Senin, 08 Agustus 2016

Wanita Lain Ayah 2

Pantas saja Papa tidak mengizinkanku naik taksi sendiri ke rumahnya. Bandara di kota ini terletak agak di luar kota, membuatku menempuh perjalanan (yang terasa) berjam-jam lamanya sambil harus mendengar penjelasan Papa.
“Ini Sudirmannya kota ini,” kata Papa.
Aku memandangi gedung-gedung sederhana di sekitar kami. Sejauh ini aku hanya melihat beberapa gedung besar bertingkat. Beberapa di antaranya kantor pemerintahan. Ada pula toko, bank, dan restoran fast food. Semua itu tak menarik bagiku. Apalagi, udara di kota ini sangatlah panas.
Tetapi melihat Papa yang dengan mata berbinar-binar penuh semangat menunjukkan berbagai tempat kepadaku, rasa haru tak urung meliputi hatiku. Mama benar, kedatanganku amat berarti bagi Papa.
Ngomong-ngomong soal Mama, aku jadi teringat kepadanya. Juga pada apa yang telah kami lakukan selama beberapa tahun ini. Rutinitasku dengan Mama terus berlanjut. Kini tiap malam kami selalu tidur bersama, sambil saling memuaskan nafsu masing-masing. Mama dengan telaten selalu mengurut-urut batang kontolku yang kini sudah jadi bertambah besar. Dan aku tak pernah bosan menyusu kepadanya sambil memasukkan jari-jariku ke liang senggama Mama untuk menghirup aroma cairan kewanitaannya.
Mama kini pun tak malu-malu lagi bertelanjang badan di hadapanku, meski dia lebih sering bersikeras untuk tetap mengenakan celana dalamnya saat kemaluannya kuobok-obok. Tetapi saat sudah asyik, Mama suka lupa dan aku dengan bebas menurunkan celana dalamnya. Tiap malam ranjang kami selalu panas oleh hasrat untuk saling memuaskan.
“Ar, jembut kamu sudah lebat.” ucap Mama saat sedang mengocok-ngocok penisku.
“Iya nih, Mah. Jadi tebal,”
“Dicukur aja. Biar bersih, nggak lengket-lengket kena pejuh. Itu burung kamu juga biar kelihatan lebih gede.”
“Ah, Mama...” Aku tersenyum malu. “Punya Mama juga lebat gitu. Dicukur juga ya, biar Ari nggak susah nyari lubangnya,” candaku.
“Hush... kamu ini, nakal sekali.” Mama memegang hidungku. Uh, tangannya bau kontol. “Ya udah, kita gantian motong. Kamu punya cukuran jenggot, kan?”
“Ada tuh, Mah. Di dalam laci meja belajar.”
Mama menghentikan urutannya dan bangkit ke arah meja. Dia kembali sambil membawa gunting, cukuran jenggot, dan juga sabun di dalam mangkok.
“Kok bawa sabun segala, Mah. Emang buat apaan?”
“Biar licin dan gampang.” Dia duduk di tepi ranjang. “Sini, kamu duluan.”
Aku pun bangkit dan berdiri di hadapan Mama yang sudah mengambil posisi berjongkok. Saat melihat ke bawah, aku sempat tercengang dengan pemandangan yang kulihat. Wajah Mama yang sedang berjongkok tepat berada di depan penisku dan hanya berjarak beberapa centi saja. Ditambah lagi dengan payudara Mama yang terlihat menggantung-gantung indah saat dia bergerak.
“Kress... kress...” Mama mulai mengguntingi bulu kemaluanku yang keriting panjang. Helai-helainya berjatuhan ke lantai kamar, hanya menyisakan bulu-bulu pendek yang nantinya akan dicukur.
“Kontolmu baunya enak, Ar.“ ucap Mama sambil mengusapkan sabun dan air ke kemaluanku.
“Pelan-pelan, Mah. Jangan sampai burungku kepotong,”
“Hahaha, kamu itu, Ar. Mama kan sayang sama burung kamu, masa mau Mama potong sih?” Perlahan dia mulai mencukur sisa-sisa bulu yang ada. Dimulai dari pangkal paha, lalu lanjut ke pangkal batang, sampai ke bagian dasar penisku yang juga ditumbuhi bulu. Kemudian Mama mengelus-elus kantong zakarku.
“Yang disini Mama cukur juga ya, Ar?” tanyanya lirih. Aku hanya bisa mengangguk mengiyakan.
Dia memotong bulu di bagian kantong zakarku, tetap telaten seperti tadi. “Nah, sekarang sudah bersih. Jadi kelihatan lebih gede kan kontol kamu!”
Kupandangi penisku. “Hehehe... iya, Mah. Plontos kayak ayam potong yang dijual di pasar.”
Memang, setelah dicukur, kontolku jadi terlihat lebih menjulang. Apalagi selama mencukur tadi, Mama terus memegangi penisku hingga kini keadaannya jadi sangat ereksi. Mama masih berjongkok disana, merapikan sisa-sisa bulu kemaluanku yang berjatuhan di lantai.
“Mah,” ucapku agak berat.
“Ya, Ar...” jawab Mama tanpa menoleh.
“Hmm, Ari mau minta sesuatu. Boleh nggak?”
“Minta Apa?”
“J-jilat punya Ari dong, Mah.”
“Heh?” Mama langsung menengok ke arahku.
“Iya, Mah. Ari pingin dijilat sama Mama.” jawabku sambil memegangi batang penis, kukocok-kocok pelan di depan mulut Mama.
Mama terdiam sambil menatap mataku dari posisi berjongkoknya. Wajahnya terlihat cantik sekali.
“Please, Mah...” rengekku manja.
“Mama belum pernah, Ar. Kontol Papamu aja tak pernah Mama jilat.” Dia mengaku.
“Ya makanya biar pernah, Mah. Mama sayang kan sama Ari?”
Mama sempat beberapa saat terdiam, lalu perlahan mulai menggerakkan tangannya menyentuh batang penisku. Dia mengenggamnya di bagian pangkal. “Kamu selalu jadi anak kesayangan Mama, Ar.” bisiknya sambil perlahan mendekatkan wajah.
“Ah, terima kasih, Mah.” Aku tersenyum senang melihat Mama yang mulai membuka mulut, lalu perlahan memasukkan kepala penisku ke celah bibirnya yang tipis.
Gigi bawahnya sempat mengenai lubang kencingku, terasa agak sedikit ngilu. Tapi semuanya tergantikan ketika kepala penisku mengenai lidahnya. Terasa hangat, basah dan berlendir. Mama lalu merapatkan kedua bibirnya dan mulai memainkan ujung penisku yang sudah masuk menggunakan lidahnya. Ujung lidah itu terasa menyapu-nyapu lubang kencingku, bahkan sampai ke urat-urat di bawah kepala penis.
“Hmm... enak, Mah. Terus. Ari suka.”
“Hmm... hmm...” hanya itu suara yang keluar dari mulut Mama.
Setelah beberapa saat, Mama mengeluarkan penisku dari mulutnya. Terlihat ada ludahnya yang menyambung dari mulut ke kepala penis. Ludah itu terus tertarik hingga akhirnya putus dan jatuh ke payudara Mama.
“Lagi, Ar?” Dia mengerling menggoda.
“I-iya, Mah. Tapi jangan ujungnya saja, telan sampai masuk semua, Mah.”
“Kalau Mama tersedak, gimana?”
“Ya pelan-pelan aja, Mah.”
Mama kemudian kembali menggenggam batang penisku dan mengarahkan ke rongga mulutnya. Kali ini Mama membuka mulutnya lebih lebar dan melahap. Mulai dari kepala hingga seluruh batang penisku, tenggelam semuanya. Nikmat sekali rasanya. Sesekali Mama mengempotkan kedua pipinya hingga penisku terasa seperti disedot-sedot.
Perlahan-lahan aku pun mulai memaju-mundurkan penisku. Kedua tanganku memegangi kepala Mama dan menggerakannya untuk maju-mundur juga. Walaupun masih sesekali terkena gigi, tapi pengalaman baru ini sungguh terasa begitu nikmat. Aku berusaha memasukkan penisku sedalam mungkin, bahkan hingga hampir mengenai ujung tenggorokan Mama.
“Orgghh... orgghh...” suara itu terdengar dari mulut Mama.
Seketika Mama mendorong pinggulku menjauh dengan kedua tangannya. “Pluup!” kontolku keluar dari mulutnya. Benda yang sudah begitu tegang itu terlihat mengkilap terlapisi oleh air liurnya.
“Kenapa, Mah... kok dikeluarkan?”
“Mama nggak bisa napas, Ar. Kamu sih, pakai dorong-dorong segala!”
“Hehehe... maaf, Mah. Habis, Ari keenakan sih.” Aku cengengesan. “Lagi ya, Mah?” ucapku sambil mengarahkan penis ke mulutnya.
Mama sempat berusaha menghindar sehingga penisku mengenai pipinya. Namun aku terus berusaha menekan-nekan, hingga akhirnya Mama menyerah dan mulai menjilati batang zakarku kembali.
“Hmmm... hmmm...” suara Mama saat jilatannya mulai turun menuju kantong zakarku. Ah, rasanya ngilu tapi enak. Terlebih saat Mama menyedot dan mengulum bijiku dalam-dalam. Kedua-duanya ia jilati, sebelum akhirnya Mama memasukkan penisku kembali di dalam mulutnya. Mengulumnya. Menghisapnya.
“Ahh... aah... Mamaahh...” aku mulai merintih keenakan karena sensasi tersebut. Aku sudah hampir tiba di puncak. Kutekan penisku kuat-kuat dan kurapatkan wajah Mama dengan perutku. Rasanya kepala penisku sudah mencapai tenggorokannya.
“Crooot... Crooot... Crooot...”
Aku ejakulasi di dalam mulut Mama. Rasanya banyak sekali air mani yang kukeluarkan. Kulepas perlahan peganganku di kepala Mama. Penisku masih terasa berkedut-kedut dan Mama masih memainkannnya dengan lidah sambil perlahan mengeluarkan dari dalam mulutnya.
Penisku sudah agak layu saat keluar. Spermaku pun berceceran di mulut Mama dan berlelehan mengenai buah dadanya.
“Pejuhku enak nggak, Mah?” aku bertanya.
“Asin, Ar.” ucap Mama sambil berusaha meludahkan sisa-sisanya.
Mama kemudian pergi ke kamar mandi dan aku mengikutinya dari belakang. Pemandangan yang begitu janggal; saat kami ibu dan anak, berjalan beriringan dengan tubuh sama-sama telanjang. Mama berkumur-kumur sambil membersihkan sisa-sisa spermaku yang menempel di badan montoknya. Aku ikut membasuh penisku yang rasanya sangat lengket.
“Eh, tunggu, Mah. Biar Ari sekalian cukurin dulu jembut Mama.”
“Nggak usah, Ar. Besok-besok aja.”
“Ah, masa punya Ari sudah botak, punya Mama tidak?” jawabku sambil berjalan ke kamar untuk mengambil gunting dan alat cukur. Saat aku kembali, Mama hanya berdiri saja di depan cermin kamar mandi. “Sini, Mah. Duduk selonjoran di ubin aja biar gampang nyukurnya.”
Dengan agak ragu, Mama mengikuti saranku.
“Lepas celananya, Mah.” aku meminta.
Perlahan Mama menurunkan celana dalamnya. Kulihat vaginanya sudah agak basah. Dia duduk bersimpuh di lantai kamar mandi, cantik sekali. “Jangan potong semua, Ar. Mama geli kalau dicukur habis.”
Aku mengangguk. “Duduknya jangan begitu, Mah. Buka sedikit pahanya.”
“Begini?” Mama mengambil posisi mengangkang.
Ah, untung saja aku sudah orgasme tadi. Kalau tidak, mungkin aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menyetubuhinya saat ini juga. Bayangkan saja; ibuku yang cantik jelita, duduk pasrah bersandar di tembok dengan membuka kaki lebar-lebar. Tubuhnya telanjang, sepenuhnya memperlihatkan celah selangkangannya yang mungil dan berjembut lebat kepadaku. Belum lagi kedua bongkahan payudaranya, yang bergerak indah naik turun seiring dengan desah napasnya. Ah, sungguh pemandangan yang begitu sempurna.
“Agak lebar sedikit, Mah,” aku meminta.
Mama melebarkan jarak kedua kakinya hingga kini aku bisa mengambil posisi diantara kedua pahanya yang putih mulus. Aku pun mulai mengguntingi bulu kemaluan Mama dengan gunting.
Kres... Kress...
Sekarang vagina Mama sudah hampir botak, tinggal tersisa bulu-bulu pendek yang tidak bisa dipotong dengan menggunakan gunting. Bibir vagina Mama jadi terlihat jelas. Lipatannya sudah agak keluar dan berwarna coklat gelap. Diantaranya aku bisa melihat sedikit klitoris Mama yang agak menyembul keluar. Dan sepertinya ada cairan-cairan yang mulai membasahi liang vaginanya.
“Ari cukur ya, Mah?” ucapku sambil membasahi vaginanya menggunakan air dan sabun, lalu kukerok habis sisa-sisa bulu itu. Aku mengikisnya sampai ke bagian paling bawah karena kulihat masih ada bulu-bulu halus yang tumbuh disana.
“Mah, angkat sedikit pahanya.”
Mama melakukannya. Tapi karena agak sedikit kesulitan, dia akhirnya membaringkan badan di lantai kamar mandi, kemudian mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi. Kini bukan hanya liang vagina yang bisa kulihat, bahkan lubang anus Mama juga bisa kusaksikan. Lubang mungil itu juga ditumbuhi bulu-bulu halus, terlihat sangat kecil dan rapat. Aku pun mengeroknya.
“Kok disini ada bulunya juga, Mah?” aku bertanya.
“Mama nggak tahu, Ar.”
Saat mencukur area tersebut. Aku iseng menyentuh lubang anus Mama dengan ujung jari telunjuk.
“Ar!” ucap Mama keras. “Jangan pegang itu. Jorok ah,” lanjutnya.
“Iya, Mah. Ari cuma iseng kok. Nah, sekarang sudah bersih semua.”
Mama kembali mengambil posisi duduk, tapi kedua pahanya tetap terkangkang lebar.
“Mah, mau gantian?”
“Gantian apa?”
“Ya Ari ganti jilat-jilat punya Mama, hehehe.”
“Kamu itu, Ar. Aneh-aneh aja yang diminta.”
“Please, Mah.”
“Memangnya kamu nggak jijik?”
Aku menggeleng. Lalu tanpa menunggu jawaban darinya, aku langsung merapatkan wajah ke vagina Mama. Kuendus aromanya sebentar sebelum kurapatkan hidungku persis di depan liang senggama itu. Kujulurkan lidah untuk menyapu sedikit, kurasakan ada lendir-lendir yang mulai membasahi.
“Ughh... Ariii,” Mama memegangi kepalaku, tapi tidak melarang. Sepertinya dia juga menikmati.
Maka lidahku terus kumainkan. Dengan kedua tangan, kucoba untuk membuka lebih lebar lubang vagina Mama. Kulihat bagian dalamnya berwarna pink gelap dengan klitoris yang sudah menegang. Kumasukkan lidahku dalam-dalam kesana sambil sesekali memainkan klitoris Mama dengan jari-jariku. Lalu kucoba menggigit pelan ujung klitoris itu.
“Aaaah... Ariii... aaaaah!” Mama mengacak-acak rambutku. Matanya terpejam. Badannya meliuk-liuk di lantai, persis seperti cacing yang sedang dikasih garam.
Sambil terus menjilat klitoris, aku perlahan memasukkan jari tengah dan jari telunjuk. Mulai kukocok vagina Mama maju-mundur. Mama semakin bergerak tak beraturan. Tangannya terasa terus menjambak-jambak rambutku.
“Aaaaah... aaaah... Ariii...”
Sepertinya Mama sudah hampir orgasme. Tanpa pikir panjang, kucoba menekan lubang anus Mama dengan jariku yang lain. Rasanya begitu rapat dan sulit untuk ditembus. Kubasahi dulu jariku dengan cairan yang keluar dari vagina Mama, lalu kucoba untuk memasukkannya lagi.
“Ar... jangan disitu!”
Perkataan itu tak kuhiraukan. Kutekan jariku makin keras hingga kini lubang anus Mama mulai terbuka. Kudorong terus hingga setengah jari telunjukku tenggelam di dalam. Tubuh Mama makin meliuk-liuk. Kupercepat jilatan dan kocokan jari-jariku di liang vaginanya, juga di lubang anusnya secara sekaligus. Kulihat Mama membuka sedikit mata, tapi hanya bagian putihnya saja yang kelihatan. Seperti dia sudah hampir memuncak.
Setelah beberapa saat, akhirnya currr... currr... kurasakan ada semprotan kecil dari dalam liang vaginanya yang mengenai jariku. Tubuh Mama kejang-kejang. Tangannya merapatkan wajahku dengan vaginanya sehingga cairan tersebut sedikit mengenai mulutku.
“Ehh... ehh... ehh...” Mama bernapas pendek-pendek.
Setelah orgasmenya berlalu, dia melepaskan genggaman tangannya. Kuangkat kepalaku dari liang vaginanya. Mama tertidur di lantai kamar mandi sambil badannya masih sesekali mengejang. Kuperhatikan vaginanya yang kini jadi sangat basah. Mama pipis, dia mengeluarkan air kencing perlahan yang berceceran di lantai kamar mandi.
“Enak, Ar. Tapi lemas,”
“Mau lagi, Mah?” candaku.
“Kamu memang nakal, Ar.” Dia tersenyum. “Mama kamu bikin begini. Tuh, Mama ngompol deh jadinya.”
Kuambil gayung lalu kusiramkan air ke vagina Mama. Perlahan dia kuceboki sambil berusaha menggelitiki lagi vaginanya dengan jari-jariku.
“Sudah, Ar. Mama sudah lemas sekali.” Dia menolak rangsanganku.
“Hehehe... ya udah, Mah. Ayo balik ke kamar.”
Kuangkat badan Mama dan kubopong dia keluar dari kamar mandi. Mama melingkarkan tangannnya di leherku. Payudaranya tepat berada di dadaku. Empuk, hangat, lembut sekali. Berangkulan kami berjalan dengan tubuh masih sama-sama telanjang. Masuk ke kamar, perlahan kuturunkan tubuh Mama di atas ranjang. Lalu aku elap-elap tubuhnya yang masih basah dengan handuk. Setelah itu aku berbaring di sampingnya.
“Makasih ya, Ar.” ucap Mama pelan.
“Iya, Mah. Ari juga.” bisikku sambil kumiringkan badan ke arahnya dan memeluk tubuhnya dengan satu tangan.
Mama terlihat sangat lelah. Aku pun jadi tidak tega mau menyusu lagi kepadanya. Penisku sempat kembali tegang melihat badan Mama yang tak tertutup sehelai benang pun, tapi mataku rasanya sudah begitu berat. Maka hanya kurapatkan penisku ke paha Mama. Untung akhirnya turun juga ereksinya.
Malam itu kami tertidur saling berpelukan dalam keadaan telanjang hingga pagi datang menjelang.

***

Rumah Papa ternyata sempit dan mungil, meski bersih dan tidak dapat dikatakan jelek, Satu-satunya yang membuatku senang, kamarku ada di atas. Aku tidak pernah tinggal di rumah bertingkat.
Tante-Yang-Tak-Akan-Kusebut-Namanya rupanya telah berusaha keras. Kamarku ditatanya dengan menarik. Perabotnya memang tidak sekeren kamar tidurku di rumah Mama yang tahun lalu telah kurombak habis-habisan dengan seluruh uang hadiah ulang tahunku.
Tante-Yang-Namanya-Tak-Akan-Kusebut ini menyambutku dengan ramah. Aku bisa melihat, dia agak gugup. Sikapnya mengingatkan diriku sendiri ketika berkunjung ke rumah Adit pertama kali. Bedanya, tante yang satu ini bukannya jadi gagap atau apa, tapi jadi ramah luar biasa.
Aku cepat-cepat permisi ke kamar tanpa peduli pada makan siang yang sudah disiapkan di atas meja. Meski aku sebetulnya ingin juga melongok isi meja makan itu. Ikan di daerah sini tentu lebih segar daripada yang sehari-hari kumakan di rumah.
“Ari?”
Nah! Sekarang dia melongokkan kepalanya di balik pintu. Aku sudah menduga dia pasti akan muncul untuk mencoba berbaik-baik denganku. Kasihan dia, sebab usahanya tak akan berhasil.
“Kamu mau mandi dulu? Gatal-gatal ya, nggak enak?”
Dia kelihatan prihatin. Aku jadi kesal, dia pasti tahu aku alergi debu. Apa lagi yang diceritakan ayahku kepadanya? Bahwa aku berpenyakitan? Bahwa aku tak bisa berlama-lama di bawah terik matahari? Bahwa aku bisa batuk-batuk di ruangan ber-AC?
“Tante bikinkan air panas ya?” tawarnya.
Bodoh amat. Panas-panas begini mandi air hangat? Kalau terus-terusan begini bisa bau badanku. Kudenguskan hidungku dan pura-pura sibuk membongkar koper.
“Ari?” Dia mengeraskan suara. Matanya membesar, tanda sakit hati.
Ayolah Ari, jangan sejahat itu, bisikku dalam hati. Dia sudah berusaha keras berbaik-baik denganmu. Tidak ada salahnya sedikit menjawab pertanyaannya. “Tak perlu, Tante,” kataku dengan suara rendah. Mencoba meredam nada tak enak yang tidak dapat kusembunyikan.
“Kalau perlu apa-apa bilang saja, ya? Tante sudah siapkan handuk dan yang lain-lain di kamar mandi.” Suaranya agak bergetar. Dia menutup pintu kamarku sepelan mungkin.
Aku jadi merasa tidak enak. Mengapa aku sejahat ini? Bukankah biasanya aku tidak suka menyakiti hati orang. Tapi ini lain, kuingatkan diriku sendiri. Apakah Tante-YangTak-Akan-Kusebut-Namanya itu pernah memikirkan perasaan Mama saat dia mulai berselingkuh dengan Papa?
Aku ingat sekali saat memergoki mereka untuk yang pertama kali. Saat itu aku pulang sekolah lebih awal. Sampai di depan rumah, kulihat pintunya sedikit terbuka. Ah, apa Mama sudah pulang ya? Baguslah, aku memang sudah lapar dan ingin segera makan. Kudorong perlahan pintu tersebut dan masuk ke dalam rumah.
Kudengar ada suara berisik-berisik dari kamar Mama. Aku langsung melangkah berjinjit, berjalan perlahan-lahan mendekati. Semakin dekat, sepertinya suara itu sangat familiar. Aku berdiri di depan kamar Mama. Kebetulan ada celah yang cukup untuk mengintip ke dalam. Saat aku melihat melalui celah tersebut, aku hampir saja ingin berteriak. Pemandangan yang kulihat membuat mataku terbelalak.
Ternyata bukan Mama yang pulang duluan, tapi Papa!
Disana kulihat Papa dan seorang wanita yang tidak kukenal—yang jelas itu bukan Mama karena potongan rambutnya berbeda, sedang bersama di atas ranjang. Wanita itu hanya memakai handuk yang dililitkan di perut sampai sebatas paha. Mempertontonkan buah dadanya yang masih padat dan menggantung indah. Posisi wanita itu sedang duduk bersimpuh di perut Papa yang sedang berbaring dan tidak memakai pakaian sama sekali. Tubuh Papa yang kulitnya agak hitam dan dadanya yang penuh bulu terlihat sangat berkeringat. Terlebih batang zakarnya yang sudah ereksi, nampak tegak di antara kedua pahanya yang posisinya dipunggungi oleh si perempuan asing.
Wanita itu menurunkan badan hingga payudaranya tepat berada di atas wajah Papa yang dengan cepat langsung melahap dengan buas. Papa terlihat sangat bernafsu menyedot-nyedot susu yang keluar dari dada wanita cantik itu.
“Bangsat! Papa sering mengejek aku bayi besar karena masih netek sama Mama. Tapi ternyata dia sendiri juga suka.” gumamku dalam hati.
Sebenarnya aku ingin masuk lalu melabrak mereka berdua. Aku sangat marah ternyata Papa berselingkuh di belakang Mama. Tapi aku tidak berani bergerak dari tempatku. Selain karena takut berkelahi dengan Papa, toh aku pun juga melakukan perbuatan serupa bersama Mama, meski tidak pernah lebih dari itu. Akhirnya kuputuskan untuk melanjutkan melihat perbuatan mereka dari tempat mengintipku sekarang.
Papa terus melahap payudara wanita itu dengan begitu nikmatnya. Si selingkuhan terlihat sangat menikmatinya juga, itu kulihat dari matanya yang sesekali terpejam dan suaranya yang merintih manja.
“Ah... Mas, pelan-pelan neteknya.”
“Haaah... Iya, Sayang.” ucap Papa sambil terus menyedot puting payudara wanita itu yang coklat kehitaman.
Papa lalu memeluknya, menggulingkan tubuh perempuan itu hingga posisi mereka kini berbaring saling menyamping. Suara derit besi penyangga ranjang terdengar sangat keras saat badan semok wanita itu dijatuhkan ke kasur.
“Sayang, kocok kontolku pakai tetek dong!” ucap Papa.
 “Ya udah, sini.”
Papa segera mengambil posisi duduk di atas tubuh wanita itu. Penisnya yang besar dan panjang diarahkan ke celah diantara kedua payudara selingkuhannya. Kontol yang warnanya kehitaman tersebut terlihat sangat tegang, dari jauh pun bisa kulihat urat-uratnya yang menonjol kaku. Wanita itu lalu menjepit penis Papa dengan kedua payudaranya dan mulai melakukan gerakan mengocok. Papa membantu dengan meludahi penisnya yang sedang dijepit dada kekasihnya beberapa kali hingga dada wanita itu terlihat licin dan basah.
“Cloot... cloot... cloot...” Terdengar suara kontol Papa yang dikocok memakai payudara.
“Enak, Mas?”
“Ughhh... enak sekali, Sayang. Istriku tak pernah mau kalo kusuruh begini.”
“Ya udah... kan kamu bisa dapet dari aku sekarang.”
Aku hanya bisa terbengong-bengong melihatnya. Antara marah tetapi juga perlahan birahiku beranjak naik. Aku belum pernah melakukan hal yang seperti itu dengan Mama.
 Tiba-tiba badan Papa bergetar-getar. “Croot... croot...” Sambil mendesah, dia mengeluarkan air maninya di jepitan dada perempuan itu. Dia lalu mengangkat penisnya dan menumpahkan sisa air maninya di wajah wanita itu.
Wanita itu memejamkan matanya, menerima semua pejuh Papa, sebelum kemudian mengelap air mani yang jatuh di wajah cantiknya dengan tangan. “Uh... kamu, Mas... nakal deh. Pejunya dikeluarin di mukaku.”
“Hehehe... tapi kamu suka kan?” Papa tertawa.
Wanita itu mengangguk dan menjilati air mani yang ada di jari-jarinya, lalu menelannya. Ya Tuhan... aku bergidik melihatnya, tapi juga iri karena Mama tak pernah menelan spermaku seperti itu.
Papa lalu menjatuhkan badannya di samping perempuan itu. Sepertinya dia sudah lemas. “Kalau punyaku sama punya mantan suami kamu, lebih gede mana?” tanya Papa.
“Agak besar punya Mas dikit.” jawab wanita itu, lalu ganti bertanya. “Ngomong-ngomong, kenapa sih Mas selingkuh?”
“Aku kesel, Rin. Istriku tak pernah mau kalau kuajak begituan. Alasannya lagi capek lah. Lagi sibuk lah. Aku kan jadi mupeng sendiri.”
“Hehe... Mas ini. Istri Mas kan memang kerja, jadi wajarlah kalau dia capek.”
“Ya, tapi aku kan juga butuh begituan, Rin. Masa tiap malam aku ngocok sendiri, padahal sudah punya istri.”
“Ya, makanya Mas jangan keseringan minta jatahnya. Istri Mas butuh istirahat juga.”
“Tapi sama kamu, aku bisa dapat jatah tiap hari. Kenapa dia tak bisa seperti kamu, Rin, padahal kalian sama-sama kerja?”
“Yah, aku mana tahu.” Wanita itu tertawa. “Memang Mas sudah berapa lama tidak dikasih jatah?”
“Sudah dua minggu, Rin.”
“Huh, dasar Mas ini... baru juga dua minggu, tapi sudah seperti orang kesetanan. Ya udah, sini. Rini kuras semua pejuhnya.” Sambil mengobrol, tangan wanita itu tidak berhenti memainkan penis Papa. Kocokannya membuat penis Papa yang sudah agak melemas jadi ereksi kembali.
“Rin, bosen dikocokin melulu. Boleh yah kumasukkan ke punya kamu? Sudah pengen sekali nih.”
“Hust, Mas ini! Kan dari dulu Rini sudah bilang, memekku ini khusus buat suami aku.”
“Tapi, Rin... aku sudah pernah menghisap dan menjilati memek kamu, tanggung nih...”
“Iya, Rini tahu. Makanya cepat ceraikan istri Mas dan nikahi aku. Kalau sudah resmi, Mas boleh merasakannya.”
“Memang kamu nggak pengen, Rin? Kan sudah lama kamu hidup sendirian.”
“Ya nafsu sih ada, Mas. Apalagi lihat burung Mas yang gede ini. Tapi Rini tak mau kalau sampai begituan. Mending yang lain aja, yang penting pejuh Mas keluar.”
Papa hanya terdiam.
“Rini sayang sama Mas. Rini pengen bikin Mas senang. Tapi tolong ya, jangan pernah Mas mikir mau begituan sebelum kita menikah.” lanjut wanita itu sambil mengusap lembut wajah Papa.
“I-iya deh, Rin. Maafkan aku ya?”
“Tidak apa-apa, Mas. Rini maklum kok. Ya udah, sekarang mau diapakan nih si otong. Udah keras lagi nih.” ucap wanita itu sambil meremas pelan kontol Papa.
“Digesek-gesek pakai pantat kamu aja, Rin. Tapi aku sambil tiduran, kamu yang duduk.”
“Baiklah, terserah Mas aja.”
Wanita itu lalu menurunkan kain yang melilitnya perutnya. Kain itu jatuh ke atas ranjang, menampakkan bagian kemaluannya yang tidak memakai celana dalam. Dia kemudian naik ke perut Papa dan menduduki kontol Papa hingga terhimpit di celah pantatnya. Berikutnya, wanita itu mulai melakukan gerakan maju mundur hingga penis Papa tergesek-gesek dengan pantat dan lubang kemaluannya.
“Aaaah... Rin... enak, Rin...”
Aku bisa melihat bibir memek perempuan itu agak terbuka karena tergesek-gesek batang zakar Papa. Cairan pelumas pun mulai keluar dari dalam sana. Gerakan pantat wanita itu yang maju-mundur di atas tubuh Papa turut membuat nafsuku naik. Tak tahan, akhirnya kuturunkan celana dan mulai kukocok penisku sendiri.
Wanita itu lalu menurunkan badannya dan menyedot-nyedot puting Papa. Papa dibuat merem-melek karenanya. Sambil tetap memainkan pinggulnya, wanita itu menjilat, mengulum dan menggigit-gigit kecil puting di dada Papa yang dipenuhi bulu.
Papa memegang kedua belah bongkah pantat wanita itu, ikut memaju-mundurkannya dengan cepat. Meski hanya digesek-gesek dengan batang zakar, sepertinya wanita itu juga merasakan kenikmatan darinya. Mereka terlihat sangat asyik dengan persentuhan kelamin mereka. Aku pun juga jadi mempercepat kocokan penisku.
“Rin, aku sudah mau keluar...” rintih Papa.
“Keluarkan saja, Mas... Rini juga sudah mau keluar.”
Crooot... Croot... Croot... akhirnya air mani Papa berhamburan dan muncrat di perutnya sendiri. Sementara wanita cantik yang tidak kukenal itu terus melanjutkan gesekannya.
“Rini belum keluar nih, Mas... aku lanjutkan ya?” desahnya.
“Iya.” Papa menjawab lirih.
Wanita itu terus melanjutkan menggesekkan vagina dan pantatnya di atas kontol Papa yang sudah mulai layu. Papa kemudian menggerakkan tangannya meremas-remas payudara wanita itu dan memelintir-lintir putingnya yang berwarna coklat kemerahan.
“Ah... enak, Mas... Enak...”
Papa lalu melepaskan satu tangannya dari payudara wanita itu dan ganti meremas-remas pantat. Kemudian dia memasukkan satu jarinya ke lubang anus wanita itu dan lalu menggerakkannya maju-mundur. Sepertinya wanita itu sangat sensitif dengan rangsangan di area anusnya. Matanya langsung agak terpejam hingga hanya bagian putihnya saja yang terlihat. Papa memasukkan lagi satu jarinya ke anus wanita itu dan mempercepat kocokannya.
“Aaaaah... haaaaah... aaah...” desah selingkuhannya.
Badan wanita itu mengejang-ngejang sambil pantatnya melayang naik-turun. Badannya langsung lemas dan jatuh menimpa tubuh Papa. Dia memeluk tubuh Papa sambil masih bergetar-getar keenakan.
“Mas hebat... Rini enak banget keluarnya tadi.”
“Hehehe... iya, terasa cairanmu banyak sekali tadi. Nih, netes di perutku.”
“Ughh... jadi capek. Udahan dulu ya, Mas?”
“Eh, jangan dulu dong. Mumpung istriku masih lama pulangnya, Aku masih pengen keluar sekali lagi. Habis tadi kamu gosok-gosok terus sih.” ucap Papa sambil memainkan penisnya yang kembali ereksi.
Sepertinya Papa masih belum puas. Baguslah. Aku juga masih belum selesai mengocok-ngocok penisku. Belum sampai puncak.
“Duh, tapi pinggangku sudah pegal sekali ini, Mas.”
“Ya udah, dijepit pakai tetek kamu aja.” ucap Papa sambil berdiri di atas ranjang dan berusaha membangunkan tubuh perempuan itu. Si wanita mengambil posisi duduk bersimpuh di depan tubuh Papa.
Papa lalu menyelipkan penisnya di belahan payudara yang terlihat mengkal menggoda itu dan mulai memaju-mundurkannya. Dari posisiku mengintip, dengan jelas aku dapat melihat bagaimana penis Papa yang muncul lalu tenggelam di ketiak perempuan itu. Si wanita pun tak tinggal diam, dia membantu dengan meremas-remas kantong zakar Papa.
Aku yang melihatnya jadi terbawa nafsu. Kupercepat kocokan di penisku. Saat hampir ejakulasi, kuremas ujung kepala penisku dengan telapak tangan, dan...
“Cruut... Cruut...” Air maniku tidak muncrat jauh karena tertutup telapak tangan, hanya sedikit berceceran saja di lantai.
Papa pun sepertinya sudah hampir sampai. Dia memajukan penisnya dengan cepat di payudara wanita itu, lalu... “Crooot... Crooot...”
Air maninya muncrat di leher dan dada selingkuhannya, membuat tubuh wanita itu jadi terlihat sangat lengket.Papa lalu langsung terduduk seolah kakinya tidak mampu menopang beban tubuhnya. Sepertinya dia sangat lemas karena tiga kali ejakulasi tadi.
“Sudah puas, Mas?” si wanita bertanya.
“Sudah, Rin. Aku sampai lemas begini.” ucap Papa sambil membaringkan tubuhnya.
“Ya sudah. Aku mandi dulu ya, lalu pulang. Takut istri Mas tiba-tiba datang.”
Mendengarnya, aku pun langsung menaikkan celana dan pelan-pelan berjalan masuk ke dalam kamar. Bahaya jika aku tetap di sana, bisa ketahuan kalau aku mengintip mereka. Perasaanku jadi campur aduk. Kesal, marah, iri, tapi juga bernafsu karena melihat perbuatan Papa dan selingkuhannya.
Aku jadi kepikiran, beranikah aku meminta yang seperti itu kepada Mama?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar