Rabu, 22 Maret 2017

Putri Ular Putih 10



Setelah mendengar cerita Bai Su-zhen, Xu Xian merasa lega dan langsung tertidur. Keesokan harinya, ia terbangun pagi sekali. Kegiatan di tokonya berlangsung seperti biasa. Bai Su-zhen memindahkan barang-barang mereka ke lantai atas. Walaupun toko sibuk, Bai Su-zhen tetap sanggup mengatasinya. Ketika Xu Xian sedang bekerja di kantornya tiba-tiba ia mendengar seseorang berteriak di luar.
“Demi dewa-dewa, apakah majikanmu ada di rumah?”
Melihat Fa Hai yang datang, Xu Xian segera keluar menyambutnya.
Fa Hai memutar-mutar tongkatnya dan berkata, “Kita tidak dapat berbicara di sini. Sebaiknya kita berbicara di balik dinding itu.”
Karena tak mau menyinggung perasaan Fa Hai, Xu Xian menuruti saja usul Fa Hai. “Apa yang akan Tuan bicarakan kepadaku?” tanya Xu Xian.
Fa Hai tersenyum, “Istrimu benar-benar telah minum anggur itu?”

“Ia mulanya menolak minum, namun akhirnya ia minum juga segelas.” jawab Xu Xian.
“Lalu?” tanya Fa Hai.
“Ia mengeluh kurang enak badan, dan menyuruh saya meninggalkannya sendirian, karena ia ingin berbaring-baring. Ketika saya lihat ia sakit, saya pergi mengambil obat. Dan karena saya berpikir ia masih berada di tempat tidur, jadi saya sibakkan kelambu. Ternyata di atas tempat tidur melingkar seekor ular putih yang sangat besar. Saya menjerit dan jatuh pingsan.”
Fa Hai berkata, “Aku tidak membohongimu, bukan?”
“Ya! Tetapi istri saya mengatakan bahwa ia telah membunuh ular itu. Karena melihat saya terbujur tak bernapas lagi, ia lalu pergi ke sebuah gunung yang terpencil untuk mengambil sejenis rumput yang dapat menghidupkan orang meninggal. Berkat pertolongannya, saya dapat hidup kembali.”
Fa Hai tertawa terbahak-bahak. “Cerita itu tidak seluruhnya benar, karena ular yang kau lihat itu sesungguhnya adalah bentuk asli istrimu. Tetapi cerita bahwa ia membunuh ular itu hanyalah bohong belaka.”
“Tak mungkin!” teriak Xu Xian. “Saya sudah melihat sendiri bangkainya. Kepala ular itu terbelah.”
“Itu adalah hasil ilmu sihir roh jahat itu. Benda yang kau lihat sesungguhnya bukan ular, tetapi hanya sehelai selendang. Bai Su-zhen-lah ular itu. Suatu hari seseorang pasti akan membunuhnya,” ramal Fa Hai.
“Selendang?” kata Xu Xian tak percaya. “Jadi cerita bahwa ia pergi ke gunung dan mencuri rumput itu juga tidak benar?”
“Mengenai hal itu ia tidak berdusta. Sebenarnya maksudku datang kemari untuk mengajakmu menjadi pendeta. Karena istrimu adalah roh ular, sebaiknya tinggalkan saja dia!”
“Tuan berbicara seakan-akan ia berbahaya bagi orang banyak,” protes Xu Xian. “Padahal ia tidak pernah menyakiti siapa pun. Jadi, mengapa saya harus meninggalkannya?”
Fa Hai tertawa mengejek, “Ternyata engkau sungguh-sungguh bodoh. Manusia adalah manusia, tetapi iblis berbeda. Tampaknya ia tidak membahayakan sekarang, tetapi lain kali, ia akan menyakitimu. Dengan demikian kalian tidak akan saling menyakiti.”
Namun karena Xu Xian tidak pernah bercita-cita menjadi pendeta, ia pun segera menjawab, “Biar saya mempertimbangkannya terlebih dahulu.”
“Aku tahu, kau pasti akan menolak,” kata Fa Hai.
“Tetapi, setelah nanti kau lihat keahlian para pendeta Budha...” Fa Hai melempar tongkatnya ke tanah. Tiba-tiba tongkat itu berubah menjadi seekor naga besar berwarna keemasan. Kemudian ia mengibaskan jubahnya, dan segera meloncat ke atas punggung naga itu sambil berkata, “Aku akan kembali dalam sepuluh hari lagi untuk mendengar jawabanmu.”
Dalam sekejap, pendeta dan naga itu terbang ke langit dan hilang dari pandangan. Xu Xian berdiri terpaku tak mampu berkata-kata. Kemudian ia kembali ke tokonya tanpa mengatakan sesuatu.

***

Tiga hari kemudian, Xiao Qing mendatangi Xu Xian dan berkata bahwa Bai Su-zhen memanggilnya.
“Katakan aku sedang sibuk,” kata Xu Xian. “Aku harus menyelesaikan hitungan ini dahulu. Aku akan segera datang, setelah pekerjaan ini selesai.”
“Mari kubantu menyelesaikannya,” kata Ma Zihou. “Jika Bai Su-zhen ingin membicarakan sesuatu sebaiknya kau datang secepatnya.”
Ketika melihat Xu Xian datang, Bai Su-zhen berseru, “Tampaknya kau sangat sibuk semenjak dua hari terakhir ini!”
Xu Xian menjawab, “Sejak perayaan kemarin, neraca keuangan belum juga seimbang. Adakah sesuatu yang ingin kau bicarakan?”
“Sejak perayaan hari itu, kita belum pernah makan bersama. Bagaimana kalau malam ini kita makan bersama? Aku sudah menyiapkan makanan.”
“Saranmu baik sekali!” kata Xu Xian.
Xiao Qing tersenyum penuh arti. Bai Su-zhen lalu mengajak Xu Xian ke ruang makan. Segala macam makanan telah terhidang di atas meja.
“Mari kita makan! Mumpung makanannya masih panas,” kata Xu Xian.
Xiao Qing berkata, “Xu Xian, lihatlah betapa baiknya istrimu. Ia mengajak dan menungguimu makan. Jika kau tidak datang, ia pun tidak ingin makan. Bukankah itu sia-sia?”
“Ya, betul,” jawab Xu Xian. “Dan kau Xiao Qing, kau tidak ingin makan bersama kami?”
Xiao Qing segera duduk berhadap-hadapan dengan Bai Su-zhen, sedangkan Xu Xian duduk di ujung meja. Ketika Bai Su-zhen menuangkan anggurnya ke dalam gelas Xu Xian, dilihatnya Xu Xian hanya meneguknya sedikit. Ia pun tak makan dengan lahap.
“Apakah engkau sakit, Suamiku?” tanya Bai Su-zhen.
“Tidak,” jawab Xu Xian.
“Biar kuterka. Kau masih mencurigaiku, bukan?” tuduh Bai Su-zhen.
“Tidak juga,” kata Xu Xian.
“Kau bohong,” sembur Xiao Qing. “Coba jawab pertanyaanku. Apa yang dikatakan pendeta itu kepadamu?”
“Hm... ia...” jawab Xu Xian terbata-bata.
“Apa katanya?” kata Bai Su-zhen tak sabar.
Xu Xian meletakkan sumpitnya dan menunduk memandang meja.
Xiao Qing meneruskan kata-katanya, “Ia pendeta dari Biara Gunung Emas, namanya Fa Hai, bukan?”
Mendengar perkataan Xiao Qing, Xu Xian berhenti menyuap. Dipandangnya Xiao Qing. “Ya...” jawabnya perlahan.
“Aku yakin ada hal penting yang ingin dibicarakannya kepadamu,” lanjut Bai Su-zhen. “Kalau tidak, tentunya ia tidak akan datang dua kali ke sini.”
“Ia menyuruhku menjadi pendeta,” sahut Xu Xian. ”Tetapi kukatakan kepadanya bahwa aku tidak ingin meninggalkanmu,” aku Xu Xian.
Mendengar kata Xu Xian, Bai Su-zhen menangis.
Dan ketika dilihatnya kakaknya menangis, Xiao Qing pun berdiri. Sambil menunjuk Bai Su-zhen ia berkata, “Lihatlah kakakku! Cobalah berpikir sebentar. Ketika kalian menikah, karena kau tak punya uang sepeser pun, kakakku memberimu uang agar kau dapat menikmati kehidupan yang lebih baik. Karena engkau tak punya modal, kakakku memberimu banyak uang sehingga kalian dapat pindah ke Suzhou dan mendirikan sebuah toko yang cukup megah. Tetapi semua kebaikannya itu sungguh tidak sebanding dengan pengorbanannya untuk menyembuhkanmu. Hanya untuk mencari obat bagimu, ia rela mendaki gunung dan mempertaruhkan nyawanya. Dan akhirnya ia berhasil. Kau pasti juga tahu, tidak banyak istri yang bersedia berkorban bagi suami seperti yang telah ia lakukan. Aku yakin seluruh dunia, bahkan hantu dan dewa-dewa pun akan menangis mendengar kisahnya.”
Kata-kata Xiao Qing sungguh-sungguh mengena di hati Xu Xian. Tetapi ketika ia ingin minta maaf, Bai Su-zhen segera menarik tangannya dan berkata, ”Kalau ada sesuatu yang harus kau ceritakan kepadaku, duduklah dan ceritakan semuanya. Tetapi jangan merendahkan dirimu seperti ini.”
Xu Xian membalikkan tubuhnya dan membungkuk tiga kali kepada Xiao Qing. “Kata-katamu membuat hatiku benar-benar terharu. Aku malu! Aku berjanji tak akan pernah lagi mendengarkan kata-kata pendeta itu.”
Xiao Qing tertawa, “Sekarang ceritakan kepada kami apa yang telah dikatakannya kepadamu!”
“Ia berkata bahwa kakakmu adalah seekor ular putih yang menyamar. Dan kau...” kata Xu Xian terbata-bata.
“Ya...?” desak Xiao Qing.
“Bahwa engkau sesungguhnya adalah seekor ular hijau yang juga sedang menyamar.”
Xiao Qing tak dapat menahan tawanya. Ia memandang Bai Su-zhen dan berkata, “Kalau benar demikian, berarti kami berdua adalah roh jahat. Jadi apa pengaruhnya bagimu, Xu Xian?”
“Suamiku,” lanjut Bai Su-zhen bersungguh-sungguh.
“Akan kuceritakan hal yang sebenarnya kepadamu. Kami adalah dua wanita yang mempelajari ilmu gaib selama hampir lebih dari seribu tahun. Dengan pernikahan kita, sesungguhnya aku telah melanggar Hukum Kayangan. Itu sebabnya Fa Hai ingin merusak kebahagiaan kita. Padahal aku tidak berkeinginan lagi mematuhi aturan untuk para peri, dan aku sangat menikmati kehangatan hidup berkeluarga.”
“Aku mengerti sekarang,” kata Xu Xian. “Tak mengherankan Fa Hai marah karena melihatku menikahimu.” Kemudian ia berpaling kepada Xiao Qing, “Karena kau telah mendalami ilmu gaib selama ratusan tahun, mudah saja bagimu untuk mengikuti kakakmu. Tetapi, bagaimana dengan aku? Karena aku manusia biasa, dan aku tidak ingin kalian tinggalkan.”
“Tetapi berjanjilah untuk tidak bercerita kepada siapa pun tentang apa yang telah kami katakan kepadamu,” kata Xiao Qing.
“Tentu saja,” Xu Xian berjanji.
“Kekuatan Fa Hai sebanding dengan kekuatan kita,” kata Bai Su-zhen. “Tetapi kau tak perlu khawatir. Bersembunyilah di dalam rumah, kami berdua akan melindungimu. Nanti setelah bayi kita lahir, kita akan mencari tempat tinggal baru agar Fa Hai tidak mengganggu kita lagi.”
Xu Xian merasa yakin akan kebenaran kata-kata Bai Su-zhen. Ia lalu berjanji tidak akan mempercayai kata-kata pendeta Fa Hai.
“Aku percaya,” kata Bai Su-zhen. “Sekarang mari kita makan sementara makanan masih hangat.”
Rasa curiga dan keragu-raguannya sudah hilang sama sekali. Ketiganya makan dengan gembira.

***

Malam itu Xu Xian tidur di samping istrinya, Xiao-Qing juga ada di sebelah mereka. Ketiganya tampak sibuk bercakap-cakap dan tak berhenti tertawa-tawa.
“Xu Xian telah berubah,” bisik Xiao Qing kepada kakaknya.
“Ya. Ia sekarang benar-benar mempercayaiku. Mudah-mudahan kita tidak terlalu keras kepadanya!” balas Bai Su-zhen.
“Karena sikapnya kepada kakak semakin baik, aku juga akan berlaku baik kepadanya. Tetapi, kalau nanti pikirannya berubah lagi, aku pun tak sudi...” ketika berbicara, Xiao Qing tak dapat menyembunyikan rasa marahnya. Dahinya berkerut dan alis matanya menyatu.
“Jangan terlalu keras hati,” kata Bai Su-zhen, mencoba menenangkan Xiao Qing. “Xu Xian sangat baik bila ia sedang bersamaku.”
“Oh, kau memang terlalu mudah terpengaruh! Bagaimana kalau ia membuatmu celaka untuk kedua kalinya?” tanya Xiao Qing. Tetapi kemudian, ia segera tersenyum lagi saat Xu Xian tiba-tiba merangkul tubuhnya dari depan.
”Kalian berbisik-bisik tanpa mengajakku. Apa yang kalian bicarakan?” tanya Xu Xian sambil tangannya membelai pelan payudara Xiao Qing.
”Ah, bukan apa-apa,” sahut Bai Su-zhen. ”Xiao-Qing cuma bilang kalau malam ini dingin, apa tidak sebaiknya ia menghangatkanmu?” tawarnya dengan senyum indah tersungging di bibir.
Xu Xian segera melumat bibir itu lembut. ”Bagaimana denganmu?” tanyanya pada Bai Su-zhen.
”Aku sedang hamil, tidak boleh banyak bergerak.” jawab Bai Su-zhen. ”Aku akan melihat saja.” tambahnya.
 ”Oh, begitu.” Xu Xian mengangguk maklum. ”Kalau Xiao Qing mau, tentunya aku tidak dapat menolak.” katanya kemudian.
Xiao Qing tersenyum dan segera menyodorkan wajahnya ke muka Xu Xian, yang langsung disambut oleh Xu Xian dengan ciuman mesra di bibir. Mereka langsung saling melumat dengan panas sekali.
Bai Su-zhen tersenyum melihat aksi itu. Apalagi saat dirasakannya ada sesuatu yang bergerak di bawah kakinya, meraba-raba lututnya, dan merayap perlahan menggerayangi pahanya. Ia tahu itu adalah tangan Xu Xian. Bai Su-zhen tertawa. Nakal benar suaminya ini! Meski asyik berciuman dengan Xiao Qing, tapi tangannya tetap bergerak membelai mesra, mau tak mau membuat Bai Su-zhen jadi ikut terlarut juga.
”Ah, suamiku...” pekik Bai Su-zhen lirih. Xu Xian hanya mengerlingkan matanya sebagai jawaban, sementara bibirnya tak pernah lepas dari bibir tipis Xiao Qing.
Xiao Qing yang tahu apa yang dilakukan oleh Xu Xian, malah ikut tersenyum sambil menganggukkan kepala kepada Bai Su-zhen. Entah apa maksudnya. Bai Su-zhen tidak sempat berpikir lurus saat kembali dirasakannya usapan tangan di sekujur kulit pahanya, namun kali ini bukan hanya dari sisi kiri, tetapi juga dari sisi kanan tempat dimana Xiao Qing berada. Oh... dunia semakin kacau! Rupanya Xiao Qing juga berselera kepada dirinya!
Tapi bukannya menolak, Bai Su-zhen malah seperti terpesona, ia sangat menikmati usapan tangan Xiao Qing yang begitu lembut dan mesra. Ia tak ingin menepis tangan lentik yang semakin beranjak naik menuju ke pangkal pahanya itu.
Xu Xian dan Xiao Qing menghentikan ciumannya dan melirik bersama-sama kepada Bai Su-zhen. Bai Su-zhen balas memandang tatapan mereka, ia melihat kilatan bola mata keduanya sudah memancarkan api gairah.
”Aihh...” Bai Su-zhen berteriak memprotes saat dirasakannya gerayangan tangan mereka semakin nakal, terutama tangan Xiao Qing yang mulai menarik turun celana dalamnya. Bai Su-zhen tercekat dengan tubuh terlonjak. Saat itulah dengan mudahnya, Xiao Qing memelorotkan celana dalam yang dipakainya hingga turun sampai ke lututnya.
”Xiao Qing!” teriak Bai Su-zhen. Tidak marah, hanya sedikit kaget.
Xiao Qing tidak berkomentar, malah dengan rakus menunduk untuk mulai menciumi bibir manis Bai Su-zhen, membuat wanita itu jadi semakin terkaget-kaget. Apalagi di sisi lain, Xu Xian juga tak mau ketinggalan. Ia ikut menciumi leher Bai Su-zhen sambil tangannya meraba-raba dada kenyal perempuan cantik itu, membuat Bai Su-zhen jadi benar-benar kelabakan dikeroyok oleh mereka.
Tetapi harus diakui, cumbuan itu perlahan tapi pasti mulai membakar tubuhnya, memanaskannya dari dalam, hingga dalam waktu singkat saja, Bai Su-zhen sudah terbuai, terpesona oleh perasaannya sendiri. Apalagi Xu Xian tak henti-hentinya membisikkan rayuan dan pujian di telinganya sambil tangannya terus meremas-remas pelan.
”Kamu cantik sekali, istriku... tubuhmu benar-benar seksi... sangat merangsang!” rayu Xu Xian seraya melonggari sela baju Bai Su-zhen untuk kemudian menelusupkan tangannya ke dalam, menggerayangi buah dada Bai Su-zhen yang masih tertutup kutang, lalu meremasnya pelan dengan begitu lembut.
”Ahh...” Bai Su-zhen merintih saat merasakan jemari tangan Xu Xian mulai mengelus-elus kulit bagian atas buah dadanya yang terbuka, untuk kemudian menelusup ke balik kutangnya. Tanpa sadar ia melenguh, ”Auw... aghh...”
Ia mulai terbawa arus permainan itu. Gairah Bai Su-zhen perlahan muncul dan bergelora dengan penuh gairah. Tubuhnya berdenyut-denyut minta dipuaskan. Darahnya berdesir kencang. Terlebih saat tangan Xiao Qing mulai mengelus-elus bibir kemaluannya. Bai Su-zhen merasakan daerah itu mulai basah. Sentuhan Xiao Qing yang terasa lain tanpa sadar membuatnya mengerang dan menggelinjang karena kegelian. “Ohh, Xiao Qing…” rintihnya lirih.
”Ya, Kak?” jawab Xiao Qing dengan lirih pula. Tangannya terus bermain-main di kemaluan Bai Su-zhen.
Dengan nafas mulai tersengal-sengal, Bai Su-zhen melihat Xu Xian yang tengah membantu Xiao Qing melepaskan pakaian. Refleks Bai Su-zhen melihat kepada dirinya sendiri; pakaiannya memang masih lengkap, namun belahan bajunya sudah sedikit tersingkap, memperlihatkan tonjolan buah dadanya yang bulat ranum di balik kutang. Sementara gaunnya sudah terangkat hingga ke pinggang, menampakkan kulit pahanya yang putih mulus, juga belahan vaginanya yang basah memerah akibat perbuatan Xiao Qing barusan.
”Ahh...” melenguh dalam hati, Bai Su-zhen memperhatikan bagaimana seluruh pakaian Xiao Qing sudah terlepas semua sekarang. Dalam hati ia mengagumi keindahan tubuh Adiknya itu.
Buah dada Xiao Qing memang tidak sebesar milik Bai Su-zhen, tapi memiliki bentuk yang sangat indah dan menggemaskan. Pinggulnya membentuk lekukan sempurna, dengan diimbangi oleh buah pantat yang bulat dan sangat mantab. Perutnya rata, sedang selangkangannya penuh oleh rambut-rambut hitam yang begitu rimbun, sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih.
Xiao Qing kembali menciumi Xu Xian dengan penuh nafsu. Tangannya dengan lincah menelusup ke balik celana laki-laki itu. Xiao Qing memperlihatkan ekspresi kaget saat menemukan apapun yang ada disana, dan kemudian tersenyum sambil menyeringai senang begitu mengeluarkan penis Xu Xian yang sudah menegang keras dalam genggaman tangannya.
Seperti anak kecil mendapatkan mainan, Xiao Qing langsung mengocoknya naik turun sambil melambai-lambaikan batang itu ke arah Bai Su-zhen, seolah ingin memperlihatkan betapa senangnya ia mendapatkan batang penis itu. Sementara Xu Xian mengerling padanya sambil tersenyum bangga dengan apa yang dimilikinya. Bai Su-zhen hanya bisa menelan ludah menyaksikan semua itu.
Xiao Qing langsung jongkok di hadapan Xu Xian dan menjilati batang itu dengan penuh nafsu. Mulutnya penuh oleh batang penis Xu Xian. Ia menghisap-hisapnya, mengulum-ngulumnya dengan penuh kenikmatan. Dari bawah, lidahnya naik ke atas, menghisap-hisap kepala penis Xu Xian, untuk kemudian turun kembali ke bawah menjilati buah pelirnya. Rasanya begitu nikmat hingga kepala Xu Xian sampai terdongak ke belakang karena saking enaknya.
”Uhh...” nafsu Bai Su-zhen terasa naik ke ubun-ubun, iapun bangkit dari posisi berbaringnya dan memeluk tubuh Xu Xian dari belakang. Ia ciumi bahu dan punggung Xu Xian yang kokoh, sementara kedua tanganku menggapai ke arah dadanya yang berotot. Bai Su-zhen bisa merasakan dada Xu Xian yang dipenuhi bulu-bulu halus. Spontan saja ia langsung mengelus-elusnya.
Bai Su-zhen sengaja tidak meraba batang penis Xu Xian yang tengah dikulum oleh Xiao Qing meski tahu kalau Xu Xian pasti sangat menginginkannya. Ia mendengar laki-laki itu melenguh memanggil namanya, ”Ah, istriku...” Xu Xian terlihat sangat tersiksa oleh godaan Bai Su-zhen, padahal ia tengah dimanjakan oleh Xiao Qing.
Bai Su-zhen tersenyum puas, dia selalu berhasil menggoda Xu Xian. Dia  lalu berpindah ke depan dengan diiringi tatapan Xu Xian yang begitu penasaran. Bai Su-zhen kini ikut berjongkok di belakang Xiao Qing, ia peluk adiknya itu dari belakang. Xiao Qing menoleh sebentar untuk kemudian meneruskan kulumannya.
Bai Su-zhen bisa mendengar gadis itu merintih saat ia mulai memeluk buah dadanya dan meremas-remas dengan lembut sambil memilin-milin putingnya yang sudah mengacung keras. Bai Su-zhen juga menciumi punggung Xiao Qing, sesekali ia gigit perlahan-lahan hingga membuat Xiao Qing mengaduh pelan. Bukan karena kesakitan, malah sebaliknya, gadis itu terangsang berat. Terbukti dari puting Xiao Qing yang terasa semakin mengeras di jepitan jari Bai Su-zhen.
Tangan Bai Su-zhen merayap semakin jauh, kini turun ke bawah menelusuri permukaan perut Xiao Qing, dan terus ke bawah hingga bisa mengelus-elus bulu-bulu kemaluannya yang lebat. Jemarinya segera menelusuri garis bibir kemaluan Xiao Qing.
”Ahh... kakak!” Xiao Qing melenguh merasakan permainan jemari Bai Su-zhen. Ia sudah basah. Bai Su-zhen bisa merasakan daerah itu sudah sangat licin sehingga dengan mudah jari telunjuknya melesak masuk ke dalam liangnya yang hangat dan sempit.
Bai Su-zhen menekan perlahan, sebelum menggerakkan jemarinya keluar masuk dan menusuk lebih ke dalam. Pinggul Xiao Qing bergoyang perlahan untuk mengimbangi tusukan itu. Sambil terus mengocok, Bai Su-zhen juga menggesek-gesekkan buah dadanya yang besar ke punggung Xiao Qing. Rangsangannya membuat ia ikut-ikutan melenguh menimpali erangan Xiao Qing yang kian keras dan kencang.
”Auh... Xiao Qing!” jerit Bai Su-zhen sambil mempermainkan kelentit gadis itu semakin cepat. Ia tahu persis dimana letak kelemahan Xiao Qing, karena mereka memang sama-sama wanita.
Xu Xian terperangah dengan aksi sang istri. Pemandangan di hadapannya semakin membuatnya bergairah. Memang ini bukan untuk pertama kalinya ia bercinta dengan Xiao Qing dan Bai Su-zhen, tapi membayangkan mereka akan saling merangsang seperti itu benar-benar di luar dugaannya. Xu Xian jadi terangsang hebat dibuatnya.
”Oh... kalian berdua sungguh luar biasa.” katanya dengan suara tersengal. ”Ayo kita lakukan, aku sudah tak kuat lagi...” pinta Xu Xian kemudian.
Ia segera mengambil posisi berbaring, Bai Su-zhen ikut telentang di sampingnya, sementara Xiao Qing rupanya masih belum mau melepaskan kulumannya. Ia masih asyik mengemut-emut batang penis Xu Xian dengan penuh nafsu, sambil kedua tangannya tak pernah berhenti mengocok.
“Ahh…” melenguh keenakan, Xu Xian kembali melumat bibir tipis Bai Su-zhen. Ia juga melepas baju yang dipakai oleh wanita itu hingga mereka jadi sama-sama telanjang sekarang.
”Uh, indahnya...” Xu Xian  melenguh penuh kekaguman begitu buah dada Bai Su-zhen yang bulat besar tumpah ruah ke mukanya. Dengan dua tangan ia segera menangkap daging kembar itu, lalu meremas-remasnya gemas seraya berkata, ”betapa kenyal dan montoknya buah dadamu ini, istriku. Ukurannya juga jadi lebih besar.”
Bai Su-zhen hanya tertawa menanggapinya, apalagi saat bibir Xu Xian langsung berpindah ke situ, mulai menciumi bulatannya sambil menjilat-jilat putingnya yang mungil dengan begitu rakus. Bai Su-zhen hanya bisa meringis keenakan menghadapi lumatan itu.
”Sini,” sambil terus mencium, Xu Xian meraih tangan Bai Su-zhen untuk dibimbing ke arah batang penisnya.
Xiao Qing segera melepas kulumannya dan membiarkan Bai Su-zhen menggenggam kemaluan sang suami. Ia sendiri bangkit dan mengambil posisi jongkok mengangkangi tubuh Xu Xian. ”Maaf, Kak, aku sudah tak tahan. Aku duluan ya!” katanya dengan liang kemaluan persis berada di atas penis Xu Xian yang tengah dikocok pelan oleh Bai Su-zhen.
”Silahkan, aku bisa menunggu,” kata Bai Su-zhen sambil mengacungkan penis Xu Xian hingga menempel tepat di mulut kewanitaan Xiao Qing. Ia melirik ke arah adiknya itu dan memberi tanda supaya Xiao Qing lekas menurunkan tubuhnya.
”Aughh...” Xiao Qing melenguh panjang saat ujung penis Xu Xian mulai menerobos masuk celah ke bibir kemaluannya. ”Ohh... besar sekali... ughh... enak!” rintihnya penuh kenikmatan.
Bai Su-zhen melihat batang Xu Xian terus melesak masuk, menerobos ke dalam liang vagina Xiao Qing yang sempit, dan terus meluncur hingga terbenam seluruhnya. Xiao Qing tampak puas saat menerimanya, setelah itu ia mulai bergerak naik turun. Telihat lambat sekali, itu karena penis Xu Xian yang terlalu besar bagi lorong vaginanya.
Bai Su-zhen begitu terpesona melihat semua itu, tapi ia tak bisa berpikir lama karena tangan Xu Xian sudah bergerak nakal dengan menusuk-nusuk liang vaginanya, sambil mulut laki-laki itu tak pernah berhenti mengemuti puting susunya. Kenikmatan di dua tempat membuat Bai Su-zhen jadi semakin terbakar. Cairan pelumas di liang vaginanya semakin membanjir, membuat laju tusukan jari-jari Xu Xian jadi semakin lancar. Laki-laki itu juga menyentuh seluruh relung vaginanya, terutama kelentit Bai Su-zhen yang terus ia permainkan sedemikian rupa sehingga tubuh siluman cantik yang tengah hamil muda itu jadi terlonjak-lonjak karena kegelian.
”Ganti posisi!” kata Xu Xian tiba-tiba. Ia bangkit sembari menurunkan tubuh mulus Xiao Qing yang tengah asyik menungganginya.
Tahu apa keinginan Xu Xian, Xiao Qing segera menyingkir, memberi kesempatan bagi Bai Su-zhen untuk mengambil posisi merangkak di atas ranjang. Bertumpu pada kedua lututnya yang ditekuk, sementara pantatnya menungging ke atas, Bai Su-zhen mempersilahkan Xu Xian untuk menusuk dari belakang. Sekarang adalah gilirannya untuk disetubuhi.
Xu Xian bergumam tak jelas saat menatap pantat bulat Bai Su-zhen, tampak liang vagina perempuan itu sudah menganga lebar di antara bagian mulus kulit pahanya. Xu Xian segera memegangi batang penisnya dan mengarahkan ke liang sempit itu. Dengan sedikit mendorong ke depan, ia segera menembusnya.
”Ahhh...” Bai Su-zhen spontan melenguh saat menerimanya. Meski sudah bersiap-siap, tapi tak urung mulutnya menganga juga sambil bibirnya mengaduh keras karena merasakan liangnya dijejali benda yang sangat keras, juga begitu panjang dan besar.
Xiao Qing iri melihat kenikmatan itu, ia diam tak bergerak menyaksikan persetubuhan antara Xu Xian dan Bai Su-zhen. Hanya tangannya yang dengan refleks meremas-remas buah dadanya sendiri untuk sedikit meredakan gairahnya. Bai Su-zhen yang melihat perbuatan itu, menyuruh Xiao Qing untuk ikut bergabung.
”Ayo sini, ” panggilnya sambil menarik tubuh Xiao Qing hingga telentang persis di bawahnya. Kedua kaki gadis itu ia buka lebar-lebar, sebelum kemudian mulut Bai Su-zhen beranjak turun mendekati pangkal paha Xiao Qing.
”Augh...” Xiao Qing melenguh saat merasakan jilatan lidah Bai Su-zhen di bibir kemaluannya. Tubuhnya bergetar hebat. Rasanya sungguh luar biasa! Baru kali ini ia merasakan lidah perempuan menjilati liang vaginanya. Tubuh Xiao Qing sampai menggeliat-geliat antara geli dan nikmat. Bai Su-zhen memang luar biasa, ia lihai sekali memberikan rangsangan pada adiknya itu. Lidahnya terus menjilat-jilat kemaluan Xiao Qing, terutama kelentitnya.
”Ah, Kakak!” Xiao Qing mengangkat pantatnya tinggi-tinggi begitu merasakan desakan hebat dari dalam tubuhnya. Begitu kencang dan kuat hingga ia tak dapat menahannya lagi. Xiao Qing menjerit lirih sambil menggigit bibirnya sendiri saat semburan demi semburan memancar dari liang vaginanya. Ia mencapai puncak kenikmatan hanya dalam beberapa kali jilatan saja!
Di bawah, kepala Bai Su-zhen semakin terbenam di antara selangkangan Xiao Qing. Mulutnya mengecup-ngecup cairan yang meleleh dari liang sempit itu. Bai Su-zhen menghirupnya dalam-dalam, ia dengan penuh gairah membersihkan ceceran kenikmatan Xiao Qing dengan lidahnya.
“Oohh... Kakak... ngghh... mpffhh...” rintih Xiao Qing sambil menjambak rambut Bai Su-zhen dan menekan kepala kakaknya itu semakin dalam ke liang vaginanya.
Sementara di belakang sana, Xu Xian dengan gagahnya terus menghujamkan senjata. Dengan terus menerus pinggulnya meliuk-liuk dan bergerak maju mundur dengan kecepatan penuhmenyetubuhi tubuh mulus Bai Su-zhen. Sang istri sampai kelabakan mengimbangi keperkasaannya.
Bai Su-zhen segera melepaskan jilatannya pada kewanitaan Xiao Qing, kini ia ganti berkonsentrasi penuh pada dirinya sendiri. Selang beberapa detik kemudian, Bai Su-zhen melenguh panjang. Tubuhnya berkelojotan. Nampaknya ia pun sudah mencapai puncak kenikmatannya. Tubuh Bai Su-zhen langsung lunglai dan terjatuh di samping Xiao Qing begitu cairan kenikmatannya berhenti menyembur.
Xu Xian segera menghujaninya dengan ciuman. Ia kulum bibir Bai Su-zhen sambil meremas-remas buah dadanya yang besar dengan dua tangan. Bai Su-zhen membalas dengan memeluk dan menggerayangi penis Xu Xian yang masih menegak keras, cepat ia kocok dan usap-usap benda itu dengan penuh nafsu.
Xiao Qing yang melihatnya, gairahnya jadi muncul kembali. Apalagi saat melirik batang penis Xu Xian yang masih nampak keras, mengacung dengan begitu gagahnya. Ia jadi tak tahan cuma jadi penonton. Maka dengan cepat Xiao Qing mengambil alih posisi.
Xu Xian menyambutnya dengan hangat. Sambil terus menghisap-hisap puting susu Bai Su-zhen, ia mulai mengarahkan tombak panjangnya ke liang kemaluan Xiao Qing yang kini sudah kembali siap.
”Auw!” rintih Xiao Qing saat merasakan penis Xu Xian yang mulai menyeruak di antara celah bibir kemaluannya. Meski sudah sangat basah, rasanya seperti tersedak saat dijejali batang sebesar itu.
Xiao Qing buru-buru membuka kedua kakinya lebar-lebar untuk memberikan jalan pada Xu Xian yang kini berkutat penuh perhatian agar penisnya bisa segera masuk. Ia bisa menarik nafas lega saat benda itu bisa meluncur dengan begitu lancarnya.
”Ahh...” Xiao Qing merintih saat ruang vaginanya kembali terasa penuh, tergesek oleh urat-urat batang Xu Xian yang begitu nikmat. Ujungnya terasa menyodok-nyodok hingga ke bagian terdalam dari liang vaginanya, membuat Xiao Qing sampai kehabisan nafas saat menerimanya. Apalagi saat Xu Xian mulai menggoyang, ugh... laki-laki itu benar-benar perkasa. Xiao Qing benar-benar takluk kepadanya.
Begitu juga dengan Xu Xian, ia mengerang saat merasakan otot-otot vagina Xiao Qing yang mulai berkedut-kedut pelan. Benda itu bagai menghisap-hisap batangnya, membuatnya jadi melenguh penuh kenikmatan.
”Rasakan kau!” kata Xiao Qing dalam hati. Ia bertekad tidak ingin kalah. Maka dengan segera ia menggoyangkan pinggul sekuat tenaga. Dipelintirnya batang penis Xu Xian di dalam liang vaginanya. Xiao Qing melihat laki-laki itu mulai megap-megap, membuatnya jadi semakin bersemangat.
Pinggul Xiao Qing terus berputar layaknya gasing, serta meliuk-liuk bagai ular. Ia rasakan tubuh Xu Xian mulai berkelojotan. Xiao Qing sudah tak memperhatikan Bai Su-zhen yang kini kembali sibuk mencumbui tubuhnya. Ia lebih berkonsentrasi untuk membuat Xu Xian mencapai klimaks secepatnya.
Namun setelah sekian lama, upayanya itu belum juga membuahkan hasil. Xu Xian nampak masih perkasa, belum terlihat tanda-tanda ia akan keluar dalam waktu dekat. Xiao Qing jadi frustrasi, karena lama-kelamaan ia sendiri yang kewalahan. Ia sudah merasakan desiran kuat dalam tubuhnya, membuatnya panik meski tetap berusaha bertahan sekuat mungkin. Tetapi batang penis Xu Xian yang terus menusuk-nusuk semakin cepat, membuat pertahanannya jebol juga pada akhirnya.
”Arghhhh...” Xiao Qing berteriak sekuat tenaga saat aliran deras menyembur dari dalam dirinya. Ia menyerah, pasrah dan membiarkan otot-ototnya melemas saat melepaskan orgasmenya yang meledak-ledak.
Bai Su-zhen dengan sabar mengelus-elus wajah Xiao Qing, seolah sedang menenangkannya.
Xiao Qing baru bisa mengambil nafas lega beberapa menit kemudian. Namun tulang-tulangnya terasa copot semua. Ia terkulai lemas. Tenaganya terkuras habis dalam pertempuran kedua ini.
Xu Xian segera mencabut batang penisnya. Ia masih nampak perkasa, kemaluannya tetap mengacung dengan gagah. Ujung benda itu tampak mengkilat oleh cairan milik Xiao Qing.
Xiao Qing menoleh ke arah Bai Su-zhen, dengan isyarat mata ia meminta kakaknya itu untuk membantu mengeroyok lelaki yang telah membuat mereka berdua luluh lantak. Bai Su-zhen mengangguk dan segera bangkit menghampiri suaminya. Ia tarik tubuh Xu Xian yang sudah licin karena keringat agar kembali berbaring telentang di ranjang.
Bibir Bai Su-zhen langsung menyerbu daerah selangkangan Xu Xian. Seperti tak sabar ia lumat batang penis Xu Xian penuh nafsu. Bai Su-zhen menjilatinya dengan rakus hingga terdengar suara kecipakan air liurnya. Sementara Xiao Qing memulai cumbuan di bagian dada, menjilati puting Xu Xian sebentar, sebelum ciumannya menyusur ke bawah dan akhirnya bergabung dengan Bai Su-zhen menggumuli batang kemaluan laki-laki itu.
”Ouhh... Nikmatnya!” pekik Xu Xian melihat dua perempuan cantik yang masih bersaudara ini saling berebut menciumi batang penisnya. Xiao Qing di ujung, sementara Bai Su-zhen menjilati batang dan buah pelirnya. Mereka berdua saling berlomba memberi kenikmatan pada Xu Xian.
Ketika merasakan Xu Xian mulai menggelinjang dan mengerang seperti menahan sesuatu, barulah mereka berhenti. Secara berbarengan mulut keduanya menciumi moncong penis Xu Xian sambil bergantian mengocok batangnya.
”Ouuhh... a-aku keluar!” kata Xu Xian pada akhirnya. Nampak cairan kental muncrat banyak sekali dari ujung penisnya. Tubuhnya menghentak-hentak seiring dengan semburan air maninya yang tak henti-hentinya mengalir keluar, begitu deras dan banyak sekali.
Wajah Xiao Qing dan Bai Su-zhen sampai belepotan sperma. Namun Xiao Qing terus menghisap dengan rakus, lidahnya menjilat-jilat batang itu sampai bersih. Sedangkan Bai Su-zhen cuma mengocok-ngocok, seperti ingin memeras air mani Xu Xian hingga tetes yang terakhir. Setelah puas, baru mereka menjatuhkan diri di kiri dan kanan tubuh Xu Xian. Keduanya benar-benar kecapekan.
Terutama Bai Su-zhen, matanya sudah terasa berat oleh  kantuk. Samar-samar didengarnya Xu Xian berkata, ”Kalian memang luar biasa. Aku benar-benar puas!” Ia tak tahu apa lagi yang dibicarakan oleh suaminya, karena pikirannya sudah terbang melayang dalam mimpi indah. Yang jelas, Xu Xian sudah melupakan keragu-raguannya terhadap Bai Su-zhen.

***

Beberapa minggu telah berlalu. Tetapi Xu Xian masih saja khawatir Fa Hai akan datang kembali. Ia tak berani menerima tamu. Suatu sore, ketika sedang duduk di lantai atas, seorang pegawai tokonya menghampiri Xu Xian.
“Tuan Xu, ada seorang pendeta di bawah. Ia ingin bertemu dengan anda.”
“Ia kembali lagi,” kata Xu Xian. “Aku tak berani ke luar.”
Bai Su-zhen pun pergi ke luar dan bertanya kepada pegawai itu, apa sesungguhnya yang diinginkan sang pendeta.
“Ia tidak mengatakan apa-apa,” kata pegawai itu. “Saya hanya melaksanakan perintah Tuan Xu untuk melapor setiap kali ada pendeta yang datang.”
“Lebih baik aku yang keluar menemuinya,” kata Bai Su-zhen kepada suaminya. “Kau tunggu saja di sini. Aku akan mengusirnya.”
“Aku ikut,” kata Xiao Qing dengan marah.
“Ilmu sihir Fa Hai sangat tinggi,” kata Bai Su-zhen. “Bila engkau keluar dan mengejeknya dengan kata-kata tajammu itu, kita sendiri lah yang akan susah. Lebih baik engkau di sini saja menjaga Xu Xian, biar aku yang keluar menyambutnya.”
Ternyata yang datang hanyalah seorang pendeta biasa. Usianya sekitar tiga puluh tahun. Ia sedang minum teh yang diberikan oleh si penjaga toko. Karena telah mendalami ilmu gaib selama ribuan tahun, Bai Su-zhen segera dapat mengetahui apakah pendeta yang ia hadapi bukan pendeta yang menyamar. Ternyata ia hanya seorang pendeta pengembara yang tak sepantasnya dicurigai.
“Apakah Tuan memerlukan sesuatu?” tanya Bai Su-zhen dengan ramah.
Pendeta itu menoleh ke arah Bai Su-zhen. Karena menyangka Bai Su-zhen adalah pemilik toko. Ia segera meletakkan cangkirnya untuk memberi hormat kepada Bai Su-zhen.
“Aku pendeta miskin dari Hebei,” katanya. “Tujuanku kemari ialah untuk meminta bantuan memperbaiki biara kami. Aku bermaksud meminta sedekah.”
“Tidak ada keperluan lain?” tanya Bai Su-zhen.
“Tidak! Hanya itu saja,” jawab pendeta itu.
Bai Su-zhen lalu meminta Ma Zi-hou untuk memberi uang kepada pendeta itu. Setelah pendeta itu pergi, Bai Su-zhen masuk kembali ke dalam rumah.
“Apa lagi yang diinginkan Fa Hai?” tanya Xu Xian dengan cemas.
“Kau tak perlu takut. Hanya seorang pendeta yang ingin minta sedekah. Jadi kusuruh pegawai toko melayaninya,” kata Bai Su-zhen sambil tertawa.
“Jadi, ia bukan Fa Hai,” kata Xiao Qing dengan lega. “Sekalipun demikian, kita harus selalu waspada.”
Bai Su-zhen menganggukkan kepalanya.


1 komentar:

  1. Mantapp..aku suka skali cerita yg ini bang isamu

    BalasHapus