Rabu, 16 November 2016

Wasiat Harta Warisan 7



Hak Cipta © Ganes TH.

Demikianlah sebuah kisah panjang yang dituturkan oleh Nyi Londe kepada Giran, putra sulung Tuan Tanah Kedawung yang mendengarkannya dengan penuh perhatian.
“Begitulah kejadian sesungguhnya yang melanda keluarga besar ayahmu, Giran. Kini terserah kepadamu, mau percaya atau tidak. Yang pasti tugasku kini sudah selesai.” Kata Nyi Londe sambil bangkit dari tempat duduknya.
Pemuda ini terpaku, termenung dalam kebisuan. “Peti pusaka itu telah selamat jatuh ke tangan pewarisnya yang berhak. Kukira Ratna dan Samolo pun tidak perlu ucapan terima kasihmu, andai pun kau mau mempercayai semua kenyataan itu secara jujur. Yang penting bagi mereka cumalah pengertian darimu. Karena betapa pun mereka telah banyak menderita, sengsara, bahkan terlalu banyak, Giran!” sambung pengasuh ini tanpa bermaksud membujuk.

Giran masih tunduk termenung di jendela, sementara Nyi Londe membungkus pakaiannya dengan buntalannya. “Sebenarnya penderitaan Samolo belum berakhir sampai di situ. Ia ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara atas tuduhan pembantaian masal. Hampir dua tahun perkaranya berlangsung. Berkat pembelaan gigih seorang pengacara kawakan, juga para korban itu terbukti memang para buronan dan penjahat yang sedang dikejar-kejar polisi, maka akhirnya Samolo terbebas dari hukuman seumur hidup atau tiang gantungan.” tutur Nyi Londe lebih lanjut.
“Dan untuk apakah Samolo sampai rela mempertaruhkan nyawanya sendiri? Untuk siapakah semua pengorbanannya itu? Padahal dia pribadi sama sekali tidak mengharapkan apa pun. Aku tahu pasti itu.” sambung Nyi Londe dengan suara agak tersendat.
Giran masih bungkam, namun sesungguhnya sebuah perang sedang berkecamuk di rongga dadanya. “Dapatkah aku mempercayai semua cerita Uwak Londe? Benarkah ibuku menyuruhku ke Borneo hanya siasat untuk menyingkirkan aku semata? Semula aku mengira, akulah yang bodoh tidak bertanya lebih jelas tentang letak kebun karet milik ayahku itu, padahal ternyata pulau Borneo itu begitu luas dan beribu Onderneming karet ada di sana. Maka sia-sialah aku menemukan kebun karet ayahku yang katanya berada di pulau itu.
”Uang bekal habis sampai aku hidup terlunta seperti gelandangan. Entah berapa puluh suratku yang kukirim ke sini untuk meminta kiriman uang tanpa satu pun yang terbalas. Mungkin Samirun-lah yang menyita surat-suratku itu. Akibatnya hidupku makin parah dan terpaksa jadi kuli kontrak sebagai penyadap karet. Kehidupan yang benar-benar pahit penuh pergumulan serta pertarungan seperti hewan liar. Kadang-kadang cuma demi sedikit uang, nyawa manusia akan dipertaruhkan. Istri-istri mereka begitu mudah luntur kesetiaannya jatuh ke pelukan para controlir atau kepada laki-laki iseng siapa saja yang mau membayarnya hanya dengan sekeping uang.
”Begitu mudahnya manusia kehilangan martabat serta harga dirinya hanya demi sepotong logam itu. Sejak itu luntur pula kepercayaanku terhadap yang namanya kesetiaan dan kejujuran. Manusia tidak lebih hanya segumpal daging yang serakah dan tamak. Yang masih dipercayai hanyalah kasih ibu dan persaudaraan yang sejati. Hal itu kuperoleh dari orang tua angkatku, kepala suku Dayak Iban yang baik hati. Atas pertolongannya aku masih bisa hidup sampai sekarang ini. Atas bantuan saudara-saudara suku Dayak itulah akhirnya aku bisa berlayar ke Batavia dan pulang ke rumah lagi.
”Ternyata peristiwa yang lebih tragis dari kebuasan hidup di belantara hutan karet itu telah terjadi di sini, di tengah keluargaku sendiri! Kini jelas sudah, mengapa ayah tidak mencantumkan nama ibu dan Mirta di dalam surat wasiatnya itu sebagai ahli waris dari harta peninggalannya. Rupanya ayah sudah mengetahui penyelewengan kedua orang itu. Namun demi menjaga nama baik serta keutuhan keluarganya, ia rela menelan semua derita pahitnya itu dan dipendamnya rapat-rapat sampai ajalnya yang sangat menyedihkan itu. Oh, betapa mulia hatimu, ayah...!”
Sebuah bayangan seolah-olah terpeta kembali di hadapan Giran, sebuah pengalaman hidup yang begitu pahit yang pernah dialaminya di negeri seberang dan telah menempanya menjadi seorang berwatak keras dan tegas. Kepalsuan serta kelicikan sesama manusia terlalu banyak dilihat dan dirasakannya. Kini ia tak mudah lagi mau mempercayai apa saja tanpa bukti nyata. Sikap itu pula yang diajarkan oleh bapak angkatnya yang membekalinya dengan ilmu beladiri cukup lumayan. Hidup ini memang belantara buas, orang harus cerdik dan pandai bila tidak mau jadi mangsa sesama makhluk yang hidup di atas bumi ini. Demikian prinsip petuah itu tertanam dalam-dalam di dasar jiwa Giran.
Nyi Londe mulai berkemas dan memakai kerudungnya. Di luar badai masih mengamuk mesti tidak sedahsyat tadi.
“Uwak mau berangkat sekarang? Hujan masih belum reda, nanti Uwak sakit...!” kata Giran pelan.
“Apalah artinya hujan sebegitu, kami sudah terlalu terbiasa menghadapi badai sengsara dan derita dunia ini, Giran.” jawab Nyi Londe tajam.
Dengan menjinjing buntalan, Nyi Londe menguak pintu. Tepat pada saat itu kilat menyambar. Pohon di muka pondok itu tumbang mengepulkan asap. Tapi tanpa gentar sedikitpun perempuan setengah tua ini melangkah terus.
“Kau mau ke mana, Wak...?” tanya Giran melihat kekerasan hati pengasuhnya itu.
“Ke mana lagi kalau bukan menyusul Ratna dan Samolo!” jawab Nyi Londe sambil berjalan terus di bawah deraan hujan lebat. Sementara Giran berjalan mengikuti di sampingnya sambil mengempit kotak pusaka itu.
“Ke gedung kita?”
“Buat apa ke situ lagi, mereka telah kau usir, bukan?” jawab Nyi Londe agak sinis.
Giran tertunduk.
Mereka berjalan menembus hutan jati yang lebat itu. Cahaya kilat berkali-kali menerangi hutan itu. Tiba-tiba di antara deru angin yang menerpa daun jati, terdengarlah suara teriakan seseorang, suaranya mirip auman seekor anjing liar.
“Dengar, Wak, suara apa itu?” tanya Giran sambil memasang telinganya. “Seperti salakan seekor anjing hutan, bukan?” tanya Giran lagi.
“Ya, suara seekor anjing hutan yang sangat liar. Mirta!”
“Mirta...?!” tanya Giran kaget, karena diketahuinya adiknya itu sudah tergeletak jadi mayat di tengah hutan jati tersebut.
Giran terperangah, karena kini tampak olehnya Mirta sedang jalan terhuyung-huyung di tengah hutan jati itu sambil berteriak dan tertawa terbahak-bahak seperti orang kemasukan setan. “Hua... ha... ha... ha... Ke sini manisss...! Jangan lari, Ratna... Ratnaaa... Aku cinta padamu... Hi... hi... hi...!” teriak Mirta menggapai-gapai entah kepada siapa.
“Mirta, dia tidak mati...?” gumam Giran sambil mengintai dari balik pohon.
Mirta memang tidak mati, tapi jiwanya sudah tidak waras lagi, akibat pukulan pada kepalanya serta guncangan-guncangan hebat pada jiwanya. Wajah Mirta yang berlumuran darah itu tiba-tiba berubah buas. Ia menggeram. “Hei, Ratna! Apa yang kau lakukan dengan si bedebah Giran di situ? Bocah keparat itu sudah mati, tahu?!” teriak Mirta makin kalap. “Kesini kau Giran! Kutelan hidup-hidup kau, Bangsat! Kau memang selalu menyaingi aku. Sekarang kau rebut Ratna dariku. Dasar setan laknat kau, Giraaannn!”
Giran tersentak bagaikan disambar petir. Ia tertunduk dengan lunglai. Sesaat kemudian Mirta membenturkan kepalanya ke pohon jati, lalu menangis sesengukan. “Aduuuuh, Ratna... Jangan tinggalkan aku, Ratna...!” ratapnya tersedu-sedu seperti anak kecil.
Pada saat itu dari kejauhan tampak seorang nenek berambut putih berurai, berjalan dengan tersuruk-suruk dan meraba-raba dengan tongkatnya, menghampiri Mirta. “Mirta... Mirta... Di mana kau, Nak...?!” lirih suara nenek ini memanggil-manggil nama anak kesayangannya.
Tapi pemuda yang dipanggil malah jadi ketakutan ketika melihat ibunya, lalu menyelinap ke balik pohon dan mengintai dengan mata terbelalak menakutkan. “Sssssiapa lu...!?” tanyanya dengan mata melotot tak berkedip.
“Mirta... Kenapa kau, Nak? Ini ibu...!” jawab Subaidah semakin lirih. Ia melangkah mendekat.
Mirta tersentak lalu lari berputar ke balik pohon. Ditatapnya ibunya tajam-tajam. Ia menjerit dengan tiba-tiba. “Kau...?! Kau Samolo...! Ampuuun...! Ampuun, Samolo...! Jangan...! Jangan bunuh aku...! Jangaaannn...! Bukan aku yang menyuruh membunuhmu, Ratna, Girin dan Nyi Londe... Ibuku dan Samirun-lah yang punya maksud menguasai seluruh harta itu. Sungguh mati, Samolo, bukan aku...!” ratap Mirta terbata-bata ketakutan.
Subaidah mendekat, lengannya menggapai-gapai ingin membelai kepala putranya yang semakin angot ini. Tapi tangannya itu ditepis oleh Mirta yang menelungkup dan menggigil ketakutan.
“Ampun Samolo... Ampun...!” jerit Mirta sambil menutupi kepala dengan lengannya.
Subaidah masih berusaha meraba tubuh anaknya, tetapi malah membuat Mirta makin panik meronta dan lari bersembunyi ke balik pohon lagi. Subaidah pun menangis. “Ya, Allah, ya Gusti...! Beginilah kiranya kutukan-Mu terhadap diriku yang penuh dosa dan noda ini...?” ratapnya tersedu-sedu penuh penyesalan.
“Ibu...?!” teriak Mirta tiba-tiba seperti sadar.
“Oh Mirta... ini ibu! Ibumu Nak...! Ke sinilah, jangan tinggalkan ibu, Mirta...! Ibu tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain kau...!” seru Subaidah mengiba-iba.
Mirta menghampiri ibunya, mendekapnya sambil menangis. “Ibu, kenapa kita jadi begini, Bu...?! Kenapa...?!” tanyanya sambil menangis.
Air mata Subaidah semakin deras tertumpah dari kelopak matanya yang sudah tak berbiji itu. Mirta menatap wajah ibunya dengan pandangan aneh. Tiba-tiba ia tersentak mundur dan jatuh terduduk di kaki ibunya, wajahnya kembali berubah jadi ketakutan.
“Haaaah?! Kau bukan ibuku...! Muka ibuku tidak sejelek seperti hantu...! Ya kau hantu...! Hantu... Hiiiii!” suara Mirta menggigil seperti benar-benar melihat hantu yang amat mengerikan. “Bukankah kau yang bersama-sama paman Samirun dan Sarkawi mencekik ayahku sampai mati? Kalian bertiga ramai-ramai membunuh dia. Sekarang kau juga mau mencekik aku, seperti yang kau lakukan terhadap ayahku...?!” jerit Mirta tersendat sambil memegangi lehernya sendiri.
“Cukup Mirta! Cukup! Jangan kau siksa lagi ibu dengan kata-katamu itu!” jerit Subaidah pilu sambil menekap wajahnya. “Aku memang manusia iblis, Samirun juga setan. Aku diseretnya ke jurang paling nista dalam hidup ini. Sekarang aku beritahukan kepadamu, kau sesungguhnya bukanlah anak kandung yang selama ini kau anggap ayah. Dia ayah Giran, bukan ayahmu. Samirun-lah ayah kandungmu, Mirta!” kata Subaidah sambil menangis terisak-isak.
Giran memejamkan matanya, ia telah mendengar semuanya. Setiap kata-kata itu seakan-akan lidah petir yang menyambar, menghanguskan serta mengoyak-ngoyak jantungnya. Angin masih menderu-deru. Pohon jati meliuk-liuk mengeluarkan suara seperti rintihan yang sangat melirihkan, selirih rintihan dan ratapan Mirta yang bergayut di tubuh ibunya.
“Pantas, pantas Ratna tidak mau kepadaku, dia lebih cinta kepada Giran, karena bocah jahanam itu adalah asli dari Tuan Tanah yang kaya raya, hartanya tak habis digegares tujuh turunan. Tapi aku? Aku cuma anak seorang kasir melarat, si setan Samirun...!” begitu ratap Mirta sambil bergelayut di tubuh ibunya yang jadi limbung keberatan.
“Coba kalau dulu si Sarkawi berhasil memenggal kepala bocah sialan itu di kebun kelapa, atau dia mati dihadang Mat Gerong tempo hari, waktu ibu tipu dia supaya berangkat ke Borneo, sekarang Ratna pasti sudah jadi milikku. Oh... dasar nasibku yang sial-dangkalan.”
Subaidah jatuh terduduk ke akar pohon ditindih oleh Mirta yang semakin angot gilanya. Pemuda ini mulai bicara tidak karuan lagi. Sekarang ia memandang wajah ibunya sambil tersenyum-senyum genit. Lengannya meraba-raba tubuh kurus itu dengan napas berdengus-dengus seperti hewan liar. Membuat Subaidah jadi kelabakan dicumbu anaknya yang sinting ini.
“Ratna... Ratna. Lu tambah botoh saja sekarang. Hihihihi...!” rayu Mirta sambil meraba pipi ibunya yang sudah keriput itu. “Sekarang gua sudah kaya, lu mau apa? Kalung? Gelang emas atau giwang? Mau berapa gerobak? Gua beliin dan semuanya, asal... hi... hi... hi...” cumbuan Mirta semakin panas.
“Sadar Nak! Eliiiiiinnnggg...!” jerit Subaidah ripuh.
“Apa lu bilang? Maling!? Lu katain gua maling?! Lu yang maling si Ratna. Biarin lu nyaru jadi nenek-nenek, gua tahu lu si Giran. Mau mengelabuhi mata gua, lu ya? Gua mampusin lu!” geram Mirta, lengannya mencengkeram leher ibunya yang jadi megap-megap.
“Mirta! Ini ibu, Mirta... Aakhhk...!” jerit Subaidah tersendat-sendat. Lengannya berusaha melepaskan cekikan tangan Mirta yang makin kuat mencengkeram batang lehernya.
“Bangsat! Lu kira gua takut sama lu? Lu betul-betul biang penyakit, Giran. Gara-gara lu, gua jadi sengsara begini. Mampusss dah, lu...!” geram Mirta sambil mencekik leher ibunya sekuat-kuatnya.
Subaidah meronta-ronta berusaha membebaskan diri dari cekikan putranya yang sudah terganggu jiwanya. Tapi usaha Subaidah sia-sia, cekikan Mirta malah semakin kuat, membuatnya tak bisa bersuara maupun bernapas lagi. Matanya memuncratkan darah, lidahnya pun terjulur keluar. Tubuhnya kejang dalam sekarat.
Tangan Mirta masih terus mencekik lalu ditekan kepala ibunya hingga hampir terbenam ke dalam lumpur-daun jati yang membusuk itu. Nyi Londe yang menyaksikan adegan yang sangat mengerikan itu, tanpa terasa menjerit sambil membuang muka ke arah lain. Giran tersentak lalu berusaha mencegah tindakan Mirta yang sudah tak waras lagi itu. Tapi ia terlambat, karena tubuh Subaidah sudah terbujur kaku dengan lidah terjulur ke luar. Giran jadi bergidik dan terpaku di tempatnya.
Sesaat kemudian dengan masih terengah-engah Mirta terdiam, memandangi wajah ibunya yang diam membiru. Ia tersentak gemetar. “Mati...!?” gumamnya sambil melangkah mundur. Dengan beringas ditatapnya kedua lengannya yang gemetar itu lalu pandangannya beralih lagi ke wajah ibunya. Wajahnya nampak makin pucat.
“Mati...? Ibu ma...ti...?!” celotehnya berulang-ulang. Lalu ia tiba-tiba menelungkup memeluk kepalanya sendiri, menangis terisak-isak. “Ibuku sudah mati...! Hu... hu... hu...!” Mirta terus meratap. Sekonyong-konyong ia menghempaskan tubuhnya ke batang pohon dan membenturkan kepalanya berkali-kali ke batang pohon itu dengan kerasnya hingga darah pun muncrat dari kepalanya yang memang sudah luka itu. Ia menjerit melengking seakan-akan menyesali perbuatannya sendiri.
Giran dan Nyi Londe hanya bisa terpaku memandang kejadian itu dengan perasaan ngeri. Mirta sudah terdiam tenang, hanya matanya saja yang masih nampak liar. Namun sesaat kemudian ia senyum-senyum aneh dan terkekeh-kekeh geli sekali seakan-akan melihat suatu peristiwa yang sangat lucu. Kini tertawanya semakin keras dan terbahak-bahak seru.
“Dia sudah matiiiiiii... Hua ha ha haha... Matiiiiii...!” Dia tertawa terpingkal-pingkal sambil menari-nari. Berputar-putar dari pohon ke pohon.
Giran menghampiri dan memanggil namanya, tapi Mirta sudah tak dapat mengenali siapa pun, termasuk dirinya sendiri. Ia masih terus terbahak-bahak sambil menari. Kini suara tertawanya makin mirip lolongan anjing hutan, melengking dan panjang. Ia terus menari-nari semakin jauh ke tengah hutan jati. Hujan masih tumpah dengan derasnya, guntur dan halilintar berpecahan di angkasa. Sekonyong-konyong secercah cahaya yang sangat menyilaukan mata menyambar sebatang pohon jati, disusul dengan sebuah dentuman dahsyat, dan tumbanglah sebuah pohon jati besar.
“Mirta awasss...!” teriak Giran secara reflek.
Mirta terpaku memandang pohon besar itu rubuh tepat ke arahnya. Beberapa detik kemudian tubuhnya lenyap tertindih batang pohon yang tumbang itu. Giran memburu ke tempat itu, ia cuma melihat sebuah lengan Mirta terjulur di antara ranting dan daun jati. Dibongkarnya daun-daun itu, terlihat tubuh Mirta tergencet cabang besar dan sudah tak bernapas lagi. Giran berusaha mengangkat cabang pohon yang menghimpit tubuh Mirta tapi tak berhasil. Ia menghela napas dan termenung di sisi pohon tumbang itu. Kemudian melangkah ke arah tubuh ibu tirinya yang terbujur kaku. Nyi Londe pun sudah berdiri di situ.
“Kutukan Tuhan akhirnya datang menghukum mereka.” kata Nyi Londe pelan.
“Aku merasa seakan-akan baru sadar dari sebuah mimpi yang begitu menakutkan.” desah Giran sambil menghela napas dalam-dalam. “Ke manakah kira-kira mereka pergi sekarang ini, Wak...?!” tanya Giran.
“Maksudmu Neng Ratna, Girin dan Samolo? Aku pikir mereka pergi ke Cengkareng, seorang bibi Ratna katanya tinggal di sana.” jawab Nyi Londe. Segores senyum kecil terlihat di wajahnya.
Setelah menutupi mayat Subaidah dengan dedaunan, Giran merencanakan untuk mengerahkan penduduk agar mengubur jenazah ibu tiri dan Mirta itu dengan layak. Setelah itu ia dan Nyi Londe akan menyusul anak-istrinya serta Samolo dan membawanya pulang ke gedung warisan ayahnya.
Hujan masih turun berderai dan angin pun menderu-deru. Dengan langkah masih lunglai Giran berjalan mengiringi Nyi Londe ke luar dari hutan jati, sebuah hutan yang telah membuka tabir rahasia yang selama ini menyelubungi keluarganya. Matanya kini telah melihat dengan jelas, juga mendengar dengan seksama semua peristiwa yang terjadi di balik tabir tersebut. Betapa terenyuh hatinya.
Sementara itu di sebuah kandang kerbau, tampak Ratna dan Girin juga Samolo sedang berteduh dari serangan hujan deras. Samolo melangkah ke luar kandang tersebut, tangannya menengadah.
“Hujan sudah reda dan sebentar lagi berhenti. Mari kita berangkat sekarang Neng, agar tidak kemalaman di jalan!” kata Samolo.
Ratna dengan menggendong Girin keluar dari kandang kerbau tersebut, lalu mereka berjalan menuju Cengkareng, seperti yang telah diduga oleh Nyi Londe. Memang tidak ada sanak-saudara bagi Ratna kecuali bibinya yang di Cengkareng itu.
Dari jauh Giran melihat mereka. “Itu mereka, Wak. Di dekat kandang kerbau itu!” kata Giran memberitahu Nyi Londe.
“Mana...?” tanya Nyi Londe menyipitkan matanya karena ia cuma melihat dua titik kecil saja di kejauhan. Itupun hanya samar-samar tertutup kabut.
Giran segera berlari untuk menyusul mereka. “Ratnaaaa! Samolooo...! Tunggu dulu...!” teriak Giran memanggil-manggil. Suaranya menggema dan memantul di dinding bukit.
Samolo tiba-tiba tersentak menghentikan langkahnya. Wajahnya jadi tegang dan beringas. “Huh! Bocah durhaka itu rupanya masih belum puas bila belum menghirup darah kita.” geram Samolo sambil berbalik menghadap dan menyongsong Giran.
“Kak Giran...!” kata Ratna lirih.
“Jangan khawatir, Neng. Jagalah Den-Cilik!” seru Samolo.
Ratna jadi panik mendekap putranya. Hatinya menangis, sakit rasanya karena sang suami yang sangat dicintai dengan sepenuh jiwa raganya itu ternyata tak punya perasaan. Demikian anggapannya saat itu.
“Cepat lari ke atas bukit, Neng. Biarlah nyawa tuaku ini dilahapnya kalau dia masih penasaran.” seru Samolo lagi.
Dengan susah payah Ratna mendaki tebing bukit itu, sesaat kemudian ia berpaling kepada Samolo. “Marilah Bang. Jangan ladeni dia...!” teriak Ratna dengan suara gemetar. Tapi Giran sudah semakin dekat.
“Hei, Ratna... tunggu...!” teriak Giran sambil berlari semakin dekat.
Air mata Ratna deras mengalir, didekapnya putranya erat-erat. Ia bukan takut kepada suaminya, kalo toh ia harus mati. Ia rela mati di tangan suaminya itu. Yang dikhawatirkan adalah keselamatan putranya yang masih kecil itu.
Giran tiba di hadapan Samolo yang tegak menghadangnya. Giran melangkah maju mendekat, tapi Samolo sudah demikian nekat dan menyambutnya dengan sebuah babatan tongkatnya kepada Giran. “Langkahi dulu mayatku, sebelum kau menjamah nyawa istri dan anakmu itu, keparat!” bentak Samolo.
Giran terhuyung-huyung ke belakang. Dadanya mengucurkan darah tergores ujung tongkat Samolo. “Bang Samolo...” suara Giran tersendat dan gemetar.
Samolo tertegun karena Giran tidak berusaha menangkis serangannya tadi, bahkan kini suaranya terdengar lembut mengiba. Sebelum hilang rasa heran Samolo, Giran sudah menubruk kaki si centeng yang setia ini dan tersimpuh sambil menangis tersedu-sedu seperti anak kecil.
“Maafkan saya Bang Samolo...! Saya telah berdosa terhadap Abang dan Ratna... juga kepada anak saya sendiri...” Giran tersedu-sedu memeluk kaki Samolo yang jadi tertegun. Tanpa terasa matanya yang sudah tak dapat lagi melihat dunia ini pun jadi ikut berkaca-kaca. Butiran-butiran air hangat jatuh menetes ke kepala Giran. Nyi Londe yang sudah tiba di situ jadi ikut pula menepis air matanya. Giran masih terisak-isak dengan penuh penyesalan.
“Sudahlah, Den. Sebagai manusia kita semua tak pernah luput dari kesilapan dan dosa...!” suara Samolo parau bergetar di kerongkongannya. Lengannya mengangkat tubuh majikan mudanya yang kini telah sadar dari kesalahpahaman itu.
“Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih, mau mengampunkan dosa-dosa semua hambanya.” kata Samolo lirih.
Giran tertunduk menghapus air matanya. “Kalian telah banyak menderita. Entah bagaimana harus kuminta maaf padamu, Bang... budi Abang begitu dalam seperti lautan.” suara Giran masih bergetar.
“Jangan Aden bicara begitu, kalo soal budi mungkin aku-lah yang lebih banyak berhutang kepada mendiang ayahmu, Den!” ujar Samolo sambil menarik napas.
Giran pun meminta maaf kepada Nyi Londe dengan mencium tangan pengasuhnya itu.
“Aku gembira ternyata kau masih senang mendengar dongengku, Giran.” kata Nyi Londe tersenyum dalam linangan air matanya.
“Neng, Neng Ratna!” tiba-tiba Samolo memanggil Ratna. “Bawalah Den Girin menjumpai ayahnya!”
Tapi tidak terdengar jawaban Ratna. Senyum Samolo lenyap berganti rasa khawatir yang tergambar di wajahnya. Begitupun dengan Giran dan Nyi Londe, mereka memandang ke sekitar tempat itu lalu ke atas tebing. Namun tidak terlihat bayangan Ratna di manapun. Rasa cemas segera merayapi hati tiga orang ini. Mereka segera berpencar ke tiga penjuru untuk mencari Ratna dan Girin.
Giran melompat ke atas tebing, memandang ke sekeliling dan terkesiaplah hatinya karena di balik tebing itu terdapat jurang yang menganga dalam. “Ratnaaaaaaa...!” teriak Giran keras-keras. Suaranya menggema dan berkumandang ke seluruh penjuru. Tapi tiada jawaban kecuali pantulan gema suaranya sendiri.
Samolo dan Nyi Londe pun memanggil-manggil nama Ratna dan Girin, juga tiada jawaban, kecuali gemuruh air sungai yang mengalir sangat deras di bawah jurang terjal itu. Giran dengan putus asa melompat dari tebing, wajahnya pucat dan muram. Ia menghempaskan tubuhnya duduk di atas batu, membenamkan kepalanya di antara kedua sikunya. Samolo dan Nyi Londe sama-sama lemah lunglai, masing-masing duduk di atas batu pula.
Langit mendung kian menggantung di angkasa. Sekelam hati ketiga insan yang tengah dirundung duka nestapa. Wajah kedua abdi yang setia ini tenggelam dalam kepedihan yang sangat dalam. Tiada nampak air mata lagi, karena kali ini yang menangis adalah hati mereka. Wajah Samolo tampak kosong tak berekspresi, ia tafakur menunjang tubuhnya yang kokoh itu dengan tongkatnya. Bagaikan sebuah patung arca yang menunggu kelapukannya dimakan zaman.
Mata Nyi Londe pun tampak hampa tak bersinar lagi. Dunia ini terasa begitu kosong bagi mereka. Karena mereka sudah merasa pasti bahwa orang yang mereka sangat kasihi telah tiada lagi di dunia ini, hanyut bunuh diri ke dalam sungai karena kecewa dan putus asa. Membawa anaknya ikut bersamanya, daripada anak itu akan jadi korban kekejaman ayah kandungnya sendiri. Ada rasa penyesalan terhadap sikap tuan mudanya ini, namun mereka tak mau mengutarakannya karena sudah tak berguna lagi. Mereka hanya menyesali nasib, mengapa harus mendera seorang wanita yang lembut hati itu sampai begitu kejam. Bukankah ada orang lain yang lebih jahat dan buruk tetapi bisa hidup senang menikmati hasil kebusukannya? Oh, betapa tidak adilnya kehidupan ini. Demikian pikir Samolo dan Nyi Londe hampir bersamaan.
Angin berhembus membawa titik-titik air sisa hujan. Suasana terasa hening membeku seakan-akan seluruh permukaan bumi sudah tidak lagi dihuni manusia. Giran terkulai bagaikan sebatang kayu yang layu. Hilanglah ketegaran jiwanya yang kokoh tak kenal kompromi. Tadinya ia menganggap dirinya sudah demikian dewasa dan matang, namun sesungguhnya ia pun tidak berbeda dengan orang-orang picik dan dungu, juga kekanak-kanakan. Memandang corak dan warna kehidupan ini dari sudut yang begitu sempit lalu dengan gegabah memvonisnya tanpa kenal ampun.
Giran kini mengutuki dirinya sendiri, ia merasa kerdil dan sangat berdosa, karena telah menghukum orang-orang yang tidak bersalah. Orang-orang yang sesungguhnya sangat mengasihinya. Giran meremas-remas kepalanya penuh penyesalan. Betapa pedih dan hancur hatinya bila mengingat nasib sang istri yang begitu setia dan sabar menantinya, meski setiap hari menerima siksa dari sang mertua yang ternyata berhati iblis. Yang lebih tragis lagi sepulangnya suami yang amat dirindukannya itu malah telah mendatangkan bencana yang lebih fatal lagi.
Tak sanggup lagi Giran memikirkan hal itu. Ingin rasanya ia terjun ke dasar jurang untuk menyusul anak dan istrinya itu. Semua yang dimilikinya kini terasa sudah tak berarti sama sekali. Kehidupannya benar-benar sudah terasa hampa, lebih pahit dari kehidupannya ketika harus bergumul di tengah belantara hutan Kalimantan yang buas itu. Bahunya terguncang dalam isak penuh penyesalan. Berkali-kali disebutnya nama Ratna sambil meremas-remas kepalanya sendiri.
Hingga pada suatu saat, di antara linangan air matanya ia melihat sepasang kaki putih mulus melangkah mendekat dan berhenti di sisinya. Giran pelan-pelan mengangkat wajahnya, ia seakan-akan tengah bermimpi, ditatapnya perempuan yang berdiri menggendong putranya itu, laksana bayangan fatamorgana yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
“Ratna...?!” gemetar bibir Giran menyebut nama itu.
“Kak Giran...!” lembut jawaban itu namun bagaikan awan mendung menjelang hujan.
Dengan perasaan takut kehilangan lagi, Giran segera merangkul tubuh semampai itu, yang sudah bertahun-tahun dirindukannya. Erat-ketat bagai tiada sesuatu pun yang dapat memisahkan mereka lagi. Ratna menangis tersedu-sedu terbenam dalam pelukan suaminya. Girin menangis ketakutan. Suatu pertemuan yang amat mengharukan. Ketiganya berdekapan dalam sedu-sedan yang sangat melirihkan namun membahagiakan. Samolo dan Nyi Londe pun ikut menepis air mata karena rasa haru dan bahagia yang menyesakkan dada mereka.
Giran membelai kepala putranya. “Girin, anakku...” katanya penuh kasih sayang, juga mengandung rasa bersalah.
Girin masih memangis dan memeluk ibunya erat-erat karena takut kepada laki-laki asing yang pernah menganiaya ibunya serta uwak-nya dengan garang itu.
“Ini ayah, Nak...! Ayahmu...” bujuk Ratna dengan mata berkaca-kaca. Tapi Girin masih meronta ketakutan.
“Biarkan saja dulu. Kelak kasih sayang jugalah yang akan melunakkan hati dan jiwanya.” ujar Samolo tersenyum.
“Betul, cuma kasih sayanglah yang bisa mempersatukan manusia.” sambung Nyi Londe seperti berfilsafat.
Samolo manggut-manggut menyetujui pendapat pengasuh yang telah membuktikan sendiri kata-katanya melalui kasih sayang yang dilimpahkan kepada anak asuhannya yaitu Giran. Tanpa kasih sayangnya itu barangkali pamor keluarga Tuan Tanah akan hancur sama sekali.
Begitu pun Samolo, demi kasih sayang ia rela berkorban apa saja termasuk sepasang matanya itu. Juga Ratna, dia begitu tabah dan setia, tahan segala derita. Semua demi kasih sayangnya. Maka tak masuk di akal kalau ia menjadi nekat bunuh diri bersama Girin. Hati kecilnya masih punya keyakinan bahwa Giran pada suatu saat akan sadar dari kekeliruannya. Maka ia menyelinap turun dari tebing dan bersembunyi di balik batu. Ia telah mendengar dan melihat perubahan sikap suaminya itu. Dia-lah yang pertama-tama menangis di balik batu itu, tangis bahagia yang sudah bertahun-tahun tak pernah lagi menghinggapi hatinya semenjak malam terakhir Giran pergi meninggalkannya.
Kini masa lalu itu bagaikan sebuah mimpi yang amat menakutkan dan telah berakhir. Mereka telah berkumpul kembali, sama-sama menghapus air mata. Berganti dengan air mata bahagia yang mengalir dari relung hati serta wajah-wajah yang dihias senyum ceria. Seceria cahaya fajar yang baru menyingsing di ufuk timur. Awan mendung pun telah buyar sudah. Dengan langkah mantap mereka saling berpegangan berjalan pulang untuk menyongsong fajar kehidupan baru.

***

Pukul delapan malam, Giran sudah selesai mandi. Bayang-bayang tubuh Ratna yang baru saja ia peluk terus menggodanya. Wanita itu kini berada di kamar mandi sehabis menidurkan Girin yang agak rewel. Giran menunggunya dengan hanya mengenakan handuk yang melilit di bawah perut, ia merebahkan tubuh di atas tempat tidur. Bayangan tubuh Ratna yang meski kini agak kurus masih mampu menggelorakan birahinya, dan tanpa terasa membuat kejantanannya menegak ke atas membayangkan hal-hal indah yang pernah mereka alami bersama.
"Achh... Ratna..." Giran berkata dalam hati sambil mengusap-usap handuknya yang menyembul ke atas menutupi kejantanannya. Tak tahan, iapun segera bangkit dan mengetuk pintu kamar mandi.
Ratna segera membukanya. Ia sudah selesai mandi, rambutnya masih basah oleh air keramas, tubuh halusnya bau kembang. Saat itu Ratna hanya mengenakan kain putih tipis yang menerawang. Sesaat jantung Giran berdegup kencang ketika memperhatikan bayang-bayang tubuh indah yang nampak jelas karena terpaan sinar bulan dari arah belakang kamar mandi. Wanita itu tampak tidak mengenakan bra dan celana dalam. Kejantanan Giran semakin keras menyembul dari balik handuknya menyaksikan pemandangan indah itu, membuatnya jadi semakin tak tahan.
"Ada apa, Kak?" begitu sapa Ratna tanpa rasa curiga sedikitpun. Giran berdiri tepat di depannya. Bau harum tubuh dan rambutnya yang wangi semakin mengelorakan jiwa laki-laki itu. Tanpa sadar Giran melangkah hingga istrinya itu bisa menyentuh handuknya yang menyembul keras sekali.
"Ahh, Kak!" lirih Ratna dengan gugup dan muka memerah. Lama tidak berjumpa dengan Giran membuatnya jadi seperti pengantin baru.
Giran segera memegangi pergelangan tangan sang istri,  gejolak birahi telah sedemikian menggelora dalam dirinya. Dengan sisa-sisa kesadaran yang ada ia meremas jemari tangan Ratna sambil sedikit menarik tubuh gadis itu ke arahnya.
"Kak," Ratna mendesah lirih, namun memejamkan matanya seolah menikmati belaian lembut tangan Giran di jari-jarinya.
Giran yang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan segera mencium dan melumat bibir indah gadis itu. Ia menggigit dengan lembut bibir tipis sang istri. Serangannya berhasil, Ratna sama sekali tidak menolaknya, bahkan kini tangan gadis itu memegang pipinya seolah berusaha agar Giran lebih kuat lagi menciuminya.
Sambil berpelukan, dengan jemari Giran berada di buah pantat Ratna yang indah, mereka terus saling melumat. Giran memeluk istrinya mesra, seakan berusaha untuk menekan badan Ratna agar lebih merapat ke arahnya. Posisi ini membuat Ratna bisa dengan jelas merasakan tonjolan kejantanan Giran di balik kain handuknya.
"Hhhmm..." gadis itu mendesah pelan ketika Giran menggesek-gesekkan kejantanan di sekitar daerah sensitifnya. Kini bibir laki-laki itu telah turun ke arah leher Ratna yang putih jenjang. Lidahnya menyapu-nyapu di belakang telinga gadis itu dan membasahi rambut-rambut halus di atas tengkuknya.
Tak mau kalah, tangan Ratna juga telah turun untuk menyusup ke dalam handuk sang suami. Jemari itu terus bergerak ke bawah berusaha untuk menggenggam kejantanan Giran yang sudah mengacung keras.
"Ssshh..." Giran mendesis nikmat saat jemari tangan Ratna bergerak lembut melingkari kejantanannya yang telah mengeras. Tangannya sendiri sekarang telah meraba-raba puting payudara gadis itu. Dimulai dari yang kiri sambil mulutnya menciumi yang kanan. Daster putih yang dikenakan Gadis itu jadi membasah di sekitar dada karena air liurnya. Kini puting Ratna yang kecil, mungil, dan berwarna merah kecoklatan tampak semakin jelas terlihat mencuat ke depan. Bergantian Giran meraba dan menciuminya hingga membuat sang istri mulai mendesis-desis penuh kenikmatan.
"Ahh... Kak, enak sekali." rintih Ratna sambil tak berkutik mengikuti giringan Giran yang sekarang membimbingnya menuju tempat tidur. Ia merebahkan sebagian badannya di atas ranjang, sementara kakinya yang indah masih terkulai lemas ke lantai.
Giran segera menyingkapkan daster yang dikenakan perempuan cantik itu, bisa ia saksikan indahnya bulu-bulu hitam lembut yang menutupi celah kewanitaan sang istri. Sungguh sangat pandai Ratna merawat dirinya, pikir Giran dalam hati. Ia lalu berlutut diantara kedua paha indah gadis itu dan mengarahkan bibirnya yang sudah gatal ke arah bulu-bulu lembut itu. Giran mulai mengecup dan menghembus-hembuskan nafasnya hangat ke kewanitaan Ratna hingga membuat gadis itu berteriak kecil tanda kaget sekaligus senang.
"Auhh..." Ratna semakin mendesis ketika jilatan-jilatan lidah Giran mulai menyentuh kulit pahanya. Tangannya meremas-remas rambut laki-laki itu seolah mengarahkan agar tepat di atas kemaluannya. Bibir sang suami kini telah menempel di bibir kewanitaannya, lidah laki-laki itu menyelip dan menjilati dinding luar kewanitaannya hingga membuatnya jadi mengerang merasakan kenikmatan luar-biasa yang mulai menyebar dan membuat tubuhnya menegang. Apalagi kemudian lidah Giran berputar-putar di bagian atas, tepat di tonjolan kecilnya yang kini jadi memerah tajam.
”Ohh!” Ratna langsung menggeliat. "Aduh... enak, Kak!" ia kembali mendesis sambil mengelinjangkan tubuhnya saat Giran dengan penuh nafsu terus menghisap-hisap klitorisnya, sehingga seakan-akan seluruh tubuhnya tersedot ke bawah.
Lelehan air wangi yang sedari tadi telah membasahi dinding kewanitaan Ratna kini semakin mengalir deras. Bunyi lidah dan hisapan-hisapan Giran pada klitorisnya semakin menjadikan birahi Ratna kian memuncak. Tangannya juga semakin cepat membenam-benamkan kepala laki-laki itu sambil terus berteriak-teriak lirih penuh kenikmatan.
"Terus, Kak... terus... jangan berhenti... uhh!!" pekiknya.
Kemudian salah satu telunjuk Giran menerobos liang yang telah licin dan basah itu. ”Ohhh!” Ratna menggelepar, merasakan kegelian sekaligus kehangatan dalam sentakan-sentakan tubuhnya yang menggelora. Apalagi Giran melanjutkan dengan mencengkeram kedua kakinya, mengangkat dan mengangkangkannya lebar-lebar. Oh, tubuh Ratna langsung meregang.
Kini Giran kembali memasukkan lidahnya -seluruh lidahku- bahkan sampai ke pangkalnya, ke dalam liang Ratna yang terasa semakin melebar itu. Sambil  memutar-mutar, ia meraih langit-langit kewanitaan gadis itu yang telah berdenyut-denyut nikmat hingga air wangi yang sejak dari memancar keluar keluar, kini semakin menyembur deras. Setelah kewanitaan itu sudah basah kuyup, saat itulah tiba-tiba badan Ratna menegang. Punggungnya melenting ke atas dan gadis itu menjerit.
"Ahh... aku keluar, Kak!!!" Ratna menggerang, menggelinjang dan bergetar hebat. Tubuh mulusnya tersentak-sentak hingga menyebabkan ranjang jadi berderik. Giran terus menyedot cairan yang keluar dari tubuh sang istri dengan seluruh mulutnya bagai sedang menyantap sebuah hidangan yang sangat nikmat.
"Ahh... Kak, enak sekali! Uhh, enak sekali..." Ratna mendesis-desis lagi saat Giran terus menciumi mulut kecilnya itu, sambil tangannya berusaha membelai-belai lembut biji klitorisnya.
Sejenak ia merebahkan diri di atas tempat tidur. Giran duduk di sampingnya sambil matanya dengan gemas mengamati seluruh tubuh sang istri yang begitu menggoda. Meski sudah memberinya satu orang anak, tubuh Ratna masih tampak seperti perawan saja, begitu sintal dan menggoda. Ratna yang tahu kalau diperhatikan, segera balas menatap kejantanan Giran yang menjulang tinggi ke atas. Ia segera meremas-remas lembut kejantanan itu sambil sesekali menciuminya. Lidahnya yang basah menyapu-nyapu kepala kejantanan sang suami, memberikan rasa geli bercampur nikmat yang sungguh luar biasa bagi Giran.
Pertama-tama Ratna memang cuma mengecup di sana-sini, namun itu sudah cukup untuk membuat Giran tersentak-sentak kegelian. Apalagi saat tak lama kemudian, dengan satu tangan meremas, Ratna mulai mengulum dan menghisap. Wow! Giran seperti dilambungkan ke langit ketujuh, kedua kakinya bagai tak menginjak bumi. Ratna yang melihat ekspresi sang suami, jadi semakin bergairah, bagai bayi yang kehausan ia mulai menyedot batang penis Giran secara berkepanjangan, berusaha memasukkan semuanya ke dalam mulutnya yang kecil.
"Ouughh..." Giran langsung mendesah pelan ketika ujung lidah Ratna menyentuh-nyentuh lubang di ujung kejantanannya. Sementara tangan gadis itu berusaha untuk mengocok-ngocok batangnya yang besar.
"Ooohh… Sayang, aku tidak tahan. Benar-benar tidak tahan!!" Giran menjerit-jerit pelan sambil memegangi kepala gadis itu, mengusap rambut Ratna yang legam, yang di sana-sini menyentuh bagian dalam pahanya, menambah rasa kenikmatannya.
”Kalau begini terus,” pikir Giran, ”aku pasti akan menyebabkan Ratna tersedak.” Maka dengan lembut ia menarik tubuh istrinya agar segera berdiri.
Mereka berdua lalu berpelukan, Giran dengan buas kembali mengulum dan melumat bibir gadis itu. Bagai menari, mereka bergoyangan perlahan, seirama menuju tempat peraduan. Kini Ratna beringsut duduk di atas kejantanan Giran. Buah pantatnya yang kecil tetapi padat itu ia geserkan pelan-pelan pada kepala kejantanan sang suami. Setelah puas, ia kemudian membimbing kejantanan Giran agar segera menuju celah lubang kewanitaannya. Begitu tepat berada di tengah, Ratna lalu menekan badannya ke bawah secara perlahan-lahan sehingga batang yang begitu kokoh itu pelan-pelan terbenam ke dalam lubang kewanitaannya.
”Ahh...” Ratna kembali mengerang, merintih penuh nikmat begitu merasakan otot perkasa yang panas membara menerobos masuk ke dalam tubuhnya. Membuatnya jadi gemetar hebat, sakit sekaligus nikmat.
Giran yang juga sama-sama nikmat, langsung meremas dada indah sang istri yang sangat sintal itu, yang telah pula mengeras bagai hendak meledak. Ratna menjerit kecil, kedua tangannya terentang pasrah, jari-jarinya meremas-remas seprai yang memang sudah berantakan tak karuan. Nafasnya tersengal-sengal, matanya terpejam nikmat, mulutnya setengah terbuka.
Ratna mulai bergerak turun naik perlahan-lahan sambil tangannya mencengkeram dada Girang untuk menopang badannya. "Oouugghh... Kak!" ia berteriak nikmat sambil berusaha menggigit bibir bawahnya. Lelehan air wangi kembali terasa membasahi kejantanan Giran hingga makin menambah licinnya gesekan-gesekan alat kelamin mereka berdua.
"Sshh... enak, sayang." Giran mendesis nikmat saat jepitan dinding-dinding kewanitaan sang istri terasa keras bergeser-geser di sepanjang kejantanannya. Wanita itu kini bergerak turun naik dengan semakin cepat sambil matanya terpejam-pejam menikmati amukan birahinya. Giran sangat menikmati ekspresi wajah itu, dengan tangannya tak henti-henti memilin dua puting Ratna yang juga sudah amat mengeras.
"Teruss... Sayang! Teruskan, lebih dalam lagi..." Giran berteriak-teriak penuh rasa nikmat.
Ratna menanggapi dengan semakin cepat bergerak membenamkan seluruh pinggulnya. "Ouhh... Kak, enak... enak sekali." ia menjerit-jerit kecil sambil mencakar-cakar lembut dada sang suami.
Dalam posisinya yang terbaring, Giran berusaha mengimbangi gerakan itu dengan mengayun-ayunkan penisnya dalam sentakan-sentakan pendek namun sangat terasa. Akibatnya, Ratna merasa bagai ditikam-tikam, tetapi tanpa rasa sakit, melainkan penuh berisi kenikmatan. Pinggulnya mulai bereaksi bagaikan seorang penari. Setiap hujaman dan dorongan Giran ia balas dengan goyangan yang tak kalah liar sehingga tubuh mereka yang berpeluh bertumbukan tepat di tengah-tengah. Dan setiap tumbukan mengirimkan getaran-getaran nikmat ke seluruh penjuru tubuh.
Begitu terus hingga dua menit berselang, Ratna tiba-tiba mencengkeram erat lengan tangan Giran sambil berteriak, "Ouhh... Kak, enak sekali." Dan seluruh badannya menegang seiring dengan tercapainya titik orgasme.
Ia terus merintih dan berteriak-teriak kecil sampai Giran melesakkan seluruh batang penis jauh ke dalam tubuhnya dengan sekali hentak hingga menyentuh bagiannya yang paling dalam, yang selama ini jarang dijamah. Ratna kembali berteriak nikmat dan meregang-menggelepar. Takut membangunkan Girin yang tertidur pulas di sebelah mereka, Giran segera membungkam mulut kecil sang istri dengan sebuah ciuman panjang. Sementara di bawah, ranjang mereka berderit-derit bagai memprotes.
Setelah membiarkan Ratna sejenak tenggelam dalam gelombang orgasmenya, Giran membantu mengangkat tubuh wanita itu agar tautan alat kelamin mereka terlepas. Namun istrinya itu memprotes dengan lemah, "Kak, jangan dikeluarkan dulu. Kamu kan belum," pintanya.
Giran memang tidak bermaksud untuk berhenti. Malah sebaliknya, ia ingin memberikan yang terbaik bagi wanita itu di malam yang dingin ini. Kapan lagi kesempatannya kalau tidak sekarang, saat mereka baru saja berjumpa setelah berpisah hampir 5 tahun? Apalagi waktu baru menunjukkan pukul sembilan malam, masih banyak kesempatan untuk sebuah percintaan yang penuh gairah.
Dengan kedua tangannya yang kokoh, Giran menggulirkan tubuh molek sang istri sehingga kini Ratna berbaring tertelungkup dengan nafas yang masih memburu cepat. Wanita itu diam saja, tampak pasrah menerima perlakuan Giran pada tubuh sintalnya. saja. Sementara Giran, dengan menggunakan kedua telapak tangannya, menyingkap kewanitaan Ratna yang sudah memerah basah lalu menghujamkan kemaluannya dengan sekali hentak dari arah belakang. Langsung masuk sampai ke pangkalnya, membuat Ratna sedikit tersentak meski sudah mengantisipasi.
”Ohh!” gadis itu mengerang, membiarkan Giran berbuat sesuka hati karena kewanitaannya kini sudah jadi sangat-sangat sensitif. Diapakan saja, Ratna pasti segera mencapai orgasme. Dan betul saja. Belum lagi mencapai hitungan ke delapan, orgasme keduanya sudah datang lagi. Kali ini terasa lebih hebat karena gosokan-gosokan kejantanan Giran sangat keras terasa di dinding-dinding kewanitaannya. Dengan kedua kaki menyatu membuat batang itu jadi terjepit erat, terasa kuat sekali. Begitu nikmat.
Giran sendiri sama sekali tidak menghentikan hujaman kejantanannya. Ia terus menusuk dengan nafas yang tak kalah menggemuruh. Ratna jadi merintih dan menjerit karenanya. Ia menggigit seprei yang telah pula basah oleh keringat. Kegelian yang tak tertahankan, bercampur kenikmatan yang meletup-letup, memenuhi seluruh tubuhnya yang terhimpit di antara kasur dan tubuh sang suami. Wanita itu tak tahan, tapi juga tak ingin berhenti. Ratna membiarkan gelombang demi gelombang kenikmatan merajahi tubuh indahnya, mengantarnta ke nikmat orgasme yang ketiga.
Dan Giran pun merasakan kenikmatan luar biasa ketika sang istri mencapai puncak birahi untuk yang kesekian kalinya ini. Ia merasakan betapa kejantanannya bagai dilumat oleh lapisan sutra yang sangat lembut dan hangat. Juga bagai diremas-remas sambil disedot-sedot, sehingga bagian ujungnya penisnya yang sangat sensitif jadi terasa ingin meledak. Terus ia mengayun-ayunkan pinggul, menghujam-hujam dengan begitu kuat dan dalam karena kini tak bisa lagi berhenti. Sampai akhirnya Giran mengejang saat merasakan kenikmatan yang luar biasa menyergap tubuh kekarnya.
Dengan sebuah hujaman terakhir yang sangat dalam, iapun berteriak, "Arghhh..!" Dan Ratna menyambut dengan sebuah jeritan kecil, lalu mengerang panjang ketika merasakan semprotan-semprotan hangat sang suami memenuhi seluruh rongga kewanitaannya. Nikmat sekali.
Giran mengeluarkan lava panasnya di dalam lubang kewanitaan gadis itu. Dinding kewanitaan Ratna terasa memijat-mijat seluruh batang kemaluannya, erat tapi juga lembut, hangat sekali. Ratna yang merasakan semprotan-semprotan itu, jadi seperti dipicu. Gelombang-gelombang kenikmatan kembali menggetarkan tubuhnya yang kini lunglai lemas. Kepala gadis itu menengadah, membiarkan Giran menciumi bibirnya penuh mesra, penuh rasa terima-kasih. Sementara di bawah, cairan cinta mereka berleleran memenuhi paha masing-masing.
Mereka terus berpelukan erat sambil Giran tak bosan-bosannya mengecupi tubuh sintal Ratna yang penuh keringat, yang terkulai lemas di bawah tubuhnya. ”Ah, betapa liarnya kami malam ini,” gumam Giran dalam hati.
"Kak, tadi rasanya enak sekali. Aku sampai empat kali lho, kakak hebat." bisik Ratna dengan nada manja sambil merebah ke samping.
Giran tersenyum dengan bangga, lalu mencium kening gadis itu. Sambil tetap berpelukan, mereka kemudian terlelap tanpa selembar benangpun menempel di kulit masing-masing.  

TAMAT
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar