Jumat, 24 Maret 2017

Misteri Yang Tersembunyi 10



Candi dan Sujarno terkejut. Meski remang, Candi langsung tahu pemilik suara itu. Itu Kuntoro! Di sebelahnya, berdiri si jebah, si celana longgar, dan si kumis. Bagaimana mungkin Kuntoro berada di sekitar sini? Orangtua keji ini benar-benar licin.
”Aku selalu beruntung memilih tempat lari atau bersembunyi,” kata Kuntoro seolah ingin menjawab rasa penasaran Candi kenapa ia bisa berkeliaran di kawasan ini. “Yang menyerah di sana itu adalah orang-orang yang bimbang pada kesetiannya padaku, dan yang tak pintar memilih ruang untuk bertahan,” Kuntoro tersenyum, memuji olah kata filosofisnya.
”Kini semua tugasku hampir tuntas. Kertas yang kuambil dari rambut jagung itu sudah ada pada anakku dan anakku pasti sudah menyelesaikan tugasnya mengambil satu carik lagi di rumah Parto Sumartono. Ia kemudian akan membawanya ke luar Kemiren.”

Candi dan Sujarno mencoba mencerna kata-kata Kuntoro. Lelaki itu pasti tidak bohong. Pasti salah satu dari empat orang yang mengawal Kuntoro telah diutus untuk membawa kertas bukti itu ke anak Kuntoro yang menunggu entah di mana.
Kuntoro mendekati Candi, ”Tahu tugas terakhir saya? Melenyapkan kalian!” suaranya menjadi bengis.
”Kau akan segera tertangkap, Kuntoro!” geram Sujarno berteriak.
”Aku pasti tertangkap, tinggal tunggu waktu!. Tak jadi soal aku menghabiskan sisa umur di penjara. Tapi anakku bisa mengenyam uang itu, di negeri asal uang itu disalurkan. Selamat tinggal!” Kuntoro tersenyum lagi, dengan sungging kemenangan di bibir.
Si jebah mengambil tempat Kuntoro tak jauh dari Candi dengan parang terhunus. Benda yang sama terhunus juga di tangan si celana longgar, dan si kumis. Tiga jagal ini tinggal menunggu perintah, untuk membuat tepian Kali Randu bersimbah darah.

***

Benar-benar bukan pekerjaan mudah mencari jalan ke perkampungan penduduk pada malam segulita itu. Kalau tadi habis kulit dibabat dinding kasar jalur perosokan, kini kulit Rio tanpa jaket harus rela tergores-gores ujung dahan-dahan ranggas.
Ia dikejutkan pula oleh suara rententan tembakan dan kelap-kelip banyak lampu di tebing jauh di depan. Ia mendengar pula suara pengeras suara dari corong megaphone.Ia tahu aparat penegak hukum pasti tengah beraksi seperti yang dijanjikan Pak Lurah. Dan Rio berjalan terus dalam gelap. Begitu ia berhasil mendekati sebuah rumah, ia langsung menyambar lampu minyak berdinding kaca yang tergantung di depan rumah orang. Dengan lampu itu ia agak leluasa bergerak dan segera mencari jalan makadam menuju ke rumah Si Mbah. Ia harus adu cepat dengan siapapun yang akan datang ke rumah Si Mbah untuk mencari bukti kertas itu.
Agar lebih cepat, Rio berputar lewat halaman belakang rumah Bu Parmi. Tak ada Hansip di belakang rumah Bu Parmi. Sejumlah Hansip hanya terlihat berseliweran lewat bayang-bayang lampu yang terlihat dari jauh.
Rio berhenti sesaat ketika ia melihat dua bayangan manusia berjalan tergesa meninggalkan rumah Si Mbah dan berjalan ke arahnya. Itu mirip seorang wanita, terlihat dari rambutnya yang berkibar ditiup angin pagi. Ketika berpapasan dengan Rio, lampu baterai salah satu sosok itu tertancap ke Rio. Harum rempah menebar dari sosok di depannya. Heran Rio mendapati Bu Lurah berjalan tergesa dengan Harjo. Bu Lurah mengenakan celana jeans ketat dengan t-shirt warna putih dan jaket olahraga bermerk Nike imitasi.
”Dik Rio!” pekik kecil Bu Lurah, jadi salah tingkah, mungkin karena ketahuan berduaan dengan Harjo dalam gelap dini hari itu. Harjo malu-malu menatap Rio.
”Si Mbah tambah gawat, Dik,” ujar Bu Lurah sebelum Rio bicara, ”Saya baru saja memberinya obat Cina khusus. Pak Lurah sedang memandu penggerebegan komplotan bajingan di Kali Randu bersama pasukan dari Polres. Dik Rio dari mana?” tanya Bu Lurah.
”Saya dari…” Rio mencoba menjawab.
”Baiklah, Dik. Saya tergesa-gesa. Rumah dan kantor desa tidak ada yang jaga. Saya dan Harjo harus balik ke kantor desa. Cepatlah tengok Si Mbah,” serobot Bu Lurah bersiap bergerak.
”Sebentar, Bu Lurah,” tahan Rio.
”Maaf, Dik. Maaf. Ayo, Jo,” Bu lurah menggamit Harjo.
Harjo menyambutnya dengan rengkuhan di pinggang ramping Bu Lurah. Kelihatan bangga sekali dia bisa memperlakukan Bu Lurah sedemikian rupa.
Rio melanjutkan langkah. Tapi sejenak ia merasa ada getar aneh dari wajah Bu Lurah. Ia menoleh, melangkah mundur sembari terus memperhatikan dua sosok yang berjalan menjauh. Rio melihat Bu Lurah berhenti dan menoleh pada Rio dalam gelap, seolah tahu persis Rio pun tak lepas menatap kepergiannya. Harjo berkacak pinggang, jengkel.
”Mbak Prap, tunggu apa lagi? Ayo jalan,” kata Harjo.
”Kau jalan dulu, Jo! Aku balik ke Rio dulu. Masih ada yang perlu kubicarakan dengan Rio,” kata Bu Lurah.
”Mbak Prapti!” protes Harjo.
”Kau jalan dulu! Tunggu aku di pertelon,” Bu Lurah bernada memerintah.
Takut-takut Harjo melangkah menuruti kata-kata Bu Lurah. Bolak-balik ia menoleh ke arah Bu Lurah yang melangkah balik ke arah Rio. Harjo cemburu melihat perempuan itu berbalik ke arah mahasiswa itu.
Rio tahu Bu Lurah berbalik. Ia menanti di bawah sebuah pohon. Sebentar kemudian wanita itu kini berada di hadapan Rio. Ia tetap kelihatan hebat pada dini hari seperti itu, rambut terurai, senyum menggoda dan semerbak harum rempah-rempah.
“Rio,“ ucap Bu Lurah perlahan, “Saya mau minta maaf soal kejadian di rumah Bu Parmi itu. Saya menyesal, tak akan itu terulang lagi.“
Rio mengangguk dan menatap mata perempuan itu. Bu Lurah mendesah kecil, “Tapi kau perlu tahu, aku sangat suka kamu. Kamu muda, ganteng dan gagah. Aku jatuh hati!” Bu Lurah menatap Rio sesyahdu yang sudah-sudah.
”Saya juga minta maaf telah berlaku kasar,” hanya itu yang bisa diucapkan Rio. Dadanya bergetar, sama bergetarnya seperti yang sudah-sudah ketika meladeni tatapan perempuan itu.
Bu Lurah beringsut lebih dekat ke wajah Rio. ”Mungkin kita tak akan pernah bertemu lagi. Kita akan sibuk dengan urusan dan dunia masing-masing. Olah karena itu, bila kau rela, bisakah kau mengabulkan satu permintaanku?” mendesah bibir Bu Lurah.
”Apa itu?”
Bu Lurah meraba tangan Rio yang sedang menggenggam lampu minyak dan membantu Rio menurunkan lampu itu di tanah. Keduanya berhadapan demikian dekat. Dari jauh, dengan sinar lampu minyak dari bawah, ini terlihat seperti sepasang kekasih siap bercumbu dalam temaram lampu minyak.
”Dengan kerelaanmu,” lirih suara Bu Lurah, ”beri aku ciuman,”
Rio menatap dalam-dalam mata Bu Lurah. Menengadah Bu Lurah menanti.
”Cium aku. Aku janji tak akan mendekapmu. Beri aku ciuman terbaikmu dan tak akan kulupakan itu seumur hidupku,” Bu Lurah memejamkan mata.
Rio menyapukan bibir ke bibir Bu Lurah. Bu Lurah menyambutnya hangat tanpa menyentuh. Rio melingkarkan lengan di pinggang Bu Lurah dan menarik erat ke tubuhnya. Sejenak perempuan itu tak berusaha membalas dekapannya. Tapi angin dingin terlalu kuat berhembus, membuat perempuan itu ingkar janji. Ia memeluk lebih erat, dan Rio tak keberatan Bu Lurah ingkar janji. Rio tahu perempuan ini demikian menginginkannya. Dibiarkannya hangat dari dada Bu Lurah merembet ke dadanya.
Terasa begitu kenyal dan empuk saat Rio merabanya. Tapi tiba-tiba saja Bu Lurah melepaskan diri ketika Rio mencoba untuk menekan lebih keras. ”Maafkan aku… maafkan,” ia berkata lirih. Rio masih bisa melihat merah menyala bibir itu dengan nafas memburu.
”Mbak Prap!” seru Rio.
”Maafkan aku,” Bu Lurah mundur beberapa langkah, berbalik dan berlari ke arah pertelon. Rio sangat berhasrat untuk memanggilnya. Tapi angin dingin membuat lidahnya kelu. Ia membiarkan saja wanita itu hilang ditelan kelam.
Agak lama Rio mematung di bawah pohon itu. Ia baru sadar ketika mendengar suara Hansip dari kejauhan di depan rumah Si Mbah, yang mengingatkannya bahwa ia harus lekas ke tempat Si Mbah.
Tak sempat Rio menyapa dua hansip di depan rumah Si Mbah. Ia langsung mencari si Mbah di kamarnya. Istri Sujarno heran melihat Rio baru datang dini hari itu. Bu Parmi juga ada di situ, menemani istri Sujarno.
”Bu Jarno tahu satu persatu anak-anak Pak Kuntoro?” tanya Rio langsung, sedikit tersengal, tak menghiraukan pandangan aneh istri Sujarno dan Bu Parmi.
”Ya, tahu semua,” ujar istri Sujarno heran.
”Adakah salah satu dari anak Pak Kuntoro datang kemari malam ini?”
”Tidak. Semua anak Pak Kuntoro tinggal di luar Kemiren. Ndak mungkin menjenguk Si Mbah malam-malam begini,” kata istri Sujarno. ”Yang datang ke sini malam ini cuma Bu Lurah, barusan, ditemani Harjo. Bu Lurah mengantar obat buat Si Mbah, dan mengambil sesuatu dari balik cermin tua di kamar Si Mbah. Katanya Dik Rio yang suruh!”
Rio langsung menghampiri cermin lama berbingkai kayu dan memeriksanya. Bagian belakang pelapis cermin sudah tersobek. Bu Lurah alias Praptiwi pasti telah mendapatkan kertas bukti itu.
”Bu Jarno tahu apa yang diambil Bu Lurah dari balik cermin itu?” Rio memastikan.
”Sepertinya kertas pelapis cermin!”
”Kalau begitu, tahan. Obat dari Bu Lurah jangan diminumkan Si Mbah!”
”Kenapa?”
”Ini gawat. Saya tidak minta Bu Lurah ambil apapun dari rumah ini!”
”Oh, begitu?” kata istri Sujarno. ”Lalu kabar suami saya bagaimana?”
”Candi, Danica dan Pak Sujarno selamat. Ibu tak usah kuatir. Kuntoro, biang kerusuhan semua ini sedang dalam pencarian polisi,” kata Rio.
”Kuntoro?” sambar Bu Parmi yang sedari tadi cuma mendengarkan.
”Ya, Kuntoro. Saya, Candi, Danica dan Pak Jarno baru lolos dari sekapan Kuntoro di tebing rahasia Kali Randu. Mbah Probosangkoro tewas dianiaya Kuntoro. Kuntoro bilang malam ini anaknya datang ke sini untuk mengambil sesuatu.”
”Kuntoro! Kuntoro, kata Nak Rio!” sekali lagi Bu Parmi memandang Rio panik.
”Ya, Bu!”
”Duh Gusti!” pekik Bu Parmi menutup wajahnya dengan kedua belah tangan.
”Kenapa, Bu Parmi?”
”Oh, si bajingan itu… gusti…” Bu Parmi terisak.
Rio mencoba menenangkan perempuan tua ini. ”Ada apa, Bu. Bicaralah pada saya?” kata Rio.
”Kejar Bu Lurah! Kejar si Praptiwi itu,” sambar Bu Parmi.
”Bu Lurah?” Rio heran.
”Ya. Ia anakku, tapi anak Kuntoro juga!” kata Bu Parmi.
”Hah!”
”Saya yang salah. Saya yang salah… saya malu… Kuntoro itu kekasih gelap saya. Ini rahasia yang bertahun-tahun terpendam. Sekarang harus saya buka. Praptiwi anak saya dengan Kuntoro. Sejak dulu Kuntoro memang punya dendam pada Si Mbah Parto Sumartono. Kuntoro pasti telah memanfaatkan Praptiwi. Kejar dia, Nak Rio! Dapatkan dia! Cegah apapun yang ia akan lakukan! Dia sudah kerasukan nafsu serakah Kuntoro!” Bu Parmi tak berhenti melolong.
Rio menatap gelap di depannya. Tak habis pikir dari malam sampai pagi ini misteri Kemiren membuahkan rahasia-rahasia tak terduga. Ia harus mengejar Praptiwi.
Kelam pagi ini makin meruncing saja.

***

Si jebah kelihatan sangat haus darah. Begitu melihat Candi berdiri menantang, ia menghunus parangnya, dan menunggu perintah dari Kuntoro. Demikian pula si celana longgar dan si kumis. Kalau sebelumnya selalu saja ada halangan buat membabat musuh-musuh di hdapannya ini, kali ini mereka yakin bakal tuntas tugasnya. Bernafsu sekali mereka mengelilingi Candi, Danica dan Sujarno. Mereka permainkan parang itu di hadapan musuh untuk merontokkan nyali musuh.
Candi mencoba menatap tajam di jebah dan berusaha membaca gerakannya. Nyala lampu senter di tangan kiri si jebah menjadi terang karena tak lagi tertutup kain sarung. Dari jauh bisa terlihat jelas gerakan-gerakan mereka yang sedang mengancam dan mereka yang sedang terancam itu. Kalau saja polisi sedang menyisir tempat itu, pasti mereka akan segera tahu. Candi berharap ada keajaiban itu. Tapi sepertinya harapan itu tipis. Ia dan kawan-kawannya tak bisa menghindari kenyataan mereka kini menghadapi bahaya besar. Sangat mustahil tak ada darah tertumpah. Candi berharap itu bukan darahnya.
Detak jantung Candi menghebat saat si jebah maju membabatkan parang dengan teriakan tak jelas. Candi berkelit. Danica dan Sujarno beranjak menjauh dan mencoba mengalangi si jebah. Si celana longgar dan si kumis tak tinggal diam dan masing-masing langsung memilih mangsa, Danica dan Sujarno. Kuntoro tampak senang dengan adegan ini. Ia berdiri dengan dua tangan menopang di atas tongkatnya. Ia yakin musuh-musuh gampang ini sebentar saja akan tumpas.
Dan Kuntoro benar. Candi, Danica dan Sujarno benar-benar tak berkutik dengan serangan-serangan parang itu. Mereka hanya bisa menghindar dengan perasaan was-was luar biasa, dan mereka yakin in tak akan bertahan lama. Sebentar lagi pasti ada darah.
”Auh!” tiba-tiba Sujarno berteriak nyaring, diikuti lolong panjang kesakitan.
Candi melihat sekilas, bahu Sujarno terbabat parang si kumis. Darah segar muncrat dari sobekan kemeja batiknya. Danica berusaha menghindar dari desakan si celana longgar dan berusaha menjauhkan Sujarno dari makin gencarnya serangan si kumis. Namun, upaya Danica ini malah membahayakan posisinya. Si celana longgar mendapatkan peluang bagus menyabetkan parang.
Candi melihat ini dan meneriaki Danica untuk memberi peringatan, dan ini mengacaukan konsentrasinya. Si jebah melompat dengan parang teracung siap menebas. Candi menutup mata dan menantikan datangnya malapetaka besar itu.
”Hentikan! ini polisi. Angkat tangan semuanya!” tiba-tiba hardikan keras sekelompok anggota polisi lengkap dengan lampu sorot dan gonggongan anjing pelacak membuat gerak si jebah terhenti.
Jebah, celana longgar dan Kumis segera lari menghambur meninggalkan Kuntoro yang berusaha menyingkir tertatih-tatih dengan tongkatnya. Letusan tembakan peringatan membahana di tebing itu.
Anggota polisi sigap mengejar si jebah, celana longgar dan si kumis. Yang lain membantu Sujarno.
Candi mencari tahu kemana Kuntoro menghilang. Ia tahu Kuntoro menyelinap pergi tanpa kawalan satu pun anak buahnya yang sudah tercerai berai cari selamat. Tanpa anak buah, Kuntoro tak akan punya peluang lari jauh.
Tak sulit Candi menemukan Kuntoro. Ia menjemba kerah orangtua itu dan menghentikannya dari belakang. Tapi, tanpa terduga, Kuntoro berbalik dengan tongkat menyambar telak ke pelipis Candi. Gadis ini menjerit. Matanya berkunang-kunang. Perhatiannya berkurang. Anda malam tak gelap, pasti habis ia dihajar Kuntoro yang mengayun-ayunkan tongkat dengan gerakan membabi-buta.
Candi mundur beberapa saat dan mencoba mengumpulkan tenaga dan konsentrasi. Desing tongkat yang membabat angin ia perhitungkan baik-baik. Kuntoro saat ini pasti sedang panik mencari-cari sasaran, dan inilah saat yang tepat melumpuhkan macam ompong itu.
Manakala desing tongkat terdengar tak jauh dari Candi, cepat ia menangkap tongkat itu dengan genggamannya dan mencengkeramnya kuat-kuat. Sekuat tenaga ia merebut tongkat itu. Tapi, karena Kuntoro memegang bagian yang melengkung, ia punya kekuatan lebih besar mempertahankan tongkatnya.
Dengan kedua belah tangan, Candi menarik tongkat itu. Ia bisa merasakan getar hebat tangan Kuntoro yang menjaga sekuat tenaga agar tongkat tak berpindah tangan. Candi jadi tahu Kuntoro kini mengandalkan hidupnya pada tongkat itu.
Tapi, tak dinyana-nyana, tongkat itu tiba-tiba melemah. Dan berbareng dengan datangnya Danica dan sejumlah anggota polisi, Candi tahu Kuntoro tengah bergulat mempertahankan tubuhnya yang tiba-tiba saja oleng. Rupanya Kuntoro salah memilih tempat berpijak. Tanah yang dipijak Kuntoro runtuh satu persatu dan tubuh Kuntoro melesat deras ke atas dengan raungan singkat.
”Pegang erat, Pak!” Candi meneriaki Kuntoro, tubuh gadis itu terseret ke tanah, mengikuti gerak jatuh Kuntoro. Untung ada akar melintang yang bisa Candi gunakan untuk mengaitkan kaki dan menghentikan gerak turunnya.
”Pegang kuat. Jangan dilepaskan. Saya akan menarik Pak Kuntoro!” kata Candi sekuat tenaga menghela batang tongkat yang dirasa makin licin. Tapi tubuh Kuntoro terlalu berat. Perlahan cengkeraman dua tangan Candi pada batang tongkat bergeser perlahan dan cengkeraman itu beberapa centimeter lagi akan sampai pada ujung tongkat.
Para polisi berjongkok untuk membantu menahan, tapi pegangan Candi makin tak tertahankan dan lepaslah tongkat itu bersama Kuntoro.
Kuntoro menjerit histeris. Jeritannya membahana di tebingan itu. Orang-orang mendengar suara berderah dan berdebum di bawah sana. Sejumlah lampu senter tersorot ke bawah. Kuntoro terkapar sektar 20 meter di bawah sana. Darah membersiti cadas dan batuan runcing di seputaran kepalanya. Tak terlihat orangtua itu bergerak. Hidupnya tamat di pangkuan bebatuan Kali Randu.

***

Dengan lampu senter yang ia raih dari meja di kamar Si Mbah, Rio segera melesat menyusul Bu Lurah ke pertelon. Masih bergayut sangsi di dada Rio; benarkah perempuan cantik ini juga merupakan salah satu sumber kekacauan di desa ini? Alangkah rapinya ia menyembunyikan gerakan di depan suami, di depan semua orang, di depan masyarakat desa Kemiren.
Desir dingin angin pagi melibas wajah Rio. Masih terasa hangat bibir Bu Lurah di bibirnya, masih membara sisa dekapan Bu Lurah di dadanya.
Tapi tak ada Praptiwi di pertelon, tidak juga Harjo. Ke mana harus melacak Praptiwi. Rio berpikir sejenak. Tak mungkin Praptiwi menuju ke balai desa. Ada banyak polisi di sana. Ia pasti perlu tempat bersembunyi atau mencari jalan aman ke luar dari Kemiren.
Rio memutuskan untuk kembali ke selatan, ke arah Kali Randu. Ia menggunakan sisa-sisa tenaga yang ada. Rio yakin Praptiwi punya tempat khusus di sekitar jajaran kaliandra tempat mereka bertemu kemarin.
Rio hampir sampai di jajaran kaliandra itu ketika jalannya terhenti oleh seonggok tubuh melintang di jalan setapak gelap menuju ke jajaran pepohonan. Segera ia sinari onggokan tubuh itu. Harjo tergeletak di tanah tak dasarkan diri dengan wajah bersimbah debu dan kepala bocor. Tak jauh dari situ, sebongkah batu sebesar kepalan tangan tergeletak, penuh darah. Malang benar Harjo. Agaknya Praptiwi menyudahi hubungannya dengan Harjo lewat cara yang sangat jelas tidak disukai laki-laki itu.
Karena ada tanda-tanda Harjo masih bernafas, Rio mengeluarkan saputangan dari saku celana dan membalut kepala Harjo untuk menghentikan pendarahan. Ia kemudian menepikan Harjo ke pinggir jalan setapak.
Ujung kelam tampaknya agar segera menjemput. Langit timur berubah warna menjadi rembang ungu. Tapi itu belum cukup memberi cahaya untuk sekeliling. Rio kembali menyambart lampu senter. Sekarang harus diperhitungkan kemana Praptiwi melaju, yang boleh jadi mencari Kuntoro. Kalau Kuntoro telah tertangkap, harus pula dipastikan kemana perempuan itu menyembunyikan diri.
Rio menggunakan ujung cahaya lampu senter sebagai petunjuk untuk menelusuri setiap sudut. Ia mulai menyusuri jalan setapak yang dijajari pohon-pohon kaliandra dari satu ujung ke ujung lain.
Tiba-tiba saja bulu kuduk Rio meremang. Nalurinya mengatakan ada gerakan mengintai tak jauh darinya. Cepat ia mengirim cahaya ke sumber mencurigakan itu. Ia terkejut ketika dari arah samping kanan sebuah gerakan cepat menghantam tangan kanannya. Rio mengerang kesakitan. Lampu terlempar jauh. Sekeliling menjadi gelap.
”Aku memang kasmaran pada kamu, tapi aku tak ingin kau terus mencampuri urusanku,” pekik Praptiwi menyibak gelap.
Dalam remang Rio melihat wanita itu berbekal sepotong kayu dalam genggaman kedua tangan. Dari caranya memegang kayu, Rio tahu Praptiwi tidak lihai memainkan senjata temuan itu. Ia mengayun-ayunkan kayu asal-asalan saja.
”Tahan, Mbak Prap!” Rio berusaha menghentikan gerak merangsek Praptiwi. Tapi wanita itu tetap maju dengan raut beringas. Kalau suasana terang, pasti Rio melihat raut macam betina di wajah cantik itu.
Rio melompat ke kiri saat kayu itu terayun ke arah kepala. Pada saat itu juga, Rio sempat mencuri peluang kelemahan Praptiwi. Tangkas ia menendang kayu itu. Praptiwi berteriak. Suara bergedebug di sebelah menandakan kayu itu telah terbang dan mendarat di sana. Kini Praptiwi tak bersenjata, dan akan bekurang bahaya serangannya.
Tetapi Rio salah. Ketika ia mendekat, Praptiwi meraih sesuatu dari sakunya; sebuah pisau lipat yang langsung terbuka ketika digoyang keras. Bercahaya pisau itu dalam remang dini hari. Dan kali ini Rio gagal mengantisipasi dengan cermat. Pisau lipat di tangan Praptiwi berkelebat dan menyerempet pahanya.
Meski perih, Rio tak berusaha memekik. Ia mundur beberapa langkah untuk menghindarkan serangan fatal berikutnya. Rio juga tak ingin serangan balik untuk bertahan malah membuat pisau itu menggores kulit cantik Praptiwi.
Berulang kali pisau lipat itu menyambar, dan Rio berkelit dengan hati-hati. Saat pisau itu menyambar ruang kosong, Rio berhasil meraih salah satu ujung jaket Praptiwi, dan langsung membetotnya. Perempuan itu langsung tersentak ke belakang. Segera ia melepas jaket seluruhnya dan membiarkan jaket itu lepas dalam hentakan tarikan Rio. Bersama jaket itu, belati di tangan Praptiwi terpelanting entah kemana. Praptiwi lari menjauh.
Rio menghempaskan jaket itu di tanah. Langit di timur bertambah cahaya. Tapi cahaya yang masih temaram itu hanya memberian sedikit bayangan Praptiwi yang makin jauh masuk ke dalam rerimbunan semak-semak liar.
Agak lama Rio berlari kecil menyusurijalan setapak berdinding jajaran kaliandra dan sebentar kemudian ia sampai di kawasan yang banyak ditumbuhi pohon orok-orok. Agar kehadirannya tak diketahui Praptiwi yang mungkin sudah duluan berada di kawasan itu, Rio berusaha sedapat mungkin tidak menyenggol salah satu pohon itu agar biji-biji kering di dalam ribuab buah orok-orok tidak menimbulkan kegaduhan. Tapi itu ternyata tidak mudah. Ketika ia memutar tubuh, tak sengaja ia menyenggol satu pohon orok-orok. Gemericik buah orok-orok memecah sunyi.
Pada saat itu juga ia mendengar suara gemericik lain bersambung-sambungan dari jarak 3 meter. Cepat Rio mencari suara itu. Praptiwi melesat menerabas pepohonan orok-orok. Ia tahu ia telah memilik tempat bersembunyi yang salah. Meski paha bekas sayatan Praptiwi menimbulkan nyeri yang luar biasa ketika berlari, tak sulit bagi Rio untuk mengejar Praptiwi.
”Berhenti, Mbak Prap! Berhenti!” seru Rio.
Tapi Praptiwi enggan mendengar. Ia baru berhenti manakala larinya terhenti oleh sebatang pohon yang ia tak sengaja ia terabas. Ia terpental ke belakang, dan mendekap wajahnya dengan erang kesakitan.
Rio mendapatkan wanita itu mencoba berdiri. Ketika Rio mendekat, cepat kaki Praptiwi menendang perut Rio. Rio kaget. Sulit dibayangkan wanita pecinta bunga itu bisa sedemikian kasar. Ia menanti gerakan Praptiwi berikutnya. Wanita itu mengambil sebongkah batu dari tanah dan siap menghantam Rio.
Rio merunduk dan menyergap pinggang Praptiwi dari bawah. Praptiwi kehilangan keseimbangan. Keduanya terjatuh mengikuti dorongan Rio. Praptiwi merintih menahan tindihan Rio. Pemuda itu tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia membalik tubuh Praptiwi dan menguncinya dari belakang.
”Tubuhmu seharum rempah-rempah. Wajahmu seindah bunga, dan tatapan matamu teduh. Tapi hatimu busuk luar biasa. Akui kau yang memicu kekacauan di desa ini!” ujar Rio di telinga Praptiwi, ”Kau tahu isi surat dari yayasan itu dan kau bersekongkol dengan bapakmu Kuntoro yang serakah itu!”
”Memang aku yang mengendalikan semua itu. Aku otak dari semua kekacauan ini!” kata Praptiwi. Ia meronta dalam kuncian tangan dan lutut Rio yang menekan tubuhnya rata ke tanah.
”Sekarang tenanglah! Kamu dan komplotanmu sudah kalah. Akui semua kesalahanmu di depan suami dan masyarakat Kemiren. Uang hibah yayasan itu bukan hakmu. Itu hak orang lain; hak desa ini, hak negeri ini!” kata Rio
”Tidak! Bunuh saja aku! Bunuh!” Praptiwi meronta lebih hebat. Ia mencoba bergerak lebih hebat ke arah pohon. Rio tahu perempuan itu hendak membentur-bentukan kepala pada batang pohon di depannya. Cepat Rio menarik tubuh Praptiwi menjauh dari pohon.
Praptiwi tampak jengkel sekali. Gerakannya kini seperti kuda betina liar yang kehilangan kendali. Tapi, dalam cengkeraman Rio yang makin kuat, ia hanya bisa melolong dan meronta dalam waktu lama.
Sabar Rio menahan dan mengikuti gerak liar Praptiwi yang makin lama makin melemah. Perlahan Rio menjemba rambut Praptiwi dan menghadapkannya ke arah langit timur yang baru saja mendapat sapaan hangat matahari pagi.
”Pandang matahari itu, dan cari tahu siapa Mbak Praptiwi sebenarnya. Mbak Prap bukanlah ibu desa yang selembut bunga, bukan perempuan yang bisa membedakan kearifan dan keserakahan. Mbak Prap sudah menimbulkan banyak korban, menumpahkan banyak darah,” kata Rio.
Praptiwi menatap rembang fajar tanpa kedip. Ia terus meronta dan meronta. Tapi rontaan itu makin lemah dan melemas. Ia kini balik menyandarkan kepala ke dada Rio.
Rio melonggarkan cengkeramannya dan beralih memeluk hangat perempuan itu. ”Semuanya sudah berakhir, Mbak Prap. Lihat indahnya matahari pagi ini. Itu adalah matahari harapan hari ini. Harapan bagi desa ini, harapan untuk berhentinya angkara murka, harapan bagi Mbak Praptiwi untuk berubah menjadi lebih baik. Mbak Prap sebetulnya bukan perempuan jahat. Mbak Prap hanya korban keserakahan,” kata Rio.
Praptiwi menumpuki tangan Rio yang mendekap dadanya, mendengarkan dalam diam.
”Sebentar lagi polisi datang kemari. Mbak Prap tak perlu lari. Jika Mbak Prap mengakui semua kesalahan, semuanya akan jauh lebih mudah,” Rio mendekap dada Praptiwi lebih kencang dan hangat. Wanita itu menengadah, seolah ingin mendengar suara Rio lebih jelas. Sudah pasrah dia.
”Dan,” Rio bicara dengan pipi menempel di pipi Praptiwi, ”saya ingin Mbak Prap tahu, saya menyukai Mbak Prap. Saya bangga dan senang Mbak Prap menginginkan saya. Mbah Prap berhasil membuat saya terpesona… tapi, Mbak Prap adalah Bu Asromo. Mbak Prap adalah ibunya Hendro. Saya ingin Mbak Prap tetap seperti itu,”
Dan makin meleleh airmata Praptiwi. Ia menangis tanpa suara. Rio tahu itu tulus.
Tak lama kemudian, terdengar tapak-tapak mendekat. Polisi dan sejumlah orang berdatangan. Rio dan Praptiwi masih menatap rembang fajar di ufuk timur. Rio mencium pipi Praptiwi mesra satu kali, dan membiarkan wajah Praptiwi merebah di lehernya. Praptiwi memejamkan mata. Pipi Praptiwi bersimbah airmata.
Polisi, Candi, Asromo, dan Danica berdiri tak jauh dari dua orang yang masih berpelukan menatap matahari yang makin benderang, bundar dan hangat.

***

Rio meneguk kopi hangat di meja di beranda rumah Si Mbah. Sejumlah polisi baru saja menyelesaikan tanya ini-itu pada Rio, Candi, Danica, Sujarno, dan orang-orang lain. Jam 10 pagi lebih sedikit.
Dari kejauhan Asromo tergopoh datang dengan dua orang bule berpakaian necis. Danica tak terkejut melihat kedatangan kedua rambut jagung itu. Danica menyapa dalam bahasa Belanda. Kedua bule itu adalah utusan dari Yayasan Kristoff von Weissernborn.
”Kabar buruk,” kata Asromo.
”Kenapa, Pak?” tanya Rio.
”Bukti dua carik kertas yang kau rebut dari Praptiwi itu ternyata tidak sah,” kata Asromo.
”Tidak sah?”
”Ya,” sambung dua bule itu dalam bahasa Inggris. ”Setelah kami teliti dengan cermat, ternyata yang dianggap sebagai bukti bukanlah dua carik kertas itu.”
Rio dan Candi menunggu dua bule itu bicara lagi.
“Kedua kertas ini tidak dilukis, tapi dicetak sebelum kemudian dipotong menjadi dua bagian persis di tengah. Dalam wasiat von Weissernborn, baru saja kami temukan penjelasan bahwa bukti yang diperlukan adalah cetakan itu, bukan kertasnya. Orang yang membuat cetakan itu adalah pemilik bukti itu,” lanjut salah satu bule itu.
Candi dan Rio berpandangan dan tak kurang dari Danica minta agar penjelasan soal bukti itu diulang. Pada saat itu tiba-tiba istri Sujarno berteriak, “Si Mbah bicara… Si Mbah bicara…”
Bergegas orang-orang menghambur ke kamar Si Mbah. Orang tua yang selama beberapa hari hanya terbaring membisa kini mulau berkata-kata. Airmatanya meleleh di pipi keriput. Tangan kanannya bergerak-gerak arah sebuah tugu kayu setinggi setengah meter berbentuk balok dengan panjang dan lebar bagian dasar 30 cm. Tugu kayu itu, yang bagian atasnya melebar, selama ini berada di dekat ranjang Si Mbah dan digunakan sebagai meja kecil untuk meletakkan air minum Si Mbah.
Tak seorang pun bisa menangkap isyarat tangan Si Mbah. Tapi semua terhenyak ketika Si Mbah memaksakan diri untuk menyenggol rubuh meja kayu berbentuk tugu tunggal itu. Maja itu roboh bersama dengan gelas air minum Si Mbah. Orang-orang yang hadir tak segera memahami itu kecuali Rio.
Rio langsung menghampiri tugu kayu itu dan memeriksa dasarnya. ”Lihat, ukiran kaliandra di dalam bulatan dengan huruf W dan P, dan angka 19 dan 40,” kata Rio. ”Ini cetakan itu!”
Semua orang merubung tugu kayu itu. Salah satu bule mengais selembar kertas kosong dari tas portepel yang dibawanya. Ia mencari-cari sesuatu untuk mengoles. Rio punya akal. Ia membakar sumbu sebuah cublik, dan mengambil cermin kuno di dinding. Rio kemudian membiarkan nyala api menjilati permukaan cermin untuk mendapatkan jelaga.
Si bule faham. Begitu jelaga terkumpul, ia mengoleskan telapak tangan pada jelaga, dan kemudian mengolesi dasar tugu berupa cetakan dengan jelaga. Bagian dasar itu kemudian ia stempelkan ke kertas kosong. Dan tercetaklah sebuah bundaran dengan bentuk kaliandra utuh di tengahnya, dibarengi huruf W di kiri dan P di kanan, angka 19 di bawah W dan angka 40 di bawah P.
Dua bule itu kemudian menyamakan hasil cetakan dengan kedua lembar kertas kusam yang selama ini menggegerkan Kemiren. Lama mereka menelitinya.
”Ya, benar. Ini bukti itu!” kata salah satu bule. ”Orangtua itu pastilah pemilik cetakan ini. Ia yang berhak atas uang hibah itu. Saya akan segera email ke Belanda.”
Orang-orang bernafas lega dan bergantian menatap hasil cetakan itu. Tak seorang pun memperhatikan Si Mbah yang tiba-tiba tersengal-sengal.
”Si Mbah!” pekik Rio. Semua orang kini menoleh ke Si Mbah Parto Sumartono.
Bibir Si Mbah bergetar hebat. Dari mulutya terdengar kata-kata, ”Musssseeumm… musseummmmmm...” guman Si Mbah. Sejenak kemudian Si Mbah menarik nafas panjang dan akhirnya terhenti nafas itu.
”Mbah Parto,” pekik Rio. Tapi Si Mbah bergeming. Tak ada hembusan nafas di hidungnya. Ia terbujur kaku. Sekilas tampak keriput menghias wajah, tapi senyum Si Mbah mengembang di bibir. Wajahnya damai. Rautnya teduh. Ia telah tiada.
Rio menyelinap perlahan ke luar kamar dan memandangi papan nama Si Mbah di depan rumah. Papan itu bergoyang-goyang ditiup angin. Rio melihat cahaya terang memancar dari papan itu. Si Mbah telah menuntaskan pekerjaan besarnya dengan baik. Si Mbah telah memberi tuturan pada Kemiren tentang kerendahan hati. Si Mbah telah membuat Rio menitikkan air mata.

***

Rio membuka halaman koran Tajuk Zaman yang baru ia beli di kios koran di ujung gang. Tiga hari beturut-turut koran itu menurunkan berita Kemiren, semuanya tulisan Candi

“KONSPIRASI PENJEGALAN HIBAH BELANDA”
“UANG HIBAH DIRENCANAKAN UNTUK MERENOVASI MUSEUM PURBAKALA SESUAI WASIAT PARTO SUMARTONO “
“MARAKNYA KERAJINAN FOSIL PURBAKALA”
“IN MEMORIAM : PARTO SUMARTONO, ASISTEN VON WEISSERNBORN”

dan sebagainya...

Seminggu ini wartawati cekatan dan tak kenal takut itu pasti terus berkutat dengan komputer di meja redaksi. Hape di atas meja kamar kos Rio berbunyi.
“Bisa bicara dengan Rio?” terdengar suara dari seberang.
“Saya Rio. Ini siapa?”
“Candi,”
“Oi, Can! Di mana kau?”
“Di Bandara Juanda. Mau ke tempatmu. Boleh?”
“Mau apa ke tempatku?”
“Mau ngajak kamu ke Kemiren, terus bikin feature tentang kisah cinta dua dunia,” kata Candi.
“Kisah cinta dua dunia? Maksudmu?”
“Ya, itu, kisah cinta seorang mahasiswa dan ibu desa yang jauh lebih tua,”
“Sialan! Menyindir! Dari mana kau dapat isu itu?”
“Ini beneran!”
“Kalau mau nulis yang begituan, kamu berangkat aja sendiri. Aku ogah!”
“Marah nih!”
“Ogah!” Rio menutup ponsel. Dan Candi tidak menderingkan telepon itu lagi. Rio menunggu, beberapa menit kemudian ponselnya pasti berdering lagi. Tapi ternyata benda itu terus bungkam sampai satu jam kemudian.
Rio baru saja mandi ketika Candi sudah berdiri di pintu kamar kos. Taxi bandara baru saja menderu pergi. “Payah! Kau mudah marah!” kata Candi, langsung masuk kamar kos Rio dan menyeruput sekaleng Cocacola punya Rio.
“Bu Lurah sekarang ada di tahanan Polres di kota kabupaten. Jadi aku tak bisa mewawancarainya untuk tulisan feature ini. Satu-satunya narasumber adalah kamu, mau ya kuwawancara?” kerling Candi.
“Nggak. Memangnya kau tahu apa soal aku dan Bu Lurah?”
“Praptiwi itu cinta hebat sama kamu. Ia kesengsem. Ia kasmaran! Aku tahu itu. Ada hansip di rumah depan rumah Si Mbah yang bilang kau ciuman dengan Bu Lurah di pagi buta itu. Ia juga menyerah dalam pelukanmu. Kalau ia tak cinta kamu, mana bisa ia luluh begitu,” kata Candi.
“Terus?”
“Ya nggak ada terusannya. Gitu aja, aku cuma ingin tahu apa kamu juga suka dia?”
Rio menggaruk kepala. “Aku… gimana ya?”
“Bilang aja kau juga suka dia, repot amat!” kata Candi berubah ketus.
Rio tak menyahut. Tak jelas kenapa Candi tiba-tiba membahas soal hubungan khususnya dengan Praptiwi dengan nada ketus. “Jadi benar-benar kau mau nulis cerita kayak gitu? Nggak ada nilai beritanya, tahu!” kata Rio.
“Buat aku itu ada nilai beritanya,” kata Candi tersenyum, “hehehe… jangan kuatir. Aku cuma bercanda, kok. Aku nggak nulis cerita begituan,” Candi mengeluarkan dua helai tiket pesawat dari tasnya.
“Ini tiket pesawat ke Lombok, dan liburan ditanggung Tajuk Zaman. Satu atas nama aku, satunya atas nama kamu. Berangkat nanti jam 3, pulang seminggu lagi. Siap-siap, kita jalan bareng, oke?”
Rio diam sesaat dan mengamati tiket itu. “Berlibur sama kamu? Berdua saja? Kenapa kamu pikir aku mau?” tanya Rio.
Candi berdiri mendekati Rio. “Karena aku tahu kamu suka perempuan lebih tua,” kata Candi.
Rio mengernyitkan dahi. Apa pula maksudnya ini? Ia baru sadar pastinya Candi lebih tua beberapa tahun daripada Rio. Pemuda itupun tersenyum. “Boleh aku tanya?” tanya Rio.
“Apa?”
“Seandainya ada pemuda lebih muda jatuh cinta pada kamu, apakah kamu akan menerimanya?”
“Tergantung,”
“Tergantung apa?”
“Tergantung cara ia menyampaikannya,”
“Oke, kamu kan hebat dan anggota Persatuan Sok Tahu Indonesia, kamu bisa ngajari aku bagaimana caranya?”
“Memang kau sedang jatuh cinta pada perempuan lebih tua?” kata Candi.
“Umurmu berapa?” tanya Rio.
“26,” kata Candi.
“Aku 21,″
“So?”
“Kayaknya aku jatuh hati pada kamu. Jadi ajari aku cara mengutarakannya,” kata Rio.
“Tidak sekarang!”
“Kapan?”
“Nanti di Lombok!”
“Kalau menunggu di Lombok, aku lebih suka menggunakan cara Praptiwi mengucapkan cinta padaku,” kata Rio.
“Bagaimana caranya?” Candi memandang Rio.
“Sederhana. Begini…” perlahan Rio meraih kepala Candi dan mencium bibirnya. Candi terkejut. Tapi ia tak berdaya, atau, membuat dirinya tak berdaya. Ia balas ciuman Rio dengan hangat dan mesra pula.
Nafsu Rio semakin meninggi setelah kedua buah dada Candi menyentuh dadanya, terasa kenyal dan hangat. Dia tak tahan untuk tidak memegangnya. Sambil meremas, mereka terus berciuman. Sementara itu tangan Rio juga sudah mengelus-elus punggung, kemudian pelan-pelan turun ke arah pantat. Gila, pantat Candi empuk benar. Sudah begitu, hangat pula.
Rio berlama-lama mengusap di area tersebut, sebelum kembali memindahkan tangannya ke punggung. Dia mengelus-elus mesra sambil lidah mereka saling berpagutan panas. Benar-benar menggairahkan.
"Tidak ada yang marah kan, kalau aku jatuh cinta sama kamu?" kata Rio sambil melirik nakal.
"Memangnya kamu peduli?” jawab Candi.
Jawaban itu, meski terkesan asal-asalan, cukup membuat Rio tenang. Selain itu, juga membuat birahinya semakin memuncak. Mereka kembali berciuman. Tangan Rio kembali memegang di buah dada, mula-mula ia mengelus dari belakang, kemudian menjalar dari samping, terasa kenyal. Ternyata bagian bawah buah dada Candi sudah tidak tertutup beha, gadis itu diam saja. Rio jadi semakin lupa diri, gemas diremasnya seluruh buah dada Candi, dielus dan dipijit-pijitnya hingga nafas Candi semakin tidak beraturan.
"Can, boleh tanganku masuk ke dalam?" tanya Rio penuh harap.
“Ah, kamu kayak nggak pernah aja,” Candi mengangguk pelan malu-malu.
Penuh senyum Rio memasukkan tangannya dari bawah ke balik kaos. Pertama tersentuh kulit perut Candi yang halus dan hangat, membuat pikiran Rio melayang kemana-mana. Semakin ke atas, akhirnya ketemu juga gunung kembar yang selama ini selalu ia rindukan. Buah dada Candi masih sangat kencang dan bulat. Rio menyusupkan jemari ke dalam bra, halus dan hangat terasa saat menyentuhnya. Putingnya mungil, tapi sudah kaku dan tegang.
“Ahhh...” Candi pun melenguh, nafasnya semakin tak beraturan ketika jemari Rio memilin kedua putingnya.
Bra yang ia rasakan sangat mengganggu akhirnya dilepas. Kebetulan kancing pengaitnya ada di depan, jadi mudah bagi Rio untuk menemukannya. Setelah terbuka, tangan Rio menjadi semakin leluasa menggerayangi kedua buah dada Candi yang bulat besar. Dia mengelus-elusnya memutar, keliling di bagian luar. Baru kemudian ia garap lagi pentil susu Candi yang masih sangat kecil mungil, dan seingatnya berwarna merah muda.
Rio memelintir-lintir pentil susu itu, membuat Candi semakin menggelinjang. "Aahh... Rio, gelii... iiih," pekik gadis itu.
Rio tak bisa menjawab karena nafsu birahinya semakin memuncak. Dia hanya dapat tersenyum sambil mengecup bibir Candi berkali-kali. Tangannya pun semakin leluasa bergerilya; sambil terus sibuk menggerayangi buah dada, dia juga mengelus-elus paha putih mulus milik Candi. Terasa halus sekali. Rio mengelusnya dari lutut, kemudian naik sedikit sampai kira-kira 20 cm, kemudian turun lagi. Bibir mereka terus berpagutan, sambil terus berpelukan.
"Buka, Can." Rio mengangkat kaos putih Candi setengah badan. Tampaklah perut putih gadis itu dan sebagian buah dada bagian bawah yang sudah tidak terbungkus beha.
Rio gembira melihat pemandangan tersebut. Dadanya bergemuruh keras, bagai akan meledak melihat pemandangan yang demikian menakjubkan. Disingkap sedikit, maka nampaklah sepasang buah dada indah milik Candi, putih dan cantik, begitu tegak menantang, menanti belaian tangan-tangan kasarnya. Untuk sesaat lamanya Rio berdiri tertegun, tak bergerak, diam membisu. Tak sedetik pun pandangannya terlepas dari dua buah dada indah itu.
“Kenapa? Kok malah diam?” tanya Candi menyadarkan Rio dari lamunan.
"Payudara kamu bagus sekali, Can," ujar Rio refleks. Candi pun tersenyum malu.
Dengan lembut Rio mengelusnya dari bawah, kemudian berputar ke atas mengelilingi puting susu berwarna merah yang terlihat semakin menonjol. Candi menggelinjang kegelian, tampak seluruh badannya bergoyang menahan rasa geli dan nikmat yang tak terkira. Meski ini bukan pertama kali buah dadanya dipermainkan oleh seorang cowok, namun nafasnya seakan-akan berhenti. Terutama ketika jemari Rio perlahan mengelus dan memutar mempermainkan puting susunya.
"Rioo... ugh, gelii..." ujar Candi sambil mendekap tangan Rio ke arah buah dadanya.
Rio mengecup kening Candi untuk menenangkan, lalu bibir mungilnya, kemudian ia ciumi juga leher indah Candi, ditelusuri, dijilati sampai menjadi basah. Dan ciumannya perlahan beranjak turun ke bawah, dijilatinya buah dada Candi satu per satu, baru kemudian ditelusurinya buah dada indah itu dari atas memutar ke bawah, hingga akhirnya sampai ke puting susu mungil yang sudah sangat mengeras. Rio menghisapnya perlahan bagai anak kecil menyusu kepada ibunya.
“Aghhh...” Candi memejamkan mata, seluruh badannya tampak mengejang, terutama ketika lidah Rio mengenai kedua putingnya.
Sementara mulut bermain di buah dada, tangan Rio juga tak mau kalah. Dia kembali meraba-raba paha putih Candi. Disingkapnya rok mini yang dipakai Candi sedikit ke atas, paha indah itu semakin tampak jelas dihiasi oleh bulu-bulu halus. Tangan Rio terus bergerak ke atas, hampir sampai ke pangkal paha. Terasa semakin hangat dan halus. Namun tiba-tiba saja tangan Candi memegang jemari Rio yang tinggal beberapa centi mengenai kemaluannya.
"J-jangan, Rio," desis Candi.
“Kenapa?“ Rio terengah.
“Cepatlah berkemas. Nanti kita bisa ketinggalan pesawat. Akan kuberikan semua padamu nanti di Lombok. Kita punya waktu seminggu penuh di sana!” Senyum Candi mengembang cerah sambil menutupi kembali gundukan payudaranya yang lumayan besar.
Rio meringis dan meremasnya pelan. “Kamu memang super sialan! Mana bisa aku menolak ajakanmu kalau begini!”
Candi meraba penis Rio dan tertawa renyah.

TAMAT

1 komentar:

  1. happy ending story,
    seru jalan ceritanya.

    E-book terbarunya donk sensei

    BalasHapus