Jumat, 14 Oktober 2016

Terjebak Nafsu 3



Matahari telah mulai turun ketika seorang perawat cantik keluar dari pintu samping Rumah Sakit yang sangat besar itu, menuruni tangga dan berjalan menyeberangi taman indah menuju ke arah gedung asrama khusus jururawat untuk wanita yang terletak di belakang. Rumah Sakit bernama Hospital Bumi Sehat itu milik swasta dan disponsori oleh perusahaan minyak serta pelbagai bank swasta yang menjadi tulang punggung dari perusahaan minyak bersangkutan. Perusahaan minyak internasional itu menjalankan pengeboran off-shore di lautjauh dari pantai Kuching di negara bagian Serawak.
Betapa lemah gemulai jalannya si perawat, meskipun tubuhnya rapat tertutup seragam perawat berwarna putih. Tanpa ada kesan dibuat-buat terlihat goyangan betis, paha serta pinggul montok, selalu menggoda mata lelaki untuk memperhatikan dan menimbulkan khayalan untuk meraba.

Di bagian depan seragam perawat yang rupanya pulang ke asrama setelah tugas itu tercantum papan nama Yayuk. Jikalau pandangan setiap lelaki akan tertarik dengan goyangan pinggul serta kelangsingan betis panjang bak padi membunting, maka panorama bagian tubuh Yayuk tak kalah akan membuat selera setiap pejantan langsung bergelora. Ketatnya seragam perawat tak dapat menyembunyikan kepadatan bukit kembar di dada Yayuk yang ikut mengayun lembut ke kiri ke kanan mengikuti langkahnya yang kini semakin mendekati pintu masuk asrama perawat.
Beberapa menit kemudian perawat bernama Yayuk itu telah masuk ke dalam kamarnya yang cukup besar untuk ukuran fasilitas seorang perawat, jauh lebih besar daripada kamar asramanya ketika ia masih bekerja di Indonesia dulu. Berkat kedudukannya yang memang baik di bagian anak-anak itu maka Yayuk memang berhak menempati kamar taraf itu. Honorariumnya pun jauh melebihi yang diperolehnya di Indonesia dulu, sehingga ia sanggup membayar sewa kamar yang besar itu. Kamar tersebut dilengkapi dengan kamar mandi / douche, wastafel, serta sanitair amat modern.
Kamarnya sendiri cukup luas dengan ranjang besar yang sebetulnya cukup untuk dua orang, karena Rumah Sakit itu juga sering menampung tamu orang asing, entah itu dokter spesialis Barat maupun perawat negara lain. Mereka pada umumnyaapalagi yang berasal dari negara Baratbertubuh jauh lebih besar daripada ukuran badan orang Asia. Oleh karena itu maka fasilitas yang tersedia di situ pun agak disesuaikan dengan standard orang asing.
Yayuk kemudian masuk ke dalam kamar mandi, dibukanya douche-cabine dan ia mulai melepaskan bajunya satu per satu, sehingga tak lama kemudian tubuhnya yang demikian ramping tapi montok telah telanjang bulat. Badannya yang tinggi langsing padat berisi mulai dibanjiri air hangat yang keluar dari douche-head, dinikmatinya rasa segar setelah penat seharian bekerja. Jari-jari lentik dengan lembut menyabuni seluruh tubuhnya, dari wajahnya yang ayu cantik, leher, ketiak, kedua gunung daging kebanggaannya, lanjut ke perut datar, selangkangan, paha serta betis mulus, sampai ke kakinya.
Tanpa disadarinya siraman air mancur dari douche-head itu menyebabkan kedua putingnya yang memang mencuat itu semakin keras menegang, apalagi ketika dengan lembut diremas-remasnya ringan. Jari-jari lentik itu kemudian turun ke arah selangkangan, dengan sangat teliti disabuninya daerah intim, baik bagian depan sekitar bukit Venus yang dihiasi rambut halus terawat rapih, beralih ke belakang di sekitar anusnya.
“Ughh...” Yayuk mengeluh halus penuh kelegaan karena semua daerah intimnya telah pulih dari semua pelecehan brutal yang dialaminya [baca kisah sebelum ini : Terjebak Nafsu bagian 1 dan 2]
Tak ada lagi bekas memar maupun rasa sakit yang menyiksanya, berkat jamu dan latihan kegel maka otot-otot lingkar vagina dan anusnya kembali seolah tak pernah dijamah lelaki. Yang paling ditakutinya : semua perlecehan yang dialaminya tak sampai menyebabkannya hamildan Yayuk berusaha melupakan semuanya dengan hidup baru, memusatkan perhatiannya terhadap tugasnya di bagian pediatri, terutama anak-anak penderita kanker.
Kehidupan baru Yayuk agaknya bertambah semarak karena sejak sebulan lalu masuk seorang dokter ahli penyakit anak-anak yang bernama Rodrigo Suarez. Dokter muda dari Brasil yang sedang mencari pengalaman di luar negaranya sendiri dan memiliki kontrak kerja dua tahun ini sangatlah ramah, manis budi pekerti dan telaten menolong para pasiennya.
Tak hanya kepada anak-anak kecil yang tentu saja umumnya takut menghadapi dokter, namun juga terhadap orang tua si anak-anak itu. Selalu diberikannya mereka penjelasan sehingga jelas mendetail, yang membuat hanya dalam waktu singkat dokter muda bertubuh tinggi, atletis dan berwajah ganteng ini telah menjadi favorit bagi pasien, dan tentunya juga di kalangan para jururawat yang masih single.
Mereka berlomba-lomba dengan segala macam cara untuk menarik perhatian sang dokter muda ganteng ini, namun agaknya Rodrigo tak begitu memperdulikan. Semua perhatian jururawat dijawabnya dengan ramah tamah, tidak ada satu pun yang memperoleh perhatian khusus si dokter, terkecuali... Yayuk. Kepada perawat cantik asal Indonesia itu agaknya si dokter lebih banyak bergurau dan bercakap-cakap, hal mana tentu saja menjadi bahan pergunjingan di situ.
Karena Rodrigo belum paham bahasa Indonesia, maka percakapan mereka dilakukan dalam bahasa Inggris, namun anehnya terlihat Rodrigo berniat belajar bahasa Indonesia. Sering dicobanya mengucapkan pelbagai kata dalam bahasa Indonesia atau Melayu, namun dengan logat asing yang lucu menyebabkan Yayuk tersenyum, dan bahkan tak jarang mereka akhirnya tertawa geli bersama. Rodrigo berdarah campuran Portugal dan Brasil, sehingga kulitnya pun coklat gelap bagaikan penduduk Amerika Latin, wajahnya khas penduduk Mediteran bercampur Barat.
Setelah lebih dari setengah jam Yayuk mandi sepuasnya di bawah pancuran air hangat itu, barulah ia keluar dari kamar mandi. Dengan hanya memakai beha dan celana dalam kecil berwarna krem,Yayuk kemudian mengeluarkan mantel batik yang berbentuk kimono dari lemari, kemudian ia berdiri di depan kaca besar dari lemari pakaian di kamar tidur.
Di situ Yayuk mengangkat kedua tangannya tinggi di atas kepala, kaki kirinya agak ditekuk ke depan sehingga hanya jari kakinya yang menyentuh lantai. Kemudian dengan gemulai Yayuk mulai menggoyangkan tubuh, terutama pinggulnya yang sekal montok berayun ke kiri ke kanan dengan gemulai. Kemudian gerakan sama dilakukan dengan kaki yang lain dan demikian berganti-ganti, sekali-sekali dadanya yang padat itu dibusungkannya ke depan. Apa yang dilakukan Yayuk saat ini adalah sekedar ulangan dari latihannya sejak dua minggu lalu.
Yayuk dan enam perawat lainnya memang sedang berlatih tari perut padang pasir untuk disajikan mereka tiga minggu lagi. Rumah Sakit HBS dimana Yayuk bekerja merencanakan malam pengumpulan dana untuk pembangunan unit baru bagi anak-anak penderita kanker, disertai dengan alat-alat kedokteran terbaru. Semuanya memakan biaya sangat mahal dan sumbangan dari negara pusat masih jauh dari cukup, sehingga timbul inisiatif dari Direksi untuk mengadakan malam pengumpulan dana. Dalam kesempatan itu direksi berniat untuk mengundang pelbagai perusahaan yang mempunyai keuangan kuat  disamping itu juga pemilik dan para pemegang saham dari perusahaan minyak off-shore yang memang menjadi sponsor rumah sakit tersebut.
Salah satu pemilik dan pemegang saham terbesarsekaligus juga teman akrab dari direktur rumah sakit ituadalah konsul jenderal dari salah satu negara Timur Tengah. Karena sang direktur rumah sakit mengenal bagaimana selera dari si konsul jenderal yang bernama Omar Said itu, yaitu wanita cantik dan tari perut, maka oleh sang direktur dipilih tujuh jururawat yang tercantik, diminta untuk berlatih menari perut dengan memakai pakaian khas penghuni harem; tujuh macam warna, tipis transparan dan tujuh lapis pula. Omar Said memang sangat menyukai angka tujuh : ia lahir tanggal tujuh, bulan tujuh, di tahun seribu sembilan ratus tujuh puluh tujuh.
Omar Said mengatakan pula kepada temannya melalui telpon ke sang direktur rumah sakit bahwa jika ada satu dua tiga penari muda yang ditaksirnya dan bersedia melanjutkan tarian perut di tempat kediamannya, serta melayaninya 'extra'  maka ia akan menyumbang lebih.
Lima perawat cantik yang dipilih oleh sang direktur berasal dari Malaysia sendiri, termasuk dua orang dari Serawak, dua orang berasal dari Indonesia : Maryah dari Minangkabau dan Yayuk.
Sebenarnya Yayuk tak mau melakukan pertunjukan seperti itu, namun CEO yang mengetahui bagaimana dedikasi Yayuk selama ini membujuknya dengan mencoba menyentuh hati Yayuk lewat hati nuraninya : ini untuk kepentingan anak-anak yang menderita penyakit kanker. Bujukan ini ternyata sangat ampuh karena Yayuk memang selalu sangat perduli dan prihatin terhadap anak-anak.
Untuk tak mengecewakan tokoh-tokoh penyumbang dengan uang berlimpah-limpah, terutama si konsul jenderal Omar Said, maka sang direktur HBS mencari pelatih tari perut yang betul-betul ahli.
Setelah mencari di pelbagai sekolah dansa akhirnya berhasil ditemukan pelatih yang memang sangat ahli dan telah beberapa kali dengan partnernya menang perlombaan dansa pelbagai style, tak hanya di pelbagai negara Asia, namun juga pernah di Amerika Latin dan bahkan di Eropa.
Ketujuh jururawat terpilih itu memang sangat cantik, semuanya dengan bentuk badan aduhai, sehingga bagi si pelatih sendiri pun di awal mula sukar menentukan : siapakah yang akan ditunjuk untuk menjadi pemimpin alias primadona dalam tarian perut harem "The Seven Veils" alias tujuh lapisan penutup (aurat).
Diperlukan lebih dari seminggu ketika akhirnya pilihan si pelatih ternyata jatuh kepada Yayuk, bukan saja karena bentuk tubuh Yayuk sedemikian ideal untuk penari, namun juga semua gerakan lenggang-lenggok pinggulnya sangat luwes, sangat lemah gemulai, tapi dimana perlu sesuai dengan irama latar belakang musik padang pasir dapat menghentak-hentak pula.
Yang paling menentukan adalah ekspresi wajah Yayuk mudah disesuaikan pula dengan tema cerita 1001 malam; wajah ayu manis dimana perlu disertai pandangan mata sayu memelas seolah seorang wanita yang mengetahui bagaimana nasibnya, pasrah mengharapkan belas kasihan. Ekspresi ini memang sangat disenangi oleh para lelaki asal Timur Tengah yang umumnya berjiwa 'macho', selain itu mereka kebanyakan memandang para wanita hanyalah sebagai budak belian.
Sang pelatih memuji Yayuk karena ia bagaikan memiliki bakat alamiah, dan semua petunjuk baik untuk gerakan tarian maupun ekspresi wajah tanpa banyak kesulitan dapat dikuasai oleh Yayuk. Entah semuanya memang karena bakat alamiah Yayuk atau secara tak disadarinya tercampur trauma dengan semua peristiwa yang telah dialaminya. Wallahualam.
Masih tiga hari lagi akan dilaksanakan malam pengumpulan dana itu, ruangan aula Rumah Sakit yang sangat besar itu telah diubah latar belakangnya seolah istana seorang emir atau sultan. Lapisan dindingnya pun diubah menjadi mosaik khas dari daerah padang pasir di Timur Tengah, dan yang tak kalah penting juga semua lampu ruangan sementara diganti dengan nuansa harem. Tidak diabaikan tentunya adalah persiapan akustik : musik yang dipakai untuk latar belakang tarian perut diambil dari irama padang pasir serta melodi dangdut. Dimana perlu maka spotlight akan dikonsentrasikan bergantian ke arah setiap penari, paling sering tentunya ke arah primadona.
Terutama di sepuluh menit terakhir diatur koreografi dimana secara sangat suggestif para penari perut itu seolah-olah striptease melepaskan pakaian tipisnya yang ketujuh alias yang terakhir. Pada saat itu sinar lampu akan disesuaikan warna lapisan terakhir pakaian tipis para penari yang sejauh mungkin sama dengan warna kulit, sehingga semuanya bagaikan berdiri telanjang bulat.
Bazaar pengumpulan dana itu akhirnya diputuskan untuk dilakukan di petang hari masuk malam Jum'at, karena hari Sabtu dan Minggu kegiatan rumah sakit hanya terbatas apa yang akut darurat. Dengan demikian maka jumlah para jururawat yang aktif bekerja juga dapat dikurangi sehingga mereka dapat menyambut para tamu berduit dalam bentuk pagar betis memakai pelbagai busana daerah masing-masing. Yayuk sengaja tidak ditugaskan sebagai barisan pagar betis penyambut tamu karena itu berarti ia harus berdiri sangat lama dan melelahkan sebelum ia nanti akan menari. Oleh sang direktur Yayuk diminta untuk duduk di meja penyambut tamu dengan buku daftar nama.
Yayuk memakai busana sarung kebaya daerah Jawa dengan rambut panjangnya disanggul. Busana kebaya brokat berwarna kuning dengan pinggiran renda itu terbuka sebagaimana lazimnya di bagian depan sehingga belahan buah dadanya jelas terlihat , terutama jika Yayuk menunduk.
Kain sarungnya adalah batik asli Surakarta berbahan mahal dengan motif yang sangat halus dibuat dengan tangan. Lipatan sarung itu yang ditahan di pinggang dengan stagen kelas satu membuat tubuh Yayuk sangat menarik untuk dipandang, terutama kain kebayanya sangat pas mencetak pinggang langsing ramping miliknya. Sarung yang bermotif candi dan pelbagai jenis burung cendrawasih itu sangat ketat membungkus pinggul, paha panjang dan betis jenjang hingga ke mata kaki Yayuk.
Di petang hari itu gedung tempat bazaar untuk pengumpulan dana penuh dengan tamu-tamu VIP, acara dimulai tepat waktu. Kata sambutan demi sambutan dari pelbagai pimpinan Rumah Sakit serta Yayasan mengucapkan terima kasih terhadap kesediaan para tamu menyediakan waktu hadir.
Acara kemudian dilanjutkan dengan uraian dari pelbagai dokter spesialis anak yang menjelaskan betapa pentingnya pengobatan baru di dalam bidang tumor ganas untuk anak-anak, yang mana sangat diperlukan perluasan gedung RS, penambahan dan pengembangan fasilitas, tenaga ahli perawat dan sebagainya. Dijelaskan pula berapa kiranya rancangan budget yang diperlukan untuk itu.
Setelah itu tampil pula beberapa insinyur dari perusahaan pembangunan yang mempersembahkan blue-print denah perluasan RS, berapa luas lahan yang diperlukan, berapa lama pembangunan akan berlangsung. Dilanjutkan dengan beberapa wakil dari perusahaan peralatan medis yang memperlihatkan alat-alat canggih baik untuk bidang diagnostik maupun pengobatan.
Sekitar jam tujuh malam, tibalah waktunya para tamu menikmati makan malam tujuh tahapan disertai pelbagai minuman segar, selama waktu itu musik mengiringi di latar belakang, baik hanya instrumentalia maupun juga dengan penampilan penyanyi yang sedang populer saat itu.
Setelah itu barulah tiba waktunya para tamu menikmati acara hiburan yang sebenarnya, yang dimaksudkan untuk memancing para tamu VIP berkantong tebal untuk melonggarkan kocek mereka. Pelbagai acara tari-tarian daerah yang sangat eksotis ditayangkan, dan sebagai puncak acara, muncullah tujuh wanita muda cantik dengan pakaian harem yang menari "tujuh hijab" alias “the seven veils”.
Para tamu laki-laki terpesona dengan tarian eksotis-erotis inidimana Yayuk menjadi primadona. Seorang Emir berpakaian khas negara Timur Tengah setengah baya terlihat berbisik-bisik dengan si CEO.
Sekitar jam 21.00 malam seluruh perjamuan dan bazaar berakhir. Semua peserta terutama ketujuh penari wanita dengan tarian mereka "the seven veils" memperoleh applaus dan sorakan dahsyat beberapa menit lamanya. Sebelum pertemuan itu ditutup, beberapa tamu VIP maju ke depan dan dengan berbasa-basi mereka mengucapkan pujian yang terkadang berlebih-lebihan kepada tuan rumah serta para penari.
Mereka menjanjikan secara terbuka bahwa mereka akan menyumbang suka rela dalam jumlah yang pasti akan memuaskan dan menutup semua biaya yang diperlukan dalam rangka perluasan Rumah Sakit itu. Salah satu dari tamu VIP yang bicara menutup acara malam itu adalah seorang Sheikh dari salah satu negara Persatuan Arab Emirate bernama Sheikh Aziz ibn Badullah.
Sambil mengucapkan kata-kata penutup dan menjanjikan jumlah yang akan disumbangkannya, mata dan pandangannya sering sekali ditujukan ke arah Yayuk yang telah duduk agak di sudut bersama dengan para penari "The Seven Veils" lainnya.  Setelah itu semua acara diakhiri.
Keesokan harinya yaitu Sabtu, Yayuk seperti biasanya sekitar jam 10.00 bersiap-siap keluar asrama untuk belanja di supermarket tak jauh di situ. Mendadak telpon di kamarnya berdering, dan ketika diangkatnya, dia terkejut mendengar suara sang Direktur RS : Mualamsyah yang memujinya sekali lagi atas sumbangan tarian kemarin malam. Selain itu sang CEO menanyakan Yayuk apakah sempat datang ke kantor HRD alias kantor manajer bagian urusan pegawai.
Sang CEO tidak menjelaskan lebih lanjut di telepon apa maksudnya mengundang ke kantor itu, ia hanya mengatakan bahwa ada tawaran kedudukan lain yang sebaiknya didengar oleh Yayuk sendiri. Sang CEO juga mengatakan bahwa selain Yayuk juga ada dua perawat lain yang diundang, juga ada urusan lain yang menyangkut peningkatan jumlah pengumpulan dana dari bazar kemarin.
Karena tak mengerti apa maksud si CEO maka Yayuk memutuskan untuk mendengar lebih lanjut apa yang dimaksudkan dengan tawaran kedudukan itu, terutama ketika ia mendengar bahwa ada dua perawat lain yang juga diundang untuk ikut berunding.
Ketika Yayuk keluar dari kamar apartemennya, ternyata di depan pintu terletak sebuah rangkaian bunga yang sangat besar, sangat indah namun tanpa ada nama pengirimnya. Tak habis mengerti Yayuk mengambil dan merapihkan serta menata karangan bunga itu di sebuah vas besar di kamar. Setelah rangkaian bunga itu diberi air secukupnya, barulah Yayuk berjalan menuju ke tingkat pertama RS, dimana selain ruang direksi juga ada ruang HRD.
Yang membukakan pintu adalah sekretaris dari HRD yang telah lama menduduki jabatannya, dan ternyata di dalam kantor itu duduk Mualamsyah, dua perawat rekan kerja Yayuk di RS, kepala bagian HRD dan Sheikh Aziz ibn Badullah yang kemarin hadir di malam pengumpulan dana.
Yayuk dipersilahkan duduk langsung di depan Sheikh, membuatnya kurang nyaman terutama karena tatapan mata si Sheikh yang oleh Yayuk dirasakan terlalu genit, walaupun Yayuk mengakui bahwa Sheikh Aziz ini walaupun telah cukup tua namun masih tetap ganteng dan gagah, sehingga Yayuk hanya menundukkan kepalanya.
Sang CEO yang melihat gejala ini langsung memulai percakapan dan memecahkan keheningan, "Selamat pagi semuanya, saya harapkan anda telah sedikit pulih dari keletihan akibat malam dana kemarin."
Sambil menoleh ke arah ketiga jururawat cantik bawahannya, sang CEO menambahkan, "Tentunya kalian telah dapat menikmati rangkaian bunga yang menghias depan pintu kalian? Sumbangan itu adalah dari Sheikh Aziz yang amat kagum dengan tarian *The Seven Veils* kalian kemarin. Perlu kiranya kalian ketahui bahwa ketika masih kecil Sheikh Aziz menikmati sekolah di Malaysia sehingga mampu berbahasa Melayu pula, meskipun kaku dan tak sempurna."
Keterangan itu disambut dengan anggukan kepala sang Sheikh
"Sheikh Aziz berniat merayakan ulang tahunnya yang ke lima puluh lima, lusa hari Senin di gedung konsulat negaranya, dan mengundang kalian menari hanya di hadapan kaum keluarga terdekatnya. Kesediaan kalian akan diberikan hadiah yang pantas yaitu Sheikh Aziz akan melipat gandakan sumbangannya untuk perluasan bagian anak-anak di Rumah Sakit kita. Oh ya, saya dan istri saya juga ikut diundang." demikian Mualamsyah melanjutkan keterangannya.
"Kalian cukup menari maksimal selama satu jam di hadapan istri, anak menantu dan delapan anggota keluarga saya," demikian sang Sheikh menambahkan dengan bahasa Melayu cukup lancar walaupun berlogat asing, "Pulang pergi tentu saja akan dijemput mobil konsulat."
Melanie, Rania dan Yayuk saling berpandangan satu sama lain karena sama sekali tidak menduga akan mendapat undangan dan tawaran semacam itu. Mereka tak langsung menjawab dan berniat untuk berunding bersama dulu, terutama Yayuk yang telah mengalami segala yang pahit di masa lalu tentu saja lebih curiga. Tapi karena tidak hanya ia sendiri yang diundang datang melainkan beberapa orang dari Rumah Sakit, termasuk  Mualamsyah dan istrinya, maka Yayuk bersedia pikir-pikit dulu dan ingin berunding semasak-masaknya dengan Rania serta Melanie.
Mereka diberikan kesempatan untuk berunding bertiga di kamar sebelah, dan Yayuk mengajukan persyaratannya yaitu ia tidak mau pulang pergi dijemput dan diantar pulang oleh mobil konsulat, namun dengan naik taxi. Selain itu Yayuk mengatakan bahwa ia tak mau menari jika direktur RS tak hadir di konsulat, ia langsung akan keluar dan pulang ke asramanya. Selain itu Yayuk hanya bersedia minum kalau sebelumnya telah dilihatnya bahwa minuman sama diminum pula oleh para tamu lain yang hadir. Dengan demikian ia ingin menghindarkan akan dibius lewat minuman.
Selain itu Yayuk hanya bersedia menari di konsulat tengah hari atau selambatnya sore / petang hari, tak mau di malam hari atau di luar mulai gelap misalnya mulai memasuki waktu magrib.
Kedua rekannya , Rania dan Melanie menggeleng-gelengkan kepala karena menganggap kekhawatiran Yayuk terlalu berlebihan, tapi akhirnya mereka setuju. Setelah itu mereka bertiga balik ke asrama.
Sebelum Yayuk pergi memenuhi undangan itu, maka bagaikan ada firasat aneh, ia menelpon Rodrigo Soarez, dokter yang juga menjadi atasannya di bidang medis. Rodrigo mendengarkan dengan seksama semua yang dikatakan Yayuk di telepon tanpa memutus pembicaraan. Setelah itu barulah ia mengutarakan kekhawatirannya, namun juga menegaskan bahwa ia tak ingin melarang Yayuk. Hanya dipesannya agar Yayuk berhati-hati, dan bahkan kali ini untuk pertama kalinya Rodrigo memberikan nomor telepon handphone pribadinya.
Rodrigo menutup percakapan mereka dengan kalimat dalam bahasa Indonesia ber logat asing, “Hati-hati ya, dear.
Yayuk terkejut mendengar perkataan dear itu. Apakah Rodrigo hanya sekedar basa-basi saja, atau si dokter ini menaruh hati padanya? Dan harus diakui memang Yayuk mulai tertarik kepada sang dokter yang tak pernah angkuh itu, selalu ramah tamah, sabar dan simpatik di matanya.
Semua yang direncanakan berjalan dengan lancar, tak terjadi yang aneh atau mengejutkan. Ketiga jururawat Indonesia yang cantik itu mempersembahkan tarian yang diminta oleh sang Sheikh. Mereka datang dengan menumpang taxi, semua minuman yang disuguhkan juga terlihat dituang dari botol sama seperti untuk si tuan rumah dan tamu lainnya.
Ternyata jumlah tamu yang hadir hanya terbatas yaitu :  Selain Sheikh Aziz dan istrinya, juga hadir tiga wanita keluarga dari istri Sheikh Aziz dan tiga saudara laki-lakinya yang bernama Samir, Abdullah dan Farouk.
Mereka duduk di satu deretan dengan Sheikh Aziz dan istrinya, namun agaknya mereka tak membawa keluarga mereka. Usia mereka semua kurang lebih sama seperti usia sang Direktur RS dan paling sedikit sekitar sepuluh tahun lebih tua daripada usia Yayuk, Rania dan Melanie.
Setelah acara tarian-tarian selesai, semuanya duduk di meja panjang untuk menikmati hidangan snack dan kopi yang ternyata sangat harum. Atas permintaan sang Sheikh mereka semua membuat foto bersama, dan ketiga jururawat itu masih dalam pakaian ketika mereka menari. Setelah itu mereka mengundurkan diri untuk menukar pakaian mereka kembali sebelum berniat pulang ke asrama.
Di ruangan tukar pakaian khusus, ketika mereka bertiga mengganti pakaian yang baru saja dipakai menari dengan pakaian mereka sendiri, terciumlah bau sangat harum semerbak memikat, nyaman menyegarkan melebihi segala macam parfum yang mereka kenal. Ketiganya mencari-cari dari mana datangnya sumber itu dan tanpa sadar menarik nafas dalam beberapa kalidan hanya beberapa menit kemudian mereka merasa sangat pusing.
Yayuk langsung sadar bahwa ini adalah jebakan, maka mereka bertiga berusaha dengan tubuh yang mulai sempoyongan untuk berjalan ke arah pintu. Namun ketika akan dibuka, ternyata terkunci dari luar! Ketiganya serentak berteriak-teriak sekuat tenaga sambil berusaha memukul-mukul pintu itutanpa sadar bahwa semakin mereka berteriak maka semakin dalam dan banyak udara mengandung obat bius yang mereka hisap, sehingga tak ada lima menit kemudian ketiganya telah tergeletak jatuh di lantai berlapis permadani tebal tak sadarkan diri

***

Tiga jam kemudian, di sebuah ruangan sangat tersembunyi

Perlahan-lahan Yayuk membuka mata, dirasakan tubuhnya telentang di sebuah tempat yang lembut halus. Sekelilingnya sangat asing baginya, namun udara ruangan di situ amat harum.
Ia menoleh ke kiri ke kanan karena dirasakannya semua sangat anĂ©h, “Apa artinya semua ini, dan ooooh... dimana aku ini, kenapa aku ada disini? Yayuk berusaha dengan benaknya yang masih terasa berat terputar-putar untuk rekonstruksi apa yang dialaminya sebelum ini.
Pada saat itulah pintu ruangan dibuka dan masuklah wajah yang Yayuk kenal sebagai Direktur Rumah Sakit dimana ia bekerja selama ini : Mualamsyah! Yayuk merasa jengah karena sang Direktur datang memasuki ruangan dimana ia sedang rebah seorang diri, selain itu Yayuk melihat tubuhnya tertutup selimut karena memang udara di ruangan itu sangatlah dingin.
Namun di bawah selimut“Oooooooh, di mana pakaianku?” pikir Yayuk dengan kaget, karena merasakan bahwa di bawah selimut itu ia hanya memakai pakaian dalamnya!
Menari! Menari! Ya, betul sekali! Terakhir aku berada di gedung konsulat perwakilan negara…, dan menari the seven veils bersama dengan kedua rekan kerjanya : Rania dan Melanie, dimana mereka?
“Pak, kenapa saya ada di sini? Di mana teman-teman saya Melanie dan Rania? Bukankah tugas saya telah selesai, ini... apa artinya ini semua, Pak?“ Yayuk berusaha menekan perasaan cemasnya.
Oooh, adik Yayuk tak perlu khawatir. Aman-aman saja di sini. Memang kita berada di ruangan bawah tanah, tepatnya dua tingkat di bawah tanah. Tapi masih di dalam gedung konsulat. Adik masih ingat emir kan, yang berulang tahun dan mengundang adik Yayuk menari di konsulat bersama Rania dan Melanie. Sekarang tenang saja, dik Yayuk, pokoknya semua telah beres diatur. Nanti saya suruh bawakan makanan minuman untuk adik yang pasti sudah lapar,“ sang Direktur memutar diri akan keluar.
Tunggu, Pak, tunggu! Saya masih mau tanya, kenapa dan apa maksudnya saya berada di rungan bawah tanah ini? Saya mau pulang ke asrama saya, Pak! Ini tidak termasuk perjanjian kita!“ Yayuk mulai gelisah dan sangat panik merasakan firasat sesuatu yang tidak beres. Pengalaman pahitnya ketika masih di kampung tanah airnya dengan para pemerkosa muncul kembali.
Namun CEO Mualamsyah telah membuka pintu keluar. Di ambang pintu ia masih membalikkan tubuhnya sebentar, memberikan tanda dengan telunjuk di depan mulut agar Yayuk tidak banyak bertanya lagi, lalu ia menghilang dari tatapan Yayuk.
Dengan tertatih-tatih Yayuk bangun dan melupakan dirinya yang hanya terselubung pakaian dalam. Dihampirinya pintu yang baru ditutup oleh Mualamsyah si Direktur RS, tapi ternyata pintu itu tak dapat dibuka begitu saja olehnya. Dengan sekuat tenaga Yayuk menggedor-gedor pintu tersebut, disertai dengan teriakan-teriakan putus asa. Namun semua sia-sia belaka, bahkan sebagian besar suara Yayuk teredam oleh dinding yang agaknya memang dibuat khusus untuk meredam suara.
Dengan lemas Yayuk kembali ke tempatnya semula dan menghempaskan diri di bawah selimut. Air mata mulai membasahi pelupuk mata, dan tak dapat dibayangkan nasib apa yang akan menimpanya di masa depan.
Beberapa menit kemudian pintu kembali terbuka, dan ternyata muncul dua orang pria bertubuh kekar dengan mendorong meja kecil, dimana di atasnya tersaji makanan yang tertutup, juga beberapa gelas berisi air jeruk dengan es. Kedua pria itu memakai seragam sebagaimana lazimnya pelayan di pesawat terbang, wajah mereka ganteng berkumis, namun cukup garang khas pria dari daerah Timur Tengah. Mereka menyapa Yayuk dalam bahasa Inggris yang beraksen Arab, lalu membuka penutup makanan itu, yang ternyata adalah masakan khas Indonesia.
Tanpa banyak komentar lagi kemudian mereka mengundurkan diri sambil mempersilahkan sebelumnya Yayuk menikmati hidangan tersebut. Di saat itu barulah Yayuk merasakan perutnya lapar, dan disadarinya jika ia tidak makan, maka keadaannya tidak akan lebih baik, bahkan sebaliknya. Yayuk berpikir bahwa dengan tubuh lemah ia tak mungkin akan dapat membela diri. Selain itu,  “Aku telah terlanjur berada dalam keadaan ini, musibah apa yang selanjutnya terjadi? Wallahualam, pikirnya. Mereka pasti tak mau membunuhku, jika mau pasti sudah lama mereka lakukan.  
Oleh karena itu Yayuk mulai menikmati hidangan tersebut yang berupa sop buntut sapi, daging rendang, cah sayur rebung dengan jamursemua hidangan itu memang sangat lezat sesuai selera Yayuk.
Setelah puas makan dan minum, Yayuk merasakan dirinya kini jauh lebih segar, dan ia mulai meneliti ruangan dimana ia berada. Ternyata kamar itu memiliki ruangan kamar mandi sendiri dengan peralatan mewah dan di situ pun tercium bau sangat nyaman harum.
Di belakang pintu kamar mandi itu tergantung kaca sangat bagus melebihi besar dan tinggi badan orang Indonesia. Di seberang pintu menuju kamar mandi terdapat pintu lemari yang ketika dibuka ternyata bagian belakangnya juga seluruhnya tergantung kaca. Yang membuat Yayuk tercengang adalah di dalam lemari itu tergantung tiga buah seragam putihnya sebagai jururawat. Semuanya sangat membingungkan pikiran Yayuk.
Apa maksud dari permainan sandiwara ini? Yayuk menggeleng-gelengkan kepala tak mengerti.
Yayuk beranjak kembali menuju tempat duduknya di ruang semula, dan pada saat itu barulah ia melihat di kaki ranjang ada sebuah amplop putih. Yayuk membuka amplop itu, dan ternyata di dalamnya ada sebuah surat yang setelah dibaca membuatnya termenung dan merinding.
Surat itu tertulis dalam bahasa Indonesia dengan gaya khas Malaysia, dan menerangkan bahwa Yayuk dan kedua temannya yang lain saat ini berada dalam ruang bawah tanah konsulat emirat... pribadi milik Sheikh Aziz.
Negara Emirat yang terletak di jazirah Arabia itu sangat kaya raya, namun sayang sekali masih amat tradisional, dimana tidak mungkin wanita asli di situ bekerja di RS yang baru dibangun. Oleh karena itu mereka mencoba menarik tenaga jururawat asing, terutama dari Asia Tenggara. Sang Sheikh sangat berkenan dengan rekomendasi Direktur RS di Malaysia mengenai jururawat Asia, maka Sheikh Aziz mengundang Yayuk untuk bekerja selama tiga atau lebih lama, dengan kemungkinan diperpanjang, sekaligus disertai tawaran honorarium jauh berlipat lebih tinggi daripada yang diterimanya di Malaysia.     
Yayuk berusaha menekan perasaan khawatirnya dan berpikir sejernih mungkin, apa kemungkinan yang dilakukannya untuk keluar dari dilema ini. Menjerit-jerit bagaikan histeris? Mengamuk serta merusak segala sesuatu di kamar itu? Yang menculiknya adalah orang-orang berkuasa yang pasti bekerja sama dengan Direktur Rumah Sakit dimana ia bertugas selama ini, jadi mereka sudah mengatur semuanya, dan mereka pasti memiliki kekebalan diplomatik. Artinya mereka tak mungkin dituntut untuk perbuatan apapun, selama itu bukan kasus pembunuhan.
Yayuk hanya menyesalkan dirinya sendiri, bahwa untuk kesekian kalinya ia tertipu mentah-mentah, terjebak ke situasi seperti ini akibat dari niat baiknya untuk menolong. Kini hanya satu tekadnya : jika ingin selamat, maka ia harus berpikir dengan kepala dingin, mencari akal dan kawan baru yang dapat menolong. Untuk itu ia harus berpura-pura dulu menurut, setelah itu barulah bisa meloloskan diri. Dengan tekad inilah Yayuk berusaha menenangkan dirinya.
Tujuannya kini hanyalah lolos dari lingkungan ini, segala patokan hidupnya selama ini telah punah. Semua bagaikan dunia penipuan, semua hanyalah permainan sandiwara, terlalu banyak orang yang dihormatinya ternyata menjebak menjatuhkannya. Yayuk berjanji pada dirinya sendiri : jika berhasil lolos dari jebakan ini maka ia akan pergi mengembara sejauh mungkin dari tempat ia dilahirkan, ia akan memulai membangun nasib masa depan tanpa pertolongan dan bantuan siapapun.
Karena itu, untuk menutupi tubuhnya, maka Yayuk kemudian mengambil dan memakai baju seragam putihnya sebagai juru rawat Rumah Sakit. Setelah itu dia kembali duduk.
Tak lama kemudian pintu terdengar diketuk, sejenak langsung terbuka, dan masuklah dua orang pria : kedua pegawai yang sebelumnya telah masuk membawakan makanan dan minuman. Namun kali ini mereka berpakaian khas daerah Timur Tengah, baju panjang jubah putih, juga kepala mereka ditutup dengan surban bermotif kotak-kotak kecil.
Mereka mengangguk sopan terhadap Yayuk dan menggerakkan tangan yang jelas mempersilahkan Yayuk keluar dari kamar dan ikut mengikuti mereka. Seorang berjalan di depan merintis jalan, kemudian Yayuk dan di belakangnya seorang lagi mengikuti, atau lebih tepat mengawal agar Yayuk tidak melarikan diri.
Setelah melalui beberapa belokan, mereka naik satu tingkat dengan menggunakan lift, kemudian memasuki sebuah ruangan yang sangat luas, dengan lantai tertutup permadani tebal. Ruangan itu dilengkapi pula dengan pelbagai meja berukiran sangat bagus dan tiga buah sofa sangat panjang serta lebar. Setelah mempersilahkan Yayuk duduk di salah satu sofa, kedua pengawal itu kemudian mengundurkan diri.
Yayuk tertegun melihat dinding ruangan yang penuh lukisan pemandangan sangat menakjubkan, mulai dari pegunungan dan air terjun hingga padang pasir. Kekaguman Yayuk menikmati semua yang berada diruangan itu terganggu oleh bunyi pintu yang terbuka kembali, kali ini yang masuk hanya seorang, yaitu Samir, saudara sulung Sheikh Aziz yang telah dikenalnya kemarin ketika sebelum mempersembahkan tarian di hadapan para tamu.
Dengan tatapan tajam disertai seringai yang terlihat agak dibuat-buat, Samir melangkah lebar menuju ke depan meja mewah di hadapan sofa besar. Tanpa mengucapkan sepatah katapun ia meletakkan laptopnya di situ, kemudian dibuka, diputarnya sehingga displaynya dapat dilihat oleh Yayuk. Setelah itu Samir menekan sebuah tombol, lalu dengan tenang menghempaskan diri duduk di salah satu sofa sambil memperhatikan reaksi Yayuk. Laptop itu dihubungkan dengan proyektor bluetooth yang berada di langit-langit ruangan, Samir menekan sebuah remote kontrol dan beberapa detik kemudian tampaklah adegan di dinding kamar.
Di rekaman itu tampak sebuah ruangan sangat luas, tanpa ada perabot sedikit pun, hanya di bagian dinding terlihat perlengkapan bermacam-macam rantai logam, pelbagai besi belenggu, berada di ketinggian sekitar dua meter, dan juga di bawah setinggi beberapa sentimeter dari lantai. Sejenak kemudian muncullah dari sudut ruangan beberapa lelaki berwajah kaku menyeramkan berkumis jenggot khas daerah Timur Tengah. Mereka menyeret dua orang wanita yang diikat tangannya di punggung, mata keduanya ditutup kain hitam, tubuh keduanya hampir telanjang karena hanya memakai celana dalam saja.
Meskipun mereka terlihat meronta-ronta dan menjerit, namun dengan mudah kedua wanita muda itu digeser ke dinding, tangan kaki mereka direntangkan sehingga berbentuk huruf X, lalu pergelangan tangan dan kaki mereka dimasukkan ke dalam belenggu, sehingga akhirnya mereka terlihat hanya dapat menggeliat meronta-ronta tak berdaya. Adegan rekaman itu hanya berdurasi lima menit tapi cukup membuat Yayuk merinding menyaksikannya.
Setelah rekaman di kamar penyiksaan itu berakhir, ternyata setelah itu menyusul rekaman lain, dan kali ini menambah rasa kengerian Yayuk tercampur rasa malu tak terkira. Dilihatnya kembali ruangan tempat menukar pakaian, dimana dirinya menggeletak terbius di lantai masih dalam baju tarian daerah. Tiga orang pria berpakaian khas Timur Tengah berdiri mengelilingi tubuhnya, salah satunya adalah Samir sendiri yang memegang alat perekam. Kedua pria bertubuh kekar kemudian menggotong badan Yayuk dan membawa ke kamar dimana tadi ia sadar kembali.
Terlihat kemudian kedua pria pengawal Samir itu meletakkan Yayuk di ranjang, melepaskan baju Yayuk yang dipakainya untuk menari, sehingga ia hanya memakai baju dalamnya. Setelah itu Samir menyerahkan camcorder yang tetap kontinu merekam semua adegan itu kepada salah satu pengawalnya, dan dengan sangat kurang ajar Samir menggeser beha Yayuk sehingga terlihatlah kedua bukit kembar putih padat dengan puting merah tua kecoklatan sangat menggemaskan.
Tak cukup sampai di situ saja, setelah beha Yayuk dirapihkan kembali menutup payudaranya, Samir kemudian menarik dan menurunkan cd Yayuk, merenggangkan kedua paha mulus Yayuk sehingga tampak jelas celah surgawi Yayuk yang tersembunyi di balik bukit Venus dilingkupi dengan bulu halus sangat terawat dan dicukur rapih. Terdengar gelak tawa ketiga pria jahanam itu dalam rekaman, sementara Yayuk merasa kedua pipinya merah panas karena amat malu, dan air mata berlinang di pelupuk matanya, menyesali nasibnya kembali terjerumus dan terlecehkan.
Tak lama kemudian adegan dari rekaman itu berakhir dan Samir menutup kembali laptopnya.  
Yayuk menyadari apa maksud dan tujuan pertunjukan dari Samir, apalagi ketika Yayuk melirik dengan sudut matanya melihat betapa Samir menyeringai sinis serta mata berbinar-binar penuh nafsu.
Menyadari situasinya yang sangat tak berdaya maka Yayuk berkeputusan untuk membiarkan saja Samir melampiaskan nafsu kepadanya. Yayuk akan berusaha untuk sedingin mungkin, tak akan membalas segala rayuan gombal atau pendekatan fisik apapun, demikianlah tekadnya.
Benar saja dugaan Yayuk, tanpa menunggu lama Samir mendekat dan duduk di sampingnya. Lengan kirinya langsung merengkuh dan memeluk pinggang Yayuk yang langsing. Tanpa basa-basi dan rayuan apapun kemudian tangan kanannya menyentuh dagu Yayuk, menolehkan wajah Yayuk ke arahnya lalu mulai mengecup dan menciumi bibir Yayuk yang menutup erat. 
Dengan sangat bernafsu Samir menciumi pipi dan mulut Yayuk. Sebagaimana umumnya orang Timur Tengah maka Samir memiliki hidung dan mulut lebih besar serta tebal dibandingkan dengan orang Asia Tenggara. Ditambah dengan kumis baplang serta dagu yang tidak dicukur sejak seminggu membuat Yayuk merasakan bagaikan wajahnya diusap dengan sapu ijuk.
Yayuk memejamkan mata dan berusaha melepaskan semua konsentrasi dari keadaan ini, pikirannya diusahakan kembali ke arah pengalaman masa kecil di sekolah yang selalu gembira. Dicobanya untuk mengingat betapa bahagianya saat itu ketika ibundanya masih hidup, menyambutnya penuh kelegaan jika Yayuk selamat pulang dari sekolah, lalu menyediakan hidangan lezat di dapur.
Samir merasakan taktik Yayuk itu, namun ia tak khawatir karena sudah mempunyai pengalaman cukup banyak dengan wanita. Baik wanita dari suku bangsanya sendiri yang miskin dan dengan mudah dibelinya  dari orang tua bagaikan membeli unta atau kambing. Demikian pula dengan istri dari pelbagai pegawai bawahannya yang dengan tak terlalu sukar digaetnya ketika sang suami diberikannya tugas ke tempat jauh. Para istri itu tidak berani melapor karena khawatir akan diceraikan oleh suaminya sendiri. Dalam beberapa tahun terakhir bahkan Samir dapat menikmati pelbagai anak gadis muda dari negara-negara Asia Tenggara yang bekerja sebagai tenaga kerja di daerah emiratnya. Bahkan kebanyakan dari gadis itu berasal dari kampung yang sangat lugu, dan walaupun tak terlalu cantik namun pada umumnya masih gadis belum pernah dijamah lelaki.
Kali ini Samir menghadapi lawan lain : seorang wanita terpelajar, cantik jelita, mungkin dari usianya bukan lagi gadis murni, namun karena melawan justru sangat menimbulkan nafsunya.
Karena Yayuk tidak bersedia begitu saja menerima pendekatan dan rayuannya, maka Samir kini bangun dari sofa, dengan tetap merangkul pinggang Yayuk maka calon korbannya itu dipaksa untuk ikut bangun. Kemudian tangan Samir dengan cekatan melepaskan satu persatu kancing baju putih seragam perawat Yayuk dari atas hingga ke bawah. Kini tampak tubuh Yayuk yang sangat mulus, langsing semampai namun penuh liku-liku kewanitaan. Dengan menurunkan baju seragam perawat itu melalui kedua bahu Yayuk, maka jatuhlah pakaian itu ke lantai, dan Samir kini berhadapan dengan Yayuk yang hanya memakai beha dan cd.
Yayuk tetap melengoskan kepalanya ke arah dinding dan berusaha mengabaikan segala sesuatu yang dilakukan Samir. Dengan senyum lebar bagaikan pedagang budak belian di daerah padang pasir kini Samir melepaskan kaitan beha di punggung Yayuk, sehingga lepas dan jatuh pula sang penutup buah itu k elantai, dan kegiatannya segera dilanjutkan dengan menarik cd berwarna krem coklat muda melewati bulatan pinggul Yayuk, melewati lututnya, akhirnya jatuh ke lantai.
Kini sempurna sudah Yayuk berdiri telanjang bulat di depan Samir.  Dan walaupun Yayuk telah bertekad untuk mengabaikan dan mengacuhkan semua yang akan terjadi, namun ketika penutup auratnya terlepas jatuh ke lantai maka nalurinya sebagai wanita alim shalihah mengalahkan rasa ketidak perdulian itu, dan secara refleks lengan dan tangannya berusaha menutupi aurat. Tangan dan lengan kirinya berusaha menutup buah dada, sedangkan telapak tangan kanannya melindungi bukit venus-nya. Bahkan dengan sedikit menunduk diusahakan agar daerah segi tiga di selangkangannya semakin menyempit dan dapat terlindung oleh telapak tangannya itu.
Samir tetap menyeringai dengan mesum dan kini bahkan tanpa rasa jengah sedikit pun dilepaskan dan dilucutkannya jubah yang ia pakai, ternyata di bawah pakaian itu ia hanya memakai celana dalam boxer, yang juga langsung dilepaskannya pula. Muncullah kemaluan yang besar, hitam legam, masih dalam keadaan  istirahat, disertai dengan tubuh tegap kekar, sangat kontras dengan mangsanya yang terlihat mungil dan lemah di hadapannya. 
Hmmmmmh... bagus, bagus... cantik, cantik... gadis bagus, cantik, montok... buka, buka!“ agaknya Samir belum terlalu banyak menguasai bahasa Indonesia, sehingga hanya mengeluarkan beberapa kata seadanya yang diketahuinya.
Selain itu pada saat menghadapi wanita muda secantik Yayuk, maka semua kemampuan berpikir Samir hanya terpusat satu : bagaimana sebaiknya ia menguasai korbannya, bagaimana caranya menembus pertahanan sang korban, sehingga ketidakacuhan Yayuk akan berubah menjadi gairah bergelora.
Samir tersenyum iblis dan dengan sangat perlahan ia berdiri di samping kanan Yayuk, lengan kirinya diletakkan di belakang leher Yayuk, sedangkan lengan kanannya dilekukkan di belakang sendi lutut Yayuk. Kemudian dengan sangat tiba-tiba Yayuk yang hanya setinggi bahu sang pejantan itu diangkat dan digendong oleh Samir. Tak pernah Yayuk mengalami hal ini, tak pernah ada lelaki asing yang menggendongnya dari posisi berdiri secara sangat tiba-tiba.
Kembali secara refleks terkejut alamiah Yayuk mengkhianatinya : kedua tangannya merentang ke samping seolah ingin menggapai dan memegang sesuatu untuk mencegah badannya agar tidak terlepas dan terbanting ke tanah, karena pijakannya mendadak hilang. Dan ketika merasakan bahwa tubuhnya digendong, maka secara refleks pula Yayuk menolak dan memukul-mukul ke dada Samir.
Namun hal itu sama sekali tak berguna, Samir hanya mengangkat dan menggendong Yayuk sebentar, lalu diletakkannya kembali secara tiba-tiba di sofa.  Setelah itu Samir langsung merebahkan dirinya di samping kanan Yayuk, lengan kanan Yayuk telah tertindih tubuh Samir, pergelangan tangan kiri Yayuk dicekal tangan kiri Samir di atas kepala sehingga tak berkutik.
Paha kanan Yayuk juga mengalami hal serupa : ditindih oleh paha kiri Samir, sedangkan paha kanan Samir dengan paksa mendorong menguakkan paha kiri Yayuk. Dengan demikian maka selangkangan Yayuk kini dipaksa merentang selebar-lebarnya, walaupun Yayuk berusaha menutup dan mengatupkannya kembali, namun tentu saja kalah tenaga. Samir masih memiliki tangan kanan yang bebas dan mulailah ia menggerayangi tubuh mangsanya.
Hmmmmh... baguus, baguuuus... montook, montoook... hhhmhhh, susuuuu bagus!“ Samir mengucapkan beberapa kata bahasa Indonesia yang diucapkan dengan logat daerah Timur Tengah.
Pujian gombal itu dikeluarkannya sambil tangan kanannya mengusap dan meraba serta meremas buah dada Yayuk bergantian. Jari-jarinya yang besar dengan kasar memijit dan menjepit kedua puting Yayuk secara bergantian pula, terkadang hanya memilin, namun sejenak kemudian mencubit keras, bahkan memakai kukunya. Hal ini tentu saja tak diduga oleh Yayuk yang dengan suara tertahan memekik, suaranya diusahakan ditahan, sehingga hanya mulutnya saja yang terbuka.
Kesempatan ini dipakai oleh si penyiksanya yang langsung membekap merangkum dengan mulutnya yang besar, lidahnya dengan kurang ajar menerobos masuk. Yayuk merasakan bau kurang menyenangkan, ludah Samir berkecipak memasuki mulutnya, beraroma bagaikan buah kurma yang sudah membusuk, tercampur bau tembakau dan entah ramuan apa lagi.
Samir tak memperdulikan Yayuk yang masih berusaha bertahan tak memberikan reaksi dan menahan napasnya selama mungkin. Tangannya tak hanya menggerayangi buah dada, menyiksa kedua puting, dan kini menyelusur menggelitik ketiak, sehingga mau tak mau Yayuk pun menggeliat.
Hehehe... geli ya? Enaaak ya? Baguuuuus begitu... ini geli, ini ngiluu... houri cantik!Jari-jari Samir mengiringi rayuan yang memuakkan perasaan Yayuk kini mulai turun mengelus kulit perutnya yang datar. Telunjuk kanan Samir bahkan dengan sadis menusuk-nusuk pusar Yayuk, seolah ingin melubanginya, lalu semakin turun, menggerayangi bagian bawah pusar.
Tak lama kemudian tangan kasar Samir mencapai bukit Venus, memilin-milin bulu jembut halus terawat yang ada di situ, meraba-raba dan menjelajah mencari belahan sempit, dan setelah menemukannya mulailah jari-jari kasar dan besar itu menyelinap ke dalam.
Huuuuh, houri cantik... baguuus, sempiit, hmmmmmmh... basaaaah, liciiiiin, sempiiiiiit... hehe, faradj gadis Indonesia baguuuuus, sempiiiiiit, susaaah masuuuuk, firdauuuuus bumi, hehehe...“ Samir berceloteh tak putus-putus, sambil tak hentinya kini menjilati telinga Yayuk dan meniupkan napas baunya ke liang kecil itu, membuat Yayuk bergidik kegelian, apalagi memeknya terus dicolok-colok.
Samir yang telah banyak pengalaman dengan wanita merasakan perubahan dalam perlawanan korbannya. Semula terasa betapa tubuh Yayuk lemas-lunglai, sama sekali tak ada perlawanan karena memang Yayuk sama sekali tak ingin memberikan perlawanan. Dengan rangsangannya yang cukup ahli, maka mangsanya mulai terbangun dan tergugah hormon kewanitaannya.
Di rejangan ketat Samir mulai terasa ada sesuatu yang hidup,  rasa tak nyaman karena rabaan dan remasan di pelbagai bagian yang sangat peka, disertai kegelian di liang telinga, dan hangat di dalam liang kewanitaannya, membuat tubuh Yayuk mulai menegang. Bahkan Samir merasa adanya getaran halus di permukaan kulit yang sedemikian halus itu, dan juga bulu badan Yayuk yang memenuhi semua lapisan kulitnya ikut berdiri. Tak berbeda jika seseorang bergidik dan menggigil kedinginan maka tanpa disadari dan diinginkan Yayuk bulu-bulu halus badannya ikut berdiri, mulai dari kuduknya sampai ke paha dan betisnya yang sedemikian halus mulus.
Samir tersenyum dan memuji dirinya sendiri yang berhasil mengubah perlawanan mangsanya, dari sikap ketidakacuhan dan masa bodoh kini bagaikan api dalam sekam mulai menyala ke arah permukaan. Dengan penuh semangat Samir melanjutkan tindakan mesumnya : jari-jarinya makin nakal mengorek-ngorek di lipatan bibir kemaluan Yayuk, dikutik dan dikuakkan bagian atasnya, sehingga akhirnya teraba sebuah tonjolan daging kecil yang tersembunyi.
Kini Samir memakai lagi keahliannya yang tak pernah gagal : jari telunjuk, jari tengah dan ibu jarinya menjepit si daging kecil itu, memilin-milin dan mencubit dengan mesra, terkadang digaruknya dengan kuku yang agak tajam, mengakibatkan seolah sengatan listrik menyerang klitoris amat peka itu.
Yayuk tak dapat melawan lagi serangan yang begitu ahli tersebut, napasnya kini mulai memberat.
Hehehe, daging baguuus... daging gadis indonesia bagus, tidak hilang disunat, hehehe!“ demikianlah Samir mengoceh dengan perbendaharaan kata seadanya yang ia kenal.
Yayuk tidak sanggup lagi mempertahankan diri, tubuhnya berusaha menggeliat dalam rejangan himpitan Samir, semuanya hanya sia-sia bahkan justru menyebabkan meningkatnya kegairahan Samir. Dengan penuh kepuasan Samir merasakan betapa semakin basah dan licin dinding kewanitaan Yayuk, air mazi kewanitaannya semakin mengalir keluar dari sumber kelenjar, makin membasahi jari-jari sang pemerkosa.  Nafas Yayuk semakin memburu, berat, terengah-engah, kepalanya semakin menengadah ke atas. Hidung bangir dengan lubang mungil itu kini kembang kempis, dan dari belahan bibirnya terdengar lenguhan serta desahan halus amat menggairahkan.
Ssssh, egggnnggh, oooooh, aaauuuuhh, sssssshshhh, aaaaaaah, sssssshhhhh...“ Yayuk mengeluh dan mendengus tanpa sadar, naluri kewanitaannya mulai mengalahkan keinginan perlawanannya, dan Samir langsung menanggapinya dengan membalikkan tubuhnya sendiri menindih tubuh Yayuk hingga sepenuhnya berada di bawah.
Apapun usaha Yayuk untuk menolak mendorong, kini ia telah berada di bawah kekuasaan sang pemerkosa. Kembali Samir mencium mulut Yayuk penuh kerakusan, kedua buah dada si mojang Parahiangan dijadikannya permainan tangan serta jari-jarinya, diremas dan dipilin dengan gemas. Setelah itu ciuman mulut besarnya menurun dan mencaplok puting yang telah mencuat menantang, disedot dan digigit-gigit penuh kesadisan.
Bagian bawah badan Samir telah sempurna ditempatkan di tengah selangkangan Yayuk, dan dirasakanlah oleh si jururawat cantik ini betapa batang kejantanan Samir yang telah mengeras itu mencari-cari akses di antara belahan bukit kemaluannya.  Rudal daging itu menusuk-nusuk ke kiri ke kanan dan menyeruak mencari lembah memeknya, beberapa kali meleset namun akhirnya berhasil terjepit di antara bibir memek. Sejenak Yayuk merasakan ketegangan otot-otot bawah tubuhnya karena menyadari akan terjadi kembali puncak pelecehan yang selama ini sangat dibencinya.
Namun sungguh di luar dugaan, Samir yang telah berhasil menempatkan kepala jamur rudalnya di tengah bibir kemaluan itu ternyata tak bermaksud untuk bersetubuh langsung. Ia ingin agar Yayuk yang meminta untuk digarap, kemenangannya tak dianggap sempurna jika sang korban diperkosa demikian saja. Karena itu Samir malahan menghentikan kegiatannya, ia mengangkat sedikit kepalanya dan dengan senyum penuh kemesuman dan kegairahan ia mengawasi Yayuk.
Tanpa diinginkan, Yayuk melengoskan wajah karena ia merasa bahwa lelaki jahanam yang tengah menguasainya ini berbeda dengan lelaki lain yang telah memperkosanya. Jika lelaki lain sebelumnya hanya langsung mencari kepuasan diri mereka sendiri, maka Samir ini ingin lebih : ia menginginkan penyerahan total dan kepasrahan mutlak, Samir ingin menunjukkan kekuasaan dan kemampuannya menaklukkan wanita yang sebagaimana umum di negaranya tak mempunyai hak apapun, hanya hidup terkurung untuk memuaskan hawa nafsu lelaki.
Yayuk kembali menangis.
Gadis baguuuus, biar bikin lebih liciiiiin, cakaaap lebih ghataaaaaaal, hehehe... gataaaal supaya banyak keluar maduuuu, madu melayu saya mau minum, hehehe...
Sambil menurunkan tubuh ke arah bawah, tanpa peringatan apapun lagi wajah Samir kini berada di tengah selangkangan Yayuk dan mulai menjilati bukit venus terlindung bulu halus itu. Tanpa memperdulikan desahan dan isak tangis Yayuk yang tanpa sadar menggeliat-geliat lemah, Samir menempelkan bibir tebal dower dengan kumis lebat dan jenggot bagaikan kambing gunung itu di tengah liang surgawi sang gadis.
Hmmmmh... wangiiii, haaruuum, houriii haruum... slrrrp, hmmmh... maniiiiis, faradj akhiraaat, hhmmmmh... enaaaak!
Bagaikan kesetanan Samir mengecup, menciumi dan menjilati liang kenikmatan Yayuk, lidahnya menyelinap mengusap dinding kiri kanan, mencari, menjepit kelentit yang tersembunyi, menyebabkan si mojang parahiangan menjadi semakin menggelinjang dan gelisah mendesah mengeluh, disertai isak tangis yang justru semakin memacu nafsu Samir.
Samir kini telah memusatkan perhatiannya ke daging kecil di lipatan bibir kemaluan Yayuk, bibirnya menjepit mesra namun mantap kelentit yang kemerahan itu, dikecup dan dijilatinya tanpa henti, berganti-ganti digesek dengan janggutnya yang berbulu kasar.
Yayuk pun lupa tujuan maksud pertahanannya dengan mengabaikan rangsangan si pemerkosa, tubuhnya yang penuh dengan syaraf wanita dewasa tak dapat meremehkan dan mengabaikan lagi kebutuhannya. Wajahnya menengadah ke atas, mulutnya mulai terbuka, dengusan napasnya kini semakin pendek dan memburu, keluhan, dengusan dan lenguhan ketidak berdayaan memenuhi ruangan. Bahkan jari-jari tangan Yayuk tanpa disadari merengkuh melibat rambut ikal Samir, menekannya ke bawah seolah ia menginginkan lidah Samir semakin dalam masuk ke liang memeknya.
Namun yang dikerjakan Samir saat ini adalah menggunyeng dan menggewel mutiara kewanitaan korbannya. Dikulum dan digigit serta dikunyahnya kelentit Yayuk penuh nafsu.
Aaaaah, aaaaauuuuw... udaaaaaaah, geliiiiii... ooooooh, stooooppp... sayyaaa ooooh... maauuuu pipis... janggggnnnn... aaaiiiih, aaaaaaah, iyaaaaaaaaahhhhh!!
Dengan lengkingan bagai histeris akhirnya Samir berhasil memaksa Yayuk memasuki orgasmenya yang pertama. Tubuh Yayuk kejang dan menghentak ke sana-sini, namun Samir tak perduli dan tetap mengulum, menjilat, menggigit klitoris Yayuk, dan menanyakannya berulang-ulang apakah penjarahan itu dihentikan atau akan dilanjutkan.
Yayuk tak sanggup menolak lagi keinginan tubuhnya, rasa penolakan kebencian terhadap perkosaan yang sedang dialami akhirnya punah musnah, terganti rasa ingin dipuaskan.
Hehehe... enaaaak ya? Ayooooooh ngoomoong, ngaakuuuu, maau dijilaaat teruuuus, atawa dimasukin lobang bawahnya? Hehehe, mau dijebol ya memeknya?“ tanya Samir.
Oooooh, eggnnnghhha, aaaiiiiih, auuuuuuw, tolooong... oooooh aaaaah, iiiyyyaaaah... saya kalah... iyyaaaaahhh, masukiiiin!“ Yayuk telah melupakan rasa malu dan rasa putus asanya.
Hehehe, udaaah gaataaal ya... houri firdausi, mau masukiin sendiri ya batang arab ini, ngakhhuulah!” demikian Samir merasakan bahwa pertahanan Yayuk telah lumpuh sama sekali.
Ia menarik tubuhnya kembali ke atas, dan penisnya yang telah mengeras membesar kembali menyentuh dan berkedut-kedut di depan pintu celah kemaluan Yayuk yang telah basah kuyup dan kembang kempis menantikan alat kejantanan. Samir dengan senyuman iblisnya meraih tangan Yayuk dan diantarkannya untuk memegang rudal.
Benar saja : jari-jari lentik itu hampir saja tak sanggup mencekal penis Samir yang sangat besar, namun bagai tak sabar Yayuk menarik penis itu dan mengarahkannya ke tengah celah surgawi miliknya. Setelah ketemu, maka kepala penis itu terjepit diantara bibir kemaluan Yayuk. Inilah saatnya kemenangan Samir.
Sssshhhhh... seemmpiiiit, keciiil amaaat nih faradj... oooooh hourrri, niiikmaaatnya... mau masuuuk lobaaang... saakiiiit enggak? Enak enggak? Tahaaaann yaaa...“ Samir merem melek merasakan jepitan otot vagina Yayuk yang juga memijit-mijit penisnya yang makin masuk.
Ngggghhhh, oooooooh, auuuuuuw... iiiih, ngggiluuuuu... udddaaahh, oooooh iyaaaah... nikmaaat, teruuuuus, teruuuuuuss, ssssssh, aaaaaaaah...“ Yayuk tak menyadari sekelilingnya. Yang dirasakan hanyalah batang kejantanan Samir yang sedang menusuk, menggali dan menggesek dinding selah kewanitaannya yang telah dirangsang Samir sehingga terasa sangat panas, gatal dan basah kuyup.
Dengan penuh keahlian Samir menggarap Yayuk, mundur maju, tarik dorong, memelintir ke kiri ke kanan, perlahan berganti dengan kasar, kemesraan disusul dengan kesadisan, semua dilakukan dengan sengaja karena Samir ingin membuktikan kejantanannya melebihi kemampuan lelaki lain yang pernah mencicipi tubuh Yayuk selama hidupnya sampai saat itu.
Yayuk dikerjai dari segala macam posisi : ditindih dan direjang sehingga merasa susah bernapas, berikutnya Samir telentang dan Yayuk dipaksa untuk menancapkan dirinya sendiri dalam posisi woman on top. Kemudian Samir memasuki vagina dalam keadaan menyamping, baik berhadapan langsung maupun menghadapi punggung dengan punggung. Namun yang paling lama adalah dalam posisi nungging, dan ini lebih memungkinkan Samir masuk sangat dalam, apalagi ketika Yayuk protes dan menggapaikan tangan ke belakang, maka justru langsung ditelikung.
Sodokan-sodokan Samir semakin sadis, satu tangan kiri mencengkeram kedua nadi langsing Yayuk dan menelikung di punggung, sedangkan jari tengah dan telunjuk tangan kanannya bergantian menusuk anus Yayuk sedalam mungkin menyebabkan Yayuk menjerit mendesah, sambil meronta-ronta tak berdaya.   
Yayuk hanya mampu melenguh, mendengus dan merintih-rintih merasakan rahimnya nyeri luar biasa dihunjam dengan rudal perkasa itu. Rasa ngilu dan perih, panas dan gatal, sakit namun nikmat, ingin dihentikan namun sekaligus ingin permainan dilanjutkan. Yayuk tak tahu lagi mana yang lebih menyiks; rasa ngilu sakit atau gatal nikmat, tubuhnya menggeliat resah tiada hentinya.
Aaaaaah, auuuuuw... iyaaaaah, teruuuuuusss... jangaaaaan berhentiiii... auuuuuw aduuuuuh, ooooh, nikmaaaaaaaaattttt...“ disertai kejangan tubuh yang menekuk bagaikan terkena aliran listrik, akhirnya Yayuk dikalahkan total oleh Samir. Jutaan bintang bagaikan kunang-kunang memenuhi pelupuk matanya, sebelum semuanya abu-abu dan perlahan-lahan semuanya menjadi gelap.
Malam itu panjang sekali, Yayuk dipermainkan oleh Samir dan dipaksa untuk memenuhi semua keinginan si pejantan yang bagaikan tak pernah puas menggarap tubuh mojang cantik itu.
Tak puas hanya membanjiri rahim Yayuk berkali-kali, sebelum mengakhiri permainan sadisnya, dijanjikannya bahwa dalam pertemuan mereka berikutnya ia berniat memasuki portal sodom Yayuk yang terlihat begitu kecil mengundang untuk dijarah semalaman.
Akhirnya Samir memaksa Yayuk yang telah setengah pingsan itu untuk meminum air pejuhnya, dan karena Yayuk mula-mula menolak, maka Samir menindihnya kembali, mencubit kedua puting yang begitu tinggi mencuat. Ketika Yayuk menjerit sekuatnya dan membuka mulut maka segera dijejali oleh pentungan daging, membuat Yayuk kesulitan untuk bernafas.
Sebelum berhasil protes maka Samir telah memaju-mundurkan penisnya sambil akhirnya menekan ke langit-langit serta kerongkongan yang lembut bagai beledu. Tak lama kemudian mulut Yayuk dipenuhi sperma yang sangat menjijikkan, namun karena tak dapat bernapas maka akhirnya terpaksa sebagian besar ditelan, sebelum akhirnya dengan penuh rasa mual Yayuk melarikan diri ke kamar mandi.
Samir merasa sangat puas telah berhasil memperkosa Yayuk habis-habisan, diperkirakannya bahwa Yayuk akan sepenuhnya jatuh dalam kekuasaannya, dan menjadi budak seks-nya untuk seterusnya : seorang jururawat ayu cantik dari Indonesia yang pasti menuruti segala hawa nafsunya.
Yayuk memang ternyata melaporkan sakit selama tiga hari, ia tak terlihat keluar dari kamar di asramanya. Setelah itu ia masuk kerja kembali, namun terlihat sangat pendiam, tak banyak bicara dan seminggu kemudian Yayuk menghilang bagaikan ditelan bumi. Tak seorang pun melihat dan menemukannya kembali, semua barang-barang dan surat kontrak kerja serta paspornya pun tetap ada di kamarnya. Semua merupakan teka-teki, kebanyakan menduga bahwa Yayuk bunuh diri dengan membuang diri ke laut.
Apakah benar begitu?

***

Sebulan kemudian

Kunjungan resmi dari wakil kepala negara Brasil beserta delegasi perdagangan dan industri di situ telah berakhir, rombongan wakil presiden dengan pelbagai menteri serta pejabat tinggi meninggalkan gedung kedutaan besar. Rombongan itu terdiri dari tujuh mobil limosin dengan kaca gelap dikawal polisi militer setempat menuju ke bandara.
Dari salah satu mobil turun pula dokter Rodrigo Soarez. yang telah menyelesaikan masa tugas  di situ. Dokter spesialis penyakit anak-anak itu turun dari mobil dengan menggandeng seorang wanita muda memakai kaca mata hitam, terlihat ayu cantik, bertubuh langsing semampai namun padat berisi, lenggang dan goyangan pantat begitu sekal bahenol menarik pandangan tiap lelaki.
Wanita muda itu melangkah sangat gemulai menaiki tangga pesawat pribadi presiden Brasil, di anak tangga teratas ia menoleh sebentar ke belakang seolah mengucapkan perpisahan... dan memang di dalam hatinya wanita Asia cantik itu telah bertekad meninggalkan kehidupannya yang penuh kemelut hitam selama ini. Ia memutuskan untuk mengikuti panggilan nurani mendampingi pria yang sesuai dengan profesinyaia tak perduli lagi akan tanah kelahirannya. Cukup pahit apa yang dialaminya selama ini, mulai dari di kampung halaman sendiri sampai di RS tempatnya bekerja.
Kini ia akan mencurahkan kehidupannya untuk anak-anak yang menderita, menjadi asistent dan perawat pribadi dari suami yang telah menikahinya tiga hari lalu di kedutaan Brasil. Semua perbedaan yang semula menjadi bahan pemikirannya karena mungkin akan menghalangi citra kebahagiaan di masa depan telah sirna. Tak ada satu pun manusia menghadap Sang Pencipta sebelum dilahirkan untuk memohon dilahirkan di negara ini, di keluarga anu, beragama ini, berkulit itu. Semua perbedaan akan dapat diatasi jika kedua insan telah menemukan jodohnya yang sejati, dibimbing oleh Yang Kuasa. Satu-satunya yang menjadi tantangan utamanya adalah mempelajari bahasa sang suami dan membiasakan dengan kebudayaan tanah air barunya.
Ketika pesawat telah take-off, wanita muda ayu cantik itu membuka kaca mata hitamnya, meraih ke dalam tasnya, mengambil sebuah paspor Brasil. Dibacanya nama barunya yang tertera disitu; Yasmine Soarez.
Sejenak kemudian tangannya diraih oleh sang suami, yang kemudian menciumi jari-jari lentik Yayuk yang dihiasi cincin mungil berhias mata berlian kecil.  Kedua insan itu kemudian saling merangkuh, berpelukan, tenggelam dalam ciuman mesra. Pramugari yang sebenarnya ingin menawarkan minuman, hanya tersenyum dan melewati mereka, tak menggangu sepasang merpati yang sedang berkasih-kasihan itu.  

1 komentar:

  1. tamat apa masih ada sambungannya nie shuhu
    padahal asyik nie ceritanya,, lanjutin donk shuhu

    BalasHapus