Kamis, 08 September 2016

Wanita Lain Ayah 3

Tadi siang, debu perjalanan dari bandara ke rumah membuatku gatal dan udara gersang membuatku kegerahan. Aku pun ke kamar mandi. Aku terdiam lama di depan pintu kamar mandi. Lantainya basah.
“Kenapa, Ar?” tanya Papa yang tiba-tiba saja muncul. “Ada yang tak bersih di sana?”
Aku tersentak melihatnya. Buru-buru aku mengelengkan kepala. Pandangan Papa menunjukkan rasa heran. Lalu dengan sabar dia memerintahkan aku makan malam.
Meski masih kenyang setelah menghabiskan sekaleng besar keripik kentang, aku menurut juga. Papa pasti akan kecewa bila keinginannya kutolak.
Ketika kami tiba, Tante telah menanti. Aku tahu dia telah berusaha keras. Dia tipe perempuan yang tidak suka menata rumah, namun malam itu rumahnya tampak lebih rapi. Dia bahkan memasak. Padahal kata Papa, biasanya pengasuh Tante yang sejak kecil ikut dengan keluarganya dan masih terhitung kerabat jauh itu yang ada di dapur. Tante hanya ke dapur untuk memasak kue.

Kalau begini, dia seperti bukan Tante-Yang-Tau-Mau-Kusebut-Namanya. Kesantaiannya terhadap hidup dan hal-hal kecillah yang pertama kali membuat Papa tertarik. Tante seperti air sungai yang mengalir. Ringan dan tenang menyejukkan. Tidak seperti Mama yang tegas dan gila kerja.
Setelah aku berusia dua tahun, Mama memutuskan untuk kuliah lagi. Dilahirkan di tengah keluarga yang mementingkan kesuksesan materi, Mama selalu menekankan tidak ada jalan terbaik menuju ke arah itu kecuali melalui jalur pendidikan. Dan memang itulah impiannya sejak kecil. Difoto dengan toga yang anggun, mempunyai gelar tambahan sebagai penghias namanya yang singkat.
Dan perlahan-lahan, tenggelam di dalam kesibukan sebagai mahasiswa dan seorang ibu, Mama mulai melupakan Papa yang selalu butuh diperhatikan. Perlahan-lahan mereka mulai kehilangan cinta, yang berganti dengan pertengkaran demi pertengkaran.
Sampai Mama tahu tentang kehadiran Tante-Yang-Tak-Mau-Kusebut. Itu pula yang membuatnya memutuskan berpisah. Tidak sanggup menahan rasa muak setiap kali mengingat apa saja yang dilakukan Papa dengan wanita itu.
Dia marah, tapi harga dirinya terlalu tinggi untuk menunjukkan kemarahan. Mama bertekad ingin menunjukkan dirinya adalah wanita bermartabat yang sanggup menahan emosi. Mama tidak menaruh dendam, atau bahkan mempersulit mereka.
Itulah sebabnya ketidakhadiranku pada pernikahan Papa membuat Mama kecewa. Meskipun sebenarnya terselip rasa senang di hatinya mengingat aku ternyata berada di pihaknya.
“Yang istimewa untuk tamu istimewa,” kata Tante sambil tertawa untuk menyembunyikan kegugupan. Sepertinya dia selalu tertawa-tawa kecil bila merasa gugup.
Sikapnya yang agak berlebihan itu malah menyebabkanku merasa tidak nyaman. Kami mulai makan dalam diam. Aku menyendok lauk dengan hati-hati seolah makanan itu bisa membunuhku. Tante berusaha bersikap manis, meski pasti tersinggung dengan sikapku. Dia lebih banyak menundukkan kepala.
Papa tentu bisa merasakan suasana yang tidak enak itu. Dia menyuruhku segera kembali ke kamar setelah makan malam.
Aku menunggu sampai larut malam sebelum akhirnya menelepon Mama. Aku tidak mau menimbulkan suara yang membuat Papa atau Tante-Yang-Namanya-Tak-Akan-Kusebut itu keluar dari kamar tidur mereka. Aku malas bertemu mereka, apalagi harus berbasa-basi menjawab pertanyaan seperti ketika makan malam tadi. Aku menelepon Mama.
“Kok lama sekali baru telepon, Ar. Mama tunggu-tunggu dari tadi.”
“Lho, Mama kan biasanya baru mau terima telepon setelah jam segini.” Memang, Mama biasanya selalu asyik dengan pekerjaannya dan hanya mau menerima telepon jika memang penting.
“Jadi bagaimana, senang?” tanya Mama.
“Ya begitulah.” Aku menjawab malas.
“Bagaimana papamu?”
“Baik-baik saja, tambah sehat.” Tentunya maksudku adalah Papa yang bertambah gemuk.
“Dan Tante Rini?”
Aku terdiam, pikiranku rasanya melayang-layang. Antara, benci, kesal, tapi juga mulai bernafsu melihat kecantikan Tante-Yang-Namanya-Tak-Akan-Kusebut. Dia memiliki paras khas perempuan daerah. Berkulit putih dengan alis tebal hitam teratur rapi. Bicaranya halus dan berlogat kental mendayu. Payudaranya besar, dan dia senantiasa  tersipu ketika menyadari aku memandanginya.
Setelah menelepon Mama, kuputuskan untuk tidur-tiduran sejenak di atas ranjang. Kuputar kembali rentetan peristiwa sebelum orang tuaku bercerai. Di bulan-bulan terakhir itu, durasi menyusuku kepada Mama jadi semakin sering. Papa yang mengetahuinya, kini tidak marah lagi. Mungkin karena dia sudah punya Tante yang selalu siap memuaskan segala nafsunya.
Malah, Papa menyarankan kepada Mama, “Itu pijitin burung si Ari biar jadi besar.”
Aku memang baru disunat pas umur 12 tahun. Jadi pertumbuhan kontolku agak telat, itu kata Papa.
Awalnya Mama memang menolak. Dia hanya mau menyusuiku, tanpa memijiti burungku. “Ini aja sebenarnya nggak boleh lho, Pah.” Mama berkata dengan putingnya asyik kuhisap.
Tapi Papa terus memaksa. “Kasihan Ari kalau burungnya kecil, Mah. Nanti dia tidak bisa memuaskan istrinya.” Begitu Papa beralasan.
Mama akhirnya menurut. Dia mulai memijiti burungku. Tapi dasar aku suka tak tahan, akhinya aku minta dikocok sampai cairan pejuhku keluar. Mama memang sempat protes sama Papa, karena tak tahu kenapa, spermaku ternyata kental sekali. Sudah keluar berapa kali pun tetap kental. Jadi dalam sehari, Mama bisa mengocok burungku berkali-kali.
Dari netek dan ngocok itu, kegiatan kami terus berlanjut. Malah pernah aku dan Papa netek bareng di ruang tengah. Mama duduk diam di sofa sambil nonton tivi, sementara aku dan Papa nyaplok payudaranya kiri dan kanan. Saat sudah tak tahan, Papa mengajak Mama untuk begituan di kamar.
“Tapi, Ari masih belum puas, Pah!” aku protes karena kesenanganku terpotong.
Papa berpikir sejenak, “Kamu ikut deh. Ayo sini.” Dia mengajakku masuk ke kamar.
“Apaan sih, Pah?!” Mama terlihat keberatan, risih. Mau ngentot kok ditonton anak sendiri.
Tapi Papa berhasil membujuknya. “Tidak apa-apa, biar Ari sekalian belajar kalau sudah kawin nanti,”
Begitulah. Untuk pertama kalinya aku melihat ayah dan ibuku ngentot malam itu. Tak berkedip kupandangi kontol Papa yang bergerak keluar masuk di selangkangan Mama. Payudara Mama yang terpental-pental kupegangi, kujilati putingnya, sambil kuperhatikan wajah sayu Mama yang sepertinya keenakan.
Mama kelihatan seperti makan rujak, mulutnya mendesah-desah. Sedangkan Papa seperti habis lari di lapangan, nafasnya memburu sambil menggeram mirip anjing. Papa berkali-kali bilang, “Memekmu legit bener, Mah! terus juga bilang “Uenak, Mah!”
Sementara Mama juga bilang. “Enak, Pah. Enak. Terus, Pah.”
Sejak saat itu, aku jadi sering melihat Mama yang lagi digarap oleh Papa. Hanya sebatas melihat, tanpa pernah mendapatkan lebih. Paling pol, Mama mengocok penisku sambil ia mengangkang disodoki oleh Papa. Sampai akhirnya mereka bercerai.
Perpisahan itu membuatku mulai berani minta yang aneh-aneh. Ketiadaan Papa membikin aku tak sungkan untuk minta dihisap, dijepit kontolku pakai tetek, ciumin memek Mama, atau menggesek-gesekkan burungku ke tubuhnya.
Mama bukannya menerima begitu saja. Tapi dengan alasan latihan biar aku tidak kaku sama istri saat kawin nanti, Mama akhirnya mau.
“Tapi janji ya, Ar. Jangan dimasukkan,” dia berkata malu-malu.
Aku langsung memeluknya yang saat itu mengenakan daster hitam berlengan pendek. Kutarik bagian leher dasternya ke bawah sampai payudara Mama terlihat jelas. Besar dan bulat seperti biasanya. Mama memang tidak pernah memakai beha bila di rumah, sesuai dengan permintaanku.
“Hmm... tetek Mama selalu bikin Ari ngaceng.” ucapku sambil mengulum puting susu Mama yang sudah mulai menegang.
Mama hanya bisa pasrah. Dia bersandar ke dinding kamar, membiarkanku menyedot sekuat mungkin kedua payudaranya seperti bayi yang kehausan. “Pelan-pelan, Ar... puting Mama sakit kalau kamu gigit-gigit begitu.”
Aku tidak menjawab. Mulutku terus menghisap sambil jari telunjuk dan jempolku memelintir-lintir puting susu yang satunya. Melihat keringat yang jatuh dari leher Mama membuatku ingin menjilatinya. Maka kujilat leher Mama yang jenjang sampai turun ke celah diantara kedua payudaranya.
Tanpa sadar, posisi Mama kini sudah berbaring dan aku berada di atas tubuhnya. Aku berlutut, menahan tubuhku agar tidak menindih Mama. Posisi daster Mama kini sudah turun hingga ke pinggang. Aku lalu melepaskan kaosku dan menurunkan celana. Burungku yang sudah tegak langsung mengacung karena aku memang tidak memakai celana dalam.
“Mah... langsung aja ya, Mah?” ucapku sambil mengelus-elus batang zakarku yang bagian ujungnya sudah mulai basah oleh cairan precum.
“Hati-hati, Ar... ingat, digesek-gesek saja. Jangan dimasukkan! Mama marah kalau kamu nakal.”
“Iya, Mah.” Aku mengangguk patuh.
Aku lalu menarik daster Mama ke bawah. Mama mengangkat pinggulnya agar aku lebih mudah dalam melepas. Aku lalu menarik celana dalam Mama hingga turun sepaha. Belahan vagina Mama yang sudah gundul karena rajin aku cukur terlihat sudah basah. Segera kuarahkan ujung kepala penisku ke area tersebut.
“Brrrr...” Badanku merinding keenakan saat ujung kepala penisku menyentuh belahan vagina Mama. Bibir vagina yang sudah agak menjulur keluar itu terasa menggelitik penisku.
Kugesekkan penisku mulai dari ujung belahan paling bawah sampai paling atas, lalu ke perut Mama. Kulihat wajah Mama, dia hanya diam sambil menoleh-noleh ke arah samping. Kuarahkan kembali penisku ke belahan vaginanya, lalu mulai kugesekkan naik-turun dengan perlahan.
“Sleess... Sleeess...”
Kepala penisku mulai terasa agak licin. Selain dari precum-ku sendiri, vagina Mama juga mulai banyak mengeluarkan cairan. Gesekan kepala penisku pun jadi lebih mudah. Kumulai mempercepat tempo gesekan. Naik-turun, naik-turun. Mama hanya melihat vaginanya yang kugesek dengan tatapan kosong dan khawatir.
Gesekanku pun semakin cepat. Tanpa sadar aku mungkin jadi agak menekan kepala penisku. Ditambah lagi dengan vagina Mama yang juga sudah agak melar, kini gesekan-gesekan kepala penisku jadi membelah dan membuka bibir vaginanya. Kalau ada setan lewat, mungkin aku bisa hilang akal dan langsung menusukkan penisku ke liang vaginanya.
Memek Mama sudah sangat basah, penisku yang sedang sangat keras ini pasti dengan mudah bisa masuk. Tapi kucoba sekuat mungkin untuk menahan nafsu, aku tidak mau membuat Mama marah dan sedih jika aku melanggar janji. Maka, aku terus memaju-mundurkan pinggul agar penisku bisa menggesek liang vaginanya.
Karena pegal, kuturunkan tubuhku ke bawah dengan tangan masih menahan hingga tidak menindihnya. Tapi di posisi ini membuatku jadi agak susah dalam menggesekkan penis. Akhirnya aku menggunakan satu tangan untuk membantu mengarahkan penisku menggesek vagina Mama.
Wajah Mama tepat berada di bawah wajahku. Kami saling bertatapan dalam-dalam. Beberapa tetes keringat dari keningku jatuh ke wajahnya. Nafas Mama mulai cepat dan ngos-ngosan. Mulutnya terbuka untuk membantunya bernafas.
Tanganku pegal juga harus menahan beban tubuh, apalagi tanganku yang satunya lagi juga harus mengarahkan penis sehingga aku hanya menahan tubuhku dengan satu tangan.
“Mah, tangan Ari pegal. Ganti posisi ya?” ucapku sambil bangun mengambil posisi duduk.
“Kamu mau gimana, Ar?” jawab Mama juga sambil mengambil posisi duduk.
“Sambil nungging aja deh, Mah.” ucapku sambil berdiri.
“Gimana caranya, Ar?”
 “Sini, Mama geser dekat Ari.”
Mama lalu beringsut ke arahku.
“Mama nungging kayak orang sujud, nanti Ari gesek-gesek memek Mama dari belakang.”
“Ih, kamu aneh-aneh aja, Ar. Tapi, ya udahlah.”
Mama segera menungging dengan bertumpu pada kedua kaki dan tangannya, tepat di depanku. Payudaranya yang besar bergelantungan ke bawah, indah sekali. Pantatnya terlihat bulat, dengan celah memek mengintip basah di antara paha. Siap untuk kugesek dari arah belakang.
“Pantatnya agak dinaikkan sedikit, Mah. Burung Ari nggak nyampai ini.”
Mama mengangkat sedikit pinggulnya. Akhirnya posisinya sudah pas, aku segera mengarahkan penisku ke arah liang vaginanya. Kumajukan badanku sampai penisku bersentuhan dengan bibir vagina lengket itu. Tanganku memegang bokong Mama lalu mulai melakukan gerakan menggesek. Posisi kami seperti orang yang ‘doggy style’.
Aku lebih menikmati posisi seperti ini. Rasanya lebih nikmat. Kupercepat gerakan pinggulku, maju-mundur maju-mundur. Penisku terus bergerak menggesek dan makin memperlebar bukaan bibir vagina Mama. Yang aku tak sangka, Mama juga memaju-mundurkan pinggulnya. Perlahan-lahan memang, tapi gerakannya terasa. Karena gerakannya itu, penisku jadi menekan lebih dalam hingga hampir saja masuk ke vagina Mama.
Lalu tiba-tiba Mama menurunkan pinggulnya. Dan...
Jleeeb...!! Kepala penisku amblas, masuk tenggelam di liang vaginanya.
Aku terdiam. Sangat kaget. Pikiranku terasa melayang, merasakan betapa kepala penisku seperti dipijat-pijat oleh organ kewanitaan Mama. Rasanya kepala penisku seperti dijepit oleh sesuatu yang empuk, kenyal dan basah.
Mama menghentikan gerakan pinggulnya yang tadi maju-mundur. Lalu menoleh ke arahku. “Duh... maaf, Ar. Pinggang Mama tadi pegal, jadi nggak sengaja mundur.” ucapnya sambil berusaha memajukan pinggul.
Tapi kutahan pantat Mama dengan kedua tanganku. “Eh... biarin sebentar, Mah. Kan tidak sengaja sudah masuk. Ari pengen merasakan sebentar.”
“Tapi, Ar... kamu sudah janji tadi nggak sampai masuk.”
“Bukan Ari lho yang sengaja mundur.” Aku tersenyum. “Sudah terlanjur, Mah. Lagian, cuma ujungnya saja kok. Bentaaar aja!”
Mama menghela napas berat. “Ya udah, sebentar aja ya. Kamu juga jangan gerak-gerak, nanti jadi tambah masuk.”
Kami diam dalam posisi tersebut. Meski hanya kepala penisku yang tenggelam, tapi kenikmatan ini terasa begitu luar biasa karena akhirnya aku berhasil menyetubuhi ibuku sendiri. Sesuatu yang selalu aku nantikan ketika aku menyusu, atau ketika aku menonton Papa menyetubuhi Mama.
Vagina Mama rasanya mengempot-empot dan memijat kepala penisku. Sekuat tenaga aku berusaha agar tidak bergerak. Hanya saja... dalam suasana hening diantara kami, Mama kembali memaju-mundurkan pinggulnya perlahan.
“Sleeb... Sleeeb...”
Perlahan tapi pasti, batang zakarku makin tenggelam ke liang vaginanya. Hingga tanpa sadar, kini setengah batang zakarku sudah masuk ke dalam. Kulihat Mama hanya memandang ke bawah tanpa berani menoleh ke arahku.
Ah, mungin Mama juga menginginkannya! pikirku dalam hati. Aku lalu mau memajukan pinggulku agar semua batang penisku bisa amblas masuk.
“Bleesss...” Mungkin karena vagina Mama sudah sangat basah dan licin, ditambah sudah longgar terbuka karena dimasuki setengah batangku, mudah saja aku melakukannya.
“Ughh... Ariii,” Tubuh Mama kembali menggelinjang. Sepertinya dia langsung mencapai orgasme karena batang zakarku yang tiba-tiba masuk seluruhnya tadi.
“Gimana, Mah, enak kan?”
“Ar... argh!! Jangan, Ar... jangan perkosa Mama.. arghh...” jawabnya dengan nafas masih memburu.
“Ari bakal memuaskan Mama.” Kemudian aku langsung menyedot puting payudara Mama. Rasanya begitu kenyal dan lembut, membuat birahiku semakin naik.
Mama tidak berkata apa-apa. Dia hanya menyeringai seperti sedang menahan kenikmatan. Kulihat matanya berkaca-kaca.
Di bawah, batang zakarku terus memompa liang vaginanya. Kumaju-mundurkan dengan cepat, sesekali rasanya kepala penisku seperti mentok dan menyentuh ujung rahim Mama. Kupacu terus penisku dengan cepat, nafsuku sudah di ujung. Aku ingin segera mencapai puncak kenikmatan di dalam vagina Mama yang hangat ini.
Suasanya kamar menjadi begitu panas. Tubuh kami berdua sudah basah oleh keringat. Kujilati peluh yang menetes dari dagu Mama dan terus ke bagian dadanya. Lalu kujilati juga ketiak Mama yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Tercium bau sedikit masam, tapi ini malah semakin membuatku bernafsu.
Perlahan kurasakan Mama seperti menggoyang-goyangkan pinggulnya, membuat penisku di dalam vagina jadi semakin nikmat. Ditambah dengan gerakan dinding vagina Mama yang mengempot-empot penisku. Mungkin ini yang disebut-sebut orang empot ayam. Kupercepat ritme sodokan penisku. Kurasakan kantong zakarku berkedut-kedut. Kudorong penisku sedalam-dalamnya ke dalam liang peranakan Mama dan...
“Croot.. Croot.. Croot.. Croot..”
Air maniku tumpah sangat banyak, maklum nafsuku sudah lama tertahan. Karena sodokan penisku yang sangat dalam tadi, aku yakin air maniku sampai ke rahim Mama. Aku masih memajukan penisku yang mulai loyo agar dengan perlahan air maniku tuntas keluar semua. Kurasakan spermaku yang barusan tadi membasahi penisku sendiri hingga terasa hangat.
“Aah... enak sekali, Mah. Ari puas!”
“Ar, kamu kenapa keluar di dalam memek Mama? Mama bisa hamil sama kamu.”
“Maaf, Mah. Ari sudah nggak tahan. Sudah di ujung.” Aku berusaha menarik keluar penisku dari vagina Mama, tapi tiba-tiba saja Mama menahan pantatku.
“Ar... masih bisa disodok-sodok lagi nggak burungmu? Sebentar aja. Mama sedikit lagi sampai,”
“I-iya, Mah. Bisa.”
Kusodokkan kembali penisku dan sekuat tenaga kugerakan maju-mundur. Karena baru saja ejakulasi sangat banyak tadi, penisku jadi tidak bisa tegang sepenuhnya, tapi masih bisa ereksi walau tidak terlalu keras. Kusodok terus liang memek Mama sambil mulutku menyedot payudara Mama dan memainkan putingnya yang satu lagi dengan jariku.
Mama lalu memeluk tubuhku dengan sangat erat. Badannya bergetar dan... “Cuur.. cuuur..” Penisku terasa seperti disiram cairan hangat di dalam liang vaginanya. Mama memaju-mundurkan pinggulnya agar penisku bisa masuk lebih dalam lagi.
“Aahhh... Mama sudah sampai, Ar. Enak. Enak sekali,”
Perlahan Mama melepaskan pelukannya. Penisku yang sudah layu akhirnya dengan sendirinya mencelat keluar dari vagina Mama. Kulihat setelah penisku keluar, cairan spermaku juga ikut menetes keluar. Lumayan banyak hingga menetes dan berceceran di seprai kasur. Mama lalu mengambi kainnya yang tadi tercecer dan mengelap liang vaginanya. Dia kemudian langsung berdiri dan menutupi tubuhnya dari dada sampai paha dengan kain tersebut.
“Kamu sudah puas kan, Ar? Sudah sekarang kamu tidur sana, jangan diulangi lagi ya!” ucap ibuku dengan muka agak jengah. “Kamu sudah menodai Mama. Kalau Mama hamil, apa kata orang nanti.” lanjutnya sambil berlalu ke kamar mandi.
Aku masih terbengong-bengong. Mama sepertinya masih marah padaku, tapi bukankah tadi dia juga menikmatinya dan malah menyuruhku meneruskan menyetubuhinya setelah aku ejakulasi?
Ah, sudahlah... Yang penting nafsuku sudah tuntas. Aku berhasil berhubungan badan selayaknya suami istri dengan Mamaku sendiri sampai tuntas, bahkan keluar di dalam lorong vaginanya. Aku yakin setelah ini akan ada jalan untuk kembali menyetubuhinya. Mungkin aku perlu membeli kondom agar Mama tidak hamil, bisa gawat bila dia hamil sedangkan Papa tidak ada.
Pergumulan dengan Mama tadi sungguh dahsyat, penisku jadi sedikit ereksi saat membayangkan apa yang baru saja terjadi. Tapi mataku sudah sangat berat. Lebih baik aku segera tidur, menyimpan tenagaku untuk kembali memacu birahi dengan Mama di kemudian hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar