Jumat, 21 Oktober 2016

Sengsara Membawa Nikmat 13



Setelah pesta seks di rumahnya beberapa bulan yang lalu, secara psikologis dalam diri Hendra mengalami perubahan drastis. Hendra menjadi lebih percaya diri dengan keadaannya yang sekarang. Kalau dulu ia pernah merasa minder pada para kolega maupun bawahannya yang selalu berbagi cerita tentang kehidupan rumah tangga dengan pasangan mereka, terutama saat berhubungan di ranjang. Teman-temannya itu dengan bangganya bercerita, bahwa mereka bisa bertahan lama saat berhubungan intim dengan istri masing-masing.
Saat itu Hendra hanya menjadi pendengar setia, karena tak ada yang bisa ia ceritakan kepada teman-temannya. Bahkan ada di antara teman-temannya itu yang bercerita bahwa ia sudah sering mengencani wanita selain istrinya—dan memang isu tentang perselingkuhan antar rekan kerja ataupun dengan mitra kerja sudah menjadi rahasia umum di kantor Hendra.

Berkat cairan sperma kuda liar dari Sumbawa yang telah diberi mantra sakti oleh guru Maman, kini batang kejantanan Hendra bisa berdiri tegak dan secara ukuran juga di atas normalnya para pria Indonesia. Selain itu batang kejantanan Hendra bisa bertahan lama saat berhubungan intim, bahkan istrinya pun merasa takjub dengan perubahan yang terjadi pada diri Hendra.
 Dan sekarang di ruangan kerjanya, Hendra sedang berdua dengan stafnya yang cantik bernama Ratna, wanita yang kecantikan wajahnya mirip dengan penyanyi cantik dan terkenal di negeri ini yaitu Raisa. Status Ratna masih lajang, namun sudah bertunangan satu bulan yang lalu.
”Ada kemungkinan ia masih perawan,” pikir Hendra.
Hendra akan bersenang hati jika ia masih bisa mendapatkan keperawanan dari Ratna, dan nampaknya Ratna juga suka kepadanya. Hendra mendekatkan wajahnya ke wajah Ratna, kemudian ia mengecup bibir Ratna dengan lembut. Ratna yang masih bingung terlihat begitu gelagapan, ia tak menyangka kalau Hendra akan menciumnya.
Namun keadaan itu tak bertahan lama, Ratna yang sudah biasa berciuman dengan tunangannya pun membalas pagutan Hendra. Walaupun jauh di dalam relung hatinya sebenarnya ada perasaan bersalah dalam diri wanita cantik itu, karena telah mengkhianati tunangannya, namun nafsu telah mengalahkan segalanya. Ditambah lagi ia memang menaruh simpati pada Hendra sebelumnya.
Wanita mana yang tidak suka pada Hendra, secara Hendra adalah pria mapan dengan segala kemewahan yang dimilikinya, ditambah lagi wajahnya yang tampan dan tubuhnya yang atletis.
Hendra melumat bibir Ratna yang ranum, wanita itu pun membalas tak kalah sengitnya. Mereka saling memagut, lidah mereka saling mengait satu sama lain, sungguh percumbuan yang begitu panas. Sementara tangan Hendra mulai bergerak melepas satu per satu kancing blazer serta kemeja yang dikenakan Ratna. Kini bagian atas dari tubuh Ratna hanya mengenakan beha.
Lalu tangan Hendra meremasi payudara Ratna yang masih terbungkus beha itu. Kedua bukit kembar Ratna terlihat masih kencang. Hendra melepaskan pengait beha Ratna, di depan matanya kini terpampanglah payudara Ratna dengan bentuknya yang bulat dan terlihat indah, putih mulus dan putingnya yang berwarna merah muda. Ukuran payudara Ratna 32B, sangat sesuai dengan bentuk tubuhnya yang langsing. Jari-jari Hendra bergerak nakal menggelitik puting payudara Ratna.
“Sssshhhhhhh... oouugghhh...” Ratna menggelinjang saat putingnya dipermainkan Hendra.
Kemudian Hendra menarik lengan Ratna dan mengajaknya menuju ke sofa yang ada di dalam ruangan itu. Hendra mengunci pintu ruangan kerjanya. Setelah itu ia kembali ke sofa menghampiri Ratna yang duduk di sofa dengan tatapan sayu ke arahnya.
“Sudah lama aku menaruh hati padamu, Ratna. Kamu begitu cantik sekali,” bisik Hendra di telinga Ratna. Ia sudah duduk di samping Ratna sembari mendekatkan wajahnya ke wajah wanita muda itu.
“Hhhh... tapi, Pak... saya sudah bertunangan dan sebentar lagi mau menikah,” kata Ratna.
“Ahhh... sudahlah, Ratna. Aku tahu kamu juga menginginkannya,” kata Hendra. “Aku juga tahu, kamu sebenarnya suka kan sama aku?” masih kata Hendra.
“Ehhh, bagaimana kalau ada orang yang tahu hal ini, Pak?” kata Ratna kembali.
“Kalau kita merahasiakannya, nggak akan ada yang tahu. Kalau pun itu sampai terjadi, dan tunanganmu tahu, aku akan bertanggung jawab atas semuanya.” kata Hendra. “Ratna, sudah lama sekali aku ingin seperti sekarang ini, dan aku sangat berharap kamu tidak menolak keinginanku, Ratna.”
Kata-kata Hendra yang terakhir sangat melegakan Ratna, ia jadi lebih tenang sekarang. Kalaupun sampai terjadi rahasianya dengan Hendra bocor, ia sudah siap. Maka tak heran saat tangan Hendra kembali menggerayangi tubuhnya, Ratna hanya diam dan tidak menolak keinginan laki-laki itu. Hendra memalingkan wajah cantik wanita muda itu ke arahnya, lalu dengan penuh nafsu ia kembali melumat bibir Ratna yang ranum, dan Ratna pun membalasnya.
Lidah keduanya saling membelit, mereka berdua kembali bercumbu dengan panasnya. Ciuman dan jilatan Hendra kini beralih ke sekitar tengkuk Ratna, Hendra mencupanginya sehingga meninggalkan bekas kemerahan di sekitar daerah itu. Sementara Ratna merasakan sensasi saat lidah Hendra bermain di sekitar tengkuknya, kali ini wanita muda itu merasakan hasratnya mulai bangkit dan meluap-luap. Ratna menggelinjang merasakan geli di sekitar tengkuknya.
“Uhhhhmmmmmm...”
Hendra semakin intensif memberikan rangsangan ke bagian tubuh Ratna yang sensitif. Laki-laki itu menjilati leher, kemudian ke daun telinga Ratna, menggigitnya dengan lembut. Lalu  turun di ketiak, sambil tangannya tak henti-henti meremasi kedua bulatan payudara Ratna yang indah secara bergantian. Ia tahu hasrat Ratna sudah mulai menggelora.
Jilatan lidah Hendra begitu liar dirasakan oleh Ratna, mata wanita muda itu terpejam merasakan sensasi liar yang menjalar di tubuhnya. Badannya terasa panas dingin, ia teringat kembali saat bermesraan dengan tunangannya. Hasrat wanita muda itu semakin meledak-ledak, Ratna merasa gejolak birahinya yang meluap-luap. Hendra masih asyik menjilati bulatan payudaranya, pria itu menggigit lembut puting payudara Ratna, membuat Ratna menggelinjang.
“Uhhhhhmmmmm... ahhhh... Pak!!”
Hendra memainkan kedua bulatan payudara Ratna, seperti bayi yang sedang menetek ke ibunya. Ia suka sekali dengan bentuk payudara Ratna yang bulat dan masih kencang. Agak lama juga Hendra memainkan kedua benda kenyal milik Ratna. Setelah puas, laki-laki itu bangkit dari duduknya dan berlutut di depan Ratna. Hendra melepas rok span yang dikenakan Ratna, juga melepas celana dalam gadis itu.
Seketika nampaklah di depan matanya vagina Ratna yang terlihat merah merekah dan sangat menggoda. Ratna yang belum pernah telanjang bulat di depan lawan jenisnya terlihat tersipu, ia sepertinya malu. Hendra  semakin bernafsu melihat bidadari cantik di depannya telah telanjang bulat dan terlihat pasrah.
Dia mulai menjliati vagina Ratna, terkadang ia memainkan klitoris wanita itu dengan lidahnya, membuat Ratna seperti disengat aliran listrik tegangan tinggi. Rasanya begitu nikmat dan vaginanya seketika itu pun membanjir karena tak tahan dengan rangsangan yang diberikan Hendra, hanya desahan panjang yang keluar dari mulutnya.
“Aaaaakkkkkhhhhhh... Pakkk!!”
Melihat Ratna yang sudah siap untuk disenggamai, Hendra kemudian bangkit berdiri dan melepaskan semua pakaiannya. Pria tampan itu telah bugil, sementara Ratna menatapnya dengan terkesima. Ia melihat batang kontol Hendra yang begitu besar dan berdiri dengan tegaknya. Ratna pernah melihat penis tunangannya, akan tetapi milik Hendra jauh lebih besar dibanding milik tunangannya. Di samping itu ia juga mengagumi bentuk tubuh Hendra yang atletis.
Lalu pria itu memintanya untuk tidur telentang di sofa. Walaupun diselimuti rasa takut karena sebentar lagi mahkota kesuciannya akan hilang, Ratna menuruti saja permintaan Hendra. Laki-laki itu kemudian naik ke atas sofa, membuka kedua paha Ratna dengan selebar-lebarnya. Ratna hanya bisa menatap sayu.
Hendra mulai menempatkan ujung gundul kemaluannya di bibir vagina Ratna, dia menggesek-gesekkannya sebentar dan perlahan mulai memasukkan batang kontolnya ke dalam relung vagina Ratna. Gerakan kontol Hendra tidak langsung menusuk ke dalam, akan tetapi ia dorong sedikit ke dalam lalu ditarik kembali. Dimasukkannya lagi agak lebih dalam, lalu ditariknya kembali. Itu dilakukannya berulang-ulang hingga suatu ketika saat dirasa timingnya tepat, Hendra menusuk lebih dalam vagina Ratna sampai merobek selaput dara wanita cantik itu.
Ratna pun merintih kesakitan saat keperawanannya direnggut oleh Hendra, “Aaauuuuwwww... saakitttttttttttt... ssssstttt...”
“Tahan sebentar, Sayang. Rasanya memang sakit, tapi nanti juga akan enak,” bisik lirih Hendra ke telinga Ratna.
Panggilan sayang Hendra kepada Ratna membuat wanita itu semakin melambung. Ratna sudah terbuai oleh kenikmatan yang begitu dahsyat mendera, ditambah lagi seorang pria tampan yang menjadi idola bagi banyak wanita di kantor memanggilnya dengan panggilan sayang.
Hendra sendiri merasakan kebanggaan tersendiri bisa memperawani Ratna, karena ia tidak mendapatkannya dari istrinya sendiri, dan justru istrinya telah diperawani oleh orang lain  atas keinginan Hendra sendiri saat ia masih lemah syahwat. Sekarang Hendra bukan hanya kembali normal, namun menjadi liar saat bercinta dengan lawan jenis.
Hendra menarik batang kontolnya sebentar dan dimasukkannya lagi, batang kontol Hendra terlihat kemerahan karena telah bercampur dengan darah perawan milik Ratna. Gerakan Hendra terjadi secara berulang-ulang dengan tempo yang semakin cepat dan terlihat liar. Hendra menyetubuhi Ratna dengan penuh nafsu yang menggebu-gebu. Rintih kesakitan dari mulut Ratna masih terdengar, namun seiring waktu berjalan, lambat laun rintihannya berubah menjadi erang kenikmatan. Bagi wanita cantik itu belum pernah ia merasakan kenikmatan seperti saat ini, ia ingin kenikmatan itu jangan pernah berhenti.
“Akh, akh, akh, akh, akh, akh, akh, akh, akh...” desahan kenikmatan yang keluar dari mulut Ratna.
Dalam posisi misionaris di atas sofa, tubuh Hendra menindih tubuh sintal Ratna. Sambil terus menggenjot memek, Hendra melumat bibir ranum Ratna. Wanita muda cantik yang telah terbakar birahi itu pun membalas pagutan Hendra. Lidah keduanya saling membelit, persetubuhan keduanya terlihat begitu panas. Ratna melingkarkan kedua kakinya ke pinggang Hendra, kali ini Hendra menggenjot memeknya sambil mengenyoti puting payudaranya sebelah kiri. Ia pun merasakan kenikmatan yang luar biasa, hingga suatu ketika Ratna merasakan ada sesuatu yang mau meledak dalam dirinya.
Ratna pun mengerang panjang saat orgasmenya datang, “Aaaaakkkkhhhhhhh... Paaaakkkk Heeennnndraaaaaaaa...”
Hendra masih menggenjot memek Ratna saat wanita itu dilanda orgasme, namun gerakannya kian melambat hingga akhirnya berhenti guna memberi kesempatan pada Ratna untuk bernafas. Tubuh keduanya terlihat bermandikan keringat, tak terasa sudah satu jam mereka bermain cinta.
Setelah agak lama beristirahat, Hendra membisik di telinga Ratna, “Kita ganti gaya ya, Sayang,”
Hendra bangkit dan menjulurkan kedua tangannya pada Ratna. Wanita cantik itu pun bangkit dan kemudian atas permintaan Hendra, Ratna diminta untuk mengambil posisi membelakangi. Kedua tangannya berpegangan pada sandaran sofa, sementara kedua lututnya bertumpu pada sofa. Rupanya Hendra menginginkan posisi doggy.
Bulatan bokong Ratna yang putih mulus dan terlihat masih kencang nampak begitu indah dan begitu menggemaskan, Hendra meremas dan memilin pipi pantat Ratna. Ia begitu gemas dengan bokong Ratna. Pria itu tengah bersiap kembali melakukan penetrasi ke dalam vagina Ratna, batang kontolnya ia gesekkan sebentar di belahan pantat wanita cantik itu, lalu perlahan batang itu ia lesakkan masuk ke dalam vagina Ratna. Gerakannya begitu pelan, namun semakin lama semakin cepat. Sementara Ratna terus mengembik merasakan sensasi kenikmatan yang kembali mendera.
“Akh, akh, akh, akh, akh, akh, akh, akh, akh...”
Hendra mendengus merasakan jepitan vagina Ratna yang masih sempit, ia terus menusuk lebih dalam lagi, membuat wanita cantik itu menjerit nikmat. Hendra merasakan dirinya sebentar lagi akan orgasme. Saat ia berada di puncak kenikmatan, batang kontolnya ia tusukkan lebih dalam ke memek sempit Ratna, tubuhnya terlihat mengejang, dan akhirnya Hendra pun menggeram.
“Haaaaaaaaarrrrrrrrrgggggghhhhhhhhhh...”
Disusul kemudian Ratna yang juga mengalami orgasme yang ketiga kalinya, “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkhhhhhhhhhh...”
Hendra memperlambat gerakan penetrasinya dan akhirnya berhenti sambil memeluk tubuh sintal Ratna dari belakang, sementara kontolnya masih membenam di vagina perempuan cantik itu. Untuk sementara waktu mereka berdua masih meresapi sisa sisa orgasme, Hendra merasakan kepuasan yang teramat sangat, sementara bagi Ratna ini adalah pengalaman pertamanya berhubungan intim dengan pria. Dengan tunangannya dulu ia hampir terjerumus melakukan perbuatan itu, namun ia masih bisa menahan. Tapi sekarang baginya biarlah ini menjadi rahasianya, kalaupun sampai tunangannya kelak mengetahui hal ini, ia pun siap dengan segala risikonya.
“Plop!” bunyi suara kontol Hendra saat dicabut dari vagina Ratna.
Hendra bangkit berdiri dan mengenakan pakaiannya kembali, Ratna pun melakukan hal yang sama. Selang beberapa saat mereka telah selesai merapikan diri, Hendra dan Ratna duduk bersebelahan di sofa itu.
“Nanti biar aku yang mengantarmu pulang,” kata Hendra pada Ratna.
“Jangan, Pak. Biar saya pulang sendiri saja, nggak enak kalau ada yang tahu,” kata Ratna menolak penawaran Hendra.
“Tidak apa-apa, aku kasihan sama kamu. Oh ya, jangan khawatir, aku mau bertanggung jawab seandainya tunanganmu tahu hal ini lalu meninggalkanmu.” kata Hendra.
Ratna hanya diam mendengar perkataan Hendra. Walau ada perasaan bersalah dalam dirinya, namun ia lega mendengar Hendra berkata seperti itu. Ia berharap Hendra mau menepati janjinya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 13.00, jam istirahat kantor Hendra telah selesai. Namun bersama Ratna, Hendra malah baru keluar dari kantornya. Rupanya pria itu bermaksud mengajak Ratna makan siang ke sebuah restoran. Setelah berpamitan pada beberapa staf, mereka berdua pergi meninggalkan kantor Hendra.

***

Siang itu terik panas matahari begitu menyengat, nampak sebuah mobil sedan Toyota Camri berwarna hitam metalic berhenti di depan sebuah rumah. Pria kurus kerempeng dengan postur tubuhnya yang jangkung memasuki rumah itu. Suasana dari luar terlihat sepi saat Maman memasuki pekarangan rumah Somad. Pria kurus kerempeng itu masuk ke dalam rumah, di ruang tamu ia melihat Kribo dan Somad tengah terkapar di atas sofa ruang tamu. Nampak botol minuman keras ada di atas meja, rupanya kedua orang itu tengah teler setelah menenggak minuman keras. Melihat Maman yang datang, mereka pun berdiri menyambut walaupun masih terlihat sempoyongan.
“Bos, apa kabar?” sapa Kribo dan Somad bersamaan.
“Baik. Kenapa kalian ini? Trus yang lain pada kemana? Kemana si Ucil?” jawab Maman sembari bertanya ke mereka.
“Biasalah, Bos, kami abis bersenang-senang. Ucil lagi di tempat biasa, di parkiran  sama anak-anak,” jawab Kribo.
“Di dalam ada siapa?” tanya Maman lagi.
“Hmm, itu si Sarmili lagi ngerjain bininya Somad. Tadi kami berdua sudah ngerjain dia habis-habisan, sekarang giliran Sarmili.” kata Kribo lagi.
Maman meninggalkan mereka berdua di ruang tamu, pria kurus kerempeng itu melangkah menuju ke kamar tempat dimana Sarmili tengah berasyik masyuk bersama Dewi, istri Somad. Yah, itulah yang terjadi setelah Somad menyerah kalah pada Maman dan menjadi anak buah Maman, ia harus merelakan anak dan istrinya menjadi budak seks para anak buah Maman, termasuk Sarmili, yang dulunya adalah anak buah Somad sendiri. Lalu setelah Bejo bergabung dengan kelompok Maman, anak buah Maman bertambah semakin banyak.
Bersama para anak buahnya kini Maman menggeluti bisnis dunia preman, di antaranya menguasai banyak lahan parkir di wilayah itu, dan terkadang menjadi tenaga pengamanan yang disewa para cukong untuk mengamankan tanahnya yang sedang dalam sengketa lahan. Di samping itu juga ada yang jadi debt collector untuk perusahaan pembiayaan, bahkan ada beberapa anak buahnya yang disewa sebagian pejabat menjadi bodyguard.
Tidak hanya itu, Maman dengan kelompoknya juga terjun di bisnis narkoba. Untuk mendukung usahanya itu, melalui Bejo, Maman mempunyai backing oknum perwira menengah di kepolisian. Tak heran bisnisnya itu semakin lancar, dan ia pun meraup banyak keuntungan dari bisnis haramnya tersebut.
Maman membuka pintu kamar yang memang tidak dikunci, dilihatnya Dewi tengah duduk di atas tubuh Sarmili yang sedang terlentang di atas ranjang. Walaupun kondisi Dewi terlihat begitu awut-awutan, namun ia masih terlihat cantik dan seksi. Sudah dari jam sebelas tadi ia digilir tiga lelaki. Dalam posisi woman on top tubuh Dewi bergerak naik turun, sementara Sarmili meremasi kedua benda kenyal miliknya.
“Bos, kapan datang? Kok nggak kasih tahu kita,” sapa Sarmili sedikit merasa tak enak dan hendak menghentikan persetubuhannya, namun Maman melarang.
“Ooo, santai saja. Lanjutin aja permainan kalian, aku hanya mencari Ucil.” kata Maman.
“Ucil lagi di parkiran, Bos,” kata Sarmili.
“Iya, tadi si Kribo juga udah kasih tahu. Hmm, sepertinya lonte satu ini makin pintar aja.” kata Maman.
“Iya, bos. Saya aja sampe ketagihan, legit banget memeknya.” kata Sarmili.
Dewi tak menghiraukan dirinya yang sedang dilecehkan oleh kedua orang itu, lagipula ia tak berani untuk memarahi mereka.
“Hmm, lonte satu lagi  kemana?” tanya Maman menanyakan keberadaan Sarah, anak Somad.
“Ohh, tadi sih berangkat kuliah, Bos,” kata Sarmili.
“Ya udah, lanjutin lagi aja,” kata Maman. Dia meninggalkan Sarmili dan Dewi yang tengah mereguk kenikmatan dunia, pria kurus kerempeng itu kembali menuju ruang tengah dan duduk di sofa tak jauh dari Kribo dan Somad.
“Gimana, ada masalah nggak selama aku pergi?” tanya Maman membuka percakapan.
“Sejauh ini belum sih, Bos. Cuma ada sedikit masalah, yaitu rumor bahwa kelompok kita sedang diawasi oleh pihak kepolisian. Mereka mencurigai kita karena terlibat bisnis narkoba.” kata Kribo.
“Tenang saja, yang penting kasih tahu ke semuanya untuk lebih berhati-hati dan awasi setiap ada orang baru di kelompok kita.” kata Maman. “Nanti aku juga akan menghubungi Pak Bejo, karena dia yang dekat dengan KomBes Bambang Haryadi,”
“Oke, Bos. Kami ikut lega mendengarnya,” kata Kribo.
Saat mereka bertiga sedang bercakap-cakap, tiba-tiba ponsel Maman berdering. Pria itu mengangkat ponselnya, “Iya, hallo. Ada apa, Cil?” tanya Maman kepada penelpon yang ternyata adalah Ucil
“Celaka, Bang. Itu si Jabrik dan si Yono ditangkap Polisi waktu lagi transaksi.” kata Ucil di seberang sana.
“Terus, dibawa ke mana mereka?” tanya Maman. Kribo dan Somad melihat Maman yang sedang serius dalam percakapannya di telepon, mereka berdua masih belum tahu apa yang terjadi.
“Mereka sudah dibawa ke kantor polisi, Bang.” jawab Ucil.
“Ya sudah, kamu tunggu saja di situ. Aku akan segera ke sana,” kata Maman yang kemudian menutup ponselnya.
“Somad, Kribo... Jabrik dan Yono ditangkap polisi, aku akan segera ke kantor polisi. Aku minta kalian bisa memimpin teman-teman di sini, dan ingat selalu pesanku; hati-hati dan waspada kepada siapa saja, apalagi kepada orang asing.” Maman memberi pengarahan pada Somad dan Kribo.
Dia lalu meninggalkan mereka, pria kerempeng itu menuju ke mobil dan tak lama kemudian Maman menancap gasnya meninggalkan rumah Somad. “Aku harus menghubungi Pak Bejo, karena hanya dia yang tahu solusinya,” pikir Maman.
Maman mencari nama Pak Bejo di daftar kontak diponselnya. Setelah ketemu, ia pun menelpon orang tua itu, “Halo, Pak Bejo. Lagi dimana ini, Pak?” tanya Maman pada Bejo di seberang telepon
 “Iya, aku lagi di rumah. Ada apa, Man?” kata Bejo.
“Ini, Pak, si Jabrik sama si Yono ditangkap polisi. Apa Pak Bejo bisa pulang hari ini?”
“Yah, nanti aku pulang. Lagi pula urusanku disini juga sudah selesai,” kata Bejo
“Kalau begitu saya tunggu di kantor polisi,” kata Maman. Setelah menutup ponselnya, dia segera menancap gas menuju kantor polisi, dan setibanya di sana, Maman disambut Ucil di ruang lobi kantor polisi.
“Bagaimana ceritanya mereka bisa ketangkep begitu sih, Cil?” tanya Maman.
“Mereka dijebak, Bang,” kata Ucil.
“Dijebak? Dijebak gimana maksudmu?” tanya Maman.
“Tadi ada seorang polwan yang menyamar sebagai pembeli. Waktu Jabrik dan Yono lagi transaksi, tiba-tiba mereka digrebek polisi, ternyata polwan itu tidak sendiri.” kata Ucil. “Dasar Jabrik dan Yono, nggak bisa lihat wanita cantik! Yah begitulah jadinya,”
“Sial! Kenapa sih harus berurusan sama polisi, bener-bener cari penyakit!” kata Maman.
“Tapi apa nggak sebaiknya kita coba dekati kepala polisi di sini, siapa tahu dia bisa membantu kita,” kata Ucil. “Soalnya kalau sampai Jabrik dan Yono buka mulut tentang semuanya, habislah kita semua, Bang.” kata Ucil sedikit gelisah.
“Hmm, iya bener. Tapi tenang saja, tadi aku sudah menghubungi Pak Bejo. Dia bilang hari ini akan kembali ke Jakarta, kira-kira dua jam lagi dia akan tiba.” kata Maman. “Harapan kita hanya ada Pak Bejo, karena dia yang punya banyak kenalan orang-orang di kepolisian. Kita tunggu saja,”
Sementara di ruang interogasi nampak Jabrik dan Yono diam dengan kepala menunduk. Di hadapan mereka ada sebuah meja dan seorang polwan duduk di belakang meja itu berhadap-hadapan dengan mereka. Polwan itu bernama brigadir Avvy Olivia, polisi wanita paling cantik di kepolisian daerah itu. Masih lajang dan usianya masih muda, kira-kira 25 tahun.Di balik kecantikan wajahnya siapa sangka dia adalah seorang reserse wanita.
Tak banyak wanita yang menyukai posisi seperti dirinya yang penuh dengan resiko, bahkan nyawa taruhannya. Namun ia membuktikan diri sebagai seorang polisi wanita yang tidak bisa dianggap remeh. Kemampuannya dalam menganalisa sebuah kasus tidak diragukan lagi, walaupun baru tiga tahun ia terjun di bidangnya sekarang. Ditunjang dengan wajahnya yang cantik, bodynya yang sekal dan kencang karena rutin berolah raga, banyak pria yang jatuh hati kepadanya, baik dari rekan sesama polisi atau pun yang bukan polisi.
Namun bagi Avvy, panggilan polwan itu, ia lebih suka pada pria yang bukan sesama polisi, karena menurutnya cukup dia saja yang jadi polisi. Brigadir Avvy bangkit dari duduknya dan mendekati Jabrik dan Yono, sementara kedua orang itu masih diam tak bergeming.
“Jadi kalian tak mau buka mulut tentang siapa bos kalian?!” tanya Brigadir Avvy.
Jabrik dan Yono masih diam dan seolah-olah tak mendengar polwan itu berkata kepada mereka. Hal itu membuat brigadir Avvy Olivia menjadi naik pitam, polwan itu pun mengebrak meja.
“Hayo! Jawab pertanyaanku, jangan diam saja! Atau aku akan berbuat lebih keras lagi kepada kalian!” kata brigadir Avvy.
Jabrik kali ini mengangkat wajah, dipandanginya wanita di depannya dengan sorot mata tajam. “Ckckck... kamu cantik sekali. Tapi sayang, GALAK! Pantasnya kamu jadi istriku, aku jamin akan selalu memuaskanmu!”  
Plakkk! Suara tamparan brigadir Avvy yang mengenai wajah Jabrik.
“Jangan kurang ajar kamu! Aku bisa menjebloskanmu ke penjara sekarang juga!” kata brigadir Avvy yang sudah tak dapat membendung kemarahannya.
“Silahkan saja kamu jebloskan kami ke penjara, kami tidak takut. Sampai kapan pun kami tak akan buka mulut!” kata Jabrik masih menatap tajam brigadir Avvy. “Tapi ingat, di luar sana teman kami banyak. Kami bisa saja meminta mereka untuk mencari dan memperkosamu, hahaha... bener nggak, Yon, wanita ini emang pantesnya dientot sampai teler!”
“Hahaha... benar, Brik. Aku suka sekali wanita ini. Kalau aku masih diberi umur panjang dan bisa keluar dari sini, aku pasti akan mencarimu, dan pastinya akan menidurimu sepuas hatiku. Hahahaha...” kali ini Yono yang melecehkan polwan cantik itu.
 Jabrik dan Yono membuat brigadir Avvy marah tak tertahankan, sontak saja wanita itu menjadi kalap. Dengan menggunakan pentungan di tangannya ia menghajar kedua orang itu sampai babak belur, sampai keduanya hampir tak bergerak. Saat akan kembali menghajar kedua pria mesum itu, tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan Kombes Bambang Haryadi masuk bersama dengan Bejo dan Maman serta Ucil.
“Hentikan semuanya itu, brigadir Avvy. Kamu telah menyalahi prosedur pemeriksaan, untuk itu kamu akan mendapat sanksi yaitu diskors selama satu bulan, dan untuk kedua orang itu mulai sekarang dibebaskan karena sudah ada yang menjamin mereka,” kata Kombes Bambang Haryadi.
“Ta-tapi, Pak... mereka itu sudah...” belum sempat brigadir Avvy menyelesaikan kata-katanya, Kombes Bambang Haryadi sudah memotong.
“Diam kamu! Atau kamu akan mendapat sanksi yang lebih berat karena sudah berani melawan perintah atasan?!” kata KomBes Bambang lebih tegas.
Brigadir Avvy pun diam meskipun memendam kekecewaan yang dalam. Tapi mau bagaimana lagi, ini sudah perintah atasan, ia tidak mungkin melawan.
“Bawa mereka pulang, Pak Bejo, biar saya yang akan mengurus anak buah saya.” kata KomBes Bambang Haryadi kepada Bejo.
“Terima kasih, Pak, sudah membantu kami.” kata Bejo.
“Sama-sama, Pak Bejo.” kata KomBes Bambang Haryadi.
Lalu Bejo dan Maman memapah Jabrik dan Yono yang sudah babak belur keluar dari ruang interogasi tersebut. Bejo masih sempat melirik kepada brigadir Avvy, ia menyeringai mesum ke arah polwan tersebut. Sementara brigadir Avvy yang melihat hal itu begitu jijik. Mereka pun meninggalkan kantor polisi tersebut dan kembali ke base camp, yakni ke rumah Somad.
Bagaimanakah kelanjutannya? Tunggu di episode berikutnya.

4 komentar:

  1. mantaaaaaaab, akhirnya muncul jua kelanjutannya meskipun lama.

    kelanjutannya jgn terlalu lama gan

    BalasHapus
  2. Mantap.. kalo bisa ada adegan fight nya suhu.. kan si avy ini polwan.. ga mungkin ga punya ilmu beladiri..

    BalasHapus
  3. jangn digangbang....buat bejo aja....

    BalasHapus
  4. avvy di gangbang bareng-bareng sama ismy aisyah gan, biar rame

    BalasHapus