Sabtu, 19 November 2016

Ketika Iblis Menguasai 10



"Nikmat nggak, Neng? Bapak masih kuat ngelayanin kamu semalam suntuk. Nih masuk lagi ke dalem... sempit, peret, biar udah digenjot lama! Uuh... enaknya nih memek," Pak Sobri tak puasnya membisikkan kata rayuan gombal di telinga Aida yang sudah kewalahan setengah pingsan menghadapi kejantanannya. Batang penis itu terus menegang, biraho Pak Sobri yang tengah dipengaruhi iblis bagaikan tak ada habisnya.
Ditindih oleh badan Pak Sobri yang cukup besar dan berat itu, Aida merasakan sukar bernapas. Apalagi tak henti-hentinya kedua bibir basahnya yang setengah terbuka dan megap-megap dicakup dan diciumi dengan rakus sehingga dia hanya dapat mendengus-dengus lewat lubang hidung mungil yang kembang kempis.
"Oooh... udah dong, Pak! Kasihani saya... saya nggak sanggup lagi ngelayanin, bapak terlalu kuat! Ssshh... pelan-pelaaaan! Bapak sadis mainnya... aduh, auuw! A-ampuun... aauuwmmpfh," hanya keluhan itu yang dapat keluar dari mulut Aida yang setengah terbuka.

Di sudut bibirnya masih terlihat sedikit lelehan cairan pejuh putih milik Pak Sobri yang tadi telah membanjiri mulutnya. Telah dua kali Pak Sobri ejakulasi, namun tetap saja kemaluannya tegar dan tegak bagaikan kayu, dan kini lembing daging itu menumbuk-numbuk sejak sepuluh menit yang lalu ke lubang rahim Aida yang peka sehingga ia jadi merintih-rintih  kengiluan, namun rintihan itu segera dibungkam oleh ciuman Pak Sobri yang amat buas.
.Di dalam hati kecilnya Aida mengakui bahwa kekasih gelapnya ini memang mempunyai stamina luar biasa untuk ukuran seusianya. Setiap kali Aida merasakan seolah seluruh tulang-tulang badannya dilolosi, bagaikan remuk badannya digeluti Pak Sobri. Segala macam posisi dan teknik pernah dilakukan mereka, terutama posisi berlutut dan nungging memasuki lubang senggama Aida dari arah belakang yang merupakan salah satu favorit Pak Sobri.
Dalam posisi ini Aida tak dapat berontak dan berbuat apa pun, hanya dapat menerima sodokan buas dan sadis dari Pak Sobri. Kontol lelaki tua itu terasa sangat ngilu saat menghantam gerbang rahimnya. Dengan puas Pak Sobri selalu mendengarkan keluhan dan rintihan Aida yang semakin meninggi, lalu menjadi jeritan histeris yang memohon agar permainan dihentikan.  
Lebih dari satu jam barulah Pak Sobri melepaskan mangsanya setelah istri Ustadz yang ayu cantik jelita itu digarapnya habis-habisan tanpa rasa belas kasih sedikit pun. Dilepaskannya tubuh Aida yang lunglai menggeletak telanjang bulat di ranjang, diawasinya dengan penuh kepuasan keadaan Aida yang babak belur hampir pingsan dengan tubuh mandi keringat, juga wajah, dada dan perutnya penuh oleh sperma. Dengan sadis digigitnya puting Aida sehingga perempuan itu memekik manja penuh kelemahan.
Pak Sobri dengan tubuhnya yang masih kekar dan agak tambun itu bangun dan mencari air minum ke dapur. Sambil meneguk air dingin di gelasnya, Pak Sobri berjalan ke arah ruang tamu rumah Ustadz Mamat; semuanya terlihat biasa dan sangat sederhana, tak ada barang mewah. Hanya ada lemari kayu rendah tempat menaruh perabot rumah tangga, dan di atas lemari itu terlihat beberapa foto keluarga, baik dari Ustadz Mamat sendiri maupun Aida dengan saudara-saudaranya.
Pak Sobri mendekat dan memperhatikan salah satu foto; dikenalinya Aida yang berdiri di tengah bersama ketiga adiknya : Farah Wulandari, yang termuda paling kecil Asma Maharani, dan seorang lagi yang terlihat malu-malu namun sangat ayu dan manis, Nurul Sri Lestari. Pak Sobri pernah berjumpa dengan semua adik Aida di saat upacara pernikahan gurunya, yaitu Ustadz Mamat. Juga di acara silaturahmi setahun setelah itu ketika Farah baru selesai wisuda tamat kuliah, bersamaan dengan ulang tahunnya.
Pak Sobri tahu bahwa Farah telah berhasil dikuasai dan digaét menjadi istri sang rentenir kakap, Pak Burhan, yang memberikan modal untuk mencetak pelbagai novel keimanan, tentu saja sebagai ganti jasa terhadap servis ranjang, mirip dengan apa yang dialami oleh Aida dengan dirinya.
Mata liar pak Sobri menatap kedua adik Aida yang lain di foto keluarga itu : terlihat Asma Maharani yang bungsu masih duduk di sekolah menengah, dan Nurul Sri Lestari yang diketahuinya pula masih kuliah di bidang ilmu komunikasi di perguruan tinggi terkenal di Jakarta. Belum diketahuinya bahwa Asma Maharani lebih dua minggu lalu telah direnggut kegadisannya oleh Ustadz Mamat, iparnya sendiri. Peristiwa maksiat itu terjadi ketika Aida dipaksa melayani nafsu bejat Pak Sobri dan kaki tangannya, Fadillah, di rumah Pak Sobri di desa lain yang lumayan jauh dari rumah Aida.
Perenggutan kegadisan Asma bahkan berlangsung di ranjang sama ketika Pak Sobri menodai Aida pertama kali dan beberapa menit lalu kembali menjadi saksi bisu pertarungannya dengan istri Ustadz itu. Pak Sobri semakin lama merasa semakin aman karena melalui pelbagai saluran gosip desa didengarnya bahwa jarangnya Ustadz Mamat pulang ke rumah tak hanya karena 'tugas' di madrasah di desa lain, namun karena adanya hubungan gelap dengan beberapa muridnya, terutama Murtiasih kesayangannya, bahkan kadang-kadang juga dengan yang lainnya, terutama Rofikah dan Sumirah.
Gairah Pak Sobri muncul ketika menatap wajah Nurul Sri Lestari di foto yang terlihat sangat alim shalihah. Benaknya yang telah dipenuhi iblis itu kini bekerja keras mencari akal bulus berikutnya.
Pak Sobri menduga bahwa kedua adik Aida yang masih menempuh ilmu di perguruan tinggi  dan di sekolah menengah itu selalu hidup dengan alim, berbeda dengan anak-anak muda seusia mereka. Oleh karena itu ia perkirakan bahwa keduanya masih gadis murni, masih perawan, bahkan mungkin sekali belum pernah pacaran dan kalau misalnya ada teman lelaki, pasti hanya kenalan sekedarnya saja.
Hhm, kalau Aida yang telah bersuami saja masih sedemikian nikmatnya digarap, apalagi adiknya yang belum pernah dijamah oleh lelaki. Siapakah yang berikutnya dapat masuk ke dalam jebakanku dan bagaimana caranya? pikir Pak Sobri, keduanya tak tinggal di desa sini dan mereka pun jarang pulang.
Ternyata peristiwa penggarapan Nurul Sri Lestari akan terjadi beberapa hari kemudian, namun pejantan yang memperoleh rejeki itu bukanlah pak Sobri, melainkan...

***

Dalam rangka mendapatkan ijazah sarjana pertama (S1) Nurul Sri Lestari - nama panggilan sehari-hari ‘Tari - memilih skripsi dengan tema "Memperbaiki sistim komunikasi di pedalaman." Tari menyadari bahwa masa depan penghuni di luar kota besar amat tergantung pada jumlah penduduk pedalaman yang sanggup berhubungan dengan dunia luar.
Tentu saja tak mungkin mengharapkan agar rakyat desa angkatan tua yang pengetahuan membaca menulis pun hanya sekedarnya saja, langsung duduk di belakang komputer dan berkomunikasi melalui internet. Kalaupun ada internet cafe di tepi jalan penghubung kota besar dengan desa, maka sarana komputer itu masih jauh dari memuaskan. Baik soal provider yang belum dapat dipercaya sepenuhnya, sistim operasi yang dipakai telah kadaluwarsa, kecepatan transfer menyedihkan untuk misalnya upload atau download, kapasitas tampung di hard disk, anti virus yang diandalkan, dan 1001 persoalan lainnya.
Tari menyadari semua kesulitan itu, namun dengan idealisme remaja seusianya, dia tak berputus asa. Untuk KKN-nya (Kuliah Kerja Nyata) itu ia sadar harus bekerja sama dengan penguasa desa yang mungkin bersedia membantunya. Tari menyadari bahwa yang dapat dilakukannya hanya minim sekali : ia sudah puas jika diberikan kesempatan untuk beberapa kali berdiri di depan kelas dan menerangkan bagaimana komunikasi di masa depan dengan komputer. Jika ada beberapa anak desa cerdas yang akhirnya memperoleh rejeki untuk meneruskan menempuh ilmu ke perguruan tinggi sehingga menjadi sarjana, maka hal secara tak langsung adalah jasanya karena pernah mendengar informasi yang diberikan oleh calon sarjana komunikasi bernama Tari di depan kelas.
Tari memilih lokasi untuk KKN-nya di daerah yang tak terlalu jauh dari tempat dimana ia pernah duduk di sekolah menengah. Apalagi jika dapat ber-KKN di sekolah menengah dimana ia sendiri pernah menjadi murid, beberapa guru disitu bahkan masih dikenalnya, yang tentu akan bangga.
Namun sebelum Tari dapat memulai, maka ia harus mengatasi segala macam birokrasi ruwet yang merajalela sampai ke sudut-sudut pedalaman. Ia harus lapor dan memperoleh izin dari penguasa setempat - sebetulnya hanya formalitas, namun sebagaimana birokrasi maka semua prosedur harus dilalui, dan tak jarang segala halangan ini dapat dilancarkan dengan sedikit ‘pelumas.
Sejak jauh-jauh hari Tari telah mengajukan permohonan untuk melakukan KKN-nya di desa situ, namun jawaban yang ditunggu-tunggu sampai berminggu-minggu tak kunjung keluar. Karena itu Tari coba menanyakan kepada bekas teman kelasnya di desa tersebut, karena Tari tahu bahwa ayah tiri dari teman sekolahnya dulu itu mempunyai kedudukan cukup penting di daerah sana. Apa yang tak diketahui oleh Tari adalah bahwa ayah tiri bekas teman sekelasnya itu yang bernama Pak Soleh adalah ipar dari Pak Jamal, pejantan yang kita kenal ulahnya dari kisah "Ketika Iblis Menguasai 5" (Des. 2014)
Sebagaimana lazimnya maka urusan permohonan yang dianggap tak begitu penting diabaikan dan dibiarkan saja menggeletak berminggu-minggu di atas meja Soleh. Sampai di satu hari kebetulan Pak Fikri ada urusan di kantor Soleh, dan secara tak sengaja ikut melihat surat permohonan KKN Tari itu.
Pak Fikri mengingat-ingat percakapan di saat silaturahmi bersama dengan Pak Burhan, Fadillah, Pak Jamal dan Ustadz Mamat (baca episode Ketika Iblis Menguasai 4 Nopember 2014). Ketika Fikri menanyakan data-data lebih lanjut kepada Soleh dan melihat pas foto gadis berjilbab itu, maka semakin yakinlah ia bahwa si pelamar untuk KKN bernama Nurul Sri Lestari adalah iparnya Ustadz Mamat, salah satu adik dari Aida Handayani, istri si Mamat.
Dengan kedudukannya sebagai bekas kepala polisi, Pak Fikri segera mempengaruhi Pak Soleh agar mengeluarkan izin KKN kepada Nurul Sri Lestari, namun keduanya sepakat untuk sebelumnya mewajibkan Tari datang ke kantor desa buat mengisi dan menandatangani pelbagai formulir yang sebetulnya sama sekali tak diperlukan. Mereka merencanakan kembali pesta seks di rumah Fikri seperti yang telah pernah mereka lakukan sebelumnya dengan Pak Jamal, Sumirah dan Rofikah.
Setelah mencari-cari waktu yang dikira paling cocok, akhirnya tujuh orang diundang untuk ikut meramaikan masuknya 'peserta baru' di-klub swinger mereka, yaitu : Ustadz Mamat, Pak Soleh, Sumirah, Rofikah, Pak Jamal, Pak Fadillah, dan tentunya juga Pak Fikri sebagai tuan rumahnya. Pak Sobri, Pak Burhan, Aida, dan Farah belum diundang kali ini, karena Fikri masih belum yakin apakah kedua pejantan itu telah menguasai kekasih gelap dan istri paksaan mereka sepenuhnya sehingga tak membocorkan rahasia 'pesta' mereka ke pihak berwajib.
Namun ternyata mendekati hari H, Ustadz Mamat, Sumirah dan Rofikah telah mempunyai acara sendiri sehingga mereka memberitahukan bahwa tak dapat hadir. Kini hanya tinggal empat pejantan saja, yaitu : Fikri, Soleh, Jamal dan Fadillah.
Akhirnya disepakati oleh para pejantan untuk memilih hari Jum'at siang, karena kebetulan hari Sabtu esoknya hari libur bersama untuk penganut agama tertentu. Nurul Sri Lestari menerima undangan untuk menyelesaikan dan menandatangani surat-surat penting birokrasi di kantor Pak Soleh.
Tari sangat gembira dan sama sekali tak menduga akan adanya udang di balik batu. Pagi-pagi ia telah berangkat naik bus dari salah satu terminal di Jakarta menuju ke alamat kantor Pak Soleh yang terletak di pinggir desa tak jauh dari tempat kediaman kakaknya, Aida. Karena memang sudah agak lama juga Tari tak berkunjung ke rumah kakaknya, maka ia berniat untuk sekaligus bermalam disitu. Tari sama sekali tak mengetahui bahwa kakaknya telah menjadi 'peliharaan' Pak Sobri, sementara iparnya Ustadz Mamat juga telah dikuasai iblis dan mempunyai kesibukan sendiri.
Sesuai dengan undangan yang tertera di surat, maka Tari tiba di kantor Pak Soleh tengah hari – tepat setelah jam makan siang. Setibanya disitu, Tari disambut oleh pria berusia setengah baya yang mempersilahkannya duduk di ruangan tunggu, dimana ternyata tak ada orang lain disitu. Dengan sabar Tari menunggu, dan pria yang menyambutnya muncul kembali sambil menyuguhkan segelas es teh, sembari menjelaskan kalau Pak Soleh akan segera datang dan mohon maaf karena Tari harus menunggu.
Tanpa curiga Tari meminum es teh yang telah dicampuri obat bius dan obat perangsang oleh tokoh pejantan yang telah kita kenal dalam pelbagai cerita terdahulu, yaitu... Pak Jamal.
Hanya beberapa puluh meter dari kantor dimana Tari menunggu, terlihat mobil tua milik Pak Soleh, mobil yang mana terbuka kap mesinnya, sementara tiga pria setengah baya berdiri mengelilingi sambil berdiskusi. Ketiganya ialah Pak Soleh, Pak Fikri dan Pak Fadillah, namun mereka hanya berpura-pura saja membicarakan soal mesin mobil yang katanya mogok. Padahal mesin mobil itu sama sekali tak ada masalah, mereka berdiri disitu hanya untuk menunggu tanda dari Pak Jamal yang sedang memberikan minuman berisikan obat tidur dan perangsang kepada Tari.
Ketiga lelaki itu tentu saja mengawasi apakah ada orang lain yang kebetulan lewat pada saat mereka menggotong Tari masuk ke dalam mobil, demikian rencana dan muslihat mereka.
Ketika terlihat pak Jamal keluar dari pintu kantor sambil menunjukkan jempolnya ke atas, maka mereka langsung naik ke mobil Panther itu. Fadillah menyetirnya sehingga dekat sekali ke pintu kantor.
Hanya Pak Fikri dan Pak Soleh yang masuk ke dalam, karena mereka yakin bertiga dengan Pak Jamal akan mudah menggotong tubuh Nurul Sri Lestari yang nampak montok. Sedangkan Pak Fadillah tetap menunggu di mobil yang tak dimatikan mesinnya sehingga mereka akan langsung dapat berangkat, selain itu Fadillah pun mengawasi apakah ada orang lewat yang mungkin dapat menjadi saksi kelakuan mereka. Jika Fadillah membunyikan klakson sekali artinya 'aman', jika dua atau tiga kali, maka mereka harus menunggu.
Demikianlah iblis memberikan segala akal bulus dan busuk sehingga mereka tetap menjadi anak buahnya - dan kali ini adalah adik Aida berikutnya : Nurul Sri Lestari yang akan menjadi mangsa.
Tak ada sepuluh menit kemudian - ketika tak ada orang yang lewat disitu, Fadillah memberikan tanda dengan bunyi klakson pendek sekali, dan semenit kemudian terlihat Pak Jamal keluar kemudian membuka serta menahan pintu depan agar tetap terbuka. Fadillah langsung turun untuk membuka lebar-lebar pintu belakang mobil, dan Pak Fikri serta Pak Soleh segera keluar menggotong mangsa mereka yang terlihat amat ringan di dalam digenggaman mereka berdua.
Tari yang sama sekali tak sadar itu mereka dudukkan menyandar di sebelah belakang mobil, dengan didampingi dan dijepit di tengah oleh Pak Soleh serta Pak Fikri maka tubuh tinggi langsing yang semampai itu tertahan tak akan meleset jatuh ke samping. Apalagi kemudian ditambah dengan dipasangnya sabuk pengaman.
Fadillah kemudian diberikan aba-aba agar segera menjalankan mobil 'Panther' yang kini meluncur cepat meninggalkan kantor Pak Soleh menuju rumah Pak Fikri yang sangat terpencil itu.

***

Sekitar tiga perempat jam kemudian, di kamar tidur besar di rumah pak Fikri....

Perlahan-lahan Tari membuka matanya dan merasa aneh ketika menatap langit-langit kamar yang sama sekali tak dikenalnya. Kepalanya terasa masih berat dan pelupuk matanya sukar untuk dibuka, namun tetap dipaksakannya juga, terutama ketika Tari mendengar beberapa suara lelaki berbisik-bisik!
Betapa terkejutnya Tari ketika melihat tiga lelaki yang telah berusia sekitar lima puluhan, salah satunya langsung dikenalinya adalah Pak Soleh, sedangkan kedua lelaki lainnya : Pak Fadillah dan Pak Fikri belum pernah dilihatnya sama sekali. Di kaki ranjang tampak menyeringai seorang lelaki setengah baya lainnya yang tadi menyuguhinya minuman : Pak Jamal!
Yang sangat mengejutkannya karena ke-empat lelaki itu hanya memakai kaos dan celana dalam kolor mereka, dan ketika Tari menoleh dirinya sendiri ia langsung memekik karena baju kurung dan gamisnya serta jilbab penutup rambutnya tampak berantakan di kursi yang terletak jauh di sudut kamar. Tari kini hanya memakai BH berukuran 36B dan celana dalam putihnya yang terlihat kekecilan!
Secara refleks Tari langsung berusaha menarik sprei untuk digunakan melindungi tubuhnya yang kini diawasi dengan tajam oleh keempat lelaki setengah baya itu, disertai dengan seringai mesum penuh arti.
"Sialan kalian semua! Ayo pergi, atau saya akan lapor polisi! Tolooooong...  tolooooong...!!" Tari segera menjerit sekuat tenaga, sambil berusaha menyelusup ke bawah kain sprei penutup ranjang yang diusahakannya ditarik sebanyak mungkin untuk melindungi tubuhnya. Belum pernah seumur hidupnya Tari memperlihatkan badannya terhadap pria asing, apalagi dengan penutup seminim ini.
Namun usahanya segera digagalkan karena ketiga lelaki jahanam itu buru-buru menarik sprei putih ke bawah, menyebabkan Tari mulai menangis ketakutan dan kini ia melingkarkan tubuhnya dalam posisi seperti janin, sehingga bagian-bagian vitalnya sejauh mungkin terhalang dari mata para lelaki tersebut.
"Hehehe... si neng pengen ngumpet ya, ngelingker badannya kayak gitu? Nggak usah malu, Neng. Kita semua udah biasa ngeliat perempuan telanjang, tapi nggak pernah yang secakep Neng, hehehe..." rayuan gombal Fadillah semakin membuat Tari merinding membayangkan apa yang akan menimpa dirinya.
"Iya, Neng manis, nggak usah malu-malu lah. Tadi kan waktu Neng masih tidur, kita semua udah lepasin baju kurung dan gamis si Neng. Badan Neng yahud banget!! Sini deket-deketan ama bapak biar anget," ujar pak Fikri sambil mendekati calon mangsanya yang terlihat gemetar ketakutan.
"Kita janji Neng nggak bakalan disakitin kalo Neng nurut nggak ngelawan. Kita kan cuma mau senang-senang, betul nggak?" lanjut Pak Jamal mencoba menghibur sambil cengar-cengir mesum ke konco-konconya.
"Tolong, Pak Soleh! Saya kan mau KKN di desa bapak, ini untuk kebaikan dan kemajuan rakyat. Bapak kan punya kuasa dan pengaruh, tolong lepasin saya, Pak! Saya janji tak akan lapor ke siapapun," tangis Tari terisak-isak, mengharapkan bantuan dari Pak Soleh yang tentu saja akan sia-sia belaka.
Kedua lelaki setengah baya kini telah naik ke ranjang mendekati Tari yang semakin menggigil karena takut, dan tetap berteriak tak henti-hentinya disertai isak tangis sehingga suaranya semakin serak. Namun tentu saja tak akan ada yang mendengar teriakannya itu, apalagi akan menolong.
Pak Fikri yang rupanya telah sangat bernafsu melihat gadis alim shalihah itu kini naik ke ranjang dan langsung mencekal kedua pergelangan kaki Tari yang langsing, lalu ditarik dan diusahakannya untuk direntangkan. Tari menendang dan menyepak bagaikan sedang kalap sehingga Pak Soleh kini ikut membantu : Pak Fikri mencekal pergelangan kaki kanan, sedangkan Pak Soleh mencekal pergelangan kaki kiri.
Mereka sedikit menarik ke bawah sehingga ada celah di atas kepala Tari, dengan begitu Pak Fadillah dan Pak Jamal dapat duduk di situ dan mencekal pergelangan tangan Tari, serta ditarik pula ke kiri dan ke kanan. Akibatnya tubuh Tari terbuka lebar bagaikan huruf "X".
Karena kuatnya tenaga Jamal dan Fadillah, maka cukuplah kedua nadi tangan Tari dicekal dengan satu tangan mereka, sedangkan tangan satunya dengan kurang ajar mulai mengusap-usap lengan bawah, lengan atas dan akhirnya meraba-raba ketiak Tari yang sangat mulus licin karena selalu rajin dicukur. Diusap-usaplah kulit yang putih mulus itu hingga menyebabkan Tari menggelinjang geli.
Sementara itu Pak Soleh dan Pak Fikri juga tak mau kalah, mereka telah mengunci betis Tari sekaligus dipaksa merentang selebar-lebarnya sehingga terpampanglah selangkangan si gadis alim cantik ini.      
Tari berusaha meronta mati-matian sambil menangis tersedu-sedu, namun tindihan lutut Pak Soleh dan Pak Fikri terlalu kuat memaksa merentangkan betis belalang nan halus mulus itu.
Setelah selangkangan gadis alim ini terbuka lebar, maka kedua lelaki setengah baya jahanam itu mulai meraba dan mengusap-usap kulit betis serta paha Tari; mulai dari tumit yang sempurna hingga ke betis langsing, lalu menjalar ke paha yang tentu saja sangat peka dan demikian halus kulitnya.
Sementara itu Fadillah dan Jamal ikut beraksi pula dengan meraba-raba lebih jauh. Mereka menarik BH Tari ke atas sehingga dua bukit putih kembar begitu sekal sintal muncul keluar, dihiasi puting merah muda kecoklatan, membuat keduanya membelalak dan meleletkan lidah. 
"Lepaskan! Sialan! J-jahanam semuanya! Tolooong! Aaah... j-jangan! Hmmmpffhh," Tari berteriak dengan suara serak disertai isak tangis, namun mulutnya mendadak dibekap oleh mulut Fadillah yang rupanya tak sanggup menahan nafsunya melihat mulut mungil setengah basah itu.
"Busyet! Gempalnya nih sumber susu! Beneran bikin nggak tahan, bapak mau nyoba ya," ujar Pak Jamal sambil langsung mencaplok bukit daging Tari sebelah kiri dengan rakus, lalu dikunyah-kunyahnya amat ganas.
Kumisnya bagaikan sapu ijuk menusuk kulit yang sedemikian peka, sehingga Tari menggelinjang, apalagi sejenak kemudian puting yang mulai tegang mencuat digigit dan ditarik-tarik oleh bibir dower Pak Jamal. Air mata deras mengalir turun di pipi Tari ketika dirasakannya kain segitiga terakhir penutup auratnya ditarik paksa oleh Pak Fikri, dan BH-nya pun dihentakkan ke samping oleh Pak Soleh yang kini pindah meremas-remas buah dada kanannya, sementara puting kirinya disedot dikenyot-kenyot oleh Jamal. Tari meronta dan menendang bagaikan kesurupan, namun sia-sia belaka.
Mata pak Fikri melotot sebesar-besarnya dan bahkan bagaikan orang juling ia menatap belahan tengah selangkangan yang kini terpampang jelas. Bukit Venus si gadis alim bagaikan mengundang semua pria untuk menjamahnya : demikian menggairahkan, demikian gembil dilindungi bulu halus yang sangat rapi terawat, dengan di tengahnya terlihat celah surgawi perawan yang masih murni dan sangat rapat.
Rupanya antara Pak Soleh dan Pak Fikri sudah ada perjanjian sebelum mereka menculik Tari dari kantor, yaitu siapakah yang akan pertama mengicipi keperawanan Tari. Pak Soleh ingin merasakan bagaimana disepong oleh gadis alim yang meminta izin untuk KKN itu, karena istrinya sejak menikah hingga saat ini selalu menolak untuk mengoralnya. Pak Soleh tak berani berbuat kasar memaksa istrinya, karena dua kakak lelaki istrinya adalah tentara dengan pengaruh cukup besar. Selain itu Pak Soleh tak mau ambil risiko bahwa ia dapat menghamili Tari.
"Seorang wanita kan punya tiga lubang, dan menjebol serta banjir di dalam dua lubang itu kan tak mungkin hamil," demikian keputusannya.
Sebaliknya Pak Fikri, sejak ia berhasil merenggut kegadisan Rofikah (baca "Ketika Iblis Menguasai 4, Nopember 2014), maka ia seolah kecanduan menatap wajah wanita muda yang menangis meringis kesakitan ketika diperawani. Hal itu menambah rasa bangganya, menambah rasa ego-nya sebagai lelaki tengah baya yang mampu menggarap gadis muda. 
Kedua tokoh lainnya yaitu Fadillah dan Jamal cukup tahu diri dalam hal ini, mereka bersedia menunggu giliran dan yakin bahwa pasti akan memperoleh bagian. Apalagi sang korban masih muda belia, pasti sanggup melayani empat lelaki berturut-turut, demikianlah perhitungan mereka.
Oleh karena itu Jamal dan Fadillah kini menyerahkan semua aktivitas kepada majikan mereka, yaitu Pak Fikri dan Pak Soleh. Apalagi setelah mereka melihat Pak Fikri berhasil menempatkan diri di tengah paha Tari yang dipaksa membuka oleh Pak Soleh. Mereka kini menyeringai lebar sambil mengusap-usap alat kejantanan masing-masing yang mengacung besar sambil berkomentar :
"Iya, gitu, Pak! Gigit terus tuh tetek, remes-remes Pak supaya keluar susunya. Ntar bagi-bagi saya juga ya, hehehe..." demikian celoteh Fadillah yang melihat Pak Soleh meremas dan memijit-mijit gundukan daging di dada Tari, sambil bergantian dengan rakus menghisap menyedot dan menggigiti putingnya.
"Asyik banget nangkring di tengah paha mojang bahenol euy, sip lah Pak terusin diendus-endus atuh. Dijilat biar basah licin. Cari jagungnya, Pak, jangan lupa di-gowel biar jadi kegatelan dia, hehe..." Jamal tak mau kalah menghasut Pak Fikri yang terlihat telah mulai melekatkan wajahnya di tengah selangkangan Tari.
Bagi Tari yang belum pernah berpikir sedikit pun untuk melakukan perbuatan intim sebelum menikah, sebelum upacara resmi akad nikah ijab kabul selesai, semua yang sedang dialaminya kini bagaikan mimpi buruk yang sama sekali tak pernah terbayang dalam kehidupannya. Sehari-hari Tari selalu taat kepada ajaran agama, selalu menjaga kesopanan dan kesusilaan ketika bergaul di kampus.
Namun kini hanya dalam waktu demikian singkat, apa yang selama ini dijaga dan dipertahankannya akan direnggut, betapa pun dan apa pun perlawanan yang telah dilakukannya sehingga otot-ototnya kejang terasa sakit pegal. Tubuhnya telah telanjang bulat ditindih oleh lelaki asing yang lebih pantas menjadi ayahnya.
Tak hanya sampai disitu saja : bahkan lelaki itu telah bertahta penuh kejayaan di tengah selangkangannya, di tengah pahanya, dan ooh... benda keras apa yang terasa menyentuh itu?
Tari berusaha mati-matian mencakar mata Pak Fikri, namun kedua pergelangan tangannya segera dicekal dan ditekan sekuat tenaga ke samping, dan ciuman buas Pak Fikri malah menyerang bertubi-tubi di mulutnya, lalu menjelajah leher jenjangnya, menggigit meniup-niup liang telinganya hingga menyebabkan rasa geli tak terkira. Kemudian bibir tebal Pak Fikri kembali mengatup menekan-nekan bibir Tari yang halus dan merah, memaksanya agar membuka.
Tari berusaha menutup kedua bibirnya serapat mungkin. Dirasakannya Pak Fikri menggeram penuh kegemasan. Sesaat kemudian Tari merasakan kedua nadinya ditarik ke atas kepala, dicekal dengan hanya satu tangan Pak Fikri yang kuat, sedangkan tangan lainnya meremas-remas buah dadanya, mencari putingnya yang peka.
Sebelum Tari dapat memprotes, puting yang mencuat itu telah dijepit oleh ibu jari dan telunjuk Pak Fikri yang lalu menarik, memilin, dan mencubitnya!
Tak menduga akan mengalami perlakuan sadis seperti itu, Tari memekik dan menjerit kesakitan. Dan kesempatan ini dipakai oleh Pak Fikri untuk mencium bibir Tari yang terbuka lebar, kemudian lidahnya yang penuh liur dan berbau tak sedap masuk menerobos ke dalam mulut Tari, menyebabkannya gelagapan dan semakin meronta-ronta tak berdaya.
Berbeda sekali dengan Pak Fikri yang semakin buas dan menciumi betapa harumnya mulut serta ludah Tari yang kini tercampur dengan ludahnya sendiri. Lidah Pak Fikri mendesak mendorong dan bersilat mengejar lidah Tari yang semakin gelisah berusaha bersembunyi di rongga mulutnya.
Badan Pak Fikri yang cukup berat menindih tubuh langsing semampai korbannya sehingga semakin lama Tari merasakan semakin sukar untuk bernapas. Dan rupanya Pak Fikri memang sengaja berusaha menguras tenaga Tari sebelum ia melanjutkan tindakan penjarahan berikutnya.
Dengan tetap memegang dan mencekal serta menekan kedua nadi Tari di atas kepala, Pak Fikri bergantian meremas-remas buah dada gadis muda itu. Dengan keahliannya sebagai lelaki matang, Pak Fikri terkadang hanya mengusap lembut daging yang empuk itu dan juga putingnya hingga menyebabkan si empunya kegelian. Namun sesaat kemudian diubahnya usapan lembut menjadi remasan-cubitan ganas yang cukup sadis sehingga Tari menggeliat meronta-ronta karena merasa sangat ngilu dan kesakitan.
Sementara itu Pak Jamal dan Pak Fadillah telah memakai lagi celana kolor masing-masing dan ngeloyor keluar untuk merokok karena mereka menduga bahwa giliran untuk menjarah si mahasiswi alim itu masih cukup lama.
Di dalam ruangan kini hanya tinggal Pak Fikri yang tetap menindih Tari serta Pak Soleh yang berada di belakang kepala si cantik untuk memegangi kedua nadi langsingnya. Dengan demikian Pak Fikri jadi lebih bebas tak diganggu oleh cakaran kuku Tari yang cukup tajam. 
"Udah, jangan ngelawan, Neng... ntar jadi makin sakit. Percuma aja menolak. Sini bapak ajarin ngewe, belom pernah dijilat memeknya kan? Pasti ntar ketagihan," Pak Fikri menatap mangsanya dan sekaligus memberikan tanda kepada Pak Soleh agar merejang kedua tangan Tari sekuat tenaga.
Melihat konconya telah mencekal pergelangan tangan Tari, mulailah Pak Fikri merosot ke bawah. Mulutnya bergerak bagaikan anjing kelaparan yang menciumi menjilati seluruh permukaan kulit badan Tari. Dimulai dari leher, lalu turun ke lereng gunung kembar, menciumi dan menggigit puting coklat muda kemerah-merahan yang ada di sana, kemudian menjalar memutar-mutar di sekeliling pusar, sesekali menggelitik perut Tari yang datar dan putih mulus, dan tak lama kemudian mulai turun, turun, dan turun terus hingga mencapai lipatan paha. Di situ lidah dan gigi Pak Fikri semakin aktif dan ganas mencupangi, meninggalkan bercak merah di sana-sini, dan akhirnya mulai mendekati tengah selangkangan, mendaki bukit Venus berbulu halus milik Tari, mencari celah surgawinya.
"Oooh... udah, Pak! Jangan terusin! Oooooh... kasihani saya, Pak! S-saya nggak mau! Bapak kan udah punya istri... ini dosa, Pak! Oooh... insyaf, Pak! Aaaiiiih... geli!!" desahan Tari disertai sendat-sendat isak tangisnya ketika merasakan mulut Pak Fikri mendekati auratnya.
"Hmmh, kulitnya halus amat ya... mana wangi begini. Bapak jadi konak beneran nih, di-gowel diciumin semeleman terus-terusan ya, Neng. Bapak nggak puas-puas nih," tiada hentinya Pak Fikri memuji kehalusan kulit perut Tari yang memang putih langsat, namun kini telah basah oleh air liur. Selain itu di sana-sini juga penuh oleh cupangan ganas Pak Fikri. Betis dan paha licin milik Tari pun tak hentinya diraba-raba, diremas dan diusap-usap oleh tangan kasar si pemerkosa, terkadang juga dicubit gemas hingga menyebabkan muncul pula pelbagai bercak kemerahan di kulit putih mulus itu.
 Mulut pak Fikri kini telah mencapai lipatan paha dalam Tari, berpindah dari kiri ke kanan, balik kembali ke kiri, menyentuh bukit kemaluan yang terhiasi bulu halus, menyentuh-nyentuh di situ, mencium dan mendengus bagaikan anjing mencari tulang.
Akhirnya mulut yang berbau asam itu nangkring dan menghembuskan nafas panas ke tengah celah surgawi yang masih tertutup rapat. Pak Fikri kini berlutut di tengah selangkangan Tari, kedua tangannya yang besar menyanggah kedua bongkahan pantat semok Tari, diangkatnya ke atas, dan paha mulus Tari yang menghentak-hentak tak berdaya diletakkannya di atas bahunya yang tegap. Akibatnya tampaklah bibir kemaluan Tari yang pucat kemerahan, merekah malu-malu di hadapan tatapan mata liar Pak Fikri.
Jari-jari Pak Fikri menjarah dari arah kiri kanan dan dengan perlahan menarik bukit Venus itu ke samping. Tak terhindarkan lagi merekahlah bibir kemaluan Tari walaupun hanya sedikit, namun ini sudah cukup untuk segera dikecup dan diciumi oleh Pak Fikri, lidahnya pun mulai menjalar dan menyeruak diantara bibir sempit itu.
"Hmmmh... wanginya nih selangkangan! Apalagi nih sumber madu, campur aroma keringat gadis alim, hhhmm... bener-bener rejeki nomplok! Slurrrrp... manisnya nih madu air mazi gadis,"
Pak Fikri menyembunyikan wajah bopengnya di selangkangan Tari dan lidahnya semakin liar menjulur keluar masuk ke dalam celah gadis itu, bagaikan ular berbisa tengah mencari mangsa.
Tari tak sanggup melawan lagi, dia hanya dapat menangis tersengguk-sengguk. Apalagi ketika Pak Soleh berusaha menyodorkan lidahnya kembali ke dalam rongga mulutnya yang mungil. Melihat gadis alim shalihah itu telah sedemikian kuyu kewalahan menghadapi keganasan mereka, bukannya kasihan, Pak Soleh malah semakin brutal dalam menyodorkan tongkolnya ke depan wajah korbannya. Sekuat tenaga Tari berusaha memalingkan kepala ke arah lain, namun wajahnya dicekal dengan kuat, hidung bangirnya dipencet dengan kasar sehingga ia gelagapan mencari nafas melalui mulut, pada saat mana pak Soleh menekankan penisnya di tengah bibirnya yang terbuka.
"Ayo, Neng manis..., pernah lihat nggak barang kayak begini? Sini bapak ajarin gimana ngulum singkong asli... ayo, jangan bandel, ntar aku gigit puting kamu. Hehehe... si Neng makin cakep aja kalo ngelawan," Pak Soleh rupanya makin bangkit nafsunya melihat wajah Tari yang ayu manis penuh air mata putus asa, dibayangkannya jika yang dipaksa nyepong itu adalah istrinya sendiri.
Rasa mual tak terkira menerpa Tari ketika hidungnya menangkap aroma batang kejantanan Soleh yang berada di tengah rekahan bibirnya dan mendorong-dorong berusaha memasuki rongga mulutnya. Tanpa mempedulikan linangan air mata Tari serta wajahnya yang memelas, Pak Soleh tetap menekan kepala jamur dagingnya di ambang mulut gadis itu, disertai dengan ancaman mesumnya.
"Ayo buka mulutnya, jilat nih punya bapak. Awas, jangan digigit ya! Percuma ngelawan, Nduk, paling bener itu nurut kemauan bapak. Ntar kamu baka ngalamin surga dunia. Ayo buka yang lebar, terus buka... hhhm, oooooh!! Iyah, akhirnya nurut juga si Neng! Duh, cakepnya kalo nyepong gitu," Pak Soleh mulai merem-melek merasakan kenikmatan tak terhingga disepong untuk pertama kalinya.
Semua penolakan istrinya kini telah ia lupakan dan Pak Soleh harus konsentrasi sepenuhnya agar tak langsung ejakulasi karena begitu nikmat merasakan si 'otong'nya dicakup mulut hangat basah milik Tari.
"Uewwgghkk! Uuweeeeggk! U-udah, Pak! Uuwweggk! U-udah! Kasihani saya, Pak! Hiks, hiks," Tari menangis tersedu-sedu sambil berusaha menahan keinginan muntah karena dipaksa menyepong rudal Pak Soleh yang tentu saja tak meladeni ratapan si gadis cantik yang sedang dipaksanya itu.
"Uuuumghh... uuummmgggh... uueewwwwggk... ummmggh..." Tari menggelinjang sekaligus meronta-ronta karena Pak Fikri telah menemukan liang air seni korbannya yang langsung disentuh-sentuh dan dijilat, menyebabkan rasa geli tak terkira yang belum pernah dirasakan oleh Tari.
Hal ini disambut dengan rasa kepuasan oleh Pak Fikri yang meningkatkan kegiatan jari-jarinya melebarkan bibir kemaluan milik Tari yang lembut kemerahan itu ke samping. Seolah malu-malu kini muncul dan menonjol keluar sang kelentit yang sejak tadi dicari dan dinantikan oleh Pak Fikri. Daging nan lembut penuh ujung syaraf itu tanpa peringatan lagi disentuh oleh bibir Pak Fikri. Tak sampai disitu saja, pria setengah baya itu juga menggesek-gesekkan dagunya yang memang sejak tiga hari tak dicukur sehingga telah tumbuh sedikit bulu janggut pendek kasar.
"Aaaauw... aaauuuuuw... geli, Pak! J-jangan! U-udah! Oooooh..." tubuh Tari melenting ke atas karena tak tahan menahan geli di kelentitnya yang digesek-gesek oleh jenggot pendek bagaikan sapu ijuk.
"Kenapa, Neng, keenakan ya dientot ama bapak? Terusin lagi ah, eeemmmh... mulai keluar nih madu gadis alim, bapak udah lama péngén nyucipin! Slurrrp... slurrrp... wuih, manisnya! Wangi lagi,"
Tanpa mempedulikan penderitaan mangsanya, Pak Fikri semakin asyik meng-oral korbannya. Sementara itu Pak Soleh kembali menarik kepala Tari ke selangkangannya dan memaksakan penisnya untuk masuk semakin dalam ke rongga mulut si gadis malang itu.
Kedua lelaki jahanam itu tak henti-hentinya merangsang bukit kemaluan dengan kelentit kecil yang belum pernah dijamah dijarah tak hentinya, sementara mulut mungil Tari dipaksa membuka maksimum selebar mungkin untuk mengulum kejantanan yang bergerak keluar masuk, sehingga akhirnya disertai dengan geraman penuh kepuasan, Pak Soleh menyemburkan cairan putih kental ke dalam kerongkongan Tari.
Karena kepalanya dicengkeram kuat, maka dengan tersedak-sedak Tari terpaksa menelan sperma amat menjijikkan itu dengan air mata berlinang-linang turun di pipinya.
Merasakan kenginannya telah meningkat naik ke-ubun-ubun dan mengetahui bahwa Tari sedang kewalahan meneguk cairan yang sangat memualkan itu, maka Pak Fikri kini menjepit kelentit mungil Tari di tengah deretan gigi-giginya. Digesek dan digewelnya ke kiri dan ke kanan, sementara salah satu jari tengahnya dengan penuh mesra menggelitik lubang kecil di antara belahan pantat Tari yang semok.
Semua rangsangan bertubi-tubi itu tentu saja tak sanggup lagi ditahan oleh Tari. Mulutnya yang masih dipenuhi sisa-sisa sperma Pak Soleh terbuka megap-megap. Terdengar jeritan memilukan penuh histeris disusul dengan rintihan dan dengusan menyertai kekejangan tubuh muda yang putih sekal montok itu.
"Aaaaiiiihh... oooooohhh... udah, Pak! Aaaaoooooww... Pak! S-saya mau ke belakang, mau pipis!! Ooooohhh... lepasin, Pak!! A-ampun... ooooohh..."
Bagaikan sekarat, tubuh Tari melengkung ketika gelombang orgasme menerpanya bagaikan ombak yang tak berhenti-berhenti. Setelah sekitar dua tiga menit, tubuh yang kini basah kuyup dengan keringat dan aroma khas wanita yang mandi kenikmatan birahi, akhirnya lemas dan lunglai. Tari terhempas tak sanggup melawan lagi.
Pak Soleh pun dengan seringai penuh kepuasan telah melepaskan kepala Tari dari genggamannya. Terlihat di sudut bibir yang begitu menggairahkan itu masih ada sedikit meleleh beberapa tetes air maninya yang baru saja memenuhi rongga mulut yang kini pasti beraroma campuran ludah Tari dan lahar kelelakiannya. Saat itu Pak Soleh melupakan istrinya yang selama ini selalu menolak mengoralnya.  
Dalam keadaan tak berdaya dan lemas itu, Tari merasakan kedua pahanya kini dikaitkan di pundak yang kekar dan terkangkang sedemikian rupa sehingga vaginanya yang licin dengan air mazi bagaikan mengundang Pak Fikri yang siap merenggut harta miliknya satu-satunya.
Dengan senyum iblis yang mengerikan, Pak Fikri kini mengarahkan kepala kejantanannya yang sedemikian tegang keras ke tengah lipatan bibir vagina Tari. Sekali dua kali tujuannya itu meleset, namun akhirnya kepala jamur kebanggaan Pak Fikri terjepit diantara rekahan bibir kemaluan Tari, kemudian mulailah Pak Fikri memajukan lembing dagingnya itu, sambil menatap wajah cantik korbannya yang meringis kesakitan.
Dengan penuh kemahiran Pak Fikri kini mencekal kedua pergelangan tangan mangsanya yang langsing, sehingga Tari tak sanggup melawan atau mencakar si pemerkosanya. Hanya kepalanya dengan rambut tergerai acak-acakan yang terlihat menggeleng-geleng ke kiri dan ke kanan ketika dirasakannya benda keras mulai membelah menyeruak di antara bibir kegadisannya.
Bagaikan pentungan daging penis Pak Fikri semakin masuk menusuk ke dalam, yang mana dirasakan Tari semakin tidak nyaman. Dia merasa ngilu karena lubang surgawinya belum pernah dijamah sebelumnya, belum pernah dimasuki apapun, tapi kini dipaksa untuk melebar, semakin melebar, semakin nyeri, dan akhirnya kepala penis berbentuk topi baja itu menyentuh selaput daranya.
"Aduh! Aaaaauuuuww... a-ampun, Pak! S-sakit!! T-tolong... auuuuuww... u-udah, Pak! Saya nyerah, jangan diterusin!! Auuuuuww... hiiks, hikks, aaaaauwww... ampuun!!"
Bagaikan hewan terluka, Tari menangis meraung dengan jerit memilukan memenuhi ruangan. Namun apa daya sang pejantan Pak Fikri telah dikuasai iblis sepenuhnya, demikian pula Pak Soleh yang kini memberikan semangat kepada konconya agar meneruskan pembantaian kegadisan Tari. Belahan celah surgawi si gadis malang telah basah tak hanya oleh air ludah Pak Fikri, namun juga cairan lendir dari dinding vagina yang secara tak disadari keluar ketika Tari mengalami orgasme.
Walaupun secara alami liang kewanitaan Tari telah dibasahi dengan pelumas licin, namun belum cukup untuk mengurangi rasa nyeri dan ngilu karena memang perbandingan ukuran kejantanan Pak Fikri dengan lubang yang sedang digalinya itu masih belum serasi dan belum disesuaikan. 
"Uuuuuh... bapak mesti kerja keras nih. Alot amat sih pertahanan si Neng, mesti dijedug-jedug dulu kali ya.. biar empukan dikit, baru digenjot lagi."
Sambil mendengus-dengus Pak Fikri menarik sedikit kejantanannya, kemudian menekan lagi ke depan, dan setelah tiga kali melakukan gerakan tarik-dorong itu, dirasakan oleh Pak Fikri bahwa kemaluannya kini sanggup menerobos ke dalam. Sekaligus dirasakannya bahwa ada sesuatu yang pecah, pada saat di mana Tari memekik dan menaikkan wajahnya dari kasur, sehingga walaupun kedua pergelangan tangannya dicekal erat-erat dan tak dapat meronta, namun Tari sempat menancapkan giginya ke bahu si pemerkosa. Hanya itu saja yang dapat dilakukan Tari untuk menguraikan dan mengimbangi rasa sakit tak terkira di saat kegadisannya direbut secara kasar tanpa belas kasihan oleh pria yang pantas menjadi ayahnya itu.
Gigitan Tari di bahunya tidak membuat Pak Fikri mundur teratur dan menghentikan kegiatannya merajah gadis muda itu, namun sebaliknya : rasa ego dan bangganya semakin terpacu untuk menggenjot korbannya habis-habisan. Karena kejantanannya telah menancap dan menguasai celah surgawi ipar ustadz Mamat yang sebelumnya masih sangat lugu itu, Pak Fikri kini melepaskan kedua nadi Tari. Hal ini memberikan kemampuan kepada si gadis yang sedang dikerjai habis-habisan ini untuk mencengkeram sekuatnya lengan atas dan lengan bawah sang pemerkosa.
Pada saat tombak daging Pak Fikri menumbuk menjedug-jedug mulut rahimnya sehingga terasa ngilu tak terkira, maka Tari berkali kali mencakar lengan dan dada pemerkosanya. Namun sang iblis seolah telah memberikan kesanggupan kepada Pak Fikri untuk menahan semuanya, karena kegiatannya bukan berkurang melainkan semakin menjadi-jadi. Tanpa memperdulikan penderitaan gadis yang baru diperawaninya, dia menghantam menusuk vagina Tari sekuat tenaga dari segala arah.
Sementara tenaga Tari semakin terkuras habis, justru Pak Fikri agaknya tak pernah sirna staminanya. Lebih dari setengah jam Tari dijadikannya korban pelampiasan hawa nafsunya, pelbagai posisi telah dilakukan oleh mereka.
Akhirnya Pak Fikri merebahkan dirinya dan menikam Tari dari bawah dalam posisi wanita di atas - dan Pak Fikri yang tetap mengambil inisiatip dengan memegang kuat kedua paha mulus dan pinggul Tari. Tubuh Tari yang jauh lebih ringan dibanding dengan badannya yang kekar kini diturun-naikkannya sehingga penisnya yang mengacung menusuk tak henti-hentinya dari bawah, sedangkan Tari sudah lemas dan hanya menurut saja segala keinginan Pak Fikri.
Pak Fikri menatap gadis alim yang tengah digarapnya itu; betapa ayunya, betapa manisnya, betapa bedanya dengan pelbagai gadis lain yang telah diperkosanya. Dirasakannya betapa tegang dan semakin membesar alat kejantanannya yang sedang nangkring di celah Tari. Pasti pembesaran alat bor daging ini juga dirasakan oleh si gadis alim, dan memang Tari merasakan bahwa memeknya seolah sedang direntangkan sampai batas tak tertahan,membuatnya menggeliat-geliat ngilu, serta melenguh dan merintih perlahan. Semuanya dinikmati oleh pak Fikri yang kemudian berbisik di telinga Tari:
"Nikmat ya, Neng? Tahan sakitnya bentaran, ntar pelan-pelan hilang berubah jadi surga dunia kok. Bapak sayang Neng, jadi simpenan bapak mau ya, Neng?" demikian kata Pak Fikri sambil dengan sengaja bergerak maju mundur sehingga menyebabkan rasa ngilu, perih, tapi juga ada semacam kegatalan di dinding memek Tari yang tentu saja masih luka dan memar karena selaput kegadisannya yang peka tipis baru saja dirobek dan dihancurkan ditembus oleh penis.
Si gadis manis ayu itu hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala disertai isak tangis dan hidungnya yang kecil bangir kembang kempis menahan emosi. Rasa malu dan sedih tak terkira karena dijarah oleh seorang lelaki tua telah menghancurkan semua harapannya memperoleh suami tampan seusianya.
Entah mengapa Pak Fikri merasakan adanya kepuasan yang lain dengan menggagahi Tari kalau dibandingkan dengan pengalamannya dengan gadis-gadis madrasah lainnya. Kali ini Pak Fikri malahan menginginkan agar gadis ini betul-betul menjadi simpanannya yang permanen, walaupun tentunya hal ini tak akan menghalanginya jika ia setiap waktu ingin jajan daun muda lain di luaran.      
"Gimana, Pak, mantap nggak gadis alim shalihah ini?" demikian tegur Pak Soleh yang sedari tadi menyaksikan adegan perkosaan itu. Agaknya dia telah kembali bergairah dan ingin ikut pertarungan ranjang ini.
"Siiip lah! Ini bukan gadis sembarangan, tapi memek yang luar biasa peret! Mungkin biar dikerjain tiap hari tetap aja sempit kaya perawan ting ting, hehehe... emangnya kenapa, mau ikutan lagi?" sahut Pak Fikri seolah menantang.
"Kalo masih ada tempat ya boleh lah ngebonceng dari belakang, kira-kira muat nggak ya?" tanya Pak Soleh menghampiri pasangan yang mandi keringat itu sehingga tubuh mereka terlihat mengkilat.
"Iya, tentu aja boleh. Asal jangan terlalu kasar aja, supaya dia nggak trauma. Tuh masih ada satu lobang nganggur, pasti belum pernah dijebol, hehe..."
Pak Soleh segera berdiri di belakang pinggul Tari yang naik turun secara ritmis, sedangkan pinggangnya yang langsing dipeluk dengan kuat oleh Pak Fikri dari arah bawah. Tak bosan-bosannya Pak Fikri juga menciumi kedua gundukan daging dada Tari, dan terkadang digigit-gigit gemas putingnya hingga menyebabkan Tari melenguh mendengus lemah dan merintih karena telah kehabisan tenaga.
Pak Soleh memberikan tanda kepada Pak Fikri untuk sementara menghentikan gerakan ritmis naik turunkan pinggul sang korban. Kesempatan ini dipakai oleh Pak Soleh untuk mencekal bongkahan pantat Tari yang demikian montok menggemaskan, direngangkannya ke kiri dan ke kanan hingga menyebabkan lubang bulat kecil di bagian tengah nampak bagaikan kuncup bunga yang baru mekar menantikan datangnya sang kumbang.
Sehari-hari Tari tak pernah memikirkan pacaran apalagi ML. Kehidupannya sampai saat ini hanya dipakai untuk belajar dan selalu patuh dengan tata susila sesuai ajaran kepercayaan yang dianutnya. Tak pernah Tari membaca buku atau majalah mengenai kehidupan pasutri - semua diharapkannya akan dialami nanti setelah menikah resmi. Namun apa yang dialaminya sekitar tiga jam terakhir adalah aib yang tak mungkin dihapus, bahkan takkan terlupakan.
Apalagi dalam keadaannya seperti ini - telah direnggut kegadisannya dan dijarah habis-habisan oleh seorang lelaki yang lebih pantas menjadi ayahnya, maka semuanya bagaikan mimpi yang buruk. Tenaganya telah habis terkuras, keadaan tubuhnya lebih menyerupai tawanan yang telah kerja paksa berjam-jam tanpa henti, semua sendi-sendinya bagaikan dilolosi dan tulang-tulangnya terasa remuk.
Oleh karena itu Tari belum bergerak dan belum melawan ketika dilihatnya Pak Soleh beralih dan berdiri di belakangnya. Namun ketika dirasakannya bahwa jari-jari tangan Pak Soleh memaksakan bongkahan pantatnya merekah ke samping, maka sebuah insting naluriah alami seorang perempuan seolah dibangunkan. Insting ini memberikan peringatan bahwa sesuatu yang sangat menyakitkan akan segera terjadi. Di tengah bongkahan pantat Tari ada sebuah lubang kecil intim paling terlindung, dan...  dan... apakah yang akan dikerjakan oleh Pak Soleh?
Ooh tidak! Itu sama sekali tak mungkin dan tak boleh terjadi, itu adalah sesuatu yang tabu, terlarang.
Bagaikan tersengat kalajengking, Tari berusaha memberontak dan bangun ketika dirasakannya lubang duburnya diludahi berkali-kali. Kemudian Pak Soleh menggelitik pinggiran liang anusnya, lalu dengan perlahan satu jari tengah yang cukup besar berusaha menyelinap masuk ke dalam sana.
"Jangan, Pak! Oooooooh... tolong, saya tak mau! Lepaskan! Ampun!!"
Dengan panik Tari meronta dan menghentak-hentak dengan kakinya yang langsing. Apalagi ketika dirasakannya kini bukan sebuah jari tangan yang berusaha memasuki anusnya, namun benda asing keras tegang yang menekan-nekan berusaha menembus pertahanan otot-otot lingkaran yang bertahan mati-matian melawan penetrasi.
Usahanya hanya membuat kedua lelaki setengah baya itu semakin ganas geregetan. Pak Fikri memeluknya sekuat tenaga dari bawah. Rontaan Tari hanya membuat pinggulnya semakin menonjol tinggi ke atas dan ini malahan memudahkan usaha Pak Soleh karena bongkahan pantat Tari yang begitu montok bahenol semakin merekah, hingga akhirnya...
Raungan dan lengkingan jeritan sakit tak terkira keluar dari mulut Tari disambut dengan geraman Pak Soleh dan tarikan napasnya yang panjang, menandakan usahanya telah berhasil. Kepala penis kebanggaannya berhasil membelah otot-otot lingkar pelindung anus Tari, dan kini milimeter demi milimeter pentungan daging itu memasuki anus yang mengkerut dan berdenyut-denyut saat diperawani.
Kedua lelaki dikuasai iblis itu kini berusaha mengatur dan menyesuaikan ritme mereka menjarah vagina dan anus Tari sekaligus, sementara si gadis muda hanya dapat menangis pasrah terisak-isak.
Sekitar sepuluh menit Pak Soleh dan Pak Fikri membagi tubuh Tari bagaikan sandwich - sebelum akhirnya keduanya merasakan luapan lahar panas menggejolak naik dari biji pelir memasuki penis dan akhirnya menyembur keluar membanjiri memek dan liang dubur Tari yang sangat sempit.
Tari sudah hampir tak merasakan apa-apa lagi. Memeknya terasa ngilu memar, apalagi anusnya terasa sangat panas, perih, dan sakit bagaikan dicolok dengan kayu bakar panas. Semburan air mani yang membasahi kedua lubangnya hanyalah memberikan sedikit rasa keringanan, dan di dalam puncak penderitaan yang tak terkira itu Tari hanya mendengar jeritan memilukan hati tiada henti di telinganya - jeritan yang lama kelamaan baru ia sadari adalah suaranya sendiri sebelum semuanya gelap di depan matanya.
Tari lemas dan pingsan - tak tahu apalagi yang terjadi dengan tubuh sintalnya.

***

Di malam itu Fadillah dan Jamal membatalkan niat mereka ikut ambil bagian dalam pesta seks, karena ketika menatap wajah Tari yang walaupun pingsan namun tetap ayu manis, seolah-olah Pak Fikri 'sadar' dan tak sekedar berniat menjadikan Tari gundik kesayangannya, tapi menyunting menjadi istri.
Benarkah hal ini akan terjadi?
Namun paling tidak keinginan Pak Fikri yang muncul mendadak itu sempat menyelamatkan Tari dari perkosaan habis-habisan lebih lanjut di malam itu. Ketika Fadillah dan Jamal dua jam kemudian masuk kembali ke dalam rumah untuk menagih jatah  mereka, maka oleh Pak Fikri dicegah dan diberikan uang pengganti.  Dengan dalih bahwa si gadis yang baru diperawani dan disodomi itu masih pingsan dan kemungkinan akan trauma serta menderita gangguan jiwa selanjutnya, maka akhirnya Jamal dan Fadillah ngeloyor keluar sambil menggerutu. Mereka mengambil 'uang semir' dan menghilang di kegelapan malam, namun di dalam benak mereka merencanakan di suatu waktu tetap akan menjebak Tari untuk dijadikan mangsa dan sasaran keganasan hawa nafsu mereka.

Author : elzhakhar@hotmail.com          

Tidak ada komentar:

Posting Komentar