Rabu, 14 September 2016

Terjebak Nafsu 2



Yayuk sebagai seorang gadis alim shalihah yang selama ini tak pernah mengikuti aliran dunia anak muda modern dengan pesta pora dan kelakuan hura-hura sebagaimana yang dikerjakan dan dialami oleh para selebs, tentu saja sangat shock mendapat perlakuan sangat tak senonoh yang diperbuat oleh ayah dan saudara laki-laki tirinya.
Setelah diperkosa habis-habisan di malam itu, maka Yayuk menangis semalaman di kamarnya. Ia tak mau keluar, semua kepercayaannya terhadap keluarga sendiri pun punah. Disesalkannya dirinya yang tidak jadi pulang ke kota tempatnya bekerja sebagaimana telah direncanakannya semula, malah mau dibujuk untuk menginap semalam lagi.
Kini hilanglah sudah kehormatannya, hilang kegadisannya yang layak untuk dipersembahkan kepada suaminya di malam pengantin nanti.

Di saat mengalami puncak keputusasaannya itu, hanya kesadaran bahwa banyak sekali pasien yang sangat berterima kasih terhadap perawatannya yang jadi hiburan. Dan dengan berdasarkan rasa kesadaran itulah akhirnya Yayuk berhasil memejamkan mata dan mulai jatuh pulas ketika malam telah amat larut, memasuki hampir jam setengah tiga pagi. Tubuhnya terasa sangat penat, pegal, terutama di bagian-bagian yang sangat intim. Semuanya terasa memar dan memang terlihat banyak bekas cupangan serta gigitan gemas. Namun yang paling menyakitkan adalah selangkangannya karena begitu lama berusaha ditutupnya pada saat dipaksakan untuk menguak membentang, sendi pahanya jadi terasa bagaikan patah dan dilolosi tulang-tulangnya.
Esok harinya Yayuk jatuh sakit, badannya demam panas dingin, menggigil. Kepalanya terasa pusing melayang, perutnya bagaikan diaduk-aduk serta mual sehingga berkali-kali ia muntah. Rencananya untuk secepat mungkin meninggalkan tempat malapetaka itu kembali harus ditunda dan terpaksa dibatalkan. Makanan daerah Sunda yang biasa menjadi favoritnya sama sekali tak dapat ditelan, sehingga akhirnya hanya bubur hangat yang dapat sedikit menghilangkan rasa lapar dan berhasil dimakan tanpa dimuntahkan kembali.
Selama tiga hari Yayuk menderita demam -dan oleh karena itu tidak lagi mengalami pelecehan ulang yang sangat dibencinya itu- ia juga berharapan bahwa peristiwa yang dialaminya itu hanya terjadi sekali saja....
Sementara itu, tiga hari setelah peristiwa penggarapan anak dan adik tirinya, pak Dollah serta Ghazali duduk di ruang tamu penghulu desa bernama Ustadz Beduin. Beduin adalah penghulu desa Bojongan yang terletak sekitar 20 km terpisah dari desa kediaman pak Dollah. Kunjungan pak Dollah dan Ali adalah kunjungan yang terpaksa -karena seminggu lagi mereka harus membayar hutang mereka kepada Ustadz Beduin.
Kedatangan pak Dollah serta Ghazali ke Ustadz Beduin adalah kedatangan ketiga kalinya untuk negosiasi soal yang sama : soal hutang mereka kepada Ustadz yang sudah lama jatuh tempo waktu pembayarannya, namun karena Dollah maupun Ali tak mempunyai pekerjaan tetap dan selama krisis ekonomi semakin sukar untuk keduanya mencari nafkah, maka mereka tetap belum mampu membayar balik hutang mereka.
Hutang yang membebani pundak kedua lelaki pemerkosa Yayuk itu sebetulnya adalah salah mereka sendiri, karena awal mulanya akibat kegemaran mereka berjudi - yaitu judi yang dimulai hanya kecil-kecilan : tarungan ayam jantan. Dari soal adu ayam kemudian dilanjutkan dengan pelbagai jenis permainan kartu - hanya kecil-kecilan; saja. 
Namun apa yang dimulai dengan jumlah kecil akhirnya semakin bertambah, semakin bertumpuk, dan kedua pejantan kampung itu akhirnya ibarat masuk jebakan lumpur hisap, semakin lama semakin dalam terseret lingkaran setan. Istilahnya yang tepat adalah gali lubang tutup lubang, pinjam uang di satu tempat untuk membayar hutang di tempat lain, dan akhirnya mereka jatuh ke dalam cengkeraman Ustadz lintah darat yang rupanya memang mengincar rumah milik istri pak Dollah yang baru meninggal itu.
Pak Dollah tentu saja tak ingin kehilangan tempat meneduhnya , dan bagaikan pucuk dicinta ulam tiba maka pada saat ini ada kemungkinan lain untuk menghapus semua hutangnya kepada Ustadz Beduin yang sama seperti Dollah adalah kambing bandot tua rakus daun muda - kesempatan ini harus dipakai sebelum Yayuk balik ke kota!
Ustadz Beduin yang telah jemu dan bosan selalu dijanjikan pengembalian hutang oleh Dollah dan Ali sebenarnya tak mau lagi bertemu dan menerima kunjungan kedua penghutang itu. Namun ketika oleh Dollah diperlihatkan KTP anak perempuan tirinya yang sempat dicurinya dari dompet Yayuk, maka wajah Beduin yang sudah sangat kecut asam bagaikan cuka tahunan itu mulai berubah serta mengajak tamunya duduk.
"Begini, pak Ustadz, kita kan sama-sama sudah dewasa dan tahu bagaimana kesenangan masing-masing. Saya mempunyai usul yang pasti sukar untuk ditolak oleh pak Ustadz -dan jika usul saya diterima, maka saya akan membantu untuk melaksanakannya. Pasti pak Ustadz tak akan menyesal, karena apa yang akan dinikmati oleh pak Ustadz harganya sangat mahal. Pasti lebih dari cukup untuk sekaligus menghapuskan semua hutang kami," demikian pak Dollah mengajukan penawaran tanpa ada rasa malu sama sekali karena artinya menjual tubuh putrinya.
"Pak Ustadz kan baru kehilangan istri yang kedua karena sakit parah dan meninggal, kemudian istri ketiga kan baru diceraikan karena selingkuh, sedangkan istri pertama pasti sudah uzur, mungkin tak begitu memenuhi apa keinginan pak Ustadz yang segar bugar seperti anak muda ini," tambah Ghazali dengan siasat menjilat.
 "Kalau memang kalian bersedia untuk menyediakan dan mempersiapkan segalanya, maka mungkin semuanya nanti dapat diatur. Apakah cukup untuk menghapus hutang kalian yang begitu banyak, masih tanda tanya besar. Tergantung bagaimana pengalaman pertama," balas Ustadz Beduin yang memegang dan menatap foto Yayuk di KTP yang sedemikian cantik. Pikiran kotornya mulai membayangkan bagaimana geliatan perlawanan gadis kota yang akan menjadi bulan-bulanan permainan ranjang dan pelampiasan nafsunya ini.
Ketiga lelaki dengan niat tak senonoh itu merancang bahwa Yayuk tidak akan diberi kesempatan untuk kembali ke kota. Begitu keadaan tubuhnya pulih dari sakit demamnya, maka kesempatan itu tak boleh diabaikan dan langsung akan dijebak dan dijadikan gadis persembahan untuk membayar hutang.
Sementara itu hampir seminggu telah berlalu dan perlahan-lahan Yayuk mulai sembuh dari demamnya. Keinginan untuk makan minum juga telah hampir pulih sehingga ia memutuskan untuk kembali ke kota dan melupakan segala pengalaman pahit yang telah dialaminya disini. Yayuk berniat untuk kembali pada hari Jum'at setelah sarapan pagi dan untuk itu sebagai seorang terpelajar dan sopan santun, maka Yayuk telah memberitahukan hal ini pada ayah tirinya (dengan wajah tanpa mimik sedikitpun dan suara sangat dingin serta datar tanpa emosi) dua hari sebelumnya yaitu di hari Rabu pagi ketika makan siang.
Hal ini kembali merupakan kesalahan besar karena dengan demikian sang ayah tiri serta adik laki-laki tirinya yang sudah punya maksud jahat langsung dapat merancang jebakan yang akan dipasang. Mereka langsung memberitahu Ustadz Beduin bahwa sang kelinci sudah siap untuk dijadikan santapan dan direncanakan bahwa hari Kamis petang menjelang malam Jum'at tanggal 13 adalah waktu terbaik untuk melaksanakan jebakan itu.
Setelah makan tengah hari, Yayuk mulai membereskan dan memasukkan pakaiannya ke dalam koper. Sejak pagi hari Yayuk melihat ayah dan saudara lelaki tirinya pergi meninggalkan rumah entah kemana, dan ketika makan tengah hari, mereka tak pulang, padahal biasanya paling tidak salah seorang dari mereka akan pulang makan di rumah. Namun hal itu sama sekali tak meresahkan Yayuk, bahkan ia merasa gembira tak usah berhadapan muka atau bahkan duduk bersama satu meja dengan orang yang telah merenggut kegadisannya.
Menjelang masuk awal petang hari, cuaca mulai memburuk. Udara semakin mendung dan hujan lebat mulai turun disertai dengan kilat dan petir sambung-menyambung. Semuanya tak menjadi bahan perhatian Yayuk karena semua isi pikirannya hanya dipenuhi hasrat dan tujuan untuk kembali ke tempat kerjanya.
Tanpa disadarinya keadaan di luar menjadi semakin gelap akibat mendung dan hujan lebat -bagai ulangan peristiwa dimana hari naas ketika Yayuk kehilangan mahkota kegadisannya. Hanya bedanya kali ini lampu tetap menyala sehingga dengan penuh ketenangan Yayuk dapat melanjutkan membereskan kopernya, hingga esok hari ia dapat berangkat setelah sarapan.
Selesai merapihkan semuanya maka Yayuk merasa lebih tenang. Diambilnya buku novel yang dibawanya dan belum sempat dibaca habis akibat peristiwa yang dia alami, dan juga karena sakitnya beberapa hari ini. Dalam posisi setengah duduk terbaring di ranjang, ia mulai membaca. Novel karya pengarang terkenal itu dengan cepat membawanya ke alam hayalan, mengajak Yayuk agar melupakan duka nestapanya untuk sejenak.
Tanpa terasa satu jam telah berlalu, ditambah dengan udara sejuk bahkan agak dingin akibat hujan lebat, maka Yayuk mulai memejamkan matanya yang terasa berat. Tak lama kemudian tanpa terasa ia sudah semakin ngantuk, maka diletakkannya buku yang baru selesai dibacanya itu dan beberapa menit kemudian iapun jatuh tertidur...
Sebagaimana rumah-rumah di pedalaman, maka kamar tidur Yayuk juga tidak mempunyai lubang kunci. Derasnya hujan angin serta gemuruh guntur menyamarkan bunyi pintu kamar yang terbuka perlahan-lahan disertai intipan mata jalang Beduin yang entah kapan tiba.
Jakun Beduin turun naik dan matanya melotot wanita muda ayu cantik terbaring di ranjang dalam posisi menyamping dengan wajah menghadap pintu dimana Beduin sedang mengintip. Ustadz pejantan cabul yang usianya mendekati limapuluh itu semakin blingsatan dan nafasnya semakin memburu melihat betis dan paha Yayuk yang begitu putih dan mulus, tersingkap di bawah gamisnya.
Meskipun bagian atas tubuh Yayuk tertutup rapat dan rapi sebagaimana seorang gadis alim shalihah, namun semuanya tak dapat menyembunyikan tonjolan bukit kembar di dada Yayuk yang bergerak naik turun seirama dengan tarikan nafas halusnya yang sama sekali tidak terdengar.
Beduin merasakan alat kejantanannya langsung terbangun -apalagi disaat Yayuk tanpa sadar sedikit membalikkan tubuhnya telentang sehingga pahanya jadi agak membuka, memperlihatkan sebentuk selangkangan yang tertutup oleh celana dalam kecil berwarna putih. Dari jarak itu, Beduin tidak dapat melihat dengan jelas apakah di balik celana dalam itu kemaluan Yayuk bersembunyi di balik bulu lebat atau hanya sebagian tersembunyi di balik bulu halus...
Ali dan Dollah yang berada di belakang Beduin hanya memberikan sedikit dorongan di punggung Ustadz mesum itu sebagai tanda bahwa mangsa yang diincar telah sedemikian lengah terbaring dan siap untuk dinikmati. Keduanya telah sepakat bahwa Dollah akan membantu Beduin untuk merejang Yayuk agar tak sanggup berontak, sedangkan Ali baru akan menyusul ikut pertempuran jika diperlukan tenaganya. Ali mempunyai tugas lebih penting, yaitu mengambil semua adegan penjarahan Yayuk oleh pak Dollah dengan ponselnya, dan ini akan dijadikan bukti hingga tak dapat dipungkiri seandainya Beduin akan menyalahi janjinya dan tak bersedia menghapuskan hutang-hutang mereka sebagaimana ucapannya secara lisan.
Memang pada saat itu ibarat iblis sedang menguasai alam sekitar desa -hujan semakin deras mengguyur sehingga di dalam rumah pun suram gelap, menguntungkan manusia-manusia yang hendak berniat jahat. Juga bunyi limpahan air hujan di atap rumah menutup semua bunyi lain -termasuk bunyi engsel pintu kamar tidur Yayuk yang perlahan-lahan dibuka oleh Beduin, serta langkah ketiga lelaki jahanam yang kini telah berdiri di samping ranjang dan mengawasi si bidadari yang tertidur itu.
Ali mempersiapkan ponselnya dan berdiri di sebelah kanan ranjang, sementara Dollah berada di ujung bagian kepala ranjang. Ketika keduanya telah siap dalam posisi yang strategis itu, maka Beduin segera melepaskan baju, celana panjang serta kaos yang menutupi badan atasnya sehingga ia kini hanya memakai celana dalam saja.
Bagaikan seorang suami yang terpesona dengan kemolekan tubuh istrinya, maka Beduin dengan setengah merebahkan diri mulai mendekatkan mukanya yang bopéngan bekas cacar serta berhias kumis dan jenggot lebat bagai kambing gunung ke wajah Yayuk yang sedemikian cantik jelita. Lalu dengan rakusnya ia mulai menciumi bibir tipis Yayuk yang setengah terbuka.
Yayuk yang tengah terbuai di alam mimpi langsung terbangun begitu bibirnya direnggut dengan kasar oleh mulut dan lidah yang kini secara ganas dan kurang ajar serta beraroma tak sedap dan juga penuh air liur memuakkan berusaha menerobos masuk ke dalam rongga mulutnya. Yayuk dengan segera berusaha memberontak, namun Dollah yang berada di ujung ranjang langsung memegang dan merejang kedua pergelangan tangannya yang langsing lalu menekannya kuat-kuat ke kasur sehingga Yayuk jadi tak berdaya lagi untuk menepis tangan Beduin yang mulai meraba-raba bukit kembar di dadanya, apalagi untuk mencakar muka penjarahnya, tak ada kemungkinan sama sekali.
Meski begitu, Yayuk tetap melawan sekuat tenaga dan meronta-ronta. Ia tidak ingin menyerah dengan mudah. Namun tentu saja hal ini sia-sia karena tenaga Beduin yang seolah dirasuki setan terlalu kuat, apalagi dibantu oleh Dollah yang ikut merejang tangannya. Rontaan serta tendangan-tendangan kaki Yayuk hanya menyebabkan gaun tidur penutup tubuhnya kini semakin tersingkap, membuat betis dan pahanya yang begitu putih dan mulus jadi terpampang jelas.
"Mphfhh... sialaaan! Jahanaaam! S-siapa kamuu! Mpffhff... auowfhh... hhmmfh..." Yayuk berusaha memaki-maki lelaki yang sedang menciuminya, namun yang dilihatnya hanya mata jelalatan yang penuh nafsu.
Yayuk bahkan merasakan bahwa gaunnya telah tersibak seluruhnya ke atas dan hanya dalam waktu beberapa menit kemudian tangan Beduin yang meraba-raba gundukan dadanya dari luar gaun tidurnya dengan kasar merenggut telah bh berukuran 34B-nya hingga terlepas. Kini terbukalah kedua buah dada Yayuk yang sangat sekal dan padat dengan dihiasi dua puting coklat yang terlihat mencuat ke atas, nampak begitu menggemaskan bagi setiap lelaki yang melihatnya.
"Hmhh... wangi tenan nih tetek. Pasti penuh isinya, udah lama enggak ada yang nyusu. Abang punya sapi dan kambing, jadi ngerti banget gimana mesti keluarin susu perahan alam si néng. Abang isep dan gigit-gigit biar bisa keluar ya, udah pengen ngerasain susu gadis muda. Ssshh... uuuh... maniisnya!!" celoteh Ustadz Beduin yang seolah telah kerasukan sambil menghisap dan menggigit puting Yayuk, membuatnya jadi menggelinjang mati-matian.
Air mata mengalir kembali dengan derasnya membasahi pipi Yayuk karena peristiwa biadab beberapa hari lalu kini terulang kembali, bahkan sekarang yang menggarap tubuhnya adalah lelaki setengah baya yang sama sekali tidak dikenalnya.
Ketika melihat betapa eratnya kerjasama antara ketiga lelaki itu maka Yayuk menarik kesimpulan bahwa semuanya telah diatur oleh Dollah. Ayah tirinya itu sudah merancang pelecehan ini dengan seksama. Betapa Yayuk menyesali kebodohannya selama ini -segala macam sopan santun dan adat istiadat tidak ada maknanya bagi laki-laki itu. Dollah hanya mempunyai satu keinginan, yaitu menggarap tubuh montoknya habis-habisan. Dan sekarang menawarkannya kepada laki-laki lain.
 Sambil meremas-remas dan menggigiti puting susu Yayuk, dengan sigapnya Beduin telah menindih tubuh gadis itu dan gaun tidurnya juga telah dicabik-cabik sehingga tubuh montok Yayuk telah telanjang bulat di bawah tubuhnya.
Dollah yang dari tadi hanya memegangi, sedikit demi sedikit mulai tidak dapat menahan nafsunya melihat tubuh putri tirinya yang berada dalam cengkraman Ustadz Beduin yang terus menciumi dan menyedot-nyedot puting susu Yayuk yang telah tegang mencuat. Maka sambil tetap memegangi kedua pergelangan tangan Yayuk ke atas kepala, Dollah menunduk dan mulai menciumi pipi dan bibir Yayuk yang setengah merekah.
“Huekhg!” Yayuk merasa sangat jijik dan mual karena bau mulut Dollah yang tak pernah menyikat giginya, sehingga mulut itu selalu beraroma asam tak menyenangkan.
Ali yang mengambil semua adegan penjarahan itu dengan ponselnya ikut merasa si adik di balik celana mulai terbangun, apalagi melihat geliatan tubuh Yayuk yang putih mulus tanpa daya ketika Beduin mulai merosotkan badannya dan menciumi pusar Yayuk yang melekuk indah di perutnya yang datar.
Kumis jenggot si Ustadz cabul menggelitik perut Yayuk, membuatnya jadi kegelian dan semakin menendang-nendang dengan kaki jenjangnya yang diusahakannya agar selalu terkatup rapat. Namun apalah daya Yayuk karena si Ustadz jahanam itu telah sempurna menempatkan diri di tengah kedua kaki si gadis cantik yang kini dipaksa melebar.
Mata Beduin bagaikan akan meloncat keluar ketika melihat betapa indahnya pemandangan yang terpampang di hadapannya. Diantara kedua paha putih mulus Yayuk terlihat selangkangannya yang membukit dengan belahan amat licin tanpa bulu. Tepat di bagian tengahnya tampak celah kenikmatan Yayuk yang menekuk ke dalam, menyembunyikan rongganya yang sangat mungil dan sempit milik seorang gadis alim.
Ustadz Beduin merasakan kemaluannya memberontak mengangguk-angguk karena tak sabar lagi ingin membelah lipatan hangat itu dan menerobos masuk untuk menyemburkan benihnya ke rahim yang masih jarang ditaburi oleh air mazi lelaki, terkecuali dalam peristiwa perkosaan beberapa hari lalu oleh ayah tirinya.
Yayuk menyadari kedudukannya yang sangat lemah dan tak akan bisa lolos dari bencana pelecehan kedua kalinya, dan harapannya kini hanyalah agar semuanya cepat berlalu dan ia akan meninggalkan desa kelahirannya untuk selama-lamanya. Karena itu dibiarkannya mulutnya dilumat habis-habisan oleh ayah tirinya, diusahakannya sedapat mungkin menahan nafas melalui hidung dan hanya menarik udara dari mulut saja. Dengan demikian tak begitu banyak aroma amat memuakkan dari mulut Dollah yang harus diciumnya. Selain itu ditutupnya matanya rapat-rapat karena Yayuk tidak ingin melihat wajah para pemerkosanya, terutama Ustadz Beduin yang sama sekali tidak ia kenal sebelumnya.
Namun Ustadz cabul itu bukan anak kemarin sore yang dapat begitu saja dipuaskan nafsunya. Yayuk harus merasakan bahwa yang kali ini akan menggagahinya bukan lelaki sembarangan, melainkan seorang pemimpin di kampung yang cukup disegani karena mempunyai senjata; yang jarang dimiliki oleh lelaki lain. Selain itu, dia mempunyai kondisi tubuh dan stamina yang sangat tangguh, melebihi kesanggupan lelaki desa yang jauh lebih muda darinya.
Menikmati tubuh wanita yang digagahinya namun memejamkan mata tak mau melihat wajah sang pemerkosa bukanlah sesuatu yang dapat memuaskan Ustadz Beduin. Tak ada kepuasan lebih tinggi jika ia dapat mengawasi dan menatap wajah wanita yang semula menolak mentah-mentah namun akhirnya dapat dikalahkan. Terutama wajah ayu cantik berlinang air mata yang memohon belas kasihan dan mendengarkan ratapan minta ampun karena tak tahan dan tak sanggup lagi melayani kegagahan dan kejantanannya.
Hal ini juga harus dialami oleh Yayuk yang kini telah berada di dalam genggaman dan cengkramannya gadis itu harus ditaklukkannya hingga bersedia melayani semua keinginan nafsu birahinya dengan senang hati, betapapun menjijikkan dan merendahkan diri bagi yang sedang diperkosa.
Untuk mencapai tujuan itu maka tubuh sintal Yayuk harus dipermainkan serta dirangsang sehingga mendekati titik didih birahi kewanitannya, sampai gadis itu jadi tidak sanggup lagi menahan diri serta rasa malunya untuk minta dipuaskan perlahan sirna, barulah saat itu Beduin akan menikmati kehangatan firdausi yang telah diidam-idamkannya sejak lama.
 Beduin memberikan tanda kepada Ali agar memegangi pergelangan kaki kiri Yayuk dan menariknya selebar serta sejauh mungkin ke samping, sementara ia sendiri memegang pergelangan kaki kanan Yayuk dan mulailah jari-jari Yayuk yang kecil mungil itu dimasukkan ke dalam mulutnya, lalu dihisap-hisap dan dijilatinya, terutama di celah-celah diantara jari kaki yang begitu peka.
Tentu saja Yayuk langsung menggelinjang dan menggeliat-geliat tak karuan karena menghadapi serangan yang sama sekali tak diduganya ini. Belum pernah ada yang melakukan hal seperti ini kepadanya. Kumis dan jenggot pendek Beduin bagaikan sikat mengesek-gesek telapak kakinya, menggelitik celah jarinya yang secara bergantian dihisap-hisap pula.
"Lepaas! Lepaskan aku! Mau diapaain?! Gelii...!! Aiih... aah... oooh... hhhh... enggak mau! Lepaskan! U-udah! Gelii... sialan semuaanya! Kalian bangsat! Lepaas! Ohmmph..." Yayuk meliuk-liukkan tubuhnya yang telanjang, yang tanpa sadar malah semakin memacu nafsu birahi si Ustadz cabul.
Kini jari-jari tangan ustadz Beduin yang berkuku panjang mulai mengusap-usap lembah kemaluan Yayuk. Dibelahnya celah yang tertutup bibir kemaluan itu, dicarinya sebutir daging yang tersembunyi disitu, lalu dicubit dan dipilin-pilinnya pelan.
Bagai terkena aliran listrik, tubuh Yayuk langsung menggelepar dan mengejang sambil menendang-nendang tak berdaya karena kedua pergelangan kakinya dicekal erat. Beduin melakukan aksinya berganti-ganti; kaki kanan, kaki kiri, kembali ke kaki kanan, sementara tangan satunya tetap merangsang celah kewanitaan Yayuk yang semakin lama menjadi semakin lembab. Semuanya tak sanggup lagi ditahan oleh tubuh Yayuk sebagaimana wanita muda yang membutuhkan belaian dan kemesraan lawan jenisnya, tak perduli apakah rangsangan itu berdasarkan kasih sayang atau dipaksakan.
"Udah! Aah... auw! Aihh... ohh... emhh... sshh... aughh!!" jeritan Yayuk melengking memenuhi seluruh ruangan ketika badannya melengkung ke atas menandakan tercapainya orgasme pertama, sementara dihadapan matanya meledak jutaan bintang bagaikan kunang-kunang di malam gelap gulita.
Beduin kembali memberikan aba-aba kepada Ali agar melepaskan cengkeramannya di pergelangan kaki Yayuk, lalu digeser dan didorongnya sebuah bantal di bawah pinggul Yayuk, kemudian diletakkannya kedua lutut Yayuk di atas pundaknya. Dengan demikian terbukalah selangkangan Yayuk secara optimal.
Celah memeknya yang terlihat licin mengkilat dibasahi oleh cairan lendir kewanitaan akibat orgasmenya, kini terkuaklah melebar dihadapan rudal Beduin yang bagaikan pentungan bertopi baja. Satu dua tetes air mazi telah mulai keluar dari saluran kencing Yayuk pada saat Beduin meletakkan kepala penis kebanggaannya itu di gerbang kenikmatan si gadis kota.
Tapi Beduin tidak buru-buru untuk melakukannya. Ia ingin menyaksikan bagaimana wajah keputus-asaan Yayuk saat gairah birahinya terus menerus dipacu. Secara sangat sadis Beduin kembali mengusap-usap dan memilin-milin klitoris Yayuk dengan jari tengah dan ibu jarinya secara ritmis namun tanpa henti. Akibatnya, Yayuk yang masih lemas sehabis mencapai puncak orgasmenya dan agak lega memperoleh kesempatan sebentar untuk melepaskan lelah di tebing gunung, mendadak dipaksakan untuk mendaki kembali naik ke gunung guna mencapai puncak orgasme berikutnya.
"Hehehe... gimana, Neng, enak tenan ya? Hmm... ini biji pentil ngumpet melulu, bapak pijit-pijit ya biar gedean dikit dan gampang digaruk-garuk... hehehe, lha tuh nongol lagi. Kelihatan mulai merah, bikin bapak jadi nafsu aja. Ntar dicup-cup dan digigit-gigit mau ya, Neng... tapi sekarang bapak mau kasih bibit unggul dulu ke Eneng, hehehe..." Beduin cengengesan dan tersenyum lebar penuh kemesuman ketika melihat mangsanya tak berdaya.
Yayuk hanya dapat menatap Beduin dengan mata yang sayu dan kuyu, tenaganya hampir habis terkuras, namun sang pemerkosa baru akan memulai dengan penjarahannya.
Tanpa rasa jijik sedikitpun, Beduin mulai menjilati tebing bukit kemaluan Yayuk. Lidahnya bagaikan ular, menyelinap memasuki celah kenikmatan yang telah mulai licin oleh ludah dan lendir kewanitaan itu. Sambil menjilat bagian dalam vagina Yayuk, ibu jari dan telunjuk tangan kiri Beduin tak henti-hentinya mengusap dan memilin-milin kelentit kesayangannya. Kemudian tanpa peringatan apapun, Beduin menusuk masuk lubang dubur Yayuk dengan jari tengah kanannya!! 
"Aaah... a-aduh! Jangan! Toloong! Enggak mau! Aihh... a-ampun! Haraam, Pak! Jangaan! Kasihani saya, Pak! Ngiluu... auw!!" Yayuk melolong menjerit-jerit bagaikan hewan akan disembelih. Tubuhnya kembali menggeliat-geliat dan meronta, berusaha menggeser ke kiri dan ke kanan menghindari perbuatan maksiat yang sedang dilakukan oleh Ustadz cabul itu.
"Geli ngilu ya, Neng?! Ntar juga biasa... percuma ngelawan, Neng, mendingan nyerah dan nikmati aja. Sekarang masih belon biasa, tapi ditanggung sebentar ketagihan minta nambah! Hmmh... makin dijilat semakin wangi nih memek! Wuih, juga makin gede dan merah aja nih itil. Udah nggak malu lagi rupanya, hehehe..." Semakin semangat dan bernafsu Beduin merangsang semua tempat peka di selangkangan Yayuk.
Ustadz cabul itu memutuskan untuk sekali lagi memaksa Yayuk mengalami orgasme dengan cara rangsangan oral -oleh karena itu kembali dijilat-jilat dan digigit-gigitnya bibir dan dinding kemaluan Yayuk, lalu digesek-gesekkannya kumis pendeknya yang bagaikan sikat ijuk itu menusuk kelentit Yayuk.
 Tak tahu harus melakukan perlawanan apa lagi, Yayuk hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan serta memukul-mukulkan tumit kakinya ke punggung Beduin. Namun semuanya tak ada guna sama sekali, kelentitnya yang sedemikian peka terus disiksa habis-habisan. Ibarat disentuh dengan kawat beraliran listrik, maka klitoris Yayuk menyalurkan rangsangan tiada hentinya ke seluruh tubuh indah gadis itu yang semakin meliuk dan menggelepar-gelepar. Arus rangsangan itu juga memasuki seluruh permukaan syaraf di kepala dan otak Yayuk. Dan terus menerus menyerang tak kenal lelah hingga...
"Aaahh... auw!! Pak, a-ampuun! Ayuk mesti ke belakang, mesti ke belakaang! Aoohh... lepaskan! Ayuk mesti ke belakang! Aiihh..." Yayuk melolong disertai ketegangan, badannya kaku melenting ke atas memberikan tanda tercapainya lagi orgasme untuk yang ke sekian kalinya.
"Hehehe, si neng enggak usah kebelakang... ini namanya pipis air mazi, Neng. Iya, pinter gitu... pipis terus enggak apa-apa, malahan jadi makin licin nih terowongan. Bapak mau masuk, jangan ngelawan atau berontak segala. Ikutin aja semua kemauan bapak, ntar pasti ketagihan... Mau dibikinin anak enggak, Neng?! Nah, bapak mulai permisi masuk ya," sambil berceloteh Beduin menekan kepala penisnya yang besar dengan batang kemaluan hitam penuh urat melingkar-lingkar dan agak bengkok itu ke tengah celah kewanitaan Yayuk. Perlahan-lahan ia mendorong hingga mulai masuk sedikit, lalu ditekannya lagi dengan lebih kuat.
"Tahan dikit ya, Neng... pasti ngilu dijebol barang pusaka bapak! Nih bapak tekan dan puter-puter dikit ya kaya buka peles botol... kalo sakit bilang ya, Neng, bapak sayang si neng geulis! Ooh... sempitnya!!" ujar Ustadz Beduin mulai menodai Yayuk yang telah tak berdaya di bawah kekuasaannya itu.
Yayuk merasakan perutnya menegang dan mengejang karena secara tak sadar hati nuraninya tetap menolak. Otot-otot vaginanya mengerut berkontraksi seolah berusaha menahan serangan batang besar dan panjang di liang kemaluannya. Dia mengeluh dan mendesis tak karuan ketika merasakan desakan kepala penis Beduin yang menyelinap ke liang kenikmatannya. Ketika akhirnya kepala penis itu berhasil bertahta di tengah jepitan vaginanya, maka pandangan Yayuk jadi semakin nanar. Butir-butir keringat semakin nyata mengalir di atas dahinya.
Tanpa rasa belas kasihan lagi kini Beduin menyekal keras kedua pergelangan kaki Yayuk yang langsing dan mengangkangkan paha belalang idaman setiap pria itu selebar mungkin sehingga Yayuk jadi menjerit-jerit kesakitan. Dan jeritan itu semakin memilukan, semakin menimbulkan rasa iba ketika penis Beduin membelah lipatan kewanitaan Yayuk mili demi mili meski si empunya tetap tak rela menerima perkosaan yang tak mungkin dielakkan lagi itu.
"Ya Allah... tolong! Sialan semuanya! Bangs...mmpffh!!" teriakan Yayuk terhenti dan terbungkam karena mulutnya disergap dengan penuh kerakusan oleh Beduin.
Perkosaan yang dialami Yayuk oleh ayah tirinya beberapa hari lalu cukup menyakitkan memeknya, namun apa yang kini dialaminya melebihi beberapa kali penderitaannya. Liang kewanitaannya jadi terasa sangat panas, perih, ngilu dan seolah-olah dibelah oleh kayu kasti yang ketika masih remaja sering dimainkannya di sekolah menengah.
Penis Beduin bukan hanya lebih panjang dan lebar daripada penis ayah tirinya, namun juga agak membengkok ke atas sehingga proses pemasukannya menjadi jauh lebih sulit. Untuk itu Beduin secara sangat perlahan melakukan tarik-dorong dengan disertai mengubah-ngubah arah tusukannya karena ia memang sudah berpengalaman dalam menjarah pelbagai perempuan. Dengan cara tarik-dorong ini maka dinding-dinding kewanitaan Yayuk yang memang masih sangat sempit untuk ukuran penis Beduin, jadi seolah-olah ikut ditarik keluar-masuk. Namun meski telah basah oleh lendir air mazinya, Yayuk tetap saja merasakan perih dan ngilu yang teramat sangat hingga menyebabkannya terus melenguh dan merintih keras, disertai mengalirnya air mata di pipi gadis cantik itu.
"Tenang, Neng... shhh... jangan ngelawan! Pasrah aja! Emang sekarang sakit, tapi itu biasa, Neng... jangan sedih-sedih dong, kan lagi dikasih kenikmatan! Semua perempuan emang nangis kalo ngelayani abang, tapi sebentar lagi pengen minta tambah," Beduin memberikan tanda kepada kedua lelaki lainnya untuk melepaskan bantuan mereka, dan kini Beduin sendiri yang merejang kedua pergelangan tangan Yayuk di atas kepalanya.
Tarik dorong, maju mundur, serong ke kiri, putar ke kanan, sekali-kali perlahan, lalu berubah menjadi cepat, ganti lagi ritme bagaikan penari dangdut yang sedang goyang pinggul. Semuanya dipraktekkan oleh Ustadz cabul ini. Gerakan-gerakan itu sangat memberikan kenikmatan baginya, namun bagi Yayuk adalah siksaan sakit tanpa henti.
Beduin menatap dengan penuh kepuasan perawat cantik yang tengah dikuasainya itu. Dilihatnya wajah demikian ayu manis di bawah tindihannya yang terlihat lelah kehabisan tenaga. Mata yang biasanya amat jeli bersinar kini telah kuyu hampir tertutup dan basah pelupuknya. Hidung mancung bangir dengan dua lubang sangat mungil kembang-kempis mengiring isak tangis yang tersedu-sedu. Mulut yang dihiasi dua bibir merah basah setengah terbuka membuat Beduin tak henti-henti melumatnya.
Yayuk hanya sanggup mendesah, mengeluh, merintih dan menjerit tanpa sadar pada saat Beduin memasukkan penisnya dengan kasar dan sadis hingga menghantam mulut rahimnya. Sesaat kemudian diubah lagi gerakan-gerakan itu seolah sedang menggoda dan memancing reaksi Yayuk untuk mengeluarkan naluri birahi kewanitaannya. Betapapun Yayuk berusaha melawan semuanya, namun tetap tak mampu menandingi kehebatan siasat Beduin. Perlahan-lahan rasa ngilu dan sakit tak terkira mulai bercampur dengan gejolak dan gelora lain. Seperti seolah-olah ada semut dan ulat bulu yang sedang merayapi dinding-dinding celah kewanitaannya, perih dan ngilu bercampur baur dengan rasa gatal.
"Hehehe... gimana, Neng, mulai nyaman kan? Bener kan yang abang bilang... semuanya jadi enak dan anget sekarang. Neng jadinya kegatelan dan geregetan enggak pengen ngelepasin nih lembing pusaka... iyah, gitu, pinter banget remesan memek, Neng! Duh, emak! Ngurut mijit-mijit, ini bener-bener faradj houri firdaus!!" Beduin merem melek merasakan kedut-kedut serta denyutan ringan dinding vagina korban perkosaannya dan komentarnya itu diiringi dengan cemoohan dan gelak tawa Dollah serta Ali, menyebabkan Yayuk jadi semakin merah pipinya.
Tak cukup dengan mengalami dua kali perkosaan yang menyakitkan hati, Yayuk sebagai perempuan alim kini harus mengalahkan sudut gelap tersembunyi dari tubuhnya yang tak ingin diakuinya ternyata mendambakan elusan laki-laki. Sebagai wanita dewasa normal, Yayuk tentu saja sekali-kali memimpikan kemesraan badani suami istri dengan lawan jenis, namun tak pernah dibayangkannya bahwa tubuhnya yang penuh hormon kewanitaan ini ternyata ’membalas’ keganasan seorang lelaki tua, seorang yang lebih pantas menjadi ayahnya, namun mempunyai potensi kejantanan hebat.
Mengetahui bahwa korbannya telah berhasil ditaklukkan, maka Beduin kini bersiap menuaikan benih laki-lakinya ke dalam rahim Yayuk. Dimulailah genjotannya yang bertubi-tubi bagaikan gempuran mesin bor listrik. Sukarlah dihitung berapa banyak gempuran batang kelamin Beduin menghantam rahim Yayuk setiap menitnya, hanya dengusan nafas sang Ustadz cabul yang bagai kuda pacuan disertai rintihan Yayuk yang semakin lama menjadi semakin meninggi nadanya memberikan tanda bahwa keduanya sedang berlomba-lomba menuju puncak kepuasan.
"Ssshh... aaahh... aaiihh... ooohh... eegnhh..." keluhan dan rintihan Yayuk bersilih ganti dengan, "Ayo, Neng... ngaku nggak sekarang kalo jadi budak abang?! Ayo ngaku cepetan! Mau diterusan jadi budak abang, apa minta dipuasin siang malem? Ngaku aja... aaah... oooh... mau kan dibikinin anak sama abang? Ayo ngaku, nggak usah malu. Semua perempuan sama aja, ayo ngaku!!" Beduin bagaikan kemasukan setan terus menggenjot tubuh sintal Yayuk seperti seolah-olah ingin menusuk ulu hatinya, bukan rahimnya.
"Enghh... u-udah! Udah dong... aihh... emmh... oooh... nikm-aaah! Sshh... a-ampun, Bang! Nggak kuat lagi, iiih... nikmatnya! Aahh..." jerit Yayuk bagai disembelih saat mencapai orgasmenya lagi disertai kucuran peluh membasahi tubuhnya yang telanjang.
Disaat bersamaan, Beduin menyemburkan spermanya membanjiri rongga dalam vagina mangsanya, sambil  mulutnya berganti-ganti melumat bibir tipis Yayuk, lalu turun ke leher kiri dan kanan, kemudian ke ketiak, dan terus menuju ke puting buah dada si perawat yang mencuat menggemaskan. Beduin mengigit-gigitnya lembut hingga membuat Yayuk jadi kembali mendesah-desah.
Tubuh gadis itu terlihat lemas dan tergolek bagaikan tak sadarkan diri, sementara Beduin perlahan-lahan menarik keluar penisnya dari vagina Yayuk, yang anehnya... penis itu tetap gagah mengacung bagaikan sedia kala ketika belum mengalami orgasme dan ejakulasi sama sekali! Inilah kehebatan dari stamina Beduin yang ditakuti hampir semua wanita-wanita di desa.
Beduin tertawa penuh kebanggaan dan kini merebahkan dirinya dengan batang kejantanan masih mengacung ke atas. Diberikannya tanda kepada Dollah dan Ali agar mengangkat tubuh montok Yayuk yang telah lemas lunglai bagaikan hampir pingsan itu, rupanya ia ingin melanjutkan persetubuhan dalam posisi woman on top. Jadilah Ali dan Dollah harus mengangkat dan menurunkan perlahan-lahan tubuh Yayuk yang ditelungkupkan. Keduanya mengerti dan menuruti maksud si Ustadz cabul meski tak mudah untuk memenuhinya. Dengan vagina diarahkan ke batang kemaluan Beduin yang gagah perkasa bagai tonggak bambu, mereka mempersilahkan Beduin yang masih penuh dengan nafsu birahi untuk melanjutkan menggagahi Yayuk.
Sekali, dua kali, tiga, empat kali meleset, barulah pada kesempatan kelima, Dollah dan Ali berhasil menempatkan gerbang kewanitaan Yayuk di kepala penis Beduin yang berbentuk topi baja serdadu itu. Pelan-pelan... pelan-pelan... turun... dan...
"Aduh! Yaa gusti... auw! J-jangan lagi, oohh... saya nyerah, Bang! Ampun... aiihh... shh... udah! Hentikan! A-ampun, Bang!" Yayuk kembali menjerit-jerit ketika merasakan vaginanya ditusuk dari bawah. Tubuhnya menggeliat meronta-ronta, tapi langsung dipeluk sekuat tenaga oleh Baduin dan laki-laki itu mencaplok bergantian buah dada Yayuk yang menggantung indah dan dihisap-hisapnya rakus secara bergantian.
 Sementara Yayuk merasakan perih yang amat sangat, setiap genjotan penis Ustadz Beduin pada liang vaginanya membuatnya tersentak dan mengeluarkan desahan penuh kepiluan..
Hebatnya meskipun sudah sangat tua, tapi kemampuan Ustadz Beduin dalam melakukan persetubuhan ternyata sangat hebat. Mungkin sebelumnya dia sudah meminum ramuan khusus sehingga membuatnya jadi bisa bertahan lama. Hampir lima belas menit Ustadz Beduin menggenjot tubuh sintal Yayuk, tapi belum ada tanda-tanda kalau dia akan segera selesai.
Malah Yayuk yang tadinya lemas perlahan mulai terangsang, ia mulai melenguh dan mendesah-desah merasakan sensasi tusukan Ustadz Beduin yang bertubi-tubi. Genjotan laki-laki tua itu perlahan menaikkannya kembali, dan membuatnya siap meledak setiap saat. Benar juga, beberapa menit kemudian, tubuhnya kembali mengejang dengan tangan menggenggam jari-jari Ustadz Beduin dan menekannya dengan sangat kuat.
"Ohh... ahh...!! Yayuk mengerang keras, wajahnya merah padam karena terbalut nafsu birahi. Tubuh montoknya mengejang dan bergetar sangat kuat seolah akan melemparkan Ustadz Beduin yang masih asyik menggoyangnya. Sekali lagi dia mengalami orgasme.
Ustadz Beduin berusaha menahan agar tidak buru-buru ejakulasi, dia menghentikan gerakannya dan membiarkan Yayuk bergerak liar. Seluruh tubuh Ustadz Beduin juga menegang, bedanya: Ustadz Beduin sedang berusaha menahan ejakulasi agar spermanya tidak buru-buru muntah keluar.
Ustadz Beduin pelan-pelan merasakan tubuh Yayuk kembali melemas, segera dia mendekap tubuh mulus itu dan kembali melanjutkan genjotannya. Kali ini gerakannya menjadi lebih cepat dari sebelumnya, bahkan cenderung kasar. Ini karena memek Yayuk yang berubah menjadi sangat basah setelah tersiram cairan orgasmenya.
Yayuk merasakan tubuhnya sampai terbanting-banting menahan hentakan demi hentakan pada bagian bawah tubuhnya. Erangan-erangannya perlahan kembali mengeras, dengan badan dan kepala ikut bergoyang-goyang tidak beraturan menahan nikmat di dalam liang vaginanya.
Beberapa kali bibir Yayuk yang tipis dikulum dengan lembut oleh Ustadz Beduin, seolah dilekatkan oleh lem yang sangat kuat. Mata Yayuk sudah sangat sayu dan merem melek menerima kenikmatan yang rasanya tiada berakhir tersebut. Badannya bergoyang erotis mengikuti setiap genjotan penis Ustadz Beduin. Terlihat sekali Yayuk sedang menikmati permainan tersebut meski sudah sekuat tenaga berusaha untuk melawan. Ia sudah sepenuhnya dikuasai oleh nafsu birahi yang kian lama menjadi kian memuncak.
Yayuk menggelinjang liar dan erotis, tubuhnya dibiarkan mengikuti apa mau laki-laki tua yang sedang menyetubuhinya itu. Desahan dan erangannya makin liar dan meracau. Namun sekali ini Ustadz Beduin yang sudah sangat berpengalaman tidak membiarkan Yayuk untuk mencapai orgasmenya.
"Ampun! Eghh..." erang Yayuk keras mengharap klimaks. Namun harapan tinggallah harapan, karena Ustadz Beduin masih ingin mempermainkannya dalam waktu lama. Tubuh Yayuk sampai mengejang-ngejang setiap kali gagal menggapai orgasmenya.
Baru setelah lebih dari satu jam, Ustadz Beduin melepaskan gadis cantik itu. Seketika orgasme Yayuk meledak dengan begitu dahsyatnya, membuat tubuh Yayuk sampai melengkung dan terangkat-angkat. Kakinya menyepak-nyepak ke segala arah dengan erangan begitu keras meluncur dari bibirnya yang tipis memerah.
"Aahh... oohh...!!" Yayuk menumpahkan segenap tenaganya saat orgasmenya meledak, seolah menghancurkan tubuhnya dari dalam. Vaginanya sedemikian kuat mencengkeram penis Ustadz Beduin, membuatnya jadi seperti dibetot oleh tangan yang tidak terlihat.
Ustadz Beduin akhirnya tidak tahan lagi. Dengan satu dorongan keras, dilesakkannya penisnya dalam-dalam ke liang vagina Yayuk. "Ahhgh..." laki-laki itu mengejang tertahan ketika spermanya menyembur membanjiri lorong rahim Yayuk.
Setelah itu keduanya sama-sama lemas dan saling berbaring bertumpuk. Yayuk membiarkan saja Ustadz Beduin memeluknya. Laki-laki itu untuk terakhir kalinya meresapi kehangatan tubuh montok Yayuk dengan mengelusnya lembut sambil sesekali menciumi bibir tipis Yayuk yang masih mendesah-desah pelan.
Setelah Ustadz Beduin selesai melepaskan hasrat seksualnya, sekarang giliran Dollah yang akan menyetubuhi Yayuk. Laki-laki yang telah telanjang bulat itu lalu menarik pinggang Yayuk dan membalikkan tubuhnya sehingga posisi anak tirinya itu jadi sedikit menungging. Kemudian tanpa menunggu lama, Dollah mulai melesakkan penisnya ke dalam vagina Yayuk yang masih belepotan sperma ustadz Beduin dan menggenjotnya dengan sangat kuat.
Dollah sudah terangsang menyaksikan adegan persetubuhan Yayuk dengan Ustadz Beduin. Ia merasa tidak perlu lagi melakukan pemanasan, bahkan gerakan penisnya pada vagina Yayuk semakin lama menjadi semakin kasar sehingga membuat Yayuk jadi menjerit-jerit dan melolong-lolong histeris. Batang kemaluan Dollah yang berukuran besar bagaikan mengaduk-aduk liang vaginanya yang masih belum sepenuhnya siap.
Tidak puas dengan gaya anjing, Dollah membimbing Yayuk untuk melakukan gaya lain. Kini dia duduk di atas ranjang, sementara Yayuk di atas pangkuannya dengan paha mengangkang dan saling berhadapan. Dalam posisi seperti itu, buah dada Yayuk jadi tampak sangat menggairahkan. Apalagi dengan tubuhnya yang ramping, tampak buah dada Yayuk menggantung indah, padat dan sekal berisi.
Sambil menyetubuhi Yayuk, Dollah segera meraih dan meremas-remasnya dengan sangat bernafsu. Kadang ia mendempetkan kedua buah dada Yayuk lekat-lekat sehingga kedua putingnya jadi menempel satu sama lain, terlihat begitu indah dan sangat merangsang sekali. Sementara Yayuk hanya dapat merintih-rintih dalam keadaan antara sadar dan tidak.
Terus memompa, Dollah tertawa-tawa dengan disaksikan oleh Ali yang sudah tidak sabar menanti giliran. Sesekali Dollah juga mengulum bibir tipis Yayuk dengan gemas seolah ingin menggigitnya. Yayuk benar-benar tidak berdaya, dia hanya mengikuti naluri seksualnya tanpa mempedulikan apapun lagi. Itulah kenapa ketika ayah tirinya berhenti memompa, secara refleks Yayuk melenguh dan mulai menggerak-gerakkan pantatnya sendiri agar tetap dikocok oleh kemaluan Dollah yang terasa sangat sesak di liang vaginanya.
"Ehh... kamu seneng ngentot juga rupanya," Dollah tertawa mengejek di tengah lenguhannya. Dia memeluk tubuh gadis itu dan mengelus-ngelus punggungnya, sementara buah dada Yayuk yang kenyal terjepit di antara tubuh mereka.
Mendengar perkataan itu, wajah Yayuk kontan memerah karena malu dan marah, lalu tubuhnya diam tak bereaksi. Tapi Dollah tidak tinggal diam, dia kembali merangsang Yayuk agar tetap berada dalam kendalinya. Ia mencengkeram kuat-kuat kedua buah dada gadis itu, lalu dengan gemas diremas-remasnya keras hingga membuat Yayuk jadi merintih-rintih antara sakit dan nikmat.
Dollah juga semakin ganas memperkosa Yayuk, hingga selang beberapa saat tampak tubuh Yayuk berkelojotan dan menegang, kedua kakinya mengacung lurus dengan otot paha dan betisnya mengejang. Jari-jarinya menutup dan nafas Yayuk terdengar sangat tak teratur diantara rintihannya yang keras dan panjang.
Ooohh... " Setelah menggelinjang sesaat, tubuh gadis itupun tumbang lemas di pelukan Dollah yang masih terus memompa sambil tertawa-tawa gembira.
"Gimana rasanya, Neng? Enak nggak? Jangan diem aja, ngomong dong!" kata Dollah sambil terus menyodok-nyodokkan penisnya di vagina sempit Yayuk.
Yayuk hanya terdiam sambil membiarkan kedua putingnya dijilat dan digigit-gigit kecil oleh sang ayah tiri. Sampai setengah jam kemudian, Dollah masih menyetubuhinya. Baru setelah Yayuk orgasme untuk yang kelima kalinya, laki-laki itu melenguh dan menyemburkan spermanya ke dalam rahim si gadis kota.
Giliran ketiga adalah Ali. Saudara tiri Yayuk itu sudah sedari tadi bertelanjang bulat sambil mengocok-ngocok penisnya sendiri. Begitu tiba gilirannya, segera ia menarik tubuh mulus Yayuk yang masih terbaring lemah dan memaksanya untuk menegakkan badan. Kemudian dia menyodorkan penisnya ke wajah cantik Yayuk.
"Ayo, isep punyaku!" katanya sambil menyorongkan penis.
Namun Yayuk hanya diam saja, tubuhnya masih belum sepenuhnya pulih dari orgasme. Dia hanya menurut saja ketika Ali membimbingnya untuk melingkarkan jari-jari tangannya yang lentik ke penis pemuda hitam itu. Kemudian dengan gerakan lembut, Yayuk mulai mengocoknya naik turun. Semula gerakannya pelan, tapi lama lama menjadi semakin cepat.
Ali yang merasakan sensasi nikmat langsung melenguh lirih, "Ohh... emhh... terus! Kocokan kamu memang mantap... ahh!" Dia mulai mengerang-erang menikmati permainan jari lentik Yayuk pada batang penisnya.
"Kocokan gadis kota memang beda..." kata Ustadz Beduin sambil membelai-belai rambut panjang Yayuk, tampaknya ia sudah mulai pulih dari masa klimaksnya. “Begitu juga dengan tubuhnya!”
Perlahan tangan Ustadz Beduin menyusur turun menyentuh payudara Yayuk dan mulai meremasinya dengan penuh nafsu. Sentuhan dan remasan tangan laki-laki itu pada payudaranya membuat Yayuk jadi kembali terangsang, dia semakin bersemangat mengocok-ngocok penis besar dan hitam milik Ali.
"Sekarang masukin ke mulut." perintah Ali.
Yayuk yang sudah mulai terbangkitkan kembali gairahnya jadi tidak malu-malu lagi. Diapun langsung memasukkan penis Ali ke dalam mulutnya. Ali mendesah merasakan kehangatan mulut Yayuk, sentuhan lidahnya memberi sensasi nikmat padanya.
"Eeghh... aah... aah!" terdengar desahan Ali saat penisnya dikenyot-kenyot oleh Yayuk. Sesekali Yayuk mengeluarkan penis itu untuk dikocoknya pelan, ia menarik nafas, setelah itu dikulumnya lagi. Penis Ali jadi semakin mengeras dan berkedut-kedut di dalam mulutnya.
Melihat itu, Ustadz Beduin yang rupanya sudah tak tahan dengan sigap berlutut di belakang punggung Yayuk. "Sini aku bantuin," ujarnya sambil menarik tubuh Yayuk dan membaringkannya telentang di ranjang. Dia membuka kaki gadis itu lebar-lebar dan kemudian langsung menindihnya sambil mengarahkan penisnya yang kembali membesar ke vagina sempit Yayuk.
"Aghh..." erang Yayuk ketika penis besar Ustadz Beduin mulai memasuki liang vaginanya.
Ustadz Beduin dengan kasar langsung memasukkan penisnya sampai mentok dan mulai memompanya dengan cepat dan kasar. Yayuk hanya bisa mengerang-erang dengan mata tertutup dan mulut sedikit terbuka karena batang penis Ali masih menancap erat disana.
"Aah... ooh... ahh..." ia mendesah-desah dan menggelinjang-gelinjang sambil tangannya meremas-remas kain seprei, sementara Ustadz Beduin semakin cepat memompa liang vaginanya.
Ali yang menonton dari jarak dekat jadi melotot dan terangsang hebat begitu melihat bagaimana seorang pria separoh baya dengan perut buncit sedang menyetubuhi seorang wanita muda yang sangat cantik. Apalagi saat melihat Ustadz Beduin yang mengajak Yayuk untuk bertukar posisi. Sekarang tubuh putih Yayuk berada di atas dengan posisi agak melengkung karena perut gadis itu tertekan oleh perut gendut Ustadz Beduin.
Dengan posisi seperti itu, Ustadz Beduin memegangi pinggang Yayuk dengan kedua tangannya, lalu memaksa gadis itu untuk bergerak sehingga penisnya yang masih terbenam di dalam vagina Yayuk kembali terkocok nikmat.
"Hehehe... Neng memang gadis pintar." Ustadz Beduin tertawa sambil memeluk tubuh montok Yayuk, tangannya mengelus-ngelus punggung putih mulus milik gadis itu.
Yayuk yang tidak mempedulikan ejekan Ustadz Beduin, terus menggerakkan pantatnya naik-turun. Saat itulah mendadak Ali maju mendekat. Dia yang dari tadi dikulum, rupanya belum merasa puas. Sekarang pemuda itu memegangi pantat Yayuk sambil sesekali meremas-remasnya gemas.
“Pak Ustadz nggak keberatan kan kalau saya ikutan?” tanya Ali sambil sibuk meremasi pantat sekal Yayuk.
"Ohh... tentu saja tidak," kata Ustadz Beduin di tengah usahanya menggagahi Yayuk.
Yayuk terkejut ketika dengan kasar Ali membuka celah pantatnya. Sesaat kesadarannya pulih. "Jangan! Ampuun... jangan di situ!" Ia menggeliat, mencoba untuk memberontak. Tapi Ustadz Beduin segera mendekapnya dengan erat, membuatnya jadi tidak bisa bergerak lagi.
"Saya mau nyobain lubang pantat gadis kota," kata Ali sambil terkekeh-kekeh.
"Jangan! Kumohon!" tangis Yayuk mulai pecah lagi, dia tersedu-sedu merasakan geliat tangan Ali pada lubang pantatnya.
Ustadz Beduin tidak membiarkan Yayuk berontak, ia mendekap dengan semakin erat hingga membuat Yayuk jadi terhimpit oleh dua pria sekaligus. Dia terus menusuk lorong kawanitaan Yayuk dari bawah, sementara Ali merentangkan kedua paha gadis itu sampai terbuka selebar-lebarnya.
"Jangan! Jangan!" tangis Yayuk semakin keras.
Tapi seakan tidak mendengarnya, Ali terus saja menguak bongkahan pantat Yayuk hingga mengakibatkan lubang anusnya menjadi terlihat jelas.
"AAAHHH...!!" Tiba-tiba terdengar jeritan Yayuk. Rupanya Ali sudah mulai memasukkan penisnya yang besar ke dalam lubang pantat gadis cantik itu.
"Jangan! Ampuun... s-sakiit!" teriak Yayuk ketika perlahan tapi pasti penis Ali semakin terbenam dalam.
"Uhh... masih seret dan sempit nih," kata Ali ketika seluruh penisnya sudah masuk ke dalam lubang pantat Yayuk. Untuk sesaat tidak ada pergerakan baik dari dia, Yayuk maupun Ustadz Beduin. Mereka seakan-akan sedang di-freeze dalam posisi seperti itu. Ali ingin memberikan waktu kepada Yayuk agar terbiasa dengan keadaan dimana terdapat penis besar di dalam lubang pantat dan juga di liang vaginanya.
"Aghh..." jerit Yayuk ketika Ali mulai menarik penisnya secara perlahan dari lubang pantatnya. "AGHHHH..." jeritnya lagi dengan keras ketika secara tiba-tiba Ali memasukkan kembali penis itu dengan sangat cepat dan kasar.
Sementara Ustadz Beduin juga mulai menggerakkan pantat sehingga batang penisnya kembali menyodok-nyodok vagina sempit Yayuk. Ia dan Ali dengan kompak memompa tubuh mulus Yayuk hingga membuat gadis kota itu tergoncang-goncang akibat benturan. Kepala Yayuk bergoyang tidak beraturan karena nikmat sekaligus sakit yang kembali dirasakannya. Kedua payudaranya dijilati oleh Ustad Beduin dari bawah, sementara putingnya yang mungil dimainkan oleh Ali seperti orang yang sedang mencari sinyal radio.
Selama hampir lima belas menit kedua laki-laki itu menghimpit tubuh montok Yayuk, menjadikannya seperti daging dalam jepitan roti hamburger. Dollah menyaksikannya tanpa berkedip bagaimana tubuh putih mulus milik Yayuk terhentak-hentak di tengah jepitan Ustad Beduin dan Ali, anaknya.
Genjotan demi genjotan penis kedua laki-laki itu pada anus dan liang vaginanya benar-benar memaksa Yayuk untuk kembali mengalami orgasme. Tubuhnya mengejang-ngejang dengan kedua tangan dan kaki kembali meronta-ronta liar. Tapi kedua laki-laki itu terus menyetubuhinya. Bahkan selama hampir satu jam mereka melakukannya.
Yayuk benar-benar sudah kepayahan, berulangkali orgasme membuat wajah cantiknya jadi memerah seolah akan meledak. "Ohghh... a-ampun! Sudah... a-aku nggak tahan! Ahh... mau sampai!!" Dia merintih-rintih putus asa di tengah usahanya untuk cepat menyelesaikan permainan ini.
Namun Ustad Beduin dan Ali hanya tertawa-tawa saja mendengar rintihannya. "Tunggu bentar lagi, Neng... Bapak belum puas." kata Ustad Beduin di telinga Yayuk. Ia terus menggenjot tubuh mulus gadis itu yang sudah melemas pasrah.
Yayuk sekarang tidak ubahnya seperti boneka kain yang terhentak-hentak dalam himpitan dua lelaki. Matanya sudah sayu dan hanya bisa merem melek menerima segala siksa yang seperti tiada berakhir. Badannya bergoyang mengikuti irama sodokan penis kedua lelaki pada vagina dan lubang pantatnya.
Setelah lebih dari satu jam mengerjai Yayuk sedemikian rupa, akhirnya Ali dan ustadz Beduin jadi tidak tahan lagi. Ali lah yang pertama kali mencapai puncak orgasmenya. Tubuhnya mengejang keras sambil kakinya menyentak-nyentak seperti kuda liar, sementara tubuhnya melengkung seperti mendorong tubuh Yayuk yang berada di bawahnya.
"Aaahh!!" Dia mengerang keras sambil tangannya mengepal kuat-kuat.
Pada saat yang bersamaan, Ustad Beduin juga mengejang. Laki-laki tua itu menekan keras penisnya ke dalam liang vagina Yayuk. "Ohhh... ahhh..." Diiringi desah penuh kenikmatan, ia menyemburkan spermanya yang sudah tidak sekental tadi.
Tubuh Yayuk tergolek lemas di atas ranjang, tenaganya benar-benar habis. Ia merasa seluruh tulang di tubuhnya seperti rontok dari persendiannya, badannya terasa sakit sekali, seolah baru saja dilindas oleh serombongan gajah. Ia benar-benar tidak berdaya, sekujur tubuhnya yang putih mulus dan telanjang itu kini penuh berlumuran sperma.
Gadis itu hanya bisa menangis setelah kesadarannya kembali pulih. Penderitaan yang barusan dialaminya telah menghancurkan dirinya luar dalam. Yayuk merasa benar-benar hina, lebih hina dari pelacur yang paling rendah. Apalagi ketika teringat berapa banyak sperma yang disemprotkan ke dalam rahimnya, Yayuk merinding dengan kemungkinan dirinya akan hamil mengingat saat ini adalah masa suburnya.

Author : elzhakhar alias satyrosaurus

                                           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar