Sabtu, 24 September 2016

Silent Rose Series 6



Case 5 : When The Rose Bleeding bag.1

Eva memandang ke hamparan laut di depannya, begitu biru dengan sinar matahari yang berkilat-kilat indah, seakan ada ribuan kepingan cermin yang mengapung di atasnya. Eva memandang sejenak ke arah pelabuhan dimana beberapa menit yang lalu mereka masih ada disana. Sore itu, Eva tampak menawan dengan balutan T-shirt ketat berwarna merah muda, dipadu hotpants biru berbahan jeans yang juga ketat. Menampakkan lekuk tubuh indahnya dan kemulusan kaki jenjangnya yang kini disirami cahaya mentari sore.
Masih jelas dalam ingatan Eva saat tanpa diduga Ian mengajaknya pergi berlibur ke negeri kangguru ini. Eva yang belum pernah berpergian berdua dengan Ian langsung menyanggupi tawaran Ian dengan senang hati. Semua dokumen, paspor dan kelengkapan administrasi diselesaikan atas bantuan Wise Crow. Dan disinilah mereka sekarang, di atas sebuah kapal cruiser besar, menikmati paket liburan mereka.

“Aku mencarimu kemana-mana,” ucap Ian saat beranjak mendekati Eva yang tengah berdiri sendiri di tepi kapal, memandang ke lautan luas. “di kapal sebesar ini tidak mudah menemukan satu orang.
“Oh, aku tidak ingin mengganggu tidurmu,” jawab Eva sambil tersenyum. “Kau tampak terlalu nyenyak dalam tidur.
“Bagaimana kau bisa membedakan tidur nyenyak atau tidak?”
“Mudah saja,” Eva memandang Ian. “dari nafas. Jika nafas orang yang tidur itu sanggup membangunkan orang lain maka orang itu jelas sedang tidur nyenyak.” jawabnya mengacu pada kerasnya dengkuran Ian saat tidur.
“Sial… kau mengejekku.” komentar Ian diikuti dengan Eva yang terkikik geli.
Ian memandang Eva dari bawah ke atas, mulai dari sandal santai bergambar doraemon yang dikenakannya, perpaduan lekuk betis dan paha yang membentuk siluet indah, lekukan pada bokong, pinggul dan punggung gadis cantik itu, leher jenjang, bibir gadis itu yang merekah menggiurkan, hingga mata cantiknya yang nyaris tak terlihat karena tertutup sebuah kacamata berwarna coklat gelap.
“Apa sih?” Eva menyadari Ian yang memandangnya cukup lama.
“Hanya mengagumi penampilanmu yang terlihat jauh berbeda.” jawab Ian sekenanya. Memang, selama ini Eva hanya mengenakan pakaian milik mendiang Ibunda Ian. Mereka tidak mungkin keluar dan berbelanja di mall karena bisa saja ada yang mengenali Eva sebagai Cinthya. Itu juga yang menjadi alasan Ian memilih liburan di luar negeri, dan memilih supermarket sebagai tempat yang pertama kali mereka singgahi. Ian ingin melihat Eva dalam penampilan terbaiknya.
“Udah deh gombalnya.” Gadis cantik itu mencoba menyembunyikan rasa groginya.
“Itu benar kok, kamu memang terlihat berbeda.” Ian bersikeras. “lebih terlihat hidup.”
“Jadi selama ini aku seperti mayat hidup, gitu?” Eva protes meski dalam hati Eva tahu apa yang dikatakan Ian benar adanya. Sebelum ini dia merasa sangat tertekan, tertekan atas kenangan buruk yang disaksikannya dengan mata kepala sendiri. Sekarang, berkat apa yang dilakukan oleh Wise Crow padanya, dia merasa lebih hidup.

***

Green File Café.
Saat Ian masih mengejar Silent Rose palsu (Case 04).

Kedua mata Eva secara reflek berkedip saat Mr. Wise menjetikkan jari tuanya hanya beberapa centimeter di depan matanya. Seketika dia merasakan pening yang merambat dengan sangat cepat dari bagian belakang lehernya menuju tepat ke otaknya, sebelum rasa pening itu hilang begitu saja, sama cepatnya dengan kedatangannya.
“Ada apa?”, Mr. Wise tersenyum simpul. Lekuk-lekuk di wajah tuanya tampak aneh saat ia tersenyum.
“Apa yang kau lakukan?” Eva bertanya sambil memegangi kepalanya, seolah mencari sesuatu yang menempel di kepalanya.
“Menekan tombol refresh,” jawab Pak Tua itu tenang. Jari-jarinya kini kembali pada kesibukan lamanya ; membersihkan gelas-gelas. “Aku dapat melihat jelas isi kepalamu, kau mengkhawatirkan Ian, juga beberapa trauma yang masih menumpuk. Kau menumpuk semua itu hingga otakmu tidak berhenti berpikir dan bertanya ‘apa yang bisa aku lakukan?’ Benar bukan?”
Anggukan kecil dari Eva membenarkan apa yang diucapkan oleh Wise Crow.
“Satu jentikan jari dengan jarak sedekat itu bisa memberi efek kejut,” bibir tua Mr. Wise kembali berbicara. “Dan satu kejutan cukup untuk membuyarkan semua hal yang menumpuk di kepalamu, agar kau bisa berpikir lebih tenang lagi.
Eva diam tidak menjawab, meski mungkin dia sangat ingin menjawab. Dalam hati, gadis itu harus mengakui kejutan kecil dari Mr. Wise telah membuat dirinya merasa sedikit rileks, seolah membuyarkan beban-beban yang beberapa saat lalu membuntu pembuluh otaknya.
“Akan kuceritakan sesuatu padamu, Eva.” Mr. Wise kembali bicara, dia meletakkan gelas-gelasnya dan mengambil sebatang pipa hisap berbahan keramik. Eva kembali memusatkan perhatiannya pada Mr. Wise.
Mr. Wise tidak terburu-buru dengan ceritanya, setelah membakar tembakau di pipanya dan menarik satu hisapan kuat baru dia bicara.
“Association, didirikan oleh tiga orang,” Mr. Wise memulai ceritanya. “Tiga orang pengusaha dari tiga negara berbeda yang tidak puas dengan sistem peradilan yang ada di dunia saat ini. Satu diantaranya berasal dari Indonesia. Satu yang paling menonjol karena kejeniusannya.”
Eva memperhatikan kata demi kata yang meluncur dari bibir tua Mr. Wise dengan seksama. Seakan Mr. Wise akan menceritakan sesuatu yang sangat penting. Sekilas muncul dalam ingatan gadis cantik ini apa yang dikatakan oleh Ian padanya, bahwa semakin banyak yang dia ketahui, akan semakin berbahaya baginya. Meski menyadari bahaya itu, Eva tetap ingin mendengar cerita Mr. Wise.
“Dommi D Notohadiningsat adalah orangnya. Sampai sekarang, kejeniusannya tidak dapat ditandingi oleh siapapun, baik dalam strategi, kemampuan manajemen, ilmiah, bahkan penggunaan senjata. Dia jadi sosok yang paling disegani di Association.”
“Apakah…” Eva memotong ucapan Mr. Wise. Untuk beberapa detik keraguan tampak di wajahnya. “Apakah kau akan membunuhku setelah ceritamu ini?” ujarnya dengan nada yang sedikit bergetar.
Mr. Wise tersenyum samar, menghisap pipanya dan menggeleng. “Itu tergantung apa yang akan kamu lakukan.” jawabnya diplomatis. “Sekarang, biarkan aku menyelesaikan ceritaku.”
Eva mengangguk, sekali lagi raut wajahnya berubah, ada kelegaan tergambar di wajah gadis cantik itu.
“Dommi punya andil besar dalam mengembangkan jaringan Association. Kejeniusannya itu luar biasa, dan itu menurun ke garis-garis keturunannya. Tidak perlu waktu lama bagi keturunan-keturunannya untuk menguasai apa yang diajarkan oleh Association.
Sekali lagi Mr. Wise berhenti untuk menghisap pipanya, asap putih pekat menghembus dari kedua lubang hidungnya. “Dan dia memilih Rose sebagai penanda garis keturunannya,”
Satu anggukan kembali dilakukan oleh Eva, kini gadis itu mengerti siapa Silent Rose sebenarnya. Codename Silent Rose menandakan bahwa Ian adalah keturunan dari Dommi D Notohadiningsat, sang jenius.
“Ya, Silent Rose adalah garis keturunannya. Saat ini, Association dipimpin oleh tujuh director sebagai pimpinan tertinggi. Hanya dua diantaranya yang memiliki darah tiga pendiri Association.”
“Kenapa bisa begitu?”
“Itu keinginan Dommi sendiri. Sepertinya dia lebih menikmati kerja lapangan dibanding berada di belakang layar. Itu juga yang menjadi asal-usul nama tumbuhan digunakan sebagai nama akhir pada codename agen tipe A”.
“Tapi bukankah seharusnya Ian mendapat perlakuan khusus? Dia keturunan pendiri,”
“Itu juga keinginan dari Dommi. Tidak peduli dimanapun mereka ditempatkan, para jenius tetap akan menjadi jenius. Itu darahnya, blood of roses,
“Lalu… kenapa menceritakan ini padaku?” Eva mulai bertanya tentang maksud sebenarnya Mr. Wise menceritakan cerita ini padanya.
“Karena kau tampak sangat mengkhawatirkan Ian,” Mr. Wise menjawab pertanyaan Eva dengan santai. “Kau tidak tahu kan, kalau kau sedang mengkhawatirkan seorang jenius? Seseorang yang memiliki blood of roses. Percayalah… kau hanya membuang-buang enerjimu dengan mengkhawatirkannya.
Dahi gadis itu mengernyit, tampak jelas dia kurang setuju dengan apa yang baru saja disampaikan Wise Crow. Ian mungkin memang seorang jenius, tapi bukankah seorang jenius juga bisa mati?
“Sebelum kau menyanggah ucapanku, gadis manis…” Crow berkata setelah membaca niat Eva untuk protes. “Katakan kalau pendapatku salah, tapi menurutku kau mengkhawatirkannya karena kau memiliki perasaan khusus padanya.
Mata Eva mendadak berubah arah, menghindari tatapan mata tua Mr. Wise, mencoba menyembunyikan rasa grogi yang tiba-tiba menyergapnya setelah mendengar pernyataan Mr. Wise yang tanpa tedeng aling-aling.
“Sudah kuduga aku benar,” Mr. Wise mengucapkan kata itu tanpa rasa bersalah telah membuat Eva salah tingkah dengan pernyataannya. “Apa Ian menceritakan padamu seberapa kedekatan antara aku dan dia?”
Eva menggeleng, dia masih terlalu grogi untuk bicara.
“Aku dan Ayahnya, Airul Hutomo, Silent Rose sebelumnya, adalah sahabat kental. Yah, sejak Ayahnya meninggal, aku sudah menganggap Ian sebagai putraku sendiri.”
“Ehm… bagaimana dengan keluarga anda?”
Mr. Wise diam sejenak, pertanyaan Eva tampak menahan suara pria tua itu tepat di tenggorokannya. Eva tidak menyadari itu, pria tua itu kembali menguasai diri hanya dalam hitungan detik.
“Seperti yang kau lihat, aku tidak memiliki keluarga. Istriku meninggal saat melahirkan, bersamaan dengan anak yang dikandungnya, hanya beberapa hari sebelum Ian lahir.” jawab pria tua itu dengan tenang.
Perasaan bersalah kini menyergap Eva, gadis itu menunduk dan meminta maaf.
“Itu adalah takdir, kau tak perlu minta maaf,” jawab Mr. Wise kalem.”Sekarang, biar kuceritakan padamu kisah tentang dua sahabat.”
Mr. Wise mulai bercerita tentang masa lalunya, bagaimana persahabatannya dengan Airul Hutomo, Silent Rose sebelumnya.
Tidak biasanya Wise Crow banyak bicara, mungkin sudah cukup lama sejak pria tua itu berbagi pengalaman dengan orang lain, dan kali ini Eva larut dalam cerita pria tua itu.

***

Beberapa tahun yang lalu

Udara di kawasan puncak, Bogor, malam itu terasa sangat dingin. Namun dingin itu tidak terasa di sebuah villa milik Airul Hutomo, Ayah Ian. Villa itu telah berdiri cukup lama, namun bagian-bagian bangunan villa itu selalu direnovasi, seakan pemiliknya tak ingin bangunan yang jarang dikunjunginya itu menjadi bangunan yang out of date. Malam ini, beberapa mobil tampak memenuhi halaman parkir villa tersebut yang memang cukup luas. Villa itu sendiri dapat dibilang cukup terpencil, karena akses jalan menuju tempat itu kebanyakan masih berupa jalan tanah yang berkelok-kelok. Untuk mencapai bangunan tersebut masih memakan waktu sekitar dua jam dari jalan beraspal.
Kondisi itu tetap dipertahankan oleh keluarga Silent Rose selama bertahun-tahun. Villa keluarga ini masih kerap mereka kunjungi barang sekali atau dua kali setahun. Sepasang suami-istri, Mang Oyik dan Lik Marni tinggal beberapa meter dari pagar terluar villa tersebut. Mereka diperbantukan untuk merawat dan membersihkan villa tersebut. Layaknya bangunan itu, tugas untuk merawat villa pun diturunkan dari generasi ke generasi.
Malam itu adalah malam tersibuk dalam kehidupan Mang Oyik maupun Lik Marni, karena Airul Hutomo yang kini memegang hak kepemilikan atas villa tersebut mengundang beberapa koleganya ke sana. Seluruhnya adalah anggota Association yang bertugas di wilayah Asia Tenggara. Beberapa diantara mereka adalah warga negara keturunan, Wise Crow tampak diantara para tamu, sedang berbincang-bincang dengan Airul dan seorang gadis cantik.
“Aku masih ingat bagaimana kesalnya saat pertama kali ke tempat ini,” Adorable Starfruit, seorang gadis cantik dengan darah campuran Korea – Sunda berkata.
Gadis itu terlihat anggun dan cantik dengan balutan gaun ungu yang punggungnya terbuka. Sesuai codename yang diberikan padanya, gadis itu memiliki bentuk tubuh yang sangat sexy, tiap lekukannya seolah dapat membius mata yang memandangnya. Tidak hanya itu, rambut hitam panjang yang tergerai lurus hingga punggung menambah keanggunannya. Jika saja kewaspadaan tidak diajarkan dalam karantina Association, pasti tidak ada yang menyangka bahwa gadis secantik itu adalah pembunuh berdarah dingin yang paling berbahaya di Asia, peringkat kedua setelah Silent Rose.
“Ya, aku masih ingat kau berkali-kali mengumpat saat aku menyetir,” Wise Crow menyahut. Jelas dia belum setua saat Ian hadir, Wise Crow masih terlihat tampan dengan wajah setengah bulenya yang tampak bersih terawat. Jika dibandingkan dengan masa tuanya, hanya hidung betetnya yang tidak banyak berubah.
“Hahaha, jujur sebenarnya aku bisa saja memperbaiki jalan itu,” jawab Airul sambil tertawa.
“Tapi tentu saja itu akan tidak menguntungkanmu kan, Rose?” seorang pria bergabung dengan mereka, seorang pria yang kumisnya membuat dia tampak beberapa tahun lebih tua dari usianya saat ini. “Jika jalan itu diperbaiki, ada kemungkinan beberapa orang akan sering melewatinya.” tambah pria tersebut.
“Kau benar sekali, Noisy Cannary.” jawab Airul sambil menjabat tangan Noisy Cannary.
“Semua orang tahu itu,” nada Wise Crow terdengar cukup sinis.
“Dimana orang tua itu?” Noisy Cannary bertanya tanpa mengindahkan ucapan Wise Crow.
“Siapa yang kau maksud? Cautious Hawk? Pair-up ku?” Airul bertanya balik. “Kurasa dia sedang menyendiri di dekat kolam renang di belakang villa. Kau tahu dia tidak begitu suka berkumpul dengan banyak orang, apalagi sesama anggota Association.”
“Yeah… orang itu selalu berhati-hati, dia masih saja berpikir semua orang itu berbahaya, bahkan sesama anggota Association.” Adorable Starfruit menjawab, membuat semua yang ada disitu tertawa.
“Bahkan setelah kita ber pair-up cukup lama pun dia masih saja menganggapku berbahaya,” timpal Silent Rose.
“Lantas kapan kau akan menyudahi pair-up mu dengan orang tua itu dan berpasangan denganku?” tanya Noisy Cannary kemudian.
“Hoho… kau masih ingin pair-up denganku? Kupikir kombinasi diam (Silent) dan berisik (Noisy) bukan kombinasi yang bagus.” jawab Airul setengah bercanda.
“Jadi sekarang aku harus menyalahkan Association karena memberiku codename ini?”
“Kupikir kau harus menyalahkan mulutmu yang terlalu mengumbar rencana dan informasi.” Wise Crow menimpali ucapan Noisy Cannary masih dengan nada yang sinis.
“Oh sudahlah, kapan kalian akan akur dan melupakan masalah rencana yang bocor itu?” Adorable Starfruit mencoba mencairkan suasana. Gadis itu menggamit lengan Wise Crow dengan mesra.
Pada masa itu, Association masih menggunakan sistem pair-up, dimana seorang agen tipe A harus berpasangan dengan seorang agen tipe B dalam melaksanakan suatu case. Mereka berhak memilih pair-up masing-masing, kecuali jika ada perintah dari Association yang mengharuskan seseorang ber-pair-up dengan agen yang ditentukan oleh Association. Sistem kerjanya sederhana, agen tipe B bertanggung jawab atas perlengkapan, informasi, dan strategi yang digunakan. Dan agen tipe A melaksanakan strategi tersebut. Keberhasilan dari sebuah case bergantung dari kecerdasan agen tipe B dan ketangkasan agen tipe A.
Wise Crow adalah pair-up Adorable Starfruit. Mereka adalah kombinasi yang baik, Adorable Starfruit mungkin tidak memiliki ketangkasan dan kecerdasan yang dimiliki Silent Rose. Blood of Roses yang dimiliki Airul Hutomo dibuktikan dengan ketangkasan dan kecerdasan yang tidak bisa disetarakan dengan agen-agen tipe A maupun tipe B. Meski tidak setangkas Silent Rose, kecerdasan dan ketelitian yang dimiliki Wise Crow melengkapi kekurangan Adorable Starfruit. Mungkin itu yang membuat Adorable Starfruit jatuh cinta pada Wise Crow. Ya, selain dikenal sebagai pair-up mereka diketahui memiliki hubungan khusus.
Airul Hutomo, sang Silent Rose sendiri lebih memilih Cautious Hawk sebagai pair-up nya. Cautious Hawk sudah berumur cukup tua, dulunya dia adalah pair-up Bleeding Rose, kakek Ian. Mungkin kemampuan Cautious Hawk tidak terlalu menonjol, apalagi di usia tuanya. Namun dengan memiliki Blood of Roses sebagai pair-up mampu mengangkat eksistensi Cautious Hawk di mata Association. Lagipula, bagi para jenius seperti keluarga Rose, mereka hanya membutuhkan orang yang mampu mencari informasi dan perlengkapan. Soal strategi, mereka dapat menciptakan satu strategi yang seringkali lebih baik dari apa yang disiapkan para agen tipe B.
Kadang melibatkan perasaan dalam pekerjaan merupakan sebuah kesalahan, itu yang menyebabkan Wise Crow menyimpan amarah pada Noisy Cannary. Dalam sebuah case yang diambil oleh Wise Crow – Adorable Starfruit, Noisy Cannary melakukan kesalahan dengan membocorkan informasi tentang strategi yang akan mereka gunakan. Kesalahan itu sempat menempatkan Adorable Starfruit dalam bahaya, Wise Crow harus merelakan pujaan hatinya digilir bergantian oleh segerombolan yakuza demi menyelesaikan case tersebut. Beruntung, Association masih menganggap kesalahan Noisy Cannary dapat dimaafkan. Tapi jelas, maaf bukan sesuatu yang bisa dibeli dengan mudah pada Wise Crow.
Berkali-kali Wise Crow mengajukan protes tertulis pada tujuh direktor (pimpinan tertinggi Association) yang menuntut agar Noisy Cannary dihukum, namun protesnya hanya menghasilkan teguran keras bagi Wise Crow sendiri. Wise Crow dinilai meragukan kebijakan tujuh director, hampir saja Wise Crow menempatkan dirinya dalam bahaya, jika tidak dibantu oleh sahabat kentalnya, Silent Rose. Silent Rose memberi pernyataan tertulis bahwa Association akan sangat dirugikan jika harus kehilangan agen sehebat Wise Crow. Wise Crow tidak bisa melakukan apa-apa lagi, Noisy Cannary masih dapat beroperasi di depan matanya.
Airul merasa sedikit lega saat Noisy Cannary beranjak ke kolam renang di belakang villa. Setidaknya hal itu akan mengurangi ketegangan yang sempat terjadi diantara mereka. Adorable Starfruit sendiri telah mengambil tindakan yang baik untuk menenangkan Wise Crow.
“Seharusnya orang itu dihukum mati,” bibir Wise Crow bergetar pelan, matanya tidak lepas dari sosok Noisy Cannary yang mulai tak terlihat.
“Suatu saat nanti mungkin…” jawab Silent Rose dengan tenang. “Sekarang, biarkan dia berkicau sesukanya, sampai ajal membungkamnya.”
Pandangan mereka bertiga teralih ke ambang pintu, dimana seorang pria berbadan kekar masuk ke dalam ruangan. Badan penuh otot pria itu senada dengan rambut wajah yang membuatnya terlihat makin bengis. Airul tersenyum melihat pria itu.
“Kupikir kau tidak akan datang.” ucap Silent Rose sambil menyalami pria tersebut
“Tetap berotot seperti biasanya, Frangipani. Aku tidak habis pikir berapa steroid yang kau habiskan.” Wise Crow kini bergantian menjabat pria kekar tersebut.
“Ini alami, Crow. Kau tahu itu, laki-laki adalah lambang kekuatan. Harusnya kalian melatih tubuh kalian juga.” jawab Lazy Frangipani.
“Oh! Aku sudah cukup puas dengan tubuhku,” seloroh Silent Rose sambil bercanda. “Lebih puas lagi dengan ini.” tambahnya sambil menunjuk ke kepalanya, merujuk ke daya pikirnya.
“Aku rasa Starfruit akan setuju denganku, bukan begitu, Nona Crow?” Lazy Frangipani mencoba mendapatkan dukungan dari satu-satunya wanita yang ada diantara mereka.
Adorable Starfruit tertawa, “Aku cukup puas dengan apa yang kumiliki.” jawab gadis cantik itu sambil memeluk lengan Wise Crow makin erat.
“Dan aku yakin, Crow juga puas dengan apa yang kau miliki.” kelakar Lazy Frangipani sambil menggerakkan kepalanya seolah memperhatikan tubuh Adorable Starfruit yang indah.
“Ohh.. sangat puas pastinya.” Wise Crow menjawab sekenanya.
Sementara keempat orang itu bercengkerama, di tepi kolam renang di belakang villa seorang pria tua tampak asyik menghisap pipa tembakau berbahan keramik miliknya. Asap putih yang keluar dari bibir tuanya mengepul membaur sebelum lenyap di gelapnya langit malam. Pria tua itu, Cautious Hawk menoleh cepat saat mendengar langkah kaki mendekatinya, sebuah pendengaran yang sangat baik bagi orang seusianya.
“Lima meter,” ucap Cautious Hawk saat melihat sosok Noisy Cannary mendekatinya. “Kau tidak bisa lebih dekat lagi denganku.”
“Oh, ayolah, Pak tua, aku tidak membawa senjata, dan aku bukan agen tipe A.” jawab Noisy Cannary. Wajahnya menunjukkan keramahan.
“Itu justru lebih berbahaya,” sergah pria tua itu. “Agen tipe A butuh senjata untuk membunuh, tapi kita agen tipe B bisa membunuh tanpa mengotori tangan kita sendiri.”
“Baiklah kalau begitu,” Noisy Cannary mengalah, dia mengerti betul, tidak ada gunanya beradu pendapat mengenai kewaspadaan dengan orang seperti Cautious Hawk. Dalam hal ini, Noisy sedikit iri karena Cautious Hawk diperhitungkan oleh Association, hanya karena dia menjadi pair-up keluarga Rose selama dua generasi. Noisy Cannary berpikir, seandainya bukan orang tua itu tidak menjadi pair-up orang yang memiliki Blood of Roses, mungkin dia hanya agen tipe B kelas teri.
“Setidaknya lemparkan satu kursi untukku, kau tidak berpikir untuk membiarkan aku kelelahan berdiri kan?” ujar Noisy Cannary.
Cautious Hawk menatap Noisy Cannary sebelum menendang sebuah kursi plastik ke arahnya. Tanpa banyak bicara Noisy mengambil kursi tersebut dan duduk di atasnya.
“Selamat atas case terakhirmu, dua belas case dalam setahun, kalian luar biasa.” Noisy memulai basa-basinya yang terlambat.
“Kau datang untuk memujiku atau menyindirku?” Cautious Hawk berkata tanpa ekspresi. Wajah tuanya sangat sulit untuk ditebak. “Kita semua tahu case-case itu bukan karena keberadaanku, melainkan karena Blood of Roses.
“Oh tidak, aku yakin meski memiliki Blood of Roses, tetap saja membutuhkan seorang agen tipe B.”
“Berarti kau belum mengenal para Roses…” wajah tua Cautious Hawk tampak tidak senang dengan apa yang menjadi bahasan mereka saat ini. “Para jenius sialan itu tidak membutuhkan siapapun, kecuali hanya sebagai pelengkap karena peraturan sistem kerja yang ditetapkan Association. Dan kudengar, Association akan menghapuskan sistem pair-up.
“Kau informan yang sangat baik. Tujuh direktor memang sedang mempertimbangkan sistem kerja yang baru. Kudengar salah satu dari mereka menganggap agen-agen tipe A layak diberi sedikit kebebasan. Yah… selama ini mereka selalu menjadi kepanjangan tangan kita, para agen tipe B.
“Kecuali aku tentunya…” Cautious Hawk memandang ke air kolam yang sangat bening dan tenang, beberapa bagian air tersebut membiaskan cahaya bulan, membuatnya membentuk sinar biru yang bergoyang-goyang pelan. “Aku jadi seperti pembantu bagi mereka.” ujarnya kemudian sambil tertawa.
Dalam hati Noisy Cannary membenarkan hal itu. Selama ini Cautious Hawk memang hanya melakukan tugas sebagai pembantu Silent Rose. Dan sebenarnya, itulah yang Noisy Cannary inginkan. Dia ingin bisa menjadi pair-up Silent Rose. Namanya akan dapat terangkat tanpa harus melakukan atau memikirkan banyak detail. Dan lagi, menjadikan agen tipe A nomor satu yang disegani atas Blood of Roses-nya jelas akan memberinya rasa aman.
“Apa kau tidak merencanakan untuk pensiun?” tanya Noisy Cannary.
Pertanyaan Noisy sedikit menyinggung perasaan Cautious Hawk. Itu ditunjukkannya dengan tatapan tajamnya pada Noisy Cannary. Namun Hawk tahu benar, Noisy punya kelebihan dalam memprovokasi lawan bicaranya. Kemampuan dan daya pikir Noisy Cannary memang rendah, namun kemampuan provokasi dan persuasifnya sangat tinggi. Menuruti emosi dan harga diri bukanlah sesuatu yang baik bagi orang setua Cautious Hawk. Dalam duel fisik, jelas Noisy lebih unggul.
“Mungkin beberapa saat lagi aku akan pensiun. Kenapa kau menanyakan itu, kau ingin menggantikan posisiku? Menjadi pair-up Silent Rose?”
“Ya.. setidaknya aku akan mencobanya.”
Jawaban Noisy Cannary yang jujur membuat Hawk tertawa, tawa yang meremehkan. Di mata Hawk, jelas Noisy Cannary bukan orang yang layak untuk menjadi pair-up Silent Rose.
“Kau bermimpi terlalu jauh, Cannary…” Hawk menjawab sambil tertawa. “siapapun tahu, kombinasi berisik (Noisy) dengan diam (Silent) tidak akan pernah cocok.”
Tidak jauh dari Noisy Cannary dan Cautious Hawk, di sisi kolam yang lain, dua sahabat kental; Silent Rose dan Wise Crow sedang menikmati minumannya. Wise Crow menatap geram ke arah Noisy Cannary dan Cautious Hawk.
“Pengicau itu pasti sedang berkicau di depan Hawk. Merajuk agar dia bisa ber pair-up denganmu.” ujar Wise Crow sinis.
“Oh, itu takkan terjadi. Aku tidak akan menjadikan orang yang tidak bisa dipercaya sepertinya sebagai pair-up ku.” jawab Airul Hutomo kalem. “Ngomong-ngomong Wise, kau belum menjelaskan padaku, kenapa pada waktu karantina kau berusaha mati-matian untuk menjadi agen tipe B? bukan menjadi tipe A sepertiku?”
“Kenapa harus jadi sepertimu, Rose?” Wise Crow bertanya balik.
“Yah… tadinya kupikir kita akan selalu bersama, menikmati persaingan-persaingan kecil kita seperti dulu. Lalu saat kau memilih untuk menjadi agen tipe B, kupikir kau melakukannya agar bisa menjadi pair-up ku. Nyatanya kau malah memilih Adorable Starfruit.”
“Bukankah sekarangpun kita sedang bersaing, Rose, dengan pair-up kita masing-masing? Bersaing untuk menjadi yang terbaik di Asia,
“Hmm… Kupikir tadinya kau ingin menjadi pair-up ku. Tapi kupikir wajar jika kau memilih Starfruit, siapa sih yang bisa menolak pesona seorang Adorable Starfruit?”
Wise Crow tertawa mendengar pernyataan sahabat kentalnya. “Bukan… bukan. Well.. memang dia mempesona dan aku bodoh jika tidak jatuh cinta padanya setelah dia jatuh hati padaku. Tapi itu bukan alasanku berusaha menjadi agen tipe B. Aku juga tidak menjadi agen tipe B hanya karena ingin menjadi pair-up mu.”
“Sudah kuduga kau punya alasan lain,” Silent Rose menajamkan tatapannya pada Wise Crow. “Dan pastinya itu alasan yang menarik.”
Tawa kembali keluar dari mulut Wise Crow. “Kau ingat bagaimana persaingan-persaingan kita dulu saat masih kecil? Bagaimana kita saling mencoba menjadi yang terbaik?”
“Ya, itu sangat menyenangkan.” jawab Airul Hutomo mengingat bagaimana persaingan demi persaingan justru membuat mereka makin akrab. Tidak peduli siapa yang lebih unggul, pada akhirnya mereka selalu tertawa bersama.
“Ingat bahwa kau pernah mengatakan kau ingin menjadi ahli kimia yang hebat? Bahwa kau ingin menciptakan sebuah serum yang luar biasa yang akan mengejutkan semua orang?” Wise Crow mengingatkan Silent Rose tentang apa yang pernah dikatakannya.
Airul mengangguk pertanda bahwa dia ingat.
“Kau telah berhasil dengan menyempurnakan serum kejujuran. Apa kau masih ingat apa yang aku ucapkan untuk menyaingimu saat itu?”
Kali ini Airul menggeleng.
“Kalau kau akan menciptakan serum terhebat yang pernah diciptakan, maka aku akan menciptakan sebuah pertunjukan trik yang paling hebat yang pernah ada, yang penuh tipuan, jebakan dan intrik.”
“Oh ya, aku ingat!” kini Airul mengingat apa yang diucapkan Wise Crow dulu. “Jadi kau menjadi agen tipe B untuk itu? Agar bisa membuat strategi yang hebat? Wah.. aku tidak sabar melihatnya.”
Dua sahabat kental itu tertawa bersamaan.
“Kau sih sudah berhasil dengan serum kejujuranmu yang tak dapat ditawar oleh obat penawar apapun,” ujar Wise Crow kemudian.
“Kau salah, Crow…” sebuah senyum muncul di wajah Airul Hutomo sang Silent Rose. “Aku belum selesai, serum kejujuran itu hanya pembuka. Sebentar lagi, serum yang aku maksudkan akan sempurna, sebuah serum yang tidak pernah dipikirkan oleh ahli kimia manapun!!”
Wise Crow ikut tersenyum melihat sahabat kentalnya tersenyum.
“Kita akan menggetarkan dunia dengan kejutan kita.” ujar Wise Crow sambil mengangkat gelasnya.
Kedua sahabat itu bersulang sambil tertawa riang.

***

“Serum apa yang dimaksudkan itu?” Eva bertanya saat Wise Crow tua menyelesaikan ceritanya.
Mr. Wise hanya menggeleng. “Aku tidak tahu, kami tidak pernah sempat menyelesaikan persaingan kami.” jawabnya pelan.
“Dan kau, trik hebat yang kau ciptakan?”
“Oh.. aku membuat banyak trik hebat,” Mr. Wise sedikit tersenyum saat mengingat trik-trik yang telah digunakannya. “Namun tanpa adanya saingan, itu semua terasa sedikit hambar.”
“Kenapa tidak menjadikan Ian pair-up mu? Kalian akan menjadi pasangan hebat.”
“Sistem pair-up sudah dihapuskan,” jawab Mr. Wise dingin. “Aku yang bersikeras agar sistem itu dihapuskan, aku dan Silent Rose.”
“Kenapa? Bukankah itu sistem yang baik?”
Mr. Wise tidak segera menjawab, dia menatap mata Eva lekat-lekat. “Akan kuceritakan bagian yang paling menarik, yang menyebabkan mengapa aku dan Silent Rose menuntut sistem pair-up dihapuskan. Silent Rose sebelumnya, Ayah Ian, adalah pair-up ku yang terakhir.”
“Kalian pernah ber pair-up? Tapi bagaimana dengan Adorable Starfruit? Istrimu?”
“Dia bukan istriku…” kesedihan tergurat samar di wajah tua Mr. Wise. “dengarkan baik-baik, akan kuceritakan mengapa,”
Eva kembali memusatkan perhatiannya pada apa yang akan diceritakan oleh Wise Crow. Sesuatu tentang apa yang menyebabkan Association merubah sistem kerjanya.

***

Mr. Wise muda tersenyum melihat seorang gadis cantik sedang duduk termenung di beranda sebuah kamar hotel, mengenakan T-shirt kuning berukuran besar sebagai satu-satunya penutup tubuh, gadis cantik itu menatap kosong pada pemandangan malam kota Singapore yang terhampar di hadapannya. Gadis itu menoleh saat Mr. Wise mendekat dengan dua buah gelas di tangannya. Wise Crow memberikan sebuah senyuman, gadis itu menatapnya tanpa ekspresi sebelum kembali membuang muka. Dia tampak cukup kesal.
“Oh, ayolah, Pristy…” Wise Crow berhenti tepat di samping gadis itu. “Kau tahu kau bisa menyiksaku dengan sikap seperti itu.”
Gadis bernama Pristy itu tidak menjawab, kesal dapat terlihat di sela-sela wajah cantiknya. Herannya, gadis itu malah terlihat anggun saat kesal. Bibir tipisnya sedikit mencibir, menunjukkan bahwa dia benar-benar kesal.
“Lagi-lagi kau yang bermain,” gadis itu mengeluh. Sesekali angin malam meniup lembut rambut hitamnya, membuat ia tampak semakin cantik. Sekali lagi Wise harus mengakui bahwa tidak seorangpun akan mengira gadis yang bernama Pristya ini adalah seorang pembunuh handal yang menyandang codename Adorable Starfruit.
“Jadi karena itu kau akan menolak segelas wine yang kubawa?” nada suara Wise muda terdengar lembut dan tenang. Gadis itu masih tetap diam.
“Bahkan jika yang kutuangkan ini adalah wine paling berharga yang pernah ada?” tanya Wise muda sekali lagi.
Adorable Starfruit mengalihkan pandangannya ke gelas berisi wine yang disodorkan oleh Wise Crow. Untuk beberapa saat dia mencoba menangkap apa yang membuat Wise Crow menyebut wine itu sebagai wine paling berharga.
“Dan apa yang membuatnya jadi sangat berharga?” akhirnya gadis cantik itu memilih untuk bertanya langsung.
“Wine ini baru berumur tiga tahun, disimpan di sebuah ruang bawah tanah di gudang anggur milik keluarga Landeron, langsung disuling setelah dipetik dari kebun anggur milik keluarga Landeron, tepat di tepi sungai Gironde, Bordeaux, France. Buah anggur itu dipetik sendiri oleh seorang pria dan seorang gadis, beberapa jam sebelum sang gadis menerima cinta sang pria.”
Semu merah terlihat di wajah Pristy saat mendengar penjelasan dari Wise Crow. Ingatannya sejenak terlempar ke tiga tahun lalu, dimana dia dan Wise Crow menjalankan case di Bordeaux, France. Saat itu Wise menyatakan perasaannya, dan untuk menjaga gengsi, Pristy mengajukan sebuah syarat, dia akan menerima cinta Wise hanya jika Wise berhasil memetik dengan tangannya sendiri tiga ribu tujuh ratus tiga puluh tiga buah anggur dalam sehari. Pristy sudah siap untuk menerima jika Wise gagal -dia sendiri tidak berpikir Wise sanggup melakukan itu- namun yang terjadi justru sebaliknya, Wise berhasil memetik buah anggur dengan jumlah yang tepat. Bahkan Pristy sempat mengambil beberapa buah secara acak untuk diuji sidik jari yang ada pada anggur tersebut. Hal itu sempat membuat Pristy kesal meski dari awal dia memang berniat menerima Wise Crow menjadi kekasihnya.
“Kau menjadikannya wine?” gadis itu kini tersenyum, seolah kesalnya hilang begitu saja. Dia mengambil gelas yang disodorkan oleh Wise Crow. “Kau ini…” ujar Pristy, senyuman itu adalah pertanda bahwa Wise Crow berhasil meluluhkannya, entah untuk yang ke berapa kali.
“Akan sedikit masam kurasa, usia wine itu belum cukup tua.” jawab Mr. Wise.
Kedua pasangan itu bersulang, menikmati wine di gelas masing-masing. Wise mengambil tempat di sebuah kursi tepat di samping Pristy.
“Maaf kalau aku membuatmu kesal.” ujar Wise Crow lembut.
“Kau selalu begitu… aku jadi merasa masa karantina yang kulalui mati-matian jadi tidak berguna. Kapan kau akan membiarkanku menunjukkan kemampuanku yang sebenarnya?”
“Menjaga keselamatan orang yang aku cintai adalah prioritas utamaku. Aku tidak ingin mengambil resiko dengan berdiskusi sehingga rencana yang kubuat bisa bocor. Jika kau harus mengalami hal seperti itu lagi… aku bisa saja mengakhiri hidupku.”
“Kau tidak boleh begitu…” Pristy mengusap pipi Wise Crow dengan lembut, memberinya sebuah tatapan yang sangat dalam. “bahaya adalah pekerjaan kami, agen tipe A. Jadi berjanjilah kau akan tetap hidup apapun yang terjadi padaku, tetaplah hidup hingga kau berhasil meraih impianmu.”
“Akan lebih indah jika impian itu terwujud saat kau di sisiku.” jawab Mr. Wise lembut.
Pristy tidak menjawab kalimat Wise Crow. Gadis cantik itu menatap dalam-dalam ke mata pria yang telah merebut hatinya. Sosok pria yang ia kagumi karena kecerdasan, ketenangan, keromantisan dan kedewasaannya. Wise membalas tatapan mata Pristy dengan tatapan yang hampir sama dalamnya. Keadaan hening sesaat, sebelum mata mereka terpejam, sesaat sebelum bibir mereka beradu lembut.
Tidak ada kata yang keluar, tidak ada musik yang terdengar, namun dua insan yang dimabuk asmara itu menggerakkan tubuh mereka sedikit, meliuk serasi mengikuti arah gerakan bibir satu sama lain. Mereka berciuman dengan lembut dan dalam, tanpa suara lain selain dengusan nafas yang terdengar lirih. Pristy mengalungkan tangannya ke leher Wise Crow, di lain pihak, Wise melupakan segelas wine di hadapannya dan memberikan satu ciuman terbaik yang pernah dialaminya. Tidak sepatah katapun keluar dari bibir mereka, tanpa aba-aba mereka bergerak serasi, seolah ada sebuah kalimat yang tersampaikan kala lidah keduanya bertemu, saling menggoda di dalam rongga-rongga mulut kedua insan itu.
“Ahhh…” ciuman itu terlepas dan berganti dengan lenguhan kala Pristy merasakan sebuah remasan pada buah dadanya. Tubuhnya merespon dengan baik, menghantarkan kenikmatan yang menjalar cepat di seluruh tubuhnya.
Mengetahui ciuman mereka terlepas, Wise memindahkan bibirnya ke leher putih sang gadis, membuat gadis cantik itu bergidik kala merasakan hembusan hangat nafas Wise pada kulit lehernya. Sebuah desahan keluar dari bibir cerah Pristy kala Wise mulai mencium dan menghisap leher gadis itu.
Desahan itu berubah menjadi erangan saat jari jemari Wise Crow berhasil menyusup ke balik kaos longgar Pristy. Gadis itu menahan tangan Wise Crow tepat sebelum jari Wise Crow menyentuh salah satu titik sensitifnya ; puting payudaranya.
“Aku tidak akan membiarkanmu membuatku kedinginan,” Pristy mengerling sambil beranjak dari kursinya. Gadis cantik itu berjalan menggoda meninggalkan beranda.
Paham bahwa gadis itu tengah mengundangnya, Wise Crow mengikuti sang gadis.
Lantunan musik klasik menjadi saksi saat kedua insan yang dimabuk asmara itu bergumul di atas ranjang, Sesekali Pristy mengerang kala jari-jemari kekasihnya bermain di bibir-bibir liang kewanitaannya. Tak ada lagi kain yang menempel di tubuh indah gadis itu, begitu juga halnya dengan keadaan Wise Crow saat ini.
Wise Crow menghentikan ciumannya saat dia merasa jarinya sudah cukup basah oleh cairan pekat yang keluar dari organ intim Pristy, dengan lembut dia membelai dan membuka kedua paha mulus gadis cantik itu. Wise Crow memindahkan tubuhnya setengah menindih Pristy, gadis cantik itu memberikan pandangan sayu yang menggemaskan kala Wise Crow mengarahkan penisnya, bersiap untuk memasuki tubuh indah sang gadis.
Nyaris bersamaan, kedua insan itu mendesah. Mata keduanya terpejam, Wise Crow mendorong kejantanannya perlahan demi perlahan, seolah takut gerakannya akan menyakiti Pristy. Tubuh telanjang Pristy sedikit melengkung saat merasakan sebuah benda yang panjang dan keras menggesek dinding kewanitaannya, memberikan rangsangan akibat gesekan, semakin dalam Wise Crow masuk, semakin kuat sinyal yang dikirimkan oleh dinding-dinding kewanitaan gadis itu. Membuat bibir gadis itu mengerang tertahan atas kenikmatan yang sukar dilukiskan.
“Ahh…”
Sebuah erangan terlepas dari bibir cerah Pristy, Wise Crow memberi gadis itu kesempatan untuk beradaptasi dengan penisnya yang telah masuk seluruhnya. Saat Pristy membuka mata, dia menemukan Wise Crow yang memandangnya, seolah meminta ijin untuk melanjutkan apa yang tengah dilakukannya. Pristy mengangguk, entah kenapa gadis itu melakukannya. Wise Crow menangkap apa maksud kekasihnya, dan mulai menggerakkan pinggulnya.
“Ohh… hh…”
Gadis itu kembali mengerang nikmat. Wise Crow menggerakkan pinggulnya dengan lembut, seolah sedang mengayuh sesuatu, sesekali pria itu mengerang, menerjemahkan kenikmatan yang ia rasakan kala batang kejantanannya melesak masuk. Wise Crow menatap gadis yang sedang dipacunya. Wajah putih Pristy bersemu merah, matanya terpejam dan bibirnya terbuka sedikit.
Wise terus mengayunkan pinggulnya dalam tempo yang teratur, membuat buah dada Pristy terayun, Pristy tetap memejamkan mata, membiarkan Wise Crow menggempur kewanitaannya.
Hngh…” Satu lenguhan keras keluar dari bibir Pristy. Wise tersenyum, dia tahu arti dari lenguhan tersebut. Pristy selalu melepaskan satu lenguhan sebelum bergerak mengejar orgasmenya.
Pengamatan Wise tepat, karena beberapa detik kemudian, dia bisa merasakan gadis cantik itu mulai ikut menggerakkan pinggulnya. Membuat tempo persetubuhan mereka semakin meningkat.
Desahan dan erangan Pristy terdengar kencang kala mereka berdua saling mengayuh, Pristy melingkarkan tangannya ke leher Wise Crow, membuat goyangan Wise Crow semakin bertenaga,buah dada indah gadis itu berhimpitan rapat dengan dada bidang Wise Crow.
“Aahh… lebih kencang… teruss…” ujar gadis cantik itu di sela-sela desahannya.
Wise Crow tahu Pristy hampir mencapai orgasmenya, dan sebagai kekasih yang baik, dia tidak akan membiarkan gadis itu menunggu. Wise Crow mempercepat hujaman penisnya, membuat batang kejantanannya masuk lebih dalam ke tubuh kekasihnya. Erangan Pristy semakin kencang, begitu juga dengan gerakan pinggul gadis itu. Keringat membasahi tubuh keduanya, Pristy mendesah panjang, sebuah desahan yang keras, mungkin lebih cocok di sebut jeritan yang tertahan. Gadis itu memeluk erat tubuh Wise Crow, pinggulnya terangkat, seolah menginginkan penis sang pejantan lebih dalam lagi. Tubuh gadis cantik itu sedikit melengkung sebelum bergetar hebat.
“Ohhh!!...”
Ayunan Wise Crow terhenti untuk sesaat, pria itu memberi kesempatan pada kekasihnya untuk mereguk habis orgasmenya. Wise Crow dapat merasakan bagaimana kepala penisnya seolah disemprot oleh cairan-cairan hangat yang menyembur dari dalam kewanitaan Pristy.
Setelah gadis itu dapat mengatur nafas, Wise Crow mencabut batang kejantanannya dan membalik tubuh Pristy. Tubuh gadis itu cukup mudah dibalik karena dia sudah sangat lemas akibat orgasme yang baru saja melandanya. Tanpa menunggu lama, Wise menindih tubuh tengkurap Pristy dan dengan bantuan satu tangannya, kejantanannya kembali membelah bibir kewanitaan Pristy.
“Ahh..” Pristy mendesah lemah saat penis keras Wise Crow kembali memasukinya. Wise tidak menunggu lama dan kembali memacu tubuh indah sang gadis, pantat indah gadis itu terasa empuk dan kenyal saat perut bagian bawah Wise Crow menumbuknya.
Tubuh telanjang Pristy membujur tengkurap, kedua kaki gadis itu berjajar rapat, terkunci oleh kedua kaki Wise Crow yang kini seolah mengangkangi pantat bulatnya, dengan kaki yang lurus seperti ini, vagina gadis itu jadi semakin sempit. Wise Crow menggempur pantat indah sang gadis dengan bertenaga, membuat penisnya keluar-masuk dengan kencang.
Benar saja, tidak lama kemudian Pristy menolehkan kepalanya ke arah Wise Crow yang tengah menyetubuhinya. Mencoba melihat apa yang dilakukan oleh Wise. Wise sendiri paham apa yang diinginkan oleh gadis cantik itu, dia tahu betul ekspresi yang muncul di wajah Pristy adalah ekspresi ketika gadis itu dekat dengan orgasmenya.
“Tahan sebentar, sayang…” gumam Wise Crow sambil mempercepat pompaannya. Desahan kembali terdengar dari keduanya.
“Ohh… gilaaa….” Pristy menjerit saat merasakan orgasmenya meledak, tubuhnya terkunci oleh tubuh Wise Crow sehingga hanya bisa bergetar saat orgasme melandanya. Wise Crow belum menghentikan genjotannya, pria itu sudah sangat dekat dengan ejakulasinya.
“Ahh!!” Pristy memekik kaget saat dengan tiba-tiba Wise menghujamkan penisnya dalam-dalam, semburan sperma hangat kembali menghantarkan orgasme pada tubuh gadis itu. Wise menggeram beberapa saat, menumpahkan seluruh benihnya ke rahim sang gadis. Beberapa detik… sebelum keduanya ambruk dalam kenikmatan yang melelahkan.

***

Sinar mentari masih merangkak masuk kala Pristy membuka mata indahnya, dengan malas gadis cantik itu bangkit, meregangkan otot-otot tangan dan kakinya yang masih sedikit pegal atas aksi ‘pendakian’ semalam yang melelahkan. Gadis itu menyapu seisi ruangan kamar mencoba mencari sosok yang jadi pujaan hatinya. Keberadaan Wise Crow tidak terlihat di ruangan tersebut.
Mengetahui ketidakberadaan kekasihnya tidak membuat Pristy panik. Bagaimanapun, mereka bukan anak ABG yang langsung mendramatisir suasana dengan pikiran-pikiran negatif. Gadis cantik itu menguap dan meregangkan otot tangannya sekali lagi, saat itulah pintu kamar terbuka.
“Selamat pagi, cantik,” sapa Wise Crow dengan senyum di wajahnya. Pria itu sudah tampak rapi dan segar. Wise Crow masuk dan mendorong pintu hingga tertutup dengan kakinya. Tentu saja sukar menggunakan tangan jika kau sedang membawa nampan berisi makanan dengan kedua tangan.
Pristy tersenyum manja kala kekasihnya meletakkan nampan ke pangkuan sang gadis. Tampak segelas susu hangat dan sepotong sandwich di atas nampan berbahan logam.
“Aku sempat bertengkar dengan pegawai dapur restoran untuk menyiapkan sandwich kesukaanmu ini, mereka tidak mengijinkan aku membuatnya sendiri,” ujar Wise sambil mencium kening kekasihnya.
Dering ponsel seakan menjadi satu-satunya hal yang tidak tepat di pagi yang penuh keromantisan ini, dengan malas Wise melangkah ke arah meja tempat ponselnya berada. Wise Crow melihat sekilas sebelum memutuskan untuk menerima panggilan tersebut.
Adorable Starfruit – Pristy baru akan mengunyah sandwichnya saat ia melihat perubahan di ekspresi wajah kekasihnya. Untuk sesaat raut wajah Wise Crow terlihat cukup tegang. Pristy menahan diri untuk tidak bertanya hingga Wise menutup telepon.
“Ada apa?” tanya Pristy khawatir. “Wajahmu terlihat cukup aneh barusan,
Direct Assemble…” jawab Wise Crow. “aku harus terbang ke Jerman.
“Oh..” hanya itu yang keluar dari bibir cerah Pristy. Direct Assemble adalah instruksi langsung agar berkumpul di tempat yang ditentukan. Biasanya itu dilakukan jika ada Case yang cukup besar dan kritis, sehingga memerlukan perlakuan khusus. Agen-agen yang memiliki kompetensi untuk melaksanakan Case akan dikumpulkan untuk menentukan siapa yang akan berperan pada Case tersebut. Sejak menyandang codename Wise Crow, baru kali ini Wise Crow menerima panggilan untuk Direct Assemble.
Pristy baru saja hendak mengucapkan agar Wise berhati-hati, kata-katanya tertahan oleh dering ponselnya. Pristy menatap nama yang tertulis di layar ponselnya lalu menatap ke arah Wise Crow sambil tersenyum.
“Sepertinya bukan kau yang pergi, tapi KITA.” ujar Pristy riang.

***

Sebuah kafe kecil di Jl. Schulstrabe, Sprakensehl-Jerman

Seorang pria dan seorang gadis turun dari sebuah mini bus, dua orang itu mengenakan kacamata hitam di cuaca yang cukup dingin di Bulan November. Mereka adalah Wise Crow dan Adorable Starfruit. Pristy bergelayut manja ke lengan Wise sebelum mereka memasuki kafe kecil di pinggiran kota Sprankensehl, Jerman. Sekilas Wise Crow membaca nama yang tertulis pada papan tua di atas pintu masuk kafe tersebut. ‘Green File Café’.
Tidak butuh waktu lama bagi pasangan Wise Crow - Adorable Starfruit untuk menemukan wajah yang dikenal oleh mereka di kafe tersebut. Airul Hutomo, sang Silent Rose terlihat duduk sambil menikmati segelas cappucino hangat kesukaannya. Wise Crow juga dapat mengenali beberapa wajah lain disana. Seorang pria kurus keturunan Jepang yang dikenalnya sebagai Quick Mushroom, seorang negro yang terlihat cukup menyeramkan –yang ini adalah teman seangkatan Wise Crow—Great Owl.
Ekspresi wajah Wise Crow sedikit berubah kala ia mengenali sosok yang duduk di sudut ruangan kafe. Pria itu menatap balik Wise Crow sambil tersenyum. Wise Crow mencoba untuk tidak menganggap pria itu ada. Pria itu adalah sosok terakhir yang ingin ditemui oleh Wise Crow ; Noisy Cannary.
“Apa aku terlambat?” tanya Wise Crow pada Rose. Mereka berdua memilih duduk semeja dengan Airul Hutomo, Silent Rose generasi pertama.
“Tidak, tapi kau yang terakhir.” jawab Rose sambil tersenyum. “Katakan, Wise… sudah berapa lama kita tidak mengunjungi kafe ini?”
“Yeah… ini adalah tempat favorit kita di musim dingin. Karena hanya disini agen tipe A dan B yang masih dalam masa karantina bisa berkumpul. Itupun hanya di musim dingin. Aku masih ingat saat kita duduk di sudut ruangan dan mengomentari Agen-agen senior yang keluar-masuk tempat ini.
“Kudengar bulan depan kafe ini akan ditutup.” ucap Silent Rose lirih. “Sayang sekali, cappucino disini adalah yang terbaik.”
“Akan kubuatkan satu untukmu nanti… mungkin saat aku punya kafe sendiri. Ngomong-ngomong, apa yang bangsat satu itu lakukan disini?” Wise mendengus melihat ke arah Noisy Cannary.
“Entahlah, mungkin kali ini Association butuh lebih banyak Agen yang berasal dari Asia.
“Akan lebih baik jika Cautious Hawk yang dipanggil.”
“Oh, aku belum memberitahumu? Cautious Hawk sudah menyatakan pensiun. Dia sudah tidak menyandang codename itu lagi.”
“Apa? Jadi siapa pair-up mu sekarang? Jangan bilang kau bersama si bangsat itu.”
“Aku belum cukup gila untuk menjadikan si berisik itu pair-up ku.” Rose berkata tegas. “Aku belum menemukan pair-up. Tidak banyak Agen tipe B yang mau diatur oleh agen tipe A.”
Pembicaraan dua sahabat itu terhenti saat seseorang keluar dari pintu dapur kafe tersebut. Orang itu mengenakan jubah panjang dengan tudung yang menutupi wajahnya. Pria itu membawa sebuah radio tua, meletakkannya di atas meja tengah ruangan dan pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun.
“Harus ada yang menyalakan radio itu.” gumam Silent Rose.
Great Owl beranjak dari kursinya, pria berkulit hitam berbadan sedikit bungkuk itu berjalan mendekati radio dan memutar kaset dalam radio itu tanpa banyak bicara.
“Sepertinya dia cocok jadi pair-up mu, Rose.” bisik Adorable Starfruit.
“Terlalu tinggi, terlalu kuat dan terlalu mencolok, bisa-bisa aku membuatnya terbunuh lebih cepat dari target.” jawab Silent Rose. “Kau lihat kerutan di wajahnya? Sepertinya dia lebih suka membuat strategi yang memakan waktu sangat lama.”
“Itu memang keahliannya.” timpal Wise Crow. Jelas Wise Crow lebih mengenal kebiasaan Great Owl, karena mereka menghabiskan waktu bersama-sama di karantina. “Dia sangat cocok menjadi pair-up Lazy Frangipani.”
“Kombinasi duo otot.” kelakar Rose.
Perhatian mereka teralih saat sebuah suara terdengar dari radio. Suara itu bicara dalam bahasa Inggris, dengan aksen British yang sangat kental. Mereka mengenali suara itu sebagai suara Director no.7. Salah satu dari Tujuh Director yang paling sering berinteraksi dengan para Agen Association. Beberapa menganggap Director no.7 adalah juru bicara para Director.
“Salam semuanya,” suara di radio itu membuka pembicaraan. “Hari ini Direct Assemble diadakan untuk mengatasi Case yang terjadi di negara tempat Quick Mushroom dilahirkan, Jepang. Aku mengumpulkan kalian semua untuk menyampaikan Case yang sudah ditetapkan dan disetujui oleh tujuh director. Kalian akan menghabisi klan yakuza terbesar kedua yang menguasai daratan Jepang.
Mendengar kata ‘yakuza’ membuat Adorable Starfruit berjengit. Pengalaman buruk yang menghantuinya sekilas muncul di benak gadis cantik itu. Wise Crow yang membaca keresahan pada diri kekasihnya merangkul pundak gadis itu untuk menenangkannya.
“Mereka telah menjadi pemasok narkoba terbesar di Asia, bukan hanya itu, mereka juga menjadi pengendali sindikat prostitusi terbesar di Asia. Hal ini dapat memancing perang antar klan Yakuza yang juga dapat berdampak besar pada pasar dunia. Seperti yang telah kalian dapat dalam pelajaran ‘Pengaruh sindikat internasional dan sistem kerjanya’ Yakuza tidak hanya bergerak di zona hitam, namun juga pada bisnis-bisnis legal yang menguntungkan. Perang antar Yakuza bukanlah solusi yang baik untuk dunia.”
Tidak ada yang berkomentar atas apa yang disampaikan melalui kaset rekaman tersebut. Mereka semua paham bahwa menjaga keseimbangan tanpa menimbulkan riak besar yang dapat mengganggu stabilitas adalah tujuan utama berdirinya Association.
“Oleh karena itu aku telah membagi Case ini menjadi tiga bagian. Masing-masing pair-up akan menerima Casenya sendiri-sendiri. Kalianlah kandidat terbaik untuk melaksanakan Case-case tersebut.” Rekaman itu berlanjut kembali. “Detail-detail mengenai Case dan target akan dibagikan secara terpisah melalui agen tipe B masing-masing.”
Wise Crow berjengit saat tiba-tiba Adorable Starfruit mencubit pahanya. “Kali ini kau harus membiarkanku bermain lebih bebas.” bisiknya penuh ancaman.
“Dari tiga bagian Case yang telah disiapkan, ada satu case yang merupakan case utama. Tentu saja memiliki tingkat kesulitan paling tinggi. Untuk itulah kami memanggil agen tipe A terbaik yang kami miliki, Silent Rose, dan memasangkannya dengan agen tipe B terbaik yang kami miliki… Wise Crow.”
Kata-kata terakhir membuat mata Wise Crow terbelalak. Dia terkejut mengetahui bahwa dia akan menjadi pair-up Silent Rose, bukan Adorable Starfruit. Matanya beradu dengan mata Adorable Starfruit dan menangkap kekhawatiran di mata gadis cantik itu.
“Sebagai pair-up kedua adalah pasangan Quick Mushroom dan Great Owl, dan Adorable Starfruit dengan Noisy Cannary.”
Lutut Wise Crow serasa seperti dilolosi kala dia mendengar bagaimana pembagian pair-up dalam Case kali ini. Gadis yang dicintainya akan berpasangan dengan Noisy Cannary, orang yang paling dibencinya, orang yang menjadi sebab utama Adorable Starfruit harus menyerahkan tubuh indahnya pada segerombolan Yakuza. Wise Crow benar-benar tidak percaya harus mempercayakan Adorable Starfruit pada Noisy Cannary. Dan mereka akan menghadapi yakuza.
“Aku akan mengajukan penggantian pair-up,” gumam Wise Crow, mencoba menenangkan Adorable Starfruit.
“Kau tau kau tidak akan bisa melakukan itu, sayang.” ucap Pristy sambil tersenyum. Gadis itu tampak lebih tenang dari Wise Crow. “Keputusan sudah ditetapkan. Lagipula kau tidak perlu khawatir, aku akan baik-baik saja.” Kali ini giliran sang gadis menenangkan Wise Crow.
“Jangan membuang waktu percuma, Wise. Kau tau bagaimana sistem kerja Association. Pair-up sudah diseleksi dengan kemungkinan yang terbaik.” Silent Rose menimpali.
“Tapi…”
“Daripada kau berpikir untuk melakukan sesuatu yang nyaris mustahil, bukankah lebih baik kalau kita bekerja sama?” Airul HutomoSilent Rose, memotong ucapan Wise Crow. “Gabungan antara pengetahuanmu dan kejeniusanku, kita dapat menyelesaikan Case kita secepat mungkin lalu pergi untuk memback-up gadismu.”
Wise Crow terdiam, memang benar apa yang dikatakan sahabatnya, ketetapan Association tidak menerima negoisasi. Satu-satunya hal terbaik yang bisa ia lakukan sekarang adalah tetap fokus untuk menyelesaikan Case secepat mungkin, sehingga ia dapat membantu kekasihnya.
“Ya…” jawab Wise Crow lirih. “Mungkin itu yang terbaik. Rose – Crow, gabungan dua agen terbaik yang pernah ada. Mari kita getarkan dunia ini secepat mungkin, sahabat.”
Wise Crow menggenggam jari-jemari lentik milik Pristy, sebuah genggaman erat, genggaman yang penuh dengan kerisauan dan kekhawatiran.
“Let the rose bleeding…” ucap Silent Rose sambil tersenyum.

***

Salju sudah cukup tebal di awal bulan Desember, sepertinya puncak musim dingin akan datang lebih awal tahun ini. Di kamar sebuah hotel, Airul Hutomo—Silent Rose, memandangi butir-butir salju yang turun perlahan. Sesekali ia melirik ke arloji mewahnya, seolah panjang jarum dalam arloji tersebut dapat berubah sekali waktu.
Perhatian teralih saat mendengar pintu kamar dibuka, Wise Crow tampak memasuki ruangan, meletakkan mantel tebal yang dikenakannya dan berjalan mendekati Silent Rose.
“Bagaimana?” tanya Silent Rose pada sahabatnya.
“Kita akan menghancurkan mereka dari dalam, dan mencuri beberapa informasi penting. Ada beberapa hal yang aku curigai.” jawab Wise Crow seraya membakar sebatang rokok.
“Yakin kau akan melakukan itu? Maksudku, aku akan menutup mata tentang apa yang kau lakukan, tapi aku tidak akan bisa menyelamatkanmu jika yang kau lakukan melawan kehendak Association.” Rose berkata sambil mengambil segelas air putih.
“Aku tahu apa yang aku lakukan, Rose. Jangan kuatir, aku akan menjadikan ini masalahku sendiri.”
Rose tersenyum mendengar ucapan sahabatnya. Dia tidak terkejut jika Wise Crow kini memanfaatkan Case untuk kepentingannya sendiri. Jika ada kesempatan, mungkin Rose juga akan melakukan hal yang sama. Semakin banyak informasi adalah keuntungan pribadi bagi seorang agen tipe B. Dalam hal ini, Wise Crow sedang mengumpulkan data tentang hubungan Association dengan Yakuza. Terutama dengan Klan Tadama, klan Yakuza terbesar di Jepang. Selama ini, Association tidak pernah sekalipun menyenggol klan tersebut, dan bagi Wise Crow itu mencurigakan.
“Apa yang kau lakukan jika ternyata Association bekerja sama di bidang kejahatan dengan klan Yamaguchi?” tanya Silent Rose kemudian.
Wise Crow tidak menjawab, akhir-akhir ini pria itu jadi sedikit sukar ditebak. Dia hanya menatap sahabatnya dengan tatapan yang seolah berkata ‘menurutmu apa?’
“Kau tidak harus menjawab.” Silent Rose memilih untuk tidak mencari tahu tentang apa yang akan dilakukan oleh sahabatnya. Semakin sedikit yang ia ketahui akan semakin baik baginya, setidaknya dia tidak ingin terlibat terlalu dalam dengan apa yang berpotensi mengandung unsur pemberontakan.
Wise Crow tersenyum, senyum yang membenarkan apa yang dilakukan oleh sahabatnya. “Lebih baik kita mulai mematangkan strategi, aku ingin menyelesaikan Case ini secepat mungkin.”
“Akan lebih mudah jika kau bekerja sama dengan Ayah atau Kakekku jelasnya, para Bleeding Rose sangat suka mengadu kemampuan tempur mereka. Denganku, kau harus melakukannya lebih terselubung.” Silent Rose merujuk pada generasi sebelumnya yang lebih suka melakukan kontak fisik dengan para targetnya.
“Oh tidak, Rose…” Wise Crow menyahut. “Memang bisa lebih cepat dengan kontak fisik secara langsung, tapi aku tidak berpikir kontak fisik adalah cara yang terbaik untuk menghadapi segerombolan Yakuza yang terorganisir rapi.”
“Kau sudah tahu cara untuk masuk ke dalam jaringan mereka?”
“Mereka meningkatkan kewaspadaan, tentu saja. Kita tidak bisa dengan mudah memesan sepaket narkoba lalu menghabisi mereka. Cara itu tidak akan berhasil.”
“Masuk ke dalam jaringan mereka juga tidak mudah, itu akan makan waktu. Bagaimana dengan strategi sniper? Kau menemukan spot yang tepat?”
“Ada beberapa spot. Tapi mencari informasi mengenai agenda oyabun tidak mudah. Para oyabun jarang sekali meninggalkan benteng mereka.”
“Racun? Apa ada cara untuk menggunakan racun?” Rose membuka kopernya, mengambil beberapa tabung kecil berisi racun racikannya sendiri. Serum-serum yang memiliki efek-efek berbeda.
“Memasukkan racun ke dalam benteng mereka itu mudah, namun jika sembarangan melakukannya, kau bisa menghabisi banyak orang. Tidak hanya target.”
“Itu bisa mencederai ratingku,” ujar Rose sambil meletakkan kembali tabung berisi serum pada tempatnya. Selama ini Silent Rose memang terkenal tidak membunuh orang lain selain target. Suatu prestasi yang belum bisa disamai oleh agen tipe A manapun, bahkan tidak oleh Ayah dan Kakeknya.
“Aku tahu itu, Rose. Sampai detik ini aku masih berpikir racun adalah metode yang terbaik, dan aku sedang mengumpulkan informasi agar kau bisa memasukkan racun tersebut dengan aman tanpa harus mencederai predikat baikmu.”
“Kau punya konsep? Mungkin aku bisa memberi sedikit masukan.”
Wise Crow tersenyum, dia menyingkirkan beberapa barang di atas meja, lalu mengeluarkan beberapa lembar kertas berukuran besar dari dalam tas punggungnya. Pria itu membuka lembaran kertas di atas meja, dan meminta Silent Rose mendekat dengan isyarat matanya. Rose tahu bahwa Wise Crow sudah mempersiapkan beberapa konsep, dan kini membutuhkan saran untuk kesempurnaan Case mereka kali ini.
Di atas meja di hadapan mereka terpampang sebuah gambar denah dari rumah dimana oyabun dari Klan Yamaguchi tinggal. Tempat itu juga merupakan markas besar Klan Yamaguchi yang disebut sebagai benteng. Dikelilingi dengan dinding tinggi terbuat dari beton sebagai pagar pelindung, ditambah dengan kawat-kawat besi yang dialiri listrik di atas dinding beton tersebut. Hanya ada satu akses keluar-masuk dalam rumah tersebut, yaitu melalui gerbang besar berbahan logam dengan ukiran huruf kanji ‘YA’ yang menjadi lambang Klan Yamaguchi. Ada kemungkinan gerbang itu juga dialiri listrik bertegangan tinggi.
Di dalam areal yang dilindungi pagar tersebut terdapat empat bangunan, satu diantaranya tampak lebih besar dari yang lainnya. Bangunan tersebut disinyalir sebagai rumah utama, tempat oyabun mereka Seikahara Yamaguchi tidur. Sedang tiga bangunan lain di sekitarnya adalah gudang bahan makanan, dojo untuk berlatih dan pemandian air hangat. Terbentang mengitari rumah utama ada sebuah taman buatan dilengkapi dengan sungai buatan yang bermuara ke sungai besar di belakang benteng tersebut.
“Aku akan mulai dengan pemikiran dasar, dalam strategi dasar pastinya kita akan abaikan titik ini.” ujar Wise Crow sambil mencoret pintu masuk dengan spidol merah. “Kita semua tahu tidak ada gunanya memperhitungkan gerbang utama sebagai akses masuk.”
Silent Rose memperhatikan gambar itu dengan seksama, mencoba memvisualisasikan keadaan bangunan tersebut dalam pikirannya. Di dalam pikirannya Silent Rose mencoba menjelajahi tiap sudut isi benteng, seolah dia sudah berada di dalamnya.
Oyabun akan ada di bangunan utama?” tanya Silent Rose.
“Belum pasti, dia bisa dimana saja…” Wise menjawab pertanyaan Rose dengan berbagai kemungkinan sebagai dasarnya. “Namun jika dia harus menemui tamu penting, sudah pasti beliau akan ada di bangunan utama.”
“Apa ada tamu penting yang akan ditemui olehnya dalam waktu dekat ini?”
“Aku mendapatkan beberapa rumor.” Wise Crow membuka buku catatannya. “Ada rumor yang mengatakan Yamaguchi akan menghadiri pemakaman Daisuke Hino, oyabun dari Klan Hino, Klan kecil di Osaka. Mereka mencoba untuk melakukan persekutuan.”
“Jadi Yamaguchi ingin menjalin kekuatan…” Rose mengambil kesimpulan.
“Bukan hanya kekuatan kurasa, namun juga wilayah. Sampai beberapa bulan lalu, Klan Hino masih berada di bawah Klan Tadama, namun mereka melepaskan diri dan sekarang sedang mencoba beralih ke Yamaguchi.”
“Politis…” Silent Rose mencibir. “Selalu ada dimana-mana… politis.”
“Beberapa manusia hidup dari itu Rose, kau tahu itu.”
“Dan beberapa manusia juga mati karena itu.”
Wise tahu betul bahwa keluarga Rose kurang menyukai permainan politis, itulah salah satu alasan mengapa mereka tidak ingin diberikan tempat di jajaran Director. Bagi mereka politis adalah sebuah permainan licik yang mempermainkan fakta dengan opini-opini yang cenderung menyesatkan. Semua hanya untuk kepentingan semata.
“Wise…” Rose kembali angkat bicara. “Menurutmu bagaimana cara termudah untuk mendapatkan telur segar?”
Wise Crow memandang sahabatnya dalam-dalam, dia tahu betul pertanyaan yang baru saja diajukan oleh Rose bukanlah pertanyaan yang benar-benar membutuhkan jawaban. Itu lebih bersifat petunjuk dibanding pertanyaan.
“Jadi itu pilihanmu…” ujar Wise Crow lirih. Mata keduanya beradu, seolah saling membaca apa yang ada di kepala masing-masing.

***

Beberapa hari kemudian.

Pagi itu salju turun menaungi daerah Sumoto di prefektur Hyogo, Jepang. Tempat dimana rumah besar yang menjadi pusat aktivitas Klan Yamaguchi berada. Bangunan itu tampak megah, bertengger di sebuah dataran yang lebih tinggi, sedikit jauh dari pusat keramaian kota. Sebuah sungai besar membentang di belakang bangunan, dan rimbunan pohon-pohon tinggi seakan menjadi pagar alami bangunan tersebut. Kendati salju turun, sinar matahari masih mampu memberi penerangan. Beberapa burung tampak lebih memilih untuk bersembunyi di sarang hangat mereka. Beberapa mamalia mungkin sudah memasuki proses hibernasi mereka. Dan diantara bulir-bulir salju lembut yang turun, tampak sebuah layang-layang berwarna kuning terbang menghias langit.
Hari itu penjagaan tampak lebih ekstra dari biasanya. Beberapa orang mengenakan setelan jas hitam tampak menenteng senjata api mereka terang-terangan, seolah memberi peringatan pada siapapun yang hendak mendekat. Bagaimana tidak, beberapa jam yang lalu mereka menerima surat kaleng berisi ancaman pada keselamatan Seikahara Yamaguchi, oyabun klan Yamaguchi. Dalam surat itu mereka menuntut agar Yamaguchi membatalkan agenda pertemuannya dengan oyabun Klan Hino; Daisuke Hino. Seikahara sendiri merasa itu adalah perbuatan klan lain yang tidak ingin Yamaguchi menjalin kekuatan dengan klan yang menguasai area prefektur Osaka. Yamaguchi memutuskan untuk menjawab tantangan tersebut, dia tidak akan merubah agendanya. Untuk itulah dia menempatkan anggota di beberapa titik sepanjang rute perjalanan yang akan ditempuhnya menuju Osaka nantinya. Yamaguchi sendiri berniat untuk membawa serta keluarga intinya, dua istrinya dan dua putri dan seorang putranya. Hal biasa yang dilakukan oleh oyabun yang ingin menjalin persaudaraan dengan klan lain.
DOR!!!
Perhatian sedikit terpecah akibat bunyi letupan senjata, seorang anggota klan Yamaguchi yang berjaga di pos belakang bangunan melepaskan satu tembakan.
“Ada apa?” tanya rekannya yang datang tergopoh-gopoh sambil menenteng senjatanya.
“Sepertinya aku melihat sesuatu bergerak di dalam air,” ujar penembak itu, menunjuk ke aliran sungai dalam yang ada di belakang benteng.
Rekannya menatap ke arah sungai, mencoba mencari gerakan yang dimaksud oleh sang penembak. Cukup lama dia memperhatikan, namun semuanya terlihat normal-normal saja.
“Aku tidak melihat apa-apa, mungkin itu binatang. Lebih baik simpan amunisi senjatamu dan jangan sembarangan menembak. Kau bisa menarik perhatian oyabun-sama dan kurasa kau masih ingin hidup kan?”
Pria yang tadi melepaskan tembakan mengangguk mengerti.
“Oyabun akan segera berangkat,” ujar rekan pria penembak itu.
Tiga mobil sedan keluar dari pekarangan markas besar Klan Yamaguchi, dua mobil sedan hitam mengapit sebuah mobil SUV berwarna silver. Dua pengendara motor mengikuti di belakang iring-iringan mobil tersebut.
“Bagaimana keadaanmu, Rose? Aku melihat mereka mulai bergerak,” Wise Crow berbicara melalui radio panggil. Tangannya memegang kemudi, dengan tenang Wise Crow melihat layar kecil di sampingnya, layar itu menampilkan iring-iringan mobil yang mulai meninggalkan kediaman Yamaguchi. Gambar itu diambil melalui kamera jarak jauh yang ditempelkan pada layang-layang, satu-satunya layang-layang yang ada di langit, jelas saja layang-layang di cuaca bersalju seperti ini bukanlah sesuatu yang wajar.
Copy…” Rose menjawab sambil menepis beberapa tanaman air yang menyangkut pada baju selamnya. “Aku tidak apa-apa, salah satu anggota klan Yamaguchi ada juga yang bermata cukup jeli. Untung dia tidak jago menembak.” Rose merujuk pada satu tembakan yang dilepaskan oleh salah satu anggota klan Yamaguchi.
“Kau menemukan apa yang kita cari?” tanya Wise kemudian.
“Yap! Sedikit sulit menemukannya, tapi aku mendapatkannya.”
“Berarti tidak rugi kau harus merelakan dirimu kedinginan di atas langit semalam,” komentar Wise Crow.
Rose menatap layang-layang yang terbang di atas langit, dari tempatnya berada sekarang layang-layang itu terlihat kecil sekali, meski tidak begitu sebenarnya. Beberapa jam yang lalu, Silent Rose menggantungkan diri pada layang-layang tersebut dan berputar terbang di atas benteng Yamaguchi beberapa kali guna mendapatkan gambaran jelas atas apa yang ada di dalam bangunan tersebut. Silent Rose menggunakan senjata dengan gelombang sonar frekuensi rendah untuk mendapat gambaran jelas tentang tiap lekuk topografi yang ada di areal markas besar Klan Yamaguchi tersebut. Hasil dari pengintaian tersebut menunjukkan adanya terowongan dari bangunan tersebut menuju ke tepi sungai, tempat Silent Rose sekarang berada. Itulah yang akan jadi akses masuk Silent Rose.
“Turunkan layang-layang itu, Wise.” Ujar Silent Rose. “Kau siap untuk beraksi?”
“Sesuai dugaan, mereka memilih untuk menyisir pantai, menghindari jalan utama Kobe-Awaji. Sekitar lima belas menit lagi mereka akan keluar dari kota Awaji, saat itulah aku akan beraksi.”
“Oke, tetap seperti rencana, aku akan mencoba masuk sekarang.”
Layang-layang itu terlihat merendah secara perlahan, membuatnya tampak semakin kecil, Rose mengerti bahwa Wise Crow telah menurunkan layang-layang itu, tanda bahwa pekerjaan mereka akan dimulai tanpa komunikasi. Seperti yang telah direncanakan sebelumnya. Airul Hutomo, sang Silent Rose menempelkan sebuah peledak listrik yang nyaris tak bersuara ke sebuah pintu besi berbentuk bundar, dengan perlahan dia membuka pintu tersebut dan memasuki terowongan rahasia tersebut.
Wise Crow mematikan rokoknya saat dia melihat iringan mobil Klan Yamaguchi, dengan tangkas dia menginjak pedal gas. Sebuah Land Rover berwarna hitam keluar dari jalan setapak di hutan, tepat berada di belakang dua pengendara motor yang mengawal iring-iringan mobil tersebut.
Salah satu anggota klan Yamaguchi yang berada dalam mobil di belakang sedan silver menyadari kehadiran land rover yang mencurigakan. Jelas saja, kebetulan macam apa yang membuat mobil itu seolah menunggu iring-iringan melewati jalan tersebut.
“Land rover hitam di belakangmu, periksa dia!” perintah salah satu pengawal ke anak buahnya yang mengendarai sepeda motor.
Dua pengendara motor itu melambat, membuat jarak dengan mobil penjaga di depannya, dengan tangkas Wise memperlambat laju land rovernya, Wise Crow tersenyum sambil menekan tombol klakson, seolah ia adalah pengendara biasa yang merasa lajunya diperlambat oleh dua pengendara motor di depannya.
Wise Crow memutar kemudinya ke samping, mencoba melewati pengendara motor tersebut, tapi jalurnya segera tertutup oleh gerakan sepeda motor yang kini jelas-jelas menghalanginya. Wise Crow berkali-kali membunyikan klakson, semua itu agar ia terlihat hanya sebagai pengendara biasa saja.
“Habisi dia dan kembali ke posisi kalian,” Suara Seikahara Yamaguchi terdengar dari radio panggil. Cukup membuat para anggotanya terkejut. Begitu pula dengan dua pengendara sepeda motor itu.
“Oyabun-sama… anda yakin kita harus menghabisi pengendara mobil itu?” tanya seorang kepala pengawal yang ada di mobil hitam terdepan.
“Kau dengar apa yang aku katakan, Jiro?” Perintah Seikahara dingin.
Kepala pengawal yang bernama Jiro itu menarik nafas panjang sebelum memberi instruksi. “Kalian dengar apa yang diperintahkan oleh oyabun-sama?” ujar Jiro pada kedua pengendara motor. Para pengendara motor menyanggupi perintah darinya.
Kedua pengendara motor itu mencabut sebuah senjata UZI-G550 buatan Rusia, dan tanpa ragu memindahkan isi senjata tersebut ke arah Land Rover di belakang mereka. Kaca depan Land Rover itu pecah dengan cepat, diikuti oleh decitan rem yang membuat Land Rover tersebut sedikit berputar. Land Rover itu berhenti, tidak bergerak. Kedua pengendara motor itu kembali melaju, menyusul iring-iringan di depannya.
Untuk sesaat kedua pengendara itu merasa tenang, mereka merasa telah berhasil menyingkirkan sebuah ancaman. Namun ada sesuatu yang masih terasa mengganjal di benak Jiro. Jiro sendiri pernah menghadapi beberapa ancaman, dan seharusnya, jika seseorang berani memberikan ancaman langsung pada oyabun, seharusnya dia jauh lebih cerdik dari apa yang mereka lakukan sekarang. Menyerang iring-iringan dengan sebuah mobil memang hal klise yang cukup efektif. Namun jika memang mobil Land Rover yang tadi mengikutinya adalah sang pengancam, bukankah seharusnya mobil itu segera menyerang begitu mendapat tempat di belakang mereka?! Nyatanya, mobil tersebut malah dengan tenang mengikuti iring-iringan, layaknya seorang penonton yang menunggu dimulainya sebuah pertunjukan.
“Abe, Kashi, bagaimana posisi kalian?” dengan sedikit khawatir Jiro memantau anggotanya yang berjaga di beberapa titik di depan mereka.
“Disini aman, Jiro-sama.” suara Abe terdengar.
“Tidak ada yang janggal disini, Jiro-sama.” Kashi juga menyampaikan laporannya.
Jiro masih merasa ada yang janggal, seolah mereka telah masuk ke dalam sebuah perangkap yang besar.
“Oyabun-sama…” Jiro memanggil Seikahara. “Saya akan melaju lebih cepat, mencoba mengamankan jalan yang ada di depan.” ujar Jiro kemudian.
“Lakukanlah.” jawab Seikahara dingin.
Jiro memberi perintah pada anggota yang memegang kemudi untuk memperbesar jarak dengan SUV silver yang mereka kawal. Mobil sedan hitam itu menaikkan kecepatannya, mencoba melaju mengamankan jalan di depan mereka. Sedan yang ditumpangi Jiro sudah berada dalam jarak yang cukup jauh ketika sebuah land rover tampak kembali di belakang dua pengendara motor yang mengawal iring-iringan.
“Apa yang?!!” salah satu pengendara motor itu terkejut menemukan sebuah land rover dengan kaca depan yang pecah melaju cepat ke arah mereka. Terlalu cepat hingga mereka tidak mampu menghindar.
“Waktunya bersenang-senang…” gumam Wise Crow sambil memasukkan persneling dan menginjak pedal gas, senyum tersungging di bibirnya saat ia berhasil membuat seorang pengendara motor terlempar ke laut di bawah jurang, tepat di tepi jalan yang mereka lalui saat ini.
Seorang pengendara motor yang lain lebih cekatan menghindari terjangan land rover yang dikemudikan Wise Crow. Dengan cepat motor itu berada disamping land rover, pria itu menarik senjatanya dan memberondongkan isinya ke samping mobil tersebut, membuat kaca samping land rover tersebut pecah.
Ekspresi pria itu berubah saat ia mengetahui tidak ada seorangpun yang duduk di kursi pengemudi. Belum habis rasa herannya, land rover itu telah menghantam motornya, membuatnya terlempar dari motornya.
“Tembak ban-nya!!” Jiro memberi perintah, jendela belakang sedan hitam yang paling belakang terbuka, dua orang bersenjata menembak membabi-buta, mereka lalu mencoba mengarahkan tembakannya ke ban land rover di belakangnya. Terlambat, land rover itu lebih dulu menabrak bagian belakang mobil mereka, membuat mobil tersebut terjun bebas ke arah laut.
Dengan tidak sabar Jiro menendang anggotanya yang memegang kemudi hingga keluar mobil, kini Jiro memegang kemudi, pria itu memutar mobilnya ke arah sedan silver yang mereka kawal, tampaknya itu sia-sia, tampaknya itu terlambat, Land rover itu kini telah berada sejajar dengan SUV silver yang ditumpangi oleh Seikahara. Sesuatu menarik perhatian Jiro, land rover itu tidak segera menghantamkan tubuhnya ke sedan silver, seolah dia tidak berniat untuk melempar SUV silver itu ke laut. Samar-samar Jiro dapat melihat sebuah garis sinar berwarna merah muncul dari sebuah alat yang menempel di samping mobil land rover tersebut.
“Menunduk!! Semua menunduk!!” Jiro berteriak melalui radio panggil dengan panik.
Sebuah jeritan terdengar dari dalam mobil saat sinar yang disinyalir sebagai laser pemotong itu memotong bagian atas mobil sedan silver. Kap mobil itu terpotong dan tertiup angin, terbang layaknya sebuah kertas yang jatuh ke laut. Kamera di samping land rover tersebut merekam kejadian di dalam SUV silver tersebut.
“Tinggalkan mobil!” Jiro berteriak sambil melompat keluar dari sedan hitamnya, dua anggotanya juga melakukan hal serupa. Naas, salah satu dari anggotanya malah meloncat tepat ke SUV silver, tubuhnya segera terlempar ke laut. Mobil sedan hitam yang ditinggalkan Jiro menabrak keras Land Rover yang datang dari arah sebaliknya. Membuat sebuah ledakan yang keras.
“Done!” Wise Crow tampak girang sambil melihat layar besar yang kini menampilkan bintik-bintik putih, seperti sebuah stasiun televisi yang sedang mengalami gangguan. Dengan santai Wise Crow mengambil sebatang rokok dan membakarnya. Senyumnya terkembang melihat beberapa layar yang terletak disampingnya. Layar itu menampilkan foto yang diambil dari kamera samping Land Rover. Dari foto tersebut, Wise Crow bisa memastikan Seikahara Yamaguchi tidak ada dalam mobil SUV silver itu.
Sekilas Wise Crow memandang sekelilingnya, keadaan kamarnya sekarang benar-benar mirip dengan kamar seorang maniak game balap, dua buah kemudi mainan, lengkap dengan pedal gas, persneling dan pedal rem. Empat layar besar yang menampilkan gambar dari kamera-kamera di sekitar mobil. Sedikit bangga dengan apa yang dilakukannya, seolah dia benar-benar berada dalam mobil land rover yang tadi dikendalikannya dari jauh.
Perhatian Wise Crow teralih saat ponselnya bergetar. Tanpa mematikan rokoknya ia menerima panggilan dari Silent Rose, sahabatnya.
“Bagaimana, Wise?” suara Silent Rose terdengar cukup tersengal-sengal.
“Target tidak ada di mobil, sepertinya strategi telurmu berhasil.” jawab Wise Crow.
“Oke… naikkan kembali layangannya, aku mau memastikan tidak ada korban jiwa tambahan.”
Wise Crow menaikkan kembali layang-layang bertenaga gas dengan kendali jarak jauh, kamera pada layang-layang tersebut kembali menyala dan menunjukkan gambar keadaan di rumah Yamaguchi. Beberapa penjaga tampak tetap pada posisi masing-masing. Wise Crow memutuskan untuk tidak memberi tahu Rose bahwa aksinya baru saja menghabisi nyawa beberapa anggota klan Yamaguchi, dua pengendara motor, empat orang di dalam mobil hitam di belakang dan seorang yang tertabrak sedan silver saat melompat dari mobilnya.
“Wise?” Silent Rose memanggil, menandakan bahwa ia menunggu konfirmasi dari Wise Crow.
“Tidak ada siapapun di gudang makanan, tempat itu bersih.”
Got it!” jawab Silent Rose sambil mengeluarkan dua buah bola dari tas-nya, jelas sekali apa yang dibawa Silent Rose bukanlah bola, melainkan dua buah granat tangan. Sambil mencoba memperhitungkan arah angin, Silent Rose melempar granat itu ke atas. Para penjaga yang bertugas bereaksi terlambat, mereka baru menyadari bahaya setelah granat itu meledakkan gudang makanan mereka.
“Ledakkan, Wise.” ujar Silent Rose sambil menjatuhkan dirinya ke dalam sungai. Wise Crow paham apa yang diminta oleh pair-up nya kali ini. Hanya dengan menekan beberapa tombol, Wise Crow membuat layangan bertenaga gas itu meluncur menghantam pintu gerbang rumah kediaman Yamaguchi, membuat sebuah ledakan keras.
Wise Crow tersenyum sambil mengingat pertanyaan yang dilontarkan oleh Silent Rose, ‘bagaimana cara termudah mendapatkan telur segar?’. Telur paling segar tentu akan mudah didapatkan jika kita mendatangi sarang burung yang kita inginkan, karena telur tidak akan pernah meninggalkan sarang. Itulah permainan yang mereka lakukan sekarang, dengan surat ancaman, mereka membuat Seikahara menerapkan taktik decoy and distraction. Seikahara juga memperkuat pertahanan, ibarat cangkang telur yang keras, namun sebagai gantinya, dia diam di sarangnya, ibarat sebuah telur yang tidak dapat bergerak.
Hingar bingar segera terdengar dari dalam kediaman Yamaguchi, Seikahara baru saja mendengar berita penyerangan terhadap keluarganya melalui Jiro. Pimpinan tertinggi klan Yamaguchi itu tahu, bahwa kali ini serangan akan dilakukan secara frontal. Dengan tenang dia memberi aba-aba kepada para komandannya yang tertinggal, dan tanpa banyak bicara, pria itu bergegas kabur melalui terowongan rahasianya.
Sebuah tindakan logis untuk dilakukan, bahkan bagi raja manapun, menyelamatkan diri melalui lorong rahasia saat benteng akan jatuh adalah hal yang lumrah untuk dilakukan. Itulah yang kini dilakukan oleh Seikahara Yamaguchi. Satu-satunya yang menjadikan strategi tersebut tidak efektif adalah jika musuh telah mengetahui keberadaan lorong rahasia tersebut. Bukan hanya tidak efektif, tapi itu sangat fatal.
Dan itulah yang terjadi pada Seikahara Yamaguchi yang tengah mencoba menyelamatkan dirinya melalui terowongan rahasia di kediamannya. Pair-up Silent Rose dan Wise Crow telah berhasil menempatkan diri selangkah di depan targetnya. Di sebuah titik di tengah terowongan itu, Silent Rose telah memasang sebuah sensor yang jika dilewati akan memicu ledakan nitrogen yang segera membakar habis semua yang ada di sepanjang terowongan.
Airul Hutomo, sang Silent Rose hanya tersenyum dari kejauhan saat melihat api menyembur kencang dari pintu akses terowongan. Dengan santai ia meninggalkan lokasi, menuju ke kamar hotel yang hangat, tempat dimana sahabatnya yang juga pair-up nya dalam Case kali ini menunggu.

***

Keesokan harinya

Wajah Wise Crow terlihat sumringah saat ia dan sahabatnya, Airul HutomoSilent Rose berada di salah satu gerbong kereta api bawah tanah Tokyo, entah sudah berapa kali Wise Crow menengok ke layar smartphone-nya membaca beberapa sms yang dikirim oleh PristyAdorable Starfruit kekasihnya. Duet Crow-Rose memang telah menyelesaikan Case mereka dengan cepat dan mengagumkan, dan kini sesuai janji Rose, mereka akan membantu Adorable Starfruit menyelesaikan Casenya.
“Ternyata kau bisa terlihat memuakkan juga, Wise,” kelakar Silent Rose yang melihat sahabatnya tersenyum-senyum sendiri. Berbeda dengan Wise Crow yang sibuk melihat isi sms, Silent Rose lebih fokus dengan tabletnya, mencoba mempelajari dan mendalami target case yang diberikan pada pair-up Cannary-Starfruit.
“Apa sahabatmu ini tidak boleh bahagia karena akan bertemu dengan pujaan hatinya?” jawab Wise Crow tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar smartphone.
“Ieyasu Koji, putra pertama dari Klan Koji. Menurutku ini target yang sedikit aneh, bukankah Klan Koji sendiri sempat diisukan akan bergabung dengan Klan Tamada? Apalagi setelah Klan Yamaguchi habis.” Rose berbisik lirih, seolah takut ucapannya didengar oleh orang lain.
“Pristy akan menjelaskan situasinya. Yang perlu kita lakukan hanya memuluskan jalannya saja.”
“Yeah, aku harap Noisy Cannary sudah menyiapkan rencana terbaiknya.”
Wise sedikit berjengit mendengar nama Noisy Cannary, bagaimanapun dia sedikit risih harus membantu Noisy Cannary, namun dia tidak punya pilihan lain. Association telah menunjuk Noisy Cannary sebagai pair-up Adorable Starfruit.
“Coba kau ulangi lagi, Wise, apa rencana kita hari ini?” Rose meminta Wise mengulangi rencana yang disampaikan oleh Adorable Starfruit lewat sms-nya.
“Kita akan bertemu dengan Pristy di stasiun Shibuya, ada kemungkinan Ieyasu Koji akan menghadiri pertemuan di gedung M-21, beberapa meter dari stasiun Shibuya. Kau akan berjaga dengan snipermu di salah satu atap gedung, aku akan bersiap dengan mobil untuk menjemput Pristy, setelah Pristy sukses mengeksekusi target.”
“Dan bagaimana dia akan mengeksekusi target?”
“Ciuman…” kali ini ada cemburu di nada suara Wise Crow. “Bangsat Cannary itu menggunakan daya tarik Adorable Starfruit untuk meracuni Ieyasu melalui ciuman. Sialan itu…”
“Itu tugas, Wise… dia hanya melaksanakan strategi.” Rose mengingatkan.
Wise Crow tidak membantah, meski sebenarnya hatinya masih merasa dongkol, menggunakan pesona daya tarik Starfruit tidak selamanya harus menggunakan strategi yang mengharuskan terjadinya kontak fisik. Selama menjadi pair-up Adorable Starfruit, Wise Crow berhasil mengeksekusi banyak target tanpa mengharuskan Adorable melakukan kontak fisik dengan target-targetnya. Wise Crow menganggap Noisy Cannary malas berpikir, strategi kontak fisik memang hal termudah untuk membuat target lengah.
Kereta mereka berhenti di stasiun bawah tanah Shibuya, Silent Rose mengenakan ranselnya dan keluar bersama kerumunan orang yang turun di stasiun tersebut. Wise Crow tepat di depannya. Wise Crow menyapu seisi stasiun yang cukup besar dan ramai tersebut untuk menemukan pujaan hatinya, tidak begitu sulit, karena beberapa detik kemudian ia melihat seseorang membuka payung berwarna pink. Seperti yang telah disampaikan Pristy dalam sms nya, gadis cantik itu membawa sebuah payung berwarna pink yang sebenarnya itu adalah senjata sejenis shotgun.
“Payung pink?” Silent Rose mengernyitkan dahinya. “Apa tidak terlalu menonjol?”
“Cannary bodoh yang menyiapkannya, juga memintanya membuka payungnya, kurasa agar ia mudah mengawasi Pristy dari kejauhan.” jawab Wise Crow sinis.
Pristy tersenyum dan melambaikan tangan saat melihat sosok Wise Crow, pujaan hatinya.
“Benar-benar tidak terlihat seperti seorang agen…” komentar Rose sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “dia benar-benar terlihat seperti gadis normal.”
“Penyamaran yang sempurna kan?” Wise Crow menjawab sambil nyengir kuda.
Baru beberapa langkah mereka berjalan menuju ke arah Pristy dan payung pink-nya, sebuah letupan senjata mengagetkan seisi stasiun. Waktu seolah berjalan sangat lambat saat Wise Crow terperangah, dia dapat menangkap dengan jelas saat sebutir peluru menembus leher putih kekasihnya, membuat darah bercipratan keras. Wise Crow berlari ke arah Pristy dengan cepat, seolah tidak mempedulikan bahaya yang masih mengintai mereka. Wise Crow menangkap tubuh gadis pujaannya sebelum gadis itu jatuh menghantam lantai stasiun. Darah mengalir dari lubang di lehernya, juga dari bibir cerah gadis tersebut. Wise membelalakkan matanya melihat gadis yang paling dirindukannya, yang paling dicintainya, mengejat, kesulitan menarik nafasnya.
“Rose!!!” Wise Crow berteriak saat matanya menangkap sosok bersenjata yang mendekati mereka. Wise memeluk dan menggendong tubuh kekasihnya yang masih berusaha bernafas, tangan pria itu kini berlumuran darah.
Silent Rose bereaksi cepat, matanya menangkap pergerakan orang-orang bersenjata diantara kerumunan orang-orang yang berhamburan panik. Dengan tangkas, Rose membuka resleting di kanan-kiri ranselnya dan menarik dua buah pistol Ballers-90 dengan gagang berukir mawar. Tanpa ragu Rose menembakkan kedua pistolnya, satu peluru untuk merobohkan satu orang pengejarnya. Tanpa suara, tanpa membuang energi, tanpa berpikir terlalu banyak Rose mampu menembak dengan akurasi sangat tinggi. Mata Rose menangkap titik merah yang mengarah ke tengkuk Wise Crow, tidak ada waktu untuk memberi Wise Crow peringatan.
DORR!!
Sinar merah di tengkuk Wise Crow hilang. Beberapa meter dari mereka, seorang sniper terjatuh, Rose berhasil melubangi kepalanya. Rose memberi aba-aba pada Wise Crow untuk masuk ke dalam kereta, Wise Crow menggendong kekasihnya masuk ke dalam kereta. Sambil terus menembaki satu-persatu pengejarnya, Rose berhasil masuk ke dalam kereta. Kereta itu berjalan beberapa detik kemudian.
“Rose!! Lakukan sesuatu!” Wise Crow panik, tubuh Adorable Starfruit masih mengejang-kejang, gadis itu masih berusaha bernafas. Wise Crow berusaha menghentikan pendarahan dengan membalutkan kain ke leher gadis tersebut, namun itu tidak cukup untuk menghentikan pendarahan.
Silent Rose berlutut di dekat Wise Crow, mencoba memeriksa keadaan Starfruit, untuk beberapa saat saja dia sudah tahu bahwa mustahil untuk menyelamatkan gadis itu. Peluru yang menembus lehernya sepertinya telah melubangi nadi darah utama yang berada di leher sang gadis, keadaannya sudah begitu kritis.
“Nadinya berlubang, Wise… aku.. maaf… aku…” Rose terbata-bata, sulit baginya untuk menggambarkan bagaimana kritisnya gadis itu, bahwa kemungkinannya untuk selamat sudah nyaris mendekati nol.
Air mata keluar dari mata Wise Crow, Rose hanya bisa melihat sahabatnya itu memeluk erat kepala gadis yang dicintainya. Tubuh gadis itu masih mengejang-kejang, masih berusaha untuk hidup. Meski begitu, Wise Crow tahu bahwa itu tidak akan banyak berguna.
“Maafkan aku, sayangku…” bisik Wise Crow sambil memeluk erat gadis itu. “Beristirahatlah… jangan melawan lagi… aku akan tetap mencintaimu… sayangku…”
Rose memalingkan pandangannya, tidak cukup kuat untuk melihat apa yang terjadi pada sepasang kekasih yang saling mencintai ini. Rose dapat melihat, Adorable Starfruit berusaha untuk tetap hidup, sedang ia tahu bahwa itu percuma. Dan di sisi lain, Wise Crow telah meminta gadis itu untuk beristirahat, setidaknya, menghantarkan ketenangan ke gadis yang ia cintai.
“Sudah… lepaskanlah, jangan melawan lagi, sayang….” Wise Crow terus terisak sambil mencium kening gadisnya. Gerakan tubuh gadis itu melemah, pertanda bahwa ia menuruti apa yang diminta oleh kekasihnya, melepaskan dan berhenti melawan takdir. Tubuh lemahnya terkulai dalam pelukan sang kekasih, nafasnya melemah, seolah mencoba melepaskan dengan perlahan… melepaskan cinta yang dimilikinya. Sedetik kemudian, gadis itu tak bernyawa lagi.
Wise Crow memejamkan matanya, tangisnya tak lagi tersedu-sedu, hanya sesekali ia melepaskan sesenggukan nafasnya. Mata Wise Crow menatap gadis yang ia cintai, sebelum Wise Crow melumat bibir gadis tak bernyawa itu dengan rakus.
“Hey!! Wise!!” Seolah sadar apa yang sedang dilakukan oleh Wise Crow, Silent Rose menarik mundur bahu sahabatnya itu. Wise Crow terhuyung ke belakang, lalu berusaha merangkak kembali, berusaha mengecup bibir gadis yang ia cintai. Silent Rose terpaksa menendang pinggang sahabatnya itu.
“Kau gila, Wise!! Bibir Pristy telah dilumuri racun!! Apa itu yang kau inginkan heh?! Kau ingin mati bersamanya dan merubah karirmu selama ini jadi seperti drama picisan Rome and Juliet?!!” Silent Rose berteriak keras.
“Ya!! Aku ingin mati bersamanya, Rose! Dia adalah yang paling berharga untukku!” Wise membalas tidak kalah kerasnya.
DUAGH!!
Rose tidak bisa menahan diri untuk tidak memberikan bogem mentah pada sahabatnya ini. Dengan geram dia mencabut pistol ballers-nya dan menempelkan ke lengan kiri Wise Crow. Tanpa ragu sedikitpun, Silent Rose menarik pelatuk pistol tersebut.
Jeritan dan erangan Wise Crow menyusul sepersekian detik dari bunyi letupan ballers milik Airul Hutomo. Darah mengalir dari lengan pria itu.
“Apa satu tanganmu itu tidak berharga bagimu? Sahabat…” Silent Rose menatap dingin ke arah Wise Crow, sahabat kentalnya. “Dan jika kau kehilangan satu tanganmu, apakah tanganmu yang lain akan ikut lumpuh? Kehilangan akan membuatmu sakit… tapi tidak lemah, Wise!!”
Wise Crow terdiam, lubang di lengan akibat tembakan Silent Rose menyadarkannya, bahwa tidak peduli jika kau kehilangan, tidak peduli jika kau kesakitan, takdir tetap harus diterima dengan akal bijak yang sehat, disikapi dengan ketangguhan dan kebesaran hati. Mata Wise Crow masih berlinang saat ia melihat Silent Rose mengeluarkan sebuah tabung kecil dari saku ranselnya, dan mengoleskan cairan tersebut pada bibir Adorable Starfruit.
“Ini aneh sekali…” gumam Silent Rose kemudian. Dia berbalik dan menatap Wise Crow yang meringis menahan sakit. “tidak ada racun di bibir Adorable Starfruit…”

***

Airul Hutomo menghisap rokoknya dalam-dalam, matanya memandang beberapa lembar kertas yang berserakan di atas meja, tepat di depan matanya. Tidak jauh dari kertas-kertas tersebut, beberapa tabung kecil berisi serum hasil eksperimennya berjejer rapi, beberapa diantaranya sudah hampir habis. Pandangan agen tipe A nomor satu di Association itu beralih ke gerakan-gerakan api yang membakar habis kayu di tungku perapian rumah sewaan itu. Masih jelas tergambar di benaknya apa yang baru saja terjadi beberapa jam lalu di stasiun kereta bawah tanah Shibuya. Silent Rose mencoba untuk tetap berpikir jernih, dalam otaknya, dia tengah mencoba mengurai satu demi satu petunjuk yang tersebar saat insiden penembakan Adorable Starfruit terjadi. Mencoba menemukan benang petunjuk dari peristiwa itu.
Perhatian Silent Rose teralih saat Wise Crow masuk, dia lebih tampak tenang dibanding saat dia berusaha bunuh diri dengan mencium bibir Adorable Starfruit yang seharusnya telah dilumuri racun.
“Kau baik-baik saja?” tanya Silent Rose pada sahabatnya. Sebuah pertanyaan yang seharusnya tidak dilontarkan, jelas tidak ada satu orang pun di dunia ini yang masih baik-baik saja setelah melihat peluru menembus leher kekasihnya, apalagi setelah melihat bagaimana sang kekasih berusaha untuk menolak kematian. Rose hanya bisa berdoa agar Adorable Starfruit yang baru saja mereka makamkan di belakang rumah sewaan ini bisa beristirahat dengan tenang.
“Ada yang kau dapat?” Wise Crow bertanya balik, ia menganggap tidak perlu menjawab pertanyaan Silent Rose. Wise meletakkan botol wine yang telah kosong. Wine itu, wine yang disebut-sebutnya sebagai wine paling berharga di dunia karena menyimpan kenangan tentang dia dan Pristy. Wise baru saja mengosongkan isi botol itu dengan menyiramkannya di tanah makam kekasihnya.
“Ada beberapa hal yang janggal, yang pertama tidak ada racun di bibir Pristy, tadinya kupikir Pristy menaruh racun itu di lipstik, dan dia baru akan melumurkannya ke bibir ketika sudah ada di dekat target. Tapi aku tidak menemukan racun di lipstik yang dibawa Pristy.” Silent Rose menjawab sembari menyodorkan kertas berisi catatan analisanya mengenai insiden yang terjadi.
“Yang kedua, dari log ponsel yang dibawa Pristy, pembicaraan via ponsel terakhir antara Pristy dan Noisy Cannary adalah lima hari yang lalu, jarak waktu yang cukup aneh mengingat mereka adalah pair-up.”
“Hal itu wajar saja, Rose, bisa saja mereka berkomunikasi secara langsung, kan?” Wise mencoba mengoreksi analisa Silent Rose. “Justru aneh kan jika mereka berkomunikasi hanya melalui telepon.”
“Di hari eksekusi? Apa kau akan membiarkan pair-up mu bergerak tanpa berkomunikasi sama sekali? Setidaknya untuk memeriksa apakah ada tindakan yang perlu diambil untuk mengantisipasi hal yang diluar rencana? Apakah eksekusi selalu sama dengan apa yang direncanakan di atas kertas Wise?”
Kali ini Wise terdiam. Komunikasi beberapa jam atau menit sebelum eksekusi dilaksanakan memang termasuk hal yang penting, karena prosedur apa dan bagaimana eksekusi berlangsung harus memiliki tingkat fleksibilitas dengan memperhitungkan keadaan yang ada saat itu.
“Apa ada yang lain?” Wise Crow kembali bertanya.
Silent Rose berdiri dari kursinya untuk menyerahkan selembar foto, Wise Crow menerimanya dan memandang foto tersebut, foto itu memang sedikit buram, seolah itu adalah gambar yang diambil dari sebuah rekaman video.
“Foto itu diambil oleh seorang amatiran yang kebetulan ada bersama kita. Dia meng-upload hasil jepretannya ke situs pribadinya.” Silent Rose menjelaskan asal-usul foto tersebut.
Wise Crow memandang foto tersebut dengan diam, muncul gejolak dalam benaknya, seolah ingatannya mengenai insiden yang baru beberapa jam lalu terjadi menekan jantungnya dari dalam. Pria itu mencoba menahan agar tetap mampu berpikir jernih. Foto itu menggambarkan beberapa penyerangnya yang sudah tersungkur akibat tembakan Silent Rose, dan seseorang membawa senapan laras panjang tengah melayang di udara. Menurut dugaan Wise, pria itulah yang menembak Pristy, Adorable Starfruit, kekasihnya.
”Memang tidak begitu jelas, tapi ada bros yang menempel di jas sniper itu…” Rose melanjutkan hasil analisanya terkait foto tersebut. “Saat aku memperbesar dan mengolah foto tersebut, aku dapat melihat bros tersebut berbentuk seperti tiga bunga sakura dengan lima kelopak.”
“Tiga sakura dengan lima kelopak??” Wise terkejut. “itu bukan lambang Klan Koji.”
“Itu lambang Klan Tadama.” Silent Rose menyempurnakan hipotesanya. “Apa yang dilakukan Klan Tadama? Kenapa mereka malah menyerang kita?”
“Ada kabar dari Association terkait ini, Rose?”
“Target dibatalkan. Itu yang dikonfirmasi oleh Association, semua Case dianggap cukup. Kita diminta kembali ke Indonesia sesegera mungkin.”
“Rose…” Wise Crow menghentikan ucapannya, sejenak keraguan muncul di getaran nada bicaranya.
“Aku tahu, Wise.” Seolah membaca apa yang ada dalam benak sahabatnya itu, Silent Rose mengemasi tabung-tabung serum di meja. “Kita tidak bisa menyentuh Klan Tadama atau Klan manapun. Kita akan terbang ke Jerman dan mendesak Association untuk mengusut tentang Case yang menyebabkan kematian kekasihmu.”

***

Markas besar Association – Jerman.

Wise Crow dan Silent Rose berjalan memasuki Centre, satu-satunya ruangan yang bisa digunakan untuk berkomunikasi langsung dengan para Director. Lantai dan dinding ruangan itu dilapisi granit alam berwarna hitam gelap, dengan plafond yang juga berwarna hitam. Berseberangan dengan pintu terdapat Sebuah meja tinggi yang memanjang, dengan tujuh kursi di belakang meja tersebut. Ini adalah pertama kalinya Silent Rose memasuki Centre, tapi bagi Wise Crow, ini adalah kali keduanya.
Ruangan itu sangat gelap, sebelum akhirnya menjadi terang akibat tujuh lampu sorot yang tergantung di langit-langit ruangan, menyorot langsung ke tempat Silent Rose dan Wise Crow berdiri. Rose paham betul bahwa dekorasi ruangan Centre ini bukan dibuat tanpa tujuan. Nuansa hitam yang memberi kegelapan maksimal mampu memberi rasa tertekan bagi siapapun yang ada di dalam ruangan ini. Lampu sorot yang difokuskan pada mereka bertujuan untuk memberi efek kejut, seolah semua mata menuju ke arah mereka. Centre bisa dikatakan sebagai sebuah ruangan yang memiliki efek psikologis tinggi.
Tidak ada siapapun di dalam Centre kecuali mereka berdua. Rose menduga Tujuh Director akan masuk dari tempat lain dan duduk di atas kursi mereka masing-masing. Namun dugaan Rose keliru, tujuh director tidak memasuki Centre. Hanya layar monitor di atas masing-masing kursi yang tiba-tiba menyala, menampilkan angka dari satu hingga tujuh di masing-masing layar.
“Kami menjawab panggilanmu, Silent Rose, Wise Crow,” suara yang dikenal sebagai Director no. 6 terdengar dari speaker besar di sekeliling ruangan. “Duduklah di kursi di tengah ruangan dan gunakan microphone saat kau bicara.”
Rose dan Wise menuruti apa yang diminta, lampu sorot terus bergerak mengikuti hingga mereka duduk di atas kursi yang dimaksud. Menghadap ke tujuh kursi tanpa penghuni.
“Kami datang kemari untuk mendapatkan informasi hasil penyelidikan terkait insiden yang menyebabkan meninggalnya salah satu agen, Adorable Starfruit.” Silent Rose bicara melalui michropone di depannya.
“Case itu sudah ditutup dan dibatalkan, Klan Koji diidentifikasi sebagai Klan yang tidak lagi berbahaya. Insiden itu terjadi karena ada informasi yang diterima mengenai pembunuh Seikahara Yamaguchi. Artinya, target sebenarnya dari insiden tersebut adalah kalian berdua.” Director No. 6 memberikan penjelasannya.
“Kami berdua? Kami melakukan eksekusi dengan rapi dan tidak terdeteksi oleh siapapun! Bagaimana bisa…” Wise Crow bicara dengan nada cukup tinggi, pria itu menghentikan ucapannya setelah Silent Rose memberinya isyarat untuk menahan diri. Wise Crow memandang ke arah Silent Rose yang duduk tepat di sebelahnya.
“Apa sumber informasinya telah diidentifikasi?” tanya Rose tenang, tidak ada gunanya melakukan konfrontasi dengan mencoba memberi tekanan. Jika memang apa yang disampaikan Director no. 6 itu benar adanya, maka pasti mereka sudah mengidentifikasi sumber informasi.
“Daisuke Jiro, tangan kanan Seikahara Yamaguchi berhasil mengidentifikasi Land Rover yang kalian gunakan untuk menyerang mereka. Dari situlah informasi berasal.”
Jawaban Director no.6 membuat Silent Rose dan Wise Crow terperanjat. Mobil Land Rover yang mereka gunakan adalah mobil yang dibeli di Jepang oleh mereka berdua, mereka membeli mobil tersebut di Nagoya, seharusnya kecil kemungkinan mobil tersebut dapat diidentifikasi sedemikian cepatnya. Seharusnya hal itu tidak menjadi masalah.
“Harusnya aku membunuh mereka semua…” Wise berbisik lirih.
“Bagaimana dengan Noisy Cannary? Apakah rencana yang dibuatnya sudah dianalisa? Dimana pertanggung-jawabannya atas kematian pair-up nya?” Rose mulai memberi tekanan.
“Biar aku yang menjawabnya…” suara seorang wanita kini terdengar. “Agen Rose dan Wise Crow, aku adalah Director no. 3 yang bertanggung jawab atas investigasi mengenai insiden tersebut. Kami telah memanggil Noisy Cannary terkait kematian agen Adorable Starfruit. Kami juga telah melakukan analisa terhadap rencana yang dibuatnya, tidak ada kesalahan dalam rencana tersebut, rencana itu benar-benar logis dan masuk akal, hingga terjadinya insiden tersebut.”
“Boleh kami tahu detail rencana Noisy Cannary?” Wise Crow bertanya. Jelas sekali jawaban yang diberikan Director no. 3 tidak memuaskannya.
“Baiklah, agen Wise Crow…” Director no. 3 mulai menjelaskan detail rencana yang disampaikan oleh Noisy Cannary. “Ieyasu Koji akan menghadiri pertemuan di gedung M-21 Shibuya pada pukul tujuh malam. Noisy Cannary berhasil memasukkan Adorable Starfruit sebagai salah satu dari beberapa gadis penghibur disana. Dengan kecantikan dan keindahan tubuhnya, tentu tidak sulit bagi Adorable Starfruit untuk menarik perhatian Ieyasu Koji. Pria itu akan membawa Adorable Starfruit ke ruang VIP, seperti yang biasa ia lakukan, saat itulah Adorable Starfruit akan meracuni Ieyasu Koji melalui ciuman, setelah meracuni, Adorable Starfruit akan berlari sambil menangis, seolah Koji telah melakukan sesuatu yang membuatnya menangis. Dengan alasan itu, Adorable akan berlari ke luar gedung dan meninggalkan TKP.”
“Racun jenis apa yang akan digunakan Noisy Cannary?” Silent Rose bertanya.
“Dicyanides,” jawab Director no. 3
“Cyanide adalah racun yang cepat bereaksi, melumurkannya di bibir dapat membunuh Adorable Starfruit secara instant.” Dengan tenang Rose menunjukkan kapasitasnya sebagai orang yang sudah cukup lama berkecimpung di dunia serum-serum kimiawi.
“Tidak jika Adorable Starfruit melumuri lidahnya dengan Sodium Thiosulfate sebelum melumuri bibirnya dengan Dicyanides,”
Silent Rose terdiam, apa yang disampaikan oleh Director no. 3 memang masuk akal. Tidak seperti Sodium Cyanides atau Tetra Cyanides, Dicyanides memang cenderung lebih mudah dinetralkan menggunakan antitode standar seperti Amyl Nitrite, Sodium Nitrite, atau Sodium Thiosulfate.
“Kami tidak menemukan racun di bibir Adorable Starfruit,” ucap Wise Crow. “Juga tidak ada komunikasi antara Noisy Cannary dan Adorable Starfruit via ponsel, seolah-olah Noisy Cannary ada di stasiun itu saat insiden berlangsung.”
“Racun memang baru akan dilumurkan saat Adorable Starfruit berada di gedung M-21. Dan pada saat insiden tersebut berlangsung, Noisy Cannary sedang ada di dalam gedung M-21 untuk mempersiapkan. Pernyataan Noisy Cannary telah kami konfirmasi kebenarannya.”
“Tidak ada racun di lipstik yang dibawa oleh Adorable Starfruit.” Kali ini Rose yang bicara. “tidak ada racun di semua barang yang dibawa olehnya.”
“Lipstik yang diberi racun dibawa oleh Noisy Cannary yang juga menyusup ke pertemuan sebagai bartender. Baru akan diberikan saat mereka bertemu. Soal komunikasi, mereka telah mematangkan rencana itu jauh-jauh hari, komunikasi yang berlebihan hanya akan mengundang perubahan rencana yang tidak diinginkan.”
“Jadi dia tidak bertanggung jawab? Si Noisy Cannary itu? dimana dia sekarang?” gigi-gigi Wise Crow bergemeretak menahan sesuatu yang hendak meledak dalam dirinya. Bagaimanapun dia tidak dapat menerima bahwa insiden itu terjadi karena keberadaannya dan Rose di stasiun Shibuya.
“Dia di Indonesia pastinya, kami merasa dia tidak bertanggung jawab dan tidak perlu menahannya. Itu keputusan bersama dari tujuh director,” salah seorang dari tujuh director menjawab pertanyaan Wise Crow.
“Jadi insiden itu terjadi karena kami?! Dan itu murni kesalahan Adorable Starfruit? Jika memang insiden itu karena kami, kenapa mereka lebih dulu menembak Pristy!! KENAPA BUKAN AKU??!!” Wise Crow berteriak histeris, jelas sekali dia kehilangan kendali dirinya. “JAWAB AKU!! KENAPA BANGSAT ITU TIDAK BERSALAH!!”
Rose menyentuh pundak Wise Crow, mencoba menenangkan sahabatnya. Namun Wise Crow mengibaskan tangan Silent Rose.
“Pelaksanaan rencana tidak di atas kertas!! Bagaimana mungkin bisa mengabaikan komunikasi pada hari pelaksanaan, hal itu tidak masuk akal, KALIAN TAHU ITU!! KALIAN BODOH ATAU APA?!” Wise Crow berdiri dari kursinya, berteriak lantang sambil menunjuk ke tujuh kursi kosong di depannya.
“Tahan dirimu, agen Wise Crow!!” salah satu director kembali bicara. “Keputusan Director telah dibuat dan tidak bisa diganggu gugat!”
“Kalau begitu biar aku yang akan mengirim bangsat itu ke AJALNYA!!” Wise Crow kembali berteriak.
Rose tidak bisa membiarkan suasana menjadi lebih keruh lagi, dia harus segera bertindak agar Wise Crow tidak dijatuhi hukuman.
“Kami hanya ingin keputusan itu dipertimbangkan kembali, ada satu fakta yang aneh, karena yang menyerang kami bukan dari Klan Koji, melainkan Klan Tadama.” Rose mencoba memperbaiki situasi.
“Case telah ditutup, begitu juga investigasinya, aku sudah menerima foto yang kau maksud mengenai keberadaan Klan Tadama pada insiden tersebut, negatif, foto itu terlalu kabur untuk bisa disimpulkan itu lambang Klan Tadama. Tuduhanmu tidak beralasan, Rose.” Director no. 3 membantah kata-kata Silent Rose.
“Dengan ini pembicaraan selesai, Rose kau bisa kembali ke Indonesia… sedang untukmu agen Wise Crow, kami akan mempertimbangkan kembali codename yang kau sandang.” salah seorang Director berkata.
Kata-kata itu membuat Rose dan Wise tercekat. Saat Director menyatakan akan mempertimbangkan codename berarti mereka punya keinginan mencabut codename tersebut. Pencabutan codename berarti hukuman mati.
“Siapapun akan bereaksi seperti itu jika melihat orang yang dicintai meninggal di depan mata, Director. Itu bukan alasan yang kuat untuk melakukan pertimbangan codename.” Rose mengajukan lobby kepada tujuh Director untuk menyelamatkan sahabatnya. Seolah telah membaca situasi, Wise Crow kini diam tak bicara.
Para Director tidak menjawab, hanya ada ketenangan sesaat, seolah tujuh orang di balik layar itu pergi meninggalkan Centre untuk melakukan perundingan khusus. Keheningan itu pecah saat suara salah satu Director kembali terdengar melalui speaker.
“Kami membatalkan pertimbangan terhadap Codename-mu agen Wise Crow.”
Kalimat itu memberi kelegaan tersendiri bagi Silent Rose.
“Namun sikap yang kau tunjukkan dalam Centre kali ini bukan sikap yang bisa kami terima dengan baik. Jika saja kami tidak memandang Blood of Roses yang menjadi sahabat baikmu, dan jika saja kami tidak mempertimbangkan kontribusimu yang cukup tinggi untuk Association, mungkin kami akan mencabut codename-mu.”
“Dan atas sikap itu, tujuh Director akan menjatuhkan detensi padamu, kau akan menjalani masa skorsing, selama lima tahun di rumah orang tuamu di Belanda. Selama masa skorsing, kau tidak diijinkan meninggalkan Eropa. Jadikanlah masa skorsing itu untuk menenangkan diri, kami harap kau sudah kembali ke kondisi primamu setelah masa skorsing selesai.” Kali ini Director no. 6 yang bicara. “Dengan keputusan itu, maka pertemuan kita di Centre kali ini selesai. Agen Rose, kau bisa kembali ke Indonesia, dan agen Wise Crow, anggota kami sudah menunggumu di luar, mereka akan mengantarkanmu kembali ke Belanda.”
Tujuh layar hadapan mereka mendadak mati. Pertanda bahwa pertemuan telah diakhiri, Rose dan Wise beranjak dari kursi mereka. Mereka berjalan beriringan keluar dari Centre tanpa bicara sepatah kata pun.
“Indonesia akan sepi tanpamu, sahabat…” ujar Rose seraya menepuk punggung sahabatnya.
Wise Crow menatap dalam-dalam mata sahabatnya, sekali lagi Rose menyelamatkan nyawanya. “Terima kasih sahabat… sampai lima tahun lagi.” ujarnya lirih.
Rose hanya bisa menatap punggung Wise Crow yang dikawal oleh empat orang anggota Association. Skorsing untuk Wise Crow sebenarnya adalah kerugian besar bagi Association, karena mereka harus kehilangan agen tipe B terbaik mereka untuk beberapa lama. Secara mengejutkan, dua hari setelah pertemuan di Centre berlangsung, Tujuh Director mengeluarkan ketetapan untuk menghapus sistem pair-up. Meski demikian, pair-up masih boleh dilakukan, namun tidak lagi diharuskan.

BERSAMBUNG
Author : Rainmaker

Tidak ada komentar:

Posting Komentar