Senin, 10 Oktober 2016

Ancaman Bencana 8



16 Agustus 2011 Pk. 07.00 

Dalam keragu-raguan dan situasi tidak tahu harus berbuat apa, Honggo memutuskan untuk tetap mengikuti petunjuk sms yang diterimanya semalam.  Tidak ada pilihan lain. Teman-teman yang diharapkan dapat memberikan bantuan atau sedikitnya memberikan petunjuk, sampai pagi ini belum juga memberi kabar. Orang-orang yang dicintainya hilang. Mama dan adiknya bahkan bibi pembantu rumah diculik orang. Mereka diculik sebuah organisasi yang dia tidak tahu siapa.
Dia tahu ada organisasi GESF yang pertama kali menculik keluarganya. Tetapi kemudian, mereka hilang entah kemana, dan para penculik anak buah GESF meninggal semua. Teman perempuan yang baru dikenalnya beberapa hari juga ikut hilang. Dia tidak ada petunjuk sedikitpun dimana temannya itu berada. Satu satunya petunjuk yang mungkin bisa mengarahkan dia menemukan orang-orang yang dicintainya adalah petunjuk sms yang dikirim oleh seseorang yang mengaku anggota jaringan organisasi inteligen international. Dia adalah bapak Robby, yang sekarang sedang berdiri dihadapannya. 

“Bagus, nak Honggo, kali ini kamu tepat waktu. Kamu sudah mempelajari dokumen-dokumen yang saya berikan kemarin?” tanyanya. 
“Sudah, Pak.” jawab Honggo tidak bersemangat.  
“Bagus, ayo kita berangkat.” Pak Robby merangkul bahu Honggo, seakan mereka merupakan sahabat akrab. 
“Apa bapak tahu, dimana keluarga saya? Saya tidak bisa bekerja dengan tenang tanpa mengetahui dengan jelas keselamatan keluarga saya.” tanya Honggo dengan nada lemah sedikit gelisah.  Dia hanya sempat tidur satu jam setelah mengalami bermacam-macam persoalan dan harus bangun lagi menuju ke airport pagi ini. Sms semalamlah yang terakhir diterima dari pak Robby bahwa dia harus terbang ke Semarang pagi ini. 
“Tenang saja, nak Honggo, kita sedang berusaha mencari mereka. Kamu harus konsentrasi menyelesaikan tugas ini dengan baik. Negara ini tergantung pada kamu. Ratusan juta jiwa mengharapkan keberhasilan kamu.”
Dalam waktu kurang dari 27 jam lagi, pulau Jawa akan hancur. Jauh melebihi kehancuran profinsi NAD/ Aceh di akhir tahun 2004.  Karena pusat ledakan bukan di laut, tapi di darat, dalam lapisan kulit bumi di bawah tanah pulau Jawa. Informasi ini begitu bersifat rahasia, sehingga bahkan seorang agen intelijen international seperti pak Robby, juga baru tahu hal ini kemarin.  Presiden juga baru diberitahu kemarin. 
“Apalah gunanya saya menyelamatkan negara, kalau keluarga saya tidak dapat saya tolong?” bantah Honggo. 
“Kita bicara nanti di pesawat sambil jalan, Ayo!”  kata Pak Robby sambil berjalan menuju hangar dengan tangan kanannya tetap merangkul di bahu Honggo. Mereka menaiki tangga pesawat yang disewa dari sebuah perusahaan pesawat carter lokal.   
“Kenapa bapak tidak pakai pesawat negara, Pak?” Honggo masih sempat sempatnya menanyakan fasilitas negara, walaupun pikirannya sedang kalut.   
“Alah…nak Honggo seperti tidak tahu saja.  Negara ini miskin dan tidak ada anggaran untuk hal semacam ini. Presiden kita saja tidak ada fasilitas pesawat pribadi. Janganlah membayangkan ada Air Force One.” sahut pak Robby dengan suara getir. 
Honggo sebenarnya tadi sempat meragukan kapasitas Pak Robby yang mengaku seorang pimpinan institusi pemerintah, pejabat intelijen yang disegani di negara ini, tapi berangkat ke Semarang pakai pesawat carteran.  Setelah mendapat jawaban dari pak Robby soal pesawat kepresidenan, dalam hati dia berpikir, hal ini sangat ironis mengingat pada kenyataannya beberapa menteri dan petinggi negara punya pesawat pribadi.   
Mereka berdua berdiam diri berjalan menuju kursi dan memasang pengaman. Sekitar 10 menit pikiran Honggo terus menganalisa semua kejadian-kejadian yang sudah dialaminya. Mulai dari peristiwa dia diculik dan diinterogasi oleh Pak Robby, keterangan-keterangan yang dia peroleh dari Abdul, kemudian kejadian dia dipermainkan dengan pesan singkat sms, sampai dengan saat ini dia ikut dengan Pak Robby dalam pesawat menuju Semarang. 
“Begini, nak Honggo... kami sudah mengetahui siapa yang membunuh anggota kami.” Pak Robby membuka percakapan setelah beberapa saat pesawat terbang di udara. 
“Siapa mereka?”  
“Melihat dari proyektil peluru yang ditembakkan kepada para anggota kami yang tewas, ini merupakan senjata yang jarang dimiliki oleh TNI maupun Polri. Hanya ada satu kesatuan yang menggunakan senjata ini yaitu tim anti teroris Densus 88. Ini yang membingungkan.” Pak Robby berhenti sebentar dan menarik nafas. 
“Iya tentu saja membingungkan, bukankah seharusnya tim Densus 88, berpihak pada bapak?” tanya Honggo. 
“Apakah benar Densus 88 terlibat dalam pembunuhan anak buah saya dan penculikan keluarga kamu, kami belum dapat memastikan. Kami memang sudah menduga akan ada pihak lain yang berniat buruk terhadap keluarga kamu. Oleh karena itu, makanya kami membawa keluarga kamu ke tempat yang kami anggap aman. Kita melakukannya secara rahasia, tidak sembarangan orang tahu soal ini. Kami bekerja sepenuhnya berdasarkan informasi GESF pusat. Sampai saat keluarga kamu, saya tempatkan di Sentul, bahkan BIN secara resmi sampai kemarin tidak saya beritahu. Tapi karena gossip ini sudah menyebar di kalangan elite militer maupun pejabat tinggi negara. Apalagi kemudian terbukti dengan pembunuhan siang bolong di depan umum, di komplek perumahan, akhirnya semuanya harus dibuka.
“Setelah menganalisa hasil olah TKP (tempat kejadian perkara), dan terutama melihat mobil agen Ningsih terparkir di depan rumah, maka kami mengambil kesimpulan bahwa keberadaan tempat kami ini diketahui dengan cara mengikuti GPS yang terpasang di mobil itu setelah terlebih dahulu membunuh agen Ningsih. Kami juga membaca sms terakhir dari pasangan kerja agen Ningsih yang saya tugaskan untuk bertemu kamu di Ancol. Ternyata dia juga tewas di dalam mobil, di sebuah parkiran di Ancol. Kami menduga kuat, bahwa Intan teman kamu itu ikut terlibat dalam pembunuhan ini. Nak Honggo sendiri yang bilang pada saya bahwa Intan ditawan oleh agen Ningsih dan rekannya, bukan?”   
Honggo tidak menjawab, tapi diam-diam dia terkejut dan kuatir sekali bila keterangan Pak Robby itu benar. Dia berharap Intan telah menyelamatkan mama dan adiknya. Honggo mulai merasakan benih-benih cinta yang sudah lama tidak pernah ada di hatinya. Dia merasa cocok dengan Intan. Saat bicara, saat diskusi, saat bercanda dan masing-masing punya pandangan hidup yang sama. Intan adalah perempuan cantik sekaligus pintar, ini yang jarang dia temui. 
“Kami kemudian menyelidik data-data pribadi Intan,” Pak Robby meneruskan. “Kami periksa KTP-nya, kartu kreditnya, keluarganya, temannya, nomer handphonenya, semuanya. Dari sini kami bisa mengetahui bahwa ternyata Intan juga punya pacar yang bernama Abdul, seorang professional bidang komputer.  Bukti ini sangat kuat karena nomor handphone Intan sebagian besar menghubungi atau dihubungi oleh sebuah nomor handphone yang terdaftar atas nama Abdul, terutama dua bulan terakhir ini.” 
“Apa?!” tanpa sadar Honggo bergumam. Bagaikan petir menyambar gardu PLN di malam hari, suasana terang tiba-tiba menjadi gelap. Honggo merasakan kepalanya berdenyut-denyut. Detak jantungnya terpacu lebih dari 180/menit. Untungnya dia dalam posisi sedang duduk. Bila tidak, mungkin dia akan jatuh lemas.    
Byar!… Bayangan Intan sebagai istrinya berganti dengan perempuan yang sama sekarang memakai rompi anti peluru, memegang senjata sambil menembak ke sekelilingnya. Lima orang tewas dan jatuh ke tanah, penuh lubang dan darah mengalir. Darah muncrat kemana-mana! sebagian mengenai muka Honggo.  Dengan reflek, tangan kanan Honggo meraih muka dan berusaha mengusap darah tersebut, tapi telapak tangannya tetap bersih. Tidak ada darah setetespun. Dia sadar bahwa tadi hanya lamunan.  
“Ada apa, nak Honggo, kelihatan muka kamu pucat sekali?” Pak Robby ikut terkejut melihat gerak gerik anak muda yang duduk di sebelahnya ini. Anak muda yang diharapkan menjadi satu-satunya orang yang mampu untuk mengambil bom termonuklir yang diletakkan teroris di lubang galian sebuah bangunan di Jawa Tengah. 
“Tidak apa-apa, Pak. Tolong diteruskan,” sahut Honggo sambil menantikan keterangan lanjutan dari Pak Robby. 
“Kami kemudian menyelidiki data-data pribadi Abdul. Di siang hari dia adalah karyawan sebuah grup perusahaan yang juga ada pertambangannya. Dia anggota beberapa komunitas internet, termasuk komunitas geologi yahoogroups dimana Honggo juga anggota disana. Tidak ada yang mencurigakan, karena aktifitasnya adalah sesuai dengan pekerjaannya sebagai ahli komputer. Dia seorang pekerja keras, karena pulang ke rumah, setiap malam dia masih bekerja lagi terhubung dengan internet, bahkan kadang sampai pagi.” Penjelasan penutup yang sangat mengecewakan Honggo. 
“Abdul itu tiap malam online sebagai hacker, Pak. Dia tahu tentang adanya Inti Gas, bom termonuklir XIV66, dia tahu GESF terlibat urusan ini, dia tahu ada jaringan pemasok Israel yang bekerja sama dengan hacker Mesir.” sekali lagi tanpa sadar Honggo dengan nada sedikit kesal memberitahukan hal ini kepada Pak Robby. 
Setelah berbicara begitu, Honggo sendiri terkejut menyadari betapa cerobohnya dia membuka rahasia ini kepada Pak Robby.  Padahal dia belum yakin GESF pihak yang baik atau tidak. Dia juga masih mengharapkan informasi dari Abdul, sebagaimana semalam dia minta pertolongannya mencari Intan dan keluarganya.
Titik titik hotspot tengah membakar sebuah hutan lindung. Kayu-kayu kering di musim kemarau, menjadi begitu mudah tersulut bahkan oleh panasnya sinar matahari.  Panas yang seharusnya bisa memberikan cahaya kehidupan.  Honggo telah dibakar oleh api cemburu. Setelah puluhan jam dia diombang-ambingkan dengan pertanyaan dan kenyataan rumit, dia sekarang merasa kecewa, benar-benar kecewa, sangat kecewa. Bila benar semua cerita Pak Robby, dia kecewa kenapa malam itu Intan tidak memperkenalkan Abdul, dan sebaliknya Abdul yang sudah dikenalnya lebih dulu tidak memperkenalkan Intan.  Mereka jelas tengah memainkan suatu skenario untuk menjebaknya. 
Semalam, waktu dia menanyakan perihal Intan kepada Abdul, jawaban Abdul seakan-akan tidak tahu dimana Intan, dan bahkan berjanji akan membantu mencarinya. Tiba-tiba Honggo menjadi semakin kuatir dengan keberadaan mama dan adiknya.
Belum sempat dia berpikir lagi, Pak Robby segera menyambar pernyataan Honggo tadi. “Kamu kenal Abdul? Kenapa baru sekarang kamu kasih tahu saya?” desaknya. “GESF pusat pernah memberitahu saya, memang betul ada pemasok Israel yang bekerja sama dengan hacker Mesir. Mereka bertujuan mencuri bahan super tersebut dan memproduksi sendiri nuklir tersebut di salah satu negara bagian Amerika. Setelah siap, maka termonuklir ini akan ditawarkan kepada siapa saja pihak yang berminat, terutama teroris yang punya target untuk menghancurkan suatu wilayah atau negara.  Pelaksanaannya tetap dilakukan pemasok tersebut, dan pembeli hanya menentukan target. Setelah target hancur, pembayaran baru dilakukan.
“Dan target pertama untuk demonstrasi kekuatan bahan super termonuklir ini adalah Pulau Jawa. Tapi siapa pembelinya tidak diketahui. Bila Abdul adalah seorang hacker, apakah dia juga jaringan hacker Mesir? Atau anggota pemasok Israel?” Pak Robby bertanya kembali pada Honggo yang tidak konsentrasi mendengarkan.   
“He-eh… apa, Pak?”  Honggo seperti orang kebingungan setelah badannya digoyang-goyang Pak Robby. 
“Apakah Abdul kerja sama dengan hacker Mesir? Apakah Abdul anggota pemasok Israel?” tanya Pak Robby kembali mengulangi dengan nada lebih keras. 
“Saya tidak tahu. Seharusnya bapak yang lebih tahu! Bapak punya fasilitas dan koneksi informasi yang lebih lengkap. Bapak pimpinan BIN,  Bapak anggota GESF, jaringan intelijen seluruh dunia, Bapak seorang Jendral, Bapak punya banyak anak buah. Seharusnya bapak yang lebih tahu!” Honggo melampiaskan kekesalan dan kekecewaannya. 
Sebagai orang tua yang sudah banyak pengalaman, Pak Robby tahu, Honggo kecewa dengan berita tentang Intan tadi, karena kemarin selain menanyakan keselamatan keluarga, Honggo juga bertanya tentang Intan.    Sebagai Jendral yang berpengalaman pula, dia kembali fokus pada masalah besar yang harus diatasi. Urusan lain-lain bisa diselesaikan nanti. Yang penting baginya sekarang adalah mengetahui dengan tepat lokasi diletakkannya bom itu, dan memastikan Honggo bisa bekerja sama dan membantu mengambil bom tersebut. Sekarang ini pak Robby sedang berharap informasi itu dan menunggu diserahkannya wadah pengaman untuk menyimpan bom tersebut setelah Honggo berhasil mengambilnya. Menurut rencana, barang itu akan diserahkan oleh seorang kurir begitu mereka tiba di Semarang, paling lambat pukul 09.00.  

***

Turun di airport Semarang, Pak Robby segera mencari korespondennya dari GESF Pusat yang katanya sudah menunggu di sana. Melalui handphone pak Robby, mereka diminta pergi ke sebuah restaurant.  
“G…Day! Honggo, apa kabar?” sapa seorang pria bule muda berambut pirang, memakai celana jeans dan kaos polo. Di tangan kirinya tergantung sebuah tas ransel warna coklat muda.
Bila dalam situasi normal, Honggo tentu dengan senang hati menyambut sapaan ini, bahkan diikuti dengan menepukkan telapak tangan dan pelukan tanda persahabatan. Namun saat ini Honggo dalam kondisi lelah, ditambah kecewa yang belum hilang, dan masih lagi memanggul beban misi berat menyelamatkan negara, sapaan ini seakan gangguan nyamuk yang menyebalkan. Dia datang tidak tepat pada waktunya. Dia terkejut dan hanya bergumam lirih.  “Oh..ho…Sean, how are you? What are you doing here?”
Sean adalah teman di tempat kerja Honggo di Australia, seorang pemuda 34 tahun, dengan tinggi 180 cm.  Dia adalah seorang keturunan Irlandia yang migrasi ke Australia dan menjadi warga negara Australia. Dialah yang duduk memonitor layar komputer GPS dan UET di lokasi tambang pada saat terjadinya kecelakaan ledakan. 
“Pak Robby?” tanya Sean menatap Pak Robby dengan matanya yang berwarna hijau transparan, setelah basa-basi sebentar dengan Honggo.  Pak Robby mengangguk, sambil tetap waspada. 
“Saya adalah kurir GESF yang ditugaskan mengantar barang ini. Saya juga yang merekomendasikan agar Honggo yang menyelesaikan tugas ini, karena saya sudah tahu keahlian dan kemampuannya.” Sean memberikan penjelasan sebelum semua orang kebinggungan dan salah paham. 
“Menurut informasi, bom itu ditanam melalui jaringan lubang di bawah sebuah bangunan reaktor nuklir PLTN di Semenanjung Muria. Honggo akan membawa wadah pengaman, turun ke bawah, mengambil bom tersebut, dan meletakkannya di wadah, dan meledakkannya di sebuah ruangan. Saya akan memantau dengan system komputer dari sekitar lokasi tersembunyi. Pak Robby dan team bertugas melindungi saya. Nanti di helikopter, tolong pelajari gambar-gambar lokasi ini,” katanya melanjutkan sambil memberikan sebuah map kepada Pak Robby. 
“Ayo, kita berangkat. Waktu kita tidak banyak” kata Sean sambil berdiri dan mendahului jalan keluar dari restaurant.  Mereka bertiga diantar dengan mobil dari airport menuju lokasi helipad. 
Setengah jam kemudian, mereka telah sampai di semenanjung Muria. Mereka tidak mendekat ke lokasi PLTN, tapi mencari tempat yang agak tersembunyi, kira-kira berjarak 500 meter dari lokasi target. Sean mengeluarkan laptop dan beberapa macam alat yang berbentuk seperti handphone dan iPod. Dia sibuk mengetik mengaplikasikan softwarenya untuk mencari dengan tepat dimana bom itu ditanam. Suasana sepi, penjagaan juga seadanya. Tidak tampak ada orang-orang yang mencurigakan atau yang bermodel teroris. Tidak ada pengawal bersenjata otomatis. Mungkin karena mereka tahu, bila bom ini meledak, tidak ada yang bakal selamat, sehingga mereka tidak menjaga lokasi. 
“Aha…oke…sudah kutemukan! bom ini terletak di sini.” kata Sean sambil menunjuk ke layar, menerangkan kepada Honggo yang mengangguk-angguk tanda mengerti. 
Honggo mempersiapkan tabung wadah pengaman dan memasukkannya ke dalam tas ransel yang tadi dibawa Sean. Menurut perhitungan, dia akan sampai ke titik koordinat target dalam waktu 60 menit, dan naik kembali dalam waktu 90 menit. 
Tiba-tiba terdengar suara dari sebuah handphone berbunyi. Suara itu berasal dari handphone Honggo, dan dengan kelabakan dia segera meraih dan menjawab,  “Hallo!” 
“Hallo… Honggo! Ini Abdul. Keluarga kamu sudah ada disini bersama saya. Segeralah kamu pergi menjauh dari lokasi. Tidak ada gunanya membahayakan diri kamu dan juga keluarga kamu.” suaranya lembut seperti biasa. Hanya saat ini, suara lembut tersebut dirasakan mengandung ancaman dan menuntut konsekuensi yang beresiko sangat dahsyat.
“Dimana keluarga saya kamu tahan?” dengan hati-hati Honggo bertanya.
“Mereka semua ada di tempat yang nyaman. Kamu tidak perlu kuatirkan mereka. Selamatkan dirimu, pergilah sekarang, mumpung masih banyak waktu. Saya sekarang ada di Kalimantan. Tidak ada gunanya kamu membantu GESF. Bom termonuklir XIV66 sudah ditanam dengan robot di suatu lokasi tersembunyi. Lebih baik kamu kesini berkumpul dengan keluarga. Biarlah pulau Jawa hancur.”   
“Apakah Intan bersama kamu juga?” 
“Hahaha! Kamu jatuh cinta dengan Intan, Go? Hahaha,” Abdul tiba-tiba tertawa seperti orang kesetanan. Orang yang diketahui Honggo, seorang sopan santun mendadak berubah menjadi seorang maniak mengerikan. ”Iya, Intan ada di kamar hotel dan karena tugasnya masih harus membuat pengumuman bencana melalui konferensi press, maka dia tidak saya bunuh. Apalagi dia telah berjasa membantu membongkar anggota GESF.” 
“Apa maksudmu?” kejar Honggo penasaran sambil menekan tombol speaker, sesuai instruksi Pak Robby agar semua bisa mendengar. 
“Baiklah… biar semuanya jelas. Saya tahu kamu sekarang sedang bersama Robby pimpinan unit GESF di Indonesia. Biarlah dia ikut mendengar agar dia bisa mati dengan puas.” Abdul seakan tahu handphone Honggo diaktifkan suara speakernya.  “Intan adalah pejabat di BMG, tentu saja dia punya posisi strategis untuk menganalisa data bencana, memanipulasinya dan mengumumkannya kepada press. Beberapa kali bom-bom kecil yang dijual ke perusahaan pertambangan, dan mengakibatkan gempa 5-6 skala Richter bisa dibuat dan diberitakan sebagai bencana alam. Intan tidak berdaya dan harus mengikuti perintah kami, karena orang tua Intan di Amerika menjadi taruhannya. Tugas terakhirnya adalah nanti mengumumkan juga, bahwa ledakan skala 12,9 di Jawa Tengah besok adalah bencana alam. Pergeseran lempeng tektonik yang terjadi ratusan tahun sekali dan diterangkan dengan seilmiah mungkin.” 
“Bukankah dia pacar kamu? Kenapa kamu begitu tega memaksanya?”
“Siapa yang bilang dia pacar saya? Saya kenal dia karena saya diminta oleh rekan saya untuk mempengaruhinya dan memberitahu tugas-tugas apa yang harus dikerjakan.” 
“Siapa rekan kamu itu?” 
“Rekan saya ada di Amerika, Mesir dan Israel. Tentu kamu tahu maksud saya, bukan?” 
“Jadi kamu anggota jaringan pemasok Israel juga?” 
“Tepat sekali. Saya akan mendapatkan bonus lima juta dollar Amerika bila tugas ini berhasil.  Kebetulan saya sudah bosan menjadi karyawan dan benci melihat para pengusaha bersekongkol dengan politikus, pejabat pemerintah, jendral-jendral koruptor, memeras uang rakyat untuk keuntungan pribadi.  Pulau Jawa sudah kebanyakan orang berdosa, dihuni oleh orang-orang munafik, orang-orang rakus.” 
“Tapi, kenapa kamu harus mengorbankan ratusan juta jiwa rakyat?” 
“Bila tidak ada tindakan drastis seperti ini, tidak akan ada kesejahteraan. Indonesia sulit berubah. Biarlah Pulau Jawa hancur, dan nantinya pulau-pulau lain menjadi maju dan berkembang. Pulau Jawa sudah terlampau berat menanggung dosa para penghuninya.” 
“Jadi, dimana kamu tanam bom itu?” tanya Honggo walaupun komputer milik Sean bisa memperkirakan lokasinya. Dia hanya ingin mendapatkan kepastian. 
“Saya tidak tahu. Bukan tugas saya untuk menanam bom tersebut. Tugas saya hanyalah menjaga agar proses selama pengiriman dan waktu penanaman bom tersebut tidak diganggu oleh pihak-pihak lawan seperti GESF atau institusi pemerintah.” 
“Kenapa waktu menyerang penculik dari GESF, kamu malah didukung oleh tim Densus 88?” 
“Hahaha..! Ternyata kamu tahu juga soal ini. Pasti Pak Robby yang memberitahukan kepadamu seperti itu, bukan? Apakah kamu tahu, pekerjaan tim hacker seperti kami seperti apa? Kami bisa mengubah informasi yang disampaikan dari pihak manapun kepada pihak siapapun. Apalagi hanya tim Densus 88 yang sebagian besar dana operasionalnya didukung dari Amerika. Jadi kami hanya memberikan informasi bahwa di alamat tersebut ada sekawanan teroris yang sedang menawan beberapa sandera. Kebetulan pula saya termasuk dalam tim ahli komputer keamanan nasional, jadi saya juga punya hubungan dekat dengan beberapa kesatuan TNI maupun Polri.  Dengan kedudukan saya ini, tidak sulit untuk meminta bantuan mereka, bukan? Sekali lagi Honggo, saya sarankan kamu tidak perlu mengorbankan diri dan keluarga. Pergilah selagi sempat. Terbang ke Bali, kalimantan atau Sulawesi supaya kamu selamat.  Tidak ada untungnya membela GESF atau negara. Kami bisa memberikan uang banyak kepada kamu.”  
Honggo tidak menjawab, dia terus berpikir keras. “Saya ingin mendengar suara mama dan adik saya, baru saya percaya dengan kamu.” 
“Mereka tidak bersama saya sekarang. Mereka sudah di tempat yang nyaman. Kamu terbanglah kesini kalau mau bertemu dan berkumpul kembali.   Keputusan ada di kamu, selamat tinggal.” Telepon dimatikan. 
Honggo terbayang lagi kisah-kisah yang mengesankan bersama mama dan adik kecilnya.  Waktu itu dia bersama seluruh keluarga termasuk papa dan bibi, tamasya ke pantai anyer. Dia berenang sampai ke tengah laut, karena merasa sudah mahir berenang dan lagi pula dia memegang pelampung. Suatu saat dia terkena ombak, badannya terasa diputar, dia masuk kedalam pusaran balik Di dalam air yang keruh, dia hanya bisa melihat pasir bergulung-gulung, kemudian dia tidak sadarkan diri.  Mama yang dari tadi duduk di tepi pantai sambil tersenyum memperhatikan Honggo, langsung berteriak memanggil bantuan. Untungnya Honggo berhasil dibawa ke tepi pantai dan tidak luka serius. Setelah mendapat pengobatan di puskesmas 30 menit, bersama mamanya dia membeli 5 butir durian dan makan bersama.   Sore harinya dia bersama mamanya berjalan-jalan lagi, berbelanja ikan dan udang di pantai untuk dibakar di villa. 
Kini Honggo hanya bisa berdoa untuk keselamatan mama dan adiknya. Dia berharap keadaan mereka lebih baik karena ada di Kalimantan dan tidak terkena bencana walaupun dia gagal mengambil bom tersebut. Pada saat yang sama, dia juga kuatir, bila dia berhasil melaksanakan misinya dan pulau Jawa tidak jadi hancur, mungkin kelompok Abdul dan pemasok Israel akan membunuh mereka. Tanpa sadar, tangan Honggo memegang cincin ikat batu ruby merahnya. Cincin yang merupakan hadiah ulang tahunnya yang dua puluh sembilan, sebelum dia pergi ke Australia. Honggo tidak tahu bahwa mama dan adiknya sudah terbunuh di sebuah rumah di sentul, bersama-sama dengan bibi dan anak buah Pak Robby. 
Bapak Robby yang dari tadi ikut mendengar percakapan Abdul dan Honggo, segera mengontak dan melapor kepada Kepala BIN, atasannya sekaligus meminta bantuan menyebarluaskan mengenai kekacauan ini. Kekacauan informasi dan keberadaan tokoh Abdul di balik kejadian ini, dan yang paling penting adalah bahwa dalam waktu kurang dari 20 jam lagi, sebuah bom termonuklir akan meledak dan menghancurkan pulau Jawa.  
Sejak mengetahui dan memastikan bahwa ancaman teroris ini benar-benar ada, sejak kemarin, Presiden dan keluargannya, beberapa menteri kabinet, pejabat-pejabat penting pemerintah, legislative, yudikatif, telah terbang mengungsi ke Manado, dengan alasan kunjungan kerja dan peresmian sebuah kampung nelayan. Mereka mengadakan rapat darurat, dan memonitor situasi dari sana. Beberapa pengusaha yang dekat dengan pemerintah juga diam-diam diberitahu agar bisa mengungsi dari pulau Jawa. Sayangnya, demi untuk tidak menimbulkan kepanikan massal, tidak ada pemberitahuan resmi kepada rakyat mengenai hal ini. Tidak ada kantor redaksi media TV, Surat kabar yang mengetahui kemungkinan akan ada bencana yang dalam 20 jam lagi menghancurkan pulau Jawa. Bahkan tidak semua pejabat pemerintah sadar apa yang sedang terjadi di Republik Indonesia ini. Apalagi para pejabat daerah yang sekarang ini masih euforia dengan otonomi. Mereka lebih banyak berkonsentrasi pada program-program daerah, mencoba mengali segala potensi pemasukan daerah, termasuk membuat pajak-pajak baru melalui peraturan daerah secara kreatif. 
Sean telah menemukan gambaran persis koordinat tempat bom diletakkan. Titik ini ada di bawah bangunan sayap di sebelah kanan gedung utama PLTN Semenangjung Muria. Letak kedalaman sekitar 1100 meter di bawah dan melalui sebuah terowongan pipa saluran air berdiameter 7 meter. Pipa air ini nantinya akan dipergunakan untuk pembuangan limbah nuklir PLTN. Tanpa memerlukan waktu lama, Honggo yang juga sudah biasa membaca laporan dari system komputer yang digunakan Sean, segera bertindak. Saat ini dia sudah tidak memikirkan keluarganya lagi. Dia juga tidak memikirkan Intan. Saat ini yang penting adalah saat ini, dia kembali pada philosophi hidupnya.  Masa lalu adalah sejarah, Masa depan adalah misteri. Masa kini adalah hadiah, karena itu disebut “Present” dalam bahasa Inggris. Dengan pegangan ini, sekarang Honggo hanya konsentrasi pada tugasnya memikirkan bagaimana menyelesaikan misinya mengambil bom termonuklir yang ditanam di bawah sebuah bangunan PLTN. 
Sambil berlari kecil, dengan sekali-sekali mengendap, Honggo mendekati bangunan yang dituju. Dipunggungnya terdapat sebuah tas ransel warna coklat muda milik Sean. Tidak terlihat penjaga dengan senjata. Hal ini bisa dimakluminya, karena PLTN ini belum beroperasi. Sekarang baru dalam tahap konstruksi bangunan yang dikerjakan oleh perusahaan Jepang.  Perusahaan Jepang ini merupakan sub kontraktor dari sebuah perusahaan milik konglomerat Indonesia. 
Ups!! Sebuah pikiran nakal terlintas di benaknya. Bukankah grup perusahaan milik konglomerat ini yang juga mendapatkan konsesi pengeboran di Jawa Timur?  Kenapa mereka bisa memperoleh proyek lagi di sini, walaupun jelas-jelas mereka tidak mampu mengerjakan sendiri dan kemudian akan mengsubkontrakan lagi kepada pihak luar negeri. Kenapa pemerintah tidak langsung saja kontrak dengan pihak yang kompeten? 
“Ah, bukan urusan gua!” demikian akhirnya Honggo menepis pikiran yang melintas sambil kembali mengamati suasana sekelilingnya. 
Bisnis memang penuh dengan kolusi dan ini tidak hanya terjadi di Indonesia. George W Bush sebagai president USA pada saat terjadi peristiwa WTC 9 September 2001, juga berkompromi dengan teman-teman bisnisnya yang merupakan warga Negara Saudi Arabia dan Keluarga Osama bin Laden.  Walaupun fakta 15 dari total 19 orang anggota teroris di pesawat merupakan warga Negara Arab Saudi, tetapi pada tanggal 13 September dimana semua penerbangan keluar Amerika tidak diizinkan, ada 142 orang warga Negara Arab Saudi termasuk 24 anggota keluarga bin Laden yang diperbolehkan pulang tanpa pemeriksaan. 
Mengapa? Karena Salem M. Bin Laden dan Shafiq bin Laden secara tidak langsung merupakan investor utama yang mendukung perusahaan-perusahaan yang dimiliki oleh keluarga Bush, president pada saat itu. Akibat kolusi dan perlindungan bisnis ini pula, maka kebijakan Amerika Serikat adalah menyerang Iraq sebagai kambing hitam, bukannya menyerang Afganistan tempat dimana Osama Bin Laden berlindung. Kekuatan uang dalam bisnis dapat mempengaruhi keputusan politik dan tidak memperdulikan nyawa masyarakat sipil. Kekuatan uang juga tidak mengenal ideologi, agama atau bangsa.  
Honggo melewati sebuah pagar kawat berduri setelah mengunting beberapa simpul ikatan. Dia sekarang telah masuk dalam wilayah terlarang, mendekati salah satu bangunan reaktor. Dia terus berlari menuju sebuah gardu bersembunyi sebentar. Dari sana dia berlari lagi menuju gardu yang lain, bersembunyi lagi. Hari masih terang, baru pukul 14.00, dan bila ada pengawas, dengan mudah dia dapat terlihat. Pengawas lokal mungkin dia tidak perlu takut, karena pasti Pak Robby bisa berkoordinasi dengan mereka. Yang dikuatirkan Honggo adalah para pengawal dari pemasok Israel yang jelas tidak mau rencana besar mereka gagal hanya karena seorang Honggo.
Untunglah sampai di pintu gerbang bangunan yang belum ada pintunya, Honggo dengan leluasa bisa masuk tanpa diketahui penjaga. Di dalam ruangan terlihat tiga orang petugas keamanan lokal, satu perempuan dan dua laki-laki. Pistol tampak menggantung di sabuk mereka masing-masing. Ketiganya sedang asyik berbincang dan bercanda. Pekerjaan konstruksi bangunan sekarang memang sedang dipusatkan di bagian belakang dan kiri, sedangkan bangunan ini hanya menunggu penyelesaian akhir. Penyelesaian akhir mungkin akan dilakukan bersamaan dengan seluruh bagian gedung-gedung lain dalam lokasi ini. 
”Ada yang salah dengan tubuh saya, Pak?” tanya si petugas perempuan pada lelaki di depannya, yang dari tadi tampak memandangi tubuhnya dengan kagum.
”Mmm... bukan. Justru malah sebaliknya. Tubuhmu indah sekali.” jawab laki-laki itu dengan birahi mulai melanda. Celananya terasa tak nyaman karena benda apapun yang ada di dalamnya mulai memberontak kuat.
”Lalu?” petugas perempuan itu tersenyum, memerkan giginya yang tersusun rapi. Dari wajahnya yang cantik terlihat kalau dia berumur tak lebih dari 25 tahun. Hidungnya kelihatan mancung. Bibirnya ranum seakan ingin dicium. Dadanya... hhm, rasanya siapapun ingin meremas dada yang montok itu. Tak terkecuali dua lelaki di depannya, yang sudah tak sabar ingin menggigitnya gemas, ingin menjilat dan menghisap putingnya. Aah, pasti nikmat rasanya.
Perempuan itu sendiri terlihat gelisah. Duduknya mulai tak tenang seakan menahan sesuatu. Ucapannya mulai terpotong-potong, nafasnya terlihat agak berat. Petugas yang duduk menoleh kepada temannya yang duduk, dia tersenyum lebar memperhatikan kegelisahan perempuan bernama Rita itu. Lalu ia berdiri dan berjalan mendekati kursi tempat dimana Rita berada, kemudian duduk di sebelah wanita cantik itu.
”Kamu cantik sekali, Rit.” kata lelaki yang di nametag nya tertulis Suparman sambil tangannya dengan berani mengelus paha mulus Rita.
”Pak Parman. Jangan kurang ajar, Pak.” tolak Rita setengah hati, sambil tetap membiarkan tangan laki-laki itu mengelus-elus pahanya. Nafasnya terlihat semakin berat, sementara matanya mulai menatap sayu.
”Gila!” pikir Honggo dalam hati. Ia mengucek matanya sendiri seakan tak percaya. Apakah mereka akan melakukannya? Honggo memutuskan untuk menunggu dan melihat apa yang terjadi selanjutnya.
Kini tampak Rita menikmati permainan jari tangan Suparman di kulit pahanya. ”Ahh... j-jangan, Pak... hhmm!!” rintih perempuan itu saat sebuah ciuman mendarat mendarat di bibirnya yang tipis, dan langsung melumat dengan begitu rakusnya. Anehnya, ia membalas ciuman itu dengan tak kalah panasnya.
”Hhmmmp... hhmmp...” desahan kedua orang itu membuat petugas yang satu lagi jadi tak bisa tinggal diam. Ia segera duduk di sebelah Rita hingga wanita cantik itu kini terjepit. Ia menyasar leher jenjang Rita yang tampak menggoda. Sambil melumat, tangannya seakan tak mau ketinggalan dengan beraksi meraba dan meremas lembut payudara montok perempuan cantik itu dari balik baju seragam yang dipakainya.
Bagian bawah rok Rita sudah tersingkap ke atas karena usapan tangan nakal Suparman, memperlihatkan sebentuk kaki jenjang yang sangat mulus sekali. Laki-laki itu bergerilya semakin ke dalam, kini tangannya sudah merayap sampai ke pangkal paha Rita. Bertiga mereka larut dalam gejolak api birahi yang seakan tak bisa ditolak, sama sekali tidak mengetahui kehadiran Honggo yang masih terus menonton dari tempat persembunyiannya.
Petugas yang bernama Andi menarik wajah Rita agar menoleh ke arahnya, rupanya ia ingin mencicipi bibir seksi milik wanita cantik itu. Rita menyambutnya dengan penuh nafsu. Lidah mereka dengan cepat bermain, saling membelit dan menghisap serta saling bertautan erat. Ciuman gadis muda ini sangat luar biasa. Hanya dengan melihatnya, Honggo bisa membayangkan bagaimana rasanya. Mantan-mantan pacarnya tak ada yang bisa berciuman dengan sepanas itu.
Saat keduanya berhenti melumat, terlihat Suparman sudah melepas kancing baju seragam Rita lalu menarik baju itu ke bawah. Tali bh Rita pun juga sudah ia tarik ke samping dan diturunkan ke bawah juga. Sekarang tubuh atas wanita cantik itu sudah telanjang. Payudaranya yang montok karena memang jarang dijamah terlihat menantang dengan putingnya yang berwarna coklat muda kemerahan mengacung kencang ke depan karena bergairah.
”Aaah... aahhh...” desah Rita ketika Suparman mulai beraksi di dadanya. Lidah laki-laki itu menjilati putingnya yang semakin mengeras. Sesekali puting itu juga dihisap-hisapnya gemas hingga membuat desahan Rita menjadi semakin keras.
Andi segera mengikuti aksi temannya. Payudara Rita yang satunya segera menjadi sasaran mulut dan lidahnya. Tangannya juga mulai mengelus-elus vagina Rita dari balik celana dalamnya yang mulai basah. Honggo bisa melihat kalau kemaluan perempuan itu penuh dengan bulu saat Andi menyelusupkan jari lewat samping celana dalamnya.  Dengan dua jari Andi kemudian mengocok vagina Rita.
”Uugh...” desah Rita tanpa malu lagi.
Andi mempercepat kocokan jarinya, sedangkan bibirnya masih asyik menghisap payudara Rita yang kini jadi semakin membusung.
”Ookhh... Pak Andii.... a-aku mau... AAGGHH!!!” Rita berteriak kencang saat orgasme pertamanya datang menerpa. Badannya menggeliat tegang. Honggo tak berkedip saat menatap otot-otot vagina perempuan itu yang menegang kencang begitu cairan kenikmatannya menyemprot keluar.
Andi memperlambat tempo kocokan jarinya agar Rita bisa menikmati sisa-sisa orgasmenya. Ia menatap wajah perempuan itu yang tampak sayu memancarkan kepuasan. Di sebelah mereka, Suparman sudah berdiri telanjang bulat. Tubuhnya tampak lucu dengan perut buncit dan kulit yang mulai mengeriput, tapi kemaluannya tampak garang mengacung tegak ke depan. Ia segera menarik tubuh molek Rita dan membawa ke arah selangkangannya. Penisnya ia posisikan di mulut wanita cantik itu.
Seakan sudah tahu apa yang harus ia lakukan, Rita langsung membuka mulutnya dan mulai menjilat serta menghisap-hisap penis Suparman dengan penuh nafsu.
”Aaah... seponganmu bener-bener enak, Rit!” desis Suparman keenakan.
Andi yang dari tadi cuma melihat segera melucuti semua pakaiannya. Penisnya tampak sudah mengeras panjang dengan ketegangan maksimal, membuatnya jadi tampak begitu garang. Ia minta untuk dihisap juga. Jadilah kini Rita melayani dua penis, satu di kiri dan satu di kanan. Namun itu tidak lama karena baru sebentar, Suparman sudah keburu menarik tubuh perempuan itu ke atas pangkuannya.
Rita yang sudah paham maksud laki-laki itu, segera duduk dengan selangkangan ia posisikan agar pas dan sejajar dengan penis besar Suparman yang mengacung tegak. Setelah pas, ia menurunkan tubuhnya pelan-pelan sehingga penis itu bisa memasuki liangnya.
”Aahh... punya kamu enak banget, Rit. Sempit!” desis Suparman.
”Mmm... punya bapak juga enak.” Tanpa malu Rita segera bergoyang liar di atas pangkuan Suparman. Pinggulnya bergerak naik turun, juga kadang berputar ke kiri dan ke kanan hingga membuat Suparman merem melek keenakan.
Honggo meraba-raba penisnya sendiri melihat semua adegan itu. Tak terasa ia mulai terangsang.
”AAHHH... aku mau keluar, Rit.” jerit Suparman yang ternyata tidak tahan lama. Ia semprotkan semua air maninya ke dalam liang kewanitaan Rita, setelah itu ia terkapar kelelahan di atas kursi.
”Dasar hidung belang. Nafsunya aja yang gede, stamina kurang!” ejek Honggo dalam hati. Dilihatnya kini Andi yang ganti mendekati Rita. Laki-laki itu menarik tubuh Rita yang sintal dan direbahkannya di lantai. Ia angkat kaki gadis muda tersebut sampai lutut Rita menempel di tonjolan payudaranya. Dengan posisi ini, kemaluan Rita jadi kelihatan semakin menantang. Andi langsung mengarahkan penisnya kesana.
”Auuggh... p-pelan-pelan, Pak Andi. Punya bapak gede banget!” rintih Rita.
”Maaf, Rit. Habis kamu nafsuin banget sih.” sahut Andi sambil menusukkan penisnya semakin dalam ke lubang senggama perempuan itu. Desah kenikmatan dari mulut Rita semakin menambah semangatnya.
Honggo melihat Andi mulai menggenjot pantatnya. Ia tampak keenakan dan mendesah nikmat. Kadang cepat dengan penetrasi pendek, kadang lambat tapi dimasukkan sampai mentok. Kadang ia variasikan antara beberapa kocokan dengan penetrasi ringan dan pendek, yang diselingi dengan tekanan kuat memakai seluruh tenaga sampai ujung penisnya menyentuh mulut rahim Rita.
Usahanya itu dengan cepat berhasil, desahan Rita jadi semakin keras terdengar. Pantatnya juga semakin liar bergoyang, menyambut tiap tusukan penis Andi yang menghunjam kuat ke lorong vaginanya. ”Ahh... Pak Andi, bapak memang pintar.” desisnya.
”Mmmh... goyangan kamu juga enak.” balas Andi.
Honggo memerhatikan jam tangannya, hampir lima menitan mereka berpacu dalam birahi. Ia terus mengintip dari tempat persembunyiannya sampai dilihatnya tubuh mulus Rita menggeliat liar. Wanita itu terkejang-kejang sebentar saat menjemput orgasmenya.
”Ooohh... Pak Andi, aku nyampe!!” jeritnya keenakan.
Andi masih terus mengocok penisnya dengan cepat karena ingin menyusul juga. Ia cium bibir wanita cantik yang sedang menikmati sisa orgasmenya itu dengan lembut dan mesra.
”Mmmm... aahh...” desah Rita menikmati penetrasi Andi yang masih bertubi-tubi ke dalam liang senggamanya. Laki-laki itu dengan liar bergoyang menunggangi tubuhnya seperti joki pacuan kuda. Bibirnya sesekali menyambar, kadang mencium Rita dengan ganas, kadang menyapu leher Rita yang jenjang, bahkan juga mengemut dan menjilati puting Rita yang tampak tegang sempurna. Wanita memang merasa nikmat kalau putingnya dijilati.
Sambil terus menggoyang, Andi menjilatinya sampai ia merasa tak sanggup  untuk bertahan lebih lama lagi. ”Rit, aahh... a-aku...” ia mendengus saat merasakan kenikmatan yang luar biasa.
Dari tempatnya mengintip, Honggo bisa melihat penis laki-laki itu berkedut cepat saat menyemprotkan cairan spermanya. Banyak sekali, sampai sebagian meluber keluar membasahi lantai.
Mereka saling berpelukan erat hingga dada Rita yang montok tergencet dada Andi yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Saat itulah, Honggo mengeluarkan sebuah pistol yang berisi peluru obat bius dari dalam tas ranselnya. Dalam jarak 10 meter, dia termasuk ahli menembak, karena terbiasa dengan menembakkan pengait tali sling untuk panjat tebing di suatu titik. Dalam keadaan terpaksa, apapun harus bisa dilakukan, pikirnya. Dia memeriksa sekeliling ruangan dengan matanya, dan yakin tidak ada orang lain selain ketiga penjaga yang sedang berbuat mesum ini. Dengan hati-hati dia membidik petugas bernama Suparman yang masih terduduk lemas di kursi. Setelah merasa tepat dia menekan jari telunjuknya melepaskan tembakan. 
”Gubrakkk...!” laki-laki gendut itu langsung jatuh dari kursinya.
Andi yang masih berpelukan dengan Rita kontan terkejut. Dengan sigap ia berdiri dan menarik pistolnya. Namun belum sempat pistol dicabut, dia juga jatuh ke lantai terkena tembakan Honggo.  Begitu juga dengan Rita, sebelum perempuan itu menjerit, Honggo segera menembaknya juga. Setelah itu Honggo langsung berlari sekencang-kencangnya menuju pintu sebuah kamar dimana di dalamnya terdapat pintu lubang terowongan pembuangan limbah untuk keluar masuk teknisi melakukan perawatan.
Honggo sudah bersiap-siap membuka pintu tersebut saat tiba-tiba terdengar suara membentak dalam bahasa Inggris di belakang pundaknya, “Jangan bergerak!  Mau apa kau?” 
Honggo mengangkat tangan dan pelan-pelan membalik badannya. Di depannya dalam jarak 1,5 meter, kini ada dua orang berpakaian hitam-hitam, mukanya juga ditutup dengan kain hitam, sedang menatapnya dengan sinar mata tajam. Satu orang menodongkan senjata serbu yang biasa dipakai oleh tentara. Dia tidak tahu merek dan typenya, tapi dia tahu ini adalah senjata otomatis yang siap meledak menghancurkan tubuhnya. 
“Siapa kamu?” masih dalam bahasa Inggris logat timur tengah. 
“Siapa kalian?  Saya Honggo, teknisi PLTN ini dan mau turun ke bawah untuk memeriksa sesuatu.” jawab Honggo sambil berpikir bagaimana dia bisa lolos dari todongan senjata penjaga ini.  
Kedua penjaga ini agak terkejut juga mendengar jawaban Honggo dan sempat ragu sejenak. Namun sebagai pasukan tentara professional, mereka tetap tidak menurunkan todongan senjatanya. Salah seorang maju mendekati Honggo, “Mana tanda pengenalmu?” 
Sudah kepalang berbohong, Honggo berkata: “Disini tanda pengenal tidak berupa kartu, tapi dalam bentuk chip RFID yang ditanam di leher,” sambil membengkokkan kepalanya memperlihatkan lehernya kepada penjaga tersebut. 
Saat penjaga tersebut mendekat lagi dan matanya konsentrasi melihat ke leher, tiba-tiba Honggo bergerak cepat. Lengan penjaga tersebut ditarik, dan kemudian didorongkan tubuh penjaga tersebut kepada temannya yang sedang menodongkan senjata. Honggo sudah memperhitungkan gerakan ini, sehingga begitu penjaga yang memegang senjata tidak siap, dia secepat kilat berlari membuka pintu kamar di depannya, masuk ruangan dan segera bersembunyi di balik tiang kolom.
Bunyi rentetan peluru keluar dari senjata menyusul ke arah Honggo berlari. Kali ini dari dua orang sekaligus. Dua orang penjaga berpakaian hitam-hitam mengejar masuk dengan senjata di tangan masing-masing. Suasana di dalam kamar agak gelap, karena cahaya matahari di luar gedung tidak dapat menembus sampai lokasi ini. Lampu-lampu juga belum terpasang. Hal ini agak menguntungkan Honggo yang sudah hafal dengan denah ruangan karena tadi dia mempelajarinya dari gambaran di komputer Sean.
Dua tiga menit tidak ada tanda-tanda dimana Honggo berada, kedua penjaga melepaskan tembakannya berulang-ulang ke segala arah. “Keluar kau!” 
Honggo diam saja, sambil bersiap-siap tangannya semakin kencang mengenggam pistol dengan peluru obat bius. Dalam hati Honggo menyesal, kenapa dia hanya dibekali dengan senjata ini dan mengutuk Pak Robby.  ”Seharusnya beliau mengawal saya masuk kesini, bukannya membiarkan saya sendirian.” 
Kedua penjaga itu juga kelihatan berhati-hati. Mereka tidak tahu apa yang dibawa Honggo dalam tas ranselnya. Karena itu, mereka bergerak perlahan-lahan sambil juga ikut bersembunyi di balik tiang kolom lainnya. Waktu tampaknya bergerak pelan sekali. Kedua pihak berhati-hati. Honggo melihat jam di tangannya. Sudah pukul 15.12. Pekerjaannya tertunda satu jam gara-gara mereka, dan entah tertunda berapa lama lagi, karena dia sekarang terjebak. 
Dia membuka tas ranselnya dan mencari-cari kemungkinan ada alat atau barang yang bisa dipergunakan untuk menyelamatkan dirinya. Sebuah tabung wadah untuk menyimpan bom, di bagian lainnya adalah kacamata infra merah dan x-ray, alat ukur teodolit, GPS kecil seperti handphone. Di pinggangnya tergantung bor dan palu dan beberapa alat standar pekerja tambang, termasuk helm di kepalanya. Dia berpikir keras mencari jalan keluar atau bisa lolos dari dua orang asing ini. 
Hape Honggo tiba-tiba berbunyi!
“Ohh…ohh…shit!” Dia lupa mematikan menu suara di handphonenya. Siapa yang meneleponnya dalam keadaan genting begini? Honggo panik dan segera mengambil handphone tersebut dari pinggangnya dan dengan gerakan reflek melemparkannya ke samping. 
“Door…door…door!” tidak jelas berapa kali tembakan diarahkan ke arah handphone Honggo. Kedua penjaga itu bergerak pelahan keluar dari persembunyiannya dan menghampiri arah suara handphone tadi.
Honggo dapat melihat samar-samar dua bayangan bergerak mendekati sebuah tiang di samping kirinya. Dia diam tidak bergerak dan menahan nafas. Jantungnya masih berdetak kencang akibat kejadian barusan. Dalam keadaan genting, dia sudah mendapat sebuah rencana sempurna. Dengan memakai kacamata infra merah, dia bisa melihat musuh dan bisa menembak salah satu penjaga tersebut. Bila satu jatuh, dia akan berlari lagi ke kanan, dan bersembunyi kembali. Butir-butir keringat mengucur dari pelipis Honggo. Dengan gerakan perlahan-lahan, tangan yang memegang pistol diarahkan ke salah satu musuhnya.  
“Gubrakkk.!” Tepat sekali tembakan Honggo mengenai leher seorang penjaga yang berdiri paling dekat. Secepat kilat pula, Honggo berlari ke samping kanan untuk menghindari sergapan musuh. 
Gerakan Honggo terlihat oleh penjaga itu dan dia segera melepaskan tembakannya mengikuti arah larinya Honggo. “Door…door!” terdengar tembakan dua kali letusan dan diikuti dengan suara terbantingnya sebuah tubuh ke lantai. Suasana sunyi seketika.   
Beberapa detik kemudian, terlihat sebuah lampu senter bergerak-gerak dan terdengar suara Pak Robby memanggil Honggo. Ternyata penjaga terakhir jatuh karena tertembak oleh senjata pak Robby yang menyusul datang setelah terdengar suara letusan senjata. Honggo keluar dari tempat persembunyiannya dan Pak Robby datang menghampiri. Entah berbicara kepada siapa, dengan bahasa Indonesia bercampur dengan kata-kata sandi, Pak Robby berkomunikasi lewat HTnya.
Tidak berapa lama kemudian, beberapa tentara masuk ke bangunan ini dan diikuti pula dengan beberapa satpam dan pekerja bangunan.  Tentara-tentara tersebut segera mengamankan lokasi dan meminta para pekerja menyingkir.  Penjaga Asing berpakaian hitam-hitam yang tertembak tewas diangkat keluar, sedangkan satu lagi diborgol tangannya, didudukan di kursi, kemudian diikat kakinya. 
“Ayo, Honggo, masuklah dan selesaikan misimu.” Pak Robby tidak mau kehilangan waktu dan mengingatkan Honggo. 
Setelah memasang alat pelindung dan karabiner, Honggo turun ke lubang pipa pembuangan limbah dalam kamar tersebut. Dia turun dengan cepat tanpa hambatan serius dan sampai pada titik yang ditargetkan sesuai perkiraan waktu semula. Dia menemukan sebuah tabung kristal dengan cairan merah di dalamnya. Disana tertempel sebuah jam digital yang sedang menghitung mundur. 02:03:44,  02:03:43,…02:03:42 dan seterusnya. Dia tidak dapat memperkirakan apa isi cairan merah tersebut. Segera dia mengambil tabung tersebut dan ingin memasukkannya ke dalam wadah yang dibawanya. Tapi ukuran tabung bom dan wadah tidak sesuai. Tabung bom jauh lebih besar. Bagaimana ini?   
Dengan inisiatif sendiri, Honggo segera memasukkan kedua tabung tersebut ke dalam tas ranselnya. Dia segera bergerak naik kembali. Dia harus hati-hati, takut terjadi benturan yang akan merusak wadah pengaman dan tabung bom yang dibawanya. Hal ini menyebabkan target waktu untuk naik menjadi agak terlambat. Sesampainya di atas, tanpa berkata apa-apa dia segera mengeluarkan tabung berisi cairan merah dan jam digital tersebut. Waktu yang berjalan mundur pada jam tersebut sekarang terlihat 00:23:33… 00:23:32… 00:23:31… dan terus mundur satu detik per detik.
Seorang tentara lengkap dengan peralatan penjinak bom, maju dan mengambil alih tabung tersebut dari tangan Honggo.  Selain Pak Robby, dan beberapa tentara, ternyata Sean juga sudah menyusul. “Ini bukan bom termonuklir yang kita cari!” katanya mengejutkan semua orang yang disana.
“APA?”  Honggo berteriak lemas, diikuti juga pertanyaan dari orang-orang yang disana, termasuk Pak Robby. 
“Iya, betul ini adalah sebuah bom waktu dari bahan cairan, tapi ini hanya mikronuklir yang maksimal hanya mampu menghancurkan komplek PLTN ini.  Mungkin juga meledaknya PLTN ini akan dijadikan alibi di dunia Internasional dan menyebabkan gempa bencana alamiah yang kemudian menghancurkan Jawa. Ini adalah bom mikronuklir yang sekarang banyak diperdagangkan untuk membuat efek gempa dan menciptakan jalur minyak dan gas bumi.”
“Jadi dimana bom termonuklir XIV66 itu berada sekarang?” tegas Pak Robby.
Sean berusaha tenang dan menjelaskan. “Secara cerdik, para hacker tim pemasok Israel membuat cloning ciri-ciri termonuklir yang asli dan ditempatkan di mikronuklir ini. Saya juga ikut tertipu. Semua data dan informasi inteligen juga mengarah ke lokasi ini. Saya baru menyadarinya setelah melihat tabung ini sekarang. Saya akan melacak lokasi termonuklir yang asli secepatnya. Tolong beri saya waktu.” 
“Kita sudah tidak punya waktu! Cepatlah!” jawab Pak Robby tidak sabar. “Agus! Kamu segera tangani bom ini. Bisa?” Pak Robby beralih ke seorang tentara penjinak bom yang sedang menganalisa mikronuklir tersebut. 
“Siap! Saya akan membawa keluar bom ini dan menjinakkannya di tempat yang aman, Jendral!” 
“Laksanakan!” 
“Siap!”
Sementara itu, Sean kembali bekerja dengan komputer dan alat-alat canggih yang dibawanya untuk melacak lokasi termonuklir yang asli. Waktu saat ini sudah lepas magrib. Jam tangan Honggo menunjukkan pukul 18.37. Bila perkiraan waktu ledakan adalah tepat, yaitu besok pagi jam 10.00, maka berarti mereka hanya memiliki waktu 15 (lima belas) jam lagi saja. Sampai sekarang dimana lokasi termonuklir ditempatkanpun belum diketahui.  Honggo mencari handphone yang tadi dilemparnya, dan tidak menemukannya di tempat tadi. 
“Ini yang kamu cari?” tanya pak Robby sambil menyodorkan sebuah benda ke muka Honggo. 
“Iya, Pak. Terima kasih,” dengan gembira Honggo mengambil Handphonenya dari tangan Pak Robby. Ada satu panggilan tidak terjawab, dari Intan. Ada satu sms masuk yang belum dibuka, juga dari Intan. Buru-buru Honggo membaca sms tersebut.
“Honggo, ini Intan, saya telepon kamu tapi tidak diangkat. Maafkan Intan. Intan terpaksa berbohong pada kamu. Untunglah Abdul sekarang sudah tertangkap dan saya sudah bebas. Sekarang saya ada di Manado, bersama tim presiden. Sekali lagi, maafkan Intan” 
Honggo mencoba menelepon, tapi tampaknya nomor Intan tidak aktif.  “Honggo, Abdul dapat kami lacak lokasinya dan sudah tertangkap oleh aparat. Intan kami temukan juga di lokasi tersebut. Namun maaf, ada berita buruk yang harus saya sampaikan padamu. Keluarga kamu, Mama, Adik dan bibi pembantu ternyata telah terbunuh waktu penyerangan oleh tim Abdul di rumah saya. Saya juga baru tahu informasi ini dari keterangan saudari Intan.”  Pak Robby berusaha menahan emosinya agar memberikan ketenangan kepada Honggo. 
Mendengar berita ini, Honggo merasa hampa dan tidak percaya. Tadi pagi dia masih berbicara dengan Abdul dan membayangkan keluarganya yang selamat di pulau lain, tapi sekarang berita ini bagaikan petir disertai hujan badai. Langit gelap, angin bertiup kencang, dan suara petir bersahutan menyambar kepala Honggo. Dia ingin berteriak. Dia ingin menangis sekencang-kencangnya.
Dengan mengumpulkan semua sisa kekuatan batinnya, Honggo terdiam berdiri mematung. Hanya dua butir airmata yang mengalir keluar dari kedua matanya. Tidak ada lagi kebanggaan seorang anak yang membantu mamanya. Tidak ada lagi kebanggaan seorang kakak yang membiayai sekolah adiknya. Untuk apa semua perjuangannya ini?  Keluarga sendiripun telah menjadi korban.
Tangan kanannya kembali memegang cincin ikat batu ruby merah di jari manisnya.  Terbayang semua adegan-adegan indah sejak masa kecil sampai berumur tiga puluhan bersama mamanya. Berenang bersama, makan durian bersama, antar jemput di sekolah, nasehat-nasehat bijaksana yang disampaikan mama dengan penuh kasih sayang. Kenapa mereka harus terlibat dalam urusan yang dia tidak tahu apa-apa dan harus menjadi korban. Kekebalan tubuhnya atas gas beracun ini bukan anugerah tetapi malah menjadi musibah.  
“Aku tidak berguna… aku tidak berguna.” Honggo terisak jatuh berlutut.
“Kami juga sudah menemukan jenasah mereka dan akan memperlakukannya dengan baik. Mereka adalah pahlawan. Kamu harus membalas kematian mama dan adik kamu dengan menggagalkan rencana busuk mereka.  Mengambil dan menjinakkan bom termonuklir yang mereka gunakan untuk menghancurkan pulau Jawa. Pemasok Israel lah biang kerok dari semua bencana ini. Dan kamu Honggo bisa mementahkan senjata mereka.” Pak Robby berusaha memberikan motivasi dan semangat kembali kepada Honggo sekaligus mengingatkan misi yang harus diselesaikan. 
“Lapor, Pak!” seorang tentara dengan pakaian seperti robot, rompi anti peluru masuk dan menghadap Pak Robby. 
“Silakan,” 
“Detonator bom sudah kami kuasai dan bom sudah siap kami ledakkan di dalam mobil penjinak bom di lokasi aman. Pak!” 
“Bagus. Laksanakan!”
“Siap!  Laksanakan!” tegas tentara tadi sambil balik badan dan meninggalkan Pak Robby.  Bom mikronuklir sudah ditangani dengan baik oleh tentara tim penjinak bom dan tidak jadi meledak.   
“Pak Robby, saya perkirakan bom termonuklir asli ada di sekitar Magelang, Pak.” kata Sean kepada Pak Robby, namun mata dan tangannya tetap menghadap pada komputer. Tampaknya Sean akhirnya bisa menemukan lokasi bom termonuklir asli pada pukul 20.11.     
Menurut hasil pelacakan komputer Sean, lokasi bom termonuklir ada di kota Magelang, tepatnya 880 meter di bawah candi Borobudur. Candi agama Buddha yang termasyur di seluruh dunia, yang kabarnya dibangun dalam waktu 50 tahun, akan hilang hancur luluh lantak hanya dalam waktu beberapa detik, bila terkena ledakan termonuklir ini. Menurut perangkat lunak komputer Sean pula, jalur menuju titik target adalah 100 meter di belakang candi Pawon. Disana telah dibangun satu kanal terowongan yang masuk dalam tanah menurun 30 derajat seperti sebuah garis lurus terus menuju candi Borobudur.  Bangunan kanal terowongan ini, sebagian terbuat dari batu, dan hanya sebagian kecil unsur logamnya. Sean sendiri meragukan data analisa komputernya, tapi dia tidak memperlihatkannya kepada Honggo. 
Honggo dan Pak Robby yang melihat dan mendengar penjelasan Sean tidak terlalu mengambil pusing dengan bahan konstruksi terowongan, karena mereka juga tahu kalau candi-candi dibangun dengan batu kali atau batu gunung. Yang membuat mereka bertanya-tanya justru, bila ini adalah terowongan yang dibangun pada masa yang sama dengan dibangunnya candi, dengan tehnologi apakah mereka bisa sampai pada kedalaman 880 meter.   
Komputer Sean juga membuat laporan analisa, bahwa setelah kedalaman 500 meter,  selanjutnya terowongan ini ada di bawah air. Terdeteksi adanya air dibawah, mungkin merupakan sebuah danau atau sungai pada jaman itu.  Kemudian setelah memasuki kedalaman 550 meter, tidak terdapat air lagi melainkan lapisan tanah dan pasir. Ujung terowongan berakhir persis di bawah bangunan candi Borobudur yang sekarang, dan tampak juga ada delapan puluh bangunan vertikal semacam konstruksi dari batu sebagai tiang-tiang menyanggah yang mengelilingi candi. 
Pak Robby, Honggo dan Sean, segera berkemas-kemas dan berlari menuju helikopter yang akan mengantar mereka ke magelang. Dua helikopter lain dipenuhi dengan tentara ikut mengawal. Mereka semua mendarat di sebuah lapangan komplek sebuah sekolah Akademi Militer, dan meneruskan perjalanan memakai mobil. Hal ini dimaksudkan untuk mengantisipasi kemungkinan kedatangan mereka diketahui oleh penjaga dari tim musuh.  Karena malam hari, lewat dari jam sembilan, penduduk tidak lagi ramai.
Sean sekarang sedang mencoba mendeteksi apakah ada pasukan musuh yang menjaga di sekitar lokasi. Dia bekerja dari dalam sebuah mobil penjinak bom tim gegana. Alat yang dipakai sebenarnya hanya pelacak panas yang dihubungkan dengan GPS. Oleh karena itu, gambar-gambar di layar komputernya bila memang ada pasukan musuh, pastinya bercampur juga dengan penduduk lokal. Mereka berkonsentrasi pada gambar-gambar manusia yang diam di tempat atau bergerak mondar-mandir dengan formasi tetap. Setelah itu, tentara baru memastikannya apakah mereka penduduk lokal atau pasukan musuh dengan teropong binocular.   
Tidak ada gerakan-gerakan mencurigakan atau tampak penjagaan dari pasukan musuh di tempat terbuka. Beberapa titik panas manusia terdeteksi, namun tidak diketahui dengan pasti oleh Pak Robby, karena mereka berada di balik tembok. Ada sebagian yang bersembunyi di dalam suatu bangunan.  Satu orang yang paling dekat dengan lokasi mereka dapat dilihat jelas sedang bertiarap di atas sebuah atap dengan posisi siap menembak. Jelas dia itu sniper dari pihak musuh. Bila ada satu, pasti ada yang lainnya.
Pak Robby belum berani memberikan perintah pada Honggo untuk bergerak. Dia harus yakin dulu bahwa semua pasukan musuh sudah terdeteksi dan situasi aman. Sementara itu dia juga sedang menghitung waktu yang tersisa untuk menyelamatkan pulau Jawa. Honggo memerlukan waktu 2 jam untuk mencapai lokasi dan 2 jam lagi untuk kembali. Bom akan meledak 12 jam lagi. Ini artinya dia masih punya waktu 8 jam untuk melumpuhkan lawan dan mengamankan lokasi.  Atas perhitungan ini, Pak Robby memerintahkan anak buahnya menyebar mendekati titik-titik target dan memastikan apakah dia pasukan musuh atau penduduk sipil. Bila musuh, langsung tembak tanpa perlu peringatan. 
Kali ini rombongan Pak Robby kelihatan lebih siap dibandingkan dengan di PLTN semenanjung Muria. Seluruh anggota dilengkapi dengan rompi anti peluru, termasuk Honggo dan Sean. Pasukan tentara juga mendukung membersihkan area dengan senjata lengkap dan alat komunikasi di telinga.  Dua orang berlari ke kanan, dua orang menuju ke kiri. Satu orang lagi masuk ke dalam pekarangan candi Pawon dengan melompat pagar. Sisanya tetap mengawasi sebuah bangunan yang diperkirakan merupakan jalan masuk terowongan. 
“Stupa 1, lapor, positif, target bersenjata dan sudah terkunci… tunggu perintah.”
“Stupa 2, lapor, positif, target bersenjata dan sudah terkunci… tunggu perintah.”
“Stupa 3, lapor, pawon kosong.” 
Berturut-turut tiga tim melapor. Namun belum sempat Pak Robby memberikan perintah, tiba-tiba terdengar letusan senjata dalam peredam. Karena suasana yang sepi malam itu, bunyi sekecil ini tetap saja terdengar oleh kuping Pak Robby yang terlatih. Di komputer Sean, terlihat empat titik target yang disebutkan sudah terkunci tadi bergerak. Tampaknya mereka bergerak mendekati lokasi dimana Pak Robby dan Honggo bersembunyi. Sebaliknya para tentara yang melapor tadi terlihat diam di tempat, dan panas tubuhnya pelan-pelan menjadi lebih dingin.
 “Honggo, cepat pergi dari lokasi kamu, karena musuh mendekati!” setengah teriak Sean berusaha memberikan peringatan kepada Honggo dan teman-temannya. Dia sendiri juga walau berada dalam mobil, mengeluarkan pistolnya berjaga-jaga.  
Team tentara yang masih hidup melindungi Honggo dan Pak Robby berlari menuju mobil sambil sekali-sekali melepaskan tembakan. Pasukan musuh terus mengejar juga dengan terus menerus menembak. Honggo sampai dulu di mobil dan masuk, disusul Pak Robby. Supir yang juga tentara yang dari tadi tidak keluar dari mobil segera menginjak gas dalam-dalam membawa mobil secepatnya meninggalkan lokasi pertempuran. Lima orang tentara pengawal Pak Robby gugur tertembak di kepala. 
Di dalam mobil, Pak Robby menelepon Manado, berbicara dengan panglima TNI, untuk dikirim lagi pasukan yang lebih besar. Dan minta dikirim dalam waktu singkat. Diperkirakan ada 5-6 orang pasukan professional musuh menjaga di lokasi dengan senjata dan peralatan canggih. Sebelum lokasi target bersih, Honggo dan tim penjinak bom tidak dapat bertindak. Tidak ada yang tahu pasti apa yang terjadi. Pak Robby sendiri heran. Sebelumnya tadi sudah jelas dilaporkan bahwa target sudah terkunci dan siap ditembak. Tapi kenapa justru yang terjadi malah sebaliknya, anak buah dia yang tertembak duluan?  Tidak pernah dia membayangkan kekuatan pasukan musuh sehebat ini.  
“Ini adalah tim yang sama dengan yang mencuri bahan super Inti Gas, dari sumur tambang kami di Australia.” Sean membuka suara setelah dilihatnya Pak Robby telah selesai menelepon. Sean kemudian melanjutkan, “Lebih dari 100 tentara Australia bersenjata lengkap yang menjaga lokasi juga tewas. Berita ini tidak pernah dipublikasikan kepada siapapun. Server komputer kami disusupi oleh seorang hacker dari Mesir. Sistem keamanan komputer yang saya bangun, ternyata jebol. Itu saya ketahui keesokan harinya setelah kejadian.  Karena di rumah saya terkoneksi juga dengan server di kantor, maka pagi-pagi sekali saya menyusul ke lokasi kantor di atas pertambangan.  Disitu secara kebetulan, saya juga melihat mayat-mayat tentara Australia diangkut satu persatu ke atas truk.  
“Saya kemudian segera mencari data video cadangan dari sebuah lensa kamera tersembunyi yang tidak terhubung dengan system komputer manapun. Alat ini memang sengaja saya pasang tanpa sepengatahuan manajemen perusahaan dan merupakan cadangan untuk mengantisipasi kejadian semacam ini. Komputer tidak menyimpan satu bukti apapun, karena sudah dihapus jejaknya. Di CD video inilah saya menyaksikan bagaimana keahlian mereka menembus pengawalan para tentara penjaga pertambangan kami. Saya juga melihat mereka terbang masuk dengan bergantungan di helikopter sambil membunuh penjaga di sekitar lubang sumur tambang.
“Kemungkinan mereka juga menggunakan bantuan komputer untuk memonitor lokasi Magelang. Berita baiknya adalah titik target kita ini tidak salah lagi. Dapat dipastikan di lokasi ini terdapat bom termonuklir yang asli.  Oleh karena itu mereka menjaganya dengan ekstra ketat dengan pasukan professional.” Sean berusaha menghibur diri sekaligus memberikan semangat baru kepada Pak Robby dan Honggo. 
“Kalau begitu, saya akan minta tambahan lebih banyak pasukan lagi untuk menyapu mereka.” tegas Pak Robby sambil menelepon.  Kali ini dia langsung menghubungi kepala GESF di markas Washington, agar bisa segera koordinasi dengan Presiden di Manado, untuk menurunkan pasukan maksimal dalam menguasai lokasi Magelang.   
Dalam waktu dua jam kemudian, kota Magelang dan sekitarnya sudah seperti kancah perperangan. Semua kesatuan pasukan elit yang ada di Republik Indonesia diturunkan. Semua bersama-sama dalam satu komando Presiden, yang sekarang sedang duduk bersama dengan Panglima TNI dan Kepala Polri. Hari ini, tidak ada kesombongan dan kecemburuan antar pasukan elit masing-masing angkatan. Hari ini, semua mempunyai misi yang sama. Menyelamatkan NKRI dari teroris Internasional.   
“Bagaimana dengan kemungkinan dimajukannya waktu ledakan?” tanya Pak Robby kepada Sean, karena kuatir akibat perang terbuka ini membuat marah teroris. 
“Sepanjang pengetahuan saya, untuk jenis bom termonuklir ini, bila detonator sudah dihubungkan dan waktu sudah disetting, maka tidak ada satu alatpun di dunia ini yang mampu menghentikannya. Tidak juga bisa mengubah waktunya.  Kemungkinannya hanya dua. Meledak dengan kekuatan 660.000 kali bom yang pernah meledakkan kota Hiroshima, atau meledak di dalam kotak wadah penangkal bom dengan menyebarkan radiasi panas dan gas methane sebesar 20 ton. Oleh karena itu, makanya Honggo setelah berhasil mengambil bom ini, harus naik kembali dan meletakkan wadah tersebut dalam satu ruangan isolasi yang dimiliki oleh tim penjinak bom sebelum pukul 10:00.” Sean menerangkan. 
Dini hari ini, perang terbuka yang tidak seimbang berlangsung di kota Magelang. Enam orang anggota teroris di kepung oleh lebih dari 300 pasukan elit gabungan yang terdiri dari semua angkatan. Sebut saja disana, ada Kopassus Den-81, Tontaipur, Denjaka (Detasemen Jala-Mengkara), Paskhas, Gegana, dan tidak ketinggalan Densus-88.   
Akhirnya tepat pada pukul 05:00, lokasi sekitar candi dinyatakan aman terkendali. Enam orang anggota teroris tertembak mati. Di pihak Indonesia tentara yang gugur juga cukup banyak, yaitu 12 orang. Honggo dikawal oleh dua orang dari Kopaska (pasukan katak) masuk ke dalam terowongan batu, turun menuju ke titik target. Beberapa kali Honggo tergelincir dan sekali jatuh terpelanting. Hal ini dikarenakan medan batu yang berlumut. Ini yang tidak pernah diperkirakan dalam komputer Sean. Untungnya dia ada dua orang kawan yang sangat membantu. Waktu tersisa hanya tinggal kurang dari lima jam!
Sambil terus berjalan menurun, Honggo berpikir dan menghitung-hitung titik dan cara untuk naik kembali. Banyak batu yang sudah tidak pada tempatnya, alias dinding bolong. Akibatnya di lantai yang juga terbuat dari batu, sering terdapat tumpukan tanah. Kadang-kadang sampai penuh menutupi jalan. Dia memang sudah biasa panjat tebing, tapi tidak pernah memanjat tebing batu berlumut tertutup yang berlokasi di bawah permukaan bumi. Bila di udara terbuka, dia bisa mendaki gunung setinggi 5000 meter tanpa tabung oksigen.  Di lubang ini, dia tidak dapat memastikan apa yang ada di depannya.
Di beberapa titik terdapat semburan gas alam bercampur air. Mereka bertiga baru mencapai kedalaman 500 meter pada pukul 07:45, terlambat satu setengah jam dari perkiraan semula. Sekarang medan di depan mereka adalah air yang diperkirakan sedalam 50 meter.  Mereka bersiap memasang tabung dan alat menyelam. Dua anggota Kopaska mendahului masuk ke dalam air, kemudian diikuti oleh Honggo. 
Tiba-tiba di depan mereka, tampak seekor binatang menyerupai belut besar dengan panjang 1 meter. Tidak diduga ternyata di kedalaman ini, ada kehidupan. Untungnya pengawal Honggo bertindak gesit. Blesss! Dengan cekatan mereka bergelut dan berhasil membunuh belut raksasa tersebut. Sekali-kali tampak ikan yang tidak diketahui apa jenisnya, melintas. Karena tidak membahayakan, mereka dibiarkan lewat saja. Sekali waktu, Honggo dan dua rekan kopaskanya juga harus bekerja keras menggali tanah dan batu yang menghalangi jalan. 
Pukul 08:15. Akhirnya mereka sampai juga di permukaan air. Sebenarnya mereka ada di bawah air, karena kedalaman mereka sekarang adalah 550 meter di bawah permukaan tanah Magelang. Sepertinya mereka sekarang berada di seberang sungai yang tadi dilaluinya. Bila Honggo tidak mempelajari peta di komputer Sean, mungkin mereka tidak akan pernah sampai disini.  Begitu mereka membuka masker tabung oksigen, terhirup bau gas sulfur yang menyengat. Kedua pengawal Honggo memakai kembali maskernya, sedangkan Honggo mencoba bertahan tanpa masker.  Dia ingin menguji sampai dimana ketahanan tubuhnya atau bakteri anti methanogen di dalam tubuhnya ini menyerap gas sulfur. Mereka bertiga berjalan menurun terus tanpa berhenti mengejar waktu. 
Waktu sudah sangat mendesak. Kurang dari dua jam lagi, sebuah bom dengan kekuatan terdasyat yang pernah ada di bumi ini akan meledak.  Bila meledak, pulau Jawa akan hancur lebur berkeping keping.  Kira-kira 45 menit kemudian, mereka tiba di suatu aula besar yang sangat luas. Tidak pernah terbayangkan, kalau jauh di dalam tanah ada ruangan seluas ini. Dulunya ini mungkin suatu dasar rawa atau dasar danau.  Delapan puluh buah bangunan batu sebesar 10 meter x 10 meter berdiri tegak tersusun rapi mengitari aula, menembus lantai tanah diatas kepala mereka.   
“Ini tiang penyanggah candi Borobudur?” tanya seorang pengawal kepada Honggo. 
Honggo mengangguk, walaupun tidak tahu pasti.  Dia hanya pernah membaca suatu penelitian yang memperkirakan bahwa candi Borobudur dibangun di atas sebuah danau, dan dimaksudkan sebagai symbol bunga teratai. 
“Mari kita cari dimana bom itu diletakkan.” kata Honggo. 
Dengan mudah bom itu dapat terlihat, karena sekeliling ruangan yang kosong. Bom termonuklir yang ditakutkan itu, ternyata hanya diletakkan begitu saja di lantai di dekat sebuah tiang. Bentuknya hanya sebuah tabung transparan yang sama dengan bom yang diketemukan di PLTN Muria, dengan cairan merah dan orange bersebelahan, seperti ada dinding kaca pemisah.  Ukuran tabung tersebut tidak lebih besar dari sebuah kotak sepatu.  Disisi tabung terlihat angka-angka yang sedang berhitung mundur.  00:50:22,  00:50:21, 00:50:20… 
”Huk…huk…huk…” dua orang pengawal Honggo tiba-tiba terbatuk-batuk dan jatuh tidak sadarkan diri. Sejak dari 20 menit yang lalu, tabung oksigen mereka sudah kosong, dan tabung Honggo yang dipinjam juga sudah kosong. Mereka mencoba bertahan sampai titik darah penghabisan.
Honggo melirik kepada dua orang tersebut, tapi tidak dapat berbuat apa-apa. Dia tahu kalau mereka berdua telah meninggal karena keracunan gas. Tidak ada jalan keluar disini. Mereka mengorbankan nyawa demi misi menyelamatkan negara dengan mengawal Honggo sampai pada lokasi target.  Honggo berlutut menghadap kedua kawan yang baru dikenalnya tersebut, dan berdoa. Dia kemudian membuka tas ranselnya yang anti air ingin mengeluarkan tabung wadah pengaman bom. Alangkah terkejutnya dia, ternyata wadah itu agak berubah. Secara fisik lapisan kristalnya terlihat normal, tetapi tadi dia ingat ada sedikit cairan biru di dalam wadah yang entah apa kegunaannya. 
“Sean! Sean!” Honggo berusaha menghubungi rekannya di atas. 
“Iya, Honggo, saya perkirakan kamu sudah mendapatkan bom itu, bukan? Segera masukkan barang tersebut ke wadah pengaman yang kamu bawa.” sahut Sean. 
“Iya, saya telah menemukan bom tersebut, tapi wadah pengaman kelihatannya ada yang tidak beres.” 
“Kenapa?” 
“Cairan biru di dalam wadah pengaman hilang entah kemana.”   
“Itu berarti tabung dalam wadah pengaman ada kebocoran. Cairan biru merupakan Inti Anti Gas yang dapat menetralkan kekuatan bom dari Inti Gas.  Jadi seperti konsep Yin dan Yang. Karena kami hanya punya sedikit, maka bom yang dibuat oleh pemasok Israel ini hanya dikurangi saja kekuatannya dan masih dapat meledak dengan menyebar panas dan gas metane 20 ton seperti saya bilang sebelumnya.” 
Honggo ingat beberapa kali dia terjatuh dan terpelanting akibat licinnya medan batu yang berlumut.  “Jadi apa yang harus saya lakukan, tanpa cairan biru itu?” 
“Saya tidak tahu.” Sean menjawab tanpa bersemangat dan ikut bingung. Wajahnya menegang.  Akhirnya dia berkata, “Walaupun tidak ada cairan biru, tapi wadah itu masih bisa berfungsi untuk mengurangi kekuatan bom termonuklir tersebut. Lakukanlah apa yang menurut kamu bisa dilakukan. Kami semua berdoa untukmu.” 
Honggo mulai panik. Dilihatnya angka yang sedang menghitung mundur.  Waktunya hanya 40 menit lagi.  Bila tidak dinetralkan maka bom termonuklir ini akan meledak dengan kekuatan 660.000 kali kekuatan bom atom yang menghancurkan Hiroshima. Borobudur hanya akan tinggal debu.  Pulau Jawa akan tenggelam. Ratusan juta manusia akan mati. Belum lagi bila ditambah dengan kematian mahluk lain, binatang, serangga, pohon-pohon. Semua akan punah!
“Saya harus menyelamatkan pulau Jawa dan isinya! Saya harus menyelesaikan misi ini! Tidak ada lagi yang saya kuatirkan! Mama sudah meninggal. Adikku juga sudah tiada. Saya sebatang kara. Alangkah bahagianya bila nyawa ini bisa ditukar oleh seratus juta jiwa manusia di pulau Jawa.” 
Pikir! Cepat pikir! Apa yang bisa dilakukan?  Honggo berusaha keras berpikir mencari solusi atau alternatif lain yang paling memungkinkan. Entah dia sudah mendapat ide atau tidak, Honggo segera memasukkan tabung bom ke dalam wadah dan memasukkan ke tas ranselnya. Dia segera berlari, menuju arah jalan keluar yang tadi dilaluinya. Dia lari dan lari terus. Sekuat tenaga.  Dia sadar tidak ada solusi tepat untuk menyelamatkan pulau Jawa. Yang sekarang dia bisa lakukan hanya mencoba berlari dari kolong candi Borobudur sejauh mungkin.   
Dia mendekati ketinggian 550 meter, mengarah ke sungai purbakala di dalam permukaan tanah. Waktunya hanya tersisa 5 menit. Begitu dia sampai di pinggir sungai purbakala tersebut, dia mengeluarkan wadah pengaman dan membukanya kembali.  Dia juga mengeluarkan sebuah pisau kecil dari balik sakunya dan langsung memotong lengannya. Darah terlihat menetes keluar dengan deras karena Honggo terus ikut menekannya. Saat ini terlihat angka digital menunjukkan 00:00:31… 00:00:30… 00:00:29...  
Ini adalah pertarungan terakhir. Jutaan nyawa manusia dipertaruhkan. Pengaman bom sudah rusak. Tidak ada solusi yang pasti. Honggo nekad melakukan ini hanya berharap bakteri-bakteri anti gas di dalam tubuhnya bisa menjadi penganti cairan biru yang hilang. Darahnya terus mengisi wadah pengaman sampai penuh dan menutupi tabung bom termonuklir. Kepalanya sudah pusing berputar-putar. Matanya nanar tidak mampu melihat dengan jelas. Ditutupnya wadah tersebut dan dimasukkannya kembali ke dalam tas ranselnya. Semua peralatan dalam ranselnya sudah dikeluarkan. Dengan tas ransel yang hanya berisi wadah pengaman, dia kemudian terjun masuk ke dalam air.
Penduduk lokal dan para pasukan elit TNI dan Polri berkumpul di sebuah lapangan sambil berdoa bersama, berharap pada Tuhan Yang Maha Esa, dengan cara masing-masing tanpa peduli lagi batasan agama.  Mereka semua sekarang hanya bisa pasrah. Segala upaya sudah dilakukan secara maksimal. Disana juga telah berkumpul para wartawan dan reporter dari berbagai surat kabar dan stasiun televisi. Mereka ikut menantikan detik-detik yang sangat menegangkan ini. Dalam satu menit kedepan, mereka juga tidak tahu apakah masih bisa hidup. Pada waktu mendapat tugas ini, mereka tidak tahu dasyatnya bom termonuklir yang akan meledak. Mereka hanya mendapat informasi dan mengikuti berbagai kesatuan TNI dan Polri menuju Jawa Tengah. Mereka tadi berpikir mungkin untuk menangkap teroris sekelas Imam Samudra, dan Amrozi cs. 
Beberapa detik kemudian sebuah ledakan dahsyat mengoncangkan Jawa Tengah. Bangunan-bangunan bergoyang goyang. Tanah daratan retak-retak.  Candi Borobudur ikut bergoyang dan mengakibatkan puluhan batu banguan candi rontok. Beberapa patung Buddha juga jatuh bergelinding. Para penduduk yang telah berkumpul di jalan, bergabung bersama wartawan dan anggota TNI/Polri sama-sama diam menunggu. Tanah terus bergoyang. Sebagian jalan ada yang retak menyemburkan air.
Terhitung tiga kali goncangan dalam satu menit, dan kemudian berhenti. Seluruh manusia di atas tanah ini, disekeliling komplek candi Borobudur, Pawon dan Mendut membisu. Ada yang berdiri tegak menengadah ke atas, ada yang mengatupkan kedua tangannya sambil menundukkan kepala, ada yang jongkok dan ada yang duduk selonjoran kaki. Dua menit kemudian, mereka tersadar. Ledakan ini tidak menghancurkan pulau Jawa, ledakan ini juga tidak menghancurkan candi Borobudur. Candi Borobudur masih berdiri dengan kokoh menunjukan kemegahannya, walaupun disana sini beberapa batu rontok. Senyum patung Buddha masih terasa menyejukkan jiwa.
Alhamdullilah,  Allahu Akbar… Allahu Akbar! Puji Tuhan, Halleluyah. Sujud syukur, jeritan histeris, gumaman ririh, bercampur dengan takbir dan doa berkumandang. Penduduk bercampur dengan tentara, polisi, ulama, para pendeta, bhikhu Buddha berdoa bersama. Mereka sadar baru saja telah lolos dari maut yang mengerikan. Mereka tahu ancaman bom termonuklir yang bisa meluluhlantakkan pulau Jawa dan semua mahluk hidup diatasnya, telah berlalu. Detik-detik yang menegangkan, telah lewat, dengan kemenangan.  Mereka semua terharu dan larut dalam kegembiraan. Masing-masing saling bersalaman dan berpelukan. Wajah mereka penuh suka cita.  

***

 “Selamat pagi, teman-teman.” sapa Pak Arifin, setelah beliau duduk di kursi yang sudah tersedia, di depan ruangan menghadap pintu depan dan kursi-kursi dimana para wartawan duduk. 
“Selamat pagi,” sahut beberapa wartawan. 
“Sebagaimana kita ketahui pada pagi hari ini tepatnya tanggal 17 Agustus 2011, pukul 10:00 telah terjadi gempa di Jawa Tengah, yaitu di kabupaten Magelang. Kekuatan  gempa 5,8 scala Richter, kedalaman 10 km…  Dilaporkan beberapa bangunan rusak, termasuk candi Borobudur, namun tidak parah. Tidak ada korban manusia yang meninggal, hanya beberapa mengalami luka ringan.” 
Di sebelah Pak Arifin, duduk seorang wanita cantik memakai kacamata. Mukanya pucat seperti kurang tidur tetapi ditutupi dengan make up. Bibirnya dipaksakan tersenyum, walaupun matanya masih tampak bengkak. Dua tetes air mata keluar dari kedua matanya yang indah. 
”Pak Arifin, bukankah kejadian kemarin adalah serangan teroris yang menaruh bom di bawah tanah?” tanya beberapa orang wartawan hampir bersamaan. 
”Kami tidak dalam kapasitas memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Mohon maaf.” Pak Arifin mengelak menjawab.   

TAMAT

1 komentar:

  1. kapan nie gan ceritanya " sengsara membawa nikmat " dirilis episode selanjutnya??bulan kemarin ditunggu malah gak rilis :-(

    BalasHapus