Kamis, 13 Oktober 2016

Terjebak Nostalgia 5



Episode 10
Pelangi Jingga

Senja tersenyum kepadaku. Untuk sesaat, sinar matahari di belakangnya membentuk ilusi berupa garis-garis serupa sayap malaikat. Untuk sesaat waktu berhenti. Sesaat, sebelum KW menggenggam tangan Senja.
Aku hanya terpaku melihat Senja dan KW yang berlarian di antara ombak. Aku jongkok di pasir bersama Slamet. Aku membayangkan, seandainya Liz ada di sini. Dengan galau, aku menulis inisial “J” dan ”L” di atas pasir sambil tersenyum getir. Sesaat kemudian ombak datang dan menghapus nama kami. Slamet prihatin, dan menepuk pundakku dari belakang.
"Jangan nyebur ke laut ya, Masbro.."
Aku memandangi ombak Laut Selatan yang menggelora, dan langit senja yang merona jingga. Aku menghela nafas. Kami -Aku dan Slamet- seperti sepasang pemuda yang kebingungan -kebingungan dengan orientasi seksualnya-

“Met..”
“Yo..”
“Ente liat ombak-ombak itu..”
“Iya.. ane lihat..”
“Matahari yang terbenam..”
“…”
“Awan yang ditiup angin…”
Njut ngopo?” (terus kenapa?) kata Slamet sambil menggaruk kepalanya.
“Kita ini hanya seupil debu di semesta, Met… Biarpun Liz ninggalin ane, biarpun ane sedih, bumi akan terus berputar.”
Slamet hanya garuk-garuk kepala, sepertinya IQ-nya, terlalu rendah untuk mengerti kata-kataku. “Jay, mungkin ane nggak sepuitis ente. Mungkin ane nggak sebijak KW. Mungkin selama ini ane kerjaannya ngerepotin ente.”
Benar, Met, benar...
“Ane nggak punya apa-apa, Jay. Persahabatan, cuma itu yang ane punya.”
Hatiku terenyuh. Slamet, yang selama ini kuhina dan kujadikan objek penderita dalam cerita ini ternyata sangat tulus. Senyumnya itu tanpa tendensi, tanpa kepura-puraan. Slamet mungkin nampak seperti orang yang tidak bisa diandalkan, tapi aku baru menyadari, bahwa Slamet adalah orang yang paling pertama ada saat dibutuhkan.
Maafkan aku, Met... Maafkan aku telah mem-bully mu selama ini...
Life keep running, Met.” Aku menyalakan sebatang rokok.
“Betul, Masbro.“ Slamet ikut menyalakan sebatang rokok -rokokku-.
The Show must go on.”
Hehehe.” Slamet terkekeh dengan wajahnya yang polos.
“Makasih ya, Met, udah ngajakin ane ke sini..” aku menepuk pundak Slamet.
“Sama-sama, Masbor.. eh, Masbro.”
“Liat tuh Senja sama KW.. asem, bikin iri aja, hehe.”
“Haha..”
KW berlari kecil ke arah kami, di belakangnya Senja tersenyum dan melambai, mengajak berfoto.
Slamet merangkulku, dia adalah sahabat yang selalu ada di sampingku saat sedih maupun senang. KW mendorongku dari belakang, dia adalah semangat yang selalu mendorongku melangkah ke depan. Dan Senja tersenyum, melambai di depanku, di antara ombak dan matahari yang terbenam, sesosok yang mengingatkanku bahwa selalu ada pelangi setelah hujan, bahwa aku harus selalu: melangkah.
Ya, mungkin saatnya aku memulai hidup baru, merenda cinta yang baru. Aku tersenyum sendiri melihat Senja dan KW yang bercanda-canda. Ah, andaikan aku yang jadi KW: Jay dan Senja… cocok juga, haha.. Tanpa sadar aku menulis-nulis sendiri di atas pasir. “J” dan “S”
“Masbro, ane tahu ente lagi patah hati. Ane juga tahu kita temenan dari kecil,” Slamet berkata, entah kenapa.
“Eng..”
“Tapi, maafin ane Masbro... ane nggak bisa... nggak bisa... kita lebih baik tetap temenan...” tiba-tiba Slamet berlari meninggalkanku.
Ombak datang menghapus tulisan "J” dan "S”
“Met! Tunggu, Met! Maksudku bukan itu!” aku mengejar Slamet.
“Maaf, Jay!” slamet tetap berlari -histeris-.
Kami berkejaran di pinggir pantai, dramatis.
Matahari pun terbenam, pertanda bumi masih berputar pada porosnya.

***

Saat ini...

Seperti layaknya ending credit sebuah film. Kisahku dengan Liz harus berakhir. Setelah itu aku kembali melangkah, mencoba membuka hati, merenda cinta yang baru. Banyak hal yang terjadi setelah aku putus dengan Liz. Aku mendapat pacar baru, menyelesaikan skripsiku, hingga akhirnya aku sampai di hari ini...
Saat ini aku memandangi hujan yang turun kian deras, dan kisah ini pun akan terus berlanjut...
Hujan masih saja turun dengan derasnya. Dahan-dahan pohon akasia bergoyang hebat dihempas angin. Siang ini, aku baru saja selesai meminta tanda tangan Pembimbing 1 dan pembimbing 2 skripsiku. Aku memandangi tumpukan skripsi yang sudah dijilid hard cover. Aku menghela nafas, lega. Sekarang tinggal menunggu yudisium dan wisuda. Setelah sekian tahun, akhirnya aku lulus juga.
Aku duduk di kantin sambil menunggu hujan reda. Aku menyeruput teh hangat dari gelasku. Encer dan terlalu manis, benar-benar khas Jogja.
Beberapa menit yang lalu, aku bertemu dengan Liz setelah tidak bertemu dengannya sekian lama. Yah, aku tahu semuanya tidak akan bisa kembali seperti dulu lagi. Pertemuan singkatku dengan Liz barusan membuatku terjebak dalam nostalgia. Segala kenangan dengan Liz terputar bagaikan potongan gambar dalam film 8mm.
Aku baru sadar, aku duduk di meja tempat biasanya aku dan Liz makan. Aku seperti masih bisa melihat wajah Liz, di bangku di mana dia biasa tersenyum mendengar cerita-cerita bodohku, atau saat aku menghadapi curhat-curhat goblog-nya.
Sekarang tidak ada siapapun di sana, dan di luar hujan tetap saja turun. Deras, sangat deras.
“Nyebelin.” Tahu-tahu seorang perempuan berparas imut sudah berdiri di sampingku. Mukanya basah kuyup terkena hujan, cemberut dan ditekuk seperti bebek ngantuk.
“Eh, S-Senja.. Hehe.. ng-ngapain hujan-hujan gini ke kampus?” setengah terkejut, aku cepat-cepat tersenyum.
“Ih, Jay, kok gitu sih? BBM nggak dibalas, ditelpon nggak diangkat, Aku kan mau minta dijemput! Anak-anak S2 kuliahnya dibatalin.”
“Hah? Ah, m-maaf.. maaf.. BB-ku di-silent, t-tadi lagi ngadep dosen...” aku berbohong, sodara-sodara.
“Huu.. dulu kalau Liz yang SMS, pasti langsung dibalas!” Senja merajuk, menggembungkan pipinya yang lucu.
“Lho? Eh? kok bawa-bawa nama Liz?”
“Iya, kamu kan lebih sayang sama Liz!”
“Ya elah, jangan dibanding-bandingin, dong!”
Wajah Senja yang imut makin cemberut. “Tadi kamu juga pasti lagi ngelamunin Liz, kan?”
Dia benar, sodara-sodara!
“E-eng-enggak kok, Sayaang.. a-aku lagi ngelamunin kamu, b-bener!” aku terpaksa berbohong, sambil mencubit pipinya yang menggemaskan.
“Bener?”
“Iya…. aku nggak bohong kok, Liz... eh!”
Shit
Shit
Shit
Shit
Gawat! Aku salah menyebut nama!
Senja segera berlari, menangis bombay di bawah guyuran hujan. Aku mengejarnya, kami berkejaran seperti di film india.
“Mas! Makannya dibayar dulu!!!” Bu Kantin berteriak histeris.
Dramatis.

***

Episode 11
Senja

5 tahun yang lalu...

Namanya Senja, Senja Puan Nirmala, aku mengenalnya saat malam keakraban di kampusku 5 tahun yang lalu, waktu itu aku sedang gitaran nggak jelas, disuruh senior sie konsumsi menunggui berdus-dus nasi kotak.
Kalau Liz adalah cinta pada pandangan ke-sejuta (witing tresno jalaran soko kulino). Maka Senja adalah cinta pada pandangan pertama.
Senja hadir begitu saja, melangkah di depanku sambil bersenandung riang dengan sepasang mata yang membola jenaka seperti boneka panda. Badannya yang mungil mirip anak baru lulus SMP, ditambah dengan pipinya yang lucu, dan poni yang menutup sampai kening, membuat Senja sekilas mirip Nabilah JKT48.
Tanpa sadar aku menyanyikan lagu sambil memetik gitar di depan tumpukan nasi kotak dan dus Aqua.

ketika kau lewati bumi tempat ku berdiri
Kedua mata ini, tak berhenti memandangi
Pesona indah wajahmu mampu mengalihkan duniaku
Tak henti membayangkanmu, terganggu oleh cantikmu..


“Hai.”
Sumpah, aku nggak menyangka Senja menyapa duluan. (Awalnya kukira dia bakal memberiku recehan.)
“H-hai.”
“Lagunya bagus. Suaramu juga.. Hehe..”
Sekedar mengingatkan, suaraku memang bagus, mirip John Mayer, tapi dengan logat ngapak. Silahkan dibayangkan seperti apa.
“M-makasih.”
“Besok ada waktu?” tanya Senja.
“A-ada.”
“Bagi nomor hape dong...”
Malam itu kami saling bertukar nomor ponsel. Awalnya aku pikir Senja adalah ‘The Chosen One’, Satu dari sejuta, jodoh yang dikirimkan Tuhan untukku. Namun ternyata Senja hanya mengajakku ikut MLM Oriflame...

***

4 Tahun Yang lalu..

Hampir setahun aku dan Slamet rajin mengikuti Beauty Class hanya demi menggebet Senja, sebelum akhirnya kami tahu dia malah naksir KW, downline pertamaku.
Madesuuuuuuuu.....

***

3 Tahun Yang lalu..

Karena aku satu kost dengan KW, akhirnya Senja sering curhat-curhat kepadaku tentang KW. Begitu juga KW mulai tanya-tanya tentang Senja, agaknya sih mereka saling naksir, namun menilik dan meninjau sifat yang sama-sama pemalu, sudah bisa ditebak ini akan jadi seperti apa: tarik ulur seperti layangan. Akibatnya aku yang dijadikan Tumbal Pasugihan: berperan sebagai Cupid Asmara.
Maka aku pun mendapat tugas baru: menyampaikan salam, mendengar curhat-curhatan, ngelike foto di Instagram dan FB, bikinin puisi buat KW, mengiringi Senja nyanyi di youtube dengan gitar... cape deh...
Bete juga sih pada awalnya, apalagi Senja dulunya gebetanku. Namun, lama-lama aku tidak begitu peduli, karena waktu itu aku juga sudah mulai TTM-an sama Liz.

***

2, 5 Tahun Yang lalu...

Lama Senja dan KW maen ‘adek-kakak-adek-kakak-an’, sampai aku gemas dibuatnya. Melihat Senja yang memperhatikan KW saat mengerjakan tugas berdua. Melihat KW yang melirik Senja malu-malu, sungguh membuatku geli. Selalu begitu: tarik.. ulur… tarik… ulur… seperti anak SD saja.
Kawan, tahukah kalian benang layangan apabila sering ditarik-ulur? : putus.
Butuh waktu lama buat membesarkan nyali KW. Aku mengajaknya nonton film Cintapucino, dan serial-serial Drama Korea, untuk meyakinkannya bahwa Cinta yang tak terbalas memang menyakitkan, namun cinta yang tidak terungkapkan jauh lebih menyakitkan.
“Ente tembak lah, Si Senja... Haqqul Yakin, ane jamin ente pasti diterima!” kataku pada KW ketika kami nonton Drama Korea di kamarnya.
“Hehehe.. dia cuma anggap saya Kakak saja, kok…”
“Ya elah, jelas-jelas dia naksir ente! Ente juga kan?”
“Saya nggak berani,” ucap KW sambil menunduk malu.
“Yah, apa susahnya, cuma ngomong doang ini!”
Tapi aku akui, hal itu memang susah, wkwkwkwkw. Aku yakin semua orang yang membaca ini, pasti merasakan hal yang sama saat menyatakan cinta untuk pertama kalinya.

***

1,5 tahun yang lalu...

Begitu pula Senja, tak henti-hentinya anak itu meng SMS ku tiap malam, berkonsultasi tentang KW, menanyakan kabarnya. Aku juga sekalian curhat-curhat tentang Liz padanya, kebetulan waktu itu hubunganku dan Liz sedang dalam masa kritis.
Anehnya lama-lama Senja malah lebih sering SMS dan nelepon aku daripada nelepon KW, dan lama-lama aku jadi menunggu-nunggu SMS dan telepon dari Senja hanya untuk mendengarkan keluh kesahnya. Apalagi setelah aku putus dengan Liz, giliran aku yang mewek-mewek, curhat ke Senja.
Lama-kelamaan ada seperti perasaan hangat yang menjalari dadaku ketika mendengar curhatan Senja di telepon, juga perasaan damai ketika menceritakan masalahku kepadanya.
Perasaan merasa dibutuhkan... sekaligus perasaan merasa dipedulikan...
Love always had a casuality. Aku si Cupid amatiran ini, sepertinya tidak mengikuti buku “Cupid vol 1: Essential Guide to Matchmaking” yang menjadi buku pedoman para malaikat cinta. “Cupid tidak boleh jatuh cinta pada manusia”.
Waktu itu aku yang terlambat menyadari... mungkin aku... sudah jatuh cinta (lagi)... Ehm, maksudku jatuh cinta pada Senja, bukan pada KW.
Aku sekarang tahu, bagaimana perasaan KW. Cinta yang tak terbalas memang menyakitkan, namun cinta yang tak terungkapkan jauh lebih menyakitkan. Biarlah, setidaknya kalau Senja bahagia bersama KW, aku juga ikut bahagia.

***

Sepulang dari Pantai Baron, aku memang menemukan kembali semangatku: Aku membereskan kamarku yang selama beberapa bulan ini mirip Sarang Tuyul. Aku memasukkan barang-barang kenangan dengan Liz ke dalam sebuah kardus yang kuberi label “Ruang Nostalgia.” Dan kusegel rapat-rapat, seperti masa lalu-ku dengan Liz.
Harus Move on, cyiiiiiiin!!!!
“Jay..” tahu-tahu KW menghampiriku di kamar, sambil celingak-celinguk di depan pintuku.
“Apa, KW?”
“Boleh ganggu, nggak? Saya mau cerita.”
“Cerita apa?” Aku menyalakan rokok, duduk santai mendengar ceritanya.
“Tadi di Pantai, Senja nembak saya,” KW bercerita dengan suaranya yang kalem.
Deg...
Deg...
Waduh, dada ane kok sesek gini, ya...
Aku cuma bisa nyengir garing. “Wah kok terbalik? Terus gimana?”
KW terdiam lama. “Terus terang, saya bingung sama perasaan saya.”
Semua orang bingung dengan perasaannya.
Liz yang bingung dengan perasaannya kepadaku.
Aku yang bingung dengan perasaanku pada Senja.
“Bingung kenapa?”
“Saya memang sayang sama Senja... Tapi saya nggak bisa mencintainya lebih dari ini…”
“Hah?”
“Saya takut ngecewain Senja,” ucap KW pelan, wajahnya semakin menyuram.
De ja vu... Liz dulu pernah mengatakan hal sama kepadaku.
KW berkata lagi, “Jay... ada yang salah dengan saya... dari dulu saya nggak tertarik sama....” ia terdiam lama. “Dari dulu saya cuma bisa suka sama...” anak itu tidak sanggup menyelesaikan kata-katanya, dia hanya menggenggam tanganku erat-erat.
Deg...
Deg...
Deg...
Shit, kenapa ane deg-degan gini...
Aku sudah memikirkan adegan dalam film Arisan dan Brokeback Mountain.. apalagi anak-anak pada futsal, dan Slamet sedang keluar membeli makan...
Perlahan KW mendekatkan wajahnya yang ganteng mirip Adipati Dolken, “Jay… kamu… sebenarnya kamu sudah saya anggap…”
Sekedar mengingatkan, waktu itu aku juga sampai di persimpangan orientasiku gara-gara putus dengan Liz... mungkin inilah saatnya... inilah saatnya... Nggak apa-apa... may be it meant to be...( lagian KW anaknya ganteng juga...)
“Jay, dari dulu kamu sudah saya anggap saudara saya, makanya saya bisa cerita ke kamu…”
Akhirnya KW bercerita tentang penderitaannya selama ini, penderitaan yang terpaksa ia pendam sendirian. Sebenarnya KW benar-benar sayang kepada Senja, namun ia tak bisa mencintainya lebih dari ini. Tiba-tiba ia menangis seesengukan. Digosipkan homo selama bertahun-tahun, membuatku bisa mengerti perasaan KW. Aku mencoba menenangkan KW, menepuk-nepuk pundaknya, eh si KW malah memelukku sambil menangis.
“Jay! ini es teh pesenan ente!” suara si Slamet. Ia berdiri terpaku di depan kamarku.
Mendadak hening.
Dialog di bawah dibaca dengan intonasi ala sinetron, ketika Farel kepergok sedang berduaan sama Mischa.
Es teh yang dipegang Slamet terjatuh, pecah berserakan di lantai dalam gerakan Slow Motion, diiringi Intro lagu Bunga terakhir.
“Met, tunggu! Aku jelaskan.”
“Tidak, Jay... sudah cukup!” ucapnya, sebelum menghambur pergi.
Sesaat kemudian kudengar teriakannya bergema di Lereng Gunung Merapi, “Tidaaaak.... tidaaaak.... tidaaaaaaaaaak.... daaaak.... daaaak.... daaaak...” (diiringi SFX petir yang menggelegar)
Dramatis.
Keesokan harinya giliran Senja menghambur ke arahku sambil menangis, dan lagi-lagi aku yang harus menjadi pemadam kebakaran bagi hubungan mereka.
“Jay... Kunto sudah punya pacar ya?” ucap Senja setelah tangisnya mereda.
“Belum, sih...”
“Kalau orang yang disukain?”
“Setauku sih, nggak ada.” jawabku dengan prihatin. “KW kemaren cerita... dia beneran sayang sama kamu... tapi... nggak sebagai pacar.” Aku setengah berbohong, karena sudah berjanji pada KW untuk merahasiakan hal ini.
“Padahal aku sayang banget sama dia, tapi mungkin aku cuma dianggap adik sama Kunto...” ucapnya lirih.
“Tapi setidaknya KW sudah tahu kamu sayang sama dia, kan? Dan sekarang kamu juga sudah tahu gimana perasaannya KW ke kamu... daripada digantungin terus-terusan kayak aku.”
Senja memberengut. “Dicurhatin malah curcol.”
“Hehehe... bersyukur lah.. banyak kok, yang nasib percintaannya lebih nista, aku... Slamet apalagi...”
“Ih, masa aku disamain sama Jomblo Nista kaya kalian.”
“Sial.”
Aku tahu, Senja sering bercerita, dirinya dibesarkan dalam kisah dongeng-dongeng puteri kerajaan. Senja percaya akan ada pangeran tampan, The Chosen One yang ditakdirkan untuknya, Senja percaya orang itu adalah KW, tapi...
“Jay, kamu percaya cinta pada pandangan pertama? Kalau ada The One buat kita, kayak di film-film...”
Aku terdiam lama. Hari itu Senja membuatku seperti berkaca dengan diriku yang patah hati karena berharap terlalu banyak kepada Liz. “Awalnya iya, tapi sekarang aku nggak percaya lagi sama cinta pada pandangan pertama.”
“Terus?”
“Tapi aku percaya akan ada cinta terakhir,” ucapku pasti.
Hari itu Senja tak menyahut, tapi aku bisa melihat senyum kecil di bibir yang tadinya mewek.

***

Episode 12
Moving On?
Aku teringat penggalan kalimat dari buku Manusia Setengah Salmon-nya Raditya Dika. “Ada perasaan yang sama antara sehabis putus dengan pindah rumah. Keduanya sama-sama harus meninggalkan sesuatu yang akrab dengan diri kita. Keduanya sama-sama memaksa untuk mengingat-ingat kenangan yang ada sebelumnya, disadari atau tidak. Dipaksa atau tidak.”
Seperti kata Bang Dika, putus cinta sejatinya adalah sebuah kepindahan. Bagaimana kita pindah dari satu hati, ke hati yang lain. Kadang kita rela untuk pindah, kadang kita yang dipaksa pindah oleh orang yang kita sayang, kadang bahkan kita yang memaksa orang tersebut untuk pindah.
Ujung-ujungnya sama: kita harus maju dan meninggalkan apa yang telah menjadi ruang kosong.
Begitulah hidup, nggak selalu berakhir indah seperti di film-film, namun kita harus selalu melangkah, membuat improvisasi sendiri dari skenario hidup kita. If there’s no happy ending, i’ll make my own happy ending.
Yep, masa lalu dengan Liz, sudah kusimpan dalam-dalam, kumasukkan ke dalam sebuah kardus bertuliskan: Ruang Nostalgia. Seperti kenangan-kenangan indah bersamanya.
Dan aku hanya bisa berharap, mudah-mudahan nggak ada yang tertinggal.

***

1 Tahun yang lalu..

“M3t pa611111 AjaAaaay V1J4Y h0tahaA44i ^^,”
BBM ceria diakhiri smiley itu menyapaku pagi-pagi buta, seperti smiley yang tiba-tiba terbit dari bibirku yang setengah mengantuk.
Kubalas, “M3t Pa61 5enj4 uNyu^^”
“J4M 8 aQ 51d4N6 nE, do4k4n 4Ku, EaaAa ^^”
Oh iya, Senja hari ini mau sidang skripsi, “C3MuN6UdH eAaa...”
Menggigil, aku menahan dingin udara pagi Jogja yang naudzubille, mengguyur air sambil bernyanyi tidak jelas, menyanyikan lagu Moving on-nya Andien dengan bersemangat.
Dan sinilah aku, menunggui sidang skripsi Senja. Lama, hingga akhirnya Senja keluar ruangan dengan berseri-seri. “Ajay-ajay-ajay.. aku luluuuuuuus!!” Senja berjingkrak riang, meluapkan kegembiraannya -lulus dengan predikat cum laude- dengan menghambur memelukku.
Semenjak kejadian di episode lalu itu, Senja lebih sering lagi curhat mengenai KW. Yah, sebagai mantan gebetan yang baik, aku hanya bisa mendengarkannya. Kami saling menyemangati, menulis skripsi bareng sambil saling curhat.
Bisa ditebak ini akan menuju ke mana. Senja galau, aku lebih galau lagi. Ingat rumus ini? (Galau + galau) x (rebound + rebound) = chemistry. Tidak butuh waktu lama, sampai aku jadian dengan Senja, dan muncul tulisan “Adipati Jaya Mahardika is now in relationship with: Senja Puan Nirmala” di halaman Facebook-ku.
Dan tak lupa ucapan selamat dari teman-teman.
Buluk Ganteng wrote : Akhirnya bisa mantatin si Jimi
Seperti biasa Pertamax Hunter
Jimmy Pranoto wrote : Gpp, GAAN... yang penting nangkring di Pejwan.. ps: atas gue maho.
Jiah... emang comment FB ada pej two-nya
Gracia Anindhitia wrote : Selamat ya.. habis gelap terbitlah terang.. habis Summer terbitlah Autumn.. Habis Liz terbitlah Senja..
Sepertinya hanya Grace yang komentarnya paling waras
Slamet Riyadi wrote : Maafken sudah salah paham, masbro.. benar kata pepatah: Tak kan lari memeluk gunung..
Apa maksudnya Slamet ini, adanya takkan lari gunung dikejar kaleeeee
Kunto Wicaksono wrote : selamat ya.
KW, Seperti biasa, singkat-padat-jelas. Meski aku tahu, banyak hal yang ingin dikatakan olehnya.
L@n4 Ch@nt1q wrote :

B3R4p4 k4l1 kU H4ru5 kat4K4n c1Nt4
bEr4P4 L4m4 Ku haru5 M3nuNg6umu
d1ujuN6 63L1S4h 1n1 4ku
t4k 53d1K1tPuN t4k 1n64t kaMu
namun d1r1mu ma51h b361tu
4cuhkAn Ku t4k MAU t4hu

luka luk4 LUka Y4n6 Kura54k4N
bERTuB1 tUb1 Tub1 y4n6 k4u b3R1k4n
cint4ku b3rt3pUk 5eB3lah t4n64n
t4P1 4ku bAl45 S3nyuM k31ndaHan

b3rtaH4n 54Tu cINt4
bertah4n 54Tu c.1.n.t.a
beRt4h4N 54Tu ciNt4
b3rt4h4N 5atu C.1.n.t.4

Nggak pakai lama langsung ku-unfriend, delcont, unfollow...
Dan Liz, tak ada komentar darinya. Ia hanya mengucapkan selamat ketika kami tak sengaja berpapasan di kantin, entahlah, karena Senja buru-buru menggandeng tanganku begitu melihat Liz.
Seperti biasa: Ex-Boyfriend Rivalry Syndrome.

***

Jay, tolong jagain Senja buat saya.” aku tidak pernah lupa kata-kata KW waktu itu. Dan memang benar, sejak saat itu aku sangat menyayangi dan mencintainya. (Mencintai Senja maksudnya, bukan mencintai KW). Melihat wajah dan gesture tubuh Senja yang kekanakan, pasti membuat siapapun ingin melindunginya.
Begitulah, kemudian aku mencoba merenda cinta yang baru bersama Senja. Mencintainya dengan sepenuh hatiku, dan memasukkan Liz ke dalam ruang nostalgia.
Mungkin ilusi yang kulihat di pantai Baron itu ada benarnya juga. Aku tak pernah bisa melupakan senyum Senja waktu itu, dan sinar matahari di belakangnya yang membentuk ilusi berupa garis-garis serupa sayap malaikat. Aku merasa Senja adalah malaikat yang dikirim untuk menyelamatkan aku.
Semenjak saat itu aku kembali bergairah dalam menjalani hidup. Aku mulai rajin kuliah, dan skripsi kembali kukerjakan.

***

Awalnya, semua berjalan sempurna. Aku punya pacar baru yang seimut Nabilah JKT 48, baeknya nggak ketulungan, tajir pula, jadi aku sering ke rumahnya pas jam-jam makan agar ditawari makan oleh orang tuanya, wkwkwkw...
Awalnya semua berjalan sempurna...
... sampai di hari itu....
... saat aku menemani Senja makan di Dixie, guna merayakan kelulusan sidang skripsinya.
Dixie sebenarnya adalah tempat makan yang ‘lumayan mahal’ buat mahasiswa kere sepertiku, namun sepertinya sih... nanti bakal dibayarin Senja... sepertinya... hiks..
.“Waktu itu kita pesen apa, yah?” kataku sambil melihat-lihat menu makanan, mencari di deretan kasta makanan yang paling hina.
“Waktu itu? Kapan?” Senja bingung.
“Itu, yang waktu kamu ulang tahun.”
Senja langsung cemberut. “Kita kan baru pertama kali makan di sini!”
Shit
Shit
Shit
Shit
Gawaaaaat! Salah ingeeeet.
“Oh.. eh.. bukan sama kamu ya?” aku langsung berlagak mendadak amnesia.
“Iya! Pasti sama Liz, kan? Ih, sampe segitunya diinget-inget!”
Akhirnya kami tidak jadi makan. Aku mengantar Senja yang ngambek, tapi karena melamun malah kuantar ke kost Liz.
Senja tambah ngamuk, pulang naik motorku.
Aku pulang jalan kaki.
Kampret.

***

Cemburu. Teman-teman yang pernah menjalin cinta pasti pernah merasakan cemburu. Cemburu bisa diartikan rasa cinta, karena takut kehilangan orang yang dicintai. Dalam suatu hubungan, cemburu dapat membuat hubungan menjadi lebih hidup, itu kalau level-nya cemburu biasa saja. Nah, masalahnya cemburu yang ini cuma beda tipis dengan tindakan psikopat.
Setelah beberapa bulan jalan sama Senja, barulah aku menyadari bahwa aku pacaran dengan Overly Attached Girlfriend versi Indonesia.

Yep, Ponsel dan Komputerku kini tak luput dari razia yang tidak kalah sadis dari pembredelan lembaga sensor Rezim Orde Baru. Interogasinya lebih sadis dari interogasi Gestapo NAZI. Dan instingnya lebih tajam dari penyadapan CIA, KGB, dan MOSSAD dijadikan satu.
Untungnya foto-fotoku bersama Liz (termasuk foto mesum) sudah ku burn dalam DVD, yang kuberi tulisan “Beastilly: cowok ditusbol anjing (yang gak kuat jangan nonton!!!)”, agar tidak ada yang membukanya.
Senja selalu beralasan PMS, meski sekarang kurasa tidak jelas lagi beda Pre-Menstrual Syndrome, dan Psychotic Menstrual Syndrome.
Banyak lagi drama ala FTV pagi yang kualami dengan Senja. Setiap hari, hidupku hanya diisi drama, drama, dan drama. Kalau sudah begini, sering aku teringat dengan Liz, yang sekarang sudah jadi mantan.
Raditya Dika pernah menulis, proses pindah hati juga seperti proses pindah rumah. Terkadang, kita masih mebanding-bandingkan siapapun yang kita temui dengan mantan pacar. Kita membandingkan, secara sadar ataupun tidak, cara mereka berjalan, cara mereka berbiara, bahkan cara mereka mengakhiri pembicaraan di telepon. Seperti lazimnya orang yang masih terjebak di dalam masa lalu, orang yang lebih baru pasti kalah dari mantan kita yang lebih lama itu.
Jujur, aku sendiri nggak tahu lagi gimana perasaanku ke Liz. Anak itu lulus lebih dulu, pulang ke Semarang tanpa banyak kata. Waktu itu aku tidak merasakan apa-apa, cuma perasaan kosong yang nggak bisa dijelaskan.

***

6 bulan yang lalu

“Jay, kamu masih sayang sama Liz?” Senja bertanya tiba-tiba.
Begitulah kalau paranoidnya lagi kumat, padahal waktu itu aku sedang sibuk menginput data ke dalam tabel excell, Senja menemaniku di kost, menempati tempat biasa Liz tidur-tiduran sambil membacakan lembar kuesioner untuk kuketik.
“K-kenapa t-tanya gitu?
Aduh, kenapa jantung ane mendadak deg-degan gini.
“Jawab aja, kenapa.” Senja melirik dengan tatapan menyelidik.
“Ng-nggak,” jawabku cepat, namun nada itu terdengar ragu.
“Nggak papa, kok. Kalau masih sayang sama Liz.” Seperti biasa, Senja memberengut, merajuk manja.
“Kamu sendiri, masih ada rasa ‘adek-kakak’ nggak sama KW?” balasku, nggak mau kalah.
“Ih, kok diungkit-ungkit!” Senja menggembungkan pipinya, lucu. “Biar kamu tahu, ya... waktu semester satu, aku duluan naksir kamu daripada Kunto.”
“Bohong. Aku kan cuma dijadikan tumbal pasugihan MLM, batu loncatan biar kamu bisa PDKT sama KW.”
“Beneeeeer.... cuma waktu itu aku kukira kamu pacarnya Liz, habis dari ospek kalian nempel terus, sih. Lho? eh? Kok jadi ngomongin Liz? kamu gimana sih?” pinggangku dicubit.
De ja vu kampret...
Aku pernah mendengar dialog ini, entah di mana.
“Huuu.. cinta sih cinta... tapi kalau cemburuan gitu... bisa-bisa aku cepat kena stroke,” ucapku sambil mencubit pipinya.
Senja tidak menjawab, hanya memelukku lebih erat. “Maaf ya... kalau cemburuan... tapi Ajay jangan tinggalin Senja, ya,” bisiknya di telingaku, hingga wajah imut ala Nabillahnya begitu dekat dengan wajahku. “Sekarang Senja cuma sayang sama Ajay, nggak ada lagi Kunto.”
Situasi yang seperti ini yang menyebabkan hatiku galau. Di satu sisi, aku punya pacar yang cantik dan sangat sayang kepadaku, dan di sisi lain bayangan Liz yang kadang-kadang muncul, mengintip dari balik Ruang Nostalgia.
“Jay... kok diem aja... kamu beneran sayang sama aku, nggak?”
Deg...
Deg...
Deg...
Aku tak menjawab, hanya mengecup kening Senja lembut, lama, hingga akhirya anak itu tersenyum dan memelukku erat-erat. Aku mencium pipinya yang menggemaskan, Senja meronta pelan sambil tertawa-tawa, hingga akhirnya ia memejam, membiarkan aku mencium bibirnya yang mungil.
“Nakal...” bisik Senja dengan wajah merona sambil melingkarkan lengannya di leherku. Senja tersenyum, menutup matanya pelan, membiarkan aku kembali memagut bibirnya lembut.
“Mmmh...” Senja melengguh pelan, membalas ciumanku sambil mendesah tertahan. Bibirnya yang mungil kulumat, dan kubelai hingga nafasnya mulai memburu cepat.
“Jay... ummh... sssh.. J-jangan,” Senja mendesah, saat aku mulai meremasi payudaranya, namun sesaat kemudian ia malah semakin buas, balas melumat bibirku.
"Susu Murni Nasional..." Terdengar suara Pedagang Susu lewat depan rumah. Sekedar lewat, namun membuatku tertegun lama....
deg...
deg...
“Ih, Ajay nakal, awas keterusan.” Senja memberengut lucu, mencubit pinggangku.
Aku cuma nyengir garing, melihat wajahnya yang memerah sayu.
“Kan udah janji, nggak mau yang aneh-aneh,” ucap Senja sambil menjulurkan lidahnya.
Ya, karena tidak seperti Liz, pacaranku dengan Senja kali ini lebih sehat. Senja masih perawan ting-ting. Tidak sedikit sedikitpun aku berniat merenggut keperawanannya sebelum waktunya tiba. Aku benar-benar sayang kepadanya.
Senja pun anaknya sangat tertutup perihal hubungan fisik, selama pacaran dengannya paling banter ciuman bibir.
Senja mengekeh sambil kembali mendekat, merapatkan duduknya.
“Jay.”
“A-apa.”
“Ng-nggak! Nggak apa-apa.” Senja menggeleng cepat dengan wajah bersemu merah, imut sekali wajahnya. "Pinjem dada." Tahu-tahu Senja sudah menggelendot manja di dadaku.
Sifatnya yang manja seperti anak kucing ini yang membuat hatiku cenat-cenut dan melumer setiap berhadapan dengannya. Senja mengekeh manja di pelukanku, membiarkan aku membelai-belai rambutnya yang lucu.
Perlahan kembali kuraih dagu Senja, kucium bibirnya. Senja tersenyum dan membalas ciumanku, cukup buas karena kali ini disertai permainan lidah yang membelit ganas.
“Mmmmh...” Senja mendesah, ketika ciumanku bergerak menyusuri tulang rahang, menciumi lehernya yang harum dan lembut.
“J-jay... kamu mau apa?” bisik Senja dengan suara bergetar. “Kamu sudah janji, kan? K-kamu...”
Kuperhatikan, Senja berkali-kali menelan ludah, sambil mengatur nafasnya yang memburu. Sekujur tubuhnya kaku, tegang nggak karuan, ketika ciumanku mulai mejelajah turun, dan tanganku mulai mengusap payudaranya.
“Nggak apa,” bisikku sambil mengecup leher Senja yang harum. “Aku sayang kamu,” ucapku lagi.
“B-bener?”
Aku tidak menjawab, kembali menciumi leher Senja, membenamkan wajahku di sana. Senja menggeliat, mendekap kepalaku lebih erat sambil mendesah pelan ketika aku menghisap lehernya.
“Jay...” matanya sudah memejam keenakan, ia hanya pasrah ketika aku kembali meremas bongkahan payudaranya. “Sssssssshhhh.... sssssh..... mmmmhhhh...” Senja tidak berisik seperti Liz, ia hanya mendesah pelan, menggeliat pasrah, seperti saat aku menyingkap kausnya, hingga menampakkan sepasang daging bulat kenyal yang menyembul dari balik cup-warna jingga.
Wajahnya yang imut nampak sayu, antara takut, malu, dan mau, membuatnya semakin terlihat merangsang.
Aku mengecup lembut payudara Senja, kiri, kemudian kanan, lembut, membuat Senja rileks terlebih dahulu. Kubenamkan bibirku ke atas dadanya yang putih dan menggemaskan, kugigit pelan, sambil kuhisap-hisap. Kuperhatikan, sepasang tangan Senja mulai membelai kepalaku, menandakan anak itu sudah mulai rileks.
“Ssssssh... ooooooh...” Senja kembali mendesah, mendekap kepalaku, membenamkannya ke arah dadanya.
Cup BH Senja kusingkap cepat, hingga putingnya yang berwarna coklat muda terlihat. Segera kuhisap puting Senja yang sudah mengeras itu, membuatnya menggelinjang semakin binal, dan mengerang penuh kenikmatan.
“Jaaaay... sssssh.... sssssssh..... oooooh, ” Senja mendecap-decap, menggeliat penuh gairah. Punggungnya membusung-busung, dan kakinya mulai membuka.
Aku memberanikan menyusuri lekuk tubuh Senja dengan tanganku. Meraba perutnya yang mulus, turun ke bawah, memijat perut bawahnya.
“H.. h.. hh.. h…” nafas Senja semakin memburu seperti orang berlari.
Tak ada penolakan, jariku menyusup dengan cepat ke balik celana mini yang dikenakan Senja. Membelai gundukan kecil dari luar celana dalamnya- sudah basah.
“Jay?! Janga..” Senja mencoba menepis tanganku, namun aku berkeras membelai belahan di balik celana dalamnya. “J-Jay? Ng-ngapain kamu? Ah.. aaaah.... aaaaah!!” senja mulai berteriak saat tangan ku menyusup ke balik CD-nya, mengusap klitorisnya. Ia mencoba meronta, namun aku mendekapnya lebih erat, menghisap putingnya lebih kuat.
“Jay… jahat.. uuh.. oooh..” perlahan gerakannya melemah, Senja mulai menceracau tidak jelas, hingga akhirnya ia menggelinjang nikmat, menikmati cumbuanku. “Sssh.. Oooh.. Jay… ah.. Kamu… sayang aku.. kan?”
“Iya.. h.. h..” bisikku sambil mengulum puting Senja, dan memijat-mijat klitorisnya. Kurasakan kewanitaan Senja sudah banjir, hingga jariku bisa bergerak leluasa saking licinnya.
Slleppph... slllppphhh...
“Oooooh... oooooh....” Senja memejam nikmat, menjambak rambutku dengan penuh gairah. Kuhisap putingnya lebih kuat, Senja menggelinjang lebih nikmat. Kugesek belahan kewanitaannya, Senja mengerang semakin keras.
“Oooh…. Oooh… oh!” Pinggulnya menandak-nandak seiring gerakan jariku, dan erangannya semakin binal... semakin.... “J-jaaay... a-aaaaku... a-a-akuuuuuuu.” Tubuh Senja menegang, ia mendekap lenganku erat-erat, mencakar punggungku. “Aaaah... aaah... aaaaaaaaaaa.” Wajahnya yang imut nampak memerah, seperti orang kesakitan,
Aku mendekapnya erat-erat, menahan tubuhnya yang mengejang. Sesaat kemudian aku bisa merasakan sesuatu mengalir dari dalam vaginanya.
Untuk sesaat hanya terdengar suara desah nafas, sebelum terdengar suara isak tertahan.
“Eh, Senja? kamu nangis kenapa?”
“Meki Senja keluar air-air.. Senja udah nggak perawan ya?”
“Eng… masih perawan kok.. kayaknya..”
Tangisnya semakin menjadi.
“Hehe.. enggak kok.. tadi kan cuma di luar-luar aja?”
“Bener..?”
“Bener!”
Lama aku meyakinkan dia, bahwa selaput daranya masih utuh.
“Jay jahat.”
“Maaf.”
“Kalau Jay beneran sayang Senja, Jay nggak bakal... huk... huk...”
Aku mengusap-usap poninya, agar anak itu berhenti menangis.
“Jay... aku bener sayang kamu... virgin aku pasti aku kasih ke kamu... kalau memang waktunya....”
“Maaf.... maaf....” ucapku berulang-ulang. “Aku sayang kamu.”
Senja mengusap matanya yang basah, mencoba tersenyum. “Bener?”
“Iya.”
“Jangan tinggalin Senja, ya.”
“Iya.”
“Janji?”
“Janji.” Kami saling mengaitkan jari, entah kenapa aku merasa seperti de ja vu. Kadang kita membuat janji, tanpa tahu akan menepati.
Waktu itu, perlahan aku menyadari, segala drama yang kujalani bersama Senja, malah membuat hari-hariku penuh warna, berbeda jauh dengan hari-hariku yang kelabu setelah ditinggal Liz.
Dengan tingkahnya yang lucu, dengan sifatnya yang cemburuan, aku tahu sesuatu:
Senja mencintaiku.
Itu saja sudah cukup.
Bumi terus berputar pada porosnya, membuat hari berganti hari. Aku menjalani hidupku yang baru bersama Senja, mengerjakan skripsiku dengan semangat darinya.
Bumi tetap mengorbit matahari, membuat musim kemarau berganti musim penghujan. Sampai akhirnya, aku diluluskan dengan amat terpaksa oleh dosen pengujiku. Biarlah, yang penting lulus, hahaha...

***

Beberapa saat yang lalu...

Hari ini aku berangkat ke kampus dengan semangat. Mendung menggantung di langit, namun itu tak menghalangi langkahku. Tanganku penuh dengan berbendel-bendel skripsi yang sudah dijilid hard cover. Ya, hari ini aku akan meminta tandatangan Pembimbing 1 & 2 Skripsiku, untuk persyaratan yudisium dan wisuda.
Tanganku penuh dengan berbendel-bendel skripsi yang sudah dijilid hard cover, beratnya yang gila-gilaan membuatku sedikit kesulitan menaiki tangga di depan pintu masuk.
Aku melihat sekeliling, ruangan itu kini dipenuhi oleh mahasiswa angkatan baru yang wajahnya tidak kuhapal. Ah, makin lama, makin sedikit wajah yang aku kenal. Maklum angkatan tua, tidak lulus-lulus.
“Jay!” suara wanita memanggilku dari belakang. Aku mengenali suara itu.
Sungguh, aku tidak menyangka bakal bertemu lagi dengannya.
“Eh, Liz apa kabar? Kok masih aja ke kampus?” ucapku sambil pura-pura cool.
“Ini, mau ngurus legalisir ijazah.”
“Weh, mantep! Mentang-mentang dah wisuda nih ye.”
“Hehe, kamu juga udah pendadaran kan? Cepet nyusul ya!” Liz mengamati tumpukan skripsi di tanganku.
“Amin,” tukasku.
Liz tersenyum kecil, seperti dipaksa, "Oh iya, Senja apa kabar? katanya kalian mau tunangan ya... yah, aku nggak bisa datang deh.."
Aku mendadak terdiam, Jujur saja, tidak enak hati aku menjawab pertanyaanya. "Um... eh... ah gosip itu haha... tapi yah... gitu... Senja... sehat... hehe... he... he..."
Liz kembali mencoba ceria, "Waaaah... yang langgeng ya kalian..." ucapnya seiring rintik gerimis yang perlahan menitik turun.
“Iya, Liz sekarang gimana?”
“Hehe.. biasa, masih belum laku.”
“Sabar-sabar, hehe..” aku jadi lebih tak enak hati mendengarnya.
“Hehe..”
“Hehe..” kami pura-pura tertawa. Suasana jadi makin tak enak.
“Iya, mudah-mudahan di Papua aku dapat jodoh.”
“Hah?”
“Iya, Jay, aku diterima di PT. FreePort lho.”
“Oh,”
“Udah, ya.. dah, Ajay!” suaranya bergetar, pura-pura ceria. Liz berbalik menjauh. Berlalu, menghilang di balik kerumunan mahasiswa baru.
Aku mengela nafas, dadaku terasa sesak. Kali ini aku merasa dia akan pergi jauh sekali.
Di luar hujan turun deras, sangat deras.
Pertemuanku kami sangat singkat, tak sampai satu menit. Namun pertemuan singkat dengan Liz barusan telah mengobrak-abrik tatanan hatiku yang susah payah kususun selama berbulan-bulan bersama Senja. Banyak hal yang ingin kusampaikan kepada Liz, dan banyak hal yang tidak akan pernah tersampaikan, dan mungkin tak akan bisa lagi.
Tanpa bisa diantisipasi, kenangan yang kualami bersama Liz terputar kembali bagaikan potongan gambar dalam film 8mm.
Ketika aku pertama kali bertemu dengan Liz.
Ketika Liz nangis-nangis gara-gara diputusin Bang Igo.
Ketika kami pertama kali ML.
Ketika aku menyadari telah jatuh cinta pada sahabatku, dan menyatakan cintaku secara awkward.
Ketika kami pertama kali berantem, dan baikan dengan mengaitkan kelingking, lucu.
Semuanya mengalir deras seperti deru hujan yang tak berhenti turun, memerangkapku dalam sebuah ruang hampa, bernama nostalgia.
Dan tanpa bisa kucegah, kastil impian yang kubangun bersama Senja, runtuh. Satu-satu bersama rintik hujan.
Mengapa kau tinggalkan aku sebelum sempat kurapikan lagi waktu?
Betapa lekas cium menjadi bekas.
Betapa curangnya rindu.

Author : Jaya S.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar