Sabtu, 22 Oktober 2016

Laut Biru 10



Hak Cipta © Stuka1788

Chapter X: The Secret


Gedung NewsTV
Lantai 2
09.44 WIB
H minus 50:16:00

Meutia mematikan handphone-nya dengan perasaan yang campur aduk antara cemas, jengkel, dan bingung. Tanpa disadari, setengah berbisik, ia pun mengutuk, sesuatu yang selama ini amat sangat jarang dilakukan oleh seorang Meutia. Beberapa orang berkerumun di dekatnya, orang-orangnya Alex. Fifi entah berada di mana, begitu juga dengan Fessy, dan dalam kebingungan, mereka pun mencoba mencari arahan dari Meutia.
Ini mungkin adalah blunder terbesar dari Alex, begitu pikir Meutia, untuk tidak menyusun chain-of-command hingga 3 atau 4 lapis. Orang hanya tahu bahwa bagian ini dipimpin oleh Alex, kemudian pada rantai komando di bawahnya ada Fifi. Walaupun kemudian rantai komando yang jelas tidak pernah disebut, tapi secara de facto orang selalu menuju pada Fessy sebagai “alternatif” rantai komando ketiga. Nah, kalau Alex, Fifi, dan Fessy tidak ada, lalu pada siapa mereka akan berpijak? Di sinilah kebingungan, yang lantas berujung pada kekacauan, pun terjadi.

Beberapa orang yang memang terkemuka, dan berada pada satu level dengan Fessy di News Today lalu mengklaim sebagai “pewaris tahta” yang berhak memegang komando. Meutia tahu beberapa orang di antara mereka adalah orang yang selama ini paling menanti kejatuhan dari Alex. Sebagai orang yang juga satu level dengan Fessy, maka Meutia pun menjadi salah satu dari alamat tujuan pula, namun yang “menghadap” ke Meutia jumlahnya lebih banyak, karena semata-mata adalah faktor kedekatan Meutia dengan Alex.
Betul-betul gila! Meutia sama sekali tidak pernah bermimpi masuk dalam rantai komando di News Today, dan ia sama sekali tak menginginkannya, dan Alex tahu itu. Sebagai salah satu newscaster yang juga kapabel sebagai produser, Meutia lebih suka untuk memimpin sebuah tim kecil, bukan seluruh kapal seperti saat ini. Ia lebih menikmati peran menjadi seorang pemimpin regu atau maksimal kompi, tapi bukan seluruh batalion apalagi divisi! Sun Tzu memang pernah mengatakan bahwa memimpin pasukan kecil atau besar itu pada prinsipnya adalah sama, hanya masalah alokasi; namun bagi Meutia, jelas ini masalah yang amat berbeda sejauh bumi dengan langit. Problematika yang akan harus ia pecahkan sekarang amat sangat rumit, dan Meutia bahkan tak tahu darimana harus mulai atau apa yang harus ia lakukan pertama kali.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Vino, salah satu dari tim produksi.
Pertanyaan itu betul-betul menyengat Meutia lebih dari apapun. Banyak pasang mata pun menusuk ke arahnya, menunggu dengan amat penuh harap bahwa Meutia memang memiliki jalan keluar dari permasalahan pelik ini. Lagipula, siapapun tidak meragukan kapabilitas Meutia sebagai salah satu anchor paling cerdas di NewsTV, siapapun kecuali Meutia sendiri. Namun Meutia tahu bahwa jika keadaan dibiarkan terlalu lama tanpa komando, maka kekacauan akan merembet lebih jauh dan bisa jadi ia bakal kehilangan jumlah orang yang saat ini menghadapnya. Fessy memang meminta Meutia untuk membantu, tapi membantu di sini tidak pernah terbayang dalam diri Meutia bahwa salah satunya adalah menjadi pemimpinad interim.
“Kumpulkan semua orang, semua harus melapor ke aku,” perintah Meutia, dengan nada ragu yang kentara sekali keluar dari suaranya.
“Apa berarti sekarang kamu yang berwenang?” tanya Eva.
“Aku akan memegang posisi ini, sampai Fifi atau Fessy kembali,” jawab Meutia.
“Lalu apa yang mau kita lakukan habis itu??” tanya Femmy, salah satu dari tim produksi juga.
“Kumpulin saja dulu semuanya, nanti kita bahas!” kata Meutia dengan nada suara yang ditinggikan.
Bukan jawaban yang memuaskan memang, tapi setidaknya itu adalah sebuah komando. Tidak akan memecahkan persoalan, tapi hanya menunda beberapa waktu lebih lama untuk Meutia berpikir. Berulang kali ia menatap jam di dinding, lupa bahwa dirinya saat itu juga tengah mengenakan arloji, hampir jam 10. Meutia memang tidak tahu mengenai tenggat waktu hingga jam 10 yang memang hanya diberitahukan oleh Bu Isyana pada Fessy, tapi ia seakan punya firasat bahwa pada jam 10 nanti memang bakal “terjadi apa-apa”.
Sekali lagi ia mengetuk-ngetuk kepalanya sendiri. Berpikir! Berpikir! Tapi ia seolah hanya melihat kegelapan saja yang menghalangi semua pikiran. Kemana semua kecerdasan yang selama ini ditakuti karena sering “membantai” mulai dari aparat, tokoh politik, anggota dewan, bahkan menteri sekalipun di acara dialog? Meutia memang amat sangat buta dalam hal ini, dan ia pun berharap bahwa saat ini dia adalah orang lain.
Alex memiliki beberapa orang wanita yang selalu dekat di lingkarannya, salah satunya adalah Meutia sendiri. Wanita-wanita ini sering dijuluki sebagai “Guardian Angels”, malaikat-malaikat pelindungnya Alex, sebuah julukan yang diamini oleh semua, baik di tingkat pekerjaan kantor NewsTV hingga ke tim airsofter yang mereka ikuti. Semua “bidadari” ini jelas memiliki kemampuan istimewa sendiri, tapi tanpa bermaksud rendah diri, Meutia saat ini memang membutuhkan kemampuan orang lain. Fessy adalah wanita yang baik di dalam maupun di luar kelompok “bidadari”, adalah dianggap paling pintar, bintang paling cemerlang yang dimiliki oleh Alex saat ini. Fessy memiliki kemampuan analisa yang amat sangat luar biasa, sehingga dia bisa mendapatkan solusi pada hampir semua masalah apapun walaupun seringnya solusi tersebut bersifat ekstrem. Kecepatan analisanya memang mencapai pada hitungan nanosekon, dan sulit ditandingi oleh semua orang di NewsTV, Meutia sendiri sekalipun.
Salah satu bidadari lain, yaitu Prita, malah memiliki kemampuan yang agak “mistis”. Firasat dan intuisi Prita amat sangat tajam sehingga Prita seolah bisa mengetahui apa yang akan terjadi, dan dengan begitu selalu mengambil langkah antisipasi. Konon, Prita bisa saja masuk ke sebuah kota yang benar-benar asing dan berkeliling-keliling di sana tanpa bertanya dan tanpa tersesat! Tentu saja Prita selalu menertawakan asumsi ini dan mengatakan bahwa itu berlebihan. Tapi ketika dulu Prita masih aktif dalam liputan hardnews, tiap kameramen yang bersamanya pasti berkomentar senada bahwa liputan bebas (bukan penugasan) dengan Prita sama saja seperti membawa sebuah “bola kristal”, karena entah bagaimana Prita selalu membawa mereka ke spot di mana akan terjadi sesuatu yang bernilai berita.
Ada lagi Zackia, cewek cantik yang saat ini masih betah saja menunggui berita malam. Zackia ini terkenal di kalangan “bidadari” karena dulu hampir saja membuat Alex dan Wina bercerai, karena faktor kedekatan yang cukup intim dengan Alex, plus fakta bahwa Zackia adalah everlasting love-nya Alex, bahkan semenjak sebelum Alex masuk ke NewsTV (sehingga timbul keheranan yang amat sangat mengapa setelah Wina meninggal, Alex justru menikahi Lucia, bukan Zackia).
Tapi di luar semua itu, Zackia memang memiliki adaptasi dan daya paham yang luar biasa mengenai suatu masalah. Alex pernah mengatakan bahwa apabila hendak menang untuk berdebat atau adu argumen dengan Zackia, maka lakukanlah secepat mungkin langsung dengan argumen yang tepat, cepat, dan tak terbantahkan, karena apabila debat itu berlangsung molor, maka semakin lama Zackia semakin menyerap inti dari argumen dan setiap pukulan balik Zackia bakal semakin lama semakin mematikan hingga yang tadinya tidak paham, Zackia bisa membuat seorang pakar terkatup mulutnya.
Dalam sebuah acara dialog, seorang menteri bahkan menyatakan lebih rela tiga giginya dicabut daripada harus beradu argumen dengan Zackia dalam jangka waktu selama itu. Hal inilah yang membuat Alex merekomendasikan untuk tidak menaruh Zackia dalam acara dialog serius atau debat semacam News Dialogue yang berdurasi 120 menit, karena pada dialog dengan tempo sepanjang itu, narasumber bakal merasakan “neraka yang lebih panas” daripada ketika menghadapi Rahma atau Meutia.
Lalu apa yang dimiliki Meutia sendiri? Landmark dari Meutia selama ini, bagi mereka yang mengenalnya, adalah ingatan Meutia yang bahkan sampai pada tingkatan super-fotografik. Meutia bisa mengingat semua detail hanya dalam sekali lihat, dan bahkan mengingat semua kata hanya dalam waktu sekali dengar. Ini yang membuat Meutia lebih sering tidak membawa alat perekam setiap kali liputan atau wawancara, karena ia ingat dengan pasti apa saja yang dikatakan oleh narasumbernya. Ini juga membuat Meutia sering dianalogikan dengan agenda berjalan, karena urusan apapun, Meutia selalu bisa mengingatnya. Tapi ingatan fotografik sekarang bukanlah yang dibutuhkan oleh Meutia. Memang betul bahwa Meutia bisa mengingat dengan detil semua instruksi dan teori by-the-books mengenai organisasi dan manajemen manusia, tapi untuk menerapkannya di lapangan itu lain soal. Fessy, Prita, juga Zackia sekalipun pasti akan bisa menyelesaikan masalah ini dengan “kemampuan” mereka. Andai saja Meutia dibekali juga dengan seperempat bagian saja dari semua itu.
“Ke mana Fifi?” tanya Meutia pada diri sendiri, dengan suara yang juga amat lirih yang nyaris terdengar seperti gumaman.
Ya, di manakah Fifi sekarang berada? Pada saat krisis hampir mencapai titik klimaks, dia malah menghilang.

***

Lantai 2
Sayap Mandarin
09.46 WIB
H minus 50:14:00

Bunyi rintihan bergema di seluruh koridor Sayap Mandarin NewsTV. Ini adalah bagian dari lantai 2 yang dipakai sebagai “markas operasi” section berita berbahasa Mandarin NewsTV: Yinni Jintian. Letak section ini adalah pada ujung yang berseberangan dengan program berita reguler, sehingga apapun konflik yang sedang berkecamuk di reguler, Sayap Mandarin hampir tak pernah terpengaruh, sehingga sering dikatakan bahwa Sayap Mandarin dilindungi oleh “Tembok Besar”. Faktor demografi yang nyaris homogen, serta sistem unifikasi komando di sini juga turut andil menyumbang “ketenangan”. Lagipula, pihak-pihak yang “bertarung” di reguler rasanya juga segan untuk mencoba mengusik Sayap Mandarin, bahkan Bu Isyana sekalipun.
Bunyi rintihan makin terdengar keras di ruang anchor, karena disanalah sumber bunyi itu berasal. Di dalam, Sumi tengah duduk jongkok di atas tubuh seorang pemuda. Itu Faisal, OB yang sering keluar-masuk di sayap Mandarin. Inilah yang selalu Sumi lakukan apabila ia tidak sedang ada pekerjaan yang mendesak untuk diselesaikan. Dia selalu menyukai Faisal yang selalu bisa memuaskannya.
Suasana ruangan ini juga berbeda dengan ruangan lain, karena ditata dengan penataan ruang mirip sebuah ruangan di rumah tionghoa. Di beberapa sudut ada tanaman-tanaman mirip bambu dalam pot, serta replika-replika bunga sakura, plus beberapa wallpaper yang menggambarkan salah satu sudut Istana Musim Panas atau Yiheyuan. Dua buah akuarium besar pun menghiasi ruangan itu, yang satu berisikan seekor arawana super red yang elok, sementara satunya lagi berisikan ikan koki dan komet warna-warni. Lukisan dan kaligrafi Cina pun tampak juga tertempel di dinding plus gambar Chang Gui, Dewa Penjaga, untuk mengusir roh jahat.
Pada salah satu sudut juga ada sebuah kuil kecil sebagai tempat bersembahyang lengkap dengan dupa yang semerbak mengharumkan ruangan. Hiasan-hiasan keramik, juga satu set furnitur khas Cina pun ada juga di sini di samping dua buah ranjang. Tempat dimana Sumi sedang asyik menunggangi tunggangannya. Suasana di sini amat sangat mendukung, sehingga bahkan para anchor reguler sering juga menyelinap kemari apabila mereka kelelahan dan ingin mencari secuil kehangatan.
Sumi tidak sedang sendiri. Ada sosok lain, wanita, yang tiduran di ranjang itu. Memang tidak telanjang seperti dirinya, tapi bajunya sudah awut-awutan; menampakkan sepasang buah dada dan tonjolan pantat yang sudah tak tertutup lagi. Wajah perempuan itu nampak puas, tapi tetap ia terlihat tidak tenang dengan sebegitu banyak hal yang mengganggu pikirannya. Ya, itu adalah Fifi. Dia “melarikan diri” ke sini setelah dihardik habis-habisan oleh Bu Isyana tadi.
“Lari ke sini nggak akan menyelesaikan masalah,” kata Sumi sambil terus menggerakkan pinggulnya.
“Aku cuma butuh waktu lagi, Ci,” kata Fifi perlahan, memperhatikan bagaimana ujung kejantanan Faisal berhasil menyentuh mulut rahim Sumi.
Ughh... kenapa kamu pikir kamu masih punya banyak waktu lagi?” tanya Sumi, setengah menyindir, namun tetap masih menggerakkan pinggulnya.
Fifi hanya mendengus, tapi tidak menjawab. Dari semua “geng” Alex, Sumi adalah yang tertua, dan oleh sebab itu juga dituakan oleh yang lain. Sebagai kakak angkat Alex (Alex dan Sumi pernah saling mengangkat saudara), maka Sumi adalah tempat Alex menyandarkan kepala ketika ada kegelisahan yang tidak bisa ditenangkan, bahkan oleh istrinya sekalipun. Sumi sendiri adalah orang yang bijaksana, namun harus kuat mental untuk bisa mencari kebijaksanaan dari Sumi, karena ia “tidak akan mengatakan ‘ya’, tapi juga tidak akan mengatakan ‘tidak’,”
“Diam juga nggak akan membantu, ahhh...” Sumi mendesah dingin manakala ia rasakan betapa dinding-dinding dalam kewanitaannya begitu erat menjepit dan memijat kejantanan Faisal, rupanya inilah gunanya mempelajari Yoga setiap hari.
“Aku harap Alex tidak meninggalkan aku sendiri di sini…” gumam Fifi, lebih untuk dirinya sendiri. Dibiarkannya tangan Faisal yang kembali menyusuri lembah dan bukit indahnya, dan mulai meremas-remas lembut salah satu buah dadanya yang menggantung indah.
“Apalagi penyesalan,” tukas Sumi, “bukan itu yang diharapkan Alex dari kamu, auw! Dia menjerit ketika Faisal mengangkat pantatnya naik dan mendorong kejantanannya melesak masuk makin dalam.
Fifi berguling hingga ia menghadap Sumi, lalu ia pun bangkit untuk duduk di atas ranjang. Di depannya, Sumi terlihat begitu puas dan bergairah, ekspresinya menyenangkan, senyum simpul terus tersungging di bibirnya yang tipis. Rupanya Faisal sudah berhasil memenuhi gejolak birahinya.
“Kenapa Alex sejak awal tidak memilih Fessy saja sebagai wakilnya?” tanya Fifi sambil menggelinjang. Faisal kini meremas-remas kedua bukit indahnya, juga memilin-milin putingnya yang tampak tegak di depan mata, sesekali ia juga menghisapnya bergantian untuk menambah rangsangan bagi dirinya.
Augh... kenapa harus Fessy?” Sumi mendesah dan bergerak semakin seru setiap kali kejantanan Faisal menghantam ujung rahimnya.
“Kalau ada keadaan seperti ini, pasti Fessy bisa memikirkan segala sesuatu,” kata Fifi yang hampir seluruh bagian dadanya sudah dijelajahi oleh lidah basah Faisal, “Fessy itu seperti Alex, mereka berdua tidak pernah mau terikat dan selalu bisa mencari penyelesaian sebuah masalah,”
“Memang betul,” kata Sumi dengan gerakan semakin cepat dan semakin menguras tenaga. Bulatan payudaranya tampak terpantul-pantul indah.
“Lalu kenapa?” tanya Fifi yang putingnya terus dihisap lembut oleh Faisal.
“Justru karena yang kamu sebutkan itu maka... ughh... Alex tidak... memilih Fessy,” kata Sumi terbata-bata, terlihat sangat menikmati tusukan Faisal pada lubang senggamanya.
“Maksudnya?” tanya Fifi dengan tubuh terlonjak saat Faisal menghisap putingnya sedikit lebih keras.
“Jawabannya sudah kamu tahu, ahh... tapi kamu menolak... mengakuinya,” kata Sumi yang berjuang agar tidak keburu mengejang.
“Cici, jangan bikin aku bingung,” Fifi mendesah, menikmati apa yang dilakukan Faisal pada bulatan payudaranya.
“Kebingungan kamu bukan karena Cici, shhh... tapi karena kamu sendiri,”  Sumi menggeram, “Harimau tidak tahu dia punya belang sampai dia berkaca di air,”
Satu lagi pepatah, kebiasaan Sumi ketika memberi nasihat kepada orang. Juga kebiasaan ini pula yang membuat orang yang meminta nasihat dari Sumi lebih banyak menjadi bingung daripada tercerahkan. Maka Fifi pun hanya mendengus saja. Dibiarkannya Faisal terus memainkan jari-jemari dan lidah di seluruh bagian buah dadanya, bergantian antara yang kiri dan yang kanan, tidak lupa juga lembah indah di antaranya, lembah yang selama ini hanya bisa dinikmati dari luar saat Fifi berpakaian dengan belahan dada rendah.
“Kira-kira, kalau Alex ada di sini, dia bakal ngapain, ya?” tanya Fifi, setengah menggumam. Puas dengan payudara, kini Faisal mengalihkan rangsangannya ke belahan kewanitaan Fifi yang tampak tercukur rapi.
“Benar, kalau Alex ada di sini, ughh... dia bakal ngapain?” kata Sumi, masih mengerlingkan senyum penuh kepuasan.
“Ci, itu nggak buat dijawab!” kata Fifi agak jengkel karena Sumi dinilainya tidak pernah memberinya jawaban yang memuaskan.
“Cici nggak menjawab, justru Cici yang tanya ama kamu,” balas Sumi yang tubuhnya semakin menggelinjang dan bergerak-gerak seperti cacing kepanasan.
Fifi terhenyak mendengar perkataan itu. “Nanya ke aku?” bisiknya sambil mengejang dan melengkungkan tubuhnya sesaat ketika Faisal menusukkan dua jari ke arah lorong kewanitaannya yang tadi sudah sempat menyembur.
“Kamu dan Alex sudah bersama lebih lama dari siapapun, emm... entah itu dengan Prita, Fessy, Rahma, atau bahkan Cici sekalipun,” kata Sumi sambil menikmati rangsangan yang sedang melanda tubuh sintalnya, “jadi… kalau bukan kamu yang lebih tahu soal Alex, ughh... lalu siapa lagi?”
Fifi tercenung sendiri. “Tapi aku kan…” Ia tak dapat meneruskan kata-katanya karena Faisal keburu menggerakkan tangannya dengan halus di dalam liang kewanitaannya.
“Pastinya Alex pun punya alasan, augh... kenapa ia memilih kamu di bawahnya, ahhh... dan bukan Fessy atau yang lain,” kata Sumi dengan tubuh mengejang dan melengkung cepat. Gelombang orgasme mulai menapak melandanya. “padahal seperti kamu bilang, aughh... Fessy lebih bagus,”
Fifi tidak menjawab, hanya menatap sayu ke arah Sumi, yang masih berusaha meneruskan gerakan-gerakan naik turunnya untuk menikmati orgasmenya yang belum berakhir, hingga kemudian merebahkan tubuhnya yang lemas di atas tubuh kurus Faisal dan terdiam untuk beberapa saat.
“Fessy memang berbakat, dan bisa mencari jalan keluar pada keadaan yang sangat pelik sekalipun, memang…” kata Sumi dengan tubuh bermandikan keringat, padahal udara ruangan cukup dingin oleh AC yang menyembur kencang, “tapi Fessy bukan Alex, dan Fessy tentu tak akan bisa mengerti metode Alex; jika Fessy yang ada di posisimu sekarang ini, dia pasti sudah bergerak, dan kemungkinan besar akan menghancurleburkan apa yang telah Alex bangun selama ini, walaupun mungkin niatnya baik,”
Sumi mengambil tumpukan baju yang berada di sampingnya dan menebarkannya untuk digunakan menutupi tubuhnya yang telanjang supaya tidak masuk angin. Dia lalu menatap tajam ke arah Fifi.
“Lalu, apa yang harus aku lakukan?” tanya Fifi ragu, dan turut memasukkan kembali bulatan payudaranya ke balik baju setelah Faisal berhenti meremas-remasnya.
“Ya, apa yang harus kamu lakukan?” tanya Sumi, “tapi yang manapun, Alex akan menerimanya, karena Alex tahu bahwa kamu tidak akan mengacau, apapun keputusan yang kamu buat,” Sumi tersenyum, dan dengan lirikan mata menyuruh Faisal untuk bangkit berdiri
“Apapun?” tanya Fifi. Diberikannya celana Faisal yang tanpa sadar didudukinya.
“Apapun…” jawab Sumi, “waktunya sudah hampir habis…”
Faisal dan Fifi menengok ke arah jam yang tergantung di dinding, dan memang jarum sudah hampir menunjukkan pukul 10 tepat. Mereka berdua lalu berpandangan sejenak dan segera membenahi pakaian masing-masing. Fifi mengangguk kecil kepada Sumi, kemudian segera pergi meninggalkan perempuan itu diiringi tatapan mata berbinar dari Faisal.
Dalam perjalanan, Fifi pun segera mengambil telepon genggam dari sakunya, kemudian dia menghubungi seseorang. Itu adalah nomor pribadi Laksdya. Sihombing, dan hanya Alex serta Fifi serta Prita saja yang mengetahuinya. Fifi terus berjalan sementara telepon masih menunggu tersambung.
“Halo?” tanya suara di seberang.
“Laksamana, bagaimana keadaannya?” tanya Fifi.
“Kenapa Anda telepon, Nona Fifi? Di sini sedang ada krisis, dan saya tidak bisa membantu Anda lagi,” kata Laksdya Sihombing, “setidaknya untuk saat ini, sampai semua krisis selesai,”
“Tidak sama sekali?” tanya Fifi.
“Maaf, perintah dari Presiden, semua kontak dengan media harus diputus saat ini juga, saya tidak bisa mengecualikan NewsTV lagi,” kata Laksdya. Sihombing.
“Jadi sekarang kami sendirian?” tanya Fifi.
“Saya takutkan seperti itu,” kata Laksdya Sihombing, “dan ini juga adalah kontak terakhir kita sampai krisis ini selesai,”
“Terima kasih, Laksamana, saya cuma mau tahu itu saja,” kata Fifi, “tolong bawa saja Alex pulang kembali dengan selamat nanti,”
“Pasti, Nona Fifi,” kata Laksdya Sihombing, “Semoga Tuhan memberkati Anda,”
“Anda juga, Laksamana,” kata Fifi yang lalu mematikan teleponnya, dan memasukkannya kembali ke dalam saku.

***

Lantai 2
09.57 WIB
H minus 50:03:00

Meutia langsung saja merangsek ke arah Fessy, yang akhirnya kini telah tiba. Fessy bisa melihat sedikit binar lega di mata Meutia, kontras dengan mimik wajahnya yang tampak menanggung beban. Sepanjang absennya para komandan di sini, Meutia sudah berusaha keras untuk mengendalikan situasi, dan waktu yang sebenarnya hanya kurang dari dua jam pun terasa berlangsung selamanya. Namun Meutia melihat bahwa wajah Fessy pun tak kalah tegang, apalagi kali ini Fessy datang bersama dengan Bu Isyana.
“Syukur kamu datang,” kata Meutia.
“Semua baik?” tanya Fessy.
“Aku nggak bisa nemuin Fifi,” kata Meutia, “aku juga udah berusaha nahan situasi sebisaku,”
“Baguslah,” kata Fessy hampir-hampir tak bersemangat.
“Apa sudah saatnya?” tanya Meutia.
Fessy hanya mengangguk gontai, dan Meutia tahu apa yang dimaksudkan. Bu Isyana hanya memberi isyarat untuk mengikutinya, dan Fessy serta Meutia pun patuh. Ada langkah besar yang harus mereka lakukan, setidaknya itu yang mereka pikir akan terjadi. Tentu saja tidak ada baik oleh Meutia ataupun Fessy yang menganggap ini adalah sebuah hal yang menyenangkan untuk dilakukan.
Pintu ruangan pun terbuka, dan semua orang tampaknya sudah berkumpul di sana, semua saling ribut meskipun tidak sampai terjadi kericuhan yang cukup serius. Rata-rata mereka semua memang berdebat mengenai siapa yang sebenarnya saat ini seharusnya mengambil komando, dan rata-rata semua memiliki jago masing-masing. Bawahan Alex memang cukup heterogen, dan seperti yang pernah diungkapkan oleh Fessy, tidak semuanya menganggap Alex adalah pimpinan terbaik bagi mereka.
Demi melihat Bu Isyana yang masuk, semua pun mendadak terdiam. Aura yang ditimbulkan hanya dengan kehadiran Bu Isyana sudah cukup untuk membungkam mulut semua orang, tidak perlu Bu Isyana sendiri membuka suara. Seketika itu juga suasana menjadi mencekam. Tidak ada yang tahu bagaimana Bu Isyana bisa membuat keadaan ini, tapi memang reputasi Bu Isyana bisa membuat siapapun bergidik ngeri.
“Di mana Fifi?” tanya Bu Isyana singkat.
Tidak ada yang menjawab. Memang mereka tidak tahu di mana keberadaan Fifi saat ini, dan itu juga membuat mereka tidak berani untuk menjawab. Fessy terlihat menarik nafas dengan panjang dan berat, bahwa hal ini sudah tidak mungkin dihindarkan lagi. Meutia memegang tangan Fessy, karena memang ia pun tak bisa berbuat apa-apa. Bu Isyana lalu memberi isyarat kepada Fessy, dan Fessy pun melangkah maju dengan gontai.
“Dengar semua, mulai saat ini, Aku akan menunjuk…” kata Bu Isyana.
“TUNGGU!!” teriak seseorang dengan keras, hingga menginterupsi perkataan Bu Isyana.
Semua menoleh ke arah pintu yang sedang terbuka, dan masuklah Fifi dengan wajah yang kali ini menjadi sangat dingin dan serius, berbeda sekali dengan Fifi yang tadi pagi. Meutia dan Fessy hampir saja melompat kegirangan melihat Fifi akhirnya datang. Bunyi dentang jam pun menunjukkan pukul 10 pagi tepat, berbunyi setelah Fifi melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan.
“Ke mana saja kamu, Fifi?” tanya Bu Isyana, “kamu terlambat, bukankah aku sudah memberi waktu untuk komando eksekutif kamu…”
“Jam berapa sekarang, Bu Isyana?” potong Fifi dengan dingin.
Bu Isyana langsung terdiam. Bahkan lonceng jam pun belum berhenti berdentang. Suasana pun kembali mencekam, namun juga mengagetkan. Fifi, yang selama ini terkesan lemah, kini dengan terang-terangan berani menantang Bu Isyana.
“Saya baru saja memberikan keputusan eksekutif saya, kalau mungkin tadi Anda tidak mendengarnya,” kata Fifi.
Ya, ketika tadi Fifi mengatakan “Tunggu!”, itu adalah sebuah perintah eksekutif. Sesingkat apapun, apabila intonasi seperti itu datang dari Fifi, maka itu adalah perintah eksekutif, karena ketika Alex pergi, maka Fifi lah yang sekarang berada di posisi officer-in-charge.
“Saya masih sebagai officer-in-charge di sini, dan saya akan tetap memegangnya sampai Alex kembali,” kata Fifi.
Bu Isyana menarik nafas saja, tanpa mengubah ekspresi wajahnya. “Baik, lalu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya, officer-in-charge?” tanya Bu Isyana.
Kali ini gantian Fifi yang menarik nafas. Sepertinya ini adalah saat pertamanya bertindak seperti ini, tapi seperti apa yang Sumi katakan, kalau ada yang harus bertindak atas nama Alex, maka Fifi lah orang yang tepat.
“Aku meminta wewenang absolut, tidak untuk diinterupsi apapun juga,” kata Fifi.
“Terakhir kali aku memberikan wewenang itu, efeknya sangat besar dan tidak terduga, Nona Fifi,” kata Bu Isyana, “kenapa aku harus memberikannya kepadamu sekarang?”
“Ada orang-orang yang harus dibungkam sebelum saya berjalan,” kata Fifi, “saya pikir Anda sudah tahu,”
“Ya, memang,” kata Bu Isyana, “baiklah, Nona Fifi, kamu mendapat wewenang absolut, mulai sekarang semua akan melapor langsung pada kamu, dan kamu berhak menentukan nasib mereka kalau-kalau ada pembangkangan,”
“Sampai Alex kembali,” tanya Fifi.
“Selama itu? Taruhannya besar sekali, Nona Fifi,” kata Bu Isyana.
“Saya siap,” kata Fifi, “ini satu-satunya jalan,”
“Ada harga yang harus dibayar untuk ini, Nona Fifi” kata Bu Isyana, “tapi anggap saja kamu sudah mendapat wewenang itu dariku; berlaku segera setelah kita selesai bicara,”
“Terima kasih, Bu Isyana,” kata Fifi.
Dengan diam, Bu Isyana memegang tangan Fifi dan Fifi pun merasakan ada sesuatu benda lain di tangannya. Fifi hanya mengangguk kecil, tahu apa arti dari semua ini. Bu Isyana sendiri tidak berekspresi, tapi dia hanya melangkah keluar dari ruangan dengan dingin, seolah-olah dia baru saja menyalakan sebuah sumbu bom dan tinggal menunggu meledak saja. Sekeluarnya Bu Isyana, Fessy dan Meutia segera hendak menghampiri Fifi, tapi dengan isyarat tangan, Fifi menahan mereka. Ada yang terlebih dahulu harus dilakukan.
“Dengar semuanya!” kata Fifi agak keras kepada semua orang yang ada di sini, “Pak Alex, untuk saat ini sedang tidak ada di tempat, dan kali ini kita mendapatkan krisis yang harus dipecahkan dengan segera, jadi kalian akan mendapat komando dariku, dan hanya dariku…”
“Ini gila!” teriak seseorang, memotong perkataan Fifi.
Fifi memandang tajam ke sebuah sudut ruangan, dan seseorang produser, nampaknya senior dengan rambut agak botak, tampak berdiri menentang Fifi. Orang itu adalah Pak Yakub. Dia masuk dalam jajaran News Today ketika program ini masih dipegang oleh Pak David (sekarang Wapemred), jadi pada saat Alex masih menjabat di editing. Pak Yakub ini adalah salah satu produser yang mendukung Pak Herry dan tentu saja, sepeninggal Pak Herry, dia selalu bersikap skeptis pada Alex.
Beberapa kali, Fessy memang telah mengingatkan kepada Alex mengenai adanya “usurper-usurper” ini, yang memang berpotensi mengganggu, salah satunya ya Pak Yakub. Namun, Alex seperti biasa, selalu mengatakan bahwa tidak adil seseorang dikeluarkan dari tim hanya karena pandangan politiknya dan bukan karena kinerjanya. Memang selama ini kinerja Pak Yakub, dalam penilaian Alex, memang masih bagus. Tapi Fessy tahu bahwa sering sekali, tanpa ketahuan, Pak Yakub, dan atau usurper yang lain menyabot perintah Alex, atau meninggalkan tugas yang seharusnya adalah tanggung jawab mereka. Semua itu terjadi tanpa sepengetahuan Alex. Fessy pun, karena ini, akhirnya malas bercerita kepada Alex, dan sebaliknya malah memilih bercerita pada Fifi.
“Anda pikir begitu, Pak Yakub?” tanya Fifi dengan pandangan mata menusuk.
“Ya!” kata Pak Yakub, “saya tidak akan menuruti perintah Anda!”
Fifi mengangguk sejenak. Meutia dan Fessy pun melihat dengan cemas, mereka tampaknya mengharapkan bahwa Fifi akan mundur, sebagaimana halnya Fifi yang mereka kenal selama ini. Namun Fifi masih ada di tempatnya. Ia hanya menatap mata Pak Yakub, setengah menantang lebih tepatnya.
“Kalau begitu, keluar dari sini,” kata Fifi tegas, “Anda dibebastugaskan dari bagian ini saat ini juga!”
Perkataan Fifi ini jelas mengagetkan semua orang, tak terkecuali Meutia dan Fessy. Apalagi Fifi pun dengan berani menunjuk ke pintu keluar, seolah tanpa basa-basi lagi dia memang mengusir Pak Yakub supaya segera hengkang.
“Anda tidak bisa berbuat seperti itu!” kata Pak Yakub sedikit terbata akibat kaget.
“Apabila mengacu pada peraturan NewsTV, ya, saya bisa, Pak Yakub!” kata Fifi, “seorang kepala program berhak untuk memberhentikan staf di bawahnya, bagian mana dari peraturan itu yang Anda tidak jelas?”
“Aku akan lapor Bu Isyana!” kata Pak Yakub.
“Tidak, Anda tidak akan melakukannya,” kata Fifi.
Fifi mengangkat tangannya dan memperlihatkan apa yang tadi secara diam-diam telah diberikan oleh Bu Isyana kepadanya. Semua orang jelas amat terkejut melihatnya. Benda itu mirip seperti sebuah piringan logam seukuran genggaman tangan, berwarna emas dan ada lambang NewsTV di atasnya. “Lencana Kekuasaan”, begitu orang NewsTV biasa menyebutnya. Hanya dipakai oleh Pemimpin Redaksi, atau siapapun yang diberikan wewenang atasnya, yang berarti pemegangnya akan mendapatkan status kekuasaan absolut untuk sementara waktu.
“Aku memegang kuasa absolut atas perintah Bu Isyana! Aku yakinkan, Bu Isyana akan bersikap sama sepertiku, Pak Yakub,” kata Fifi, “dan aku harap Anda sadar bahwa selama ini Anda hanya hidup atas belas kasihan Alex; saatnya memperbaiki keadaan,”
Tak bisa berkata apa-apa, Pak Yakub pun segera saja merayap pergi. Entah akan ke mana dia. Fifi sendiri hanya menarik nafas panjang sejenak.
“Seperti yang aku bilang,” kata Fifi, “aku memegang komando sepenuhnya!”
Tentu saja kali ini tidak ada yang berani untuk menentang.
Puas setelah mendiamkan massa, Fifi akhirnya mulai bicara. “Dengar, kita semua tahu apa yang terjadi, dan selama beberapa jam terakhir, NewsTV sudah menjadi bulan-bulanan media massa lain; kita sekarang berdiri sendiri jadi kita harus bergerak,” kata Fifi, “kita memang kalah start, tapi aku yakinkan pada kalian… kita tidak akan kalah finish! Mengerti!!?”
“Ya!” suara itu menggema di kantor itu.
“Persiapkan semuanya untuk News Break, memang terlambat aku tahu, tapi dengan semua breaking news selama beberapa jam ini, semua stasiun TV sudah ‘berbaik hati’ untuk ‘memberikan’ informasi yang kita butuhkan untuk ini,” kata Fifi.
“Jadi kita sekarang akan bergerak sendiri?” tanya Eva.
“Ya, Eva, kita bergerak sendiri,” kata Fifi, “sudah cukup kita merahasiakan masalah ini demi negara, sekarang saatnya kita menjadi diri sendiri,”
“Siap,” kata Eva.
“Dan Eva, tolong kumpulkan semua reporter ke sini,” kata Fifi.
“Semua, Bu?” tanya Eva.
“Yang masih ada di kantor, tentu saja, sementara untuk Githa biarkan dia tetap di garis depan,” kata Fifi, “dan buat reporter di bagian kita, bawa mereka ke sini, aku tidak peduli kalau kamu harus mengikat, menyeret, atau memasukkan mereka dalam karung,”
Eva mengangguk, sedikit ketakutan, lalu dia segera pergi menjalankan tugasnya, begitu juga semua orang yang langsung menempati station mereka masing-masing. Fifi pun mendekati Fessy. Nampaknya ada sesuatu yang hendak dikatakan.
“Jadi kamu mau mengambil posisiku?” tanya Fifi dengan tajam.
“Ya, memang,” kata Fessy, seolah tak ingin menutupi apapun.
“Aku tidak akan lupa ini, Fes,” kata Fifi, “kau akan mendapatkan balasannya nanti,”
“Silakan,” kata Fessy pasrah.
“Tapi terima kasih kamu sudah melakukannya,” kata Fifi sambil tersenyum dan menepuk pundak Fessy.
“Kembali…” kata Fessy setengah tercekat.

***

Kantor Perdana Menteri Russia
Kremlin, Moskwa
10.04 WIB
H minus 49:56:00

Bahkan di musim-musim ini, keadaan di Moskwa masihlah tetap dingin, sekalipun salju tidak turun. Dua orang berpakaian jaket tebal segera turun dari mobil BMW bernomor Korps Diplomatik Republik Indonesia. Misi yang akan mereka jalankan di Kantor Perdana Menteri jelas adalah misi yang penting, ditilik dari wajah mereka yang tegang dan bukan diakibatkan oleh dinginnya udara kota Moskwa.
Kedua orang ini masing-masing adalah Abdul Malik Halim, Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Federasi Russia, dan Laksamana Barlin Sinaga, Atase Intelijen Kedutaan Besar RI di Moskwa. Detil mengenai misi mereka baru saja mereka terima beberapa jam lalu, dan mereka segera menghubungi Kementerian Luar Negeri Russia, namun Menlu Volko Borodin tampaknya tidak berani mengambil keputusan berkaitan dengan ini. Jadilah, atas rujukan dari Menlu Borodin, mereka harus menghadap sendiri kepada Perdana Menteri Bilyat Chagayev.
PM Chagayev sendiri adalah salah satu teman Indonesia. Beberapa kali perjanjian kerjasama yang amat penting antara Indonesia dengan Russia adalah atas prakarsa dari PM Chagayev, baik ketika ia menjadi Perdana Menteri, ataupun ketika masih menjabat sebagai Menteri Luar Negeri. Meskipun begitu, berkaitan dengan misi ini, bahkan Abdul Malik Halim pun ragu, apakah kali ini PM Chagayev akan bisa membantu atau tidak. Dia telah lama sekali berada di Russia, sehingga tahu bahwa urusan ini bisa saja bakal bersinggungan dengan “isi dapur” Pemerintahan Russia sendiri. Lagipula, pastinya Menlu Borodin sudah memberitahukan mengenai maksud kedatangan delegasi ini pada PM Chagayev.
Sekitar 10 menit kemudian mereka harus menunggu hingga PM Chagayev bersedia menerima mereka. Ruang tunggu gedung ini tentulah lebih hangat daripada di luar, pun mereka tetap nyaris tak merasakannya. Misi yang mereka bawa memang betul-betul penting! Detik pun terasa bagai berjalan berjam-jam, dan tahu-tahu, ajudan Perdana Menteri segera meminta mereka untuk masuk ke dalam ruangan. Agak terkejut, karena selain ada PM Chagayev di sana, juga ada Menteri Pertahanan Andrei Litovchenko, dan Kepala Staff Gabungan Angkatan Bersenjata Russia (semacam Panglima TNI di Indonesia), Marsekal Gennady Tijapushkin. Mereka berdua kemudian permisi dan melangkah keluar. PM Chagayev menyambut dua tamu dari Indonesia ini dengan hangat. Sebotol vodka bahkan disodorkan, namun mereka tidak minum.
“Demi persahabatan antara dua negara,” kata PM Chagayev membuka percakapan, berusaha untuk bersikap tenang, “tapi apa yang sebenarnya Presiden kalian inginkan dari kami?”
“Kami sudah memberikan detailnya pada Kamerad Borodin,” kata Abdul Malik Halim.
“Ya, ya, tapi Borodin tidak memberitahukanku dengan lengkap, jadi mohon Anda perjelas,” kata PM Chagayev.
Jelas sekali PM Chagayev memerintahkan mereka untuk mengatakan apa yang sebenarnya telah dikatakan kepada Menlu Borodin. Bahkan tindak-tanduk PM Chagayev yang pura-pura tidak tahu ini masih kurang meyakinkan.
“Kami ingin meminjam salah satu peralatan pendeteksi kapal selam milik Russia,” kata Abdul Malik Halim, “yang pernah dibuat oleh Dr. Anatoly Sedorenkov,”
PM Chagayev tercenung sebentar, namun kemudian mendadak ia tertawa. Abdul Malik Halim dan Barlin Sinaga jelas tidak mengerti.
“Apa ada yang lucu, Tuan?” tanya Barlin Sinaga.
“Aku tak bermaksud begitu, tapi begini… Russia memiliki garis pantai di utara yang luas, membentang dari Murmansk sampai Vladivostok, dan sebagian besar wilayah laut kami tidak bisa dilayari kapal biasa, dan Anda bertanya apakah kami memiliki alat pendeteksi kapal selam?” tanya PM Chagayev, “tentu saja kami punya!”
“Kalau begitu, kami hanya memerlukan yang dibuat oleh Dr. Sedorenkov,” kata Abdul Malik Halim.
“Temanku, bukan aku tidak mau membantu; seperti yang telah aku bilang tadi, demi persahabatan kedua negara, Russia akan dengan senang hati membantu,” kata PM Chagayev, “tapi masalahnya, 80% sensor kapal selam kami dibuat oleh Dr. Sedorenkov, jadi yang mana yang mau kalian pinjam??”
Raut muka PM Chagayev mendadak berubah serius, dan setelah memilin kumis tebalnya, Beliau pun berkata lagi. “Sensor kami bermacam-macam, mulai dari yang hanya sebesar komputer biasa, sampai yang berupa kapal atau pesawat udara, jumlah seluruhnya yang dibuat oleh Dr. Sedorenkov ada 130 jenis, aku tidak yakin kalian bisa membawa semua itu ke Indonesia,” kata PM Chagayev.
“Tapi tidakkah Dr. Sedorenkov pernah meninggalkan…” kata Barlin Sinaga.
“Seingat saya terakhir, posisi Dr. Sedorenkov ada di negara kalian, bukan di Russia!” kata PM Chagayev, “tolong Anda tanyakan kepada Dr. Sedorenkov, sensor mana yang hendak dipakai, lalu saya akan atur secepatnya untuk diangkut ke Jakarta; Saya akan menyiapkan dua pembom supersonik kami untuk itu; kecuali kalau Anda mau memborong semua jenis sensor yang saya sebutkan tadi, dan akan saya siapkan juga 2 kapal supertanker untuk mengangkutnya dari Murmansk,”
“Tapi itu bakal memakan waktu!” kata Abdul Malik Halim, “kita tidak punya waktu banyak!”
“Oleh karena itu, temanku, tanyakanlah kepada Dr. Sedorenkov,” kata PM Chagayev.
Abdul Malik Halim dan Barlin Sinaga hanya terdiam saja, tapi pada saat itu HP milik Barlin Sinaga berbunyi, nampaknya sebuah pesan telah masuk. Barlin Sinaga mengerling dan menunjukkan pesan itu pada Abdul Malik Hakim yang mengangguk kemudian mulai berbicara. Kali ini ganti PM Chagayev yang terdiam.

***

Kantor NewsTV
Lantai 2
10:24 WIB
H minus 49:36:00

Suasana di bagian newsroom kembali riuh setelah kini Fifi mengambil alih semua komando. Fakta bahwa sekarang NewsTV berdiri sendiri jelas melegakan Fifi, karena sekarang mereka bisa bergerak bebas tanpa harus terikat masalah kerahasiaan. Untuk ini, maka NewsTV memiliki data-data yang diperlukan, yang pastinya tidak dimiliki stasiun lain.
Seluruh reporter yang bisa dikumpulkan oleh Eva segera dikumpulkan di hadapan Fifi, yang lalu mengubah sebuah meja bundar menjadi meja komando. Fifi menghitung kembali semua reporter yang menghadap. Ingatan Fifi untuk ini memang amat tajam.
“Mana Aviani?” tanya Fifi.
“Aku tidak bisa menemukan di kamarnya,” kata Eva, “mungkin dia sudah berangkat,”
“Ke mana?” tanya Fifi.
“Seingatku, dia bertugas di Departemen Pertahanan,” kata Eva.
“Sudah kau seret dia ke sini?” tanya Fifi.
“Saat ini juga tim yang di sana sudah berbalik ke kantor, untung belum jauh,” kata Eva.
“Sambil menunggu, aku akan menjelaskan kembali situasinya,” kata Fifi kepada kerumunan reporter di depannya, “tugas ini prioritas, jadi apapun peliputan kalian saat ini, kalau deadline-nya bukan nanti malam, tinggalkan! Mengacu pada rantai komando, maka field-commander dari penugasan ini nanti akan dipimpin oleh Aviani, dan dia akan mengkoordinasikan semuanya, siapa harus ke mana,”
“Saya meminta izin untuk meminta penugasan di DPR, Bu,” kata Eva, “setidaknya saya sudah kenal daerah situ,”
“Mentang-mentang ayah kamu di sana, Eva,” kata Fifi, “tapi tidak masalah, setelah membagi tugas, Aviani akan memimpin dari studio mini di luar; di Markas Dephan atau Mabes TNI-AL; bagaimanapun, semuanya nanti terserah Aviani, dia yang memimpin,”
“Lalu apa yang kita cari?” tanya Eva.
“Apa saja yang bisa kita masuki,” kata Fifi, “tidak ada lagi sumber dari dalam, jadi apa yang biasa kalian reporter lakukan?”
“Tapi bukannya itu berarti…” kata Eva.
“Ya, aku tahu yang akan kulakukan, Eva!” kata Fifi dengan suara meninggi, "dan bukankah sudah dari tadi kukatakan sekarang kita tak lagi terikat pada Istana!"
Sosok Fifi kali ini betul-betul mengerikan, bukan jenis sosok Fifi pendiam yang biasa dihadapi oleh Eva. Dalam krisis, Alex pun masih bisa bersikap lebih ramah, namun tidak untuk Fifi.
Pintu pun dibuka dan Fessy segera masuk sambil mengelap keringatnya. Panas sekali nampaknya sehingga blazer-nya langsung dibuka dan ia hanya mengenakan kemeja saja.
“Sudah selesai?” tanya Fifi.
“Ya, sekarang giliran Meutia,” kata Fessy.
“Bagus, bantu aku di sini,” kata Fifi.
“Tentu, lebih nyaman di sini daripada di sana,” kata Fessy merujuk pada ruangan News Break yang baru saja dia tinggalkan. Dalam News Break, biasanya seorang anchor akan mendapatkan jatah paling tidak satu jam sebelum akhirnya diganti. Namun kali ini, Fifi hanya mengizinkan Fessy menjalaninya selama 20 menit, tidak lebih.
“Di mana Aviani?” tanya Fessy.
“Dalam perjalanan ke sini,” kata Fifi.
“Githa ada di istana dan kita menunggu Aviani?” tanya Fessy.
“Githa memang first-in-command, ya, tapi untuk saat ini dia adalah line-up terbaik di istana dan dia tidak bisa diganggu gugat untuk itu; stationlain pasti sudah menyiapkan reporter terbaik mereka, dan aku butuh Githa di sana,” kata Fifi, “dengan tidak adanya Lucia, kita sekarang bergantung pada Aviani,”
“Lucia? Istri Bos Alex?” tanya Eva.
“Benar, Eva, dan misal kau lupa, Lucia adalah second-in-command di atas Aviani, ingat itu, dan dia sudah menduduki posisi itu sebelum menikah dengan Alex,” kata Fifi, “fakta bahwa Lucia menikah dengan Alex, menurutku akan terus menjadi masalah; tapi setidaknya, Eva, Lucia bisa berpikir lebih tenang daripada kamu,”
Eva hanya diam saja. Tanpa adanya krisis, reporter bisa saja lupa mengenai rantai komando mereka, dan siapa yang seharusnya memimpin saat ini. Eva juga, hampir lupa, kalau posisi Lucia sebenarnya cukup tinggi dalam rantai komando ini. Keheningan pun pecah ketika seorang reporter masuk ke ruangan. Fifi terkejut. Bukan Aviani, tapi Dhea, reporter yang sebenarnya masih muda.
“Dhea? Mana tim yang bertugas di Departemen Pertahanan?” tanya Fifi.
“Iya, saya,” kata Dhea tidak mengerti.
“Mana Aviani?” tanya Fifi lagi.
“Tidak ada,” kata Dhea.
“Apa maksudnya tidak ada?” tanya Fessy menyelidik.
“Aviani… saya hanya mendapatkan memo dari Aviani untuk meneruskan liputannya di Dephan,” kata Dhea.
“Dia ke mana?” tanya Fifi.
Dhea hanya gelagapan saja ditanyai seperti itu. Fifi pun menggebrak mejanya sambil menggumamkan sumpah serapah.
“Bukan Aviani kalau dia meninggalkan petunjuk kemana dia pergi,” kata Fessy.
“Di saat seperti ini? Ini namanya desersi! APA DIA TIDAK TAHU POSISINYA!!?” bentak Fifi.
“Kita tidak menduga akan terjadi seperti ini…” kata Fessy.
“Tentu saja! Dengan skala kerahasiaan seperti ini, semua orang harus menduganya! Dan Aviani tidak selayaknya main pergi begitu saja tanpa meninggalkan petunjuk!” kata Fifi.
“Pertanyaannya, sekarang kita harus apa!?” tanya Fessy.
Fifi mendengus sambil mencengkeram meja sehingga menimbulkan bekas cakaran. Ia lalu menatap dengan enggan ke arah Eva. “Eva, permintaanmu ke DPR ditolak…” kata Fifi.
“Bu Fifi…” kata Eva tak mengerti.
“Pimpin tim ini, selama Aviani belum kembali,” kata Fifi, “dan itu perintah!”
Eva tidak membantah, dan segera berbalik serta menjalankan tugasnya.
“Kukira kamu tak pernah mempercayai Eva?” tanya Fessy.
“Dia juga tak pernah mempercayaiku,” kata Fifi, “tapi kami harus belajar, dan saat ini adalah yang terbaik,”
“Menurutmu dia bisa menjalankan tugasnya?” tanya Fessy.
“Berdoalah semoga begitu,” kata Fifi.

***

Location Unknown
Time unknown

Aviani kembali membuka matanya. Ia sama sekali tak tahu lagi harus apa kecuali terduduk di sini, telanjang, dengan dua benda tertancap di dua lubang pembuangannya. Untuk pertama kalinya, Aviani kehilangan kemampuannya dalam menganalisa, dan ketahanan mentalnya pun mulai runtuh. Lebih lama lagi, mungkin Aviani bisa gila.
Pintu pun terbuka, dan kembali Sang Pemimpin masuk ke dalam. Seperti biasanya, ia mengambil tempat duduk langsung menghadap ke Aviani dan menatap Aviani dengan dingin. Aviani pun sudah belajar untuk tidak mengajak bicara orang ini kecuali dia diajak bicara lebih dulu. Walaupun begitu, Aviani merasa ada yang berbeda dari kunjungan kali ini, meskipun dia tidak tahu apa. Sang Pemimpin terus menatap Aviani seperti biasanya, dan Aviani pun sudah pasrah ditatap dengan pandangan mata yang sedingin es itu. Berapa lama lagi hal ini akan berlangsung, dan ia pasti akan sudah gila sebentar lagi. Semenjak pertanyaan terakhir, tak ada lagi yang ditanyakan oleh Sang Pemimpin.
Pintu kembali terbuka, dan seseorang dengan memakai pakaian hitam-hitam dan menyandang Uzi pun masuk. Ia langsung mendekati Sang Pemimpin dan membisikkan sesuatu. Aviani kali ini agak tertarik dan berusaha untuk mendengar apa yang dibisikkan itu. Sia-sia saja. Meskipun Aviani sedikit mendengar, namun bahasa yang digunakan sama sekali tidak dimengerti. Bukan bahasa Inggris, atau Prancis, atau Jepang, atau Mandarin, tapi jenis bahasa lain yang tidak Aviani mengerti, tapi anehnya ia merasa pernah mendengarnya di suatu tempat.
Secara otomatis, komponen analisa di otak Aviani, yang selama penyekapan ini “mati suri” tiba-tiba bekerja dengan cukup giat. Aviani pun mengingat-ingat masa lalu. Sebelum di Jakarta, ia memang pernah bertugas di Biro NewsTV Makassar sebelum akhirnya digantikan oleh Cheryl. Pada saat itu, jangkauan Biro Makassar memang mencakup hampir seluruh Indonesia Timur, dan Aviani pun ingat pada salah satu peliputan, ia pernah mengunjungi sebuah suku terpencil di Pulau Flores. Yah, tidak salah lagi, bahasanya mirip seperti itu. Sayangnya Aviani tidak mempelajari bahasa itu, bahkan Aviani pun selama ini sangsi, apakah di luar lingkup suku itu bahasa ini pernah digunakan?
Aviani pernah bercakap-cakap dengan Alex, dan suatu ketika Alex pernah menceritakan bahwa pada Perang Dunia II, tepatnya pada pertempuran di Pulau Saipan, untuk mengecoh Jepang, maka tentara Amerika Serikat dalam kontak radionya menggunakan operator dari suku indian Navajo, dan menggunakan bahasa Navajo pula. Padahal bahasa Navajo ini hanya diketahui oleh suku Navajo sendiri, dan pengguna bahasa ini juga amat sedikit. Taktik ini kontan saja membuat Jepang tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh orang-orang Amerika di radio. Dan ini tentu saja membuat Amerika memiliki keuntungan untuk melakukan manuver tanpa bisa dicegah oleh Jepang. Apakah ini juga yang dilakukan? Menggunakan bahasa dari sebuah suku terpencil di Indonesia untuk digunakan sebagai sandi?
Sang Pemimpin tampak menutup matanya, dan tengah mempertimbangkan sesuatu. Aviani hanya bisa menunggu dengan berharap-harap cemas. Pada akhirnya, di tengah ketegangan, Sang Pemimpin pun berkata dengan dingin.
“Ketika kamu bertemu dengan Dr. Sedorenkov, apa yang dia katakan ke kamu?” tanya Sang Pemimpin.
“Apa pedulimu!?” tanya Aviani sedikit melecehkan.
Tentu saja dengan semua perlakuan yang ia terima selama ini, Aviani pun merasa berhak untuk balik melawan.
Sang Pemimpin pun bangkit dari tempat duduknya dan mendekati Aviani. Apa yang akan ia lakukan kali ini? Apakah ia akan menyiksa Aviani atas kelancangan ini?
“Teman-temanmu di KRI Antasena: Lucia, Erika, Reza, dan Iwan… apakah betul?” tanya Sang Pemimpin.
Aviani tersentak. Orang mungkin mengetahui bahwa Lucia ada di kapal selam itu, tapi berapa jumlah orang NewsTV yang ada di sana, dan terutama, siapa saja… itu tidak semua orang tahu.
“Kalau kamu sayang dengan nyawa mereka, sebaiknya kamu mulai bekerja sama…” kata Sang Pemimpin, “kalau tidak…”
Suara Sang Pemimpin cukup dingin, dan Aviani yakin itu bukan nada main-main. Tapi, kalau Sang Pemimpin ingin membunuh Lucia dan timnya, bukankah mereka semua ada di kapal selam? Kecuali…
“Aku tak percaya, ini pasti gertakan!” kata Aviani.
“Silakan saja,” kata Sang Pemimpin.
“Kau tak mungkin bisa membunuh mereka!” kata Aviani lagi.
“Aku tak perlu beranjak dari sini untuk membunuh mereka,” kata Sang Pemimpin, “kalau kamu terus menolak untuk bicara, mereka akan mati sendiri dalam waktu tak begitu lama…”
Mati sendiri? Kini Aviani mulai ketakutan. “Apa maksud kamu??” tanya Aviani.
“Waktu semakin berjalan, Nona Aviani, antara kami keluarkan teman-temanmu dalam keadaan hidup atau dalam kantong mayat,” kata Sang Pemimpin, “itu pilihanmu!”
“Apa kamu mau menghancurkan kapal selam??” tanya Aviani.
“Kapal selam itu akan hancur, mungkin dalam waktu tak begitu lama lagi,” kata Sang Pemimpin.
“Kamu bohong!” kata Aviani.
“Mau mengambil risiko?” tanya Sang Pemimpin, “baik, tapi jangan salahkan kami kalau…”
“Tunggu!” tanya Aviani.
Sang Pemimpin lalu melihat ke arah Aviani. “Siap untuk bicara?” tanya Sang Pemimpin.
“Apa kamu bisa dipercaya? Kalau kamu mau mengeluarkan teman-temanku hidup-hidup dari sana?” tanya Aviani.
“Oh, kamu tak mungkin tahu,” kata Sang Pemimpin, “tapi kamu tak punya pilihan lain, kan?”
Entah bagaimana, Aviani memutuskan bahwa orang ini bisa dia percaya. Entah apakah itu memang karena Aviani bisa mempercayai orang ini, ataukah hanya karena Aviani ingin segera keluar dari sini.
“And they send him…certain of the Pharesees and of the Herodians…to catch him…in his words…” kata Aviani sedikit terbata-bata.
Belum sempat Aviani menyelesaikan perkataannya, Sang Pemimpin tampak naik pitam, tiba-tiba saja dari bracer yang selalu dipakainya, keluarlah sebuah bilah mirip bilah pisau tersembunyi berukuran sepanjang lengan bawah, dan dengan kecepatan luar biasa, tahu-tahu dia sudah menempelkan bilah pisau itu di leher Aviani. Aviani amat ketakutan hingga ia merasa sedikit tercekik. Meskipun hanya menempel, titik merah tampak keluar dari tempelan itu, menunjukkan betapa amat tajamnya pisau ini.
“Jangan main-main, kamu!! Tuhan tidak ada di sini!!” bentak Sang Pemimpin.
Aviani terang saja ketakutan setengah mati. Sebelum ini, tak sekalipun Sang Pemimpin ini bertindak sesuatu yang betul-betul membahayakan nyawanya, atau setidaknya menunjukkan niat bahwa ia ingin membunuh Aviani. Namun ketika baja dingin tajam ini menekan tenggorokan Aviani, sadarlah ia bahwa nyawanya kini di ujung tanduk.
“Kamu mau mati!!?” ancam Sang Pemimpin lagi sambil semakin kencang menekan pisaunya ke leher.
“Akh…akhu…bersum…pah…itu memang be…nar…” kata Aviani dengan leher yang terasa semakin tercekik.
Mata Sang Pemimpin menatap Aviani dengan nafsu ingin membunuh, dan baru kali ini Aviani merasakan bahwa batas antara hidup dan mati bagi dirinya betul-betul lebih tipis dari rambut.
“Baiklah kalau maumu begitu…” kata Sang Pemimpin, “berdoalah sebelum menemui Dia!”
“Then saith he to the man…stretch forth…thine hand…” kata Aviani dengan nafas tersengal-sengal, “…and he streched it forth…and it was restored whole like as the other…AAKH…”
Aviani berteriak kecil karena pisau itu semakin ditekan ke lehernya. Hanya sebuah gerakan kecil, dan keadaan di sini akan berubah menjadi amat kejam. Aviani pernah mendengar bahwa orang yang disembelih masih punya waktu hingga beberapa saat untuk merasakan sakit ketika nyawa meninggalkan badan. Atau kalau memang pisau ini setajam itu, malah mungkin dalam sekali tebas, lehernya akan putus menjadi dua.
“And one of the company said unto him, Master, speak to my brother!! That he divide the inheritance with me!!” Aviani pun berteriak seolah ingin melepaskan kata-kata terakhirnya keras-keras, “Took…took…branches…took branches…, took…”
Sepertinya inilah akhirnya. Aviani, mungkin kombinasi dari terror dan kelelahan, kini sudah tidak bisa mengingat lagi kata-kata yang terakhir. Dia pun pasrah dan napasnya menurun.
“Took branches of palm trees, and went forth to meet him, and cried,” kata Sang Pemimpin tiba-tiba.
Pisau pun tiba-tiba saja dilepaskan dari leher Aviani, dan Aviani pun terbatuk-batuk berusaha melepaskan perasaan tercekik. Sebuah garis merah tipis mulai menghiasi lehernya, dan dalam beberapa saat, darah pun mulai menetes kecil dari garis itu; namun terlalu kecil untuk menjadi pendarahan serius, masih terlalu dangkal untuk itu.
Sang Pemimpin pun lalu menyentakkan tangannnya dan pisau itu masuk kembali, tertarik dan tersembunyi dengan rapi dalam bracer-nya. Dia kembali duduk di hadapan Aviani. Ia berdehem sejenak, kemudian dengan tenang, seperti orang tua yang tengah menceritakan dongeng sebelum tidur, ia mulai berkata, melanjutkan yang tadi.
“Hosanna! Blessed is the King of Israel that cometh in the name of the Lord!” kata Sang Pemimpin.
“Kamu…kamu tahu?” tanya Aviani heran. Apakah dia mendengar
perkataan Dr. Sedorenkov juga?
“Yohannes, 12:13,” kata Sang Pemimpin, “bagian pertama yang kamu katakan adalah dari Markus, kemudian selanjutnya adalah dari Matthius, dan sebelum ini, kamu membaca Lukas,”
“I…itu ayat-ayat Injil??” tanya Aviani.
“Ya…dan aku baru mengerti maksudnya setelah kamu mengatakan
bagian Lukas,” kata Sang Pemimpin, “karena meskipun berbeda kitab, tetap saja kamu menyebutkan ayat itu…”
“12:13?” tanya Aviani.
“Juga pada Yohannes rupanya,” kata Sang Pemimpin, “melihat dari
reaksimu, aku yakin kamu belum pernah membaca Injil sebelumnya,”
Sang Pemimpin tiba-tiba meneriakkan sesuatu, masih dalam bahasa yang tak dapat dikenali itu. Kemudian, masuklah seorang anak buahnya yang membawa sebuah laptop. Sepertinya itu milik Dr. Sedorenkov.
“Meskipun orang Russia, tapi Dr. Sedorenkov bukan penganut Kristen Orthodoks, dia penganut Katolik Roma yang taat,” kata Sang Pemimpin, “seharusnya aku tahu kalau dia akan menggunakan Injil sebagai kode; yang jadi pertanyaan, kenapa dia malah memberitahukannya padamu?”
“Dia…dia ingat aku…” kata Aviani setengah menggumam.
“Tebakan yang bagus, dan mungkin memang benar,” kata Sang Pemimpin, “ingatan Dr. Sedorenkov amat tajam, dan aku yakin ia bisa langsung mengingat bahwa suatu waktu kamu pernah mewawancarainya; tapi apa betul dia memberimu kode yang benar, mari kita lihat,”
Sang Pemimpin lalu memasukkan suatu kode ke dalam laptop itu. Tapi tampaknya laptop itu menolaknya. “Bukan 12:13,” kata Sang Pemimpin, “seharusnya ini menjadi kode 5 karakter yang sederhana,”
“Dia hanya mengatakan itu…” kata Aviani.
“Markus…Matthius…Lukas…Yohannes…” kata Sang Pemimpin, “satu-satunya penghubung hanyalah bahwa semuanya ayat 12:13, apa ada makna lain?”
“Waktu? Pukul 12:13?” tanya Aviani yang kini mulai bersemangat.
“Terlalu aneh dan terlalu panjang untuk kode 5 karakter,” kata Sang Pemimpin.
“Atau… tanggal mungkin? 13 Desember?” kata Aviani, "adakah sesuatu yang penting bagi orang Katolik pada 13 Desember?"
Sang Pemimpin melihat ke arah Aviani agak lama sehingga Aviani pun akhirnya surut kembali. Namun tiba-tiba ia segera mengetikkan sesuatu ke laptop, dan kali ini laptop itu menerimanya, dan segera saja data-data mengalir dengan amat cepat. Aviani hanya bisa melihatnya sekilas, dan ia yakin bahwa data-data itu adalah data-data teknis mengenai KRI Antasena. Tapi terlalu cepat untuk bisa melihat dan mengingat semuanya.
Sesudah aliran data-data itu berhenti, Sang Pemimpin kembali mengetikkan sesuatu. Kali ini sepertinya ia memilih pilihan di layar laptop itu: “TRACKING DEVICE”. Segera setelah menekan “enter”, sebuah kotak dengan tulisan besar pun muncul: “ENTER THE PASSWORD”. Sang Pemimpin kembali memasukkan kode 5 karakter yang sepertinya tadi ia gunakan untuk masuk, dan sepertinya berhasil. Layar pun berubah dan terdengar suara perintah dari laptop itu:
“TO ACCESS, PLEASE SPEAK THE REVELATION”.
Tak perlu diberi tahu, itu adalah nama salah satu kitab dalam Injil juga. Aviani tahu karena ia memang pernah membaca Revelation, atau di Indonesia disebut juga dengan Kitab Wahyu, meskipun hanya sekilas. Dan rasanya tak perlu diberi tahu juga, bagian mana dari Kitab Wahyu yang dipakai.
“Ayat 12:13, when the dragon saw that he had been hurled to the Earth, he pursued the woman who had given birth to the male child…” kata Sang Pemimpin.
Laptop itu segera memproses kata sandi yang diberikan Sang Pemimpin. "Password not match,” kata laptop.
“Kogda drakon uvidel, chto ego sbrosili na zemlya, on stal resledovat' zhenschinu, rodivschuya mal'chika,” kata Sang Pemimpin, kali ini dalam bahasa Russia.
Sekali lagi laptop memproses kecocokannya. "Password not match," kata laptop lagi.
Walaupun masih diam saja, Aviani bisa melihat bahwa Sang Pemimpin mulai kehilangan ketenangannya.
“Apa segampang itu?” tanya Aviani.
“Apa maksudmu?” tanya Sang Pemimpin.
“Pada fase akhir, apa mungkin Dr. Sedorenkov merancangnya segampang itu untuk ditebak?” tanya Aviani, “Dr. Sedorenkov memang penganut Katolik yang taat, tapi apa mungkin ini hanya berarti satu Injil?”
“Hanya ada satu Injil!” kata Sang Pemimpin, “walaupun dalam bahasa- bahasa yang berbeda, tapi hanya ada satu Injil, yang datang dari satu...” Tiba-tiba Sang Pemimpin seolah terhenyak.
“Ada apa?” tanya Aviani.
Sang Pemimpin tak menjawab, tapi dia untuk yang ketiga kalinya berbicara pada laptop. “Et postquam vidit draco quod proiectus est in terram persecutus est mulierem quae peperit masculum,” kata Sang Pemimpin.
Layar pada laptop pun berubah dan menampilkan beberapa kode. Aviani tak sempat menangkap apa maksudnya ketika Sang Pemimpin tiba-tiba segera menutup dan mengemas laptop itu bersiap membawanya keluar. Aviani tentu saja amat kaget.
“Tunggu! Kamu mau ke mana?” tanya Aviani.
Sang Pemimpin tidak menjawab,namun langsung saja keluar ruangan.
“Kamu berjanji akan menyelamatkan teman-temanku!” teriak Aviani, “SELAMATKAN MEREKA!!”
Pintu tertutup, dan Aviani pun menangis sesenggukan. Sementara itu, di balik pintu yang memang kedap suara, Sang Pemimpin tampak mengaktifkan sebuah alat mirip handphone.
“Ya…kita sudah mendapatkannya…soal tahanan kita? Akan segera aku bereskan…tenang saja, Anda tahu saya…bersih tanpa jejak,” kata Sang Pemimpin dengan dingin, “ini kodenya,"

***

Pangkalan Udara XVII
Archangelsk, Russia
11.01 WIB
H minus 48:59:00

Dua buah pembom supersonik Tu-160 atau dalam kode NATO disebut sebagai “Blackjack” mendarat dengan mulus di Pangkalan Udara XVII yang ada di Archangelsk, Russia. Udara dingin dan salju tebal menyambut kedatangan dua pembom itu. Pangkalan ini adalah milik Angkatan Udara Russia, dan sama sekali tertutup bagi penerbangan sipil. Di apron, telah menunggu banyak orang dan kendaraan-kendaraan. Yang paling mencolok adalah adanya dua buah truk kargo yang berukuran cukup besar di sana.
Kedua bomber Tu-160 itu berasal dari Grup XII dari Skuadron Bomber Strategis ke-81, dan dikenal dengan nama “ Katya-5670 ” dan “ Strella-5672 ”. Pada era Perang Dingin, Skuadron ini memang dipersiapkan untuk membawa bom nuklir dan mengebom Amerika Serikat andai saja pecah perang dengan Uni Soviet. Kapten dari Strella-5672 dan juga komandan dari dua pesawat itu pun turun dan memberi hormat pada awak di darat. Nama komandan senior ini adalah Kolonel Mikhail Solovanov, yang tampaknya dihormati betul oleh semua orang di sana.
“Kami mengemasnya secepat yang kami bisa, Kamerad Kolonel,” kata pimpinan kru darat.
“Kalau begitu secepatnya naikkan ke pesawat… mereka tak punya banyak waktu,” kata Kol. Solovanov, “kita sering mengalami kecelakaan kapal selam, jadi aku harap kita bisa bersimpati pada mereka,”
“Lima menit lagi,” kata pimpinan kru darat.
“Oke, aku akan menunggu di dalam pesawat, dingin sekali di sini,” kata Kol. Solovanov, “setelah semuanya selesai, aku akan langsung terbang,”
Kol. Solovanov menepuk pundak pimpinan kru darat, kemudian ia segera kembali ke dalam pesawat. Ternyata di dalamnya, sudah ada Laksamana Barlin Sinaga, atase pertahanan KBRI. Sedikit berbasa-basi, Kol. Solovanov pun berbincang-bincang sejenak.
“Lima menit lagi, Kamerad,” kata Kol. Solovanov, “dan kita akan berangkat secepatnya,”
“Terima kasih, Kolonel,” kata Barlin Sinaga.
“Pangkalan di Omsk akan menyediakan payung udara untuk kita; selama di Russia, kita akan mengisi bahan bakar di udara, tepatnya di atas Karakum,” kata Kol. Solovanov.
“Kita sudah membujuk pemerintah Tiongkok dan Vietnam; pesawat ini boleh mengisi bahan bakar di Harbin dan Hanoi sebelum akhirnya sampai di Jakarta,” kata Barlin Sinaga.
“Dengar, aku turut bersimpati pada tragedi yang negara Anda alami,” kata Kol. Solovanov, “kami pernah beberapa kali mengalaminya juga, adikku juga pernah jadi korban,”
“Terima kasih, tolong bawa saja kargo ini secepat yang Anda bisa,” kata Barlin Sinaga.
“Anda bercanda? Jangan panggil aku ‘Kilat’ Solovanov kalau aku tidak bisa membawa kedua pesawat ini sampai ke Jakarta lebih cepat dari waktu yang kalian tentukan!” kata Kol. Solovanov sambil menyeringai.

1 komentar:

  1. semoga cerita laut birunya selesai sampai akhir sama kayak yg di kaskus.

    BalasHapus