Kamis, 03 November 2016

Corollaries 1



Portal... Portal dimana-mana. Tony hampir saja tergoda untuk menembakkan rudal ke Baxter Building. Karena, hello, Reed Richard dan experimennya tentang dunia paralel ditambah Dr. Doom melepas robot-robot yang memancarkan radiasi sinar gamma di saat yang bersamaan adalah resep paten menuju kehancuran dunia. Portal-portal itu terus muncul, dan tentu saja di dunia di mana superhero banyak bermunculan seperti jamur di musim hujan, portal-portal itu mengeluarkan berbagai macam makhluk dan penjahat super yang sepertinya sangat ngotot ingin meratakan New York dengan tanah.
"20 portal dalam 12 jam terakhir. Aku benci hidupku." keluh Tony. "Dan portal... ingatkan aku untuk tidak bereksperimen dengan portal, JARVIS."
"Kalau demikian, perlukah saya menghancurkan prototype mesin portal di workshop anda, Sir?"
"Kau sama sekali tidak lucu, JARVIS."
"Kenapa sih bukan unicorn saja yang keluar dari portal-portal ini?" keluh Clint melalui komunikatornya.

"Unicorn, huh? Aku bisa menerima unicorn." komentar Tony sambil menembakkan repulsornya ke arah salah satu robot Dr. Doom.
"FYI, aku baru saja membunuh seekor unicorn pemakan daging di sekitar Central Park." Steve menimpali.
"Selamat tinggal, impian gadis kecilku." gumam Natasha, walaupun di belakangnya kemudian terdengar ledakan.
"Whoa, Nat, kau pernah jadi gadis kecil?" gurau Tony.
"Aku bisa memikirkan 101 cara membunuhmu dengan tusuk gigi, Tony." balas Natasha.
Ledakan lain terdengar, berasal dari anak panah Clint yang mengenai salah satu monster siput raksasa yang baru saja keluar dari portal. "Thor!" seru Clint, "Sedikit bantuan di sini, please!"
"TENTU SAJA, SAUDARAKU!" sebuah petir besar menyambar siput itu, memanggangnya menjadi abu. Tony menyaksikan kejadian itu dari posisinya di udara.
"Keren…" kata seseorang di sampingnya, membuat Tony melambaikan tangan kepada wanita setengah transparan itu.
"Hei Sue. Bagaimana keadaan Reed?"
Sue membakar sayap salah satu makhluk sejenis lebah raksasa yang baru keluar dari portal di dekat mereka. "Katanya beri dia 10 menit lagi." jawab wanita cantik itu.
Salah satu lebah itu berusaha menyerang Tony dengan sengat-setengah-meter-nya, tetapi sang Iron Man cukup memiringkan tubuhnya ke kanan untuk menghindar. "Hey, Tony." panggil Sue sambil melemparkan potongan besi panjang ke arah lebah itu.
"Hmm?" jawab Tony tanpa betul-betul memperhatikan, karena, yeah, dia agak sibuk meledakkan Doombot terdekat.
"Setelah ini bagaimana kalau kita makan malam bersama?" Sue mengerling genit, dan sedikit memamerkan bajunya yang robek di sekitar paha.
Tony berhenti di udara sejenak, lalu menembak lebah nun jauh di sana dengan peluru kendali, yang melewati daerah dekat leher Sue. Sangat dekat. Lalu meledak. Pada lebah itu tentunya.
Sue menganga, sebelum sadar kembali. "Kuanggap itu sebagai tidak."
"Mungkin lain kali, Mrs. Reed, kalau suamimu sudah tidak mendendam lagi kepadaku."
"Oooooh…" suara Clint terdengar dari komunikator.
Tony baru saja akan membalas ketika Hulk dari dimensi lain muncul melalui portal di 5th Avenue, tepat di dekat Hulk yang sebenarnya, dan keduanya terlibat dalam semacam kompetisi siapa-yang-bisa-meraung-paling-keras-di-wajah-lawan, tanpa berhenti membanting musuh di kanan-dan-kiri.
"Konsentrasi, guys! Dan ya, Clint, Tony, kalian yang aku maksud. Thor, arahkan Hulk baru ini kembali ke portal." perintah Steve. "Ups." gumam Sang Captain America saat ia refleks menghindari sebuah Doombot yang dilempar oleh The Thing.
"Sorry, Captain!" serunya. Steve hanya melambaikan tangan untuk menyatakan bahwa ia tidak masalah dengan kejadian itu. Lagipula mereka sedang berada di tengah-tengah kekacauan.
"Sebaiknya cepat, Capsicle. Mrs. Reed disini bilang bahwa Reed siap menutup semua portal dalam 10 menit." kata Tony mengingatkan.
"Shit. Natasha, bantu Thor! Tony, kau melihat para X-men?"
"Yep, aku melihat Wolverine melap lantai menggunakan Doom. Ooh, Victor yang malang, itu pasti sakit." komentar Tony dengan suara kasihan yang dibuat-buat saat Wolverine membanting Doom ke bangunan terdekat, beberapa bagian tembok runtuh mengenai kepala Doom. "X-men lainnya ada di bagian selatan kota, ada Magneto baru yang masih muda menghancurkan mobil-mobil dan menggerakkannya jadi tiruan gundam yang superjelek. Kuharap Porsche baruku tidak ada di situ."
"Baiklah. Siap-siap mengembalikan semua pendatang ini ke portal masing-masing." Steve berseru.
Johnny Storm sang manusia api terbang melewatinya dengan kecepatan tinggi, menggiring lebah-lebah itu ke portalnya. Captain America mengayunkan perisainya untuk menghajar seekor alien, sebelum melempar alien tersebut ke balik portal. Suara Reed Richards mendadak terdengar melalui komunikator mereka. "Oke guys, portal akan ditutup dalam 10…9…8…7…"
Tepat saat itu, tak seorang pun menyadari bahwa satu portal lagi terbuka, semua, kecuali Reed Richards, tetapi dia terlalu sibuk menutup portal-portal lain.
"…4…3…2…1…"
Dan semua portal tertutup, meninggalkan kehancuran di kota New York, pahlawan super yang kelelahan serta… tambahan tidak terduga. Tony mendarat di jalan raya, tepat di samping Natasha. Ia membuka pelindung wajahnya dan nyengir ke arah sang Black Widow.
"Hey, Girls! Tadi itu lumayan juga ya." tanyanya.
Natasha memandanginya dengan mata yang membelalak, seperti orang yang terkejut. Tony melambaikan tangan di depan wajahnya. "Haloooo, Nat? Ada apa? Aku tahu aku ini tampan, tapi kau tidak perlu memandangiku seperti itu."
"Kau…" suara Natasha terdengar ragu-ragu.
"Apa tadi kepalamu terbentur? JARVIS, coba scan tubuh Black Widow."
"Black Widow dalam kondisi 100 persen sehat, Sir. Bahkan payudaranya sedikit lebih besar sekarang, kalau aku boleh menambah sedikit informasi." jawab JARVIS melalui komunikator.
"Baiklah kalau begitu. Mungkin kau cuma kelelahan, Nat. Mau kuangkut sampai Avenger Tower? Kebetulan ada yang ingin kubicarakan." Tony merentangkan tangan, memberi kode kepada Natasha untuk berpegangan kepada armornya.
"A-apa… yang ingin kau bicarakan?" tanya Natasha.
Mendadak semua kepercayaan diri Tony hilang ke luar jendela. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, masih dengan tangan yang terbungkus armor. "Uh, itu… tidakkah sebaiknya kita bicarakan di tempat lain?"
"Kau bisa mengatakannya di sini padaku." kata Natasha tegas.
"Oh. Uh. Ini agak pribadi sih… tapi… ugh, baiklah." Tony mematikan microphone komunikatornya agar anggota tim yang lain tidak mendengar, "Nat, maukah kau kencan denganku?" ia berkata dengan cepat dalam satu tarikan nafas.
"…apa? Bisa kau ulang?"
Tony mengatupkan bibirnya sambil menatap wanita itu lekat-lekat, lalu mengangkat tangan tanda menyerah. "Ini bodoh. Lupakan saja, Nat, aku duluan ya." Ia berbalik dan bersiap untuk terbang, namun tangan Natasha menghentikannya.
"Mungkin ini curang, dan salah. Tetapi aku menginginkan satu kesempatan ini." gumam wanita itu, sebelum menarik Tony dalam pelukannya.
"Ap—mmphh!" Dan sang genius billionaire playboy philantrophist itupun tidak bisa berpikir apa-apa lagi selain Black Widow menciumku! Natasha menciumku! Oh, Tuhan… Natasha… Nat…
"Ada yang salah di sini." suara Bruce —oh hey, dia sudah kembali dari wujud Hulk-nya— terdengar melalui komunikator. Tony, tentu saja, mengabaikan itu. Ia sedang… sedikit sibuk. Tangannya sedang berada di gundukan bokong Natasha sekarang.
"Jeez... apa yang membuatmu berpikir begitu? Fakta bahwa Black Widow ada dua atau bahwa Tony berciuman dengan Black Widow yang salah —OUCH... itu sakit, Nat!" kalimat Clint terputus, kemungkinan karena disikut oleh Natasha yang asli.
Tetapi ada kalimat yang menempel di otak Tony (yang sedang setengah berfungsi, karena, yeah…) Black Widow ada dua! Ada dua Natasha! ADA DUA! Tony melepaskan diri dari pelukan Black Widow untuk memperhatikan wanita itu baik-baik. Ada yang salah di sini. Natasha yang ini kostumnya berbeda.
"Shit." dia mengumpat.
Natasha yang baru ia cium itu tersenyum, "Aku bertanya-tanya berapa lama sampai kau menyadari bahwa aku bukan Natasha yang kau kenal."
Dari sudut pandangnya, Tony bisa melihat para anggota Avengers –plus Fantastic Four— berkumpul mengelilingi ia dan Black Widow pendatang baru ini. Sejenak matanya beralih ke Natasha —Natasha yang ia kenal— dan memperhatikan keadaan wanita itu yang babak belur, tetapi selamat dan hidup. Rasa lega itu berumur pendek, karena ekspresi wajah Natasha  menunjukkan bahwa ia sangat… sangat tidak senang.
Seseorang di atas sana sedang mempermainkan kehidupan cinta Tony, sepertinya.

***

Sebenarnya Tony sangat, sangat tergoda untuk menenggelamkan diri di bathtub, tetapi sebelum hal itu tercapai, JARVIS mengosongkan air mandinya.
"Hey! Aku masih berendam, JARVIS!" serunya.
"Anda sudah menghabiskan sekitar 2 jam untuk berendam, Sir."
"Ingatkan aku untuk mengubah protokolmu."
"Tentu saja, Sir. Walaupun saya harus memberitahu anda bahwa Mrs. Romanoff sedang menuju ke workshop."
"Jangan beri dia akses masuk, JARVIS."
"Mrs. Romanoff memiliki override code, sir."
"Sial." Tony mengumpat sambil meraih handuk terdekat dan melingkarkannya di pinggang. "Kenapa dulu aku memberinya kode itu?"
"Anda bilang ingin memberi akses seluasnya bagi Mrs. Romanoff untuk menemui anda."
"Kenapa dulu kau membiarkanku?"
Seandainya JARVIS adalah manusia, mungkin ia sudah menghela nafas karena kesabarannya hampir habis. "Perlukah saya menjawab pertanyaan itu, Sir?"
Saat Tony keluar dari kamar mandi (ya, workshopnya memiliki kamar mandi sendiri. Terlalu merepotkan untuk pergi jauh di saat sedang serius melakukan apapun yang ia kerjakan di bawah sini), Natasha berdiri di dekat pintu sambil menyilangkan tangan di depan dada, membuat payudaranya yang sudah montok menjadi kelihatan lebih menggoda. Ia terlihat sedikit terkejut melihat keadaan Tony yang hanya mengenakan selembar handuk, tetapi lalu ekspresi wajah tidak senangnya itu kembali.
Tentu saja, Tony tidak akan mengakui nyeri kecil yang terasa di hati vibranium-nya atas ekspresi di wajah Natasha itu. "Apa, Nat? Aku tidak boleh mandi dengan tenang?" tanyanya.
"Kau sudah menghabiskan 2 jam di bawah sini." Natasha menjawab dingin.
"Lalu? Memangnya kau tidak pernah mencoba berendam di whirlpool? OH, kau tidak pernah! Baiklah, biar kujelaskan bahwa berendam di whirlpool itu sangat, sangat nyaman, belum lagi dengan sabun-sabun aromaterapi yang diselundupkan oleh Pepper ke kamar mandiku. Tidakkah aku wangi? Kau boleh mencium wangiku kalau mau. Aku bahkan akan membelikanmu sabun aromatera—"
"Tony." Natasha menghela nafas, seperti kelelahan. Mungkin ia memang kelelahan, mengingat fakta bahwa mereka baru saja menghabiskan 20 jam melawan alien. "Semua sudah menunggu di ruang meeting. Termasuk Fury, Reed dan… Black Widow dari dimensi lain. Cepatlah berpakaian dan naik ke atas."
“Kalau aku tidak mau?” Tony menantang.
“Aku yang akan melakukannya!” Natasha menatapnya tajam.
“Baiklah, cepat lakukan!” Tony melepas handuk yang melilit di tubuhnya. Telanjang, dia berdiri di depan Natasha. Membiarkan wanita itu memelototi penisnya yang sudah menegak keras. “Ayo, Nat. tunggu apalagi?” Tony melancarkan pandangan mautnya.
Natasha masih terdiam, tapi matanya yang tadi menatap tajam, perlahan meredup menjadi sayu, seperti orang yang hilang kesadaran. Tapi sebenarnya, kesadarannya tidak hilang, hanya nafsu seksualnya saja yang tiba-tiba menggelegak. Selalu, setiap memandang penis Tony, selalu saja terjadi seperti ini. Natasha membenci dirinya sendiri.
“Akhhh… Tony…” desisnya sambil berjalan tapak demi tapak ke arah laki-laki itu. Saat ia telah tepat berada di hadapan sang Iron Man, ia pun memeluk tubuh Tony yang telanjang dengan begitu erat. ”Kenapa kau selalu menggodaku?” bisiknya lirih.
Tony gembira bukan kepalang. Seorang Black Widow yang cantik dan seksi dengan pasrah menyerahkan tubuhnya untuk mendapatkan kehangatan birahi darinya. Dapat ia rasakan payudaranya Natasha yang besar naik turun, menggesek dadanya yang sedikit berbulu, membuatnya makin terangsang dan bergairah.
Tanpa banyak bicara, Tony menyandarkan tubuh berbaju kulit hitam itu ke dinding, Natasha hanya menurut saja, tidak berusaha melawan sedikit pun. Pipinya bahkan terlihat sedikit memerah, membuat Tony jadi tergoda untuk segera menciumnya. Mereka berpelukan erat, dengan bibir Tony mulai menjelajahi wajah cantik sang Black Widow.
“Tony… apa yang kau lakukan? Kita tidak seharusnya melakukan ini… Ada meeting yang harus kita hadiri...” dalam kondisi sangat bergairah, Natasha masih sempat berpikir jernih. Tapi pagutan keras dan dalam dari Tony langsung mengunci bibirnya dan membuatnya kembali jatuh ke dalam jurang birahi penuh kenikmatan, bahkan kini lebih dalam hingga dia tidak mungkin bisa bangkit lagi.
“Sebentar saja, Nat. Mereka bisa menunggu.” bisik Tony sambil menjilati leher Natasha yang jenjang.
”Ahhh…” wanita itu langsung mendesah ringan merasakan hangat dan basahnya lidah Tony di batang lehernya.
“Nat… payudaramu besar sekali yah, boleh aku pegang?” Tony secara perlahan mulai menurunkan resliting baju ketat Natasha ke bawah, hingga payudara Natasha yang besar itu pun menyembul keluar.
“Ahhh… lakukan sesukamu, Tony... tubuhku milikmu saat ini!” jawab Natasha di sela-sela kehausan birahinya. Ia kini mencari-cari bibir Tony untuk dikecupnya, tampaknya dia lumayan ahli juga dalam masalah seksual.
“Ukurannya berapa, Nat?” tanya Tony sambil mulai meremasnya pelan, terasa sangat empuk dan kenyal. Dia menyukainya.
“36B, dan tolong... tekan lebih kuat, aku menginginkannya... ahhh!” Natasha menggelinjang saat Tony memelintir putingnya.
“Begini?” Tony mencengkeram kedua bulatan daging itu kuat-kuat, hingga bentuk yang aslinya bulat kini berubah menjadi lonjong. Putingnya tampak semakin mengacung ke depan. Tony menurunkan kepalanya dan segera menjilati kedua bulatan kecil berwarna kemerahan itu.
”Aughhss...” Natasha mendesah, tubuh mulusnya melengkung merasakan gelitikan kumis Tony di puncak payudaranya.
Beberapa menit mereka bertahan dalam posisi seperti itu: Tony menyusu pada buah dada bulat Natasha, sementara sang Black Widow, dengan mata merem melek keenakan memegangi penis Tony yang sudah mengacung tegak dan mengocoknya dengan begitu cepat.
Melihat Natasha yang sudah mulai agresif, Tony pun menghentikan sedotan bibirnya. Ia peluk wanita cantik berambut merah itu dan meremas pinggulnya. Pinggul yang padat dan indah itu terasa sangat seksi dan sintal sekali. Belum pernah Tony merasakan tubuh wanita yang benar-benar sempurna seperti ini, bahkan Pepper atau Sue pun tidak bisa menandinginya.
Tony masih ingin berlama-lama menikmatinya ketika JARVIS berkata mengingatkan. “Sudah 10 menit, Sir… anda sudah ditunggu di ruang meeting.”
”Oh, diamlah, JARVIS!” tapi dalam hati Tony membenarkan ucapannya. Dia harus melakukan ini dengan cepat, kalau tidak, bisa-bisa Fury sendiri yang turun kesini memanggilnya.
“Nat, bisakah kamu berbalik sebentar?” Tony bertanya.
Tidak menjawab, Natasha melakukannya sambil mendesah ringan. Tony segera meremas-remas pantat wanita itu dari balik celana ketatnya hingga Natasha sedikit mengerang, suaranya terdengar begitu binal, berbeda sekali dengan kesehariannya yang kaku, dingin dan anggun. Sedikit demi sedikit Tony menurunkan celana perempuan itu, juga celana dalamnya yang berwarna hitam berenda, hampir mirip dengan corak bra-nya. Natasha memang suka sekali dengan warna hitam, yang identik dengan kegelapan, bagaimana pun dia adalah mantan pembunuh bayaran di kehidupannya yang dulu.
Dilihatnya vagina Natasha sudah mulai basah oleh lendir kewanitaannya. Tony meraba-rabanya sebentar sebelum akhirnya memposisikan penisnya tepat di depan lubang yang sudah merekah indah itu. Natasha mendesah  pelan ketika ujung kontol itu menempel di bibir vaginanya, Tony menciumi lehernya dengan lembut dan memperlakukannya seperti Pepper, CEO sekaligus teman tidurnya, yang sekarang sedang pergi ke luar negeri untuk mengembangkan bisnis STARK Energy. Bedanya mereka tidak berada di ranjang yang empuk, tapi sedang bersandar di dinding workshop tempat Tony biasa bekerja.
“Aahhh... pelan-pelan!” Natasha menjerit keras saat Tony tanpa aba-aba menghujamkan penis coklatnya keras-keras ke dalam lubang vaginanya yang sempit.
Tony tak pernah menyangka, Black Widow yang begitu dingin bisa mengeluarkan erangan binal seperti itu. Vaginanya terasa berkedut-kedut menghisap penisnya yang kini sudah menancap dalam. Tak sesempit milik Pepper memang, tapi tubuh Natasha begitu mulus dan sintal hingga Tony  benar-benar bergairah dibuatnya. Tony bisa merasakan vagina Natasha sudah begitu licin karena cairan birahinya yang membanjir. Dia pun mulai menggenjot pinggulnya, menyetubuhi Natasha dari belakang, sambil berpegangan pada buah dada wanita cantik itu yang menggantung indah.
Beberapa menit Tony melakukannya hingga dirasakannya tubuh Natasha sedikit menegang. Dia yang sudah berpengalaman tentu tahu kalau ini adalah cirri-ciri wanita yang akan orgasme. Natasha tampak begitu menikmati persetubuhan itu, tak heran kalau ia bisa secepat ini mencapai orgasme. Wanita itu pun mulai meraung mencari kenikmatan sejatinya. Pinggulnya yang bulat maju mudur mengikuti genjotan kontol Tony di vaginanya yang basah dan memerah.
“Ahh… ahhh… Tony, aku sampai! Ahh...” jeritnya pilu saat cairan cinta dalam jumlah banyak menyembur dari dalam liang vaginanya.
“Lepaskan semua birahimui, manis… sore ini akan kubuat kamu melayang.” bisik Tony sambil menyangga tubuh mulus Natasha yang ambruk ke dalam pelukannya. Baru kali ini ia bersetubuh dengan seorang wanita di mana wanita itu langsung ambruk setelah orgasme.
Tony terus melanjutkan genjotannya sebelum akhirnya dia pun menyemprotkan spermanya yang kental dan hangat di mulut rahim Natasha. Sama-sama kelelahan, mereka berpelukan. Tony menyeka keringat yang bergulir di pipi wanita cantik itu sambil memeluknya erat dari belakang. Tangannya melingkar di payudara Natasha dan meremas-remasnya pelan, sementara penisnya masih menancap di kemaluan Natasha yang sempit, tapi benda itu sedikit demi sedikit semakin melemah dan akhirnya lepas dengan sendirinya.
Tony segera melepas pelukannya dan membantu Natasha merapikan bajunya. Dimasukkannya lagi payudara Natasha yang indah yang tadi menyembul keluar ke balik BH, dan dikatupkannya lagi reslitingnya yang terbuka. ”Kembalilah dulu. Aku akan menyusul.” bisiknya sambil mencium bibir Natasha sekali lagi.
”Jangan lama-lama.” Natasha keluar dari workshop tanpa menutup pintunya.
Setelah wanita itu pergi, JARVIS berkomentar, "Anda tidak punya whirlpool di bawah sini, Sir."
"Hahaha... lucu sekali JARVIS. Mana t-shirt kesayanganku?"
"Di bawah meja, dekat prototype repulsor baru dan prototype anak panah C4 untuk Mr. Barton."
Tanpa banyak bicara Tony mengambil t-shirt itu dan mengenakannya. Sambil lalu ia menemukan celana jeans usang (tapi bermerk, tentu saja, Tony tidak pernah memakai barang murahan), yang setelah ia perhatikan di bawah lampu, diputuskan cukup bersih untuk dikenakan. Kadang Tony berpikir bahwa ia sudah terlalu nyaman dengan para Avengers, sehingga ia tidak lagi terlalu memperhatikan penampilannya saat akan bertemu.
JARVIS mematikan lampu seiring dengan keluarnya Tony dari workshop. Namun saat Tony terlihat akan naik tangga, JARVIS berkomentar. "Saya sarankan anda menggunakan lift, Sir."
"Ckckck... JARVIS, tidakkah kau tahu bahwa naik tangga itu lebih sehat?"
"Tidak kalau tujuan anda terletak 70 lantai di atas workshop ini, Sir."
"Cih..." gerutu Tony saat mendapati pintu menuju tangga darurat dikunci oleh AI-nya itu. "Kenapa dulu aku memprogram kepribadian saat membuat JARVIS?"
"Rasa terima kasih saya kepada anda tidak terhingga, Sir."
"Pujian tidak akan menolongmu, JARVIS." ujar Tony sambil menggelengkan kepala, lalu memasuki lift, musnah sudah rencananya mengulur waktu. "Jangan buru-buru." komentar Tony saat ia merasa laju liftnya lebih cepat daripada biasa.
"Maaf Sir, Mrs. Romanoff secara spesifik memerintahkan untuk mempercepat kedatangan anda sebelum ia datang kembali dan menyeret anda."
"Kau, JARVIS. Adalah pengkhianat. Lihat saja, aku akan menukar kodemu dengan kode DUM-E."
"Saya gemetar ketakutan, Sir."
Tony cukup yakin JARVIS mengucapkannya dengan nada mengejek. Kenapa dulu tidak ada yang menghentikannya saat ia memasukkan kepribadian untuk AI-nya itu?

***

"Kenapa JARVIS gemetar ketakutan?" Clint bertanya saat Tony keluar dari lift. Sang pemanah itu baru saja turun dari saluran ventilasi. Kenapa Clint Barton sangat suka bergerak melalui saluran ventilasi udara, Tony tidak pernah mengerti.
"Semua sudah berkumpul?" tanyanya.
"Kalau yang kau maksud Natasha yang tadi kau cium, ia sudah ada di ruangan." sahut Clint.
"Fuck you, aku sudah tahu."
"Hey, tidak ada yang salah dengan menyukai Black Widow. Hanya saja lain kali kau harus mencium orang yang benar."
"Jangan salahkan aku, kau lihat sendiri bahwa keduanya sama-sama seksi dan… sama persis. Puncak kesempurnaan fisik manusia dan semua efek serum lainnya, kau tahulah." Tony berhenti bicara sejenak, lalu menambahkan, "Kau akan selalu mengungkit hal ini ya?"
"Benar sekali." katanya sambil nyengir, lalu membuka pintu ruang meeting. Tony, menyusul di belakang Clint, menyapukan pandangannya kepada semua orang di ruangan itu. Seluruh anggota Avengers sudah hadir, termasuk para Fantastic Four, Nick Fury beserta Maria Hill, Phil Coulson dan… kedua Natasha.
"Whoa, aneh rasanya melihat kalian duduk bersebelahan begitu. Seperti sedang berada dalam twilight zone." Tony tidak bisa menahan diri untuk berkomentar. Ia dan Clint menempati kursi di antara Steve dan Bruce, membuat Tony duduk tepat di seberang kedua Natasha.
"Tadi kau tidak tampak keberatan-OW! Kau menyakiti tubuh atletisku." protes Clint saat Tony menyikut pinggangnya. Keras.
"Anak-anak, tutup mulut kalian sebentar! Kalian tentu sudah tahu tentang tamu kita… Black Widow dari dimensi lain." Wanita yang disebut namanya itu tersenyum kepada semua orang. "Bisakah kau menjelaskan bagaimana kau bisa mengakses portal yang menyambung ke dunia kami?" tanya komandan Fury.
"Sebelumnya, aku bukan lagi Black Widow. Dan kenapa aku bisa sampai di sini, well, anomali tidak hanya terjadi di dunia ini. Portal dari dunia kalian juga mempengaruhi dunia kami, yang menyebabkan beberapa portal yang memancarkan radiasi gamma terbuka. Aku sedang berusaha menutup salah satunya —dengan alat dari Dr. Richards— saat portal itu meledak. Aku terbawa dalam ledakan itu dan… di sinilah aku."
Kalimat 'bukan lagi Black Widow' terngiang-ngiang di telinga Tony.
"Sebentar, jadi ada kemungkinan kau terkena radiasi gamma kuat? Bagaimana dengan orang-orang di duniamu?" Bruce bertanya, tertarik dengan radiasi sinar gamma yang terjadi di dimensi lain itu.
"Dr. Banner di duniaku sudah menemukan antidote-nya, jadi tidak ada masalah."
"Jadi… the Hulk…" Bruce berharap.
"Terekspos dengan dosis yang terlalu tinggi untuk diobati dengan antidote itu." jawab Natasha dari dimensi lain.
"Oh." kekecewaan Bruce jelas terlihat di wajahnya.
"Hey, buddy, setidaknya kau bisa menguji coba darah eks-Black-Widow di sana itu. Benar bukan? Mungkin kau malah bisa menemukan sesuatu yang lebih daripada Banner yang di sana." hibur Tony sambil menepuk-nepuk pundak Bruce.
Natasha-eks-Black-Widow tersenyum manis ke arah Tony yang dibalas dengan kedipan mata dari sang Iron Man, membuat Natasha-yang-masih-Black-Widow mengernyitkan dahi melihatnya. "Ya, tentu, aku akan memberikan darahku untuk di tes."
"Baik, mari kita kesampingkan masalah uji laboratorium ini dan membicarakan masalah selanjutnya. Aku percaya Dr. Richards akan membantu Mrs. Romanoff untuk kembali ke tempat asalnya." Fury melihat ke arah Reed Richards, yang langsung mengangguk.
"Aku bisa mengkalkulasi dimensi mana tempat ia berasal, lalu membuka portal menuju kesana. Namun…" ucap Reed.
"Karena ia baru menyegel semua portal masuk dan keluar dari dimensi ini, ia butuh waktu lebih." sambung Fury.
"Ya sekitar dua minggu." Reed membenarkan.
"Cara kalian melengkapi kalimat satu sama lain itu… creepy. Super creepy." gumam Johnny Storm dari tempatnya bersandar di dinding.
Fury mengabaikan komentar itu, "Karena itu Mrs. Natasha Romanoff ini..."
"Natasha Stark, Direktur." potong Natasha-dari-dimensi-lain itu.
"Maaf?" Fury tidak mengerti.
"Natasha Stark. Namaku Natasha Stark." ia mengangkat tangan kiri untuk memamerkan cincin emas yang melingkar di jari manisnya. Semua terdiam. Tony merasakan komplikasi di perutnya, antara digelitik kupu-kupu dan dicakar beruang grizzly dari dalam. Wajah Natasha yang satu lagi memucat.
Setelah keheningan yang canggung, Fury berdehem, "Baiklah. Mrs. Stark ini akan tinggal di Avengers Tower sampai kita berhasil membuka portalnya. Nah, sekarang, tentang kerusakan yang kalian sebabkan…"

***

Setelah meeting mereka selesai, Fury mengusir Avengers dari hadapannya dengan, "Menyingkir dari sini! Sudah cukup banyak aku melihat wajah kalian dalam satu hari."
Tidak satupun merasa keberatan.
Fantastic Four menolak tawaran Tony untuk menginap di Avengers Tower dan memilih menaiki jetcar mereka untuk kembali ke Baxter Building. Susan Richards mengklaim, 'butuh mandi susu yang lama' sebelum menyeret suaminya pergi. Johnny Storm mengedip genit ke arah Natasha-yang-asli sebelum 'fire on' dan terbang dalam kobaran api.
Bruce mengumumkan ia mau langsung tidur, sementara Steve bilang ia mau ke ruang latihan terlebih dahulu (mungkin untuk mengasah tamengnya). Sisa anggota Avengers yang lain memutuskan untuk mengungsi ke ruang keluarga (ruang dengan televisi yang hampir sebesar layar bioskop dan pantry serta bar dengan koleksi alcohol lengkap).
"NATASHA TEMANKU! ALANGKAH BAIKNYA KINI KALIAN ADA DUA! AKU INGIN MENANTANG PENDATANG BARU KITA YANG CANTIK DALAM ADU MELEMPAR!" kata Thor sambil menepuk pundak Natasha-eks-Black-Widow, setibanya mereka semua di ruang keluarga. Seandainya Natasha tidak terlatih dengan baik, mungkin tulang belikatnya sudah patah-patah.
"Tentu, Thor. Di duniaku kau lebih banyak berada di Asgard. Sudah lama kita tidak berlatih bersama." jawab Natasha.
"Tidakkah agak membingungkan memanggil kedua Natasha dengan 'Nat'? Karena, kau tahu, tadi siang saja sudah ada yang salah mengenali-OUCH! Kau mencoba membuatku gegar otak?" Clint balas melempar sandal kelinci berbulu Thor (ya, Thor punya sandal kelinci berbulu. Jangan tanya kenapa) yang tadi dilempar Tony ke kepalanya. Dan tentu saja, sebagai pemanah nomor satu di dunia dengan akurasi hampir sempurna, sandal itu mendarat tepat di… selangkangan Tony.
"ARGH… harta keluargaku… kau baru saja menghancurkan keberlanjutan keturunan keluarga Stark!" Tony mengumpat.
"Tanpa perlu melakukan hal itupun, keluarga Stark tidak punya harapan untuk berlanjut, karena terakhir aku cek, kau terlalu banyak membuang spermamu kemana-mana!" pernyataan itu membuat Clint dihadiahi sandal yang sebelah lagi.
Natasha, kemungkinan besar yang masih Black Widow, mendadak batuk-batuk begitu mendengarnya.
Natasha Stark tersenyum, "Seingatku di Asgard ada alat yang bisa membuat orang hamil tanpa bersetubuh."
"BETUL SEKALI, TEMANKU! TENTU SAJA AKU AKAN DENGAN SENANG HATI MENDUKUNG USAHA KALIAN UNTUK MEMILIKI KETURUNAN!" seru Thor sambil menyelamatkan sandal-sandalnya.
"Cukup soal itu, aku tidak mau membayangkan idola masa kecilku hamil." gerutu Phil sambil mengangkat sebelah tangan. "Natasha." Ia menunjuk ke arah Natasha-si-Black-Widow, lalu menunjuk Natasha satunya lagi, "Tasha. Habis perkara."
Natasha Stark, sekarang dipanggil Tasha, tersenyum "Aku tidak keberatan."
"ALANGKAH BAIKNYA SETELAH SEMUA TERPECAHKAN! TASHA TEMANKU! SEKARANG, MENGENAI ADU MELEMPAR ITU…"
Phil menggeram, "Tidakkah kalian butuh istirahat setelah terjaga lebih dari 24 jam?" ia bertanya sembari duduk di bar, segelas scotch di tangan.
"Beri aku kopi dan aku sanggup terjaga 48 jam lagi di workshopku." komentar Tony sambil menyalakan mesin pembuat kopinya.
"Tony…" sepasang nada tidak setuju terdengar, membuat sang empunya nama mengangkat kepala —untuk disambut dengan dua pasang tatapan tidak setuju, yang kemudian menengok menatap satu sama lain. Natasha, tentu saja, masih memasang ekspresi tidak suka itu.
"Ouw-oow!" kata Clint sambil bersiul kecil dari tempatnya bertengger di atas kulkas. Sejak kapan dan kenapa Clint disana, Tony tidak mengerti dan tidak pernah mempertanyakan, demi kewarasannya sendiri.
"Uh, aku tetap harus ke workshop. Armor Iron Man-ku perlu diperbaiki." elak Tony.
Natasha mengambil kopi di tangan Tony dan menggantinya dengan segelas susu hangat. "Masih ada hari esok. Malam ini kau harus tidur." bisiknya mesra.
"Tapi Mom, ini baru jam 9 malam." Tony memasang wajah lucu.
"Tony…" Natasha mendelik.
Tepat di saat itu, Tasha memutuskan untuk merangkul pundak Tony dan mengarahkannya ke tangga menuju kamar. "Maaf, Thor, tapi aku harus menidurkan Tony. Kita adu melempar besok saja ya?"
"TENTU, TASHA TEMANKU! AKU SANGAT MENGERTI. SAMPAI JUMPA ESOK HARI!"
Dari tempatnya, Natasha bisa mendengar Tony bertanya "Kau mau membawaku kemana?" dimana Tasha menjawab, "Tentu saja ke kamar kita." Sebelum keduanya terlalu jauh untuk didengar. Tanpa ia sadari tangannya mencengkeram mug kopi Tony terlalu erat, sampai mug itu pecah.
Thor menggelengkan kepalanya, "NAT TEMANKU, KAU SEHARUSNYA SEGERA MENYATAKAN PERASAANMU KEPADA ANTHONY."
Si Black Widow langsung tergagap, "Apa?Aku tidak... kau pikir... tapi aku…"
Clint terkekeh, "Peribahasa bilang, Denial is not just a river in Egypt, Nat. Jangan menyangkal perasaanmu sendiri." godanya sambil melompat turun dari atas kulkas dan melambaikan tangan ke arah Phil. "Karena sumber hiburanku sudah pergi, ada baiknya aku tidur. Ayo, Phil! Good nite, Nat, Thor!"
"SELAMAT TIDUR, TEMANKU CLINT!" balas Thor.
Natasha sendiri, masih membatu di tempatnya berdiri. Banyak yang harus ia pikirkan malam ini, sepertinya. Terutama mengenai Tony dan Tasha, dan… ada perasaan tidak enak di hati Natasha, seperti akan terjadi sesuatu. Tapi mungkin itu, seperti kata Thor dan Clint, adalah rasa cemburu. Benarkah hanya itu?

***

"Kau serius mau tidur di kamarku?" tanya Tony kepada Tasha begitu mereka menghilang dari pandangan yang lain.
Tasha mengangkat bahu, "Aku akan menempati kamar tamu di samping kamarmu."
"Wow, kau benar-benar istri Tony Stark, ya? Atau jangan-jangan… kau istri Howard Stark?" Tony bertanya, dengan iseng menyebut nama ayahnya.
"Kalau itu benar, ciuman kita akan sangat-sangat salah." jawab Tasha santai, membuat Tony mengernyitkan dahi dengan jijik.
"Ew... Mental image. Ugh,  lupakan aku pernah menanyakan itu."
"Setuju." Tasha mengangguk.
"Bagaimana kau bisa menikahi Tony Stark di duniamu? Benar Tony Stark kan? Bukan Susan Stark? Karena, walaupun Susan Stark tentu saja sangat seksi dan menarik karena dia adalah versi wanita dari aku, tapi tetap saja aneh rasanya kalau kau menciumku yang jelas-jelas laki-laki." Tony masih ingat salah satu kejadian di masa lalu yang berkaitan dengan portal, di mana yang keluar dari balik armor Iron man adalah seorang wanita.
Tasha menghela nafas, "Tidak pernah terpikir kalau aku lesbian, Tony."
"Aku selalu berpikir kau biseksual, sebenarnya." sahut Tony.
"Itukah sebabnya kau tidak juga menyatakan cinta pada Natasha?" Tasha bertanya.
"Oke, ayo kita berhenti membicarakan perasaanku pada Nat, yang, by the way, wajahnya sama persis denganmu. Aku jadi merinding. Sebagian karena aku harus menahan diri untuk tidak memepetmu di tembok dan melakukan berbagai macam hal."
"Kau sedang membawa segelas susu." sahut Tasha.
Tony langsung meminum habis susunya dalam tiga tegukan besar. "Nah. Kalau sekarang?"
"Sekarang, kau masuk kamar dan tidur." kata Tasha. Tony bahkan baru tersadar kalau mereka sudah sampai di depan kamarnya.
"Kau tidak mencium keningku atau apa?" Tony meminta.
Tasha tertawa kecil, "Kau hanya ingin dicium? Aku bisa memberimu yang lain lho!”
”Apa contohnya.”
”Ini...” dengan cepat tangan Tasha meremas selangkangan Tony. “Wow, sudah bangun rupanya,” bisiknya gembira.
“Sudah dari tadi, tapi aku masih sungkan, kita kan baru kenal,“ sahut Tony.
“Tidak usah sungkan, aku kan istrimu, meski itu di dimensi yang lain. Kita sudah sering melakukannya, setiap hari malah. Kau sangat suka dengan tubuhku.” Tasha dengan pedenya membuka sabuk dan resleting Tony. Penis Tony yang sudah menegang dahsyat langsung digenggamnya erat. “Wah, keras sekali,” gumamnya.
”Apa penis Tony-suamimu tidak sekeras ini?” birahi Tony mulai naik, dia pun  memberanikan diri untuk memegang bagian selangkangan Tasha. Wanita itu mengenakan celana panjang ketat seperti Natasha-yang-asli, sehingga kontur kemaluannya kurang terasa ketika diremas dari luar.
”Tidak begitu keras, tapi sedikit lebih besar dari ini.” Tasha membiarkan saja saat Tony berusaha membuka celana panjang sekaligus celana dalamnya. Laki-laki itu menarik dan menurunkannya sampai ke mata kaki.
”Sekarang bandingkan, enak mana antara punyaku dan punya Tony-suamimu.” tanpa foreplay macam-macam, Tony langsung menunggangi tubuh mulus wanita cantik itu. Tasha yang kelihatannya juga sudah siap, melebarkan kakinya, memberi Tony jalan lapang untuk menyetubuhinya.
Tony menempelkan penisnya ke gerbang vagina Tasha. Pelan-pelan ia menekan. Agak seret juga, rasanya sama seperti punya Natasha-yang-ada-disini. Mungkin pelumasannya masih belum sempurna, Tony berpikir. Dia pun meludahinya, lalu menusuk lagi. Di usaha yang keempat, barulah ia berhasil. Penisnya akhirnya bisa masuk menembus kemaluan Tasha yang sempit dan cukup menjepit. Penis Tony serasa digenggam dan dipijit-pijit ringan. Nikmat sekali rasanya.
Dia mulai menggenjot. Natasha-yang-ini ternyata pembawaannya rame. Wanita itu terus mengerang-ngerang dan menjerit-jerit di sepanjang permainan. Beda sekali dengan Natasha-asli yang tetap berusaha menjaga suaranya meski sudah terangsang berat.
Tony terus menggenjot sambil menahan agar orgasmenya tidak segera datang. Dia masih ingin menikmati tubuh Tasha lebih lama lagi. Wanita itu sendiri semakin ribut, apalagi ketika orgasmenya datang, dia melenguh panjang tersendat-sendat sambil tubuhnya berkelojotan tak karuan. Tony sampai harus memeganginya agar penisnya yang masih menancap dalam tidak terkilir.
Melihat Tasha yang keenakan mencapai orgasme membuat birahi Tony semakin meninggi, dia pun melepas pertahanannya, membiarkannya penisnya berkedut-kedut dan berejakulasi. Tony membenamkannya dalam-dalam  ke liang kewanitaan Tasha saat dia menembakkan spermanya berkali-kali ke dalam mulut rahim wanita cantik berambut merah itu.
Mereka berdua mencapai kepuasan. Tony tetap menindih tubuh mulus Tasha sampai penisnya mengecil dan akhirnya keluar dengan sendirinya dari jepitan vagina Tasha yang berair dangkal. Dengan tissue yang sudah disiapkan oleh JARVIS, mereka membersihkan diri seadanya lalu merapikan kembali pakaian masing-masing.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Tony menawarkan Tasha mandi air hangat sebelum mereka masuk kamar dan tidur bareng. Mereka memang masih di depan pintu kamar saat itu.
“Aku suka itu.” kata Tasha sambil tersenyum manis.
Kamar mandi di kamar Tony dilengkapi dengan shower air panas. Tasha tengah mengguyur seluruh tubuh mulusnya saat Tony ikut masuk dan membuka seluruh pakaiannya. Tasha bingung melihatnya, “Hai, dasar tidak punya rasa malu, telanjang di depan orang!” serunya.
“Untuk apa malu? Kita kan sudah lebih dari telanjang tadi,” sahut Tony enteng. Kadang dia bingung juga menghadapi perempuan, sudah digenjot dan disetubuhi, masih saja malu-malu.
Tasha berusaha menutupi bulatan payudara dan kemaluannya dengan kedua tangan. Tony membiarkan saja dia begitu, mungkin Tasha masih dalam proses transisi untuk berani telanjang di depannya, bagaimana pun mereka memang baru saja kenal. Body wanita ini memang benar-benar aduhai, sama seperti Natasha-yang-asli. Beruntung sekali Tony bisa menikmati barang sebagus ini dua kali dalam satu hari.
Tony membantu menyabuni seluruh tubuh wanita cantik itu. Dia berhenti sejenak di bagian payudara Tasha yang bulat dan kencang, agak lama Tony meremas-semas dan memijitnya dengan sabun yang licin.
“Ah, kau nakal, jangan main disitu terus,” Tasha menggelinjang. Tony mengalihkan tangannya ke selangkangan wanita berambut merah itu. Baru ia sadar kalau Tasha ternyata tidak banyak memiliki jembut, sehingga vaginanya yang memerah terlihat jelas. Tony memasukkan jari tengahnya dan membersihkan belahannya dengan sabun.
“Tony, aduh... geli ah, sudah!“ Tasha menggelinjang manja.
”Kalau begitu giliranku sekarang.” Tony ganti minta disabuni. Tasha membasahi tangannya dengan busa dan mulai membelai punggungnya. Dia memperlakukan Tony seperti sedang memandikan anaknya, seluruh tubuhnya dibersihkan. Bedanya, di bagian penis dia melakukan kocokan, sehingga penis Tony yang setengah tertidur, perlahan bangkit lagi.
Tak tahan, Tony langsung memeluk tubuh Tasha yang terasa segar. Tangannya kembali bergerilya meremas susu wanita cantik itu yang masih terasa padat dan kencang. Putingnya yang mungil kemerahan ia pilin-pilin dan pijit-pijit ringan. Bahkan tak lama, Tony melahap dan menghisapnya dengan rakus. Sambil terus menyusu, tangannya turun menuju belahan vagina Tasha yang terbuka. Ia meraba dan menusukkan satu jarinya, merasakan kalau benda berbulu jarang itu mulai berlendir di bagian dalam.
Tasha yang mulai bangkit birahinya, ditandai dengan nafasnya yang semakin cepat dan erangannya yang semakin keras, menggapai penis Tony dan meremas-remasnya dengan gemas. Saat rangsangan dari Tony semakin bertambah, ia pun dengan cepat mengocok batang coklat panjang itu.
Ciuman Tony turun menuju perut Tasha yang masih kelihatan kencang, sambil jarinya terus memainkan clitoris wanita cantik itu, membuat sang empunya mengejang-ngejang setiap kali kelentitnya diusap. Bibir Tony terus ke bawah dan baru berhenti saat sampai di gundukan bukit kemaluan Tasha yang tercukur rapi.
“Tony, jangan... aku paling tidak tahan kalau dijilat disitu.“ Tasha keberatan, rupanya dia belum pernah dioral.
Tony tidak perduli, malah terus menelusur ke bawah karena lidahnya sudah menemukan titik sasaran, yaitu clitoris Tasha yang mungil kemerahan sebesar biji kacang. Vagina wanita cantik itu sama sekali tidak berbau, malah wangi sekarang, mungkin karena habis mandi dan tadi dibersihkan dengan sabun. Tony mulai menjulurkan lidahnya dan menjilat dengan rakus. Tasha yang menerimanya benar-benar tidak tahan, dia menggelinjang-gelinjang kesetanan sambil mulutnya menceracau tiada henti.
“Tony, oughhh... aduh, ampun! Geli sekali... aku tidak kuat” erang Tasha berkali-kali. Tapi tiba-tiba saja dia terdiam dan tidak berapa lama kemudian menjerit keras dan bersamaan dengan itu seluruh permukaan kemaluannya berkedut-kedut. Dari dalamnya menyembur cairan cinta yang banyak sekali. Tony yang tidak sempat menghindar tersiram dengan telak.
Tony cepat mencabut lidahnya dan menyingkir, membiarkan Tasha menikmati sisa-sisa orgasmenya. Dipandanginya saat wanita cantik itu gemetar dan akhirnya lunglai lemas di lantai kamar mandi yang dingin.
”Gila kamu, Tony... suamiku saja tidak pernah berbuat seperti itu.” lirih Tasha di sela-sela hembusan nafasnya yang masih memburu.
”Tunggu sampai aku berbuat yang lebih gila lagi.” Tony mencolokkan jari tengah dan jari manisnya ke vagina Tasha yang membanjir, perlahan-lahan ia memasuki lubangnya yang masih terasa sangat sempit, mencari titik G-spot wanita cantik itu. Benda itu ia temukan menonjol di bagian langit-langit vagina. Pelan-pelan Tony merabanya dan menggeseknya.
Awalnya Tasha diam saja. Namun lama-kelaman dia mulai lagi merintih-rintih. Apalagi sekarang Tony menggerakkan kedua jarinya dengan gerakan mengocok yang makin bertambah cepat. Tasha pun makin mengerang. Kedua kakinya mengangkang lebar sehingga belahan vaginanya juga terbuka makin lebar. Tony sejenak memandanginya, tampak kagum melihat betapa bagusnya benda itu, tidak ada gelambir berlebihan, dan warnanya juga tidak terlalu pekat, merah menyala seperti magma di mulut kawah. Tony mengocok tangannya lagi.
“Tony, stop dulu... berhenti. Aku rasanya kebelet kencing, aduh...” Tasha mengerang. Tapi Tony tidak menurutinya, malah dia mengocok semakin cepat, dan  seperti yang ia harapkan, dari lubang vagina Tasha menyemprot cairan agak kental membasahi tangannya. Sekitar 4 kali semprotan itu terjadi dan makin melemah sampai akhirnya hanya meleleh pelan.
“Aduh, aku kencing ya tadi? Tapi kok rasanya nikmat sekali ya? Badanku jadi tambah lemas.” rintih Tasha. Badannya sudah ambruk ke lantai dengan kaki mengangkang lebar.
Melihat vagina yang nganggur itu, Tony jadi tidak tahan. Apalagi dia sudah menahan hasrat ini sejak tadi. Tanpa banyak bicara, ia menindih wanita cantik berdada besar itu dan memasukkan penisnya yang sudah mengeras ke lubang vagina Tasha yang meski basah tetapi masih terasa menjepit keras. Tony pun memompa pinggulnya dengan gerakan sedikit kasar.
”Oughhh... Tony, aku...” Tasha mencapai orgasme lagi, ”Aduh, sudah... badanku rasanya lemes sekali. Aku nggak kuat lagi, Tony...” dia sampai menjerit-jerit minta ampun menghadapi Tony yang kesetanan.
”Salah sendiri, kenapa punya tubuh begitu bagus. Aku jadi sangat terangsang.” sahut Tony sambil terus menggerakkan pinggulnya. Rasa nikmat mulai menjalari seluruh tubuhnya, menandakan kalau saat ejakulasinya sudah hampir tiba. Dengan satu tusukan keras yang sangat dalam, akhirnya meledaklah spermanya di dalam vagina Tasha.
“Aduh, Tony… kamu kok pinter sekali main seks. Tony-yang-suamiku saja tidak seperti ini. Belum pernah aku merasakan nikmatnya bersetubuh seperti tadi, badanku sampai lemes sekali.” ujar Tasha sambil dengan malas-malasan menggelayut di tubuh Tony yang atletis.
”Mau tukar suami?” Tony bertanya menggoda. Tasha segera mencubit perutnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Setelah mandi sekali lagi dan mengeringkan tubuh dengan handuk, mereka pun naik ke atas ranjang dan tertidur pulas berpelukan sampai pagi.
Malam itu, Tony memimpikan unicorn. Tapi unicorn yang makan daging.

***

Pagi harinya, kedua Natasha terbangun di jam yang sama di pagi buta, dan melakukan rutinitas yang sama : lari pagi. Tentu saja Natasha masih kurang ramah terhadap Tasha, walaupun ia masih mempertahankan sopan santunnya. Keduanya lari pagi dengan rute yang sama dalam diam, dengan Tasha tersenyum geli sepanjang jalan melihat versi dirinya dari dunia lain yang lebih muda itu merajuk (merajuk dalam cara yang sangat anggun, tentu saja, dia Black Widow!).
"Apa rencanamu terhadap Tony?" tanya Natasha tiba-tiba, saat keduanya sedang beristirahat di bangku yang sama yang biasa mereka duduki di Central Park.
"Duniamu dan duniaku tidak jauh berbeda, Nat. Hanya saja di duniaku, waktu sudah berjalan lebih cepat daripada di sini."
"Itu tidak menjawab pertanyaanku." sahut Natasha.
"Kau yakin mau melakukan pembicaraan ini? Pembicaraan : kalau kau mematahkan hati Tony, akan kupatahkan lehermu?"
Mulut Natasha menganga, terkejut dengan reaksi Tasha.
"Apa?" tanya Tasha melihat ekspresi Natasha. "Aku bergaul dengan Tony Stark lebih lama darimu, tahu?"
"Yeah, kelihatan kok."
Keduanya terdiam, memandangi keadaan Central Park yang berantakan. Puing-puing air mancur masih berserakan di mana-mana, Natasha menyadari. Sulit dipercaya semua kekacauan itu baru terjadi kemarin.
"Kalau Tony, mungkin sudah mengkalkulasi berapa biaya yang dibutuhkan untuk perbaikan dan darimana sumber dana untuk melakukannya." Tasha berkata.
Natasha tersenyum kecil, "Ya, itu terdengar seperti Tony. Bahkan stand hotdog di pojok sana pun akan mendapatkan gerobak baru… atau pekerjaan di Stark Energy untuk penjualnya."
"Selalu kesana kemari melakukan yang terbaik bagi orang lain, tetapi tidak mengurus dirinya sendiri." tambah Tasha.
Keduanya tertawa kecil, "Kalau tidak dibawakan sandwich, ia bisa tidak makan tiga hari saat sedang berada di workshop."
"Dan harus diseret ke sofa atau kasur terdekat supaya dia tidur dengan benar. Aku juga harus menyembunyikan semua minuman beralkoholnya supaya ia tidak pingsan di lantai dalam genangan muntahannya sendiri."
Natasha melihat ke arah Tasha dengan terkejut. "Tony… tidak mabuk sampai separah itu."
Tasha mengangguk, "Tony yang di sini lebih bahagia daripada Tony di duniaku."
Keheningan kembali menyelimuti mereka. "Aku…" Tasha memulai, "Aku ingin Tony bahagia. Tetapi sepertinya aku tidak terlalu mahir melakukan hal itu."
Natasha memainkan kerikil di lantai dengan sepatunya. "Aku juga."
Tasha menghela nafas, lalu bangkit dari duduknya. "Aku akan mencoba rute lain. Kita bertemu nanti di tower?"
Natasha mengangguk, "Aku masih mau disini. Sampai jumpa."
Setelah pembicaraan itu, Natasha tidak lagi terlihat antipati kepada Tasha. Bahkan, saat beberapa jam kemudian Tony datang ke pantry, kedua Black Widow sedang bekerja sama membuat omelet dan menggoreng bacon, dikelilingi oleh Bruce, Clint, dan Steve yang minum kopi di bar.
"Baiklah, siapa yang meninggal?" tanya Tony tiba-tiba.
Natasha memandangi Tony sambil mengangkat sebelah alisnya. "Tidak ada yang meninggal, Tony. Ayo makan omeletmu." Ia menyodorkan sepiring omelet rice ke arah Tony, dan Tasha melengkapinya dengan empat buah bacon yang digoreng kering. Persis seperti yang Tony sukai, kalau ia sempat sarapan.
"Maaf kalau aku tidak percaya. Terakhir kali kekompakan ini terjadi di Avengers, Fury berbohong pada kita tentang kematian Phil Coulson." ujar Tony sambil duduk di salah satu kursi tinggi, meraih segelas kopi yang disodorkan Natasha dan menarik piring omeletnya mendekat.
"Jangan mendoakan kematianku dulu, Stark. Kau tidak mau aku datang dan menghantuimu." Phil Coulson memasuki dapur, tentu saja dalam balutan setelan jas hitam kesayangannya, sambil menenteng Starkpad. Tony bersikeras mengganti iPad Phil dengan Starkpad, karena tidak seorang pun yang tinggal di Avenger Tower boleh menggunakan gadget ketinggalan zaman. Gadget primitif membuat Tony merinding.
"Kau menghantuiku setiap hari dengan formulir laporan misi." kata Tony.
"Aku akan menghantuimu lagi setiap hari, sambil membawa taser, kalau itu bisa membuatmu mengisi laporan misi sial itu." sahut Phil.
"Ckckck, Phil!" Tony pura-pura terkejut, "Tidak boleh mengumpat di depan anak-anak!"
Phil memutar bola matanya, sebelum mengambil tempat duduk di samping Clint. "Kau juga akan akan mengumpat kalau mendengar berita yang kubawa."
"Apakah konser Tribute to AC/DC akan dipercepat? Tolong katakan padaku konsernya akan dipercepat." kejar Tony.
"Hush, Tony. Kalau yang terjadi di duniaku sama dengan di sini, maka konser itu akan dibatalkan. Kau akan merajuk sepanjang minggu di workshop sambil menyetel seluruh album AC/DC berulang kali." sambut Tasha.
"Serius?" Tony tak percaya.
Tasha mengangkat bahu, "Tentu saja tidak."
"Aku mulai bisa membayangkan kenapa ia bisa menikahi Tony Stark. Kau, Black Widow, telah dinodai oleh sarkasme Anthony Edward Stark." kata Clint sambil menunjuk ke arah Tasha dengan garpunya.
Ujung bibir Tasha terangkat, "Siapa bilang bukan aku yang menodai Tony?"
"Oh God, aku tidak perlu mendengar ini di pagi hari. Mental image!" Clint menutupi wajahnya dengan kedua tangan, sementara Natasha tersedak kopi yang diminumnya. Bruce, merasa kasihan pada si Black Widow, mengelus-elus punggungnya.
"YA?ADA YANG MEMANGGILKU?" suara Thor, seperti biasa, memasuki ruangan dengan dua kantong belanjaan besar berisi… poptarts.
"Hey, Thor, darimana saja kau pagi ini?" Natasha bertanya setelah nafasnya normal kembali.
"NATASHA TEMANKU! TADI PAGI AKU MENDAPATI PERSEDIAAN POPTARTS KITA MENIPIS! INI TIDAK BISA DITERIMA! KARENA ITU AKU PERGI KE SUPERMARKET UNTUK MEMBELINYA LAGI!"
"Tuhan, poptarts lagi?" keluh Bruce.
"SIAPAKAH TUHAN INI? DIA BUKAN DARI ASGARD! AKU INI THOR, GOD OF THUNDER!"
Tony tertawa, "Aku tahu ada alasan kenapa kau adalah favoritku, Thor." dan dalam sekejap semua lupa dengan berita menyebalkan yang seharusnya dibawa Phil.
…sampai siang hari saat mereka berkumpul di ruang TV (minus Thor, yang setelah sarapan poptarts langsung melesat ke Asgard karena dipanggil oleh ayahnya untuk menaklukan Bilgus-ehh... Bil-bilgesnipe? Apapun itu, Tony tidak yakin) menonton ulang Friends season 1.
Phil Coulson mendadak berujar dari posisinya yang duduk santai di sofa, "Hey, guys, kalian tahu? Pagi ini Fury mengirim e-mail kepadaku. Dalam satu jam kalian harus berada di kantor pusat SHIELD —ya, di atas sana, anak-anak— untuk briefing mengenai misi kalian yang baru. Mengutip dari kalimat Fury, semua anggota Avengers harus hadir, termasuk kau, Stark… atau kalian harus membersihkan toilet SHIELD selama sebulan."
"Fuck you, Phil!" seru Clint dan Tony saat semua orang bergegas ke kamar masing-masing untuk mempersiapkan diri, kecuali Tasha, yang duduk tenang di sofa sambil tersenyum pada Phil. "Aku juga perlu ikut?" tanyanya.
"Tidak, kau ada janji dengan Reed Richards di Baxter Building." sahut Phil.
"Baiklah." Tasha mengangguk mengerti.

***

Misi itu, rupanya, penyelidikan kematian misterius di gang belakang bangunan di daerah Manhattan. Clint berlutut di samping mayat yang tercabik-cabik sampai beberapa bagian tubuhnya tercecer di sepanjang gang itu, dengan garis putih di sekitar setiap bagian untuk menandai tempat kejadian. Sekeliling gang itu sudah dibatasi dengan pita kuning polisi.
"Sudah dapat visual, Stark?" Clint menyesuaikan kamera di tangannya ke sekitar TKP.
Dari komunikatornya terdengar suara Tony, "Ugh. Aku mulai menyesali sarapanku tadi. Kau yakin ini bukan pekerjaan orang CSI?" sang Iron man mendapat tugas mengawasi area sekitar dari udara, sementara Natasha  melakukannya di darat. Clint dan Steve menyelidiki TKP, dan Bruce di laboratoriumnya untuk menguji coba darah korban dan darah hitam yang ditemukan di TKP.
"Tadi CSI sudah memeriksa tempat ini, mereka cukup yakin ini bukan perbuatan manusia. Setidaknya, bukan manusia biasa." kata Steve yang baru kembali dari menelusuri gang lain di sekitar TKP untuk bergabung dengan Clint.
"Mutan?" tanya Natasha.
"Kemungkinan itu ada, Black Widow. Tapi kau tahu kepolisian tidak terlalu suka berurusan dengan X-men. Karena itu kita yang dipanggil." jawab Phil, dari posisinya yang entah di mana.
"Sepertinya pendatang dari dunia lain." kata Bruce tiba-tiba, "Aku menemukan jejak radiasi gamma di sample darah yang kita dapat."
"Oh-ho. Teman kita Tasha tidak datang sendiri rupanya." gumam Clint.
"Bruce, kau sudah menemukan pemilik DNA itu?" tanya Tony.
"Radiasi gamma itu mengubah cukup banyak susunan DNA asli subjek ini. Aku perlu waktu lebih untuk menentukan identitasnya." jawab Bruce.
"Bagaimana dengan waktu kejadian?" Natasha bertanya.
"Forensik bilang, sekitar pukul 7 pagi ini." jawab Steve.
"Hmm…" Natasha bergumam, "Ada yang lain lagi?"
"Kami sudah selesai di sini." kata Clint.
"Tony?" Natasha memanggil.
"Negative, miss."
"Baiklah kalau begitu, kita kembali saja ke Avenger Tower." kata Natasha, akhirnya.

***

Sementara itu di Baxter Building… Reed dan Susan baru saja menyelesaikan babak ketiga permainan mereka. Susan memberikan puting payudaranya yang kemerahan pada Reed saat dia bertanya. “Reed, kok aku sepertinya tidak pernah bosen ya ML sama kamu?" katanya dengan tangan membelai penis Reed yang mulai mengendur.
"Malah bagus kan?” Reed bertanya balik.
”Bukan begitu, kalau kita habis-habisan sekarang... jangan-jangan beberapa tahun lagi kita bakal bosan.”
”Itu tidak akan terjadi, Sue sayang.”
”Benarkah?”
”Jangan membahas yang tidak-tidak. Ya sudah, kita main lagi yuk, mana vaginamu, sini, aku mau jilat!" kata Reed sambil melepaskan puting Susan dari jepitan bibirnya.
”Lagi? Kau memang tidak pernah puas, Reed.” Susan menggeleng, tapi tetap membuka pahanya, membiarkan Reed mengoral vaginanya.
Saat itulah, telepon di kamar mereka berdering, dari Phil. ”Hai, Prof. Aku cuma ingin memberitahukan, Natasha-yang-dari-dimensi-lain sudah menuju kesana.” kata laki-laki itu.
”Ahh, iya. Aku sudah menunggu dari tadi. Oughhhh...” Reed mengerang saat Susan merubah posisi dan sekarang ganti mengulum penisnya dengan penuh nafsu.
”Kau tidak apa-apa, Prof?” Phil bertanya kuatir.
”Ehm... ya, a-aku baik-baik saja kok. Aughhh… sudah dulu ya, aku sedang sedikit sibuk sekarang.” Reed menutup telepon dan mengangkat tubuh sang istri. ”Sudah dulu, sayang. Natasha sedang menuju kesini sekarang, mungkin akan segera tiba.”
 ”Natasha-yang-dari-dimensi-lain?” Susan memastikan.
”Iya.” Reed mengangguk.
”Ya sudah, kita bisa melanjutkan lagi nanti.” Sue bangkit dari tempat tidur dan menghilang untuk pergi ke kamar mandi. Sementara Reed, mengulurkan tangannya hingga bisa mencapai tumpukan bajunya di depan pintu dan memakainya dengan sedikit cepat.
Tidak lama, Natasha tiba. Sore itu dia mengenakan tank-top warna biru ditutup dengan Cardigan hitam dan celana Capri ketat selutut warna putih. Payudaranya yang membuncah tampak jelas di balik bajunya. Susan sedikit melongo saat melihatnya.
"Malam, Sue.” sapa Tasha sambil melepas Cardigan-nya dan memamerkan keindahan buah dadanya yang dapat membuat laki-laki sesak nafas itu.
“Ah, iya... masuk, mari masuk. Reed sudah menunggumu dari tadi.” Susan menyingkir dari pintu dan mempersilakan wanita cantik itu untuk masuk. “Kamu sendirian?” dia bertanya.
”Iya, memang kenapa?”
”Tidak takut terjadi apa-apa, diperkosa monster misalnya? Daerah sini kan berbahaya.” jelas Susan.
"Kenapa harus takut? Kalau diperkosa aku malah senang, biar pernah mencicipi penis monster.” jawab Tasha enteng sambil tertawa. Payudaranya yang besar ikut berguncang-guncang karenanya.
”Kamu ini, beda sekali dengan Natasha-yang-ada-disini.” Sue melirik Reed yang ada di sebelahnya. ”Jangan ngomong yang tidak-tidak ah, kasihan Reed tuh.”
”Memang kenapa?” Tasha bertanya tidak mengerti, memandang pria jangkung yang ada di sebelah Susan.
”Dia lagi tanggung tadi,” Sue tersenyum, sedang muka Reed langsung memerah.
 ”Sudah-sudah, ngomong apa sih?” Reed merangkul tubuh sang istri.
“Tanggung? Memang kalian lagi ngapain? Ah, jangan-jangan…" Tasha memandang Sue dan dijawab dengan kedipan mata oleh wanita cantik berambut kuning itu.
”Mau ikut?” Sue menawarkan. ”Senjata Reed besar lho, tidak kalah sama punya monster idamanmu!” dia tertawa.
Reed yang mendengar ocehan sang istri, mukanya makin memerah. "Kamu ini ngomong apa sih, sayang... Memangnya kamu sudah pernah lihat penis monster?" katanya tersenyum.
"Iya, Sue. Kamu pernah lihat?" tanya Tasha.
"Bagiku, penis Reed sudah seperti monster. Habis susah sekali menjinakkannya. Bantu aku ya?” sambil berkata demikian, Susan melepas baju tidur yang dipakainya dan melucuti celana pendek Reed hingga tak lama suami istri itupun sudah sama-sama telanjang.
“Sue…!” Reed tampak keberatan, tapi tidak bisa menolak. Sedang Tasha cuma mendelik melihat ulah Mrs. Invisible itu.
“Wow, p-penis itu… besar sekali, Reed!” Tasha takjub memandangi kemaluan Reed yang tegak membesar.
“Ah, aku jadi malu.” Reed mencoba menutupinya, tapi segera dicegah oleh Susan.
“Ini bisa lebih besar lagi lho… coba kau tunjukkan, Reed.” Sue meminta.
“Haruskah?” Reed tampak ragu-ragu.
“Ayolah, sayang. Tasha pasti juga ingin melihatnya, iya kan, Tasha?” Sue bertanya.
Tidak menjawab, Tasha cuma mengangguk untuk menunjukkan persetujuannya. Baginya, ini saja sudah cukup besar, bagaimana mungkin jadi lebih besar lagi? Tapi btw, tubuh Reed kan elastis. Sepertinya dia akan dengan mudah saja melakukannya.
Dan benar saja. Tanpa perlu usaha yang terlalu keras, Reed bisa membuat Penisnya mengembang hingga seukuran tubuh orang dewasa. Tasha sampai terhenyak saat melihatnya. Sebelumnya dia tidak pernah berpikir kalau kekuatan super Reed juga bisa digunakan untuk merubah penisnya.
Tasha melirik Susan, wanita itu pasti senang sekali mempunyai suami yang ukuran penisnya bisa berubah-ubah seperti itu. Kalau mau main, Susan tinggal pesen mau ukuran berapa... selain memuaskan, juga bikin vagina nggak sakit. Susan hanya memberinya anggukan kecil untuk membenarkan perkiraannya itu.  
”Kalau memanjang, bisa tidak?” tanya Tasha dengan mata tak lepas memandang penis Reed yang sekarang memipih selebar meja bilyard.
”Kamu minggir dulu.” Reed meminta ruang, dan setelah Tasha menepi, dia pun mengulurkan penisnya panjang. Panjaaaaaa sekali... hingga tembus ke gedung seberang.
”WOW!” Tasha memekik kagum. Tapi sebelum dia sempat berkata lagi, dilihatnya tubuh Reed bergetar dan bergoyang-goyang liar. ”Hai, Sue. Sepertinya ada yang salah dengan suamimu.” dia memberi tahu Susan.
Susan yang melihatnya langsung panik. ”Reed, kau tidak apa-apa?” dia menyentuh pundak Reed dan langsung terpental ke belakang.
“Sue!” Tasha menjerit dan segera menolong wanita itu untuk bangkit berdiri.
“Reed… dia…” seru Susan terengah-engah, tubuh sintalnya masih gemetar hebat. Saat itulah, penis Reed yang tadi memanjang, kembali memendek dan dengan cepat kembali ke ukuran semula. Laki-laki itu jatuh ke lantai dengan tubuh lemas, tapi masih sadar.
“Reed, kau tidak apa-apa?” tertatih-tatih, Sue mendekati suaminya.
Sementara Tasha memperhatikan ujung penis Reed yang sedikit gosong. “Profesor, apa yang terjadi?” tanyanya.
“A-aku… penisku… nyangkut di kabel listrik.” Reed berkata malu-malu.
Sue dan Tasha saling berpandangan, lalu kemudian tertawa keras berbarengan. ”Dasar kau ceroboh, Reed.” Sue mencium pipi sang suami. Mau tak mau, Reed jadi ikut tertawa.
“Masih tertarik untuk mengajakku bergabung?” tanya Tasha dengan kerlingan mata genit.
”Bagaimana, Reed?” tanya Susan. ”Kalau aku sih tidak keberatan.”
”Ehm, sebenarnya sih tidak masalah. Tapi, badanku lemes sekali setelah kesetrum tadi. Mainnya nanti saja ya, setelah urusan pekerjaan kita selesai?” jawab Reed.
”Tidak apa-apa kan, Tasha?” Sue menoleh pada Tasha.
”No problem. Aku bisa menunggu.”
Dan beriringan mereka menuju laboratorium Reed untuk mengecek tubuh Tasha.

1 komentar:

  1. bisa gak ya kalo tulisan terjemahan semacam ini dibuat dengan gaya lokal, soalnya terasa kaku banget dan fil nya kurang dapet....

    BalasHapus