Senin, 19 September 2016

Ketika Iblis Menguasai 8



Ustadz Mamat dan Iparnya

Ustadz Mamat bersiap-siap untuk pulang ke desanya di hari Jum'at itu. Sudah beberapa hari ini ia uring-uringan karena Murtiasih, murid kesayangan sekaligus juga simpanannya, sedang sakit sehingga tidak masuk sekolah. Selain itu kedua murid lainnya yang genit dan terkadang dapat dijadikan pengganti Murtiasih di ranjang, yaitu Sumirah dan Rofikah, agaknya lebih asyik dengan dua pejantan lainnya yang telah merenggut kegadisan mereka, yaitu pak Jamal dan pak Fikri.
Kedua pejantan dan kedua pelajar madrasah itu telah terbuai dan tenggelam di dalam lumpur kemaksiatan, sehingga mereka sama sekali tak tertarik untuk menggoda guru mereka yaitu ustadz Mamat. Mereka bahkan saling bertukar dan bergonta-ganti pasangan tidur - tak kalah dengan kehidupan seks selebs di kota besar. Karena itu ustadz Mamat merasakan kekeringan dan berharap agar week-end ini bisa pulang ke desanya untuk menagih jatah kepada istrinya sendiri, yaitu Aida.

Namun apa mau dikata, sehari sebelumnya, yaitu Kamis malam, ustadz Mamat mendapat kabar dari istrinya bahwa teman akrab istrinya sejak sebelum sekolah mengalami keguguran dan masuk rumah sakit karena ada komplikasi pendarahan. Karena itu Aida akan pergi mengunjungi teman akrabnya itu di rumah sakit yang terletak di kota agak jauh. Jika sudah terlalu malam maka Aida akan menginap di rumah orang tua temannya itu karena jalur bus antar kota sudah tak ada.
Ustadz Mamat tak pernah mengetahui bahwa alasan yang diberikan istrinya itu hanya separuhnya benar, karena istrinya Aida tidak naik bus antar kota, melainkan akan pulang pergi diantarkan oleh... pak Sobri, dan menginapnya di rumah pak Fikri!!!
Karena itulah ustadz Mamat sangat kesal dan menggerutu sepanjang perjalanannya menuju ke desa tempat tinggalnya, gairahnya sebagai lelaki telah menggelora dan membutuhkan penyaluran. Tak terasa akhirnya Mamat melenggut dan tertidur di dalam bus. Dalam mimpinya terbayang semua wajah wanita-wanita muda cantik yang pernah ditidurinya, mulai dari istrinya Aida, Rofikah, Sumirah serta Murtiasih yang paling muda dan paling banyak memberikannya kepuasan sebagai lelaki.
Apa yang tak diketahuinya adalah adik perempuan istrinya yang termuda  yaitu Asmi Maharani, dengan panggilan sehari-hari Rani, week-end itu akan mudik pulang ke kampung untuk menengok kakaknya yaitu Aida yang telah lama tidak dikunjunginya. Rani masih sekolah menengah kelas akhir di Bandung. Sebelum pulang ke rumah kakaknya yang tertua itu, Rani mampir dulu ke tempat kakaknya yang lain yaitu Farah (Baca prequel : Farah dan pak Burhan).
Akhirnya ustadz Mamat tiba di desanya dan dengan penuh kejengkelan ia perlahan-lahan berjalan kaki dari bus halte menuju rumahnya. Sesampainya di rumah, ia langsung mandi dan menghempaskan diri ke bangku yang terbuat dari bambu di belakang rumah.
Di situ dilihatnya pelbagai pohon buah-buahan yang selama ini dipeliharanya dengan seksama telah menampakkan hasil : ada jambu klutuk, kedongdong dan pepaya.
Mamat merenung dan menyadari bahwa selama ini ia agak mengabaikan semua yang berkembang di rumahnya. Dipejamkannya mata dan diingat-ingatnya kapan terakhir kali ia menggauli istrinya Aida. Agak malu ustadz Mamat menyadari bahwa ia telah lupa kapan istrinya itu diberikannya nafkah jasmani yang selayaknya harus diberikan sebagai suami yang sah.
Ustadz Mamat mengambil galah bambu panjang lalu dipetiknya beberapa kedongdong, beberapa jambu klutuk, serta satu pepaya. Dibawanya ke dalam karena hujan mulai turun dan di dapur dilihatnya bahwa Aida telah menyediakan pepesan tempe serta urap-urap kesukaannya, sebelum ia pergi mengunjungi teman akrabnya. Terasa betapa sepinya rumah tanpa istrinya Aida dan ustadz Mamat menarik nafas panjang sambil berjanji akan memanjakan Aida jika pulang.
Pada saat itu didengarnya beberapa kali ketukan di pintu depan disertai dengan suara wanita...
Ustadz Mamat mengintip dari balik jendela ruang tamu dan melihat di depan pintu rumah berdiri seorang wanita muda berbusana baju kurung dengan jilbab berwarna putih. Wajah wanita muda itu agak terlindung payung karena memang di luar hujan rintik-rintik, namun ustadz Mamat dapat mengenali langsung karena penampilan gadis muda itu banyak persamaaannya dengan Aida istrinya.
Tidak salah lagi, itu adalah adik Aida yang paling bungsu, yaitu Asmi Maharani  atau biasa dipanggil Rani oleh teman-temannya.  Hal ini sangat tak diduga oleh Mamat karena biasanya kedatangan Rani selalu diberitahukan terlebih dahulu kepada kakaknya Aida. Kali ini pun Rani telah memberitahukan sehari sebelumnya, namun karena agaknya Aida telah dipenuhi benaknya oleh temannya yang masuk rumah sakit sehingga lupa diteruskan kepada ustadz Mamat, suaminya.
Selain itu Aida memang menerima telpon dari adiknya itu ketika sedang sibuk melayani pak Sobri yang lagi memuaskan nafsu birahi di tubuh istri sang ustadz. Tak heran jika Aida tanpa banyak pikir panjang menerima tawaran pak Sobri untuk mengantarkannya ke rumah sakit dimana teman akrabnya dirawat. Memang dalam waktu hanya beberapa bulan Aida telah berubah akibat kemahiran pak Sobri, dia yang awalnya seorang ustazah dan istri alim shalihah, kini berubah menjadi wanita dewasa binal yang mengenal semua teknik percintaan. Kelalaian Aida ini akan mengubah nasib adiknya....
Tanpa terasa darah ustadz Mamat berdesir melihat gadis muda adik istrinya itu - dan memang dari ketiga adik perempuan Aida, Rani inilah yang paling mirip dengan istrinya. Karena hujan rintik-rintik semakin lebat, maka ustadz Mamat segera membukakan pintu dan Rani pun lekas-lekas masuk sambil memberikan salam sebagaimana lazimnya.
"Assalamualaikum, bang Mamat. Apa kabar nih? Kak Aida pasti sudah pulang dari rumah sakit mengunjungi temannya," Rani menaruh payung yang dipakainya di balik pintu.
"Mungkin sebentar lagi dia pulang, masuklah nanti basah kena hujan dan sakit masuk angin," jawab dusta ustadz Mamat sopan santun karena tahu Aida tak akan cepat pulang. Jantungnya mulai berdebar keras serta matanya melirik ke arah wajah ayu manis Rani, serta tubuhnya yang meskipun terbalut baju kurung namun tak dapat menyembunyikan tonjolan-tonjolan kewanitaannya.
"Pasti adik Rani sudah lapar, di dapur masih cukup masakan yang tadi dibuat sama Aida sebelum ia pergi mengunjungi temannya. Silahkan dipanasi dan dimakan apa yang Rani inginkan, tak usah sungkan-sungkan. Abang sendiri sudah makan dan mau ke warung untuk beli minyak tanah," lanjut ustadz Mamat berusaha menenangkan Rani karena merasa agak canggung berduaan dengan ipar laki-lakinya. "Setelah itu abang akan melawat ke tetangga yang minggu lalu meninggal sehingga abang baru akan pulang larut nanti dan pasti Aida udah pulang."
"Iya, terima kasih, Bang. Nanti saya urus diri saya sendiri, jangan repot dan silahkan kalau mau ke warung, tapi pakai payung karena hujan agaknya semakin lebat," demikian Rani dengan tetap memakai jilbabnya masuk ke dapur untuk memanaskan makanan yang akan segera dinikmatinya.
Ustadz Mamat tersenyum memuji dirinya sendiri yang sanggup dalam waktu amat singkat mencari akal bulus sehingga sang ipar cantik akan tetap menunggu sendirian di rumahnya, sementara itu ia akan bersembunyi di warung untuk minum kopi dan sesudah itu kembali ke rumahnya untuk....
.
***

Satu setengah jam kemudian ...

Dengan bantuan suasana di luar yang sudah gelap maka ustadz Mamat kembali ke rumahnya lewat jalan memutar belakang, dengan demikian sama sekali tak terlihat orang lain karena letak rumahnya jauh dari jalan besar, selain itu juga tersembunyi di balik pelbagai pohon rimbun. Ustadz Mamat tahu kebiasaan ipar termudanya ini, yaitu mandi sepuas-puasnya setelah selesai melakukan ibadah maghrib.
Dari luar Mamat mendekati bagian belakang rumahnya sebelah kiri karena di bagian itulah letaknya kamar mandi - dan dari suara guyuran air maka ia mengetahui bahwa iparnya Rani sedang mandi.
Perlahan lahan Mamat memasuki rumahnya lewat pintu samping belakang, dan sambil menunggu Rani selesai mandi maka ustadz yang telah dikuasai iblis sepenuhnya itu bersembunyi di balik lemari besar di kamarnya sendiri. Sebelumnya ia sempat melongok ke dalam salah satu kamar tidur lain yang memang hanya dipakai jika ada tamu, terutama oleh ketiga iparnya yang cantik-cantik : Farah, Sri Lestari dan Asma Maharani alias Rani.
Hampir setengah jam lamanya ustadz Mamat menunggu sampai tak terdengar lagi suara guyuran air di kamar mandi, inilah yang ditunggu oleh Mamat yang langsung berjingkat-jingkat meninggalkan kamar tidurnya sendiri lalu masuk ke kamar tidur tamu dan menanti di belakang pintu yang agak terbuka.
Lima menit kemudian terdengar pintu kamar mandi terkuak dan Rani keluar dengan tubuh ditutup rapat oleh baju kurung. Mamat mendengar langkah kaki memakai sandal yang berjalan tergesa-gesa ke arah kamar tidur tamu. Sejenak kemudian pintu terbuka dan Rani melangkah masuk.
"Fffffhhhhhssssmsshfff... nnghhhfffhhhhfff..." Rani menjerit kaget saat tiba-tiba tubuhnya dirangkul oleh seseorang.
Cepat dia menghentak-hentakkan kakinya serta meronta sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari rangkulan ustadz Mamat yang mendekap pinggangnya yang langsing. Kepalanya berusaha menggeleng ke kiri dan ke kanan karena mulutnya dibekap sekuat tenaga oleh kakak ipar lelakinya yang sama sekali tak diduga akan melakukan hal semacam ini. Rani tak pernah menyangka bahwa kakak iparnya yang selama ini dikenal sebagai ustadz sholeh, kini malah merencanakan perbuatan maksiat terhadap dirinya.
Rani mengharapkan agar kakaknya Aida segera tiba setiap saat dan dapat memergoki suaminya yang melakukan perbuatan tak senonoh ini. Rani tak tahu bahwa Aida malam itu tak akan pulang karena sedang mengunjungi temannya di RS diantarkan oleh pak Sobri yang telah menjadi kekasih gelapnya sejak beberapa waktu lalu. Aida tak menyadari pula bahwa sepulangnya dari RS setelah mengunjungi temannya, ia akan dibawa ke tempat lain oleh pak Sobri, yaitu ke rumah pak Fikri untuk dinikmati bersama oleh kedua lelaki durjana itu.
"Ssssshhhhh.. Rani maniiiissku, aku sudah lama memimpikan tubuhmu meronta menggeliat dalam pelukanku! Sssshhhhhhhh.. nikmati aja lah, nanti aku berikan hadiah yang paling berharga dan kamu pasti akan ketagihan! Ssssshhhhh... Rani, kakakmu sedang sibuk dan tak pulang malam ini," ustadz Mamat melanjutkan niat maksiatnya.
Kini diseretnya Rani ke arah kamar tidur meskipun korbannya masih berusaha melawan sekuat tenaga, namun tak lama kemudian mereka telah berada di tepi ranjang. Tanpa banyak kesulitan ustadz Mamat menghempaskan tubuh Rani ke atas ranjang, sekaligus ditindihnya dan mulutnya dengan rakus mulai menciumi bibir tipis Rani sambil kedua tangannya berusaha mencabik dan melepaskan baju kurung gadis itu.
Sia-sia saja Rani melawan sekuat tenaga karena ustadz Mamat telah menindih badannya, bahkan kini tubuhnya dibalikkan hingga telungkup. Dalam posisi ini semakin sukar bagi Rani untuk menggunakan kaki dan tangannya secara effektif, kedua nadinya dicekal ditelikung dan agak dipelintir di belakang punggung. Jeritan kesakitan Rani tak dapat keluar seluruhnya karena wajahnya tertelungkup dan tertekan ke arah bantal di bagian kepala ranjang.
Menggunakan sabuk ikat pinggangnya, Ustadz Mamat segera mengikat erat-erat kedua nadi Rani ke arah punggung. Setelah ia melihat Rani semakin sukar untuk melawan karena tangannya terikat, maka mulailah ustadz Mamat melepaskan semua pakaiannya sendiri. Tindakan selanjutnya ustadz yang kemasukan iblis ini adalah melorotkan baju kurung, sarung dan gamis serta sekaligus juga celana dalam Rani. Celana dalam yang dirasakannya agak lembab basah itu diciuminya sebentar penuh nafsu birahi, juga digosok-gosokkan ke penisnya yang telah mengacung berat. Baru setelah itu dibaliknya tubuh Rani dan sebelum gadis itu sempat berteriak, mulutnya yang mungil langsung disumpalnya dengan celana dalamnya sendiri.
Kini Rani hanya dapat menatap Mamat dengan penuh rasa marah sekaligus ketakutan, sementara ustadz cabul ini melanjutkan melepaskan kebaya Rani serta kedua BH-nya yang berukuran 34C....
Lima menit kemudian tubuh Rani telah telanjang bulat menggeletak di ranjang di hadapan ustadz Mamat, kakak iparnya yang juga telah telanjang bulat dengan penis mengangguk-angguk amat gagah.
Rani melengoskan kepala karena sangat malu mengahadapi pemandangan yang sama sekali tak pernah ia duga akan dialami sebelum memasuki malam pernikahan. Air matanya mulai mengalir di pipi karena sadar bahwa dia dalam keadaan yang tak berdaya menghadapi kakak iparnya yang tengah dirasuki iblis, yang tak pernah diduganya akan melakukan hal ini terhadap dirinya.
Rani berusaha meronta-ronta dalam posisi tubuh menyamping sambil menekuk dan merapatkan kedua pahanya sejauh mungkin, sehingga diharapkannya semua bagian vital dan intimnya dapat tersembunyi dari tatapan liar Mamat. Dengan sekuat tenaga Rani berusaha melepaskan kedua pergelangannya yang terikat di punggung oleh sabuk ikat pinggang, namun sampai saat ini hanya sia-sia belaka.
Ustadz Mamat kini telah merebahkan kembali tubuhnya di samping Rani, digolekkannya tubuh gadis manis itu kembali telentang, lalu dengan paksa dibukanya paha Rani yang tegang merapat.
Lutut kiri Rani diletakkan dan ditekan ke ranjang oleh ustadz Mamat, kemudian ditindihnya dengan lutut kanannya, sementara kedua tangannya dengan dibantu lutut kirinya mendorong lutut Rani ke samping. Sekuat-kuatnya Rani melawan namun kalah tenaga sehingga perlahan-lahan kedua pahanya terbuka dan muncullah pemandangan yang sangat-sangat merangsang : selangkangan seorang gadis shalihah yang tak pernah terjamah oleh gadis manapun.
Walaupun ustadz Mamat telah beberapa kali melihat pemandangan serupa, namun selangkangan iparnya yang masih sedemikian muda ini membuatnya blingsatan. Dengan rasa birahi tak tertahan Mamat segera meletakkan tubuhnya diantara paha sang adik ipar sambil ciumannya menghujani leher jenjang Rani. Bahkan tak hanya mencium, namun juga menjilat-jilat bagaikan hewan buas sebelum menyantap mangsanya. Ciuman dan jilatan lidah Mamat memasuki pula kedua telinga Rani secara bergantian hingga menyebabkan rasa geli tak terkira yang membuat gadis muda ini mulai menggeliat dan mendesah penuh keresahan.
"Cuuppp, cuuppp, hmmmmh... geli nggak? Tapi enaak, kan?! Jangan ngelawan, nduk, nikmati saja! Ntar juga ikut ketagihan... bagus amat tetek kamu, abang jadi pengen nyusu, hhhmmh..." ustadz Mamat kini mulai menggerayangi bukit kembar di dada Rani dan mulai meremas-remasnya dengan gemas sambil menyedot-nyedot rakus putingnya yang mungil, menyebabkan Rani semakin meronta marah.
Tak pernah hal ini dialami oleh gadis yang alim ini. Jiwanya menolak perlakuan tak senonoh iparnya ini, namun di sisi lain hormon kewanitaannya mulai terbangun akibat rangsangan itu.
Karena kedua pergelangan tangannya masih terikat di punggung dan dalam keadaan terlentang Rani merasakan sakit dan ngilu di sendi bahunya. Hal ini rupanya disadari oleh ustadz Mamat, dan kembali ia membalikkan tubuh Rani menelungkup, namun tetap ditindihnya sambil dilepasnya ikatan sabuk di pergelangan tangan mangsanya.
Merasakan kedua tangannya terlepas, Rani berusaha untuk melawan dan mencakar, namun ustadz Mamat rupanya telah siap mengatasi hal itu. Dalam posisi tertelungkup maka sukar bagi Rani untuk melawan, apalagi tubuhnya ditindih oleh Mamat yang memeluk pinggangnya dari arah belakang menggunakan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya menjalar ke arah perut Rani, lalu ke pusar, dan terus mengembara menuju ke arah selangkangan gadis muda itu.
Dengan panik Rani mencakar dan mencubiti tangan serta paha Mamat dengan cukup keras, namun sama sekali tak dipedulikan oleh laki-laki itu. Jari-jari tangan kiri Mamat kini malah menjalar dari pinggang menuju ke arah puting buah dada kanannya. Mamat memijit, memilin dan mencubitnya dengan gemas hingga membuat Rani sampai menjerit-jerit.
Jari-jari tangan kanan Mamat telah mencapai bukit venus Rani dan rambut halus penghias kemaluan gadis itu mulai dicabut-cabutnya pula dengan sadis, yang mana membuat Rani semakin memekik kesakitan.
"Hssssst, sssssshhh... tenang, manis! Kan udah dibilang jangan menjerit, jangan ngelawan, santai dan nikmati aja! Cupp cuppp, aaaaaah... abang jadi gemes banget nih, dicupangin telinganya ya," Mamat kembali menjulurkan lidahnya bergantian ke liang telinga Rani kiri dan kanan, sambil sesekali diselingi mencupangi leher samping dan belakang gadis muda itu.
"Hiiiikkss, hhikkkks... abang, jangan begini dong! Kasihani Rani, kan abang udah punya Kak Aida! Jangan bikin malu saya, bang! Insyaaaf, bang! Saya enggak akan bilang siapapun.. tolooong, bang! Jangaaan!!!" Rani berusaha menasihati iparnya karena sadar sebentar lagi ia akan kehilangan milik satu-satunya yang paling berharga.
"Nggak apa-apa, nduk. Ini permainan kita berdua, nggak ada orang lain yang perduli dan tahu. Ikutin aja hasrat badan kamu.. mulai kerasa enak kan? Ngaku aja deh, ntar kamu pasti akan ketagihan minta nambah," ustadz Mamat tak perduli dengan isak tangis korbannya, sementara jari-jari nakal tangan kanannya berusaha membelah bibir kemaluan Rani dan mencari biji kelentit pusat kenikmatan wanita muda itu.
Rani merasa sangat malu dan berusaha mengelak dengan menggoyang-goyangkan pinggulnya yang montok padat ke kiri dan ke kanan, namun hal ini ditafsirkan oleh Mamat bahwa korbannya mulai merasakan kenikmatan. Akhirnya ibu jari dan telunjuk Mamat berhasil menemukan itil Rani dan langsung dijepitnya dengan kedua jari, lalu dipilin-pilinnya seperti yang ia lakukan pada kedua puting buah dada Rani yang kini telah terasa mengeras.
Rani tak menduga sama sekali betapa tubuhnya sebagai wanita muda dan sehat akan merespons rangsangan itu : setiap sentuhan apalagi pilinan jari tangan Mamat di kelentitnya bagaikan aliran listrik yang menyengat tajam. Dia benar-benar tak berdaya untuk menolak apalagi melawan karena tubuhnya tertindih pasrah sehingga ia hanya dapat merintih-rintih saja.
"Aaaiiih.. ooooohh.. eennggff.. sssssh.. aaauuuuw.. udaaaah, baang, ngiluuuuu.. geliiii, lepasiiin aku! Tolooong, bang, udaaaaah.. hiiks, hiikks.. toloooong, kasihani aku, bang!!" Rani mulai merasakan tenaganya berkurang, dan ini pun dirasakan oleh Mamat yang justru kini semakin meningkatkan usaha dan rangsangan agar mangsanya ini terkuras seluruhnya ketika nanti mengalami orgasme.
"Hmmmh.. nduk mulai keenakan ya? Tunggu bentar lagi, pasti nduk akan masuk surga ke tujuh, hehehe.. jari abang mulai dimandiin ama liur memek nduk nih, hmmh.. mulai licin nih lobang," ustadz Mamat semakin getol menggoda iparnya yang masih lugu dan masih belum berpengalaman itu.
Rani merasakan wajahnya memerah panas hingga ke kedua telinganya karena malu mendengar celoteh rayuan itu, namun ia pun harus mengakui bahwa tubuhnya semakin terangsang oleh belaian ustadz Mamat. Semua rontaannya sama sekali tak memberikan hasil, jari-jari tangan Mamat tetap nangkring dan mengaduk-aduk diantara bibir kemaluannya, mengusap dan mencubit-cubit klitorisnya, sementara putingnya juga mengalami perlakuan sama.
Gelombang demi gelombang kegelian dan kenikmatan menjalar dari pusat kewanitaan Rani menuju ke kulit badannya yang merinding, kemudian mencapai susunan syaraf pusat di kepala dan kembali ke liang senggamanya, hingga akhirnya berlawanan dengan rasa penolakan akal sehatnya, Rani malah tak sanggup lagi menahan orgasme pertamanya. Tubuhnya yang masih tertelungkup ditindih ustadz Mamat bergetar hebat sebelum kemudian kaku dan mengejang kencang. Rani menggigit sprei penutup kasur saat semua itu terjadi.
"Uuuuuggggh.. mffffffhhh.. sssssffffhhh.." hanya desis dan desah putus asa itu yang terdengar keluar dari bibirnya.
Tanpa mempedulikan keadaan Rani yang masih orgasme, ustadz Mamat tetap mengulik dan menggaruk-garuk ujung kelentit si gadis muda yang kini telah berubah menjadi super peka. Beberapa menit kemudian terasa oleh Mamat bahwa tubuh korbannya mulai berkurang kekejangannya, dan dari hembusan nafas Rani yang sebelumnya sangat mendesah cepat, kini mulai agak tenang.   
Merasa yakin bahwa mangsanya telah dapat ditaklukkan sepenuhnya, maka ustadz Mamat membalikkan tubuh Rani kembali menelentang. Kedua nadi tangan gadis itu dicekal dan direntangkannya ke samping kepala.
Ustadz Mamat menindih kembali tubuh bugil Rani dan ia meletakkan dirinya diantara paha mulus yang kini terkuak lebar. Mati-matian Rani berusaha menutup selangkangannya, namun sang ipar lelaki yang telah dikuasai nafsu birahi itu jauh lebih cepat dan kuat menekan paha putih semampainya ke samping.
"Jangaaan, bang! Jangan nodai Rani! Ingat, bang, aku kan adik ipar abang! Sadarlah, Aida kan istri abang! Hiikks, hiikkss... aku nggak akan ngadu sama siapapun, termasuk juga sama Kak Aida," Di tengah rasa putus asa dan isak tangisnya, Rani masih berusaha menyadarkan ustadz yang kerasukan itu.
"Udahlah, nduk! Udah kepalang basah, kita mandi aja sekalian. Kamu barusan udah ngerasain enaknya kan? Itu baru permulaan, nduk. Ntar nikmatnya berlipat ganda," ustadz Mamat tetap dengan gemasnya meremas-remas kembali kedua puting mungil di dada Rani, sementara tubuhnya kian merosot ke bawah.
Bibirnya mengembara di sekitar pusar Rani, lalu menjalar ke bawah mendekati bukit Venus yang terlindungi bulu-bulu halus mengelilingi celah kegadisannya yang sempit. Ciuman panas dan jilatan lidah basah Mamat kini memasuki daerah terlarang itu: bukit kemaluan Rani yang masih belum pernah dilihat oleh lelaki lain.
Nafas hangat ustadz cabul itu menyerang bertubi-tubi di lipatan paha selangkangan Rani, menjalar ke paha yang menghentak meronta kegelian, lalu kembali ke arah pusar, dan turun ke lembah mungil yang berbulu halus.
Lidah kasap Mamat menjalar bagaikan ular kecil menyelinap diantara bibir kemaluan berwarna coklat muda kemerahan, menyentuh dindingnya, menjulur ke dalam mencari selaput pertahanan nan tipis, lalu kembali ke atas diantara lipatan pelindung dan akhirnya menyentuh pusaka kecil nan peka.
"Hhhhhmmmhh.. ini dia yang abang cari! Ci-luk-ba, ci-luk-ba.. cupp, cupp.. hhhmmh.. di-gowel enak ya, nduk? Wuuuiih.. udah mulai keluar lagi nih sumber madu perawan.. sluurrp, sluuurrp.. aaaah.." Mamat ngoceh tiada hentinya sambil memusatkan jepitan bibir dan juluran lidahnya ke kelentit Rani.
"Ooooohh, baaang! Geeliiiii, udaah... aku lemees! Aaaaaaaah.. aaaih, bang! Aaaaoooh.. stop, udaah, bang! Rani mau pipis lagi.. aaaaihhhhh.. hiks, hiks.. udaah.. oooh.. hiyaaaah!!" Rani menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan seolah tak percaya apa yang sedang dialaminya sekarang.
"Hhhmmmhh.. iya betul, manis.. enggak usah malu ama abang! Pipis aja yang banyak, licinin memek nduk.. jadi ntar lancar masuknya nih adek abang yang udah nggak sabaran, hhhmmhh.." ustadz Mamat merasakan lidahnya terjepit diantara bibir kemaluan Rani.
Tak lama kemudian lidah itu terasa bagaikan diurut-urut dan diremas-remas oleh dinding vagina Rani, sekaligus ludahnya yang membasahi bibir kemaluan Rani tercampur pula oleh lumasan lendir yang memancar keluar. Mula-mula terasa agak asam, namun tak lama kemudian berubah menjadi agak sepat dan akhirnya tanpa rasa tertentu, hanya kelicinan yang menyambut permukaan bibirnya sendiri, bahkan sempat membasahi kumis kecilnya.
"Aaaaaah.. ooooooh.. duh gusti.. oooooohhhh.. aaaaah.. ampuun, bang! Gelii.. udaah.. aaaaih.. aku keluar pipisnya! Oooohh... baang!!" Rani tak sanggup lagi menahan semua rangsangan yang menyerang tubuh mudanya - kembali dia menegang dan mengejang-ngejang.
Wajahnya menengadah ke atas, kedua matanya kuyu mengarah ke langit-langit, nafasnya mendesah melalui lubang hidung yang kembang kempis serta mulutnya yang setengah terbuka. Selain itu tanpa sadar Rani memegang kedua buah dadanya sendiri dan meremas-remasnya, menandakan naluri wanita dewasa yang sedang dilanda oleh gelora birahi memuncak. Hal itu sangat memuaskan 'ego' ustadz Mamat yang bangga dapat membangkitkan nafsu seorang gadis alim shalihah. Kini tinggal selangkah lagi untuk mengubah iparnya itu dari status 'gadis' menjadi seorang wanita dewasa!
Ditatapnya geliatan tubuh Rani yang langsing namun padat itu, kaki jenjang gadis itu ditarik dan diletakkannya di atas bahu, sementara ibu jari serta telunjuknya menyibak belahan bukit Venus milik Rani. Terlihat dinding vagina yang mengkilat basah terlumas oleh lendir kewanitaan. Dengan tangan kanannya Mamat mengarahkan kejantanannya yang telah menegang mengacung ke atas menuju bagian tengah belahan itu. Setelah kepala jamurnya terjepit diantara bibir lembut yang berwarna kemerah-merahan, perlahan-lahan ustadz Mamat memajukan pinggulnya sambil  kedua nadi Rani dicekalnya erat-erat.
"Aduh, aduduh.. aaaaauuuuwww! S-sakiitt, baaang! Udah.. keluariin.. Rani nggak tahan sakitnya, bang! Oooooouuu.. hikks, hikkss.. abang jahaat! Auuuuwww.. kumohon, baang! Sakiiit!!" Rani menjerit memilukan hati pada saat ustadz Mamat mulai menodainya.
Wajahnya yang ayu cantik menggeleng ke kiri dan ke kanan. Meski kedua nadinya dicekal tak mampu bergerak, namun kepalanya membuka menutup membentuk tinju kecil. Pinggulnya berusaha menggeser ke kiri kanan untuk menghindaro hunjaman kemaluan ustadz Mamat, namun semua sia-sia saja karena ujung penis bagaikan kepala jamur kini semakin menerobos ke dalam dan akhirnya terhenti karena tertahan selaput tipis.
Hal ini juga dirasakan oleh ustadz Mamat yang mulai banyak pengalaman merenggut kegadisan wanita; bukan hanya Aida istrinya, namun juga murid-murid di madrasahnya, dan kini iparnya yang muda lagi lugu.
Dinikmatinya wajah Rani yang kesakitan, mata gadis itu membelalak penuh air mata, sementara nafas dan rintihan halus keluar dari belahan bibirnya yang manis setengah terbuka. Tak tahan dengan nafsu birahinya sendiri, ustadz Mamat melumat kembali bibir basah terbuka itu, dijulurkannya kembali lidahnya ke dalam rongga mulut Rani yang harum. Sementara itu pinggulnya semakin maju menekan tirai tipis selaput kegadisan milik Rani, dinding licin vagina iparnya terasa mengerut menjepit ingin menolak dan mengeluarkan batang daging yang sedang menyiksanya, menolak nasib malang yang tak mungkin terelakkan.
"Hmmgrh.. peretnya nih memek! Alot juga pertahanannya si nduk, tapi abang udah mau masuk nih.. uuuuhh.. tahan dikit lagi ya, nduk! Mmmmmmmhh... akhirnya jebol juga! Wuiih, enak tenaaan!!" ustadz Mamat akhirnya berhasil menjebol kegadisan Rani, lolongan dan jeritan kesakitan iparnya ia bungkam secara ganas dengan mencium mulut Rani penuh kerakusan dan nafsu birahi.
Rani hanya dapat menggelepar dan menggeliatkan tubuhnya secara sia-sia karena tetap ditindih oleh tubuh Mamat. Tanpa rasa kasihan dan tanpa memperdulikan isak tangis Rani yang kesakitan tak terkira karena sudah diperawani secara brutal, maka Mamat mulai dengan gerakan memompa maju mundur. Cabikan sisa selaput dara yang masih berdarah dan peka di dalam vagina Rani kini digesek-gesek oleh batang daging perkasa sehingga semakin terasa sakit dan perih. Akibatnya Rani jadi merintih-rintih.
Amat berbeda dengan Rani yang kesakitan, maka ustadz Mamat sangat menikmati ulah jahanamnya. Ciumannya yang sedemikian rakus terus membungkam mulut Rani, menyebabkan korbannya sukar untuk sekedar bernafas. Kedua pergelangan tangan Rani yang sejak tadi direjang dicekal kini telah dilepaskan, tangan Mamat ganti merengkuh kedua paha Rani yang demikian jenjang halus dan dipaksanya untuk merangkul pinggangnya seolah-olah Rani adalah seorang istri yang sedang menikmati ML dengan suaminya.
Tak cukup sampai disitu saja, setelah Rani yang telah lemas digagahinya itu menuruti keinginan merangkul pinggulnya yang tetap saja memompa maju mundur, maka kedua tangan ustadz Mamat kembali menggerayangi bukit kembar Rani yang tertindih dadanya. Diremas-remasnya bergantian kiri dan kanan, terkadang lemah lembut, terkadang gemas kasar, sekaligus lidahnya menyapu, menjilat, sambil giginya menjepit kedua puting yang telah mengeras itu, digewel-gewelnya, juga digigit dan ditarik-tariknya pula.
"Hmmmmmh.. ssshhhh.. legitnya nih tetek, abang mau nyusu ah! Cupp-cuppp.. hehehe, geli ngilu ya, nduk? Halus mulus, hhhmmmhh... abang bikin cupangan ya, gigit lagi ah, hehe!!" Tak henti-hentinya ustadz Mamat berceloteh sambil menggenjot mangsanya habis-habisan bagaikan sang iblis selalu menambahkan stamina, sementara Rani semakin lemah, lemas dan pasrah tak berdaya.
Bagaimanapun penderitaan dan sakit yang dialaminya, namun perlahan-lahan timbul perasaan dan gejolak lain di dalam tubuh gadis itu. Semua tindakan pelecehan yang dialaminya, kasar atau lemah lembut, sakit - ngilu – perih, kini tercampur pula dengan kehangatan, panas, gatal dan juga rasa nikmat yang tak pernah diduga maupun dialami sebelumnya. Orgasme yang beberapa saat lalu hadir, kini mulai 'dipersiapkan' lagi oleh gelora hormon wanita muda yang dipaksa keluar oleh Mamat.
"Aaaaah.. ooooohhh.. udah, bang! Aku nggak tahan lagi, oooohh... Rani nggak sanggup lagi melayani abang! Udah, baang.. perih!! Aaaaaaiiiihh.. aaaauuuww.. aaaaah.. oooohhh.. ngiluuuu.. ssshhhh.." Rani mengeluh dan mendesah melalui belahan bibir dan hidung bangirnya yang kembang kempis.
"Hhhmmmh.. duuuuuh, cakepnya nduk pas lagi dijarah.. mulai enak kan? Jangan ditahan, nduk, ikutin aja.. nyerah dan pasrah ya, nduk, ntar lagi pasti ketagihan! Ngaku deh, nduk.. ayo bilang, nikmat nggak? Nih abang tambahin lagi jedugannya biar mantap, nikmat kan? Ngaku deh," Mamat semakin ganas menggenjot habis-habisan mangsanya yang telah tak sanggup melawan lagi.
"Ooooh.. abang jahat! Rani sakit, bang! Oooooh.. aaiiihh.. shhhhhhh.. aaaahhh.. auuuw.. aauuw.. abang mainnya sadis! Aaaauuuw.. oooohh.. Rani nyerah, lepasin dong! Mau pipis lagi," Rani menggeliat meronta dan merintih memelas sambil menatap Mamat dengan muka kuyu mohon dikasihani.
Wajah sedemikian manis tak berdaya dan berjengit meringis kesakitan setiap kali kepala penisnya menghantam mulut rahim mangsanya itu menyebabkan kejantanan Mamat semakin membesar dan gejolak lahar kelelakiannya mulai mendidih ingin muncrat keluar dari kedua biji pelirnya. Ustadz cabul ini semakin mempercepat ritme pompaannya, maju mundur, ke atas dan ke bawah, lalu memutar dan kembali menghantam mulut rahim.
Rani bagaikan hanyut oleh gelombang laut yang meninggi, lalu menghempaskannya ke bawah, melemparkannya ke atas, berputar-putar, menyebabkannya jadi semakin pusing setengah pingsan. Dia telah mendekati batas kesadarannya dan daya tahan malunya, sampai akhirnya.....
"Aduh, bang! Tolooong.. auuuuuuww.. ampuuuunnn.. ampuuuuun.. lepasin, Rani mau pipis! Aaaahhhh.. aaaaiiihhh.. ssssshhh.. ooohhhhh.." Tanpa menyadari statusnya sebagai gadis alim shalihah, akhirnya Rani dilanda oleh orgasme kedua yang jauh lebih hebat daripada yang pertama. Wajahnya menengadah ke atas, matanya terbalik dan hanya terlihat pelupuk putihnya, sementara hidung bangirnya kembang kempis dan mulutnya terbuka.
"Ooooohhh.. abang juga mau banjir nih! Iya gitu, jepit barang abang! Iya, peres keluar santennya! Nih keluar... duh, enak tenan ngewein perawan alim!!" Mamat akhirnya memeluk tubuh telanjang Rani yang mengejang, dan keduanya berdengus bagai dua hewan yang sedang berkelahi mempertaruhkan nyawa.
Tubuh keduanya mengkilat oleh keringat yang membasahi dan kini telah bercampur menjadi satu, sebelum kemudian menggeletak tindih-menindih....

Setengah jam kedua insan berlawanan jenis itu berangkulan dalam keadaan tubuh telanjang di bawah selimut tipis. Rani berusaha beberapa kali melepaskan diri dari rangkulan ipar lelakinya yang kini telah sepenuhnya dalam kekuasaan iblis. Permohonan Rani untuk membersihkan diri yang dirasakannya sangat kotor tak dikabulkan oleh ustadz Mamat. Bukan hanya suara berbisik memelas, bahkan aliran air mata Rani tak menggugah hati nurani Mamat.
Tidak cukup dengan menolak permohonan Rani, namun Mamat bahkan tetap memeluk erat korban pelecehannya yang terakhir itu. Tubuh Rani yang bergetar lemah karena sesenggukan tangisnya dipeluk dari belakang oleh Mamat, yang tetap mengusap meraba-raba paha putih mulus, sebelum jari-jari nakal sang ustadz kembali menjalar memaksa memasuki celah vagina Rani.
Celah surgawi Rani masih terasa rapat licin karena terlumas cairan kewanitaannya sendiri, tercampur dengan sperma pemerkosanya, dan bercak darah dari selaput perawan yang telah dikoyak secara paksa. Ustadz Mamat sangat bangga melihat jari tangannya dilumasi sisa spermanya sendiri dan darah keperawanan - jari tangan yang mana kini dipaksakannya masuk ke mulut Rani untuk dijilat bersih. Gadis malang ini telah terlalu lemah, sangat lemas dan hanya pasrah memenuhi keinginan Mamat.
Dan malam itu iblis kembali berpesta pora...!     

TAMAT EPISODE USTADZ MAMAT DAN ASMI MAHARANI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar