Kamis, 15 September 2016

Kutukan Kucing



Jam delapan malam, Lastri meninggalkan pasar sambil membawa bungkusan isi dagangan batik, menuju ke hotel Melati. Pegawai hotel yang sudah mengenalnya segera mengantar ke kamar Jamal, langganan pijatnya. Sudah tiga bulan ini selain jualan batik, Lastri juga berusaha menambah penghasilan dengan menjadi juru pijat. Dia mengikuti jejak rekan seprofesi yang banyak bertebaran di pasar, terutama setelah beberapa bulan belakangan ini dagangan batik sepi. Kadang Lastri memijit ibu-ibu atau wanita pedagang yang capai, namun lebih banyak memijat pria. Seminggu dua atau tiga kali dipanggil, lumayanlah untuk menambah nafkah dua-tiga ratus ribu rupiah per bulan.
"Sore, Mas. Sudah nunggu lama ya?" sapanya ramah.
"Nggak, Mbak Lastri. Baru juga selesai keliling. Duduk dulu, Mbak, aku mandi sebentar." sahut Jamal, salesman keliling yang setiap mampir ke kota ini selalu memanggilnya untuk memijat. Ini kali yang keempat Lastri dipanggil.

Jamal masuk ke kamar mandi sementara Lastri duduk di kursi melepas penat. Dia menyeka sekitar lehernya yang berkeringat, juga merapikan baju dan roknya. Tak lama kemudian Jamal keluar berbalut handuk. Tinggi tubuh pria itu sekitar 170 cm, lumayan kekar dan berotot.
"Saya permisi cuci tangan ya, Mas," pinta Lastri sambil menuju ke kamar mandi.
"Silahkan, Mbak."
Selesai cuci tangan, dia mendapati Jamal sudah tengkurap di ranjang tanpa melepas handuknya. Lastri mendekat ke bagian kakinya. "Tumben pakai handuk, Mas?" tanyanya. Biasanya Jamal pakai celana pendek atau CD.
"Anu Mbak, celanaku kotor semua. Tiga hari keliling belum sempat nyuci. Juga biar lebih gampang mijatnya. Naik ke ranjang aja, Mbak." kata Jamal.
Ranjangnya memang agak besar sehingga susah dapat memijat dengan enak kalau tidak naik. Lastri naik ke ranjang dan berlutut di kiri Jamal. Mulai memijat telapak kaki, terus naik ke arah betis, dan terus merambat hingga ke paha. Ikatan handuk Jamal yang agak kencang menutupi paha menyulitkannya memijat bagian itu.
"Maaf Mas, handuknya tolong dilonggarkan," Lastri meminta.
Jamal mengangkat perutnya dan membuka simpul handuknya sehingga handuk itu sekarang jadi longgar, bahkan disisihkannya ke samping kiri-kanan hingga seperti selimut yang menutup pantat. Lastri dapat merasakan di balik handuk itu tidak ada apa-apa lagi yang dikenakan Jamal. Jantung janda 30 tahunan itu jadi berdegup agak keras. Tapi dia coba tidak berpikir buruk karena pernah tiga kali memijat Jamal dan pria itu selalu sopan.
Agak hati-hati Lastri memijat bagian paha dan pantat Jamal. Beberapa kali handuk itu tergeser sampai kadang-kadang tak mampu lagi menutupi. Beberapa kali pula Lastri membetulkan letaknya namun sempat pula terlihat pantat pria itu, bahkan ceruk hitam diantara pangkal pahanya. Darah Lastri jadi berdesir.
Bagian pantat ke bawah selesai, Lastri melanjutkan memijat bagian pinggang ke atas. Ia menggeser lututnya. "Kelihatannya cape sekali, Mas?" ucapnya untuk mencairkan suasana diam.
"Iya Mbak. Sudah capek keliling, ordernya tambah sedikit aja. Dagangan sekarang lagi sepi, Mbak." jawab Jamal. "Dagangan batik Mbak sendiri gimana?" tanya lelaki itu balik.
"Sama saja, Mas. Sepi banget. Kalau nggak sepi nggak bakalan saya jadi tukang pijit." sahut Lastri.
"Tapi pijitan Mbak enak lho." Jamal memuji.
"Alah, Mas ini menghina. Saya kan cuma belajar dari teman-teman." Lastri merendah.
"Bener lo, Mbak. Kalau nggak, masa aku jadi langganan Mbak. Kalau malam sampai jam berapa, Mbak?" tanya Jamal.
"Saya nggak terima pijit malam, Mas. Pokoknya sebelum maghrib sudah harus sampai rumah. Saya nggak mau anak-anak saya tahu pekerjaan sampingan ibunya. Mereka hanya tahu saya jualan batik di pasar." terang Lastri.
"Ooo, kenapa mesti malu, Mbak?"
"Saya sih nggak malu, tapi kasihan kan kalau anak-anak saya ketahuan teman-temannya punya ibu tukang pijit? Sudah, sekarang balik, Mas."
Jamal memutar tubuhnya, tentu saja handuknya ikut terlibat pantatnya sehingga nampaklah bagian depannya yang polos. Beberapa saat Lastri terbengong melihat zakar Jamal yang mulai tegang. Buru-buru dia membantu Jamal menutupinya, namun tetap saja tonjolan itu membentuk pemandangan yang bikin dadanya berdesir. Bagaimana pun Lastri tetap wanita yang beberapa tahun silam pernah melihat hal demikian pada diri suaminya yang telah tiada. Dadanya berdegup semakin cepat, tubuhnya agak gemetar. Buru-buru Lastri mengonsentrasikan pijatan pada kaki Jamal.
"Maaf, Mbak, adikku nggak mau tidur. Kalau lagi dipijat wanita memang selalu gitu sih, Mbak." kata Jamal.
"Ah, nggak apa, Mas. Biasa laki-laki." Lastri coba bergurau. Pemandangan demikian buat tukang pijit perempuan memang bukan hal aneh lagi. Malah kadang beberapa pria yang sudah tak bisa menahan nafsu memegang tangannya dan menempelkan pada batangnya. Tapi dengan halus Lastri  berusaha mengelak. Satu dua kali dia meremas benda di balik celana dalam itu, tapi setelah itu dia lepaskan lagi.
"Waktu mijit apa pernah dijahilin laki-laki, Mbak?" tanya Jamal.
"Kadang-kadang ada sih, Mas, laki-laki yang nakal." sahut Lastri.
"Nakal gimana, Mbak?" Jamal kembali bertanya.
"Yah, maunya tidak sekedar dipijit, tapi juga mijit. Hihihi.." Lastri terkikik.
"Lalu Mbak juga mau? Hehehe.." Jamal ikut tertawa.
"Ah, ya enggaklah, Mas. Nggak baik. Takut." jawab Lastri.
"Apa ada yang pernah maksa, Mbak?" Jamal menyelidik.
"Iya sih, kasar sekali orang itu. Aku dipeluk-peluknya. Ya aku marah dong." Lastri tampak emosi.
"Apa dia sampai meng-’anu’, Mbak?" Jamal memastikan.
"Nggak sampailah, Mas. Saya buru-buru keluar kamar." Lastri menyahut lega.
Pijitannya sampai ke paha Jamal. Mau tak mau bagian handuk yang menonjol itu selalu terpampang di depan matanya. Malah kadang tonjolan itu seperti sengaja digerak-gerakkan oleh Jamal. Lebih-lebih sewaktu tangan Lastri bergerak di sekitar paha dalamnya dan mengenai rambut-rambut lebat di situ.
"Ufhh, maaf ya, Mbak. Terus terang, aku jadi terangsang lo setiap dipijit Mbak. Adikku jadi bangun terus." Jamal berterus terang, tapi dengan nada bergurau.
Hal ini membuat Lastri tersenyum. Dia percaya pria ini tidak bakal berbuat macam-macam, toh sudah tiga kali dia memijat tanpa ada kejadian luar biasa.
"Nggak apa, Mas. Asal bisa menahan diri saja. Eh, maaf..." tanpa sengaja tangan Lastri menyenggol telur dan sebagian penis Jamal sehingga pria itu mendesis sambil mengangkat pantat dan menegakkan adiknya sehingga handuknya tergelincir ke arah perut. Batang keras kaku itu segera saja membuat mata Lastri agak terbelalak karena ukuran panjang dan besarnya yang luar biasa. Mungkin sekitar 20 cm dengan diameter 3 cm. Cepat Lastri menutup dengan handuk, namun bayangan benda itu di benaknya tak kunjung hilang.
"Kalau aku nggak bisa nahan diri gimana, Mbak?" tanya Jamal.
"Jangan bikin saya takut ah, Mas." Lastri menekan dada Jamal dan mulai memijat ke arah pundak. Mata mereka bertatapan dan Jamal tersenyum. Lastri buru-buru menunduk.
"Sebenarnya Mbak nggak cocok jadi tukang pijit lo." Jamal berkata.
"Kan sudah saya bilang ini terpaksa, Mas, karena dagang batik tambah sepi." jawab Lastri.
"Eh, Mbak, aku tanya serius nih, tapi maaf ya sebelumnya..." Jamal tampak malu.
"Tanya apa, Mas?"
"Kalau Mbak lagi mijit laki-laki yang sedang terangsang kayak aku gini, apa Mbak nggak ikut terangsang?" tanya Jamal.
"Ah.. eh.. Mas ini kok tanya itu sih?" muka Lastri memerah.
"Aku serius pingin tahu lho, Mbak. Soalnya Mbak kan juga wanita yang masih butuh seks kan? Apalagi Mbak sudah menjanda beberapa tahun." Jamal mulai memancing.
"Sudah ah, Mas, jangan tanya soal itu." Lastri tidak ingin membicarakannya lebih lanjut.
 "Jujur sajalah, Mbak. Aku nggak yakin Mbak sudah mati rasa sama seks. Iya kan?" Jamal terus mendesak.
Lastri diam saja, cuma pipinya terasa panas. Pijatannya di bagian dada jadi melemah dan tangannya bergeser turun ke perut Jamal.
"Iya kan, Mbak?" Jamal jadi semakin berani, dia memegang kedua tangan Lastri yang sedang memijit perutnya. Lastri mengangkat kepala dan coba menentang tatapan Jamal sambil berusaha menarik tangannya. Tapi pegangan Jamal begitu kuat, jadi dia pilih diam.
"Ah, aku malu, Mas." wajah cantik Lastri bersemu merah.
"Malu kenapa, Mbak?" Jamal menggoda.
"Masak soal gituan dibicarakan sama, Mas?" Lastri menundukkan pandangannya.
"Nggak apa kan, Mbak. Kita kan sudah sama-sama dewasa." Jamal tetap memegangi tangannya. Lastri diam saja dengan wajah semakin menunduk. Pada dasarnya dia memang pemalu.
"Mbak, lihat sini dong." panggil Jamal.
"Kenapa, Mas?" Lastri malu.
"Terus terang nih ya, aku pingin memeluk Mbak, boleh nggak?" tanya Jamal, nekad. Lastri terjengak mendengar permintaan pria itu. Tak mampu bersuara.
Perlahan Jamal bangun dan duduk mendekatinya, dia memegang punggung Lastri dan berkata, "Sudah sejak pertama ketemu dulu, aku ingin sekali memeluk. Boleh kan, Mbak?"
Tanpa menunggu jawaban, Jamal semakin kuat memeluk punggung perempuan cantik itu dan menarik ke arah dirinya. Lastri yang dalam posisi bersedeku jadi kurang kuat bertahan sehingga mau tak mau tubuhnya tertarik ke tubuh Jamal. Hanya tangannya saja yang coba menahan supaya tubuhnya tidak terhempas ke tubuh Jamal.
"Jangan, Mas." lirih Lastri, tapi tak berdaya menahan ambruk tubuhnya ketika Jamal kembali menjatuhkan diri ke ranjang sambil tetap memeluknya. Tubuhnya menimpa badan pria itu yang segera menguncikan pelukan yang begitu erat dan mantab. Wajah mereka sedemikian dekat.
"Aku hanya ingin pelukan begini kok, Mbak," Jamal berbisik dan ia memang tidak melakukan apa-apa lagi selain memeluk tubuh Lastri yang berada di atasnya. Lastri jadi bingung, mau berontak atau tidak?
"Ah, biarkan saja dulu, toh dia tidak melakukan apapun selain memeluk." pikir Lastri sambil berusaha lebih santai. Toh dia pernah mengalami perlakuan lebih kasar dari ini. Lastri pernah ditindih pria yang dipijatnya. Dan tidak cuma menindih, pria itu juga meremas-remas teteknya. Beberapa lagi malah memaksa Lastri mengonani penis mereka sampai pria-pria itu tergeletak lemas setelah ejakulasi.
Perlakuan Jamal sekarang ini yang hanya memeluknya termasuk lembut. Entah kenapa dengan pria ini, Lastri tak banyak memberontak. Apa karena dia diperlakukan dengan halus? Atau karena dia menyukai Jamal? Atau? Ah, tiba-tiba Lastri merasakan bibirnya dingin karena menyentuh sesuatu. Dia membuka mata dan ternyata.. Oh, Jamal tengah mencium bibirnya.
Ufh! Lastri segera menggelengkan kepala menghindari bibir Jamal. Namun bibir pria itu dengan gigih mengejar, bahkan tangan kanannya ikut membantu menahan kepalanya hingga dia tak bisa menggeleng lagi. Lastri memilih mengatupkan mulut dan mata rapat-rapat ketika bibir Jamal kembali menggerayangi. Lidah pria itu berupaya menerobos masuk ke dalam rongga mulutnya, tapi Lastri menahan dengan mengatupkan gigi lebih rapat.
"Buka bibirnya dong, Mbak." bisik Jamal.
Lastri menggeleng sambil berusaha mendorong tubuh pria itu ke atas. Namun Jamal menahan dengan kuat, malah sekarang kakinya ikut melibat paha Lastri dan tubuhnya bangun mendorong tubuh kenyal perempuan itu sampai terbalik. Sekarang gantian Lastri yang telentang sementara tubuh polos Jamal berada di atasnya. Bibir Jamal terus memburu bibir Lastri. Dengan posisi di bawah, ruang gerak perempuan itu semakin sempit. Kecapekan membuat perlawanannya menjadi kendor.
"Jangan, Mas." Bisik Lastri lemah.
"Nggak apa-apa, Mbak, aku cuma ingin ciuman." desis Jamal sambil bibirnya terus memaksa bibir perempuan itu membuka, sementara lidahnya pun menembus katup gigi Lastri.
Rasa takut, malu, marah dan bingung melanda si pemijat cantik. Dia takut Jamal memaksa, memperkosanya. Dia juga malu karena sebagai janda tidak seharusnya diperlakukan begini. Lastri ingin marah namun tak berdaya dibanding tenaga Jamal. Dia jadi bingung mau bertindak apa. Dadanya yang membusung jadi sesak ditindih tubuh kekar Jamal. Dengan nafas agak memburu, Lastri akhirnya tak mampu lagi mempertahakan katupan giginya. Dibiarkannya lidah Jamal menerobos masuk, menjilati langit-langit mulutnya. Bibir mereka berpagutan semakin ketat. Air liur dan ludah pun membanjir dan mau tak mau ada yang tertelan.
Jamal benar-benar menggila dengan ciumannya. Sepuluh menit lebih ia mencium, menjilat, menyedot lidah Lastri tanpa lepas. Akibatnya, perempuan itu jadi ikut terbawa iramanya. Si janda cantik ini lama-kelamaan ikut mengimbangi tingkah Jamal. Ya, Lastri yang melihat Jamal tidak melakukan hal lain kecuali mencium, akhirnya membalas ciuman hot pria itu.
"Ah, biarlah, toh Jamal hanya pingin berciuman. Tidak lebih." pikir Lastri sambil lidahnya memasuki rongga mulut Jamal, dan mendadak disedot dengan kuat oleh pria itu seperti hendak ditelan. Lastri jadi gelagapan.
Agak lama, barulah Jamal melepaskan lidahnya, lalu beralih menciumi sekujur wajah ayu Lastri. Dari mata, hidung, pipi, dahi, telinga, sekitar leher, dagu sampai akhirnya balik lagi ke bibir manis perempuan itu. Selama setengah jam lebih Lastri hanya manda saja diciumi pria yang menurutnya tidak berniat buruk ini. Ya, dibanding pria-pria lain yang pernah memaksanya, Jamal tergolong lembut. Dan entah kenapa, timbul rasa suka pada diri Lastri. Apa karena kegantengan Jamal, apa karena usia pria itu yang masih muda, atau karena Lastri memang butuh sentuhan lelaki setelah beberapa tahun ini tak lagi merasakan?
Bahkan, dia hanya mendesah, "Jangan, mas." ketika merasakan jemari Jamal mulai meremasi payudaranya yang masih menantang ini. Dan Lastri tidak berusaha memberontak. Toh Jamal hanya meremas dari luar, pikirnya. Sementara bibir pria itu terus melumati bibirnya. Tangan itu terus bergerilya, satu persatu kancing baju Lastri dilepasnya.
"Jangan, mas." desis perempuan itu lagi tanpa berusaha untuk menolak dengan serius. Toh, dia masih pakai BH, pikirnya. Ugh, BH itupun diremas tangan Jamal berkali-kali. Kadang membuat Lastri sakit, namun juga memberi rasa lain yang lebih nikmat. Mata perempuan itu malah terpejam erat ketika jemari Jamal bergerilya di bawah BH dan menggapai putingnya.
"Egh.. jangan, mas. Aduh, nikmatnya.” Lastri mengerang. Toh, Jamal hanya memainkan payudaranya, tak apa-apa, pikirnya semakin menikmati. Lastri justru hampir tak merasa ketika baju dan behanya sudah dilempar Jamal entah kemana.
Yang terasa kemudian adalah payudaranya kiri-kanannya bergantian diremas dan dihisap Jamal. Digigit-gigit, dikemot, disedot, dimakan, dimainkan putingnya oleh lidah yang lihai, hingga membuat tubuh Lastri semakin tergeol-geol tak karuan. Apalagi ketika perutnya juga ditelusuri lidah berbisa Jamal, dia makin tak tahan.
"Aduh, aku tak kuat. Tak apa, toh Jamal hanya menjilati perutku." pikir Lastri lagi saat menerima perlakuan nikmat itu. Malah tangannya kini ikut meremasi kepala Jamal yang terus turun dan turun mencapai pusarnya. Pria itu menjilati pusar yang berlubang kecil itu untuk kemudian meluncur turun lagi, membuat geli sekaligus nikmat.
"Jangan, mas." lagi-lagi Lastri hanya mampu mendesiskan kata itu ketika terasa rok panjangnya perlahan ditarik ke bawah. Karet elastis di bagian perutnya tak mampu menahan tarikan itu, apalagi Lastri berpikir, "Biar saja, toh aku masih pakai celana dalam."
Sekarang tinggal segitiga pengaman melekati tubuh polos perempuan itu. Terasa pahanya dikangkangkan dan sesuatu terasa mengelus-elus daerah vitalnya. Sesaat kemudian Lastri kembali merasa tubuhnya ditindih Jamal yang menekan-nekan penisnya ke permukaan CD-nya. Mulut mereka berpagutan lagi. Tangan Jamal meremas-remas payudara lagi.
"Aduh aku tak tahan lagi." Lastri membalas perlakuan Jamal yang liar itu dan dia tak mampu lagi mendesis, "Jangan, mas." ketika dengan cepat tangan Jamal menyabet CD hitamnya dan melorotkannya ke bawah, terus melepasnya dari kaki Lastri.
Lalu sejurus kemudian dia merasakan sesuatu yang panjang besar memasuki gua garbanya. Mula-mula perlahan dan agak sulit, menyakitkan. Namun lama-lama semakin dalam, lalu semakin cepat dan cepat keluar masuk, naik turun, disertai lonjakan-lonjakan tubuh kekar di atasnya yang memaksa paha Lastri terkangkang selebar-lebarnya. Rasa sakit pun berubah menjadi nikmat.
Perempuan itu lupa segalanya, tak ingat siapa pria yang sedang menyetubuhinya. Jamal, salesman keliling, yang katanya berasal dari Bandung, dibiarkan menyetubuhinya, menggauli, menyenggamai, menembus, mengocok dan menggumuli tubuhnya. Lastri terlena, yang ada hanya rasa nikmat yang harus dia nikmati sepuasnya. Mumpung ada kesempatan, mumpung ada yang memberi, mumpung dia butuh, mumpung dia haus, mumpung ada yang memuaskannya. Tubuh montok Lastri masih butuh seks, libidonya masih sangat tinggi, bibirnya masih butuh diciumi, payudaranya butuh disedot-sedot, vulvanya butuh penis yang tegar panjang dan perkasa. Lastri masih punya nafsu seks yang harus dipenuhi. Dia tak mau hidup gersang.
Dan, perempuan itu pun masih bisa orgasme ketika hunjaman zakar Jamal yang bertubi-tubi mencapai klimaksnya. Genjotan pantat pria itu begitu kuat, membuat penisnya terbenam dalam-dalam di vulva Lastri yang sempit. Nikmat bertemu nikmat dan jreet.. jreet.. jreet.. dirasakannya sperma Jamal menyemprot, sementara hampir bersamaan Lastri cepat-cepat menggamit paha Jamal sambil mengejan menumpahkan mani. Tubuh mereka terkejang-kejang kelojotan sambil mengejan menggelegakkan sperma dan mani bertubi-tubi. Kedua kelamin mereka yang bertemu saling berdenyut-denyut, meninggalkan kesan mendalam sehingga keduanya lama tidak mau melepaskan. Lastri membiarkan burung Jamal tetap mendekam di sarangnya yang basah berlendir di mana-mana.
"Maaf ya, mbak, aku lupa diri," bisik Jamal.
Lastri diam memejam, nafasnya tersengal-sengal menahan beban tubuh Jamal yang polos di atasnya. Sementara penis Jamal masih terbenam, Lastri hanya bisa mengangkangkan paha dan merasakan denyut-denyut penis pria itu yang masih tersisa.
"Mengapa ini terjadi?" Lastri membatin tak habis mengerti bagaimana persetubuhan ini berlangsung begitu saja, padahal selama jadi pemijat dia selalu berusaha untuk menghindarinya. Ya, selama ini ada cap bahwa setiap wanita pemijat pasti bisa diajak main seks. Lastri berusaha keras menepis sebutan itu, namun akhirnya bobol juga hari ini. Justru dengan Jamal, pria yang sudah jadi langganannya.
"Kalau sudah begini, apa bedanya aku dengan pelacur?" Lastri masih terbengong-bengong dengan pemikirannya, ketika kembali terasa tubuh Jamal menekan-nekan. Zakar pria itu kembali membesar panjang, mengaduk-aduk vulvanya. Ya, ternyata Jamal dengan cepat bangkit kembali birahinya, dan bangunlah adiknya yang perkasa itu, kembali menikam-nikam memek Lastri yang perlahan-lahan kembali terbawa arus kenikmatan.  Malah dia juga ikut mengerang ketika nikmat bersetubuh itu menyeruak di lubang vaginanya, tak ingat lagi, apakah dia jadi seperti  pelacur atau bukan. Yang penting saat ini Lastri butuh nikmat!
Persenggamaan pun terulang lagi, kali ini malah lebih lama. Hampir satu jam Jamal menusuk-nusuk, menghunjaminya dengan super torpedonya. Kadang pantat Lastri diangkat atau dia sendiri yang mengangkatnya secara refleks karena terbawa nikmat tiada tara setelah beberapa tahun tak merasakannya. Sepertinya Lastri ingin memuntahkan seluruh kerinduan persetubuhan saat itu.
Dia kembali menggapit paha Jamal, ketika untuk kali yang ketiga dia orgasme. Tubuh montoknya mengejang terlonjak-lonjak. Jamal sendiri memang tahan lama dan baru beberapa menit kemudian melenguh mengeluarkan energi terakhirnya, menyemprotkan spermanya. Lastri merasakan cairan hangat itu mengalir memasuki perut. Mereka benar-benar habis-habisan. Untuk berdiri pun harus menunggu beberapa menit setelah deru nafas mereda.

***

Kucing itu duduk di trotoar, mengamati setiap gerak-gerik manusia yang lewat. Bulu hitamnya yang legam namun halus, serta matanya yang hijau membuat beberapa orang lewat menyempatkan diri untuk berhenti dan mengelus tubuhnya. Beberapa dari mereka juga memberikan sedikit makanan bagi si kucing. Satu dua orang bahkan ingin membawanya pulang ke rumah namun akhirnya tak jadi dan kucing itu terus duduk di trotoar.
 Malam semakin larut. Meskipun itu jalan besar tapi jumlah orang lalu lalang semakin menyusut. Beberapa pemuda mabuk berjalan melewatinya. Lalu satu pemuda berhenti dan mendekati si kucing. Membelai tubuhnya sebentar lalu menyemprotnya dengan minuman keras yang dibawanya. Si kucing terkejut dan berusaha menghindar, namun gagal. Bulunya yang legam itu basah kuyup. Pemuda yang menyemprotnya itu terbahak-bahak, demikian juga dengan teman-temannya. Tawa mereka makin keras, kelakuan mereka juga tak terkontrol.
Si kucing dengan penuh dendam meloncat dan mencakar pipi salah satu dari mereka. Darah segar mengucur. Tak sampai itu aja, si kucing langsung menggeram dan memperlihatkan taringnya yang terlihat runcing meski keadaan sekitar sudah gelap. Mereka langsung lari tunggang langgang. Si kucing tertawa puas dan melanjutkan kegiatannya sedari tadi, yakni duduk di trotoar, di samping tempat sampah besar.
Jam dua belas kurang sedikit Lastri meninggalkan hotel Melati itu. Jalannya seperti melayang, tak peduli dua lembar ratusan ribu yang baru saja masuk ke dompetnya, pemberian Jamal. Dia tak bisa menolak, tapi... "Semoga Jamal tidak menganggapku pelacur murahan." pikirnya. "Kami melakukannya suka sama suka."
Lewat tengah malam, keadaan jalan benar-benar sepi. Tak ada lagi manusia lalu lalang di trotoar. Si kucing mulai lelah, namun sepertinya yang ia tunggu bakal segera datang. Lima menit kemudian, lewatlah seorang wanita muda dengan rambut hitam panjang sepunggung dan payudara yang menonjol besar menggiurkan. Perempuan itu berhenti di hadapan si kucing, menatapnya sejenak, kemudian membungkuk untuk menyapa kucing itu.
“Hai, manis. Sedang apa kau di sini? Ini sudah malam. Tidakkah kau kedinginan, manis?” Lastri mengajak mengobrol seolah si kucing memang mengerti bahasa manusia. Tapi tidak, si kucing balas menatap wajahnya  dalam diam. Tak lelah, dia mengajak si kucing mengobrol lagi,
“Aku tak bawa makanan. Kalau kamu mau, ikut ke rumah saja yuk. Aku siapkan susu hangat dan ikan goreng. Mau?” Dan tetap tak ada respon dari si kucing selain mengeong dan menjilati kaki depan Lastri yang mungil. Dia sudah akan menggendong binatang itu, saat tiba-tiba si kucing meloncat menjauh sambil mencakar lengannya.
 “Ya sudah kalau tak mau, tapi kan kau tak harus mencakar tanganku. Lihat, jadi berdarah!” ujar Lastri dengan nada kecewa. Ia lalu berjalan pulang dengan tetesan darah dari tangannya jatuh ke trotoar.
Si Kucing memandangi tetesan darah itu dengan tatapan penuh minat. Tak lama kemudian terdengar bunyi benda jatuh yang cukup keras, Lastri terpelanting terpeleset kulit pisang. Kondisinya cukup mengenaskan, kepalanya yang terantuk pinggiran trotoar mengeluarkan darah yang cukup banyak. Si kucing berjalan pelan mendekatinya.
“To-Tolong.. Tolong aku..” Lastri berucap lirih, berharap kucing itu bisa mengerti perkataannya dan mencarikannya bantuan. Tapi tidak. Malah kucing itu menjilati darah yang membanjiri trotoar dengan nikmatnya. Bosan dengan darah, si kucing mulai menjilati tangan perempuan itu, lalu kedua kakinya. Dengan pelan digigitnya kaki Lastri, dikoyak dan ditariknya hingga putus, lalu  dikunyahnya perlahan dan ditelannya sedikit demi sedikit.
Tak puas dengan jari, si Kucing beralih ke perut Lastri yang sedikit gemuk. “Miawww...” dia mengeong dan menancapkan taringnya dalam-dalam, mengoyak perut Lastri hingga berlubang.

***

Hari beranjak pagi. Jasad Lastri sang pemijat ditemukan dengan perut terkoyak, organ dalamnya lenyap! Sosok si kucing hitam juga lenyap, bersama kulit pisang yang turut andil mencelakakan dirinya. Di hotel Melati, nama Jamal yang tertera di buku perlahan memudar dan menghilang tanpa bekas.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar