Sabtu, 08 Oktober 2016

Wanita Lain Ayah 4

Sudah tiga hari aku tinggal di rumah Papa, dan aku sangat kangen pada Mama. Aku rindu pada belaiannya, kehangatan tubuhnya, keempukan payudaranya, dan terutama pada jepitan memeknya. Rasa rindu itu membuatku frustasi, dan ujung-ujungnya aku pun jatuh sakit.
Pagi ketika Papa membangunkan aku, aku hanya bisa meringkuk lemas di atas ranjang. “Kamu kenapa, Ar?” dia bertanya bingung, padahal pagi ini dia rencananya mau mengajak aku ke Losari.
Aku tidak menjawab, hanya membuka sedikit celana dan menunjukkan kondisi penisku kepadanya. Melihat betapa batangku itu begitu tegang dan kaku, Papa langsung mengerti apa yang terjadi. Dia mengangguk dan kemudian beranjak keluar dari kamar. Lamat-lamat kudengar dia berbicara dengan Tante yang saat itu sedang mencuci pakaian.

“Sini sebentar,” kata Papa. “Sepertinya Ari membutuhkan bantuan kamu.”
“Ya, ada apa?” Tante mendekat. Dia hanya mengenakan kain batik yang diikat melingkar di badan, menampakkan pundak dan sebagian pahanya yang putih mulus.
“Tolong kamu urut kontolnya. Dia sakit karena spermanya tidak keluar.”
Awalnya Tante terkejut, bengong sebentar. Namun kemudian menggeleng. “Dia kan biasa mencari pelampiasan nafsu lewat sentuhan tangan ibunya.”
Ganti aku yang terkejut, rupanya Tante sudah tahu tentang perbuatan kami. Entah siapa yang menceritakan, mungkin Papa. Atau malah Mama?
“Karena itulah,” Papa menghela napas. “Mamanya lagi tidak ada sekarang, jadi tugas itu menjadi tanggung jawab kamu.”
“Bagaimana mungkin aku menguruti penisnya, Mas?” Tante masih nampak keberatan. Tapi tak urung matanya melirik penisku yang panjang dan tebal. Yang urat-uratnya terlihat hitam kebiruan di sepanjang zakar. “Ari mulai beranjak dewasa sekarang. Malu ah. Masa aku harus mengonani dia?”
”Kenapa malu? Kan cuma ada kita bertiga di sini.” Papa terus memaksa. “Kalau sampai sakit Ari tambah parah dan terjadi apa-apa dengan dia, nanti kita yang disalahkan sama Mamanya. Dikira tidak becus mengurus anak. Kamu mau?”
Ditodong seperti itu akhirnya membuat Tante pasrah. Setelah memandang penisku sekali lagi, dia pun menggangguk pelan. Bersedia melakukannya.
Aku hanya bisa terkejut dan menunduk malu, sambil meletakkan kedua tangan di bagian kemaluan dan tidak berani menatap Tante yang kini mulai berjalan mendekat.
“Ayo, Ar. Buka kemaluanmu biar bisa diurut sama Tante Rini.” suara Papa memecah keheningan diantara kami.
“Eh... ehm... A-ari malu, Pah.”
“Tumben kamu malu. Biasanya paling senang diurut begini,” Papa tertawa menggoda. “Ya sudah, biar Tante aja yang membukanya.”
Tante memandang Papa dengan tatapan ragu, Papa hanya mengangguk mengiyakan. Pelan Tante mulai mendekat, dia berdiri di sisi ranjang. Lalu kemudian dia berlutut di hadapanku, dilanjutkan dengan membuka persilangan jari-jariku.
“Jangan malu, Ar. Anggap Tante sebagai Mama kamu sendiri.” ucapnya sambil mendongak ke atas memandang wajahku.
Aku hanya terdiam. Kulihat Tante sedikit terkejut memandangi penisku yang sudah dalam keadaan setengah tegang. Meski masih malu dengan apa yang akan ia lakukan, tak urung penisku tetap ngaceng juga. Ukurannya tidak berbeda jauh dengan milik Papa, dan aku yakin Tante menyadarinya karena dia terlihat beberapa kali sibuk menelan ludah.
“Nikmati aja, Ar. Biar pegal-pegal kamu hilang.” kata Papa yang memperhatikan semuanya dari pinggir ranjang. Sama dengan dulu, dia juga santai melihatku dionani. Bedanya, kalau dulu Mama yang melakukannya. Sekarang giliran Tante, istri barunya, yang memanjakanku.
Aku hanya bisa mengangguk. Kunikmati belaian tangan Tante yang dengan perlahan mulai menyentuh pangkal penisku. Tubuhku agak sedikit bergetar saat Tante menyentuh untuk yang pertama kali. Tante mulai mengurutnya, mulai dari pangkal hingga ke ujungnya dengan gerakan naik-turun. Dan dengan segera penisku menjadi sangat tegang. Aku hanya berbaring kaku sambil melihat penisku yang sedang diurut-urut. Sedangkan Papa duduk di bangku melihat ke arah kami.
“Heeeeh... heeeeh...” terdengar suara nafasku yang mulai berat.
“Terus, Sayang. Dia sudah mau keluar.” Papa berkata.
Tante tidak menjawab, tapi tangannya mengocok penisku semakin cepat.
“Gimana, Ar, enak kan diurutin sama Tante Rini? Nggak kalah kan kocokannya sama Mama kamu?” ucap Papa sambil menurunkan kain celana. Santai dia menunjukkan batang zakarnya yang hitam dan hampir tegang, dan kemudian tangannya bergerak mengocok penisnya sendiri.
“Ih, Mas... ngapain sih?” ucap Tante risih dengan kelakuan Papa yang memamerkan batang penisnya.
“Ah, aku jadi pengen juga melihat Ari dikocok seperti itu.”
Tante hanya menggeleng tak percaya. Dia lanjut menguruti penisku yang sudah sangat keras, walaupun secara ukuran hanya bertambah sedikit saja dari keadaan sebelum diurut tadi. Kepala penisnya menjadi semakin merah terkena cairan precum.
“Tantee... s-sudah, Tante.” ucapku serak.
“Kenapa, sudah mau keluar ya? Tidak apa-apa, keluarkan saja. Diurut memang biar pejuh kamu keluar.” ucap Papa sambil mengocok penisnya sendiri. Tangan satunya menjulur untuk meraba-raba payudara Tante yang tersembunyi di balik baju. Papa meremas-remasnya pelan. Kiri dan kanan.
Tante sempat menghentikan urutan dan memandang Papa dengan ragu. Namun Papa mengangguk, memberi tanda untuk tetap melanjutkan kocokan itu. Akhirnya Tante meneruskan lagi. Melihat payudara sintalnya yang sedang diremas-remas Papa, juga wajah cantiknya yang sudah memerah, semenit kemudian, tubuhku pun bergetar. Kurasakan batang zakarku yang sedang digenggam Tante berkedut-kedut cepat.
Lalu, “Croot.. Crooot.. Crooot... Crooot...”
Air maniku menyembur dengan sangat keras. Kental, berwarna putih pekat dan  jumlahnya banyak. Pancrutan yang pertama mengenai kain batik Tante di bagian dada. Pancrutan kedua mengenai dagunya. Dan yang berikutnya muncrat kembali jatuh di dada. Banyak sekali air maniku yang membasahi baju Tante.
“Aihh,” Tante tetap mengurut penisku hingga sisa-sisa pejuhku keluar menetes-netes ke tangannya. Dia terus melakukannya hingga penisku mulai terasa melembek di dalam genggaman, lalu ia lepaskan. Tante mengelap air mani di dagunya dengan kain batik, lalu berdiri.
“Sudah enakan, Ar?” Papa bertanya.
“I-iya, Pah.” ucapku terbata-bata. Nafasku masih terengah karena sisa-sisa orgasme.
 “Ya sudah, sekarang giliran Papa yang main sama Tante Rini.” ucap Papa yang kini sudah telanjang bulat dengan penis yang sudah sangat tegang. Sepertinya dia sudah tidak sabar ingin bersetubuh dengan sang istri.
“Eh, Mas ngapain?” jerit Tante yang akan berjalan keluar dari kamar, tapi langsung dipeluk dan diremas-remas buah dadanya oleh Papa.
“Duh, Sayang... jadi kepengen ini gara-gara lihat kamu mengocok kontol Ari.” Papa berkata.
“Jangan di sini ah. Kita ke kamar aja. Lagian, aku perlu cuci tangan dulu. Lengket ini.”
Papa melepaskan pelukannya. Lalu mengikuti Tante keluar kamar. Sebelum menutup pintu, Papa berkata kepadaku. “Mulai sekarang, kalau kamu lagi ngaceng, minta saja sama Tante buat menguruti penismu. Kamu mengerti?”
Aku hanya bisa mengangguk, lalu menghela napas lega. Dan tersenyum bahagia.
Begitulah, selama dua minggu berikutnya, ritual memijiti batang zakarku dilakukan oleh Tante setiap hari. Tiap pagi saat sarapan, dan sore atau malam sebelum tidur. Aku begitu menikmatinya, terlebih saat suatu sore aku melihat Tante yang ketiduran di ruang tamu.
Rupanya dia baru selesai mandi. Dengan hanya mengenakan daster longgar, Tante duduk di sofa dan menonton televisi. Karena lelah sedari pagi membenahi rumah, Tante jadi sedikit mengantuk dan akhirnya tertidur pulas. Begitu nyenyaknya hingga dia tak sadar kalau sebelah payudaranya terburai keluar dari bagian leher daster, lengkap dengan putingnya yang coklat kemerahan karena Tante memang tidak mengenakan beha.
 Tante terbangun mendengar kedatanganku, dan dia jadi sedikit kaget melihatku yang berdiri di balik pintu sambil melihat ke arahnya. “Eh, kamu sudah pulang, Ar? Mana Papa kamu?”
“Papa tadi katanya mau mampir dulu ke rumah temannya, Ari disuruh pulang duluan, Tante.”
Tante yang sadar sebelah payudaranya telah terbuka, buru-buru memasukkannya kembali ke balik daster dan mengancingkan kembali daster itu sambil agak malu.
“Tante, Ari mau minta sesuatu. Boleh?” ucapku malu-malu.
“Ehm, apaan, Ar?”
“Ari mau netek dong.”
“Hah?” Tante kaget seperti tidak percaya dengan apa yang barusan kukatakan.
“Ari jadi pengen gara-gara sering lihat buah dada Tante.”
“Ih... kamu, Ar. Kamu kan sudah gede. Sudah disunat, masa masih mau netek sama Tante. Malu ah,”
“Tapi bila di rumah, Ari masih netek kok sama Mama. Malah sambil dikocokin segala. Ini sudah dua minggu Ari nggak netek, jadinya pengen banget. Plese ya, Tante.”
Tante memandangku, dan sepertinya dia jatuh iba. Tapi dia masih tidak bisa membayangkan aku yang sudah beranjak dewasa akan menyusu kepadanya.
“Boleh ya, Tante?” rajukku.
“Ya sudah, tapi sekali saja ya? Dan jangan bilang-bilang sama Papa kamu.”
“Iya, Tante.” jawabku sambil mendekat ke arahnya.
“Di kamar kamu saja, biar nggak terlihat orang.”
Tante pun berdiri dan berjalan ke dalam kamar, kuikuti dia dari belakang sambil memandangi goyangan pinggulnya yang aduhai. Tante duduk di pinggiran ranjang sambil menatapku yang masih berdiri. Mulai terlihat ada tonjolan di daerah selangkanganku karena kegirangan diperbolehkan menyusu kepadanya.
“Sudah, Tante?”
“Sebentar, Ar,” Tante perlahan membuka kancing dasternya, lalu menurunkan bagian leher hingga kini payudara kanannya terbuka. Dia melihat ke arahku yang sedang memandangi bulatan payudaranya dengan tajam.
“Buruan, Ar. Jangan lama-lama, nanti keburu Papamu pulang.”
Aku pun segera duduk di sampingnya, dan menyentuh payudaranya dengan tangan kemudian sedikit meremasnya.
“Huus, Ar... jangan dimainkan begitu. Buruan kalau mau netek!” Tante mengingatkan.
“I-iya, Tante...”
Aku pun menundukkan kepala ke arah buah dadanya, lalu mendekatkan mulutku ke arah putingnya. Pertama hanya kujilat sedikit puting itu dengan lidahnya, terasa kenyal dan kaku. Lalu kumasukkan ke dalam mulut dan mulai menghisapnya dengan kuat. Tante mengerang, mungkin terasa agak nyeri karena hisapanku itu.
“Pelan-pelan saja, Ar. Gimana, enak nggak susu Tante?”
“Ehm... enak banget, Tante. Kenyal. Gurih.” jawabku sambil terus mengemut putingnya.
“Gimana dengan punya Mama kamu, enakan mana?”
“Enakan ini, Tante. Soalnya Ari sudah mulai bosan dengan punya Mama.”
“Hush, jangan begitu. Nanti Mama kamu kecewa.” Dia mengelus pelan rambutku.
 Aku terus menghisap; begitu kuat, penuh nafsu, sama seperti hisapan mulut Papa saat tak sengaja kulihat mereka ketika berhubungan intim di ruang tengah beberapa malam lalu. Tante sepertinya maklum kepadaku yang sedang beranjak dewasa dan di umurku yang sekarang ini pastinya gairahku sedang menggebu-gebu. Dengan telaten dia terus menyusui, sampai akhirnya aku melepaskan mulut dari putingnya beberapa menit kemudian.
“Kenapa, Ar? Sudah neteknya?”
“Belum, Tante. Punggung Ari jadi pegal nunduk begini.”
“Ya udah sini, kamu tiduran saja. Kepala kamu taruh di paha Tante.”
Aku pun segera berbaring dan meletakkan kepala di paha perempuan itu. Dengan begini aku jadi lebih mudah dalam menggapai bulatan payudaranya, putingnya kembali kumasukkan ke dalam mulutku. Aku hanya perlu menundukkan badan sedikit, dan kembali menghisap payudara Tante.
“Aduh... jangan digigit, Ar. Puting Tante sakit.” ucap Tante karena putingnya kujepit di antara gigi. Habis aku gemas sekali sih.
Mengangguk, aku terus melanjutkan hisapan. Tonjolan di celana pendekku menjadi semakin jelas, tanda aku sudah sangat bernafsu sekarang. Tante melihatnya, tapi sama sekali tidak berbuat apa-apa. Aku tidak berani meminta lebih karena takut dia tersinggung, lalu marah dan akhirnya pergi. Aku tak mau ritual menyusu ini berhenti sekarang.
Tak terasa, aku netek lumayan lama. Sudah hampir 15 menit. Kulihat libido Tante juga jadi ikut naik sedikit karena hisapan-hisapanku di tonjolan payudaranya. Nafasnya sudah mulai berat, dan wajah cantiknya jadi tambah memerah. Kami sama-sama saling menikmati.
“Kreeek...”
Tanpa sadar pintu kamarku terbuka. Kulihat Papa berdiri di sana, memergoki apa yang sedang kami lakukan. Aku tentu kaget dan buru-buru bangun. Tante pun panik dan cepat-cepat memasukkan kembali payudaranya ke balik daster.
“Loh, kalian ngapain?” tanya Papa yang lebih kelihatan bingung, bukannya marah.
“Eh... ini, Mas... anu... tadi Ari yang minta. Pengen katanya gara-gara sering lihat payudaraku.” Tante berkata.
“Kamu ini, Ar. Sudah besar, tapi nggak bosan-bosannya menetek. Dulu sama Mama, sekarang sama Tante.”
Aku hanya terdiam. Takut dimarahi.
“Papa jadi ikutan kepengen netek nih. Panas sekali tadi di luar.” Papa langsung merubuhkan badannya menindih Tante dan mendorongnya ke arah kasur.
Dengan buasnya dia menciumi leher Tante, lalu menarik bagian leher dasternya ke bawah dan mengeluarkan kedua payudaranya. Payudara itu ia remas-remas dengan kasar dan penuh nafsu. Saking kerasnya, payudara Tante yang aslinya bulat jadi tidak berbentuk lagi. Kemudian jilatan lidah Papa mulai turun dari leher ke payudara Tante. Dijilatinya puting Tante dengan cepat, seperti kucing yang sedang menjilati minumannya.
Tante hanya bisa pasrah menerima itu semua, sepertinya dia juga menginginkannya.
Jilatan Papa kini berubah menjadi hisapan-hisapan yang cukup kuat. Tangan Papa juga mulai bergerilya menjamahi paha Tante yang masih tertutup daster. Saat dia ingin menarik daster itu turun, Tante berusaha menghentikan karena teringat masih ada aku di dalam kamar ini.
“Nanti dulu, Mas. Masih ada Ari itu...” ucapnya sambil berusaha menahan tangan Papa di pahanya.
Papa menatapku yang hanya bisa bengong memandangi mereka berdua. Aku benar-benar kaget, dejavu—ini seperti saat Papa dan Mama melakukannya dulu. Mereka bersetubuh tepat di depan mataku, dengan Mama mengocok batang penisku. Mengingatnya, dan juga menatap Tante yang sudah setengah bugil, membuatku jadi benar-benar bernafsu.
 “Tidak apa-apa, biarkan saja. Biar Ari sekalian belajar caranya ngentot. Dia kan sudah besar sekarang.” Papa beralasan, kalimat yang persis sama dengan yang diucapkannya dulu pada Mama.
“Ih... malu, Mas. Masak dilihat anak sendiri sih?” protes Tante.
“Sudah, nggak usah malu. Toh Ari sudah terlanjur melihat.” Papa lalu menoleh ke arahku. “Ar, duduk di bangku itu aja sambil lihat Papa sama Tante ngentot.”
Aku pun menurut, gemetar aku berjalan ke arah kursi yang ada di seberang ranjang. Dari kursi tersebut, aku bisa memandang Papa dan tante yang sedang bergulat di atas ranjang.
“Tapi, Mas...” cegah Tante yang masih nampak ragu begitu Papa ingin menelanjanginya.
“Sudah ah, cepetan.” paksa Papa tak ingin dibantah.
Dia lalu membuka baju dan celana. Penisnya langsung mengacung tegak tanda siap bertempur, mengubek-ubek lubang kemaluan Tante yang masih terlihat sempit. Papa menarik paksa daster Tante ke atas hingga terdengar suara kain robek. Kini bagian pangkal paha Tante sudah terbuka, hanya tertutupi celana dalam tipis berwarna krem.
Kembali Papa dengan kasarnya menurunkan celana dalam itu hingga ke paha. Sepertinya Papa sudah sangat bernafsu dan ingin main cepat saja. Langsung dia arahkan batang zakarnya yang tebal itu ke bibir vagina Tante dan ditekannya dengan keras.
“Aduh, Mas. Pelan-pelan...”
Walaupun libido Tante sudah naik, tapi vaginanya masih belum telalu basah. Jadi terasa ngilu saat penis Papa berusaha menerobos dengan cepat, meski baru kepala penisnya saja yang masuk. Ditambah lagi Tante tidak bisa berhenti melihat ke arahku yang sedang melihat aktifitas bercinta mereka. Nafsunya mulai naik tapi dia juga merasa tidak nyaman.
Papa kemudian mengangkat kaki Tante dan mengangkangannya lebar-lebar. Posisi Tante jadi seperti kodok yang sedang terbalik dengan kaki yang terbuka lebar. Papa memajukan kembali badannya hingga batang zakarnya kini menancap lebih dalam lagi, sudah setengahnya. Dan Papa mulai melakukan gerakan maju-mundur  dengan sangat cepat.
Tante hanya bisa pasrah. Papa memang menjadi sangat binal jika sedang bernafsu berhubungan badan. Genjotannya makin cepat, bahkan kini seluruh batang penisnya sudah masuk ke liang peranakan Tante. Saat menggenjot penisnya maju, Papa melakukannya dengan sangat kasar dan cepat hingga ujung kepala penisnya terasa mengenai dinding rahim Tante.
Tante sudah tidak peduli lagi kepadaku yang terus memandangi aktifitas mereka. Dia nampak mulai menikmati setiap tusukan penis Papa di liang vaginanya. Pelan dia mulai merintih keenakan.
”Aahh... aaah... aaah...”
Papa menundukkan badan dan kembali menetek pada buah dada Tante sambil tetap menjaga tempo genjotan penisnya di bawah. Lidahnya kemudian beralih dari payudara ke bagian belakang kuping Tante dan mulai menjilat-jilat rakus di sana. Aah... Papa memang paling tahu titik-titik sensitif perempuan. Aku harus banyak belajar darinya.
Setelah hampir 10 menit, Tante merasakan tubuhnya mulai hangat. Mungkin bercampur antara keenakan memacu birahi dengan sang suami dan perasaan aneh karena sedang dilihat olehku dalam kondisi sedang berhubungan badan. Hingga akhirnya...
“Heeeeeeeeeh... aah...” Tante menjerit saat mencapai orgasme. Vaginanya jadi banjir oleh cairan kewanitaan. Badannya terasa lemas, tulang-tulangnya terasa dilolosi semua.
Papa mempecepat genjotan sambil tangannya berada di pinggang Tante dan terus berusaha memaju-mundurkan pinggul. Tak lama, tubuh Papa pun menggelinjang.
“Crrooot.. crooot..” Cairan spermanya yang hangat muncrat membanjiri dinding rahim Tante.
Papa terus menggenjot batang zakarnya hingga tetesan-tetesan spermanya habis keluar semua di dalam tubuh Tante. Lalu Papa menarik penisnya yang mulai layu keluar dari vagina Tante. Spermanya terlihat menggenang sangat banyak di dalam lorong kewanitaan Tante, sebagian ikut mengalir keluar saat Papa menarik lepas penisnya. Tante berusaha menutupi dengan tangan agar sperma Papa tidak jatuh ke kasur.
Lemah Tante meraih daster untuk digunakan menutupi tubuhnya yang terbuka, celana dalamnya langsung dinaikkan kembali ke paha. Papa juga sudah memakai celananya lagi. Saat Tante hendak berdiri dari kasur, Papa menarik tangannya.
“Itu sekalian kamu kocok juga kontolnya Ari. Nanti baru sekalian mandi.”
“Aduh, Mas. Nanti saja ah.”
“Nanti tangan kamu kotor lagi. Sudah sekalian saja.” Papa lalu menoleh kepadaku. “Sini, Ar. Keluarkan kontolmu, biar diurut sama Tante.”
Bergegas aku berjalan mendekat. Malu-malu aku berdiri di hadapan Tante yang sudah mengambil posisi jongkok.
“Buka celanamu, Ar!” Papa berkata.
Aku pun membuka ikatan celana dan membiarkannya jatuh ke lantai. Kuberikan batang penisku yang sudah sangat ereksi kepada Tante. Aku sangat bernafsu melihat pergumulan Tante dengan Papa barusan. Apalagi Tante juga masih telanjang sekarang, pemandangan yang sangat jarang kusaksikan. Jadilah aku begitu bergairah saat ini.
Tante buru-buru menyentuh batang zakarku dan mulai mengurutnya. Mulai dari pangkal hingga ke ujungnya yang basah oleh cairan precum. Diurut-urut naik, kemudian turun, lalu naik lagi dan terus berlanjut. Penisku jadi terasa kian keras dan kencang oleh perbuatannya.
Saat Tante menyentuh bagian bawah kepala penis, dimana terdapat urat yang menghubungkan batang dengan kepala penis, juga jahitan-jahitan bekas sunat... “Crooot.. Croot.. Crooot...” Lahar panas dari batang zakarku menyembur kuat ke arah muka Tante.
Tante yang kaget—tidak menyangka aku akan keluar secepat itu—lekas menutup mata. Namun tetap membiarkan pancrutan-pancrutan berikutnya mengenai mukanya. Wajah cantiknya jadi belepotan oleh spermaku. Bahkan dia jadi agak sulit membuka mata kanan karena perih terkena dan tertutup oleh spermaku.
“Cepat sekali, Ar, keluarnya.” kata Tante.
“Mungkin dia sudah sangat bernafsu melihat adegan ranjang kita, Sayang.” sahut Papa.
“Tapi, aduh... jadi kena muka Tante nih.”
“Ah, maaf, Tante. Ari nggak bisa nahan.”
Tante berusaha mengelap air maniku dari mukanya dengan bagian lengan daster.
“Hahaha... nakal kamu, Ar. Masa muka Tante kamu semprotin pejuh gitu.” ujar Papa yang sedari tadi melihati kami dari atas kasur.
“Maaf, Pah. Ari nggak sengaja. Benar-benar nggak bisa nahan, habis nafsu lihat Papa sama Tante tadi.”
“Hahaha... Mama kamu juga sering kamu semprot begitu?” tanya Papa.
Aku tidak menjawab, hanya mengangguk mengiyakan.
Papa kembali tertawa. “Kalau ngentot, kalian sudah pernah apa belum?”
Aku tidak langsung menjawab. Setelah berpikir sejenak, akhirnya kuputuskan untuk pura-pura menggeleng. “Belum, Pah. Paling banter Mama cuma gesek-gesek burungku aja ke liang memeknya.”
“Ya udah, biar nanti kamu diajarin Tante caranya begituan. Kan memang itu tujuan kamu berlibur kemari, biar aku bisa mengajarimu menjadi lelaki sejati.”
Tante nampak kaget dengan apa yang barusan Papa bilang. “Hussh... apaan sih, Mas?! Ngaco aja kalau ngomong. Udah ah, aku mau mandi.”
Tante sekilas memandang ke arahku yang masih terbengong-bengong seperti memikirkan sesuatu. Gara-gara ucapan Papa tadi, pikiranku jadi kemana-mana. Aku ingin juga melakukan persetubuhan badan dengan Tante. Ah, Papa memang suka ngawur. Tapi jujur, aku suka dengan sikapnya. Di hatiku jadi ada semacam perasaan aneh, seperti perasaan harap-harap cemas dengan apa yang akan dilakukan Papa selanjutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar