelan.
”Aawww... nngghh...” membuat Noire merintih semakin keras.
Erik jadi semakin terangsang. Mulutnya mulai menghisap puting itu sedikit lebih keras dan semakin lama menjadi semakin keras. Ia buka mulutnya selebar mungkin dan melahap puncak payudara Noire, seolah ingin menelannya. Noire jadi semakin merintih dibuatnya. ”Agghhh... Erik, aku... ehhhss... geli!”
Puas dengan hisapan, lidah Erik yang basah menjalar menjilati seluruh permukaan payudara Noire sampai benda itu jadi basah dan mengkilat oleh air liurnya. Noire bergerak semakin liar. Mulutnya berulang kali memekik dan mengerang keenakan menikmati sedotan mulut si pemuda pada gundukan payudaranya. ”Aawww... ngghh... awww...” Jemari tangannya tak tahan mengacak-acak rambut Erik dengan gemas.
Mulut pemuda itu kini sudah berpindah menghisap susu Noire yang sebelah kanan, sementara susu yang kiri ganti diremas-remas dengan lembut. Seperti juga yang kiri, Erik menyedot-nyedot payudara kanan Noire penuh nafsu. Ia menghisap, mengulum, memilin, mengenyot dan menjilatinya berulang-ulang tanpa ampun, membuat Noire semakin menggeliat hebat keenakan. Berulangkali gadis cantik itu meminta Erik untuk segera menyudahi perbuatannya.
”Aaww, Erik, s-sudah... ngghh... sudah, Sayang! Kamu nakal sekali sih!” erang Noire tak kuat menahan rasa nikmat. Tangannya makin kasar mengacak-ngacak rambut hitam Erik.
Tapi Erik tak peduli. Bahkan ia semakin bersemangat mengenyot dan menyusu di kedua belah payudara Noire yang bulat besar. Setelah sekitar 10 menit lebih, barulah ia berhenti. Bisa ia lihat kedua gundukan daging yang tadinya begitu putih dan mulus itu kini berubah menjadi basah kemerahan, penuh dengan bekas cupangan dan air liurnya. Terutama di sekitar tonjolan puting Noire, bulatan mungil itu kini tampak semakin memerah, terlihat  ada sedikit guratan di puncaknya, mungkin bekas gigitan Erik tadi.
”Habis gemas sekali sih.” batin Erik dalam hati.
Noire memandangnya sayu, kedua matanya sedikit berair dan memerah, bibirnya gemetar. Wajah cantiknya kelihatan geregetan. ”Kamu benar-benar nakal, Erik... awas kamu ya!” bisiknya lirih pada si pemuda, seakan ingin membalas dendam.
Erik tersenyum pada gadis itu saat tiba-tiba Noire mendorong kepalanya ke bawah. Rupanya gadis penyihir itu ingin agar Erik mencumbu alat kelaminnya. Wow! Momen favoritnya telah tiba. Dengan sigap Erik menggeser tubuhnya ke bawah, terasa nikmat saat perutnya menggesek bukit kemaluan Noire. Ia segera menjulurkan lidahnya dan menjilati permukaan perut si gadis yang halus dan mulus, sejenak sempat digelitiknya lubang pusar Noire yang bulat dan mungil.
”Ehm,” gadis itu merintih kegelian.
Ketika mukanya sudah sampai di depan selangkangan Noire, Erik agak sedikit tertegun. Wow! Indah sekali benda itu, begitu putih dan mulus, sesuai dengan warna kulit tubuh si gadis. Disana-sini masih bisa terlihat secara samar  bekas cukuran bulu jembut. Bukit kemaluan itu kelihatan besar dan tebal, membentuk sebuah gunung kecil di atas selangkangan Noire yang sempit.
Dengan jarak kurang dari sejengkal, Erik bisa melihat bibir vagina Noire dengan jelas. Labia mayoranya tampak cukup tebal dan saling menutup rapat satu sama lain, membentuk lekukan celah sempit memanjang vertikal sampai diatas lubang dubur Noire yang berwarna hitam kecoklatan. Aroma khas bau alat kelamin perempuan menyergap hidung Erik, membuatnya mabuk kepayang. Hidungnya kembang-kempis menarik napas panjang, menghirup aroma harum bunga melati yang keluar dari vagina si penyihir.
Tapi belum puas menikmati keindahan itu, Erik sudah dikejutkan oleh tangan Noire yang dengan keras menekan kepalanya ke depan, sehingga tanpa dapat menghindar, mukanya langsung turun terbenam ke dalam selangkangan si gadis yang putih merangsang. Hidung Erik sampai amblas masuk terjepit diantara labia mayora Noire yang tebal, sementara mulutnya berada tepat di mulut liang vagina si gadis yang sedikit terbuka.
Tidak ingin  menyia-nyiakan kesempatan itu, Erik segera menjulurkan lidahnya sepanjang mungkin dan menyelipkannya menembus bibir kemaluan Noire yang terasa sempit dan licin. Cairannya sudah mengalir cukup banyak, vagina Noire terasa penuh dan berbau sedikit amis namun nikmat dirasakan. Mulut Erik sampai mengecap nikmat berulangkali menyedot cairan itu.
Noire menggeliat hebat dan mulutnya mengerang panjang keenakan saat Erik menghisap kemaluannya. Pinggulnya terkadang digoyangkan lembut ke kiri dan ke kanan menikmati cumbuan si pemuda.
”Aagghhh... nggnnhhff... sshhh...” pekik Noire penuh nikmat. Jemari tangannya semakin menekan kepala Erik ke bawah, membenamkan muka pemuda itu ke bukit kemaluannya.
Dalam posisi seperti ini, mau tak mau membuat Erik semakin tak bisa bernafas, hidungnya seolah tenggelam terjepit diantara bibir kemaluan Noire yang tebal. Bau khas alat kelamin wanita terasa semakin menyengat. Meski membuatnya semakin terlena, namun Erik bisa-bisa mati kehabisan nafas kalau terus begini. Jadi sambil menyusupkan kedua jemari tangannya menyusuri bulatan pantat Noire yang padat dan kenyal, ia goyang-goyangkan mukanya mengusap seluruh permukaan bukit kemaluan penyihir cantik itu. Dengan begitu Erik bisa sedikit mengambil nafas.
”Aughhh... Erik!” jerit Noire saat dengan gairah tinggi, Erik kembali menunduk untuk menyentil-nyentil bulatan mungil klitorisnya dengan ujung hidung, sementara bibir dan lidah pemuda itu menelusup masuk ke liang vaginanya, menggelitik lembut labia mayoranya sembari terus menyedot cairannya yang masih tersisa.
”Ahh... ughhh... sshhh...!” Noire menjerit dan mengerang-erang dengan keras, pinggulnya menggeliat semakin hebat menahan kenikmatan yang diberikan Erik pada alat kelaminnya.
Erik benar-benar puas bisa membuatnya seperti itu. Diremas dan dicengkeramnya kuat bulatan bokong Noire yang kenyal agar gadis itu tidak bergerak terlalu liar. Seolah tak ingin melepas pagutannya, Erik mengangkat mukanya sedikit untuk kembali menghirup udara segar sebelum lidahnya menjulur sepanjang mungkin sambil menyusuri dan menjilati permukaan bukit kemaluan Noire yang lunak dan putih merangsang. Mulut pemuda itu tak henti-hentinya mengecup gemas bukit terlarang milik si gadis penyihir.
”Oouuhh... nngghhhh... ngghhh...” Noire merintih dan mengerang tak karuan menahan geli dan nikmat. Pinggulnya digoyang-goyang kiri kanan, sesekali kedua pahanya menjepit kepala Erik sambil mengejan kuat ke bawah seolah ingin memuntahkan cairan kenikmatannya.
Dan memang kenyataannya demikian, lidah Erik yang terus menyusup masuk ke dalam liang vagina Noire sambil menyentil gemas daging klitoris gadis itu seolah disembur oleh sumber air kecil yang mengalir deras. Noire orgasme! Erik bisa melihat liang vagina Noire yang begitu kecil dan sempit mengalirkan cairan lendir kemaluan yang berwarna bening kekuningan. Agak di sebelah atas, terlihat bulatan daging kecil klitoris gadis itu yang besarnya mirip biji kacang merah.
Erik sedikit heran, karena liang vagina milik penyihir cantik ini kecilnya hampir sama dengan liang vagina milik gadis perawan. Ah, batang penisnya yang sudah berdiri tegak menunggu giliran untuk unjuk gigi jadi makin cenat-cenut tak karuan. Kalau sempitnya seperti itu, bisa-bisa tidak sampai 5 genjotan, air maninya sudah muncrat keluar,
”Ehm, enak sekali, sayang.” Noire berbisik sedikit serak, membuat Erik tersadar dari lamunannya.
Pemuda itu segera mendongakkan kepalanya untuk memandangi wajah cantik Noire yang berkeringat agak kusut, sebelum akhirnya kembali menunduk untuk menjilati permukaan labia mayora gadis itu dengan liar dan penuh rasa gemas. Mulut dan lidahnya mencumbu, mengulum, memilin dan menghisap-hisap bibir kemaluan Noire secara bergantian atas dan bawah, seperti kalau mereka berdua berciuman mulut.
Rasanya meski tidak selezat daging bakar buatan Wade, tapi terasa cukup menjanjikan. Ada sensasi keindahan bercampur kenikmatan tersendiri yang tak bisa diungkapkan Erik dengan kata-kata. Begitu indah rasanya mengulum dan mengecup bibir kemaluan Noire sambil menikmati aroma khas bau alat kelamin gadis itu, juga suara erangan nikmatnya.
Erik benar-benar bangga bisa membuat Noire sampai berulang kali mengejan ke bawah menghentakkan kedua belah pahanya yang putih seksi, sambil tak henti-hentinya mulutnya memekik kecil dan merintih panjang menahan geli bercampur dengan sejuta kenikmatan.
”Aahh... ngghhh... sshhhh...” rintih Noire berulang kali.
Erik tahu, gadis itu pasti sedang meregang menuju puncak kenikmatannya. Ia bisa merasakan kedua belah paha mulus Noire yang begitu kuat menekan kepalanya, kini mulai bergetar lembut dan mengejan semakin kuat, menandakan cairan lendir kenikmatannya segera tumpah keluar, orgasme!
Secepat kilat, Erik segera melepaskan hisapannya. Dengan kedua tangannya ia buka belahan paha Noire yang masih menjepit kepalanya. Begitu lepas, dengan sigap Erik merangkak ke atas dan rebah di samping tubuh bugil Noire. Dilihatnya gadis itu masih memejamkan kedua matanya, seolah sedang menikmati sesuatu yang sangat nikmat. Tapi begitu tersadar kenikmatan yang ia inginkan tak tercapai, kedua mata Noire terbuka dan jelalatan setengah melotot memandangi selangkangannya yang kini telah kosong. Noire mendapati Erik telah berada di sebelahnya sambil tersenyum penuh kemenangan.
”Tega sekali kamu, menggantungku seperti ini.” wajah cantik Noire yang berkeringat kelihatan memerah karena jengkel, ia menggigit bibir bawahnya seperti geram, kedua matanya yang memerah memandang Erik seolah mau marah. Pemuda itu telah merangsangnya hingga hampir saja orgasme sekali lagi, namun justru malah menghentikannya di tengah jalan, tepat saat ia lagi enak-enaknya. Sungguh terlalu.
Tidal terima, Noire segera menggulingkan tubuh montok seksinya yang putih mulus ke atas, menaiki tubuh Erik. Kedua pahanya dibuka lebar, membuat belahan bokongnya yang bulat dan padat tanpa ampun menduduki buah zakar si pemuda, sementara bukit kemaluannya yang besar terasa begitu empuk menekan batang penis Erik yang sudah sangat tegang.
Sambil menyunggingkan senyum sadis, Noire memandang Erik seolah ingin menelannya. ”Sekarang giliranku. Ayo kita lihat seberapa hebat kamu bertahan.” bisiknya pelan.
Erik yang masih terkaget-kaget menyaksikan ulah gadis itu hanya bisa melongo sambil menikmati sentuhan tubuh montok Noire pada alat kelaminnya, sambil matanya tak berkedip memandangi bulatan payudara si penyihir yang besar dan mengacung kencang ke depan, memamerkan kedua putingnya yang kelihatan sedikit menegak keras berwarna coklat kemerahan.
Di saat Erik masih terpana dan terbengong-bengong, dengan cepat Noire  mengangkat pinggulnya yang ramping ke atas, kedua belah pahanya yang putih mulus kelihatan begitu seksi saat ia melakukan itu. Dengan tangan kanannya, Noire menggenggam dan meremas pelan batang penis Erik, lalu diarahkannya ke bawah bukit kemaluannya, tepat ke depan mulut liang vaginanya yang kini sudah sedikit terbuka.
”Ooohh...” Erik mendesah pelan menyaksikan semua itu. Ia tidak menyangka Noire akan melakukannya tanpa perasaan risih sedikitpun, mungkin karena gadis itu sudah begitu ngebet dan liang vaginanya sudah gatal kepingin dimasuki kontol.
Sejenak Erik mengira pasti akan sukar sekali memasukkan batang penisnya yang sudah berdiri tegak dan besar mirip pentungan Troll ke dalam liang vagina Noire yang sempit dan hangat. Tapi ternyata dia kecele, sambil menundukkan wajah hingga membuat rambut panjangnya terurai indah, dengan perlahan Noire mulai menurunkan pinggulnya.
”Oogghh... ahh...” Erik mendelik dan mengerang nikmat saat dengan mata kepalanya sendiri, ia lihat bibir kemaluan Noire yang coklat kemerahan melebar dan mulai menelan batang penisnya. Benda itu tersibak dan menjepit ketat ujung kepala penis Erik yang secara perlahan namun pasti mulai menelusup masuk.
”Oughhh... nnghhaahh...” Erik memekik keras menahan rasa nikmat yang luar biasa saat kepala penisnya telah berhasil tenggelam seluruhnya. Bisa dirasakannya daging vagina Noire seolah menjepit sedemikian kuat, membuat batang penisnya seperti diremas-remas dan dipijit-pijit ringan.
Noire meletakkan kedua tangannya di atas dada Erik sambil setengah membungkuk untuk menyangga tubuh bagian bawahnya. Ia memandang Erik dengan senyumannya yang manis, bibirnya yang ranum merekah indah, kedua buah dadanya yang besar dan kencang kini setengah menggantung bak buah pepaya yang sudah siap dipanen.
”Enak?” Noire bertanya tanpa malu-malu. Kedua pahanya yang mulus kini menjepit pinggang Erik mesra, sementara pinggulnya menempel di selangkangan si pemuda dengan ketat. Bokong Noire yang kenyal menduduki bola zakar milik Erik.
”I-iya, enak. Enak sekali.” sahut Erik dengan suara gemetar menahan rasa nikmat.
”Mmm, milikmu besar juga, sayang.” kata Noire lagi. Lalu dengan perlahan-lahan ia mulai mengoyangkan pinggulnya sambil memejamkan mata. Namun mulutnya yang indah tetap tersenyum, seolah ikut menikmati apa yang sedang dilakukannya sekarang.
”Ah, air maniku... mau keluar!” erang Erik keenakan setengah menggoda.
”Ih, jangan dulu. Awas ya kalau sampai muncrat cepat-cepat!” ancam Noire  sambil tersenyum. Ia seolah mengerti batang penis Erik tidak bakalan lama bertahan dijepit liang vagina miliknya yang ketat itu. Karena itu Noire segera mempercepat goyangan pinggulnya agar ia masih punya waktu untuk orgasme bareng sang pemuda.
”Uhh... ahh... uhh...” Erik merintih kecil setiap kali pinggul Noire bergerak naik turun menggesek batang penisnya. Payudara besar milik gadis itu terguncang-guncang begitu indah bak buah kelapa tertiup angin seiring dengan goyangan pinggul Noire yang semakin lama semakin terasa nikmat. Erik memejamkan matanya untuk meresapi dan menikmati persenggamaan yang benar-benar luar biasa indah ini. Kedua jemari tangan Noire menyangga dan menekan lembut dada si pemuda dan menghentak-hentak pelan setiap kali pinggul gadis itu bergoyang pelan naik turun secara teratur.
Erik tak sanggup untuk menikmati semua sensasi indah ini lebih lama lagi. Aku masih tak percaya melihat sesosok tubuh cantik bak bidadari yang begitu montok dan seksi, begitu putih dan mulus, yang kini sedang asyik menggoyangkan pinggulnya yang aduhai di atas selangkangannya, menikmati alat kelaminnya. ”Oohh... aahh... aahhh...” ia mengerang saking nikmatnya.
Batang penis Erik seakan dikocok, dibelit, disedot dan dikenyot habis-habisan oleh dinding vagina Noire yang luar biasa sempit dan licin. Kedua matanya merem-melek secara bergantian menikmati gesekan itu. Setiap kali pinggul Noire bergerak ke atas, Erik merasakan batang penisnya seakan disedot kuat-kuat, namun begitu pinggul gadis itu bergerak turun, batang penisnya seakan diremas dan dilumat habis. Sukar diungkapkan dengan kata-kata karena saking nikmatnya.
”Noire, aghhh... aah... ahh... aghh...” erang Erik berulangkali, terlihat sangat  keenakan. Kedua tangannya berusaha menahan laju naik turun pinggul si gadis yang kurang ajar, namun jemarinya seolah tidak bertenaga mengangkat bokong Noire yang berat, yang tanpa ampun terus menyerangnya, menjepit batang penisnya dan meremas-remasnya sampai lumat.
Erik tak sanggup bertahan lagi. ”AARRGGHHHHHH...!!!” dengan diiringi jeritan panjang, sontak seluruh air maninya mengalir deras, menyembur, mendesak dan mengisi liang sempit vagina Noire yang sudah sangat basah. Ia meraih dan meremas-remas gemas kedua payudara sang gadis yang besar sebagai pelampiasan rasa nikmatnya.
”Ehm, banyak sekali manimu, sayang.” desah Noire lembut saat merasakan sperma Eric menembak berulang kali di dalam liang vaginanya.
Eric tidak mejawab. Jiwanya seakan terbang melayang jauh ke atas awan, begitu tinggi, terasa begitu nikmat. Tubuhnya menggelepar karena dirajam kenikmatan yang tak terkira.
Tidak peduli dengan keadaan si pemuda, Noire dengan penuh semangat terus menggenjot pinggulnya naik turun dengan cepat, meluluh lantakkan alat kelamin Erik yang benar-benar sudah lumat terkuras. Bisa dirasakannya batang penis sang pemuda masih berdiri tegak walau isinya sudah terkuras habis. Noire terus meremas dan mengenyotnya dengan buas, berusaha memanfaatkan sedikit waktu yang tersisa untuk meraih kenikmatannya.
“Hmm… bagaimana, nikmat bukan?” bisik Noire sambil memandang genit ke arah Erik. Ia merebahkan tubuhnya yang berkeringat basah di atas tubuh pemuda itu, kedua buah dadanya yang sebesar melon menekan lunak dan terasa kenyal di dada bidang Erik.
”Ahh, luar biasa sekali, Noire.” sahut Erik lirih, masih lemas. Ia mengecup gemas bibir ranum Noire, penyihir berambut putih yang nakal itu. Sejenak mereka saling bercumbu beradu bibir, saling mengulum dan mengecup, begitu nikmat rasa bibir gadis itu.
Ketika kecupan mesra itu berakhir, Erik berbisik mesra, ”Tahukah kamu,  kejantananku masih bisa digunakan lagi, berturut-turut!”
”Ah, benarkah?” tanya Noire tak percaya. Bibir ranumnya kelihatan basah habis dikecup dan dikulum oleh si pemuda. Dia terlihat begitu gembira.
”Kamu belum puas kan tadi?” Erik balas bertanya. Tangannya meremas-remas payudara Noire dengan gemas.
”Iya, aku masih belum sampai. Ayo tunjukkan padaku!” bisik Noire sambil mengerling genit.
”Tentu, sayang. Akan kupuaskan kamu sekarang.” Erik memilin puting gadis itu dan memijit-mijitnya mesra.
Tidak menjawab, Noire memejamkan matanya, siap menerima apapun yang dilakukan Erik pada dirinya.
Kembali bernafsu, batang penis Erik yang masih terbenam rapat di dalam liang vagina Noire yang sempit dan hangat jadi semakin berdiri dan tambah perkasa. Dia segera memeluk pinggang ramping gadis itu dan sambil membisikkan kalimat mesra di telinganya, menggulingkan tubuh mulus Noire ke samping kiri, dengan posisi alat kelamin mereka masih tetap menyatu dan menempel erat. Kini ganti Erik yang berada di atas, menindih tubuh mulus Noire yang tak berdaya telentang di bawah.
”Ahh...” Erik mendesah merasakan nikmatnya menindih tubuh montok Noire yang menggairahkan. Terasa kulit tubuh gadis itu begitu empuk dan hangat, juga mulus sekali. Apalagi sembari menikmati jepitan daging tubuh Noire yang sangat terlarang itu, mereka kembali saling berciuman dan memagut mesra, nikmat sekali.
”Erik, jujur saja, sudah berapa wanita yang pernah kamu tiduri?” tanya Noire pelan diantara desahannya.
Erik tersenyum geli mendengar pertanyaan yang spontan dan sedikit aneh itu. ”Emm, kalau sama kamu, berarti sudah 4 orang.” kata pemuda itu terus terang.
”Ah, pantas saja kamu pintar sekali memuaskan wanita.” bisik Noire sedikit serius. Jemari tangannya mencubit pinggang Erik gemas.
”Ooohh...” tak ingin melepas kenikmatan ini terlalu lama, Erik segera menundukkan muka dan kembali mengulum bibir ranum gadis penyihir itu penuh nafsu. Noire membalas cumbuannya tak kalah panas, kedua mulut mereka saling berpagutan mesra beberapa saat.
”Puaskan aku, sayang.” bisik Noire manja di telinga Erik.
Erik tersenyum penuh gairah mendengar permintaan itu. Dikecupnya bibir ranum Noire sekali lagi, sebelum mulai mempercepat genjotannya. Ia melakukannya sambil meremas dan mengurut-urut lembut bulatan daging di dada Noire yang bergerak liar kesana-kemari seiiring goyangan tubuhnya. Erik memeganginya erat-erat agar benda itu tidak sampai bertabrakan satu sama lain.
”Uuhh...” Noire merintih pelan keenakan sambil tetap tersenyum manis. Kedua jemari tangannya mengusap-usap mesra pantat Erik yang secara teratur terus bergerak turun naik menyetubuhinya. Air mani Erik yang tumpah tadi seolah membantu melicinkan pergesekan kedua alat kelamin itu.
”Terus, sayang, aku sudah hampir sampai.” bisik Noire lirih sambil menggerakkan liang vaginanya, seolah berusaha menyedot dan mencengkeram kuat batang penis Erik yang menggesek keluar masuk disana. Penis Erik jadi seperti diremas, dilumat dan diurut begitu hebat, membuat si pemuda juga mengeluh tak tahan.
”Aku juga, sayang. Rasanya aku akan keluar lagi.” Erik kelojotan merasakan kenikmatan yang tiada tara.
Puncak ejakulasi mulai dirasakannya muncul pada sekujur batang penisnya. Erik semakin bersemangat dan dengan ritme teratur yang semakin lama semakin cepat, ia menghunjam-hunjamkan dengan gemas batang penisnya keluar masuk di liang vagina Noire yang makin lama ia rasakan juga semakin menyempit lagi, seperti hendak mendekati klimaksnya.
”Uhh... uhh... uhh...” Noire mengerang semakin keras, kedua matanya kini dipejamkan rapat menikmati genjotan alat kelamin si pemuda yang bergerak memompa semakin cepat. Kedua paha mulusnya yang mengapit lembut pinggang Erik sesekali dihentakkan ke bawah sambil mengejan kuat menahan kenikmatan. Wajahnya yang cantik kelihatan meringis saking tak kuatnya menahan rasa nikmat pada alat kelaminnya.
Erik benar-benar puas menyaksikan ekspresi wajah Noire yang sedang didera pusaran kenikmatan yang diciptakannya, seandainya saja gadis itu juga tahu bahwa batang penis yang sedang menggesek hebat liang vaginanya ini juga sudah mulai menunjukkan tanda-tanda aktivitas bak gunung berapi yang hampir meletup. Namun karena ejakulasi pertama tadi, maka rasa nikmat luar biasa persetubuhan ini masih dapat diredam dan ditahan oleh Erik sedikit lebih lama.
”Ahh... Noire, vaginamu nikmat sekali, sayang.” erangnya nakal.
Noire tak menjawab, mulutnya yang menggemaskan terus merintih berulangkali seiring dengan goyangan Erik yang naik turun semakin cepat. ”Uuh... hhh... uuh... uuh...” rintih gadis itu keras penuh nikmat.
Menit demi menit berlalu, terasa begitu lama dan melelahkan. Entah sudah beberapa kali nyaris saja air mani Erik kembali muncrat ke dalam liang vagina Noire, gara-gara pemuda itu mengejan terlalu kuat hingga jepitan vagina si penyihir cantik mendadak mengerut dan mengecil, membuat batang penisnya yang sudah mulai mendekati klimaks seolah dilumat dan diremas-remas hebat. Erik dibuat kelojotan keenakan, kedua kakinya sampai gemetaran untuk meredam badai kenikmatan yang sontak menjalar di sekujur selangkangannya.
Sambil menggigit bibir menahan nikmat, Erik menelusupkan jemarinya ke balik bokong Noire yang bulat dan padat. Sembari meremas-remas gemas, ia menghentak-hentakkan alat kelaminnya keluar masuk menggesek liang vagina Noire secepat dan sekuat mungkin. Ia mengayuh pinggulnya naik turun dengan cepat karena ingin segera menuntaskan persetubuhan ini.
”Uhh... uhh... uhh... uhh...” Erik merasa Noire begitu menikmati permainan seks-nya yang sedikit kasar, pinggul gadis itu sampai ikut bergoyang ke kiri dan ke kanan menikmati hunjaman demi hunjaman batang penisnya yang memenuhi seluruh liang vagina si penyihir.
Sekitar 5 menit kemudian, akhirnya pendakian puncak kenikmatan itu tergapai sudah. Begitu lega rasanya melihat Noire menggeliat-geliat hebat sembari menghentak-hentakkan kedua kakinya ke bawah, gadis itu mengejan kuat saat melepas kenikmatan orgasmenya yang telah dinantinya sejak lama.
”Aughhh... ahh... ahh...” mulutnya tanpa risih menjerit, memekik dan mengerang-erang dengan suara keras, seakan tak peduli dengan keadaan sekeliling.
Erik membantu dengan membenamkan penisnya dalam-dalam ke liang kewanitaan Noire yang terasa semakin banjir dan basah. Sejenak ia menghentikan gerakannya, Erik hanya sedikit menggerakkan pinggulnya, memutarnya seolah hendak memelintir liang vagina Noire dengan batang penisnya.
”Aagghhff... aahh...” Erik merintih penuh nikmat saat Noire mengimbanginya dengan menjepit dan mengenyot-ngenyot kuat batang penisnya, menyirami daging panjang itu dengan semburan lemah yang hangat dan basah.
”Aaw... awww... sshh... nngghh... ngnngghh...” erang Noire menikmati sisa-sisa orgasmenya. Saking nikmatnya, pantatnya sampai diangkat ke atas, mendesak pinggul Erik yang juga sedang menekan alat kelaminnya sedalam mungkin. Kedua kemaluan mereka pun saling menempel dan mengisi penuh.
Sekitar 10 detik Noire tenggelam dalam lautan kenikmatannya, terasa sangat singkat bagi Erik. Ketika pantat gadis itu kembali dihempaskan ke bawah menandakan orgasmenya mulai berakhir, sambil mencumbu mesra mulut si penyihir muda yang masih merintih-rintih keenakan, Erik menggerakkan lagi pinggulnya naik turun secara amat perlahan, kembali menyetubuhinya gadis cantik berdada besar itu.
”Oouuhh...” dia mendesah nikmat merasakan jepitan liang vagina Noire yang masih ketat sehabis orgasme. Benda itu seakan meremas dan memijat lembut batang penisnya, membuat air mani Erik perlahan-lahan mulai mendesak ingin menyembur keluar.
”Noire, aduh... aku ingin keluar!” erang pemuda itu pelan keenakan.
”Lepaskan, sayang. Lakukan di dalam vaginaku.” bisik Noire genit di telinga Erik.
Tak menjawab, hanya bisa merem melek menahan kenikmatan seks yang semakin lama semakin menggelora, Erik pun meledak. Bak tanggul jebol, air maninya membanjir keluar dengan hebat, memenuhi liang vagina Noire yang hangat dan basah.
”Oowww... mmhh...” Erik mendesah lirih sambil terus menghentak-hentakkan pinggulnya penuh nafsu, menekannya sedalam mungkin agar seluruh air maninya bisa masuk, tanpa ada yang terbuang sedikitpun. Terasa vagina Noire jadi semakin licin penuh cairan lendir kewanitaan yang bercampur dengan air mani Erik.
Noire sesekali merintih kecil, entah kesakitan atau nikmat menerima hunjaman penis Erik yang bergerak begitu buas dan liar. ”Ooww... ahh... ngghh... tegang sekali penismu, sayang.” rintihnya sambil mencengkeram bokong si pemuda yang masih bergerak turun naik dengan pelan.
”Aahhgghhg... Noire sayang!” Erik seakan terbang melayang ke atas awan, jauh membubung tinggi ke sorga kenikmatan yang tiada tara.
”Uhh, manimu terasa kental sekali, sayang.” rintih Noire genit.
Terasa begitu singkat namun begitu melelahkan sesudahnya. Tubuh Erik seakan lemas tak bertulang, ia segera  menghempaskannya ke tanah dan berbaring letih di sebelah Noire yang baru saja mereguk kenikmatan madu manis persetubuhan untuk kedua kalinya. Mereka berpelukan mesra, meresapi keindahan akhir permainan yang sangat melelahkan namun penuh dengan sejuta kenikmatan yang tiada bandingnya di dunia ini. Kedua buah dada Noire yang besar dan montok menekan lembut dada Erik yang bidang, terasa begitu kenyal dan lembut. Jemari si penyihir mengusap pelan batang penis si pemuda yang kini tampak sudah mulai melemah, membersihkannya dari cairan kental yang membasahi. Mulut mereka menempel dan saling mencumbu mesra satu sama lain.
Sejenak Erik termenung, memikirkan semua perbuatannya barusan. Demi kesembuhan Anya, dia rela menjadi budak Noire seumur hidup. Dia harus menuruti apapun permintaan penyihir cantik berambut putih itu, termasuk memuaskan nafsunya seperti sekarang ini, yang mana Erik sangat menyukainya.
Seakan mengerti apa yang sedang direnungkan oleh si pemuda, Noire berbisik sambil mencium dan mengulum bibir Erik dengan lembut. ”Sudahlah, yang penting kan adikmu sembuh. Lagipula, permintaanku kan tidak melulu yang aneh-aneh.”
Mau tak mau Erik tersenyum letih mendengarnya. ”Ya, ratuku!” jawabnya pendek.
”Ayo bangun, adikmu sudah sadar sekarang. Waktunya kalian pulang.” Noire menjetikkan jarinya. Dalam sedetik, mereka sudah berpindah ke dalam pondok, dengan pakaian lengkap yang sudah terbalut rapi!
”Apakah dia benar-benar sembuh?” tanya Erik melihat kondisi Anya yang masih pucat.
“Nyawanya sudah tidak terancam lagi, tapi ia harus meminum ini selama beberapa hari.” Noire memberikan kantung berisi beberapa pil obat berwarna merah kehijauan.
“Terima kasih.” wajah Erik terlihat gembira. Ia menyimpan kantung obat itu dengan hati-hati.
“Sekarang kalian berdua pergi dari sini,” usir gadis penyihir itu. “dan jangan lupa pada janjimu.” ia mengingatkan.
Erik mematuhi perintah Noire. Ia menggendong Anya lalu membawanya keluar. Ia melangkah menyeberangi jembatan kayu di depan pondok penyihir lalu menengokkan kepalanya. Sekilas ia dapat melihat si gadis penyihir memandangnya dari balik jendela. Erik lalu kembali berjalan menelusuri jalan setapak untuk keluar dari rawa-rawa.

***

Keterangan :

Ale : minuman beralkohol terbuat dari gandum
Laurentia : salah satu dari kerajaan di benua Amasia
Amasia : salah satu benua  di Nausicaa
Nausicaa : nama Dunia
1 keping emas = 100 keping perak
1 keping perak = 100 keping perunggu


Tidak ada komentar:

Posting Komentar