Selasa, 08 November 2016

Wanita Lain Ayah 5


Aku terbangun pukul sepuluh dan segera turun ke bawah untuk minum segelas air putih. Kulihat Tante sedang bersiap untuk mandi.
Aku langsung terhenyak melihat Tante yang hanya mengenakan kain batik yang dililitkan menutupi dari dada sampai ke lututnya. Apalagi kondisiku yang juga hanya mengenakan handuk menutupi bawah perut sampai ke lutut. Birahiku langsung naik. Penisku langsung menjadi tegak hingga berjendol sangat jelas di balik handuk yang kukenakan.
“Mau mandi, Ar?” tanya Tante. Sepertinya dia menyadari keberadaanku.
“Eh... i-iya. Tante duluan aja, nggak apa-apa?”
“Kamu saja, trus sarapan sana. Tuh Tante sudah masakin ikan asin sama sayur asem. Tante masih mau mencuci ini dulu.” Dia menunjuk kain celana dalamnya yang sudah dilepas.
“Ari mau disini dulu, nemenin Tante nyuci.” Pelan aku dekati perempuan cantik itu dan merangkulnya dari belakang.

“Ar, apaan sih... bukannya langsung mandi malah peluk-peluk Tante. Nanti nasinya keburu dingin lho.” kata Tante sambil berusaha melepaskan pelukan.
“Sebentar saja, Tante. Ari pengen.” Kugesek-gesekkan penisku yang sudah ngaceng ke belahan pantatnya. “Apalagi lihat Tante begini... Tante lanjutkan saja nyucinya, Ari nggak ganggu kok,” sambungku.
Tante hanya tersenyum. “Dasar kamu ini, baru bangun sudah peluk-peluk begini.”
Santai dia meneruskan mencuci, sementara aku tetap memeluknya dari belakang. Lama-kelamaan, aku mulai meraba bulatan payudaranya yang terlindung kain batik, Tante membiarkannya saja. Bahkan saat aku dengan nakal mulai menggoyangkan pinggul, menggesek-gesekkan penis tegangku ke belahan pantatnya, tante juga tak melarang.
“Ar, kamu mulai nakal yah... masa gesek-gesek itumu ke pantat Tante,” kata Tante, tapi tidak berusaha melepaskan diri. Dia hanya tertawa saja.
“Itu apa, Tante? Ngomong yang jelas dong,” kataku pura-pura bodoh, sengaja menggodanya.
“Itu lho, burung kamu!” sahut Tante agak bergetar, hentakan penisku terasa semakin keras dan kencang saja di belahan pantatnya.
“Ini bukan burung, Tante, tapi kontol! Coba Tante bilang lagi,” kataku kurang ajar.
“Iya, kontol. Masa kontol kamu digesekkan ke pantat Tante sih?” Tante menuruti kemauanku.
“Digesek bagaimana, Tante?” kataku pura-pura bodoh lagi, sambil makin kencang saja kunikmati keempukan pantatnya. Bahkan tak cuma menggesek, kini penisku juga menyelip di paha Tante sehingga kain batiknya ikut terlipat di antara paha. Terasa mulus sekali.
Selanjutnya aku melepaskan pelukan dan meraih bokong sintal Tante. Kupegang, kuremas-remas sebentar, melanjutkan kembali aktifitas mesumku terhadap perempuan cantik istri Papaku ini. Kini posisiku seperti sedang menyetubuhi tante dari arah belakang.
“Kainnya menghalangi saja, nih.” aku bergumam. “Dilepas saja ya, Tante?”
“Kamu ini ada-ada aja, Ar. Jangan ah,” jawab Tante menolak. “lagian sebentar lagi Papamu pulang.”
“Memang Papa kemana, Tante.”
“Tadi Tante suruh beli gas, stok di rumah sudah habis.”
“Kalau begitu sebentar saja, Tante. Kocokin kontol Ari sebentar, habis itu selesai.” Aku terus memaksa. Kusentuh pundak Tante dengan kedua tangan, kemudian aku melakukan gerakan memijat-mijat dengan lembut. Lebih tepat mengusap-ngusap mungkin.
“Ah, enak, Ar. Kamu pinter mijit rupanya.” ucap Tante sambil menggeliat senang.
Bisa kurasakan belahan payudaranya yang membuncah indah di balik kain batik. Saat kugeser tanganku ke sana, Tante tidak menolak. Dia menoleh kepadaku, tersenyum manis. Tatap matanya hangat. Dengan mata besarnya yang berkesan rapuh dan lugu, dia menatapku.
“Mandi bareng yuk?” dia mengajak. Aku tentu tidak dapat menolak ajakan itu. Maka beriringan kami masuk ke kamar mandi.
“Cepetan buka bajunya, katanya mau mandi. Buruan telanjang!” suruh tante, senang melihatku yang mupeng berat kepada dirinya.
Aku sedikit kesususahan ketika berusaha membuka baju, membuat Tante jadi tertawa geli melihatnya. Terakhir kali aku mandi bareng dengan perempuan adalah adalah satu bulan yang lalu, yaitu dengan Mama saat dia akan pamit pergi ke luar kota. Di lantai kamar mandi yang dingin, kusetubuhi Mama hingga tiga kali sebagai bekal sebelum dia pergi. Aku masih ingat betul bagaimana lekuk tubuh telanjang Mama waktu itu, sungguh sangat indah.
Dan sekarang, menghadapi Tante yang lebih montok dan sintal, tentu membuat nafsuku kian membuncah saja.
Tante tersenyum melihat penisku yang sudah menegang maksimal, nampak cukup besar dan berukuran lumayan panjang. Dia berusaha untuk tidak terlalu mempedulikanku yang mupeng berat kepada dirinya. Santai Tante mengguyur badannya dan kemudian mulai menyabuni dirinya sendiri.
Aku terus melihat tanpa berbuat apa-apa, terlalu terpaku dan terpesona. Busa sabun yang tadi menutupi selangkangan Tante, kini sudah terbilas bersih oleh air. Aku bisa melihat dengan jelas vagina lentik istri Papa ini, lengkap berserta bulu kemaluan serta pantat tembemnya yang senantiasa nampak indah.
“Sini, Ar.” Tante membantu menyabuni punggungku, juga membasuh rambutku menggunakan sampo selayaknya ibu yang perhatian kepada anaknya. Tak sungkan ia mendekap atau sesekali menggesek-gesekkan bulatan payudara ke punggungku, membikin penisku selalu ngaceng selama acara mandi tersebut.
Aku benar-benar terangsang sekali, sekaligus juga tersiksa. Beruntung Tante 
membisikkan sesuatu yang membuatku jadi tersenyum senang, “Kamu pasti sudah tak tahan, kan? Kamu keluarkan aja, nggak apa-apa... tapi jangan lupa dibersihkan, ya!” bisik Tante menggoda.
Darahku berdesir mendengarnya. Walaupun dalam hati sebenarnya kecewa karena tidak dapat langsung merasakan elusan tangan Tante, tapi aku senang bukan main karena Tante mau menemani, bahkan bersedia membantuku dalam onani dengan membiarkan aku memandangi tubuh telanjangnya. Tante tidak berusaha menutupi pandanganku ke arah buah dadanya, malah dia juga membuka kedua kakinya agar aku bisa melihat juga celah mungil di daerah selangkangannya yang nampak melar sehabis dihajar Papa semalam.
“Gimana, begini cukup?” tanya Tante begitu melihatku mulai onani di depannya. Dia hanya tersenyum saja, membuatku jadi semakin belingsatan.
Cepat aku mengocok penisku sendiri, dan tidak butuh waktu lama, pejuh kentalku pun menyembur keluar. Sensasi ngocok sambil memandangi tubuh telanjang Tante, meski tidak sampai menyentuhnya, cukup membuatku puas. Sebuah awal yang cukup menjanjikan bagi liburanku yang masih tersisa dua minggu lagi.
“Sudah keluar yah, Ar? Enak, kan?” goda Tante sambil tertawa renyah melihatku yang ejakulasi dengan begitu cepat.
“Iya, Tante. Enak.” jawabku malu-malu.
“Nanti kita ulangi lagi. Tante janji bakal memberi lebih, sesuai dengan perintah Papamu. Tapi tidak sekarang, kita pelan-pelan saja.” Tante tersenyum sambil mengedipkan mata kirinya ke arahku.
Aku senang bukan main mendengar tawaran tersebut.
“Eh... tapi, ngomong-ngomong tadi kamu keluarnya cepat amat?” tanya Tante yang menyeka tubuhnya menggunakan handuk.
“Nggak tahu, Tante. Ari keenakan sampai nggak tahan.” Jawabku jujur.
“Tak apa-apa, Tante maklum kok. Sudah sana, keringkan badanmu.” Tante memberikan handuknya. “Aku masih mau melanjutkan mandi, pejuh kamu biar Tante yang bersihkan.” Dengan seember air, Tante menyiram genangan spermaku yang berceceran di lantai.
Papa baru balik dari membeli gas ketika aku masuk ke kamar. Dia tersenyum melihatku. “Sudah bangun kamu, Ar?” sapanya.
 “Iya, Pah. Baru aja,” aku menjawab. “Langsung mandi, habis gerah sih.”
Papa meletakkan tabung gas di dapur, lalu mengambil segelas air dingin dari dalam kulkas. “Tantemu mana?” dia bertanya.
“Emm...” Aku bingung harus menjawab apa, tapi akhirnya tetap kukatakan juga. “M-masih di kamar mandi.”
Papa menoleh dan tersenyum penuh arti. “Kalian mandi bareng ya?” tebaknya. Aku hanya bisa mengangguk saja. “Gimana menurutmu tubuh Tante, tambah semok nggak?”
Dan lagi, aku hanya bisa mengangguk.
“Kamu suka?” tanya Papa lagi.
“I-iya, Pah. Suka.” jawabku lirih.
Papa melepas baju, memamerkan tubuhnya yang kurus tapi sangat liat karena kebanyakan bekerja keras. “Kamu ganti baju sana, aku mau mandi dulu.”
Dia beranjak menuju belakang, sementara aku tetap terpaku di tempat. Tak lama, dari arah kamar mandi terdengar jeritan manja Tante, yang disusul oleh lenguhan nikmatnya karena disetubuhi oleh Papa.

***

Segar dan dingin air mampu membuat pikiran rileks dan tenang setelah mandi. Apalagi setelah itu, Tante semakin berani saja menggodaku. Sesorean dia hanya mengenakan kemeja dan celana dalam saja, Papa yang melihatnya hanya tersenyum dan mengangguk setuju. Saat Tante berganti baju, dia juga tidak berusaha menutup pintu kamarnya, hingga aku bisa melihat jelas ke arah bukit buah dadanya yang telanjang. Bahkan dia juga membuka lorong kewanitaannya untukku meski cuma dari jauh.
Intensitas onaniku jadi semakin bertambah karenanya, tentu saja selalu Tante yang menjadi objeknya. Sosok Mama yang menunggu di rumah benar-benar terlupakan olehku.
Malam itu nampak Tante duduk di meja makan. Tubuhnya terbalut daster hijau tipis. Rambutnya basah. Wajahnya tampak segar dan makin cantik sehabis mandi. “Ayo, Ar. Sini makan dulu,” katanya sambil menyendok nasi.
Aku menghampiri meja makan. Kulihat sayur asem, sambal tomat, daging empal pedas, dan tempe goreng. Aku menarik kursi meja makan dan duduk. Mengambil nasi dari magic jar yang terletak di meja makan. Aku memang lapar sekali.
"Beginilah kehidupan kami di sini. Menu cuma seadanya." kata Tante. "Kalau di rumahmu, bagaimana?"
"Sama saja, Mama juga jarang masak kok." Aku menyantap nasi dengan lahap. “Wah, empuk sekali empalnya.” Aku sedikit memuji sembari menelan daging empal empuk yang beraroma wangi khas daging.
"Seempuk buah dada Tantemu?” tanya Papa sambil makan. Tante tertawa, sementara aku hanya nyengir saja.
Aku menyelesaikan makanku. Nikmat juga masakan Tante ini. Apalagi rasa sambal terasinya yang pas benar pedasnya. "Tumpuk saja di dapur, biar nanti aku yang mencuci." kata Tante ketika melihatku membereskan piring kotor.
"Mau teh atau kopi?" tanyanya kemudian.
"Nggak usah, Tante. Air putih aja."
Kami lalu duduk di ruang televisi yang terletak di samping kiri ruang tamu. Antara ruang televisi dan ruang tamu dipisahkan tembok dengan korden berwarna merah sebagai pintu. Ruang televisi ini memiliki sofa modern yang empuk. Televisi 30 inc terletak di lemari panjang dari kayu yang di bawahnya terdapat etalase kaca yang berisi buku. Televisi tersebut sejak pagi tadi memang menyala dan menampilkan film drama.
Kurebahkan tubuhku di sofa empuk itu. Tante masuk ke ruang televisi sambil membawa segelas teh. Ia duduk di sofa panjang di sampingku, sedangkan Papa masuk ke kamar untuk mengerjakan sesuatu. Tanpa sungkan aku mengeluarkan penis dan mulai onani di depannya. Aku yang awalnya masih sungkan, kini tidak malu-malu lagi untuk meminta bantuannya.
“Kamu nakal, Ar. Masa ngocok di depan tante sih?” katanya lirih sambil tersenyum genit.
“Habisnya Tante selalu bikin nafsu sih.”
Tante duduk di depanku dan mulai mengurut-urut batang penisku.
“Oughh... enak, Tante. Terus.” aku mulai meracau.
“Ar... menurut kamu, Tante cantik nggak?”
“Cantik, Tante. Cantik sekali.”
“Seksi nggak?”
“Iya, seksi.”
“Berarti kamu nafsu dong sama Tante?”
“Nafsu banget, Tante. Tubuh Tante indah, bikin Ari selalu konak. Tante itu cantik, seksi, dan menggoda.”
Tante tersenyum mendengar jawabanku. “Apanya Tante yang bikin kamu nafsu, Ar?” godanya sambil tetap mengocok batang penisku.
“Semuanya, Tante. Wajah Tante, susu Tante, paha Tante, memek Tante. Pokoknya kontol Ari ngaceng terus kalau lihat Tante.” kataku mulai berani ngomong jorok.
“Kamu mesum, Ar. Sudah pandai ngomong jorok ke Tante. Tapi tak apa, teruskan. Ngomong aja semau kamu.”
“Ari pengen ngentotin Tante. Oughh... ngemut tetek Tante yang gede itu sampai puas.”
“Terus, Ar... apa lagi? Puas-puaskan ngomong jorok ke Tante.”
“Ari pengen menggenjot memek Tante pakai kontol. Juga menyiramkan peju ke memek Tante, biar Tante hamil.”
Tante tertawa renyah mendengar ucapanku.
“Ngghh... Ari mau keluar, Tante. Sudah nggak tahan lagi.” aku melenguh.
“Keluarkan saja, Ar. Jangan ditahan.”
“Aaah… Tanteee!!” teriakku menyebut namanya. Tante menutup kepala penisku dengan genggaman tangannya, sehingga semua spermaku tertampung di sana.
Spermaku muncrat begitu banyak, melumuri jari-jari tangan Tante yang terus menggenggam erat. Aku merasa puas sekali, semakin hari onani yang aku rasakan semakin nikmat saja.
“Hmm, banyak juga sperma kamu.” Tante menunjukkan tangannya yang berlumuran pejuh. “Enak ya, Ar? Puas kan?”
Aku hanya bisa mengangguk mengiyakan.
“Eh, tapi sepertinya kamu masih terlalu cepat keluarnya.”
“Sepertinya dia perlu kita kasih latihan, Sayang.” sahut Papa yang tiba-tiba saja muncul. Aku tetap berbaring diam, tidak rikuh lagi dengan kehadirannya.
“Latihan gimana?” tanya Tante sambil membersihkan tangannya menggunakan tisu.
“Latihan biar Ari bisa tahan lebih lama. Mana bisa dia memuaskan kamu kalau cepat begitu keluarnya.” jelas Papa.
“Ah, Mas jorok ngomongnya,” Tante pura-pura malu.
“Tapi memang benar, kan?” Papa kemudian memandang ke arahku. “Dengar, Ar. Kamu boleh mmenyetubuhi Tante kalau sudah bisa mengalahkan ketahanan Papa. Kamu mengerti?”
Lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk.
“Trus soal latihannya, bagaimana aku harus melatih dia?”
“Hmm... kamu bantu dia onani, nanti hitung berapa waktunya sampai pejuhnya keluar. Kita lihat perkembangannya setiap hari.” Papa menjelaskan layaknya seorang trainer.
Tante mengangguk menyanggupi, dan sejak saat itu ia pun membantuku melatih ketahanan fisik. Dengan tetap menggunakan tangannya—bagaimanapun Tante tidak mau untuk melakukan hal lebih dari ini—sedikit demi sedikit pertahananku mulai lebih lama jebolnya.
Kami melakukannya siang atau sore, rata-rata dua sampai tiga kali sehari, ditambah malam sebelum tidur kalau aku memang lagi mupeng sekali. Untuk memberiku semangat, Papa memberiku hadiah kalau aku bisa mencapai waktu yang ditentukan. Bisa berupa ciuman dari Tante, pelukan, atau bahkan memandangi tubuh telanjang Tante sepuas hati selama seharian.
Pagi ini kami melakukannya lagi. Tapi lagi-lagi aku tidak dapat bertahan lama. Spermaku kembali tumpah hanya dalam tiga menit lebih sedikit.
“Sudah lumayan, Ar,” Tante melihat ke arah mataku yang sedang meringis penuh kenikmatan sehabis ejakulasi. Dia sadar aku sedikit demi sedikit mulai menunjukkan perkembangan, dari yang dulunya tidak mampu lebih dari satu menit, kini sudah jauh lebih baik.
“Tapi masih belum bisa lama seperti Papa.” sahutku lesu. Aku masih belum bisa mencatatkan rekor waktu pemberian Papa, yaitu sepuluh menit. Apabila lebih dari sepuluh menit, barulah aku boleh menyetubuhi Tante.
“Sudah lebih bagus kok, setidaknya ada perkembangan. Tante yakin kamu bisa lebih baik besok, kamu masih punya waktu satu minggu lagi.” Tante mengedipkan mata. Dia ingin aku mendapatkan pengalaman seks yang cukup nantinya, dan mampu membuat Mama semaput minta ampun saat aku pulang nanti.
Apa yang aku lihat berikutnya sungguh membuat darahku berdesir. Nampak Tante menjilati sedikit lelehan spermaku yang membasahi jari-jarinya.
“Hmm, pejuh kamu rasanya asin.” Tante berbisik sambil tersenyum menggoda.
Aku cuma merespon dengan ikut tersenyum karena tidak tahu harus ngomong apa. Setelah itu Tante keluar dari kamar dengan tangan tetap berleleran sperma, meninggalkanku yang akhirnya terlelap tidur karena kelelahan.

***

“Bagaimana terapi si Ari?” tanya Papa saat kami duduk bertiga di meja makan pada malam harinya.
“Lumayan,” Tante menjawab. “Kalau pagi tadi tiga menit, sore ini sudah mampu lima menit lebih.”
Papa menoleh ke arahku. “Bagus. Teruskan, Ar. Kamu jangan malu-maluin jadi anak Papa. Kalau besok sudah bisa tujuh menit, kamu boleh langsung menyetubuhi Tante.”
“Lho, bukankah limitnya itu sepuluh menit?” Tante bertanya memprotes.
 “Kasihan dia,” Papa menjawab. “Waktunya nggak akan cukup. Tujuh menit sudah cukup, bukan? Biasanya berapa lama kamu orgasme?” tanya Papa pada Tante.
“Kalau pas lagi pengen banget, lima menit juga sudah cukup.”
“Nah, berarti kita sepakat. Ingat, Ar,” Papa menatapku. “Tujuh menit.”
Aku mengangguk mengiyakan, dan dalam hati bertekad untuk meraihnya. Aku sudah pengen sekali menyetubuhi Tante Rini yang cantik jelita. Akan kuobok-obok memeknya yang kesat itu dengan batang kontolku yang besar ini.
“Tunggulah besok, Tante. Aku pasti bisa.” ujarku dalam hati.
Namun niatku itu harus tertunda selama dua hari karena ternyata aku sulit mencapai batas tujuh menit. Paling lama cuma enam menit lima puluh dua detik. Aku yang merengek-rengek pada Papa agar bisa mengentoti Tante malam itu juga, sama sekali tak digubris.
“Tapi aku lusa sudah balik ke rumah, Pah.” aku beralasan.
“Janji tetaplah janji, Ar. Kamu harus bisa memenuhinya.” Papa berkata.
Tante menyemangatiku dengan berkata, “Masih ada satu hari dua malam, Ar. Aku yakin kamu pasti bisa. Cuma tinggal menambah delapan detik.”
Aku mengangguk lesu, “Yah, baiklah. Kalau tidak sekarang, mungkin liburan tahun depan.”
“Ayolah, bersemangatlah.” Tante memelukku, memberikan bulatan payudaranya untuk kusandari. Mau tak mau aku jadi mupeng lagi. Melihatku penisku kembali bangun, dengan bersemangat dia kembali mengocoknya.
“Ayo, Ar. Ingat, cuma tambah delapan detik.” katanya mengingatkan.
Papa turut menatapku penuh harap. Namun lagi-lagi aku gagal. Bahkan belum lima menit, aku sudah keluar. “Huh,” Papa mengeluh frustasi dan meninggalkan kami berdua. Dia masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya rapat-rapat.  
“Kamu kenapa sih, Ar, kok sepertinya nggak tahan banget menerima kocokan Tante?”
“Nggak tahu, Tante.” Aku mengidikkan bahu dengan lemas. “Padahal dengan Mama, aku biasa tahan lebih lama. Mungkin karena Tante terlalu cantik dan seksi, jadi bikin nafsuku selalu menggebu-gebu. Tante tidak tampak seperti berumur 30 tahun. Wajah dan kulit tante kencang seperti gadis remaja." kataku memuji.
"Ah, kamu ini pintar merayu." Tante tersenyum tersipu.
Kami berpandangan sejenak. Tiba-tiba Tante dengan cepat melompat, duduk di pangkuanku dengan posisi berhadapan. Dari dekat tercium wangi tubuhnya yang begitu harum. Payudaranya yang besar menghimpit empuk di depan dadaku.
"Tante ngapain?" Aku memegang pinggangnya karena kaget, sedikit memberi penolakan.
"Ini aku beri sedikit gambaran, bagaimana rasanya jepitan memekku.” Tante membelai lembut pipiku. Senyum dari bibirnya yang indah dan menggoda berada tepat ada di depan wajahku.
Dadaku langsung bergejolak. Sebagai laki-laki normal bagaimana tidak tergoda apabila ada seorang wanita cantik, berkulit halus dan bertubuh seksi, berhadapan wajah di pangkuan sambil memutar-mutar pelan pinggangnya di selangkanganku. Tante juga sudah menyingkap celana dalamnya ke samping hingga celah kemaluannya benar-benar menempel di atas penisku. Rasanya geli dan hangat, juga basah sekali meski aku yakin masih sangat sempit.
“Maksud Tante gimana?” kataku panik, takut kalau tiba-tiba Papa muncul. Ini sudah di luar perjanjian, kami tidak boleh ngentot meski perubahan suasana ini tidak membuat penisku serta merta bangun dan menegang.
Namun rupanya memang itu yang diinginkan oleh Tante. “Biar kamu tahu kalau memekku memang benar-benar nikmat.” katanya sambil menekan ke bawah, berusaha memasukkan kontolku yang lemas ke dalam celah memeknya.
“Tante,” Aku harus tetap tenang. Kupegang pinggang tante yang terasa ramping dari balik daster dan ikut kudorong tubuhku ke atas.
Lumayan, penisku bisa masuk meski masih di permukaan. Istilahnya, masih di teras depan. Belum meluncur ke ruang tamu, apalagi ke kamar mandi. Tante memeluk dan mencium bibirku, lalu mulai menggerakkan pinggulnya. Aku melenguh keenakan, dan dalam hati berucap syukur sekaligus juga umpatan lirih. Penisku masih saja lemas hingga genjotan Tante kurasakan bagai himpitan ringan saja. Dengan kontol meringkuk seperti itu, aku tidak bisa disebut menyetubuhi Tante. Benar apa yang ia katakan, ini hanya sekedar gambaran sekilas.
Namun itu pun sudah cukup membuatku menggelinjang, dan tak lama penisku sudah ereksi kembali. Merasakan batangku yang kembali menegang, Tante menghentikan goyangannya. Dia semakin erat memelukku, membiarkan batangku tumbuh besar di dalam lorong memeknya.
“Hmm, burung kamu mantep bener, Ar. Gede dan panjang!” dia berbisik. Bau nafasnya harum saat menerpa hidungku.
Kupagut bibirnya yang tipis dan berusaha kugerakkan pinggulku ke atas. Tapi Tante menahan, tidak ingin dirinya kusetubuhi. Bahkan saat penisku sudah benar-benar ngaceng dan keras, dia menarik tubuhnya ke samping sehingga tautan alat kelamin kami pun terlepas.
“Tante,” aku mengerang tak rela, sedangkan Tante hanya tertawa saja.
“Belum waktunya, Ar. Ingat kata Papamu, tujuh menit.” Dia tersenyum menggemaskan, dan merapikan celana dalamnya kembali. Aku menatapnya dalam diam, meresapi betapa ketat dan nikmat lorong kewanitaannya yang sempat menjepit batangku meski hanya sedetik.
Berikutnya Tante berdiri dan membelai pipiku. “Sudah ya, Tante tidur dulu.” Dia  berjalan melewatiku, memasuki kamarnya. Sebelum menutup pintu, Tante memalingkan wajah dan melempar senyum manisnya kepadaku.
Ughh... seandainya tidak ada Papa, akan kususul dia ke kamar dan kuperkosa habis-habisan. Tapi aku harus bisa menahan diri. Besok aku bertekad akan menembus waktu yang ditentukan Papa agar bisa menikmati tubuh molek Tante. Untuk malam ini, cukuplah aku menyandarkan diri ke sofa dan kembali menikmati acara televisi dengan penis masih mengacung keras.
Aku mengocoknya sebentar sampai muncrat—sambil membayangkan Tante tentunya—baru kemudian pergi tidur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar