Sabtu, 29 Oktober 2016

Pendekar Tanpa Tanding 7



Hak Cipta © John Halmahera

Tiga hari di penghujung bulan Srawana, sepasang kekasih itu tiba di desa Tumpang. Siang itu banyak orang lalu lalang di alun-alun desa. Sebagian besar adalah para pendekar, tampak dari dandanan yang singsat dan senjata bawaannya. Dipastikan mereka singgah dalam perjalanan ke Mahameru. Dari desa Tumpang, jarak ke perguruan Mahameru bisa ditempuh satu hari perjalanan cepat. Jika santai diperkirakan dua atau tiga hari.
Saking banyaknya para pendatang yang mengunjungi desa itu, tidak heran jika semua kamar penginapan sudah terisi. Walang Wulan dan Wisang Geni beruntung mendapat satu kamar yang hanya berisi satu dipan. Kamarnya sempit, dipan juga kecil. Tetapi lebih nyaman ketimbang bermalam di hutan.
"Dua hari tinggal di sini, ditambah dua hari perjalanan ke Mahameru maka kita akan tiba tepat pada hari pertemuan itu berlangsung," kata Geni.

Keduanya makan malam di warung dekat alun-alun. Alun-alun itu pusat keramaian di mana banyak orang berjualan. Mereka berjalan di antara keramaian. Sekonyong-konyong Geni menarik tangan Wulan dan menyusup di dalam kerumunan orang.
Wulan heran, "Kenapa? Ada apa?"
Geni berbisik lirih. "Aku melihat Lembu Agra bersama temannya, tak tahu berapa jumlahnya. Aku rasa tujuan mereka juga ke Mahameru."
Wulan berbisik, "Lebih baik kita menghindari mereka, kita kembali ke penginapan saja."
Keduanya mengambil jalan lain menuju penginapan. Langsung masuk kamar. Wulan mengeluarkan bungkusan kue yang tadi ia beli. Geni berbaring di dipan. Wulan membawa kue, menyuapi kekasihnya.
"Dipan ini sempit untuk kita berdua, kau tidur di atas, biar aku di lantai," kata Wulan sambil mengejapkan mata.
Geni meraih tubuh kekasihnya, "Aku tak mau tidur pisah dari kamu, kita berdua berhimpit supaya hangat. Cuma kuharap dipan ini tidak patah atau ambruk." Ia mencium mulut kekasihnya, tangannya merambah ke bagian dalam kebaya, meremas payudara bulat yang selalu membuatnya terangsang..
Wulan menyembunyikan wajah di dada Geni, "Kau selalu berhasrat meniduri aku, kau menyukainya?"
"Ya tentu saja, aku tak pernah puas, aku ingin selalu memelukmu dan bercinta denganmu."
"Apakah kau juga punya keinginan yang sama terhadap wanita yang kau jumpai, misalnya Sekar?"
"Kenapa menanyakan Sekar pada saat seperti ini, kau cemburu?"
"Sedikit cemburu," Wulan mencium leher kekasihnya. "Aku mau kamu jadikan isteri, isteri utama. Aku tak mau kamu tinggal pergi. Aku mau tetap di sisimu, sampai kapan pun."
Geni menciumi wajah kekasihnya. "Sekarang ini, bahkan sejak hari-hari kemarin, kamu sudah jadi isteriku. Dan tentu saja aku tak akan pergi meninggalkanmu."
"Bagaimana dengan Sekar?"
"Sekar? Ia sudah kuberitahu bahwa ada seorang perempuan yang paling kucinta, namanya Wulan."
"Lantas apa tanggapannya?"
"Ia menerima kenyataan ini, bahwa aku lebih mendahulukan Wulan, bibi dan isteriku yang montok."
"Di depanku kau bicara begitu, di depan Sekar mungkin kamu bicara sebaliknya."
"Aku akan katakan ini, mengulanginya di hadapan kalian berdua, biar semuanya jelas."
"Tetapi Geni, usiaku lebih tua dari kamu."
"Aku tak peduli. Sudah berkali-kali kukatakan aku tak peduli akan usiamu."
Wulan mulai terangsang. Ia menciumi tubuh Geni.
Sambil melucuti pakaian Wulan, Geni berbisik di telinga. "Wulan, aku heran, kau mengatakan lebih tua dari aku, dan kamu sepuluh tahun lebih muda dari paman Gajah Watu, tetapi bagaimana mungkin kamu masih tampak seperti gadis remaja, tubuhmu sekal, montok dan segar. Sungguh semua orang pasti mengira usiamu masih dua puluh tahun "
Perempuan ini senang mendengar pujian dari orang yang ia cintai. Ia memeluk Geni, "Belasan tahun lalu, dalam pengembaraanku seorang diri, aku kebetulan berjumpa pendeta tua dari desa Panawijen. Ia sakit parah. Aku menolong merawatnya. Ketika sembuh ia memberiku hadiah ilmu tenaga dalam Karma Amamadangi. Konon menurutnya ilmu itu hanya ia sendiri yang memilikinya, dan sudah mewariskan kepada cucunya, Ken Dedes. Jadi aku adalah perempuan kedua yang menerima warisan ilmu dahsyat itu.
“Saat itu aku tak punya tujuan hidup, perguruanku luluh lantak, guru dan kerabatku mati semua, aku benci setiap mengingat Gajah Watu, aku tak mau ketemu Lembu Agra. Dan karena guruku itu tinggal sendiri, maka aku menemaninya. Satu tahun aku berlaku sebagai anak pungut, berlatih tenaga dalam Karma Amamadangi. Setelah satu tahun dan rampung melatih ilmu itu, aku turun gunung."
"Karma Amamadangi, semacam ilmu tenaga dalam?"
"Ilmu ini bisa membuat perempuan awet muda. Latihan ditekankan pada pengendalian pikiran dan pengendalian hawa nafsu. Dalam segala urusan harus bisa mengendalikan diri, tidak marah, tidak sedih meskipun keadaan memaksa kita untuk marah dan bersedih. Dalam urusan cinta kita harus bisa mengendalikan diri, dengan demikian bisa menikmati seni bercinta, tidak asal mengumbar nafsu saja."
Geni teringat ketika ia membantu mengobati Wulan dengan tenaga dalamnya. Ia menemukan adanya gumpalan hawa dalam tubuh kekasihnya yang sering berpindah-pindah seperti bola. Gumpalan itu tak bisa dihancurkan, selalu melejit lari jika dibentur tenaga Geni. Ia menceritakan dan Wulan mengiyakan bahwa itulah hasil latihan Karma Amamadangi.
"Kata guru pendeta, Karma Amamadangi bisa menghasilkan tenaga dalam ampuh apabila gumpalan itu bisa digempur menyebar ke seluruh jalan darah. Tapi bagaimana caranya, ia tak menjelaskan dan aku amat bodoh karena tak bertanya. Tetapi ia mengatakan, jika gumpalan itu pecah, khasiat awet muda itu akan lenyap dan sebagai gantinya memperoleh tenaga dalam mumpuni. Terus terang aku lebih suka tetap awet muda supaya bisa melayanimu selamanya. Supaya tubuhku ini selalu merangsang birahimu."
Geni termenung. "Dalam dunia kependekaran memang banyak keanehan yang tak terpecahkan, bahkan oleh orang yang paling pandai pun. Aku yakin pendeta Panawijen itu tak tahu cara menghancurkan gumpalan itu, jika tahu mungkin sudah mengajarkannya kepadamu. Misteri itu hampir sama dengan pengalamanku, lihat saja kalimat Parahwanta Angentasana Dukharnawa juga tak terpecahkan."
"Aku tak mau kehilangan gumpalan itu, nanti aku cepat keriput dan kamu akan pergi meninggalkan aku mencari gadis yang lebih muda dan segar."
Geni menyusupkan kepala ke dada kekasihnya dan menyusu di sana, lalu menggumam lirih. "Ilmu itu hebat. Pantas kamu membuat aku kasmaran setiap terbayang tubuhmu."
Wulan berbisik di telinga kekasihnya "Katakan dengan jujur, aku mau kamu jujur, apakah Sekar selalu memberimu kenikmatan asmara lebih istimewa dari yang kuberikan?"
Geni meneruskan menelusuri bagian kaki Wulan, menciumi tumit, telapak, betis dan paha sambil berkata lirih. "Kamu hebat, bibi, tapi Sekar juga tak kalah hebat. Kalian berdua membuat aku mabuk, dan aku bisa mabuk sepanjang hari, tak pernah bosan."
Ciuman itu dan bisikan "bibi" itu membuat Wulan merasakan api birahinya tak terbendung lagi. "Geni, suatu saat nanti orang akan tahu hubungan cinta kita, paman Padeksa juga paman Gajah Watu, tak mungkin kita bersembunyi selama-lamanya," Wulan berbisik.
Geni menggumam di antara nafasnya yang panas memburu. "Aku akan minta restu guru Padeksa, dan umumkan bahwa kamu sudah menjadi isteriku. Aku pura-pura tidak tahu rahasiamu dengan Gajah Watu, dan akan minta restunya juga. Kamu isteriku dan aku suamimu."
“Ooh... Geni, terimakasih. Aku begitu mencintaimu.”
Sesaat mereka berpandangan dan saling melepas senyuman sebelum akhirnya saling berpagut mesra. Wulan gemetar merasakan remasan tangan Geni pada bahunya. Remasan itu mengantarkan dia menjenjangi birahi lebih tinggi lagi. Jantungnya berdegup kencang. Dia terhanyut deras tanpa pertimbangan.
Lumatan lidah Geni sungguh memabukkan. Wulan merasakan betapa pipi dan dagu Geni yang baru bercukur terasa kasar merangsang saraf-saraf birahinya, membuatnya seperti terlempar ke awang-awang. Yang bisa Wulan lakukan hanya mengikuti naluri, memperkuat rangkulan dan gantungan pada leher Geni yang sekarang sibuk mempreteli bajunya dan dilemparkan begitu saja ke lantai. Telanjang begini memang membuat Wulan lebih nyaman.
Tangan Geni yang kekar mulai merogoh di dada dan Wulan bergidik saat jari-jari nakal Geni menyentuh kedua putingnya. Pemuda itu memilin sambil meremas-remas gemas. Perasaan Wulan jadi tak terkatakan; lelaki yang dicintainya sedang memegang susu miliknya dan meremas kuat, sungguh nikmat sekali. Wulan langsung saja menyerah karena sensasi yang tak terhingga. Ia benamkan wajah ke leher Geni sambil merintih.
"Mmh.. Geni.. amppunn.. nikmat sekali." Wulan menyapukan lidah pada leher Geni. Gelegak nafsu yang tak terbendung membuatnya menjerit dan meracau, "Mmhh.. haahhh.. heehh..." sambil lidahnya terus menjilat dan bibirnya mengecupi leher Geni.
Hal ini membuat remasan tangan Geni pada payudaranya jadi lebih menggila. Dan tak cuma meremas, Geni juga langsung menyusupkan wajah ke dada sang kekasih. Dia mulai mengulum puting Wulan dan menyusu bak bayi yang manja.
Gelinjang Wulan pun tak tertahankan. Dia menggeliat-geliat dan naluri syahwat menuntun pinggul dan pantatnya untuk bergoyang-goyang, menekan ke arah selangkangan Geni. Di sana dia merasakan tonjolan besar yang mengganjal kaku. Bisa ia pastikan kalau Geni juga telah sangat terangsang birahinya.
“Wulan... bibiku... kekasihku... cintaku...” Geni memeluk erat pinggul dan bahu Wulan yang berusaha membantunya melepas baju.
“Shhh...” Wulan bergidik. Dirabanya dada bidang Geni yang sangat jantan, juga otot-otot lengannya. Tanpa sadar dalam meraba itu dia mendesah.
Ingin rasanya ia menjamah seluruh tubuh Geni. Dorongan syahwat membuatnya menjadi liar. Sangat-sangat liar. Wulan seperti tak lagi menginjak tanah, dia melayang dalam alun badai kenikmatan yang tak terhingga. Yang bisa didengarnya hanya degup jantung sendiri dan kecipak kecupan Geni yang terus melata dari dada menuju perut. Dinginnya hawa kamar terasa menerpa tubuh telanjang Wulan, namun hanya sesaat.
Dingin itu langsung lenyap saat di antara pahanya mulai ia rasakan batang kaku yang didesak-desakkan ke arah selangkangan. Dilihatnya kejantanan Geni mulai beringas mencari sarangnya. Tanpa sepengetahuan Wulan, Geni ternyata telah berbugil juga. Ah, sungguh sangat terampil dan berpengalaman.
“Buka kakimu lebih lebar, Bibi,” Geni meminta.
“Lakukan, Geni. Lakukan!” Mereka berpelukan dengan tubuh sama-sama bugil. Tubuh hangat Geni terasa menggelitik badan Wulan.
Geni meraih tangan perempuan itu, pelan dituntunnya untuk menjamah di kemaluan. Wulan bergetar begitu menggenggam daging hangat itu, terasa begitu liat dan berdenyut-denyut. Dia mengusap dan memijitnya, membuat jadi semakin panjang dan.. oohhh, besar sekali. Tersentuh pula bulu-bulu Geni yang terasa lebih kasar dan kaku dari hari-hari kemarin.
“Geni, punyamu... ohh,” Wulan bergidik akan besar dan kenyalnya kemaluan Geni. Nafsu syahwatnya menggelegak. Bisa ia bayangkan nikmat yang bakal melanda saat batang itu menembus di kemaluannya nanti. Tangannya terus mengelus dan mengurut, juga meremas-remas dengan penuh rasa gemas.
Sedikit beringsut, Geni mendekap tubuh montok Wulan. Pelan dia meraba paha sang kekasih untuk kemudian meraih dan mengangkatnya tinggi-tinggi hingga hampir menyentuh dada. Bersamaan dengan bibirnya yang melepaskan jilatan dan pagutan pada leher, pinggulnya bergerak menggoyang maju mundur, menggesek-gesekkan kemaluannya hingga menyentuh gerbang kemaluan Wulan berkali-kali.
Wulan langsung merasakan kenikmatan yang sungguh sensasional. "Adduuhh.. aduduuhh.. aamppuunn.. Geni..." dia merintih. “Masukkan... cepat masukkan punyamu!”
Kemaluan pemuda itu terasa mendesak di bibir kemaluannya yang telah sangat membasah. Wulan merasakan vaginanya jadi terbelah saat Geni mulai mendorong, menembusi lubang kemaluannya hingga ke lorongnya yang terdalam. Artinya betapa panjang kemaluan itu.
Dan dengan beberapa kali mendesak dan menghentak, menggerakkan maju mundur pantatnya, akhirnya penis Geni bisa terbenam seluruhnya.
"Aduuhh.. shh.. enakk Geni.. teruskan.. terus!" Wulan langsung melayang dalam kenikmatan. Secara reflek pantatnya bergerak menggoyang, menjemput rasa gatal yang tak terkatakan.
Dinding-dinding vaginanya seperti menuntut untuk digaruk, dan berharap batang penis Geni lah yang melakukannya. Wulan berteriak dan mendesis, sementara Geni mulai memberikan kenikmatan susulan. Bibirnya memagut leher perempuan itu dan melumatinya. Wulan hanya bisa mendesis sambil menggeliat ke arah belakang, berusaha mencari sesuatu yang bisa ia pegang.
Namun yang kemudian terjadi adalah ayunan pompaan yang mendera lubang kemaluannya. Penis Geni terasa merambah di semua sudut, merangsang saraf-saraf peka di seluruh lorong kewanitaan Wulan. Perempuan itu pun histeris. Dengan segala upaya dan cara ia menggenjot balik pompaan Geni. Lubang vaginanya terasa mencengkeram ketat dan legit.
"Ampun, Geni.. a-aku tak sanggup.."
Dengan pinggul kelojotan Wulan merasakan bagaimana tegang dan pekanya urat-urat saraf saat vaginanya mulai dirambati datangnya klimaks. Yah.. seperti biasa, dia mendapatkan puncak yang sangat nikmat dari Geni. Begitu cepat, begitu nikmat.
Wulan tak mampu lagi menungging, dia rubuh ke ranjang saat cairan kenikmatannya mengalir keluar. Rasanya seluruh sendi dan urat-urat saraf di tubuhnya dicabut keluar semua. Dia terjatuh lunglai, membiarkan Geni yang penasaran terus memacu cepat. Pemuda itu semakin ganas. Tanpa memperhatikan kelelahan Wulan, dia genjot terus pinggulnya hingga seperti bayi yang sedang merangkak. Wulan hanya bisa bertumpu pada kedua sikutnya, menerima apapun yang Geni perbuat. Rambut panjangnya telah kacau balau. Keringat di tubuhnya membuat muka Wulan setengah tertutup oleh rambutnya yang terurai.
"Ayo, Bibi.. puaskan aku! Enak kan burungku?” Geni meracau saat menapaki puncak syahwatnya.
Wulan tahu kalau harus membantu Geni menuntaskan rasa itu. Dia mesti menguras sperma Geni sebanyak mungkin, dan dia tahu bagaimana caranya. "Oohh... Geni, enak sekali. Enaknya burungmu! Aku tak tahan, Geni.. aku mau batangmu selamanya.. Oohh.."
Desahan dan rintihan itu benar-benar mendongkrak puncak birahi Geni. Pemuda itu pun mempercepat genjotannya, tak peduli meski kemaluan Wulan bisa jebol karenanya. Tusukan-tusukannya menyentuh dinding rahim sang kekasih, yang justru membangkitkan kembali gairah syahwat Wulan yang tadi sempat runtuh.
Nafsu perempuan cantik itu kembali menghebat. Bahkan seperti tidak mau kalah, dia turut menjemput segala nikmatnya. Lorong kemaluannya dengan legit mencengkeram batang kemaluan Geni yang terus meluncur tajam. Ketika pompaan Geni jadi semakin cepat yang menandakan kalau pemuda itu sudah mendekati puncak, Wulan ikut lupa akan segalanya. Dia merintih dalam kenikmatan tertinggi.
"Geni.. enak sekali, Geni.. enak sekali. Oughh..."
Kata-kata itu membuat Geni langsung rebah mendekap tubuhnya. Kedua tangan Geni meremasi payudara Wulan sambil bibirnya menyedot keras-keras di punggung. Penisnya yang masih keras berpacu, dalam waktu yang hampir bersamaan mulai menembakkan cairan kental yang sangat panas.
“Sssshhh... aarrghhh...” Wulan berteriak histeris merasakan kedutan besar mengisi rongga kemaluannya. Kedutan itu memancarkan cairan panas. Kemudian disusul kedutan-kedutan berikutnya. Bertetes-tetes air mani Geni memenuhi tubuhnya.
Geni masih terus memacu hingga keringatnya luluh membasahi tubuh mereka berdua, sebelum akhirnya jatuh merebah telentang di ranjang. Penisnya nampak lengket, tapi lebih lengket liang kewanitaan Wulan yang mulai mengalirkan cairan putih.
Beberapa saat sunyi. Yang terdengar hanya nafas panjang Geni dan desah kepuasan Wulan. Sungguh luar biasa, dalam keadaan lunglai, panjang penis Geni masih hampir menyentuh pusar. Wulan benar-benar terpesona dibuatnya. Karena dorongan itulah, tanpa sadar tangannya bergerak meraih. Dielus dan digenggamnya batang itu, dia merangkak bangun untuk mengamati lebih dekat.
Aroma kemaluan dan sperma Geni menyerbak di hidungnya. Wulan tergoda untuk mencicipi. Pelan dia menjulurkan lidah dan menjilati batang kemaluan itu. Terus menjilat-jilat dan kemudian mulai mengulumnya. Wulan seperti ingin membersihkan air mani Geni yang melekat di batangnya.
Geni menggeliat meraih tubuh telanjang Wulan. "Masih mau lagi?”
Wulan hanya mengangguk mengiyakan dan terus mengulum. Begitulah, selama dua hari berikutnya, kamar itu menjadi saksi bisu bagaimana dua insan itu bercinta dengan gairah birahi yang begitu mempesona.
Hari ketiga, pagi-pagi sekali sepasang kekasih itu baru berangkat menuju Mahameru, santai dan tidak bergegas. Sepanjang perjalanan keduanya hanya membicarakan cinta dan ilmu silat. Wulan makin menguasai jurus pusaka Garudamukha Prasidha, ilmu silatnya maju pesat.
Hari masih siang ketika mereka tiba di hutan yang menjadi batas desa Wajak. Dari jauh tampak gunung Mahameru menjulang tinggi menembus awan seperti menopang langit. Dari desa Wajak diperlukan dua hari perjalanan kaki untuk sampai di lereng gunung Mahameru yang menjadi markas perguruan Mahameru
Di jalanan setapak menuju desa, Geni melihat pemandangan yang membuat hatinya gembira. Dari jauh tampak dua orang sedang berjalan. Geni mengenali. Orang itu jangkung, bahunya lebar dengan rambut digulung di atas kepala. Tidak bisa mengendalikan diri lagi, Geni berteriak, "Guru...."
Dua orang itu menoleh ke belakang. Ia tak salah. Orang itu memang guru Padeksa. Tetapi Geni merasa seperti disambar petir mengenali lelaki di samping Padeksa. Dia, Lembu Agra.
"Celaka!" Secara naluriah Geni berteriak. "Guru, awas!"
Sambil berteriak Geni melesat dengan Waringin Sungsang. Ia bergerak pesat, Wulan tanpa sadar ikut melesat. Tetapi Lembu Agra lebih cepat lagi. Ia memukul pinggang Padeksa. Orangtua itu tak menyangka bakal dibokong secara keji. Tadi sewaktu Geni berteriak memperingatkan, ia sudah bersiap datangnya serangan musuh.
Tetapi ia tak melihat adanya musuh. Ia tak menyangka jika Lembu Agra itulah yang dimaksud Geni. Ia tak menyangka keponakan muridnya sendiri yang membokong. Tak pelak lagi ia terpukul, pinggangnya kena gelontor. Ia terhuyung mundur. Dari mulutnya muntah darah segar. Lembu Agra tidak cuma memukul satu kali. Pukulan berikutnya menyusul ke dada Padeksa. Saat itu Wisang Geni masih terpaut jarak agak jauh.
Padeksa dalam keadaan terhuyung-huyung masih bisa beraksi. Ia menahan nafas sambil mengirim pukulan dengan jurus Manusup mendahului serangan lawan. Jurus Padeksa itu cepat dan telengas. Lagipula tak perlu tenaga besar, karena sasarannya adalah mata. Menurut perhitungan, pukulan Lembu Agra akan sampai lebih dahulu. Itu jelas akan melumat habis tulang dada Padeksa, orangtua ini akan mati sehingga jari tangannya tak akan sampai menyentuh mata Lembu Agra.
Tetapi Lembu Agra tidak yakin. Bagaimana kalau hitungannya meleset. Pasti celaka. Ia bisa kehilangan mata. Ini resiko cedera yang lebih mengerikan dibanding kematian misalnya. Lembu Agra tak berani menanggung resiko, ia mengubah jurusnya. Tadinya menggunakan Sambarataka (Rusak, kiamat) kini diganti dengan jurus Sanvakrura (Segala Perbuatan yang buas) keduanya dari ilmu andalan Pitu Sopakara. Gerakannya sebat, membebaskan diri dari serangan tusukan mata, ia lalu mengirim pukulan mematikan ke pelipis Padeksa.
Pergerakan Geni yang begitu pesat membawanya mendekat tempat kejadian. Belum juga kaki menginjak tanah, tanpa basa-basi lagi Geni menggelontor lawan dengan jurus Gongkrodha. Marah, ia sangat marah, seluruh tenaga Wiwaha membanjir keluar lewat dua tangannya. Dalam menyerang, ia bahkan tak memikirkan lagi pertahanan.
Jurus Gongkrodha dari Garudamukha bukan jurus adu jiwa atau sama-sama mati, tetapi tanpa sadar Geni telah mengubahnya dalam sekejap. Dia justru mau adu jiwa, kalau perlu sama-sama mati asalkan Padeksa lolos dari bahaya. Biasanya tangan kiri melintang di dada untuk menjaga serangan balasan atau untuk mengirim serangan susulan, kini Geni menggunakan dua tangan untuk menyerang dengan tenaga Wiwaha yang dahsyat.
Serangan ini sangat dahsyat, angin pukulannya terasa di sekeliling. Lembu Agra terkesiap. Ia tak pernah menyangka tenaga Geni bisa sedemikian hebatnya. Geni belum tiba tetapi hawa pukulannya mendatangkan angin maha dingin. Lembu Agra tak berani ayal, memutar tubuh, berjongkok dan melentingkan tubuh ke belakang. Ia melompat mundur dan menjauh.
Lembu Agra terpisah empat tombak. Mata Geni melotot seperti hendak melahap mentah-mentah lawannya. Saat itu Wulan sudah berjongkok dan memeluk Padeksa. Orangtua itu kembali muntah darah segar, sudah empat kali. Lukanya sangat parah.
Wulan berseru, "Geni kau tolong paman guru, biar aku yang hadapi bangsat keji dan pengecut ini."
Urat dan otot di tubuh Geni mengejang. Ia membalik tubuh dan memondong Padeksa. Meraba nadi gurunya, ia tahu nyawa orangtua itu di ujung tanduk. Tak ayal lagi, Geni memeluk gurunya. Dada Padeksa ditempel ke dadanya, kemudian mengerahkan tenaga dalam dingin. Itulah ilmu pengobatan tingkat paling tinggi melalui penyaluran tenaga dalam Namun ada bahayanya, pada saat itu tak boleh ada gangguan. Sebab begitu ada gangguan yang menghalangi penyaluran tenaga maka tenaga akan berbalik melukai keduanya. Padeksa akan mati dan Geni akan menderita luka dalam.
Sekilas melirik, Wulan tahu keadaan Geni dan Padeksa. Ia harus mengulur waktu. Ia menatap tajam Lembu Agra. "Kenapa kau melakukan perbuatan sekeji itu? Siapa kamu sebenarnya dan apa maksudmu?"
Lembu Agra tertawa terbahak-bahak. Suaranya menggema seantero desa dan hutan. Bulu kuduk Wulan berdiri. Ngeri menyaksikan perubahan wajah dan watak lelaki yang dulu dikenalnya sebagai kakak perguruan yang santun.
"Tenagamu itu, kamu tidak seperti seseorang yang tenaga dalamnya cacat."
"Aku tak pernah luka, dan aku tak pernah dipukul Kalayawana, itu hanya cerita bohong!"
"Jadi kamu sekongkol dengan para penyerbu, mengkhianati guru, menghancurkanmu sendiri, kenapa?"
Sepasang mata Lembu Agra memancarkan rasa dendam. "Aku harus membasmi semua orang Lemah Tulis, kecuali kamu Wulan. Kamu akan kuperisteri, kamu akan menjadi isteri ketua partai Turangga. Partai yang nantinya menguasai dunia kependekaran dan diagung-agungkan orang."
Wulan memandang tak percaya. Wisang Geni benar. Apa yang diceritakan Geni semuanya benar. Tetapi mimpikah dia? Tadinya Lembu Agra begitu baik, lembut dan penuh kasih sayang. Sifat baik itu tak ada lagi, yang tampak adalah sifat angkara murka dan keinginan membunuh.
"Kemarilah, Wulan, tetap bersama kangmas-mu ini. Kamu akan menikmati hidup disanjung orang, semua anak buahku akan berlutut bersimpuh di kakimu, mereka bersedia kamu perintah meskipun harus masuk kubangan api sekali pun. Kemarilah, bagaimanapun juga aku tetap mencintaimu, cintaku tak pernah akan luntur."
Wulan berteriak, "Berhenti di situ, jangan maju lagi. Kamu maju lagi, kita adu jiwa."
"Kenapa kau begitu ketus. Kamu bukan lawanku. Tak ada gunanya melawanku, lebih baik menjadi isteriku daripada menjadi lawanku. Jangan kepincut dengan bocah ingusan itu. Aku lebih pengalaman dan lebih hebat dari Wisang Geni yang masih ingusan itu."
"Seorang pendekar harus berani berterus terang, mengapa kamu membokong paman Padeksa, mengapa memusuhi Lemah Tulis?"
"Kamu ikutan gila! Dengar, Wulan, ketika kakek gurumu, Rama Bakwan bersama empat muridnya dan orang-orang Lemah Tulis lain menumpas habis perguruan Turangga, membasmi dan membunuh orangtua dan sanak keluargaku,semua murid perguruanku, apakah waktu itu ada yang mempertanyakan tentang sikap pendekar? Pembasmian itu membuat aku sengsara, anak kecil usia sepuluh tahun, sebatangkara dan lemah di tengah kehidupan pendekar yang keras dan kejam. Puluhan tahun aku memendam dendam ini."
Wulan mendelik. Dia gemetar menahan marah. "Jadi kamu sudah lama menyusup ke Lemah Tulis?"
Lembu Agra tertawa. "Kamu cerdik, Wulan, kamu mau mengulur waktu sementara laki-laki binatang itu menolong Padeksa. Usahamu percuma, pukulan Pitu Sopakara tak ada obatnya, Padeksa akan mati!"
Sekali lagi Wulan terkejut. Lembu Agra benar-benar menguasai ilmu sesat itu. "Ketika romo guru memaksa kita berdua melarikan diri saat Lemah Tulis sudah tak mungkin dipertahankan lagi, waktu itu romo guru mengatakan adanya seorang murid pengkhianat yang meracuni air minum dengan racun pelemas tulang, kamu kah pengkhianat itu?"
Agra tertawa sinis. "Huh, siapa lagi kalau bukan aku. Tak ada orang yang bisa menerobos Lemah Tulis, yang paling mungkin adalah perbuatan orang dalam. Bergawa memang pintar, tetapi aku lebih pintar. Hari itu, saat meracuni gudang air minum, sungguh aku bahagia. Belasan tahun aku memendam dendam berdarah ini, pura-pura belajar ilmu silat dari Bergawa, tetapi aku diam-diam melatih Pitu Sopakara, ilmu warisan leluhurku."
Mata Wulan merah, air mata membasahi pipinya. Ia gemetar. Tangannya mencabut keris di pinggang. Padeksa dan Geni yang sedang berkutat dalam proses penyembuhan ikut mendengar semuanya. Tubuh Padeksa gemetar menahan amarah. Geni pun tak sanggup menahan rasa gemasnya. Inilah murid pengkhianat yang dicari-cari selama ini.
Tubuh Padeksa semakin gemetar, bergetar hebat. Geni mencelos, gurunya dalam keadaan kritis. Mendengar kisah pengkhianatan itu perhatian Padeksa terpecah. Hal ini bisa mencelakakan mereka berdua. Geni cepat mengempos seluruh tenaga dingin ke tubuh gurunya.
Lembu Agra tertawa. "Padeksa, percuma tak ada obatnya, kamu akan mati, aku titip pesan agar di kubur nanti kau beritahu Bergawa dan Branjangan apa yang kuceritakan tadi."
Wulan tak bisa mengendalikan diri lagi. Ia melesat menyerang Agra. Keris di tangannya mematuk semua jalan darah kematian. Lembu Agra berkelit sambil berkata sinis.
"Kau bukan tandingku, keris itu cuma mainan anak-anak. Lebih baik jadi isteriku, kamu sudah merasakan keperkasaanku di tempat tidur, ketika itu kamu mendesah berteriak saking nikmatnya, kau sudah lupa itu? Wulan, aku lebih perkasa dari bocah ingusan itu!"
Wulan merasa malu sekaligus marah dan kalap. "Lelaki jahanam ini harus kubunuh," katanya dalam hati.
Ia menyerang gencar, tetapi dengan penuh perhitungan. Ini pertarungan hidup atau mati, dan bukan hanya menyangkut dirinya namun juga nyawa Wisang Geni dan Padeksa. Dua orang itu tak boleh diganggu. Dan semua itu tergantung pada dirinya seorang. Seberapa lama ia bisa bertahan dan mengulur waktu. Tetapi sampai kapan Geni bisa menyelesaikan pekerjaannya menolong Padeksa?
Wulan tak mau berpikir lebih lanjut, ia tahu peluangnya tipis, awan kematian sudah muncul seperti mendung tebal yang menutup cahaya mentari. Lembu Agra juga tahu tak ada lagi sesuatu yang bisa menghalangi kemenangannya. Ia tak bergegas. Ia menguasai keadaan dan waktu. Ia bisa menjatuhkan hukuman mati kapanpun ia mau. Ia menikmati saat-saat kemenangannya, saat di mana dia adalah pemegang keputusan hidup dan mati orang lain! Ia telah memutuskan Geni dan Padeksa mati! Wulan harus hidup!
Wulan bertarung dengan tekad bulat. Ia tahu kepandaian lawan lebih unggul. Karenanya ia lebih mementingkan bertahan ketimbang menyerang. Yang perlu baginya adalah mengulur waktu sampai Geni selesai menolong Padeksa. Ia tak peduli seandainya harus bertarung sampai titik darah penghabisan, sampai ajal menjemputnya. Pikiran ini membuatnya lebih tenang.
Geni melihat perkembangan yang tidak menguntungkan pihaknya. Padeksa sudah agak lumayan tetapi keadaannya masih kritis. Kesalahan sekecil apa pun, bisa menyebabkan gurunya tewas. Ia tak mungkin menghentikan pengobatan. Ia juga tahu, Lembu Agra memegang kendali waktu. Begitu Agra menyerang, Wulan pasti akan kalah.
"Rupanya kau masih saja menyukai bocah ingusan itu. Padahal dewa sudah menetapkan kamu akan menjadi isteriku. Mau atau tidak mau, kamu akan kupaksa! Sekarang kamu harus menjadi milikku! Awas serangan!"
Hawa pukulannya menebar bau bacin. Serangan ganas. Tetapi pada batas-batas tertentu ia menahan diri agar tidak melukai Wulan. Hal ini tentu saja sangat membantu Wulan meski dalam hati ia sangat marah lantaran dipandang remeh. Wulan mengerahkan segenap kemampuan. Ia tak lagi memikirkan hidup. Lebih baik mati daripada tertawan hidup-hidup.
Dua puluh jurus berlalu. Wulan mulai terdesak mundur ke arah Geni. Jarak dengan Geni semakin dekat, hanya terpaut satu kaki. Suatu saat ketika Wulan mengelak dengan gerakan menyamping, Lembu Agra menggunakan peluang dengan melepas pukulan ke arah Geni. Wulan terkesiap. Ia tak bisa menolong karena terpisah oleh jarak. Secara naluriah ia menyambit kerisnya ke dada lawan.
Lembu Agra tak peduli, tetap menyerang Geni, pikirnya sekali pukul Geni dan Padeksa modar. Keris itu bergerak lurus mengeluarkan kesiuran angin keras. Mendadak saja Lembu Agra menjerit. Ia melompat mundur. Matanya melotot menatap Geni. Dahi dan mulutnya mengeluarkan darah. Ia bahkan meludahkan dua giginya yang patah. Apa yang terjadi?
Tadi pada saat Lembu Agra menyerang. Geni sebenarnya sudah pasrah. Lantas matanya sempat melihat empat butir batu tergeletak di tanah dekat tangannya. Ia berlaku nekad. Tak ada bedanya ia tetap akan mati, kecuali jika peluang ini bisa dimanfaatkan. Ia memindahkan seluruh tenaga ke tangan kanan yang memeluk Padeksa, tangan kiri yang tak bertenaga turun, meraup empat kerikil. Lalu tenaganya dikembalikan pada posisi sebelumnya, jemari tangan kiri menyentil ke arah lawan. Semua gerakan dilakukan dengan cepat dan tepat. Tenaga Wiwaha memperlihatkan keajaiban.
Lembu Agra tak mengira Geni bisa menyerang. Dua batu pertama dengan tepat menghantam dahi dan mulutnya. Agra terkejut bagai disambar halilintar. Tetapi ia hebat, ia bisa mengelak dua batu susulan, begitu pun lemparan keris Wulan. Untung bagi Agra, sentilan itu tidak sempat menggunakan tenaga sepenuhnya, hanya sebagian tenaga saja. Meskipun demikian cukup membuat semangat Agra terbang sesaat. Ia kalap.
"Kubunuh kamu anak jahanam!"
Saat itu Wulan sudah bergerak menghadang di depan Geni. Kali ini Agra menyerang dengan jurus ganas dan tenaga penuh, ia cuma ingin melumat mati Geni dan Padeksa. Mati dengan sekali pukul. Ia melihat Wulan menghadang, tetapi ia tak bisa lagi menarik pukulannya yang bertenaga besar. Pukulan itu akan melanda Wulan terlebih dahulu, baru menyusul Geni dan Padeksa.
Di saat kritis itu, Geni memegang tumit Wulan sambil berbisik, "Wulan, mainkan jurus Mangapeksa.”
Wulan sedang bingung. Ia mendengar bisikan Geni, tetapi bisikan Mangapeksa (Menanti) didengarnya sebagai Agniwisa (bisa api). Dua jurus itu agak mirip sebutannya. Jurus Mangapeksa dari Garudamukha adalah jurus menanti serangan untuk kemudian mengirim serangan balik. Sedang jurus Agniwisa adalah tamparan kemarahan dari Garudamukha Prasidha.
Pada saat Wulan memainkan jurus Agniwisa, saat bersamaan tenaga maha panas Geni sudah menerobos melalui tumit kakinya merangsak ke seluruh tubuh dan bermuara pada dua tangan yang sedang memukul.
Akibatnya luar biasa. Lembu Agra mengeluh dan terpukul mundur dua langkah. Matanya kunang-kunang, tubuhnya terasa panas seperti terbakar matahari terik. Kalau saja dia tidak cepat melangkah mundur menyeimbangkan pukulan, bisa-bisa dia terluka.
Ini gila, bagaimana mungkin Wulan mendadak bisa punya tenaga sehebat itu. Dari mana datangnya tenaga Wulan itu? Dan jurus apa tadi yang digunakan Wulan, jurus aneh tetapi sangat ampuh? Dia memang tak pernah mengenal dan belum sempat mempelajari Garudamurkha Prasidha yang handal itu.
Mata Lembu Agra menangkap sebab musababnya. Tangan Wisang Geni memegang tumit kaki Wulan. Rupanya dari situ Wulan memperoleh tenaga besar itu. Tetapi ia tetap saja heran, tak mungkin ada kejadian aneh begitu. Geni sedang menolong Padeksa dengan pengerahan tenaga dalam, tak mungkin bisa membantu tenaga dalam lewat tumit kaki Wulan. Karena begitu Geni mengalihkan sedikit saja perhatian apalagi tenaga dalamnya ke tempat lain, maka Padeksa akan muntah darah. Dan Geni pun akan menderita luka dalam yang parah akibat tenaga dalamnya yang memukul balik.
Bukan cuma Lembu Agra yang heran, Geni dan Wulan pun tak habis heran. Tadi sebenarnya ketika Geni menyambit dengan batu, ia berlaku nekad lantaran keadaan kritis. Pada pikirnya ia pasti akan mendapat luka dalam karena mengalihkan tenaga dengan menyambitkan batu. Tetapi aneh, kenyataannya ia sama sekali tidak luka. Itu sebabnya Geni kembali berlaku nekad, untung-untungan.
Pikirnya, serangan Agra sudah pasti akan menelan korban, bukan cuma Wulan saja, bahkan dia dan Padeksa pun ikut tewas. Apa salahnya kalau adu untung, siapa tahu kejadian seperti tadi terulang kembali?
Ternyata tak ada tenaga membalik yang melukai tubuhnya. Tentu saja Geni heran sekaligus gembira. Ini penemuan aneh, suatu bukti hebatnya tenaga Wiwaha yang diwarisinya dari pendekar Lalawa. Sekarang ia tahu, tenaga Wiwaha panas dan dingin sudah menyatu dalam tubuhnya tetapi pada saat tertentu bisa memisahkan satu sama lain. Tenaga dingin tetap membantu Padeksa, sementara tenaga panas membantu Wulan menghadapi tenaga Lembu Agra
Keajaiban Wiwaha itu telah menolong Geni. Kesalahan Wulan mendengar bisikan Geni sehingga melancarkan jurus Agniwisa dari ilmu Prasidha juga bagian dari keberuntungan. Dua keberuntungan ini tak hanya menolong Wulan, Geni dan Padeksa dari bahaya maut tetapi juga memukul mundur Lembu Agra
Memang aneh. Tadinya Geni apalagi Wulan, tak bisa memainkan jurus Prasidha dengan pengerahan tenaga penuh lantaran intisari kalimat Parahwanta Angentasana Dukharnawa belum terserap. Tetapi kenapa tadi itu jurus Agniwisa bisa dimainkan dengan tenaga penuh, tenaga panas Wiwaha yang sampai memukul mundur Lembu Agra.
Sebabnya tidak lain karena Prasidha pada prinsipnya adalah ilmu meminjam tenaga dari luar yang diolah dengan tambahan tenaga sendiri menjadi serangan balik. Dan karena Wulan yang memainkan jurus sedang tenaganya adalah tenaga Geni, maka jurus itu bisa dimainkan sempurna dengan tenaga penuh.
Sayang sekali Geni tidak mengerti sebab musabab keberhasilan jurus tadi, dan ia pun tak punya waktu memikirkan keberhasilan dan keajaiban tadi. Lembu Agra pun tak mau berpikir mencari tahu sebab musabab jurus yang membuat ia terpukul mundur.
Lembu Agra melotot. Ia bisa menebak sebagian saja. Ia tahu di belakang Wulan ada tenaga Geni. Artinya kalau ia menyerang hebat maka ia akan adu tenaga batin dengan Geni. Dalam hal ini Wulan pasti tak akan terluka. Ia memang tak mau Wulan sampai luka parah atau tewas.
"Tetapi kalaupun Wulan sampai terluka ya apa boleh buat. Bagaimanapun juga aku harus tuntaskan urusan ini. Kalau Geni dan Padeksatak kubunuh sekarang, kelak mereka akan menjadi musuh berat. Mumpung sekarang ada kesempatan."
Berpikir demikian Lembu Agra segera melangsir serangan dahsyat. Salah satu jurus paling mematikan dari Pitu Sopakarayakm Taragnyana (Penenung yang mendatangkan penyakit). Jurus ini mengandung sihir ilmu hitam, membuat lawan terpesona padahal justru terancam kematian. Hawa pukulan Lembu Agra yang berbau bacin telah menenung Wulan, membuat perempuan ini terlena.
Pada saat kritis itulah Geni berteriak. "Gunakan Sanakanilamarta!”
Wulan yang sedang tertegun, kaget mendengar bentakan Geni. Suara itu menerobos menghantam gendang telinganya, menggugah sarafnya. Bagai robot Wulan segera mainkan Sanakanilamarta (Sebesar angin yang terkecil) salah satu jurus dari Garudamukha Prasidha itu. Terdengar benturan tenaga.
Lembu Agra terhuyung mundur empat langkah. Ia tak percaya. Ia memandang Geni dan Wulan bergantian. Matanya merah beringas tetapi wajahnya pucat. Dari mulutnya menetes darah. Tanpa sepatah kata pun ia berbalik tubuh dan kabur.
Geni melepas pegangan pada tumit Wulan, menarik pulang tenaganya. Wulan seperti kehilangan tenaga, jatuh terduduk lemas. Ia mendelong memandang Geni. Lelaki ini tersenyum, kemudian memejamkan mata, memusatkan perhatian pada Padeksa.
Kejadian begitu mengejutkan, serba cepat dan dadakan. Tarung tadi sangat mencekam telah membuat Wulan lemas. Ia lelah, tenaganya terkuras banyak. Batinnya juga terpukul. Memang ia tidak mencintai Agra, tetapi kenyataan kakak perguruan yang bersamanya belajar ilmu silat di Lemah Tulis, ternyata seorang pengkhianat dan pengecut rendah, sangat memukul batinnya.
Tadinya ia sulit percaya Lembu Agra adalah penyusup dari partai Turangga, yang punya niatan jahat menghancurkan Lemah Tulis dan semua orang-orangnya. Tetapi kenyataan itu sulit dipungkiri. Lembu Agra adalah pengkhianat kotor yang moralnya lebih rendah dari binatang melata. Wulan sangat terpukul karena ia pernah berpikir akan menerima lamaran Agra dan menjadi isterinya.
Apa jadinya kalau sampai kejadian. Apa yang akan diperbuatnya jika di belakang hari ia mengetahui suaminya adalah pengkhianat yang telah mencelakakan gurunya dan seisi perdikan Lemah Tulis? Diam-diam ia bergidik, bulu romanya berdiri, tubuhnya menggigil.
Membuang pikiran tadi, ia menatap Wisang Geni. Dilihatnya lelaki itu sedang memejam mata, tangannya nempel di dada Padeksa. Ia takjub mendengar suara nafas Geni yang teratur, hilang dan timbul, lembut dan perlahan. Pertanda tenaga dalamnya sulit diukur. Setahu Wulan, hanya mendiang gurunya saja yang tenaga dalamnya mumpuni seperti itu.
Wulan menoleh ke Padeksa yang masih berada di pangkuan Wisang Geni. Orangtua itu kelihatan membaik. Matanya terpejam. Nafasnya teratur meskipun kadang tersendat. Wajahnya yang tadinya pucat bagaikan mayat kini mulai memerah dan berkeringat
Wulan menghela nafas lega. Ia memandang kekasihnya dengan mata berkaca-kaca Ia merasa semakin mencintai lelaki itu, cintanya makin subur. "Sungguh, aku tak bisa hidup tanpa dia," gumamnya dalam hati.
Ia memejamkan mata, semedi, menghimpun semua tenaganya yang sudah cerai-berai disebabkan pertarungan keras dan pertentangan batin dalam dirinya.
Matahari mulai doyong ke Barat. Wulan sudah selesai semedi. Ia bangkit dari duduk, melonjorkan kaki dan tangan. Tubuhnya terasa segar. Ia melirik Geni dan Padeksa. Geni tak lagi memeluk sang guru. Posisinya berubah. Padeksa sudah bisa duduk bersila. Geni bersila di belakang gurunya, dua tangan menempel di punggung gurunya. Keduanya masih memejamkan mata
Tidak lama kemudian ketika matahari sudah hampir tenggelam dan hari sudah mulai gelap, dua orang itu membuka mata "Guru, bagaimana keadaanmu sekarang?" Geni bertanya
"Lumayan, sudah membaik."
"Guru, racun pukulan itu sudah keluar semuanya. Keadaan sudah tidak berbahaya lagi, tetapi masih butuh waktu untuk memulihkan tenagamu. Aku akan membuat ramuan yang harus diminum."
Padeksa menghela nafas. Wajahnya tampak kesal. "Tak kusangka justru Lembu Agra, murid yang berkhianat itu. Geni, tadi kamu berteriak memperingatkan aku, dari mana kau tahu bahwa dia akan membokong aku?"
Agak tersendat Wisang Geni menceritakan kejadian ketika ia secara kebetulan mengintai pertemuan partai Turangga. Namun ia tidak menceritakan bagian yang melibatkan Wulan. Belum waktunya, pikir Geni.
Melihat paman gurunya sudah sehat, Wulan menghampiri memberi sungkem "Terimalah sungkem keponakan muridmu, Walang Wulan. Paman, tadinya aku juga sulit mempercayai bahwa Lembu Agra adalah pengkhianat busuk itu."
"Kamu tidak salah, mungkin aku juga sulit mempercayai Geni karena tampaknya mustahil. Tidak mungkin Lembu Agra berkhianat Tetapi pada akhirnya kebenaran pun muncul. Rahasia siapa pengkhianat itu terungkap lewat pengakuannya sendiri." Dia menoleh memandang Geni dengan pandangan menyelidik. "Tenaga dalammu sangat tinggi dan aku yakin itu bukan pengajaran dari Lemah Tulis, dari mana kau pelajari itu?"
Suaranya tegas berwibawa. Memang ada peraturan Lemah Tulis, bahkan mungkin di semua perguruan pada masa itu, seorang murid dilarang belajar ilmu silat dari orang lain tanpa seijin gurunya. Geni merunduk. Ia menceritakan semua pengalaman sejak luka parah oleh Kalayawana dan dua pendekar India, kemudian terdampar di lembah kera dan mempelajari tenaga Wiwaha-warisan pendekar tanpa tanding Lalawa.
Padeksa mendengar cermat bahkan juga bagian Geni menemukan tari Kinanti yang menyempurnakan Garudamukha Prasidha, jurus pusaka Lemah Tulis. "Sudah suratan Dewa! Tak salah firasatku!"
Sepasang kekasih memandang orangtua itu dengan heran, tak mengerti Padeksa tertawa. Suaranya ringan, tidak bertenaga karena tubuhnya masih lemah.
"Kamu sudah disuratkan Dewa akan tampil sebagai penyelamat Lemah Tulis. Aku yakin sekarang, kamulah Wisang Geni, murid yang akan membangun kembali kejayaan perguruan, mengangkat Lemah Tulis dari keterpurukan sekian lama ini. Kalau kau tunaikan baktimu untuk perguruan dan menuntaskan semua tugasmu, aku akan mati puas. Tidak percuma aku mendidikmu."
Wisang Geni menjatuhkan diri berlutut di hadapan gurunya, memegang lutut gurunya. "Guru, aku tidak berani...."
Kalimat itu tidak selesai karena Padeksa memotong. "Berdiri, Geni, berdirilah dan terima tugasmu dengan jantan. Seorang lelaki sejati, pendekar sejati, tak akan pernah menolak tugas seberat apa pun yang diberikan kepadanya. Sekarang kamu masih memanggil aku sebagai guru, tetapi tak lama lagi kau akan menjadi ketua Lemah Tulis. Aku hanya perlu berjumpa dengan dimas Gajah Watu untuk menjelaskan persoalan ini. Ia pasti setuju!"
Mendengar nama Gajah Watu disebut mendatangkan perasaan berbeda dalam sanubari sepasang kekasih itu. Wulan merasa kikuk, bagaimana menghadapi Gajah Watu yang pernah melampiaskan nafsu bejat menikmati tubuhnya. Geni senang lantaran bisa menceritakan pertemuannya dengan paman gurunya itu. Tak lupa ia menceritakan pengalaman Gajah Watu yang didengarnya sendiri dari cerita paman gurunya.
Malam hari ketiganya menginap di rumah salah seorang penduduk di batas desa. Keadaan Padeksa membaik. Lukanya sembuh, hanya tinggal tenaganya saja yang belum pulih. Geni memperkirakan tiga bulan lagi baru tenaga sang guru bisa pulih.
Pertemuan dengan Padeksa dimanfaatkan dua sejoli itu untuk bertanya segala sesuatu tentang ilmu silat, terutama menyangkut Garudamukha Prasidha. Tapi dari Padeksa tidak banyak yang bisa diperoleh. Hal ini semakin membuat Wisang Geni penasaran. Kenapa Prasidha tak bisa dimainkan, kenapa begitu sulit?
"Ilmu kelas atas sulit dipelajari, apalagi ilmu pusaka perguruan kita. Banyak ilmu yang untuk mempelajarinya harus menyita seluruh umur kita. Itu sebab mengapa banyak orang tersesat atau mati saat berlatih lantaran bernafsu menguasai ilmu. Padahal tak seharusnya demikian. Ilmu itu harus dipelajari dengan tekun, teliti dan penuh kesabaran," kata Padeksa
"Guru, jurus Prasidha itu tak bisa dimainkan dengan tenaga dalam sepenuhnya. Aku dan Wulan tak pernah bosan mencoba tetapi selalu gagal. Mungkin lantaran belum memahami makna kalimat Parahwanta Angentasana Dukharnawa maka aku tak bisa memainkan Prasidha dengan tenaga penuh.
"Ada lagi yang aneh, tadi ketika terdesak, aku memegang tumit Wulan, mengerahkan segenap tenaga Wiwaha dan hasilnya bagus, pukulan Prasidha telah melukai Lembu Agra Tenagaku bisa keluar sempurna melalui tubuh Wulan, tetapi aku tak bisa memainkannya dengan tenagaku sendiri, ini sungguh aneh, guru?"
Kemudian Padeksa menyuruh Geni memainkan Garudamukha Prasidha. Orangtua itu membayangkan kembali penuturan Manjangan Puguh yang pernah melihat jurus Prasidha ketika Eyang Sepuh Suryajagad merobohkan pendekar Lahagawe. Tapi Padeksa bagai membentur tembok, makna kalimat Parahwanta Angentasana Dukharnawa sebagai inti pemahaman jurus Garudamukha Prasidha tetap tak bisa ditembus.
"Guru, apa hebatnya ilmu Pita Sopakara dan kenapa hawa pukulannya berbau busuk? Tadi Wulan bersikap aneh, ia seperti ditenung ketika diserang Lembu Agra. Mungkinkah jurus itu mengandung sihir ilmu hitam?"
"Semua ilmu pada mulanya bersih, tetapi bila jatuh di tangan orang jahat akan berubah menjadi ilmu yang membinasakan. Bila jatuh ke tangan orang bersih akan digunakan untuk membela keadilan. Ilmu Pita Sopakara pada mulanya diciptakan seorang pendeta asal India sekitar dua ratus tahun lalu. Aku tidak tahu persis ilmu itu, tapi konon ada tujuh tingkatan untuk mencapai kesempurnaan. Entah bagaimana ilmu itu jatuh ke tangan seorang pendekar kalangan hitam bernama Turangga. Ia sakti luar biasa, konon ia sampai di tingkat tujuh. Di tangan Turangga, ilmu itu menjadi senjata pembunuh yang mengerikan. Ia menggabungkan unsur racun dan sihir ke dalam ilmu Pita Sopakara yang tadinya begitu lurus dan bersih."
"Kenapa ia begitu mendendam Lemah Tulis?"
"Itu permusuhan turun temurun. Dalam pertarungan terbuka, satu lawan satu, Turangga babak belur dihajar Eyang Harsa, kakek guruku yang menggunakan jurus Prasidha. Ia luka parah, sebelum kabur ia bersumpah akan balas dendam. Tapi ia mati satu bulan kemudian. Di belakang hari putranya yang bernama Nanggala mendirikan partai Turangga. Tapi kegiatan partai ini tak banyak diketahui umum Belakangan dua putranya, Pasek dan Tampi, sering muncul dan membuat kejahatan. Akhirnya guruku, Rama Belawan bersama kami berempat dan beberapa pendekar menyerbu dan menghancurkan sarang partai Turangga."
Wisang Geni mengerutkan dahi. "Tetapi, guru, aku tak mengerti kenapa Lembu Agra bisa menjadi murid di Lemah Tulis, apakah tak seorang pun mengenalnya?"
"Bagaimana sampai Lembu Agra bisa menyusup menjadi murid Lemah Tulis, itu cerita lain. Suatu hari kakang Bergawa mendapat kunjungan seorang bocah berusia sepuluh tahun yang ngotot minta diterima sebagai murid. Lima hari lima malam ia tidak beranjak ditimpa panas dan hujan, tidak makan dan tidak minum. Ia bertekad mati di pintu masuk perdikan Lemah Tulis apabila tak diterima sebagai rnund kakang Bergawa. Memang benar kata pepatah, kalau mau menerima murid kita harus tahu latar belakang dan sejarah keluarganya. Bocah itu dikenal kemudian sebagai Lembu Agra." Padeksa menghela nafas panjang menyesali masa lalu.
"Paman, kita harus memberitahu paman Gajah Watu agar terhindar dari bokongan Lembu Agra."
"Tapi di mana menemukan dimas Gajah Watu? Semoga kita menemukannya di pertemuan Mahameru."
"Guru, kau ikut ke Mahameru?"
"Ya, kenapa tidak? Semua orang ingin menyaksikan pemenang yang menyandang gelar lima pendekar paling agung di tanah Jawa. Kenapa? Kamu khawatir akan keselamatanku?"
"Tetapi kalau jumpa musuh-musuhmu, sedang kau belum sembuh, hal ini bisa menyulitkanmu, guru."
"Geni, semua yang hidup ini akan mati. Tak ada kecualinya. Aku sudah lama hidup. Aku tidak menyesal kalau harus mati sekarang, apalagi setelah tahu Lemah Tulis sudah punya ahli waris sejati. Aku ingin menyaksikan adu ilmu silat itu, kupikir semua pendekar akan tumpah ruah di Mahameru. Tak usah khawatir akan diriku. Biarlah, apa yang harus terjadi, terjadilah."
Apa yang dikatakan Padeksa benar semata. Seluruh pendekar tanah Jawa akan tumpah ruah di Mahameru menyaksikan perebutan gengsi yang paling jago di tanah Jawa. Para pendekar kalangan atas sejak jauh hari mempersiapkan diri untuk tarung adu ilmu. Semua orang yang bergelut di dunia persilatan akan hadir, baik dari kalangan lurus maupun golongan hitam.
Bagi pendekar sejati, pertemuan Mahameru bukan hanya ingin menjadi yang paling jago di tanah Jawa, juga untuk menyumbang darma bakti membela gengsi tanah Jawa dari tantangan pendekar daratan Cina.
Perdikan Mahameru sudah berusia lebih dari dua abad dan yang selalu melahirkan pendekar-pendekar ternama. Murid Mahameru tidak hanya dikenal sebagai pendekar berilmu tinggi, tetapi dilengkapi budi pekerti luhur yang menjunjung nilai kependekaran di atas segalanya. Mahameru adalah perguruan besar dengan anak murid yang terbilang ratusan orang. Namun sebesar apa kekuatan yang sebenarnya, orang sulit menduga.
Hampir selama dua ratus tahun pendekar-pendekar Mahameru malang melintang tanpa tandingan dan menjadi yang paling disegani di tanah Jawa. Seiring berkembang dan makin harumnya perguruan Mahameru, muncul perguruan Lemah Tulis yang didirikan oleh pendeta Mpu Bharadha.
Persaingan antara dua perguruan ini makin hari makin memuncak. Hal ini dimanfaatkan oleh sebagian orang dari kalangan hitam, terutama mereka yang pernah merasakan pahitnya dihajar para pendekar dua perguruan tersebut. Intrik dan siasat licik dirancang khusus untuk mengadu dua kekuatan besar itu makin lama makin tampak hasilnya. Tanpa sadar murid-murid dua perguruan itu makin hari makin tersuruk masuk ke lubang permusuhan yang sulit dicari jalan keluarnya.
Klimaksnya terjadi kira-kira empat puluh tahun lalu. Pendeta Mahisa Lanang, guru besar Mahameru mengundang Rama Bakwan dari Lemah Tulis untuk adu ilmu silat. Waktu itu hampir semua pendekar ternama di tanah Jawa hadir untuk menyaksikan siapa yang lebih piawai di antara dua pendekar hebat itu. Tapi semua orang kecewa, ternyata Mahisa Lanang dan Rama Balawan justru menjalin persahabatan.
Sejak itu ada semacam perjanjian tak tertulis, anak murid Lemah Tulis dilarang tarung lawan murid Mahameru, begitu sebaliknya. Siapa melanggar aturan ini akan dihukum oleh gurunya sendiri. Perjanjian itu masih berlaku sampai hari-hari di masa kepemimpinan pendeta Macukunda dan Bergawa. Tetapi malapetaka yang menghancurkan Lemah Tulis telah mengubah jalan sejarah.
Mahameru merasa menjadi perguruan tanpa tanding. Hal itu pun tak dapat dipungkiri oleh sekalian ahli silat. Tak seorang pun yang ragu bahwa di balik kerimbunan pepohonan di gunung Mahameru bersembunyi banyak pendekar jago. Itu sebab, mereka menganggap Mahameru pantas menjadi pelopor pertemuan sesama pendekar tanah Jawa untuk mencari lima pendekar paling jago yang mewakili tanah Jawa menghadapi tantangan jago-jago daratan Cina.
Dari jauh tampak gunung Mahameru bagai menyundul langit. Seperti gunung tak bermahkota, puncaknya tersembunyi di antara semaraknya awan, ada suatu kekuatan raksasa yang terpendam di dalamnya. Mahameru hanya sebuah gunung, tapi bukan sekedar gunung.
Hari itu Mahameru dikunjungi banyak tamu. Tak pernah sebanyak itu sebelumnya. Orang-orang itu mendaki lereng Selatan dengan membisu seribu bahasa. Kawan dengan kawan tak saling tegur. Kawan dan lawan pun pura-pura tak kenal. Dari dandanan maupun gerak, lak salah lagi hampir semua tamu adalah mereka yang menguasai ilmu silat. Meskipun ada beberapa orang awam ikut datang untuk menonton keramaian atau pedagang yang menjual makanan dan minuman. Hampir seluruh penjuru tanah Jawa mengetahui adanya perang tanding adu kepandaian untuk memilih lima pendekar paling jago di tanah Jawa.
Hari itu orang mulai berdatangan, meskipun hari pertarungan baru akan dimulai dua hari lagi. Wisang Geni bertiga Padeksa dan Wulan mendaki lereng dengan tak bergegas. Keadaan Padeksa yang belum bisa mengerahkan tenaga berlebihan membuat perjalanan tiga orang itu cukup lambat. Banyak orang yang mendahului mereka, terutama yang bergegas.
Selama dua hari berkumpul bersama, baik Wisang Geni maupun Wulan tak berani menampakkan perasaan cinta. Takut ketahuan Padeksa. Tetapi mata Padeksa tak bisa tertipu. Ia lebih menangkap getaran cinta yang terpancar dari mata dua sejoli itu. Padeksa merasa gundah dan agak bingung begitu ia yakin bahwa Wisang Geni dan Wulan saling mencintai.
Hubungan ini tidak biasanya, Wisang Geni adalah putra Gajah Kuning dan Sukesih. Sedang Walang Wulan adalah saudara perguruan dengan Gajah Kuning dan Sukesih. Itu artinya Wisang Geni adalah keponakan muridnya Wulan. Padeksa penasaran. Tangan kanannya meraih tangan Wisang Geni, satu lainnya memegang Wulan. Sambil tetap berjalan ia bertanya.
"Aku tahu kalian saling mencintai, tapi sadarkah kalian, hubungan kalian sebagai bibi guru dan keponakan murid, bagaimana mungkin bisa menjalin percintaan, ini tidak lazim, sesuatu yang akan menjadi bahan gunjing dan tertawaan orang?"
Wisang Geni tidak menyangka pertanyaan itu begitu langsung dan mendadak ditanyakan. Apalagi Wulan. Keduanya tergugu, tak bisa menjawab.
"Wulan, kau sebagai yang lebih tua, jawablah!"
"A...a ...aku..." Wulan gugup sehingga tak mampu menjawab. Ia memang sudah lama membayangkan kejadian seperti ini, bahwa guru dan sesepuh perguruan Lemah Tulis akan mempertanyakan hubungan ini. Tetapi ketika menjadi kenyataan, ia bahkan tak siap untuk menjawabnya.
Secara naluriah timbul keberanian Wisang Geni melihat kekasihnya dipersalahkan. "Guru, aku yang bertanggung jawab. Wulan sekarang sudah menjadi isteriku. Maafkan aku, ampuni aku, karena belum minta restu dari guru. Kalau itu salah, aku terima salah, hukum atau bunuhlah aku. Tapi menurutku tidak salah, hubungan itu bisa ada, dan bisa juga tiada. Tergantung dari mana kita memandangnya."
Padeksa menghentikan langkahnya sejenak kemudian melangkah lagi. "Bisa ada, bisa juga tiada, Geni, coba jelaskan padaku!"
Semangat Geni tergugah melihat gurunya bersikap biasa. Tadinya ia membayangkan Padeksa akan marah. "Hari ini aku harus jelaskan semuanya, hari ini aku menang atau aku kalah. Kalau saja ia merestui hubungan ini, maka segalanya akan mudah," pikirnya.
Geni mengumpulkan segala keberaniannya. Di dunia ini hanya Padeksa saja yang ia segani. Padeksa sudah seperti ayah, kakek, guru, sahabat dan teman sepermainan. Padeksa yang mendidiknya sejak kecil.
Tiba-tiba Geni menjatuhkan diri, sungkem. "Guru, aku tak mengingkari jasa ayah dan paman Gubar Baleman mendidikku dari kecil. Tapi sesungguhnya, hanya kau dan guru Manjangan Puguh yang resmi sebagai guruku. Sewaktu kecil aku memanggilmu kakek, bahkan sampai sekarang pun terkadang menyebutmu kakek. Tetapi yang sebenarnya kau adalah guruku, aku selalu harus memanggilmu guru, kau adalah guruku meski kau lebih suka mengakui aku sebagai cucu murid. Aku mohon demi ayah dan ibuku, akuilah aku sebagai muridmu dan umumkan kepada semua murid Lemah Tulis termasuk kepada paman Gajah Watu, bahwa secara resmi aku adalah muridmu, murid tunggal."
Padeksa tercengang, ia tak mengerti maksud permohonan Geni. Tetapi Wulan mengerti. Ia bisa menebak jalan pikiran Geni. Ia ikut berlutut di samping Geni. "Paman guru, Wisang Geni pantas dan layak menjadi muridmu, terimalah permohonannya. Dia tak akan mengecewakanmu, paman."
Awal mulanya heran, lama-lama Padeksa mulai mengerti. Ia tahu dengan mengakui Geni sebagai muridnya, berarti hubungan dua orang muda itu berubah. Dari hubungan bibi guru dan keponakan murid berubah menjadi hubungan sesama saudara perguruan. Padeksa tertawa. Ia terpingkal-pingkal sampai keluar airmata.
Orang-orang yang lalu lalang di sekitar lereng gunung memandang heran. Geni dan Wulan tak berani mengangkat kepala meski tak mengerti apa sebab Padeksa tertawa.
Setelah puas tertawa, Padeksa kemudian memegang kepala Geni. "Seumur hidupku, baru hari ini aku tertawa puas. Baiklah, Wisang Geni. mulai hari ini kamu resmi menjadi muridku dan kamu adalah satu-satunya murid Padeksa, kamu adalah satu-satunya murid Padeksa karena aku tidak punya murid lain."
Bukan kepalang senangnya Geni dan Wulan. Serentak keduanya memegang dan mencium tangan Padeksa. Sekonyong-konyong terdengar orang bertepuk tangan. Padeksa menoleh. Geni dan Wulan melompat, berdiri dan bersiap. Padeksa berseru perlahan, setengah tak percaya siapa yang dilihatnya.
"Dimas Watu!"
Ada belasan orang berjajar di pinggir jalan. Seorang di antaranya, Gajah Watu maju, menghambur dan merangkul Padeksa. Tiba-tiba Gajah Watu mundur selangkah, memandang kakak perguruannya.
"Kangmas, kau luka?"
"Ya, aku dibokong Lembu Agra!"
"Apa katamu? Lembu Agra?"
"Ya, Lembu Agra murid kangmas Bergawa, dialah pengkhianat yang disebut-sebut meracuni gudang makanan dan air minum perguruan kita. Ceritanya panjang, adikku."
Pertemuan yang tak disangka-sangka itu cukup menggembirakan semua orang. Bersama Gajah Watu adalah Ranggawuni, Mahisa Campaka dan Waning Hyun serta delapan pendekar Tumapel. Yang seorang lagi dikenal sebagai Sang Pamegat, tokoh sakti yang serba misterius.
Geni dan Wulan memberi hormat kepada Gajah Watu. Tampak oleh Geni mata Gajah Watu yang penuh penyesalan bercampur malu ketika menerima sungkem Walang Wulan. Agak serak suara Gajah Watu ketika mengucap kata maaf.
"Sudah lama tak pernah ketemu, Wulan. Maafkan aku, maafkan pamanmu ini."
Walang Wulan tetap merunduk, tak berani dan enggan melihat wajah paman gurunya itu. Ia masih membayang perlakuan lelaki itu setiap menikmati pelampiasan birahi atas tubuhnya. Ada rasa jijik di mata Wulan dan ia tak ingin memperlihatkan rasa jijik itu kepada paman gurunya itu. Ia tetap merunduk dan tak bersuara.
Adalah Geni yang berkata, "Paman Gajah Watu, sekarang ini aku adalah murid resmi guru Padeksa dan Walang Wulan sudah menjadi isteriku, aku minta restumu paman."
Gajah Watu memandang Padeksa yang tampak manggut-manggut. Tak ayal lagi, Gajah Watu pun memberi restu. "Aku merestui kalian, Wisang Geni dan Walang Wulan sebagai suami isteri. Semoga kalian hidup berbahagia selamanya."
Tak hanya dua sesepuh itu, Waning Hyun dan rombongan juga memberi ucapan selamat berbahagia. Wisang Geni menggenggam tangan Walang Wulan. Pada akhirnya semua beres, semua persoalan yang mengganjal telah disingkirkan. Mereka kini resmi diakui sebagai suami isteri. Restu dari Gajah Watu juga sangat penting dan kuat secara tradisi. Hubungan suami isteri, Geni dan Wulan, sesama saudara seperguruan, itu semakin kuat dan absah karena mendapat restu dari dua sesepuh perguruan. Bagi Wulan, restu dari Gajah Watu sedikitnya mulai mengurangi rasa benci dan jijiknya terhadap paman gurunya itu. Ia bahkan berterirnakasih atas restu itu.
 Rombongan itu melanjutkan perjalanan menuju Mahameru. Wulan cepat akrab dengan Waning Hyun. Sedangkan Padeksa, Gajah Watu dan Geni berjalan sambil saling menutur pengalaman.
Karena perjalanan dilakukan dengan tidak terburu-buru, maka baru sore hari mereka tiba di pelataran perguruan Mahameru. Sambutan cukup hangat dari tuan rumah setelah Padeksa memperkenalkan diri sebagai ketua rombongan Lemah Tulis. Penerima tamu mengantar dan mempersilahkan mereka menuju sebuah lapangan terbuka. Di situ tersedia banyak kemah, sebagian sudah diisi, sebagian lain masih kosong.
Malam itu sunyi sepi. Semua tamu benar-benar menggunakan waktunya untuk istirahat. Wisang Geni semedi. Esok harinya masih banyak tamu lain yang berdatangan. Dari pagi sampai sore tak pernah putus.
Senja itu Wisang Geni seorang diri berkeliling di sekitar kaki gunung. Tiba-tiba ia terkejut melihat empat orang berjalan berpapasan dengannya. Tanpa sadar ia berseru, "Sekar!"
Gadis itu memang Sekar. Gadis itu lari menyongsong Geni. Ia melompat memeluk Geni. "Geni, kamu masih hidup!"
Sesaat kemudian Sekar sadar, ia melepas pelukannya. Geni takjub melihat kecantikan gadis di depannya. Tak ada lagi bekas penyakit cacar di wajahnya. Wajahnya berseri semakin membias kecantikan alaminya, rambutnya ikal terurai sebatas bahu. Ia cantik, sangat cantik dengan kulit kuning sawo dan tubuhnyayang kurus, langsing namun montok.
"Sekar, kamu cantik sekali, kamu sudah sembuh. Eh, katamu dulu perlu waktu satu tahun."
Sekar masih saja segar dan ceria. Ia tertawa senang. "Nenek menyembuhkan aku dalam waktu tiga bulan, lagipula aku tak jadi dipingit satu tahun sebab aku berhasil membujuk nenek untuk melihat keramaian Mahameru." Tawanya membuat kecantikannya bersinar.
Geni mendelong memandang kekasihnya yang seakan salin rupa menjadi seorang dewi yang mempesona. Geni memberi hormat kepada Dewi Obat. "Kamu penolongku, Dewi Obat, tanpa pertolonganmu aku mungkin sudah mati. Terimalah hormat sungkemku."
Ketika memerhatikan dua orang dalam rombongan Sekar, ia terkesiap. Ia ingat benar. Dua orang itu, si gadis penari dan satu lainnya Ki Dalang. Sungguh suatu kebetulan, dua orang itu adalah orang yang ia cari selama ini. Tetapi saat itu ia memutuskan membiarkan Sekar dan rombongan istirahat dulu.
Ia berbisik kepada Sekar, "Aku kenal dua kawanmu itu, si gadis penari dan Ki Dalang. Nanti malam aku akan mengunjungi kemahmu, kamu tunggu saja."
Gadis itu berkata lirih, "Kamu datang untuk aku atau untuk urusan Kinanti Prasidha itu?"
"Kamu tunggu saja."
Malam harinya, setelah makan malam, Geni keluar kemah. Wulan mengikutinya, "Mau ke mana kamu?"
Geni diam sesaat. "Aku ada urusan, kamu tunggu di sini saja!" Tanpa menanti jawaban Wulan, ia menggelar Waringin Sungsang dan lenyap ke pekatnya malam.
Sekar dan Dewi Obat terkejut melihat Geni berdiri di luar kemah. Gadis itu hampir lupa diri saking gembiranya, tapi ia cepat menguasai diri. Geni mengucap terimakasih kepada Sekar dan Dewi Obat yang telah menolongnya.
"Kau sudah ucapkan tadi sore, tetapi apakah hanya itu maksud kedatanganmu anak muda?" Dewi Obat berkata tanpa berusaha supaya ramah.
Geni menatap tajam Ki Dalang dan si gadis penari. Ki Dalang berusia lima puluhan. Sedang si penari seorang gadis usia sekitar dua puluh lima tahun. Cantik, segar dengan potongan tubuh agak gemuk. Raut wajahnya mirip Sekar.
"Namaku Wisang Geni. Aku murid tunggal Padeksa dari Lemah Tulis. Aku sangat beruntung memperoleh pertolongan dan petunjuk Dewi Obat sehingga bisa menemukan kisanak berdua dalam pesta tahunan di lereng gunung Lejar. Dan cerita Ghatotkaca raja sangat menarik perhatianku. Aku beruntung bisa menyaksikan tari Kinanti Prasidha yang kucari-cari selama ini."
Empat orang itu terdiam. Ki Dalang mendehem kemudian bertanya, "Aku tak mengerti, apa maksudmu?"
Geni bisa menebak pikiran orang tua itu. Ia berdiri kemudian memperlihatkan separuh dari jurus Agniwisa sebelum digabung dengan sepenggal tari Kinanti.
"Ini namanya jurus Agniwisa tetapi belum sempurna. Jurus ini baru sempurna setelah digabung dengan salah satu gerak tari Kinanti yang kau mainkan malam itu." Berkata demikian Geni mempertontonkan gerak tari yang merupakan perpaduan jurus tadi.
Geni melanjutkan penjelasannya. "Sekarang coba bandingkan dan perhatikan jurus Agniwisa yang lengkap, hasil gabungan separuh jurus tadi dengan tarian Kinanti."
Kemudian ia duduk kembali dan menatap empat orang itu. Ia lantas menanyakan arti kalimat Parahwanta Angentasana Dukharnawa. Kini mereka benar-benar percaya. Empat orang itu serempak mengucap selamat. Mereka gembira, pada akhirnya ada seorang pendekar Lemah Tulis yang berjodoh dan menguasai Prasidha dari manfaat tari Kinanti itu.
Ki Dalang menghela nafas, wajahnya kelihatan muram "Maaf pendekar Wisang Geni, sebenarnya kami tidak tahu apa arti tari Kinanti tersebut, kami juga tak mengerti arti kalimat itu. Yang diajarkan kepada kami hanya gerak tubuhnya saja, tak ada keterangan apa pun perihal sikap mental. Maaf, kami benar-benar tidak tahu, jika tahu pasti akan kami jelaskan."
Kepala Wisang Geni ibarat disiram air dingin. Hilang sudah harapannya. Sebenarnya dua orang inilah yang diharapkan bisa membuka tabir rahasia Prasidha. Tapi ternyata lagi-lagi ia membentur tembok karang, Jalan buntu.
Menghampiri Geni, Sekar berbisik di telinga kekasihnya, "Geni, aku akan membantumu, tetapi kamu harus ingat janjimu dan kamu harus menepati janjimu itu. Aku lihat kekasihmu Wulan sudah berada di sampingmu, pantas saja kamu lupa padaku."
Memeluk pinggang gadis itu, Geni berbisik, "Aku tidak ingkar janji, tetapi apa mungkin aku mencium kamu di depan kerabatmu ini atau bercinta sekarang juga?"
Sekar menampar pundak Geni. "Kamu ngaco!" Ia menoleh kepada Ki Dalang dan si gadis penari. "Geni, mungkin kamu perlu tahu bagaimana sikap tubuh, kaki, tangan dan kepala waktu kalimat itu diucapkan Mbakyu, apakah kalimat itu setiap diucapkan selalu pada ayunan tubuh dan langkah serta gerak tangan yang sama?"
"Benar, selalu pada posisi dan gerak tubuh yang sama. Pertama aku ucapkan kalimat itu waktu tubuhku doyong ke kanan, yang kedua kali ketika doyong ke kiri, kemudian doyong ke depan dan ke belakang." Gadis penari itu kemudian memberi contoh dengan menari Kinanti.
Tetapi Geni masih saja tak bisa menembus arti dan maknanya. Mereka berusaha membantu Geni, tetap sia-sia, Garudamurkha Prasidha tetap jadi misteri.
Menghampiri Geni yang sedang bingung, Sekar berkata lirih, nadanya menggoda. "Maaf kekasih, aku gagal membantumu, jadi terserah kamu mau menepati janji atau ingkar." Ia menarik Geni keluar tenda.
Geni memegang lengan Sekar, "Aku akan memperkenalkan kamu dengan Walang Wulan. Aku sudah bicara dengannya tentang kamu, jadi tak akan ada masalah."
"Kamu bicara apa saja?"
"Aku cerita bagaimana hebatnya kamu memasang perangkap cinta, membuat aku kasmaran dan mencintaimu habis-habisan." Geni memandang mata Sekar yang kedip-kedip bercahaya, ada rasa bangga dan cinta di situ.
"Terus, kamu bilang apa lagi?"
"Aku katakan bahwa aku akan hidup bersama dua perempuan yang kucintai dan mencintai aku, Wulan sebagai isteri pertama, Sekar isteri kedua, begitu dulu yang kamu katakan padaku, iya kan?"
Saat itu Dewi Obat sudah berdiri di samping Sekar. Ia muncul begitu saja. Ia mendengar sebagian perkataan Wisang Geni. Ia berkata tawar. "Wisang Geni, aku peringatkan kamu, jangan kamu mempermainkan cucuku, aku akan mengejar kamu!"
Geni tersenyum. Ia melihat sepasang mata Dewi Obat menatapnya dengan bersinar ceria. Nenek itu tidak marah, malah memperlihatkan wajah gembira. "Sejak bertemu cucumu, aku sudah kasmaran, mana mungkin aku mempermainkan dia. Dewi, seharusnya kau mengancam cucumu agar tidak meninggalkan aku."
Sekar menarik tangan Geni, menghindar dari neneknya. "Ayo, Geni, ajak aku temui dia, mbakyu Wulan, sekarang juga!"
"Jangan sekarang, besok pagi saja. Sekarang kita kabur ke hutan, aku sudah rindu padamu." Geni mencekal lengan Sekar, membawanya kabur turun gunung. Di gelapnya malam, mereka menemukan tempat tersembunyi jauh dari daerah perdikan Mahameru.
Geni memeluk kekasihnya, mencium mulutnya dengan bernafsu. Gadis cantik itu bergerak liar. Ia terengah-engah menahan gejolak nafsunya "Geni, peluk aku erat-erat, aku tak tahan lagi. Lima purnama aku merindukan kamu, tak ada lelaki lain yang bisa mengobati rindu ini, apalagi aku cuma ditemani pepohonan cemara."
Bak macan lapar, Geni langsung menerkam dan menyingkap gaun Sekar. Ia pegang kemaluan gadis itu, sementara bibirnya langsung turun melumat payudara Sekar yang terlihat semakin bertambah besar. Sekar hampir terjatuh kehilangan keseimbangan. Namun apa yang dilakukan Geni justru membuat hasrat seksualnya kian berkobar-kobar. Jari-jari tangan Geni yang bermain di bibir kemaluannya memberi kenikmatan yang tak terhingga.
Sekar merasakan betapa keranjingannya Geni pada tubuhnya. Lelaki itu begitu kasar dan rakus saat melumat seluruh bagian sensual di tubuhnya. Sekar tak kuasa untuk menghindar, bagai rusa kecil ia gemetar luluh menghadapi kerakusan Geni. Yang bisa ia lakukan hanyalah menyongsong hasrat Geni, lalu memadukan dengan api birahinya, dan akhirnya membiarkan gairah itu membakar tubuh mereka berdua.
"Ayo, Sekar. Ambil milikku kalau kamu memang mau,” Geni merenggut kepala Sekar dan ditariknya agar menunduk ke arah selangkangannya. “Lepas celanaku. Hisap penisku!”
Tanpa diminta dua kali, Sekar melakukannya. Ia lepas ikat pinggang Geni, lalu celana panjangnya ia tarik turun hingga lepas ke tanah. Nampak penis Geni membayang miring, menggunung di balik cawat. Melihat gundukan di selangkangan itu, Sekar tersenyum. Dia yakin kalau tongkat Geni sama sekali tidak kehilangan keperkasaannya.
"Cepat, Sekar. Emut dan jilat. Ayo..." kembali Geni meminta. Nafsu birahi yang sangat besar membuatnya menjadi serba kasar dan tak sabar.
Sekar yang tahu apa yang Geni inginkan, lekas menunduk dan melekatkan wajah cantiknya di selangkangan itu. Dia menjadi sangat terangsang oleh perlakuan kasar Geni. Dengan gelegak dan kobar birahi dia meraih penis Geni dan mulai menjilat. Dicium dan dikulumnya batang itu hingga gejolak nafsu Geni terpuaskan.
"Oouuhh.. enaknya, Sekar. Enak. Terus jilati punyaku. Enak...” Geni meracau.
Sementara Sekar tak hanya puas mencium penis, sesekali jilatannya juga bergeser. Lidahnya melata ke betis Geni yang penuh bulu, kemudian turun ke lutut. Bulu-bulu kaki Geni terasa lembut menari di lidahnya. Perbuatan itu membuat Geni makin mendesah nikmat, dia tak mampu menahan kegelian syahwatnya. Terutama saat Sekar kembali mencucup dan menjilati burungnya, Geni memeluk erat untuk menahan otot-otot kemaluannya agar tidak lekas menegang.
Tak dipungkiri bahwa kini Sekar lah yang justru memimpin pergumulan syahwat itu. Dia seperti kuda binal yang memberikan segala rangsangan. Geni hanya bisa pasrah menerima nikmat sambil sesekali tangannya menahan kepala Sekar karena saking gelinya, dan lain kali meremasi payudara gadis itu sambil mengerang dan mendesis-desis keenakan.
"Jilat terus, Sekar.. yah begitu. Lama tak bertemu, kamu jadi tambah pintar saja." rintih Geni saat rambahan lidah Sekar melingkupi kedua kantung telurnya.
Di depan wajah Sekar, penis panjang Geni terantuk-antuk keras menabrak hidung. Batang itu nampak kenyal dan basah, tegak miring ke kiri mengarah ke pusar. Urat-urat kecil melingkar-lingkar menahan desakan darah birahi yang kian menggelegak. Ujungnya yang gundul menampakkan belahan merekah lubang kencing, sangat mengkilat karena Geni memang sudah sangat terangsang.
“Kamu suka, Geni? Kamu suka apa yang aku lakukan?” Sekar mengupayakan agar penis Geni benar-benar haus akan belaiannya. Dia ingin membuat Geni menjadi lebih liar.
“Teruskan, Sekar. Teruskan! Ughhh...” Geni menggelinjang.
Dengan sepenuh hati Sekar melilitkan lidah ke kemaluan Geni. Dia juga menempelkan hidung untuk menghirup baunya yang menguar. Lidahnya menjilati seluruh permukaan batang itu. Digelitiknya urat-urat yang melingkar, dicucupnya tepian ujung jamur, juga dijilatinya lubang kencing Geni.
Geni kontan menggelinjang hebat dengan desis tertahan. Napasnya memburu, racauannya semakin terbata-bata. "Aahh.. enak sekali, Sekar. Kamu memang pintar.”
Tangannya menjambak rambut gadis itu. Ditekannya wajah Sekar agar semakin cepat dalam mengulum. Dijejalkannya penis itu ke dalam mulut Sekar yang hanya bisa pasrah dan terus melahap sebagaimana harapan Geni.
"Ughh... Sekar. Bibir kamu enak sekali... belum pernah a-aku.. aku dapat bibir semacam ini." desis Geni sambil menggelinjang, menahan desakan birahinya. Dia remas-remas bulatan payudara Sekar yang bulat besar. Terkadang pinggulnya menyentak menahan serangan geli yang tak terhingga. Dia juga mengayun-ayunkan pantatnya maju mundur, mendorong kemaluannya masuk lebih dalam lagi.
Geni semakin melayang dalam badai birahi yang melanda. Seluruh tubuhnya serasa dijangkiti nafsu yang berkobar-kobar. Senggolan-senggolan kecil lidah Sekar pada organ kemaluannya benar-benar merangsang dan memberikan kenikmatan tak terhingga.
Merasa berhasil, Sekar menyertai jilatannya dengan seruputan bibir yang melata di biji pelir Geni, juga di sepanjang batangnya yang kian mengeras tajam. Genjotan maju mundur pantat Geni semakin kuat dan cepat. Sekar yakin kalau air mani kekasihnya itu tengah menjalar, siap untuk meletup muncrat.
Mulut Geni kembali meracau, "Sekar.. kekasihku.. ayo puaskan aku! Jilat terus! Sudah hampir... tinggal sedikit lagi!” Mata Geni membeliak meninggalkan putihnya. Dia melayang dalam topan badai birahi. "Aarrgghh.. Sekaarr... Sekaarr... Sekaarr..”
Sambil merenggut kepala gadis itu, Geni memuncratkan air maninya. Cairan panas itu tumpah ke rongga mulut Sekar, mengalir deras memenuhi tenggorokan. Sekar menerimanya dengan senang hati dan menelan semuanya, tandas bersih tanpa sisa.
Begitu usai menyemprotkan cadangan spermanya, Geni langsung rubuh kelelahan. Lemas namun sangat puas. Keduanya berangkulan. Geni menciumi buah dada kekasihnya.
"Sekar, kamu masih saja hebat mempesona seperti saat perpisahan di hutan cemara dulu."
Sambil mengelus dan menjambak rambut kekasihnya, Sekar menangis bahagia. "Aku takut kamu sudah mati, Geni. Tetapi aku sangat yakin, bahwa kamu masih hidup dan pasti akan ketemu aku di Mahameru."
Geni memeluk tubuh montok dan molek itu. "Kamu sangat cantik, seperti kataku dulu, kamu memang cantik."
"Aku tahu itu, dulu aku tak mau diobati nenek, tetapi setelah aku bertemu kamu, bercinta dengan kamu, aku malah ngotot minta diobati nenek, karena aku ingin mempersembahkan kecantikanku ini hanya untuk kamu, kekasihku."
"Bagaimana kamu begitu yakin aku akan sembuh dan hidup?"
Sekar berbisik di telinga. "Aku yakin, karena aku yakin akan cintaku, aku yakin masih ada hari esok dan banyak lagi hari esok yang tersedia untuk membuatmu bahagia."
"Kenapa kamu mengatakan membuat aku bahagia, kenapa kamu tidak mengatakan membuat kamu bahagia?"
Sekar menindih tubuh Geni, dua tangannya memegang wajah kekasihnya. Ia mengecup mulut Geni. "Sebab, aku akan bahagia jika kamu bahagia. Jadi harus kamu yang bahagia dulu, baru aku merasa bahagia"
Tangan Sekar meraba turun dan menangkap penis Geni yang nampak masih lunglai. Jari-jarinya memilin pelan, mengusap-usap sperma kental yang masih melumuri. Terus terang Sekar sangat berharap penis panjang dan besar itu kembali tegang dan mengaduk-aduk liang vaginanya. Dia sudah tak sabar menantikan gesekan kejantanan Geni pada dinding kemaluannya.
Geni yang tahu keinginan sang kekasih, segera memeluk dan menindihnya dalam pagutan mesra. Dilumatnya habis bibir dan lidah Sekar. Dikulumnya sambil tangannya meremasi dada, puting Sekar yang mungil juga tak luput dari jamahannya.
“Sekarang giliranku untuk memuaskanmu, begitu?” tanya Geni.
Sekar mengangguk senang. Terasa pelan tetapi pasti kemaluan Geni mulai kembali menegang. Ia eratkan pagutan agar semangat Geni kembali seutuhnya.
"Ayo, Sekar. Sekarang kamu membungkuk. aku jilati pantatmu." Geni mendorong tubuh Sekar agar tengkurap, kemudian ia angkat pantat gadis itu hingga Sekar jadi menungging.
“Ughhh... Geni,” Sekar merintih merasakan lidah Geni mulai menjalari bukit bokongnya. Geni menjilat-jilat hingga mendekat ke lubang pantat. Rasa gelinya sangat tak tertahankan.
Sekar mendesis penuh kenikmatan. Ini benar-benar tak pernah terbayangkan bahwa lelaki yang sangat kalem dan berwibawa seperti Geni kini berada di pantatnya. Lidahnya sedang menjilati lubang anus. Antara senang dan terbakar birahi, Sekar mendesis hebat.
"Oohh.. Geni.. enak sekali! Terus.. teruskan.."
Sekar kelojotan namun tak bisa bergerak banyak karena dekapan Geni pada kedua pahanya. Berganti-ganti Geni menjilati pantat dan lubang kemaluannya, membikin Sekar berontak mati-matian karena saking gelinya.  Namun dia kalah kuat. Geni terus menyerang, sedangkan dia hanya bisa pasrah.
“Sudah, Geni, sudah... cepat lakukan, setubuhi aku! Berikan kepuasan kepadaku!” jeritnya pilu.
Beruntung Geni sudah puas. Dia lantas bangkit dan membimbing Sekar agar telentang di rerumputan. Ditindihnya tubuh gadis itu. Tangannya menyeruak melebarkan selangkangan Sekar. Penisnya dengan pasti diarahkan ke liang vagina sang kekasih. Geni nampak sangat bernafsu untuk segera menyetubuhi Sekar.
Hanya dengan desakan-desakan kecil, kemaluannya sudah mampu menembus liang kewanitaan Sekar. Lingkaran batangnya sangat menyesaki rongga vagina gadis itu. Sekar merinding merasakan nikmat yang tak terhingga. Sebuah kenikmatan yang tak mungkin ia dapatkan dari lelaki lain.
Perlahan Geni mulai menggenjot dan memompa. Mulutnya melumati buah dada Sekar dan menggigit-gigit putingnya. Sekar terlontar dalam kenikmatan, rasanya seperti terbang ke angkasa tanpa batas. Dia mulai menggoyangkan pantat untuk mengatasi rasa gatal pada dinding-dinding vaginanya.
Tak dirasakan lagi betapa lelahnya Sekar dalam mengimbangi pompaan Geni. Hisapan dan jilatan pemuda itu pada putingnya membuat orgasme Sekar mendekat dengan cepat. Ia rasakan vaginanya mengalirkan cairan birahi dengan sangat deras. Dan saat-saat orgasme itu merambati saraf-saraf tubuhnya, tanpa ragu Sekar menghujamkan kuku ke punggung Geni. Tak mampu bertahan lagi, dengan teriakan histeris dia pun melengking.
"Aahh.. enak sekali, Geni. Enak sekali. Teruskan, Geni.. teruskan!" jerit Sekar sambil pinggul dan pantatnya bergoyang tak karuan. Dia mengangkat pantat tinggi-tinggi untuk menjemput kemaluan Geni agar menusuk lebih dalam lagi.
"Ammppuunn.. Geni.. amppunn..." Sekar merasakan kenikmatan yang tak terhingga saat cairannya menyembur keluar. Dia begitu lelah, tak mampu lagi menggoyang untuk membantu Geni.
Bagai singa lapar, Geni yang belum mendapatkan kepuasan puncaknya, terus memompa dengan kencang. Bisa ia rasakan cairan panas tumpah membasahi batang penisnya. Sensasi jepitan kemaluan Sekar yang sedang klimaks membuatnya menyusul tak lama kemudian.
Geni cepat-cepat mencabut kemaluannya, ia muntahkan kedutan-kedutan air mani ke perut, paha, dan dada Sekar. Selanjutnya ia minta Sekar agar kembali menjilati batang penisnya. Geni terus menggumuli tubuh Sekar. Sekali lagi dan berulang-ulang, tak pernah bosan. Seperti ketika perpisahan di Lembah Cemara, di hutan Mahameru gelapnya malam menjadi saksi jerit halus dan deru nafas serta degup jantung dua kekasih itu dalam mengarungi lautan asmara.
Keduanya baru kembali ke kemah masing-masing menjelang munculnya cahaya merah matahari pagi. Di depan kemah, Geni mendapati Wulan sedang menunggunya.
"Geni, kamu pergi ke mana semalaman?" tanya perempuan itu.
Geni tak menjawab. Dalam perjalanan pulang tadi, pikirannya seperti menemukan suatu rahasia menyangkut Garudamukha Prasidha. Ada sesuatu melintas di benaknya. Ia coba menangkapnya tetapi sia-sia. Ia masih terbenam dalam pikiran itu ketika dikejutkan suara keras Wulan.
"Aku bertanya padamu, Geni, kamu sedang melamun apa?"
Geni menoleh. Ia minta maaf karena tidak mendengar pertanyaan tadi, pikirannya masih memikirkan jurus pusaka itu.
Wulan bertanya lagi. "Siapa orang-orang yang kau temui tadi malam?"
Geni menceritakan pertemuannya dengan empat orang itu, Dewi Obat, Ki Dalang, si penari dan Sekar. Mereka berusaha membantu menemukan makna kalimat misterus, tapi gagal. Tak ada yang tahu apa itu arti dan makna kalimat Parahwanta Angentasana Dukharnawa.
Wulan ikut berduka. Ia merunduk kemudian berkata lirih. "Aku tahu kamu pergi berdua Sekar, bercinta semalaman, kenapa harus takut berkata jujur kepadaku?"
Geni menatap Wulan lekat-lekat di matanya. "Aku tidak takut mengatakan sesuatu padamu, aku memang bercinta dengan Sekar, semalaman. Aku pikir hal ini tak perlu kuceritakan padamu sebab kamu sudah tahu hubunganku dengan Sekar. Lagipula aku tidak akan melapor kepadamu untuk apa saja yang akan kulakukan dan yang telah kulakukan. Aku suamimu. Kamu yang harus melapor tentang apa saja yang telah dan yang akan kauperbuat, karena itu kewajiban seorang isteri yang setia."
Tak menduga akan mendapat jawaban tegas seperti itu, Wulan terkejut. Tanpa sadar matanya berkaca-kaca. Ia belum menemukan kata-kata untuk menjawab. Ia masih diam.
Geni memecah kesunyian pagi. "Wulan, isteriku, aku punya penyakit buruk yakni aku tidak suka didesak. Mengertilah, Wulan, jangan desak dan menyudutkan aku, apa saja yang aku suka akan kulakukan, kemarin kamu sudah berkata padaku bahwa kamu bersedia menerima Sekar sebagai isteriku. Kamu isteri utama, Sekar yang kedua. Nah, kenapa sekarang ini kau mendesak aku?"
"Aku cemburu." Diam-diam Wulan terkesima, merasa keder dan takut melihat ketegasan serta wibawa suaminya.
"Buang saja jauh-jauh rasa cemburilmu, kamu malah menyiksa diri sendiri. Bagaimanapun juga kamu harus menerima Sekar. Besok aku akan memperkenalkan dia kepadamu, kuharap tak ada lagi persoalan menyangkut Sekar."
Esok paginya, Geni memperkenalkan Sekar pada Wulan. Mulanya Wulan seperti hendak menerkam Sekar. "Ia sangat cantik, pantas saja Geni kasmaran padanya." Tanpa sadar wajahnya cemberut, dingin dan kaku.
Gadis muda ini terkejut melihat sikap Wulan, namun ia juga pasang kuda-kuda. "Katanya usianya lebih tua dari Geni, tetapi ia tampak seperti gadis remaja, cantik dan montok. Tetapi kenapa ia galak, apa dia pikir aku takut, wuah kalau untuk berebut cinta Wisang Geni, jangankan satu, sepuluh Wulan pun akan kuladeni."
Dua wanita itu seperti mau saling terkam, persis dua macan betina sedang berebut pejantan. Tetapi ketegangan mencair setelah Geni menegaskan keduanya harus saling bantu. Wulan, isteri utama, Sekar yang kedua.
"Tak boleh ada pertengkaran! Jika ada pertengkaran, aku tidak mencari siapa benar siapa salah, itu kesalahan kalian berdua, kalian isteri Wisang Geni jadi harus ikuti aturan Wisang Geni. Camkan itu!"
Dua perempuan itu memandang Geni dengan rasa tak percaya bahwa laki-laki itu bisa bicara begitu tegas. Sekar memandang Wulan dengan ramah. "Mbakyu Wulan, aku mohon maaf, kalau sikapku tadi kurang ajar."
"Dik Sekar, aku juga minta maaf, seharusnya aku menyambutmu dengan gembira." Wulan membentang dua tangan, Sekar menghampirinya. Keduanya berpelukan.
Sekar berbisik, "Baru hari ini aku melihat sikap Geni yang tegas dan wibawa."
Wulan tertawa lirih, "Sejak dia menguasai ilmu dahsyat Wiwaha itu sikapnya jadi tegas dan sangat jantan."
"Ilmu apa itu, mbak?"
"Namanya ilmu Wiwaha, tenaga dalamnya maju sangat pesat dan dalam urusan bercinta dia makin perkasa dan beringas. Benar demikian, Sekar?"
"Memang, dia lebih perkasa dibanding sebelum berpisah dengan aku lima bulan lalu." Sekar tertawa geli.


1 komentar: