Minggu, 18 September 2016

Putri Ular Putih 7



Bai Su-zhen menggunakan kekuatannya untuk menyibakkan jalan dari kerumunan orang. Ia memberi isyarat kepada Xu Xian untuk mengikutinya.
Dalam perjalanan pulang, Xu Xian berkata, “Sayangku, begitu marahnya aku tadi sehingga hampir tidak sanggup berkata-kata. Aku bersyukur kau berhasil menguasai keadaan. Aku yakin orangtuamu telah mewariskan sifat-sifat yang baik kepadamu.”
“Sekarang semuanya telah berlalu. Sebaiknya kita lupakan saja kejadian hari ini,” kata Bai Su-zhen.
“Ya! Bila tidak ada lagi yang harus kau kerjakan, sebaiknya kita segera menyewa tandu untuk pulang.”
“Jangan. Jalanan sudah sepi, lebih baik kita berjalan kaki saja.”
Lalu keduanya berjalan pulang. Tak seorang pun di toko mengetahui kejadian di kuil Lu. Semua bekerja seperti biasa. Dan Xu Xian pun tidak mengatakan sesuatu. Meskipun Xiao Qing adalah orang pertama yang keluar dari kuil, ia belum juga tiba di rumah, ketika keduanya sampai.

“Ke mana Xiao Qing?” tanya Xu Xian khawatir.
“Sedang mengunjungi seorang kawan. Ia tidak akan salah jalan,” jawab Bai Su-zhen meyakinkan.
Xu Xian merasa lega dan tidak bertanya lagi.

***

Suatu malam, ketika Xu Xian sedang duduk seorang diri di kantornya memeriksa keuangan, Bai Su-zhen melihat bulan bersinar di langit yang tak berawan. Pemandangan sangat indah. Setelah memanggil Xiao Qing, keduanya lalu naik ke loteng dan memandang ke kota Suzhou. Bayang-bayang hitam rumah penduduk terlihat bagai orang yang sedang tidur nyenyak.
Angin dingin berhembus. Karena melihat Bai Su-zhen mengenakan baju yang sangat tipis, Xiao Qing pun berkata, “Kakak, hari semakin dingin. Mari kita turun sekarang. Aku takut kau akan jatuh sakit.”
“Jangan khawatir. Kita duduk sebentar di sini,” jawab Bai Su-zhen. “Memandang bulan sungguh membahagiakan hati.”
“Xu Xian agak aneh beberapa waktu terakhir ini,” kata Xiao Qing.
“Ya! Tetapi ia jujur, tak pernah merahasiakan sesuatu. Seperti kejadian Guo Wei, ia menceritakannya secara terus terang kepadaku.”
“Ia memang orang yang sangat baik.”
Bai Su-zhen tertawa. “Sebagai seorang suami, ia sangat terpuji. Ia tidak pernah berbohong kepadaku.”
Ketika Xiao Qing akan mengatakan sesuatu, Xu Xian berteriak memanggil.
Xiao Qing menjawab, “Kami di sini, memandang bulan. Naiklah ke loteng!”
Xu Xian pergi ke halaman belakang. Sambil menaiki tangga ia berkata, “Rupanya kalian sedang bercengkerama. Sungguh menyenangkan.”
Sambil memegang tangan Xu Xian, Bai Su-zhen berkata, “Lihat! Walaupun bulan tidak penuh, sinarnya cukup terang. Indah, bukan?”
Tiba-tiba Xu Xian berteriak, “Tanganmu dingin sekali, sayang. Sebaiknya kita segera masuk.”
“Jangan khawatir. Tinggallah di sini barang sebentar. Semua orang yang tidur tak akan tahu betapa indahnya bulan malam ini. Kesejukan seperti ini sungguh menyenangkan!”
“Tapi angin bertiup kencang,” bantah Xu Xian, “Dan bajumu terlalu tipis. Masuklah!” samar dia bisa melihat payudara Bai Su-zhen yang putih montok membayang dari balik bajunya.
Tidak menjawab, tiba-tiba Bai Su-zhen memeluk tubuh Xu Xian dan mencium bibirnya dengan lembut. Ia menggigit gemas bibir Xu Xian dan memainkan lidahnya ke dalam mulut sang suami. Tangannya juga mulai mengelus- elus penis Xu Xian dari luar celananya.
Seiring ciumannya yang semakin panas, Bai Su-zhen memasukkan tangannya ke dalam celana Xu Xian dan langsung mengocok lembut penis Xu Xian yang sudah tegang sempurna dengan penuh nafsu. Xu Xian membalas dengan menyingkap baju Bai Su-zhen yang putih tipis hingga payudaranya yang bulat besar menyembul keluar. Xu Xian segera meremas-remasnya kuat, juga memilin dan menekan-nekan lembut putingnya yang mungil kemerahan hingga membuat Bai Su-zhen merintih-rintih dalam ciumannya.
“Mmh… mphh…” Tidak tahan, Bai Su-zhen segera menurunkan celana Xu Xian sehingga tangannya dapat leluasa mengocok penis laki-laki itu.
Diusapnya tonggak panjang Xu Xian dengan lembut dan telaten sebelum akhirnya ia melepaskan ciumannya dan mulai menurunkan tubuh. Ciumannya kini beralih ke arah penis Xu Xian yang coklat panjang. Dijilatinya ujungnya yang tumpul seperti jamur, lalu dimasukkannya penis itu ke dalam mulutnya. Bai Su-zhen dengan penuh nafsu segera mengulum dan menghisap-hisapnya. Pintar ia memainkan lidahnya menyapu penis Xu Xian.
“Ahh… nikmat sekali, istriku.” puji Xu Xian terus terang.
Bai Su-zhen terlihat tersenyum tapi tetap melanjutkan permainannya. Sekarang dia mengocok-ngocok penis Xu Xian sambil memainkan bijinya yang bulat kembar. Dijilatinya dan dihisapnya perlahan-lahan hingga membuat Xu Xian semakin merintih keenakan. Sesekali Bai Su-zhen sedikit tersedak karena memasukkan penis Xu Xian terlalu dalam ke rongga mulutnya.
Xu Xian yang tak mau kalah mulai menjamah celana dalam sang istri, ia elus-elus bagian kewanitaan Bai Su-zhen dari luar celananya. “Mmm… mmm… mmm…” Bai Su-zhen mendesah manakala Xu Xian menarik lepas celana dalam itu. Kini mereka sudah sama-sama telanjang. Hawa malam yang dingin tidak mereka hiraukan, tubuh keduanya sudah dipanaskan oleh nafsu birahi yang seakan-akan sudah naik ke ubun-ubun.
“Mmh… mhh… hhh…” desahan Bai Su-zhen makin tak karuan saat Xu Xian mulai memainkan klitorisnya, laki-laki itu memasukkan salah satu jarinya ke dalam lubang kewanitaan Bai Su-zhen dan memutar-mutarnya lembut disana.
Bai Su-zhen semakin panas memainkan penis Xu Xian manakala menerima perlakuan itu. Dikulum dan dijilatinya setiap centi penis Xu Xian dengan penuh nafsu.
Sensasi hangat dan basah mulut Bai Su-zhen juga semakin membakar nafsu Xu Xian. Ia makin cepat mengocok vagina sang istri dengan jarinya, dan makin lama makin bertambah cepat hingga Bai Su-zhen melepas penisnya dan menatap wajah Xu Xian tak lama kemudian, “Sssh… ahh… enak sekali, suamiku… ughh!!” wanita itu mendesah sambil menggigit bibirnya untuk menahan rasa nikmat pada tubuh sintalnya.
Sambil terus memainkan vagina Bai Su-zhen, Xu Xian melirik Xiao Qing yang berada di sebelahnya. Ternyata dia sedang menikmati pertunjukkan ini. Xu Xian melihat Xiao Qing memasukkan tangannya ke balik baju panjangnya, dan terlihat asyik mengusap-usap selangkangannya sendiri. Gadis itu tampak sedikit bengong melihat penis Xu Xian yang berukuran besar, yang kini sedang digarap oleh Bai Su-zhen.
Tidak ingin membiarkannya sendirian, Xu Xian segera memanggilnya. “Ayo sini, tidak apa-apa kalau kamu mau ikut bergabung.”
Xiao Qing tersenyum sedikit dan mulai mendekatkan badannya, ia duduk manis di sebelah Xu Xian. Dibiarkannya Xu Xian mencium bibirnya, malah dia membalas ciuman itu dengan begitu ganasnya. Dengan cepat mereka sudah saling melumat dan berpagutan mesra sementara Bai Su-zhen masih sibuk dengan kegiatannya; mengulum dan mengocok penis Xu Xian yang kaku dan keras.
Xiao Qing melepas bajunya dan menuntun tangan Xu Xian untuk menyentuh bulatan payudaranya. Dengan senang hati Xu Xian mengelus-elus dan memenceti benda itu, ukurannya sedikit lebih kecil dari milik Bai Su-zhen, tapi sama-sama padat dan kenyal. Xu Xian terus meremas-remasnya sementara Xiao Qing kembali memainkan vaginanya sendiri.
“Mmmh… mmph… mhhh…” gadis itu mendesah saat ciumannya dengan Xu Xian terlepas. Dia kemudian menurunkan tubuhnya dan ikut jongkok di sebelah Bai Su-zhen, rupanya Xiao Qing juga ingin ikut merasakan kekerasan penis Xu Xian.
Bai Su-zhen yang mengerti segera melepas kulumannya dan memberikan penis sang suami pada Xiao Qing. Dengan senang hati Xiao Qing menerimanya, pelan dimasukkannya penis itu ke dalam mulutnya, dihisapnya kepala penis Xu Xian yang gundul perlahan-lahan sementara Bai Su-zhen beralih menjilati biji penis Xu Xian yang menggantung indah di bawah sana.
“Aaarghhhh… kalian berdua pintar sekali.” puji Xu Xian dengan tubuh bergetar hebat, matanya terpejam rapat menikmati permainan mereka berdua. Sensasi yang ditimbulkan oleh keduanya sungguh sangat luar biasa. Baru kali ini Xu Xian merasakannya, dan dia sangat menyukainya.
Xiao Qing dan Bai Su-zhen terus bergantian memainkan penisnya, mereka bersamaan menjilati batangnya, kiri dan kanan. Kadang Xiao Qing menghisap-hisap kepala penis Xu Xian dan Bai Su-zhen mengecup-ngecup batangnya. Atau juga Bai Su-zhen yang mengulum penisnya dan Xiao Qing yang menggigit-gigit biji penisnya. Bahkan tak jarang mereka bersamaan menjilati kepala penis Xu Xian sambil sesekali berciuman. Mereka terus melakukannya sambil sesekali melirik ke arah Xu Xian untuk melihat ekspresi laki-laki itu.
Xu Xian sungguh merasa puas, nikmat sekali rasanya saat kemaluannya dimainkan oleh dua perempuan cantik ini seperti sekarang. Dia tidak ingin berhenti, tapi bangkitnya Xiao Qing sambil melepas baju dan celana dalamnya mengisyaratkan kalau permainan siap berlanjut ke babak berikutnya yang lebih seru dan menantang.
Dengan tubuhnya yang indah dan sangat proporsional, Xiao Qing segera menungging membelakanginya. Sedikit demi sedikit ia memundurkan tubuhnya sambil tangannya memegangi penis Xu Xian, ia mengarahkan kemaluan laki-laki itu masuk ke dalam lubang kewanitaannya. Bai Su-zhen membantu dengan mengatur posisi duduk Xu Xian agar bisa lebih pas saat melakukan penetrasi.
Baru kepala penisnya yang masuk, Xiao Qing sudah memekik keenakan, “Aww… sshh… pelan-pelan, Kak.” dia mendesah sambil tersenyum manis ke arah Xu Xian.
Bai Su-zhen yang berbaring di sebelahnya, menyodorkan bulatan payudaranya ke wajah Xu Xian. Xu Xian langsung menyambutnya dengan mengulum-ngulumnya ganas. Ia menjilati putingnya, menghisap-hisapnya lembut sambil sesekali menggigitinya dengan gemas dan keras.
“Aaah… sshh… mmmh…” Bai Su-zhen tentu saja mendesah-desah penuh nikmat menerimanya.
Pada saat yang bersamaan, Xiao Qing masih berusaha menyesuaikan posisi penis Xu Xian yang besar di lubang vaginanya. Baru setengah penis itu yang masuk kesana. Dia menggerakkan badannya naik turun dengan pelan seirama dengan sedikit demi sedikit masuknya penis Xu Xian ke dalam celah kewanitaannya.
“Aaah... hhhm… besar sekali punyamu, kakak Xu… sssh…” Xiao Qing berkata sambil mendesah ringan.
“Punyamu juga sempit sekali, adik Qing. Mantap sekali!” puji Xu Xian jujur. Setelah penisnya bisa masuk semua, dia langsung menggerakkan badannya dengan tempo sedikit cepat, seolah gemas dengan sesaknya vagina Xiao Qing yang membungkus penis besarnya. Dia terus menggenjot sambil sedikit rebah ke depan untuk menjilati puting susu Xiao Qing yang mungil kemerahan.
“Aah... ahh... aahh…” dengan penuh kenikmatan Xiao Qing menerimanya.
Sementara gadis itu sibuk memuaskan dirinya sendiri, Xu Xian berkata kepada Bai Su-zhen, “Istriku, sini aku jilat punyamu.”
Bai Su-zhen pun tersenyum dan dengan penuh semangat dia bangkit mengangkang di depan wajah Xu Xian. Ia taruh lubang vaginanya tepat di depan mulut sang suami. Xu Xian langsung menjulurkan lidahnya untuk meraih klitoris Bai Su-zhen yang menonjol indah. Aroma khas kemaluan seorang wanita langsung menyeruak memenuhi hidungnya begitu ia mulai menjilat dengan rakus dan lahap.
Dengan gemas Bai Su-zhen meremas-remas payudaranya sendiri saat Xu Xian melakukannya. “Sssh… terus, suamiku… nikmat sekali rasanya… ahh!” pintanya manja.
Xu Xian terus menjilat dan menghisap-hisapnya hingga membuat Bai Su-zhen makin meracau tak karuan. Tubuh sintalnya melenting kesana kemari saat Xu Xian memasukkan lidahnya semakin dalam dan menggerakkannya keluar masuk seolah mengocok kemaluannya dengan lidah.
“Ahh… ahh… suamiku, aku jadi pengen… ahh…” Bai Su-zhen berkata tak jelas sambil ikut menggoyangkan pantatnya. Sedetik kemudian ia menjerit dan mendesah panjang dengan tubuh sedikit gemetar sambil tangannya memegangi kepala Xu Xian agar terus memainkan lubang kewanitaannya. “Aku sampai, suamikuu… ahh… ahh… aah… hhh!!” cairan cintanya mengalir keluar dengan deras membasahi muka Xu Xian. Bai Su-zhen terlihat puas menikmati orgasmenya.
Sementara itu Xiao Qing masih dengan semangat menggenjot penis Xu Xian. Kadang ia menggenjot sambil sedikit memutar-mutar pantatnya. Sungguh liar biasa nikmatnya saat dia melakukan itu. Tak lama kemudian dia menancapkan penis Xu Xian dalam-dalam ke lubang vaginanya dan mengerang panjang, “Aaaah… ouuhh…” Sepertinya Xiao Qing juga orgasme. Terasa ada cairan hangat menyentuh ujung penis Xu Xian.
Xu Xian yang masih belum keluar segera mengalihkan sasaran, cepat ia melepas penisnya dari jepitan vagina sempit Xiao Qing dan langsung bangkit untuk menindih tubuh molek sang istri. Bai Su-zhen yang mengerti segera melebarkan pahanya dan dengan satu hentakan keras, alat kelamin merekapun menyatu dan saling menggesek nikmat.
“Aaw… pelan-pelan, suamiku…” rengek Bai Su-zhen manja. Dia menggigit bibirnya untuk menahan rasa geli yang menyerang lubang di selangkangannya.
Tidak menjawab, sambil meremas-remas payudara Bai Su-zhen yang tersaji indah di depan matanya, Xu Xian mulai menggerakkan pantatnya maju mundur dengan cepat.
“Ohh… ohh… aah…” Bai Su-zhen mendesah seiring gerakan itu.
Nafsu Xu Xian semakin terbakar melihat tingkah sang istri, sambil terus meremas-remas payudara Bai Su-zhen seolah berpegangan, mempercepat tempo tusukannya.
Xiao Qing yang rebahan di sebelah mereka tiba-tiba bangun dan menarik kepala Xu Xian ke arah buah dadanya. Langsung saja Xu Xian mengulum dan menghisap-hisapnya rakus, ia jilati seluruh permukaannya yang kenyal dan putih mulus sambil tak lupa menggigit kuat-kuat puting susunya yang merekah indah.
“Ooh… sshh…” Xiao Qing mendesah menikmatinya.
Sementara di bawah, Bai Su-zhen sedikit berteriak menerima goyangan Xu Xian yang semakin cepat dan brutal. “Aaah… ooohh...” Tangannya memegangi paha laki-laki itu. “Aku mau keluar, suamiku… berhenti sebentar!” pinta Bai Su-zhen menghiba.
Tapi Xu Xian yang terlanjur kesetanan sama sekali tidak menghentikan gerakannya. Ia tetap menggenjot tubuh mulus Bai Su-zhen dengan cepat dan kuat, tanpa mengurangi temponya barang sedikitpun sambil mulutnya terus menghisap-hisap payudara bulat milik Xiao Qing.
“Aaah… suamiku!” Bai Su-zhen makin merintih sambil menggigit bibirnya sendiri untuk menahan kenikmatan orgasmenya yang kedua. Cairan kewanitaannya meyembur keluar meski tidak sebanyak yang tadi.
Xu Xian yang masih belum selesai segera menarik lepas penisnya dan bangkit untuk beralih kembali pada Xiao Qing. Ia balik tubuh gadis itu hingga posisinya menungging. Tanpa membuang waktu, Xu Xian menyodorkan penisnya dan dengan nafsu sudah di ubun-ubun, ia menyetubuhi Xiao Qing dari belakang.
“Oooh… rasanya semakin mentok, kakak Xu.” puji gadis itu.
“Punyamu juga tambah menggigit, Adik Qing.” Xu Xian balas memujinya. Dengan berpegangan pada pinggang Xiao Qing yang bulat besar, ia menggerakkan penisnya keluar masuk dengan cepat dan kuat.
“Ahh… ahh... ahh…” Xiao Qing mendesah seirama gerakan itu, ia berusaha menaikkan tubuhnya sedikit dan memutar kepalanya ke belakang untuk memamerkan ekspresi wajahnya yang seksi.
Tak kuat dengan pemandangan itu,  Xu Xian segera mendekapnya erat-erat. Ia remas-remas kedua payudara Xiao Qing yang menggantung indah di depan dadanya sambil terus menggoyang penisnya begitu cepat.
“Oougghhh…” Xiao Qing mendesah panjang menerimanya. Vaginanya terasa berdenyut-denyut cepat menjepit batang penis Xu Xian.
Xu Xian yang merasakan hal itu segera melambatkan temponya, ia longgarkan dekapan pada tubuh molek Xiao Qing untuk melihat vagina gadis itu. Ada cairan putih yang sedikit demi sedikit mengalir keluar dari celah vaginanya yang sempit, beberapa menempel di ujung penis Xu Xian. Xiao Qing sudah orgasme lagi.
“Gila, Kakak kuat sekali…” kata Xiao Qing sambil memejamkan matanya.
“Kamu suka?” tanya Xu Xian menggoda.
“Tentu saja, aku suka sekali… sshh!” sahut Xiao Qing sambil menggigit bibirnya.
Xu Xian mendorong pelan tubuh gadis itu agar tautan alat kelamin mereka terlepas, ”Tapi sekarang giliran kakakmu. Gantian ya,” ia berkata sambil melirik Bai Su-zhen yang sudah siap melayaninya. 
Xiao Qing mengangguk dan beringsut duduk agak menjauh, ia menonton saat Xu Xian mulai berbaring di sebelah Bai Su-zhen.
“Kamu miring, sayang.” Xu Xian berkata sambil mengarahkan penisnya ke vagina Bai Su-zhen dari belakang. Bai Su-zhen mengangkat sebelah kakinya agar penis Xu Xian dapat mudah masuk ke dalam lubangnya. Gampang saja alat kelamin mereka bertemu dan menyatu. Begitu sudah terpaut, Xu Xian segera menggenjot tubuhnya begitu cepat.
“Ahh… ahh... ssh…” Bai Su-zhen mulai mendesah-desah.
Xu Xian menurunkan kaki sang istri agar posisinya merapat. Dengan begitu, penisnya terasa semakin dijepit oleh celah vagina Bai Su-zhen yang sempit dan ketat. “Aah… nikmat sekali, sayang.” pujinya tulus.
“Punya kamu juga nikmat.” Bai Su-zhen membalas sambil sedikit menoleh dan tersenyum manja yang khas.
Langsung Xu Xian mempercepat tempo gerakannya sambil meremas-remas buah dada sang istri dari belakang. Bai Su-zhen yang tak sanggup lagi menatapnya, kembali berpaling membelakanginya, lalu menggigit-gigit bantal untuk melampiaskan rasa nikmatnya. Melihat tingkah itu, Xu Xian semakin bergairah saja. Rasanya ia sudah tak tahan untuk mengeluarkan air mani yang sudah sedari tadi berusaha ia pertahankan.
”Sayang, aku hampir keluar.” bisiknya pada sang istri.
“Iya, di dalam saja, tidak apa-apa…” pinta Bai Su-zhen parau.
Dan tentu saja Xu Xian tidak protes dengan permintaan itu. Selang beberapa detik, iapun ejakulasi. “Aaaah… sayang! Aku keluar! Arghhh…” sambil mendesah, ia hentakkan penisnya keras-keras ke dalam lubang vagina sang istri. Ia kucurkan semua spermanya ke dalam rahim Bai Su-zhen. Xu Xian terus menggerakkannya pelan sampai penisnya mengecil dan keluar dengan sendirinya dari jepitan vagina sempit Bai Su-zhen.
Penuh kepuasan, ia berbaring telentang. Xiao Qing dan Bai Su-zhen memeluknya di kiri dan kanan sambil menghadiahi ciuman ringan di pipi.
“Sayang pintar sekali, bisa membuat kita berdua lemas seperti ini.” kata Bai Su-zhen manja.
Xiao Qing yang memeluk di sisi yang lain ikut membenarkan, “Iya, Kakak Xu benar-benar gila. Main bertiga saja bisa seperti, apalagi kalau berdua, bisa-bisa kita pingsan nanti.”
“Ah, kalian bisa saja. Masa aku sehebat itu?” kata Xu Xian merendah. Saat itulah ia merasakan Bai Su-zhen menggigil kedinginan. Mengetahui hal itu, Xu Xian segera mengajaknya masuk ke dalam. Kali ini Bai Su-zhen tidak membantah. Sambil menggandeng lengan Xu Xian, ia pun turun. Tiba-tiba ia merasa kurang enak badan, tanpa tahu sebabnya.

***

Sekitar hari kelima bulan kelima, mereka benar-benar sibuk. Xu Xian berjalan hilir-mudik di tokonya, Bai Su-zhen dan Xiao Qing sibuk membuat nasi dan kue apel. Tiba-tiba seorang pegawai masuk ke dalam memanggil Xu Xian. Di luar ada seorang pendeta Budha yang ingin menemuinya.
“Mengapa menggangguku? Beri saja ia uang dan suruh ia pergi,” kata Xu Xian tak sabar.
“Tidak! Ia ingin menemui Anda,” kata pegawai itu.
“Aneh.” Xu Xian terpaksa menghentikan pekerjaannya.
“Mula-mula saya mengira ia ingin minta sedekah. Tetapi ia menggelengkan kepalanya ketika saya memberinya uang. Ia berkata bahwa ia ingin menemui Anda. Ia tidak minta uang atau obat.”
“Apakah ia mengetahui namaku?”
“Ya. Mungkin ia teman Anda?”
Xu Xian menggelengkan kepalanya, terkejut. “Temanku? Siapa? Perayaan Naga baru akan berlangsung esok hari. Mengapa ia ingin menemuiku hari ini.”
Sambil menyiapkan makanan, Bai Su-zhen berkata, “Sebaiknya kautemui saja dia, suamiku. Barangkali ia memerlukan bantuanmu.”
Xu Xian keluar untuk menemui tamunya. Pendeta itu sedang bersandar di pintu. Usianya sekitar enam puluh tahun. Ia memakai topi jerami, baju kuning dari bahan kasar dan sepasang sandal. Alis matanya lebat, matanya memanjang, dan kepalanya botak berkilat-kilat.
Xu Xian mengangguk, “Tuan! Anda ingin menemui saya?”
Pendeta itu berkata, “Jadi engkaulah pemilik Rumah Kasih ini?”
“Ya, sayalah pemiliknya. Saya yakin kita belum pernah berjumpa. Saya masih muda dan teman saya tidak banyak.”
“Engkau tidak mengenalku, tapi aku mengenalmu, Xu Xian.”
“Benarkah? Berita apakah yang akan Anda sampaikan kepadaku?”
Pendeta itu memandang ke seluruh ruangan dan berkata sambil tersenyum kecil. “Aku ingin bicara kepadamu. Apakah engkau mempunyai waktu?”
“Tentu saja. Anda dapat segera menyampaikannya kepada saya.”
“Aku lebih suka bicara berdua saja. Ada tempat yang agak sepi di halaman belakang. Kita dapat berbicara di sana.”
Dalam hati Xu Xian berkata bahwa usul si pendeta cukup aneh. Bila ia ingin berbicara, mengapa harus mencari tempat sepi? “Tidak ada orang lain di toko,” katanya. “Anda dapat berbicara bebas di sini.”
“Aku ingin menceritakan suatu rahasia,” kata pendeta itu.
Xu Xian memandang wajah si pendeta. Karena toko sedang banyak pengunjung, akhirnya pendeta itu diajaknya pergi ke halaman belakang. “Nah, ceritakanlah!” kata Xu Xian begitu mereka tiba.
Pendeta itu mengibaskan tongkatnya dan berkata, “Untuk sementara tidak akan ada yang dapat masuk ke sini.” katanya setelah memerintahkan lima peri menjaga pintu masuk. “Apakah engkau belum juga mengenal diriku?”
“Saya tidak tahu dari mana Tuan datang, dan bagaimana saya harus memanggil Anda?” jawab Xu Xian.
“Aku seorang pendeta dari Gunung Emas. Namaku Fa Hai.”
Xu Xian mengangguk, “Jadi Tuanlah pendeta yang terkenal itu.”
Fa Hai berkata, “Engkau terkena penyakit, Tuan Xu. Aku datang untuk menyembuhkanmu.”
Xu Xian terkejut, “Tetapi, saya merasa sehat, dan istri saya dapat mengobati bila saya jatuh sakit.”
“Justru istrimulah penyebabnya,” kata Fa Hai hampir berbisik.
“Jangan berkata yang bukan-bukan,” kata Xu Xian.
“Kaukira ia adalah wanita yang paling cantik di dunia. Engkau keliru. Karena sesungguhnya ia adalah seekor ular putih.”
Xu Xian semakin terkejut, “Ular putih?” Ia menggelengkan kepalanya. “Mana mungkin! Lagi pula, ia tidak sendirian ketika kami berjumpa untuk pertama kalinya. Ia bersama adiknya, Xiao Qing.”
“Xiao Qing juga seekor ular; ular hijau,” lanjut pendeta itu.
Xu Xian benar-benar dibuatnya kikuk, “Ah!... ‘Bai’ dan ‘Qing’* memang warna-warna ular. Tetapi saya tidak percaya. Saya orang miskin. Mengapa mereka ingin mendekati saya? Setelah kami menikah, justru merekalah yang memberi saya uang dan Bai juga telah berbuat baik kepada banyak orang. Rakyat di sini memanggilnya ‘Dewi Bai’.”

* Dalam bahasa Cina, 'Bai' berarti putih, dan 'Qing' berarti hijau.

“Ia menipumu. Hal seperti ini mudah saja dilakukan roh jahat seperti dirinya. Ia dapat mengubah bentuknya seperti manusia. Jika Engkau tetap bersamanya, sesuatu yang mengerikan akan terjadi padamu!” kata Fa Hai yang rupanya sudah sangat mengenal Bai Su-zhen.
Xu Xian ketakutan. Dengan cemas ia mengetukkan kakinya berkali-kali ke lantai.
Fa Hai meneruskan keterangannya, “Kira-kira sebulan yang lalu, di kuil keluarga Lu, seorang pendeta memberimu tiga jimat, bukan?”
“Ya,” kata Xu Xian membenarkan. Ia gemetar memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Kekuatan pendeta ini kurang kuat. Ia tidak mampu mengetahui bentuk asli istrimu. Jadi, jimat yang diberikannya kepadamu tidak berpengaruh. Kemudian istrimu menghinanya di kuil itu dan Xiao Qing mengusirnya ke Yunnan.”
“Benarkah itu?” tanya Xu Xian. Ia mulai mempercayai pendeta itu.
“Kejadian itu terjadi kurang dari sebulan yang lalu. Semua orang mengetahuinya. Sekarang coba jawab pertanyaanku. Dari mana istrimu mendapat uang untuk pindah ke Suzhou dan membuka toko?”
“Itu uang keluarganya.”
“Siapa yang membawa uang itu?”
“Dua pegawai almarhum ayahnya. Tetapi saya sendiri belum pernah melihat uang itu. Mereka langsung membawanya ke Suzhou untuk membuka toko,” kata Xu Xian membela diri.
Fa hai tertawa, “Kedua pegawai itu sebenarnya adalah seekor kura-kura dan seekor kepiting. Aku tidak tertarik kepada mereka, karena mereka tidak mengganggu orang.”
“Tetapi toko obat ini berdiri berkat jasa mereka berdua,” kata Xu Xian. “Mereka berdua benar-benar orang baik-baik.”
“Anda belum juga percaya kepadaku?“
Xu Xian menggeleng. “Sekalipun saya mempertimbangkannya, tetapi saya tidak dapat mempercayai kata-kata Tuan. Karena semenjak kami menikah, usaha saya maju pesat. Istri saya berasal dari keluarga baik-baik. Sejak kecil ia belajar ilmu silat dan sangat berpendidikan dan saya mempercayainya. Bila saya berbuat salah, ia segera memperbaikinya. Dan bukankah ular adalah binatang yang menakutkan manusia dan anak-anak? Padahal banyak orang menyukai istri saya. Saya yakin Anda telah menuduh orang yang tidak bersalah. Lebih baik kita tidak membicarakan hal ini lebih lanjut.”
Fa Hai melihat ke sekeliling. Tidak ada siapa-siapa di sana. Ia mengangguk dan berkata, “Aku tidak mempunyai cukup bukti untuk membuatmu percaya. Tetapi besok ada perayaan Perahu Naga. Pada pukul tiga sore, istrimu akan berubah ke bentuk aslinya. Kalau engkau sudah melihatnya, baru engkau percaya kepadaku. Sebut nama dewa-dewa tiga kali, dan aku akan datang menyelamatkanmu. Apakah engkau dapat melakukannya, Xu Xian?”
“Jika ia seekor ular, Aku pasti akan... ah, tetapi... ia bukan ular, bukan!!” kata Xu Xian mencoba meyakinkan dirinya.
Fa Hai mengeluh, “Rupanya engkau benar-benar tidak mau mempercayai kata-kataku. Apakah istrimu dan adiknya akan ikut bersembahyang pada perayaan Perahu Naga, besok?”
“Tentu saja.”
“Bagus! Siapkan anggur kuning, dan berikan minuman itu kepada istrimu. Usahakan agar ia mau meminumnya. Lihatlah apa yang akan terjadi.”
“Kata-katamu membuat saya takut,” kata Xu Xian. “Tetapi saya yakin istri saya bukanlah ular yang menyamar.”
“Aku hanya mengatakan yang kuketahui. Apa yang kemudian akan terjadi akan membukakan matamu,” jawab Fa Hai samar-samar. Selesai berbicara, pendeta itu memanggil anak buahnya, lalu meminta diri.
Perlahan-lahan Xu Xian kembali ke rumahnya sambil memikirkan kata-kata pendeta itu. Jika istrinya benar-benar seekor ular, ia pasti sudah menjadi korban. Mengapa pula ia bersusah payah mendirikan toko? Ketika ia sedang memikirkan kata-kata si pendeta, Bai Su-zhen datang mendekat. Dipandangnya Bai Su-zhen lekat-lekat. Ia tetap saja cantik, tidak membuatnya takut. Maka Xu Xian pun memutuskan untuk tidak berterus terang kepada istrinya.
“Suamiku, apa yang diminta pendeta itu?”
Karena tidak tahu apa yang harus ia katakan, Xu Xian menjawab sambil tertawa, “Sedekah! Untuk perayaan Perahu Naga besok pagi.”
“Sudah kuduga. Sebagian pendeta harus hidup hanya dari hasil sedekah. Tetapi sebaiknya kau pertimbangkan baik-baik sebelum memberi uang kepada mereka.”
Xiao Qing datang membawa seteko teh dan meletakkannya di depan Bai Su-zhen yang saat itu duduk di atas bangku yang terbuat dari kayu. Xu Xian memperhatikan tingkah laku Bai Su-zhen dan Xiao Qing. Semua tampak wajar, tak ada yang aneh. Ketika Bai Su-zhen minum, teh panas itu menumpahi tangannya. Ia cepat-cepat meletakkan cangkir dan mengambil sapu tangan untuk mengeringkan kulitnya yang basah. Perbuatannya wajar. Xu Xian semakin yakin, bahwa pendeta tadi mengada-ada. Ia berniat menceritakan semuanya kepada istrinya.
“Apa yang sedang kauperhatikan?” tanya Bai Suzhen heran.
“Aku sedang melihatmu menyeka teh yang tertumpah di tanganmu. Betapa rapi dan telitinya engkau.” Jawaban yang ia sampaikan benar-benar menghilangkan kecurigaan Bai Su-zhen.
“Kebiasaan sejak aku masih kecil,” jawab Bai Su-zhen sambil tersenyum.
“Akan kuceritakan terus terang besok pagi,” pikir Xu Xian. “Bila ia mendengar ceritaku setelah minum anggur, ia pasti tertawa.”
Xu Xian tersenyum dan berkata, “Kebiasaanmu benar-benar mengagumkan.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar