Selasa, 02 Agustus 2016

Vanquish 6

Chapter 9
The Good Comes To Bad

Kepalaku berkunang-kunang, rasanya sakit sekali seluruh badanku. Pandanganku gelap, hari memang sudah malam sih. Setelah berguling-guling entah berapa kali, rasanya memang aku sekarang berada di dasar jurang. Ah sialan, badanku tak bisa kugerakkan. Aku merasa kesadaranku mulai menipis. Suntikan tadi, dan hantaman-hantaman yang kudapatkan, ditambah lagi aku dilempar ke jurang. Bedebah kalian semua, aku lengah, tak menyangka akan berakhir seperti ini.
Sekilas aku melihat bayangan-bayangan di depan mataku. Mungkin ini yang sering aku dengar, ketika orang sedang menjemput ajalnya, maka kilasan-kilasan masa lalunya akan muncul, seperti trailler sebuah film. Dan saat ini aku sedang melihat kilasan-kilasan itu. Nampak seorang wanita anggun tersenyum kepadaku. Wanita yang sangat aku cintai itu. Ah sayangku, sepertinya aku akan segera menyusulmu.
Kilasan-kilasan itu muncul secara berangkai. Ini seperti perjalanan kehidupanku. Baiklah, akan kunikmati di sisa-sisa nafasku.

Namaku Marto Sutrisno, saat ini usiaku 37 tahun, atau mungkin hanya akan berusia 37 tahun saja hidupku ini. Aku berasal dari keluarga sederhana di sebuah desa di Jawa Tengah. Sejak kecil aku sudah bercita-cita untuk menjadi penegak hukum. Semua itu karena ayahku yang hanya seorang petani harus meregang nyawa di tangan perampok yang merampas motor butut kami. Ya, hanya demi sebuah motor butut aku harus kehilangan ayahku. Dan sialnya lagi, para perampok itu tak pernah tertangkap.
Aku ingin menjadi polisi, agar aku bisa menegakkan keadilan, agar aku bisa menangkap penjahat seperti mereka dan menjebloskannya ke penjara. Aku tidak ingin orang-orang seperti itu mengotori lingkungan yang damai. Membuat nyawa orang lain seperti tak ada harganya, membuat orang lain jadi susah hidupnya.
Aku menjalani masa kecil yang berat. Ditinggal ayah dengan warisan yang tak seberapa, membuatku dan ibuku harus bekerja keras banting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup kami. Aku cukup beruntung memiliki tetangga-tetangga yang baik, selalu ada saja pekerjaan yang diberikan untuk aku dan ibuku, sehingga kami masih bisa hidup dan bahkan aku bisa sekolah sampai lulus SMA.
Aku tak pernah melupakan cita-cita masa kecilku, dan betapa beruntungnya aku diterima di akademi kepolisian di negeri ini. Aku belajar dan berlatih dengan sungguh-sungguh, hingga aku akhirnya terpilih menjadi siswa terbaik di angkatanku. Sifatku yang supel membuatku memiliki pergaulan yang luas, banyak teman-temanku yang merupakan anak jenderal.
Lulus dari pendidikan, aku dikembalikan untuk mengabdi di daerahku. Senang sekali rasanya bisa bertugas di tempat asal, dekat dengan ibuku, dan juga dekat dengan seorang gadis yang merupakan teman mainku dari kecil. Astri Setyani namanya, kami berteman sejak belum mengeyam bangku sekolah hingga lulus SMA.
Karena prestasiku yang cemerlang, aku dipanggil untuk mengikuti tes menjadi pasukan khusus. Aku pikir itu seperti brimob, densus atau kopasus, ternyata bukan. Ini adalah sebuah pasukan yang secara khusus dibentuk untuk melakoni tugas-tugas yang sifatnya besar dan sangat rahasia, hampir seperti badan intelejen. Pasukan ini pun juga sifatnya sangat rahasia, seperti halnya para intelejen yang merahasiakan identitas mereka, bahkan pada keluarga mereka sendiri, begitu juga dengan kami.
Dan sekali lagi keberuntungan memihak kepadaku. Aku diterima dengan nilai yang sangat baik, hanya kalah dari seorang temanku yang bernama Rio, yang usianya masih di bawahku. Tapi aku tak mempersoalkan, sudah terpilih masuk ke dalam satuan rahasia ini saja sudah merupakan sebuah kehormatan buatku. Dan memang pada akhirnya aku merahasiakan semua ini dari semua orang. Hanya kami sesama anggota dan orang-orang tertentu di kepolisian yang mengetahui adanya pasukan ini.
Aku mulai menjalani pelatihan yang sangat berat. Kami dilatih di berbagai macam medan, dilatih untuk bisa, dan wajib bisa bertahan hidup dalam kondisi apapun. Aku bahkan pernah dilepas sendirian di sebuah hutan belantara dengan hanya dibekali sebilah belati dan sebuah peta buta, aku diwajibkan untuk bisa bertahan hidup dengan semua yang ada di hutan itu. Dengan semua yang ada di hutan itu aku berjuang, apa saja kumakan, dan akhirnya aku bisa keluar dari hutan itu dengan selamat.
Aku dan beberapa rekanku juga pernah dikirim untuk berlatih di luar negeri. Disana, selain mendapatkan pelatihan kemiliteran, aku juga mendapatkan pelatihan yang lain, termasuk penggunaan teknologi yang rasanya belum ada di negara ini. Aku bersyukur sekali dengan semua yang aku dapatkan, karena ini adalah kesempatan langka yang tak didapat oleh semua orang.
Akhirnya aku kembali ke negaraku dan resmilah kami satu tim dinobatkan sebagai pasukan elit di negeri ini, meskipun sifatnya sangat rahasia. Tim kami tidak punya nama, lebih tepatnya tidak diberi nama, tapi kami menamai diri kami Vanquish. Kami memiliki identitas berupa sebuah tattoo berbentuk huruf Q di lengan kiri kami. Pernah aku ditanya apa maksudnya tattoo itu, aku hanya menjawab entahlah, yang penting keren ada tattoonya, hehe.
Hidupku semakin sempurna setelah akhirnya aku menikahi Astri. Dia adalah cinta pertamaku, begitupun aku baginya. Seorang gadis alim yang selalu menjaga penampilannya. Mungkin bukan gadis paling cantik di dunia, tapi sepertinya dia yang paling cantik di daerahku, haha, entahlah, yang penting aku sudah menyuntingnya dan resmi menjadi istriku.
Kehidupan kami berjalan dengan penuh kebahagiaan. Astri adalah seorang istri setia, yang selalu mendukung semua pekerjaanku. Dia tak pernah berhenti memberiku dorongan dan semangat. Dia juga selalu bisa memenuhi segala kebutuhanku lahir dan batin, tak pernah sekalipun aku kecewa dibuatnya. Sungguh wanita yang sempurna buatku, dengan penampilan yang selalu terjaga seperti itu siapa yang tahu kalau ternyata di dalamnya tersimpan keindahan luar biasa yang hanya dipersembahkan untukku, suaminya.
Sayang tak lama setelah itu ibuku harus pergi selama-lamanya menyusul ayah, karena komplikasi penyakit yang sudah lama dideritanya. Aku sangat bersedih karena belum sempat memberinya seorang cucu sampai akhir hayatnya. Namun istriku selalu berada di sampingku menguatkan, memberikan ketenangan dan ketentraman dalam hidupku.
Pada akhirnya aku dipindah tugaskan ke ibukota. Dengan setia istriku mengikuti. Kami mengontrak sebuah rumah disana karena belum mampu untuk membeli rumah sendiri. Kehidupan kami masih berjalan dengan bahagia, meskipun kadang aku sedih karena sering harus meninggalkannya sendiri di rumah hingga larut malam. Tapi keakraban istriku dengan para tetangga membuatku sedikit tenang, paling tidak dia ada teman untuk mengusir kesepiannya.
Setelah sekitar setahun berada disini, aku menerima kabar bahagia dari istriku, dia positif hamil. Aku langsung melompat kegirangan ketika mendengarnya, membuat para tetangga tersenyum geli melihat tingkahku. Namun mereka memaklumi saja, mereka tahu, hal ini memang sudah kami nanti-natikan, kehadiran buah hati di tengah-tengah kami.
Hari-hari kujalani dengan lebih bersemangat lagi. Bayangan akan menjadi seorang ayah sangat memberikan dukungan moral yang luar biasa kepadaku, mood booster istilah kerennya sekarang. Aku semakin memperhatikan dan memanjakan istriku. Aku selalu mengusahakan bagaimana caranya agar lebih cepat sampai ke rumah.
Hingga saat hari itu tiba, hari yang menjadi titik balik dalam perjalanan hidupku. Saat sedang berada di kantor, aku ditelepon oleh tetangga, mengabarkan kejadian buruk menimpa istriku dan tetanggaku itu. Dia memintaku untuk segera datang ke rumah sakit. Tanpa banyak bicara lagi aku langsung tancap gas menuju rumah sakit.
Sesampainya disana tak kudapati istriku. Aku semakin panik, hingga akhirnya aku bertemu dengan tetangga yang tadi meneleponku. Dia baru saja keluar dari ruang ICU dengan perban di tangan dan kepalanya, wajahnya pun terlihat lebam.
“Mbak Yeni, apa yang terjadi? Dimana istriku?” tanyaku.
“Mas, hiks... istrimu diculik orang, mas,” jawabnya sambil menangis.
“Diculik? Siapa, mbak? Tolong cerita yang jelas, mbak,” aku semakin panik.
Kemudian dia pun bercerita, bahwa tadi pagi berangkat ke pasar berdua dengan istriku. Sepulangnya dari pasar, tiba-tiba mereka berdua dipepet oleh sebuah minibus, hingga motor yang dikendarai Mbak Yeni oleng dan terjatuh. Tiga orang pria keluar dari mobil itu, mereka memakai topeng semua.
Dua orang langsung menarik istriku masuk ke mobil dan seorang lagi menghajar Mbak Yeni hingga pingsan. Setelah itu dia tak ingat apa-apa lagi. Kejadian itu berlangsung cukup cepat sehingga tidak ada yang sempat menolong.
“Mbak masih inget ciri-ciri mobilnya?” tanyaku.
“Mobilnya minibus warna hitam, mas. Tapi aku langsung dihajar sampai pingsan dan setelah itu nggak tahu apa-apa lagi, mas.”
Setelah menanyakan dimana kejadiannya, aku pun segera menuju daerah itu setelah sebelumnya mengabari kantorku untuk meminta bantuan. Sesampainya di lokasi penculikan istriku, aku segera menanyai orang-orang di daerah itu. Tapi sayangnya sangat sedikit informasi yang kudapatkan. Tidak ada orang yang benar-benar memperhatikan karena kejadian itu berlangsung sangat cepat.
Aku pusing, pikiranku kalut. Berkali-kali aku ditenangkan oleh atasanku tapi tetap tak bisa membuatku tenang. Akhirnya aku sendiri yang ditunjuk untuk memimpin tim mencari istriku. Aku bahkan meminta Rio, salah satu rekanku di Vanquish yang kebetulan bertugas di Jakarta untuk membantuku.
Namun setelah tiga hari melakukan pencarian, sama sekali tidak ada hasil yang didapat. Penculik itu pun sama sekali tidak menghubungiku untuk meminta tebusan atau apapun. Tapi aku menolak untuk berputus asa. Aku berusaha mencari apa motif para penculik itu. Apakah mereka menculik untuk mendapatkan sesuatu dariku? Atau ada yang punya dendam padaku sehingga menculik istriku?
Tapi aku merasa tak punya masalah dengan siapapun disini, selama ini aku merasa selalu bersikap baik kepada orang-orang. Apakah mereka sindikat perdagangan perempuan yang melakukan penculikan wanita secara acak, untuk kemudian diperjual belikan?
Semakin lama tak mendapat hasil semakin membuat pikiranku menjadi kalut. Aku sama sekali tidak bisa fokus dalam bekerja. Bekerja? Oh come on, aku bahkan tidak tahu apa yang harus aku lakukan, sama sekali tidak ada petunjuk, sama sekali tidak ada jejak.
Tepat seminggu setelah hilangnya istriku, aku mendapati kabar yang tak mengenakkan. Ada seorang pemulung menemukan jasad seorang wanita muda, dalam kondisi yang sangat mengenaskan, tanpa busana dan bersimbah darah. Aku segera bergegas menuju ke lokasi ditemukannya jasad itu, sambil berdoa dan berharap itu bukanlah jasad Astri, istriku.
Sesampainya di lokasi, aku langsung berlari menuju kerumunan orang-orang. Mereka yang melihat kami berpakaian dinas langsung menyingkir memberikan jalan. Sesosok jasad sudah tertutup koran bekas. Aku mendekatinya perlahan, dengan tangan gemetaran aku membuka koran penutup jasad itu.
“Astriiiiiiii... tidaaaaaaaakkk!!”
Aku berteriak histeris, jatuh terduduk, yang langsung dipegangi oleh rekan-rekanku. Jasad bersimbah darah tanpa busana ini, wajahnya dipenuhi luka hingga hampir tak bisa dikenali, tapi ciri-ciri di tubuh jasad ini, aku sangat hapal, ini adalah Astri Setyani, istriku, dan ada calon anakku yang masih berada di dalam kandungannya.
Aku menatap jasad itu, masih tak percaya. Jasad perempuan telanjang bersimbah darah ini adalah istriku. Istriku yang anggun, yang sehari-harinya berpenampilan santun dan tertutup, kini tubuhnya telanjang penuh lebam dan luka sayat. Matanya melotot, wajahnya menyiratkan ketakutan dan penderitaan yang luar biasa di akhir hidupnya.
Petugas medis datang dan segera membawa jasad istriku ke rumah sakit untuk divisum. Aku mengikutinya dengan pandangan kosong. Aku hanya ditemani Rio. Rio meminta tim forensik untuk mencari kemungkinan ada sidik jari di tubuh istriku agar kami bisa melacak si pelaku, namun nihil, sama sekali tidak ditemukan.
Hasil visum mengatakan bahwa istriku mengalami pemerkosaan sebelum dianiaya hingga tewas. Dia mendapatkan perlakuan yang kasar, terlihat dari lubang kemaluan dan anusnya yang menganga lebar. Juga terdapat bekas ikatan entah tali atau rantai di sekujur tubuhnya. Istriku benar-benar disiksa hingga kehilangan nyawanya.
Dalam waktu sekejap aku telah kehilangan istri dan calon anakku dengan cara yang sedemikian keji. Aku bersumpah, bila aku bisa menemukan orang yang telah membuat istriku seperti ini, akan kuhancurkan tubuhnya hingga berkeping-keping. Akan kubuat dia merasakan penderitaan lebih dari yang istriku alami.
“Sabar, bang, yang kuat, relain Mbak Astri pergi. Kita nggak akan tinggal diam, bang, kita akan cari siapa pelakunya. Aku akan kumpulkan teman-teman Vanquish. Kita bakal habisi orang-orang yang ngebuat Mbak Astri kayak gini bang,” ucap Rio, seolah dia mengerti benar dendam yang kurasakan saat ini.
Lebih dari seminggu aku tidak masuk kerja setelah kejadian itu. Aku masih berinteraksi dengan rekan-rekan Vanquish, namun sama sekali tidak ada petunjuk. Sialan, bahkan pasukan selevel kami pun tidak bisa mengungkapnya, siapa sebenarnya yang sudah membunuh istriku ini?
Hari berganti, minggu berganti. Tak terasa sudah setahun lebih sejak peristiwa itu dan sama sekali tidak ada perkembangan, membuatku semakin depresi dengan keadaan ini. Aku yang semula dikenal periang, terlebih setelah istriku hamil, kini menjadi pribadi yang pendiam, sangat tertutup. Beberapa kali aku melamun, pandangan kosong, hingga ditegur oleh rekan dan atasanku. Mereka selalu memberi dukungan sebenarnya, tapi sama sekali tidak mempengaruhiku. Rasa kehilangan, dan dendam ini terlalu dalam.
Suatu ketika aku menjadi gelap mata. Saat aku bertugas berdua saja dengan seorang polwan rekanku, entah dorongan darimana, aku memperkosanya. Wanita itu menjerit histeris ketika aku merobek selaput daranya. Teringat bahwa istriku diperkosa dengan kasar, akupun menggenjotnya dengan kasar, entah mengapa aku senang sekali melihat ekspresi kesakitan darinya, hingga membuatku kesetanan. Tangisnya tak berhenti hingga aku menumpahkan spermaku yang sudah berbulan-bulan tak tersalurkan ke dalam rahimnya. Aku mengancamnya agar tak melaporkan ke siapapun atau aku akan membunuhnya.
Aku menjadi ketagihan, hingga beberapa kali wanita itu aku setubuhi. Tak puas dengan satu orang saja, aku mulai mengincar orang lain. Kali ini istri temanku sendiri yang menjadi sasaran. Saat suaminya piket patroli malam, aku menyusup ke rumahnya. Dengan berbekal keahlian yang kudapat dari pelatihan rahasia dulu, rumah yang terkunci rapat itu bisa kumasuki dengan mudahnya.
Aku melihat wanita itu sedang menonton tv, hanya mengenakan daster terusan selutut yang tipis. Pemandangan yang langka tentu saja karena selama ini dia selalu berpenampilan tertutup. Malam itu aku memaksanya melayani nafsuku hingga kupaksa dia menelan maniku. Dengan ancaman yang sama aku beberapa kali menikmati tubuhnya. Aku bahkan pernah bermain bertiga dengan kedua korbanku itu, membuat mereka lemas tak berdaya memuaskanku.
Tak berhenti sampai disitu, tetangga sebelah rumahku pun menjadi korban. Mbak Yeni, yang bersama istriku saat istriku diculik, sedang mengantarkan makanan ke rumahku, karena hari ini memang ada acara syukuran di rumahnya dan aku tak sempat datang karena cukup sibuk. Sebelumnya aku melihat wanita ini biasa-biasa saja, tak ada ketertarikan, namun malam ini rasanya beda. Setelah aku berhasil menikmati dua orang wanita, kini pandanganku ke dia berubah.
Aku mulai mengamati tubuhnya yang masih terbalut pakaian layaknya ibu-ibu pengajian. Wajahnya cukup cantik, kulitnya kuning, badannya mungil, tapi tonjolan di dadanya cukup menantang, juga didukung dengan pantat yang membulat indah. Baru aku sadari ternyata Mbak Yeni ini cukup menarik. Akupun langsung mendekapnya dan kuseret dia ke kamarku.
Dia berontak namun tentu saja tenaganya kalah kuat denganku. Dia menangis tanpa mengeluarkan suara karena mulutnya masih kudekap. Kutarik lepas celana dan celana dalamnya sekaligus, dan langsung kumasukkan penisku yang besar ke vagina sempitnya. Sekali lagi aku begitu menikmati ekspresi kesakitan dari wanita itu. Kugarap dia habis-habisan hingga tengah malam. Aku tahu suaminya yang seorang satpam masuk malam hari ini, sehingga kupuas-puaskan menikmati tubuhnya. Sejak saat itu dia sering kupaksa menemani malam-malamku tiap kali suaminya piket malam.
Dengan tiga orang wanita yang menjadi pelampiasan nafsuku ini, aku sangat terpuaskan, tapi tak membuatku berhenti. Kini aku mengincar seorang rekan kerjaku yang baru saja dipindahkan ke kantorku. Masih muda, dia baru saja menikah. Saat suasana kantor sudah sepi, aku memanggilnya ke ruangan yang biasa dipakai untuk interogasi, disana aku berhasil memperkosanya. Tapi sayang kali ini nasib sial menghampiriku. Saat sedang asik-asiknya, aku ketahuan oleh rekan kerjaku.
Aku pun disidang dan diberikan sanksi tegas. Aku dimutasi ke Jogja. Aku bahkan dicoret dari anggota Vanquish. Aku hanya menerima semua hukuman itu dengan tersenyum, tak ada sama sekali tersirat penyesalan. Pikirku, di tempat yang baru justru aku akan mencari pengalaman yang baru, wanita-wanita baru.
Dan benar saja, belum lama di Jogja aku sudah mendapatkan korban lagi. Tapi kali ini aku lebih bermain aman. Aku mempersiapkan semua rencanaku dengan matang sehingga tak pernah ketahuan oleh siapapun.
Disini aku beberapa kali dipindah bagian, mulai dari lalu lintas, kriminal, hingga yang terakhir bagian narkoba. Aku tak terlalu mempedulikannya karena bagiku yang terpenting adalah petualanganku di dunia lendir. Aku ketagihan, semakin ketagihan. Sudah beberapa wanita baik itu rekan kerjaku sendiri, istri-istri rekan kerja dan juga tetanggaku yang menjadi korbanku.
Selama bertugas di bagian kriminal dan narkoba inilah aku mulai akrab dengan dunia hitam. Aku banyak berkenalan dengan preman-preman dan bandar narkoba, bahkan menjadi pengguna narkoba. Aku, Marto Sutrisno, yang sebelumnya adalah seorang polisi dengan prestasi cemerlang dan anggota dari pasukan elit, kini masuk ke dalam lingkaran hitam. Hal ini tentu saja tanpa sepengetahuan rekan-rekanku yang lain.
Dari sini aku mulai berkenalan dengan bandar-bandar besar, sampai akhirnya aku bertemu dengan bossku sekarang, si Mr-X. Dia menawarkan sesuatu yang menggiurkan buatku. Aku diminta untuk menjadi mata-matanya, dengan imbalan diberikan posisi yang cukup berpengaruh di jaringannya di Jogja, dengan kata lain aku akan mendapat akses untuk mengatur bisnisnya di Jogja, dan tentunya bisa mendapat barang haram itu sesukaku. Dengan tawaran ini langsung saja aku mengiyakan.
Sejak saat itu aku makin menjadi, makin terseret ke dunia yang dulu justru ingin aku berantas. Perlahan aku mulai melupakan kepergian istriku. Ya, sama sekali tidak ada perkembangan kasusnya hingga sekian lama, serta masuknya ke dunia hitam ini, membuatku lupa segalanya. Akupun lupa dengan tujuan cita-cita masa kecilku. Aku lupa dengan sumpah dan komitmenku selama ini. Aku sudah benar-benar masuk ke dunia hitam. Aku bahkan mulai menjadi orang kepercayaan si boss.
Bisnis ini bergerak pada bidang obat-obatan terlarang, bukan hanya narkoba, tapi termasuk juga termasuk obat-obatan ilegal lainnya, obat bius hingga obat perangsang. Yang terakhir yang membuatku tertarik, tentu saja, siapa juga yang mau melewatkan kesempatan ini. Berkali-kali aku manfaatkan obat perangsang untuk mendapatkan wanita incaranku, mulai dari rekan kerjaku, hingga siapapun yang menarik bagiku, aku tak peduli.
Seringnya aku memberikan dosis yang rendah saja untuk para korbanku, karena aku masih menikmati sekali mendengar jeritan dan melihat ekspresi kesakitan mereka ketika kuperkosa. Aku masih ingat bagaimana merdunya jeritan rekan kerjaku yang baru masuk, ketika penisku memerawani kemaluannya. Bukan hanya seorang, tapi dua orang, yang menurutku paling cantik di kesatuanku.
Bersama Ramon, seorang pegawai bank, kami mengelola dengan baik bisnis ini. Dia yang lebih banyak mengatur bagaimana manajemen bisnis kami, aku bagian operasionalnya, tak masalah bagiku karena aku memang tak mengerti masalah manajemen. Dengan peranku itulah aku semakin banyak bergaul dengan para kriminal.
Mereka cukup segan padaku, karena memang aku adalah orang kepercayaan boss, sehingga merekapun turut menjadi anak buahku yang patuh, kecuali dua orang, yang bisa dibilang kepala preman yang sulit untuk didekati. Namun sesulit apapun akhirnya mereka menyerah juga pada wanita, ketika kuberikan kepada mereka dua orang asetku yang paling cantik, siapa lagi kalau bukan Intan dan Via, polwan cantik yang kuperawani.
Aset? Yah, aku menyebut para korbanku sebagai aset. Karena selanjutnya mereka kugunakan untuk memuluskan berbagai macam deal yang aku buat untuk bisnis ini. Dan aku sangat menikmati segala yang aku dapatkan ini.
Kedua dedengkot preman itu aku undang ke rumahku, dimana aku menunggu bersama Intan dan Via yang masih memakai seragam dinasnya. Kuperintahkan Intan dan Via melayani kedua preman itu, tanpa obat perangsang atau apapun. Aku tersenyum puas melihat bagaimana kedua rekanku itu menderita seharian melayani kedua preman itu.
Dengan berbekal ‘aset-aset’ yang kumiliki itulah, berkali-kali kugunakan untuk memuluskan rencanaku. Bahkan, atas perintah bossku aku menyuruh seorang aset terbaikku untuk menggoda atasanku, Pak Wijaya. Entah untuk apa, aku menurutinya saja, paling tidak aku bisa memegang kartu as bossku kan?
Hingga suatu hari, ada seorang polwan baru di tempatku. Bukan baru lulus, tapi mutasi dari daerah lain. Dia dimutasi setelah menikah dengan salah satu rekanku yang bernama Guntur. Pertama kali aku melihatnya, aku terpana. Bukan karena kecantikannya, karena Intan dan Via masih lebih cantik darinya, tapi karena dia mirip, sangat mirip bahkan, dengan mendiang istriku, Astri. Wanita ini bernama Safitri Rahmadianti.
Kehadirannya membuatku tersihir, kembali teringat akan kenangan bersama istriku. Aku mulai mengamatinya, membandingkannya dengan istriku. Usianya lebih muda jika sekarang istriku masih hidup. Selain wajahnya yang sangat mirip, penampilannya memang sedikit berbeda dengan istriku. Jika istriku berkerudung, dia tidak. Tingginya hampir sama, kulitnya sama-sama putih, dadanya lebih kecil dari istriku, tapi pantatnya kelihatan sedikit lebih menggoda.
Aku menjadi terobsesi dengannya, tapi memang agak sulit mendekatinya. Kalau selama ini aku berhasil menaklukkan istri rekanku karena mereka hanya di rumah, Safitri juga bekerja disini dengan suaminya, membuat mereka hampir sepanjang waktu bersama. Terlebih lagi saat itu Safitri dalam kondisi hamil. Ah, nanti pasti ada kesempatan untuk bisa membuatnya menjadi salah satu asetku.
Aku kembali mengalihkan fokus ke bisnisku, sambil tetap memperhatikannya dari jauh. Dengan mendekati Guntur secara tidak langsung, aku menjadi dekat dengan istrinya. Lama-lama kami pun semakin akrab. Aku semakin terobsesi dengan wanita ini. Sekian tahun menunggu akhirnya kesempatan itu datang juga. Kali ini dewi fortuna kembali khilaf karena memilih memihak kepadaku.
Saat Guntur mendengar anaknya sakit, dan meminta Safitri untuk melihatnya di rumah, tapi dia tak bisa mengantar karena ada pekerjaan, dengan bodohnya meminta bantuanku untuk mengantar Safitri. Aku yang sudah menunggu kesempatan tentu tak menyia-nyiakannya, dan segera mengantar Safitri yang nampak panik.
Sesampainya di rumah, dia segera melihat kondisi Andin, ternyata hanya demam biasa, dan sudah diberikan obat oleh pembantunya sehingga sekarang sudah tertidur. Aku hanya menunggu saja di ruang tamu saat pembantunya membawa dua gelas minuman. Dengan dalih ingin ke kamar mandi, aku minta diantar oleh si pembantu, yang langsung kubekap dengan sapu tangan yang sudah kubasahi dengan obat bius hingga dia pingsan.
Segera aku kembali ke ruang tamu dan memberikan sedikit obat perangsang di minuman Safitri. Tak lama wanita itu pun datang.
“Gimana si Andin, Fit?”
“Untunglah nggak papa, mas. Cuma demam biasa aja, sekarang udah tidur anaknya.”
“Oh, syukurlah kalau begitu. Kau sudah mengabari suamimu?”
“Iya sudah, mas. Habis ini kita langsung balik ke kantor ya, mas.”
“Ngapain buru-buru, itu minumlah dulu, kamu masih kelihatan pucat gitu,” ucapku sambil mengambil gelasku dan meminum habis isinya.
Dia pun menghela nafas untuk mengurangi ketegangan, kemudian meraih gelasnya dan meminumnya hingga habis tanpa curiga. Setelah itu aku pamit dulu ke kamar mandi, mengulur waktu agar obat itu bekerja. Setelah beberapa saat aku mengintip kondisinya, dia mulai nampak gelisah dan mengipaskan tangannya sendiri, nampak kegerahan. Aku tak segera menghampiri, tapi diam-diam masuk ke kamar anaknya dan menempelkan sapu tangan berkloroform itu di hidungnya, hanya untuk memastikan saja dia tidak terbangun oleh teriakan mamanya nanti.
Setelah itu aku tak kembali ke ruang tamu, tapi segera duduk lesehan di ruang keluarga dan menyalakan tv. Safitri yang mendengarnya langsung menghampiriku dengan wajah yang agak memerah dan peluh mulai membasahi keningnya.
“Lho, mas kok malah nonton? Ayo balik ke kantor.”
“Aduh, bentar lagi lah, Fit, duduk dulu sini temani aku.”
Dia tak membantah dan justru duduk di sebelahku. Aku diamkan saja dia, membiarkannya semakin gelisah merasakan obat perangsang itu bekerja. Aku melihat wajahnya, ah benar-benar mirip dengan Astri. Dia nampak semakin gelisah, berkali-kali menelan ludahnya sendiri. Oke Marto, it’s our time.
“Kamu kok kelihatan pucat, Fit? Berkeringat gitu, kamu sakit juga?”
“Nggak tahu ini, mas, jadi nggak enak badan gini aku.”
“Sini, biar aku pijitin aja,” aku langsung mendekat, lalu memutar tubuhnya membelakangiku.
“Eh, nggak usah, mas. Eeehm,” dia mencoba menolak namun tanganku sudah memijit pundaknya.
Dia diam saja nampak menikmati pijitanku. Tanganku dengan lincah memijit pundak, lengan dan punggungnya. Sesekali ke leher dan daerah di bawah telinga, membuatnya sedikit bergetar bila bagian itu tersentuh. Tanganku memijit punggung hingga pinggangnya, lalu naik melalui kedua sisinya dan berhenti di samping dadanya, membuatnya sedikit menggelinjang.
“Gimana, udah rileks?”
“Iyaah, mas, lumayan,” jawabnya sedikit mendesah, membuatku semakin bernafsu padanya.
“Enak pijitanku, Fit?”
“Iyaah, mas, enaaa aahhh... mas ngapain?” tanganku tiba-tiba saja meremas kedua buah dada mungilnya. “Mass, stop! Aahhh... jangan, mass! Aaaahhhh... hentikaaaan!”
Aku menubruk tubuhnya hingga kami berdua tengkurap, dengan dia ada di bawahku. Dia mencoba meronta namun pengaruh dari obat perangsang yang kuberikan membuat rontaannya lemah saja. Kusingkap roknya ke atas dan kutarik celana dalamnya, terasa vaginanya sudah agak basah. Segera kukeluarkan penisku yang sudah keras, kuusapkan ke bibir vaginanya.
“Ouhh, mas... jangan, mass, aaaaaarrrhhh...”
Dengan satu sentakan keras aku masukkan penisku dan langsung menggoyangnya dengan kasar. Wanita ini berteriak bercampur dengan desahan. Ough, ini nikmat sekali. Aku merasakan penisku diremasi lubang sempitnya, apalagi dengan posisi seperti ini. Aku meraih kepalanya dan memalingkannya. Kuciumi habis bibirnya yang ranum. Dia menutup rapat bibirnya, tapi kubuka dengan paksa dan kemudian kulumat lidahnya yang menggemaskan itu. Sodokanku yang kasar ini ternyata membuat vaginanya semakin basah, dan tak lama kemudian dia mengerang, orgasme.
Aku membalikkan badannya, ingin melihat ekspresinya. Air matanya mengalir deras, matanya tajam menatapku, tapi juga tersirat ada kepuasan disana. Tak menunggu lama aku kembali merojok vaginanya dengan kasar. Dia berteriak lagi, kepalanya menggeleng-geleng, tangannya meremasi karpet, matanya terpejam, namun pinggulnya bergerak mengikuti goyanganku.
Aku tahu dia dilema, antara menolak dan menikmati. Pengaruh obat perangsang membuat birahinya naik, ingin dituntaskan, tapi kenyataan bahwa saat ini bukan suaminya yang sedang menyetubuhinya membuat batinnya menolak. Tapi tubuh kami terlanjur menyatu, kemaluan kami terlanjur bertaut, sudah terlanjur terjadi. Teriakan, tangisan dan desahannya bercampur, itulah yang begitu aku nikmati, terlebih wajahnya yang mirip dengan istriku, aku ingin menikmatinya sepuasku.
Dua kali dia mencapai orgasme, lagi tapi aku tak menghentikan genjotan. Hingga akhirnya badanku dan badannya mengejang bersama, air maniku keluar disambut cairan cintanya. Tubuhku ambruk menindihnya. Hanya isak tangis yang tersisa darinya. Aku menciumi wajahnya, membayangkan sedang menciumi wajah istriku.
Kami sempat melakukannya sekali lagi, kali ini tanpa busana sama sekali. Dia masih belum bisa menerimaku. Kesetiaan pada suaminya kuacungi jempol, tapi kenikmatan tubuhnya lebih membiusku. Dia sempat menampar pipiku, sebelum akhirnya menunggangi tubuhku dengan liarnya, menjemput orgasmenya sendiri. Kami terus bergoyang dan akhirnya kucabut penisku, kumasukkan ke mulutnya dan ejakulasi disana.
Kami pun kembali ke kantor tanpa terlebih dahulu membersihkan tubuh kami. Aku membayangkan bagaimana dia bertemu suaminya dengan vagina dan mulut yang mungkin masih tersisa sperma lelaki lain disana. Entah mau bikin alasan apa dia ke suaminya kenapa lama sekali, tapi yang jelas aku sudah mengancamnya dengan berbekal foto-foto persetubuhan kami, seperti yang kulakukan dengan wanita-wanita lainnya.
Sejak itu dia sering kupaksa melayani nafsuku, tanpa kuberi lagi obat perangsang. Aku mulai menyukainya, entah mungkin karena wajahnya yang mirip dengan istriku. Aku bahkan semakin jarang menyentuh aset-asetku yang lain. Dan Safitri ini adalah satu-satunya asetku yang tak pernah kubagi dengan orang lain. Dia memang tak pernah rela melayaniku, tapi tak bisa melawan keinginanku, bahkan berkali-kali orgasme meskipun selalu berkata bahwa dia tidak menikmatinya.
Tapi rupanya dewi fortuna ada bosannya juga dekat denganku. Saat aku sedang memaksa Safitri untuk melayaniku di kantor, atasanku Pak Wijaya malah memergoki. Sialnya, kali ini aku harus dibuang lagi, dan dibuang jauh ke luar jawa. Aku tak terima, aku ingin membuka kartunya yang sudah melakukan affair dengan beberapa orang yang memang merupakan setinganku.
Tapi aku mengurungkan niat, aku merencanakan sesuatu yang lebih menarik lagi untuk Wijaya. Tidak sekarang, tunggu saja saatnya nanti, ini akan menyenangkan.
Gara-gara peristiwa itu bossku marah-marah padaku, karena dengan aku yang saat itu bertugas di bagian narkoba dibuang dari sana, akan sulit mendapatkan informasi kapan akan diadakan operasi ataupun razia. Dan benar saja, sebulan setelah kepergianku, markas kami dirazia. Terjadi baku tembak yang menewaskan semua anggota kami, kecuali Ramon, karena waktu itu dia masih bekerja di kantornya.
Aku tak tahu berapa korban dari pihak kepolisian, namun beberapa bulan setelah itu baru aku mendengar bahwa Guntur, suami Safitri, turut menjadi korban. Aku tersenyum, bagus sekali, aku akan mengejarnya dan benar-benar menjadikannya milikku. Aku tak peduli, dia harus menjadi milikku, dia harus menggantikan Astri mendampingiku.
Di tempat baruku, aku mendapat kesialan lagi. Setelah berhasil membangun jaringan bisnis baru untuk bossku, bahkan hingga bisa membuat pabrik disini, sekali lagi aku ketahuan saat sedang memperkosa seorang gadis. Kali ini aku harus menerima hukuman berat, dipecat dengan tidak hormat. Sialan, seorang mantan anggota pasukan elit, dipecat dengan tidak hormat, bahkan diusir dari daerah ini.
Dendam, itu yang kurasakan. Ke siapa? Semuanya, semua yang telah membuatku seperti ini, kecuali Safitri. Aku rasa aku mulai mencintainya, dan aku akan benar-benar mengejarnya kali ini.
Tawaran dari bossku datang lagi, untuk mengembalikanku ke Jogja, dengan tugas yang baru tentu saja. Aku dipanggil ke Jakarta dan diberi tahu detail rencananya. Hmm, benar-benar menarik, terlebih kami memiliki target yang sama. Oke, aku menerimanya, karena Safitri juga ada disana.
Aku sudah menjalankan peranku dengan baik. Mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang keluarga Wijaya, bahkan akupun sempat menikmati keindahan tubuh kedua kakak ipar anak Wijaya. Tapi aku masih tetap pada tujuanku untuk mencari Safitri, untuk menjadikannya milikku selamanya. Aku mencari cara bagaimana agar Safitri tidak jatuh ke tangan bossku. Kalau wanita lain terserah, tapi aku tak rela kalau Safitri, aku ingin memilikinya sendiri.
Tapi aku benar-benar lengah, tak kusangka bossku hanya memanfaatkan keahlianku saja. Setelah semua akses dia dapatkan, dia membuangku seperti ini. Bukan, bukan membuang, tapi menghabisiku. Kenapa? Apa jangan-jangan dia tahu apa yang kuperbuat terhadap Safitri? Dia pernah memperingatkanku untuk tak menyentuhnya, tapi kulanggar. Tapi seharusnya dia tak tahu itu, karena aku sudah memastikan tak ada yang mengetahui itu.
Lalu kenapa aku disingkirkan? Apakah memang hanya sampai disini saja peranku? Bangsat, dulu aku yang sering melakukan ini, menyingkirkan orang-orang yang sudah tak berguna, tapi kini justru aku yang disingkirkan.
Aku sudah banyak membantunya, aku sudah begitu loyal kepadanya, tapi dia malah menyingkirkanku. Aku tak terima ini, aku tak bisa menerima ini boss. Boss? Tidak, dia bukan lagi bossku. Ya benar, aku sudah tak perlu lagi memanggilnya boss.
Ah sial, pandanganku semakin gelap. Terakhir yang kulihat adalah Astri dan Safitri, mereka berdiri berangkulan, apa maksudnya itu? Sebentar dulu, aku belum... ah, kenapa semakin gelap? Apakah sudah saatnya aku menemui Astri? Oh, aku tidak rela mati seperti ini, aku tidak rela kau perlakukan seperti ini, Baktiawan Mahendra!

***

Ramon tersenyum menerima instruksi dari sang boss. Kini wilayah Jogja sepenuhnya dalam kendalinya. Dan untuk melanjutkan rencana dari boss, dialah nahkodanya sekarang. Dia dan kedua anak buahnya pergi meninggalkan tempat itu. Kedua anak buahnya membawa mobil Marto, sedangkan Ramon membawa mobilnya sendiri, menuju rumah Nadya.
Tak salah dia memilih tempat ini. Jurang itu cukup dalam, dan banyak batuan. Dilemparkan seperti itu dalam kegelapan, apalagi dengan tubuh yang babak belur dan sudah disuntik obat penenang, siapapun tak akan bertahan hidup, termasuk Marto. Lokasi ini juga sangat sepi, tak akan ada yang menemukan mayatnya dalam waktu dekat.
Dia tak tahu alasan Baktiawan menyuruhnya menyingkirkan Marto. Selama ini dia melihat Marto tak ada masalah, bahkan melakukan tugasnya dengan cukup baik. Dia berhasil mengorek banyak sekali dari target boss, bahkan orang-orang di sekitarnya. Dia mencurigai si boss takut kalau Marto lebih tertarik untuk mengejar wanita itu daripada melaksanakan rencana boss, sehingga menyingkirkannya. Ah sayang sekali, padahal dia masih ingin belajar banyak dari Marto.
Tapi wanita yang membuat Marto tergila-gila ini cukup mengusik rasa penasaran Ramon. Dia akan mencarinya, seperti apa sebenarnya polwan itu. Dia merasa mungkin si boss tak terlalu menginginkan wanita itu, jadi Ramon bisa menjadikannya selingan sementara, sebelum dia menaklukkan dan menyerahkan Nadya dan Lia untuk bossnya.
Ramon sudah berada di depan rumah Nadya. Dia kesini bukan untuk langsung mencari Nadya, tapi suaminya. Lewat suaminya ini dia akan mendekati Nadya, dan selanjutnya Lia. Dia sudah mendapatkan instruksi dari bossnya untuk bergerak perlahan setelah kematian Dede, agar tak terlalu menarik perhatian. Waktu dua bulan rasanya lebih dari cukup kalau hanya untuk menaklukkan mereka berdua.
Tok tok tok...!
Tak lama pintu pun terbuka. Seorang wanita berjilbab berdiri di baliknya. Wanita itu tersenyum manis. Tunggulah Nadya, tunggulah sampai kamu menjadi salah satu boneka kami, batin Ramon.
“Malem, Nad, Hendri ada?”
“Oh, Mas Ramon. Ada, mas, silahkan masuk.”
Ramon pun masuk, Nadya lalu menutup pintunya.

***

“Hallo... assalamualaikum, Re.”
Waalaikumsalam, mbak. Ada apa?”
“Ada suamimu disitu?”
Nggak ada, mbak. Gimana?”
“Kamu sudah dapat pesan dari si boss?”
Iya, udah, mbak. Dua bulan lagi kan?”
“Iya, Re, dua bulan lagi.”
Hiks... mbak, apa jadinya kita nanti, mbak?”
“Mbak juga nggak tahu, Re, kita nggak bisa apa-apa sekarang.”
Hiks... aku kepikiran anakku, mbak, gimana kalau dia tau sekarang mamanya nggak lebih dari seorang pelacur?
“Hush, jangan ngomong gitu, Re.”
Gimana nggak, mbak, tubuh kita udah kayak nggak ada harganya lagi. Apa lagi yang kita punya sekarang, mbak? Udah nggak ada, hiks.”
“Udah, udah. Semoga semua ini cepat selesai, Re, kita berdoa saja.”
Iya, mbak, hiks.”
“Ya udah kalau gitu. Pesen mbak, tetep layani suami kamu seperti biasa, jangan bikin dia curiga, oke?”
Iya, mbak, aku usahakan.”
“Ya udah, nanti kita sambung lagi, assakamualaikum.”
Iya, mbak, waalaikumsalam.”
Filli meletakkan ponselnya. Matanya berkaca-kaca, tapi dia tak ingin adiknya mendengarnya menangis. Dia sama hancurnya dengan Renata. Pernikahan yang selama ini berjalan bahagia, hancur sudah. Kesetiaan dan kehormatan yang dia miliki sudah tak ada lagi.
Tubuhnya dan tubuh Renata sudah kotor. Tubuh yang seharusnya hanya milik suami mereka, kini bisa dipakai dengan bebas oleh beberapa orang. Dia teringat saat dipaksa melayani empat orang bersama adiknya, setelah sebelumnya melayani si boss dan temannya. Dia bahkan diperawani lubang anusnya oleh si boss. Paginya terbangun, dia mendapati tubuhnya dan Renata telanjang bulat, penuh dengan bekas sperma yang sudah mengering.
Penderitaannya belum berakhir hari itu. Setelah disuruh mandi, dia dan adiknya diperlakukan seperti budak di rumah itu, melayani siapa saja yang berada di rumah itu, tanpa sehelai benang pun boleh menutupi tubuh mereka. Tiga hari berada di rumah itu rasanya seperti tiga tahun. Dia dan adiknya diperkosa dimana saja, tak kenal tempat, tak kenal waktu. Dia pernah dipaksa melayani tiga pria sekaligus dengan ketiga lubangnya, sedangkan adiknya yang berada tak jauh darinya juga mengalami hal serupa.
Dan baru saja si boss mengirimkan pesan untuk mempersiapkan diri, karena dua bulan lagi ada pesta. Entah pesta apa yang dimaksud. Bisa jadi seperti kemarin, atau bahkan lebih parah lagi. Dia tak bisa membayangkan. Kini dirinya terbaring tanpa busana di tempat tidur. Sendirian, sang suami belum pulang dari luar kota. Matanya terpejam tanpa bisa terlelap, hanya air matanya yang terus mengalir membasahi pipi hingga bantalnya.

***

POV Mr-X aka Baktiawan

Aku cukup puas dengan kerja Ramon. Aku menyuruhnya untuk menyingkirkan Marto, membuatnya hilang tanpa bisa ditemukan oleh siapapun, terserah caranya mau seperti apa, yang penting Marto lenyap. Sayang memang anak buah yang memiliki kemampuan seperti Marto harus aku lenyapkan. Tapi perannya sudah selesai, pionku yang satu itu sudah tak terpakai lagi di permainan selanjutnya.
Setelah mendapatkan info pelengkap dari para targetku, dan menyuruhnya memasang beberapa kamera tersembunyi untuk memantau mereka, Marto memang sudah tak berguna lagi. Kalau tidak segera disingkirkan dia bisa menjadi batu sandungan lagi untukku nantinya. Sudah beberapa kali aku tahu Marto kembali mendekati wanita itu. Aku khawatir dia akan lebih mengutamakan mengejar wanita itu dibandingkan menyelesaikan rencanaku.
Meskipun masih ada kendala sebenarnya, sampai sekarang aku belum bisa mendapatkan gambaran yang jelas dari kamera yang dipasang di rumah anak Wijaya, tapi untuk memeriksanya lagi sekarang susah. Wijaya sekarang sudah menempatkan beberapa anak buahnya untuk mengawasi rumah itu 24 jam, orang seahli Marto pun pasti akan terlihat jika menyusup kesana, karena aku yakin Wijaya pasti tidak akan mengerahkan sembarang orang.
Kini tanpa Marto semua kupercayakan pada Ramon, dengan bantuan pengawasan dari Tata. Ramon tak akan tahu dia diawasi oleh Tata. Ramon memang sudah cukup lama bekerja untukku, lebih lama dibandingkan Marto. Keahliannya dalam mengatur manajemen bisnis gelapku di Jogja sudah terbukti, dan selama ini aman-aman saja tanpa kecurigaan pihak yang berwajib. Tapi hobinya kepada wanita juga agak merisaukan, meskipun aku tahu dia tidak akan berani bertindak yang aneh-aneh. Dia tahu aku seperti apa, yang tak akan ragu menyingkirkan siapapun yang ingin kusingkirkan, bahkan bila perlu, anakku sendiri pun akan kusingkirkan jika membuat masalah denganku.
Aku berikan kepada Ramon waktu dua bulan untuk mempersiapkan semuanya, lokasi pesta kami berikut peralatannya, termasuk para wanita-wanita itu. Mereka hanya pemanis saja sebenarnya, karena sasaran utamaku adalah anak Wijaya saja, yang tentunya akan benar-benar menyiksa batin Wijaya sebelum kuakhiri hidup mereka. Menantu Wijaya? Ah, sayang sekali nak, kamu menikahi gadis yang salah, mau nggak mau kamu harus ikut menyaksikan istrimu kami siksa, dan kamu juga akan menemani keluarga mertuamu di neraka sana.
Sekarang saatnya aku memainkan salah satu pionku. Pion yang mungkin cukup dekat dengan Wijaya, yang selama ini selalu loyal padanya. Dengan memaksanya menjadi anak buahku, aku akan semakin mengendalikan permainan ini.
Hallo... malem, om.”
“Malem, sayang... gimana, udah kamu jalanin rencana kita?”
Beres, om, aku udah bikin janji kok sama dia, akhir pekan ini, om.”
“Hmm bagus, tapi kamu nggak usah buru-buru ya, Ta, kamu harus hati-hati.”
Iya, om tenang aja. Tata tahu kok harus gimana, dia orang yang loyal sama Wijaya kan?”
“Iya, loyal banget, makanya pelan-pelan aja, waktu kamu satu bulan.”
Oke, om. Asal subsidi lancar, apa sih yang nggak buat om, hehe.”
“Haha... tenang aja, sayang, aman itu.”
Aku menutup teleponku, mengakhiri pembicaraanku dengan Tata. Lalu aku menghubungi seseorang lagi.
Hallo... siang, pa.”
“Disini udah malam, Bas.”
Haha... sorry, dad, di London masih siang.”
“Jadi kapan kamu selesaikan kuliahmu?”
Soon, dad, next year i’ll coming back to Indonesia.”
“Alright son, can’t wait for your coming.”

***

Chapter 10
Confusion

POV Baktiawan

Sudah seminggu ini sejak aku menyuruh Ramon untuk menyingkirkan Marto, namun aku belum juga bisa menemukan cara untuk mengatasi kamera pengintai yang rusak di rumah anak Wijaya. Lewat info dari seorang oknum polisi anak buah Ramon, aku tahu kalau rumah itu kini dijaga oleh orang-orang khusus suruhan Wijaya. Tidak mudah untuk bisa menyusup ke rumah itu sekarang, terlebih lagi orang-orang yang menjaga rumah itu tidak dikenali, dan tidak diketahui keberadaannya, hanya saja sudah dipastikan mereka ada.
Sementara itu Ramon yang selalu mengirimkan laporan kepadaku berkata dia mulai bisa mendekati seorang target. Aku tak terlalu peduli sebenarnya, karena target utamaku adalah Wijaya dan keluarganya. Tapi kerusakan kamera pengintai di rumah Ara itu sedikit menghambat rencanaku. Aku harus secepatnya mencari cara agar bisa mengganti kamera yang rusak itu.
Drrrttt.. Drrrttt..
“Ya, hallo.”
Hallo, Bakti, aku dengar kamu sudah menyingkirkan Marto?”
“Iya benar, seminggu yang lalu kami singkirkan dia.”
Kenapa?”
“Kenapa apanya? Bukankah itu termasuk dalam rencana kita?”
Iya, tapi kamu terlalu buru-buru.”
“Terlalu buru-buru? Apa maksudmu?”
Aku jelaskan nanti, 2 jam lagi jemput aku di bandara, ini aku mau ke Jakarta.”
“Oke.”
Apa maksudnya aku terlalu buru-buru menyingkirkan Marto? Sementara itu memang sudah menjadi rencana kami dari awal. Marto memang hanya aku gunakan untuk mengerjakan beberapa hal, setelah itu dia sudah tak berguna lagi. Terutama kedekatannya dengan polwan itu bisa menjadi penghalang rencanaku kalau sampai keberadaannya terendus oleh Wijaya.
Aku segera menyuruh salah seorang anak buahku untuk menjemput kolegaku itu di bandara. Entah apa yang dia maksud, tapi mungkinkah ada sesuatu yang terlewatkan olehku? Rasanya tidak, semua masih berjalan dengan lancar sesuai dengan rencana yang sudah kami buat, setiap detailnya. Dan aku yakin pesta tahun baru yang sudah kami rencanakan jauh-jauh hari itu akan sangat meriah dan menggairahkan.
Tok.. Tok.. Tok..
“Ya masuk.”
“Selamat siang, pak,” ucap Martha, sekretarisku.
“Ya, selamat siang, Martha. Ada apa?”
“Ini, pak, ada beberapa berkas yang harus ditandatangani segera. Sekaligus juga mengingatkan, pak, besok pagi ada janji ketemu dengan Mr. Andrew di Jogja.”
“Astaga, aku lupa. Bisa ditunda atau dibatalin nggak itu?”
“Yah, bapak tahu sendiri Mr. Andrew seperti apa, kalau sampai tertunda apalagi batal, ya artinya tender kita melayang, pak,” jawab Martha.
“Okelah kalau begitu, kamu hubungi pihak Mr. Andrew. Besok tetap jadi ketemu, tapi bukan aku yang kesana.”
“Baik, pak. Lalu siapa yang berangkat, pak?”
“Sakti. Dan sekalian kamu carikan tiket pesawat untuk ke Jogja hari ini.”
“Baik, pak. Kalau begitu saya permisi dulu.”
Tanpa menunggu jawaban, Martha meninggalkan ruang kerjaku. Aku sampai benar-benar lupa dengan pekerjaanku karena terlalu fokus pada urusanku dengan Wijaya. Aku memang sudah tak terlalu mengurusi bisnis ini lagi, sudah kuserahkan kepada anakku, tapi beberapa hal masih menjadi urusanku, terutama untuk membuat deal dengan klien kelas kakap seperti Mr. Andrew yang tak sembarangan bisa didekati orang lain.
Hallo, pa? Kenapa, pa?”
“Hallo, Sak, kamu sore ini juga berangkat ke Jogja, besok ada janji ketemu Mr. Andrew. Kamu wakilin papa, papa masih ada urusan lain disini.”
Loh, kok mendadak banget, pa? Nggak bisa ditunda? Pekerjaanku masih banyak ini, pa.”
“Mana bisa ditunda kalau sama Mr. Andrew. Sudahlah pokoknya hari ini kamu berangkat, kamu minta tiketnya sama Martha, tadi sudah kusuruh dia yang ngurus semuanya.”
Oke, pa.”
Fiuh, untunglah si Sakti bisa mewakiliku. Dia sudah beberapa kali mewakiliku bertemu dengan klien dan selama ini tak pernah mengecewakan. Dia juga pernah bertemu dengan Mr. Andrew sebelumnya, jadi kupikir tak ada salahnya jika menyuruh Sakti yang menemuinya besok, dan aku yakin seperti biasanya, semua urusan itu akan beres.
Selang dua jam kemudian kolegaku menghubungi, memberi tahu kalau dia sudah dalam perjalanan dari bandara, dan aku minta dia untuk langsung menuju ke salah satu apartemenku di pusat kota. Akupun segera meninggalkan kantor setelah berpesan kepada Martha untuk memberi tahu Sakti agar membereskan pekerjaan-pekerjaan di kantor sebelum dia berangkat ke Jogja, termasuk persiapan untuk bertemu Mr. Andrew besok.
Sesampainya di apartemen, ternyata kolegaku sudah berada disana. Kami saling bertukar kabar dan ngobrol ringan sebelum akhirnya membahas permasalahan Marto.
“Jadi, apa yang membuatmu bilang kalau aku terlalu buru-buru menyingkirkan Marto?” ujarku membuka pembicaraan.
“Apa kamu sudah memastikan kalau Marto benar-benar sudah mati?”
“Maksudmu? Jelas sudah, bahkan mayatnya sudah dibuang ke jurang.”
“Kalian yakin, yang kalian buang itu mayatnya? Bukan tubuhnya?”
“Apa maksudmu?” tanyaku bingung.
“Aku cuma mau mastiin aja, kalau yang kalian buang ke jurang itu benar-benar mayatnya, bukan tubuhnya yang masih bernyawa. Ingat, Marto bukan orang sembarangan. Meskipun sudah kita cekoki dengan bermacam hal, tetap saja dulu dia adalah seorang polisi elit, pasukan tangguh yang sudah terlatih dan nggak gampang buat dibunuh.”
“Kamu tenang saja, kita tahu itu, dan Ramon sudah mengurusnya dengan baik,” jawabku.
“Baiklah kalau begitu, hanya saja aku memang merasa kalau kamu terlalu gegabah, Bakti.”
“Apa alasanmu bilang seperti itu?” tanyaku tak terima.
“Yang menjadi masalah adalah kamera yang terpasang di rumah Ara, anak Wijaya.”
“Oh masalah itu... sudahlah, kita nanti cari cara untuk mengganti kamera yang rusak itu.”
“Nggak sesimpel itu. Pertama, siapa yang bakal menyusup untuk mengganti kamera itu? Sedangkan sekarang rumah itu sedang dalam pengawasan orang-orang khusus, bukan orang sembarangan. Kedua, kalau orang kita sudah bisa menyusup, dimana dan bagaimana Marto dulu memasang kamera itu akan jadi masalah selanjutnya untuk kita. Itu dua masalah yang akan kita hadapi, kalau kamera itu memang rusak, tapi yang aku khawatirkan adalah, kamera itu sebenarnya tidak rusak, Bakti.”
Aku sedikit terkejut mendengar penuturan temanku ini. Memang benar jika kamera itu rusak, bukan hal yang mudah untuk menggantinya sekarang. Aku sudah terlanjur menyuruh Marto untuk sedikit memberi kejutan pada Wijaya dengan memberikan petunjuk bahwa kemungkinan dirinya sudah berada di Jogja, sehingga kini Wijaya meningkatkan kewaspadaannya, termasuk dalam menjaga keluarganya.
Akan sangat sulit melakukan sesuatu ketika kita sedang diawasi, ditambah lagi kita tidak tahu siapa, dimana dan bagaimana kita diawasi. Tapi yang membuatku lebih terkejut lagi adalah perkataannya yang khawatir kemungkinan kamera itu tidak rusak, tapi kenapa gambar yang aku terima tak pernah bagus?
“Apa maksudmu? Kamu bilang kamera itu tidak rusak?”
“Kemungkinan besar, iya.”
“Darimana kamu bisa seyakin itu?”
“Sebenarnya aku juga belum terlalu yakin, karena tidak ada bukti. Tapi apa kamu nggak menyadari sesuatu, Bakti? Kamera yang letaknya jauh dari rumahmu, bisa mengirimkan gambar dengan kualitas yang baik, tapi kenapa justru yang di dekat rumah malah seperti itu? Gambarnya berantakan, bahkan suaranya pun juga.”
Aku termenung, benar juga yang dibilangnya. Kenapa kamera yang dekat malah tidak bisa sesuai harapan. Kualitas kamera itu dengan kamera yang dipasang di tempat lain sama. Kalau ada kesalahan pemasangan, Marto pasti menyadari itu dan segera memperbaikinya, tapi dia sendiri juga sempat bingung kenapa kamera di rumah Ara seperti itu. Dia bilang hal itu bukan karena kesalahan pemasangan, mungkin ada kerusakan di kameranya.
“Sebelum kamu pasang, apa kalian belum mencobanya?”
“Seharusnya sudah.”
“Ya memang seharusnya sudah, aku tahu Marto, dia pasti sudah memastikan apa yang akan dia kerjakan itu tidak ada masalah, dan jika ada masalah, dia akan memperbaikinya dahulu. Jadi menurutku ini bukan kesalahan dari Marto.”
“Lalu menurutmu, apa yang jadi masalah sebenarnya?” tanyaku penasaran.
“Ada sesuatu di rumah itu, Bakti, ada semacam alat pengacak sinyal yang membuat kamera yang sudah terpasang tidak bisa mengirimkan gambar dengan baik karena sinyalnya kacau.”
“Pengacak sinyal?”
“Iya, dan kalau benar, itulah yang menjadi masalah kita sekarang, masalah yang besar.”
“Masalah yang besar? Kok bisa?”
“Alat ini bukan alat sembarangan yang gampang untuk didapatkan. Alat ini biasa digunakan oleh agen-agen rahasia seperti CIA dalam menjalankan misi mereka, sehingga aksi mereka tidak akan sampai tertekam oleh CCTV. Kalau sampai di rumah itu ada alat pengacak sinyal itu, berarti seseorang sudah menyadari ada kamera pengintai disana.”
“Jadi maksud kamu, kita menghadapi seseorang, atau sesuatu yang lebih hebat, dari Wijaya?” tanyaku memastikan.
“Aku juga belum tahu pasti, karena itulah seharusnya Marto kamu biarkan hidup dulu.”
“Kenapa Marto? Apa karena keahlian menyusupnya saja? Aku bisa mengirim orang lain kesana. Ramon juga adalah teman dari suami Ara, bisa kita manfaatkan hal itu untuk masuk ke rumah mereka bukan?”
“Apa kita tahu bagaimana bentuk dan rupa alat itu? Alat itu bisa berupa apa saja di rumah itu, kawan, nggak gampang untuk menemukannya. Itulah kenapa kita perlu Marto, karena dia yang lebih tahu tentang hal ini. Ingat, dia pernah dilatih hal-hal seperti ini di luar negeri, hal yang belum ada di negara ini. Dia yang tahu dan bisa mendeteksi keberadaan alat itu.”
“Apa nggak bisa dilacak dengan detektor?”
“Apa menurutmu jika alat itu begitu gampang untuk dilacak dan dideteksi akan dipakai oleh agen elit sekelas CIA?”
“Oke, kamu benar. Kalau memang benar-benar ada alat seperti itu, yang menjadi pertanyaan adalah, darimana Wijaya bisa mendapatkannya, apa kau ada petunjuk?” tanyaku.
“Tidak, belum ada. Seperti kau tahu sendiri, Wijaya baru saja bertindak setelah tahu kalau Marto dipecat, padahal kita sudah memasang kamera pengintai jauh sebelum itu. Sepertinya, ada orang lain yang membantu mereka. Dan jika benar dia punya alat itu, itu artinya dia juga bisa tahu dan bisa melacak kemana perginya video yang selama ini terekam dari kamera itu.” jawabnya.
“Maksudmu, dia bisa melacak balik markas kita, begitu?”
“Ya,” jawabnya pasti.
Perbincangan kami seputar kamera itu masih terus berlanjut. Kami penasaran, bagaimana bisa alat semacam itu bisa ada di rumah Ara. Apakah itu artinya ada yang membantu Ara? Ataukah itu ulah si Budi, suami Ara? Marto memang pernah mengingatkanku perihal si Budi, tapi apakah memang dia sehebat itu? Aku harus lebih waspada, dan lebih menyelidiki menantu Wijaya itu.
Akupun segera menghubungi Ramon untuk mematikan seluruh instalasi yang ada di ruang kontrol di rumahku agar tidak sampai terlacak, atau semua rencanaku akan semakin berantakan. Kusuruh juga dia untuk mengamankan semua rekaman yang telah dibuat dari hasil pengintaian kami selama ini, dan memindahkannya ke tempat lain. Aku harus segera mencari tahu bagaimana bisa menantu Wijaya memperoleh alat seperti itu. Dan kalaupun ada yang membantunya, itu pasti bukan orang sembarangan. Aku harus bergerak cepat, jangan sampai rencana yang sudah aku susun ini hancur karena masalah ini.

***

3rd POV

Sakti bergegas menghubungi Martha, sekretaris ayahnya, untuk meminta tiket keberangkatannya ke Jogja. Dia agak jengkel, urusan sepenting itu harus diberitahukan dengan begitu mendadak. Dia hanya punya sedikit waktu untuk mempersiapkan semuanya, belum lagi urusan pekerjaannya sendiri yang belum selesai. Untung saja Cindy, sekretarisnya, cukup gesit dan cekatan sehingga kini semua persiapan dan pekerjaannya sudah beres.
Cindy dan Martha memang tepat menduduki posisi ini. Pekerjaan mereka sangat bagus sehingga selalu memudahkan Sakti dan ayahnya. Beberapa kali mereka menghadapi situasi yang sifatnya mendesak, tapi berkat bantuan mereka berdua semua masalah itu bisa teratasi.
Selain masalah pekerjaan, kedua wanita cantik yang sama-sama belum menikah ini juga selalu mampu membantu urusan ranjang Sakti dan ayahnya dengan baik. Mereka selalu siap kapan saja dipanggil oleh para atasannya itu. Namun mereka sangat profesional jika sudah berhadapan dengan pekerjaan. Kerja ya kerja, ngentot ya ngentot, mungkin itulah prinsip yang mereka anut.
“Hallo, Martha, kamu udah pesankan tiket untukku?”
Iya, pak, sudah. Saya email sekarang ke bapak ya?”
“Sudah kamu cek lagi? Inget lho, nama saya sama papa cuma beda satu huruf.”
Haha... tenang saja, pak, sudah saya cek lagi, tiket ini sudah atas nama bapak kok.”
“Oke, baiklah kalau begitu, sekalian hotelnya kan?”
Iya, pak.”
Sakti menutup teleponnya dan tak lama kemudian masuklah sebuah email di ponselnya. Dia melihatnya, ada dua email, tiket pesawat dan voucher hotelnya, keduanya sudah benar atas namanya sendiri, Saktiawan Mahendra.

***

“Jadi gimana? Sudah ada perkembangan info soal Marto?”
“Siap, belum ada komandan, kami sudah berusaha melacaknya tapi belum ketemu juga.”
“Ya sudah, kembali ke posisimu, terus usahakan untuk mencari Marto!”
“Siap, komandan.”
Wijaya masih penasaran dengan Marto. Seharusnya pria itu sudah ada disini, tapi sudah sejak dua minggu lebih sejak dia menerima kabar bahwa Marto dipecat dari anak buahnya ini, sama sekali tidak ada jejaknya. Bahkan orang-orang yang khusus diperintahkan untuk menjaga keluarganya juga tidak mendapatkan informasi apapun. Selain menjaga keluarganya, orang-orang itu juga ditugaskan untuk sekalian mencari Marto.
Sementara itu, oknum polisi yang memberikan info kepada Wijaya terkait Marto tadi juga heran, sudah beberapa kali dia mencoba menghubungi Marto tapi tak pernah tersambung. Bukan apa-apa, dia hanya ingin menagih hadiah yang dijanjikan oleh Marto kepadanya untuk apa yang telah dilakukannya, yaitu diberi kesempatan untuk menikmati salah satu wanita Marto.
Wijaya sebenarnya juga menyuruh orang untuk membuntuti Safitri, karena dia yakin Marto akan mencarinya. Meskipun sudah mulai menjauhi Safitri, tetap saja Wijaya tak bisa tidak mengkhawatirkan wanita itu. Beberapa kali mereka begitu dekat bahkan menyatukan kedua kelamin mereka, tentunya membuat Safitri punya tempat tersendiri di hati Wijaya.
Meski begitu, rasa cinta dan bersalah kepada istrinya, serta rasa takut akan karma yang bisa saja menimpa anaknya membuat Wijaya memutuskan untuk menghentikan perselingkuhannya dengan Safitri dan membiarkan wanita itu untuk segera mencari pria lain yang bisa mengisi kekosongan di hidupnya, karena dia memang masih muda dan tentu saja menarik.
Setelah berhari-hari Safitri diikuti oleh anak buahnya, tapi sama saja, hasilnya juga nihil. Dia mulai berpikir apakah Marto sudah melupakan kejadian dulu dan tak menyimpan dendam sehingga tak muncul lagi disini, dan apakah tindakan yang dia lakukan terlalu berlebihan. Akhirnya dia memutuskan untuk menarik beberapa orang yang ditugaskannya, dan kini hanya fokus ke keluarganya saja.
Dia membuka-buka kembali berkas yang tersimpan di ruangannya, berkas Marto. Berkas itu bukanlah berkas sembarangan. Itu adalah berkas rahasia, mengenai jati diri Marto yang seorang anggota pasukan elit. Dia melihat angka-angka yang berjejer di berkas itu. Angka-angka yang menunjukkan bagaimana prestasi Marto selama berada di tim itu. Terbaik dalam hal penyusupan, penyamaran, dan juga ahli dalam tembakan jarak jauh, siang ataupun malam.
Dia juga hebat dalam penggunaan teknologi dan rekayasa informatika, meskipun dalam kelompok itu ada yang lebih hebat darinya. Sayang semua keunggulan yang dimilikinya itu seperti hilang tak berbekas setelah tragedi yang menimpanya 10 tahun yang lalu. Orang yang begitu hebat dengan segala prestasinya itu hancur ketika orang yang dicintainya pergi dengan cara yang begitu keji.
Tak ada yang mampu membantunya bangkit dari keterpurukan, hingga akhirnya dia memilih jalan yang salah untuk melampiaskan semua kekesalannya. Membuat apa yang sudah pernah diperolehnya selama ini ikut menghilang bersamaan dengan berubahnya tabiat Marto. Sangat disayangkan memang, tapi putaran roda kehidupan memang tak pernah bisa diprediksi, kita hanya harus menjalaninya saja. Seandainya bisa memilih menjalani hidup seperti apa, semua pasti memilih apapun yang terbaik untuknya.

***

Safitri sendiri pun heran. Sudah hampir tiga minggu ini Marto tak muncul. Dia tak bisa menghubungi karena Marto memang tidak memberitahukan nomor teleponnya. Dia mulai merasa gelisah, dia mulai merindukan kehadiran Marto. Ya, sejak malam itu Marto memang beberapa kali mendatanginya, dan selalu berakhir dengan hubungan badan.
Setiap hubungan badan yang mereka lakukan tak pernah lagi Marto memperlakukannya dengan kasar. Perlakuannya sangat lembut, sama seperti suaminya dulu. Dia mulai merasakan getaran-getaran aneh jika bersama Marto, getaran yang sama dia rasakan kepada suaminya dulu. Hal inilah yang membuat Safitri selalu menerima kehadiran Marto. Bahkan pernah suatu kali, dia hanya memakai baju tidur yang sangat tipis tanpa pakaian dalam untuk menyambut Marto.
Memang selalu ada rasa was-was jika Marto datang dan mereka bercinta. Safitri khawatir suara mereka terdengar oleh mertua maupun anaknya. Tentu dia tak ingin mertuanya mengetahui hubungan gelapnya dengan Marto karena itu pasti akan menyakitkan untuk mertuanya, meskipun sudah berkali-kali mertuanya ini menyuruhnya untuk mencari pengganti Guntur, tapi belum bisa dipenuhi hingga sekarang. Tapi jujur saja Safitri butuh ini, butuh kehangatan yang ditawarkan oleh Marto, butuh sentuhan-sentuhan dari Marto. Karena itulah mereka selalu melakukannya dengan lembut dan lirih, berusaha sebisa mungkin tak menimbulkan suara.
Dan sampai kini Marto belum datang lagi. Dia rindu, rindu dengan sentuhan Marto, rindu persetubuhan mereka. Setiap malam dia berharap Marto akan datang, tapi sampai pagi dia membuka mata, Marto tak kunjung datang. Dia tak berharap sesuatu yang buruk menimpa Marto, apalagi dia sempat dengar bahwa Wijaya pun belum menemukan Marto. Dia hanya berharap Marto segera muncul menemuinya, dia sangat merindukan Marto.
Sore itu Safitri telah menyelesaikan pekerjaannya dan bersiap untuk pulang. Hari sudah menjelang maghrib, dibarengi dengan hujan rintik-rintik. Dia ingin segera pulang bertemu dengan buah hatinya. Besok dia tak bertugas, dan akhir pekan ini tak ada rencana kemana-mana, sehingga dia ingin menghabiskan waktunya di rumah saja bersama dengan anaknya, waktu bermain yang kini jarang bisa dilakoni bersama anaknya.
Dia mengemudikan mobilnya meninggalkan kantor tempatnya bekerja. Mobil itu peninggalan dari mendiang suaminya. Dia mengemudikan dengan kecepatan sedang saja karena jalanan mulai ramai meskipun hujan gerimis, maklumlah jam pulang kerja, lagipula ini akhir pekan, kaum muda mudipun pasti sudah mempunyai rencana masing-masing untuk menghabiskan malam ini.
Dia tersenyum ketika melihat sepasang muda-mudi sedang berboncengan. Si cewek memeluk erat si cowok, entah karena rasa sayangnya atau hanya berlindung dari gerimis. Dia teringat ketika masa-masa pacaran dulu. Tak banyak waktu yang bisa dia habiskan dengan seperti itu, karena mereka memang menjalani hubungan jarak jauh. Baru setelah menikah mereka bisa tinggal sekota lagi. Ah, andai saja suaminya masih hidup, pasti akan menyenangkan menghabiskan setiap akhir pekan bersama dengan buah hati mereka.
Setelah melewati padatnya kemacetan, dia membelokkan kendaraannya memasuki sebuah jalan yang cukup sepi. Sehari-hari dia memang memilih untuk melewati jalan ini tiap berangkat maupun pulang kerja, lebih sepi, tak pernah terkena macet. Dari kejauhan dia melihat ada sebuah motor dan seorang pria tampak tergeletak di jalan. Nampaknya pria itu baru saja mengalami kecelakaan.
Setelah cukup dekat dia menghentikan mobilnya dan segera turun untuk melihat kondisi pria itu. Terlihat ada genangan darah di sekitar pria itu, sedangkan tubuhnya tak bergerak. Saat hendak mengambil ponselnya untuk meminta bantuan, seseorang tiba-tiba mendekapnya dari belakang. Wajahnya dibekap dengan sebuah sapu tangan berkloroform. Dia mencoba untuk berontak, namun bau menyengat dari sapu tangan itu membuat tubuhnya lemas, dan tak lama kemudian dia kehilangan kesadaran.
Setelah Safitri pingsan, tiba-tiba saja pria yang tergeletak tadi terbangun, kemudian membantu temannya mengangkat tubuh Safitri dan memasukkan ke mobilnya sendiri. Mereka bergerak dengan cepat agar tidak ada yang melihat aksinya. Setelah itu pria yang tergeletak tadi menaiki motornya meninggalkan tempat itu, sedangkan pria yang mendekap Safitri mengambil ponsel polwan itu dan mengetik pesan ke mertuanya, mengabarkan kalau tidak bisa pulang dan akan menginap di kantor karena ada kasus yang harus diselesaikan, setelah itu dengan ponselnya sendiri dia menghubungi bossnya.
“Boss, paket sudah siap.”
Bagus, bawa ke markas. Aku segera kesana.”
Tanpa menjawab lagi pria itu mengemudikan mobil Safitri menuju ringroad utara, menuju ke sebuah perumahan elit yang terletak di sana. Sesampainya di sebuah rumah, segera pria itu memasukkan mobil Safitri ke garasi, kemudian mengangkat tubuh Safitri dan membawanya ke sebuah kamar. Pria kurus yang sebelumnya bersama Ramon, bossnya, berhasil menaklukkan kedua kakak perempuan Budi ini menatap kagum pada Safitri.
Dia memang pernah melihat Safitri sebelumnya, tepatnya di pesta pernikahan Ara dan Budi, dimana saat itu dia bekerja sambilan sebagai pegawai katering. Dia melihat Safitri saat itu dengan gaun pestanya, cukup cantik, tapi tak terlalu istimewa karena kebanyakan tamu di pesta berpenampilan seperti itu. Tapi kini, Safitri berada di depannya, terbaring tak sadarkan diri di ranjang, dengan menggunakan pakaian dinas lengkap.
Pria kurus itu mendekat dan kemudian duduk di samping tubuh Safitri. Tangannya dengan nakal langsung meraba buah dada Safitri yang tidak terlalu besar. Tangan satunya menuju selangkangan Safitri, menyentuh dan meremasnya. Dia terlihat sangat bernafsu, ingin merasakan bagaimana nikmatnya tubuh polwan cantik itu. Saat dia akan mencium bibir Safitri, tiba-tiba dia mendengar ada suara mobil yang datang, mobil Ramon.
Dia mengurungkan niat, dan segera merapikan kembali pakaian Safitri yang agak berantakan akibat ulah tangannya tadi. Setelah itu dia segera keluar dari kamar untuk menemui Ramon.
“Gimana?”
“Udah siap, boss, saya taruh di kamar.”
“Oke kalau gitu, kamu boleh pergi sekarang.”
“Oke, boss, saya tinggal dulu.”
Sepeninggal anak buahnya, Ramon segera memasuki kamar yang dimaksud. Ramon memang sudah mengincar Safitri. Dia penasaran seperti apa wanita yang sudah membuat Marto tergila-gila. Memasuki kamar, nampak seorang wanita yang masih memakai seragam dinas lengkap tergeletak di ranjang tak sadarkan diri. Ramon mendekat, mengamati tiap inchi tubuh mungil wanita itu. Dia segera menelanjangi dirinya sendiri hingga hanya tinggal memakai celana dalam saja. Setelah itu dia membelai lembut kepala Safitri, wanita yang akan menemaninya malam ini, hingga pagi nanti.

***

Sore ini Wijaya mengunjungi Ara. Dia datang sendiri tanpa diantarkan oleh Sarbini, supirnya. Sore ini Sarbini ijin untuk pulang ke rumahnya, tanpa diketahuinya ternyata Sarbini hendak bermalam di sebuah hotel bersama seorang wanita muda dan menghabiskan malam yang penuh gairah dengan wanita itu, wanita yang pernah disetubuhinya di malam pernikahan anak majikannya.
Wijaya memasuki gerbang rumah itu saat dilihatnya anak dan menantunya sedang bersama-sama merapikan taman kecil di halaman rumah mereka. Hmm, cara yang sederhana untuk mengisi akhir pekan, Kedatangannya yang cukup mengejutkan itu tentu disambut gembira oleh mereka berdua. Segera saja bergantian kedua anak muda itu mencium tangan Wijaya setelah sebelumnya membersihkan tangan mereka.
“Ayah kok sendirian aja? Nggak dianter Pak Sarbini. Ibu mana yah?” tanya sang anak.
“Sarbini ijin pulang tadi. Ibumu lagi di butik, Ra, tadi ayah kebetulan lewat daerah sini aja makanya mampir.”
“Yuk masuk dulu, yah, kita ngobrol di dalem aja. Dek, buatin minum untuk ayah ya,” ujar Budi.
“Iya, mas.”
Budi dan Wijaya pun duduk di ruang tamu sementara Ara masuk ke dapur untuk membuatkan mereka minuman. Mereka berbincang ringan, saling bertanya kabar dan kegiatan masing-masing. Sampai akhirnya Ara datang membawa tiga cangkir teh manis hangat dan beberapa toples kue. Mereka pun melanjutkan obrolan bertiga sambil sesekali menikmati camilan yang disiapkan oleh Ara.
“Wah, kita jadi ndak enak ni, yah. Malah ayah yang kesini, harusnya kita yang kesana. Ya kan, dek?” ujar Budi.
“Iya, mas, hehe. Ayah juga nggak ngabarin dulu mau kesini, kan bisa Ara siapin makan malam juga.”
“Halah, nggak... papa santai aja. Sebenarnya ada yang pengen ayah omongin sama kalian berdua, makanya ibu nggak ayah ajak,” ucap Wijaya.
Ara dan Budi pun saling berpandangan, heran. “Emang mau ngomongin soal apa, yah?” tanya Budi.
“Ini ada kaitannya sama kecelakan Pak Dede, atasan kamu, Ra,” jawab Wijaya.
“Kecelakaan Pak Dede? Emangnya kenapa, yah?” kini wajah Ara dan Budi menjadi serius.
“Ada yang janggal sama kecelakaan itu. Sepertinya, kematian Pak Dede bukan karena kecelakaan murni, tapi ada yang berniat mencelakainya.”
“Hah, ada yang berniat mencelakainya?” ujar Budi terkaget.
“Iya, Bud. Anggotaku kemarin menemukan ada kerusakan yang nggak wajar di mobil Dede. Dan juga ada barang pribadi Dede yang hilang, ponselnya.”
“Kerusakan yang nggak wajar gimana, yah?” tanya Ara.
“Ya, di bagian kanan belakang mobil itu, ada semacam goresan gitu, seperti bekas membentur atau menggesek sesuatu. Padahal jelas-jelas yang nubruk pohon itu bagian depannya. Dan setelah diperiksa, ada kemungkinan rem mobil itu nggak berfungsi.”
“Ah, masak, yah? Setahu Ara pas Pak Dede mau pergi dari villa itu mobilnya baik-baik aja,” ujar Ara.
“Makanya ayah kemari mau nanyain itu sama kamu. Apa kamu ngelihat sesuatu yang aneh sebelum Pak Dede pulang?”
“Kayaknya sih nggak ada, yah. Kemarin itu emang aku sama Pak Dede yang terakhir di villa itu, tapi Pak Dede pulang duluan soalnya aku masih ngurus biaya villa. Setelah beres urusan di villa, baru Ara turun. Nah pas lewat situ udah rame, ternyata mobil Pak Dede nabrak pohon,” jelas Ara mengingat-ingat kejadian tempo hari.
“Berapa lama kira-kira selisih kamu sama Pak Dede pulangnya, dek?” tanya Budi.
“Berapa lama ya, kira-kira 15-20 menitan lah, mas.”
“Hmm, waktu yang cukup buat ngelakuin sesuatu,” potong Wijaya.
“Maksud ayah?” tanya Budi dan Ara serempak.
“Yah, 15-20 menit itu lumayan lama untuk orang yang mengincar Pak Dede. Kalau seandainya memang benar ada yang mengincarnya, pasti bukan orang sembarangan kan? Dia pasti udah mempersiapkan semuanya. Sayang kemarin jasadnya nggak sempat diperiksa lebih mendalam karena memang dipercaya itu karena kecelakaan, tapi ayah curiga, Pak Dede kehilangan nyawanya sebelum mobil itu menabrak pohon. Dia tidak mati karena kecelakaan, tapi dibunuh!”
“HAH? Dibunuh?” Budi dan Ara tersentak.
“Ya, itu baru perkiraan ayah. Karena menurut ayah luka-luka di Pak Dede itu nggak wajar. Kondisi jalan memang menurun, tapi bukan turunan yang terlalu terjal untuk menyebabkan kecelakaan seperti itu. Kerusakan akibat tabrakan itu juga nggak terlalu parah sebenarnya, seharusnya nggak sampai bikin luka separah itu di kepala Pak Dede. Cipratan darahnya sampai kemara-mana, terlalu janggal untuk benturan yang seperti itu.”
Budi dan Ara terdiam, mencoba untuk merekonstruksi penjelasan Wijaya dengan imajinasi mereka. Yah, sepertinya memang cukup aneh, dibutuhkan benturan yang sangat keras, atau dengan benda keras, atau tumbukan antara mobil dan pohon yang sangat keras untuk menghasilkan luka separah itu. Tapi bagi Ara sendiri yang melihat bagaimana kondisi mobil dan kondisi jasad Pak Dede, sepertinya penjelasan dari ayahnya tadi cukup masuk akal, bahwa Pak Dede bukan meninggal karena kecelakaan itu, tapi karena sebab lain.
“Apalagi ponselnya juga nggak ada di situ,” sambung Wijaya.
“Kalau ponsel kan mungkin diambil sama orang-orang yang kemarin pada ngumpul disitu, yah?” tanya Ara.
“Bisa jadi, tapi bisa juga nggak, Ra. Anggotaku udah coba menyelidiki, dan dia memastikan nggak ada seorang pun dari mereka yang ngambil ponsel itu, bahkan mereka nggak menyadari karena mereka lebih terfokus mengeluarkan tubuh Pak Dede dari mobil itu sebelum terjadi apa-apa, meskipun kondisinya memang sudah tidak bernyawa.”
“Kalau warga disitu juga nggak sadar ada barang yang hilang, trus siapa yang menyadari hilangnya ponsel Pak Dede, yah?” tanya Budi.
“Dari istrinya. Begitu dikabari tentang kecelakaan suaminya, istrinya langsung berangkat kesini. Dan setibanya dia disini dia justru menanyakan ponsel suaminya. Katanya, sebelum kami kabari dia sudah lebih dulu menerima kabar kalau suaminya tewas, dari nomor suaminya sendiri. Waktu melihat jam dikirimnya pesan itu, sekitar 15 menit sebelum Ara menghubungi ayah.”
“Hah, kok bisa gitu, yah?” tanya Ara.
“Iya, 15 menit sebelum kamu telepon ayah, seseorang, dengan ponsel Pak Dede mengabari istrinya lewat sms, kalau Pak Dede sudah tewas, dan setelahnya ponsel itu sudah nggak aktif lagi, sampai sekarang. Dari situ ayah bisa simpulkan, Pak Dede sudah tewas sebelum mobilnya menabrak pohon itu, Ra. Setahu kamu, apa Pak Dede punya musuh di kantor?”
“Nggak tahu juga, yah, kalau di kantor dia orangnya baik sih, nggak kelihatan kayak orang yang punya banyak musuh,” jawab Ara.
“Atau mungkin ada orang-orang yang mencurigakan? Misalnya ngincar jabatannya Pak Dede gitu?” tanya Wijaya lagi.
“Waduh, nggak tahu kalau ke arah sana, yah. Sepengetahuan Ara sih nggak ada yang kelihatan berambisi buat ngerebut posisinya Pak Dede. Sekarang aja posisi itu kosong, sama sekali nggak ada yang kelihatan buru-buru pengen nempatin, yah,” jawab Ara.
“Jadi, yah sebut saja Pak Dede dibunuh, ponsel itu hanya digunakan oleh si pelaku untuk mengabari istrinya saja, atau mungkin ada sesuatu di ponsel itu, yah?” tanya Budi.
“Maksudmu, Bud?” tanya Wijaya.
“Rasanya kok aneh aja, yah, ngapain juga si pelaku ngasih tahu istrinya Pak Dede, pakai ponselnya Pak Dede lagi. Mungkin nggak kalau gini, yah, si pelaku sengaja ngasih tahu istri Pak Dede pake ponsel Pak Dede, kemudian membuat sebuah kondisi seolah-olah ponsel itu dibuang supaya nggak bisa melacak sidik jari atau apapun dari ponsel itu,” terang Budi.
“Hmm... iya, benar juga. Dengan adanya laporan dari istri Pak Dede tentang sms itu, dan setelah kita cari ternyata ponselnya nggak ada, sehingga membuat kita berpikir bahwa ponsel itu dibuang untuk menghilangkan jejak. Gitu maksud kamu, Bud?” tanya Wijaya
“Iya, yah, seolah-olah ponsel itu sengaja dibuang untuk menghilangkan jejak, padahal sebenarnya ponsel itu masih ada di tangan si pelaku. Mungkin, ada sesuatu di ponsel itu yang membuat pelaku tertarik untuk menyimpannya,” jawab Budi.
“Kamu benar, Bud, mungkin memang ada sesuatu di dalam ponsel itu, yang bukan hanya menarik minat pelaku untuk menyimpannya, tapi juga membunuh si pemilik ponsel. Tapi sayangnya kita sudah nggak bisa melacaknya lagi. Apalagi dari pihak keluarga Pak Dede, nggak mau urusan ini diperpanjang.”
“Hmm, susah juga ya kalau gitu.”
Mereka bertiga terdiam, larut dalam lamunan dan asumsi masing-masing. Wijaya sangat yakin bahwa kematian Dede adalah suatu kesengajaan, sebuah tindak pembunuhan, tapi dia belum tahu darimana harus mengungkap kasus ini, sementara saat ini hal itu sudah ditetapkan sebagai sebuah kecelakaan tunggal. Lagipula tak ada permintaan dari pihak manapun termasuk pihak keluarga untuk melakukan penyelidikan tentang kecelakaan ini.
Kalau saja dia dan anggotanya bisa menyadari hal ini lebih cepat, mungkin dia bisa mendapatkan hasil visum yang lebih mendalam lagi. Sayangnya semua orang sudah terlanjur percaya kalau kejadian itu murni kecelakaan, yang tak perlu diselidiki lebih lanjut apa penyebabnya.
Dia juga memikirkan kemungkinan yang disampaikan Budi tadi. Sebelumnya dia memang merasa janggal dengan menghilangnya ponsel Dede, tapi setelah mendengat analisa dari Budi, dia semakin yakin kalau memang kematian Dede ini adalah sebuah kesengajaan, dia memang diincar untuk sesuatu yang belum diketahui apa itu.
Sementara Ara juga sedang larut dalam lamunannya. Dia sebenarnya tahu kalau ponsel Pak Dede hilang dari Nadya, tapi kalau dia sampaikan ini kepada ayahnya di depan suaminya, mereka pasti bertanya-tanya darimana mereka bisa tahu kalau ponselnya hilang, dan kenapa mereka mengkhawatirkannya. Kalau sampai begitu mau tak mau pada akhirnya dia harus mengungkap apa yang sebenarnya sudah terjadi.
Tunggu dulu, benar juga. Bagaimana mereka bisa tahu kalau ponselnya hilang, maksudnya, bagaimana Nadya bisa menyadari kalau ponselnya Pak Dede hilang? Sementara para polisi saja juga tidak menyadari kalau ada barang pribadi Pak Dede yang hilang sebelum adanya laporan dari Istri Pak Dede soal sms itu, tapi Nadya?
Apakah karena kekhawatirannya terhadap video-video di dalam ponsel itu membuat dia bertanya pada polisi? Tidak mungkin, karena waktu Ara menawarkan untuk minta bantuan ke polisi dia justru menolaknya dengan berbagai macam alasan. Lalu dari mana Nadya tahu hal ini?
“Ya sudahlah kalau begitu, biar anggota ayah saja yang memecahkan kasus ini. Maaf malah bikin kalian jadi kepikiran ya.”
“Iya, yah. Nggak papa, moga-moga cepet ada titik terang, dan kasus ini bisa segera dipecahkan. Dan maaf ya, yah, mungkin kami nggak bisa banyak bantu,” ucap Budi.
“Nggak papa. Ya udah, ayah pamit dulu ya, mau jemput ibu kalian dulu.”
“Iya, yah,” jawab Budi dan Ara serentak, sambil mencium tangan ayah mereka.

***

Malam harinya

Malam sudah larut ketika seorang pria terbangun dari tidurnya. Dia memandang ke samping, terlihat seorang wanita cantik masih terlelap, masih dalam keadaan tanpa busana, menampakkan tubuh indah yang pastinya akan membuat semua pria tak tahan untuk menjamah. Tubuhnya yang putih bersih dengan dua gundukan indah di dada, dan pantatnya yang bulat dan padat.
Masih terlihat bekas sperma pria itu di pangkal paha sang wanita. Mereka memang baru saja bercinta dengan beberapa jam yang lalu. Pria itu tersenyum membayangkan persetubuhannya tadi, betapa puasnya dia mereguk kenikmatan dengan wanita itu. Jauh lebih nikmat daripada wanita-wanita yang dulu pernah dia tiduri.
Pria itu bangkit menuju dapur, dia haus sekali. Setelah mengambil minum dia tak langsung kembali ke kamar, tapi mencari sesuatu di tas kerjanya yang masih tergeletak di ruang keluarga. Dia meraih sebuah ponsel, kemudian menyalakannya. Setelah beberapa saat mengutak atik ponsel itu, dia kemudian membuka sebuah file, yang berisikan foto-foto dan beberapa video.
Foto wanita telanjang, foto persetubuhan si pemilik ponsel dengan beberapa orang wanita. Dia buka satu persatu sambil tersenyum dan menggelengkan kepala. Kemudian dia membuka satu-persatu video yang ada di file itu. Beberapa dari video itu diberi judul yang diambil dari nama-nama wanita yang ada di dalam video itu sendiri, ada nama Nadya, Lia, Wulan dan Tika, sedangkan beberapa video lagi tidak ada judulnya, namun menampilkan adegan persetubuhan si pemilik ponsel dengan wanita-wanita itu, dan beberapa orang wanita lainnya.
“Lucky bastard. Bisa-bisanya si Dede ngentotin cewek-cewek ini, penjahat kelamin juga ternyata. Pasti target selanjutnya si Ara, tapi sayangnya dia udah mati duluan,” gumam pria itu.
Dia menonton semua video yang ada di ponsel itu sampai selesai, hingga tak terasa kemaluannya yang tadi lemas kini bangkit lagi. Dia segera mematikan lagi ponsel itu dan kembali menyimpan di tas kerjanya. Kemudian dia kembali ke kamar untuk menuntaskan nafsunya yang sudah bangkit lagi bersama wanita yang masih terpekur di ranjang. Besok hari minggu, tak ada salahnya malam ini dia habiskan bersama wanita itu untuk mereguk kenikmatan sepuas-puasnya.

***

Beberapa hari sebelumnya

Nampak seorang anak laki-laki sedang terengah-engah berlari menuju rumahnya. Rumah reyot yang hanya dia tinggali bersama ibunya. Sang ibu yang memang menunggu anaknya yang sedang mencari kayu bakar itu terkejut, melihat anaknya berlari dengan kencang menuju arahnya.
“Mak, mak’e,” panggil sang anak.
Ono opo le kok mlayu-mlayu? (Ada apa nak kok lari-lari?)” jawab sang ibu.
Kae, mak. Neng kono kae, mak (Itu, mak. Di sana itu, mak) jawab si anak sambil menunjuk ke arah jurang.
Ono opo neng kono? (Ada apa disana?)”
Ono... ono mayit, mak (Ada... ada mayat, mak)”
Hah, mayit? Sing bener kowe, le? (Hah, mayat? Yang benar kamu, nak?)”
“Iyo, mak, bener.”
Yo wes, ayo rono, didelok sik. (Ya udah, ayo kesana, dilihat dulu)”
Emoh, mak, wedi aku. Adoh pisan. (Nggak mau, mak, takut aku. Jauh lagi.)”
Wes tho ayo, karo emak. (Udah deh ayo, sama emak.)”
Mereka berdua kemudian berjalan menuju ke tempat yang dimaksud anak laki-laki tadi. Memang agak jauh dari rumah mereka, terlebih harus melewati jalan setapak yang naik turun. Namun ketika sampai di tempat yang dimaksud, si anak tadi malah kebingungan. Sosok mayat yang dilihatnya beberapa saat yang lalu, sudah menghilang, tak ada lagi di tempatnya.
Endi, le? Jaremu ono mayit? (Mana, nak? Katamu ada mayat?)” tanya sang ibu.
Ndek mau neng kono iku lho, mak, kok saiki ra ono yo? (Tadi disitu itu, mak, kok sekarang nggak ada ya?)”
Halah, kowe ki ono-ono wae, senengane kok ngapusi emak. (Halah kamu ini ada-ada aja, sukanya kok ngebohongi emak.)” ujar sang ibu jengkel.
Lho tenan, mak. Aku ra ngapusi, mau ki ono. (Lho bener, mak. Aku nggak bohong, tadi tu ada.)”
Wes wes, ayo mulih wae. (Udah udah, ayo pulang aja.)” ajak sang ibu dengan perasaan jengkel karena merasa dibohongi anaknya.
Sementara si anak laki-laki itu kebingungan, dia tadi benar-benar melihat ada mayat seorang pria tergeletak di dekat batuan besar di dasar jurang. Tapi kenapa kini mayat itu tidak ada lagi. Tidak mungkin mayat itu bisa berpindah sendiri. Kalaupun seandainya itu bukan mayat, tapi seseorang yang ternyata belum mati, tak mungkin orang itu bisa menghilang secepat ini, karena anak laki-laki itu melihat kedua kaki pria itu patah di bagian lututnya.
Apa mungkin yang dilihatnya tadi hantu? Tapi hantu di siang bolong, yang benar saja? Lalu bagaimana bisa sosok tubuh tadi bisa hilang dari tempat itu sedemikian cepat? Bulu kuduk anak itupun berdiri, dia segera berlari menyusul ibunya yang telah lebih dulu meninggalkan tempat ini.

Author : Alan Smith

2 komentar:

  1. mantaaaaab ni ceritanya, setiap orang mempunyai rahasia m ambisi masing2, sayang ngentotnya ga di crt kan secara detail malahan.hampir tak ada

    BalasHapus
  2. tampaknya Marwoto bangkit lg dengan dendam pribadi ni?
    makin menarik ni cerita.

    4jempol gan, terus berkaryan gan

    BalasHapus