Selasa, 25 Oktober 2016

Tutur Tinular 10



Hak cipta © Buanergis Muryono & S.Tidjab

Laki-laki tua itu semakin memelototkan matanya ketika orang itu semakin dekat dengannya dengan napas terengah-engah karena berlari.
"Ada apa, Wirot?"
"Eh, anu, Guru...."
"Anu, anu, apa? Bicara yang baik. Aturlah napasmu dulu."
Sejenak keduanya diam, hanya napas Wirot yang ngos-ngosan menghiasi hari lengang di rumah Mpu Ranubhaya. Angin pun seolah-olah tak mau hadir dalam kepengapan jiwa lelaki tua yang sangat sederhana itu.
Murid setianya itu pun akhirnya membuka mulutnya. "Guru, benarkah Mpu Hanggareksa dari sini?"
"Ya. Ada apa dengan setan mata duitan itu?"
"Katanya..."

"Katanya apa?" Mpu Ranubhaya setengah membentak murid setianya ketika bujangan tua itu tidak melanjutkan kata-katanya.
"Saya disuruh memperingatkan Guru."
"Memperingatkan perutnya? Orang gila, orang sinting. Gila uang, gila pangkat dan kedudukan... Ohhh... jagad Dewa Bathara, janganlah bibirku mudah menjadi semayam dosa dan karma. Dunia ini sudah terbalik dan kocar-kacir. Yang benar menjadi salah dan salah dibenarkan." Mpu Ranubhaya menghela napas dalam-dalam tanpa memandang muridnya. Dadanya terasa sesak sekali.
"Dengarkan, Wirot." katanya kemudian.
"Ya, Guru."
"Setan alas itu kemari, mau menyuap aku, agar gurumu ini mau menjadi gedibal pemerintah Singasari. Ia memberikan sekantong uang emas. Kau lihat itu, sisa-sisanya masih'tersebar di lantai gubuk kita. Ambillah dan buang ke pembakaran sampah, atau kau berikan kepada fakir miskin yang membutuhkan uang itu. Aku tidak butuh uang, aku tidak butuh perak dan emas, aku juga tidak butuh pangkat dan kedudukan. Hanggareksa benar-benar sudah buta."
Sekali lagi lelaki tua itu menghela napas dalam-dalam, pandang matanya kosong penuh dengan kepedihan. Seolah-olah nuraninya telah tercabik-cabik oleh sikap dan sifat adik seperguruannya yang semakin mengkhianati nasihat gurunya.
"Apa yang dikatakan orang edan itu padamu, Wirot?"
"Emh, Mpu Hanggareksa bilang, agar Guru berhati-hati, sebab Guru telah menghina pemerintah Singasari. Guru telah mengutuk Prabu Kertanegara."
"Hemh, tanpa aku mengutuknya, sebetulnya Kertanegara dan seluruh Singasari telah terkutuk,Wirot. Haaahh, benar-benar dunia ini telah kacau balau. Kau jangan ikut edan, Wirot. Sudah, sana. Kau kumpulkan uang di lantai itu. Jangan sampai mengotori rumahku hingga najis oleh uang Kertanegara."
Wirot hanya mengangguk lalu segera memunguti uang emas yang masih tertinggal dan tercecer di lantai tanah. Sebaliknya, Mpu Ranubhaya segera melangkah ke luar. Terus melangkah meninggalkan gubuk bambunya menuju Sanggar Pamujan di balik bukit. Langkahnya seperti sangat lelah, selelah hati dan pikirannya.
Cahaya matahari semakin terik, udara pun amat gerah. Mpu Ranubhaya berjalan di bawah bayang-bayang pohon rindang yang meneduhi jalan-jalan setapak yang disusunnya. Ia tidak bisa melukiskan betapa perihnya hati dan sakitnya menghadapi suatu kesucian yang telah dinodai. Kemurnian hati yang dikhianati dan tujuan mulia yang dicabik-cabik. Pengabdian yang tidak murni lagi, diinjak-injaknya kebenaran di balik keangkaramurkaan manusia.
Mungkin seperti saat itu di mana ia mencoba menginjak perdu putri malu. Tumbuhan itu serentak menguncupkan daun-daunnya ketika tersentuh. Begitukah hati manusia? Selalu mengabaikan pendirian hidup mula-mula ketika kemanisan dan kenikmatan menghampirinya.
"Tidak! Tidak! Aku tidak mau seperti putri malu, aku tidak sudi menjilat seperti Hanggareksa." Lelaki tua itu berseru-seru hingga suaranya menggaung dan menggema tatkala menyentuh dinding-dinding bukit batu.
Ia kemudian berdiam diri sejenak. Bersidekap dan menghirup udara sedalam-dalamnya. Ia rasakan pusarnya terasa dingin sekali, kemudian rasa dingin itu menyebar ke seluruh nadi darahnya. Ia pun merasakan tubuhnya semakin ringan bagaikan tanpa berat. Itulah ajian Seipi Angin. Ajian untuk meringankan tubuh di samping untuk mengatasi kegalauan hati. Lelaki tua yang berpakaian compang-camping dan sangat kumal itu segera melompat dan melayang bagaikan terbang. Tubuhnya melesat dan akhirnya lenyap di balik rerimbunan pohon-pohonan liar.
Pada hari itu juga ketika seorang pemuda tampan sedang mengendalikan kudanya menuju suatu tempat, mendadak ia menghentikan kudanya karena seorang gadis cantik menghadangnya di tengah jalan. Pemuda itu segera turun lalu menuntun kudanya menghampiri gadis cantik itu. Kuda perkasa itu meringkik seolah-olah ingin bertanya kepada tuannya. Pemuda itu mengelus bulu suri kudanya kemudian menepuk-nepuk kepala binatang perkasa itu.
"Kau kah yang bernama Arya Kamandanu?" tanya si gadis.
"Ya. Ada apa?"
"Aku sahabat Nari Ratih. Namaku Palastri."
"Hmmm! Kalau kau mengajakku bicara tentang Nari Ratih, maaf. Aku tidak bersedia melayanimu."
"Jangan begitu. Nari Ratih merasa sangat berdosa kepadamu. Beberapa hari ini dia kelihatan sangat murung. Tubuhnya kurus dan matanya cekung karena kurang tidur."
"Mestinya dia tidak perlu merasa berdosa padaku."
"Aku tahu apa yang dirasakannya karena aku sahabatnya yang paling dekat. Nari Ratih sebetulnya masih mencintaimu."
Mendengar penjelasan gadis cantik yang mengaku bernama Palastri sahabat Nari Ratih itu membuat Arya Kamandanu tertawa dan terdengar sangat getir, sumbang dan hambar. Pemuda tampan itu memandang dingin kepada Palastri. Memandangnya dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Dipandang seperti itu Palastri merasa kurang senang, namun ia berusaha memahami perasaan pemuda tampan di hadapannya yang merasa kecewa atas perbuatan sahabat karibnya.
"Hehehe, sudahlah! Sandiwara lelucon ini sudah tidak lucu lagi. Layar sudah diturunkan dan para penonton sudah bubar."
"Jadi, kau tidak sudi menolongnya, Kamandanu?"
"Aku tidak pantas menolong seorang gadis yang kecantikannya bagaikan bidadari."
"Kalau begitu kau sebenarnya tidak mencintainya. Kalau kau mencintainya dan cintamu itu tulus dan suci, kau pasti akan menolongnya. Nari Ratih hanya membutuhkan pertemuan denganmu walaupun sekejap mata. Kukira hal itu tidak sulit untuk kau penuhi, Arya Kamandanu."
"Mengapa ia tidak minta tolong pada Kakang Dwipangga?"
"Ini persoalannya denganmu, bukan dengan saudara tuamu. Hanya kau yang bisa menolongnya untuk menyelesaikan masalah ini. Tapi kalau kau keberatan ya sudahlah. Asal jangan sampai kau menyesal di kemudian hari. Kalau terjadi apa-apa pada sahabatku itu, aku tidak mau tahu lagi!"
Selesai mengucapkan kata itu, gadis cantik itu pun segera membalikkan tubuh dan berlalu dari depan Arya Kamandanu yang ditinggalkan dengan mata setengah melotot. Nampak bingung dan terkejut, seolah-olah baru sadar dari mimpi panjang.
Arya Kamandanu geleng-geleng kepala ketika memperhatikan Palastri yang berkain ketat hingga nampaklah lekuk-lekuk tubuhnya yang sintal dan padat. Kedua pantatnya bergoyang-goyang bagai dua bola beradu. Ia tersenyum nyinyir dan getir sekali. Ia hela napas dalam-dalam sambil menelan ludah pahit. Pemuda itu kemudian merasa tidak enak, kesal dan gelisah. Ada keinginan untuk bersikap masa bodoh dan tidak mau tahu, tapi mau tak mak mau dalam hati berpikir juga.
"Nari Ratih! Gadis itu telah mengkhianati cintaku dan sekarang ia ingin bertemu denganku. Apa maksudnya? Atau ia ingin merobek-robek dan mencabik-cabik nuraniku? Atau aku ini pemuda yang tidak pantas untuk memiliki kesenangan hati?" Arya Kamandanu bergumam sendiri, kemudian segera berlari menyusul Palastri.
"Tungguuu... hee tunggu, Palastri!" teriaknya dengan pandangan mata terpaku pada kaki Palastri yang panjang dan indah.
”Ada apa lagi, Kamandanu?” tanya gadis itu tanpa menghentikan langkahnya, hanya sedikit memalingkan kepalanya kepada pemuda yang dianggapnya terlalu dingin. Gadis itu bahkan semakin mempercepat langkahnya.
”Tunggu, aku harus tahu dimana Nari Ratih berada.” Kamandanu sesekali melirik betis Palastri yang terlihat jelas olehnya ketika kain gadis itu tersingkap.
”Carilah sendiri! Tadi aku memang berniat memberitahumu, tapi sekarang tidak lagi.” Palastri menghentikan langkah. Tanpa sadar, ia menyilangkan kaki jenjangnya, memberi Kamandanu pemandangan larik-larik urat nadinya yang berwarna hijau kebiruan.
”Ayolah, Palastri. Aku mohon.” Pikiran Kamandanu jadi melayang jauh. Ia  menghela nafas, seandainya bisa mengelus lembut tubuh gadis itu, entah bagaimana rasanya.
Palastri tersenyum. ”Kau sungguh-sungguh ingin tahu?”
Arya Kamandanu mangangguk. ”Aku ingin bertemu dengannya untuk yang terakhir kali.”
”Akan aku beritahu, tapi kau harus memberiku imbalan. Bagaimana, apa kau sanggup?” tanyanya sambil melirik nakal.
”Apa imbalannya?” Kamandanu mengangguk mengiyakan. Terlihat jelas olehnya lengan Palastri yang putih mulus, juga lehernya yang jenjang dengan tahi lalat kecil berada di dekat pundaknya.
”Tidak sulit. Kau hanya harus menemaniku ke gubuk di sebelah sana.” kata Palastri sambil menggeliatkan tubuhnya yang sintal menggoda.
”Hanya menemani?” tanya Kamandanu. Bayang-bayang indah tubuh gadis itu yang langsing padat semakin melekat jelas di dalam pikirannya.
”Kau ingin memberiku yang lain? Hmm... boleh juga!” Palastri tertawa dan selanjutnya mengajak Kamandanu agar bergegas melangkah menuju gubuk kecil di balik semak itu.
”Kau mau apa, Palastri?” tanya Kamandanu saat gadis itu menggenggam tangannya erat.
”Kamu tampan sekali, Kamandanu. Aku menginginkan tubuhmu!” kata gadis itu sambil memamerkan dua gundukan kenyal di dadanya yang membusung indah.
”Tapi, Palastri...” Kamandanu tidak tahu harus berkata apa. Dia tahu ini salah, tapi entah kenapa juga tidak sanggup untuk menolaknya.
”Kenapa, Kamandanu? Kau tidak suka dengan tubuhku?” tanya gadis itu sambil duduk di depan Kamandanu, kakinya yang panjang dan indah tampak semakin menggoda perasaan.
”B-bukan itu. Tapi...” tak berkedip Kamandanu memandangi kain Palastri yang kembali tersingkap sehingga menampakkan sebagian paha mulusnya.
”Lalu apa?” kejar gadis itu dengan posisi duduk semakin mendekat.
”A-aku... belum pernah... melakukannya!” bisik Kamandanu lirih dengan mata terpaku erat pada pemandangan indah di sekitar pangkal paha gadis itu.
”Wah-wah, aku sama sekali tak menyangka kalau bakal dapat perjaka.” Palastri tertawa.
Muka Kamandanu bersemu merah. ”Hei, bukankah kamu sudah punya kekasih. Bagaimana kalau dia sampai tahu?” tanyanya kemudian.
”Kalau kita merahasiakan ini, dia tidak akan tahu.” kata Palastri sambil duduk di pangkuan Arya Kamandanu dan perlahan mulai memagut bibirnya.
Kamandanu mengikuti saja, ia biarkan Palastri yang mengendalikan permainan. Dengan rakus gadis yang haus akan kehangatan itu menjelajahi mulutnyam mencari lidahnya untuk kemudian saling berpagutan bagai ular. Palastri menghisapnya lebut, dan Kamandanu membalas melakukan hal yang sama. Bahkan pemuda itu menurut saja ketika tubuh hangat gadis itu menekan ke dadanya hingga ia bisa merasakan puting susu Palastri yang telah mengeras tajam.
Setelah puas, Palastri kemudian berdiri di depan Arya Kamandanu yang masih melongo kebingungan. Satu demi satu pakaian gadis itu berjatuhan ke lantai. Tubuhnya yang polos seakan-akan menantang untuk diberi kehangatan oleh perjaka yang juga teman sahabatnya ini.
“Sentuh tubuhku, Kamandanu!” Palastri berkata sambil merebahkan dirinya di lantai gubuk yang sempit. Rambut panjangnya tergerai bagai sutera ditindihi tubuhnya yang sintal menggoda. “Ayo cepat, Kamandanu!” gadis itu mendesah tidak sabar saat melihat Kamandanu yang cuma terdiam terpesona.
”Eh... iya. Iya.” tergagap-gagap, Kamandanu segera berlutut di samping tubuh gadis itu. Ia sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukan.
“Kamandanu, letakkan tanganmu di dadaku.”
Dengan gemetar, Kamandanu meletakkan tangannya di dada Palastri yang bergerak turun naik. Tangannya kemudian dibimbing untuk meremas-remas payudara montok gadis muda itu. “Oohh… enak! Yah, begitu caranya, Kamandanu! Remas pelan-pelan, rasakan putingnya yang menegang.”
Dengan semangat Kamandanu melakukan apa yang Palastri katakan. Bahkan ia kemudian bertanya, “Palastri, boleh aku menghisapnya?”
Gadis itu tersenyum mendengar pertanyaan itu. ”Ahh, memang itu yang harus kamu lakukan, Kamandanu!” Tubuh Palastri menegang seketika saat merasakan jilatan dan hisapan mulut pemuda itu di puting susunya. Perasaan yang pernah ia rasakan beberapa hari lalu bersama Bhagaskara, kini hadir kembali.
“Oohh… jilat terus, Kamandanu… ohh! Kamu memang pintar...” tangannya mendekap erat kepala Kamandanu ke belahan payudaranya, membuat pemuda itu semakin buas menjilati puting susunya. hisapan Kamandanu menimbulkan bunyi yang sangat nyaring, terutama saat pemuda itu tanpa sadar mulai menggigit-gigit ringan disana.
“Hmm… nakal kamu, Kamandanu!” Palastri tersenyum merasakan tingkah pemuda tampan itu. “Sekarang coba kamu lihat daerah bawah pusarku,” bisiknya kemudian.
Kamandanu menurut saja. Ia duduk diantara kaki Palastri yang membuka lebar. Bisa dilihatnya liang kewanitaan gadis itu yang sudah licin mengkilap, belahannya tampak mungil dan terus berkedut-kedut pelan, juga serabut rambut halus yang tumbuh tak beraturan di sekitarnya. ”Rupanya begini bentuk kemaluan wanita,” batin Kamandanu dalam hati. Tak berkedip ia terus menatapnya.
”Coba kamu rasakan!” Palastri membimbing telunjuk Kamandanu agar memasuki liang vaginanya.
“Hangat, Palastri.” bisik Kamandanu polos. Pelan-pelan jarinya mulai mengusap-usap biji klitoris gadis itu yang mulai menyembul indah.
“Terus… oohh… yah, gosok disitu!” Palastri langsung mengerinjal-gerinjal keenakan saat merasakannya. Dengan tubuh telah basah oleh peluh, pikirannya serasa melayang di awang-awang, sementara bibirnya terus merintih-rintih penuh kenikmatan.
Tangan Kamandanu bergerak semakin berani. Sambil mempermainkan klitoris gadis muda itu, ia juga meremas-remas payudara Palastri yang berayun-ayun indah seiring desah nafasnya yang semakin memburu cepat.
“Ooaahh… Kamandanu!” Tangan Palastri mencengkeram pundak pemuda itu, sementara tubuhnya mengejang dan otot-otot kewanitaannya menegang. Matanya terpejam sesaat, menikmati kenikmatan yang telah lama tidak ia rasakan. “Hmm… kamu lihai sekali, Kamandanu. Sekarang, coba kamu berbaring!”
Kamandanu menurut saja saat Palastri mulai menelanjangi dirinya. Penisnya segera menegang ketika merasakan tangan lembut gadis cantik itu. “Wah-wah, besar sekali.” tangan Palastri segera mengusap-usap batang yang telah mengeras tersebut.
Segera saja benda panjang dan berdenyut-denyut itu masuk ke mulutnya. Gadis itu menjilatinya dengan penuh semangat. Kepala penis Kamandanu dihisapnya keras-keras, begitu nikmatnya sampai membuat Kamandanu merintih-rintih keenakan. “Ahh… enak, Palastri!” bahkan pemuda itu tanpa sadar menyodok-nyodokkan pinggulnya untuk semakin menekan penisnya ke dalam kuluman gadis muda itu. Gerakannya semakin cepat seiring semakin kerasnya hisapan mulut Palastri.
“Hmm… manis rasanya, Kamandanu.” bisik gadis itu saat menjilati cairan bening yang mulai mengalir dari ujung penis Kamandanu.
Kamandanu yang tidak tahan, segera menyudahi dengan mendekap tubuh mulus Palastri. Protes gadis itu tidak ia hiraukan. ”Tunggu, Kamandanu. Aku masih ingin merasakan punyamu.” Tapi Kamandanu segera memutar tubuhnya hingga gadis itu duduk membelakanginya, lalu mendekapnya erat dari arah belakang. Dengan tangan kirinya Palastri menopang tubuhnya ke dinding gubuk agar tidak sampai jatuh.
“A-aku… mau sekarang, Palastri!” bisik Kamandanu dengan nafas memburu cepat.
“Arghh!!” Palastri berteriak saat Kamandanu dengan tiba-tiba menyodokkan penisnya keras ke dalam liang vaginanya dari arah belakang. Dalam hatinya ia sangat menikmati hal tersebut, pemuda yang tadinya pasif kini berubah menjadi liar.
“Kamandanu... ooh… enak! Ohh… terus! Yah, terus! Oohh...” Tubuh Palastri terlonjak-lonjak akibat sodokan Kamandanu yang bertubi-tubi. Satu tangan pemuda itu menyangga tubuhnya, sementara yang lain meremas-remas tonjolan payudaranya, sambil penisnya yang keras terus melumat liang vaginanya.
“Kamu menikmati ini kan?” bisik Kamandanu di telinga gadis itu.
“Ahh… ahh...” Palastri hanya bisa merintih, tanpa sanggup untuk menjawab. Setiap sodokan Kamandanu terasa keras menghunjam lorong vaginanya, membuatnya melayang cepat entah kemana.
“Aghh… uhh... ughh…” Kamandanu juga mendengus-dengus penuh gairah di setiap hunjamannya.
“Aduh… terus, Kamandanu! Terus! Oohh...” Palastri berteriak-teriak nikmat saat liang vaginanya yang sempit dilebarkan secara cepat oleh pemuda itu. Kepalanya berayun-ayun, terpengaruh oleh sodokan tersebut.
Tangan Kamandanu mencengkeram pundak gadis itu, seolah-olah mengarahkan tubuh Palastri agar semakin cepat saja menelan penisnya. “Tubuhmu enak, Palastri.” rintih Kamandanu dengan penis berkedut-kedut cepat.
Tahu kalau pemuda itu akan mencapai klimaksnya, gadis itu segera berbisik. ”K-keluarkan saja di dalam, Kamandanu. Tidak apa-apa.”
”Nanti kamu bisa hamil.” balas Kamandanu dengan pinggul terus mengayun keras.
”Tidak apa-apa, aku…”  belum sempat ia meneruskan kalimatnya, Palastri telah merasakan cairan hangat Kamandanu menyembur deras di liang vaginanya yang sempit. Merasa nikmat, iapun menyambut dengan menyodokkan pinggulnya keras-keras ke belakang. Matanya terpejam menikmati perasaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
“Ughh!!” penis Kamandanu yang belepotan mani itupun amblas lagi ke dalam liang vaginanya. ”Ahh...” Kedua insan itupun tergolek lemas menikmati apa yang baru saja mereka rasakan.
Palastri tergolek kelelahan di pelukan Kamandanu. Rambutnya yang hitam panjang menutupi punggungnya, sementara dadanya yang indah bergerak naik-turun mengikuti irama nafasnya. Sementara itu vaginanya menjadi sangat becek, belepotan air mani Kamandanu dan cairan cintanya sendiri.
“Hmm... nakal kamu!” gadis itu mendesah saat puting susunya dibuat mainan oleh Kamandanu. Sebenarnya ia sangat lelah, tapi perasaan terangsang yang ada di dalam dirinya mulai muncul kembali. Dibukanya kakinya lebar-lebar sehingga memberikan kemudahan bagi Kamandanu untuk memainkan klitorisnya.
“Kamandanu, aahh!!” Tubuh Palastri bergetar, menggelinjang-gelinjang saat pemuda tampan itu mempercepat permainan tangannya.
“Palastri, aku mau lagi!” bisik Kamandanu malu-malu.
 “Nakal kamu ah,” dengan tersenyum nakal, gadis itu bangkit dan kembali menungging. Tangannya memegangi kayu penyangga gubuk, sementara matanya terpejam menanti sodokan penis kamandanu yang besar dan panjang.
Kamandanu meraih payudara gadis itu dari belakang dan mencengkeramnya dengan keras saat ia menyodokkan penisnya yang sudah kembali tegang. “Aduh…! Auhh...!” Palastri langsung mengaduh sambil menggigiti bibir. Lubang vaginanya yang masih sempit kembali melebar karena desakan penis pemuda itu.
“Punyamu enak, Palastri. Sempit sekali!” Arya Kamandanu memuji sambil mulai menggoyang-goyangkan pinggulnya.
“Hmm… ahh… ahh…” Palastri hanya bisa mendesah menjawabnya. Bahkan ia berteriak-teriak lirih seiring gerakan Kamandanu yang semakin cepat. Gadis itu menggerak-gerakkan badannya untuk mengimbangi serangan itu. Selain tusukan, kenikmatan juga ia peroleh dari remasan pemuda itu pada tonjolan buah dadanya yang berayun-ayun indah.
“Ayo, Kamandanu! Ahh... ahh… a-kau sudah mau keluar lagi!” rintih Palastri dengan gerakan pinggul semakin cepat menerima sodokan Arya Kamandanu. Tangannya mencengkeram tangan pemuda itu, sementara kepalanya mendongak menikmati rasa ngilu yang menjalar cepat ke seluruh tubuhnya. Sementara Kamandanu sendiri tetap menusuk-nusukkan penisnya ke vagina Palastri yang semakin becek membanjir.
“Ayo! Makin dalam, Kamandanu!” rintih gadis itu penuh rasa suka.
“Ahh... ahh… ahh...” Arya Kamandanu pun mulai berteriak-teriak keenakan.
“Ahh... a-aku... keluaar!!” Palastri sekali lagi memejamkan matanya, saat air cintanya menyemprot kembali dengan begitu deras. Yang disusul tak lama kemudian oleh Arya Kamandanu, dengan memuncratkan air maninya ke dalam lorong vagina Palastri yang sempit dan ketat.
Mereka kemudian ambruk bertindihan dengan tubuh basah oleh keringat, sementara diantara kaki-kaki mereka mengalir cairan hangat hasil olah tubuh keduanya. “Kamu sungguh luar biasa, Kamandanu!” bisik Palastri dengan nafas masih terengah-engah.
“Hmm... aku hanya mencoba memuaskanmu!” sahut Arya Kamandanu sambil merebahkan dirinya di samping tubuh gadis itu, tangannya mengusap-usap puting Palastri dengan begitu gemas.
”Kamandanu, kalau kau mau menemui Nari Ratih, pergilah ke tepi padang ilalang.” bisik gadis itu.
”Iya, nanti. Kalau aku sudah puas dengan tubuhmu.” Arya Kamandanu tersenyum.
”Hah, kamu masih mau lagi?” Palastri membelakkan matanya.
”Kenapa tidak, ini punyaku sudah bangun lagi.” kata Kamandanu sambil menunjukkan batang penisnya yang kembali menegang.
Dengan gemas Palastri segera mengurut dan memeganginya, dan setelah membasahinya menggunakan ar liur, iapun kembali menungganginya. 

***

Hari sudah beranjak petang ketika Kamandanu melepas kepergian Palastri. Total lima kali ia menyetubuhi gadis cantik itu. Kamandanu sama sekali tidak menyesal melepas keperjakaan dengannya. Gadis itu begitu pintar, sangat sabar serta telaten membimbingnya yang masih awam soal begituan. Ia begitu puas, bahkan kalau misalnya ada kesempatan, ingin Kamandanu mengulanginya kembali. Namun sekarang semua harus berakhir sampai disini. Setelah Palastri hilang dari pandangan, ia pun melompat ke atas punggung kudanya dan perlahan menarik tali kekangnya.
Binatang itu meringkik tertahan kemudian kaki-kakinya pun berderap berirama. Memecah keheningan dan meningkahi desau angin yang menggoyang-goyangkan dedaunan. Bau harum kembang-kembang liar bercampur dengan bau serangga pun menghampiri penciuman pemuda yang dilanda kegelisahan itu. Bau walang sangit yang menampar hidungnya membuatnya terjaga dari lamunan. Bersamaan dengan itu ia menyentakkan tali kekang kuda kuat-kuat hingga kudanya melompat bagaikan terbang dengan meninggalkan suara berderap semakin menjauh dan tinggal sayup-sayup.
Pemuda itu terguncang-guncang di atas kudanya yang berbulu cokelat mengkilat. Tegar dan perkasa. Angin kencang pun menampar wajahnya hingga kadangkala ia terpaksa memejamkan mata untuk mengurangi rasa perih bahkan air mata pun keluar karena terlalu kencangnya kuda itu berlari.
Akhirnya kuda perkasa itu pun sampailah di suatu tempat. Tempat yang benar-benar menawan dengan panorama alam. Angkasa dan buana seolah-olah menyatu. Angkasa langit biru yang berhias awan-awan cirrus, awan-awan yang putih halus bagaikan kapas bertebaran. Di kejauhan tampak gunung dan pegunungan yang biru mengelabu seolah-olah ingin mencium bibir langit yang ranum. Kemudian lembah dan ngarai yang menghijau bagaikan permadani menghampar begitu luas menyejukkan mata yang memandangnya.
Sepoi angin dan desaunya menggiring pada siapa saja untuk sejenak memejamkan mata. Agar suara gemerisik dedaunan semakin jelas, agar cericit dan kicau burung pun makin merdu seiring detak-detak jantung hati yang menggema mengucapkan segala puji dan syukur ke hadirat Dewata Yang Agung atas segala kebesaran dan anugerah-Nya yang benar-benar ajaib. Sengatan sinar surya bukanlah suatu hal yang ganas, tetapi cukup bersahabat sebab seringkah awan yang melintas didera angin mengurangi teriknya.
Arya Kamandanu tersenyum seorang diri, ia pejamkan matanya. Menghirup udara segar sepuas-puasnya yang membawa aroma bunga-bunga hutan, bunga-bunga liar, bunga-bunga rumput dan ilalang. Namun, ia tersentak tatkala kuda kesayangannya meringkik panjang. Lagi-lagi ia tersenyum seorang diri sebab binatang itu mungkin tahu bagaimana mengucapkan syukur kepada Yang Maha Agung atas kebahagiaan tersendiri yang menyelinap di lubuk hati tuannya di tengah kepedihannya selama ini.
Pemuda itu pun melompat dari punggung kuda. Memanjangkan tali kekang kuda itu serta menambatkannya pada sebuah batang pohon perdu. Buih dari mulut kuda yang kelelahan itu menetes di rerumputan seiring dengus yang memburu. Pemuda itu kembali mengelus kepala kudanya. Mengusap bulu suri dan menepuk-nepuk leher kudanya dengan penuh kasih sayang. Kuda itu meringkik manja dan mengangkat kepalanya tatkala tuannya perlahan melangkah meninggalkannya.
Tuannya berjalan di antara rumpun-rumpun ilalang yang tumbuh sangat subur hampir sedada. Pemuda itu kemudian mengangkat kepalanya, dahinya berkerut-kerut. Jantungnya berdebar-debar ketika ia harus menghentikan langkahnya di belakang seorang gadis berambut panjang, hitam dan bergelombang. Rambut itu berhias seuntai kembang melati yang terangkai di tusuk konde dibiarkan berjuntai di telinganya. Tusuk konde berbingkai emas itu sengaja diselipkan di rambut di atas telinga kanannya, padahal biasanya rambut itu digelung dan dikunci dengan tusuk konde itu. Rambut hitam panjang bergelombang gadis itu sesekali berderai didera angin sepoi padang ilalang pinggir desa Kurawan.
Gadis cantik itu belum menyadari akan kehadiran seorang pemuda gagah dan tampan yang sejak tadi menahan napas oleh kekaguman dan keagungan ciptaan Dewata yang nyaris sempurna. Pemuda itu perlahan sekali melangkahkan kaki kanannya dan kembali berhenti. Bibirnya bergetar dan meliuk-liuk tatkala dari sana meluncur suara sangat lirih, "Ratih!" suara yang sangat lirih itu seolah-olah tercekat di tenggorokan pemuda itu.
Gadis yang dipanggil namanya setengah terkejut berpaling pada seseorang yang memanggilnya. Suara yang tidak asing lagi di telinganya. Ia tersenyum simpul. Bibir merah jambu itu bergetar dan meliuk-liuk. Matanya yang bulat besar dan indah tampak sayu, agak cekung. Pada sekitar matanya, pelupuknya tergambar garis-garis kecokelatan. Hidungnya yang bangir tampak mencuat melengkapi keindahan bibirnya yang mungil. Ia tetap menyunggingkan senyuman yang paling indah sekalipun dari sinar wajah itu menunjukkan luka dan duka panjang. Luka dan duka akan sebuah hati, sebuah nurani yang tercabik.
Lalu gadis itu berkata lirih pada seseorang yang selama ini sangat dekat di hatinya. "Akhirnya kau datang juga, Kakang Kamandanu."
"Kau masih membutuhkan kehadiranku di tempat ini?"
"Jangan begitu, Kakang. Kita pernah menjadi milik tepi padang ilalang ini. Kita pernah menjalin hubungan yang akrab dan manis di tempat ini."
"Semua itu sudah berlalu, Ratih." Perih kata-kata itu meluncur dari bibir si pemuda.
Gadis itu kemudian bangkit perlahan sekali dari duduknya. Batu hitam tempat duduknya itu masih kelihatan kelimis dan licin pertanda betapa seringnya batu hitam itu menjadi tempat yang istimewa bagi mereka. Gadis itu berdiri tepat di sisi pemuda yang sangat dicintainya. Kemudian ia pun mendesah sangat lirih. "Yaah... agaknya begitu, Kakang. Semuanya sudah harus berlalu."
"Sebenarnya aku tak ingin pertemuan semacam ini lagi. Aku sudah menguburkan semuanya. Tak ada yang perlu diingat ataupun dikenang."
"Aku yang menginginkan pertemuan ini, Kakang. Bukan kau."
"Untuk apa?"
"Untuk melihat pelangi itu yang terakhir kalinya bersamamu. Pelangi yang penuh warna-warni, indah sekali."
"Tidak. Pelangi itu bagiku tidak indah lagi. Mataku justru menjadi sakit setiap kali memandangnya."
"Yah, semua ini memang salahku, Kakang. Aku wanita yang berdosa. Aku tidak pantas lagi memandang pelangi di tepi padang ilalang ini. Aku mestinya sudah dicampakkan ke dalam lumpur neraka. Aku menyesal, Kakang. Aku menyesal sekali telah mengkhianati cintamu." desah suara gadis itu kian lelah, bahkan teramat berat, hingga tanpa disadarinya meluncurlah butir-butir bening air matanya di pipinya yang halus dan lembut. Hidungnya kembang kempis memerah mengeluarkan ingus. Gadis itu seolah-olah meratap, namun tidak ada yang mengulurkan tangan buat membelai dan mengasihinya. Hati nuraninya benar-benar tercabik.
Arya Kamandanu pun tidak kuasa untuk memandang lebih lama pada gadis yang saat ini masih melekat di hatinya. Rasa kesal, benci, marah sekaligus kasih cinta masih membalut seluruh hatinya. Ia mengeraskan rahangnya hingga tampak menonjol. Ia hela napas dalam-dalam untuk menguatkan hatinya. Ia berusaha bersikap lembut pada gadis di depannya. Gadis yang sangat dicintainya sekaligus gadis yang dibencinya karena telah mencabik-cabik cintanya.
"Sudahlah, Ratih. Keringkan air matamu. Kasihan bumi tempatmu berpijak kalau harus menjadi sasaran deras air matamu. Bumi itu suci, tidak berdosa."
"Memang akulah yang berdosa. Biarlah kusandang beban dosa ini seumur hidupku, Kakang."
"Kau dusta. Bukankah kau sudah mendapatkan kebahagiaan yang kau idam-idamkan selama ini? Kau sudah merebut hati Kakang Dwipangga dan sebentar lagi kau akan kenyang mendengar syair-syairnya tentang cinta."
"Kakang Kamandanu. Ini bukan persoalan Kakang Dwipangga, ini adalah persoalan kita berdua."
"Kita tidak mempunyai persoalan lagi."
"Aku ingin minta maaf padamu, Kakang. Aku telah menyakiti hatimu. Bukalah sedikit pintu hatimu untuk menuangkan maafmu."
"Baik. Baik. Akan kubuka pintu hatiku selebar-lebarnya agar kau bisa puas memperoleh apa yang kau inginkan."
"Kakang, aku ingin ketulusan hatimu."
"Jangan bicara soal ketulusan hati. Jangan bicara lagi soal kesetiaan, soal kebajikan, karena semua sudah terbukti. Kau sudah mengkhianati cintaku!"
"Jadi, Kakang tidak sudi memaafkan aku?"
"Mengapa kau tidak berkaca, Ratih? Apa karena merasa dirimu paling cantik lalu kau tidak membutuhkan lagi sebuah cermin?"
"Kata-katamu terlalu menyakitkan, Kakang!"
"Perbuatanmu bahkan lebih menyakitkan. Perempuan lacur. Wanita murahan!"
"Oh, Kakang. Kakang Kamandanu. Kukira kau seorang laki-laki yang bijaksana. Mengapa kau mengeluarkan ucapan-ucapan sekeji itu? Kau menganggapku berdosa karena telah mengkhianati cintamu. Baik, kuterima dengan tabah tuduhanmu itu. Tapi apakah selama ini kau pernah mengutarakan rasa cintamu padaku?"
Arya Kamandanu terkesima, ia mengerutkan dahinya memandang pada gadis jelita yang kini bersimbah air mata. Terisak-isak dan tersedu-sedu. Gadis cantik itu sibuk menghapus air matanya dan menunduk. Sejenak mereka saling diam. Diam membisu seribu bahasa. Hanya suara isak dan sedu sedan tangis terdengar pilu meningkahi desau angin yang membuat gemerisik ranting dan dedaunan.
Masih dalam isak dan tangis, Nari Ratih kembali menyuarakan isi batinnya dengan suara tersendat dan parau. "Selama ini aku hanya menunggu dan menunggu. Padang ilalang ini sebagai saksinya bahwa aku selalu menunggu pernyataan cintamu. Tapi sekian lama menunggu, sekian lama pula hatiku kecewa. Kau tetap saja menyembunyikan perasaanmu. Kau tinggi hati. Kau angkuh sekali dan akulah yang menjadi korban cintaku sendiri. Apakah itu adil?"
Arya Kamandanu hanya diam membisu ketika Nari Ratih merutuknya. Gadis itu tidak melanjutkan kata-katanya karena harus menyeka air mata dan menenangkan hatinya sendiri, lalu ia pun kembali bicara. "Baiklah. Kalau memang kau tidak bersedia memaafkan Nari Ratih, biarlah aku hidup sampai di sini saja."
Secepat kilat gadis Manguntur yang sudah dirundung putus asa itu mencabut sebilah pisau yang tajam berkilat-kilat. Lalu ia mengangkat pisau itu dan hendak menghunjamkan ke ulu hatinya. Namun, Arya Kamandanu segera melompat dan menahan pergelangan tangan gadis itu. Ia gugup dan sangat terkejut.
"Ratiihhh... jangan! Tahan Ratih!"
"Oh, lepaskan tanganku, Kakang! Lepaskan!" Gadis itu meronta-ronta dan berusaha keras menghunjamkan pisau yang sudah digenggamnya erat-erat. Namun, cengkeraman tangan Arya Kamandanu yang sangat kukuh tidak mampu melepaskannya. Ia pun terus meronta sambil menjerit tertahan. "Lepaskan, oohhh, lepaskan! Biar aku mati saja, Kakang! Biar aku mati saja."
"Ratih, jangan begitu! Tidak baik membunuh diri sendiri."
"Tak ada gunanya lagi aku hidup. Aku wanita yang penuh lumpur dosa. Aku wanita yang paling hina. Lebih baik aku lenyap dari muka bumi ini. Lepaskan aku, Kakang! Oh, lepaaaaaskan!" Nari Ratih makin hebat meronta dan berusaha melawan tenaga Arya Kamandanu yang makin erat memegang pergelangan tangan serta memeluknya.
"Rattiih! Kau kira dengan bunuh diri urusanmu akan selesai? Kau akan mati penasaran dan kau akan meninggalkan racun yang akan membuat kami semua menderita."
Nari Ratih masih memberontak, namun badannya melemas. Pelukan Arya Kamandanu membuatnya sedikit terbuka, dan ia tergetar, sadar dari kenekatannya, "Oh.... Kakang Kamandanu, mengapa pikiranku menjadi gelap sekali? Mengapa?" suara itu seperti menjerit dan merintih.
Tertahan bagaikan tanpa daya, tubuh gadis itu melemah dan kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Arya Kamandanu untuk merampas pisau tajam dari tangan Nari Ratih. "Ratih! Dalam keadaan seperti ini, kita harus tetap tegar dan tabah. Jangan menuruti luapan perasaan yang akhirnya bisa mencelakakan diri kita sendiri. Nah, pisau ini harus dibuang jauh-jauh."
Lalu Arya Kamandanu pun melemparkan pisau tajam itu jauh sekali. Hingga pisau itu melayang dan terhempas di dasar jurang lembah Kurawan. Lekat-lekat ia memandangi Nari Ratih. Wajah ayu itu seperti diliputi kabut, sendu dan mengiba tetapi menyimpan suatu kekerasan hati untuk membuang segala kegundahannya. Ia tidak mampu menghadang dan membalas tatapan mata pemuda tampan di hadapannya. Pemuda itu pun menyimpan luka karena tikaman asmaranya.
Ia tidak tahu, mengapa Arya Kamandanu memandanginya seperti itu. Ia hanya berani mencuri pandang dengan ekor matanya saat pemuda itu berkata, "Pisau itu sudah kubuang jauh-jauh ke dasar jurang. Dia tidak akan bisa membujukmu lagi melakukan perbuatan yang amat nista. Sekarang marilah kita duduk, Ratih. Aku akan bicara denganmu."
Lalu Arya Kamandanu membimbing gadis cantik itu agar duduk di atas batu hitam. Kemudian dia sendiri mengambil tempat di sisi Nari Ratih yang masih menahan isak tangisnya. Mereka berusaha menenangkan hati dalam diam sambil menghirup udara segar yang dibawa angin sepoi hari itu. "Ratih. Sebenarnya kau tidak perlu minta maaf padaku, karena tanpa kau minta pun aku telah memaafkannya. Karena aku mencintaimu, Ratih."
"Mengapa akhirnya kita menjadi begini, Kakang?"
"Yah, karena memang beginilah yang harus kita alami. Kita bertemu di tepi padang ilalang ini. Kita bercanda di bawah sinar pelangi, dan kita rupanya harus berpisah di tempat yang sama."
"Kalau kupikir-pikir, kisah cinta kita ini lucu sekali ya, Kakang? Lucu tetapi tak seorang pun akan tertawa bila ikut mendengarnya. Karena di balik kelucuan itu sebenarnya tersimpan kepahitan."
"Yah, setidak-tidaknya kita masih bisa tertawa untuk diri kita sendiri."
"Kakang..."
"Apa, Ratih?"
"Kalau dulu kau mau berterus-terang, kita tentu tak akan mengalami seperti ini."
"Percayalah, bahwa semua ini bukan kehendak kita, Ratih."
"Yah, apa yang sudah terlepas dari tangan tak mungkin dipungut lagi karena sudah terjatuh ke bagian kehidupan yang lain. Semua sudah terlambat. Nasi sudah menjadi bubur."
"Apa maksudmu, Ratih?"
"Aku bukan Ratih yang dulu lagi. Aku bukan Nari Ratih kembang desa Manguntur yang masih polos dan suci."
"Ratih. Bagiku kau tetap Nari Ratih yang dulu. Sama sekali kau tidak berubah, sekalipun sekarang sudah menjadi milik Kakang Dwipangg..."
Tangan Nari Ratih dengan gesit mendekap mulut Arya Kamandanu hingga tidak menyelesaikan nama itu. Nari Ratih matanya membulat sambil mendengus, lalu meminta dengan harap. "Jangan sebut nama itu, Kakang. Kalau kudengar nama itu, hatiku menjadi resah. Pandanganku berkunang-kunang dan bumi rasanya berguncang."
"Bukankah kau mencintainya?"
"Entahlah, aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu itu, Kakang. Kakang Dwipangga hadir seperti teka-teki kehidupan yang sulit diterka maksudnya. Ah, kalau saja waktu ini bisa dimundurkan kembali."
"Itu bertentangan dengan kehendak HyangWidhi, Ratih. Jangan menginginkan sesuatu di luar jangkauan manusia. Sudahlah, mari kita akhiri pertemuan ini. Kita saling memuji saja, agar Dewata memberkati perjalanan hidup kita masing-masing."
"Ohh, Kakang Kamandanu..."
"Tepi padang ilalang ini dan sinar pelangi diatas sana akan menjadi saksi bahwa kita pernah dipertemukan. Mereka pun akan menjadi saksi bahwa kita akhirnya harus dipisahkan."
"Oh, Kakang Kamandanu. Namamu akan kukenang sepanjang hayatku."
"Aku pun tak bisa melupakanmu, Nari Ratih. Tapi ada satu hal yang membuatku merasa lega. Aku rela. Aku ikhlas karena saudara tuaku sendiri yang akhirnya menjadi pemuda pilihan hatimu. Aku yakin Kakang Dwipangga bisa membuatmu bahagia. Kalian akan hidup rukun sampai kakek nenek, banyak rezeki dan banyak anak."
"Oh, Kakang Kamandanu. Begitu mulianya hatimu."
"Kau pun wanita yang paling manis yang pernah kukenal, Ratih. Hanya karena sesuatu yang tak akan pernah kumengerti kalau aku melepaskanmu. Mudah-mudahan sikapku ini membuahkan sesuatu yang baik."
"Kakang... sebelum pergi, aku akan memberikan tanda mata untukmu. Terimalah batu nirmala ini. Batu ini pemberian ibuku sebelum menghembuskan napasnya yang terakhir. Terimalah, Kakang. Hanya benda ini yang bisa kuberikan padamu sebagai kenang-kenangan."
Arya Kamandanu menerima batu nirmala itu dari tangan Nari Ratih yang terulur untuknya. Kedua tangan itu bersentuhan kemudian saling terjalin lama sekali. Mereka saling meremas dan menggenggam dengan jantung yang semakin cepat berdetak dan menggemuruh.
Bibir Arya Kamandanu bergetar seiring kata-kata yang keluar dari sana. "Oh, terima kasih, Ratih. Batu nirmala ini indah sekali. Akan kusimpan batu ini sebagai tanda mata darimu sepanjang hidupku. Akan kupertahankan batu nirmala ini dengan mempertaruhkan nyawaku."
"Nah, Kakang. Aku harus pergi."
"Pergilah, Ratih! Ringankan langkahmu. Pergilah dan jangan menengok-nengok ke belakang lagi."
"Selamat tinggal, Kakang..."
"Selamat berpisah, Ratih..."
Sejenak keduanya saling memandang, tanpa kata-kata. Lalu keduanya menundukkan kepala dengan desah napas yang tertahan. Hanya alam yang mampu mengartikannya. Jalinan tangan mereka perlahan berurai, kemudian mereka saling memandang lagi. Akhirnya, Nari Ratih dengan berat melangkah pergi. Arya Kamandanu terus menatap gadis Manguntur itu sampai lenyap di balik rimbunnya daun-daun pepohonan.
Mendadak hatinya merasa kosong. Matanya berkaca-kaca. Dia memang ikhlas tetapi hatinya sakit sekali. Terasa sebagian dari dirinya ikut terbawa oleh kepergian Nari Ratih. Pemuda itu mengeraskan rahangnya yang kukuh. Kedua tangannya meremas batu nirmala kemudian ia merunduk dan menciumi batu itu. Ia menggeleng-gelengkan kepala seolah-olah baru saja sadar dari mimpi panjang.
Arya Kamandanu baru saja akan melompat ke atas punggung kudanya ketika dari jauh tampak seorang penunggang kuda menghampirinya. Derap kuda semakin mendekat dan akhirnya berhenti beberapa depa di sampingnya. Binatang perkasa itu meringkik panjang setelah penunggangnya melompat turun dari punggungnya.
"Oh, Kakang Dwipangga."
"Adi Kamandanu, Ayah mencarimu. Beliau memanggil kita berdua. Sepertinya ada sesuatu yang penting yang hendak beliau sampaikan pada kita."
"Kakang tahu aku ada di sini?"
"Kalau tidak ada di mana-mana, kau biasanya duduk merenung di tepi padang ilalang ini."
"Baru saja aku menyelesaikan persoalanku dengan Nari Ratih."
"Nari Ratih?"
"Ya, Kakang. Sekarang tidak ada lagi yang menjadi ganjalan di hati kami. Sekarang aku ingin menyelesaikan persoalan denganmu."
"Persoalan apa lagi?"
"Nari Ratih mencintaimu. Kuharap kau tidak menyia-nyiakan cintanya."
"Adi Kamandanu. Terus terang aku pun mencintainya. Bagaimana aku menyia-nyiakannya?"
"Dia akan menjadi isteri yang baik dan aku percaya kau pun akan menjadi suami yang baik."
"Adi Kamandanu, kau memaafkan kami berdua?"
"Ya. Kupikir tak ada yang bisa dipersalahkan. Semua sudah menjadi kehendak Hyang Widhi. Aku relakan Nari Ratih jatuh ke tanganmu, jatuh dalam pangkuanmu karena aku yakin kau bisa membahagiakan hidupnya."
"Oh, Adi Kamandanu, terima kasih atas pengertianmu yang sangat besar ini. Aku berjanji akan mencintai Nari Ratih sampai akhir hayatku."
"Aku bahagia sekali mendengar janjimu itu, Kakang. Sekarang baru aku merasakan ketenangan."
Dua bersaudara itu kemudian berpelukan erat sekali. Rasa haru menghiasi hari mereka yang sudah saling memberikan pengertian. Di langit sebelah barat lengkungan sinar pelangi belum lagi lenyap. Warna merah kekuning-kuningan menyebar di seluruh permukaan padang ilalang. Senja pun mulai turun pada saat Arya Kamandanu dan Arya Dwipangga naik ke atas punggung kuda masing-masing. Sebentar kemudian kuda mereka sudah berkejar-kejaran di bawah sinar lembayung senja yang indah.
Binatang-binatang perkasa yang keduanya berbulu cokelat mengkilap itu seolah-olah turut bergirang mengikuti suasana hati tuan-tuannya. Mereka yang selama ini saling bermusuhan dan berselisih paham. Derapnya kian menjauh meninggalkan kepulan debu-debu yang terhempas oleh hentakan kaki-kaki kuda itu. Angin senja semakin kencang hingga pohon-pohon pun tampak condong mengikuti arah hembusannya. Desau dan dera cemara semakin mengguruh bagaikan menyenandungkan sorak-sorai gempita alam yang bersuka cita.

***

Ketika malam telah tiba, kedua pemuda itu mengikuti langkah-langkah ayahnya yang memeriksa benda-benda pusakanya. Orang tua itu membetulkan letak benda-benda pusaka itu. Kadangkala menimangnya dan mengelusnya penuh perasaan. Tempat pusaka itu sebetulnya tidak begitu luas, namun penuh dengan sekat-sekat yang terbuat dari papan kayu jati yang sudah dihaluskan. Benda-benda pusaka itu tertata rapi, berderet sesuai dengan jenis dan besar kecilnya ukuran serta pamornya.
Laki-laki tua itu berhenti dan memandang kepada kedua putranya lalu beralih pada senjata-senjatanya. "Lihat anak-anakku. Senjata-senjata pusaka buatan ayahmu mempunyai mutu yang tak diragukan lagi. Pemerintah Singasari  sudah mengakui secara resmi. Senjata-senjata buatan Hanggareksa sudah diuji kemampuannya dalam berbagai peperangan. Para perwira pasukan merasa bangga bila di pinggangnya terselip senjata buatan ayahmu. Pamornya akan naik dan keberaniannya menjadi berlipat ganda. Hemhh... lihat!"
Laki-laki tua itu memegang sebilah keris, menimangnya lalu mencabut gagangnya dengan senyum kebanggaan. Terdengar suara berdencing ketika benda pusaka itu dicabut. "Keris Naga Tapa. Keris semacam ini banyak disukai para senopati agung yang diturunkan ke gelanggang pertempuran."
Kedua putranya hanya mengangguk-angguk ketika ayahnya kembali menyarungkan keris Naga Tapa lalu menempatkan kembali pada sekat paling pinggir. Kembali laki-laki tua itu meraih pusaka yang lain. Menimangnya dan segera meraba gagangnya dengan tangan gemetar. Terdengar suara berdencing tatkala ia mencabut pusaka itu. Kedua putranya mengerutkan dahinya sambil menghela napas dalam-dalam.
"Keris Naga Polah. Polah artinya bergerak. Maka bentuknya berlekuk-lekuk seperti seekor naga yang sedang bergerak-gerak. Tuanku Lembu Sora dan Banyak Kapuk menyukai keris semacam ini. Di samping bentuknya indah, keris ini juga ampuh."
Laki-laki tua itu menunjukkan beberapa saat pamor keris itu sebelum kembali menyarungkannya pada wrangkanya lalu menaruh benda pusaka itu ke tempatnya semula. Tangannya terulur pada sebuah benda pusaka yang lebih besar. Tangan kirinya  mencengkeram benda itu kuat-kuat lalu tangan kanannya meraba gagangnya. Laki-laki tua itu menahan napas saat memegang benda pusaka yang cukup besar itu. Wrangkanya terbuat dari kulit kerbau yang cukup umur, tampak bersih mengkilap karena cukup terawat dengan baik.
Sambil mencabut benda pusaka itu laki-laki tua itu menjelaskan pada putranya, "Pedang atau klewang. Perhatikan jenis logamnya. Tidak begitu berat, tapi kerasnya melebihi batu-batuan dari langit."
Laki-laki tua itu mengangkat tinggi-tinggi pedang itu. Sisi-sisi mata pedang itu tampak bersinar dan berkilat-kilat ketika tertimpa cahaya pelita yang menerangi ruangan penyimpan benda pusaka itu. Laki-laki tua itu menghela napas dalam-dalam dan menyimpannya dalam perut kemudian dengan sekuat tenaga mengayunkan pedang itu pada sebuah balok kayu.
"Hiaaaaahhhh!" terdengarlah suara berderak-derak balok kayu yang terbelah sempurna. Dengan bangga sekali laki-laki tua itu memandang pusaka buatannya dan melirik pada kedua putranya yang mengerutkan dahi dan mengangguk-angguk melihat kehebatan senjata buatan ayahnya.
"Berapa ribu kepala terputus dari tubuhnya dengan senjata semacam ini ketika terjadi perang besar antara pasukan Kediri melawan pasukan Tumapel. Desa Ganter menjadi saksi pembunuhan besar-besaran itu." Laki-laki tua itu segera menyarungkan pedang ke dalam wrangkanya dan menaruhnya kembali pada tempat semula.
Setelah beberapa saat lamanya mereka bertiga membenahi letak senjata-senjata pusaka, ketiganya duduk pada bangku panjang dalam ruangan itu. Cahaya pelita minyak tampak berkedip-kedip tertiup angin yang menembus dinding papan. Bau apek dan kurang sedap warangan pusaka memenuhi ruangan itu, namun mereka sudah tampak biasa dengan bau-bauan seperti itu. Laki-laki tua itu menyapu keringat dengan tangannya, mengatur napas dan memandang kedua putranya.
"Nah, anak-anakku. Kalian berdua harus mewarisi keahlian ayahmu dalam hal pembuatan senjata pusaka ini. Kalian harus mampu mencipta keris Naga Tapa yang ampuh seperti yang dimiliki Gusti Ranggalawe yang bernama Megalamat. Kalian juga harus mampu menciptakan keris Naga Polah, juga harus bisa membuat pedang-pedang yang tajamnya melebihi pisau pencukur. Kalian juga harus mampu menciptakan tombak-tombak yang nantinya diperhitungkan pihak musuh. Kalian harus terus belajar dan menggali pengetahuan tentang senjata pusaka sebagai tanda bakti pada orang tua. Dwipangga dan kau Kamandanu."
"Ya, Ayah," jawab keduanya berbareng.
"Ketahuilah. Ada satu hal yang menjadi ganjalan di hati ayahmu dalam hal memelihara dan mengembangkan usaha pembuatan senjata pusaka ini."
"Apakah itu, Ayah?" tanya Arya Dwipangga.
"Ada seseorang yang kemungkinan bisa menjegal usaha kita ini."
"Siapa, Ayah?" tanya Arya Kamandanu.
"Kalian tentu kenal dengan baik. Dia sahabat ayahmu sendiri."
"Barangkali yang Ayah maksudkan Paman Ranubhaya?" Arya Kamandanu menangkap arah pembicaraan ayahnya.
Laki-laki tua itu memandang putra bungsunya kemudian beralih pada putra sulungnya. Ia mengangguk-angguk sambil tersenyum getir. "Ya. Kakang Ranubhaya-lah orangnya."
"Bukankah Paman Ranubhaya selama ini membantu ayah membuat senjata pusaka? Sudah berapa puluh senjata pusaka pernah dikirim kemari melalui Wirot, muridnya yang setia," sela Arya Kamandanu.
"Itu dulu, Kamandanu. Sekarang dia tidak mau bekerja sama lagi dengan ayahmu. Mungkin dia mempunyai maksud-maksud tertentu."
"Mungkin Paman Ranubhaya sudah merasa tua dan merasa tidak sempurna lagi dalam bekerja menciptakan senjata pusaka," kata Arya Kamandanu berusaha membela Mpu Ranubhaya.
"Kalian tidak perlu ikut campur urusan ini. Kalau Ranubhaya tidak mau bekerja membantuku dan itu karena maksud-maksud yang kurang baik, Hanggareksa yang akan turun menghadapinya. Kamandanu!"
"Ya, Ayah."
"Kau masih sering datang ke rumahnya?"
"Eh, ya... sekali waktu, Ayah. Soalnya Paman Ranubhaya sangat baik pada saya," jawab pemuda itu agak gugup.
"Mulai sekarang kau tidak kuizinkan menginjak halaman rumahnya lagi. Dulu dia memang kakak seperguruanku. Karena itu kalian sudah sepantasnya memanggilnya paman. Tapi dia sekarang sudah menjadi orang lain. Bahkan orang yang kuanggap bisa membahayakan usaha-usaha kita."
Arya Kamandanu dan Arya Dwipangga berpandangan mendengar kata-kata terakhir ayahnya. Mereka tidak mengerti apa-apa, tetapi mereka menangkap sesuatu yang tidak sehat lahir dari hati ayahnya. Tampak sakit dan getir sekali ucapan itu terlontar dari bibir ayahnya yang hitam dan mulai mengisut. Akhirnya, mereka segera keluar dari ruangan penyimpanan senjata. Kembali ke kamar masing-masing dengan membawa hati dan pikirannya sendiri-sendiri. Mereka berpikir yang jauh lebih menyimpang dari apa yang dikehendaki orang tuanya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar