Selasa, 20 September 2016

Misteri Yang Tersembunyi 7



Telah 10 halaman kertas folio penuh tulisan tangan Rio. Kopi di meja tinggal setengahnya. Candi berangkat ke kota kabupaten satu jam lalu. Candi merasa aman-aman saja pergi sendiri, toh semalam tak terjadi apa-apa. Semua penjaga melakukan tugasnya dengan baik. Satu-satunya laporan pagi itu Cuma berbunyi : dua ekor kucing berkelahi di atas rumah Bu Parmi.
Danica belum juga tampak batang hidungnya. Rio bertanya-tanya kenapa si bule belum muncul juga. Atau jangan-jangan ia ketakutan dan memilih menyingkir dari Kemiren?
Hari masih pagi, sekitar pukul 10. Rio melintas rumah Si Mbah untuk menuju ke kamar kecil tak jauh dari rumah Bu Parmi. Halaman belakang itu benar-benar sepi. Seusai buang air, Rio menyapukan pandangan. Sepi sekali, semua orang sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Angin yang berdesir di pepohonan terdengar jelas. Halaman belakang rumah Bu Parmi yang berpagar pepohoan rimbun tampak hening.

Tiba-tiba ia melihat sekelabat bayangan cerah di halaman belakang rumah Bu Parmi. Itu mungkin Candi. Sosok itu bergerak ke pintu belakang rumah Bu Parmi. Rio menghampiri pintu dan membukanya. Tak ada suara orang. Tapi manaka Rio menerobos dapur dan masuk ke ruang tengah, yang remang hanya dengan sebias cahaya lewat genting kaca. Ia tertegun sejenak. Hidungnya menangkap aroma rempah-rempah. Tadinya ia hendak berbalik ke pintu belakang rumah, tetapi aroma itu mengingatkannya pada seseorang.
”Dik Rio! Aku kira siapa!” seutas suara mengangetkannya. Bu Lurah duduk di kursi dekat meja, memperhatikan.
Rio terpana sesaat. Bu Lurah tampak tak biasa pagi itu. Ia mengenakan busana perempuan kota, rok span ketat sebatas lutut dan blazer berwarna hijau tosca. Satu hal yang membuat Rio terdiam sesaat adalah betapa menariknya perempuan berkulit cerah ini dengan rambut ikal terurai sampai ke bawah bahu. Rambut itu tidak disisir terlalu rapi, tapi justru membuatnya tampak ayu.
”Bu Lurah! Saya pangling,” akhirnya Rio bisa bicara, masih berdiri mematung agak jauh dari tempat Bu Lurah duduk. Bu Lurah cuma tersenyum. ”Kok Bu Lurah di sini?” tanya Rio.
”Sekali-sekali saya mampir rumah ibuku. Barusan saya dari pasar kecamatan. Capek, mau istirahat dulu. Bu Parmi masih belanja ke kota kecamatan, membelikan tole seragam sekolah,” kata Bu Lurah.
”Tadi saya kira Candi yang masuk ke sini,” ujar Rio.
”Kata Bu Parmi, Candi ke kota kabupaten. Jauh lo, baru nanti sore pulangnya,” ujar Bu Lurah.
”Ya, saya tahu. Baiklah, Bu Lurah. Saya permisi dulu,” tak enak Rio berdiri mematung begitu, apalagi bila teringat pertemuan mereka kemarin yang begitu panas dan membara. ”Mari, Bu!” Rio berbalik.
”Sebentar to, Dik Rio!” tahan Bu Lurah, matanya menatap Rio penuh minat. Ia berdiri, setelah mengeliat dengan memajukan dada dan menekan pinggang.
Rio melihat perempuan ini berjalan melintasinya dan menutup pintu belakang rumah dari dalam. Dia tak merasa heran saat tahu Bu Lurah menutup pintu, dan menguncinya.
”Suka banyak kucing liar masuk rumah lewat belakang sini. Saya tutup pintunya,” kata Bu Lurah. Rio paham soal kemungkinan kucing masuk, itu hanya akal-akalan saja.
”Kebetulan Dik Rio di sini. Mau ada yang aku tanyakan. Saya baru beli obat sesak nafas buatan Cina untuk Pak Lurah. Petunjuknya dalam bahasa Inggris. Dik Rio ’kan pinter bahasa Inggris, tolong bacakan, ya?” Bu Lurah mulai mencari-cari sesuatu dari tasnya di atas meja.
Rio tak menjawab. Ia menunggu Bu Lurah menemukan kemasan obat yang dimaksud. Diam-diam Rio menatap postur tubuh Bu Lurah dari belakang. Sungguh wanita ini nampak terlalu muda untuk usianya yang di kisaran 37 tahun.
”Di mana ya kertas itu tadi?” Bu Lurah beralih ke sebuah ranjang tidur tanpa penyekat, sekitar 3 meter dari kursi. Ia membolak-balik bantal di ranjang itu. ”Ini dia kertas petunjuknya,” Bu Lurah duduk di pinggiran ranjang. Sibuk ia membuka kertas petunjuk obat itu.
”Apa ya isi petunjuk obat ini?” Bu Lurah mengunjukkan kertas petunjuk itu tanpa berdiri. Rio termangu. Ingin ia mendekat, tapi masih sungkan. Tapi mata Bu Lurah mengisyaratkan agar ia tidak malu-malu.
”Kemari, Dik. Tolong baca!”
Rio akhirnya mendekat juga, dan menerima kertas itu dari tangan Bu Lurah. Rio berdiri tak jauh dari Bu Lurah mengamati kertas petunjuk yang berbahasa Cina dan Inggris itu. Ia tak melihat kesibukan kecil Bu Lurah yang melepas blazernya, menyisakan busana atas berbahan kaos tanpa lengan warna merah maroon dan pinggiran atas yang rendah. Rio melirik sedikit bahu bersih dan lengan kencang milik Bu Lurah. Sungguh luar biasa perempuan desa bisa memiliki kulit secerah dan sekencang itu. Kemarin dia tidak sempat memperhatikannya karena terlalu terburu-buru.
”Kalau siang, desa ini panas sekali,” ujar Bu Lurah mencampakkan blazernya. Ia menengadah, berusaha mencari angin untuk lehernya. Kedua tangan Bu Lurah menopang tubuh dari belakang.
Percik debur mulai menyesaki dada Rio, tak mengingkari pesona perempuan ini, membuat jantungnya jadi berdetak hebat. Rio mencoba menekuni kertas itu sambil matanya sesekali melirik penuh minat. Di bawah, penisnya perlahan mengacung dan menegang kencang, teringat bagaimana emutan Bu Lurah kemarin sore.
”Aku tak bisa dengar suaramu dengan baik, duduk di sini biar lebih jelas,” Bu Lurah menepuk kasur tak jauh darinya dengan tangan kiri.
Rio seperti tersihir langsung duduk di situ. Dekat sekali ia dengan Bu Lurah. Perempuan ini mendekatkan kepala ke arah Rio, seolah ingin bergabung membaca kertas petunjuk itu. Nafasnya menyapu leher Rio.
”Obat ini harus diminum sehari tiga kali, pagi siang dan malam,” ujar Rio. Dengan jarak sedekat itu Rio bisa melihat Bu Lurah mengais minggir bagian kain busana yang melintangi pundak kiri dan kanannya.
”Gunakan sendok teh, satu sendor tiap minum untuk anak-anak, atau satu sendok makan untuk orang dewasa,” Rio terus menerjemahkan. Bu Lurah tak bersuara, mungkin juga tak mendengar hasil terjemahan Rio. Separuh dadanya dari atas sudah terbentang.
”Dik Rio!” panggil Bu Lurah.
Rio menoleh. Darahnya tersirap. Dada itu bercahaya, penuh dan menggoda. Tatapan Bu Lurah makin membuat darah Rio mendidih. Mati-matian ia mencoba menghindari tatapan mata itu.
”Eh… err… s-saya… mohon maaf. Saya bawa dulu kertas ini. Nanti saya tuliskan terjemahannya,” Rio berusaha berdiri dari duduknya. Tapi cepat tangan Bu Lurah menangkap tangan pemuda itu.
”Bu Lurah!” kata Rio, tak jelas panggilan itu untuk apa. Tapi ia tak melepaskan tangannya dari cekalan Bu Lurah.
Bu Lurah tiba-tiba menggerakkan tangan kanan, meraih sebuah gagang kayu sejauh jangkauan tangan kanan di depannya dan menyeret sebilah pintu yang merupakan penyekat ruang tidur. Rio baru tahu itu tadi gagang pintu geser. Seretan bilah pintu geser itu membuat kamar tertutup sepenuhnya. Ruangan makin remang.
”Namaku Praptiwi. Kau boleh panggil aku ’Mbak Prapti’ atau ’Prapti’ saja.” Perlahan tangannya menghela tangan Rio makin dekat agar Rio duduk kembali. Ia mendengar nafas Bu Lurah mulai tak teratur.
”Aku memang tidak muda lagi. Tahun depan 38 tahun. Aku tahu kau jauh lebih muda,” ujar Praptiwi. ”Lupakan kertas itu, Rio. Aku tidak mau berpura-pura lagi. Aku menginginkanmu. Sangat menginginkanmu,” makin kuat tangan itu menghela tangan Rio dengan segenap pesonanya.
Rio mengikuti helaan itu. Ditatapnya balik mata yang memandang syahdu dan bergelora itu yang tak surut membuatnya terpana.
”Aku tahu ini aneh. Tapi aku juga tahu kau tak akan menampikku. Aku bisa baca dari sorot matamu. Kau pun pasti sama inginnya denganku, buktinya kamu mau melayaniku kemarin sore meski tidak tuntas.” suara Praptiwi lebih menyerupai bisikan.
”Bu Lurah,” desah Rio.
”Panggil aku ’Mbak Prapti’,”
”Mbak Prapti!”
Praptiwi menuntaskan pekerjaan yang tersisa, menguak sisa busana yang menutup dada. Ia menghela Rio dan mendekapnya. Bibirnya menjalar hangat di bibir pemuda itu.
Rio merasa seperti tengah berada di taman lautan bunga semerbak. Ia balas pagutan itu dan ia dekap sepenuh hati. Ia ikuti gerak tangan Praptiwi yang membimbing mereka merebah rata dengan permukaan ranjang. Erat dekapan Praptiwi. Memburu nafasnya. Menggila gerakannya. Terampil mengarahkan wajah Rio ke bukit-bukit semerbak bunga.
Rio tersentak ketika Praptiwi menariknya menaiki ranjang, sambil tangannya mendorong perlahan. Ranjang itu tidak lebar, tapi muat kalau ditiduri berduaan. Kini Praptiwi berlutut tegak di samping Rio, memandang lekat-lekat dengan senyum manisnya. Kemudian secara perlahan-lahan dia mengambil ujung bawah rok spannya dan mulai memilin sedikit-sedikit, lalu menarik perlahan ke bawah.
“Kemarin kamu belum mencicipi yang ini,” bisik Praptiwi yang celana dalamnya mulai terlihat. Warnanya putih transparan, ada merahnya sedikit persis di tengah dekat pusar. Bulu kemaluannya kelihatan. Belahan kewanitaannya juga membayang jelas.
“Ahh... mbak Prapti. Kita tidak boleh melakukan ini,” Rio bangkit dan melepaskan dekapan. Praptiwi hampir terlempar karena tarikan mendadak tubuh Rio darinya.
”Rio!” desis Praptiwi, terkejut atas perlakukan demikian kasar tak terduga seperti itu.
”Ini gila!. Saya tidak bisa!” ujar Rio, menatap Praptiwi yang sudah hampir telanjang, menyisakan sepasang tungkai yang indah. Bibir wanita itu bergetar menahan gelora yang terputus.
Rio menggeser balik bilah geser itu dan meninggalkan Praptiwi sendiri. Ia menghambur keluar. Praptiwi menyeka hidung, meraih blazer, menutup dada dengan blazer dan menyusul.
“Rio. Kembali ke sini! Kamu harus selesaikan apa yang kita mulai!” desah Bu Lurah.
Rio tak menghiraukan. Setengah berlari melewati ruang tengah, membuka pintu belakang dan keluar tergesa. Tak sadar ia menubruk seseorang yang tiba-tiba saja berdiri tak jauh dari pintu di halaman luar. Orang itu tertegun melihat Rio menghambur keluar dari rumah Bu Parmi dengan kemeja setengah terbuka. Tak jelas siapa orang itu. Yang jelas tubuhnya pendek dan masih sangat muda.
Praptiwi berlari menyusul ke pintu belakang. Tapi seketika langkahnya terhenti di mulut pintu. Hendro, putra tunggalnya, berdiri di sana. Ia ternganga menatap pemandangan di balik pintu yang setengah terbuka. Wanita yang selalu menghiasi mimpi-mimpinya berdiri di balik pintu, dengan dada sedikit tertutup kain blazer dan tungkai terbuka.
Bu Lurah panik sesaat. Ia menutup pintu lebih rapat. Kenapa Hendro ada di sini?
Hendro menatap Bu Lurah tanpa berkedip. Bu Lurah tahu Hendro telah melihatnya dalam keadaan setengah berbaju. Ia tahu Hendro tengah menebak-nebak apa yang baru saja terjadi antara Rio dan dirinya. Bu Lurah tahu situasi ini bakal menghebohkan kalau sampai anaknya buka mulut.
Segera Bu Lurah menguasai diri. Dibukanya sedikit lagi pintu itu dan dia biarkan Hendro terus menatapnya. ”Kau dari mana, Ndro?” tanya Bu Lurah.
”Saya… saya dari rumah si Mbah, Bu, mau… mau,” terbata-bata Hendro bicara.
”Kau tidak sedang tergesa-gesa, ’kan?” kata Bu Lurah, tersenyum.
”Saya… eh… tidak… kenapa, Bu?” dada Hendro naik turun.
”Kalau begitu,” Bu Lurah membuka pintu lebih lebar, ”tunggu apa lagi. Masuklah!” suara Bu Lurah perlahan, menggoda. 
Hendro masih terpaku.
”Masuklah. Tak ada siapa-siapa di dalam, ayo!” ujar Bu Lurah.
Bagai terhisap magnit, Hendro melangkah perlahan ke dalam rumah. Jantungnya seperti berhenti bergerak ketika sang ibu menutup pintu dari dalam dan memenjarakan diri bersamanya. Meski sangat menginginkan tak urung tetap membuatnya kaget juga.
”Kemarilah!” Bu Lurah melangkah gemulai, meminta Hendro mengikutinya. ”Kamu suka pada ibu, ’kan?” ia menoleh Hendro dengan kerling. ”Lihat kamar itu. Kita berdua, hanya berdua sekarang. Itu ranjang kita. Lakukan apa yang kau mau, kita tuntaskan apa yang terputus kemarin malam.” Bu Lurah berbalik dan menghela tangan Hendro. Samudra bunga itu kini ganti menari-nari di benak Hendro.
”Ayo, Ndro. Puaskan ibumu ini,”
Ya.. ibu muda dengan segala pesona yang menggiurkan setiap mata lelaki itu kini sudah telentang di atas ranjang dengan hanya mengenakan beha hijau tipis, sepasang payudaranya yang besar terlihat menantang di bawah sinaran lampu kamar yang temaram.
Hendro tak lagi memikirkan siapa perempuan di depannya ini, setan seakan telah membujuk jiwanya, menyatakan kalau semuanya boleh dilakukan. Maka pelan dia naik ke atas ranjang, menghampiri sosok tubuh sang ibu yang begitu menggiurkan. Matanya tertuju pada celana dalam yang tergolek di samping tubuh bu Lurah. Sebuah celana dalam wanita berwarna putih.
“Iya, Ndro. Lakukan! Ibu sudah siap.” Praptiwi membuka kedua kakinya, menampakkan gundukan bulu lebat yang bertumpuk-tumpuk di antara kedua belah paha mulusnya.
Gleek.. Hendro menelan ludah. Benda yang selama ini senantiasa ia bayangkan kini berada hanya beberapa senti saja dari mulutnya. Darah, jantung dan nafasnya seketika berhenti. Pandangannya buram, kerongkongannya pun mendadak kering. Ingin Hendro langsung menciuminya, menikmatinya dari segala arah, mengobel-ngobelnya dengan lidah hingga merekah dan menyemburkan urine seperti di film-film bokep. Aghh.. tapi dia masih ragu.
"Ayo, Ndro, tunggu apa lagi?" tanya bu Lurah dengan gemas. “Ini kan yang kamu inginkan?”
"Ee.. eng.. a-anu.. anu, bu.. a-aku.. " Hendro tergagap. Gelegar petir terdengar sahut menyahut di kejauhan, juga suara tiupan angin yang bengis menghantam dedaunan.
"Kok bengong?!" tanya bu Lurah, menatap Hendro yang masih ’shock’ di pinggir ranjang. "Ayo cepat. Nanti keburu ada yang datang!" lanjutnya tak sabaran.
Berasa canggung untuk mengentoti ibunya yang pertama kali, namun Hendro juga tak mau membuang waktu. Segera saja ia melepas celana dan menyusul naik ke atas ranjang dengan kontol yang terhunus panjang ke depan. Sejenak bu Lurah memandangnya sambil melepas ikatan rambut, lalu membenarkan posisi bantal yang mengganjal di kepala, dan tanpa perlu melepaskan rok, ia lantas mengangkang, memperlihatkan ’sangkar burung’nya yang sudah siap sedari tadi, tepat di hadapan sang putra.
Hendro pun segera mencari posisi untuk bisa menindihnya. Hanya menindih, karena ia tak bisa melesakkan batang kontol ke dalam memek sang ibu yang rimbun oleh ’rerumputan’. Hendro benar-benar canggung!
“Kamu tahu caranya, Ndro?” tanya bu Lurah, menikmati tusukan penis sang putra yang mengganjal di depan memek.
Hendro menggeleng. Bu Lurah cuma tersenyum melihatnya, kemudian menyuruh bocah itu untuk sedikit mengangkat badannya. "Masa tinggal colok aja tidak bisa?!" ujarnya sembari meraih, lalu membimbing ujung batang Hendro ke arah bibir lubang kemaluannya yang masih terlihat sempit.
"Ayo tekan!" suruhnya sambil terus menatap.
Sleep! Perlahan Hendro menekan, dan melenguh saat merasakan vagina sang ibu yang ternyata cukup mencengkeram, begitu hangat dan bergerinjal isi di dalamnya. Sungguh beruntung dia hari ini. Gara-gara Rio menolak, dia jadi bisa merasakan hangat organ intim kewanitaan ibunya.
“Sekarang goyang, Ndro. Gerakkan ke atas dan ke bawah.” Praptiwi memerintahkan, dan Hendro melakukannya.
Namun baru beberapa kali pompaan, dia sudah mengerang. Tubuhnya kejang, dan spermanya muncrat keluar, membuncah tak terkira di dalam bagian tubuh ibunya yang bergerinjal ini.
Croot... Crooottt... Cerooocoooooooooooooot...Banyak dan kental, juga hangat dan lengket.
Usai sudah. Hendro puas tiada terkira. Sementara Praptiwi tersenyum, raut di wajahnya begitu menggambarkan kalau dia sedang menikmati semburan sperma dalam rongga memeknya. Dia tahu kalau Hendro bakal kalah. Seorang perjaka seperti dia tidak akan mampu melawan geliat dan pijitan-pijitan halus liang vaginanya.
Sepasang mata mereka saling beradu, begitu lekat, selekat kulit alat kelamin yang masih bertaut erat. Kontol Hendro masih ngaceng, sedangkan dinding-dinding vagina bu Lurah tetap berkedut-kedut meminta pemuasan.
"Wah, sudah crot duluan kamu." ujar bu Lurah, tanpa ada nada marah.
"I-iya, bu. A-aku tak kuat." sahut Hendro malu.
Sejenak Praptiwi membiarkan sang putra ’meleleh’ di atas tubuhnya, sembari menikmati hangatnya kontol dan sperma bocah kecil itu. Beberapa menit berlalu dengan perasaan saling menikmati. Hingga tak lama kemudian, ia menyuruh Hendro untuk sedikit mengangkat badannya kembali.
Tampak beberapa untaian sperma terlepas ketika penis Hendro tercabut keluar. Bu Lurah meraba untaian itu dengan jemarinya yang halus, meratakannya ke seluruh permukaan vagina, dan ganti menggenggam batang kontol Hendro untuk mulai digesek-gesekkan ke biji klitorisnya.
Perlahan-lahan diusap, benda sebesar kacang kedelai itu pun menyembul keluar. “Kamu lihat itu, Ndro. Sekarang jilat! Beri ibu kepuasan!” bu Lurah memekik.
Hendro tanpa membantah langsung menerjunkan mulutnya ke sana. Bagai kehausan ia melumat. Dinikmatinya kekenyalan memek sang ibu dengan lidahnya yang kaku. Ceceran air mani dan cairan kewanitaan ibunya makin menambah rangsangan nikmat itu. Semakin lama gesekan lidahnya menjadi semakin cepat, secepat hasrat ibunya yang menginginkan orgasme saat ini.
Tak terlihat lagi sosok bu Lurah sebagai istri laki-laki pemimpin desa. Praptiwi bukanlah siapa-siapa lagi sekarang, selain seorang wanita yang tak berdaya menghadapi birahi yang melecut keras nalurinya, memaksanya berpacu laksana seekor kuda. Inilah hasrat, hasrat terdalam dari lubuk jiwa seorang wanita.
Wajahnya makin merona, memerah. Ekspresinya begitu menggambarkan kenikmatan yang sudah tiba di ujung lubang kencing. Semakin cepat Hendro menjilat, semakin ia tak kuat menahan rasa geli pada itilnya. Dan akhirnya...
"AAARRRGGGHHHHHH... sshh... uuhh... ouuuggghhhhh..." bu Lurah mendekap kepala putranya erat-erat, seluruh tubuhnya mengejang. Rasa dahsyat pada itilnya membuat seluruh tubuh montok bu Lurah bagai meledak, hancur berkeping-keping.
"Aduh, Hendro... kamu kok nakal sih?" candanya sambil terus mendekap tubuh bocah yang beruntung itu.
"Kan ibu yang menyuruh." balas Hendro disertai tawa kecil sembari menciumi wangi dari payudara ibunya yang terurai, terasa begitu empuk dan kenyal sekali.
”Eeghh,” bu Lurah menggeliatkan tubuhnya, lalu meminta Hendro untuk mengecup bibirnya.
Karena belum pernah sekali pun mengecup bibir seseorang, Hendro melakukannya dengan sedikit canggung. Mereka saling bercumbu, saling mengulum, dan sesekali bu Lurah menjilati bibir Hendro dengan mesranya, membuat penis si bocah kembali tegak berdiri.
Beberapa menit berselang, mereka menyudahi ritual ini dengan saling memandang... dan saling mencari. Tangan Hendro mulai berani meraba-raba lekuk aduhai tubuh ibunya, dia memilin puting susu bu Lurah sambil memijit-mijit tonjolannya yang bulat besar. Sementara bu Lurah dengan telaten mengocok-ngocok penis hingga menjadikannya kian kaku dan tegang.
“Sudah siap, Ndro.” Bu Lurah menyatakan.
Hendro mengangguk. "Iya, Bu... kita main lagi yuk!!" pintanya sembari mencucup puting.
”Ayo,” bu Lurah mengangguk senang.
Selanjutnya, tidak terdengar lagi percakapan dari kamar itu, kecuali puluhan desahan dan rintihan yang ditingkah suara angin di luar sana yang menggesek dedaunan.
Halaman belakang rumah Pu Parmi masih sehening tadi. Benar-benar sepi.

***

Rio menyeka rambut yang awut-awutan dan jidat yang berkeringat. Sama sekali ia tak mengerti setan apa yang merasuki raga Bu Lurah, sehingga wanita cantik istri Asromo itu jadi tak terkendali.
Membasuh muka di sumur, Rio mencoba menghilangkan sisa-sisa luapan kehangatan wanita itu di sekujur bibir, leher dan wajahnya. Sebentar kemudian ia menatap halaman belakang rumah Bu Parmi. Masih hening. Ia baru tahu kalau yang berdiri di luar rumah yang nyaris ditubruknya tadi adalah Hendro.
Sekilas Rio melihat bagaimana Bu Lurah mengundang Hendro masuk rumah dan tak keluar lagi lama sekali. Rio tak habis pikir bagaimana wanita yang seelok kembang itu tiba-tiba menjadi liar dan gagal menguasai diri. Rio memang suka menikmati tatapan syahdu Bu Lurah yang menyejukkan hati, dan menatap keindahan total wanita yang secerah bunga-bunga itu. Tapi betul-betul tak pernah berpikir wanita itu memendam hasrat yang dahsyat. Apa yang terjadi padanya?
Rio masuk rumah Si Mbah lewat pintu belakang, dan langsung menuju kamar si mbah yang tampak sepi. Istri Sujarno ternyata masih setia menunggui Si Mbah bersama dengan anak Sujarno yang masih belum bersekolah. Istri Sujarno tampak letih dan bosan. Itu terlihat dari wajahnya yang demikian kuyu dan tak bercahaya. Ketika Rio datang, ia menatapnya sekilas dan berucap sedih.
”Suami saya belum pulang sejak sore kemarin,” loyo sekali wajah istri Sujarno, ”Tak biasanya ia begitu,”
Rio menyeret kursi berhati-hati dan duduk tak jauh dari perempuan lugu itu, ”Barangkali pergi sambang ke rumah sanak saudara di kota,” Rio berusaha menenteramkan hati istri Sujarno.
”Tapi ia selalu pamit kalau hendak pergi lebih dari satu hari. Lagipula, ini bukan saat yang tepat untuk sambang sanak saudara. Sekolah tidak libur,” istri Sujarno tertunduk, ”Perasaan saya tidak enak, Dik!”
Rio menarik nafas, dan menatap onggokan tubuh Si Mbah yang pulas. Dalam hati Rio mengakui persoalan Kemiren tak segampang yang diduga. Peristiwa demi peristiwa datang bertubi-tubi. Misteri dan teka-teki menyergap mendadak. Apa yang selama ini ia lakukan bersama Candi? Nyaris tak ada yang berarti, kecuali menambah panjang daftar teka-teki yang melanda Kemiren. Dan, benarkah tubuh tua yang tergolek menderita ini sebenarnya menyimpan sejarah palsu? Benarkah ia Probosangkoro dan bukannya Parto Sumartono? Diakah yang memegang rahasia ’bukti’ itu. Apa sebenarnya kunci jawaban misteri itu?
Si Mbah terbatuk kecil. Bersamaan Rio dan istri Sujarno menatap sosok tua yang tergolek tak berdaya itu. Pemuda itu kemudian berdiri, dan mengusap kepala bocah yang bermanin di dekat kaki ibunya.
”Saya akan coba cari tahu tentang Pak Jarno, Bu,” ucap Rio.
Istri Sujarno mengangguk pasrah. Tapi wajahnya menyiratkan ia bersyukur ada orang yang mulai mengulurkan tangan. Perempuan itu kemudian memberi Rio alamat dan nama sekolah tempat Sujarno mengajar di kota kecamatan. Pada istri Sujarno, Rio berjanji akan kembali tak lama lagi.
Dengan motor ojek sewaan Rio melesat ke kota kecamatan. Dari Kemiren, ia harus menempuh 5 kilometer ke jalan raya besar. Dari pertigaan jalan, ia perlu tancap 11 kilometer lagi ke SMP tempat Sujarno mengajar.
Rio tak tahu apa yang harus dikatakan pada istri Sujarno. Di SMP itu Rio mendapat penjelasan bahwa Sujarno tidak masuk mengajar sejak kemarin. Rekan guru di sekolah itu malah ingin mendapat kabar kemana Sujarno pergi.
Kemana Sujarno?
Kecurigaan mulai menggerayangi darah Rio. Sebetulnya hati kecil Rio tak menaruh curiga pada anak semata wayang Si Mbah Parto Sumartono itu. Tapi kemana Sujarno pergi saat keruwetan desa makin menjadi-jadi, saat semakin mudah orang mencari kambing hitam untuk melabuhkan rasa curiga?
Hampir tiga jam kemudian Rio sampai di desa Kemiren kembali. Manakala ia baru saja membayar ongkos sewa ojek dan menyerahkan kembali motor pada pemilik, seperti tersambar petir ia mendengar penjelasan tukang ojek di pangkalan ojek.
”Mas, cepat kembali ke rumah Si Mbah! Ada yang gawat!” tutur tukang ojek itu. Rio diantar tukang ojek ke rumah Si Mbah. Sejumlah orang, termasuk beberapa staf desa bergerumbul di rumah Si Mbah.
”Ada apa?” Rio menyeruak di antara kerumunan.
Di sekeliling, rumah Si Mbah terlihat sangat berantakan. Koleksi fosil dan temuan Si Mbah berhamburan ke sana kemari. Sekat-sekat kaca sebagian pecah dan porak-poranda. Gambar-gambar di dinding tak ada lagi. Dan semua benda yang mudah teguling, berserak hampir di segala penjuru.
”Ada apa ini?” Rio jengkel tak segera mendapat jawaban. Orang-orang hanya menatap dengan mata kosong dan bahu yang terangkat. Nyaris tak ada seorangpun yang mampu bicara.
Rio mencari-cari. Istri Sujarno sedang dikerumuni beberapa wanita desa. Ia tergeletak dan matanya berurai air mata. Ketika ia hendak menerobos kerumunan yang melingkung Si Mbah, Asromo keluar dari kerumunan dan mengisyaratkan agar Rio mengikutinya untuk bicara di tempat yang lebih hening.
Tampaknya, daftar teka-teki segera bertambah panjang. Kegawatan akan mendapat tempat lebih luas, dan kunci rahasia makin sulit dicari.

***

Asromo jengkel luar biasa. Paling tidak itu bisa terlihat dari mata meradang dan kata-kata yang bergelegak. Ia mencoba melampiaskan dengan menghisap asap rokok dan menghempaskannya kuat-kuat. Tapi itu pun agaknya tak mampu membantu Pak Lurah menghapus rentetan peristiwa di desa yang makin menggetirkan posisinya sebagai pemimpin desa. Pasti Asromo khawatir, kalau itu dibiarkan, kepercayaan orang pada wibawanya bisa meruncing, dan mungkin bergulir ke ujung tanduk. Apa kata Pak Camat kalau terbukti Asromo tak mampu mengatasi masalah di desa?
Dengan langkah kurang bersemangat, Asromo memimpin Rio mencari tempat yang aman untuk bicara berdua saja. Rio menunjukkan semak-semak berpayung Kaliandra; tempat yang pernah dianggap paling aman ketika Candi menunjukkan surat ancaman untuk pertama kalinya.
Masih dengan mata nyalang, Asromo duduk di bangku kayu, dalam rengkuhan teduh Kaliandra. Ketika Asromo mulai menatap Rio untuk berbagi kejengkelan, baru disadari Rio tak berani menatap terus-terusan wajah Asromo. Entah kenapa, sejak insiden dengan Bu Lurah tadi pagi di rumah Bu Parmi, Rio sedikit jengah menatap mata Asromo. Ada semacam perasaan bersalah menyudut Rio, yang bersumber dari kelengahannya memberi jalan bagi hasrat membara istri Asromo yang tidak pada tempatnya itu.
Rio benci pada dirinya sendiri, yang dengan mudah terkipasi oleh pesona wanita cantik yang tampaknya punya masalah itu. Rasa jengah, bercampur juga dengan perasaan iba atas beban sosial yang bergayut di pundak pemimpin desa ini. Mudah-mudahan seluruh kejadian di rumah Bu Parmi tadi pagi cuma beredar sebagai rahasia di tengah pelaku-pelakunya; Rio, Bu Lurah dan Harjo.
”Pak Lurah hendak membicarakan sesuatu?” Rio membantu mengawali percakapan, lantaran terlalu lama menunggu Asromo yang mendadak kesulitan menemukan kata-kata yang tepat.
Asromo mengangguk, sembari meremas-remas filter rokok. ”Desa ini makin genting,” Asromo mulai membeber ilustrasi. ”Ketika kau pergi, ada orang yang datang ke rumah Si Mbah dan melakukan kegiatan biadab itu,” suara Asromo tertahan gelegak nafasnya. ”Semua sudut rumah diacak-acak. Lemari dicongkel dan isinya dibongkar. Hampir tak ada barang yang utuh,” Asromo menahan geram.
Rio yang sudah menduga sejak tadi, cuma mengangguk-angguk. Tapi tak urung, panas juga hati mudanya mendengar penjelasan itu. ”Si Mbah sendiri bagaimana?” desak Rio.
”Untung ia tak dijamah. Tapi istri Sujarno cedera. Ia dihantam tangan di bagian tengkuk. Tadi semaput. Sekarang ia sudah siuman. Kata istri Sujarno, ada dua orang tak dikenal, tanpa bicara sepatah kata pun, mengobrak-abrik ruangan. Aku yakin mereka kelompok bajingan yang sedang memburu bukti itu,” desis Asromo, menyalakan rokok, menyambung puntung yang baru saja dilontarkan entah kemana.
”Ada barang yang hilang?” selidik Rio.
”Belum tahu. Masih diperiksa,” Asromo menatap pasrah, ”Tapi apa kita tahu kalau ada barang yang hilang? Hanya Si Mbah yang tahu persis ragam koleksi di rumahnya.”
Rio terdiam sesaat, tapi kemudian berusaha mengimbangi kegusaran Asromo. ”Bajingan-bajingan itu lihai sekali, dan pandai membaca situasi. Mereka tahu pada siang hari penjagaan sangat longgar di rumah ini,” kata Rio, ”Saya menyesal pergi ke kota kecamatan meninggalkan istri Sujarno bersama anaknya,” Rio tertunduk.
”Tak apa. Kata istri Sujarno, kau memang berniat membantu mencari suaminya, yang sudah dua hari tak pulang,” ujar Asromo, ”Bagaimana hasil pencarianmu?”
”Nihil. Sujarno tak masuk mengajar sejak kemarin,” jawab Rio. ”Bocah kecil anak Sujarno tak apa-apa?”
”Beruntung ia sedang berada di belakang rumah ketika dua orang itu menyerbu masuk. Ia lolos dari bencana,” ucap Asromo, lalu terdiam.
”Pak Lurah,” Rio kemudian memecah sunyi, ”Saya terpaksa menceritakan satu hal lagi. Pak Lurah bersedia mendengar? Ini penting,” tanya Rio, takut kalau informasinya malah membuat kepala Asromo makin berdenyut-denyut.
”Katakan!”
”Kemarin sore, sewaktu saya dan Candi berjalan di sekitar Kali Randu, kami sempat dihadang dua orang. Satu orang kemudian mengejar saya, dan seorang mengejar Candi,”
Asromo melotot, ”Kenapa kau tak cerita lebih awal?” protes kepala desa itu.
”Saya khawatir beban pikiran Pak Lurah makin berat,” Rio memungut selembar daun kering di tanah dan memulir-mulir dengan tangannya. ”Saya berhasil lolos, atas bantuan Pak Kuntoro, orangtua baik hati yang tinggal di seberang rumah itu”
”Kuntoro?” Pak Lurah sedikit gusar, ”Lalu, Candi?”
”Candi diuber orang, yang malam sebelumnya mencoba membunuhnya. Tampaknya, sarang mereka di daerah itu.”
”Bagaimana ia bisa lolos?” tanya Asromo, bersemangat.
”Ia terperosok ke dalam sebuah lembah kecil. Bajingan itu tidak mengejarnya lagi. Dikira Candi tewas di situ.”
”Kurang ajar!” gemeretak gigi Asromo. ”Benar-benar kacau desa ini,” matanya kembali menyorotkan merah darah. Dengan nafas naik turun, Asromo menebar mata berkeliling, berusaha mencari jawab pada dedaunan rimbun dan bercak-bercak sinar matahari di tanah yang tersaring dedaunan.
”Pak Lurah tidak mencoba menghubungi pihak berwajib, dan mengakhiri ketertutupan desa ini?” tanya Rio tiba-tiba. Ia tak perduli lagi kata-katanya ini akan menyudutkan Asromo. Tapi memberi jalan yang terbaik toh bukan merupakan saran buruk. Dan rasa-rasanya, kepala desa ini memang sedang butuh banyak saran; baik saran yang gampang ditempuh, atau saran yang memahitkan perasaan dan bertentangan dengan kepentingan.
Tak lekas Asromo memberi jawaban. Wajahnya mengusut, kerut-kerut di lehernya dan otot menonjol seolah berlomba menghiasi permukaan kulit. Memang sulit bagi pejabat desa seperti Asromo untuk menutup-nutupi kejadian penting di desa yang mudah diendus orang luar. Tapi keresahan dan kegusarannya sudah menunjukkan orang ini berusaha mengatasi permasalahan. Mudah-mudahan Asromo kali ini tak bersikukuh menolak ide Rio.
”Pada akhirnya,” desah Asromo setelah beberapa saat memilih diam, ”Itu memang harus. Saya tak mampu lagi mengatasi teka-teki ini tanpa gagal menyembunyikan permasalahan-permasalahan citra desa yang mulai diminati wisatawan ini,” ujar Asromo, mulai menyingkap hal-hal tersembunyi dalam benaknya, dengan kalimat yang sedikit ruwet, yang boleh jadi sekusut pikirannya.
”Tadinya saya khawatir sekali pihak luar akan menilai desa ini tak aman untuk dikunjungi. Tapi lalu saya berpikir, ketenangan desa jauh lebih penting daripada niat-niat menjunjung perekonomian desa itu sendiri,” kata-kata Asromo berubah arif, meski wajah yang sarat beban belum menunjukkan tanda-tanda cerah.
”Saya akan bikin laporan sejujurnya besok pada Pak Camat, dan meminta petunjuk,” kata Asromo, sedikit lega. Seolah untuk sementara, dengan persediaan ’petunjuk’ dari pejabat di atas-nya, hati kepala desa ini sedikit teduh.
”Besok, Pak Lurah?”
”Ya, besok,” desis Asromo, ”Bantulah saya mengumpulkan bahan,”
Rio mengangguk, ”Akan saya bantu.”
Pak Lurah berdiri. Keputusan Pak Lurah rupanya sudah final. ”Tolong periksa barang-barang di rumah Si Mbah. Siapa tahu ada barang yang menurutmu sudah raib dari tempatnya.”
Rio menyanggupi, dan membuntuti Pak Lurah melangkah kembali ke rumah Si Mbah. Bersama beberapa staf desa, ia sibuk mencatat barang yang rusak, mendata fosil yang retak dan mencoba menebak barang apa yang lenyap dari meja pamer. Tapi, ternyata agak sulit mencari tahu adanya barang yang tercuri. Satu-satunya hal yang gampang dilakukan, adalah menghitung jumlah poster-poster lama yang digantung di dinding. Menurut perhitungan Rio, ada tiga gambar kuno yang lenyap. Barang-barang inilah yang sudah pasti dijarah para pencoleng siang bolong itu.
Sampai sore Rio menyusun laporan yang dipesan Pak Lurah. Ia mencoba mengurai selengkapnya, mulai penganiayaan Si Mbah di malam pertama sampai pada insiden pengejaran di tepian Kali Randu. Sayang sekali ia masih harus menyembunyikan satu hal; kisah pertemuan Candi dengan orangtua misterius di tebing rahasia Kali Randu. Kalaupun nanti itu harus dikisahkan, Candilah yang akan ia minta membuat laporannya. Rio menduga, ada maksud-maksud tertentu kenapa Candi merahasiakan pertemuan dengan orangtua itu. Boleh jadi, gadis itu punya rencana khusus merekayasa rahasia itu. Siapa tahu?

***

Matahari menjelang rebah di barat saat Candi meloncat turun dari ojek tepat di depan pelataran rumah Si Mbah. Begitu menjejak tanah, langsung Candi berlari kecil ke rumah Si Mbah untuk mendapatkan Rio. Lega Rio melihat Candi datang.
”Sudah ada berita tentang Danica?” tanya Candi, mengejutkan.
”Ia belum datang, kenapa?” sambut Rio.
”Ini aneh,” Candi meletakkan tas di meja, ”Salah satu tukang ojek mengatakan, ia ditumpangi seorang bule, yang ciri-cirinya persis sama seperti Danica,”
”Ditumpangi kemana? Kapan?” tanya Rio.
”Ya ke sini, dari pertigaan jalan raya, kemarin sore,”
”Tapi ia belum sampai,” Rio mulai gusar.
”Itulah yang kubilang aneh. Kemana perginya Danica?” Candi duduk di lantai, menghadap meja, dan menangkap atmosfir lain di ruangan itu. Ia baru sadar situasi di sekitarnya agak beda dari biasanya. Barang-barang semburat, dan teracak-acak.
”Katakan, ada apa ini?” Candi menyapu pandangan berkeliling.
”Jangan kaget, ruang ini diacak-acak orang tadi siang,”
”Astaga!” Candi melongo.
”Sudah kubilang jangan kaget!”
”Diacak-acak? Kau sendiri kemana? Apa tak ada orang di rumah ini?”
Rio kemudian membeber peristiwa siang itu, tak lupa mengurai rencana-rencana Pak Lurah. Candi cuma mampu terbengong-bengong. Tetap masih sulit menerima bagaimana kejutan demi kejutan susul menyusul.
”Jadi Sujarno pun lenyap?” tanya Candi.
”Begitulah, ia tak berada di Kemiren sejak kemarin,” tukas Rio, ”Terus terang aku mulai khawatir; curiga, tepatnya. Dan terlebih-lebih, aku merisaukan Danica,”
”Ya, masih kata tukang ojek itu, Danica memang minta diturunkan satu kilometer sebelum sampai rumah ini. Kemana dia pergi?”
Tercenung Rio dengan informasi bertubi-tubi, yang semuanya tak mengenakkan hati itu. Kalau ia menuliskan informasi tambahan ini dalam laporan, sudah pasti pecah kepala Asromo.
Candi menggigit ujung pena dan matanya menerawang matahari yang kian redup, yang membuat papan nama bertuliskan kebesaran Si Mbah di sana terlihat remang.
Dingin mulai merobek tulang. Satu persatu staf desa uang sedari tadi sibuk merapikan koleksi Si Mbah, meninggalkan rumah. Seperti bersamaan, Rio dan Candi merasakan sepi luar biasa. Dan malam makin terlihat kelam. Memang ada sejumlah wanita dan laki-laki tua yang bergantian menjenguk dan menjaga simbah, dan Pak Mantri, tapi kemudian mereka juga beranjak begitu malam turun.
Orang terakhir yang menjenguk Si Mbah malam itu adalah Kuntoro. Ia datang khusus untuk menyarankan agar Si Mbah ditangani dokter yang dari kota kabupaten. ”Besok saya akan desak Asromo untuk mengirimkan Si Mbah ke rumah sakit di kota kabupaten,” demikian Kuntoro berbisik di telinga Rio sebelum orangtua itu meninggalkan rumah Si Mbah.
Sepeninggal Kuntoro, hanya ada wanita tua dan istri Sujarno yang sudah mendingan yang menjaga Si Mbah. Candi dan Rio melihat Karman, staf desa, muncul dari gelap malam.
”Mbak Candi, Mas Rio. Ada orang menemukan ini.” Karman menyerahkan sebuah buku kecil. Candi menerimanya.
”Paspor Danica!” ujar Candi.
”Di mana ini ditemukan. Si Rambut jagung di mana?” tanya Rio.
”Saya ndak tahu di mana si rambut jagung. Buku ini ditemukan oleh warga desa di semak-semak sekitar satu kilometer dari sini. Pak Lurah minta ini ditunjukkan pada Mas Rio dan Mbak Candi,” tutur Karman.
Rio menatap paspor itu. ”Kenapa barang sepenting ini bisa tercecer? Apa yang terjadi pada Danica?”
”Apa kata Pak Lurah?” tanya Candi kepada Karman.
”Saya cuma disuruh berikan ini pada Mas dan Mbak. Saya permisi dulu, masih ada kerjaan lembur di kantor desa,” kata Karman.
Candi dan Rio tak tenang sepeninggal Karman. ”Kita harus melakukan sesuatu, malam ini juga, tak perlu tunggu besok,” kata Candi.
”Kau punya rencana?” tanya Rio.
”Ya!”
”Sebutkan!”
”Kita harus kembali ke persembunyian Probosangkoro di lembah itu. Aku yakin ada banyak misteri yang kita bisa pecahkan dari situ,” kata Candi.
”Malam-malam begini, ke lembah liar dan menakutkan itu?” tanya Rio.
”Ya. Bakal terlambat kalau menunggu besok!” otot Candi.
Rio tak segera menimpali Candi. Ia bisa bayangkan, pada siang hari saja medan di lembah itu sulit ditempuh dan terbentang luas berbagai kemungkinan kejahatan. Bagaimana Candi ingin kembali ke tempat itu malam-malam begini? Apakah ada yang tak beres pada gadis ini, pikir Rio.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar