Minggu, 27 November 2016

Paradiso 9



-Season 3: Prolog-

Hanyalah lantun kidung, yang bercengkok dan meliuk merdu di antara pucuk-pucuk cemara. Sinar senja menyeruak dari sela dedaunan, membentuk garis-garis jingga di udara -seperti kilauan ribuan lampu sorot- yang menerangi gerak lincah beberapa penari.
 Ava berdiri tak berkedip, memandang takjub ke arah penari yang meliuk, melirik-lirik, dan menggerakkan jemari. Sementara beberapa lelaki bersila khusyuk, melantunkan nyanyian yang mirip tembang kidung Wargasari –lagu pujaan yang biasa dilantunkan umat Hindu.
 Ava tercenung lama, sebelum menyadari bahwa syair kidung tersebut disampaikan dalam bahasa Arab, bukan bahasa Bali atau Jawa Kuno. Malah lamat-lamat Ava bisa menangkap bahwa yang tengah dilantunkan itu adalah Shalawat, puji-pujian untuk Rasulullah SAW. Juga tak ada tetabuh gong atau gamelan, hanya rebana yang dibunyikan bertalu-talu.

“Ini tarian apa, pak?” Ava bertanya pada bapak-bapak di sebelahnya.
Bapak-bapak berpeci itu tersenyum, sebelum menjelaskan. Inilah Burde, kesenian khas Desa Pegayaman, desa kecil yang terhampar di lereng Bukit Gigit, satu di antara jajaran pergunungan yang memagari Bali Utara dengan daerah selatan.
Sehari setelah hari raya Galungan yang biasa disebut dengan Manis Galungan, umat Hindu di Bali biasanya berkunjung ke keluarga dan kerabat untuk mengucapkan selamat, sekaligus mohon maaf atas kesalahan-kesalahan di masa lalu. Maka berangkatlah Ava menemani Lucille dan Indira, menginap semalam di Pegayaman, kampung halaman Pak De yang berhawa dingin dan dikelilingi hutan hujan tropis.
Hari ini, di antara kerumunan manusia dan dua budaya yang membaur menjadi satu padu, Ava berdiri, merenungi. Memulai sebuah babak baru dalam perjalanan panjang menuju: Paradiso.

***

Fragmen 39
Manis Galungan di Pegayaman

Desa Pegayaman terletak di ketinggian 900 m di atas permukaan laut, membuatnya berudara sejuk dan cocok ditanami cengkeh dan kopi. Wilayah ini ditinggali 5.600 jiwa dengan 90% di antaranya beragama Muslim, dari 10% penduduk yang beragama Hindu, salah satunya adalah keluarga besar Dewa Gede Subrata, alias Pak De, Sang Maestro.
Sore itu Indira sedang duduk di balai kayu yang dipenuhi kue kering dan sesaji, sisa perayaan Galungan sehari yang lalu. Lucille menemaninya bersantai di rumah tradisonal Bali yang masih tampak asli, terdiri dari banyak kompartemen, bale-bale, dan Pura kecil yang terpisah-pisah dan dihubungkan dengan jalan tanah.
“Gimana kabar Ajik?”
“Sehat, tadi pagi nelepon, suaranya sudah segar banget, hehe…” Indira tersenyum, memandangi hamparan hijau pohon kopi dengan bunga-bunga putih yang bertaburan di atasnya, membentang luas mengitari rumah sampai bukit kecil di ujung sana.
“Syukurlah.” Lucille, menghela nafas lega, hendak beranjak ketika beberapa anak perempuan berjilbab bunga-bunga memasuki pekarangan, berjalan takut-takut karena seekor anjing yang tak berhenti menyalak dirantai di pohon.
Indira menghampiri, anak-anak itu tersenyum lega menyodorkan sekeranjang ketupat yang masih hangat. “Kami mau ngejot, dari Pak Wayan Muhammad.” kata seorang anak yang paling lucu.
Warga Muslim menetap di sini semenjak abad ke-15, saat Raja dari Solo (Mataram Islam) menghadiahkan seekor gajah dan 80 prajurit kepada Raja Buleleng sebagai tanda persahabatan. Para prajurit dari Jawa Tengah ini kemudian ditempatkan di Desa Pegayaman untuk membentengi Puri Buleleng dari serangan raja-raja Bali Selatan. Mereka kemudian menetap dan berbaur dengan penduduk desa lainnya. Mengadopsi nama Bali, seperti ‘Wayan, Made, Ketut.’ dan juga menyerap kebudayaan Bali dalam berbagai bentuk, termasuk budaya ngejot yaitu kebiasaan membawakan makanan ataupun buah-buahan kepada pemuka masyarakat, tetangga ataupun para sahabat terutama yang beragama lain supaya ikut menikmati kebahagian dalam merayakan hari raya tertentu.
“Waaaaah… Makasiiiih…” Indira tersenyum tak kalah cerah, mencubit pipi anak itu. “Titip salam buat Pak Wayan, ya.” Indira berkata, sebelum anak-anak itu berlarian riang.
Lucille tersenyum, “Kamu berubah, Gek.” kata Lucille kepada Indira yang asyik menimang-nimang ketupat itu.
“Maksud tante?”
“Baru kali ini, tante lihat kamu tersenyum sama mereka, semenjak…”
Indira berdehem, menarik nafas panjang. “Bukan salah mereka, kan? Mereka nggak pernah meminta buat dilahirkan sebagai orang Selam (Islam). Seperti juga kita.”
Lucille terlongo sejenak mendengar perkataan Indira, sebelum tersenyum. “Kamu bener-bener berubah, that’s my girl!” Lucille memeluk Indira gemas.
Indira terkikik lucu, meronta jenaka dalam dekapan Lucille.
“Pasti karena Ava, makanya kamu jadi tambah dewasa…”
“Tante apaaa siiiih!” Pipi Indira memerah, namun matanya mendadak cerah, melihat sosok yang tiba-tiba nampak dari kejauhan.
Ava berjalan bersama Oom Mantra, adik Pak De dan sepupu-sepupu Indira, baru saja pulang menonton latihan Burda dari Sekaa (kelompok) Tari di Bale Banjar. Oom Mantra nampak bangga melihat sosok Ava yang gagah, dan nampak menonjol di antara yang lain.
Ava berjalan tegap, memasuki candi bentar batu bata yang penuh lumut dan ukiran. Sementara langit senja di belakangnya perlahan meredup, berganti langit petang yang diiringi Adzan Maghrib dari Masjid kecil di samping Bale Banjar.

***

Malam harinya, Ava ikut makan malam bersama keluarga besar Indira. Asap hangat mengepul dari wadah nasi yang terbuat dari bambu, sementara di sebelahnya ada piring besar berisi ayam yang disuwir dengan bumbu merah dan minyak yang menetes di pinggirnya. Di piring lain ada sambal bali yang hanya cabai dan bawang putih dicincang dan disiram minyak panas, aromanya menelusup begitu saja ke hidung Ava, membuat air liurnya menetes.
Kehadiran Lucille dan Ava di kampung Indira membawa warna tersendiri pada Manis Galungan di kampung Indira kali ini. Terlebih lagi, setelah Lucille memperlihatkan foto lukisan Ava dari i-phone-nya. Ava dianggap sebagai The Next Maestro, Mesias yang akan melanjutkan kedigdayaan dan nama besar Pak De, pewaris yang diharapkan bisa melanjutkan garis keturunan Dewa Gede Subrata, setelah beliau kehilangan istri dan anak lelaki-nya dalam serangan teroris 10 tahun yang lalu.
Saat ini Ava hanya bisa salah tingkah, ditatap belasan pasang mata. “Beh, Kak Gede kok nggak pernah bicara tentang kamu?” tanya Oom Mantra.
Ava cuma cengar-cengir mendengarnya, sibuk menyuap nasi dengan suwiran ayam beserta sambal bali, menikmati sensasi pedas bercampur gurih yang seketika menyebar di lidahnya.
“Kamu mengingatkan saya dengan Kak Gede, bakat alami, padahal keluarga kami nggak ada yang keturunan pelukis…”
“Ah, Oom bisa saja…” Ava terkekeh pelan.
Sing Kengken (nggak apa-apa), yang jelas saya ikut bangga kalau seniman berbakat seperti kamu yang jadi tunangannya Indira, hahaha…” Oom Mantra berkata, jumawa.
“Uhuk! Uhuk!” Ava sontak tersedak dan cepat-cepat menenggak air dari kendi tanah liat.
Indira yang sibuk menyuapi Ivo dan Ony -sepupunya yang kembar, mendadak menegang, ia melirik ke arah Ava, takut-takut, menunggu seperti apakah reaksi Ava.
“Ehm… tiang (saya) yang turut bangga… kehormatan buat tiang, oom... bisa jadi tunangannya Indira.” Ava berkata.
Seketika belasan mata semakin menatap takjub, karena sungguh diperlukan kerelaan hati yang besar bagi seorang pemuda untuk bersedia nyentana.
Ava hanya bisa tersenyum, mencoba membalas kehangatan dari keluarga besar Indira, namun sudut matanya menangkap raut Indira yang perlahan meredup.
Wajah Indira tetunduk ke bawah, lidahnya terasa kelu. Nafsu makannya hilang sudah.

***

Fragmen 40
Pacar Imitasi

Selepas makan malam, Indira menatap pendaran bintang yang berkedip redup di balik langit. Udara pegunungan yang dingin tak mampu dihalangi sweater putihnya, hingga ia terpaksa meringkuk di bale-bale. Hening malam seperti simfoni tanpa suara, soliter.
“Hai.”
“Oh, eh.. hai…” Indira gelagapan saat Ava tahu-tahu duduk di sampingnya.
Ada sedikit rasa kikuk di antara keduanya, hingga mereka sempat saling mendiamkan beberapa saat.
“Ava, makasih, ya…”
“Hah? k-kenapa?”
“Sudah pura-pura jadi tunanganku… Hehe.”
Ava mendadak menelan ludah.
“Sebel tahu, setiap pulang kampung pasti ditanya-tanyain, ‘sudah ada yang mau nyentana belum?’ hehe… untung ada kamu.” Indira tersenyum, namun Ava bisa menangkap nada getir di not terakhir suara Indira.
“Aku… nggak… pura-pura… kok…”
Indira tersenyum, menyenggol lengan Ava. “Nggak apa-apa, aku ngerti kok… makasih ya… hehe…”
Ava tak menyahut, dibiarkannya hening kembali mengisi jeda percakapan itu.
“Ava, kamu… cuma kasihan sama aku… kan?”
“Aku, enggak…”
“Nggak apa-apa…. Tapi… Setidaknya kamu jangan pura-pura sama aku, ya… biar… aku… nggak terlalu berharap seperti sama Dewa… hehe…”
"Siapa bilang aku pura-pura?" Ava mencoba tersenyum, mengusap pipi Indira yang kini mencoba ikut tersenyum, mencari harapan di antara sepasang mata yang menatapnya teduh. “Tiang tresne teken Indira (saya cinta sama Indira). aku mau kok nyentana demi…” Ava tak sempat menyelesaikan kalimatnya.
Kemudian yang ada hanyalah hening, dan suara penyeru yang tiba-tiba menyeruak dari balik langit. Adzan Isya yang dikumandangkan oleh Muadzin tua dari Masjid kecil di dekat Bale Banjar, membekap Ava dalam bisu yang panjang…
Dan Ava hanya bisa menatap sepasang mata Indira yang seperti berharap, mencoba bermimpi di depan lautan perbedaan yang menghampar, membentang…

***

“Ivo! Ony! Ayo tiduuuuur! Eh, Kak Ava sama Mbok Dira jangan diganggu!”
Terdengar teriakan Oom Mantra yang tergopoh-gopoh mengejar sepasang anak perempuan kembar berusia pra-TK, berlari menghambur ke arah bale-bale di mana Ava dan Indira duduk.
Dua anak kembar itu bergerandul begitu saja di kaki-kaki Ava dan Indira, berlindung dari kejaran ayahnya.
“Haduuuh… haduuuh… maafken anak saya… bikin repot saja…” Oom Mantra menarik jari Ivo yang kini mendekap Indira erat-erat. “Eh, Ivo… ayuk, sudah ditunggu tidur sama Mama dan Kak Prana.”
“Ivo mau tidur bareng sama Dira aja! Kan udah lama nggak ketemu!”
“-sama Tante Lulu juga! Ony mau diceritain dongeng sama Tante Lulu!” Dua anak itu saling menambahkan, membuat ayahnya menghela nafas putus asa.

***

Fragmen 41
Ebony & Ivory

Ivo dan Ony namanya, sepupu Indira-anak Oom Mantra. Semenjak Ava dan Indira tiba di Pegayaman, dua anak itu seolah lengket tidak mau dipisahkan dari mereka berdua. Tahun ini mereka baru akan masuk Taman Kanak-kanak. Semenjak kecil, mereka sudah dekat dengan Indira, terlebih karena mereka tidak memiliki kakak perempuan. Terlebih lagi dengan kehadiran Ava dalam Galungan tahun ini, membuat mereka seperti memiliki ‘mainan’ baru.
“Ivo! Ony! Hayo, kasihan Kak Ava-nya...” Indira berseru sambil terkikik melihat Ava berjalan terhuyung, tubuhnya limbung ke sana kemari. Ava agak sulit melangkah, karena di pundaknya bergerandul seorang anak perempuan lucu, menarik-narik jenggot dan rambutnya, sementara kakinya di tarik-tarik oleh sorang anak perempuan lagi, minta giliran menunggangi Ava.
Ada beberapa kompartemen di rumah keluarga besar itu. Keluarga besar Pak De termasuk adik dan sepupu-sepupunya yang berkumpul saat perayaan Manis Galungan masing-masing mendapat jatah satu pavilliun.
“Titip anak-anak saya, ya Gek.” Oom Mantra berkata kepada Lucille. “Ivo, Ony, jangan nakal, ya!” kata Oom Mantra sebelum pamit pergi, namun tidak dipedulikan oleh Si Kembar, karena mereka keburu berlari ke arah Lucille yang tengah membentangkan beberapa lembar bed cover dan bantal besar bercorak Indian warna-warni.
“Sudah siap dengar dongeng dari Tante Lulu?” Lucille berkata dan segera disambut dua pasang mata yang mendadak membeliak berbinar, bersiap menyaksikan Lucille si Juru Dongeng yang memulai ceritanya.

***

“Dua orang puteri kembar…
Keduanya begitu mirip hingga sulit dibedakan.
Hingga Pangeran yang datang, pun kebingungan…

Namun Sang Pangeran hanya bisa memilih satu
untuk dijadikan permaisurinya…

Maka diadakanlah undian,

Namun di saat terakhir, kedua putri itu saling bertukar peran,

Karena Sang Kakak lebih mencintai
Pelukis dari Kalangan Biasa daripada Pangeran Tampan….”

Lucille bergerak lincah, tangannya mengawang-awang seperti dongengnya. Kaki-kakinya melangkah seperti menari, hilir mudik sambil sesekali ditimpali senandung dari bibirnya yang tak henti berseri-seri.
Ivo dan Ony merapatkan tubuh mereka ke hangat tubuh Ava dan Indira, membiarkan tubuh mereka didekap, dan khayalan keempatnya diterbangkan jauh ke angkasa.
Aku tak mau jadi bayang-bayang, aku tak mau Pangeran mencintai bayang-bayang…” Lucille belum menyelesaikan ceritanya, karena perlahan satu persatu dari mereka terlelap tidur.
Pandangan Ava tertumbuk pada Ivo yang melungker kalem dalam pelukan Indira. Sejenak Ava terpana, menatap Indira yang mendadak nampak keibuan, memeluk erat dan memainkan poni Ivo, sebelum Ava akhirnya juga menyelimuti Ony yang tertidur lucu di pangkuannya.
Lucille hanya bisa tersenyum melihat polah keempat orang itu. “Cocok.” Lucille berkata, pendek.
“Hah?”
“Keluarga kecil bahagia.”
Komentar Lucille membuat wajah keduanya memerah seketika. Namun saat saling tatap, mereka mengetahui, ada kekosongan yang perlu saling diisi, dilengkapi.

***

Fragmen 42
If You’re Not The One

Sudah hampir jam 2 dini hari, namun Indira tak juga bisa tertidur. Kehadiran Ava di kamar itu membuat jantungnya tak henti berdebaran, dan matanya tak juga terpejam. Sebenarnya Ava sudah berkeras undur diri tadi, namun Lucille berkeras agar Ava tinggal di situ, menemani Ivo dan Ony.
“Uhuk… Uhuk…” Ava terbatuk.
“Ava?” Indira berkata, setengah berbisik, karena di ujung sana Lucille sudah tidur berselimut bedcover tebal.
Tak ada jawaban, hanya ada suara jangkrik diselang-selingi suara dengkuran yang terdengar sesekali, masuk bersama cahaya lampu taman melalui celah jendela ke dalam ruangan yang gulita.
“Ava…?” Indira berbisik tertahan sambil menggeliat, karena tiba-tiba ia merasakan ada nafas hangat yang menderu di tengkuknya.
Nyem… nyem…” Hanya itu jawaban yang diberikan Ava.
Indira berusaha kembali memejamkan matanya, sebelum mendadak sepasang tangan membelai pinggulnya, pelan, kemudian melingkar di perutnya. Jantungnya mendadak berdetak satu tempo lebih cepat, dan benaknya menebak-nebak, “Ava… ngapain… kamu…”
Nyem… nyem… nyem…” Ava menjawab, namun tangannya yang kini melingkar di dada Indira, membuat Indira tahu Ava hanya pura-pura tidur.
“Iiiiih... Ava nakal, yah…”
Hanya ada tawa yang mengekeh sangat perlahan, dan tengkuknya dikecup pelan.
“Belum bobok?” Indira bertanya, pelan.
“Udah.”
“Kok bisa ngomong?”
“Ngelindur.” Ava menjawab asal, membuat Indira terkikik pelan, sambil mencubit pundak pemuda itu.
“E, eh! Sakit!” Ava memberontak, hingga Ony merengek, merasa terganggu. “Ssssst… nanti bangun! Ih, gimana sih..” Ava ngedumel tertahan, sedang Indira terkikik tak kalah pelan.
“Jadi gini ya, rasanya punya anak?” Indira tersenyum, membelai Ivo yang cemberut dalam tidur.
“Pengen?”
“Hu-uh,”
“Hehe..” Ava membelai rambut Indira, membuatnya tersenyum dalam gelap.
“Ava.”
“Apa?”
“Kelonin dong, aku nggak bisa tidur nih…”
“Hehehe… Sini…”
“Acik.” Indira segera beringsut ke dalam pelukan Ava, yang kemudian membungkus tubuhnya dengan kehangatan yang sangat nyaman. Indira memejam, membiarkan rambutnya diusap pelan, dan keningnya diciumi.
Dalam kegelapan, Indira mendapati lagi kebahagiaan yang dulu pernah ia dapati bersama Dewa, saat dulu ia bersama kekasihnya saling merenda mimpi dan harapan.
“Nyanyiin lagu, dong.”
“Suaraku jelek, lagian nanti yang lain bangun.”
“Pelan ajaaah… pliiiiiich..” bisik Indira.
Ava terdiam sejenak, memilih lagu dari playlist di otaknya.
Ada jeda kosong beberapa detik, sebelum akhirnya Ava mulai berdendang pelan, perlahan...
“If you’re not the one then why does my soul feel glad today?”
Deg!
Sontak jantung Indira seperti berhenti berdetak. Dari jutaan lagu di dunia, kenapa Ava memilih lagu ini? Lagu yang sama yang dipilihkan Dewa, di Ulang Tahunnya dulu.
Ava menggenggam jemari Indira, “If you’re not the one then why does my hand fit yours this way?”
Suara Ava menggali kembali kenangan yang berusaha dikuburnya dalam dalam. Malam itu, tanpa bisa diantisipasi, nostalgia bergulir seperti air bah, dan Indira hanya bisa menempelkan bibirnya di bibir Ava, agar pemuda itu berhenti bernyanyi.
Sedikit tersentak pada awalnya, Ava kemudian menyambut ciuman Indira yang tiba-tiba mendarat itu. Perlahan dan penuh kesungguhan Ava membelai bibir Indira yang hangat dengan bibirnya, mendekap Indira erat hingga dua insan itu saling berpagutan di kegelapan.
“Mmmmh….” Kemudian hanyalah nafas yang harum dan hangat, yang menari di wajah Ava. Pelan, dan perlahan bertambah cepat seiring lumatan dan belaian yang saling didaratkan di lekuk tubuh keduanya.
Setiap pagutan, seperti melepas simpul-simpul birahi di dada keduanya, hingga tanpa bisa dihindari, pelan tapi pasti ciuman penuh kemesraan itu menjelma menjadi lumatan dan remasan yang saling bergelut di kegelapan, di antara sepasang anak kembar yang tertidur pulas.
“Uuuuuh….” Ivo menggerung dalam tidur, membuat Ava terhenti sejenak namun kembali bergerak tatkala Indira yang ganti aktif melumat bibirnya dan meraba dadanya yang bidang.
Indira mengakrabi sensasi ini, dua orang anak kembar, serta tantenya yang tidur didekatnya membuat semua ini terlalu beresiko, namun sensasi nikmat-takut ketahuan membuatnya hanya bisa menahan nafas, menggigil nikmat saat Ava terbawa suasana dan mulai meremasi dadanya.
“Oh…” Indira menelan ludah, Ava pasti sadar kalau malam itu ia tidak mengenakan bra, hanya kaus dibalut sweater putih tebal, dan pasti…
 "Uuuuh..." menyadari itu, Ava segera merogoh ke balik sweater Indira, menjamah bukit kenyal itu.
“Ummh…” Indira memejam, menikmati tangan Ava yang hangat saat menangkup bukit ranumnya. Bidadari itu menggigit bibir bawahnya, dan mengerang pelan saat jari Ava mulai bergerak, memilin sambil terus meremas. “Ava…. Ssssh…” Indira mendesis erotis, menikmati remasan Ava, juga ciuman dan jilatan yang mendarat di telinganya.
Suara dengkuran Lucille di seberang sana, juga Ivo yang menggeliat di pelukannya membuat sensasi ini terasa beratus kali lipat di selangkangan Indira saat tangan Ava yang kini menyibak celana dalamnya, Dan ia hanya bisa menahan nafas, menutup bibirnya kuat-kuat saat Ava memijat pelan labianya, berputar-putar dan membelai lembut klitorisnya, berharap ia tidak menjerit.
“Ooh…” Indira menggigit jarinya, matanya merem melek, menikmati jari Ava yang kini menjelajah di liangnya yang membasah. “Sleph… sleph…” Suara lendir berkecipak sangat pelan, terdengar di sela suara dengkuran, dan desah nafas yang semakin memburu.
“Hah… ha… hh... hh…”
“Hh…hh… hh…”
“Uuuh… hh… hh…” Indira mengerang pelan, erotis, namun tanpa suara. Jari Ava yang hangat itu terasa amat nikmat, bergerak masuk keluar dan bergerinjal di kewanitaannya yang banjir.
“Uuuuuh…” Indira menutup bibirnya dengan telapak tangan, sementara Ava membenamkan bibirnya di leher Indira yang basah dan lengket oleh keringat, mendekap Indira erat, seperti hendak melahap tubuh Bidadari itu ke dalam lumatan dan cumbuannya. Sementara Ony yang tak henti bergerak, juga Ivo yang mengingau membuat segalanya terasa begitu liar, brutal.
“Mmmh…”
“Sleph… sleph…”
“Umh... hh... hh… hh…”
Di dalam kamar yang gelap, dua Insan itu saling cumbu dan saling lumat. Setiap ciuman dan belaian diberikan dengan penuh gairah, suara nafas yang terengah membaur dalam suara dengkur, tenggelam dalam nafsu yang semakin berkecamuk.
Tubuh Indira mengejang pelan, sambil meremas selimut, pinggulnya merinding seperti mati rasa, indira bergerak erotis, menikmati puncaknya yang hampir sampai…
“Kak Indira, ngapain sih…” Ivo yang dipeluk Indira terbangun, mengejap-ngejap bingung, menatap wajah Indira yang memerah dan sayu.
“Enggak… enggak apa… apa… sayang… enggak apa… apa… a… a… aaaaa… “ Indira memejam tanpa suara, sensasi dilihat saat hendak orgasme itu melesakkan birahinya ke langit ke delapan. Membuat sekujur tubuhnya menggigil nikmat, ia hanya bisa menggigit jarinya, sambil meremas selimut-erat-erat, agar tak menjerit dan membangunkan Lucille.
Dan Ivo hanya bisa kebingungan melihat wajah Indira yang kesakitan dan melenguh tertahan, juga wajah Ava yang pucat-pasi mengetahui tindakannya dipergoki.
Terengah-engah, Indira mengatur nafasnya, dan di antara sisa orgasme-nya Indira berkata pada ivo, “Ng-ngak- apa… apa… ng-nggak apa…” sambil membekap Ivo erat dalam pelukannya, membelai rambut anak itu agar kembali tertidur.
Indira menghela nafas, memeluk Ivo erat-erat. Sementara Ava menunggu was-was, Birahinya segera meredup, berganti rasa takut dan waspada.
Butuh berapa lama, hingga Ivo kembali terlelap, dan kedua orang itu bisa menghela nafas lega.
Indira memejamkan matanya, membiarkan Ava memeluknya dari belakang. Desir-desir orgasme yang mengalir di darahnya itu membuat perasaannya menjadi begitu nyaman, juga pelukan Ava yang mendekapnya penuh kasih….
Semuanya begitu hangat… begitu nyaman…
Dahulu ia memimpikan hal ini bersama Dewa, mungkin malam ini ia bisa kembali bermimpi…

***

Pagi itu Indira terbangun oleh usapan lembut di pipinya “Met Pagi…” Ava berbisik, serak karena baru terbangun.
“P-pagi…” Indira menjawab, mencoba membalas senyum Ava.
Ony menggelendot manja dipelukan Ava, sementara Ivo melungker lucu di dekapan Indira. Ava dan Indira terkikik melihat tingkah keduanya, dan Indira hanya bisa memejam saat rambutnya dibelai lembut.
Ava membuatnya berani bermimpi, bermimpi tentang rumah mungil dengan anak-anak yang berlarian mengitari pekarangan yang penuh dengan bunga, sementara dirinya menuangkan kopi untuk suaminya yang tengah asyik melukis.
Pagi itu Indira mencoba kembali bermimpi, meski ia tahu: mimpi akan berakhir pada suatu pagi yang pasti akan tiba. Indira hanya bisa memejam, sedapatnya menikmati hangat tangan Ava yang terus membelainya.
“Kita jalani sama-sama, ya…” Ava berkata.
“Sama-sama?”
“Iya… Semua butuh waktu.”
Indira tersenyum, “Kamu benar, semua butuh waktu…”
Pagi itu, suara penyeru kembali melantun dari balik langit Subuh…
“Asholatu Khoiru Minanna’um!”
Entah kenapa, kali ini suara adzan terdengar lirih, perih…
Melantun pelan dan kian memilukan…
Seperti hendak berucap selamat tinggal…

***

Puluhan kilometer dari tempat itu, Suara penyeru berkumandang dari menara Masjid Baiturohman di sebuah perkampungan padat di bantaran Tukad Badung, sungai yang membelah kota Denpasar.
Udara pagi yang dingin menyelinap bersama suara adzan ke dalam kost-kostan kecil di depan Masjid, membangunkan seorang wanita berambut pendek dengan tato di lengan kirinya: Sheena.
Sheena menggeliat, mengintip keluar jendela. Biasanya jam-jam segini ia sudah melihat Ava berjingkat-jingkat, melakukan pemanasan di bawah gazebo, namun pagi ini hanya ada tali jemuran dan antena yang menyeruak dari balik atap rumah yang berbaris padat, rapat.
Sheena memandang langit subuh yang berwarna hitam dengan gradasi putih samar. Helaan nafasnya membentuk kabut di jendela kusam, namun Sheena tetap membuka jendela, seperti membuka sebuah babak baru dalam perjalanan menuju Paradiso.
Pagi ini Sheena mencoba tersenyum, menggenggam erat benda kecil yang dipeluknya sepanjang malam:
Sebuah roll film.

~A word can hold the secret of the universe
and silence is the hardest thing for us to unveil~


***

Pagi masih dingin, namun Ava sudah berlari-lari kecil di sepanjang jalan setapak yang mengelilingi kebun kopi di kampung Indira. Kabut tipis muncul dari bibirnya yang kembang kempis mengatur nafas, sedang telinganya tersumbat earphone, menemaninya jogging pagi itu.
Sudah 4 kali putaran Ava berlari, ketika track list Android-nya sampai pada lagu “Don’t Stop Me Now-nya Queen”, dan mendadak langkah Ava jadi sedikit melambat. Pagi itu Ava berlari sendiri, namun ia merasa di belakangnya menyusul sepasang langkah dan suara yang tak henti tergelak mendengar leluconnya. Ava menoleh, dan ia hanya mendapati jalan setapak yang ditumbuhi rerimbunan pohon kopi. Ava mencoba tersenyum, namun tidak bisa dipungkiri, ada kerinduan yang mendadak terbit di pagi itu.

***

Fragmen 43
Di Bawah Rintik Hujan

Pagi itu langit berwarna kelabu, mendung. Awal tahun 2012 membuat hujan masih turun sesekali. Udara masih diliputi kabut, namun sekujur tubuh Ava terasa lengket oleh keringat.
Langkah Ava tertuju pada bangunan batu bata merah yang tersembunyi di tengah kebun kopi di dekat rumah utama. Satu-satunya tempat yang menarik perhatiannya sejak melintasi tempat itu beberapa kali sepanjang ritual joggingnya, dan kali ini ia tidak bisa menahan diri lagi.
Ava melangkah hati-hati melewati parit yang dipenuhi air jernih, memasuki gerbang batu yang dipenuhi lumut dan ditutupi semak-semak.
Pemuda itu sungguh tak menyangka, bahwa akan disambut dengan pemandangan menakjubkan: bilik-bilik dengan pancuran berukir yang tak henti mengalir, ditampung dari mata air di dekat situ. Dinding batu bata yang sudah lapuk memagari sekelilingnya, memisahkan tempat mandi laki-laki dan perempuan. Sementara atapnya dibiarkan terbuka, dipayungi daun kopi dan rimbun pohon pinus.
Ava membasuh wajahnya dan segera disambut segar dingin air pegunungan, seketika itu galau yang tadi dirasakannya mendadak sirna.
Tubuhnya yang lengket penuh keringat, membuatnya ingin segera menceburkan seluruh tubuhnya ke dalam pancuran.
Ava melongok ke sekeliling, sepi.
Tanpa pikir panjang, segera ia melucuti pakaiannya, melipatnya rapi di atas batu. Semenjak tinggal di Ubud, Ava jadi menikmati mandi di tempat yang eksotis seperti ini. Ava segera membasuh tubuh telanjangnya, sambil menggigil dan bernyanyi tidak jelas, menikmati ribuan galon air yang diguyurkan di atasnya.
Ava memejamkan mata, untuk sesaat ia seperti tidak berada di bumi.
“Hey!” suara merdu menjerit dari arah gerbang batu.
Seorang bidadari berdiri di atas batu didekatnya. Bidadari itu memainkan ujung rambutnya yang hitam kecoklatan, bibirnya yang mungil pura-pura cemberut. “A-ava… ngapain?”
“Jualan syomai! Eh, ya mandi lah!” Ava menjawab asal.
Indira terkikik. “Ini kan tempat mandiku!”
Ava terbahak mendengarnya, “De ja vu! Kayaknya pernah dengar dialog itu, deh.”
“Masih inget aja, siiih!” Indira tersenyum sambil menjelaskan bahwa tempat ini adalah bilik mandi keluarga yang sudah jarang digunakan. Semenjak Oom Mantra membangun kamar mandi modern di rumah utama, tak ada lagi yang menggunakan tempat itu, kecuali Indira.
Ava manggut-manggut, sambil membasahi tubuhnya cuek. Tinggal di tempat Pak De, membuatnya benar-benar terbiasa dengan ketelanjangan. “Ngapain lihat-lihat? Awas ngiler..” Ava berkata, asal.
Indira tersenyum, sambil melepas kausnya, hingga sepasang payudaranya seperti hendak melompat keluar ke dalam mata Ava.
“E’et dah!” Ava melotot melihat Indira dengan santainya melepas satu demi satu pakaiannya. “Dasar bocah nekat! Nanti dilihat sama orang, dikiranya macem-macem…”
“Ih, massa nggak boleh mandi sama tunangan sendiri…” Indira memberengut, sebelum melangkah santai ke arah pancuran di sebelah Ava. “dingiiiiiin…” Indira menjerit dengan ekspresi jenaka, berlonjakan lucu saat air dingin membasuh tubuh telanjangnya.
 Ava hanya bisa menggeleng-geleng melihat Indira yang bersenandung sambil menyabuni ketiak dan lekuk tubuh dengan cueknya.
“Eh iya, bagi sabun, dong!” Ava berkata (pura-pura) cuek.
“Bentaaar!” Indira membasuh buih sabun di tubuhnya terlebih dahulu, “Nih, sabunnya, sayang…” Indira berkata, manja.
“Hehe.. M-makasih…” Hati Ava ketar-ketir tak karuan, mendengar Indira memanggilnya ‘sayang’.
“Ava sayang, mau disabunin?” Indira meliriknya, sambil tersenyum penuh arti.
Ava tertegun lama, belum sempat mejawab, saat pundaknya tiba-tiba diusap dan disabuni lembut. Indira tersenyum lembut sambil mengusap dada dan punggung Ava dengan telaten.
Dada Ava mendadak bergetar, tidak karena melihat Indira yang telanjang, tapi karena merasakan kasih dari setiap sentuhan Indira.
“Jadi inget sama Kak Na.” Indira berceletuk tiba-tiba.
“A-ada apa sama Kak Na?” Ava berkata, terbata.
“Kangen, jadi inget pas mandi sama Kak Na.”
“I-iya..” Jantung Ava berdetak dua kali lebih cepat saat nama itu disebut.
“Hayooo… kok grogi gitu, jangan-jangan kamu kangen juga, ya...” Indira bertanya, matanya menyelidik.
“Enggak, Indira sayang..” Ava buru-buru tersenyum, sebelum melingkarkan tangan kirinya di pinggang Indira, sedang sebelah tangannya meraih dagu Indira, mengecupnya lembut.
Indira tersipu, menyambut pagutan Ava sambil mendekap pemuda itu erat, seolah tak ingin kehilangan. Dalam deru air pancuran, sepasang insan itu saling berpagutan.
“Mmmmh…” Ava dan Indira saling melumat, sementara langit berguruh pelan, mencurahkan gerimis tipis yang membasahi tempat itu.
Ava menyambut lidah Indira yang membelai lidahnya, hingga lidah mereka saling membelit, saling membelai. Indira membiarkan Ava meremasi payudara dan pantatnya, sambil melengguh erotis dalam lumatan Ava.
Indira merasakan ada sesuatu yang berdiri tegak di bawah sana. Indira merasakan ujung putingnya mengeras, dan semakin sensisif saat bergesekan dengan dada Ava. “Sssssh…” indira mendesis, selangkangannya semakin gatal saat kejantanan Ava yang tegak bergerak-gerak di bawah sana.
Indira melingkarkan lengannya di pundak Ava, kemudian tersenyum dan mulai menciumi leher Ava yang penuh dengan bulir air. Bibir Indira yang lembut hangat melumat pelan kulit Ava yang basah, sementara tangannya sibuk meremas pantat Ava, gemas.
“Ummh…” Ava mengerang tertahan. Ciuman Indira semakin lama semakin turun sambil disertai gigitan tipis di sekujur kulitnya.
Dada Ava naik turun cepat, jantungnya berdetak seperti hendak copot mendapati bidadari mungil itu berlutut di antara kedua pahanya. Indira menoleh ke arah Ava, memberikan senyumnya yang paling manis, sebelum mengecup ujung kejantanan Ava gemas. Jemarinya yang lentik, membelai sekujur batang dan buah zakar Ava, sambil terus menciumi kejantanan Ava dari ujung hingga pangkal.
“Mmmh…” Ava mengerang pelan, sekujur otot-ototnya mendadak lemas hingga ia terpaksa bersandar pada pinggiran dinding pancuran yang meluap-luap ke atas pundaknya.
Dengan telaten, Indira menjilati batang kejantanan Ava. Berawal jilatan lucu pada ujung kejantanan Ava, dan perlahan menjelma menjadi jilatan liar yang bergerak cepat, berputar-putar sepanjang batangnya. Ava mengerang, menegang sejadi-jadinya berusaha menahan diri agar tidak keluar duluan, karena sekarang Indira sedang asyik menjilati selangkangannya, mengulum buah zakarnya dengan sepasang bibir yang sensual, menggoda.
“Suka?” Indira bertanya, sambil tersenyum menggoda.
Ava tidak menjawab, hanya mengangguk lemah. Indira mengikik jenaka, sebelum memasukkan kejantanan Ava ke dalam rongga mulutnya.
“Uuuh…” Ava memejam, menahan geli. Perlahan dirinya seperti dihisap ke dalam rongga hangat, yang berdenyut-denyut nikmat.
Indira menahan nafas, kejantanan Ava nampaknya terlalu besar bagi mulutnya yang kecil mungil, hingga ia tersedak sesekali ketika ujung kejantanan Ava menohok sampai kerongkongannya.
“Ummh… slerpp… emm… mmm…” Indira mulai menggeram tidak jelas, saat ia mulai menggerakkan kepalanya mundur maju. Seketika itu juga, tubuh Ava seperti dipenuhi dengan rasa nikmat yang meledak-ledak.
Di langit guruh menggelegar, sebelum air hujan dicurahkan dari puncaknya membasahi tubuh telanjang Ava dan Indira.
“Uoooh… aaaah…” Ava mulai berteriak pelan. Bibir Indira yang mungil terasa nikmat sekali, melumat dan menyedot kejantanannya. Terlebih lagi, saat ia melirik ke bawah: remaja blasteran dengan tubuh telanjang, dengan mulut penuh, mencoba tersenyum ke arahnya.
“Indira… aah…” Ava memejam, dadanya membusung-busung menikmati setiap lumatan Indira pada kejantanannya. Hangat, geli, ngilu, berpadu menjadi satu. Sekujur tubuhnya seperti disetrum dengan tegangan tingkat tinggi, hingga tubuhnya menegang, menggelinjang, dan bibirnya menceracau tidak jelas.
Gerakan kepala Indira semakin cepat, maju mundur beringas, dengan lidah yang menggeliat-geliat, membelai bagian bawah kejantanan Ava, membuat Ava meradang sejadi-jadinya. Desahan Ava menggema ke dinding bata sambil ditimpali deru air hujan yang tak henti mengucur.
“I-indira.. a-ku.. uh.. u-udah mau… Oooh…” Ava berteriak, megap-megap seperti kehabisan udara.
“Ummm… sllrpp… sleph… umlrp…” Indira malah semakin bersemangat dan melumat kejantanan Ava, tidak peduli hujan bertambah deras dan membasahi tubuh keduanya.
“Indira… Aku…” Ava tidak menyelesaikan kalimatnya, suaranya berakhir dalam erangan tanpa suara bersamaan dengan pinggulnya yang mengejang, dan cairan cintanya yang meledak dalam mulut Indira.
“Umm!!” Agak terkejut, namun Indira tetap menyedot kejantanan Ava, hingga cairan putih kental nampak meleleh di sela bibir mungilnya.
“Hah… hh… hh…” Untuk sesaat, hanya ada suara nafas memburu dan air hujan yang kian menderu dan bertumpahan di lantai bilik mandi.
Ava tak henti terpana dengan pemandangan di hadapannya, berlutut seorang remaja blasteran dengan wajah secantik bidadari yang sedang sibuk menelan cairan cintanya. Bibirnya yang mungil lucu nampak belepotan cairan putih kental yang dijilatnya sesekali.
Indira mendongak, memberikan ekspresi terimutnya kepada Ava, sepasang matanya membeliak berbinar-binar, membuat hati Ava meleleh seketika.
Ava menggamit Indira ke dalam pelukannya, mengecup bibir Indira yang masih belepotan sperma. “Uuuumh…” Indira tersenyum girang, menyambut ciuman Ava dengan pagutan lembut di sekujur bibir pemuda itu.
“Ummmh… mmmh…” Sepasang Insan itu saling berpagutan liar di sela suara air hujan yang kian menderu, memburu. Indira membiarkan tubuhnya direngkuh ke dalam pelukan Ava, hingga dadanya yang kenyal ranum terhimpit ke dada Ava yang bidang, dan kejantanan Ava yang menegang terasa panas di atas perutnya.
Indira mendadak tersenyum, mengikik lucu.
“Kenapa?” Ava mengernyit, bingung.
“Kok masih tegang aja, sih…” Indira berkata sambil memainkan kejantanan Ava yang tegak.
“Hehehe…” Ava hanya cengar-cengir mesum.
Indira membalas senyum Ava, sambil berjinjit dan menggesekkan selangkangannya di kejantanan Ava.
“Boleh?”
“Hu-uh…” Indira mengangguk dengan wajah penuh harap. Segera, Ava memposisikan kejantanannya menuju liang kenikmatan Indira.
Indira melingkarkan sebelah kakinya di paha Ava, sementara sepasang lengannya bergelantungan di leher Ava. Pinggulnya menandak-nandak, berusaha agar kejantanan Ava segera memasuki liangnya yang berkedut-kedut tidak sabar lagi untuk disetubuhi.
“Ummh…” Indira mengernyit, wajah ayu-nya mendadak berubah sayu.
“UH...” Ava menurunkan posisi tubuhnya sedikit, agak sulit melakukan penetrasi dalam posisi berdiri di lantai bilik mandi yang licin.
“Aaaa…” Mulut Indira menganga tanpa suara, saat Ava berusaha menempatkan ujung kejantanannya pada posisi seharusnya. Matanya memejam, menjaga sekuat tenaga agar tidak menjerit karena kejantanan Ava yang panas membara itu kini sedang menggeseki labianya, mencari jalan masuk.
“Uh… uh…” Indira menggelinjang, pinggulnya maju-mundur, naik-turun, mencari posisi.
“Udah pas?” Ava berbisik, nyaris tak bersuara.
“Hu-uh…” Indira mengangguk cepat, Ava mendorong perlahan.
“Ummmh…” Indira terpaksa menutup bibirnya dengan tangan, karena kejantanan Ava segera melesak, memenuhi liang kenikmatannya dengan kejantanan yang panas dan berurat. “Oooh…“ Indira mengerang tanpa suara, sekujur tubuhnya menegang seketika saat kejantanan Ava terbenam sepenuhnya.
“Ah... hah… hah... hh… hh…” Nafas Indira semakin memburu, wajahnya sayu, menikmati kejantanan yang terasa panas dan berkedut-kedut di dalam tubuhnya.
Guruh menggelegar, Ava mendadak terdiam sejenak. De ja Vu
Lama, hingga Indira bertanya, “Ava? Kok diem?”
“Enggak… enggak apa… apa…. Hujan… nggak balik?”
“Nggak apa-apa… seru…” Indira berkata pelan.
Perlahan , Ava menyorongkan pinggulnya, mulai memompa dalam riuh hujan yang bercipratan. Ava melingkarkan lengan kirinya di pinggul Indira, sedang lengan kanannya meremas payudara Indira, pinggulnya maju mundur perlahan, memompa tubuh Indira dalam posisi berdiri, menikmati lorong kenyal dan hangat, juga sensasi ngilu-nikmat yang menjalar di ujung kejantanan sampai buah zakarnyanya.
“Uuuh… hh… hh…” Indira mengerang pelan, erotis, namun tanpa suara. Kejantanan yang berurat itu terasa amat nikmat, bergerak masuk keluar dan bergerinjal di kewanitaannya yang banjir. Indira melingkarkan sebelah kakinya lagi di pantat Ava, agar kejantanan Ava kian menggesek tepat di titik sensitifnya.
“Uwooooh… uuuuh…. Enak… banngeth… Aaaah…” Indira menjerit heboh, dan bergarandul di tubuh Ava seperti memanjat, dengan pinggul yang naik turun, berusaha menggapai puncak kenikmatan duniawi.
Sedikit sempoyongan, Ava menghenyak tubuh Indira ke dinding, dan pinggulnya menandak-nandak, menyambut tubuh Indira yang bergelinjangan di pelukannya.
“Uuuuuh… Gituu… Va… iaaaah…” Indira menjerit histeris sambil menjambak rambut Ava.
“Gini?”
“Iyaaah… aaaah...”
“Uuuuuh…” Ava melenguh, menikmati kewanitaan Indira yang hangat dan menyedot-nyedot sedap. Sekujur tubuhnya seperti dipenuhi dengan rasa geli dan ngilu, membuat pahanya perlahan melemas, dan tubuhnya beringsut, berlutut di lantai bilik mandi.
Indira melingkarkan sepasang pahanya yang putih mulus di pinggang Ava, sebelum kembali menggenjot tubuh ranumnya, turun naik dan berputar-putar seperti hendak melubangi perut Ava yang berlutut di bawah tubuhnya.
Ava menoleh ke atas, dan segera mendapati wajah sang bidadari merona merah, bibir mungilnya membasah dan mendesah dengan wajah yang penuh gairah.
Indira segera menyergap Ava, menciumi wajah dan bibir pemuda itu.
“Mmmh…”
“Sleph… sleph…”
“Umh... hh... hh… hh…”
Dua Insan itu saling pompa dan saling lumat. Setiap ciuman dan belaian diberikan dengan penuh gairah dan kasih, hingga desah nafas membaur dalam suara air, tenggelam dalam nafsu yang semakin berkecamuk.
Indira merengkuh wajah Ava, membenamkannya ke dalam kenyal payudaranya yang ranum. Segera Ava menciumi dan melumat payudara Indira yang putih dengan puting berwarna pink itu, membuat si bidadari mungil semakin meradang, dan gerakannya semakin liar.
“Enaak… bangeeeth… Sssh...” Indira menceracau binal, menikmati setiap lumatan di dadanya, juga kejantanan Ava yang menohok-nohok di dalam sana.
Tak butuh waktu lama bagi Indira yang tengah dimabuk birahi untuk mencapai puncak kenikmatannya. Sekejap saja, sekujur tubuhnya mendadak menegang, dan bibir mungilnya mengap-menggap seperti kehabisan udara. Indira mendesis erotis, mendesah penuh gairah. “Ava… aku sudah mau… aah… aah… aaa…” Tubuh Indira bergerak ritmis, bergetar kencang, dengan pinggul yang menghentak-hentak ke arah kejantanan Ava. Hentakan terakhir diamini oleh lenguhan tanpa suara, dan cairan yang menyembur kencang membasahi kejantanan Ava.
Indira terkulai lemas, tergeletak di lantai bilik mandi dengan mata memejam dada yang naik turun, namun ia menyadari bahwa kejantanan Ava masih tegak dan bergerak-gerak di dalam sana.
“Hah… hh… hh… Ava… ah… hh… kamu… belum ya…?”
Ava tersenyum kecil, sambil terus memompa perlahan. Indira tersenyum lemah, membalas senyum Ava. Sekujur tulangnya terasa copot, kehilangan tenaga. Dia hanya bisa pasrah, saat tubuhnya dibalik perlahan, hingga Indira berlutut dan menungging.
“Uuuh…” Indira melenguh tertahan saat kejantanan Ava kembali membelah kewanitaannya yang basah, dan pemuda itu kembali memompa tubuh telanjangnya dalam posisi doggy style.
“Uuuuh… oooh… Ava… kamu… kuat… bangeth… siiih…” Indira kembali memejam dan menikmati kejantanan Ava yang masuk keluar, menggesek liar di dinding kewanitaannya yang banjir.
“Ng-nggak tahu… uhh... umh…” Ava sibuk memegangi pinggul Indira yang mantap, dan terus menghentak tubuh ranum di hadapannya. Kejantanannya terasa geli dan ngilu, namun ada sedikit perasaan mati rasa, mungkin karena orgasme pertamanya saat di-oral tadi. Ava tidak ambil peduli, ia hanya terus memompa ke dalam tubuh Indira yang tak henti berkelojotan.
“Shhh… ooouhh…. Ssssh…” Indira mendesis heboh, dibiarkannya Ava meremas-remas payudaraya dari belakang, sambil menciumi lehernya. Sengaja ditunggingkan pantatnya lagi, agar kejantanan Ava pas menggeseki tepat di atas g-spot nya.
“UUUUH… MMMMH…” Indira semakin meracau di bawah guyuran hujan, kewanitaan Indira sudah berkedut-kedut, dan ia tahu tak seberapa lama lagi dirinya akan mencapai puncak.
Hujan semakin mederu deras, dan ditimpali erangan dan desisan erotis Indira yang berkumandang penuh gairah. Indira memejam-mejam, berusaha menghayati puncaknya yang hampir tiba.
“Ava... a-aku… nyampee… lagi… ssssh...” Indira berkata terbata, dengan nafas yang tersengal. Sedetik kemudian tubuhnya menggigil nikmat, dan kewanitaannya kembali menyemburkan cairan cinta, kali ini lebih banyak dari sebelumnya hingga meleleh di buah zakar dan paha Ava.
“Sssssssh… Uuuuoooooh…” Indira mendesis, menikmati setiap desir orgasme, tubuhnya serasa remuk, tengkurap di lantai bilik mandi, namun Ava terus memompa dari belakang, menindih dan tak henti mencumbunya.
“Ummh… uh… uh…” Dinding kewanitaan Indira yang berkedut hebat, seperti menghisap sekujur tubuh Ava ke dalam pusaran kenikmatan tiada tara, paduan rasa ngilu serta geli yang datang menyeruak membuat dirinya tidak bisa bertahan lebih lama lagi. “Indira… aku sudah mau… nih…”
“Uuh… hh… hh…” Indira tak menyahut, bibirnya megap-megap keenakan.
“Keluarin di manaaaah?”
“Ke-keluarin di… dalam… aja… umph... ah…. Aaa…” Indira berkata, sambil mengkontraksikan dinding kewanitaannya.
“Indira! J-jangan.. nanti… ooooh…” Ava mengerang, karena kewanitaan Indira seperti mencoba melahap kejantanannya.
“Enggak apa… aah… aaah…” Indira semakin kencang mengkontraksikan otot-otot kegelnya, membuat Ava melenguh tertahan, dan pinggulnya sontak menegang, menghentak ke dalam tubuh Indira, memancarkan cairan cinta yang memenuhi tubuh Sang Bidadari.
Tubuh Ava menindih, menghenyak tubuh Indira di lantai bilik mandi. Sementara hujan menderu deras, membasahi sepasang tubuh telanjang yang terengah, menikmati sisa puncak kenikmatan sambil saling belai, saling kecup lembut diiringi ribuan butir air yang turun dari langit.

***

Fragmen 44
Kenangan Terakhir

Beberapa puluh kilometer dari tempat itu, langit masih mendung, namun hujan belum juga turun. Awan yang berwarna kelabu memayungi perkampungan Muslim terbesar di Kota Denpasar, dusun padat yang bernama Wanasari, atau lebih dikenal dengan nama Kampung Jawa.
Seorang pria kurus berambut gimbal berjalan cepat-cepat, menghindari rintik gerimis yang mulai turun di gang kecil di sepanjang kampung yang nampak padat, rapat.
“Bob!” Sheena melambai dari lantai dua sebuah rumah, membuat Bob menghela nafas lega dan menghampirinya.
“Kampret, nemu juga alamatnya.” Bob mengomel, sambil menyerahkan bungkusan berisi nasi bungkus ke arah Sheena. “Lagian buat apa sih pindah? Kayaknya lu udah Pewe di Ubud, jadi murid pelukis terkenal, dan…”
“Gue nggak bisa ngerepotin mereka lebih banyak, Bob.” Dan mengganggu kebahagiaan Indira.
Bob hanya bisa memperhatikan wajah Sheena, mengusap dada melihat hidup sahabatnya yang kacau. Sheena cuma nyengir pahit, meletakkan bungkusan nasi di atas meja kecil dengan berbagai macam barang.
“Hah, ini kan?’ Bob tersentak ketika melihat benda kecil, tergeletak di dekat situ.
“Bob! A-apa sih!” Sheena cepat-cepat merebut silinder plastik berisi roll film dari tangan Bob.
“Jangan bilang ini roll film yang waktu itu.”
Sheena tidak menyahut, hanya menggenggam benda kecil itu, erat.
“Jadi bener, itu roll film yang itu?” Bob terkekeh, “Gue kira roll itu udah lu cuci cetak.”
Sheena memainkan tabung plastik itu di ujung jarinya. “Awan nakal ya, Bob. Dia bilang kameranya nggak ada filmnya.” Sheena berkata pelan.
Sheena kembali teringat saat dirinya dan sahabatnya yang sudah tiada, di Sekretariat Klub Jurnalistik. Awan mengutak-atik kamera dan sesekali memotret-motret Sheena. Lampu blitz berkilat-kilat di wajah Sheena yang sedang sibuk menggambar komik untuk majalah sekolah.
“Ih, Awan! Apaan sih!”
“Ye, geer! Gak ada film-nya ini! Cuma ngetes fokus kameranya Bli Suar!”
“Hehe…”
“Cocok!” guman Awan.
“Cocok napa?”
“Cocok jadi model! Gantiin Kak Luna.”
“Ngejek YAH!”
“Eh, serius nih!” Awan mendekat, melepas kacamata Sheena. “Nah, gini kan cakep…” kata Awan sambil memperhatikan wajah Sheena yang sangat manis.
Sheena tersipu sambil memainkan rambutnya. “Awan, kamu serius aku cocok jadi model?”
“Dua rius! Kamu lebih natural dari Kak Luna!”
Sheena remaja terkikik.
“Kenapa?”
“Kayaknya mimpinya ketinggian deh.”
“Lho, apa salahnya punya mimpi?”
Sheena Remaja berbinar-binar menyaksikan Awan yang terus mengabadikan senyumnya.
Sheena menatap tabung kecil itu lekat-lekat, kenangan terakhir dari sahabatnya. “Ternyata kamera itu ada isi-nya…”
Bob terkekeh, “Dia memang gitu orangnya… cuci cetak, lah! Gue pengin lihat lu pas SMA, rambut potong model bob, pakai kacamata.” Bob tergelak sebelum ditonjok Sheena.
“Belum saatnya, Bob…” Sheena menggenggam benda itu erat. “Pasti… suatu saat aku bakal cetak foto ini… kalau sudah menemukan tukang cuci cetak yang tepat.”
Sheena tak tahu kenapa dirinya tiba-tiba memandangi langit yang mendung, dan hujan yang tak henti menetes.
Ava, kamu adalah orang yang bisa membuat kembali bermimpi, buat aku bisa melangkah lagi...
Tapi kupikir, kamu bukan buat aku...
Indira jauh lebih memerlukanmu dari pada aku...

***

Ava tidak tahu kenapa pagi ini tiba-tiba dirinya memandangi langit yang mendung, dan hujan yang tak henti menetes dari balik pohon pinus. Langit dan hujan, entah kenapa pemandangan ini nampak begitu familiar, membuat jiwanya tenang sekaligus diliputi perasaan rindu yang ia tidak tahu muasalnya. Mendadak, Jiwa seniman Ava bangkit tiba-tiba, dan ia segera mengambil sketch book dari dalam ranselnya dan mulai melukis di bale-bale.
Sebuah lipatan kertas yang disimpannya di sela halaman terjatuh tiba-tiba - sketsa yang ditinggalkan Sheena untuknya.
Hujan turun deras, mengiringi Ava yang menghela nafas, memandangi sketsa itu dan senyum Sheena yang tertinggal di atas kertas, sebelum melihat Indira berjingkat cepat menghindari hujan dari kejauhan, membawa nampan berisi kopi, yang mati-matian ditutupinya agar tak tertetesi hujan.
Cepat-cepat, Ava menyimpan kembali kenangan terakhir itu dalam lembar terdalam sketch book, sebelum tersenyum, dan menyambut Indira yang menghambur ke arahnya.
“Suamiku sayang, mama bikinkan kopi nih…” Indira berkata dengan wajah cerah dan mata yang berbinar-binar.
Ava tak menyahut, hanya membalas senyum itu dan membiarkan Indira beringsut manja ke dalam dekapannya.
Pagi ini Ava hanya bisa berharap Sheena menemukan langitnya, berharap Sheena bisa kembali tersenyum seperti senyum Indira yang merekah dalam pelukannya.
Kita semua hanya bisa berharap, dan bermimpi…

***

“Hey, kok bengong?” Bob mengernyit, melihat Sheena yang mendadak terdiam memandangi roll film di tangannya.
“E-enggak apa-apa...”
“Ah, pasti inget hutang… c’mon, kalau dilamunin hutang-hutang lu nggak bakal lunas.”
Sheena memiliki hutang pada lintah darat, naas yang dipinjaminya itu bukan lintah darat biasa. Terakhir kali kamar kost-nya diobrak-abrik oleh preman-preman penagih hutang. Dan itu pula yang menyebabkan Sheena ‘mengungsi’ selama sebulan ke tempat Pak De.
Sheena nyengir kecil, menunjuk segepok amplop yang diberikan Pak De tempo hari, “Gaji model telanjang itu mahal tauk, apalagi kaliber internasional.”
“Tapi, setelah peristiwa kemaren… apa lu pikir, mereka bakal ngelepasin lu begitu aja? Gila, punya hutang main kabur aja.” Bob berkata sambil menggaruk-garuk rambut gimbalnya.
“Terus, gue harus gimana, Bob? Kabur lagi? Gue capek terus-terusan melarikan diri…”
Sheena meletakkan roll film itu di atas meja. 10 tahun sudah Sheena melarikan diri dari masa lalu, dan Roll itu adalah penyangkalan terakhir Sheena atas masa lalu yang selalu membuntuti, mengikuti.
“Bob, siang nanti gue mau ke ‘Markas’, mau bayar hutang-hutang gue,.” Sheena menelan ludah, “Kalau misalnya ada apa-apa sama gue, tolong kasih roll itu ke Ava."
“Na, ah… lu jangan ngomong ngawur, ah...”
 Sheena tersenyum getir, segetir langit mendung yang mencurahkan beribu rintik hujan, “Hidup ini nggak lama, Bob… kita semua cuma mampir…” Sheena berkata, dan langit seketika berguruh, mengamini.

Author : Jaya S.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar