Kamis, 30 Maret 2017

Pendekar Tanpa Tanding 9



Hak Cipta © John Halmahera

Matahari pagi masih malu-malu, embun dan kabut belum sepenuhnya pergi. Udara masih sangat dingin, tetapi di sekitar arena tarung tampak kesibukan orang. Murid Mahameru lalu lalang di sana sini, melayani semua tamu. Meskipun di hari kemarin sudah jatuh banyak korban, baik yang mati atau pun yang luka, tetapi tampaknya tamu tidak berkurang.
Setelah pertarungan kemarin, hari kedua ini tidak banyak pendekar yang tersisa. Hanya penonton yang banyak. Semua orang tahu, pertarungan hari ini akan melibatkan para pendekar kelas wahid. Akan ada tontonan jurus-jurus tanah Jawa yang paling hebat yang selama ini hanya didengar orang tetapi jarang terlihat
Saat pendeta Macukunda mengucap kata-kata pembukaan dimulainya pertarungan, seorang lelaki melompat masuk arena. Lelaki itu sudah tua, seluruh rambut dan kumisnya putih. Usianya lebih separuh abad. Wajah lelaki itu ada bekas bacokan memanjang dari dahi sampai ke dagu.

"Aku jauh-jauh datang dari Ujung Kulon. Aku masih punya hutang piutang dengan Nyi Pancasona. Mana dia, kemarin aku melihatnya ada di sini?"
Sebuah bayangan melesat masuk arena. Ia mendarat seperti daun kering. "Mau apa kau, Grajagan? Kita sudah tua-tua begini, masih saja kau tak mau melupakan peristiwa dulu?"
"Haha... siapa bilang kau sudah tua? Sona, aku cuma ingin memperlihatkan jurus baruku ini. Lima belas tahun kulatih ilmu Sewubraja ini dan belum sekalipun aku menggunakan jurus ini. Aku ingin kamu sendiri yang menjajalnya, ayo mari kita main-main!"
Nyi Pancasona mencabut pedangnya. Lelaki yang bernama Grajagan itu memasang kuda-kuda kosong. Saat berikutnya terjadi pertarungan sengit. Jurus pedang Dala-dala perguruan Goranggareng cukup terkenal di dunia persilatan. Banyak pendekar di situ yang sangat ingin melihat sendiri jurus pedang dahsyat yang dimainkan langsung oleh ketua perguruannya sendiri.
Bisa dibayangkan kehebatannya. Sinar pedang berkelebat menyilaukan, mengurung tubuh Grajagan. Jurus demi jurus berlalu, tampak Nyi Pancasona menguasai pertandingan. Pedangnya mengurung, tidak memberi peluang Grajagan meloloskan diri. Tetapi bagi mata para ahli, justru pendekar bernama Grajagan itu yang unggul.
Itulah pertarungan antara dua sifat yang bertentangan. Ilmu pedang Dala-dala mengutamakan kecepatan dan ketajaman pedang. Sedang jurus tangan kosong Sewubraja menggunakan telapak tangan sebagai senjata lebih memanfaatkan kelambatan untuk mengatasi kecepatan. Ilmu Sewubraja itu dimainkan dengan tenaga dalam yang hebat sehingga terlihat lambat. Telapak tangan yang dilatih hebat itu bahkan tak perlu takut ketebas pedang. Telapak tangan itu kebal senjata dan bisa digunakan menyabet atau menangkis pedang.
Manjangan Puguh mencolek pundak Wulan, "Jurus si lelaki itu agak mirip jurus Nagapasa tapi ada bedanya. Telapak tangan sama punya kekebalan, hanya ilmu ayahmu mengutamakan gerak yang cepat dan tepat. Sedang ilmu orang itu mendasari gerak dari sifat lambat dan kaku."
Wulan mendengar petuah dan pelajaran Manjangan Puguh sambil tetap memerhatikan arena pertarungan. Sinar pedang itu makin lama makin memudar. Tiba-tiba sinar pedang itu terhenti. Nyi Pancasona melihat kutungan pedang di tangannya. Grajagan melihat wajah perempuan itu yang tampak kecewa.
"Hei, Sona, kamu tidak kalah, kita sama-sama menang. Pedangmu patah, tetapi telapak tanganku luka. Kau lihat tanganku!"
Nyi Pancasona tertawa hambar. "Grajagan, kau sengaja melukai dirimu, aku akui kau sekarang sudah hebat!"
"Sungguhkah jurusku hebat? Bagaimana kalau dipadu dengan Sagotra? Hai, ke mana Sagotra sembunyi?"
Nyi Pancasona memutar tubuh sambil melempar kutungan pedang yang amblas ke dalam tanah. "Aku tidak tahu, kau cari sendiri".
Tahu-tahu sesosok bayangan melesat ke dalam arena. Gerakannya sulit diikuti mata. Mirip gerakan Manjangan Puguh ketika masuk arena. Bedanya, ketika menginjak tanah Manjangan Puguh masih membuat debu sedikit mengepul. Tetapi kaki orang tua itu sama sekali tidak mengusik debu. Bayangan yang baru masuk itu memandang Nyi Pancasona dan Grajagan bergantian. Mendadak ketiganya tertawa keras.
"Hehe... tak terasa kita sudah sama-sama tua," kata orang itu.
Pancasona memandang lelaki tua itu dengan mata berbinar. "Kemana kau sembunyi selama dua puluh tahun? Kau sengaja sembunyi dariku, Sagotra! Aku tidak terima baik!"
Kecuali Manjangan Puguh, semua orang di situ terkejut. Ternyata orang tua itu, Ki Sagotra, yang terkenal dengan julukan pendekar Merapi. Ditegur Nyi Pancasona, Sagotra gugup. "Aku... ketagihan mancing... main dengan ombak. Oh... hebat, mancing di pulau Sempu! Kalian pasti suka di sana."
"Hei, Sagotra, begini saja. Kita bertarung, kalau kau menang kau ajak aku dan Sona ke pulaumu. Tapi kalau aku menang maka kalian berdua jadi tamuku di Ujung Kulon. Tempatku juga di tepi pantai, bisa mancing dan ombaknya setinggi Mahameru ini. Hayo, apa kau berani jajal jurus Semibraja ini?"
"Baik, hayo, kita tarung. Orang-orang ini perlu juga melihat Bang Bang Alum Alum yang asli. Kemarin, murid si Manjangan Puguh yang dari Lemah Tulis memainkan jurusku itu, buruk sekali!"
Sesaat kemudian dua jago tua itu bertarung sengit. Terdengar suara tangan beradu tangan, kaki beradu kaki. Mereka bertarung sengit, tapi kaki mereka tidak membuat debu naik dari permukaan tanah. Pertanda keduanya punya ilmu ringan tubuh yang mumpuni. Namun orang bisa membedakan bahwa ilmu ringan tubuh Ki Sagotra masih jauh di atas lawannya. Gerak kakinya tak mengusik debu, sementara gerak kaki Grajagan membuat sebagian debu mengepul.
Mata Wisang Geni dan Manjangan Puguh tak berkedip. Tampaknya Ki Sagotra memperlihatkan cara yang paling benar memainkan ilmu Bang Bang Alum Alum. Diam-diam Geni dan Manjangan Puguh berterimakasih.
Suatu ketika Grajagan menampar dada Sagotra. Tangan yang satu lagi mendorong ke arah pinggang. Pendekar Merapi ini menangkis dengan jurus Lokamandhala (Muka permukaan bumi) dari Bang Bang Alum Alum. Dua tangan beradu keras. Sagotra terlempar dua tombak ke belakang. Tubuhnya melayang ringan kena dorongan tenaga lawan.
Tapi, tubuh itu terhenti di udara, dan anehnya tanpa kakinya memijak tanah, Sagotra melayang balik ke arah Grajagan. Sungguh ilmu ringan tubuh yang tak mungkin bisa digelar manusia.
Aneh tapi nyata, ilmu Waringin Sungsang yang tadi diperlihatkan Sagotra itu tak pernah dilihat orang sebelumnya. Kontan saja Grajagan berteriak marah, "Bangsat kau Sagotra, kau menipuku, sampai mampus pun aku tak akan bisa menyamai kepandaianmu."
Pada saat itu pendeta Macukunda melesat masuk arena. "Ki Sagotra, kau harus ikut bertarung lawan orang-orang negeri Cina. Kau tak boleh lari bersembunyi lagi."
"Aku tak mau..."
"Kau harus mau, Ki Sagotra. Ini menyangkut gengsi tanah Jawa, bukan persoalan pribadi kita. Kalau kau menolak, berarti kau bukan pendekar tanah Jawa!"
Nyi Pancasona melesat masuk gelanggang, ia menggenggam tangan dua lelaki sahabatnya itu, Sagotra dan Grajagan. Tiga orang itu bergendengan tangan meninggalkan gelanggang tarung.
Sambil melesat pergi, Nyi Pancasona berkata, "Hai Pendeta Macukunda, kamu tak usah khawatir, pada saatnya nanti kamu hanya perlu kirim kabar ke pulau Sempu dan pendekar Merapi pasti akan datang membantu."
Di gelanggang tarung tinggal pendeta Macukunda seorang. Merasa tak pantas keluar gelanggang sebelum bertarung, Macukunda memberi hormat ke sekeliling. "Aku pendeta buruk terpaksa menyediakan tulangku yang tua ini untuk dijajal orang, hanya sebab ingin membela gengsi tanah Jawa. Tak ada ambisiku untuk memperlihatkan ilmu. Silahkan siapa yang ingin menjajal tulang tua ini."
Tak ada orang bersuara. Sunyi senyap. Macukunda kembali mengulang tantangannya. Sesosok bayangan melesat masuk arena. Dialah Sang Pamegat, tokoh sakti yang misterius yang menyertai rombongan Ranggawuni.
"Pendeta berbudi luhur, semua orang tahu kehebatanmu. Tapi belum ada yang melihat secara langsung caramu bertarung. Mereka ingin melihat kehebatanmu, tapi tak ada yang berani mencoba. Biar aku, Panji Patipati, yang menjadi mitra tandingmu, maafkan aku dan tolong berlaku murah padaku!"
"Kau terlalu merendah, Ki Panji. Aku sudah lama mengagumimu!"
Dua pendekar ternama langsung saling gebrak membuat semua orang meleletkan lidah. Macukunda tanpa segan-segan memainkan ilmu Brahmanagrha yang terdiri 21 jurus. Ilmu Mahameru ini mengambil panutan pada sifat Gereh dan Sedung. Itu sebabnya terkadang pukulan Macukunda berbunyi bagai suara guntur dan badai. Tenaga besar dan bunyi yang mengguntur membuat gebrak Macukunda ini sangat berwibawa.
Panji Patipati, tokoh misterius dari keraton Tumapel ini, tidak kalah galak. Ilmu Tanding Tinanding dan Jala Ampir digelar bergantian dengan ilmu simpanannya yang membuat ia digelari orang Sang Pamegat. Tujuhbelas jurus Pamegat itu termasuk ilmu kelas atas, menggunakan kecepatan dan kejelian burung elang serta terkaman macan kumbang sebagai panutan.
Tak terasa limapuluh jurus telah berlalu. Macukunda pun mulai mengeluarkan ilmunya yang lain; Sasraludira yang terdiri dari duapuluh lima tata cara mencengkeram titik kematian. Berulang kali terjadi bentrokan tangan dan kaki di tanah maupun udara. Sungguh pertarungan tingkat atas.
Lewat seratus jurus, mendadak keduanya memisahkan diri. Baju di pundak kanan Sang Pamegat hancur. Begitu pula baju di bagian perut Macukunda. Kedua pendekar ini saling hormat, kemudian sama-sama meninggalkan gelanggang tarung.
Pertarungan demi pertarungan berlangsung. Jayawitaka dihajar sungsang sumbal oleh Geriting, pendekar dari Utara. Dan Geriting tak ungkulan menghadapi ilmu Pedang Tanpa Suara dari Ki Antaboga, ketua perguruan Ngantang.
Berikutnya, Harsup, tokoh kebanci-bancian dari Nusa Barung dengan tipu muslihatnya yang licik menghajar mampus Ki Sawung. Harsup kemudian kabur ketika berhadapan dengan sepasang Setan Sapikerep. Tadinya Wisang Geni hendak turun gelanggang menghadapi dua Setan Sapikerep itu tetapi kedahuluan oleh Banjalit, yang dijuluki pendekar Selatan.
Hampir dua ratus jurus lebih bertarung akhirnya Banjalit harus menyerah. Dadanya kena hantaman kaki sang isteri, Lembani, disusul pukulan sang suami, Lembusana. Melempar diri ke belakang beberapa tombak, Banjalit berjongkok. Ia memasang kuda-kuda dalam sikap adu jiwa, apalagi lawan masih akan menyerang. Melihat sikap lawan yang garang dan siap adu jiwa, pasangan suami isteri itu batal menyerang. Saat berikut Banjalit keluar gelanggang dengan sikap gagah.
Menghadapi sepasang suami isteri Sapikerep itu, Ki Antaboga masuk arena bersama isterinya, Nyi Kudadu. Terjadi pertarungan antara dua pasang suami isteri. Antaboga dengan Pedang Tanpa Suara sedang Nyi Kudadu menggunakan ilmu Seribu Pedang Sejuta Bunga. Suami isteri Sapikerep menggunakan sepasang tombak pendek.
Seratus jurus berlangsung, pasangan dari Ngantang itu terlihat unggul dan mendesak habis pasangan Sapikerep. Pada akhirnya dua tebasan beruntun dari Ki Antaboga berhasil melukai telak Lembusana yang jatuh bergulingan. Darah mengucur dan pundak dan lengannya. Lembani menggotong suaminya keluar arena
Matahari telah berada di puncaknya ketika Macukunda melompat masuk gelanggang. Ia memberi hormat berkeliling. "Sampai saai mi hanya tinggal beberapa orang yang belum terkalahkan. Aku dan Ki Pamegat, dalam pertarungan kami tadi tak ada yang kalah dan tak ada yang menang. Aku menantang siapa yang mau menantang aku si pendeta Macukunda atau siapa juga yang mau menantang sang Pamegat."
Tak seorang pun yang keluar menantang dua tokoh sakti itu. Ilmu dua orang itu sudah terbukti kehebatannya.
"Baik, kalau demikian, sudah tiga orang yang terpilih dari lima yang kita cari. Aku si pendeta Macukunda, Sang Pamegat dan Pendekar Merapi. Siapa yang tidak setuju atau keberatan silahkan angkat suara."
Hening, tak ada suara. Kemudian terdengar suara tertawa bagaikan ringkik kuda, panjang, kering dan bergelombang. Begitu suara tawa itu berhenti, dari kemah sebelah timur melayang sesosok bayangan ke arena. Kalayawana!
"Pendeta Macukunda, tiga orang pilihan itu kurasa tidak ada lagi yang menantang. Itu artinya semua orang setuju. Kini masih tersisa dua lowongan, aku mau satu. Kalau tak ada yang menantangku, berarti aku terpilih. Sebenarnya aku ingin tarung lawan pendekar Lemah Tulis yang kemarin membunuh muridku dan menantang aku, mana dia, apakah masih berani maju menantang aku?"
Suara Kalayawana menggaung dan mengema ke empat penjuru, itu ilmu Angampuban yang menjadi andalannya. Dalam hati ia mengharap agar Wisang Geni masuk gelanggang tarung, sungguh ia akan remas batang lehernya.
Dan memang Wisang Geni sudah bersiap dari tadi. Geni sudah pamit pada Padeksa. Ketika itu Manjangan Puguh memegang lengan muridnya. "Geni, jangan maju, biar aku saja yang menghadapinya."
"Tidak guru, ini kewajibanku sebagai seorang anak, ini dendam berdarah yang sudah lama kuinginkan. Tak ada keinginan yang lebih kuinginkan selain membunuh Kalayawana! Guru, biarkan aku maju!"
Gajah Watu menyela, "Ilmu silatnya sangat tinggi, apa kau yakin bisa mengatasinya?"
Geni tertawa lirih. "Aku yakin akan kemampuan Wiwaha dan ilmu Prasidha, aku bisa mengatasinya!"
Padeksa berkata lirih, "Geni, hati-hati, dia punya ilmu sihir yang bisa membuat lawan lupa ingatan."
"Aku akan mengingatnya, guru!"
Geni melangkah sambil melirik Wulan dan Sekar dengan mesra. Bibir Wulan bergerak, "Geni, hati-hati!" Tetapi suaranya tersumbat di kerongkongan. Dua kekasih Geni itu merasa tegang yang amat sangat. Karena mereka tahu betapa tinggi kepandaian silat Kalayawana, tanpa sadar Wulan menggumam, apakah Geni mampu menahannya.
Wisang Geni melompat masuk arena. Ia menggunakan jurus handal Waringin Sungsang yakni Mesat (Meloncat dengan kecepatan tinggi). Dalam sekejap mata ia sudah berdiri beberapa tombak berhadapan dengan Kalayawana. Geni menatap tajam mata Kalayawana. Mata musuh yang hanya satu itu mencorong bagai bola matahari yang panas dan siap membakar apa saja di depannya. Tetapi Geni tak merasa takut sedikit pun. Ia merasa mampu mengatasi musuh besarnya itu.
"Kau, berani juga mengantar jiwamu. Sebentar lagi akan kupatahkan batang lehermu, mengantar kamu ke kubur, di sana kamu harus minta maaf pada tiga muridku."
"Kalayawana, jangan banyak bacot. Kau hutang nyawa ayah ibuku, kau juga ikut andil menghancurkan perguruanku. Selain itu perbuatanmu membuat banyak orang lain sengsara. Kau terlalu, banyak berbuat kejahatan, aku tidak bisa membiarkan kamu hidup lebih lama lagi di dunia."
Kalayawana tertawa keras. Ia mulai mengalunkan aji Begananta, suaranya bagai jarum yang menusuk-nusuk gendang telinga. Geni tidak ayal lantas mengeluarkan suara Tawa Kera. Sambil tetap perang tertawa, dua seteru yang sama-sama punya dendam kesumat sebesar gunung ini saling gebrak menggunakan jurus-jurus telengas dan sengit. Seluruh ilmu simpanan dari kuburan Gondomayu dikeluarkan Kalayawana dengan pengerahan tenaga besar. Jurus dari ilmu Ghandarwapati seperti hendak meluluh lantakkan tubuh Wisang Geni. Tetapi anak muda yang sudah makin pengalaman dalam pertarungan tak mau terburu nafsu.
Itu memang pesan gurunya, Padeksa. "Jangan marah, jangan terburu nafsu, tenang seperti air danau yang tidak terusik bahkan oleh angin semilir pun."
Setelah tadi secara tidak langsung memperoleh petunjuk pendekar Sagotra, kini Wisang Geni lebih mulus dalam menggelar Bang Bang Alum Alum. Jurus handal dari gunung Merapi ini kadang diselingi Garudamukha dengan kegesitan enam jurus gerak Waringin Sungsang. Pertarungan berlangsung ketat dan sengit. Sampai seratus jurus, kedudukan masih imbang.
Dalam hati Kalayawana heran, empat bulan lalu ia menghajar Wisang Geni hanya dengan sekali pukul. Bagaimana mungkin, sekarang anak muda ini bisa mengimbanginya sampai seratus jurus lebih. Tadinya ia menganggap kematian tiga muridnya sebagai keteledoran dan kesemberonoan muridnya. Tetapi kini ia tahu, memang kepandaian Geni sudah tergolong kelas satu.
Dalam ilmu ringan tubuh, Wisang Geni lebih unggul. Tenaga dalam sama imbang. Kalayawana unggul dalam pengalaman. Itu sebab pertarungan berlangsung imbang. Memasuki jurus seratus limapuluh, Geni sedikit demi sedikit mulai meningkatkan kadar tenaga dan kecepatan dalam tiap geraknya. Kalayawana mulai keder.
Mengetahui dirinya mulai berada bawah angin, Kalayawana mulai menggunakan ilmu hitamnya. Lewat tertawa Angampuban yang bergantian dengan Akashawakya, Kalayawana menggunakan ilmu sihir. Matanya menatap Geni dengan berkedip-kedip mesra. Ia mengubah cara berkelahinya, tidak lagi menggunakan tinju atau cakar, melainkan pukulan telapak tangan.
Wisang Geni merasa aneh. Kalayawana yang buruk rupa itu terkadang bisa salin wajah menjadi Wulan. Makin lama wajah dan tubuh Wulan lebih sering menggantikan Kalayawana. Wisang Geni tahu ini sihir buatan lawan, tetapi ia tak tahu cara mengatasinya. Suatu saat Geni menarik pukulannya karena takut melukai Wulan. Sebaliknya pukulan keras Kalayawana menghantam dadanya.
Penonton menjerit, Wisang Geni melempar diri empat langkah ke belakang. Ia muntah darah. Untung baginya tenaga Wiwaha telah melapis dirinya sehingga pukulan tidak sampai telak dan merusak. Sedang Kalayawana melihat pukulannya berhasil mengena lawan, kontan menyerbu dengan geram. Ia ingin membunuh dan melumat Geni.
Mengetahui kondisi kritis, Geni melejit dengan Antarlina, jurus melenyapkan diri dari Waringin Sungsang. Kalayawana memburu, Geni melejit dengan Antarlina. Geni merasa dadanya masih sakit. Beberapa saat kemudian rasa sakit itu lenyap. Ia tahu tenaga Wiwaha telah menyembuhkan lukanya,
Geni kembali bertarung rapat, kali ini ia mengeluarkan jurus Sikhwiriya (cintaku kepadanya) dari ilmu Garudamukha Prasidha. Jurus ini dilukiskan sebagai luapan rasa cinta Abhimanyu kepada Ksiti Sundari dalam cerita Gatotkacasraya. Tanpa sadar Geni memilih jurus ini karena melihat Kalayawana berubah menjadi Wulan di hadapannya.
Pada saaat itu Kalayawana menyerang dengan Daitya Naraka (Raksasa dari Neraka) jurus telengas dari Ghandanvapati. Tangan kanan mencengkeram dada, tangan kiri memukul pelipis, disertai tendangan ke selangkangan. Hebatnya jurus ini masih dibantu pengaruh sihir serta tertawa Angatnpuhan.
Wisang Geni seperti melihat Wulan mendekat kepadanya. Tangan Wulan hendak mengelus dada, tangan yang lain mengelus kepalanya. Dari pikiran sadarnya Geni tahu Kalayawana menyerang dengan jurus mematikan. Tapi pandangannya melihat Wulan melompat hendak membelai dan mengelusnya, Geni tidak tega menggunakan jurus maut, takut melukai Wulan seandainya itu benar Wulan. Tapi Geni juga takut jika bukan Wulan, maka ia akan kena hajar Kalayawana.
Akhirnya Geni pasrah. Sikap jiwa saat menggunakan Prasidha itu, Geni memilih sikap Sikhwiriya sebagai pernyataan cintanya, "Kalau pun mati tak apalah asal kau tahu betapa cintaku padamu."
Dua tangan Geni menyongsong pukulan lawan. Kakinya ditekuk ke bawah sehingga tendangan Kalayawana yang mengarah ke selangkangan akan mendarat di perut. Kalayawana melihat sepasang mata Geni berbinar namun bergoyang. Ia yakin Geni masih dalam pengaruh sihirnya. Tanpa belas kasihan Kalayawana menyalurkan seluruh tenaganya ke dua tangan.
"Mampus kamu!" teriaknya.
Saat berikut Kalayawana mencelos, tenaganya seperti menerobos ke dalam sumur yang tak berdasar. Ia sangat terkejut, berniat hendak menarik kembali tenaganya, tetapi semua sudah terlambat. Tenaganya seperti ditarik dan disedot masuk dalam sumur. Kemudian dari tangan Geni muncul keluar gelombang tenaga besar yang luar biasa dinginnya. Tenaga itu menerobos melalui tangan Kalayawana dan melanda seluruh tubuhnya.
Kalayawana berteriak. Teriakan yang membangkitkan bulu roma. Kalayawana terlempar dua tombak, terletang di tanah dengan darah keluar dari semua lobang tubuhnya. Kalayawana memandang Wisang Geni dengan heran dan penasaran.
"Ilmu apa itu, ilmu siluman dari mana, katakan ilmu apa itu biar aku tidak penasaran?"
Wisang Geni yang baru saja terbebas dari sihir memandang Kalayawana dengan kasihan. Ia menjawab dengan suara yang agak keras, supaya didengar banyak orang. "Itu ilmu paling handal dari Lemah Tulis, namanya Garudamukha Prasidha dan jurus yang kugunakan namanya Sikwiriya. Sudahlah, Kalayawana, aku sudah membayar lunas kematian dua orangtuaku, pergilah ke neraka membawa serta semua kejahatanmu, tanah Jawa tak memerlukan orang jahat seperti kamu, Kalayawana!"
Saat itu juga Kalayawana memejamkan mata. Mati! Sesaat penonton membisu, kemudian menyambut kemenangan Wisang Geni dengan tepuk tangan. Orang-orang Lemah Tulis yang paling getol menyambut kemenangan ketuanya. Padeksa, Gajah Watu, Walang Wulan dan Sekar berdiri bertepuk tangan.
Memang mencengangkan, suatu kejutan besar, seorang anak muda yang belum punya nama ternyata mampu menghabisi petualangan Kalayawana yang selama ini tidak pernah terkalahkan. Meskipun ia dari Lemah Tulis, perguruan yang pernah begitu populer, hal itu tetap kejutan yang paling menggegerkan.
Wisang Geni kendati telah unjuk kebolehan dengan membunuh Sempani dan tiga murid Kalayawana, pada mulanya tetap diramalkan hanya akan menghantar nyawa di tangan Kalayawana. Tetapi kenyataan justru terbalik, Geni akhirnya keluar sebagai pemenang. Sebagian penonton merasa senang, bagi mereka satu dari sekian orang jahat dan telengas di kolong langit akhirnya mati juga.
Sebagian pendekar menduga-duga ilmu apa yang digunakan Wisang Geni dalam tiga pertarungan yang begitu menceka.m Ketika Geni menjawab pertanyaan Kalayawana yang sekarat, tak ada lagi keheranan dari wajah mereka. Kalau itu memang ilmu paling handal dari Lemah Tulis, maka tidak salah lagi kalau perdikan itu pernah berjaya dua puluh tahun silam.
Berdiri dari kursi, Pendeta Macukunda mengucap selamat kepada Wisang Geni sebagai pendekar muda pendatang baru di dunia persilatan. Macukunda kemudian berseru kepada Padeksa dan Gajah Watu. "Berbahagialah sampean berdua, aku melihat masa depan yang cerah menanti Lemah Tulis di depan mata."
Padeksa mengucapkan terimakasih sekaligus permisi untuk suatu berita perguruan. "Hari ini kepada para pendekar sekalian yang ada di sini, kami berdua, Padeksa dan Gajah Watu memberitahu bahwa sejak kehilangan ketua dua puluh lima tahun yang lalu, baru kini kami memiliki seorang ketua. Dialah ketua perdikan Lemah Tulis yang ketujuh, namanya Wisang Geni."
Wisang Geni memberi hormat ke seluruh arena, "Aku yang muda ingin mengumumkan bahwa sejak hari ini Lemah Tulis tak lagi punya ikatan perguruan dengan Lembu Agra. Dia murid busuk yang berkhianat yang menaruh racun pelemas tulang ke sumur perguruan. Akibatnya kami semua keracunan sehingga lawan dengan mudah mengalahkan kami. Perlu diketahui bahwa ia sebenarnya adalah murid keturunan partai Turangga, nama aslinya Jaranan, kini ia menjabat ketua partai itu."
Pengumuman itu sangat mengejutkan. Baru sekarang terungkap tabir misteri mengapa perguruan sehebat Lemah Tulis sampai hancur dan nyaris punah dua puluh lima tahun yang lalu.
Macukunda memecahkan kesunyian "Hayo, siapa lagi yang mau menantang Ki Wisang Geni, ketua Lemah Tulis yang baru ini. Atau mungkin menantang Ki Antaboga ketua perguruan Ngantang?"
Wisang Geni beranjak hendak meninggalkan gelanggang tarung, ketika terdengar suara bentakan nyaring, "Tunggu!"
Seorang wanita cantik melangkah masuk gelanggang tarung. Ia berjalan biasa, sepertinya tak peduli akan pandangan orang yang kagum melihat kecantikannya. Pakaiannya aneh. Celana panjang longgar sebatas perut. Bagian perutnya terbuka, memperlihatkan perut yang rata dan putih bersih. Di bagian dada, baju ketat yang memperlihatkan bentuk buah dada yang montok. Ia mengenakan selendang dari sutera warna putih sama seperti warna pakaiannya. Ia cantik, hidung bangir, mulut agak lebar, rambut panjang dibiarkan terurai melebihi pundak. Tinggi semampai. Matanya berbinar memandang Wisang Geni.
"Kita ketemu lagi, Wisang Geni yang tampan."
Wisang Geni gugup menjawab, "Kau... kau..."
"Kenapa kau gugup, aku tetap Malini yang dulu. Kalau dulu kau tak kuberi obat penawar racun, tentu sekarang ini kau sudah mati. Seharusnya kau berterima kasih padaku."
Wisang Geni meluap amarahnya. "Kau perempuan bangsat, kau telah meracuni aku dan Sekar. Kalau saja tak ada Dewi Obat yang menolong, aku pasti sudah mati! Aku tak suka bertempur dengan perempuan, panggil keluar lakimu!"
"Ah, lagi-lagi kamu cemburu, Geni. Sudah berulang kali kukatakan Kumara itu cuma teman seperjalanan."
Wisang Geni kewalahan, ia berpikir keras. "Perempuan ini gila dan tak tahu malu, ia ingin mempermalukan aku di depan umum. Apa kata orang nanti tentang aku? Apa kata Wulan dan Sekar?"
Wisang Geni tak tahu apa yang harus diperbuat. Mendadak terdengar suara bisikan Malini di telinganya. Ini ilmu mengirim suara jarak jauh. "Wisang Geni, cepat kamu beritahu di mana kakek gurumu bersembunyi, kalau kau masih membandel juga, akan aku umumkan bahwa dulu kita pernah bercinta dan sekarang ini aku hamiL"
Tubuh Wisang Geni gemetar, keringat membasahi dahinya. Tanpa sadar ia menoleh ke tenda mencari-cari wajah Wulan.
Terdengar bentakan nyaring Malini. "Hayo! Tunggu apa lagi!"
"Baik, akan aku bawa kamu ke gunung Lejar. Tapi besok baru kita berangkat," jawab Geni dengan gugup.
Malini tertawa dingin, suaranya nyaring sehingga semua orang mendengar. "Tidak! Aku tak mau besok! Aku mau sekarang juga kita berangkat!"
Pada saat yang kritis itu tiba-tiba melesat sesosok bayangan masuk gelanggang. Ia berdiri di samping Wisang Geni. Gadis itu Sekar. Mendadak sekilas Wisang Geni melihat Malini menggerakkan tangan, menyerang Sekar. Tidak ayal lagi Geni memotong serangan Malini dengan serangan. Sekar tertawa. Ia tampak cantik, lebih cantik dari Malini karena Sekar tampak masih muda, segar dan ceria. Mata Sekar melotot marah, berlagak seperti seorang ibu yang sedang memarahi putrinya yang nakal.
"Malini, rupanya kau masih mengenali aku. Itu sebab kamu menyerangku, kamu ingin membunuhku, agar kau bisa memfitnah Wisang Geni dengan leluasa, bukan? Aku heran di dunia ini ada perempuan macam kamu yang tak kenal malu."
"Kau belum mati rupanya, seharusnya kamu jangan muncul supaya bisa hidup lebih lama lagi."
"Maksudmu, kamu mau membunuh aku?"
"Hari ini aku sungguh akan mencabut nyawamu!" Berkata demikian perempuan dari negeri Jambudwipa itu menyerbu Sekar dengan serangan beruntun.
Wisang Geni tak tinggal diam, ia tahu Sekar tak akan bisa menangkal serangan dahsyat itu. Segera terjadi pertempuran sengit antara Geni dan Malini. Jurus demi jurus berlalu dengan cepat, tanpa terasa pertarungan memasuki jurus yang ketiga puluh.
Pada saat itu melayang sesosok bayangan ke arena. Seorang lelaki dengan pakaian aneh masuk arena. Bercelana longgar yang diikat di pergelangan kaki. Bajunya sempit, tanpa lengan dengan dada terbuka, memperlihatkan bulu dadanya yang lebat. Rambutnya hitam pekat, keriting dan digelung di atas kepala. Hidungnya mancung. Banyak persamaan dengan perempuan asing itu.
Empat bayangan menerobos gelanggang tarung. "Siapa kalian yang berani mengacau di Mahameru? Apa kalian pikir tak ada orang yang bisa mengusirmu?" Empat orang itu tak lain, saudara seperguruan Macukunda yang selama dua hari ini tidak pernah jauh dari sang ketua Mahameru.
Lelaki asing itu, Kumara, memandang tajam empat pendekar Mahameru. Pada saat itu, Malini menarik serangannya, melakukan salto ke belakang dan tepat berdiri di samping Kumara.
"Hebat, ilmu kamu sudah jauh maju. Jawablah dengan jujur, Wisang Geni. Kamu seorang ketua Lemah Tulis, harus punya kehormatan. Kami berdua punya hutang piutang dengan seorang ketua Lemah Tulis yang dua puluh lima tahun silam mengalahkan pamanku Lahagawe di perang Ganter, katakan di mana kami bisa temui orang tua itu!"
"Aku tak pernah ketemu dengan Eyang Sepuh Suryajagad. Aku tak tahu beliau ada di mana. Kalau kau memang punya hutang piutang dengan beliau, kamu alihkan padaku. Aku yang bertanggungjawab atas semua hutang piutang Lemah Tulis!"
"Begitu pun bagus. Kamu sebagai ketua Lemah Tulis, kamu yang bertanggungjawab. Juga kudengar kamu tadi mengatakan kamu sudah menguasai ilmu tingkat tinggi perguruanmu yang bernama jurus Prasidha. Baiklah kita akan berjumpa satu bulan lagi di tempat pertama kali kita jumpa."
Selesai berkata, Kumara memegang tangan Malini, keduanya bergandengan meninggalkan gelanggang tarung seperti melayang saja. Ilmu ringan tubuh yang diperlihatkan tidak berada di bawah jago-jago tanah Jawa.
Wisang Geni mengucap terima kasih kepada empat pendekar Mahameru. Ia menggenggam tangan Sekar dan meninggalkan gelanggang tarung. Ki Antasena, yang tertua dari keempat pendekar itu melontarkan pertanyaan ke sekeliling arena.
"Kalau tidak ada lagi pendekar yang menantang maka pertarungan ini akan segera ditutup!"
Arena pertarungan lengang dan sepi. Mendadak terdengar bentakan memecah kesunyian, "Tunggu!"
Seorang lelaki berpakaian penuh tambalan dengan jenggot dan kumis yang sudah putih semua, melangkah cepat memasuki gelanggang urung. Tubuhnya tinggi dan tegap, langkahnya lebar, mengingatkan orang pada tokoh Pandawa yang tinggi besar, Bratasena. Tak salah lagi dialah Ki Demung Pragola! Ia menoleh ke sekeliling.
"Mana dia Wisang Geni, jangan lari kamu. Mana kejantananmu, ke mana kau bawa kabur cucuku? Hayo tunjukkan rupamu, sedikit saja kau ganggu rambut cucuku, jiwamu ku kirim ke neraka! Geni, keluar kau, ayo temui aku!"
Wisang Geni masuk kembali ke gelanggang, ia merasa heran. Ia memandang Wulan yang juga keheranan. "Bukankah cucumu sudah kulepaskan waktu itu, malah dijemput oleh anak buahmu sendiri!"
"Bohong kamu, anak buahku kamu bunuh, mana bisa ada urusan seperti itu! Ternyata Lembu Agra benar, kau memang penjahat yang berpura-pura menjadi pendekar berjiwa ksatria!"
Mendengar nama Lembu Agra, secara naluriah Geni berpaling memandang kemah di mana ia melihat Sempani menginap bersama Lembu Agra kemarin. Sekilas ia melihat bayangan berkelebat dan jerit suara anak kecil memanggil, "Kakek!"
Saat itu juga Geni melesat menggunakan jurus Mesat disambung dengan Warayang, dua jurus hebat dari Waringin Sungsang. Gerakan Geni susah diikuti mata. Dalam keadaan terdesak, tenaga Wiwaha memperlihatkan keampuhannya, dorongan tenaga yang begitu besar membuat gerakannya cepat dan pesat seperti kelebatnya kilat.
Sesaat kemudian Geni sudah mengancam Lembu Agra yang lari sambil memondong seorang gadis kecil. Dalam hal ilmu ringan tubuh Lembu Agra berada di bawah kemampuan Wisang Geni, apalagi dengan memondong tubuh gadis kecil itu, maka dalam sekejap mata Wisang Geni sudah mendekat.
Tahu sulit meloloskan diri dari kejaran Geni, Lembu Agra melempar tubuh gadis kecil itu. Tubuh gadis kecil itu melesat ke arah batu besar. Wisang Geni terkejut, tak ayal lagi ia berbelok arah, menggunakan jurus Antarlina dengan segala kekuatan tenaganya. Tapi ia terlambat, tubuh gadis kecil itu melayang lebih cepat. Terdengar jerit banyak orang, mereka membayangkan kepala gadis itu akan pecah berantakan.
Mendadak tubuh Geni seperti terlontar ke depan, sambil kedua tangannya mengirim pukulan jarak jauh. Itu jurus Warayangungas dari Garudamukha. Batu itu pecah berantakan dan hancur menjadi debu Tubuh gadis kecil itu melesat melewati pecahan batu yang berantakan. Sesaat kemudian Geni menjambret tubuh gadis kecil itu yang pingsan saking kagetnya.
Beberapa saat kemudian Demung Pragola tiba di tempat itu diikuti hampir semua orang. Ki Demung yang tinggi besar itu segera merebut cucunya dari tangan Geni dan memeluknya erat. "Untung kamu selamat, nduk," katanya dengan suara penuh haru.
Setelah ketenangan mereda, semua orang kembali ke tempat masing-masing. Demung Pragola mengucap terima kasih kepada Geni. Ia juga menyapa Wulan, Padeksa, dan Gajah Watu dengan akrab. Memang benar, Demung Pragola adalah sahabat mendiang Bergawa. Pada mulanya Pragola heran, mengapa Lembu Agra menyandera cucunya. Tetapi setelah mendengar cerita perihal pengkhianatan itu, Pragola mengerti duduk persoalannya.
Pendeta Macukunda menghampiri dan menyapa Demung Pragola dengan akrab, "Hei, Pragola, kenapa baru sekarang datang? Tarung belum berakhir, masih ada kesempatan kalau kau mau ikut bersaing. Kau tinggal pilih menantang pendekar yang mana di antara lima pemenangnya. Aku Macukunda atau sang Pamegat atau Ki Sagotra dari gunung Merapi atau Ki Wisang Geni ketua Lemah Tulis atau Ki Antaboga ketua Ngantang? Hayo kau pilih yang mana?"
"Haha... aku tak tertarik. Mereka yang kau sebut tadi semuanya pendekar yang pantas mewakili tanah Jawa. Satu-satunya yang belum kukenal cuma Ki Wisang Geni. Tetapi kepandaian yang diperlihatkan tadi ketika menyelamatkan cucuku, itu ilmu silat kelas atas. Aku tak perlu ragu lagi! Dia pantas mewakili tanah Jawa."
Setelah basa-basi secukupnya, Demung Pragola bersama cucu dan beberapa anak buahnya pamit mundur. Tetapi Macukunda mengajak Pragola sahabatnya itu untuk nginap satu hari lagi.
"Hoho... orang bilang habis gelap akan datanglah terang, Lemah Tulis sekarang sedang kejatuhan bintang. Kamu tahu, riwayat dan petualangan Kalayawana dari Gondowayu berakhir di tangan Ki Wisang Geni, begitu juga Sempani, opo ora hebat itu?"
Akhirnya pertarungan para pendekar di puncak Mahameru selesai sudah. Macukunda mengucap terimakasih kepada semua orang yang telah menghadiri pertemuan. Ia mengumumkan lima nama pemenangnya, yang nantinya akan mewakili tanah Jawa dalam adu kepandaian lawan jago-jago dari daratan Cina.
Tetapi sebelum kumpulan orang-orang itu bubar turun gunung, lima orang dengan dandanan dan wajah yang asing mendekati gelanggang tarung. Semua orang memandang kelompok orang asing itu dengan heran dan takjub. Seorang di antaranya perempuan. Ia cantik berkulit putih bersih mengenakan celana dan kemeja panjang, warna hitam Ia maju sambil merangkap dua tangan memberi hormat kepada semua orang di situ.
"Kami utusan dari Kuangchou, kami ingin berjumpa dengan pimpinan persilatan tanah Jawa." suara gadis itu terdengar bening dan empuk, meski logatnya kaku dan patah-patah.
Ki Demung Pragola menjawab spontan, "Di tanah Jawa ini belum ada seorang pemimpin persilatan atau yang disebut sebagai orang nomor satu. Kami belum pernah melakukan pemilihan seperti itu. Tapi nona bisa ketemu dengan ketua Mahameru, pendeta Macukunda yang cukup bijaksana dan berilmu tinggi, ini dia orangnya."
Gadis itu membungkuk menghormat. "Nama saya Mei Hwa, saya mengucap selamat panjang umur bagi ketua Mahameru dan semua pendekar di tanah Jawa ini. Saya bersama empat orang teman, yang ini Liong Sam, ini Put Hai, Siong Bu Kam, dan itu Tan Bing. Kami datang membawa pesan dari pemimpin rimba persilatan di negeri kami, Sam Hong."
Macukunda memerhatikan satu per satu orang asing di hadapannya. "Apa pesannya, nona. Boleh dijelaskan di sini juga, apakah itu rahasia penting?"
Ketika itu sepasang mata Mei Hwa yang indah memandang Manjangan Puguh. Mei Hwa menegur dengan ramah, "Tak tahunya kembali saya berjumpa dengan pendekar budiman Ki Manjangan Puguh, hormat saya untuk anda semoga panjang umur, terimakasih atas pertolongan tuan pendekar."
Manjangan Puguh agak gugup menjawab, "Nona, itu tak perlu terlalu diingat, setiap orang harus menolong orang lain yang sedang memerlukan pertolongan. Aku hanya membantu kalian mengusir sekelompok penjahat dan menunjuk jalan ke Mahameru ini, bukan sesuatu yang terlalu besar."
Mata sipitnya berbinar ketika ia mengangguk, "Bagaimanapun juga pertolongan itu tetap suatu jasa baik yang harus diingat." Mei Hwa memandang Manjangan Puguh dengan senyumnya yang manis.
Mei Hwa kemudian menoleh ke arah Macukunda dan tersenyum ramah. "Maaf, saya harus mendahulukan pendekar yang telah menolong kami dari kesulitan. Tentang apakah itu rahasia, penting atau tidak, saya serahkan kebijaksanaan kepada bapak pendeta."
Mei Hwa merogoh surat dari balik bajunya, lalu diserahkan kepada Macukunda. Pendeta ini membuka surat dan membaca pesan yang ditulis dalam aksara Jawa. Macukunda menghela nafas.
"Pendekar sekalian, surat ini berisi pesan adu tanding antara pihak tanah Jawa dengan Kuangchou. Pertandingan dimajukan dua bulan lantaran perhitungan arus dan angin dalam pelayaran. Dengan demikian pertandingan akan berlangsung tepat di malam purnama bulan Aswina, berarti masih ada waktu empatpuluh lima hari lagi. Tempatnya di hutan bagian selatan bukit Penanggungan."
Hari masih belum senja, sehingga semua orang masih sempat pamitan turun gunung. Tanpa malu-malu Mei Hwa mendekati Manjangan Puguh, menanyakan di mana ia bisa menginap supaya pagi-pagi sekali bisa turun gunung.
Sebelum Manjangan Puguh menjawab, Wulan mendahului mengajak Mei Hwa bergabung. "Kamu ikut kami turun gunung, nanti malam kita sama-sama mencari tempat bermalam."
Wisang Geni mengajak Sekar. Keduanya kemudian pamit pada nenek Dewi Obat. Sambil memeluk neneknya Sekar menangis dan berbisik, "Aku harus mengikuti suamiku, nek."
Rombongan besar Lemah Tulis bersama kelompok Ranggawuni dan lima utusan Kuangchou sama-sama turun gunung. Di tengah jalan Wisang Geni melihat wajah Wulan agak muram Tak seperti biasa, diam-diam Geni mendekati. Tetapi Wulan tidak memberi reaksi seperti biasa, malahan menjauh. Dalam hati Geni berpikir mungkin Wulan malu jalan berdampingan. Geni menoleh mencari di mana Sekar, dilihatnya gadis itu berjalan bersama Prawesti, cucu Gubar Baleman.
Malam itu rombongan bermalam di sebuah desa. Kebetulan kepala desanya adalah anggota dan anak buah Demung Pragola sehingga tidak sulit untuk meminjam balairung balai desa yang luas dan terbuka untuk tempat bermalam
Sehabis santap malam, semua orang duduk dalam beberapa kelompok. Semua tampak gembira, cerita tentang pertarungan Mahameru seakan tak pernah habis. Ada seorang yang malam itu justru sangat gundah, dia Walang Wulan. Wajahnya murung, seperti halnya mendung yang menutupi kecantikan bulan. Malam sudah agak larut tapi Wulan tak bisa memejamkan mata.
Pikirannya menerawang ke mana-mana. Ia berpikir macam-macam. Ia melihat bagaimana Sekar tadi siang berani menghadapi bahaya maut demi menolong Wisang Geni. Kepandaian Sekar terlalu rendah, tetapi ia berani menerobos arena menghadapi Malini yang kosen dan berilmu tinggi. Masih banyak gadis-gadis lain yang lebih muda yang mau berkorban jiwa demi Geni. Masih banyak gadis muda lainnya yang mau menyerahkan diri menjadi isteri atau selir dari ketua Lemah Tulis yang perkasa itu.
Wulan makin mengenal diri sendiri, ia adalah tipe perempuan pencemburu. Ia tahu akan banyak gadis memburu Geni. "Bisa-bisa aku mati lantaran cemburu setiap hari," bisiknya. Wulan menarik kesimpulan sepihak, kedudukannya sebagai ketua Lemah Tulis membuat Wisang Geni kini bukan milik Walang Wulan sendiri, tetapi milik orang banyak.
Entah bagaimana tiba-tiba Waning Hyun sudah duduk di sampingnya. "Mbakyu Wulan, aku tahu apa yang kau pikirkan. Biar kutebak, tapi kau harus jujur, jika tepat kamu harus membenarkan ?"
"Mana mungkin kamu tahu apa yang kupikirkan?" Wulan tadinya memiliki rasa tidak suka pada Waning Hyun setelah mengetahui dirinya adalah putri Mahisa Walungan sementara Hyun adalah cucu Ken Arok. Dendam perang Ganter menjadi sebab. Tetapi Wulan akhirnya bisa menerima kenyataan bahwa sejarah masa lalu Kertajaya, Mahisa Walungan, Ken Arok tak ada sangkut paut dan hubungan langsung dengan dia dan Waning Hyun. Pelan pelan Wulan mulai menyukai putri keraton ini.
"Mbakyu, kamu memikirkan Wisang Geni, dia sekarang ketua Lemah Tulis yang mungkin akan melupakan kamu, benar kan?"
Wulan memandang heran pada adik seperguruan ini. "Bagaimana kamu bisa menebak jitu?"
Waning Hyun menghela nafas, duduk menyandar kepalanya ke pundak Wulan. "Mbakyu, aku juga sering memikirkan nasibku kalau kelak menjadi isteri raja. Ranggawuni suatu hari pasti akan menjadi raja. Seorang raja di tanah Jawa harus memiliki banyak selir. Dan aku harus menerima kenyataan ini, rela melihat suamiku membagi cintanya kepada perempuan lain. Bukan itu saja, suamiku juga bukan milikku lagi, dia milik kerajaan, milik rakyat, dia harus menyisihkan banyak waktu untuk kerajaan dan rakyatnya. Aku mungkin hanya kebagian sisa waktunya yang lowong. Keadaanmu dengan Wisang Geni masih jauh lebih ringan ketimbang yang kuhadapi, mbakyu."
Wulan terkejut, ia menatap Waning Hyun dengan nanar. "Tetapi kamu tahu dari mana kalau aku sedang memikirkan Geni?"
"Aku perempuan, mbakyu. Aku melihat wajahmu yang gundah seharian ini, padahal Geni begitu hebat mengangkat citra dan derajat Lemah Tulis. Kau bahkan menjauh dari Geni. Aku lantas menarik kesimpulan, pasti ada yang tidak beres menyangkut hubunganmu dengan Geni."
"Kupikir memang Geni kini bukan lagi milikku, aku harus rela dan ikhlas melepasnya."
"Kalau itu keputusan kalian berdua, aku tak bisa komentar apa-apa. Tetapi kalau itu keputusanmu sendiri, tanpa setahu Geni, maka itulah keputusan paling bodoh!"
Walang Wulan terkejut, ia mengerutkan kening. Waning Hyun tampaknya tak peduli kata-katanya telah membuat wajah Wulan memerah saking malu dan tersinggung. Ia melanjutkan dengan wejangan yang bermaknakan falsafah hidup. Sulit dibayangkan gadis muda memiliki wawasan hidup yang begitu luas.
"Hidup ini cuma mengenal dua sisi. Mimpi dan kenyataan. Kalau sedang memburu sesuatu yang kita inginkan, itu namanya mengejar mimpi. Kalau gagal, kita tidak rugi, sebab kita cuma kehilangan mimpi. Lain hal kalau kehilangan sesuatu yang sudah dalam genggaman, yang sudah kita miliki. Itu namanya rugi. Kata guru, kejarlah mimpi dengan ngotot dan kerja keras, hasilnya bisa gagal, bisa sukses. Kalau gagal jangan putus asa. Di sisi lain kita harus ngotot dan berupaya keras mempertahankan apa yang sudah menjadi milik kita. Dalam hal ini kita tak boleh gagal, kita harus berjuang keras mempertahankannya!"
Wulan memandang Waning Hyun dengan takjub. "Dari mana kau peroleh pelajaran hidup itu?"
"Siapa lagi kalau bukan guru Gajah Watu. Kamu tahu, mbakyu, guruku itu pernah mencintai seorang gadis pendekar, tetapi dia telah menyia-nyiakan kesempatan mendapatkan gadis itu sebagai isteri. Dia menyesal, itu sebab sampai sekarang dia tak mau terikat oleh seorang wanita pun, padahal di keraton banyak gadis yang mau menjadi isterinya."
Wulan terkejut, tetapi menyembunyikan wajahnya. Dia takut jangan sampai Waning Hyun membaca pikirannya. Sebab dia tahu, siapa gadis yang dimaksud Gajah Watu itu.
"Jadi sebenarnya dia mencintai aku? Seandainya dia melamar aku, pasti aku bersedia waktu itu. Tetapi dia hanya membutuhkan tubuhku saja," katanya dalam hati. Dia tanpa memandang adik seperguruannya, dia bertanya dengan berdebar-debar. "Gurumu, menyebut siapa gadis itu, aku jadi ingin tahu?"
Waning Hyun menggeleng kepala. 'Tidak. Kata guruku, itu rahasia yang akan dibawanya sebagai kenangan pribadi. Tetapi dari pengalaman itu, dia memberiku nasehat, jangan melepas apa yang sudah ada di dalam genggaman, jangan bodoh!"
"Kira-kira apa yang harus kuperbuat, adik manis?"
"Bukan lagi kira-kira, tapi suatu keharusan! Kamu harus mempertahankan Wisang Geni, apapun rintangannya! Kamu sudah memperoleh cintanya, kini tinggal kamu pertahankan itu! Kamu mimpi hidup berdampingan dengannya, nah kejarlah mimpi itu dengan larimu yang paling kencang!"
"Adik Hyun, kamu masih begini muda tapi pandanganmu tentang hidup, bukan main luas dan bijaksananya!"
Waning Hyun menghela napas. "Mbakyu, aku tadinya hanya mempersiapkan diri menjadi isteri seorang lelaki. Tetapi belakangan ini aku harus menerima kenyataan lain, menjadi isteri seorang pangeran yang tak lama lagi akan menjadi raja. Aku harus siap melepas kebebasan dan kemerdekaan yang sudah membesarkan aku selama ini."
Wulan memeluk Hyun. "Apalagi yang membuat kau gelisah. Mimpi seorang puteri keraton adalah menjadi isteri seorang raja, kau seharusnya bahagia!"
"Ya, seharusnya demikian." Suara Waning Hyun terdengar agak parau. Ada suara duka di dalamnya.
Keduanya beranjak masuk ke dalam kamar. Wulan masih memikirkan pembicaraannya dengan Waning Hyun dan bagaimana sikapnya menghadapi Wisang Geni. Ia sudah hendak tidur ketika terdengar suara orang menyanyikan kidung Jurus Penakluk Raja. Suaranya dingin dan sinis, ciri suara seorang pembunuh. Suara itu bening dan jernih, pertanda tenaga dalam orang itu dari pendekar kelas atas.
Di tengah gelapnya malam, udara yang dingin serta heningnya suasana, kidung itu membangkitkan bulu roma. Ada hawa pembunuhan yang terbawa dalam nada suara si penyanyi.

Dari gunung Lejar
Jurus penakluk
Raja Ilmu dari segala ilmu
Melenggang ke Barat
Meluruk ke Timur
Merangsak ke Utara
Merantau ke Selatan
Tak ada lawan
Tak ada tandingan
Ilmu dari segala ilmu

Tiga perempuan di kamar itu melompat bangun, terutama Mei Hwa yang dari tadi sudah pulas. Gadis dari Kuangchou ini tak mengerti apa persoalannya. Ia bangun karena mendengar suara ribut yang ditimbulkan tiga rekan sekamarnya, Waning Hyun, Sekar dan Walang Wulan.
Wulan berseru perlahan, "Itu Kidung Maut! Tiga kali kidung dinyanyikan. Berarti malam ini sebelum fajar menyingsing, ada tiga orang yang jiwanya bakal melayang di rumah ini. Sungguh temberang si Kidung Maut, tidak tahukah dia bahwa di rumah ini berkumpul banyak jago dari kalangan kelas atas?" Kata-kata Wulan itu semakin membuat Mei Hwa bingung.
Tetapi gadis Kuangchou itu tak sempat bertanya lebih lanjut. Terdengar suara Ki Demung Pragola membelah kesunyian malam yang sudah mulai hangat suasananya. "Harap semua orang berkumpul di ruang tengah! Kita bentuk lingkaran dengan setiap orang menghadap keluar."
Ruangan itu memang besar dan luas. Semua orang sudah berkumpul di ruang tengah. Seluruhnya terhitung tiga puluh tujuh orang, termasuk tuan rumah dan keluarganya, Ki Demung Pragola mendudukkan cucunya di dekatnya.
"Nduk, kau tak boleh berpisah dengan kakek, biar sesaat pun! Ingat itu, nduk”
Demung Pragola memandang semua orang. Di situ ada Padeksa, Gajah Watu, Sang Pamegat, Manjangan Puguh, Wisang Geni, Ranggawuni, Mahisa Cempaka, Waning Hyun, Walang Wulan, delapan pendekar Tumapel, lima utusan dari Kuangchou, beberapa murid Lemah Tulis dan beberapa murid perguruan Demung Pragola.
Melihat wataknya yang agak berangasan, tak heran Demung Pragola kesal bagai kebakaran jenggot. "Sungguh sombong dan temberang si Kidung Maut itu. Ia terlalu memandang enteng kita semua yang ada di sini. Aku Demung Pragola merasa terhina kalau sampai ada orang yang menjadi korban sementara aku ada di sini. Tuan-tuan, apa yang harus kita lakukan?"
Sang Pamegat seperti juga Ki Demung Pragola merasa sangat terhina dengan kejadian ini. "Kita tunggu saja, sampai di mana kehebatan si Kidung Maut itu. Aku ingin melihat apakah darahnya juga merah seperti darahku?"
Manjangan Puguh memandang Wisang Geni yang kebetulan sedang menatapnya. Hampir tujuh purnama silam dia bertiga Padeksa dan Wisang Geni menghadapi situasi sama. Waktu itu si Kidung Maut berhasil memenuhi kebiasaannya, membunuh orang sesuai jumlah kidung yang dia tembangkan. Apakah kali ini ia juga akan berhasil lagi membunuh orang sesuai keinginannya?
Manjangan Puguh berjalan hilir mudik, tampaknya ia sedang memikirkan sesuatu. Tiba-tiba ia bertanya kepada muridnya, "Ketika tadi bertempur dengan perempuan Jambudwipa itu, apakah kau temukan sesuatu yang aneh, Geni?”
"Tidak, tak ada yang aneh guru!" Mata Geni melihat Sekar dan Wulan yang duduk jauh dari tempatnya. Ia menggapai dua gadis itu agar duduk di dekatnya. Dua perempuan itu beranjak mendekati tempat Geni.
Manjangan Puguh melanjutkan pembahasannya, hanya berdua Wisang Geni, tak ada orang yang mendengarnya karena pembicaraan dilakukan dengan ilmu pendam suara.
"Maksudku begini, setahun lalu kita bertiga bersama Ki Padeksa pernah tarung dengan si Kidung Maut. Waktu itu kita sepakat si Kidung Maut sesungguhnya adalah seorang perempuan. Sejak hari itu aku mengejar pembunuh kejam itu. Dari beberapa kejadian aku yakin pembunuh itu terdiri dua orang. Keduanya berilmu tinggi. Satu di antaranya perempuan. Satunya lagi kuyakin laki-laki. Dan aku yakin malam ini, keduanya akan turun tangan bersama."
Wisang Geni terkesiap. "Kalau begitu malam ini kita menghadapi lawan berat. Satu Kidung Maut saja sudah sulit dilawan, apalagi kini dua orang. Kita tak boleh lengah, benar-benar harus waspada."
"Geni, setahun lalu kau mengatakan mencium wewangian perempuan waktu kau bergebrak dengan si Kidung Maut, kamu masih ingat? Tadi waktu kau bertarung dengan Malini, adakah kau mencium aroma wewangian yang sama?"
Wisang Geni berdiam, mencoba mengingat-ingat. Saat itu semua orang diam, masing-masing sibuk menata diri, mempersiapkan tenaga menghadapi serangan yang mendadak dari iblis pencabut nyawa itu.
Geni bertanya pada gurunya, "Guru, kenapa kau mencurigai perempuan dari negeri Jambudwipa itu?"
Tetapi sebelum dia menjawab, dia terkejut dengan kehadiran Mei Hwa yang melangkah mendekati dan duduk di sampingnya. "Pendekar Puguh, siapa orang yang menyanyi tadi, mengapa semua orang panik dan bersiap-siap seperti mau bertarung?"
Pendekar ini terkejut mendengar pertanyaan Mei Hwa, ia heran melihat sikap wanita Cina ini yang memperlihatkan perhatian kepadanya. Ia menjawab dengan tersenyum "Penyanyi kidung itu adalah pembunuh kejam, dia selalu membunuh dengan terlebih dahulu menyanyikan kidung tersebut, tadi tiga kali dia mengulang kidung itu, artinya dia akan membunuh tiga orang di antara kita, dan itu akan dia lakukan sebelum fajar menyingsing."
Puguh menoleh kepada Wisang Geni. Dia bicara lirih, sengaja biar Mei Hwa juga bisa mendengar. "Selama penyelidikan aku temukan keanehan bahwa orang Jambudwipa itu sering kali berada di sekitar tempat pembunuhan. Seperti malam ini, bukankah tadi siang kita bertemu mereka?"
Tiba-tiba Wisang Geni berseru, suaranya agak keras, "Guru, memang dia!" Dia kemudian menyambung bicaranya dengan suara lirih. "Tadi memang aku mencium wewangian. Tapi wewangian yang tadi masih asing bagiku, tak bisa kuingat atau membandingkannya. Lain hal saat aku dan Sekar dipaksa menelan racun oleh Malini dan Kumara, waktu itu Malini berdiri dekat denganku, sehingga aku mencium wewangian yang rasanya pernah kukenal. Hanya saat itu aku lupa. Kini aku ingat, wewangian itu sama, wewangian yang dipakai Malini sama wanginya dengan wewangian yang dipakai si Kidung Maut. Tetapi guru, mungkinkah dua pendekar asing itu yang menyamar sebagai Kidung Maut?"
Manjangan Puguh manggut-manggut. "Tadinya, aku sedikit ragu, kini tidak lagi. Aku berani mempertaruhkan kepalaku, si Kidung Maut adalah dua pendekar Jambudwipa itu, aku pasti!"
Mei Hwa penasaran. "Tapi apa kira-kira alasan mereka? Mengapa mereka suka membunuh?"
Wisang Geni berseru, "Guru, aku tahu sebabnya! Ketika aku terluka, mereka membujuk aku, mereka akan menyembuhkan lukaku kalau kuberitahu di mana tempat Eyang Sepuh Suryajagad bertapa. Tadi pagi, kembali ia menanyakan hal yang sama dengan ancaman akan memfitnah diriku di depan umum. Ia juga menyebut Resi Lahagawe yang pernah dihajar Eyang Sepuh di perang Ganter. Hubungannya jelas, dengan menyanyikan kidung Jurus Penakluk Raja yang pernah dinyanyikan Eyang Sepuh, mereka memancing agar Eyang Sepuh mau keluar dari pertapaan."
Manjangan Puguh tertawa. "Itu sebabnya, setiap menyanyikan kidung itu, kepala kidung tidak ikut dinyanyikan!"
Mei Hwa memegang tangan Manjangan Puguh, "Kangmas Puguh, aku ingin mendengarkan kidung Penakluk Raja yang lengkap."
Jantung Manjangan Puguh berdebar kencang. Dia juga merasa heran dengan dirinya, mendadak saja dia timbul birahi dan rangsangan nafsu saat Mei Hwa duduk di dekatnya. Bahu Mei Hwa sesekali menempel dengan bahunya. Kini tangan gadis Kuangchou itu malah menggenggam tangannya. Puguh menggunakan ilmu pendam suara ditujukan kepada gadis cantik itu. Dia menyanyikan kidung yang lengkap.

Ilmu dari seberang
Tak boleh tepuk dada
Di Tanah Jawa ini
Dari Gunung Lejar
Jurus Penakluk Raja
Ilmu dari segala Ilmu
Melenggang ke Barat
Meluruk ke Timur
Merangsak ke Utara
Merantau ke Selatan
Tak ada Lawan
Tak ada Tandingan
Ilmu dari segala Ilmu

Suara Puguh kasar dan gemetaran, tetapi Mei Hwa meleletkan lidah. Dalam hatinya ia kagum terhadap pencipta kidung. Kagum bahwa orang itu begitu percaya pada ilmunya. Dan bahwa ilmu tiada tandingan tentu bukan sembarang ilmu. Ilmu dari segala ilmu
Mei Hwa masih mau bertanya, tetapi dicegah oleh Puguh. Karena saat itu dia melihat Wisang Geni berjalan keluar menuju alam terbuka. Gerak gerik Wisang Geni tidak luput dari pengamatan Wulan dan Sekar. Keduanya saling memberi isyarat, keduanya mengikuti Geni melangkah keluar.
Wulan bertanya. "Geni, ke mana kau?" Ada rasa khawatir dalam getar suaranya.
Wisang Geni menoleh, dia menggapai dua kekasihnya itu. Ketiganya menjauh dari rumah besar. Dua perempuan itu terkejut ketika Wisang Geni tertawa, menggunakan tenaga dalam. Tertawanya khas tertawa lembah kera. Tawa itu berkumandang ke segala penjuru, panjang bergelombang, jernih dan lepas. Geni sengaja menggunakan tenaga Wiwaha sehingga siapa pun yang mendengar pasti akan meleletkan lidah kagum akan kekuatan tenaga dalam Geni. Bahkan tokoh seperti Sang Pamegat, dan Demung Praloga, sampai terpaku di tempatnya.
Mendadak tertawa itu terhenti, saat berikutnya terdengar suara Geni. "Kalian berdua, hentikan pembunuhan yang tak ada gunanya ini. Satu purnama mendatang, aku akan menemui kalian berdua untuk melunasi segala hutang piutang di antara kita. Tempatnya di warung tempat kita bertemu dulu."
Suara Geni ini terdengar jelas, lantang dan jernih menerobos ke empat penjuru angin. Gemanya terdengar jauh nun di sana saling bersahutan. Lama sekali baru gema itu lenyap. Semua orang di situ termasuk Mei Hwa dan empat kawannya, mengakui hebatnya tenaga dalam Geni.
Demung Pragola menghela napas. "Sungguh benar kata orang, gelombang di belakang selalu menghempas gelombang di depannya. Dari mana Lemah Tulis bisa memperoleh murid seperti Wisang Geni. Sayang aku tak melihat bagaimana ia menghabisi riwayat Kalayawana."
Malam sunyi sepi. Tak lama terdengar suara kidung dinyanyikan orang. Makin lama suara kidung makin menjauh sampai akhirnya lenyap ditelan kebisuan malam.
Manjangan Puguh tampak kesal. "Mereka sudah pergi!"
Demung Pragola dan Padeksa hampir bersamaan menyahut, "Tak boleh percaya. Kita harus tetap waspada dan tetap berkumpul bersama-sama di ruangan ini."
Mei Hwa menegur Manjangan Puguh. "Kenapa kau kesal, kangmas. Dengan perginya iblis pembunuh kan kita tak perlu bertempur lagi."
Manjangan Puguh menatap wajah cantik di depannya. Ia tak bisa menyembunyikan perasaan tertariknya. Dua kali gadis itu memanggilnya kangmas. Agak gugup Manjangan menjawab. "Benar katamu. Tapi aku khawatir keselamatan Wisang Geni dalam pertarungannya dengan dua orang itu."
"Kamu tak usah khawatir. Muridmu itu memiliki ilmu silat yang jarang bisa dicari bandingannya. Tenaga dalam seperti itu di negeriku mungkin hanya dimiliki oleh ketua Sam Hong saja. Tetapi mas, jika muridmu sebegitu hebatnya tentu kamu sebagai gurunya memiliki ilmu silat yang lebih hebat lagi."
"Tidak bisa mengukur ilmu silat seseorang dengan cara begitu. Dulu, memang dia pernah kudidik sebagai murid, tetapi waktu berjalan terus, dia punya jalan lain, aku menempuh jalan lain. Aku senang bahwa muridku memperoleh keberuntungan sehingga ilmu silatnya meningkat pesat, aku rasa sekarang ini dia sudah mencapai tingkatan di atasku. Dan aku sangat bangga padanya."
Mei Hwa tersenyum. Ia memegang tangan Manjangan Puguh yang tentu saja bertambah gugup. "Mas, kamu pendekar yang bermoraL Aku bersyukur kamu tidak termasuk dalam lima jago tanah Jawa yang akan adu silat dengan jagoan kami."
"Kenapa kamu berkata demikian?"
Mei Hwa merunduk. "Aku tak mau kamu terluka."
Manjangan Puguh terkesiap. Ia bertanya-tanya, apakah gadis cantik ini menyatakan perasaan cinta kepadanya? Ia masih gugup ketika Mei Hwa menggenggam tangannya dan menarik menjauh dari orang-orang.
"Kangmas Puguh, ketika kamu menolong kami dari keroyokan penjahat, kamu sudah memeluk tubuhku. Terus terang selama ini, tubuhku belum pernah dipeluk seorang lelaki. Aku mau tanya, kamu harus jawab jujur, kamu bisa melakukan pertolongan itu tanpa harus memeluk aku, kenapa kamu memeluk aku?"
Manjangan Puguh tersenyum. "Mei Hwa, aku tahu kamu punya ilmu silat yang mungkin tidak berada di bawah tingkatanku, mengapa kamu tidak menghajar penjahat itu, tetapi pura-pura lemah dan memberi kesempatan aku menolongmu, kamu juga tidak berontak malah membiarkan aku memelukmu?"
Mei Hwa tersipu-sipu. Ia merunduk. "Aku yang bertanya dulu, kamu tak boleh balik bertanya, kamu harus menjawabnya dulu."
Manjangan Puguh menoleh sekeliling. Tak ada orang yang memerhatikan. Ia memegang tangan Mei Hwa, menciumi tangan itu. "Aku menyukaimu sejak pertama melihatmu, Mei Hwa."
Berikutnya dua insan itu terlibat dalam pembicaraan akrab. Di sudut sana Ranggawuni juga sedang ngobrol dengan Waning Hyun. Sedang di luar ruangan, dekat taman, Wisang Geni dan Walang Wulan saling menatap. Ternyata Waning Hyun berhasil mengubah sikap Wulan, yang tadinya serba ragu kini hangat kembali.
"Geni, kau kini sudah jadi ketua, aku bawahanmu. Dalam soal ilmu ilmu silat, kamu pun lebih kuat. Sebagai suami, kamu tentu punya banyak kelebihan, aku mau tanya apakah nantinya kamu akan berlaku galak terhadapku?"
Geni tak menjawab, malahan balas bertanya, "Kenapa seharian ini kau menjauh dariku, apakah aku berbuat sesuatu yang membuatmu marah atau tersinggung?"
"Kau belum menjawab pertanyaanku!"
"Kau jawab dulu pertanyaanku!"
Wulan menggeleng.
Geni tersenyum "Kamu terkadang memang keras kepala." Dia meraih tubuh Wulan, memeluk erat. "Wulan, aku tak akan pernah galak terhadapmu, sekarang atau pun kelak. Aku akan batasi diri bergaul dengan perempuan. Tapi ada syaratnya."
Wulan bertanya manja. "Apa?"
"Tidak di sini, mari kuajak kamu ke suatu tempat."
Geni menggandeng tangan kekasihnya. Keduanya melesat ke kerimbunan hutan. Sekar memandang kepergian dua insan itu dengan senyum. Di kerimbunan pepohonan, Geni melucuti pakaian Wulan. Dia meraih dan mendekap Wulan. Dalam kehangatan dekapan itu, wajah Geni tepat berada di busungan buah dada Wulan yang berukuran besar. Penisnya dengan cepat bangkit, mengeras di balik celana yang Geni pakai.
Kedua kaki Wulan terbuka sehingga sesuatu yang membukit dan masih terbungkus celana dalam jadi kelihatan. Geni tak berkedip menatapinya. Untuk wanita seusia diri Wulan, kaki dan bagian paha perempuan itu masih terhitung mulus. Memang ada kerutan di daerah pangkal paha, tetapi tidak mengurangi hasrat Geni untuk menggumulinya. Apalagi rambut di vagina Wulan juga sangat lebat, terlihat banyak yang keluar dari celana dalam yang dipakainya.
Rupanya Wulan tahu mata Geni begitu terpaku menatapi organ kewanitaannya, maka lekas ia pelorotkan sendiri celana dalam itu dan melepasnya. Bahkan tanpa sungkan, setelah melepas sendiri celana dalamnya, ia duduk mengangkang membuka lebar-lebar kedua pahanya, memamerkan vaginanya yang berbulu sangat lebat.
“Ah, akhirnya aku dapat melihat milikmu lagi, Wulan, dalam jarak yang sangat dekat.” Geni tersenyum.
Kemaluan Wulan lebar dan membukit. Jembutnya sangat lebat dan hitam pekat, kontras dengan pahanya yang kuning langsat. Puas memandangi bagian paling merangsang di selangkangan wanita itu, keinginan Geni untuk menyentuhnya menjadi tak tertahankan. Ia julurkan tangan untuk menyentuhnya.
Geni mengusap-usap jembut Wulan yang keriting dan tumbuh panjang. Ia sibak  dengan kedua tangan hingga bibir luar vagina Wulan jadi kelihatan, warnanya merah kecoklatan. Di bagian dalam lubang itu ada lipatan-lipatan daging agak berlendir dan sebuah tonjolan. Inilah yang disebut kelentit.
Tidak seperti vaginanya yang besar, tebal dan tembem, kelentit Wulan relatif kecil. Hanya berbentuk tonjolan daging kemerahan di ujung atas celah bibir luar kemaluannya yang sudah basah. Geni mengusap-usap kelentit itu dengan jari telunjuknya, sambil sesekali dibasahinya dengan ludah. Wulan jadi mendesah dan sedikit menggelinjang. Ia meminta Geni untuk melepas semua pakaiannya.
“Oooww... punyamu besar, Geni. Ini yang selalu kurindukan!” kata Wulan sambil membelai penis Geni yang tegak mengacung. Bahkan tidak hanya membelai dan mengagumi batang penis yang telah mengeras itu, setelah menjilat-jilat lubang di bagian ujung, ia memasukkan batang penis itu ke mulutnya.
Geni jadi merinding menahan kenikmatan yang telah lama tak ia rasakan, tubuhnya bergetar hebat. Sesekali ia rasakan mulut Wulan mengempot dan menghisap batang penisnya yang terus semakin mengembang, lalu dikeluarkan dan dikocok-kocok perlahan. Ah, teramat sangat nikmat. Sangat berbeda bila Sekar yang melakukannya.
Saking tak tahan, tanpa sadar Geni memegang dan mengusap-usap rambut Wulan, bahkan sedikit menjambaknya. Tetapi Wulan tak peduli, ia terus asyik dengan penis Geni yang ada di dalam mulutnya. Dia mengulum, menghisap dan mengocok-ngocoknya perlahan dengan sangat gemas, seperti wanita yang baru melihat kejantanan milik pasangannya.
Sambil menikmati kocokan dan kuluman Wulan pada penisnya, Geni meremasi bulatan payudara perempuan itu. Payudara Wulan berukuran besar dan masih padat bentuknya, sangat lembut dan enak saat diremas. Bahkan puting-putingnya langsung mengeras setelah beberapa kali Geni memerah dan memilin-milinnya.
Wulan membalas dengan mengulum semakin lihai hingga Geni dibuat kelojotan menahan nikmat setiap ia menghisap dan memainkan lidah di ujung kepala penis. Bahkan saat Wulan mulai mengalihkan permainannya dengan menjilati kantung pelir dan menghisapi biji-bijinya, Geni tak mampu bertahan lebih lama. Pertahanannya nyaris jebol, karenanya ia berusaha menarik diri agar air maninya tidak muncrat ke mulut atau wajah Wulan.
Namun Wulan menahan dan menekan pinggangnya. “Sudah mau keluar? Muntahkan saja di mulutku!” ujarnya sambil langsung kembali menghisap penis Geni.
Akhirnya, pertahanan Geni benar-benar ambrol meski telah sekuat tenaga ia mencoba menahannya. Sambil mendesis dan mengerang nikmat, pejuhnya muncrat sangat banyak di rongga mulut Wulan. Cairan kental berwarna putih itu berleleran keluar dari mulut Wulan, tetapi wanita itu tampak tak mempedulikannya, bahkan menelannya dan dengan lidah berusaha menjilat sisa-sisa mani Geni yang masih berleleran keluar.
Terpacu oleh banyaknya mani yang keluar membuat tubuh Geni lemas seperti tak bertulang. Ia terduduk menyandar di bebatuan tempat Wulan terduduk.
“Bagaimana, Geni, enak?”
“Enak sekali, Wulan!”
“Nanti gantian punyaku juga kamu bikin enak ya?”
Geni tak menjawab karena kembali terpaku pada tubuh bahenol Wulan yang masih bugil tanpa sehelai benang pun. Wanita berpinggul besar dan berdada montok itu meskipun umurnya jauh di atas Geni, namun terlihat masih sangat menggoda. Maka Geni langsung bergeser dan berjongkok di depan Wulan. Vagina sang istri yang besar membusung kini tepat berada di hadapan wajahnya.
Pelan Geni mengusap bibir luar vagina Wulan yang berwarna coklat penuh kerutan dan terasa lebih tebal. Namun makin ke dalam lebih lembut dan basah serta warnanya agak memerah. Bisa didengarnya Wulan mendesah saat jarinya masuk menerobos ke dalam lubang, desahan itu membuat Geni jadi terangsang dan penisnya kembali tegang.
“Ahhh... enak, Geni. Terus! Yang dalam!” Sambil mendesah, Wulan tak hanya meremas dan menjambaki rambut Geni, tetapi ia berusaha menarik dan mendekatkan wajah Geni ke arah lubang vaginanya.
Geni tahu, nampaknya Wulan tidak ingin vaginanya hanya dicolok-colok dengan jari saja. Geni yang memang sudah kembali terangsang langsung mendekatkan mulut dan mulai mengecupi lubang vagina sempit itu. Rakus dia mengulum, menghisap, dan menjilatinya.
 “Ohhh… sshhh… enak, Geni! Aaauuww… enak sekali!”
Geni sangat senang karena ternyata Wulan menyukai dan keenakan oleh jilatan lidahnya. Dari liang senggama itu mulai keluar lendir kental yang terasa asin, tetapi itu tidak membuat Geni surut langkah, malah dia jadi kian bersemangat untuk terus mengobok-ngobok vagina Wulan dengan mulut dan lidahnya.
Rakus Geni mencerucup dan menghisap-hisapnya hingga lendir Wulan banyak yang tertelan masuk ke kerongkongannya. Diperlakukan seperti itu, Wulan seperti kesetanan. Tubuhnya bergetar hebat dan ia merintih sambil meremasi sendiri kedua payudara besarnya.
“Kamu tiduran, Geni. Aahh... jilatanmu di kemaluanku enak sekali!” Wulan mendesah.
Seperti yang diminta, Geni segera merebahkan diri di rerumputan. Setelah itu Wulan naik mengangkanginya. Tadinya Geni mengira Wulan akan langsung mengajaknya bercinta dengan posisi wanita di atas, tetapi ternyata tidak. Wulan memposisikan kedua kakinya di antara tubuh Geni dan sedikit menurunkan tubuhnya. Rupanya ia masih ingin mendapatkan jilatan di vagina dengan posisi yang lebih nyaman dan ia bisa bergerak leluasa. Sebab saat vaginanya telah berada tepat di depan wajah Geni, Wulan langsung membekapkannya ke mulut Geni.
Geni sempat gelagapan karena tidak mengira Wulan akan melakukannya. Tetapi setelah mengetahui apa yang diinginkan oleh perempuan cantik itu, ia langsung menyambut dengan dengan hati.
Seperti sebelumnya, kembali Geni menjulurkan lidah untuk menjilati lubang vagina Wulan. Namun kali ini dengan lebih bersemangat. Lipatannya ia kulum-kulum halus, sebelum kemudian lidahnya menjulur masuk sedalam-dalamnya, bahkan sampai hidung dan wajahnya ikut belepotan oleh lendir yang keluar dari liang sanggama Wulan.
Sambil terus mengobel dengan lidah dan mulut, pantat Wulan juga menjadi sasaran remasan tangan Geni. Pantat besar itu terasa masih sangat kenyal. Nampaknya Wulan menjadi keenakan, ia melenguh dan mendesah lirih.
“Iya, Geni… aaahh… enak sekali. Terus tusuk punyaku dengan lidahmu... ahhh... oohhh… ssshh...” desahnya saat Geni semakin dalam menjulurkan lidah.
Mendengar desahan Wulan, Geni jadi semakin bersemangat. Dia terus menjilat dan menghisap sekenanya. Rupanya karena terlalu menggebu, Geni sempat menghisap kelentit Wulan terlalu kuat. Bukannya merengek sakit, Wulan malah memekik keenakan.
“Iya, Geni... yang itu... enak sekali... aahhh... terus hisap yang itu… aaoohh!”
Seperti yang diminta, kelentit Wulan yang akhirnya paling sering menjadi sasaran jilatan dan hisapan mulut Geni. Bahkan sambil terus mencerucupi kelentitnya, dua jari tangan Geni mulai menyodok-nyodok bagian dalam vagina. Saat itulah Wulan menjadi kelojotan dan beberapa saat kemudian ia meminta Geni berhenti.
“Sudah, Geni. Aku tak tahan, bisa lemas kalau diteruskan. Sekarang aku pengin ditusuk sama senjatamu!”
Wulan ganti telentang di rerumputan dalam posisi mengangkang. Di antara kedua pahanya yang membuka lebar, vaginanya tampak menganga menunggu batang zakar Geni yang mau mengisinya. Sepasang buah dadanya yang besar, dalam posisi telentang seperti itu, sama sekali tidak terlihat turun. Malah puting-putingnya yang memerah kecoklatan terlihat menantang indah.
Melihat Geni cuma mematung, rupanya Wulan menjadi tak sabar. Ditariknya tangan Geni hingga menjadikan tubuh pemuda itu ambruk menindih tubuh montoknya. Beberapa saat kemudian Geni merasakan Wulan meraba selangkangannya dan meraih batang penisnya. Batang yang sudah mengacung keras itu dikocok-kocok perlahan hingga semakin mengeras dan membesar.
Oleh Wulan, kepala penis itu digesek-gesekkan di sekitar bibir kemaluannya. Setelah tepat berada di bagian lubang, ia berbisik, “Tekan, Geni! Biarkan punyamu masuk ke dalam milikku!”
Bleeesss!
Tanpa banyak hambatan berarti, batang Geni yang lumayan panjang dan besar langsung terbenam, mungkin karena lubang vagina Wulan yang sudah licin akibat banyaknya lendir yang keluar. Lubang itu terasa hangat dan basah, dan tanpa membuang waktu lagi, Geni langsung memompanya kuat-kuat.
“Ahhh... enah, Geni. Aaahhh… kamu merasa enak juga kan?”
Geni mengangguk dan tersenyum. Dilihatnya Wulan mulai mendesah-desah,  mulai merasakan nikmat sodokan penisnya. Dan bagi Geni, kenikmatan yang ia rasakan juga tiada tara. Gesekan-gesekan batang penisnya pada dinding vagina Wulan menghantarkannya pada kenikmatan yang sulit untuk diucapkan. Geni terus mengaduk-aduk vagina perempuan itu hingga mata Wulan membeliak-beliak dan meremasi sendiri payudaranya. Melihat itu, Geni langsung mengulum dan menghisap kedua puting susu Wulan. Puting susu yang berwarna coklat kemerahan itu terasa mengeras di bibirnya.
“Iya, Geni… terus hisap!” ujar Wulan terus mendesah.
Makin lama disodok dan diaduk-aduk, lubang vagina Wulan terasa semakin basah. Rupanya semakin banyak lendir yang keluar. Bunyinya merdu setiap kali batang Geni masuk dan keluar. Saat penis itu ditekan, bibir vagina Wulan seperti ikut melesak masuk. Namun saat ditarik, seluruh bagian dalam vaginanya seakan ikut keluar, termasuk kelentitnya yang menggelambir.
Pemandangan itu membuat Geni kian terangsang dan kian bersemangat dalam memompa. Payudara Wulan juga ikut terguncang-guncang mengikuti hentakan yang ia lakukan. Geni jadi semakin bernafsu dan semakin cepat irama kocokan serta sodokan penisnya di liang senggama Wulan.
Wulan sendiri tak dapat menyembunyikan kenikmatan yang ia rasakan. Perempuan itu merintih dan mendesah dengan mata membeliak-beliak menahan nikmat. Sesekali ia remasi sendiri susunya sambil mengerang-erang. Geni juga memperoleh nikmat yang sulit dilukiskan. Lubang vagina Wulan yang masih sempit memberinya kenikmatan tersendiri hingga pertahanannya nyaris kembali jebol.
“Aaahh… tubuhmu enak sekali, Wulan. Aku tak tahan!” Geni mendesah sambil terus memompa.
“Tunggu sebentar, Geni! Aaahhh... batangmu juga enak!” Wulan bangkit memeluk serta menarik pinggang Geni hingga tubuh pemuda itu ambruk menindihnya. Kedua kakinya yang panjang langsung membelit pinggang Geni dan menekannya dengan kuat.
Selanjutnya Wulan membuat gerakan memutar pada pinggul dan pantatnya.  Akibatnya batang Geni berada di kedalaman lubang vaginanya serasa seperti diperah. Kenikmatan yang Geni rasakan kian memuncak, terlebih ketika dinding- dinding vagina Wulan tak hanya memerah tetapi juga mengempot dan menghisap. Kenikmatan yang diberikan benar-benar semakin tak tertahankan.
”Aaahh... ssshh… enak sekali, Wulan. Aku tak tahan! Enak sekali!”
“I-iya, Geni. Tahan dulu... aaahhh!”
Goyangan pinggul Wulan menjadi semakin kencang. Dan puncaknya, ia memeluk erat tubuh Geni sambil mengangkat pinggangnya tinggi-tinggi. Dan akhirnya tubuhnya mengejang dan empotan vaginanya pada penis Geni kian memeras. Maka muncratlah sperma Geni di kehangatan lubang vaginanya berbarengan dengan semburan hangat dari dalam vagina itu.
Sambil mengerang, terengah-engah, Wulan berbisik, "Kamu belum katakan syaratnya tadi."
"Kamu tak boleh menyimpan persoalan, jika ada persoalan, utarakan saja padaku."
"Cuma itu?"
"Ya, cuma itu."
Sembari memeluk suaminya, Wulan berbisik lirih, "Geni, tadi, saat kita bergandengan menuju hutan, aku melihat Sekar, artinya ia melihat kita pergi berduaan."
"Tidak ada masalah, Sekar sudah mengerti. Sekar dan kamu harus mengerti bahwa aku harus melayani dua isteri. Lain kali, aku akan mengajak Sekar dan kamu yang melihat kepergianku berdua Sekar."
Wulan berbisik, menggelitik telinga kekasihnya. "Terbalik, bukan kamu yang melayani dua isteri tetapi kami berdua yang harus melayani kamu. Bahkan mungkin dalam masa datang, akan ada perempuan lain lagi yang masuk ke dalam keluarga ini."
"Kenapa mengatakan adanya perempuan lain lagi?"
Wulan tertawa geli ketika tangan Geni menggelitik tubuhnya. "Aku tahu, sebab melihat gelagat birahimu, setelah memahami ilmu Wiwaha tampak perubahan dalam dirimu, kamu semakin cepat terangsang birahi dan makin perkasa."
Keduanya tertawa lirih sambil tetap. menikmati pelukan asmara di tengah malam yang remang-remang disinari cahaya rembulan.


2 komentar:

  1. Akhirnya pertarungan dimulai kembali

    BalasHapus
  2. Mantaap suhuu...sekedar saran saya kasih juga lah bagian wulan atau sekar thersome sama jagoan lain supaya alur nya hidup loh suhu..

    BalasHapus