Sabtu, 10 September 2016

Ancaman Bencana 7



Kembali ke peristiwa Honggo bertemu dengan Agen Ningsih di Ancol, pada saat Intan duduk di warung sedang konsentrasi mengawasi Honggo, dia dihampiri oleh seorang lelaki tinggi besar berambut cepak. 
“Sendirian, mbak?” tanya laki-laki itu.
Intan terperanjat tidak menyadari tiba-tiba ada orang di sampingnya karena sedang asyik menatap ke arah Honggo yang sedang melihat ke handphonenya, kemudian berjalan menuju warung bakso.  “Eih, ehhh… Iya.”  Intan berusaha membalas sapa dan bersikap ramah. 
“Sedang ngapain disini, Mbak?” 
Tentu saja Intan tidak dapat menjawab jujur. Tapi belum sempat dia menjawab, dan tampaknya lelaki ini tidak membutuhkan jawaban.  Dia malah memperlihatkan pistol di tangan yang ditodongkan ke perut Intan.  Lengannya tergantung jaket guna menutupi pistolnya dari penglihatan umum. “Mbak, mari ikut saya ke mobil. Kita tunggu Honggo disana.”

Dengan disebutnya nama Honggo oleh lelaki ini, jelas identitas Intan sudah ketahuan. Karena itu dengan pasrah dia mengikuti langkah lelaki itu keluar dari dermaga, dan masuk ke mobil. Baru beberapa detik Intan duduk di kursi belakang sebelah kanan, tiba-tiba pintu kiri belakang mobil dibuka orang dan terdengar bunyi, “Dephhh!!” Sebuah suara tembakan dengan peredam.
Begitu Intan menoleh ke kiri, ternyata lelaki yang memaksa dia untuk masuk ke mobil sudah penuh darah dan terkulai tewas. Intan panik dan keluar melalui pintu kanan belakang, ingin berlari. Sayangnya tidak mungkin dia bisa lepas, karena lengannya seperti dicekal orang dengan kencang.
“Ampunn… ampunn… jangan bunuh saya.” Intan histeris dengan mata tertutup. 
“Tenang… tenang… kamu aman!!” sebuah suara dari orang yang mencekal lengannya.  
Intan membuka mata dan menengok ke arah wajah dari mana suara berasal. Dari tadi saking takutnya dia selalu melihat ke bawah dan lebih banyak menutup mata. Ah, ternyata suara itu milik seorang lelaki yang telah dikenalnya. Dia adalah Abdul. 
“Honggo… Honggo?” Intan teringat bahwa dia harus juga menyelamatkan Honggo dan secara tidak langsung mencoba memohon bantuan Abdul dan temannya yang baru saja menembak mati lelaki di mobil.
“Intan, Intan! Dengar!” suara Abdul terkesan ingin menenangkan Intan. “Honggo tidak apa-apa, biarkan dia membantu GESF, dan kita akan ikuti terus mereka. Kamu telah berakting sempurna, lebih dari yang kita harapkan.  Sekarang mari kita tunggu perempuan itu selesai dengan Honggo, dan kita beresi sekalian.” katanya sambil mengandeng Intan pergi menjauh dari lokasi menuju mobil miliknya. 
Teman lelaki Abdul kemudian mengambil handphone dari saku celana lelaki yang tewas, dan kemudian mengirim sms. “Mbak, saya kembali dulu ke posko. Ada panggilan tugas. Perempuan ini saya bawa juga.” Setelah itu ia  menyalakan mobil dan pergi. Setelah memarkirnya di lokasi lain yang tersembunyi, dia turun mobil dan berlari balik lagi menuju mobil Abdul, dan siap-siap di kursi supir.
Sementara itu agen Ningsih setelah berpisah dengan Honggo, dia berjalan menuju mobil Baleno merah miliknya. Begitu membuka pintu, Ningsih begitu terkejut ketika melihat interior di dalamnya sudah berantakan seperti habis ada pencuri. Belum lagi sempat memeriksa segalanya, tiba-tiba kepala Ningsih sudah dipukul dari belakang sampai ia pingsan.
Ningsih tidak tahu apa yang terjadi sampai tubuhnya digoncang-goncangkan seseorang hingga tersadar dan menemukan dirinya sudah dalam keadaan lemas di lantai sebuah bangunan tua. Tubuhnya telanjang, hanya menyisakan bh dan celana dalam saja.
Belum lama siuman, Ningsih terbelalak ketika melihat pemandangan di sekitarnya. Ia melihat dua pria di depannya. Satu berbadan tinggi besar dengan potongan rambut gondrong dan badan penuh dengan tatto. Sementara yang satu lagi berbadan agak gemuk, berambut acak-acakan dengan hanya mengenakan celana jeans saja.
”Lihat, dia sudah bangun.” kata si gendut sambil mengelus-elus kepala Ningsih.
Ningsih mau berontak tapi tidak dapat berbuat apa-apa, ia pun mulai pucat. Dan yang membuat hati Ningsih semakin menjerit dan panas adalah begitu si Tatto mulai meremas-remas tonjolan payudaranya yang masih terbungkus bh. Ningsih mulai menangis sambil memohon-mohon minta dilepaskan, air matanya meleleh membasahi wajahnya yang cantik itu.
Tapi Tatto yang badannya jauh lebih besar sama sekali tidak menghiraukannya. Malah kini ia menjilati leher jenjang Ningsih sambil berkata, ”Diam, jangan macam-macam atau kupatahkan lehermu. Nurut saja kalau mau selamat!” Setelah itu dilumatnya dengan rakus bibir indah Ningsih dengan bibirnya yang bau apak.
"Hmp... cup... slurp..." begitulah bunyi saat kedua bibir mereka beradu. Air liur Ningsih sampai menetes-netes karena lidah Tatto yang mulai bermain-main di rongga mulutnya.
Tatto baru menyudahi serbuan bibirnya saat menyuruh Ningsih untuk berlutut di depannya. ”Ayo, Sayang. Sekarang waktunya pesta, ayo kita bersenang-senang!” teriaknya sambil menyuruh Ningsih agar membuka celana jeans kumalnya.
Sambil menangis Ningsih memohon belas kasihan, ”J-jangan...  tolong... kumohon... jangan perkosa aku! Ak...” Belum selesai Ningsih berkata, tiba-tiba, ”Plaakk..!” Tatto sudah menampar pipinya dan menjambak rambutnya.
Dengan kejam ia memaksa Ningsih untuk mengulum batang penisnya. ”Emut atau gue bunuh lo!”
Terpaksa dengan putus asa dan wajah yang pucat dan gemetar, Ningsih membuka celana Tatto dan begitu dia menurunkan celana dalam laki-laki itu, tampaklah kemaluan Tatto yang telah membesar dan menegang panjang. Tanpa membuang waktu Tatto segera memasukkan kemaluan itu ke dalam mulut Ningsih yang mungil. Batang kemaluannya tidak dapat sepenuhnya masuk karena terlalu besar, dengan kasar dia memaju-mundurkan kepala Ningsih.
"Hhmpp... emphh... mpphh...!" Ningsih merintih.
Si Gendut juga tidak tinggal diam, rupanya nafsu juga telah memenuhi otaknya. Setelah melepas celana jeansnya, dia kini berdiri di samping Ningsih, menyuruh Ningsih agar mengocok batang kemaluannya yang juga telah membesar panjang. Batang kemaluan Gendut tidak sebesar punya temannya, tapi diameternya cukup lebar sesuai dengan tubuhnya. Sekarang Ningsih dalam posisi berlutut dengan mulut dijejali kemaluan Tatto dan tangan kanannya mengocok batang kemaluan Gendut.
"Emmhh... benar-benar enak emutan wanita cantik ini, lain dari yang lain!" kata Tatto.
"Iya, kocokannya juga enak banget. Tangannya halus nih!" timpal Gendut.
Beberapa lama kemudian nampak tubuh Tatto menegang, seluruh badannya mengejang, dan... "Aarghkh...!" laki-laki itu berejakulasi di mulut Ningsih.
Cairan putih kental memenuhi mulut Ningsih, menetes di pinggir bibirnya seperti vampire baru menghisap darah, tapi yang ini darah putih kental. Terpaksa Ningsih meminum semuanya karena takut akan ancaman mereka dan juga kuatnya pegangan tangan Tatto di kepalanya. Setelah itu mereka melepas bh dan cd Ningsih, sehingga gadis itu jadi benar-benar telanjang bulat sekarang. Tampaklah payudara dan bulu-bulu kemaluan Ningsih yang hitam lebat.
"Wow, cantik sekali anjing ini." ujar Gendut sambil memandangi tubuh Ningsih yang sedang terisak-isak ketakutan.
Kali ini Gendut berdiri di depan Ningsih dan menyuruh gadis itu agar berjongkok di depannya sambil terus memijit dan mengocok batang kemaluannya. Ningsih terpaksa menuruti kemauan laki-laki itu sehingga Gendut mendengus keenakan. Sementara itu Tatto mengambil posisi berbaring di bawah dan mulai menjilati liang vagina Ningsih sambil sesekali menusuk-nusukkan jarinya ke dalam hingga seketika membuat Ningsih kaget.
"Ehhgh... iihh... aughh..." wanita itu merintih-rintih, badannya menggeliat-geliat akibat tusukan serta jilatan Tatto di liang kemaluannya.
"Ayo, emut terus barang gue!" bentak Gendut sambil badannya meliuk-liuk karena kemalunnya mendapat belaian dari lidah basah Ningsih.
Sekitar 10 menit dikocok, Gendut pun memuncratkan air maninya, membasahi wajah serta rongga mulut Ningsih. Kali ini Ningsih sudah tidak tahan dengan rasa cairan itu sehingga dia memuntahkannya. Melihat itu Gendut jadi gusar, dia lalu menjambak rambut Ningsih dan menampar pipinya sampai perempuan itu jatuh.
"Dasar pelacur!! Kurang ajar, berani-beraninya membuang air maniku!" bentaknya.
Ningsih hanya dapat menangis memegangi pipi dan mulutnya yang belepotan sperma. Apalagi ketika kedua laki-laki itu kembali menggerayangi tubuh sintalnya, kali ini Tatto merentangkan tubuh Ningsih di lantai dan membuka lebar-lebar kedua pahanya, lalu segera memasukkan batang kejantanannya yang kembali menegang ke liang kemaluan gadis itu.
"J-jangan… aduh… t-tolong... hentikan... ampun, Bang...!" pinta Ningsih sambil mencoba memberontak, tapi dengan sigapnya Gendut membantu Tatto dengan memegangi kedua tangan Ningsih agar tidak lagi sapat bergerak.
Ningsih terlihat menahan sakit yang amat sangat saat Tatto memaksa masuk batang kemaluannya yang berukuran besar ke liang kemaluan Ningsih yang masih sempit, membuat tangis wanita itu jadi semakin keras. Setelah hampir seluruhnya terbenam, Tatto mulai bergerak memaju-mundurkan pantatnya, mulai dari irama pelan hingga menjadi cepat. Keringat dengan deras membasahi tubuh keduanya.
"Aahh... aahh... ouhh... s-sakit! Ampuun... ohh..." begitulah erangan dan teriakan Ningsih merasakan sakitnya.
Rupanya teriakan dan erangan itu malah semakin menambah nafsu Tatto, ia terus memompakan batang kemaluannya dengan keras dan cepat hingga badan Ningsih pun terbanting-banting dan terguncang-guncang karenanya. Ningsih hanya bisa pasrah mengikuti irama Tatto. Sampai beberapa saat kemudian, laki-laki itu tiba-tiba menghujamkan kejantanannya dengan sepenuh tenaga hingga membuat Ningsih tersentak kaget sampai matanya membelalak lebar.
"Ooughh...!" Ningsih mendengus keras menahan rasa perih dari lubang kemaluannya, seluruh badannya menegang sambil melolong memilukan.
Tidak beberapa lama, Tatto akhirnya mencabut batang kemaluannya dari lubang kemaluan Ningsih dengan kasar. Darah segar langsung mengucur deras dari liang sempit itu. Bukan darah perawan, karena Ningsih memang bukan gadis lagi. Itu akibat dinding memek Ningsih yang lecet gara-gara digesek kuat-kuat oleh Tatto. Laki-laki itu tampak mendengus puas, sementara Ningsih hanya bisa tertelungkup jatuh ke lantai disertai rintihan panjang yang semakin melemah.
Sesudah itu kini Gendut yang meminta gilirannya. Ia yang sedari tadi hanya duduk menonton, mulai bergeser mendekati Ningsih. "Hei, sekarang giliran gue elo servise. Jangan coba berontak, mati elo!" ancamnya.
"Hmm..." jawab Ningsih dengan mulut terisak.
Gendut kemudian menarik tubuh Ningsih dan mengaturnya dalam posisi telungkup, setelah itu ia merentangkan tangan Ningsih serta melebarkan kedua kakinya hingga posisi Ningsih sekarang jadi seperti orang merangkak. Ningsih hanya dapat pasrah saja mengikuti kemauan Gendut.
"Gila! Gue suka pantat lo!" dengus Gendut tak sabar sambil menampar pantat sekal Ningsih yang sebelah kiri, yang kontan membuat gadis itu jadi menjerit kaget. Lalu tanpa menunggu lagi, Gendut yang mulai dirasuki nafsu segera menyelipkan batang penisnya yang kembali mengeras di antara kedua kaki Ningsih lewat belakang.
"Ooh... ampun, Bang! Ampun... jangan...!" Ningsih mulai menangis dan rasa tegang menyeliputi hatinya. Ia menoleh ke belakang dan memandang Gendut, mencoba untuk meminta belas kasihan. Terlihat air mata meleleh dari matanya yang bulat.
Namun Gendut tak peduli, kepala penisnya tetap menyusuri belahan pantat Ningsih, terus menuju ke bawah, kemudian maju mendekati bibir vagina gadis itu. Dengan memegangi pinggul Ningsih, dalam satu gerakan keras, Gendut merangsekkan penisnya maju.
"Arrgghh... ahh... ampun!" Ningsih langsung menjerit. Ia mengejang menahan sakit akibat penis Gendut yang menembus masuk tanpa ampun. Dan sesaat kemudian, laki-laki itu mulai menggerakkan pinggulnya. Bibir Ningsih menganga membentuk huruf O saat tubuh sintalnya tersodok-sodok dengan cukup keras.
Gendut yang keenakan, terus bergerak memompa maju mundur memperkosa gadis itu. Kadang-kadang ia juga menampar pantat bulat Ningsih. Dan saat dilihatnya payudara Ningsih yang tersentak setiap kali ia menyodok, Gendut segera meraih dan meremas-remasnya dengan penuh nafsu. Ningsih hanya dapat pasrah saja menerimanya, sampai tiba-tiba Gendut mencabut batang penisnya dan memasukkan benda itu ke dalam mulut Ningsih.
"Mmpphh...!" Ningsih mencoba berteriak dengan mulut penuh penis.
Sementara itu Gendut dengan tenang terus menggerakkan penisnya di mulut Ningsih. Kedua tangannya memegangi kepala gadis itu agar jangan sampai terlepas. Wajah Ningsih memerah, air mata semakin meleleh turun di pipinya yang mulus, baru pertama kali dalam seumur hidupnya ia diperlakukan hina seperti ini.
Setelah beberapa lama mengocok, terlihat tanda-tanda kalau Gendut akan mencapai klimaksnya. Dan, "Ahhh... Croot! Croot..!" laki-laki itu berejakulasi di mulut Ningsih, spermanya yang kental dan berjumlah cukup banyak meluber ke tenggorokan wanita itu.
Ningsih hanya dapat mendengus-dengus dan dengan sangat terpaksa menelan semuanya karena pegangan tangan Gendut di kepalanya semakin mengencang, sehingga sulit bagi dia untuk menarik diri. Setelah semprotan sperma yang terakhir, barulah Gendut mencabut batang kemaluannya. Terlihat mulut Ningsih penuh oleh lendir putih. Dengan napas puas Gendut mencampakkan tubuh perempuan itu hingga jatuh telentang di lantai.
Saat itulah, belum sempat Ningsih menarik napas, tiba-tiba terdengar letusan senjata. Ningsih ditembak dengan masih dalam posisi berbaring. Kejadiannya berlangsung cepat. Tatto yang melakukannya. Ningsih tidak sempat menyadari apalagi membela diri.  Dia tewas seketika dengan lubang peluru menembus batok kepalanya. Darah berhamburan mengotori lantai bangunan.
”Buru-buru amat loe, gue kan masih mau pake dia,” protes Gendut.
Tapi Tatto hanya mendengus lalu mengambil hapenya, ”Lapor, Bos.” ia menelepon seseorang. ”Target sudah diatasi.”
Di pintu masuk pintu tol dalam kota, seorang laki-laki menjawab. ”Kalau begitu cepat susul kemari..” Ia duduk di sebuah mobil Innova hitam, mengikuti Baleno merah yang melaju dengan kecepatan normal menuju arah Cawang.
Baleno itu kemudian berbelok ke kanan masuk tol Jagorawi. Innova hitam yang dikemudikan Abdul terus mengikutinya.  Di dalam Innova hitam, Abdul terus berkomunikasi lewat handphonenya dengan seseorang dan sepertinya minta dikirim tambahan orang, dan langsung bareng jalan beriringan karena Baleno merah yang dibuntutinya sudah masuk jalan Jagorawi.  Intan duduk terdiam masih menampakan wajah pucat ketakutan. Abdul duduk di sebelahnya dengan tenang sambil menatap ke depan. 
“Tolong selamatkan Honggo, dia tidak bersalah,” pinta Intan sambil menatap lemas kepada Abdul.  
“Iya, kami sedang mengusahakannya.” jawab Abdul datar. 
Tidak berapa lama kemudian Baleno merah keluar di pintu Sentul. Begitu Baleno merah berhenti di depan sebuah rumah, pada saat itu pula Innova berhenti di belakangnya. Baleno itu dikemudikan oleh teman Abdul. Dengan GPS yang terpasang di mobil itu mereka bisa dengan mudah menemukan lokasi tujuan Ningsih.
Empat buah mobil van ikut berhenti disana. Bagaikan perang, 20 orang berpakaian hitam-hitam bersenjata serbu otomatis MP5 dan M4, menghampiri rumah tersebut, lalu mendobrak pintu dan langsung menebar peluru.  Dibagi dalam beberapa grup mereka langsung masuk ke kamar-kamar memastikan semuanya aman terkendali. Tetangga komplek keluar ketika mendengar suara ramai-ramai diluar. Tapi segera masuk kembali begitu mereka melihat senjata-senjata ditodongkan ke arah mereka oleh serombongan pasukan berpakaian hitam-hitam dengan muka tertutup.  
“Door… dor… dor… dor...” Empat orang penjaga rumah di depan halaman dan ruang tamu, tewas seketika.
Masih ada 3 orang lagi. Mereka para penculik, satu orang menyeret satu sandera yang terdiri dari ibu tua memakai celana panjang dan baju setelan, seorang gadis berkulit putih bermata sipit, seorang lagi juga ibu tua memakai sarung. Para sandera diikat tangannya dan mulutnya ditutup dengan tempelan lakban.   
“Awas, letakkan senjata kalian!” teriak orang yang sedang mengarahkan pistol ke kepala sanderanya. 
“Kalian yang letakkan senjata!!” teriak seorang yang berpakaian hitam-hitam tidak mau kalah gertak. “Kalian sudah terkepung” 
Para pengawal rumah yang merupakan pengawal bayaran, sudah jelas kalah jumlah. Mereka hanya sisa tiga orang, sedangkan musuhnya 20 orang. Dari senjatapun, mereka kalah jauh. Mereka hanya 2 orang yang memakai AK47, dan satu lagi bahkan hanya pistol colt38. Mereka memang bukan agen rahasia yang memiliki senjata canggih prototype seperti dalam cerita film James Bond. Mereka diperintah untuk menjaga sandera oleh Pak Robby.  Mereka hanya tahu Pak Robby dari BIN dan sudah sering bekerja sama seperti mencari informasi dengan menyamar menjadi anggota masyarakat biasa.  Tepatnya mereka adalah para informan yang dipekerjakan Pak Robby baik untuk kebutuhan BIN maupun pribadi. Tidak seorangpun dari mereka tahu bahwa Pak Robby juga merupakan agen GESF. 
Tiga orang penjaga rumah, walaupun sudah kepepet, tetap tidak mau menyerah. “Kami anggota BIN. Siapa kalian?” walau hati sudah kebat kebit, mereka masih mencoba mengertak. 
“Sekali lagi saya perintahkan, jatuhkan senjata dan serahkan para sandera!” bentak seorang berpakaian hitam-hitam. Sepertinya dia komandan pasukan ini. Kelihatannya dia tidak peduli dengan gertakan pengakuan penculik.
“Tidak! Sandera ini tidak akan selamat. Kami akan menembak mereka dulu, kalau kalian menembak.” 
Situasi sangat menegangkan. Masing-masing pihak tidak ada yang mau mengalah. Pasukan hitam-hitam tetap mengacungkan senjatanya kepada ketiga orang penculik. Tiga orang penculik masih mengacungkan senjatanya masing-masing kepada tiga orang sanderanya.  Kondisi ini bertahan hingga beberapa menit. Masing-masing pihak tidak ada yang mau menyerah dan tetap mengacungkan senjatanya pada sasarannya masing-masing. Sampai tiba-tiba… tanpa diduga-duga, entah darimana datangnya, terdengar suara tembakan.
“Dor... dor…. dor… dor… dor…. door…!” bunyi letusan senjata bertubi-tubi. Saling sahut menyahut. Berlangsung sekitar 25 detik. Tidak jelas siapa yang memulai. Bunyi silih berganti, tidak jelas siapa menembak siapa. 
Seketika suasana menjadi sunyi senyap. Asap mengepul dan bau mesiu tercium menyengat, bercampur bau darah manusia. Ruangan seketika menjadi penuh asap, susah mengetahui berapa orang dan siapa yang tewas.  Setelah asap perlahan hilang, ruangan kembali terlihat jelas, tampak bergelimpangan tubuh beberapa orang dengan darah segar mengalir keluar.  Delapan orang yang tewas tepatnya, terlihat berserakan dengan posisi berantakan. 
Yang pertama, satu orang berpakaian hitam-hitam tergeletak di tengah ruang. Senjatanya di lantai berjarak dua meter dari tubuhnya. Darah mengalir dari pelipis kepalanya. Yang kedua, satu orang berambut gondrong memegang pistol berbaring dengan kaki kanan agak melipat. Badannya penuh dengan lubang peluru. Di sebelah dia, terlihat seorang gadis muda berkulit putih. Dia memakai celana pendek jeans biru 15 cm di atas lutut. Dia terbaring tertelungkup. Posisi kedua kakinya tertekuk. Kaos putihnya berlumuran darah.  Dia tewas! Adik Honggo tertembak perutnya! 
Tidak jauh dari adik Honggo, juga terlihat seorang perempuan tua memakai sarung. Dia juga tewas. Bahkan dengan keadaan lebih mengerikan. Kepalanya penuh darah, tidak kelihatan lagi wajah aslinya. Rambut panjang yang biasanya diikat sekarang terurai berantakan. Tidak diragukan lagi, tadi dia tertembak di kepala dari jarak dekat.
Di depan pintu kamar, seorang berpakaian hitam-hitam juga tewas. Masih mengenakan baju anti peluru, sebagaimana dengan semua rekannya. Mata kirinya bolong. Tertembak. Mati seketika. Korban keenam dan ketujuh adalah dua orang pengawal rumah yang tewas tergeletak berdekatan. Juga dengan puluhan lubang peluru yang menembus paha, perut dan dada..
Delapan orang yang tewas tepatnya.  Yang terakhir adalah… yang terakhir adalah… mama Honggo! Ibunda Honggo juga tertembak peluru di dadanya. Mama Honggo yang berumur 67 tahun dengan rambut hitam bercampur uban telah meninggal. Di rambutnya kini juga menempel darah bercampur dengan putih uban. Mama Honggo terbaring miring sambil tangan kanan dan tangan kiri masih terikat. Mulut tertutup lakban. Mengenaskan…! 
Abdul dan Intan bergegas menyusul masuk ke dalam rumah, setelah memastikan berhentinya suara tembakan. Supir yang tadi menemani di dalam mobil Abdul juga ikut. “Apa yang terjadi?” tanya Abdul. 
Komandan regu menghadap supir Abdul dan melakukan penghormatan ala militer. Dia segera menjawab pertanyaan Abdul. “Kami tidak dapat mengontrol situasi dan entah siapa yang memulai tembakan, tiba-tiba tadi semua pihak terlibat dalam kekacauan.” 
Mata Intan dengan cepat menyapu ruangan dan mengenali sepertinya korban juga termasuk beberapa orang sipil dan perempuan. Walaupun hati menduga, dia bertanya kepada Abdul. “Apakah mereka itu ibu dan adik Honggo?” sambil tangan kanannya menunjuk dua mayat di depan mereka. 
“Iya betul, apa boleh buat. Setiap perjuangan mungkin memerlukan pengorbanan.” jawab Abdul perlahan sambil berusaha berempati kepada Intan yang tampak shock. 
Intan tidak mampu lagi berkata apa-apa. Dia hanya menangis sesenggukan. Walaupun dia belum mengenal keluarga Honggo, namun di dalam hatinya tidak dapat dipungkiri telah tumbuh perasaan sayang kepada pribadi Honggo. Dia menyesal telah ikut permainan Abdul dan merasa ikut bertanggung jawab atas meninggalnya keluarga Honggo. Tangisannya semakin keras bila dia mengingat hal ini. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar