Senin, 29 Agustus 2016

Zanzonet

"Jenderal akan menemuimu sekarang,” kata si ajudan.
Zanzonet memasuki ruangan besar.
"Situasi kita sangat mengkhawatirkan, Zanzonet." kata Pemimpin Tertinggi. "Waktu kita hampir habis dan kita harus bertindak cepat. Kita harus mengambil alih planet bumi sebelum kita sendiri kehabisan sumber daya.  Waktunya adalah sekarang. Kamu harus pergi ke Bumi dan menuntaskan misi kita. Kau lah prajurit terbesar dan paling berani yang pernah ada. Kau harus membunuh pahlawan pelindung mereka sebelum kita dapat menyerang. Namanya Supergirl.
”Intelijen kita melaporkan bahwa kamu bisa mengalahkannya dalam pertempuran satu lawan satu. Tapi dengan syarat, kamu harus melukainya lebih dulu. Setelah itu, baru kau bisa membunuhnya. Untuk mewujudkan hal itu, aku sudah menyediakan senjata baru, sebuah Sinar Kilat extra besar yang terbuat dari ekstrak batu Krypton. Itu akan menyilaukan pandangannya untuk sesaat dan melemahkannya. Saat itulah kau bisa menyerangnya.

”Tapi senjata itu punya kelemahan, dibutuhkan waktu satu menit untuk mengisi ulang tenaganya sebelum kau bisa menggunakannya lagi. Tapi aku yakin, untuk seorang prajurit terlatih sepertimu, itu tidak akan ada masalah, kau akan berhasil di serangan yang pertama. Aku juga menyediakan perangkat dari bahan sintetis untuk menahan Supergirl ketika kau sudah membutakannya. Kurung dia lalu bunuh.
”Yang perlu kau ingat adalah, Supergirl punya teman, namanya Wonder Woman. Meski kemampuannya juga luar biasa, tapi dia relatif mudah dikalahkan. Cukup ikat dia dengan lasonya, maka Wonder Woman akan menjadi milikmu, sepenuhnya.
“Ini, ambil. Bawa juga beberapa senjata yang sudah sering kau gunakan di medan perang, siapa tahu bisa membantu. Ada pertanyaan?”
 "Tidak, Yang Mulia." jawab Zanzonet. "Saya mengerti semuanya. Saya sudah berlatih keras untuk misi ini. Saya pasti akan berhasil!"
"Baik! Sekarang untuk rincian akhir. Kamu harus meniru bentuk makhluk Bumi. Aku lebih memilih kamu berubah jadi perempuan. Ini akan lebih menguntungkan. Sebentar lagi akan kutunjukkan beberapa contoh perempuan yang kuambil dari siaran teve di Bumi, pilih salah satu. Nanti setelah tiba di Bumi, pasang bom dengan timer di beberapa bangunan yang penting, aku sarankan sebuah sekolah atau rumah sakit. Lalu hubungi media lokal, katakan kepada mereka bahwa sebuah bom akan meledak tidak lama lagi. Dan bom berikutnya akan meledak jika Supergirl tidak muncul menemuimu dalam waktu setengah jam.  Apakah semuanya jelas?"
"Ya, Yang Mulia." Zanzonet menjawab.
Mereka lalu berbalik untuk melihat siaran teve dari Bumi. Pada layar monitor,  terlihat pertandingan voli pantai. Seorang gadis Latin dengan tinggi 6 kaki 2 inci tengah men-smash bola. Rambut coklatnya yang panjang diikat ekor kuda ke belakang. Payudaranya yang besar bergoyang indah saat ia menjejakkan kaki ke tanah. Benar-benar sosok yang sempurna dan menakjubkan. Zanzonet menyukainya.
"Bekukan itu yang satu itu!" Zanzonet berteriak. "Aku akan mengambil bentuknya."
Teknisi menekan beberapa tombol dan dalam beberapa detik, Zanzonet secara menakjubkan berubah bentuk menjadi pemain bola voli di layar teve. Wajah, rambut, warna kulit, bentuk tubuh, bahkan bajunya pun juga sama. Mereka sukar untuk dibedakan. 
"Luar biasa," Zanzonet mengagumi dirinya sendiri  saat berkaca pada cermin.
"Semoga berhasil, Zanzonet." kata pemimpin tertinggi. "Kelangsungan hidup kita sangat tergantung pada kesuksesanmu."
"Saya tidak akan mengecewakan Anda." kata Zanzonet saat ia melangkah ke dalam mesin transporter.
Detik berikutnya, ia sudah berada di Bumi. Zanzonet merasa aneh berada di dalam  tubuh manusianya. Ia merasa tidak nyaman. Diperhatikannya pantulan dirinya di cermin. Tubuhnya terlihat janggal, tapi juga sangat menarik. Zanzonet penasaran dengan tonjolan kembar yang menggantung besar di  dadanya. Dia bertanya-tanya, untuk apa benda itu? Pelan, Zanzonet merabanya dan langsung gemetar begitu merasakan sensasi nikmat dan nyaman yang mengalir deras melalui tubuhnya. Dia terkejut melihat putingnya menjadi keras. Saat ia meneruskan membelai payudaranya, Zanzonet mulai merasa kelembaban mengembang di antara kedua kakinya. Dia merasa keinginan yang tak bisa dijelaskan menyentuh daerah…
Tidak! Hentikan! Zanzonet segera menyudahi aksinya. Dia memiliki misi untuk diselesaikan, tidak ada waktu untuk ini sekarang. Dia adalah prajurit terbesar di planetnya. Dia telah berlatih untuk misi selama bertahun-tahun. Dia harus fokus. Bunuh Supergirl!
Zanzonet sering membayangkan Supergirl sebagai setan di pikirannya sebagai bagian dari pelatihannya, sehingga dia sekarang memiliki kebencian yang mengakar dan naluriah yang mendalam untuk membunuh pahlawan satu itu. Ini akan menjadi pertempuran akhir dan Supergirl tidak akan diberinya kesempatan untuk berdiri kembali.
Zanzonet segera mempelajari peta kota sehingga mendapatkan gambaran lingkungan sekitarnya. Tidak ada masalah yang berarti, dengan cepat dia menaruh bom-bomnya, dan kembali ke rumah yang sudah disediakan oleh sang jenderal untuknya, dan mulai membuat panggilan: "Dengarkan baik-baik. Sebuah bom akan meledak di depan kantor walikota tepat dua menit lagi."
"Tunggu sebentar," kata suara di sisi seberang, menyuruhnya menunggu. Orang itu berteriak ke editornya, "Hei, ada wanita gila pada saluranku yang mengatakan bahwa bom akan meledak di depan kantor walikota dalam dua menit. Aku tidak tahu apakah dia serius atau tidak, tapi sebaiknya kita tetap menghubungi Supergirl."
Lalu pria itu kembali pada Zanzonet, "Maaf telah membuat Anda menunggu. Apa yang kau katakan tadi?"
"Dengarkan aku idiot sialan," teriak Zanzonet. "Sebuah bom akan meledak dalam 1 menit, dan aku akan terus meledakkan bangunan di seluruh kota kecuali kau memanggil Supergirl ke kantormu dalam setengah jam lagi. Nanti akan kuhubungi lagi.”
Klik! Telepon ditutup. Zanzonet tersenyum dingin, rencana cukup lancar sampai sejauh ini.

***

Supergirl sedang terbang di atas kota ketika ia mendengar dering akrab di telinganya. Itu adalah nada bahaya dari system darurat yang memungkinkan penegak hukum dan orang-orang penting lainnya di kota untuk memberitahunya secara langsung bila ada bencana atau bahaya yang mengancam kota.
"Supergirl, ini adalah Walikota. Kami memiliki laporan sebuah bom akan meledak di kantorku. Tolong periksa. Dan masih ada lagi, datanglah ke kantor berita begitu kau selesai.”
Supergirl bergegas ke kantor walikota, dia memutarinya dan dengan cepat menemukan bomnya.  Terbang dengan kecepatan super, dia meraup bom itu dan membawanya melambung ke angkasa dimana benda itu meledak beberapa detik kemudian. Bencana baru saja bisa dicegah.
Dua menit kemudian, Supergirl duduk di kantor media lokal dan menerima penjelasan tentang ancaman Zanzonet. Mereka menunggu wanita itu menelepon kembali. Tak lama, panggilan tiba. "Supergirl, temui aku dalam satu jam di 1167 highway 67 atau aku akan meledakkan separuh kota..."
Supergirl menerobos langit-langit sebelum Zanzonet menyelesaikan kalimatnya. Dia bertekad untuk mengakhiri ini dengan cepat.
Zanzonet tampak tertegun. Supergirl mendarat di depannya, bahkan saat dia belum meletakkan teleponnya. Pahlawan itu masuk menerobos rumahnya dengan sepenuh kekuatannya. Dia menatap dingin pada Zanzonet. Aneh rasanya melihat seorang penjahat yang cuma mengenakan bikini dan sepatu kets. Tidak sesuai dengan perkiraannya semula.
"Seperti yang kau lihat, orang asing, aku disini, memenuhi panggilanmu." Supergirl berkata penuh percaya diri.
"Ya, aku tidak menyangka kau akan muncul begitu cepat," Zanzonet menjawab. "kau menerobos pintu rumahku, dan membuat kekacauan disini."
Supergirl tidak tertarik pada jawaban Zanzonet. "Bom-mu akan membunuh ratusan orang seandainya aku tidak datang tepat waktu. Kau terang-terangan mengabaikan kehidupan manusia, itu membuatku marah! Kau tahu, kau gila! Akan kupastikan kau dikurung untuk waktu yang sangat sangat lama. Ayo, kau ikut denganku!"
"Aku tidak BERPIKIR begitu, Supergirl! Izinkan aku untuk memperkenalkan diriku. Aku Zanzonet, dan aku datang ke sini untuk membunuhmu!"
Supergirl mengangkat tangannya untuk menutupi mulutnya yang terbuka, pura-pura menguap. "Yeah, tentu saja. AKU BENAR-BENAR KETAKUTAN!"
Zanzonet bergegas menyerang. Supergirl mengundurkan diri ke samping dan meraih bikini atas dan bawah Zanzonet dan melemparkan perempuan itu ke dinding di seberang ruangan. Zanzonet mendarat dengan keras. Tapi dia segera bangkit kembali, sedikit mengejutkan Supergirl. Zanzonet kembali menyerang. Supergirl mengulang lagi manuvernya, hanya saja kali ini dia melemparkan Zanzonet dengan kekuatan lebih.
Tapi Zanzonet tetap bangkit dan kembali menghadapi Supergirl yang tambah terkejut. "Ternyata kau tidak begitu kuat, Superbitch! Aku tidak takut padamu!" geramnya.
Supergirl tak percaya. "SUPERBITCH? Kau berani memanggilku SUPERBITCH?! Aku harus mengajarkan sopan santun kepadamu!" Dia berjalan marah ke arah Zanzonet dan menampar wajah perempuan itu.
Zanzonet terlempar sepuluh meter ke samping. Supergirl memburunya dan  mengangkatnya dari tanah dan menamparnya lagi. Zanzonet terlempar lagi, lebih jauh. "Tidak begitu kuat, heh? Superbitch?! Kau telah membuat kesalahan besar telah membuatku marah!”
Diangkatnya Zanzonet dari lantai, lalu ditinjunya kuat-kuat wajah perempuan itu. Supergirl sedikit menahan tenaganya, tidak ingin membunuh bajingan itu cepat-cepat. Tapi itu sudah cukup untuk membuat Zanzonet melayang dan mendarat keras di reruntuhan tembok.
Gemetaran, Zanzonet berusaha untuk menegakkan tubuhnya. Dia terlihat bingung, tapi sebenarnya dia sedang mengamati Supergirl. Dari tadi dia terpesona pada tonjolan buah dada Supergirl yang cukup besar. Baju Supergirl yang ketat membingkai payudara itu dengan begitu sempurna. Terlihat indah di balik logo “S”-nya. Zanzonet memperhatikan bahwa benda itu tampak lebih besar dan lebih bulat dari punyanya sendiri. Dia juga memperhatikan dua bulatan mungil yang mencuat dari balik logo "S" itu.
Teringat pengalamannya baru-baru ini, Zanzonet jadi tertarik untuk memegangnya. Apakah rasanya akan sama? Dipicu oleh rasa benci dan marahnya pada Supergirl, dia ingin memberi pelajaran pada perempuan itu sebelum dia membunuhnya.
Supergirl mendekatinya, mengangkatnya dan berkata, "Aku yakin kau sudah mengerti sekarang."
Zanzonet pura-pura lemah namun sebenarnya dia tengah menempatkan kaki kanannya di belakang kaki Supergirl. Lalu dengan tiba-tiba dia  menjegalnya. Supergirl yang terkejut, terjatuh dengan pantat lebih dahulu.
"HAHAHA…" Zanzonet tertawa keras. "Rasakan itu, Stupidgirl?!"
Malu dan jengkel, Supergirl melompat berdiri dan menghadapi Zanzonet, "Oh, jadi kau benar-benar ingin menantangku. Baik, kau yang minta." Supergirl berkata marah. Dia mengangkat Zanzonet dan mulai memukuli perempuan itu bertubi-tubi.
Supergirl mengejek Zanzonet saat ia memukulinya. "Jadi, kau pikir dirimu kuat, huh? Kamu pikir bisa menang melawan Supergirl? Ketahuilah, akulah kekuatan utama di planet ini!"
Supergirl tidak tahu mengapa Zanzonet masih sadar. Seharusnya pukulan seperti ini sudah bisa membunuh manusia. Memang, pikir Supergirl, Zanzonet mempunyai fisik yang mengagumkan dengan tubuh aduhai, tapi bagaimana mungkin dia bisa bertahan hidup dari serangan sebrutal ini?
"O-oke, Supergirl. OK. K-kau menang, a-aku kalah. C-cukup. H-hentikan!" pinta Zanzonet, lirih.
"Sekarang kau tahu bagaimana rasanya melawanku?! Ayo,” Supergirl melangkah ke depan, ingin meringkus Zanzonet. Dikiranya dia sudah menang hingga tidak waspada ketika Zanzonet menekan tombol kecil di jam tangannya sambil memejamkan matanya.
Tiba-tiba ledakan menyilaukan berwarna hijau menyelimuti ruangan. Supergirl sesaat buta dan lemas. Tapi itu sudah cukup bagi Zanzonet untuk melepaskan pukulan besar langsung ke rahang Supergirl. Kaki Supergirl sampai tertekuk saat menerimanya. Zanzonet melanjutkan serangannya dengan mengait rahang Supergirl. Dia mengunci lengannya ke sisi tubuh pahlawan cantik itu.
Pandangan Supergirl perlahan menjadi normal, tetapi gelombang rasa sakit melumpuhkan tubuhnya. Dia tidak bisa memahami bagaimana pukulan Zanzonet telah mempengaruhi kekuatannya.
Zanzonet kembali menghajarnya. Tendangan putar yang sempurna ke rahang Supergirl mengirim gadis itu menabrak lantai dengan begitu keras. Supergirl tertegun. Zanzonet senang dia mempunyai kaki-kaki panjang yang sempurna, tendangannya menjadi sangat ringan. Dia lalu meraih rambut panjang Supergirl dan mengangkatnya. Dia mengirim sikutnya ke sisi wajah gadis itu.
Supergirl terkena telak, namun anehnya dia merasa tidak begitu sakit. Kekuatannya perlahan kembali. Zanzonet memukul lagi, dan kali ini tidak terasa sama sekali.  Zanzonet memukul lagi dan Supergirl menangkap tinju wanita itu dengan mudah. Dia tersenyum pada Zanzonet. "Aku tidak tahu bagaimana kamu melakukannya, tapi kamu telah membuang satu-satunya kesempatanmu untuk mengalahkanku. Sekarang, aku akan mengakhirinya.”
Supergirl menahan Zanzonet dengan tangan kirinya, dan menarik tangan kanannya jauh ke belakang untuk bersiap memukul wanita itu keras-keras, sampai mati. Posisi itu membuat payudaranya menonjol luar biasa, begitu indah. Supergirl menatap mata Zanzonet dan berkata, "Bersiaplah untuk..."
Kilatan lain membanjiri ruangan. Supergirl tidak pernah sempat melepaskan pukulannya. Dia kembali lemas, dan tidak bisa lagi menahan tubuh Zanzonet. Dia  membiarkan penjahat itu terlepas.
Zanzonet segera bereaksi. Dia bangkit dan menyerang Supergirl tanpa ampun. Dipukulnya wajah, kepala, perut, dan payudara pahlawan super itu. Dia menendangi Supergirl lagi dan lagi. Semua dilakukannya dalam hitungan detik saat lampu kilat menyala. Zanzonet adalah seorang master sejati di pertempuran jarak dekat, ia bagaikan mengelap lantai dengan tubuh Supergirl.
Supergirl yang buta sesaat cuma bisa tertegun dan sakit hati. Dia tidak bisa memahami bagaimana hal seperti ini bisa terjadi pada seseorang yang sesempurna dirinya. Dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa ia sedang berada dalam kesulitan serius. Tidak mau mati sia-sia, Supergirl menekan tombol kecil di bawah gesper sabuknya. Itu akan mengaktifkan alat pelacak yang dimiliki Wonder Woman. Dia butuh pertolongan wanita itu sekarang.
Zanzonet terus menghajarnya. Tapi seiring waktu, Supergirl mulai merasa kuat lagi dan langsung menyesal karena telah mengirimkan sinyal. Mulai waspada, Supergirl balas menyerang. Dia menjegal Zanzonet dan menduduki tubuh seksi bajingan sadis itu. Pukulannya balas menghantam bertubi-tubi.
Zanzonet yang kembali terdesak, melihat puting Supergirl tumbuh menjadi sedikit lebih besar. Itu karena Supergirl merasa nyaman dengan fakta bahwa dia kembali memegang kendali. Ketika kilatan lain membanjiri ruangan, Zanzonet meraih payudara Supergirl dan mendorongnya keras-keras, menyingkirkan gadis itu dari tubuhnya.
Untuk sesaat, Zanzonet merasa heran. Dia menemukan bahwa dirinya menjadi terangsang saat memegang payudara Supergirl. Dia merasa putingnya mengeras. Penasaran, Zanzonet kembali menyerang. Dia meraih payudara Supergirl dan melemparkan gadis itu ke seberang ruangan. Dan benar, dia terangsang. Bergairah, Zanzonet kembali meraih payudara Supergirl dan melemparkan gadis itu ke sisi ruangan yang lain. Dan diteruskan dengan memegang payudara Supergirl dan mengangkatnya lurus ke udara. Zanzonet mengangkat salah satu lututnya dan menendang Supergirl tepat di selangkangannya. Dia lalu melepaskan gadis itu dan membiarkan Supergirl jatuh ke lantai, menggeliat kesakitan. Zanzonet segera menendanginya berulang kali, tepat di bulatan payudaranya.
Entah mengapa, kekuatan Supergirl tidak kembali saat ini. Zanzonet mengangkatnya lagi dan membanting tubuhnya ke dinding. Penjahat itu terus menyerang dan membantainya tanpa ampun. Pada saat lampu kilat berikutnya meledak, Supergirl sudah jauh pergi. Dia pingsan.
Zanzonet membiarkan tubuh montok gadis itu merosot ke tanah. Dia menatap tubuh Supergirl yang lemas tak berdaya di lantai dengan penuh gairah. Dia hampir tidak bisa mengontrol birahi yang mengalir melalui tubuhnya. Zanzonet ingin sekali memegang payudara Supergirl. Dia sangat menikmati rasa puting Supergirl yang mengganjal sekeras batu di telapak tangannya.
Setelah memastikan Supergirl benar-benar pingsan, Zanzonet membawanya ke tempat tidur. Dia membaringkan Supergirl di atas ranjang. Zanzonet sudah tidak bisa menahan diri lagi. Dia sangat tertarik pada buah dada menakjubkan yang dimiliki oleh wanita super itu. Zanzonet mengangkat tubuh Supergirl yang masih tak sadarkan diri dalam posisi duduk. Dia menyambar kerah biru gadis itu dan menariknya ke bawah, mengekspos telanjang daging lengan atasnya dan yang paling penting, payudaranya.
Benda itu tampak begitu sempurna. Bulat, besar, dan tampak tidak kendor sedikit pun. Putingnya mencuat merah kecoklatan, keras dan mengacung lurus ke depan. Permukaannya yang putih mulus tampak menyilaukan di sore yang tak berangin itu.
Zanzonet terus menarik baju itu turun sampai lengan Supergirl benar-benar  terbuka. Gadis itu telanjang dari pinggang ke atas sekarang. Terlihat begitu menggoda. Tubuhnya sangat sempurna, begitu menakjubkan. Itu adalah pemandangan yang diimpikan seluruh pria di seluruh galaksi, tetapi mereka tidak punya harapan untuk menyaksikannya.
Zanzonet berdiri kembali untuk mengagumi keajaiban kesempurnaan fisik bekas lawan bertarungnya. Kilatan lain meledak saat dilihatnya tubuh setengah telanjang Supergirl sedikit mengejang. Dia tidak ingin acaranya terganggu. Penuh minat, dipandanginya bulatan puting Supergirl yang sempurna. Meski mungil, benda itu begitu keras hingga bisa mempenyokkan baja.
Zanzonet harus berjuang keras untuk mempertahankan kontrol dirinya. Dia masih ada tugas lain untuk dikerjakan. Butuh usaha yang luar biasa baginya untuk mengalihkan matanya dari pemandangan yang mengagumkan itu. Zanzonet harus pergi untuk mengambil alat penahan sintetisnya.
Dia memasang dua dari tiga sisi penahanan pada lengan Supergirl yang tak berdaya. Saat itulah, Supergirl mengeluarkan erangan lemah, gadis itu mulai sadar.  Kilatan lain menyala. Tubuh Supergirl bergetar sesaat sebelum akhirnya kembali terdiam, pingsan.
Zanzonet selesai memasang penahan yang ketiga. Supergirl sekarang terikat erat ke tempat tidur dengan tangan terbentang lebar di atas kepala, membuat payudara gadis itu jadi tampak jauh lebih menonjol. Zanzonet sudah akan menciumnya saat tiba-tiba...
CRASH…! CRASH…!
Dia tertegun oleh suara gaduh di belakangnya. Zanzonet berbalik dan mendelik saat melihat seorang wanita cantik berpakaian merah dan kuning  menerobos masuk melalui jendela.
"Sialan!" maki Zanzonet. Itu pasti Wonder Woman. Dia tidak menduga ini sebelumnya.
Wonder Woman berjalan mendekati Zanzonet dan menyambar leher perempuan itu dengan lengannya yang kuat. "Aku tidak tahu bagaimana kamu melakukan ini, tapi aku meringkusmu dan membiarkan Supergirl merobekmu dari kanan ke kiri." Dia memperketat pegangannya di sekitar tenggorokan Zanzonet.
Kilatan lain meledak, dan itu berefek pada Wonder Woman, dia buta untuk sesaat. Meski tidak sampai lemah seperti Supergirl, tapi itu sudah cukup bagi Zanzonet untuk mengangkat lututnya ke atas dan menendang keras-keras selangkangannya.
Wonder Woman yang terkejut melepaskan cengkeramannya pada leher Zanzonet. Zanzonet segera menekan payudaranya hingga awan tebal gas beracun melesat keluar dari putingnya, mengirimnya ke wajah Wonder Woman.
Mengaduh kesakitan, Wonder Woman menutup matanya dan jatuh ke lantai. Zanzonet meraih laso sihir yang ada di pinggang ramping wanita cantik itu dan mengikat tubuh montok Wonder Woman kuat-kuat.
"Wonder Woman," Zanzonet berkata. "akankah laso ini membuatmu berada di bawah kendaliku?"
Wonder Woman berjuang sia-sia. "I-iya…" sahutnya lemah.
"Apakah ini juga akan membuatmu mengatakan yang sebenarnya?"
"I.. iy.. iyaaa."
"Apa sumber kekuatanmu?"
Wonder Woman menggelengkan kepalanya bolak-balik, berusaha mati-matian untuk tidak menjawab. "A-aku...  Sa… s-sabukkku… sabuk sihirku…"
Zanzonet segera melepas ikat pinggang itu. Wonder Woman tidak berdaya untuk menolak.
"Bisakah kau melarikan diri saat kamu berada di dalam laso ini?"
"T-tidak."
Zanzonet mengangkangi tubuh Wonder Woman yang tak berdaya dan mendaratkan pukulan besar langsung ke rahangnya. Wonder Woman pingsan seketika. Zanzonet memperketat lilitan laso di sekitar pinggang wanita cantik itu, tangan Wonder Woman juga diikatnya ke belakang punggung, dan menggantungnya ke dinding. Wonder Woman semakin tidak berdaya saat Zanzonet mengambil sabuk ajaibnya dan menyembunyikannya di ruangan lain.
Supergirl yang mulai sadar, berusaha menarik-narik penahan sintetisnya, tapi tidak mampu membebaskan dirinya. Dia terlalu lemah. Ia segera melirik ke bawah, ke arah logo "S"-nya yang megah. Logo itu selalu berhasil menjadi sumber kekuatan dan kebanggaannya. Dia membutuhkan keduanya sekarang. Tapi Supergirl langsung berteriak ngeri saat tidak bisa menemukannya. Malah yang ada, payudaranya yang sempurna tampak terekspos keluar. Dia telanjang! Bergetar keras, Supergirl mencoba lagi merusak penahan, tapi tidak berhasil.
“Di mana Wonder Woman? Dia seharusnya sudah di sini sekarang.” Supergirl bertanya-tanya. Apa gunanya tombol darurat ini jika tidak ada respon sesegera mungkin. Dan juga, dimana Zanzonet? Supergirl mengangkat kepalanya untuk melihat-lihat dan langsung shock saat mendapati tubuh montok Wonder Woman tampak terikat erat ke dinding.
Kilatan lain membanjiri ruangan. Tubuh Supergirl mengejang sekali lagi dan kepalanya jatuh kembali ke tempat tidur. Dia masih sadar, tapi hampir pingsan.
Zanzonet yang baru balik dari menaruh sabuk di ruang lain, kembali untuk mengurusi dua pahlawan super yang baru dia tangkap. Saat melihat bayangan dirinya di cermin. Zanzonet menemukan bahwa ia juga sama mengesankannya seperti dua wanita cantik yang baru saja dia kalahkan. Dia melihat putingnya tampak menonjol dan menggoda dari balik bikininya, dan mau tak mau dia menyentuhnya. Tubuh Zanzonet langsung meledak oleh  gelombang gairah seksual. Ia membelai-belai dirinya sendiri. Dia merasa terdorong untuk mencapai celah di antara kedua kakinya dan memasukkan  jari-jarinya. Lututnya jadi lemas saat dia melakukannya. Zanzonet jatuh ke tanah dengan satu tangan di payudaranya dan satu di dalam vaginanya. Dalam beberapa menit, ia merasakan perasaan asing menyapu tubuh mulusnya. Cuma dengan masturbasi, ia orgasme untuk pertama kalinya. Dan harus diakui, Zanzonet menyukainya.
Sementara itu, baik Wonder Woman maupun Supergirl telah kembali sadar dan berusaha mencari cara untuk keluar dari kekacauan ini. Tapi setelah kilat yang terakhir, Supergirl merasa sangat lemah.
Zanzonet masuk ke ruangan, disegarkan oleh sensasi orgasmenya. Dia ingin mengakhiri ini dengan singkat. Dia berjalan ke arah Supergirl dan menepuk-nepuk muka gadis itu, memastikannya tetap pingsan. Masih sedikit terangsang, Zanzonet membuat catatan untuk memperingatkan para pemimpin tentang hal ini, bahwa birahi adalah efek samping yang sangat mengganggu dari menggunakan tubuh duniawi.
Dia lalu memutar langkah dan berbalik menuju ke arah Wonder Woman. Zanzonet menatapnya tajam. Dilihat dari bentuk tubuhnya yang aduhai, ia paham bahwa Wonder Woman juga cukup mengesankan secara fisik. Payudara wanita itu tampak begitu besar, juga cukup bulat. Zanzonet yang sudah terobsesi dengan payudara, tidak bisa mengendalikan diri lagi. Dia segera berlutut di hadapan Wonder Woman, menggapai punggung belakang, dan membuka ritsleting bustier wanita cantik itu. Dibiarkannya payudara Wonder Woman yang besarnya minta ampun terburai keluar. Membandingkannya dengan milik Supergirl, Zanzonet merasa payudara Wonder Woman jauh lebih indah dan bulat. Sungguh benda yang sangat sempurna.
Supergirl yang tersadar kembali, demi melihat apa yang telah dilakukan oleh Zanzonet, segera berteriak. "Zanzonet! Saat aku berhasil keluar dari sini, aku akan memusnahkanmu. Aku akan membuatmu menyesal telah dilahirkan, kau mengerti?!!"
Zanzonet berjalan ke arah Supergirl, dan mencubit kedua puting gadis itu. "Tidak satu pun dari kalian yang akan keluar dari sini. Kalian berdua akan segera mati!"
Supergirl marah pada dirinya sendiri saat menikmati rasa sakit dan manis akibat cubitan Zanzonet pada putingnya. Dia tidak bisa tidak mengagumi bahwa Zanzonet memang luar biasa cantik dan seksi. Supergirl merasa akrab dengan wajah itu, tapi dia tidak bisa mengingat dimana.
Zanzonet merogoh tasnya dan mengeluarkan sebotol krim. Krim berwarna ungu untuk membangkitkan gairah seseorang. Dia meraup setumpuk krim pada jarinya dan berjalan ke arah Wonder Woman. Dia mengoleskan krim itu ke payudara Wonder Woman.
Wonder Woman tanpa sadar langsung mengerutkan bibirnya dan melenguh, “Oghhhh…” sebagai respon kenikmatan gelombang kejut yang menjalari bulatan payudaranya.
Zanzonet melepas laso dari dinding dan menyuruh Wonder Woman untuk berdiri dan berjalan ke arahnya. Wonder Woman tidak berdaya untuk menolak. Tangannya masih terikat ke belakang, membuat payudaranya yang besar tampak menonjol menggiurkan, dengan krim berwarna ungu menutupi permukaannya yang putih dan mulus.
Beriringan, mereka berjalan mendekati Supergirl. Zanzonet menyuruh Wonder Woman untuk menaiki tubuh montok gadis itu. Mata Supergirl terbuka lebar oleh teror.
"Wonder Woman," Zanzonet berkata. "kau bisa kan merangsang wanita?”
Wonder Woman mengangguk.
”Kalau begitu, sekarang rangsang temanmu. Beri dia kenikmatan penuh.”  perintahnya. Zanzonet melekatkan ujung laso ke tempat tidur, melingkarkan lengannya di pinggang ramping Wonder Woman dan memutarnya tengkurap 1 kaki di atas tubuh Supergirl. Zanzonet memposisikannya hingga krim ungu Wonder Woman menetes mengenai payudara jumbo Supergirl.
Dan kemudian, dengan pelan, Zanzonet menurunkan tubuh Wonder Woman  sampai putingnya menyentuh puting Supergirl. Dia lalu menggerakkan tubuh Wonder Woman maju mundur sehingga puting mereka bergesekan dan saling bertubrukan. Krim ungu di payudara Wonder Woman perlahan menempel membasahi puting Supergirl, membuat benda mungil itu semakin meruncing dan mencuat.
Supergirl jadi tidak bisa menahan diri lagi, dia pun berteriak. ”Aaahhhh... aku tak tahaaannnn..." sebagai efek dari gesekan krim ungu dan payudara luar biasa milik Wonder Woman, dia akhirnya menyerah. Beban otak dan tubuhnya terlalu berlebihan untuk ia tanggung.
Wonder Woman yang juga terangsang berat, menimpali teriakan itu dengan geraman rendah. "Aagghhhhsss…” Kedua tubuh wanita itu gemetar hebat. Satu dengan penuh kenikmatan, dan yang lainnya dengan nikmat dan rasa sakit.
Zanzonet terus menggesek-gesekkan payudara Wonder Woman ke bulatan buah dada Supergirl, sampai kedua wanita super itu basah kuyup di daerah dimana mereka sangat butuh pelepasan. Krim hijau adalah senjata yang paling kuat dari Zanzonet, dan payudara Supergirl sekarang dipenuhi oleh benda itu.
Merintih, Supergirl berada di ambang kesadaran. Sedangkan Wonder Woman masih kaku seperti papan. Meski pikirannya masih sadar, ia tidak berdaya untuk menolak. Meskipun dia membenci apa yang terjadi sini, tapi itu di luar kendalinya.
Supergirl mulai siuman. "Tidak... s-stop… hentikan! Kumohon… a-aku tidak b-bisa menahannya l-lagii…" dia menghiba saat Zanzonet terus menggosokkan buah dada Wonder Woman pada payudaranya.
Tapi anehnya, justru Wonder Woman yang pertama berteriak. "Oh... oh... oh... oh…" jeritnya dalam kepuasan saat tubuhnya meledak karena orgasme paling intens yang belum pernah ia alami sebelumnya.
Rasa nikmat itu menyebar dengan cepat, seperti menguap, dan merasuki tubuh Supergirl yang melemah. Tubuh montok gadis itu mulai kejang-kejang dan tak lama, orgasme besar menghantamnya bertubi-tubi. Rasanya begitu luar biasa, tapi Supergirl tidak bisa berteriak karena dia sangat lemah. Tubuhnya hampir tidak bisa bergerak, tetapi gelombang demi gelombang orgasme terus bergegas melalui tubuhnya yang tak berdaya.
Zanzonet yang sudah terangsang hebat, melepaskan Wonder Woman dan mengatur dirinya di atas tubuh Supergirl. Gadis itu diam, tidak melawan sedikit pun, dia malah terlihat asyik menikmati sisa-sisa orgasmenya.
Zanzonet tidak pernah membayangkan ini sebelumnya, bisa mendapatkan Wonder Woman dan Supergirl dalam satu waktu. Itu jauh di luar harapannya. Bahkan dalam tahun-tahun pelatihannya yang keras, dia tidak pernah sesukses ini. Jenderal pasti akan bangga padanya.
Dia menarik Wonder Woman ke samping, membiarkan wanita cantik itu berguling ke sisi tempat tidur di sebelah mereka. Zanzonet mengeluarkan pistol, memasukkan satu peluru, dan menembak bagian belakang kepala Wonder Woman. Meski suaranya cukup keras, Supergirl tidak menyadari hal ini, dia masih setengah sadar.
Zanzonet mengeluarkan dua peluru lagi, kali ini berwarna hijau karena sudah dicampur oleh ekstrak batu Kryptonit,  dan memasukkannya ke dalam pistol. Supergirl melihat apa yang dilakukan Zanzonet melalui kaca, tapi matanya yang masih kabur tidak memahami apa yang sedang terjadi.
Zanzonet mengarahkan pistolnya dan melepaskan dua tembakan ke jantung  Supergirl. Orgasme gadis itu langsung terhenti!
Zanzonet segera menghubungi komandannya melalui radio, "Misi telah dilaksanakan dengan sukses. Lanjutkan dengan serangan..."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar