Jumat, 26 Agustus 2016

Ve, Pure Idol Become Slut

Mungkin diantara kalian sudah banyak yang kenal denganku. Namaku Jessica Veranda, biasa di panggil Ve, salah satu member JKT48. Aku bahagia dan merasa bangga dapat bergabung dengan idol group ini. Yang mana aku bisa menyalurkan hobi sekaligus bakat modelling dan dance yang kumiliki.
Tapi masalahnya, salah satu aturan penting yang mesti kami patuhi yaitu tidak boleh berpacaran. Bahkan berfoto secara pribadi dengan seorang pria juga tidak boleh. Takutnya akan melukai hati para fans, bahkan bisa menuai kecaman dari penggemar-penggemar garis keras, itu yang mereka bilang.

Tapi yang namanya anak muda, tentunya aku merasa tertekan bila hal seperti ini dilarang-larang. Mesti sebenarnya gak dibolehkan, tapi aku tetap juga menjalin hubungan dengan seorang cowok. Sebenarnya dia belum resmi jadi pacarku, hanya saja hubungan kami sangat dekat melebihi teman. Dia adalah tetanggaku, temanku dari kecil. Wajahnya juga sebenarnya tidak ganteng, yang penting orangnya baik dan perhatian, mesti sedikit mesum sih. Kalau kami ingin berduaan, tentunya tidak bisa di sembarang tempat, nanti bisa masalah bagiku karena dikirain sedang berpacaran. Makanya harus mencari waktu dan tempat yang kira-kira aman. Biasanya kalau gak di rumahku ya di rumahnya.
Malam ini rencananya dia mau main ke rumahku. Aku sebenarnya yang mengajaknya, soalnya suntuk sendirian di rumah. Papa Mama lagi ke luar kota, mending ditemani sama dia, hehe.
“Hai Ve, apa kabar?” sapanya saat aku membukakan pintu
“Baik. Yuk masuk, Rob,” ajakku mengajak masuk Robi.
Kami pun masuk ke dalam. Dia langsung menuju ke ruang tengah dan duduk dengan santainya di sofa depan tv. Dia memang gak perlu berbasa-basi lagi kalau berkunjung ke rumahku karena sudah dianggap rumah sendiri. Akupun bila ke rumahnya juga demikian, bahkan waktu itu pernah numpang mandi di rumahnya, hihihi.
“Om-Tante pergi berapa lama, Ve?” tanyanya yang kini sudah di dapur sambil mencari minuman di kulkas.
“Semalam doang”
“Ohh… sebentar ternyata,”
“Kenapa emang?”
“Kan jadinya cuma bisa sebentar beduaan sama lo,”
“Rese!! Eh, lo jadi nginap di sini?” tanyaku.
“Iya, kenapa? Udah gak sabar yah? Hehe,” godanya.
“Apaan sih?! Gue mau nyiapin kasur dan selimut. Lo tidurnya di luar aja yah…”
“Yah, kirain tidur bareng,”
“Maunya!!”
Kami lalu beranjak ke kamarku yang ada di lantai atas. Dia cowok pertama yang pernah masuk ke sana. Dia juga dengan santainya langsung berbaring di atas tempat tidurku, gak masalah sih, tapi…
“Ini apaan, Ve?” katanya mengangkat selembar kain di hadapanku. Oh no!! itu celana dalamku!! Dengan secepat kilat kurampas celana dalam itu dari tangannya. Kenapa bisa ada di sana sih? bikin malu aja.
“Jorok amat, haha…”
“Apaan!! Gue cuma lupa naruh!!” jawabku membela diri. Walau sebenarnya malu celana dalamku terlihat olehnya, bahkan disentuhnya.
Kami pun mengisi waktu dengan menonton dvd. Selagi nonton, aku dapat menangkap matanya sesekali melirik ke arahku. Malam itu aku memang hanya memakai tanktop u-can-see hitam polos dan celana pendek putih. Memperlihatkan bagian-bagian tubuh yang biasanya menjadi sasaran mata nakal para lelaki seperti paha dan belahan dada. Aku awalnya cuek saja pura-pura tidak tahu, tapi lama-lama ya risih juga. Aku harap dia tidak macam-macam. Soalnya di rumah ini cuma ada kita berdua, mana di luar hujan deras lagi.
“Liat apaan? Jangan nakal yah matanya… gue sumpahin juling ntar,” ujarku akhirnya.
Dia yang tertangkap basah olehku jadi salah tingkah begitu, lucu juga ngeliatnya. Tapi walau sudah dibilangin dia tetap juga sesekali cari kesempatan melirik ke bagian-bagian itu. Kadang malah pura-pura gak sengaja menyentuhku. Dasar.
“Duh, seandainya lo jadi cewek gue…” gerutunya. Dia memang pernah mencoba menembakku, namun kutolak karena alasan yang kukatakan sebelumnya, para member tidak boleh pacaran. Jadilah kita tetap berhubungan dengan status seperti ini.
“Kenapa emang? Mau ngapain lo kalau udah jadi pacar gue?”
“Ya itu… itu tuh…” katanya yang mulai lagi berekpresi mesum.
“Apa? ML??” tebakku.
“Bukan gue yang bilang yah… hahaha,”
“Rese lo!!” kataku sambil ikut tertawa kemudian. Walaupun dia agak mesum, yang penting dia teman yang baik. Memang sih obrolan kami kadang-kadang menyerepet ke arah selangkangan. Walau kadang risih juga saat membahas hal seperti itu, namun aku tetap santai menanggapinya.
“Lo kalau gak tahan, sana ke kamar mandi!! Gue gak mau ntar malam lo tiba-tiba nyerang gue,” suruhku terang-terangan padanya. Kalau dia macam-macam pas aku tidur kan gawat juga.
“Masa sendiri sih, temanin dong…”
“Hah? Enak aja… sana!!”
Dia akhirnya pergi juga ke kamar mandi. Sedangkan aku siap-siap untuk tidur karena sudah mulai ngantuk. Kumatikan DVD yang sebenarnya belum habis kami tonton, ceritanya terlalu horror sih, gak kuat. Robi masuk kembali 5 menit kemudian, aku tidak tahu juga apa dia benar-benar sudah menuntaskan ‘hasratnya’ apa belum, moga-moga udah deh.
“Rob, lo mau tidur di kamar gue gak?”
“Hah? Bukannya lo bilang kalau gue tidur di luar tadi?” tanyanya balik.
“Habisnya lo sih nyewanya film horror gitu…”
“Hehe…” dianya malah cengengesan.
“Lo mau gak nih?” tanyaku lagi.
“Siapa juga yang gak mau,”
“Ya udah, lo ambil kasur dan selimut yang di luar tadi gih…” suruhku padanya.
“Gue gak tidur di ranjang lo?”
“Enggak lah… enak aja tidur bareng,”
“Hehe, oke deh…” Dia pun keluar lagi untuk mengambil kasur dan selimut tadi, lalu kembali masuk tidak lama kemudian.
“Lo kalau tidur gak ngorok kan?” tanyaku iseng saat sudah mulai tiduran.
“Gak lah,”
“Gak suka ngigau kan?” tanyaku lagi.
“Emang lo,”
“Haha, terus gak suka mimpi basah kan?” tanyaku menggodanya.
“Gak tahu tuh, mungkin aja, hehe..”
“Kok gitu sih?” tanyaku heran.
“Pakaian lo sih bikin deg-degan,”
“Dasar, baru juga ini, apalagi kalau gue bugil. Pasti langsung muncrat, iya kan?” ups, kok jadi ngomong vulgar gini sih akunya? Gara-gara Robi nih lama-lama aku jadi ikut-ikutan ngomong seperti ini.
“Kalau gak dicoba mana tahu… hehe,”
“Rese banget!! Masih aja nafsu!! Udah onani tadi kan?” tanyaku.
“Belum, hehe…”
“Hah? kok belum sih? Udah gue suruh padahal tadi,”
“Malas aja,” jawabnya santai.
Ya ampun ini anak, padahal aku beneran takut kalau dia hilang kendali berbuat macam-macam. Apa aku suruh dia onani lagi? Atau kubantu dia onani aja kali yah? hehe… Tapi kalau dia onani pun belum tentu dia gak berbuat macam-macam lagi. Tapi belum tentu juga sih dia nekat macam-macam sama aku. Kalau kusuruh dia tidur di luar, aku malah takut tidur sendiri. Duh, jadi bingung…
“Lo onani deh… please,” suruhku akhirnya. Tapi dia cuek saja pura-pura tidak dengar. Tidak ada cara lain!!
“Gue bantuin!! Onani di depan gue, sambil liatin gue. Mau gak?” sambungku lagi, barulah dia menoleh ke arahku.
“Beneran nih, Ve? Wah asik dong…”
“Iya, cepetan!!” sebenarnya aku gak mau, mudah-mudahan saja kalau dia kubantu onani nafsunya jadi turun dan gak ada pikiran mesum lagi sepanjang malam.
“Di sini? Di kamar lo?” tanyanya lagi.
“Iya… di atas ranjang gue malah. Cepetan!!” Duh, kesannya kok jadi aku yang binal ya? Biarin deh.
“Iya-iya,” Dia lalu ikut naik ke atas ranjangku. “Gue buka nih… lo yakin?” tanyanya sekali lagi masih tampak ragu saja.
“Iya…. Robi…!!”
Merasa benar-benar yakin, barulah dia berdiri di atas ranjang dan mulai membuka celana beserta celana dalamnya. Ternyata penisnya sudah tegang maksimal. Sudah lama aku tidak melihatnya. Dulu waktu kami kecil, memang pernah sekali aku melihat burungnya itu sewaktu menjenguknya selesai disunat. Tapi sekarang ukurannya jauh lebih besar, banyak bulunya lagi.
“Gede gak, Ve? Hehe,”
“Kecil gitu…” jawabku berbohong, padahal lumayan gede juga. Dia lalu mulai mengocok penisnya di depanku. Aku melongo melihat aksinya, perasaanku campur aduk antara malu, horni, dan takjub. Kulihat matanya jelalatan menelusuri bagian-bagian tubuhku, khususnya paha dan dadaku.
“Cepetan dikit, gue udah ngantuk nih,”
“Makanya bantuin, hehe,”
“Bantuin gimana? Kocokin? Gak lah ya…”
“Yah, pengen padahal,”
“Hmm… Gue kasih liat dada gue aja ya? Gimana?” tawarku kemudian.
“M-mau banget tuh,” jawabnya semangat, siapa juga sih yang gak mau, hehe.
“Tapi cepat dikeluarin… gue benar-benar udah ngantuk nih,”
“Iya-iya,”
Aku lalu membuka tanktopku perlahan-lahan. Mataku melirik nakal ke arahnya saat melakukannya. Berharap dia muncrat duluan sebelum aku benar-benar selesai membukanya, tapi ternyata tidak terjadi, ya sudah. Lalu kubuka bra ku, sekarang buah dadaku terpampang jelas dihadapannya tanpa ada yang menghalangi. Kini di dalam kamar, ada seorang gadis muda yang sedang bertelanjang dada dan seorang pria yang sedang mengocok penisnya di depan gadis itu. Betul-betul suasana yang mesum!!
Kocokan tangannya kulihat semakin cepat saja pada penisnya, nafasnya tampak memburu. Lagian siapa juga yang tidak tahan melihat pemandangan begini. Beruntunglah si Robi ini, hihihi.
“Ve, gue mau keluar nih.” erangnya setelah beberapa lama.
“Apanya nih yang mau keluar?” godaku.
“Peju gue, keluarin dimana nih?”
“Di sini aja kalau lo mau.” kataku menyerahkan tanktopku tadi padanya.
“Ntar kotor gak apa nih?”
“Kali ini doang!! Gue bolehin deh nih kalau lo mau pejuin baju gue,”
“Hehe, makasih Ve.” katanya tampak kesenangan.
Dia lalu berlutut di atas ranjang. Tanktopku lalu dibentangkannya di atas ranjang tepat di depan penisnya, bersiap sebagai penampung spermanya bila dia muncrat nanti. Semakin lama kocokannya semakin cepat, sesekali dia juga memanggil namaku. Keenakan banget nih dia kayanya. Aku sendiri di sini hanya duduk terpaku, bersiap menyaksikan adegan bagaimana tanktopku akan disemprotin peju!!
“Crooot… crooot” spermanya muncrat-muncrat dengan derasnya tepat di hadapanku. Karena semprotannya cukup kencang, semprotan pertamanya malah mengenai kakiku. Barulah setelah itu tumpah berceceran di atas tanktopku.
“Banyak banget sih, Rob? Enak yah?” tanyaku melihat betapa banyaknya pejunya melumuri tanktop yang baru saja kukenakan tadi. Kontras banget warna pejunya yang putih kental dan banyak itu dengan warna tanktopku yang hitam.
“Iya, enak banget.”
“Dasar, kena kaki gue nih,” kataku mengambil tanktop tadi dan mengelap ceceran pejunya yang ada di kakiku.
“Udah kan? Sekarang gue mau tidur… tolong taroh di sana dong,” pintaku menyerahkan tanktop itu padanya sambil menunjuk ke arah keranjang tempat pakaian kotorku.
Tanpa berkata-kata dia pun turun dari ranjang, mengambil tanktop itu, lalu menaruhnya di keranjang. Aku yang memang sudah ngantuk kini tiduran lagi di tempat tidur. Ini juga baru kali pertama kulakukan, tidur telanjang dada, apalagi ada pria yang ikut tidur di kamarku.
“Lo gak pakai baju lagi, Ve?” tanyanya yang sepertinya heran melihat aku yang main tidur saja.
“Gak ah, malas.”
“Ntar gue nafsu lagi lo, hehe,”
“Apaan sih? mesum banget!! Coba aja kalau berani!!”
Aku lalu menutup seluruh tubuhku dengan selimut hingga ke kepala. Biar dia gak nafsu-nafsu amat kalau ngelihat aku telanjang dada gini. Tapi memang perbuatan kami barusan sungguh mesum, aku tidak pernah melakukan hal seperti itu sebelumnya. Apalagi melihat cowok ejakulasi secara langsung begitu, bahkan memperbolehkannya beronani di hadapanku sambil sengaja memperlihatkan buah dadaku. Kena ceceran pejunya pula. Masalahnya sekarang, aku jadi ikut-ikutan horni.
“Ve?” panggilnya.
“Apa?”
“Lo mau gue bantuin juga?”
“Bantuin apa?” tanyaku pura-pura tidak tahu, padahal aku tahu maksudnya itu gantian bikin aku merasa enak.
“Itu… kalau lo mau, ayo sini… hehe,”
“Hmmm, gak ah.. gue ngantuk.” sebenarnya aku pengen aja, tapi aku terlalu gengsi bilang iya. Dia sepertinya tidak terlalu ngotot juga ingin bantuin, buktinya kini dia malah tiduran lagi di kasur yang sudah dibentang di bawah. Aku jadi bete sendiri dibuatnya, padahal kalau dia ngotot sedikit lagi, aku mau aja dimesumin dikit. Sebal ah, kuputuskan untuk tidur saja.

***

Pagi esoknya aku tersentak dari tidurku, aku kesiangan!! Ku lihat dibawah si Robi sudah tidak ada di sana, mungkin sedang nonton tv di luar. Aku harap si Robi tidak macam-macam selama aku tidur tadi, kulihat kondisi tubuhku pada cermin untuk memastikan kalau tidak ada tanda-tanda bekas perbuatan mesum. Untunglah memang tidak ada. Segera kuambil baju kaos di dalam lemari, kukenakan dan keluar dari kamar. Ternyata dia memang sedang nonton tv.
“Udah bangun dari tadi, Rob?” tanyaku, tampaknya dia terkejut mendengar kedatanganku.
“Eh, gak juga kok,”
“Ohh, kamu belum makan kan? Mau gue bikinin?”
“Mau dong, pasti enak nih…”
“Ya ya, tunggu bentar yah…” Aku pun menuju ke dapur membuatkan sarapan untuk kami berdua. Kemudian makan berdua. Kalau dilihat-lihat kita memang sudah seperti orang yang sudah berpacaran, hanya statusnya saja yang belum resmi.
“Ve, gue kepengen lagi nih…” katanya tiba-tiba saat selesai makan. Gila ni anak, habis makan tiba-tiba minta hal begitu.
“P-pengen apaan? Jangan macam-macam deh, cukup sekali malam tadi aja!!”
“Yah, Ve… sekali lagi dong, gue jadi ketagihan nih. Salah lo sih pakai baju gituan pagi-pagi gini. Gue kan nafsu lagi jadinya” katanya mengomentari pakaianku. Mungkin karena dia tahu aku tidak makai bra makanya dia jadi nafsu.
“Terserah gue dong mau makai baju gimana, pakai baju kek, telanjang kek, rumah-rumah gue.” ujarku cuek.
“Terus gue gimana nih?” tanyanya manja seperti meminta pertanggungjawaban.
“Sana ke kamar mandi, gak ada lagi kayak semalam.” kataku tegas.
Namun dia terus saja berusaha merayuku, membujukku agar mau dijadikan objek onaninya lagi seperti tadi malam. Terus-terusan dibujuk gitu akhirnya aku luluh juga. Yah.. mudah-mudahan dengan ini dia gak berisik lagi.
“Ya udah deh, mau dimana? Di kamar gue lagi? Pengen ngecrot di atas tempat tidur gue lagi?”
“Hmm, di luar yuk. Sambil menikmati udara pagi, hehe.”
“Gila!! Kalau sampai kelihatan sama tetangga gimana coba? Gak mau ah.”
“Gak bakalan, yuk!!” ajaknya menarik tanganku. Aku walaupun berat hati tapi nurut juga.
Kami pun akhirnya berpindah ke teras depan. Memang sih keadaan di komplek rumahku ini sepi kalau pagi-pagi gini. Pagar rumahku juga cukup menutupi pemandangan di dalam. Tapi tetap saja, kalau aku ketahuan sedang meng-onanikan cowok di depan teras gini kan bisa gawat. Bisa dilaporin ke orangtua kami ntar. Apalagi kalau ketahuan sama fansku, bisa hancur karirku sebagai idol.
“Gue cuma liatin doang kan?” tanyaku.
“Iya kok, kalau mau bantu kocokin juga boleh, hehe.” jawabnya cengengesan, aku hanya tersenyum kecut. Dia lalu mempeloroti celananya, kembali penisnya itu mencuat di hadapanku dengan mantapnya seakan menantangku.
“Ayo dong, dibuka bajunya, Ve…”
“Iya-iya, gak sabaran amat.” Aku pun membuka bajuku. Kulempar kaosku itu padanya sambil tersenyum. Seolah mempersilahkannya kalau dia mau lagi ngepejuin bajuku. Kini aku telanjang dada lagi di hadapan cowok ini. Bedanya kali ini di teras depan rumahku. Yang mana bisa saja sewaktu-waktu ada orang yang melihat kami. Mudah-mudahan gak terjadi yang aneh-aneh deh.
Dia duduk dengan santainya di kursi, sedangkan aku berdiri tepat di depannya sambil menatap aksi pornonya mengocok penisnya itu. Hmm, kalau kubantu kocokin gimana ya? pikirku yang kini jadi ikutan mesum. Penasaran juga kadang gimana rasanya menggenggam benda itu.
“Hehe, gue baru kali ini buka celana di luar rumah,” ujarnya sambil terus mengocok penisnya di hadapanku.
“Lo kira gue juga gak pertama kali telanjang dada gini di luar rumah. Hmm, tapi asik juga yah? Rasanya gimanaaaa gitu, hihihi,”
“Tuh kan, lo suka, hehe,”
“Rese!!” Aku gak mau ngaku kalau emang suka, bahkan sebenarnya aku juga sudah horni karenanya.
“Ve?”
“Hmm? Apa?”
“Buka celananya juga dong…”
“Hah? Tapi kan… kalau ntar ada orang liat gimana?”
“Gak bakalan kok,”
“Ya udah…” entah kenapa aku menyetujuinya. Mungkin karena aku juga merasakan suatu sensasi yang baru kali ini kurasakan. Membayangkan kalau aku bertelanjang bulat di teras rumah dengan seorang cowok malah membuatku jadi semakin horni. Aku lalu mulai membuka celana pendekku ini. Kubuka kancingnya, lalu dengan perlahan-lahan kuturunkan hingga ke lutut. Mata Robi kulihat tidak mau lepas dari pemandangan yang ada di depannya ini.
“Udah nih,” kataku saat akhirnya celana pendek itu lepas seluruhnya, kulempar celana pendekku ini padanya kalau-kalau dia ntar mau pejuin celanaku juga, hihihi.
“Celana dalamnya juga dong…” pintanya belum puas juga. Hmm, apa aku juga harus menanggalkan celana dalamku di depannya yah? Apa itu tidak terlalu jauh? Tapi aku juga penasaran sih gimana rasanya merealisasikan khayalanku tadi. Akhirnya kuiyakan juga permintaanya itu.
“Tapi jangan nafsu yah,” kataku, dianya tidak menjawab. Aku pun meletakkan ujung-ujung telunjukku di kedua sisi tepi celana dalamku ini. Menariknya perlahan hingga akhirnya memperlihatkan vaginaku. Duh, baru kali ini aku memperlihatkan vaginaku di depan cowok. Sungguh malu rasanya.
“Gila, Ve, gue gak tahaaan” erangnya sambil makin mempercepat kocokan penisnya.
“Tuh kan… udah gue bilang jangan nafsu!!” kataku pura-pura marah namun setelah itu tersenyum manis padanya. Aku lalu meneruskan membuka celana dalamku sampai lepas seluruhnya, dan lagi-lagi kulemparkan padanya, tepat mengenai mukanya. Makin mupeng deh dia, hihihi.
“Duh, Ve, gue gak tahan nih… pengen muncrat nih…” katanya yang kini menggunakan celana dalamku itu sebagai pembungkus penisnya sambil tetap mengocok. Mesum banget.
“Jangan dulu…” larangku. Aku lalu duduk bersimpuh di depannya. Kemudian kugenggam tangan kanannya yang sedang asik mengocok penisnya itu, dia tampaknya sedikit terkejut. Kunaik-turunkan tangannya sehingga kocokan pada penisnya kini berdasarkan irama ayunan tanganku. Aku belum mau untuk mengocok penisnya secara langsung.
“Gini aja yah? Enak kan?” tanyaku sambil senyum-senyum manis padanya.
“I-iya… duh, enak banget, Ve.”
Tangan kananku yang tadi nganggur kini entah darimana sudah berada di sekitar selangkanganku. Merasa tanggung, aku pun memainkan juga vaginaku dengan tangan kanan sambil tangan kiriku membantu si Robi mengocok. Soalnya kan aku horni juga, emangnya dia aja.
“Lo horni juga yah, Ve?” tanyanya yang melihatku juga asik memainkan vaginaku sendiri.
“Udah tau nanya!!” jawabku, dianya hanya tersenyum, kubalas juga dengan senyumanku.
Betul-betul suasana yang amat mesum, aku seorang gadis idol sedang telanjang bulat membantu seorang cowok mengocok penisnya sambil memainkan vaginaku sendiri. Apalagi kami melakukannya di teras depan di pagi hari yang cerah. Aku betul-betul horni membayangkannya, aku tidak tahan lagi!!
“Rob… g-gue… ngghhh…. K-keluar… aaaahhhh...”
“Creeeet..!!” akhirnya aku sampai. Aku orgasme di ruang terbuka!! Baru kali ini juga aku orgasme di depan seorang cowok. Badanku lemas, kepalaku sampai tertunduk dan bersandar di paha Robi, tepat di samping penisnya. Kulihat ke bawah cairanku menetes-netes dengan banyaknya ke lantai.
“Rob, gue udah keluar nih… Lo belum juga?”
“B-belum, bentar lagi kok. Gila, ekspresi lo tadi nafsuin banget,” komentarnya melihat aksi orgasmeku tadi. Aku tersenyum manis mendengarnya.
“Cepetan dong… keburu siang ntar,” pintaku.
“Oke-oke,”
Kuayunkan lagi tangannya dengan tanganku. Makin lama ayunanku semakin kencang sehingga kocokan tangannya pada penisnya juga semakin cepat.
“Crooooot… crooooot…” akhirnya dia muncrat!! Semprotannya mengenai wajahku, duh jijik!! Cepat-cepat kuambil baju dan celanaku tadi untuk menutupi penisnya agar muncratan peju berikutnya tidak nyemprot kemana-mana. Jadilah pakaianku tadi jadi basah terkena muncratan pejunya.
“Duh, Rob… kena muka gue nih,” kataku sambil menyeka peju di wajahku dengan tangan.
“Iya, sorry deh.”
“Kali ini gue maafin, lain kali nggak,”
“Duh, gak boleh ya gue pejuin lo lagi?”
“Gak!!” jawabku sambil memeletkan lidah.
“Yah… boleh dong…”
“Dasar lo, liat nanti aja deh…” kataku memberi harapan, dia tampaknya kesenangan amat mendengarnya. “Yuk, Rob, masuk lagi ke dalam.” ajakku padanya. Lumayan dingin juga sih bugil di luar rumah pagi-pagi gini.
“Ve, kapan-kapan ml yuk?”
“Hah?”
“Kalau gak mau, anal juga boleh… hehe,”
“Gila, dasar mesum!!”
“Gue mesumnya cuma sama lo kok, sama orang yang gue suka aja,” jawabnya, jawaban yang membuat aku tersipu.
Kupungut pakaianku tadi, lalu sambil bertelanjang bulat aku masuk ke dalam diikuti olehnya. Tidak ada hal-hal mesum lagi setelah itu. Siangnya dia kembali ke rumahnya. Sedangkan aku sibuk mencuci pakaian-pakaianku yang terkena tumpahan spermanya.

***

Beberapa hari kemudian...

“Ve!! Lihat ini!!” kata pria di depanku yang tidak lain adalah managerku sambil melemparkan beberapa lembar foto.
“I-itu…”Aku terkejut melihatnya, itu merupakan foto-foto saat aku berduaan dan bermasturbasi dengan Robi pagi itu. Aku melakukan kesalahan besar, ternyata ada yang mengetahui perbuatan kami!!
“Kamu ngerti peraturannya kan? Tidak boleh berpacaran, apalagi sampai berbuat seperti itu. Lihat sekarang akibat ulahmu, seseorang mengambil gambarmu diam-diam!!” teriaknya dengan nada tinggi padaku.
Aku ceroboh, seharusnya aku tidak melakukannya. Aku lebih malu lagi kalau ini adalah fotoku yang sedang telanjang bersama seorang cowok. Sekarang terlambat sudah, sepertinya karirku sebagai idol berakhir saat ini.
“Dia meminta uang tutup mulut, pengirim foto ini. Kalau tidak dia mengancam akan menyebarkannya.” sambungnya. Aku sedikit lega karena fotoku ini belum tersebar, tapi tentu saja masalah belum selesai.
“Uang tutup mulut? Berapa, Pak?” tanyaku sedikit cemas. Aku pasrah, karena memang ini salahku. Kuharap dengan membayarnya dapat segera mengatasi masalah ini.
“Seratus juta.” jawabnya.
Aku terdiam mendengarnya, itu bukan jumlah yang sedikit!
“Se-seratus juta, Pak?”Aku tidak punya uang sebanyak itu. Kupikir jumlahnya jauh lebih sedikit dari itu sehingga aku dapat membayarnya dengan tabungan yang kumiliki. Namun ternyata jauh lebih banyak. Dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu?
“Tolong, Pak, apa tidak ada cara lain?”
“Itu risikomu, kamu sendiri yang menyebabkan masalah ini kan?”
Aku lagi-lagi terdiam karena memang itulah kenyataannya, ini semua gara-gara aku. Suasana menjadi hening selama beberapa saat, baik aku maupun managerku sama-sama terdiam. Sama-sama berpikir mencoba mencari jalan keluar terbaik.
“Aku sudah memikirkannya sebelum kau datang. Tapi apa kau mau melakukannya?”
“Apa itu, pak?”
“Aku kenal seorang sutradara. Dia pasti mau memakaimu untuk filmnya, dan pastinya bayarannya cukup tinggi, cukup untuk membayar hal ini.” ujarnya menerangkan.
“Film?” tanyaku, aku takut kalau film yang dimaksudnya adalah film porno.
“Kamu tidak usah cemas, ini bukan film porno. Kamu hanya perlu mengenakan pakaian minim dan bermain-main saja di depan kamera, semacam video erotis.” terangnya, kulihat dia sedikit tersenyum saat mengatakannya.
“Hah? Tapi itu kan…” Aku ragu untuk melakukannya. Aku memang tahu dan pernah melihat video seperti itu, video gravure. Idol-idol di jepang mungkin tidak asing dengan hal itu. Tapi ini Indonesia, berpakaian minim seperti itu tentu saja tidak lazim divideokan.
“Coba kamu pikirkan. Kalau kita tidak dapatkan uangnya, pengirim foto ini akan menyebarkan fotomu. Apa kamu mau karirmu hancur? Kamu tidak ingin pacarmu dalam bahaya bukan? Banyak penggemar-penggemarmu yang anarkis di luar sana. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada pacarmu kalau mereka melihat perbuatanmu ini. Terlebih kalau orangtuamu melihat foto anaknya tersebar di internet. Kalau kamu melakukannya, karirmu akan terselamatkan, orangtuamu juga tidak harus menanggung malu, pacarmu juga akan baik-baik saja. Bagaimana?” tanyanya lagi.
Aku berpikir keras. Apa aku harus melakukannya? Tapi kalau tidak, semuanya hanya semakin memburuk. Sebenarnya daripada memikirkan karirku, aku lebih memikirkan apa yang akan menimpa pacarku itu nanti dan rasa malu orangtuaku melihat foto anaknya tersebar di internet. Aku tidak ingin hal itu terjadi. Akhirnya kuputuskan untuk melakukannya. Ini risiko yang mesti kuhadapi.

***

“Rob, gue hari ini mau pergi, ada job gitu deh di luar kota,” kataku berpamitan pada Robi beberapa hari kemudian. Apa lagi kalau bukan untuk shooting film itu.
“Emang berapa hari, Ve? Ntar kalau gue kangen gimana?”
“Kan bisa nelpon. Dua malam aja kok.”
“Iya deh, jangan lupa oleh-olehnya yah, hehe.” katanya lagi.
Aku hanya tersenyum. Aku memang tidak ingin memberi tahunya apa yang sebenarnya terjadi, bahwa ternyata perbuatan kami waktu itu diketahui oleh orang lain. Termasuk hutang 100 juta yang harus kubayar dengan cara ini.
“Oleh-oleh? Hmm.. ntar kalau gue udah balik, gue pertimbangin lagi deh ngebolehin anal,” kataku sambil mengedipkan mata kiri menggodanya.
“B-beneran, Ve?”
“Kenapa? Udah gak mau lagi? ya udah…”
“Eh eh, mau kok, mau banget malah… Gue tunggu yah, cepetan balik, hehe.” katanya kegirangan.
“Iyaaaah…” Kupikir memang tidak ada salahnya memberinya sedikit oleh-oleh seperti itu nanti di saat aku kembali, di saat masalah ini sudah selesai nantinya. Bahkan mungkin tidak hanya anal yang akan kuberikan, tapi juga perawanku.

***

Siangnya aku menuju ke tempat berkumpul dengan para kru sebelum berangkat bersama-sama ke lokasi shooting. Lokasi shootingnya sendiri berada di Villa puncak. Kru nya ada 5 orang termasuk sutradaranya, tapi masalahnya semuanya laki-laki, hanya aku sendiri perempuan di sini. Terlebih tidak satu orang pun yang kukenal.
Umur mereka juga beragam dari yang tampak sekitar 20-an, hingga yang 40-an, diperparah dengan wajah mereka yang di bawah standar semua. Tapi aku mencoba untuk tetap kalem dan tidak berpikir yang macam-macam. Menikmatinya, dan berusaha menjalaninya sebaik mungkin dan berharap agar ini cepat selesai.
Kami berangkat dengan mini bus sore harinya, sehingga akan sampai di Villa yang dituju saat malam hari nanti. Dalam perjalanan aku sempat membaca skrip yang diserahkan sutradara padaku. Sungguh banyak adegan telanjangnya!! Selain itu ada adegan aku masturbasi! Gila aja.
“Kok gini sih, Pak? Bukannya hanya video erotis aja?” tanyaku memprotes pada Pak Bowo, sang sutradara film.
“Tenang aja, nanti kita akali supaya tidak terlihat di kamera,” jawabnya santai. Masa gitu doang sih? Namun aku hanya bisa pasrah.
Malamnya kami sampai di tempat tujuan. Villanya cukup besar, ada kolam renangnya juga. Sebenarnya shootingnya baru akan dimulai besok pagi. Tapi ada sedikit pengambilan gambar dulu malam ini, hanya scene pengenalan diri saja, katanya. Ya kuikuti aja.
“Hai, semua… Namaku Jessica Veranda, dipanggil Ve. Umur 21 tahun. Tinggi 168 cm. Hobi modelling, menari dan akting. Ve bakal nemanin kalian, ditonton sampai habis yah…” ujarku dengan wajah ceria dan tersenyum di depan kamera, diakhiri dengan mengedipkan mata kiriku dengan nakal.
“Udah, Pak, gitu doang kan?” tanyaku pada Pak Bowo.
“Iya, gitu aja.”
Malam ini cukup sekian. Aku pun disuruh istirahat di kamar yang sudah disediakan untukku. Sebelum tidur aku menghubungi Robi. Hanya sekedar mengabari kalau aku baik-baik saja.
Besok pagi saat bangun, kami langsung shooting scene selanjutnya. Yaitu aktifitasku saat bangun tidur. Memang sengaja shootingnya dilakukan pagi hari tepat setelah aku bangun tidur agar lebih natural. Aku disuruh memakai baju tidur tipis dan menerawang. Dapat kulihat dari mata mereka kalau mereka sudah pada mupeng, bahkan ada yang bersiul padaku. Risih banget sebenarnya berpakaian seperti ini di hadapan para pria yang baru kukenal, tapi ya mau gimana lagi.
Shooting pun dimulai. Aku diambil gambarnya mulai dari bangun tidur, gosok gigi, membuat sarapan, dan makan pagi. Aku bersikap sewajarnya seakan tidak ada kamera yang sedang mengambil gambarku, walau aneh saja rasanya diperhatikan tiap gerak-gerikku oleh mata pria-pria di sana.
“Oke, Ve, sekarang kita lanjut adegan di kamar mandi yah…” ujar Pak Bowo.
“Pak, ini saya beneran harus bugil?” protesku mengingat kalau di skrip aku mandinya telanjang.
“Gak kok, hehe… pakai ini,” ujarnya sambil menyerahkan semacam tempelan untuk menutupi puting dan plester untuk menutupi vaginaku.
Hah? Cuma ditutupi pake beginian? Tetap saja kan bugil namanya? Tubuhku tetap kelihatan semua dengan jelas meski pakai ini. Namun daripada beneran bugil, kuterima dan kupasang juga.
Adegan pun dilanjutkan kembali. Aku perlahan-lahan melepaskan baju tidur yang kukenakan tadi hingga bugil, hanya vagina dan putingku saja yang tertutupi. Sungguh malu rasanya. Baru kali ini aku memperlihatkan bagian tubuhku sebanyak ini pada banyak pria sekaligus. Tampak mereka semakin birahi melihat kondisiku sekarang yang sudah dapat dikatakan telanjang ini.
Aku pun mandi seperti mandi biasa. Mengguyur tubuhku di bawah siraman shower lalu menyabuni tubuhku di hadapan kamera dan para kru film ini. Busa yang menempel di ujung buah dada dan daerah vagina semakin memberi kesan kalau aku sedang bertelanjang bulat. Kugosok badanku termasuk menggosok daerah buah dada dan sekitar selangkangan. Duh, aku tidak menyangka kalau aku bakalan horni karena belaian tanganku sendiri. Terlebih sensasi memperlihatkan tubuh telanjangku yang sedang basah-basahan penuh sabun pada para pria di sini. Sepertinya mereka juga tahu kalau aku sedang horni, gawat.
“Duh, jangan dilihatin gitu dong…” kataku akhirnya karena betul-betul risih, yang membuat adegannya terpaksa di-cut.
“Pemandangannya asik sih, mana tahan… hahaha,” kata salah satu kru.
“Horni yah, Ve? Kamu suka ya mandi sambil ditontonin kita kita? Hehe,” tanya pria lain sambil cengengesan.
“Gak!!” jawabku berbohong, gak mungkin lah aku mengakui kalau aku horni dipelototin mata-mata mereka.
“Kalau horni juga gak apa-apa kok, hahahaha...” balasnya lagi, bikin aku sebal aja.
“Sudah-sudah. Ayo, Ve, lanjutin lagi mandinya.” suruh Pak Bowo akhirnya.
Aku pun melanjutkan lagi acara mandiku. Aroma harum sabun ini semakin membuatku horni saja. Gosokan tangan pada tubuhku sendiri juga semakin menjadi-jadi. Aku tidak peduli lagi kalau aku ketahuan horni atau gimana, bahkan entah kenapa sekarang aku malah sengaja berusaha membuat pria-pria di sana semakin mupeng melihat gerak-gerikku saat mandi. Diantara mereka sekarang bahkan ada yang mengelus bagian depan celananya. Aku dapat melihat bagaimana bagian depan celana mereka sudah menonjol semua. Aku jadi berpikir yang tidak-tidak karna sedang horni gini, sampai-sampai membayangkan bagaimana bentuk dan ukuran penis di baliknya. Aduh.
Saat kurasa sudah cukup, aku pun membilas tubuhku. Lalu segera kukeringkan badanku dengan handuk.
“Nikmat yah, Ve, mandinya? Hehe,” tanya Pak Bowo setelah scene ini berakhir.
“Ngmmh, iya.” jawabku. Aku tahu yang dia maksud sebenarnya itu adalah rasa nikmat waktu aku mandi tadi, aku jawab saja kalau memang nikmat.
Setelah itu adalah adegan olahraga. Aku disuruh renang, lalu lompat tali dengan pakaian minim hampir telanjang. Pastinya mata mereka juga terus-terusan memandang mesum ke arahku.
“Istirahat sebentar yah, habis itu siap-siap untuk scene selanjutnya. Kita punya permainan untuk kamu, hehe.” katanya.
Kami pun rehat sejenak selama satu jam. Shooting selanjutnya berada di luar, di dekat kolam berenang. Aku masih belum tahu permainan apa yang Pak Bowo maksud, di skrip juga tidak terlalu dijelaskan permainan apa. Tapi aku yakin apapun itu bakalan jadi permainan yang mesum.
“Sudah siap, Ve?” tanya Pak Bowo, aku mengangguk saja sambil tersenyum. Pakaianku kali ini biasa-biasa saja, hanya mengenakan tanktop dan celana pendek sepaha, namun tidak ada dalaman apapun di baliknya. Aku kemudian didudukkan di kursi yang ada di sana.
“Pakai ini yah, Ve, hehe.” kata salah satu kru mendekat sambil membawa sebuah penutup mata untuk menutupi mataku.
“Pak, ini kok matanya pakai ditutupi segala?” tanyaku memprotes.
“Kita main tebak-tebakan.” jawabnya.
Aku masih tidak mengerti. Kubiarkan mataku ditutup, sekarang aku tidak bisa melihat apapun. Gelap.
“Nah,sekarang coba buka mulutnya, rasakan dan tebak apa ini? Gak boleh dipegang dan gak boleh salah ya,” perintah Pak Bowo.
Kuturuti perkataannya, kubuka mulutku dan mengeluarkan lidah. Sesuatu mengenai ujung lidahku. Aku belum tahu apa ini. Tidak ada rasa, namun permukannya seperti karet dan sepertinya bentuknya lonjong. Aku emut beberapa lama.
“Oke, sekarang tebak,” suruh Sutradara.
“Ti-timun?” tebakku setelah cukup lama berpikir. Aku tidak menyangka kalau jawabanku betul!! Senangnya… Saat penutup mataku dibuka kembali ternyata memang timun, namun iih, diselubungi kondom!
“Wah, hebat nih bisa nebak,” kata Pak Bowo memuji.
“Iya, Pak, makasih.” balasku sambil tersenyum. Aku senang aja jawabanku benar. Sepertinya aku mulai suka game ini. Malah aku jadi penasaran benda apa berikutnya, bisa ketebak gak yah…
“Tapi, Ve…” kata salah satu kru.
“Hmm?”
“Itu kondom bekas gue main semalam lho… hahaha,”
“Hah?” tentu saja aku terkejut kalau ternyata ini kondom bekas.
“Gak apa kan? Hahahaha,” lanjutnya lagi.
Apanya yang gak apa?! Kondom bekas yang dipakainya baru saja masuk ke dalam mulutku. Tapi karena sudah terlanjur ya sudah lah.
Permainan pun dilanjutkan, dua benda selanjutnya juga dapat dijawab dengan benar olehku. Sebuah terong, lalu pare. Aku dapat mengetahuinya dari bentuknya saja karena lagi-lagi dibungkus oleh kondom. Senang sih bisa jawab dengan benar, walau agak kesal karena lagi-lagi mereka mengatakan kalau itu juga kondom bekas.
Selanjutnya juga sama, permukaannya juga kesat seperti kondom. Tapi kali ini bentuknya… apa kali ini aku tidak salah? I-ini penis bukan?! Kalau iya sungguh gila! Aku tidak pernah sekalipun mengemut penis cowok sebelumnya, bahkan pada Robi pun tidak.
“Ayo dong, Ve, dijawab, hehe.” suruh Pak Bowo.
Aku harap perkiraanku ini salah, tapi setelah diemut bagaimana dan berapa lama pun ini memang penis. Walaupun aku tidak pernah mengemut penis sebelumnya, tapi aku tahu kira-kira bentuknya bagaimana karena pernah melihat penis Robi maupun dari bokep yang sesekali kutonton. Kali ini aku benci kalau tebakanku benar.
“I-ini…”
“Ini apa? Jawab yang benar dong… hehe,”
“Mmm… p-penis?” jawabku.
Setelah penutup mata dibuka ternyata memang benar iya!! Seorang pria berdiri dengan penis tegang menjuntai-juntai di depanku. Benar ternyata kalau yang masuk ke dalam mulutku dan yang kuemut-emut sekian lama tadi adalah penis!!
“Pak!! Apa-apan sih ini? Kok jadi begini?” protesku dengan nada tinggi. Ini sudah keterlaluan!!
“Gak apa lah… kan cuma permainan, hahaha…” jawabnya santai, “tapi jawaban tadi kurang tepat tuh,” lanjutnya lagi.
“Hah? Bukannya benar kalau itu p-penis?” tanyaku heran.
“Bukan,”
“Terus?”
“Ini kontol, dan punyamu itu namanya memek!! Hahaha,” jawabnya lalu tertawa terbahak-bahak, para kru yang lain juga ikut-ikutan tertawa.
Aku sendiri tidak tahu dimananya yang lucu, namun aku malah ikut tersenyum dan tertawa kecil juga. Padahal akulah yang sedang ditertawakan saat itu.
“Mau lanjut emut lagi gak?”
“Hah? Enggak!!”
“Ayo dong, ini kan hadiah karena sudah menebak dengan baik. Lagian aman kok… kali ini bukan kondom bekas, hahaha…”
Tentu saja ini bukan masalah kondom baru ataupun bekas, tapi masalah mengemut penis. Mana mungkin aku mengemut penis pria lain begini kalau pada Robi pun aku tidak pernah!?
“Ayo dong, pasti nanti filmnya jadi lebih bagus. Yang untung kan kamu juga makin banyak penggemarnya, iya kan? Hehehe,” bujuknya terus.
Aku tidak terlalu peduli apa yang dikatakannya itu benar atau tidak, tapi entah kenapa setelah itu aku menganggukkan kepalaku tanda setuju. Mengiyakan kalau mulutku boleh dijejali oleh penisnya sekali lagi.
Aku pun mengulum penis yang terselubung kondom ini sekali lagi. Kali ini aku melakukannya dengan mata terbuka. Kali ini aku sadar dan melihat langsung kalau apa yang sedang kujilati dan kuemut ini benar-benar penis. Aku disuruh mengulum penisnya sambil melirik dan tersenyum ke kamera, seakan merasa senang dan berterima kasih karena sudah diberi hadiah karena menebak dengan benar.
Setelah mengulum penisnya beberapa saat, kurasakan badan Pak Bowo bergetar. Dia ejakulasi!! Namun untung saja pejunya tertampung oleh kondom sehingga tidak tumpah di mulutku.
“Wah, mantap banget, hot!!” kata salah satu kru mengomentari.
“Iya, nih cewek benar-benar hot. Gue jadi pegen muncrat di mulutnya juga, hahaha,” ujar yang lain.
Aku hanya tersenyum mendengarkan ocehan-ocehan mereka. Menganggap itu semua hanyalah sebuah pujian padaku. Pak Bowo lalu menanggalkan kondomnya, lalu menyuruhku memegangnya dan menunjukkannya ke kamera sambil tersenyum manis. Aku turuti saja kemauannya ini. Akhirnya scene ini selesai juga. Kami pun beristirahat makan siang sebelum bersiap untuk scene selanjutnya.
Kalau tidak salah berikutnya adalah adegan aku bermasturbasi. Apa iya aku harus bermasturbasi di depan kamera dan pria-pria ini? Memanjakan mata mereka melihat seorang gadis muda bermasturbasi? Memainkan vaginaku sampai aku menjerit-jerit kenikmatan di hadapan mereka? Namun entah kenapa memikirkan hal tersebut malah membuatku jadi horni, ini tidak benar!!
Kami beristirahat sampai sore. Selama istirahat aku hanya mengurung diri di kamar. Aku merasa bersalah pada Robi karena semua adegan-adegan ini, apalagi adegan menjilati penis pria tadi. Robi yang kusukai dan kukenal dari dulu bahkan tidak pernah mendapatkannya. Namun para pria yang baru kukenal dalam waktu singkat ini malah sudah melihat tubuh telanjangku, bahkan dioral olehku.
Kupencet nomornya Robi mencoba menghubunginya. Aku ingin sedikit mengurangi rasa bersalahku dengan ngobrol dengannya. Namun setelah beberapa kali kucoba dia tidak pernah mengangkat teleponnya. Ya sudahlah, mungkin dia sedang sibuk.

***

Selesai makan siang, shooting pun dilanjutkan kembali. Sekarang aku mengenakan seragam sekolah. Di baliknya aku hanya mengenakan penutup puting saja, sedangkan vaginaku terbuka bebas.
“Sudah siap, Ve?”
“Udah,”
“Oke, Camera… roll… action!”
“Hai, semua…. Ngmm, Ve lagi horni nih. Mau yah temanin Ve masturbasi?” kataku dengan memasang senyum manisku di depan kamera. “Lihat baik-baik Ve masturbasi yah…” sambungku lagi sambil mengedipkan mata.
Aku lalu duduk mengangkang di atas kasur. Rokku tersingkap sampai ke pinggang. Kumulai merangsang vaginaku, memainkan klirotisku dengan jariku sendiri. Ternyata vaginaku memang sudah becek, mungkin karena aku memang sudah horni dari tadi. Kamera diposisikan sedemikian rupa agar tidak secara langsung memperlihatkan vaginaku, namun para kru yang berada di depanku tentu dapat melihat dengan jelas bagaimana jari-jariku memainkan vaginaku sendiri.
Sebenarnya aku bermasturbasi seperti yang biasa kulakukan sesekali bila sedang horni. Namun bedanya kali ini aku melakukannya di hadapan banyak pria yang baru kukenal dan sambil direkam!! Kali ini aku melakukannya sambil merintih kenikmatan dengan kerasnya. Sengaja membuat diriku terkesan nakal di depan kamera agar membuat para penontonku menjadi horni.
“Ngghh… enak banget,” desahku manja sambil memasang wajah nakal. “Aahh, iya… terus. Entotin Ve.” racauku semakin menjadi-jadi melirik ke arah pria-pria di depanku.
Kumainkan terus vaginaku hingga akupun tidak tahan lagi. “Aaahhhhhhhh….” Tubuhku kelojotan. Aku orgasme!! Sungguh luar biasa rasanya, baru kali ini juga aku orgasme di hadapan banyak pria.
Mereka tampak sangat mupeng melihat keadaanku ini, tapi aku pura-pura tidak peduli. Perasaanku campur aduk antara malu, nikmat dan merasa bersalah, karena sebenarnya yang kupikirkan saat masturbasi tadi adalah Robi. Aku merasa bersalah karena aku menikmati perbuatanku bermasturbasi di hadapan pria-pria lain, bukan di hadapan Robi. Tapi sensasi ini memang sungguh nikmat luar biasa. Aku jadi bingung dengan perasaanku sendiri saat ini.
“Enak yah, Ve? Kamu memang hot banget… hahaha.” kata Pak Bowo.
Aku hanya tersenyum saja. Salah satu kru lalu memberikan tisu padaku untuk mengelap vaginaku. Kuambil beberapa helai dan ku lap vaginaku yang terasa banjir. Kulihat di lantai, cairan vaginaku juga berleleran kemana-mana, kubersihkan juga dengan tisu.
“Nah… ayo lanjut lagi,”
“Lagi, pak?” tanyaku heran, ternyata tidak cuma sekali.
“Iya, lanjut. Tapi kali ini kamunya telanjang.” katanya.
Aku nurut saja, karena di dalam skrip memang tertulis aku masturbasi sambil telanjang. Kulepaskan seragamku sambil mataku terus menatap ke kamera, lalu melanjutkan masturbasi seperti tadi.
Tubuhku benar-benar terekspos sekarang. Seluruh bagian tubuhku terlihat, hanya bagian puting susuku saja yang tertutupi. Namun anehnya aku jadi bertambah horni dengan keadaan sekarang, aku merasa sangat seksi. Tapi tunggu, aku terkejut saat melihat dua orang pria datang mendekatiku. Mereka hanya mengenakan celana dalam, tapi celana dalamnya terdapat sarung untuk penisnya, sehingga penis mereka yang ereksi dapat menegang dengan bebasnya di sana.
“Ayo, Ve, dikocok dong…” suruh Pak Bowo.
Hah? Ngocokin penis? Ini tidak ada di skrip!! “Tapi, kan Pak…”
“Sudah, ayo lakukan!”
“I-iya…” aku tidak dapat menolaknya, lagian aku juga excited ingin mencobanya dari dulu.
Aku pun mengocok kedua penis yang terselubung celana dalam itu di sisi kiri kananku. Sambil tetap tersenyum ke kamera, sesekali aku juga melirik dan tersenyum manis pada dua orang pria yang sedang kukocok penisnya ini. Sekali lagi, aku melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan terhadap Robi.
Kukocok terus penis mereka hingga akhirnya masing-masing mereka ejakulasi. Mereka muncrat di celana dalam mereka itu!! Membuat celana dalam mereka jadi basah berlumuran peju mereka sendiri. Pemandangan yang sangat menggelikan bagiku. Tanganku masih belum berhenti mengocok sehingga jadi lengket karena terkena cairan sperma mereka. Aromanya membuatku merinding, membuat aku menjadi semakin horni.
Aku pun orgasme lagi dibuatnya. Orgasme sambil tetap mengocok penis mereka. Para kru yang menyaksikan sampai terpana melihat pemandangan ini, bahkan bersorak dan bersiul padaku.
“Cut!! Oke.. Bagus banget, Ve…”
“Mmmh, iya… makasih,” balasku pelan karena masih merasa sangat lemas.
Mereka lalu mengambilkan handuk untuk menutupi tubuhku. Scene ini pun selesai, kami pun rehat lagi. Aku kembali lagi ke kamarku. Saat rehat kucoba lagi menghubungi Robi. Namun lagi-lagi tidak di angkat. Sepertinya dia benar-benar sibuk.

***

Malamnya kami shooting lagi. Setahuku ini adalah scene terakhir, adegan ML di ranjang!! Tentunya hanya pura-pura saja, aku tidak betul-betul akan disetubuhi. Lagian aku tentu tidak mau. Aku tidak akan menyerahkan keperawananku pada orang seperti mereka.
Pak Bowo lalu menyuruhku memakai gaun tidur transparant yang sangat seksi. Dia juga yang akan menjadi lawan mainku di adegan ranjang kali ini. Dalam scene ini aku harus bertingkah bitchy, bertingkah seperti cewek yang doyan ngeseks. Untuk membantu memperkuat karakterku nanti saat adegan ML, mereka bahkan memberiku sebuah pil obat penambah gairah.
“Biar lebih mantap, diminum dua butir dong, Ve…” suruh Pak Bowo.
“Dua? Tapi kalau nanti akunya…. I-iya deh, Pak.” Aku sebenarnya sedikit keberatan, tapi mau tidak mau kuturuti saja dan kuminum 2 butir pil pemberian mereka itu.
“Tapi nanti beneran gak sampai dimasukin kan, Pak?” tanyaku memastikan sebelum mulai shooting.
“Apanya yang dimasukkin?” katanya balik nanya sok tidak mengerti.
“I-itu… k-kontol bapak ke m-memeknya Ve. Nggak kan, Pak?”
“Emang kenapa kalau bapak masukin? Gak boleh bapak genjotin memeknya?”
“Jangan Pak, Ve belum pernah…” kataku mengiba.
“Ohh.. masih perawan toh, tenang aja… Bapak gak bakal minta masukin kok nanti, hehehe.” katanya sambil cengengesan, aku percaya saja janjinya.
Kamera mulai merekam. Aku pun mulai berakting layaknya cewek doyan ngentot. Dimulai dengan menggoda Pak Bowo dengan gerakan-gerakan nakal. Seperti gigit-gigit jari, mengulum jariku, sampai memilin-milin baju kaosku.
“Ngentot yuk.. aku udah gak tahan nih… Genjotin memek Ve, please… Ve kepengen digenjotin keras-keras!!” ujarku.
Walau hanya akting, entah kenapa aku sangat mendalaminya seakan itu adalah betul-betul diriku. Mendengar ucapanku barusan sepertinya Pak Bowo jadi semakiin horni. Kuyakin semua kru pria di sini juga demikian. Bodo ah.
Kami berdua kini sama-sama berada di atas ranjang. Tubuhku mulai disentuh dan digerepe-gerepe olehnya. Aku bingung antara harus merasakan takut dan nikmat saat ini. Suasana semakin memanas saat kami saling menelanjangi tubuh. Aku menelanjangi Pak Bowo, membuka kemejanya sampai menurunkan celana panjangnya. Kini dia hanya mengenakan sesuatu seperti kondom yang membungkus penis besarnya. Aku pun nurut-nurut saja saat dia mulai melepaskan pakaian yang kukenakan satu-persatu, hanya menyisakan tempelan yang masih menutupi kedua puting dan vaginaku.
Adegan selanjutnya kami saling bercumbu di atas ranjang, bahkan sampai berguling-gulingan!! Aku terkejut saat dia mencium bibirku, walau akhirnya aku juga membalas ciumannya tersebut dan kami pun saling membelit lidah. Kurasakan badanku menjadi panas, vaginaku juga terasa sangat gatal dan becek. Sepertinya efek pil tadi sudah mulai bekerja. Aku horni berat!!
Puas saling berciuman, dia lalu menurunkan tubuhnya sehingga kepalanya kini berada tepat di depan selangkanganku. Aku sangat terkejut! Dia menjilati permukaan vaginaku yang masih tertutupi plester hingga ke sekitaran anusku. Sungguh nikmat saat lidahnya menari-nari di sana meskipun tidak menjilati vaginaku secara langsung. Aku betul-betul dibuat horni olehnya!! Tidak perlu waktu lama, aku pun orgasme.
Pak Bowo lalu bangkit dan berdiri di atas tempat tidur. “Ayo, Ve, jilatin juga dong!” suruhnya tanpa peduli aku yang baru saja klimaks.
Aku yang sudah horni ya nurut saja mengiyakan permintaanya sambil tersenyum. Sekarang gantian aku yang mengulum penisnya yang diselubungi kondom berwarna gelap ini. Sesekali aku melirik ke arahnya dan tersenyum manis, berharap kalau dia juga suka dengan jilatan lidah dan emutanku pada penisnya. Aku bertingkah persis layaknya cewek doyan kontol. Aku rasa aku tidak sedang berakting lagi sekarang.
Adegan pun berlanjut. Sekarang dia berbaring terlentang dan aku duduk di atas pinggangnya. Vaginaku tepat berada di depan penisnya. Kugoyangkan pinggulku sehingga vaginaku dan penisnya kini saling beradu dan bergesekan, menimbulkan sensasi yang luar biasa bagiku. Rangsangan ini begitu hebat. Kurasa aku tidak akan bisa menahan semua ini lebih lama lagi, terlebih karena pengaruh obat perangsang tadi.
“Pak, plesternya dilepas aja yah?” pintaku padanya.
“Kenapa? Biar lebih enak ya? Oke, baiklah,” setujunya.
Benar, aku ingin merasakan yang lebih. Aku ingin penis itu bersentuhan langsung dengan vaginaku, tidak dibatasi plester lagi. Setelah kulepaskan plester itu, aku juga malah melepaskan tempelan yang menutupi putingku tanpa disuruh. Sekarang aku bugil total di depan mereka.
Aku duduk lagi di pangkuannya. Kugoyangkan lagi pinggulku, bahkan semakin lama goyanganku semakin kencang dan semakin menjadi-jadi. Entah apa yang ada di pikiranku, aku malah ingin penis itu menyodokku!! Ingin sekali rasanya penisnya itu masuk dan mengaduk-aduk vaginaku saat ini. Malah gerakan pingguku sedikit kuubah demi mengharapkan penis itu secara tidak sengaja masuk ke dalam vaginaku, tapi ternyata sulit.
Ingin rasanya aku meminta dan memohon untuk dientotin sekarang, tapi aku terlalu malu untuk memintanya, masa aku harus merelakan keperawananku untuk pria seperti dia? Terlebih aku akan mengkhianati Robi yang sedang terus menungguku sampai saat ini. Tapi aarrgghhh… aku betul-betul horni sekarang!! Aku tidak tahan lagiiii!!
“Ada apa, Ve?” tanya Pak Bowo sambil cengengesan padaku, mungkin karena melihat ekspresi horniku.
“Ngh? Itu… a-anu…” Kuyakin dia hanya pura-pura tidak tahu kalau aku sangat horni saat ini. Dia pasti tahu kalau aku sudah tidak tahan untuk dientotin.
“Kamu mau dientot? Iya, kan?”
“I…itu… Iya, Pak!! please… entotin Ve! Ve udah gak tahan… please…” jawabku cepat tanpa menunggu dia bertanya dua kali. Aku sepertinya sudah kehilangan akal. Tidak peduli lagi dengan rasa malu, prinsip dan gengsi yang kumiliki. Aku ingin dientotin olehnya!! Sekarang!! Ternyata memang benar bukan dia yang meminta untuk menyetubuhiku, namun aku sendiri yang memintanya.
“Hahaha… ngomong dong dari tadi…” ujarnya, aku betul-betul malu. “Beneran kamu mau dientotin?” tanyanya lagi.
“Iya, Pak.. Ve mau dientotin sama Bapak!! Sekarang!! Ve mohon… genjot memek Ve sekarang.” ujarku lantang sambil tetap menggesekkan kelamin kami lebih kencang, sampai-sampai air mataku mau keluar karena mengiba untuk dientotin.
“Terus cowokmu itu bagaimana? Dari tadi dia nelpon tuh… kamu kayaknya horni banget sampai telepon dari cowokmu sendiri gak tahu… huahahaha…”
Aku baru sadar kalau ternyata ponselku sedang berbunyi saat ini. Kru yang sedang memegang ponsel itu lalu menyerahkannya padaku. Di layar benar tertampang nama Robi.
“Ayo... kamu reject panggilannya,” suruh Pak Bowo. Sebuah perintah yang membuat hatiku teriris. Padahal dari tadi siang aku menanti-nantikan agar dapat berbicara dengan Robi. Namun sekarang saat Robi menelpon, aku malah disuruh untuk menolak panggilannya.
Aku tidak ada pilihan lain, kutekan tombol reject….
“Bagus-bagus… sekarang tidak ada gangguan lagi. Kamu udah gak sabar digenjot kan? Hahaha,”
“I-iya, Pak…”
Dia lagi-lagi tertawa busuk mendengar jawabanku. Namun tidak lama kemudian datang pesan masuk dari Robi.
“Pak… boleh saya baca smsnya sebentar?” pintaku, Pak Bowo mengangguk membolehkan, namun menyuruhku membacanya dengan keras supaya dia juga bisa tahu isinya. Kubuka sms dari Robi dan kubaca, Robi bertanya apa aku marah karena dia tidak menjawab teleponku tadi siang.
“Kamu balas gini… ‘Jangan ganggu, aku lagi enak sekarang. Udah mau dimasukin nih!!’ Ayo ketik!!” perintah Pak Bowo mendikte.
Kuketik juga sesuai omongannya. Sebenarnya hatiku berat saat melakukannya, namun aku malah mengetik sms itu sambil masih tetap mengayunkan pinggulku! Tubuhku tidak dapat berbohong. Aku marah pada diriku sendiri karena berbuat begini padanya. Di satu sisi aku tidak ingin mengkhianatinya, tapi di sisi lain aku sudah horni pengen disetubuhi. Kumatikan ponselku setelah itu supaya perasaan ini tidak terus berlanjut.
“Lanjut lagi ya, Pak…” pintaku.
“Silahkan…”
Vaginaku kuposisikan tepat di depan penisnya. Perlahan kuturunkan tubuhku, membuat penisnya masuk sedikit demi sedikit ke dalam vaginaku. Rasa sakit mulai terasa, tapi rasa horni yang kurasakan jauh lebih besar. Hingga akhirnya seluruh penisnya masuk ke dalam. Kurasakan selaput daraku robek, sepertinya ada darah di bawah sana. Meski aku betul-betul sedang horni, tapi vaginaku terasa sangat perih. Aku diam sejenak, membiasakan vaginaku dengan kehadiran penis ini.
"Kenapa? Kok diam? Goyang lagi dong... hahaha,"
"S-sakit, Pak... Perih,"
"Ya sudah kalau gak mau, bapak lepasin lagi nih,"
"Ja-jangan Pak!! B-baik,"
Kugoyangkan lagi pinggulku meski masih terasa perih. Namun seiring waktu, kini rasa sakit itu berganti dengan nikmat. Nafsuku yang sudah diubun-ubun makin membuatku kehilangan kendali. Aku hanya ingin digenjot, disetubuhi dan diaduk-aduk liang vaginaku saat ini. Tidak ada pikiran lain selain dientot. Apa aku sudah kehilangan akal sehat? Atau apakah ini diriku yang sebenarnya? Aku juga tidak tahu.
“Hahaha, film ini pasti bakal laku keras… huahahaha,” tawa Pak Bowo, para kru di sana juga ikut tertawa. Aku sendiri juga ikut tersenyum mendengarnya.
“Kamu suka kan Ve dientotin gini?”
“Iya, aaah… a-aku… suka… genjot Ve lebih keraaaas…” rintihku.
“Terus cowokmu itu bagaimana?”
“Gak papa… ya kan, Rob? Boleh kan cewek yang kamu cintai ini dientotin orang lain? Diambil perawannya oleh orang lain?” jawabku menatap ke kamera seakan berbicara pada Robi.
“Hahahaha… kamu emang nakal, Ve. Habis ini anal yah? Mau kan dianalin? Haha,” tawa Pak Bowo lagi.
Aku tidak menjawab. Aku tidak peduli. Aku hanya ingin merasakan nikmatnya disetubuhi sekarang. Selanjutnya aku tidak ingat dengan jelas apa lagi yang terjadi. Mungkin sudah beberapa gaya yang kami praktekkan. Aku berkali-kali mendapatkan orgasme malam itu. Sepertinya kami bersetubuh sampai pagi karena rasanya lama sekali. Malam itu, aku menyerahkan tubuhku untuk digauli pria lain yang baru kukenal. Malam itu, aku sudah mengkhianati seseorang yang sudah menungguku sekian lama.

***

Shooting sudah selesai. Bayarannya akan ditransfer ke rekening managerku dalam beberapa hari ke depan. Aku bersyukur ini sudah berakhir meskipun harus dengan pengorbanan yang besar. Esoknya aku kembali ke rumah. Aku bertengkar dengan Robi tentang apa yang terjadi malam sebelumnya. Tentu saja dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu, dan dia memang tidak boleh tahu. Kami pun saling diam setelahnya, tidak ada komunikasi sama sekali selama beberapa hari. Mudah-mudahan kami akan segera baikan. Selama ini kami memang pernah sesekali bertengkar, namun dalam beberapa hari sudah berbaikan lagi.
Hari itu dia tiba-tiba datang ke rumahku. Aku yakin dia ingin ajak baikan, atau… mungkin dia teringat jatah oleh-olehnya itu? Dasar Robi mesum… Hmm… Kalau benar iya mungkin saja akan kukasih. Apapun untuknya mulai sekarang.
“Ve…” sapanya.
“Ya, Rob? Apa? Lo pengen ajak baikan yah? Hu… tuh kan? Mana bisa lo lama-lama jauh dar-”
“Untuk apa itu semua?” katanya tiba-tiba memotong omonganku.
“R-rob? Ma-maksudnya?”
“Video itu… untuk apa itu!!” teriaknya.
Degh, seluruh badanku lemas. Dia tahu. Aku tidak tahu dia tahu dari mana. Tapi dia tahu!! Dia tahu!!
“I-itu…”
“Selama ini…. Selama ini gue percaya dan selalu nungguin lo. Gue percaya lo gadis baik-baik… Gue yakin lo juga menunggu untuk gue!!”
“Bukan!! T-tolong dengar gue dulu…”
“Diaaamm!!! Jangan mendekat lagi… Pelacur!!” ujarnya.
Aku terdiam. Hatiku sangat remuk mendengarnya. Air mataku sudah turun ke pipiku. Aku tidak menyangka akan seperti ini. Setelah mengucapkan itu, dia lalu pergi begitu saja meninggalkanku.
Kenapa? Kenapa kau tidak mau mendengarkan penjelasanku dahulu? Kenapa kau tidak percaya padaku? Apa kau tahu apa yang sebenarnya kurasakan saat itu? Kenapa kau sebut aku pelacur? Apa kau tahu kalau aku melakukan ini semua untuk kita juga? Kenapa? Kenapa, Rob?

***

Dua minggu kemudian…

“Ngghh… iya.. terus entotin Ve. Jangan kasih ampun pelacur kalian ini! Ahhh… sampai.. Ve sampaaaaaaiiiii...” jeritku dibarengi dengan sperma yang tumpah dengan banyaknya. Kutekan dalam-dalam pinggulku, mengunci penis pria itu di vaginaku agar tetap menembak rahimku dengan pejunya sampai habis.
Ya… aku shooting video lagi kali ini. Namun kali ini bukan sekedar video erotis lagi, namun sudah betul-betul video porno. Aku betul-betul sudah menjadi pelacur. Itu kan yang lo inginkan, Rob? Kalau gue seorang pelacur? Ini, gue wujudkan kata-kata lo.
“Enak yah, Ve, dipejuin kita? Hahaha,” tawa pria ini.
“Enak banget,” jawabku tersenyum manis.
“Wah, gak sabar juga nih pengen ngentotin memeknya, hehe.” kata pria yang lain.
“Ya tunggu apa lagi, kita mulai aja adegan selanjutnya, adegan gangbang. Kamu sudah siap kan, Ve, kita gangbang?” tanya sutradara.
“Siap dong… entotin aku sesuka hati kalian, Ve mau diapaain aja boleh kok…” desahku manja dengan wajah nakal.
“Ntar kalau hamil gimana? Hehe,” tanya seorang pria lagi.
“Hmm… emang kalian gak mau yah menghamili aku? Kapan lagi lho bisa menghamili Ve, hihihi,” godaku.
“Wah… Lo emang mantap, Ve. Tunggu apa lagi? Yuk serbu… gue memeknya!!”
“Kalau gitu gue boolnya, hahaha,”
“Gua mulutnya dulu deh kalau gitu,”
“Aaaaaahhh… iyah... pelan-pelan dong!!”
Aku kemudian digangbang. Tubuhku dipakai beramai-ramai sekaligus dalam satu waktu. Seluruh lubangku kini terisi penis-penis pria yang tidak kukenal, yang berlomba-lomba memompa tubuhku dan mengisi sperma mereka di seluruh lubangku. Sungguh nikmatnya. Maaf yah Robi kalau lo gak bisa mencicipi tubuh gue, lo sih…. Sekarang gue udah jadi milik semua pria!!
Adegan-adegan mesum terus diperlakukan mereka padaku untuk di-filmkan. Pernah saat itu mereka melakukan bukkake padaku dan menyuruhku menelan sperma banyak pria sekaligus. Selain itu ada juga adegan aku yang disuruh bertelanjang di taman kota di pagi buta, lalu aku dientotin di tempat terbuka seperti itu. Setelahnya aku di suruh kencing sembarangan dengan mengangkat satu kakiku seperti anjing. Perlakuan yang sangat merendahkanku, namun kini aku menyukainya. Bahkan sekarang aku selalu bersemangat dengan apa yang akan mereka lakukan pada diriku selanjutnya. Saat ini di beberapa bagian di tubuhku juga sudah di-piercing dan ditato.
Aku juga sudah kabur dari rumahku. Kejadiannya baru beberapa hari yang lalu. Waktu itu kami shooting film di rumahku, di dalam kamarku!! Aku bahkan mengirim sms pada Robi kalau-kalau dia mau datang melihat aku shooting. Melihat Ve yang dulu dicintainya kini disetubuhi dengan brutalnya beramai-ramai. Menyuruhnya melihat diriku yang sudah benar-benar lacur, yang bersedia menyerahkan tubuhku untuk keuntungan bisnis para pria-pria busuk ini. Tentu saja dia tidak akan datang, dia pasti jijik terhadapku.
“Braaakkk!!!”
“Apa-apaan ini!!??” teriak papaku tiba-tiba muncul, orangtuaku sudah pulang! dan aku sedang digenjot saat ini. Papaku tentu saja langsung masuk dan mencoba menyerang pria yang sedang menggenjotku, tapi para kru menghalangi. Sedangkan Mamaku menjerit histeris melihat anak gadisnya disetubuhi pria berama-ramai begini di kamarku.
“Huahahaha… lihat nih!! Anak gadis lo gue entotin!! Gue hamiliiinnn!!!!” kata penggenjotku tertawa-tawa tanpa peduli teriakan dan makian orangtuaku. Papaku bahkan sampai dipukuli hingga terjatuh oleh pria-pria di sana.
Hatiku sangat teriris melihat ini semua, ingin aku berlari dan memeluk mereka. Tapi ternyata aku tidak berusaha melepaskan diri dari penggenjotku sama sekali. Malah semakin menggoyangkan pinggulku lebih liar dan tersenyum manis pada orang tuaku. Sengaja memperlihatkan bagimana anak gadisnya ini sangat menikmati bagaimana vaginanya diaduk-aduk penis.
Maafkan Ve, Pa, Ma… anakmu sudah jadi pelacur sekarang….
“Ayo, Ve, bilang seseuatu dong sama mereka, hehe.” perintah pria di belakangku.
Aku harus bilang apa? Namun kucoba juga. “Pa.. Ma… liat anak gadismu ini. Ve lagi entot-entotan nih… Anak gadis kalian yang manja dan penurut ini sekarang lagi dikontolin orang, mau dibikin hamil sama mereka. Boleh kan Pa? Ma?” ujarku.
Aku tidak percaya dengan apa yang barusan kukatakan. Sungguh vulgar dan pastinya akan membuat shock mereka. Mereka yang mendengarnya tentu semakin geram karena dipaksa melihat pemandangan ini, tapi aku di sini tetap saja tersenyum. Terus bersetubuh dengan liarnya hingga pria di belakangku muncrat lagi di dalam vaginaku.
Aku tidak ingin lama-lama berada di sana. Bagaimanapun nuraniku tidak akan kuat. Tidak mungkin aku bisa terus menunjukkan wajahku pada mereka dengan diriku yang sudah menjadi seperti ini. Aku pun meminta pria-pria ini untuk segera membawaku pergi dari sana, untung mereka mau mendengarkan.
Sejak saat itu aku meninggalkan semua orang yang pernah kucintai. Pergi menjauh dan berharap tidak pernah bertemu lagi dengan mereka selama-lamanya. Keluarga, teman-teman, dan tentu saja Robi.
Sekarang aku tinggal dengan Pak Bowo dan teman-teman krunya itu. Hidup sebagai budak seks yang boleh diperlakukan seperti apapun. Sekaligus mainan seks penghasil uang bagi mereka. Aku sendiri yang memilih jalan ini dan aku menyukainya.
Hari ini ada shooting film porno lagi, katanya sebuah film orgy. Berarti nanti ceweknya tidak aku sendiri dong, tapi siapa?
“Hai, Ve…” terdengar suara cewek memanggilku. Itu…
“Melody? Shania? Ka-kalian?”

Tamat
Author : Bramloser

Tidak ada komentar:

Posting Komentar