Rabu, 28 September 2016

We Are The Icon 2



Hallo… PJ, tolong datang ke club ya, ada urusan penting. Sekarang ya...” kata Mezty.
“Emang ada apa?”
Cklek... tapi telpon sudah ditutup oleh Vanilla…
Loh, kok ditutup sih?!” kata PJ.
PJ adalah anggota girlband 7icons, gadis 21 tahun yang memiliki tinggi  badan 163 cm dan berat badan 45 Kg ini merupakan keturunan campuran dari Kalimantan dan Belanda. Memang mempunyai badan yang tidak begitu montok, tapi PJ memiliki kulit yang putih mulus sehingga dia terlihat sangat menarik bagi semua lelaki.
Setelah menerima telepon dari Mezty, PJ merasa bingung, kemudian dia menelepon ke 3 orang anggota 7icons yang lain (Atee, Natly dan Grace). Selang beberapa waktu, Atee, Natly dan Grace sudah berada di basecamp 7icons.

Ada apa, PJ? Ngapain lo telpon kami?“ Atee menyeringai dengan gaya tomboynya.
Atee adalah anggota 7Icons yang paling tomboy, Atee adalah orang Chinese dan punya keturunan Jepang. Tak jauh beda dari PJ, Atee memiliki kulit yang putih mulus, dengan tinggi 168 cm dan berat badan 46 Kg. Perilakunya yang tomboy membuat Atee sedikit berbeda dengan yang lain.
 “Barusan Mezty telepon, kita disuruh datang ke club tempat Mezty nge-DJ. Penting katanya, tapi teleponnya ditutup langsung.” PJ pun menjelaskan persoalan telepon Mezty tadi.
Yee udeh, kita samperin kesono aja, kok bingung amat sih lo!” Atee menjawab dengan cueknya.
PJ terdiam sejenak, “Tapi perasaanku gak enak, Atee...”
 “HAY, GUYS!!” lamunan PJ dibuyarkan oleh kemunculan kedua orang temannya, yaitu Natly dan Grace.
Natly dan Grace merupakan anggota 7icons yang paling jarang diekspose, yah karena menurut fans, karakter mereka berdua itu biasa aja. Tapi sebenarnya kedua wanita ini memiliki sex appeal yang kuat di bibirnya, bibir keduanya sangat seksi sehingga memberi nilai lebih bagi mereka berdua.
Ada apa sih, Tee?” kata Grace.
“Ini nih, PJ bilang kita disuruh datang ke tempat clubnya Mezty. Tapi PJ bilang ada yang aneh dari nada telponnya Mezty.” sambar Atee.
Yee kalau cuman diem aje, mana bisa tahu yang sebenarnya.Natly yang dari tadi diam pun ikut angkat bicara.
Tak lama kemudian mereka berempat sudah meluncur dengan mengendarai Honda Jazz milik Atee menuju ke tempat dimana Mezty dan Linzhi disekap.

***

Sementara di dalam ruang talent club tempat Mezty disekap...

“Byur... byur...“ Vanilla menyiram wajah Linzhi.
“Bangun... bitch!” kata Vanilla.
Linzhi pun membuka matanya. Lepasin aku, Van.” Dia memohon pada Vanilla.
Vanilla lalu menyuruh Mamet untuk melepaskan ikatan Linzhi.Bawa perempuan ini ke sofa, Met...!” kata Vanilla.
Linzhi kemudian dipapah oleh Mamet dan didudukkan di sofa, sedikit ada kelegaan di wajah Linzhi. Tetapi baru sejenak Linzhi bernafas lega, tiba-tiba Viktor dan Ferdinand menarik kedua tangan Linzhi dan mengikatnya di ujung sofa. Kini tubuh Linzhi menyerupai huruf “Y”
“Lepassskaaaaaan...!!!” Linzhi pun berteriak histeris saat Viktor mulai mengelus wajah imutnya. Belaian Viktor lalu turun ke pundak Linzhi, kemudian diteruskan ke dada Linzhi. Gerakan belaian itu berubah menjadi gerakan meremas di bongkahan payudara kanan milik Linzhi.
“Oouuchhh... ouuhhh...” Linzhi pun mendesah kegilian saat mulut Viktor melumat payudara imutnya. Viktor benar-benar membuat Linzhi tersiksa dalam birahi, puting payudara Linzhi dijilati oleh Viktor secara bergantian kiri dan kanan. ”Sruup... sruupp...” yang tanpa disadari oleh Linzhi membuat vaginanya menjadi basah mengeluarkan cairan cintanya.
Vanilla yang sedari tadi mengamati, kemudian mendekati Linzhi dan berjongkok di depan selangkangan mantan temannya itu dan sedetik kemudian... “Slurrrpp... sluuurp...  sluurpp...” dengan buasnya Vanilla menyapukan lidahnya di vagina Linzhi, klitoris Linzhi yang mungil memerah juga tak luput dari emutannya.
“Ooouuuuh... ouuhh... jangaaaaaan, Vanilla... ouuuh...“ membuat Linzhi jadi menceracau tidak karuan.
Tetapi Vanilla tidak berhenti, kini jarinya sudah mengorek liang vagina Linzhi dengan lincahnya sambil terus menciumi dan menjilatinya. Akibatnya...
“Aaahhhh... ahhhh... ouuaaaahhhh...” Linzhi pun mengalami orgasme yang pertama kali pagi itu...
”Dasar pelacur!! Bilang jangan, tapi nyemprot juga...“ kata Vanilla. Dan tidak berhenti sampai disitu, Vanilla kemudian beranjak dari duduknya dan membuka sebuah bungkusan.
”Hah‼” Linzhi pun terbelalak matanya ketika melihat bungkusan yang dibuka oleh Vanilla di depannya. Ya, Vanilla sedang memegang sebuah penis buatan yang cukup besar yang dikaitkan dengan celana dalam.
“Siap-siap kuentot dengan ini, hahahahaha...” Vanilla tertawa kemudian dia memakai penis buatan itu dan mendekati Linzhi.
“Jangaan, Vanilla... aku masih perawan... jaangaaan!!” Linzhi menangis membayangkan sebuah penis buatan dengan ukuran besar merenggut keperawanannya yang berharga.
Tapi Vanilla tidak menggubris tangisan Linzhi, ia menyuruh Mamet dan Viktor untuk mengangkangkan kedua kaki Linzhi. Kedua pria itupun segera menarik kaki Linzhi ke kiri dan ke kanan. Vanilla kemudian menggesek-gesekkan jarinya ke vagina Linzhi.
“Aaaahhh… ahhh...” Linzhi kembalii mendesah.
Melihat vagina Linzhi sudah kembali licin, Vanilla lekas memposisikan penis buatan yang dipakainya di depan liang vagina Linzhi. Pelan dan pasti penis buatan itu mulai menembus vagina Linzhi yang masih perawan. Blesssss...!!!
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaarghhhh... sakiiitttt... jangaaaaaan... sakiiittt...“ Linzhi pun berteriak-teriak saat penis buatan itu mulai menembus selaput daranya. Darah segar mengalir disela-sela pangkal pahanya.
Melihat itu, Vanilla justru malah lebih bersemangat menggenjot vagina Linzhi, bless... bless... bless... ”Oouuh... ouuh...“ Vanilla tidak bisa menahan birahinya, ia juga ikut mendesah karena terangsang dengan perilakunya sendiri.
Ferdinand yang dari tadi memegangi kaki Linzhi, juga tidak kuat menahan nafsunya. Dia pun melepas kaki Linzhi dan kemudian melangkah mendekati Vanilla. Pelan ia melolosi kaos yang dipakai oleh Vanilla, kemudian Ferdinand mulai meremas-remas payudara Vanilla yang sangat montok dan ranum. Vanilla jadi semakin mendesah dibuatnya.
”Aahhh... ahh... ahh... terusin, Ferdinand sayang!!” Vanilla terus menggarap Linzhi dengan penis buatannya hingga...
“Aaaaah... ahhh... aaaaaahh...“ Linzhi melolong panjang, dia orgasme untuk yang kedua kalinya.
Vanilla pun melepas sodokannya dari vagina Linzhi. Mamet yang dari tadi menonton, kini siap untuk menggantikannya. Mamet segera membalik tubuh mungil Linzhi hingga dalam posisi tengkurap. Setelah itu ditariknya tubuh Linzhi hingga ke tepi sofa, kini kedua lutut Linzhi menyentuh lantai sementara tangannya masih menempel di pinggiran sofa. Mamet berdiri di belakang Linzhi dengan posisi menghadap punggung gadis itu. Setelah itu kembali direntangkannya kedua kaki Linzhi sehingga bongkahan pantatnya tidak bisa menyembunyikan lobang anusnya yang kecil dan mungil.
“Aaaaaaaakkkkhh…” Linzhi melolong panjang, badannya mengejang dan terangkat dari sofa saat Mamet mulai menanamkan batang kemaluannya di dalam lobang anusnya.  Setelah itu tubuh Linzhi pun kembali disodok-sodok, tapi bedanya kali ini, pantatnya yang jadi sasaran.
Kedua tangan Mamet meraih payudara Linzhi untuk meremas-remasnya. Seperempat jam  Mamet menyodomi Linzhi, waktu yang lama bagi Linzhi untuk merasakan siksaannya. “Eegghhh… aakkhhh… oohhh…” dengan mata merem-melek serta tubuh tersodok-sodok, Linzhi merintih-rintih. Sementara itu kedua payudaranya terus diremas-remas oleh kedua tangan Mamet.
Mamet kembali merasakan akan mendapatkan klimaks, dengan gerakan secepat kilat dicabutnya batang kemaluannya dari lobang anus Linzhi dan dibalikkannya tubuh gadis itu hingga kini posisi Linzhi adalah telentang. Secepat kilat pula dia yang kini berada di atas tubuh Linzhi menghujamkan batang kemaluannya kembali ke dalam vagina sempit Linzhi yang sudah tidak perawan.
“Oouuffffhhh…” Linzhi langsung merintih di kala Mamet kembali menanamkan batang kemaluannya.
Tidak lama kemudian, Mamet kembali menggoyang pinggulnya, memompakan kemaluannya di dalam liang vagina Linzhi. Dan, CCREETT… CCRROOOT… CROOOTT… penisnya tanpa bisa dicegah memuntahkan sperma membasahi  vagina Linzhi, dan Linzhi pun kembali terjatuh tak sadarkan diri.
Sementara Vanilla yang nafsunya sudah di ubun-ubun, berkata memekik, “Masukin kontolmu, Ferdinand. Gua udah nggak tahan lagi!“ pintanya.
“Iya, sayang. Kamu sekarang nungging ya.” kata Ferdinand.
Vanilla pun menurutinya, lekas ia mengambil posisi menungging. Tampaklah disitu lubang anus Vanilla yang ternyata berwarna kemerahan. Lalu Ferdinand tanpa rasa jijik langsung menjilatinya. Setelah puas menjilati anus Vanilla, Ferdinand langsung mengarahkan kontolnya ke vagina majikannya itu.
”Pelan-pelan ya, sayang…” pinta Vanilla tanpa malu-malu memanggil anak buahnya dengan ’sayang’.
“Iya, sayang…” jawab Ferdinand cengengesan.
“Ughhh… gila, kontolmu dahsyat banget.” Vanilla merasakan penis Ferdinand memenuhi lorong vaginanya.
“Memekmu juga nikmat baget…” Perlahan Ferdinand mulai menggenjot memek Vanilla yang mulai becek dengan posisi menungging.
“Agh… agh… uhh… ohh...” Vanilla merasa akan orgasme kembali. “Aahhh… aku keluar, sayang… ohhhh…” Vanilla orgasme untuk yang kedua kalinya. Ferdinand merasakan denyutan vagina Vanilla seolah-olah akan memakan habis penisnya.
“Sekarang giliranku yang mengendalikan dan menservice kontolmu!” kata Vanilla sambil merubah posisinya di atas Ferdinand. Tangan Vanilla lalu meraih penis Ferdinand dan mengarahkan ke vaginanya.
“Aaghhh…” Vanilla menikmati penis itu memenuhi memeknya.
“Ohhh…” Ferdinand juga merasakan seperti di surga.
Dengan lincahnya Vanilla lalu menggenjot penis Ferdinand. Tangan Ferdinand juga tak tinggal diam, dia meraih payudara montok yang bergoyang-goyang mengikuti goyangan Vanilla. Setelah puas dengan payudara, dia lalu meraih pantat Vanilla yang sintal dan jarinya menyusup di lubang pantat Vanilla.
“Awww… pelan-pelan dong!” pinta Vanilla.
“Maaf, sayang. Aku cuma pengen tanganku ada aroma pantatmu.” jawab Ferdinand.
Sekitar 15 menit goyangan Vanilla di atas penis Ferdinand, membuatnya mengalami orgasme ketiganya di pagi itu. “Aku mau keluar lagi, sayang... ohhhh…”
“Aku juga, sayang… kita keluarin bareng ya!” jawab Ferdinand.
“Ahhh… ahhh…” Vanilla melenguh panjang menikmati orgame ketiganya yang sangat dahsyat.
“Ohhhhh... aku juga keluar, sayang… ahh…” Crooot… crooot... crooot... Ferdinand orgasme di vagina Vanilla. Mereka berpelukan mesra menikmati sisa-sisa kenikmatannya.
Tak lama kemudian pintu ruang talent digedor-gedor dari luar. “Permisi, siapa yang di dalam? Tolong buka pintu!“ teriak Atee dan anggto 7icons yang lain.
Ceklek! Pintu dibuka oleh Viktor, dan ke empat orang icons tersebut langsung berhamburan masuk ke dalam ruang talent.
“Hah…‼” PJ dan Atee terbelalak matanya melihat pemandangan yang mereka lihat. Bahkan PJ sempat menitikkan air mata saat melihat Mezty yang terikat di kursi.  Keduanya lebih tercengang lagi ketiga melihat kondisi Linzhi yang terkapar di sofa dalam keadaan yang cukup mengenaskan; tubuhnya dipenuhi sisa cairan sperma, didekatnya tampak dua orang laki-laki yang sedang duduk kelelahan setelah bercinta.
”Plok! Plok! Plok!” Vanilla bertepuk tangan melihat kedatangan mereka. “Wah, hidangan selanjutnya datang, teman-teman!“ kata Vanilla kepada Mamet, Viktor dan Ferdinand.
Cklek! Mamet dengan cepat mengunci pintu. PJ dan teman-temannya mulai merinding membayangkan apa yang akan terjadi pada mereka. Mamet, Victor dan Ferdinand langsung menangkap PJ dan Atee. Ferdinand yang bertubuh besar meringkus Atee dengan cepat. Atee yang tomboy meronta sekuat tenaga, tapi apa daya Ferdinand lebih kuat darinya. Sementara PJ berteriak-teriak ketika Mamet dan Viktor membopongnya dengan paksa. Beberapa saat kemudian, Atee sudah terikat di atas kasur dengan posisi tengkurap, sedangkan PJ diikat di sebuah sofa dengan posisi duduk, tangannya diikat ke samping dan kakinya diikat dengan posisi mengangkang.
“Lepasin gue, Vanilla!” teriak PJ dan Atee, tapi teriakan mereka hanya disambut dengan senyuman sinis oleh Vanilla. PJ dan Atee semakin terbelalak ketika Grace dan Natly ikut tertawa di samping Vanilla.
“Grace, Natly, apa-apaan ini?” teriak Atee.
“Hahaha... rasakan! Sebentar lagi kalian akan merasakan balasannya, perempuan-perempuan sok cantik!!“ kata Natly, kemudian ia dan Grace berjalan mendekati PJ dan Atee dan mereka berdua duduk di sofa yang berhadapan dengan PJ dan Atee yang tengah terikat.
Natly kemudian berdiri dihadapan Grace dan melepas kaos yang dipakainya dengan gaya yang dibuat-buat agar merangsang. Tali bra berwarna putih berenda tampak menghiasi bahu Natly yang indah. Natly melemparkan kaosnya ke lantai, menyusul bra dan celana dalamnya. Tubuhnya yang mulus kini hanya tinggal terbalut rok mini biru tua. Payudaranya nampak indah sekali bentuknya, bulat, tidak terlalu besar namun kencang, putih bersih, dan putingnya kecil sekali berwarna coklat muda. Natly berjalan mendekati Grace.
Natly  meraih kepala Grace yang sedang duduk di sofa  dan mendongakkannya hingga wajah Grace langsung berhadapan dengan sepasang  payudara Natly yang  indah, dengan puting-puting yang merah kecoklatan, menunggu untuk dibangunkan. Jari-jari Natly  mengusap rambut Grace, kemudian mengusap pipi dan mengelus tengkuk Grace. Tangan Grace mulai memeluk pinggul Natly, menariknya mendekat. Grace lalu menempatkan bibirnya pada puting payudara kanan Natly, menghisap, melingkarinya dengan lidahnya, terus-menerus.
Natly  mencengkeram kepala Grace, desahan nafasnya mulai tidak teratur. ”Oouhhh... Grace! Oouuh... come on, honey!“ Alis Natly menyatu, matanya terpejam, sementara mulutnya ternganga mengeluarkan desahan nafas tak beraturan.
Grace pun ikut terangsang melihat wajah Natly, kini ia memindah kulumannya ke puting susu kiri Natly, ia meremas payudara Natly sambil mengulum putingnya. ”Sluuurp... slurpp...“
”Auhh...” Natly merasa kegelian, tubuhnya menggeliat-geliat kecil, kakinya tampak goyah, tak lama kemudian ia jatuh terduduk di atas sofa.
“Hah! Gila, apa yang kalian lakukan?!“ PJ yang dari tadi melihat adegan panas tersebut berteriak kencang.
“Diam...!! Tunggu giliran kalian!” bentak Vanilla.
Cukup lama Grace memainkan kedua payudara Natly  dengan mulut dan tangannya, sebelum kemudian Natly mendorong Grace hingga kini Natly hampir menindih tubuh Grace. Natly kemudian mencium bibir Grace, menghisapnya kuat-kuat sambil tangannya membuka kancing-kancing kemeja Grace. Natly melepaskan ciumannya, tapi itu cuma sesaat karena ia kemudian mulai menjilat dan menciumi leher Grace. Natly juga menarik bra Grace ke atas hingga terlihatlah payudara Grace yang bulat indah.
Dengan begitu bernafsu Natly meremas-remas kedua payudara Grace. Bibirnya  menyerbu puting susu Grace yang kiri, melumatnya, menghisap, dan menjilatinya dengan gemas. Rangsangan itu membuat Grace terpejam dan meringis menahan rasa geli. Bahkan ia sampai mendongakkan kepalanya ke atas saat merasakan gerakan lidah Natly yang semakin menjadi-jadi. Kedua puting susu Grace dijilat dan dihisap-hisap oleh Natly secara bergantian. Tangan Grace mencengkeram pinggang Natly, rasa geli pada puting-puting susunya terasa membuatnya lemas. Hingga akhirnya tubuh Grace bergetar hebat tak lama kemudian.
“Aachhh… Nat! Aaaaachh… owhhhhhh… Nat! Oouuuuch…“ mulut Grace membentuk huruf O saat mengalami orgasmenya yang pertama. Ia kemudian memeluk Natly dan keduanya kembali berciuman.
PJ dan Atee yang dari tadi melihat adegan panas tersebut, kontan mukanya jadi memerah. Bahkan nafas PJ mulai terengah-engah, tampaknya PJ tak kuasa menahan gairah yang melanda dirinya. ”Ooouhh…“ PJ pun ikut mendesah.
Belum selesai siksaan gairah yang akan dirasakan PJ, Natly menariknya celana dalam Grace hingga terlepas, lalu disingkapkannya rok mini Grace ke atas, sebelum kemudian Natly mengangkangkan kaki Grace. Sedetik kemudian, Natly sudah menempelkan vaginanya ke vagina sempit Grace dan menggosoknya naik turun.
Grace merasakan kehangatan dan kenikmatan yang tak tertahankan, ia pun merintih dan mengerang keras-keras. “Aaaahhh… ouuuhhh… Natly, I love you… Natly, I love you… owwh… ouuuuch…“
Natly lalu membaringkan Grace telentang di atas sofa, kemudian ia menduduki selangkangan Grace dan menggesek-gesekkan vaginanya ke vagina sempit Grace, sementara tangannya berpegangan pada payudara Grace. Natly memilin-milin keras puting susu Grace.
“Aahh… ohh… oucch…” Natly menggeliat-geliat sambil menaik-turunkan badannya, juga mendongakkan kepalanya ke atas.
Grace tak kalah menggeliat-geliat, mencoba menahan gempuran rasa geli dan nikmat yang mengalir membanjiri tubuhnya, “Aduhh, Natly… ohh… aaauuuch… ooooh...” Grace mengerang  tak beraturan.
“Uhh… ouuhh… aahh… Grace… nikmat sekalii, Grace…” Natly merintih-rintih tak karuan, nafasnya makin memburu cepat, sementara gesekan vagina mereka menjadi semakin cepat, semakin terasa hangat dan lembap.
Grace terengah-engah kegelian, sebelum kemudian mengangkat punggungnya dengan tiba-tiba dari sofa, melengkungkannya seperti busur panah. “Aaaaaah… ooooh… Natly, i am coming, babe… ooouuhh...” Grace orgasme untuk kedua kalinya, vaginanya terasa berdenyut-denyut.
Melihat itu, rintihan Natly menjadi semakin tidak karuan, birahi mereka berdua kian memuncak. Natly mengerang-ngerang saat merasakan desakan dari dalam tubuhnya yang mengalir cepat menuju ke liang vaginanya. Tubuh Natly mengejang, sementara tangannya mencengkeram pinggang Grace saat hentakan orgasme mendera tubuh mulusnya.
“Aaaaahhhh... ouuuchhh... aaahh... Graceee...” Cairan vagina mereka berdua saling bercampur diantara paha mereka. Natly roboh dan terbaring kelelahan di samping Grace, sementara Grace hampir kehilangan  kesadarannya karena mengalami dua kali orgasme yang sangat dahsyat.
“Ooohhh... ohhh...“ desah PJ. Melihat pemandangan yang panas di depannya, PJ pun merasakan gairahnya mulai naik, sehingga wajahnya jadi penuh dengan keringat. Sementara Atee juga tidak kalah horny, malah posisi tengkurapnya sudah berubah menjadi posisi menungging dengan pantat diangkat tinggi ke atas. Rupanya kedua orang itu juga mengalami gairah karena melihat aksi nakal Natly dan Grace.
Vanilla segera memberi kode kepada Ferdinand dan Mamet. Kedua orang itu langsung mendekati PJ dan Atee dari arah belakang. Ferdinand mendekati Atee kemudian menyelipkan jarinya ke sela-sela hot-pants yang dipakai oleh Atee, jarinya diselipkan melalui celana dalam dan langsung mencolek vagina basah Atee.
”Aaaaah... ouuhh… apa apaan ini?! Aauuuh... aaach... bangsat! Jangaaan... ouuuchh... ouuuch...” Atee memaki-maki Ferdinand, tapi jari-jari Ferdinand terus mengocok liang vagina Atee yang masih tertutup hot-pants dan celana dalam, hingga makian Atee jadi bercampur dengan dorongan birahi yang cukup besar.
Ferdinand mempercepat kocokan jarinya di vagina Atee, “Plop... plop... plop...”
”Oouuuhh... ahhhh… ouuuuch...” Atee semakin mengerang tak karuan, sebelum tiba-tiba tubuhnya mengejang pertanda dia akan mengalami orgasme.
Mengetahui mangsanya akan orgasme, secepat kilat Ferdinand melepaskan kocokan jarinya.
”Oouuuh... ouuh... kenapa berhenti, Bang?! Terusss, Bang! Teruuusss...” oceh Atee meminta.
Ferdinand pun tertawa terbahak-bahak, “Enak aja, lo... mau menang sendiri!” makinya.
“Pliss, Bang! Lanjutin lagi, Bang! Ouuhhh...” kata Atee menghiba saat melihat Ferdinand berjalan ke depannya, posisi Atee yang menungging membuat mulutnya pas di depan pinggang Ferdinand.
“Bang, tolong, Bang... kocok lagi meqi gue...” pinta Atee.
Ferdinand membuka celana dan cd-nya, ”Haaah?!” mata Atee langsung terbelalak melihat penis Ferdinand yang panjang 20 cm dengan lebar kepala penis 5 cm, batangnya hitam berurat dengan jembut tumbuh sangat lebat. Ferdinand kemudian mencengkeram rahang mulut Atee dan menekannya sehingga mulut Atee menjadi menganga.
Slebb! Ferdinand langsung menjejalkan penis panjangnya ke dalam mulut Atee. “Crop... crop... crop...” Ferdinand membelai-belai rambut Atee yang indah sambil menatap wajah gadis itu.
“Ahh... ahh… ahh…” rintih Atee dengan mulut penuh oleh penis Ferdinand.
“Nikmat sekali rasanya mulutmu, Atee...“ kata Ferdinand sambil memejamkan mata dan menikmati rokoknya. Ia terus merasakan kenikmatan di sekujur batang penisnya yang tengah dikulum keluar masuk mulut Atee. Dengan penis yang masih tertanam dalam, Ferdinand kemudian membuang rokoknya. Diraihnya kepala Atee dengan dua tangan digerakkannya maju-mundur.
“Ahh… nikmat banget rasanya mulut selebriti ini,“ desis Ferdinand keenakan. Penisnya seperti dipijit-pijit oleh mulut Atee, bibir sensual gadis itu melingkari penuh batang penisnya.
“Hahaha...“ Vanilla ikut tertawa melihat rona kepuasan di wajah anak buahnya.
Beberapa menit kemudian, Ferdinand merasa akan orgasme. Maka digerakkannya kepala Atee semakin cepat untuk mengulum batang kemaluannya. Dan crooott... croooot... crooott... Ferdinand  menyemprotkan spermanya ke mulut Atee. Sperma itu memancar keluar banyak sekali membasahi mulut hingga tenggorokan Atee, bahkan sampai meleleh keluar dari mulut Atee.
Setelah puas, Ferdinand kemudian mencabut batang penisnya. Atee langsung terbatuk-batuk sepeti akan muntah. Keadaannya cukup mengenaskan, mulutnya penuh dengan sperma Ferdinand, bahkan sampai meluber ke luar. Belum sempat Ate beristirahat, “Nah, sekarang rasain kontolku ini, Atee!“ kata Vanilla yang sudah memakai kembali penis buatan yang lebih besar dari penis Ferdinand.
“Jangaaaaannn... jangaaaaan...” Ate berteriak-teriak histeris melihat ukuran penis buatan itu.
Tapi berlagak tidak peduli, Vanilla langsung memposisikan diri di belakang Atee yang masih terikat menungging, ”Cuihh... cuihh...” ia meludahi vagina Atee yang masih terus menjerit-jerit, lalu jleeebbbbb… blesss...!!
”Aaaaaaaaaarghhh...” penis buatan yang cukup besar itu pun amblas dalam vagina Atee dibarengi teriakan histeris dari Atee.
Tanpa menunggu lama, Vanilla kemudian mulai menggoyang penis buatannya maju mundur, croop... croop... croop...
Atee pun jadi mengerang tidak karuan, “Oouuuch... ouucch... oucchh...” Bahkan karena begitu besarnya penis Vanilla, Atee sampai tidak kuat untuk melawan. Ia pun ambruk dan pingsan.
“Hahaha...  dasar cewek sok! Tingkahnya aja tomboy, tapi loyo... siram dia!” kata Vanilla.
Viktor datang membawa seember air. Byurr...! Disiramnya wajah Atee hingga gadis itu siuman.
“Sudah, perkosa aja ramai-ramai!” kata Vanilla.
“Jangaaan... toloong jangaaan...” pinta Atee memelas.
“Ribut banget nih cewek… udah diem, sumpel kontol nih biar gak ribut!” kata Viktor sambil berlutut di atas muka Atee. Ia menampar pipi Atee hingga membuat Atee membuka mulutnya, kemudian Viktor memasukkan  penisnya ke mulut Atee dan pelan mulai menggerakkannya maju-mundur.
“Mmmphhh… mmmmppphh...” Atee  bergumam tertahan.
“Wah, enak nih mulut artis.” ujar Viktor.
Tak mau hanya menonton, Mamet dan Ferdinand mulai menjilati vagina Atee.
“Ahhh… ahh...” Atee pun mulai mendesah karena jilatan pada vaginanya.
“Akkkhh...” Viktor mengerang dan sedetik kemudian, crooot... croott... crooott... spermanya muncrat di mulut Atee.
“Uhuk-uhuk… ahhh...” Atee terbatuk-batuk, berusaha untuk memuntahkan sperma yang ada di dalam mulutnya.
 Ferdinand yang tak mau menunggu lama segera membalikkan badan Atee. Dia memaksa Atee untuk kembali  menungging .
“UHHH… arrggghhhhhh…” Atee kembali berteriak saat Ferdinand memaksa penisnya masuk ke dalam liang vaginanya.
“Busyet… sempit banget!” Ferdinand mulai menggerakkan penisnya maju mundur.
Mamet yang tidak mau kalah, mulai menciumi puting payudara Atee. “Wow, toketnya montok bener.” Toket Atee memang tidak cukup besar, tapi sangat bagus bentuknya.
Sementara Viktor bertugas menahan badan Atee agar yang lainnya leluasa menyetubuhi dan meraba-raba tubuh Atee.
“Hmmpph… mmmm…” Atee hanya bisa melenguh dan menangis tertahan. Dia sudah tidak kuat untuk memberontak. “Mmmmm! Mmmmm!!” tiba-tiba Atee bergumam tidak jelas.
“Gua mau keluar!” ujar Ferdinand sambil mencengkeram pantat Atee dan menamparnya keras-keras. “Ahhhh… ahhhh...” laki-laki itu menjerit saat spermanya muncrat di vagina Atee. Saat Ferdinand mencabut keluar penisnya, dari vagina Atee menetes lelehan spermanya.
”Ampun, Bang, meqi gue sakit banget. Udah, ampun, Bang...” Atee merintih kesakitan.
Namun Mamet tampak tidak peduli. ”Sini!” Ia mengangkat dan memangku Atee. Tubuh Atee yang indah membuat Mamet jadi tidak tahan lagi, lekas ia berusaha memasukkan penisnya ke lubang vagina Atee.
“Uhhh… u-udah… meqi gue sakit.” Ate tetap berusaha memberontak.
“Daripada ribut, nih lubang pantatnya dipakai!” kata Viktor.
“Mmmhhh… jangaaaan…“ Atee memohon saat Viktor mulai menusuk lubang pantatnya dengan jari. “Pantat gue! Uhh... s-sakit, Bang! Ampun…” Atee menolak dengan lemasnya.
Beberapa saat kemudian, Atee merasa ada sesuatu yang lebih besar akan memasuki lubang pantatnya. “IHHH...!!! JANGAN...!!!! AAAHHHH...!!!” Atee kembali memberontak saat penis Viktor mulai masuk secara pelan-pelan ke dalam lubang pantatnya.
“UUUGGGHH…!!! AAAHHHH…!!! UDAH...!! UDAH...!! Meqi ama pantat gue sakit banget, Bang!!” Atee merengek kesakitan ketika dua buah penis maju mundur di lubang pantat dan vaginanya. Air matanya terus keluar, mukanya memerah dan mulutnya terus keluat racauan yang amat memilukan. Air liur dan sperma yang ada di mulut Atee menetes melalui bibirnya.
“Enak banget nih pantatnya artis, hahaha...“ ledek Viktor sambil terus menggenjot.
“UHH...!! UHH...!! UDAH...!!! TOLOOONGG...!!! AAARRRGGGHHHH...!!!!! UUUHH...!!!!” Atee terus meracau. Dia mengernyit menahan sakit di lubang pantat dan vaginanya.
“JANGAN...!!! Sakit...!!! Uuuuuhh… mmmmmmhhh… augh… s-sakit…!!! Udah! Lepasin! Uuuuh… AAAAAHH…” Atee  terus merengek tak henti-henti.
Mamet yang dari tadi  duduk dan memangku Ate, kemudian meraih kaki gadis itu dan  direntangkannya lebar-lebar. Mamet kembali memasukkan penisnya ke memek Atee.
“Uhhh…” Atee sudah tidak bisa menghitung lagi berapa kali memeknya dimasuki penis dan ia sudah tak ingat lagi berapa kali dia orgasme. “Eh… AARRGGHHHHH… ouuuuh… aaahhhhh!!!” namun Atee menjerit kaget saat ia merasakan ada penis lain yang masuk ke lubang vaginanya.
Viktor ternyata sudah berlutut dan memasukkan penisnya dengan paksa ke lubang vagina Atee yang sudah terisi oleh penis Mamet.
“AAAAHHH…!!! MEQI GUE SAKIIIIIIIIITT…!!! MEQI GUE  MAU ROBEK…!!! JANGANN GENJOT MEQI GUE LAGI…!!!!!“ Atee terus merengek saat lubang memeknya dimasuki dua penis.
“Unnnnggggghhh… unggghhh… aaaahh… meqi gueee sakit!!!” Atee terus meracau dan berteriak tak jelas. Ia kembali menangis dengan air mata yang kering.
“Ampuuuun… UDAH!!! Jangan genjot meqi gue lagi…” Atee terus merengek dan memohon-mohon seiring dengan gerakan kedua penis tersebut.
“Euuughhhh… agrhhhh… oooooOOOOH…!!!” Atee berteriak melengking ketika kedua penis itu menyentakkan dirinya pertanda orgasme.
Crooot… crooot… crooot… Mamet menyemprotkan spermanya ke dalam vagina Atee, disusul oleh Viktor yang juga mengejang menyemburkan spermanya ke dalam lorong vagina Atee. Ketiganya kemudian terjatuh lunglai. Keadaan Atee sungguh sudah mengenaskan, pantatnya merah penuh bekas tamparan, sementara vaginanya memerah karena dimasuki oleh dua penis. Mata Atee menatap sayu, mukanya memerah karena malu.
“Plok! Plok! Plok! Bagus sekali film ini, hahahahaha...“ Vanilla ternyata telah merekam pemerkosaan Atee tadi, ia kemudian berjalan masih dalam keadaan bugil ke arah PJ yang sedang menangis melihat Atee dihajar habis-habisan. PJ menangis membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya.
“Sluurp... slurrpp...” Vanilla tiba-tiba meraih bibir PJ dan melumatnya dengan penuh nafsu; lidahnya menyapu lidah PJ.
PJ pun gelagapan karena kaget, tapi Vanilla kemudian melepaskannya. “Belum saatnya, sayang... tunggu giliranmu tiba... hahahaha.“ katanya.
 ”Bajingan!” PJ berteriak sangat keras dan kemudian menangis…

Author : mr. tengil

Tidak ada komentar:

Posting Komentar