Minggu, 25 September 2016

Tutur Tinular 9



Hak cipta © Buanergis Muryono & S.Tidjab

Di ujung malam itu Arya Kamandanu melangkah hati-hati sekali ketika sampai di rumah. Kuda ia masukkan kandang yang ada di belakang rumah, di pekarangan. Ia menggigit bibirnya sendiri seraya mendorong perlahan pintu rumahnya. Suara berderit tertahan ketika ia hanya membuka selebar tubuhnya, kemudian menutupnya kembali perlahan namun derit pintu itu cukup menggigit dan mendera kelengangan. Pemuda tampan dengan wajah kusut karena lelah itu pun terkejut ketika ia melihat seorang lelaki tua yang sudah berdiri di depannya.
"Oh, Ayah sudah kembali?" tanyanya gugup dan tersipu.
"Dari mana saja kau, Kamandanu?"
"Dari rumah seorang kawan, Ayah."
"Kawan perempuan?"
Arya Kamandanu tidak menjawab pertanyaan ayahnya, ia menunduk sambil melirik kakaknya yang duduk di ruang depan sambil meliriknya kurang senang; diam di bawah bayang temaram lampu minyak jarak.

Lelaki tua itu memelototkan matanya menahan amarah pada putra bungsunya itu, "Kau bisu sekarang?"
"Ehh, tidak, Ayah. Kawan laki-laki."
"Mukamu kuyu, rambutmu acak-acakan, pakaianmu kumal! Kau ini anak manusia apa anak demit?" bentak ayahnya masih melotot. Menghempaskan napas dan menggeleng-gelengkan kepala. Temaram pendaran sinar lampu minyak itu semakin membuat suasana kurang nyaman Keadaan menjadi hening dan sunyi sebab semuanya diam.
"Duduk!"
"Ya, Ayah."
Arya Kamandanu mengambil tempat duduk di sisi kakaknya yang sejak tadi memperhatikannya, namun sekarang keduanya sama-sama tertunduk. Napas mereka pun terasa sesak dan susah sekali. Mpu Hanggareksa memperhatikan kedua putranya dengan menghela napas. Lama sekali menatap kedua buah hatinya. Jantungnya berdebar-debar, merasa sayang, iba, jengkel dan kesal merasakan kedua anaknya yang sangat bandel itu. Ia sudah lama menunggu kedatangan Arya Kamandanu hingga jauh malam baru sampai di rumah.
Ia melangkah beberapa tindak. "Kamandanu, dan kau Dwipangga."
"Ya, Ayah." keduanya menjawab hampir berbarengan.
"Kalian berdua ini seperti anak-anak setan! Kalian telah membuat aku malu. Kalian telah mencemarkan nama baik Hanggareksa. Baru saja aku masuk perbatasan Kurawan, orang-orang sudah menyambutku dengan omongan-omongan yang tidak sedap di telinga. Dwipangga, apa yang telah kau lakukan dengan Parwati anak gadis Dipangkaradasa? Jawab!" bentak Mpu Hanggareksa dengan mata berkilat-kilat, merah karena lelah dan amarah.
Arya Dwipangga yang dibentak tidak mampu menjawab, semakin dalam ia menundukkan kepala di samping adiknya. Melepaskan pegangan kursi dan melipat tangannya ngapurancang.
"Kau mempunyai lidah untuk menjawab, Dwipangga?" serak dan geram sekali suara lelaki tua itu membentak putra sulungnya.
"Eh, maafkan saya, Ayah. Saya mengaku bersalah," jawab pemuda itu dengan gemetar tanpa memandang ayahnya.
Pelototan mata lelaki tua itu beralih pada putra bungsunya yang sempat mencuri pandang padanya dan semakin merundukkan kepala menekuri lantai tanah. "Dan kau, Kamandanu! Dulu kau pendiam, kau penurut dan aku bangga karena kupikir kau mewarisi darah seorang Mpu. Kau punya bakat mencipta barang-barang pusaka. Tapi sekarang aku kecewa. Kau sudah terjerumus bermain perempuan seperti kakakmu itu. Apa yang kau lakukan terhadap anak gadis Rekyan Wuru? Dan apa yang kau lakukan terhadap Dangdi, anak Kepala Desa Manguntur? Jawab!"
Arya Kamandanu tidak segera menjawab pertanyaan ayahnya. Ia bimbang dan tidak tahu apa yang harus disampaikan pada orang tuanya yang masih melotot kepadanya. Bibir lelaki tua yang sangat dikasihinya itu tampak bergetar meliuk-liuk. Matanya berkaca-kaca karena kesal dan kekecewaan yang amat dalam. Mungkin sekesal dan sekecewa hatinya. Ia menghela napas dengan tetap menunduk menekuri lantai tanah. Jemari kakinya menceker-ceker tanah hingga meninggalkan goresan-goresan seumpama goresan luka jiwanya. Kedua putra Mpu Hanggareksa itu benar-benar tidak berkutik di hadapannya.
"Jawab, Kamandanu! Jangan membisu seperti arca Dwarapala begitu. Bicaralah! Kemukakan alasan yang masuk di akal. Hoooh, kalian ini tidak bisa membalas budi baik orang tua."
"Ayah, saya mengaku bersalah. Saya mohon maaf atas kesalahan saya. Saya tidak akan mengulanginya lagi."
Mpu Hanggareksa mengembuskan napas dan dadanya serasa penuh dengan hambatan dan serasa mau bengkah. "Kalian anak-anakku, mestinya kalian bisa menjunjung tinggi nama baik Hanggareksa. Sudah banyak yang kulakukan hingga saat ini demi membela kehormatan keluarga dan apa yang kulakukan ini untuk kalian juga. Lihat saja! Aku sudah tua begini, masih berkuda dari Kurawan ke kotaraja Singasari. Untuk apa semua ini, hah? Dwipangga dan kau Kamandanu!"
"Ya, Ayah," jawab mereka berbarengan.
"Kalian anak-anakku. Dua-duanya laki-laki. Kuharap kalian mampu menjadi laki-laki yang mandiri. Apa yang sudah kupegang, kalian harus menggenggamnya lebih erat Semua yang telah kucapai ini akan kuwariskan pada siapa lagi kalau bukan pada anak-anakku."
Lelaki tua itu kemudian merogoh kantungnya dari balik bajunya serta meletakkan kantung itu di atas meja. "Lihat ini!" Mpu Hanggareksa membuka bundelan kantung, dan suara gemerincing menyusul kepingan-kepingan uang emas dan perak yang menggelinding ke meja pualam di hadapan putra-putranya.
"Uang! Uang sebanyak ini adalah hadiah langsung dari Sang Prabu Kertanegara. Di samping uang, ayahmu juga mendapat imbalan jasa yang lain. Ayahmu ini orang yang berjasa pada negara, apa kalian tidak menyadari hal ini, Kamandanu, Dwipangga?"
"Ya, Ayah!" jawab mereka sambil melirik uang yang tertumpah di meja dan beralih mencuri pandang ke wajah ayahnya yang sudah dihiasi guratan-guratan garis usia.
Lelaki tua itu kemudian mengeluarkan sebuah bungkusan lain dari dalam kantung kulitnya yang tergeletak di atas kursi kayu jati. Membukanya perlahan-lahan. Kedua putranya memperhatikan dengan saksama. Dari buntalan itu tampaklah di hadapan mereka sebuah benda bersinar kuning cerah tertimpa cahaya pelita. Mpu Hanggareksa tersenyum penuh kebanggaan menyentuh benda itu dengan hati-hati. Ditimang dan dielusnya penuh perasaan. Kedua tangannya sampai gemetaran.
"Lihat! Sebuah piringan emas murni. Ini juga hadiah langsung dari Sang Prabu sendiri." Mpu Hanggareksa menghela napas dalam-dalam, memandang kedua putranya, "Sekarang dengar. Hmm, apa kalian sudah mengantuk? Kalau kalian mengantuk tahan dulu. Jangan tidur dulu. Laki-laki sejati harus bisa mengalahkan rasa kantuk, harus bisa mengendalikan hawa nafsu. Hmm, coba, berapa hari ayahmu meninggalkan Kurawan? Sejak kedatangan Tuan Pranaraja dulu?"
"Lebih dari dua purnama, Ayah," jawab Arya Dwipangga.
"Ya. Tepatnya tujuh puluh enam hari. Selama itu kalian pikir apa yang kukerjakan di Istana Singasari? Makan, tidur, bersenang-senang?"
"Ayah pasti mempunyai banyak acara di istana," jawab Arya Kamandanu sambil mencuri pandang pada ayahnya.
"Ya. Rupanya apa yang telah kurintis selama ini baru akan berbuah. Sang Prabu sangat gembira dan menaruh kepercayaan yang besar padaku. Di samping uang dan tanda penghargaan yang lain, ayahmu ini juga diberikan kedudukan penting. Hanggareksa sekarang sudah bisa memasuki kehidupan kalangan istana Singasari. Kalian harus ikut gembira anak-anakku. Ayahmu sekarang bukan sekadar tukang pande besi murahan, tapi sudah diangkat menjadi Mpu Istana Singasari. Segala hal yang menyangkut senjata pusaka yang dikelola pemerintah Singasari, semuanya menjadi tanggung jawab ayahmu. Bukankah ini suatu kenaikan pangkat yang istimewa?"
"Tentu saja kami ikut merasa gembira mendengar berita ini, Ayah," jawab Kamandanu mantap.
"Ikut gembira belum cukup, anakku. Kalian juga harus ikut memelihara apa yang sudah kuperoleh dengan susah payah ini. Mulai sekarang kalian harus hidup dengan tuntutan lain, ialah kalian diwajibkan menjaga citra baik, nama baik dan kehormatan orang tua kalian. Kalian tidak bisa berbuat seenak hati. Kau tidak bisa berbuat semaumu lagi dengan bermain perempuan, Dwipangga... dan kau pun demikian pula, Kamandanu. Jangan mengecewakan harapan ayahmu. Dengar! Kita bekerjasama dengan baik untuk kita juga. Kita bisa membubung tinggi atau sebaliknya jatuh dan hancur berkeping-keping."
Mpu Hanggareksa menasehati kedua putranya hingga larut malam. Melihat kedua putranya tampak mulai mengantuk dan tidak saksama lagi mendengarkan petuahnya, maka ia menyuruh mereka segera menuju kamar masing-masing. Lelaki tua itu pun mengemasi uang dan benda-benda penghargaan tanda jasanya yang dianugerahkan Prabu Kertanegara dengan rapi, kemudian menyimpannya di dalam kamar.
Bi Rongkot yang sudah menunggu, segera berkata. ”Mau makan sekarang, Tuan?”
Mpu Hanggareksa mengangguk.”Iya, tapi biar Kinasih saja yang melayaniku. Bibi pasti capek.”
Tanpa membantah lagi, perempuan tua itu segera memanggil gadis cantik berkulit kuning yang diinginkan oleh Mpu Hanggareksa. Kinasih keluar dengan menunduk dan tampak malu-malu. Mpu Hanggareksa tersenyum saat melihatnya. Sesuai permintaannya, penampilan Kinasih malam ini benar-benar lain dari kesehariannya. Biasanya gadis itu memakai kain jarit dari bahan yang agak kusam, namun kali ini ia tampil dengan memakai kain transparan berwarna putih dengan belahan yang agak tinggi di bagian paha. Saat ia berjalan, pahanya yang putih bersih itu jadi kelihatan dengan jelas. Bahkan dalam posisi tertentu, bagian dalam pahanya juga nampak samar-samar mengintip dari belahan bajunya.
”Kamu cantik sekali, Kinasih.” ujar Mpu Hanggareksa tanpa bisa berkedip.
Kinasih tersenyum mendengarnya, ia memutarkan tubuhnya untuk menunjukkan pada laki-laki tua itu seluruh bentuk tubuhnya yang sintal menggoda. ”Sebaiknya tuan makan dulu,” kata gadis itu sambil membimbing Mpu Hanggareksa menuju meja santap.
Namun Mpu Hanggareksa yang sudah tidak tahan, memohon agar diijinkan untuk mengecup bibir gadis itu yang merah merekah dan selalu tampak basah sedikit saja. ”Cuma sebentar,” katanya sambil mengelus lembut punggung Kinasih yang terbuka. Terasa saat ia memeluknya, gumpalan dada gadis itu menekan kuat di permukaan dadanya. Membuat denyut jantung Mpu Hanggareksa langsung berdetak semakin cepat.
Kinasih hanya membalas dengan meletakkan tangan di atas paha laki-laki tua itu sambil memijit-mijitnya ringan. "Sudah, Tuan. Makan dulu." bisiknya sambil  tanpa canggung merangkul pinggang Mpu Hanggareksa dan duduk di sebelahnya.
Mpu Hanggareksa sama sekali tidak keberatan. Dengan begitu, sambil makan, ia bisa tetap leluasa mengelus-elus paha kiri Kinasih yang terbuka. Sikap gadis itu sendiri sungguh sangat berbeda dengan sewaktu pertemuan terakhir mereka, di malam sebelum Mpu Hanggareksa berangkat ke Kotaraja. Sekarang Kinasih tampak begitu ceria dan manja, seperti layaknya seorang istri yang sudah lama tidak bertemu dengan suami. Selama makan, sengaja dalam posisi duduknya, Kinasih merapatkan tubuhnya ke tubuh Mpu Hanggareksa, serta tangannya selalu memegangi paha laki-laki tua itu.
Mpu Hanggareksa membalas dengan mengelus balik kulit mulus paha gadis cantik yang lebih pantas menjadi anaknya tersebut. Suasana malam yang sepi membuat tangannya lebih bebas berkarya. Setelah puas meraba-raba paha, sambil seolah-olah merangkul pinggang, dengan lincah Mpu Hanggareksa menyusupkan tangan ke dalam celah kain Kinasih. Pelan ia merayap ke daerah pinggang, meremas-remas lembut di sana sebentar, sedbelum kemudian sedikit naik merayap ke depan hingga ujung-ujung jarinya dapat menyentuh bagian samping payudara gadis itu yang tidak berkutang. Terasa benar-benar kenyal dan padat saat Mpu Hanggareksa meremas-remasnya pelan.
Kinasih yang penuh pengertian, membiarkannya saja. Bahkan ia nampak seperti tidak peduli, gadis itu malah sibuk memotong-motong irisan daging yang ada di atas piring hingga jadi potongan kecil, lalu menyuapkannya ke  mulut Mpu Hanggareksa. Ia benar-benar memberi keleluasaan kepada laki-laki itu untuk bermain di sepanjang paha dan gundukan payudaranya.
”Hmm... mmh...” sambil mengunyah makanannya, Mpu Hanggareksa semakin iseng bermain. Kini tangannya tidak cuma merambat di paha, namun sudah sampai ke bibir kewanitaan Kinasih yang terbuka. Ia memijit dan mengusap-usapnya mesra hingga membuat gadis pelayannya itu jadi merintih merem melek kegelian.
”Tuan... ugh!” sambil mendesis, Kinasih berusaha keras menunaikan tugasnya. Terus ia suapi Mpu Hanggareksa meski celah bibir kewanitaannya sudah terasa begitu basah.
Mpu Hanggareksa yang mengetahuinya, segera memasukkan ujung jari telunjuknya dan mengait lendir kental itu. ”Auw, Tuan!” Kinasih langsung mengerang dengan tubuh melenting karena kaget. Di depannya, Mpu Hanggareksa tertawa-tawa sambil memperlihatkan sebentuk lendir kental mirip santan yang menempel di ujung telunjuknya.
”Kamu sudah basah, Kinasih.” bisiknya sambil menjilat lendir itu dan menelannya bersama makanan yang disuapkan oleh Kinasih.
Gadis itu tampak tertegun sejenak melihat ulah Mpu Hanggareksa, namun kemudian tersenyum manis dan berbisik, “Saya yakin, bukan saya saja yang tidak tahan.” jawabnya lembut sambil mencium pipi laki-laki tua itu.
Mpu Hanggareksa tertawa mendengarnya dan segera menyudahi acara makan-makan itu. ”Waktunya untuk hidangan penutup.” katanya sambil menggiring gadis itu masuk ke kamar tidur. 
Kinasih dengan manjanya berjalan merangkul pinggang Mpu Hanggareksa, badannya digayutkan ke tubuh laki-laki itu sepenuhnya, membiarkan bokong dan bulatan payudaranya menjadi mainan selama mereka melangkah. Tiba di dalam kamar, Mpu Hanggareksa segera menutup dan mengunci pintunya.
"Tuan pingin sekali ya?" tanya Kinasih dengan senyum wajah menggoda.
"Kepingin apa?" Mpu Hanggareksa balik bertanya dengan nada bercanda.
"Ah, Tuan!" gadis itu tersipu malu.
"Tentu saja ingin sekali, Kinasih. Sudah lebih dari dua bulan aku tidak melihatmu."
"Kalau begitu lakukanlah, Tuan. Kinasih juga rindu semua belaian itu."
Mpu Hanggareksa tersenyum senang mendengarnya. Tanpa membuang waktu lagi, segera ia peluk erat tubuh gadis cantik itu. Dua buah gunung kembar Kinasih yang terasa mengganjal di dadanya, menghantarkan aliran gairah yang bergejolak. Membuat kejantanan Mpu Hanggareksa langsung mengeras dan membesar begitu rupa. Kinasih merangkul lehernya erat-erat hingga permainan mulut, bibir dan lidah mereka berlangsung dengan hangat.
Dengan penuh perasaan, Mpu Hanggareksa menciumi seluruh wajah cantik gadis itu. Kinasih membalasnya dengan penuh gairah. Bibir mereka saling melumat dan menghisap dengan penuh nafsu. Tangan Mpu Hanggareksa juga mulai beraksi meremas-remas buah dadanya, mengusap-usapnya lembut. Yang dibalas oleh Kinasih dengan memijit pelan batang kejantanan sang Mpu.
Beberapa saat setelah berciuman, dengan pelan Mpu Hanggareksa melepas kain yang dipakai oleh gadis itu. Payudara Kinasih yang masih kenyal dan hangat langsung terlihat jelas di depan matanya. Putingnya kelihatan mulai membesar dan menegang dengan warna merah muda kecoklatan. Sambil terus berciuman, Mpu Hanggareksa terus melepas dan menghempaskan sisa pakaian Kinasih ke lantai hingga tak lama, gadis itupun sudah berdiri telanjang bulat di dalam pelukannya.
Dengan tak sabar, Mpu Hanggareksa membaringkannya di atas ranjang. Tampak kewanitaan Kinasih yang seperti bukit kecil itu tertutup oleh rambut yang cukup lebat. Sambil memandangi tubuh indah itu, Mpu Hanggareksa juga melepas semua bajunya. Setelah sama-sama telanjang, ia tersenyum kepada Kinasih yang terbaring di atas ranjang dengan posisi yang sangat menggiurkan.
"Ohh... gemas sekali melihat yang ini!” kata gadis itu dengan mata berbinar menatap tajam ke arah kejantanan Mpu Hanggareksa yang terangguk-angguk di depan perut.
Dalam keadaan tanpa sehelai benangpun, mereka terus saling memberikan rangsangan ke titik-titik gairah yang semakin membakar nafsu birahi. Mpu Hanggareksa merebahkan tubuh ramping Kinasih ke atas ranjang, tak berkedip ia memandangi tubuh indah itu. Payudara Kinasih yang mencuat menantang terlihat begitu menggoda, juga kulit putih mulusnya yang ditumbuhi bulu-bulu halus, ditambah rambut kewanitaannya yang nampak hitam berjejer rapi layaknya barisan semut sampai ke pusarnya, membuat nafsu Mpu Hanggareksa semakin memuncak.
Ia mendekati kepala gadis itu, kemudian mulai menciumi wajah cantiknya. Sementara tangannya menjelajahi seluruh lembah dan bukit payudaranya. Jari-jemari Mpu Hanggareksa merayap ke bawah membelai lembut sampai ke pusar dan perut ramping Kinasih. Ciumannya juga beranjak turun, segera lidahnya mulai menelusuri leher Kinasih yang jenjang. Terus turun... menuju ke bukit payudaranya yang sangat bulat menantang.
Mpu Hanggareksa menciuminya dengan lembut, bergantian kiri dan kanan. Putingnya yang tampak telah menegang dan memerah, ia hisap pelan-pelan. Kadang juga dijilat-jilat dan digigitnya lembut dengan jepitan bibirnya saat sudah merasa begitu gemas. Sementara tangannya semakin liar beraksi di sekitar celah kewanitaan dan paha perempuan cantik itu. Sekali-kali rambut kewanitaan Kinasih yang tebal ia usap-usap lembut perlahan-lahan, sambil jari tengahnya menggelitik daging kecil di antara celahnya yang mungil. Kacang kecil milik gadis itu terasa mulai berdenyut cepat, mengembang mengempis seperti jantung manusia, dan terasa sangat keras sekali.
Kinasih makin mendesah hebat dibuatnya, "Aaah...!!"
Apalagi saat kepala Mpu Hanggareksa semakin turun ke arah bawah tubuh indahnya. Lidah laki-laki itu mulai menyapu-nyapu perutnya, pelan... makin ke bawah, sampai ke belahan di daerah sekitar kewanitaannya. Kepala Mpu Hanggareksa bergoyang ke kanan dan kiri hingga bibirnya ikut membasahi kulit mulus kedua paha Kinasih. Sementara tangannya terus mengusap-usap dan memijiti puting serta payudara gadis muda itu.
”Auh... Tuan!” Kinasih merintih kegelian. Ia tekan kepala Mpu Hanggareksa agar semakin kuat menghisap daerah selangkangannya. Ia juga membuka lebar-lebar kedua pahanya agar Mpu Hanggareksa bisa semakin leluasa menciumi daerah di antara anus dan kewanitaannya. Kinasih mendesah-desah nikmat dan terasa mulai ada cairan lendir bening yang menetes keluar dari celah surgawinya saat Mpu Hanggareksa mengecup, menjilat dan menggigiti semuanya.
"Tuan... ahh! Terus...!" gadis itu mulai meracau, pertanda bahwa birahinya sudah semakin memuncak.
Mpu Hanggareksa juga semakin bersemangat, seluruh lekuk tubuh Kinasih tidak ada yang lolos dari jilatan lidahnya. Dengan kepala masih berada di bawah, jemari tangannya menyibak bulu-bulu kewanitaan gadis itu yang hitam lebat. Lidahnya dengan cepat beraksi menjilati kacang kecil yang bertengger di bagian atasnya, sambil sesekali menerobos, mengoyak, serta mencabik celah kewanitaan yang mungil dan indah.
”Ehmm... ahh...” Kinasih semakin mengerang nikmat, ia remas-remas kuat rambut Mpu Hanggareksa saat laki-laki itu menghisap klitorisnya lembut. "S-sudah, Tuan... saya tidak tahan..!" rintihnya sambil menggelinjang.
Tetapi Mpu Hanggareksa yang masih belum merasa puas, semakin dalam menyeruakkan lidahnya. Bahkan sambil menjilat, ia juga mulai memasukkan satu jarinya ke dalam rongga kewanitaan gadis muda itu dan memutar-mutarnya ringan untuk mencari titik sensitifnya. Sementara tangan Mpu Hanggareksa yang lain asyik meremas serta memilin-milin puting Kinasih sampai jadi mencuat mengeras.
”Auh... s-sudah, Tuan” sekali lagi gadis itu meminta dengan tubuh meliuk-liuk menahan kenikmatan yang ia terima.
Namun Mpu Hanggareksa terus memainkan emosi jiwanya hingga akhirnya tanpa bisa dicegah, tubuh Kinasih mengejang kaku dan berkedut-kedut pelan saat cairan cinta mengalir deras dari lubang kewanitaannya yang mungil. Mpu Hanggareksa langsung mencucup dan menyedotnya kuat-kuat hingga semakin banyak lagi cairan yang mengalir keluar. Semua ia telan hingga habis tak bersisa. Rasanya asin-asin asam dengan bau yang sangat khas, terasa begitu nikimat dan menggoda birahi.
”Hhh... hh...” Kinasih terdiam sejenak, tampak sangat menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja ia alami. Tetapi hal itu tidak berlangsung lama, karena tiba-tiba saja gadis muda itu sudah berdiri dan mendorong tubuh Mpu Hanggareksa hingga telentang di kasur.
Dengan lincahnya lidah Kinasih yang hangat mulai menelusuri tubuh Mpu Hanggareksa hingga membuatnya jadi mendesah tak karuan. Apalagi sambil menjilat, tangannya dengan lembut mengocok kejantanan Mpu Hanggareksa yang kian membengkak dan mengeras tajam.
"S-sudah, Kinasih. Cepat masukkan!" pinta laki-laki tua itu sambil mengarahkan batang kejantanannya ke bibir kewanitaan Kinasih yang mungil.
Gadis itu langsung mendudukinya. Jari-jemarinya dengan lembut membimbing kejantanan Mpu Hanggareksa agar memasuki celah kewanitaannya, namun ternyata agak susah juga. Beberapa kali batang itu meleset mengenai lubang pantatnya.  Namun mereka tidak menyerah, Kinasih membuka pahanya semakin lebar, sementara Mpu Hanggareksa menggosok-gosokkan ujung penisnya di sekitar belahannya yang memerah agar jadi semakin basah.
”Tekan, Tuan! Yang keras!” bisik Kinasih saat alat kelamin Mpu Hanggareksa sudah berada di tempat yang tepat. Sambil memeganginya, ia arahkan ujung batang itu ke lubang sasaran.
Mpu Hanggareksa segera memajukan pinggulnya sedikit, "Blesshh...!"
"Awhh...!!" Kinasih langsung menjerit kuat saat kepala kejantanan Mpu Hanggareksa terbenam pelan di rongga kewanitaannya.
”Ehmm... ahh...” Mpu Hanggareksa ikut merintih begitu merasakan nikmat yang sungguh luar biasa. Jepitan kewanitaan gadis itu benar-benar sesak, membuat batang kejantanannya semakin membengkak dan mengeras tajam.
Setelah terdiam sejenak, perlahan Mpu Hanggareksa mulai memompa pinggulnya. Setengah kejantanannya ia dorong masuk, lalu tarik keluar kembali. Masuk lagi, tarik lagi. Begitu seterusnya. Sementara tangannya dengan gemas terus mempermainkan tonjolan buah dada Kinasih yang bulat dan indah.
”Ohh... Tuan! Nikmatnya!” erang gadis itu dengan dengus nafas semakin memburu. Ia balas tusukan Mpu Hanggareksa yang bertubi-tubi dengan gerakan cepat namun tidak beraturan.
"Kinasih... apa yang kamu... ahh...” rintih Mpu Hanggareksa yang merasa begitu nikmat. Ia sentakkan batang kejantanannya kuat-kuat hingga amblas seluruhnya. Ditahannya pantat gadis itu dengan dua tangan agar tubuh Kinasih yang bergetar hebat tidak melenceng kemana-mana.
"Ahh... Tuan!" gadis itu kembali orgasme. Cairan kewanitaannya menyembur deras membasahi batang kejantanan Mpu Hanggareksa yang masih terus bergerak.
Laki-laki tua itu tampak mencoba bertahan sekuat tenaga agar spermanya jangan sampai ikut keluar. Terjangannya jadi sedikit melambat untuk memberi kesempatan bagi Kinasih menikmati sisa-sisa orgasmenya. Bahkan Mpu Hanggareksa mendiamkan sejenak kejantanannya di dalam kewanitaan gadis muda itu, berusaha menikmati denyutan-denyutan lembut di seluruh rongga kewanitaan Kinasih yang berubah jadi sangat licin dan hangat.
"Tuan, Kinasih puas sekali," gadis itu mengerang lirih dalam pelukan Mpu Hanggareksa.
Tidak menjawab, Mpu Hanggareksa menggerakkan kembali batang kejantanannya yang masih menegang di dalam kewanitaan Kinasih. Ia mendorongnya perlahan sebelum menarik keluar lagi pelan-pelan. Dorong lagi, tarik lagi. Dorong-tarik. Dorong-tarik. Begitu terus berulang kali hingga benda coklat panjang itu bergerak keluar-masuk dengan lancar di dalam rongga kewanitaan Kinasih yang mungil.
”Hhh... Tuan!” Kinasih menghela napas menahan nikmat. Perlahan ia mulai terbawa nafsu kembali. Luar biasa, padahal sudah 2 kali dia keluar. Melihatnya membuat nafsu Mpu Hanggareksa jadi semakin berkobar. Apalagi saat merasakan gadis itu mulai menggoyang-goyangkan pinggulnya untuk mengimbangi tusukannya yang lincah dan cepat.
"K-Kinasih, aku mau keluar!" bisik Mpu Hanggareksa dengan peluh sudah membasahi seluruh tubuhnya yang keriput. Ia sudah tidak tahan lagi, goyangan pantat Kinasih sungguh terasa nikmat sekali.
"Kita bareng, Tuan! Ayo lebih cepat!" balas Kinasih dengan tubuh ikut bergetar hebat.
Dengan sisa-sisa tenaganya, Mpu Hanggareksa semakin mempercepat tusukannya. Kepala kejantanannya rasanya sudah menggembung tebal akibat menahan aliran spermanya yang akan muncrat. Gerakan pantatnya sudah tidak beraturan lagi, hingga akhirnya... dengan satu tusukan keras, air maninya tumpah ruah memenuhi rongga kewanitaan Kinasih yang berdenyut-denyut pelan.
"Ahh..!" gadis itu menjerit keras seiring dengan gerakan pinggul Mpu Hanggareksa yang semakin pelan. Ia rebahkan kepalanya di dada laki-laki tua itu, tetap ia biarkan kejantanan Mpu Hanggareksa yang mulai melembek menancap di rongga kewanitaannya.
Mpu Hanggareksa hanya mampu membelai-belai lembut rambutnya. Ia cium mesra kening gadis itu. Setelah beberapa saat, tidak terasa mereka jatuh tertidur lelap bertindihan sambil tetap berpelukan. Di luar, ayam jantan mulai berkokok bersahut-sahutan tanda hari sudah beranjak pagi.

***

Matahari sudah naik sepenggalah saat tampak tiga orang penunggang kuda mendekati sebuah bukit yang dihiasi tumbuh-tumbuhan perdu. Derap kuda itu makin lama makin mendekat sebelum akhirnya berhenti secara serentak. Binatang-binatang perkasa itu meringkik dan mendengus, dari mulutnya mengeluarkan busa. Angin bertiup sepoi-sepoi mengembus dedaunan dan rerumputan hingga tampak bergoyang-goyang seolah-olah menyambut kehadiran mereka dengan salam damai. Mereka memandang ke arah cakrawala langit, memandang bukit-bukit yang tampak membiru, memandang awan-awan putih seputih kapas yang menghiasi langit biru.
"Lihat, Kamandanu! Daerah inilah yang diberi tanda merah tebal dalam peta yang kuperlihatkan padamu itu. Kau juga harus memperhatikannya, Dwipangga."
"Ya, Ayah..." jawab Dwipangga sambil mengangguk.
"Dwipangga! Kau masih sibuk memikirkan perempuan, ya? Gadis mana lagi yang bercokol di kepalamu, hah?"
"Eh, tidak, Ayah. Saya tidak memikirkan siapa-siapa. Saya sedang mengagumi daerah ini. Indah sekali."
"Daerah ini bukan hanya indah untuk dipandang mata, tapi juga mempunyai masa depan yang cerah untuk kita. Lihat gugusan bukit di depan itu. Satu, dua, tiga, empat, lima. Ada lima bukit seluruhnya. Bukit-bukit gersang itu sekarang tampak tak ada apa-apanya, tetapi sebenarnya di dalam gundukan tanah itu terkandung harta benda yang tidak ternilai harganya."
"Maksud, Ayah?"
"Menurut peta yang dibuat oleh seorang ahli tanah, bukit-bukit yang kusebut tadi mengandung biji-biji logam yang cocok sekali untuk diolah menjadi senjata."
"Dan kelak kita akan menggali bukit itu, Ayah?" tanya Arya Kamandanu.
"Ya. Kita akan menggalinya. Kita akan memungut logam-logam itu untuk diolah menjadi senjata. Kukira hasil yang akan kita peroleh tak akan habis untuk dimakan tujuh turunan. Nah, cukup. Mari kita teruskan melihat-lihat tempat lain."
Mereka akhirnya meninggalkan perbukitan Kurawan menuju tempat lain. Mereka berkuda sangat perlahan-lahan. Mpu Hanggareksa, Arya Kamandanu dan Arya Dwipangga menunggang kuda saling beriring melalui jalan setapak yang kanan kirinya ditumbuhi tumbuh-tumbuhan perdu. Kadang-kadang tumbuhan menjalar juga merintangi mereka.
Sisa-sisa embun pagi di pucuk-pucuk semak menjadi luruh memercik ketika kaki-kaki kuda itu menerjangnya. Kicau dan cericit burung yang terkejut meriuhkan suasana di hari itu. Burung-burung pipit yang bergerombolan terbang mengudara meliuk-liuk, tinggi rendah dahulu mendahului bagaikan gelombang hitam di udara sambil bercericit tingkah meningkahi. Mereka benar-benar menikmati keindahan alam Kurawan dan sekitarnya.

***

Pada hari yang lain, seorang perempuan tua terkejut ketika mendengar derit panjang pintu kamar putra majikannya. Seorang pemuda dengan mata merah dan rambut acak-acakan keluar dari kamar sambil tersenyum nakal padanya. Pemuda itu mengusap-usap kedua matanya dengan punggung tangannya sambil bersandar di tiang pintu. Perempuan tua yang dikejutkannya hanya bisa mengurut dada sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Susur yang ada di sela-sela bibirnya dijumput dengan jemarinya yang sudah dihiasi kerut merut usia. Perempuan tua itu memandangi putra tuannya dan ujung rambut sampai ujung kaki. Ia menghela napas dalam-dalam sebelum menegur pemuda itu.
"Ohh, Angger Kamandanu. Tidak biasanya Angger bangun sesiang ini."
"Ahh, ya. Matahari sudah agak tinggi. Semalam saya susah tidur, Bi."
"Itu karena terlalu lelah, Ngger. Beberapa hari ini Bibi lihat Angger berkuda bersama ayahanda."
"Saya bosan, Bi. Saya mau pergi sebentar."
"Apa tidak menunggu ayahanda pulang, Ngger? Nanti dicari-cari."
"Ayahanda pergi ke mana, Bi?"
"Bibi kurang tahu. Pagi-pagi ayahanda sudah bangun, beliau berkuda pergi ke arah selatan. Beliau berpesan Angger berdua agar di rumah saja. Ayahanda tidak lama. Kata beliau, Angger berdua akan diajak berkuda lagi ke daerah timur sana," kata perempuan tua itu sambil menunjukkan tangan kirinya ke arah matahari yang sudah tinggi.
Arya Kamandanu menyipitkan matanya karena masih silau menatap sang surya yang mulai galak bersinar. Ia kembali menatap kosong ke atas semak belukar. Berdiri bersandar tiang bertumpu pada kaki kirinya, sedangkan kaki kanannya tertekuk menginjak punggung telapak kaki kirinya. Sebentar-sebentar ia menggerak-gerakkan leher, kemudian menggoyang-goyangkan kaki kanannya.
Dalam sekali ia menghirup udara siang itu. Bau bunga ilalang, bunga-bunga hutan dan rumput menerpa penciumannya berbaur dengan bau tahi kuda yang tidak sedap. Ia nyengir sambil menutup hidungnya dengan tangan kirinya. Pemuda itu melirik kepada perempuan tua yang masih memperhatikannya.
"Saya bosan, Bi. Saya tidak senang pergi dengan Ayah."
"Lho, mengapa begitu, Ngger?"
"Ayah hanya memikirkan harta benda, pangkat, kedudukan dan hidup mewah di kalangan istana. Ayah sama sekali tidak sudi berpaling ke arah kami, anak-anaknya."
"Lho, Ngger? Bukankah apa yang dilakukan Ayahanda sekarang juga untuk Angger berdua?"
"Saya tidak percaya Ayah bekerja untuk kami. Buktinya kami tidak pernah ditanya apa keinginan kami. Ayah hanya berkata kau berbakat ini atau kau berbakat itu. Nah, bekerjalah sebaik-baiknya. Ayah akan menopang sarananya," jelas Arya Kamandanu menirukan logat bicara ayahnya.
"Tapi, Ngger. Tak ada orang tua yang ingin membuat anak-anaknya susah dan menderita. Ini sudah hukumnya, Ngger."
"Ayah hanya dipenuhi rasa khawatir. Itu yang saya tahu, Bi. Ayah khawatir kami susah, kami hidup menderita dan gagal. Lalu Ayah berusaha mencetak kami sesuai dengan apa yang diyakininya. Bukankah dengan menempuh cara seperti itu justru orang tua telah menanam bibit penderitaan pada diri anak-anaknya?"
"Jangan begitu, Ngger. Nanti kalau Ayahanda mendengar bisa-bisa marah besar."
"Sudahlah, Bi. Saya merasa sumpek di rumah ini. Saya mau mencari angin segar di luar."
Arya Kamandanu kemudian ngeloyor pergi dengan langkah goyah. Ia tampak malas sekali. Kuyu dan kusut wajahnya karena lelah dan baru bangun dari tidur. Ia berjalan meninggalkan tanah pekarangan rumahnya. Meninggalkan Bibi Rongkot, perempuan tua yang sangat mengasihinya. Perempuan tua itu mengawasi kepergiannya dengan tatapan mata sayu tanpa berkedip. Perlahan-lahan tangan kirinya bergerak, memasukkan susur di sela-sela bibirnya yang merah dubang getah sirih dan gambir.

***

Pada saat yang sama di sebuah rumah mungil yang terbuat dari bambu; kerangka atap, dinding, tiang dan segala macam perabotan bangunan mungil itu hampir seluruhnya terbuat dan bambu. Atapnya dari daun alang-alang dan rumbia.
Dalam rumah mungil itu duduklah dua orang lelaki tua Mereka berhadap-hadapan duduk di kursi yang terbuat dari bambu. Meja di hadapan mereka pun dari bambu. Meja dan kursi bambu wulung tua itu tampak cokelat kehitam-hitaman dan mengkilat akibat sering diduduki.
Lelaki tua yang duduk di sebelah kanan meja itu berpakaian sangat lusuh-kumal dan kotor sekali Pada kulitnya yang mulai mengeriput penuh dengan daki, tubuh tua itu masih meninggalkan sisa-sisa kekuatan tubuhnya, yaitu otot-otot yang menggumpal di bawah kulit keriputnya. Rambutnya mengelabu dibiarkan terbuka dan tampak kurang terawat, panjang sebahu. Kumis dan jenggotnya putih. Kakinya telanjang tanpa kasut dan penuh kapalan, demikian juga pada jari-jari dan telapak tangannya, kelihatan tebal dan kasar.
Sementara lelaki tua yang duduk di sebelah kiri meja itu tampak sedikit lebih muda, wajahnya segar dan berpakaian serba bersih. Sisa-sisa ketampanan lelaki tua itu tampak pada hidungnya yang mancung, kumisnya yang terawat baik sekalipun sudah beruban. Demikian halnya dengan rambutnya yang mulai memutih di bagian belakang. Rambut itu diikat dengan ikat kepala cokelat kembang-kembang. Pada kedua lengannya mengenakan gelang tembaga. Kukuh dan kuat lengan-lengan lelaki tua itu sekalipun kulitnya tampak mulai mengendur.
Ia merogoh kantung dari balik bajunya. Meletakkan kantong itu ke atas meja bambu dan memuntahkan isinya. Gemerincing uang logam terdengar nyaring dalam keheningan rumah mungil itu. Sambil menuang seluruh isi kantong itu ke atas meja, ia memandang lelaki tua kumal di depannya dengan mata berbinar-binar.
"Nah, lihat, Kakang Ranubhaya! Ini adalah hasil kita selama ini. Kau berhak mendapatkan separoh dari jumlah uang yang kuterima dari pemerintah Singasari."
"Hemhh, banyak sekali uang ini, Hanggareksa." Dingin suara lelaki kumal itu.
Tatap matanya yang tajam tampak memandang rendah pada Mpu Hanggareksa yang bangga dengan uang emas dan uang perak di atas meja itu. Lelaki kumal itu meraup uang itu lalu memain-mainkannya. Bunyi gemerincing terasa mengusik keheningan di siang bolong yang sangat lengang. Lelaki tua berpakaian kumal itu tersenyum dingin sekali. Tidak mau memandang pada wajah tamunya yang berseri-seri.
"Heh, kita memang berhak memperoleh uang banyak karena kita pun sudah berbuat banyak. Kita dianggap berjasa besar pada pemerintah Singasari."
"Hanggareksa, apakah hanya uang ini yang kau cari selama ini?"
"Aku juga mendapatkan yang lain, Kakang. Tanda-tanda penghargaan dan juga bermacam-macam sarana untuk mengembangkan usahaku. Maka kalau Kakang Ranubhaya mau terus bekerjasama denganku, semuanya akan beres."
"Beres, beres! Apanya yang beres?" lelaki tua berpakaian kumal itu suaranya tiba-tiba melengking tinggi. Uang logam yang ditimang-timang segera berhamburan di lantai tanah karena dihempaskan begitu saja. Uang emas dan uang perak itu tercampak bagaikan tidak berguna lagi bagi lelaki kumal itu. Matanya merah, setengah mendelik dan berkilat-kilat menahan amarah.
Hal itu membuat tamunya terkejut hingga bangkit dari duduknya. "Kakang, Ranubhaya."
"Aku tidak membutuhkan uang. Aku tidak butuh pangkat, kedudukan, ketenaran dan tanda penghargaan dari Kertanegara. Aku sudah merasa cukup dengan apa yang kuterima sekarang ini!"
"Kakang Ranubhaya! Kita bisa berbuat banyak dengan apa yang telah diberikan pemerintah Singasari."
"Aku bisa berbuat apa saja tanpa bantuan pemerintah Singasari. Kau jangan membujuk aku lagi, Hanggareksa."
"Kakang Ranubhaya. Apakah Kakang tidak sadar bahwa bersikap seperti ini berarti Kakang memusuhi pemerintah Singasari?"
"Sekarang kau berusaha mengancam aku, Hanggareksa?"
"Kakang tidak menghargai pemerintah Singasari; Kakang membuang begitu saja uang yang dianugerahkan Prabu Kertanegara. Kalau sampai pemerintah dapat mencium peristiwa ini, Kakang Ranubhaya bisa kena sangsi hukuman yang berat."
"Hanggareksa! Aku tidak bermaksud memusuhi pemerintah Singasari. Tidak memusuhi siapa-siapa. Tapi aku pun tidak bersedia kau ajak bekerja pada Kertanegara. Kau tahu bahwa aku mempunyai hak, bukan?"
"Jadi Kakang Ranubhaya tetap menolak uluran tangan yang bersahabat ini?"
"Tariklah kembali tanganmu, Hanggareksa! Aku bisa mengurus diriku sendiri."
"Kau keras kepala, Kakang."
"Dan kepalamu terlalu lembek, Hanggareksa. Hingga mudah dibentuk kesana kemari oleh orang-orang yang akan memperalat kepandaianmu.”
"Sudah-sudah! Kita memang berbeda pendapat."
"Bukankah itu sudah kukatakan sejak dulu?"
"Baiklah, aku tidak memaksa kalau memang Kakang Ranubhaya tidak bersedia."
"Kau paksa pun aku tidak sudi menjadi gedibal Kertanegara. Nah, pergilah, Hanggareksa. Bawalah kembali uangmu itu. Aku tidak membutuhkannya."
"Baik, Kakang dan barangkali ini adalah untuk yang terakhir kali mengadakan pendekatan kepadamu. Mulai besok kau sudah bukan kakak seperguruanku lagi!"
Dengan gusar sekali Mpu hanggareksa segera meraup uang yang tersebar dan terhempas di atas meja bambu, selebihnya ia tidak ambil peduli. Beberapa keping uang emas berserakan di lantai-tanah. Buru-buru ia mengemas kantong kulitnya, mengikat erat-erat dan segera memasukkan ke dalam bajunya. Penuh rasa jengkel dan terhina ia mencibir pada kakak seperguruannya lalu membuang muka sebelum akhirnya angkat kaki dari hadapan Mpu Ranubhaya yang tidak sudi melihatnya.
Mpu Ranubhaya hanya mau melihat dengan sebelah matanya ketika adik seperguruannya segera melompat ke punggung kuda dan segera kabur. Kuda tunggangan adik seperguruannya itu meringkik dan melompat bagaikan terbang mengikuti sentakan tali kekang tuannya. Derap kaki kuda semakin menjauh seiring kepedihan hati yang tersayat oleh pengkhianatan.
"Huh, seseorang jika sudah mabuk uang, ia akan lupa segala-galanya," gumam Mpu Ranubhaya seraya bangkit dari kursi lalu melangkah ke ambang pintu memandang ke arah adik seperguruannya yang semakin menjauh dan akhirnya lenyap di kelokan jalan.
Lelaki tua itu tiba-tiba mengerutkan dahinya dan menajamkan pandangannya ke arah seseorang yang berlari menuju ke rumahnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar