Minggu, 11 September 2016

Ketika Wulan Membenci Bulan



“Lan, besok-besok mas nggak kemari dulu ya.” kata Marzuki sambil menarik zipper celana jeansnya. Dadanya yang bidang berpeluh terlihat mengkilat oleh pantulan temaram bohlam merah 5 watt. Di tempat tidur tergolek tubuh polos milik wanita bernama Wulan. Wanita yang diajak bicara itu tetap tak bersuara sambil menutup wajahnya dengan bantal.
Marzuki menoleh pada wanita itu, tak tampak keinginan untuk menjamahnya kembali. Hasratnya sudah tersalurkan lewat pergumulan yang melelahkan selama setengah jam yang lewat.
Ia menyalakan rokok dan menghisapnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Lalu diraihnya bantal yang menutupi wajah cantik Wulan. Sekarang tampak wajah manis seorang wanita dengan tahi lalat kecil di ujung bibirnya. Walau usianya mendekati kepala tiga, tapi Wulan tetap cantik laksana rembulan. Inilah yang membuat Marzuki terpikat, wajahnya penuh sinar kehangatan.
Rupanya wanita itu telah menangis diam-diam, matanya basah dan sembab.

“Aku tahu kamu pasti menangis, Lan. Itu ritual tahunanmu kan?” kata Marzuki perlahan sembari mengusap-usap belahan dada putih milik Wulan yang tak lagi kencang.
“Kamu pasti tahu, aku pasti kembali bulan di berikutnya... dan aku tak pernah bohong bukan?” jawab Wulan.
Kali ini tangan Marzuki merambat turun ke bawah mencari tempat yang paling sensitif. Ia ingin sekedar mencairkan suasana.
“Mas, ah… sudah ah…” pinta Wulan.
Marzuki meneruskan aksinya. Ia tersenyum karena misinya ternyata berhasil. Wulan beringsut duduk dan tetap polos.
“Buat aku sini rokokmu…” kata Wulan.
Marzuki menyerahkan rokok yang baru beberapa kali dihisapnya. Wulan membuat bulatan-bulatan asap kecil, membiarkannya terbang ke udara kamar yang gerah itu. Tak ada kipas atau pun AC di kamar ukuran 2 x 3 itu.
“Aku selalu benci ketika bulan itu tiba… kamu tahu itu kan, mas?” bisiknya parau. Wulan menjentikan rokoknya yang sudah habis ke sudut kamar yang penuh dengan puntung, tisu, maupun bungkus kondom. Ia lalu beranjak dan berdiri di muka Marzuki yang sedari tadi terus mematung. Di dekapnya kepala Marzuki pada buah dadanya, membiarkan laki-laki itu menyusu disana, sementara ia menciumi rambut ikal Marzuki bak seorang kekasih.
“Tolong ajari aku mencintai bulan itu, mas… aku ingin sepertimu dan juga orang-orang di luar sana yang selalu bahagia menyambutnya.” ucap wanita itu dengan sedikit sinis. “Aku marah setiap bulan itu datang. Ia merenggutmu dari aku… walau hanya satu bulan saja!” kali ini nada suara Wulan mulai naik. ”Bahkan Ia merampas rejeki kami...!”
Keduanya lalu diam saling mendekap. Membiarkan sayup-sayup alunan musik dangdut berirama house music menyelimuti keheningan mereka. Sesekali terdengar derai tawa dan cekikikan wanita yang lalu lalang di muka kamar mereka itu.
“Aku mesti pulang… istirahat.” kata Marzuki.
“Ya, aku tahu nanti mas mesti sahur kan?” kata Wulan datar.
Air muka Marzuki sedikit berubah, ada rasa malu di wajahnya tapi ia berusaha untuk menutupinya. Wulan melepaskan dekapannya. Ia tahu selalu ada rasa terhadap laki-laki itu. Berbeda dengan pelanggan-pelanggan lain, bersama Marzuki, ia akan bertarung habis-habisan. Bukan sekedar jadi sebuah boneka hidup, Wulan selalu berusaha memberikan yang terbaik. Mungkinkah ia jatuh cinta dengan lelaki tegap yang usianya berselisih 4 tahun darinya itu?
Marzuki selalu menjadi pendengar setia bagi semua cerita Wulan, ia tak banyak bicara bahkan tak bisa dimintai pendapat. Marzuki lebih suka tersenyum atau menggeleng saja. Ia sopan dan bersahaja, begitu memahami layaknya seorang guru. Bukan… tak mungkin seorang guru sudi singgah di komplek ini.
”Ah, entah… biarlah siapapun dia.” Itu jawaban atas rasa penasaran Wulan terhadap ‘kekasihnya’ itu.
Selepas bercinta, Marzuki senantiasa berdiri merokok di pojok kamar, memandangi keindahan tubuh Wulan. Wulan tak pernah tahu apakah Marzuki mencintainya atau tidak. Yang ia tahu Marzuki tak pernah mengambil wanita lain di kompleks ini.
“Besok aku juga pulang, mas…” kata Wulan.
“Bukankah biasanya satu minggu sebelum lebaran?” sahut Marzuki.
“Semuanya pergi, mas… tadi siang Mami didatengi, mereka berteriak-teriak melaknat kami. Memaki dengan sumpah serapah. ’Malaikat-malaikat’ itu akan membakar tempat ini jika besok malam masih buka.” terang Wulan. “Denger-denger Mami nggak punya beking lagi sejak kepala satuan itu diganti.” tambahnya.
Marzuki mematung tak bersuara.
“Aku jujur bingung, mas… tabunganku sudah habis buat masukin Arif ke SMP. Aku nggak tahu lagi mau turun ke mana nyari buat lebaran kelak. Mbokku mesti ngarep-arep.” lirih Wulan. “Yang aman cuma di dekat stasiun… kenapa ya, mas, mereka tidak membiarkan kami sedikit bernafas di sini? Toh kami tidak berkeliaran menggoda kalian…” nada suara Wulan sedikit naik.
“Sudahlah…” Marzuki tak punya banyak kalimat karena apapun itu tak akan merubah keadaan. Ia sadar bahwa ia tak cukup kaya untuk menyantuni Wulan.
Marzuki beranjak meraih Wulan. Dicarinya bibir wanita itu lalu dilumatnya pelan. Wulan membalas ciuman itu dengan beringas dan emosi, nafasnya menderu-deru, jantungnya berpacu cepat, melepaskan kemarahan. Dada Wulan mulai mengencang, tubuhnya semakin hangat. Marzuki membiarkan wanita itu mendorong dirinya jatuh ke tempat tidur.
“Temani aku lebih lama kali ini...” bisik wanita itu. “Mas bisa makan sahur di warung padang depan komplek. Mereka buka 24 jam.” tambahnya.
Marzuki tak bisa mencari alasan untuk membantah, apalagi ia memang juga menginginkan Wulan. Maka tanpa pikir panjang, iapun menyerah begitu saja dalam kehendak wanita cantik itu. Lama juga mereka saling melumat bibir satu sama lain, sebelum Wulan membuka sabuk dan melepas celana panjang Marzuki. Ia langsung memegang penis Marzuki yang masih setengah tegak. Marzuki mengimbangi semua itu dengan menghisap puting susu Wulan yang sebelah kiri serta meremas-remas payudara yang satunya.
”Ooohh, Mas... terus, Mas... aahh!!” rintih Wulan yang merasakan kenikmatan. Secara bergantian Marzuki terus menghisap dan meremas sepasang payudara kenyalnya sampai puas. Setelah itu, baru laki-laki itu memasukkan salah satu jarinya ke lubang kenikmatan Wulan. Marzuki mengelus-elus klitoris Wulan yang sudah basah oleh cairan kenikmatannya.
Tiba-tiba Wulan menarik kepala Marzuki ke depan. ”Mas, aku udah nggak tahan lagi. Entot aku ya, Mas, please... memekku udah nggak tahan pengen digaruk... please!!” rintih Wulan mengiba kepada Marzuki.
Segera Marzuki membuka CD-nya dan meminta wanita itu untuk menghisap penisnya yang sudah tegak berdiri bagaikan tonggak batu. ”Lan, hisap kontolku sebentar,” pintanya.
Wulan pun dengan liar mulai menghisap dan memainkan kontol Marzuki di dalam mulutnya.
”Terus, Lan... enak... yah teruss... aahh!!” rintih Marzuki.
Wulan kemudian memintanya untuk berposisi 69. Marzuki menurut saja. Dengan posisi berada di bawah dan Wulan di atas, memek Wulan berada tepat di depan mulut Marzuki. Bau harum khas vagina sudah tercium, hingga tanpa permisi lagi Marzuki langsung melumat bibir vagina Wulan yang sudah basah oleh cairan kemaluannya. Wulan pun tak mau kalah, ia asyik dengan kontol Marzuki, dihisap dan dikocoknya benda itu di dalam mulutnya. Wulan terus menjilati sambil terkadang mencucupnya lembut hingga membuat kontol Marzuki langsung berdiri dengan begitu tegaknya.
Puas dengan gaya 69, Wulan langsung berdiri di atas tubuh Marzuki dan mengarahkan memeknya ke arah kontol laki-laki muda itu. ”Mas, aku udah nggak tahan lagi, biar aku yang entot kontol kamu dulu ya?” pintanya.
Tidak lama kemudian kontol Marzuki sudah masuk ke liang kenikmatan Wulan yang sudah licin oleh cairan memeknya. Dengan posisi Wulan yang berjongkok memegangi bahu kekar Marzuki, gerakan turun naik pantatnya menambah kenikmatan kocokan memeknya.
”Ahh... Mas, kontol kamu enak banget... sshh... aduh, enak sekali...” rintih Wulan yang menikmati permainannya sendiri.
Marzuki pun mengimbanginya dengan sesekali menekan ke atas dan Wulan menghentakkan pantatnya dengan lebih cepat. Selang lima menit kemudian, Wulan memegang bahu Marzuki kuat sekali dan langsung melumat bibir laki-laki itu. Ternyata ia sudah mencapai klimaks, cairan vaginanya terasa hangat membasahi kontol Marzuki yang masih menancap di dalam liang memeknya.
Marzuki menggulingkan tubuh molek Wulan ke samping, sekarang adalah gilirannya. Ia menarik kontol dari memek Wulan dan langsung menyerbu ke arah lubang kenikmatan itu, tapi kali ini dengan menggunakan mulutnya. Marzuki memainkan klitoris Wulan yang berwarna merah muda kecoklat-coklatan dengan ujung lidahnya, ia lumat bibir vagina yang masih basah oleh cairan yang baru saja keluar itu. Tidak ada pikiran jijik lagi di dalam otak Marzuki, yang penting adalah merasakan kenikmatan terakhir bersama Wulan.
”Terus, Mas... ah, enak, Mas… ayo terus!!” erang Wulan yang sudah siap untuk dientot lagi. “Ayo, Mas, sekarang kamu yang entot aku. Aku udah nggak tahan pengen dientot lagi.” pinta perempuan cantik itu.
Namun bukannya memenuhi, Marzuki malah mengarahkan mulutnya ke arah puting susu Wulan yang sudah mengeras tajam dan dihisapnya kuat-kuat sambil digigit-gigitnya kecil sesekali.
“Ahh, Mas… ayo entoti aku... aku udah nggak tahan nih... ayo dong, please...” teriak Wulan semakin merintih.
Marzuki akhirnya menuruti kemauan Wulan, itu setelah ia puas melumat habis payudara mengkal milik wanita cantik itu. Segera saja ia arahkan batang kontolnya tepat di atas vagina Wulan dan, 'bless...!!!' masuk sudah semua kontolnya ke dalam memek Wulan yang meski sudah agak longgar tapi masih tetap terasa ketat dan menggigit.
”Ahh, Mas, enak sekali... ayo terus... aah!!” erang Wulan menikmati kontol Marzuki yang kembali masuk ke liang memeknya.
Marzuki mulai menggerakkan pantatnya naik-turun secara berkala. Kadang cepat kadang lambat. Ia lihat Wulan menikmati permainan itu, wanita itu bahkan sampai memeluknya erat sekali.
”Terus, Mas... sebentar lagi aku keluar... ayo terus entot... ahh, enak, Mas...” Wulan menjerit pelan sebelum kemudian melemas.
Marzuki merasakan kontolnya tersiram cairan hangat milik gadis itu. Gerakan pantatnya masih naik-turun, ia terus memacu, dilihatnya Wulan sudah telentang lemas meski masih sedikit mengimbangi. Dimintanya wanita itu untuk ber-’dodgy style’. Wulan segera merubah posisinya. Ia menunduk dan menungging hingga Marzuki dapat melihat gelambir bibir vaginanya yang basah oleh cairan memek dengan jelas dari arah belakang. Marzuki mengarahkan kontolnya ke sana dan bless...
”Ohh, Mas... masukin semuanya! Teruss... ahh!” jerit Wulan keenakan. Seperti biasa, Marzuki selalu bertindak jantan.
”Gimana, Lan, masih kuat?” tanya Marzuki sambil mulai menggoyang. Ia usap-usap gemas bokong bulat Wulan untuk semakin menambah rasa nikmatnya.
 ”Terserah kamu, Mas... mau diapain aja memek Wulan, yang penting aku puas kamu entoti.” jawab Wulan tersenyum puas.
Marzuki semakin bersemangat memainkan peranannya. Terus ia gerakkan pantatnya maju mundur dengan begitu cepat dan kuat.
”Ahh, Mas, terus...” Wulan mengerang halus, apalagi saat sambil menggoyang, Marzuki mulai meraih dan meremas-remas gundukan payudaranya yang menggantung indah dengan begitu lembut.
”Gimana, Lan, enak nggak kontolku?” tanya Marzuki menggoda.
”Aduh, enak sekali kontol kamu, Mas... aku puas sekali!” jawab Wulan terus terang.
Marzuki kini meminta Wulan untuk mengangkat kakinya sebelah, seperti anjing sedang kencing. Marzuki menahan kaki itu dengan lengannya, dan sambil terus meremas payudara Wulan yang kini terasa basah oleh keringat, ia kembali mengayun.
”Ayo, Lan, sekarang nikmati permainanku.” bisiknya mesra di telinga perempuan itu. Marzuki terus memacu gerakan pantatnya maju-mundur dengan begitu kuat.
”Iya, Mas… terus... terus... terus... enak sekali, Mas... terus...” balas Wulan takjub. Dan ia mengimbangi genjotan Marzuki dengan goyangan pantatnya yang bahenol.
”Sedikit lagi aku keluar,” kata Marzuki sambil mempercepat gerakan pantatnya.
”Ahh... kalau gitu, ayo kita keluar bareng, Mas... ahh!” erang Wulan dengan tubuh mengejang penuh kenikmatan.
”Lan, ahh... enak, Lan, ahh!!” Marzuki menpercepat gerakan pinggulnya.
”Terus, Mas... kontol kamu enak sekali... ahh, enak, Mas... entot terus memekku sampai jebol... aah!!!” itulah teriakan Wulan seiring sperma Marzuki yang akhirnya keluar membanjiri liang memeknya.
Dengan kontol yang masih menancap, Marzuki memeluk Wulan dengan erat. ”Terima kasih ya, Lan, kamu sudah memberi kepuasan kepadaku,” bisiknya sambil tersenyum.
Wulan pun segera berbalik menghadap Marzuki, membiarkan kontol laki-laki itu lepas dari jepitan vaginanya. Tanpa berucap apapun, ia langsung menghisap sisa sperma yang masih ada di kepala kontol Marzuki dan menelannya dengan begitu rakus.
”Pejuh kamu enak, Mas... enak sekali!” kata Wulan sambil terus menguras sisa sperma yang masih ada di kepala kontol Marzuki. Terlihat senyum puas tersungging di bibirnya yang tipis.
Setelah beristirahat sejenak, mereka mengulangi lagi permainan itu sampai pukul tiga pagi. Hasilnya, Marzuki keluar lima kali lagi. Sementara Wulan, sudah tidak terhitung lagi.

***

Hari sudah terang ketika Marzuki tiba kembali di rumahnya. Setelah bertempur semalaman dengan Wulan, rasanya tubuhnya lelah sekali. Tapi sambutan hangat dari Fatma, istrinya, bagaikan oase di gurun pasir; sanggup membuatnya jadi bersemangat kembali. Apalagi tiga jagoan ciliknya juga sudah pada bangun, membikin keonaran di rumah mungil mereka dengan tingkah polah yang lucu dan menggemaskan.
”Ayo, salaman dulu sama Abi.” kata Fatma menggiring mereka.
Ketiganya segera mencium tangan Marzuki yang tadi bekas dipakai memegang susu dan memek Wulan, begitu juga dengan Fatma. Perempuan itu tersenyum pada Marzuki tanpa rasa curiga dan berkata, “Gimana rapatnya, Bi, lancar?” tanyanya.
Marzuki cuma mengangguk, tidak mengiyakan tapi juga tidak membantah. Ia sudah capek berbohong pada istrinya itu. Istri cantik berjilbab lebar yang sudah dinikahinya selama 5 tahun ini.
”Tadi Habib Usman menelepon, katanya nanti malam jadi menggerebek komplek hiburan itu.” kata Fatma lagi, ia membantu Marzuki melepas bajunya.
Marzuki mengeluh dalam hati. Ia langsung teringat Wulan, dan sedikit bernafas lega saat mengetahui kalau perempuan itu sudah balik ke kampungnya pagi ini. Paling tidak, saat Marzuki menyerbu dan mengobrak-abrik tempat itu, ia tidak akan menemukan Wulan disana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar