Rabu, 19 Oktober 2016

Ketika Iblis Menguasai 9



Aida Dalam Cengkeraman Empat Lelaki

Sementara itu, di saat hampir bersamaan ketika Ustad Mamat menggagahi Rani, di rumah pak Fikri juga tengah terjadi peristiwa yang sama. Namun kali ini korbannya adalah Aida, istri sang Ustad..
Percuma saja Aida meronta dan menggeliat kesana sini : menghadapi kekuatan bersama pak Sobri yang menelikungnya dari belakang sambil membopong dan pak Fikri yang menangkap merejang kedua pergelangan kakinya, maka istri ustadz Mamat itu kalah tenaga. Aida tak menduga bahwa pak Sobri yang telah baik hati mengantarkannya mengunjungi temannya di RS akibat keguguran dan perdarahan, ketika pulang malah membawanya ke rumah asing : rumah pak Fikri.

Aida telah terbiasa dengan pelecehan pak Sobri dan menduganya bahwa sepulang dari RS itu pak Sobri yang nafsu birahinya selalu menggebu-gebu akan membawa ke rumahnya sendiri dan semalam suntuk akan menguras tenaganya di ranjang. Tak terbersit sedikit pun dalam benak Aida bahwa pak Sobri kali ini ingin membawanya ke dunia gelap berikutnya!
Kedua lelaki pejantan itu berhasil menyeret dan membopong tubuh Aida memasuki ruang tamu rumah pak Fikri yang besar namun letaknya terpencil di atas bukit. Wajah Aida semakin pucat dan matanya membesar penuh rasa takut ketika dilihatnya ada dua lelaki lain yang telah menunggu di situ. Yang satu adalah seorang lelaki yang tidak asing lagi baginya karena sudah pernah melakukan pelecehan bersama pak Sobri beberapa waktu lalu : yaitu Fadillah, sedangkan hadir pula seorang lelaki lain yang tak dikenalnya : pak Jamal!
Aida semakin panik dan meronta sekuat tenaga sehingga berhasil melepaskan diri, kemudian mencoba berlari ke arah pintu depan. Sayang pintu itu telah sempat dikunci oleh pak Fikri, dan pinggang langsing Aida segera dirangkul oleh sepasang tangan kuat Fadillah yang kembali menyeretnya ke dalam.
"Hehehe... masih binal juga ya, padahal udah sering di-roncé. Rupanya mesti ditambah pelajaran lagi nih, pak." dengus dan ejek Fadillah di telinga Aida sambil menoleh kepada pak Sobri.
"Lepasin! Sialan semuanya! Tolongin saya, pak Sobri... saya enggak mau dikeroyok barengan begini! Tolooooonngg!!" Aida menjerit sekuat tenaga, sementara pakaiannya semakin kusut karena meronta-ronta dan Fadillah kini telah menelikung merejang kedua tangannya di punggung.
Dengan sengaja Fadillah menekuk dan memelintir tangan Aida di punggung hingga menyebabkan agak kesakitan sehingga tanpa sadar Aida malah membusungkan dadanya ke depan, mengakibatkan kedua bukit kembarnya jadi amat menonjol dan 'mencetak' jelas di kebaya panjang yang ia pakai. Hal ini tak luput dari penglihatan pak Fikri yang memang sejak tadi mengawasi liukan dan rontaan tubuh Aida dengan jakun turun naik. Tak sanggup lagi menahan nafsunya, ia pun maju ke depan sambil kedua tangan besarnya mencakup bukit kembar Aida serta mulai diremas-remasnya gemas sehingga Aida menggeliat-geliat.
"Baiknya kita main dimana nih, pak? Di ranjang, di sofa, atau di atas meja makan?" tanya Fadillah yang tetap menelikung Aida sambil menoleh bergantian ke arah pak Sobri dan pak Fikri.
"Ini rumahnya pak Fikri kan, dan lagian dia tuan rumah yang kita bawain persembahan spesial, jadi kita serahkan aja ama pak Fikri. Cuma kelihatannya masih binal menolak nih si mojang," jawab pak Sobri sambil cengengesan menyaksikan wanita simpanannya yang masih menolak untuk menyerahkan diri begitu saja kepada pak Fikri yang belum pernah menjamahnya.
"Kita gampangin aja. Si neng kan santapan nikmat kita bersama, jadi boleh kita mulai di atas meja. Ntar kita terusin ronde berikutnya di ranjang. Setuju kan, neng? Hehehe," pak Fikri memberikan aba-aba kepada Fadillah yang telah mengerti dan mendorong korbannya ke arah meja makan besar.
Selama ini Aida mulai terbiasa dengan kehidupannya sebagai simpanan pak Sobri dan terhanyut oleh semua permainan ranjang yang semakin lama semakin berani. Aida telah diajarkan dan dipaksa oleh pak Sobri melakukan segala macam eksperimen yang tak layak dilakukan oleh istri alim shalihah manapun. Apa yang semula dilakukan oleh Aida karena dipaksakan, bahkan diawal mula juga disertai dengan bayaran uang semacam honorarium.
Namun semakin lama Aida yang masih sangat muda cantik merasa kecewa terhadap suaminya usradz Mamat, karena suaminya lebih sering menghabiskan waktu di tempat kerja dan jika pulang ke rumah semakin lama semakin melupakan kewajibannya sebagai suami. Karena itu Aida yang ibarat bunga sering kehausan itu menjadi tergoda dan bahkan menjawab hasrat birahi pak Sobri. Segala sesuatu yang semula asing dan dirasakan jijik memuakkan akhirnya menjadi biasa, sehingga pak Sobri menjadi amat puas dengan perlayanan Aida.
Selama hubungan gelap mereka maka pak Sobri memenuhi keinginan Aida bahwa Fadillah tidak lagi diberikan kesempatan untuk memperkosanya seperti yang pernah terjadi di awal mula. Aida merasa lega karena selama ini pak Sobri memenuhi janjinya itu - sampai pada hari ini ....
Tak diduga oleh Aida bahwa pak Sobri dan pak Fikri telah membentuk semacam jaringan rahasia di pelbagai desa di daerah itu. Banyak istri-istri yang sangat kekurangan uang belanja karena dibatasi oleh suami, akhirnya terjebak jaringan pak Sobri, bekas penjahat yang pernah bertobat sementara dengan bantuan ustadz Mamat yang ketika itu masih belum terjebak pengaruh iblis. Pak Sobri memperoleh bantuan pak Fikri yang menyediakan rumahnya, yang kebetulan letaknya sangat ideal terpencil di atas bukit, hingga jeritan-jeritan para istri yang menjadi korban tak akan terdengar keluar.
Untuk malam ini pak Sobri memang merencanakan semacam pesta seks ala desa, dimana diundang kembali kaki tangannya sendiri yaitu Fadillah. Sedangkan pak Fikri memberikan kesempatan untuk kaki tangannya dari madrasah tempat ustadz Mamat bekerja, yaitu pak Jamal.
Jamal dengan wajah yang menyeringai mesum kini ikut maju membantu Fadillah memegang kedua kaki Aida yang masih berusaha menendang ke sana-sini. Pergelangan kaki yang langsing itu dicekal oleh Jamal, lalu bersama dengan Fadillah, tubuh Aida yang nan langsing semampai diangkat dinaikkan ke atas meja. Dengan cengkraman Jamal di kedua pergelangan kaki dan cekalan Fadillah di kedua nadi tangan, maka sia-sialah semua usaha Aida melepaskan diri.
Kini majulah pak Sobri serta pak Fikri masing-masing di samping kiri kanan Aida dan bersama-sama mereka mulai melepaskan busana sang korban. Pak Sobri melepaskan semua kancing serta peniti kebaya Aida sehingga muncullah bukit kembar putih tertutup beha krem berukuran 34C. Sedangkan pak Fikri dengan penuh rasa gairah menarik sarung baju kurung Aida, kain itu dilorotkannya ke bawah sehingga terpampanglah betis paha putih mulus bagaikan pualam tanpa cacat sedikitpun milik Aida, menyebabkan ke-empat lelaki itu menelan ludah saat melihatnya.
"Jangan, pak! Lepasin saya! Tolong, pak Sobri.. saya enggak mau! Enggak rela! S-sialan semua! Ooh.. insyaflah kalian! Oooh.. hiks, hiks! Saya mau pulang, pak Sobri!!" ratapan Aida menggema disertai isak tangisnya karena menyadari apa yang akan menimpanya malam ini.
"Ssh... neng manis, percuma ngelawan! Nikmati aja, kan udah sering ama bapak. Sekarang neng bisa ngelayanin yang lain juga. Ntar juga jadi biasa ama pak Fikri yang sayang ama perempuan bahenol. Sshh.. tenang, neng. Nyerah aja, kita nggak ada yang mau nyakitin! Shh.. cupp," pak Sobri berusaha menghibur sambil matanya mengawasi tubuh Aida yang kini hanya terlindung BH dan celana dalam saja, dan kedua penutup bagian vital itu pun langsung direnggut oleh pak Fikri.
"Ck-ck-ck.. emang bener, Bri, simpenan loe emang luar biasa yahud. Badan gini mulus putih enggak ada tandingannya di desa ini," pak Fikri menelan ludah berkali-kali dengan jakun turun naik dan mulai melepaskan pakaiannya sendiri, tak lama kemudian ia pun menurunkan celana dalamnya.
Setelah telanjang bulat dengan tubuh agak tambun, pak Fikri semakin mendekati Aida yang direjang kaki tangannya tergeletak di atas meja. Kemaluannya yang disunat telah mengacung keras, perlahan-lahan didekatkan ke arah wajah manis Aida. Langsung sang korban ini melengoskan kepalanya ke arah lain, namun yang dilihatnya justru pak Sobri yang juga telah melucuti semua pakaiannya. Badan pak Sobri yang penuh bulu sudah sering dilihat oleh Aida, bahkan telah sering dijilat dan diciuminya selama ia menjadi simpanan pak Sobri selama ini. Juga rudal pak Sobri yang begitu sering memasuki semua lubang intim tubuhnya, telah tak asing lagi untuk Aida. Rudal daging yang telah sering dikulum dan disepongnya itu kini menyebabkan kembali rasa mual dan ngeri - mungkin disebabkan oleh situasi tak berdaya dan dipaksa untuk melayani kemauan empat lelaki.
"Ayolah kita mulai maenan petak umpet ama si denok, tapi semuanya mesti bugil dulu biar seru," demikian pak Fikri yang memberikan tanda kepada kedua pegawai bawahannya, lalu ia mengambil alih tempat Jamal yang memegangi pergelangan kaki Aida. Tindakannya itu diikuti oleh pak Sobri dengan langsung mencekal nadi tangan Aida yang terentang meronta-ronta di atas kepalanya.
Fikri merentangkan paksa kedua kaki jenjang Aida ke samping sambil matanya tak puas-puas menatap belahan selangkangan Aida yang begitu halus mulus terawat, merangsang setiap lelaki.
Kesempatan ini dipakai oleh Fadillah dan Jamal untuk membuka semua pakaian masing-masing sehingga hanya dalam waktu dua tiga menit kemudian, keempat lelaki pejantan itu telah bugil total. Jamal diberi aba-aba oleh Fikri untuk menggantikan kembali memegang pergelangan kaki Aida, lalu Fikri mendekati korbannya. Dengan penuh nafsu Fikri meremas-remas gundukan buah dada Aida yang menggunung padat.
Penuh rasa ketakutan, Aida hanya dapat menangis terisak-isak ketika tubuhnya sedikit ditegakkan dan dirasakannya jari-jari tangan Fikri menyentuh ke belakang punggungnya. Tak lama kemudian kaitan BH penutup buah dadanya telah dilepaskan oleh Fikri sehingga muncullah gunung kembar yang sedemikian padat dan montok, berkulit putih licin, dengan puting coklat muda kemerahan yang selalu tegak seolah mengundang tangan lelaki untuk menjamahnya.
Karena kedua tangannya direjang sekuatnya oleh pak Sobri, maka Aida tak dapat menutup buah dada kebanggaannya yang memang sangat sekal montok dan kini mulai diraba, diusap serta diremas-remas gemas oleh pak Fikri.
Namun rupanya pak Sobri dan pak Fikri telah merencanakan pesta seks yang agak berkepanjangan karena Aida merasakan semua rejangan dan cekalan di pergelangan kaki tangannya dilepaskan!
Kini ia berdiri di tengah ruangan hanya dengan memakai celana dalam kecil pelindung auratnya yang terakhir, sedangkan keempat lelaki biadab mengelilinginya bagaikan singa buas menantikan kancil kecil mangsanya untuk dijadikan santapan terakhir. Penuh rasa malu tak terkira, Aida meletakkan kedua tangan di depan dada untuk melindungi kedua bukit daging kebanggaannya, sedangkan matanya yang penuh air mata mencari-cari tempat untuk berlindung, dan anehnya keempat lelaki itu agak mundur, namun tetap mengepungnya dari empat jurusan dengan penis-penis tegak mengacung bagaikan meriam sundut.
Rupanya ini memang sudah diatur oleh Fikri dan Sobri yang menginginkan permainan bagai anak kecil di sekolah dasar. Aida berusaha menekan rasa takut dan panik, tubuhnya mengelak ke samping, ke belakang, sementara matanya mencari-cari dimana kiranya ada kamar yang dapat dimasuki sehingga ia dapat mengunci diri dan bersembunyi di dalamnya. Ternyata di bagian bawah rumah Fikri tidak ada ruangan tempat tidur, sehingga tanpa sadar Aida semakin lama berjalan mundur mendekati tangga mengarah ke tingkat atas dimana memang ada beberapa kamar tidur. Aida hanya mengharap bahwa salah satu kamar itu dapat dikunci dari dalam sebagaimana keinginannya.
Dengan rasa putus asa Aida mendadak lari ke atas tangga dan memasuki salah satu kamar tidur, ternyata tidak ada kuncinya. Dimasukinya lagi ketiga kamar yang lain, semua sama saja : juga tak ada kuncinya.
Perlahan-lahan, sambil menikmati adegan wanita muda cantik hampir telanjang bulat berlari-lari kesana sini keluar masuk kamar, keempat lelaki jahanam itu naik tangga pula mendekati mangsa mereka.
Bagaikan anak kecil di sekolah dasar yang berlari-lari kesana sini dalam permainan petak umpet, kejar-kejaran itu pun berlanjut di atas loteng. Dengan kelicikannya, pak Fikri dan pak Sobri, dengan disertai Fadillah dan juga Jamal, berhasil mendesak Aida masuk ke dalam kamar tidur terbesar. Di kamar tidur ini tentu saja terdapat pula ranjang terbesar yang terbuat dari kayu jati, dengan di semua sudut terlihat pilar kuat berukiran kepala harimau.
Kamar itu dilengkapi pula dengan sebuah kaca besar di dinding yang belum terlalu lama dipasang atas kemauan pak Fikri. Setelah istrinya meninggal dan ia puasa cukup lama, maka gairah hidup pak Fikri muncul kembali setelah dapat menggarap Rofikah, murid madrasah genit itu (baca kisah sebelum ini). Selepas peristiwa itu, maka pak Fikri semakin sering menikmati daun muda di desa kediamannya itu, yang semuanya adalah hasil jebakan dari kaki tangannya : Jamal dan Fadillah.
Untuk lebih dapat memenuhi hasrat birahinya maka pak Fikri memasang kaca di-dinding kamarnya, sehingga segala tindakannya selama menggarap wanita dapat dilihat pula olehnya. Bahkan wajah si wanita yang sedang mengalami perkosaan dan meringis kesakitan dapat pula ia nikmati sepuasnya - sedemikian jauhnya kemajuan pak Fikri yang menjadi pejantan jahanam.
Ketika akhirnya secara tak sadar berdiri di dekat cermin besar di dinding, dimana terlihat betapa mulus menggairahkan tubuhnya di kaca itu, dan dihadapannya terpampang ranjang sangat besar, maka barulah Aida dicekam rasa putus asa dan ketakutan tak terhingga menghadapi keempat pria pemerkosanya. Dia hanya dapat menjatuhkan dirinya ke lantai sambil menutup wajahnya dan menangis tersedu-sedu, dilupakannya bahwa kedua buah dadanya kini tak lagi terlindung oleh tangannya.
Keempat lelaki yang juga telah bugil seluruhnya itu kini mendekati mangsa mereka. Fikri dan Sobri menarik lengan Aida dan dengan perlahan-lahan mereka meletakkan mangsa yang terkepung tanpa daya itu ke atas ranjang. Rupanya mereka telah sepakat bahwa pertama pak Fikri yang akan menikmati tubuh Aida, setelah itu mereka akan bergantian satu persatu menguras tenaga Aida, dan akhirnya mereka bersama-sama membagi kenikmatan surgawi istri seorang ustadz yang juga dikuasai iblis.
"Jangan nangis gitu ah, kan neng belom diapa-apain. Matanya jadi sembab nanti, kan malah nggak cantik. Kita cuma mau senang-senang kok. Ayo sini, jangan menggigil gitu. Dingin ya? Sini masuk pelukan bapak, hhm... wanginya nih rambut," Fikri menarik Aida dari posisi di lantai ke dalam pelukannya, tak perduli Aida yang menolak keras.
"Tolong, pak, saya mau pulang! J-jangan nodai saya, pak! Hiks, hiks.. Ingat, pak, insyaflah! Saya ini istri orang! Anterin saya pulang, pak! Jangan... emmppfffhh!!" kata-kata Aida hilang di dalam ciuman buas dan rakus pak Fikri yang semakin menarik Aida ke atas ranjang yang besar.
"Kalo perlu dibantuin bilang ya, pak, pokoknya kita semua siap tempur. Hehehe," Jamal bersama Fadillah dan pak Sobri menyeringai mesum sambil mengundurkan diri meninggalkan kamar tidur.
"Beres lah. Nih mojang masih malu, belom biasa ngadepin banyak lelaki sekaligus. Jadi terpaksa gantian satu persatu, tapi ntar semua dapet bagian kok. Sekarang bapak yang mulai ya, neng," Fikri kembali menciumi dan menjulurkan lidahnya ke dalam mulut Aida, menyebabkan perempuan itu menjadi mual dengan bau tembakau kretek.
Dengan kedua tangannya yang kuat, Fikri merebahkan dan menekan Aida ke kasur, lalu menindih serta menarik celana dalam pelindung aurat terakhir istri ustadz Mamat, tak dipedulikannya tendangan serta rontaan mangsanya. Hanya dalam waktu satu menit kemudian, sempurnalah Aida telanjang bulat bagaikan Eva di taman Firdaus, dan tanpa menunggu banyak waktu lagi, pak Fikri menutupi tubuh langsing semampai itu dengan tubuh kekarnya. Ciuman pak Fikri beralih ke leher jenjang Aida, dijilati dan dicupanginya disitu, lalu bagaikan ular, lidahnya mengembara bergantian ke-ketiak yang gundul kelimis. Di situ kembali digigit dan dicupanginya.
Aida merasa sangat kewalahan dengan rangsangan pak Fikri. Meskipun benaknya menolak mati-matian, namun tubuhnya mulai menjawab.
"Duh... wangi amat nih ketek. Emang laen neng piaraan si Sobri ama perek kampung. Apalagi memeknya, pasti lebih harum lagi. Cupp, cupp, hehehe... geli-geli enak ya, neng?" celoteh Fikri menyebabkan wajah Aida merah padam karena memang merasa sangat geli diperlakukan begitu, sekaligus juga terhina karena disebut 'piaraan si Sobri', tapi harus dia akui memang itulah kenyataannya.
Aida menggeliat ke kiri dan ke kanan di bawah tindihan tubuh pak Fikri, kakinya menghentak tak karuan menahan geli ketika ciuman Fikri telah turun ke dadanya, naik turun di lembah dan bukit kembar sekal menggemaskan miliknya. Bibir Fikri dengan kumis ijuk di atas dan di janggutnya menambah kegelian karena menusuk-nusuk puting Aida yang mencuat ke atas. Kedua tangan Aida berusaha menolak kepala Fikri yang menyelundup di lembah di antara buah dadanya, namun Fikri menangkap pergelangan tangan Aida. Dia meletakkan dan merejangnya di atas kepala perempuan itu, menyebabkan Aida jadi tak berdaya.
Kini Fikri mencakup bergantian puting merah coklat muda di kiri kanan itu dengan bibirnya, dikulum dan disedot-sedotnya sekuat tenaga bagaikan bayi raksasa yang kehausan. Tak cukup sampai di situ, Fikri lalu mengulum puting itu, serta menggigit dan menariknya sekuat tenaga hingga menyebabkan Aida menjerit ngilu.
"Aahh... aiiih.. oohhh... pak, udaah! Ngilu! Ngilu! J-jangan digigit.. auw! Pelan-pelan, ooh... jangan sadis gitu dong, pak! Saya enggak tahan, aaaah!!" lenguhan Aida semakin memenuhi ruangan, apalagi dirasakannya tangan Fikri yang bebas kini turun ke arah perutnya.
"Ck-ck-ck.. duh, gempal banget nih tetek, bapak jadi gemes pengen nyusu lagi! Shh... isep lagi ah, hehehe.. si neng ngegelinjang kaya cacing, emang enak ya?" Fikri mulai menjalarkan jari-jari tangannya yang bebas ke rambut halus tercukur rapi pelindung bukit Venus Aida.
Disitu jari-jari nakal Fikri mengusap dan memelintir beberapa rambut halus kemaluan Aida, yang mana tak pernah dirasakan oleh istri ustadz yang malang ini. Telah sering badannya digauli sang suami, telah sering pula tubuhnya dijarah oleh pak Sobri dengan segala macam teknik cintanya, namun kali ini pak Fikri menggarap dengan cara setengah menggoda setengah sadis, amat berbeda dengan apa yang selama ini dialaminya. Semuanya menyebabkan tubuh Aida semakin menggeliat melawan arus birahi yang mulai menyerang.
Pak Fikri bukan anak kemarin sore, senyum iblisnya semakin nyata ketika dilihatnya tatapan mata Aida semakin redup kuyu, mulutnya setengah terbuka, dan dari belahan bibir manis serta kembang kempis hidung mungil itu terdengar desahan dan lenguhan wanita yang semakin hanyut akan birahi.
Ciuman pak Fikri kini menurun dari bukit kembar putih yang telah penuh dengan bercak bekas remasannya serta cupangan merah, menjalar ke pusar Aida yang cekung. Dia bermain-main di situ sebentar dengan mencelupkan ujung lidahnya ke dasar pusar, mengutik-utik dan menjilat-jilat bagaikan kucing garong.
Aida semakin tenggelam dalam gelombang arus permainan pak Fikri, kepalanya menggeleng dan rambutnya yang telah tak ditutupi oleh jilbab berurai ke sana-sini, kaki jenjangnya menghentak dan menendang-nendang. Pak Fikri melanjutkan jelajahan mulutnya ke arah lipatan perut dan juga pahamulusnya. Di situ kembali ia menjilat dan mengecup mencupangi.
Usaha mati-matian Aida untuk mengatupkan kedua paha jenjangnya hanya berhasil sebentar saja, karena Fikri dengan kedua lengannya yang berotot walaupun telah berusia lanjut berhasil menguakkannya ke samping. Beberapa saat kemudian terbuka dan terbentanglah selangkangan Aida selebar-lebarnya – yang mana kesempatan itu segera dipakai oleh pak Fikri untuk menempatkan dirinya diantara paha putih mulus itu. Bibir tebal Fikri langsung melekat di bibir bawah Aida, mengendus-ngendus disitu, kumisnya menggelitik dan lidahnya menjalar masuk ke memek Aida.
"Slruup.. sssh.. wuih, udah basah nih memek. Udah enggak sabaran ya, neng, pengen ngerasain dientot? Sluurp.. ahh, sepet-sepet manis nih air mazi. Bapak cobain lagi ya," Fikri makin dalam menyelupkan lidahnya ke lembah vagina Aida yang semakin lemas tak berdaya.
"Oooh, pak! Aaah... aaiihh... jangan, pak! Kasihani saya! J-jangan terusin, pak! Jangan nodai saya! Oooh.. hiks, ampuun! Ooh, pak.. udah dong!!" Aida menggeliat-liat menahan semua godaan yang melanda ujung syaraf di tubuhnya yang mulai basah kuyup dengan keringat.
"Tenang, neng, nikmati aja semuanya! Neng kan udah sering ginian ama si Sobri, gantian dong sekali-sekali ngerasain gimana dikerjain ama pejantan lain. Bapak enggak akan nyakitin, malah mau jilat itil neng sekarang! Mmhh... mungil amat, sshh.."
Fikri menjulurkan lidahnya semakin dalam ke arah G-spot, lalu merantau di antara lipatan bibir kemaluan Aida untuk mencari kelentitnya. Setelah ditemukan, maka daging kecil merah muda itu dijilati, dikecup, digigit-gigit , dijilat lagi, sehingga semakin lama semakin membengkak dan luar biasa peka dan berubah menjadi merah tua.
"Oouh.. Ya Allah,  gelinya! Ampun! Oooh... pak, udah! Ngilu, pak! Oohh.. tolong, pak! Geli, lepasin dong! Saya mesti ke belakang, mau pipis! Oooouu..." jerit Aida mengiringi kekelahannya melawan gairah birahi yang disebabkan rangsangan di klitorisnya.
Namun pak Fikri yang telah naik nafsunya ke-ubun-ubun, malah meneruskan rangsangannya. Tangannya kini merambat ke atas dan menemukan lagi bukit buah dada Aida yang membusung indah. Sambil meremas kedua puting yang begitu mengeras itu, lidah serta kumis pendeknya yang bagai sapu ijuk terus menggesek-gesek kelentit Aida yang semakin menjerit-jerit bagaikan terkena aliran listrik, hingga akhirnya...
Aahh.. aduh! Aaooooouuu... aaauuuuuuwww.. ooooohhh... iya, terus pak!" lengking Aida menyertai kelojotan tubuhnya yang bagaikan busur menegang melengkung naik menekan bukit kemaluannya ke wajah Fikri hingga basah kuyup oleh air mazinya.
Sekitar tiga menit Fikri meneruskan kegiatannya merangsang Aida sehingga akhirnya orgasme yang dialami perempuan itu mulai mereda dan tubuh Aida  menghempas lemas disertai kucuran keringat yang cukup deras. Pak Fikri menyeringai melihat usaha pertamanya berhasil dan kini ia telah meletakkan kedua kaki jenjang Aida di pundaknya. Dilihatnya getaran kecil dan denyutan lemah bibir kemaluan Aida yang kini perlahan-lahan dikuaknya ke samping, sementara dengan tangan satunya ia mengarahkan batang rudalnya yang telah ereksi maksimal bagaikan pentungan kayu ke antara bibir vagina Aida.
"Oooh, lembutnya nih memek! Anget,  halus, licin, sempit peret kaya perawan. Oooh.. bapak mesti kerja keras nantinya. Tahan dikit ya, neng, bapak mau ngejos daleman neng! Mau jedug-jedug biar manteb!" pak Fikri mulai memaju-mundurkan pinggulnya; menjelajahi, membelah vagina Aida semakin dalam dan dalam, dan terus menusuk hingga dirasakannya kepala jamurnya menekan rahim.
"Oooummpffh, pak! Aauw.. oooh.. ngilu! A-ampun!" Aida melupakan semua derajatnya sebagai istri ustadz. Kuku-kuku jari tangannya menekan kuat-kuat lengan pemerkosanya, bahkan sesekali mencakar, namun semuanya tak dipedulikan oleh Fikri.
"Gimana, neng, enak ya? Ayo ngaku, enak kan.. ngilu-ngilu sakit? Terusin ya, ntar lebih enak lagi," demikianlah Fikri menggoda korbannya, dan diturunkannya kedua kaki Aida dari pundaknya. Lalu dengan penis tetap menancap di dalam vagina, mendadak ia membalikkan tubuh hingga menjadi posisi di bawah, sedangkan Aida kini duduk di atas dalam posisi 'woman on top'.
Sekarang Aida yang mengambil inisiatif, dan karena seluruh vaginanya telah basah, licin, panas, serta gatal tak terkira, maka dia pun mulai menaik-turunkan tubuhnya. Makin lama menjadi semakin cepat. Fikri merasa sangat puas karena istri muda alim shalihah ini telah terbawa birahi hewaniah dan lupa akan segalanya.
Aida telah melupakan kedudukan serta martabatnya, yang dirasakan hanya satu : keinginan untuk mencapai kepuasan yang semaksimal mungkin malam ini. Tubuhnya menghempas naik turun, wajahnya menengadah ke atas, sementara matanya terpejam dan bibirnya terbuka.
Dalam keadaan semacam itu maka semua panca indera Aida pun sangat terbatas, yang didengarnya hanyalah dengusan dan geram pak Fikri yang seirama dan berselang seling dengan lenguhannya sendiri.
Oleh karena itu Aida tak menyadari bahwa pintu kamar tidur perlahan-lahan terbuka, dan ketiga lelaki lainnya memasuki ruangan pertarungan badaniah itu. Pak Fikri melihatnya, namun tetap menikmati naik turunnya tubuh Aida yang sedang menikmati tikaman rudal daging di liang memeknya.
Bahkan ketika pak Sobri telah naik perlahan-lahan di ranjang dan mendekat dari arah belakang, hal ini masih belum disadari oleh istri ustadz Mamat. Aida baru sadar dan terpekik ingin berdiri dan melepaskan dirinya dari tikaman penis Fikri pada saat Jamal dan Fadillah telah berlutut di samping kiri kanan pasangan yang sedang bersenggama itu. Namun sudah terlambat.
Fikri dengan sigap memeluk tubuh Aida dari bawah dengan kuat, kedua pergelangan tangan Aida disergap dan dicekal oleh Jamal serta Fadillah yang memaksanya memegang penis mereka masing-masing. Rontaan Aida hanya sia-sia saja karena tubuhnya ditarik ke bawah dan mulutnya dibekap ciuman Fikri yang  berbau rokok kretek.
Dengan dirangkuh pinggangnya dan ditekan ke bawah oleh Fikri, maka tanpa disadari Aida pinggulnya mencuat menungging ke atas, hal mana telah ditunggu oleh pak Sobri yang berada di belakang pantatnya. Dengan dua tangan dia langsung  mencekal bongkahan pantat Aida yang bulat putih mulus itu.
Aida mulai menduga apa yang akan menimpa dirinya. Dengan sisa-sisa tenaga dicobanya berontak, badannya berusaha bangun dari posisi yang sangat tak menguntungkan itu, namun tetap dirangkul amat kuat oleh Fikri. Kini Fikri melepaskan ciumannya di mulut Aida, bibirnya yang dower itu turun ke bawah dan mencakup puncak buah dada mangsanya, dikenyot dan dikulum-kulumnya gunung kembar yang sekal itu, sambil putingnya kembali ia pilin-pilin dan digigit secara gemas dan sadis.
"Aduh, pak! Jangan begitu dong! Jangan digigit, pak! Auw.. s-sakit! Tolong, pak Sobri, ampun... jangan dimasukin disitu! Saya 'kan paling enggak tahan! Oooh.. pak, kasihani saya! Bapak kan bilangnya sayang Aida, auww! Aaahhhh..." lolongan Aida meraung memenuhi ruangan kamar ketika dirasakannya Sobri mulai meludahi gerbang anusnya.
Pak Sobri hanya tersenyum melihat simpanan hatinya menggeliat meronta. Setelah meludahi beberapa kali, kini ia mulai memasukkan satu, berikutnya dua dan akhirnya tiga jari ke anus Aida.
Semua geliat dan rontaan Aida tak dapat menandingi tenaga lelaki yang menjarahnya, tangannya sama sekali tak dapat digunakan karena kedua nadinya dicekal kuat ke kiri kanan dan dipaksa mengocok kemaluan Jamal dan Fadillah. Kedua lelaki ini dalam posisi berlutut merem melek keenakan karena kejantanan mereka yang disunat itu digenggam kuat oleh Aida yang sedang ketakutan karena menunggu saatnya disodomi oleh kekasih gelapnya : pak Sobri.
"Ooooh.. iya, neng geulis! Iyah, kocok begitu! Pelanan dikit! Duh, konak banget digrepe sama neng bahenol. Nggak tahan lama nih, bisa cepet ngecrot nih! Aaaahh..." Fadillah ngoceh keenakan.
"Busyet! Neng belajar ama siapa ngocok begini? Mesti simpen tenaga nih, aaah... abang ntar pengen diemut disepong ya, neng," Jamal tak kalah berceloteh - bersaing dengan Fadillah.
Pak Sobri menyentuh kaki pak Fikri memberikan tanda untuk merangkul Aida sekuatnya sekaligus memberikan sedikit ruangan untuknya. Pak Fikri yang mengerti aba-aba ini, segera menarik keluar sedikit si otongnya, yang kesempatan itu segera dipakai oleh Sobri dengan menekan penisnya di lingkaran anus Aida.
"Aaauuhh... aaaauuuuuuwww.. sakiit!! Bapak jahat! Jangan masukin! S-sakit, pak! Hiks-hiks-hiks, ooohh... saya mau mati aja! Kasihani saya, pak! Jangan disiksa begini, hiks-hiks.. ouuh, ampun! Ya Allah, sakitnya!!" Jutaan bintang bertebaran di depan mata Aida sementara air mata mengucur membasahi pipinya menahan rasa sakit tak terkira.
"Rileks, sayang. Tenang, rileks aja. Ntar juga ilang sakitnya. Jangan dilawan, sayang. Bapak kan maennya pelan-pelan, masuknya juga kan pelan-pelan gini," pak Sobri berusaha berbisik di telinga Aida untuk menghibur kekasih gelapnya, namun penisnya justru semakin membesar di saat menembus pertahanan otot lingkaran anus. Dia semakin terangsang mendengar rintih dan jerit memilukan Aida yang menggema karena di-sandwich oleh dua lelaki.
"Udah, pak! Bapak jahat! Ooouuww... tambah sakit! A-ampuun!!" Aida semakin lemah saat mulutnya kembali dibekap ciuman ganas Fikri. Kedua buah dadanya yang montok menggantung kini lepas dari mulut Fikri, namun ganti diremas-remas oleh Fadillah dan Jamal yang tetap mencekal keras nadi Aida untuk memperingatkannya agar tetap melakukan tugas mengocok. Kini kedua lelaki kasar itu malah dapat memperingatkan Aida agar tetap mengocok penis mereka dengan gemas meremas-remas buah dada, bahkan sesekali mencubiti putingnya. 
Aida telah kehabisan tenaga dan hanya dapat mengharapkan agar dirinya secepat mungkin pingsan sehingga semua yang dialaminya segera berakhir. Selama ini dirinya telah mulai terbiasa dengan kedatangan pak Sobri yang teratur menagih jatah. Di awal permulaan memang ia diperkosa oleh pak Sobri dan kaki tangannya : Fadillah, namun sesudah itu hanya Sobri yang menjarahnya.
Kini dialaminya peristiwa pelecehan keroyokan yang sama sekali tak pernah ia duga : empat lelaki sekaligus menguasai dirinya. Aida merasakan tak ada harga dirinya lagi untuk berjumpa dengan suaminya : seorang ustadz yang dihormati di desa. Aida tak menyadari bahwa suaminya pun telah memasuki dunia gelap karena dikuasai oleh iblis, membuatnya menjadi pejantan mesum yang tak segan-segan mencari mangsa ABG diantara murid madrasahnya sendiri.
Pak Fikri dan pak Sobri yang terus dengan puas menyodok, merojok serta menghunjam tanpa memperdulikan lagi semua keluhan dan rintihan memilukan hati korbannya, mulai merasakan didih dan gejolak lahar panas mendesak ingin keluar dari biji pelir mereka. Bagaikan banteng terluka yang sedang murka, keduanya keluar masuk bergantian di dalam lubang vagina dan anus Aida.
Hawa nafsu mereka yang semakin memuncak membuat alat kemaluan mereka semakin membesar, masuk keluar, tarik dorong, semuanya memberikan kesan kepada Aida seolah tubuhnya dibelah menjadi dua. Setiap hunjaman entah melalui vagina maupun anus, dirasakan Aida seolah masuk sedemikian dalam menyentuh ulu hatinya, semakin dalam, semakin keras, semakin membuat ngilu, sakit, namun juga nikmat tak terkira. Semuanya bercampur menjadi satu, dan akhirnya ...
Ssssrrr.. croooottt.. croooott.. ssssrrrrrrr.. denyutan demi denyutan dari penis besar pak Sobri dan pak Fikri hampir bersamaan mengiringi semburan sperma mereka membanjiri kedua lubang Aida.
Tak ada yang dapat dilakukan oleh istri ustadz ini, Aida hanya ingin menyelesaikan pelecehan ini secepatnya. Maka dengan sisa energi terakhir dikocoknya sekuat tenaga penis Jamal dan Fadillah, hingga dua menit kemudian keduanya pun menyemprotkan sperma mereka.
Aida menduga bahwa dirinya telah bebas dari perlecehan, namun ternyata Fadillah dan Jamal masih tetap sanggup ereksi, dan baru melepaskan Aida setelah mereka bergantian disepong dan memaksa Aida minum air mani, menyebabkan Aida terbatuk-batuk dan mual hampir muntah.
Di akhir malam itu, Aida pasrah terhadap nasibnya dan menyerah dijadikan budak sex siapa pun.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar