Jumat, 25 November 2016

Tutur Tinular 11



Hak cipta © Buanergis Muryono & S.Tidjab

Malam kian merayap dan embun bercampur kabut mulai meniti waktu. Di tempat lain, di sebuah rumah papan cukup besar dengan pekarangan yang sangat luas. Di dalam salah satu kamar rumah itu duduklah seorang gadis dengan rambut awut-awutan. Wajahnya kusut dan kedua tangannya mendekap perutnya yang melilit-lilit. Dari bibirnya selalu mendesiskan suara yang kurang jelas. Tampak seperti rintihan dan lolongan panjang.
Seorang laki-laki agak tua berdiri di depannya dengan dahi beranyam kerutan. Laki-laki itu menghela napas kemudian memperhatikan putrinya yang terisak-isak. "Ratih! Kalau kau terus menangis begitu, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tidak bisa menolongmu. Kau harus bicara terang-terangan pada ayahmu, Nari Ratih."
"Saya tidak apa-apa, Ayah. Saya tidak sakit."

"Kau seharian tidur di atas pembaringan dan mengeluh kepalamu pusing. Kau juga tidak mau makan dan tadi Palastri memberi tahu padaku, bahwa kau muntah-muntah di sungai ketika sedang mencuci pakaian. Apakah itu bukan penyakit?"
Laki-laki itu kembali cemas dan setengah mendelik curiga saat putrinya mendekap perutnya semakin erat. Merunduk dan merintih. Bibirnya tampak menebal karena selalu terbuka. Hidungnya merah kembang kempis seiring air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
"Ada apa dengan perutmu, Ratih?"
"Ehh, tidak... tidak apa-apa, Ayah..."
"Kok diremas-remas begitu?"
"Sssssshhh, agak mules, Ayah. Biar sajalah."
"Kok biar sajalah, bagaimana kau ini?"
"Sudah biasa, nanti juga sembuh sendiri."
"Bagaimanapun yang namanya penyakit harus diobati."
"Saya sudah minum ramuan daun-daunan, Ayah. Nanti juga sembuh."
"Hmmh, kau di rumah. Aku akan keluar sebentar."
"Ke mana, Ayah? Ini sudah malam."
"Jangan banyak bertanya, aku akan memanggil Nyi Warih!"
"Oh, jangan, Ayah. Tidak usah, nanti juga sembuh sendiri!"
Laki-laki itu tidak mempedulikan panggilan putrinya lagi. Ia segera membalikkan tubuh dan keluar dari kamar putrinya serta menutup daun pintu kamar sedikit kasar. Nari Ratih merunduk dan wajahnya memucat karena sakit dan cemas. Jantungnya menggemuruh berdetak semakin cepat. Napasnya terengah-engah karena ketakutan mulai merayap dan menjalari seluruh perasaannya.
"Ohh, bagaimana ini? Bagaimana kalau Ayah sampai tahu? Oh..." Gadis itu tidak bisa berbuat lain kecuali pasrah pada keadaan. Perlahan kembali ia berbaring dengan mendekap perutnya yang semakin mual dan melilit-lilit.
Bagaimanapun juga hati Nari Ratih tidak tenteram. Lebih-Lebih malam itu di dalam kamarnya telah hadir seorang perempuan setengah baya yang memeriksa perutnya dengan mengurut, meraba dan meniup-niupnya sambil komat-kamit menggumam membacakan mantera dari bibirnya yang tipis. Tangan perempuan tua itu dirasakan sangat lembut mengusap perut Nari Ratih. Gadis itu setengah merintih sambil memejamkan matanya. Tubuhnya menggelinjang, kedua kakinya ditekuk dan diselonjorkan lagi. Dari bibirnya selalu mendesah dan mendesis.
"Oh... Nyai Warih... sakit, Nyai."
"Hemhh, tidak apa-apa kok."
Perempuan yang masih kelihatan cantik itu kemudian bangkit setelah menyelesaikan tugasnya. Nari Ratih diselimuti selembar kain. Gadis itu mencuri pandang kepada perempuan sebaya ibunya yang dipanggilnya Nyai Warih yang berdiri di sampingnya kemudian beranjak meninggalkannya sambil berkata, '"Istirahatlah, Nduk. Hati-hati."
"Iya, Nyai Warih," jawab gadis itu sambil menghela napas dalam-dalam. Hatinya semakin berdebar-debar dan perasaannya tak menentu. Terdengar derit pintu dibuka dan ditutup dengan halus oleh perempuan itu, suaranya berderit menyayat keheningan malam.
Malam kian merayap, di luar terdengar lolong anjing liar yang kelaparan. Rekyan Wuru, orang tua Nari Ratih duduk di ruang tengah dengan sangat cemas. Ketika tahu Nyai Warih datang menghampirinya, ia pun segera bangkit dengan dahi beranyam kerutan. "Bagaimana, Nyai?" tanyanya penasaran dan sangat lirih.
"Hehhh. Bagaimana bisa terjadi begini, Rekyan Wuru?"
"Berat sakitnya, Nyai?"
"Sakit anakmu ini bisa dikatakan berat, tapi bisa pula dikatakan tidak berat. Tapi, bagaimana aku harus mengatakannya padamu, Wuru?"
"Katakan saja, Nyai. Aku sanggup membayar pengobatannya. Dia anakku satu-satunya. Aku rela berkorban apa saja demi keselamatannya."
"Hmmm. Sepanjang penglihatanku, anakmu itu jarang pergi ke luar rumah."
"Memang, Nyai. Dia anak yang baik. Paling-paling dia pergi ke luar hanya untuk mencuci pakaian di sungai. Memang sekali waktu dia minta izin ke rumah temannya. Tapi itu jarang terjadi. Ada apa, Nyai?" Rekyan Wuru semakin cemas dan mendekatkan bibirnya ke telinga perempuan cantik itu.
Nyai Warih kemudian melangkah dua tindak dan duduk di kursi yang terbuat dari kayu jati tua. Kursi itu tampak mengkilap sebab sering diduduki. Kelihatan ringan sekali perempuan itu meletakkan pantatnya yang semok. Kedua tangannya bertumpu pada pangkuannya. Menghela napas kemudian memandang ke arah Rekyan Wuru sangat tajam.
"Kalau saja anakmu sudah bersuami, hal ini justru merupakan berita yang menggembirakan."
"Nyai Warih, apa maksudmu, Nyai?" Rekyan Wuru matanya melotot dan menubruk lutut perempuan itu sambil menggoyang-goyangkannya. Lelaki tua itu benar-benar penasaran.
Nyai Warih memegang tangan Rekyan Wuru kemudian membimbingnya agar lebih tenang duduk di kursi di sampingnya. "Wuru, kau jangan terkejut. Aku terpaksa mengatakan apa adanya. Anakmu, Nari Ratih sekarang ini sudah siap memberimu seorang cucu."
Seketika Rekyan Wuru duduk melemas. Jantungnya serasa mau lepas. Otot-otot tubuhnya seperti dilolosi. Matanya berkaca-kaca. Jawaban Nyai Warih yang terus terang bagaikan sambaran petir di telinganya. Tapi dengan tiba-tiba juga ia kemudian bangkit. Kedua tangannya mengepal. Terdengar giginya gemeretak menahan geram.
"Cucu? Aku akan mempunyai cucu?" ucapnya seperti tidak percaya.
"Ya. Anakmu sedang mengandung tiga bulan lamanya."
"Mengandung? Bagaimana Nari Ratih bisa mengandung? Dia belum bersuami, Nyai. Ratiiiih! Kemari kau anak setaaann. Kubunuh kau!" lelaki itu berteriak bagai kesurupan setan.
Wajah Rekyan Wuru menjadi merah padam. Giginya semakin gemeretak. Kedua tangannya mengepal, napasnya memburu dan lelaki tua itu hendak melangkahkan kakinya menuju kamar putrinya. Bekas perwira pasukan Singasari pada zaman pemerintahan Prabu Ranggawuni itu benar-benar tidak mampu menahan emosinya, "Ratih.... Keluar kau!" teriaknya.
"Sudahlah, Wuru, jangan diapa-apakan anakmu itu. Kasihan. Dia juga sudah menderita karenanya," cegah Nyai Warih sambil memegangi pergelangan tangan lelaki tua itu dengan kedua tangannya.
Napas Rekyan Wuru terengah-engah. Ia benar-benar marah dan menahan kegeraman. "Dia sudah berani melempari mukaku dengan kotorannya! Anak setan. Ratih! Apa telingamu sudah budeg? Ayo, sini kau! Sini! Ayahmu mau melihat mukamu yang cantik tapi belepotan comberan itu! Ratiihh... sini!"
Mendengar panggilan ayahnya yang berkali-kali dan sangat keras itu, Nari Ratih menggigil sendirian di kamarnya. Ia mendekap perutnya makin erat. Perlahan ia bangkit dan membuka pintu kamarnya. Ketika melangkah keluar kamarnya, ia tidak berani mengangkat wajahnya. Lebih-lebih ketika ia tahu mata ayahnya melotot merah padam dan sangat berapi-api menahan amarah.
"Kemari kau, anak setan!"
"Oh, maafkan saya, Ayah!" suara itu nyaris tak kedengaran keluar dari bibir mungil Nari Ratih yang berjalan merunduk sambil mendekap perutnya.
Rekyan Wuru mengibaskan pegangan Nyai Warih yang sangat erat hingga perempuan itu hampir terpelanting jika tidak memegang sandaran kursi. Laki-laki tua itu melangkah cepat menghampiri putrinya. Tangan kanan laki-laki tua itu terangkat dan melayang di udara, "Ini maaf untukmu, Ratih!"
Bersamaan dengan suara tamparan yang sangat keras itu, Nari Ratih memekik dan menjerit disusul dengan isak tangis pilu. Gadis itu pun berlutut di kaki ayahnya dengan sedu-sedan mohon dikasihani dan diampuni. Rekyan Wuru napasnya terengah-engah. Dadanya terasa sesak sekali. Nyai Warih pun menggigil sambil berusaha mencegah supaya gadis itu jangan disakiti lagi. Perempuan itu kembali memegangi tangan kiri Rekyan Wuru yang hampir kalap.
"Wuru, sudahlah! Ini sudah malam. Nanti para tetangga datang kemari."
"Aku mau lihat apa ada yang berani datang ke rumahku!" Mata lelaki itu kian liar dan merah membara, melotot pada putrinya yang terisak dan merunduk di kakinya. "Ratih! Dari kecil kau kugendong-gendong, kubopong-bopong. Kalau rewel kau kunyanyikan tembang yang merdu. Kau kupelihara dengan baik. Kau kusayangi sepenuh hatiku dan sekarang seperti ini balasanmu kepada orangtua. Hiiiihh! Hiih, hihhhh!"
Kembali tangan kanan lelaki tua itu melayang dan mendarat di pipi kanan dan pipi kiri putrinya. Nari Ratih menjerit pilu. Jika Nyai Warih tidak segera menubruk dan merangkulnya pasti ayahnya sudah menghajarnya hingga babak belur. Tubuh perempuan cantik itu kini menjadi perisai, menjadi pelindung gadis yang tidak berdaya. Dalam keciutan dan kecemasan hatinya, kini ia bagai seekor anak ayam di bawah sayap induknya. Gadis itu semakin pilu menangis tersedu-sedu.
"Wuru, jangan kau apa-apakan anakmu. Kasihan, ia cukup berat menanggung beban."
"Ratih! Katakan! Siapa laki-laki itu? Siapa namanya dan di mana rumahnya! Katakan, siapa bedebah itu! Hooooh, apa dia belum tahu Rekyan Wuru? Apa laki-laki itu sudah bosan hidup? Ratih, apa kau sengaja membuatku naik darah, haaah?"
"Sudahlah, Wuru, sudahlah! Bagaimanapun juga dia anakmu sendiri. Darah dagingmu sendiri. Kau pukul sampai mati pun kalau belum terbuka hatinya, dia tak akan mau bicara."
"Kalau begitu biar kubunuh saja anak setan ini!" kembali Rekyan Wuru hendak menendang dan memukul putrinya, namun perempuan cantik yang terkenal sebagai seorang dukun bayi ini semakin erat memeluk gadis itu. Bagaimanapun juga ia sebagai wanita yang masih bisa merasakan masalah seperti itu. Ia adalah ayam betina, ayam induk yang harus mampu melindungi anak-anaknya dari serangan elang buas.
Perempuan itu melirik Rekyan Wuru yang masih melotot. Mata Rekyan Wuru merah karena benar-benar sangat marah dan tidak sabar lagi menerima kenyataan yang dialami anak gadisnya. "Jangan, Wuru! Jangan begitu! Kalau dia mati, siapa yang kehilangan?" cegah Nyai Warih saat laki-laki tua itu hendak menjambak rambut Nari Ratih.
"Kalau dia tak mau buka mulut, bagaimana persoalan ini bisa selesai, Nyai!"
"Masih bisa dicari cara yang lain, Wuru. Jangan menuruti panasnya hati. Salah-salah anak sendiri menjadi korban." Nyai Warih semakin erat memeluk Nari Ratih.
Rekyan Wuru membalikkan badannya sambil memelintir kumisnya. Mengelus janggutnya dan melenguh panjang seperti sapi jantan lepas dari talinya.
"Nduk, Ratih! Sudahlah. Lebih baik kau masuk ke dalam. Kau tampak lelah sekali, lebih baik kau tidur saja. Tidurlah, Nduk. Urusan ini biar ayahmu yang menyelesaikan."
Sementara waktu mereka saling diam. Hanya isak pilu gadis itu terdengar mengiba. Rekyan Wuru berusaha mengendalikan dirinya. Namun masih juga jengkel melihat putrinya yang tidak mau menjawab semua pertanyaannya. Ia melangkah beberapa tindak sambil memandang putrinya. Kali ini pandangannya agak meredup. "Kalau kau tetap membisu seperti itu, masalahmu tidak akan selesai!" kesal dan perih sekali suara lelaki tua itu.
Nyai Warih bangkit seraya memapah Nari Ratih dan diajaknya ke dalam kamar. Dibiarkannya gadis itu duduk di sisi pembaringan sambil mengeringkan air matanya. Perempuan cantik itu membelai rambut gadis itu kemudian merunduk dan mencium pipi kanan Nari Ratih penuh kasih sayang.
"Tidurlah, Nduk! Kau harus banyak istirahat," bisiknya lirih.
Nari Ratih hanya mengangguk kemudian menghela napas penuh penyesalan dengan apa yang dilakukannya.
Perempuan itu kembali ke ruang tengah di mana Rekyan Wuru duduk gelisah. Kali ini matanyau menjadi terbelalak dan melotot besar. Jantungnya berdetak lebih cepat ketika melihat di pangkuan lelaki tua itu terdapat sebilah pedang. Melihat gelagat yang kurang baik itu ia tidak berani berkata apa-apa saat lelaki tua itu menoleh kepadanya sambil bangkit dan menimang-nimang benda tajam itu.
"Kalau dia tidak mau mengaku siapa laki-laki yang telah mencemarkan kesuciannya itu. Kukira tidak ada jalan keluar, Nyai."
"Coba sekarang kau ingat-ingat lagi. Siapa kira-kira pemuda desa ini yang pernah akrab dengan anakmu."
"Ratih itu masih perawan kencur, Nyai. Belum pengalaman. Pengetahuannya tidak lebih luas dari pekarangan rumahnya sendiri. Dia keluar rumah hanya kalau mencuci pakaian di sungai. Itu pun tidak lama dan pasti ada kawannya gadis yang lain "
"Kalau begitu kau kurang awas, Wuru. Aku saja yang bukan tetangga dekatmu pernah mencium berita dari mereka, orang-orang desa. Bahkan aku pernah melihat pemuda itu menghampiri anakmu, lalu mereka bercakap-cakap sampai lama."
"Siapa pemuda itu, Nyai? Mengapa orang-orang tidak ada yang memberi tahu padaku?"
"Barangkali mereka sudah tahu watakmu dan merasa sungkan untuk menyampaikannya padamu, Wuru."
"Siapa orang itu, Nyai? Apakah warga desa Manguntur atau pemuda dari desa lain?"
"Anak Manguntur juga."
"Siapa namanya?"
"Dangdi."
Mendengar jawaban Nyai Warih, seketika Rekyan Wuru seperti sadar dari lamunan panjang. Kepalanya ditarik ke belakang dengan mata melotot. Dihempaskannya napasnya kuat-kuat hingga terdengar kasar sekali dengusnya. Gagang pedang dirabanya perlahan sambil tetap melotot memandang ke arah perempuan cantik di depannya. Kemudian berpaling lagi memandang ke ujung malam melalui pintu rumahnya yang tidak ditutup. Laki-laki tua itu melangkah beberapa tindak dengan dada mengguruh.
"Dangdi? Maksudmu..."
"Ya, Dangdi anak Suraprabawa, Kepala Desa Manguntur," jawab Nyai Warih yang membuat darah Rekyan Wuru kembali menggelegak.
Kemarahan Rekyan Wuru sudah memuncak sampai ke ubun-ubun kepalanya. Dicabutnya pedang itu hingga terdengar bunyi berdencing. Sambil tersenyum menyeringai geram lelaki tua itu menimang-nimang senjata tajam yang berkilat-kilat tertimpa cahaya pelita. Nyai Warih sampai bergidik melihatnya, namun ia cepat mendekati Rekyan Wuru.
“Apa yang bisa kulakukan untuk meredakan kemaranmu, Wuru? Kau jangan bertindak gegabah.” katanya.
Rekyan Wuru mendelik menatap tubuh Nyai Warih yang kelihatan putih dan montok. Kecantikan perempuan itu seperti sanggup menyiram hatinya yang panas. Meski sedikit gemuk tapi kulit perempuan itu kelihatan kencang. Dengan hanya memakai kain kebaya sebatas dada, payudaranya yang besar jadi kelihatan menantang. Begitu juga dengan bokongnya yang bergoyang-goyang indah saat ia berjalan. Semuanya sungguh menggiurkan dan sanggup mengundang lirikan mata lelaki.
"Bagaimana? Sebaiknya kau simpan lagi pedangmu dan biarkan aku menghiburmu," Nyai Warih mengulurkan tangannya dan tentu saja disambut dengan hangat oleh Rekyan Wuru.
"Tapi ini masalah gawat, Nyai," laki-laki itu menggeram.
"Iya, aku tahu. Tapi untuk sekarang, aku lebih suka kau mengeluarkan pedangmu yang lain daripada pedang yang itu." katanya menggoda.
Dada Rekyan Wuru kontan berdesir. Pedang yang lain? "Hmm... maksud nyai, pedang yang ujungnya tumpul?" Kepalang basah, ia balas godaan perempuan cantik itu.
Nyai Warih tersenyum dan mengangguk. “Yang kalau dipake buat nusuk, bukannya sakit tapi malah enak.” Ia menggandeng tangan Rekyan Wuru masuk ke dalam kamar. Pantatnya kelihatan besar dan padat di balik kain batik yang ia kenakan.
Rekyan Wuru mengikuti tanpa membantah. "Mimpi apa aku semalam, sampai bisa tidur sama Nyai?" katanya berbisik sambil tersenyum.
“Ini bukan mimpi, Wuru. Ini kenyataan.” Nyai Warih memalingkan mukanya, berpura-pura malu ketika telapak tangan lelaki itu mulai mengusap lengannya.
Yakin pintu sudah terkunci, Rekyan Wuru segera memeluk perempuan itu. Bibirnya mencari, menyapu bibir tipis Nyai Warih yang terasa tipis dan lembut. Perempuan itu membalasnya, hingga membuat Rekyan Wuru melumat semakin rakus. Dan lama-kelamaan ciuman itu berubah menjadi hisapan ganas.
Lidahnya dengan liar mendorong lidah Nyai Warih untuk menelusuri langit-langit mulut perempuan itu. Nyai Warih membalasnya, mendorong lidah Rekyan Wuru, sambil sesekali menyedot-nyedot bibirnya. Hmm, lihai juga perempuan itu dalam berciuman. Kadang kepalanya dimiringkan sehingga keduanya bisa saling menghisap, menimbulkan suara kecipak yang semakin keras terdengar.
"Lepas bajumu dulu, Wuru!" dia menyuruh.
Rekyan Wuru segera melepas baju, celana panjang dan sekaligus juga kain cawetnya dalam sekali gerakan. Dadanya yang masih bidang dan berbulu lebat membuat Nyai Warih berdecak kagum. Apalagi saat menatap kejantanan laki-laki itu yang nampak mencuat kaku dan teracung-acung  lurus ke depan agak sedikit ke atas.
Kepala penis Rekyan Wuru kelihatan kemerahan dan mengkilat karena dari lubangnya sudah mulai keluar cairan bening agak kental dan lengket. Nyai Warih mengusap lubang kejantanan itu dengan ibu jarinya dan diratakannya cairan bening yang keluar tadi di atas kepala sehingga kini semakin mengkilatlah ujung kejantanan Rekyan Wuru. Berikutnya diusap-usapnya kepala penis itu sampai membesar maksimal.
Nyai Warih melepaskan pelukannya. Dengan gerakan pelan dan gemulai ia melepas kebaya, kemben, paling akhir adalah celana dalamnya. Dalam keadaan bugil, tubuhnya yang montok kelihatan indah; hanya ada sedikit lemak di bagian perutnya yang langsing. Gunung kembarnya dengan puncaknya yang kemerahan terlihat menggantung bebas, besar sekali.
"Kita ke ranjang, Wuru." Nyai Warih berkata lirih.
Rekyan Wuru langsung menyergap perempuan itu dan mengulum bibirnya, Nyai Warih membalas dengan sangat liar. Dengan penis semakin tegak dan terasa lebih keras dari biasanya, Rekyan Wuru kemudian berbaring di ranjang dan Nyai Warih merangkak di atasnya. Dia menyodorkan dadanya ke mulut Rekyan Wuru yang langsung dihisap dan dijilati dengan begiru rakus. Sementara itu Nyai Warih menggeserkan tangannya ke bawah untuk memijit dan menarik-narik batang kejantanan Rekyan Wuru dengan lembut.
Sekali waktu dia menarik dengan cukup keras, hingga membuat lelaki itu memekik. "Ouuw.. sakit, Nyai."
"Aku gemas melihat tombakmu!" desah Nyai Warih.
Dia membiarkan Rekyan Wuru terus meremas dan menghisapi kedua putingnya secara bergantian. Sampai kemudian perempuan itu mulai menjilati tubuh tua Rekyan Wuru; berawal dari leher hingga perlahan-lahan turun ke bawah dan berhenti di sekitar paha. Disitulah Nyai Warih menjilati biji zakar Rekyan Wuru bertubi-tubi.
"Agh.. ugh.. ouhh.. enak, Nyai.. ugh..!!" desah laki-laki itu.
Nyai Warih menggigit paha bagian dalam, seolah-olah mengingatkan Rekyan Wuru bahwa ini bukanlah sekedar mimpi, tetapi kenyataan yang benar-benar terjadi. Perempuan itu terus melanjutkan aksinya, kini dia jongkok di atas paha Rekyan Wuru.
Tangannya meremas-remas kejantanan laki-laki tua itu dan menggoyangkannya sebentar. Digesekkannya kepala kejantanan itu pada bibir kewanitaannya, kemudian ia menurunkan pantat. Kepala kejantanan Rekyan Wuru sudah tertelan dalam celah sempit itu, terasa begitu basah dan berair. Dengan pelan Nyai Warih menggerakkan pantatnya naik-turun sambil memutar-mutarnya perlahan hingga kejantanan Rekyan Wuru terasa ngilu dibuatnya.
"Ahh.. enak, Nyai!” desah laki-laki itu saat merasakan penisnya bagai dihimpit oleh benda hangat, basah, dan berdenyut cepat. Sebuah sensasi kenikmatan yang sangat luar biasa.
"Agh.. auw.. punyamu juga nikmat sekali, Wuru!!" rintih Nyai Warih terbata-bata.
Ia mulai menggerakkan pinggulnya memutar berlawanan arah dengan jarum jam. Dibenamkannya kejantanan Rekyan Wuru dalam-dalam, bahkan sampai terasa tidak bisa masuk lebih dalam lagi, dan perempuan itu menjerit, “Auw.. gedenya punyamu, Wuru. Panjang, aku suka!”
Dibiarkannya tangan Rekyan Wuru memainkan putingnya yang menonjol indah, sambil sesekali juga menjilat dan menghisapnya rakus. Nyai Warih hanya bisa menggigit bibir menahan rangsangan. Dia terus menggoyangkan pinggulnya dengan teratur dan makin lama menjadi semakin cepat.
"Ouhh.. agh.. ugh.. Ooh.. !!" desis perempuan itu terdengar berulang-ulang.
Rekyan Wuru berusaha mengimbangi dengan menusukkan penisnya kuat-kuat, semakin dalam dan semakin kencang, sampai akhirnya.. "Nyai, aku.. mau keluar.. ouwh!!" Merasakan jepitan kewanitaan Nyai Warih yang semakin keras dan kuat membuat laki-laki itu menjerit tak tahan.
Nyai Warih terus mempercepat gerakannya, karena ia sendiri mulai merasakan sesuatu akan terjadi pada tubuhnya. "Ouhh, Wuru.. aku juga.."
"Nyai.. aku," Rekyan Wuru memberontak.
Keduanya tahu kalau sebentar lagi akan mencapai puncak secara bersama-sama. Dan benar saja, beberapa detik kemudian cairan kental menyemprot beberapa kali keluar dari kemaluan Rekyan Wuru. Nyai Warih pun menekankan pantat seksinya sekeras mungkin ke arah selangkangan laki-laki tua itu hingga belahan bokongnya menekan biji pelir Rekyan Wuru sampai sakit. Laki-laki itu tak kuasa untuk membela diri karena lebih sibuk berkonsentrasi pada semprotannya yang begitu kuat dan banyak, bahkan sebagian sampai keluar dari rongga kewanitaan Nyai Warih.
Setelah membersihkan diri, keduanya saling berpelukan. Rekyan Wuru masih menikmati sisa-sisa kenikmatannya tadi dalam keadaan telanjang bulat, hanya ditutup dengan kain sarung. Napasnya mulai normal dan keringatnya sudah mengering. Sedangkan Nyai Warih sudah berpakaian lengkap.
"Wuru, aku pulang dulu," pamitnya sambil melangkah pergi.
Rekyan Wuru memeluknya untuk yang terakhir kali dan mencium bibir perempuan itu mesra. “Terima kasih, Nyai.”
Nyai Warih menggerinjal saat Rekyan Wuru meremas dadanya dengan lembut. “Ingat pesanku, jangan bertindak gegabah.”
Rekyan Wuru mengangguk gugup lalu ia pun segera mengantarkan perempuan cantik itu ke depan rumah. Nyai Warih pulang dengan dijemput oleh anaknya.

***

Pagi-pagi buta tampak seorang lelaki tua berjalan setengah berlari. Pada pinggangnya terselip sebilah pedang. Napasnya terengah-engah. Wajahnya tampak sangat tegang. Kakinya yang telanjang menggugurkan embun-embun pagi di pucuk-pucuk rumput. Lumpur tanah merah pun banyak yang melekat di sela-sela jari kaki dan tumitnya yang kasar. Sinar matahari masih malu-malu di ufuk timur, hanya semburat cahayanya meraba punggung bumi yang masih berhias selimut kabut.
Laki-laki tua itu menuju suatu tempat. Langkahnya yang tegar itu akhirnya berhenti di balik pagar beluntas yang mengelilingi pendapa. Bangunan itu terdiri dari tiga bangunan utama yang semuanya berbentuk joglo dan beratap sirap. Lantainya terbuat dari papan-papan kayu jati yang sudah dihaluskan. Laki-laki tua itu matanya berkilat-kilat dan berwarna merah karena amarah dan kurang tidur semalam.
Pada sudut kedua matanya tampak belobok, tahi mata yang tidak sempat dibersihkan. Napasnya semakin memburu dan terdengar dengus kasar sekali. Kedua tangannya berkacak pinggang dan kedua kakinya memasang kuda-kuda.
"Hai, Suraprabawa! Keluar dari rumahmu! Suraprabawa, jangan merasa dirimu menjadi Kepala Desa Manguntur lalu kau mau berbuat semena-mena terhadap keluargaku! Hayo, keluar kau Suraprabawa! Ini aku Rekyan Wuru mau bicara denganmu!"
Mendengar suara berteriak dari halaman rumahnya maka orang yang dipanggil namanya itu melongokkan kepala dari balik pintu dengan langkah tergopoh-gopoh. Wajahnya tampak kuyu, matanya masih enggan terbuka karena masih terdapat sisa-sisa ngantuk, "Siapa itu yang berteriak-teriak di pagi buta begini?"
"Aku! Bukalah matamu lebar-lebar, Suraprabawa, dan lihat siapa yang berteriak-teriak di halaman rumahmu." Rekyan Wuru semakin memelototkan matanya. Ia melangkah beberapa tindak ketika melihat Ki Suraprabawa melangkah ke halaman dengan mengerutkan dahinya karena tidak mengerti apa yang dikehendaki tamunya.
"Ohh, kiranya Rekyan Wuru yang datang," sapanya lirih dan terus mendekati tamunya.
"Yah, aku mau bicara denganmu, Suraprabawa. Aku mau bicara sebagaimana seorang laki-laki berbicara."
"Ada persoalan apa, Rekyan Wuru?"
"Suraprabawa! Kalau kau tidak mampu menghajar anakmu yang berandalan itu, serahkanlah padaku! Biar kubuat dia mengerti bertingkah laku yang baik."
"Ada apa dengan anakku?"
"Dangdi, anak laki-lakimu itu, sudah berani menepak mukaku. Anakmu sudah berani mencoreng wajahku."
"Tenanglah, Rekyan Wuru! Mari kita bicarakan secara baik. Mari, masuklah ke dalam!" ajak Ki Suraprabawa bersabar, namun Rekyan Wuru justru tampak semakin gusar dan mendenguskan napas seperti banteng terluka.
"Tidak! Kita rampungkan di sini saja."
"Seorang tamu yang baik tentu akan mau dipersilakan masuk ke dalam rumah."
"Aku bukan bertamu."
"Lalu apa keperluanmu?"
"Aku mau menuntut hakku! Aku mau membuat perhitungan denganmu." Rekyan Wuru menggeram dan mendelik. Tangan kanannya tidak sabar ketika mencabut pedang. Suara berdencing saat benda tajam itu keluar dari wrangkanya. Mata pedang itu berkilat-kilat.
Melihat gelagat yang kurang baik itu, Ki Suraprabawa mundur dua tindak karena terkejut. "Rekyan Wuru! Mengapa kau mencabut pedangmu?"
"Anakmu sudah menghina keluargaku dan itu berarti kau menghina aku. Kalau aku mencabut pedang, itu pertanda bahwa harga diriku tidak terima."
"Huuu, kalau kau bisa sesumbar dengan pedangmu itu, aku pun bisa melakukan hal yang sama!" jawab Ki Suraprabawa sedikit meninggi sambil perlahan tangan kanannya meraba gagang pedang yang terselip di pinggangnya. Perlahan sekali pedang itu dicabut dari wrangkanya. Benda tajam itu terhunus nyaris tanpa mengeluarkan suara.
Ki Suraprabawa tersenyum dingin, disambut dengan tawa bernada olokan Rekyan Wuru yang semakin memperkukuh kuda-kudanya. Ki Suraprabawa pun melakukan hal yang sama. "Selama menjadi Kepala Desa Manguntur, baru kali ini aku menyambut tamuku dengan cara yang sangat tidak ramah. Tapi semua itu karena kau memaksa aku, Rekyan Wuru. Nah, apa maumu sekarang?"
"Bagus! Rupanya kau orang tua yang punya tanggung jawab juga. Nah, sekarang kita selesaikan perkara ini secara jantan."
"Aku belum tahu perkara apa yang kau maksudkan, Rekyan Wuru. Tapi kalau kau menggunakan pedangmu itu untuk menyerangku, maka dengan terpaksa aku mempertahankan diri."
Kedua lelaki tua itu semakin erat memegang pedang masing-masing. Kaki kanan Rekyan Wuru maju selangkah. Napasnya mendengus. Tangan kanannya tampak gemetar mencengkeram gagang pedang. Sebaliknya, Ki Suraprabawa berusaha tenang sambil berjaga-jaga penuh. Perlahan menghirup udara pagi dan menyimpan di perut seiring memantapkan posisi kuda-kudanya.
Pada saat itulah Rekyan Wuru tiba-tiba menyerang, melompat dan menebaskan pedangnya ke kanan dan ke kiri. Menghunjam, menusuk dan mencecar ke arah Kepala Desa Manguntur. Ki Suraprabawa berusaha menangkis dengan pedangnya, maka terjadilah perkelahian sengit di pagi buta itu. Denting pedang dan suara ribut-ribut itu mengundang perhatian penduduk di sekitar tempat itu. Mereka berusaha menghentikan keributan itu.
Dua laki-laki tinggi besar menubruk dan mendekap Rekyan Wuru agar tidak menyerang Ki Suraprabawa. Laki-laki tua itu tak berkutik dalam dekapan dua orang tinggi besar yang berusaha menyabarkannya. Rekyan Wuru meronta dan berusaha melepaskan diri. Napasnya terengah-engah memburu. Butir-butir keringat telah membasahi dahi, hidung dan seluruh tubuhnya. Matanya mendelik dan merah. Akhirnya, ia pasrah pada para tetua yang melerainya.
Ki Suraprabawa mengusap lengannya yang tergores oleh pedang Rekyan Wuru. Ia berusaha tenang dan bersabar. Berkali-kali ia menggeleng-gelengkan kepala setelah menyarungkan kembali pedangnya. Ia mengelus kumis dan janggutnya sambil menghela napas, kemudian mengurut dadanya yang masih tampak tersisa bekas-bekas seorang yang memiliki ilmu bela diri. Gempal dan padat di balik kulitnya yang mulai mengendur.
"Ayo Suraprabawa, suruh pergi orang-orangmu ini! Kita lanjutkan pertarungan ini sampai salah seorang di antara kita menjadi bangkai!" tantang Rekyan Wuru sekalipun ia dipegangi beberapa orang.
Pada saat itulah tampak seorang pemuda lari tergopoh-gopoh mendekati tempat keributan. Pemuda itu masih kuyu dan matanya merah oleh sisa-sisa kantuknya. Berkali-kali ia menggosok-gosokkan punggung tangannya ke pelupuk matanya yang terasa gatal dan tebal. Sisa-sisa tahi mata tampak mengering di sudut-sudut matanya. Pemuda itu semakin mendekat dan ia terkejut sekali menyaksikan apa yang ada di depan matanya. Pemuda itu memperhatikan ayahnya dari ujung kaki sampai ke ujung rambut. Tampak darah segar menghiasi lengan kiri ayahnya.
"Ayah, ada apa? Mengapa berkelahi dengan Paman Wuru?"
"Heh, kaukah yang bernama Dangdi?" seru Rekyan Wuru beringas dan berusaha melepaskan diri, namun usahanya sia-sia.
Dangdi tidak berani mendekat. Matanya seperti kanak-kanak karena cemas mendengar seruan lelaki tua itu. "Eh, ya. Benar, Paman. Saya Dangdi."
"Kau harus kubuat babak belur, anak setan!"
"Eh, tunggu! Tunggu!" Dangdi tampak gugup. Ayahnya mendera dengan tangan kanan hingga pemuda itu berada di belakangnya.
Ki Suraprabawa menatap tajam ke arah Rekyan Wuru yang berusaha melepaskan diri dari orang-orang yang memeganginya. "Rekyan Wuru! Kalau kau sentuh anakku sebelum persoalannya kau jelaskan, urusan ini akan menjadi panjang! Aku Kepala Desa! Aku bisa menuduhmu mengacau Desa Manguntur dan melaporkannya pada Pemerintah Singasari."
"Sebenarnya ada persoalan apa, Ayah?"
"Dia menuduhmu telah mencoreng mukanya. Entah apa maksudnya, aku tidak tahu."
"Dangdi! Terus terang saja, supaya perkara ini tidak berlarut-larut. Apa yang telah kau lakukan pada anakku, Nari Ratih?"
Pemuda itu mengerutkan dahi, memandang ayahnya kemudian beralih pada Rekyan Wuru. Menggigit bibirnya sendiri sambil berusaha keras meraba-raba apa sebetulnya yang dikehendaki orang tua Nari Ratih. "Apa yang telah saya lakukan? Rasanya saya tidak pernah melakukan..."
"Kau telah merusak kesuciannya! Kau telah menodai anakku!"
"Oh, tidak! Saya tidak pernah melakukannya!"
"Banyak orang melihat kau berusaha mendekati anakku. Jangan mangkir kau, Dangdi."
"Benar. Saya memang berusaha mendekati Nari Ratih, tapi putri Paman wuru tidak pernah menanggapinya. Setelah itu saya pun tidak mau mendekatinya lagi."
"Dusta!"
"Tidak. Saya tidak berdusta. Banyak saksinya bahwa saya tidak pernah lagi menggoda Nari Ratih."
"Dangdi! Berilah kesaksian yang benar! Akuilah kalau memang itu perbuatanmu!" sela Ki Suraprabawa dalam dan bijaksana.
"Sungguh, Ayah. Saya tidak melakukannya."
"Kalau kau berani berdusta, kupotong lidahmu. Aku tidak peduli walau kau anakku sendiri."
"Saya tidak melakukannya, Ayah. Tapi rasanya saya tahu siapa pemuda yang tidak sopan itu. Pemuda yang berbuat tidak senonoh pada Nari Ratih."
"Siapa, katakan cepat!" bentak Rekyan Wuru tak sabar sambil meronta ingin melepaskan diri tetapi kedua pangkal lengannya tetap dipegangi orang-orang di kanan kirinya.
"Dia bukan anak desa Manguntur."
"Iya, siapa namanya dan di mana dia tinggal?" bentak Rekyan Wuru.
"Dia anak desa Kurawan. Namanya Arya Kamandanu."
Serentak orang-orang yang mendengarkan peristiwa itu bergumam dan manggut-manggut. Perlahan-lahan kedua lelaki tinggi besar yang memegangi Rekyan Wuru merenggangkan pegangannya kemudian melepaskan lelaki tua itu. Rekyan Wuru menghela napas dan dengan cepat menyarungkan pedangnya. Mukanya merah padam menahan marah. Ia menatap tajam pada Dangdi yang berdiri di samping ayahnya.
Ki Suraprabawa memelototi putranya dengan rasa kesal, "Maksudmu anak Mpu Hanggareksa?"
"Ya, Ayah. Pasti dialah orangnya."
"Nah, bagaimana, Rekyan Wuru?" tanya Ki Suraprabawa dengan nada dingin sekali.
Rekyan Wuru mendengus dan melangkah beberapa tindak sambil menatap tajam ke arah Dangdi. "Dangdi! Awas kalau kau berkata tidak benar! Aku akan kembali lagi ke sini!"
"Kalau Dangdi berani berdusta, aku sendiri yang akan membereskannya," tukas Ki Suraprabawa tegas sambil menatap putranya.
"Baiklah, aku minta maaf, Suraprabawa. Aku telah membuat keributan di pagi buta ini," lirih kata itu terucap dari bibir Rekyan Wuru yang bergetar.
"Tidak apa, Rekyan Wuru. Ini hanya kesalahpahaman biasa. Aku bisa memaklumi perasaanmu. Kalau kau membutuhkan sesuatu yang menyangkut diri putrimu, katakanlah. Aku sebagai Kepala Desa Manguntur akan membantumu."
"Terima kasih. Nah, aku pergi dulu." Lelaki tua itu dengan perasaan malu karena telah bertindak gegabah segera bergegas meninggalkan desa Manguntur. Hatinya terasa panas, mukanya merah padam karena semua orang memandanginya dengan pandangan dingin dan mencemooh. Ia berlalu tanpa menoleh ke belakang. Dengan napas terengah-engah akibat usia tuanya, Rekyan Wuru terus melangkah setengah berlari menuju desa Kurawan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar