Kamis, 20 Oktober 2016

Misteri Yang Tersembunyi 8



Kentongan di gardu jaga dekat rumah Si Mbah dipukul 8 kali. Rio mengencangkan resluiting jaket dan berjalan berdampingan dengan Candi meninggalkan rumah Si Mbah. Sejumlah petugas Hansip menghadang mereka dengan lampu baterai tersorot.
”Mas Rio dan Mbak Candi mau kemana?” Gimun, staf desa yang ikut berjaga menghentikan Rio dan Candi.
”Mau ke rumah Pak Lurah, menyerahkan laporan pesanan beliau. Besok mau dikirim ke Pak Camat,” ujar Rio berbohong.
”Kalau begitu, akan kami kawal,” kata Gimun.
”Tidak, tidak perlu. Kami bisa sendiri,” kata Candi.
”Tapi ini perintah Pak Lurah, demi keamanan dan keselamatan kalian,” otot Gimun. Mukanya serius. Candi berpikir beberapa saat.
”Bagaimana kita bisa lolos dari mereka?” tanya Rio pada Candi dalam bahasa Inggris agar tak difahami Gimun.

”Biarkan mereka mengawal kita, nanti kita cari akal,” jawab Candi.
”Baiklah. Ayo kita jalan,” kata Rio.
Gimun memanggil Jono, salah satu teman jaga dan minta Jono bergabung dengannya. Keduanya segera menguntit Candi dan Rio dari belakang.
”Oke, kau masih ingat jalan ke arah selatan, ke bukit di mana kita bisa lihat jajaran kaliandara?” tanya Candi masih dalam bahasa Inggris.
”Aku ingat,”
”Sip. Aku tunggu kau di sana. Sebentar lagi aku akan lancarkan aksiku untuk mengelabuhi dua Hansip ini. Kau nanti cari cara sendiri untuk lolos dari mereka, oke?” kata Candi.
”Oke!”
Selama beberapa menit mereka melintas jalan menuju ke rumah Pak Lurah. Jalanan sepi dan gelap.
”Astaga. Catatan penting untuk Pak Lurah ketinggalan. Bisa minta tolong Pak Gimun kembali dengan saya ke rumah Bu Parmi? Saya harus ambil catatan itu. Pak Jono terus saja sama Rio,” Candi menggamit lengan Gimun dengan gaya genit.
”Oo… bisa… ayo kita kembali ke sana!” kata Gimun, senang sekali tangannya digamit Candi.
Jono sebenarnya tak suka ini, tapi ia membiarkan saja Gimun berbalik arah bersama Candi. Rio meneruskan jalan bersama Jono. Gimun menyorotkan lampu menerangi perjalanan mengantar Candi balik ke rumah Bu Parmi, kelihatan bangga bisa mendampingi gadis cantik berjalan berduaan di malam gelap.
Tiba-tiba Candi berkata, ”Pak Gimun, saya kebelet pipis, nih. Yunggu di sini dulu, saya mau pipis di semak-semak situ.”
”Lho, apa ndak sebaiknya di kamar mandi di dekat rumah Bu Parmi saja, kan sudah dekat?” tanya Gimun.
”Keburu keluar pipisnya, Pak. Ndak tahan, nih,” Candi pura-pura meringis mendekap perut.
”Lha ‘mbersihkannya pakai apa?” tanya Gimun lugu.
”Pakai ini,” Candi mengeluarkan sekotak kecil kertas tisu dari tas pinggang. ”Tunggu sebentar, ya,” kata Candi. ”Ingat, Pak Gimun tunggu di situ. Jangan ke mana-mana,” Candi menuju ke semak-semak gelap di sebelah. Gimun malah melempar cahaya senter ke semak-semak.
”Matikan dong senternya,” teriak Candi.
”Gelap lho, Mbak,” kata Gimun.
”Ndak apa-apa, saya berani. Lagian, masak cewek pipis disenteri,” kata Candi. ”Pak Gimun jangan menghadap ke sini!” lagaknya genit sekali.
Gimun berpaling dan mematikan senter.
Sambil meminimalkan suara gemerisik, Candi menerobos semak-semak menjauh dari Gimun. Ia melompati beberapa gundukan yang membawanya ke dataran lebih rendah di perladangan penduduk. Gimun pasti masih menunggu di tempatnya. Dari situ ia berjalan melintasi perladangan ke selatan sejauh beberapa puluh meter. Ia tahu ia bisa memintas naik ke jalan besar menuju selatan tanpa harus lewat depan rumah Bu Parmi yang sudah jelas bakal membuat mereka curiga kalau ia lewat situ.

***

Ternyata Rio agak kesulitan melepaskan diri dari Jono. Tapi ia melihat satu peluang. Jono tengah mencari-cari rokok di sakunya.
”Pak Jono punya rokok? Rokok saya habis,” kata Rio.
”Waduh, rokok saya ketinggalan di gardu jaga,” kata Jono.
”Kalau begitu saya beli rokok dulu. Tadi saya melihat ada warung buka di belakang sana. Pak Jono tunggu di sini, mau nitip rokok apa, saya bayari?”
”Lho, saya ikut saja,”
”Walah, sebentar, kok. Tunggu disini! Rokoknya apa?” kata Rio.
”Yo wis, jangan lama-lama. Saya tunggu di sini. Rokok saya Bentoel,” kata Jono. Ia kemudian duduk di sebongkah batu di pinggiran jalan sambil mempermainkan senternya.
”Sip, Bentoel. Lima menit ya,” Rio langsung berbalik, dan setengah berlari menyusuri jalan kembali ke selatan. Tentu saja ia tak mampir warung rokok.
Ketika mendekati kawasan depan rumah Si Mbah, Rio berbelok ke semak-semak dan berjalan menerabas menghindari pengawasan para Hansip di depan rumah Si Mbah. Selepas kawasan rumah Si Mbah, ia balik ke jalan besar dari semak-semak dan terus melaju. Beruntung ia masih ingat jalan mana yang harus ditempuh menuju bagian atas Kali Randu tempat ia janji ketemu Candi.
Malam makin kelam, suara binatang malam mencekam sekaligus menghibur. Diam-diam Rio ragu pada gagasan Candi kembali ke tempat persembunyian Probosangkoro malam-malam begini. Mudah-mudahan Candi berubah ketakutan dan membatalkan rencana gila ini.

***

Gimun tergopoh-gopoh sampai di kantor desa hampir bersamaan dengan Jono. Banyak orang di balai desa. Pak Lurah ada di situ. ”Candi dan Rio! Apakah mereka sudah sampai sini?” tanya Gimun.
Asromo mendongak. ”Tidak ada Candi dan Rio. Apa mereka mau ke sini?” tanya balik Asromo.
”Mereka tadi kami kawal, katanya mau menyerahkan laporan ke Pak Lurah,” ujar Gimun, serba salah, sambil melirik Jono.
”Kenapa bisa terpisah?” tanya Pak Lurah.
”Tadi Mbak Candi bilang mau pipis ke semak-semak. Saya tunggu setengah jam tidak muncul juga. Saya cari ke rumah Bu Parmi, tidak ada juga,” kata Gimun.
”Mas Rio juga begitu. Ia bilang mau beli rokok, saya tunggu, tidak muncul juga,” ujar Jono. ”Di rumah Si Mbah juga tidak ada. Kita eh… kami dikelabui oleh mereka.”
”Terus, kemana mereka?” tanya Pak Lurah.
”Lha itu yang kami tidak tahu,” polos Gimun dan Jono menjawab.
”Aneh sekali dua orang itu,” Pak Lurah berdiri. ”Terus kemana mereka malam-malam begini? Lihat, sudah lebih dari jam sembilan,” Pak Lurah menunjuk jam dinding.
”Maaf, Pak. Sejak kemarin-kemarin saya curiga pada dua orang itu,” tiba-tiba Karman yang sedari tadi menemani Pak Lurah ikut bicara, ”Apa mungkin mereka terlibat semua ini?” suara Karman berubah menjadi bisikan, ”Perasaan saya mengatakan mereka ini ada apa-apanya.”
”Ada apa-apanya bagaimana?” tanya Pak Lurah, turut mengalir dalam kecurigaan Karman.
Karman tak menyahut. Ia malah memperhatikan wajah Pak Lurah yang mengkerut. Karman kaget ketika Pak Lurah membanting puntung rokok dan menginjakknya dengan gerakan jengkel.
”Aku pusing! Desa ini tambah ruwet saja. Kain kusut! Kian Runyam!” Pak Lurah meraih gagang cangkir kopi dan meminumnya. ”Huah! Kopi ini pahit sekali! Siapa yang bikin?” gelegar Pak Lurah.
“Saya, Pak!“ kata Murjito, gemetar.
“Panggil Harjo. Suruh ia minta kopi ke Bu Lurah,“ masih meradang nada suara Asromo.
“Harjo tak tampak sejak sore tadi,“ tukas Murjito.
”Kalau begitu kau yang minta kopi sana, awas jangan bikin sendiri. Kau tidak becus!”
”Baik, Pak. Tapi di rumah Pak Lurah tidak ada siapa pun. Bu Lurah sejak sore mengunci diri di kamar. Kata Marni, Bu Lurah masuk angin,” tutur Murjito.
”Bangunkan Marni. Suruh bikin kopi dan bawa pisang rebus!” Asromo meninju pilar pendopo, ”Bikin kopi saja susah setengah mati, apalagi mencari kunci teka-teki desa ini,” omel Asromo, keras, sengaja agar didengar anak buahnya.
Para staf desa tak satupun ada yang bersuara. Semuanya menatap lantai, hanya Gimun yang memanfaatkan suasana hening itu untuk mencari mengupil dan daki di tangannya.
Beberapa detik kemudian Asromo berjalan ke tepian pendopo dan menatap kelam ke lembah perbukitan. Nafasnya berat dan lehernya menyembulkan otot. Tak lama kemudian ia menyapukan pandangan ke arah anak buahnya dan berucap: ”Malam ini, semua berjaga di balai desa, tanpa perkecualian!”

***

Gulita bertabur di setiap sudut Kemiren. Setiap jengkal Kemiren di bagian selatan yang tidak dialiri listrik mulai dari kawasan rumah Si Mbah sampai ke selatan, seperti tersaput jelaga. Bintang terlihat temaram di di langit, tak ada bulan. Jam baru merangkak beberapa menit dari pukul sembilan. Namun pintu-pintu rumah sudah tertutup rapat dan tak terdengar nadi kehidupan.
Di sepanjang jalan menuju Kali Randu, hanya ada beberapa rumah yang berandanya berlampu, itupun cuma lampu minyak yang bergoyang-goyang dihempas angin malam. Dari kejauhan, nyala lampu di beranda rumah penduduk seperti titik-titik kecil yang tak banyak memberi terang pada kelamnya malam.
Semakin jauh ke selatan, semakin jarang terlihat titik lampu minyak, kecuali titik-titik suram bintang di langit. Betul-betul gulita. Cuma cahaya lampu baterai Rio yang terlihat benderang.
Rio kini berdiri tak jauh dari jajaran kaliandra tempat pertama kali ia berbuat mesum dengan Bu Lurah. Di mana Candi? Mestinya di sini gadis itu menunggu. Kesunyian benar-benar mencekam. Rio menebar cahaya lampu baterai ke sekeliling.
Tiba-tiba ia dikejutkan suara berkeratak yang memecah sunyi. Bunyi itu bersahut-sahutan, seperti suara butir-butir kacang yang dikocok di dalam tabung bambu. Bunyi itu berasal dari jenis tumbuhan tak jauh dari Rio yang menurut dugaan Rio tergesek oleh gerakan manusia. Refleks Rio menyorotkan lampu ke arah bunyi itu. Candi menyeruak dari rerimbunan tumbuhan itu.
”Hebat! Pintar juga kau bisa sampai di sini,” kata Candi.
”Edan kau! Aku kaget, tahu!” semprot Rio. ”Suara apa yang berkerosok itu?”
”Itu suara biji-bijian pohon orok-orok. Orang desa sini menyebutnya ecek-ecek. Mau tahu nama latinnya, crotalaria sp. Buahnya hampir sebesar biji kacang, karena kering dan berongga, biji-biji di dalamnya menimbulkan bunyi gemericik,” kata Candi.
Rio jengkel melihat Candi yang sepertinya tak berhenti mengguruinya untuk hal-hal yang sama sekali tidak penting.
”Jangan bengong begitu,” kata Candi, memetik satu buah orok-orok, ”lihat buah ini,” Candi menyorot buah itu. ”Setiap buah bersisi antara 6 sampai 15 biji…”
”Stop! Boleh aku tanya?” kata Rio.
”Apa?”
”Kamu anggota PSTI, ya?”
”Apa itu PSTI?” tanya Candi.
”Persatuan Sok Tahu Indonesia. Tahu nggak, aku bosan kamu bicara tak penting begitu. Sekarang kita mau kemana?” ujar Rio ketus.
”Lho, kok tanya lagi? Kita turun ke bawah sana, mengikuti jalurku waktu dikejar si jebah. Kita cari tanah bergerak di dekat sebuah pohon besar. Lalu kita melorot ke bawah seperti aku kemarin. Jangan kuatir, aman kok, seperti main perosotan,” kata Candi, mulai memimpin Rio menuruni lembah dalam gelap.
Rio mengikuti Candi. Sungguh luar biasa semangat gadis ini. Ia tekun mencari jalur lari itu melewati pepohoan, gundukan, semak-semak belukar, dan tanda-tanda lain yang diingatnya. Setengah jam kemudian mereka menemukan posisi yang disebutkan Candi.
”Ini pohon besar itu. Tempat lorotan pasti ada di sekitar sini,” kata Candi. Gadis itu menyorotkan lampu. ”Nah, itu dia!” ia membuka segugus semak.
”Jadi lewat rerimbunan ini kamu terperosok ke bawah?” tanya Rio.
”Betul. Sekarang bersiaplah. Aku duluan, kamu menyusul setelah kau perkirakan aku sampai di dasar. Ingat, jangan ragu-ragu. Jangan takut,” Candi mengencangkan jaket dan menguak rerimbunan, dan mengambil ancang-ancang. Dengan pekik kecil tubuhnya luruh ke bawah.
Rio menanti beberapa saat. Ketika dipastikan Candi sudah sampai di bawah, Rio menyusul. Jantungnya berdetak keras manakala tubuhnya meluncur deras ke bawah. Ia terjungkal sedikit ketika sampai di dasar perosokan. Candi sudah menanti tak jauh dari dasar perosokan dengan lampu baterai menyala.
”Mana gubug Probosangkoro?” tanya Rio.
”Itu di sana,” ia menyorot dengan lampunya, ”orangtua itu pasti terkejut kita datang berkunjung malam-malam begini,”
Mereka melangkah ke arah gubug. Gubug itu gelap gulita. ”Aneh, Probosangkoro tidur tanpa penerangan sama sekali,” kata Candi.
”Tapi ada bekas bakaran yang menyala,” Rio menunjuk setumpuk sisa bahang yang masih hangat dan cercah sisa api di balik abu. ”Bahang ini masih baru. Kalau bukan untuk memasak, pasti buat memanaskan tubuh,” kata Rio.
”Probosangkoro tidak ada di dalam gubug,” lampu baterai Candi menjelajah bagian dalam gubug.
”Kemana dia?” kata Rio. ”Tak pernahkah kau tanya pada Probosangkoro ke mana ia pergi di malam hari?”
”Sialan! Memangnya aku tahu bakal ke sini lagi malam-malam?” kata Candi.
Rio sibuk mengawasi bagian dalam gubug, Candi mundur beberapa langkah. Tak sadar kakinya berdiri di pinggiran kolam, dan batuan di pinggir kolam bergerak. Candi kehilangan kesimbangan. Ia tercebur diikuti buncahan air. Seluruh badannya terendam.
”Batu sialan!” Candi berdiri dan merayap ke pinggiran kolam. Menggigil ia dalam pakaian basah. Ia menyisir rambutnya yang basah pula ke belakang.
Rio menyorotkan lampu baterai ke muka Candi. ”Busyet! Kamu jelek sekali kalau basah kutup begitu,” kelakar Rio.
Candi mengusap rambut, mencoba memeras air di rambut. Tubuhnya menggigil.
”Kau bisa masuk angin dengan baju basah begitu. Tanggalkan bajumu dan pakai jaketku,” Rio melepas jaket dan menyerahkannya pada Candi.
Candi bersiap melepas jaket dan baju dalamnya.
”Eit. Tunggu dulu. Aku berbalik. Tak mau aku melihatmu telanjang dada sebelum kau jadi istriku,“ kelakar Rio lagi, padahal sudah dua kali dia melihat tubuh molek Candi.
“Memang siapa mau jadi istrimu?“ tukas Candi ketus.
”Siapa saja boleh. Siapa tahu kamu mau,” kata Rio.
”Kau memang menyebalkan,” Candi mendekap tubuhnya seusai mengenakan jaket Rio. Kedinginan dia.
”Mau kupeluk biar hangat?” kata Rio asal-asalan, menggoda Candi.
Candi tak menjawab. Itu tanda Candi tak keberatan. Rio merapatkan tubuh dan takut-takut memeluk Candi. Candi tak protes dan membiarkan Rio menghangatkannya. Rio mematikan lampu baterai yang sedari tadi menyala.
”Lebih hangat sekarang?” tanya Rio.
Candi mengangguk, dan merapatkan pelukannnya.
”Aku tahu sekarang, kau sengaja menceburkan diri ke kolam supaya…”
”Supaya apa?” tiba-tiba Candi melepaskan pelukan.
“Supaya ini,” Rio mengecup bibirnya, dipagutnya keras. Hmm, wangi sekali baunya, pengaruhnya seakan membius Rio ke dalam kesenangan syahwati. Tubuh seksi yang tergolek pasrah ini mesti disetubuhi lagi.
"Geli, Rio, jangan!!" rintih Candi waktu jari-jari Rio menyibak jaket dan mulai meremas-remas tonjolan payudaranya.
"Tahan sedikit, biar tubuhmu hangat," rayu Rio sambil terus meraba. Dia menjadi agak liar. Diperosotkannya beha Candi yang masih membungkus buah dada berukuran besar. Ia cium-cium tonjolan daging itu, putingnya yang berwarna merah muda terasa mulai mengeras. Rio memilin-milinnya, lalu ia cium dan gigit-gigit pelan.
Candi tidak menolak sama sekali, bahkan dia merintih keras, "Auh... uhh... ahh..." Membikin Rio jadi makin gila. Ia gigit bergantian buah dada itu sambil tangannya turun ke bawah membuka kancing celana Candi yang berwarna hitam.
“Owghh... Rio!” Candi menjerit keras.
Rio hanya tersenyum dan melepas gigitannya, memandangi cupang merah yang ada di buah dada Candi sebelah kiri. Agar seimbang, ia gigit juga yang sebelah kanan. Candi jadi kembali berteriak. Tapi asyiknya, dia tidak melarang sama sekali. Malah dia terlihat suka dikasari. Rio berlutut dan jongkok di depan gadis itu, diperosotkannya celana Candi hingga terlepas. Putih sekali pahanya, mulus, terlihat bercahaya di kegelapan lembah yang begitu kelam. Kakinya yang panjang itu ia elus dari bawah ke atas, sampai ke pangkal paha.
“HHss... Rio! Geli!” Candi menggelinjang saat daging cembung besar dengan rambut hitam keriting lebat di selangkangannya mulai dipegang-pegang.
Rio mendorong agar Candi duduk di bebatuan. Gadis itu menurut saja. Tak berkedip Rio memandangi tubuh molek itu. Buah dada Candi yang besar dan padat nampak menjulang indah, pantatnya yang lebar menyangga vaginanya yang gembul. Sambil mengelus-elus paha, Rio segera mengarahkan mulutnya ke sana. Ia acak-acak memek Candi dengan hisapan rakus, sementara tangannya dengan ahli meremas-remas buah dada Candi yang menggantung indah.
"Rio...!!" Candi berteriak histeris begitu jari-jemari Rio mulai menyibak belahan kemaluannya.
Rio mengusap-usap untuk mencari kelentitnya. Kacang merah besar itu sudah menyembul keluar, jadi gampang dan enak sekali saat dimakan. Betul-betul Rio mengunyahnya hingga Candi jadi semakin berteriak kencang. Rio menambah rangsangan dengan memasukkan jari ke dalam lubang senggama gadis itu, ia korek-korek dindingnya yang lembut dan hangat sambil ia jilati habis kemaluan Candi luar dalam.
"Rio, sudah! A-aku g-geli!" Candi kian menjerit. Pantatnya yang bulat bergoyang-goyang, meminta agar lekas dihajar. Cepat-cepat dia bangun dan mendorong Rio agar tiduran di rerumputan. "Aku mau di atas." Candi berkata.
Santai Rio berbaring sementara Candi mengarahkan penis ke lubang kemaluannya yang sudah membanjir. Dia jongkok di atas pinggul Rio, lalu bleess... benda tumpul itu sudah dijepit oleh liangnya.
Candi menaik-turunkan pantatnya kencang sekali, napasnya panas menggebu. Tangannya berpegangan pada tangan Rio, kepalanya bergoyang sehingga rambutnya yang agak panjang berderai-derai. Cukup lama Candi beraksi, sementara Rio enak-enakan memeras susu besar yang menggelantung indah di depan hidungnya, sepuas-puasnya. Kadang tangan Rio juga turun ke bawah untuk meremas pantat bulat Candi yang bergoyang kencang.
“Ahhh... ughhh... ughhh... ahhh...” Candi merintih, nampak ketagihan menggesekkan dinding-dinding lubang kemaluannya dengan batang kontol Rio yang masih menancap dalam. Dia genjot-genjotkan pinggulnya kesana-kemari untuk memuaskan nafsunya.
Rio masih tetap meremas-remas payudara Candi hingga menjadi merah sekali. Jepitan memek gadis itu membuat bendungannya serasa mau jebol, maka ia bangkit dan dirangkulnya Candi erat-erat. Dengan meremas susunya dan menekan pahanya, Rio memancarkan air maninya ke dalam kemaluan Candi yang ternyata juga turut berkedut-kedut pelan.
“Arghhhh...” mereka merintih secara bersamaan.
Namun Candi memberi kejutan dengan bangkit dan menunduk, ia tangkap kontol Rio yang masih memuncratkan pejuh dan dimasukkan ke mulutnya. Candi mengulum dan menghisapnya hingga cairan lengket yang melekat di sana jadi bersih tak tersisa.
Rio mengecup pipi Candi sebagai ucapan terimakasih. "Kamu benar-benar pintar memuaskan lelaki, Can." Dia tidak tahan berkomentar.
"Ah, kamu bisa saja." Candi bersandar mesra. Mereka terdiam untuk beberapa saat.
”Eh lihat, dasar gubug itu terbuka,“ Rio menyorot gubug ketika terdengar suara berderak dalam gubug.
”Benar juga. Kok bisa?” tanya Candi. Menggeliat dan bangun.
Mereka masuk ke dalam gubug dan memeriksa. Lantai gubug yang semula tertutupi dedaunan dan kain-kain kumal kini terangkat, menyisakan lubang menganga ke bawah yang berbau apek bercampur bau tanah. Tapi ketika Candi mendekati bukaan itu, tiba-tiba penutup yang tadi terangkat kembali berdebum ke bawah dan menutup rapat lubang itu.
”Aku tahu kenapa dasar gubug itu terbuka,” kata Rio sembari menyorotkan lampu senter. ”Lihat, ada sepotong kayu di pinggiran kolam,” Rio menginjak sepotong kayu mencuat di pinggir kolam tempat mereka bergumul tadi. Dasar gubug terbuka lagi!
”Lantai gubug terbuka ketika kamu menyenggol kayu ini waktu orgasme tadi,” kata Rio.
”Ah, aneh sekali. Ada sistem mekanis di gubug ini. Apa ada sesuatu di lubang menganga di gubug itu?” kata Candi yang kembali mengenakan pakaian.
”Probosangkoro pasti ada di lubang itu. Ayo kita cari tahu,” ajak Rio. Ia menginjak sekali lagi tuas kayu di pinggir kolam, dasar gubug terbuka lagi. ”Lihat, ada tangga kayu menurun,” Rio menyoroti lubang itu dengan lebih seksama.
”Oke, kita turun. Aku yakin ini tempat persembunyian lain Probosangkoro,” kata Candi. “Tapi sebelumnya, pakai celanamu dulu. Burungmu mematuk kemana-mana.”
Rio tertawa dan mengenakan bajunya kembali. Lalu hati-hati mereka mulai menuruni tangga dengan rasa was-was. Lampu senter dijepit mulut. Kalau dihitung, ada 13 anak tangga yang masing-masing berjarak 25 centimer. Di bawah sana, mereka melihat sebuah gorong-gorong yang beratap dan berdinding tanah dengan penguat terbuat dari kayu malang melintang. Terowongan itu berlanjut ke kanan dan makin membesar, yang cukup untuk dua orang berpapasan. Jelas ini merupakan ruang rahasia.
Di sinikah Probosangkoro tinggal?
Belum sempat mereka terkesima pada ruang rahasia itu, mereka dikejutkan oleh seberkas cahaya lampu minyak dari arah depan. Rio mencekal tangan Candi untuk menghentikan langkahnya, serta mendorong gadis itu menepis ke cekungan di dinding tanah. Berkas sinar itu berhenti mendadak, seakan pemegang lampu mengendus kehadiran Rio dan Candi.
Perlahan Candi mendekati lampu itu. Ia yakin itu pasti Probosangkoro. Dan benar saya, seorang tua berambut gondrong keperakan berdiri di sana. Terkejut orangtua itu melihat kehadiran Candi. Ia berbalik dan lari tertatih-tatih ke arah ia datang.
”Kakek Probo, tunggu! Ini saya, Candi,” teriak Candi.
Tapi Probosangkoro terus berlari menyusuri lorong yang makin menjorok ke dalam.
“Kek, saya perlu bertanya. Desa Kemiren gawat. Kami harus tahu bukti yang ditinggalkan von Weisserborn pada Parto Sumartono. Ini penting, Kek!” teriak Candi sambil mengejar terus.
Probosangkoro tetap berlari menjauh.
Candi dan Rio hampir bisa mendekati Probosangkoro ketika tiba-tiba saja dua orang lain datang dari arah berlawanan dengan lampu senter di tangan. Kedua orang itu membiarkan Probosangkoro lewat ketika berpapasan dengan mereka. Dan begitu orang yang terdepan kena sorot lampu baterai, Candi terperangah.
“Si jebah!” pekik Candi.
“Dan si celana longgar di belakangnya!” pekik Rio pula.
Tanpa berpikir panjang, Candi langsung berbalik arah. Tapi mudah sekali si jebah mengaitkan kakinya ke kaki Candi. Candi jatuh bergulung.Si jebah langsung menindihnya dari belakang dan mengunci gerakan Candi.
Si celana longgar tak sulit pula mendapatkan Rio. Begitu Rio dekat dengannya, si celana longgar mengirim tinju yang langsung mendarat di jidat Rio. Rio terpental ke belakang dan kepalanya menghantam bentangan kayu di dinding tanah. Kepalanya berdenyut dan sebentar kemudian ia terkulai lemas.
Candi meronta-ronta dalam cengkeraman di jebah. Si celana longgar menyeret Rio yang setengah tak sadarkan diri ke lorong lebih ke dalam lagi. Karena Candi terus berontak, si jebah jadi tak sabar. Ia angkat tubuh gadis itu dan memanggulnya dengan dengan kasar. Candi memukul-mukul. Tapi si jebah malah terkekeh-kekeh dengan suara menjijikkan.
Dari depan terdengar suara, ”Masukkan kedua bedebah ini ke ruang tertutup. Jangan diapa-apakan sampai Bapak datang,” ujar suara itu.
Si jebah dan si celana longgar mengangguk. Mereka kemudian berbelok ke ruang berdinding tanah berlantai dedaunan kering. Terdengar rintihan Candi saat gadis ini dilemparkan dengan kasar ke lantai sebuah ruangan. Rio mengerang ketika ia dihempaskan ke lantai dengan kekasaran yang sama.
Kenapa bajingan-bajingan ini ada di tempat persembunyian Probosangkoro yang gelap gulita. Siapa Probosangkoro sebenarnya? Gerangan apa yang akan terjadi pada dua orang muda itu di sarang gulita ini?

***

Rio membuka mata ketika Candi menggoyang-goyang pipinya. Pening masih merayapi kepala.
“Syukurlah kau siuman! Lihat sekeliling, kita disekap di sebuah ruang tanah. Si jebah dan celana longgar baru saja menutup lorong buntu ini dengan kayu malang melintang,” ujar Candi.
Rio meraba kepala belakang. “Jadi, di ruang bawah tanah ini ada Probosangkoro, si jebah dan si muka longgar? Kira-kira ada berapa banyak orang lagi?” tanya Rio.
”Nggak tahu. Tapi aku sama sekali tak menduga si jebah dan celana longgar ada di sini bersama Probosangkoro. Aku menduga komplotan itu bermarkas di sini. Untuk sementara menurut hitungan, jumlahnya lebih dari empat. Bos komplotan dipanggil ’Bapak’,” kata Candi.
”Bagaimana kamu tahu?” tanya Rio.
”Aku mendengar ada orang bicara,” tukas Candi.
Rio menatap berkeliling. Ia meraih lampu senter dari tangan Candi dan bangkit meneliti dinding ruangan dengan sorot lampu. ”Kalau melihat permukaannya, dinding ini tidak baru. Tanahnya sudah mengeras dan berlumut kering. Ruang ini merupakan modifikasi dari rongga-rongga bekas galian benda-benda purbakala. Sengaja ada orang yang memanfaatkannya sebagai ruang-ruang rahasia,” ujar Rio.
Candi menyandarkan diri pada salah satu dinding. Belum tuntas ia memikirkan hubungan antara Probosangkoro dan dua begundal itu, si jebah dan celana longgar. Kalau ditilik dari pola gerakan dan cara kerja serta kekacauan yang terjadi di Kemiren, rasanya tak mungkin si jebah di si celana longgar sendiri yang meletupkan kekacauan di Kemiren. Pasti ada orang lain yang menjadi otak konspirasi perebutan uang hibah itu di desa ini. Mungkinkah itu Probosangkoro, yang bergerak diam-diam dari tempat persembunyiannya di rongga-rongga ini? Kalau memang benar Probosangkoro, Candi jadi menyesal terlanjur kagum pada orangtua itu.
”Dengar, ada yang membuka pintu,” Rio menyenggol Candi. Pintu kayu itu bergerak. Si jebah, si celana longgar dan seorang lain bertubuh tinggi besar dengan kumis tebal masuk ruang sempit itu. Bau keringat merebak di udara pengap.
Tanpa suara, si kumis merenggut tangan Candi, sementara dan si celana longgar bersama si jebah mencengkeram kedua bahu Rio. Mereka menyeret Candi dan Rio menyusuri sebuah lorong lain. Dalam cengkeraman si kumis, tak ada lagi yang bisa dilakukan Candi kecuali meringis menahan puliran tangan si kumis yang menancap di kulit tangan.
Tapi sekilas Candi menangkap bayangan di cerukan lorong yang menyerupai sebuah ruangan di dinding kiri. Itu satu sosok manusia sedang terpekur menghadap meja berlampu minyak. Sosok itu menatap meja dengan pandangan kosong. Ia kelihatan letih dan loyo. Di meja berserak berpuluh-puluh kertas berbagai ukuran, dari ukuran poster sampai ukuran telapak tangan. Dan Candi tahu sosok itu. Itu rambut jagung.
”Danica! Danica ada di sini,” pekik Candi, memberi tahu Rio. Benar kata Candi, yang sedang duduk menatap tumpukan kertas kekuningan di meja itu Danica. Bagaimana ia bisa sampai ke sini?
”Kau apakah si rambut jagung itu?” Rio memberanikan diri bertanya pada si celana longgar.
Si celana longgar terkekeh. ”Tak usah banyak tanya. Asal tahu saja, rambut jagung itu bersama kami. Ia harus mempelajari bukti-bukti yang kami ambil dari rumah Parto Sumartono siang tadi,” kata celana longgar, dibarengi ringkik kurang ajar bernada jumawa.
”Kau yang mengobrak-abrik rumah Si Mbah siang tadi?” tak tahan Rio menghardik.
”Kamu memang pemuda tolol. Kamilah yang bikin Kemiren gempar sejak awal kedatanganmu di desa ini. Masih belum jelaskah itu?” Si kumis ikut bicara, ”masih untung malam itu di rumah Parto Sumartono tidak kukepruk kepalamu pakai linggis.”
Rio merinding. Pastilah si kumis ini yang memimpin penyerbuan Si Mbah Parto Sumartono di malam pertama Rio menginap di Kemiren.
”Kau nanti akan tahu siapa sebenarnya si rambut jagung itu dan apa tugasnya di Kemiren,” si kumis terkekeh lagi.
Candi mendengar dengan hati getir. Danica? Apakah ia terlibat persekongkolan jahat ini? Tiba-tiba saja ia punya firasat buruk.

***

Tak ada sumber cahaya lain yang lebih benderang selain beberapa buah lampu minyak bersumbu kain perca, dengan tabung minyak tanah terbuat dari kaleng bekas. Lampu-lampu itu diletakkan pada jarak sekitar dua meter. Sebagian lampu ditempel di dinding, diikat dengan tali seadanya, dan sebagian lagi diletakkan begitu saja di tanah. Jelaga dari nyala lampu menjilat kemana-mana.
Sekali lagi Candi dan Rio dijerembabkan oleh orang-orang yang membawa paksa mereka. Kali ini ruangan berbentuk segi empat yang cukup luas. Persis seperti dugaan Rio, ruangan ini dulunya pasti situs penggalian tempat ditemukannya fosil-fosil purbakala.
Menggunung geram di dada Candi dan Rio. Tapi agaknya peluang untuk berontak makin sempit saja. Selain karena si jebah dan kawan-kawannya menghadang dengan posisi macam siap menerkam, Candi dan Rio tak punya gagasan utuh ke mana mereka harus lari dalam keadaan darurat. Rongga-rongga dan lorong-lorong bawah tanah ini sudah jelas merupakan perangkap serba buntu yang membuat nasib mereka jadi tak menentu.
Rio menetap berkeliling. Atap ruang cukup tinggi, dua kali tinggi manusia normal. Angin menerobos dari bagian depan, menandakan ada ruang terbuka. Bisa saja itu berhadapan langsung dengan tebing curam. Kalau terpaksa meloncat, batu-batu runcing di Kalirandu siap menerkam.
Tapi tetap saja ruang terbuka itu mengusik Rio. Kalau tidak gelap, pasti bisa diketahui di udara terbuka mana ruang rahasia ini berada. Menilik suara angin yang sangat bebas dan sesekali terdengar percik air, bisa ditebak ruang itu berada pada salah satu bagian tebing Kali Randu. Di halaman rongga ruang itu, remang-remang terlihat semak-semak dan beberapa batang pohon. Tanaman itu pasti digunakan untuk menyamarkan rongga dari pandangan orang jauh di seberang kali.
Begitu mulai bisa mengamati sudut-sudut ruangan dengan jelas, Rio dan Candi mulai paham ruangan itu dipenuhi dengan hasil-hasil galian purbakala yang sama lengkapnya dengan yang dimiliki Si Mbah. Barang-barang itu ditata pada beberapa meja kayu tua, dan sebagian lagi diletakkan pada bidang-bidang menjorok di dinding.
Satu persatu orang-orang berwajah seram memenuhi ruangan. Rio perkirakan jumlahnya 5 orang. Muka mereka hampir sama; dekil, sangar, keji dan haus darah.
”Aku sama sekali tak suka situasi ini,” bisik Rio. ”Ada akal untuk lolos?”
”Jangan patah semangat. Kita baru akan sampai pada ujung misteri desa Kemiren,” tukas Candi. ”Perhatikan baik-baik setiap gerakan orang dan konsentrasi. Itu saja.”
Rio tak berkomentar. Matanya menangkap seorang begundal lain yang tiba-tiba masuk ruangan dan berseru, ”Bapak datang!”
Semua mata berfokus pada pintu yang bakal dilewati si Bapak.
Dada Candi berdebar ketika Probosangkoro muncul. Candi memperhatikan Probosangkoro dengan mata geram. Orangtua itu membalas tatapan Candi tanpa semangat. Rio juga menguntit gerakan Probosangkoro yang melintas ke sudut lain ruangan. Mata orang-orang masih tersorot ke pintu. Berarti Probosangkoro bukan ’Bapak’ yang dimaksud.
Belum tuntas kegusaran Candi dan Rio, muncullah Sujarno. Masih dengan bahu batik seragam guru, putra tunggal Parto Sumartono itu menyapukan pandangan ke seluruh orang yang hadir. Muka Sujarno lusuh, redup dan penuh memar. Kemejanya bersimbah debu. Takjub ia melihat Candi dan Rio ada di ruang itu.
”Dik Rio! Dik Candi!” desis Sujarno berubah cerah, seolah kehadiran mereka membuatnya lega.
Rio tak memberi sahutan. Ia masih belum selesai melihat munculnya rentetan orang yang sepertinya sengaja diparadekan untuk menguji dugaan yang dibangun Rio dan Candi.
Dan muncullah Danica. Tertegun mata Danica ketika bertatapan dengan Candi dan Rio. Keadaan Danica sama jeleknya dengan Sujarno. Ada noda-noda darah di kaos Danica.
“Nanti… nanti aku jelaskan,“ ucap Danica lirih dalam bahasa Inggris, jelas ditujukan pada Rio dan Candi. Semua mata masih menunggu, dan menyorot ke pintu.
Seraut wajah kemudian datang tanpa perlu ditunggu terlalu lama. Senyumnya lebar dan mukanya ramah, dengan kacamata mahal. Ia berjalan didahului sepotong tongkat yang bagian atasnya melengkung. Ia langsung duduk di sebuah kursi yang sudah disiapkan secara khusus oleh si jebah. Semua mata memandang padanya.

1 komentar: