Selasa, 21 Maret 2017

Terjebak Nostalgia 7



Episode 15-2
Dosa Termanis

Aku tidak sepenuhnya bohong kok! Karena mobil masih harus menunggu perbaikan –setidaknya sampai pagi. Kami memutuskan untuk bermalam di hotel di daerah Ambarawa.
Hotel itu sudah tua, mungkin peninggalan belanda. Jelas terlihat dari perabotnya yang sangat retro, seperti dalam film-film era tahun 70’an. Lampu 15 watt berpijar dengan malas di atap, kadang meredup akibat tegangan yang tidak Stabil. Sinarnya yang berwarna oranye dihalangi kipas angin usang yang menempel di langit-langit di dekatnya, menimbulkan ilusi optik berupa bayangan yang bergerak cepat di seantero kamar.
Di ujung kamar, Liz juga menelpon. Ia duduk di atas ranjang besi usang, sepreinya baru dicuci, namun tampak kecoklatan karena usia.
“Pa, Liz telat sampai Semarang nie.. Mobilnya mogok.” Liz memainkan ujung rambutnya, sambil menelpon ayahnya.

“Iya… Liz nginep di hotel… ada… teman…” ia terdiam. “cowok..” ia terdiam lagi mendengarkan ayahnya berbicara di telpon.. ”Iiih, sebegitunya, Liz kan udah gede, lagian temen Liz nggak suka cewek kok! Dia sukanya cowok-cowok yang tegap berbulu.”
ASU!
Senja: “Jay.. kok diem?
Aku: “Eh, i-iya... ada apa, Sayang?”
Senja: “Itu suara siapa di belakang? Kok kaya ada suara cewek?
Aku: “Nganu.. nganu.. itu suaranya Bu Lik Sri..”
Senja: “Oh.. kamu gak lagi sama Liz kan? hihihi... nggak mungkin kali, ya...
Jantungku serasa mau copot.
Aku: “Ah, kamu bilang apa? Maaf-maaf di sini sinyalnya jelek! Udah ya.. tar sms-an aja..”
Senja: “Jay?
Aku: “I love you.. mmmuach!” aku menutup teleponku.
Liz tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Aku menghempaskan tubuhku ke kasur, sambil mengetik BBM buat Senja.
“J4y c@p3 nY, s0Q sMz-n gY y4h.“
Alay juga punya perasaan.
Liz membaringkan kepalanya di sampingku. Kami sudah dewasa, kami mengerti konsekuensi dan resiko yang jelas apabila dua orang berbeda jenis kelamin berada dalam dalam satu kamar yang sama. Yah, walaupun kondisi yang sama dengan jenis kelamin yang sama juga tidak mengurangi resiko tersebut, ngerti? Ah, sudahlah tidak usah dibahas.
Kami berbaring bersisian sambil memandangi kipas angin yang bergantung tepat di atas kami. Kipas itu berputar resah, seperti putaran roda kehidupan, seperti siklus pertemuan dan perpisahan.
Aku memegang tangan Liz, ia tidak menolak.
“Ini.. salah.. Jay..”
“Banget…”
“Aku merasa berdosa... bersalah sama Senja.” Liz berkata, sambil menggigit-gigit bibirnya.
“Kamu kira aku enggak?” bisikku pelan, mengusap rambutnya.
Lama kami terdiam.
“Besok kamu sudah gak di sini, kan?”
“Iya, aku pasti bakal kangen kamu..”
“Aku juga...”
“Kisah kita sedih banget ya...”
“Iya...”
Aku berbalik ke arah Liz, berbaring dengan posisi menyamping. Wajah Liz memandang kosong ke langit-langit, dadanya yang terbalut t-shirt putih naik-turun. Galau, namun kegalauan yang menawan.
Aku memandangi wajahnya yang kini tampak semakin cantik. Aku membelai wajahnya dengan punggung tanganku.
Liz diam saja, ada setitik air menetes dari sudut matanya, jatuh menuruni pipinya yang bulat – seperti pipi Senja. Liz menangis. Aku menyeka air matanya, membelai rambutnya. Liz memegang tanganku, ia berbalik dan menangis di pelukanku.
“Jay.. huk.. huk.. huk..” ia sesenggukan di dadaku.“Aku sayang banget sama kamu. tapi.. tapi..huk.. huk..” kemudian tangisnya pecah dalam pelukanku.
“Aku juga..”
“Lama banget aku nunggu hari ini.. huk.. huk..”
Malam itu, sekali lagi Liz menumpahkan segala kesedihannya. Dan aku, apa yang bisa orang bodoh ini lakukan selain menampungnya? Aku memeluknya erat, tubuhnya berguncang-guncang hebat dalam pelukanku.
“Aku masih sayang kamu, Liz.”
“Aku juga, Jay.. aku juga..”
Wajah kami begitu dekat, sampai aku bisa merasakan pipinya yang basah. Aku membenamkan wajahku ke atas wajahnya. Liz menoleh, bibir kami bersentuhan.
Aku mengecupnya. Liz menyambut kecupanku.
Kami berciuman di dalam resah, di bawah derau kipas angin yang gundah. Kami bergumul sengit, seperti halnya batin kami yang bergulat dengan kenyataan bahwa ini salah, bahwa aku mencintai Senja, namun aku juga masih mencintai Liz!
“Mmmmh...” Liz menciumku dengan penuh emosi.
Ini salah, Jay, ini salah! Kamu sudah mengkhianati Senja!
“Mmmh...” aku melumat bibir Liz.
Tapi besok Liz sudah pergi jauh!
Aku membiarkan naluri dan perasaan yang memutuskan. Segala jarak, segala kerinduan selama ini seolah dibayar lunas, tuntas oleh cumbu yang menggebu.

Andai aku bisa
Memutar kembali waktu
Yang telah berjalan

Untuk kembali bersama
Di dirimu selamanya

Sepasang tubuh saling mencumbu, melepaskan segala kerinduan di atas dipan yang berderit derit. Tubuh kami saling menghimpit dan saling membelai.
“Mmmmh..” Liz mendesah di wajahku, nafasnya yang harum memenuhi paru-paruku. Bibir Liz masih seperti dulu, lembut dan menghanyutkan. Aku menghirup nafas dalam-dalam, aroma tubuhnya, ah, begitu membangkitkan kenangan.
Aku menciumi leher Liz, begitu mulus begitu harum. Bibirku bergerak pelan di atas kulitnya yang halus, sambil sesekali menyapukan lidahku ke atasnya.
“Ssssh..” Liz mendesis, tubuhnya sedikit menegang. Liz mendekap kepalaku, untuk mencumbunya lebih jauh lagi.
Aku meraih payudara Liz dari luar kaus putih yang dikenakannya, meremasnya. Aku masih bisa merasakan spons yang menutup payudaranya.
Nafas Liz semakin memburu, ia mengarahkan kepalaku ke bawah. Aku membenamkan wajahku dari luar kaus yang dikenakan Liz, menggigit payudaranya dari luar, sehingga menimbulkan bekas basah di atas tulisan “Skill is Dead”.
“Aaa..” Liz menjerit pelan saat aku menggigit di atas putingnya.
Kedua tanganku bergerak membelai punggungnya, dari bawah-ke atas. Begitu berulang-ulang sambil membenamkan kepalaku di dada Liz dengan ritme yang sama.
“Aah.. aah… aah…” Liz mendesah seperti sulit bernafas saat aku memeluknya secara berirama.
“Hah.. haa.. haa. H.. h..” Nafas Liz semakin memburu. Aku meliriknya, wajahnya sudah sayu, penuh dengan birahi yang tertahan.
“Mmmmh!!” Liz menghisap bibirku kuat-kuat sehingga sebagian saliva-ku memasuki mulutnya. “Mmmh!” aku menjulurkan lidahku, membelai bibir Liz.
Menyadari itu, Liz membuka mulutnya, menghisap lidahku, disambutnya ujung lidahku dengan ujungnya.
 Aku memejamkan mata, menikmati sensasi ketika lidah kami saling mengelus dan membelai.
Desah nafas Liz semakin berkejaran, bercampur dengan deru kipas angin yang seperti mau mampus.
Aku menelusupkan tanganku ke balik kaus Liz, menyusuri perut dan punggungnya. Tanganku bergerilya, mencari kait BH Liz.
Liz tersenyum, ia mendorong tubuhku dan duduk di atasnya. Ia mengangkat tanganya membuka sendiri kausnya. Sesaat kemudian kaus putih “Skill is Dead” itu sudah tergeletak di lantai.
Lampu 15 watt dilangit-langit berpendar redup, tanda tegangan sedikit turun. Cahayanya yang kekuningan jatuh di atas tubuh Liz yang ditutup BH berwarna hitam.
Liz meraih ke belakang punggungnya, membuka kait BH-nya sendiri. Tak sampai sekejap mata, benda itu sudah menyusul kaus-nya di lantai.
Aku menelan ludah. Payudara itu masih seperti dahulu, bulat sempurna. Tidak berubah seolah tidak ada yang menyentuhnya selain aku.
Liz tersenyum nakal. Do you miss this?” ia memainkan putingnya yang berwarna coklat muda dan sudah mengeras.
“Umm… y-yes…”
Liz menempelkan dadanya di wajahku. Aku menggigitnya. Liz menjitakku.
“Kangeeeen… habis nggegemesin banget, hehe.”
Ya, aku benar-benar merindukan menyusu pada Liz. Aku menghisap dan menjilati putingnya. Lahap, seperti anak yang tidak mendapat ASI selama bertahun-tahun.
“Sssh… oooh! Sssssh…. Oooooh!” Liz mulai mendesah desah saat aku menghisap putingnya dan kulepas, kuhisap-kulepas, begitu berulang-ulang seolah bermain dengan birahi-nya.
“Ooooh! Ooh! Oooh!” Liz mulai menjerit-jerit sambil membekap kepalaku.
Liz mulai dimabuk birahi, tangannya meraba-raba kemaluanku yang menegang dari balik celana Jins yang kugunakan. Aku membantunya, aku membuka sabuk dan reitslitingku, sehingga Liz leluasa meraba penisku dari balik celana dalamku.
Tangannya yang lentik membelai kemaluanku, menyelinap ke balik celana dalam, dan..
“Ooooh!” aku melolong, jemari Liz memijit-mijit selangkanganku. Birahiku membuncah, aku meraba kemaluan Liz, meraih-raih Sabuk dan reitslitingnya.
Liz paham niatku, ia berguling ke sampingku, dan membuka celana jins belel-nya dengan cepat. Begitu juga aku, meloloskan kaus dan celanaku, dan mencampakkannya ke lantai.
Aku langsung menindih tubuh Liz yang setengah telanjang, dan melumat bibirnya. Tubuh kami yang tinggal terbalut celana dalam saling berhimpitan. Naluri primata-ku memerintahkan untuk menggerakkan pinggul, sehingga penisku yang tegang menggesek vagina Liz dari luar celana dalam.
“Mmmh… ke bawahin dikit, Jay.”
“Di sini?”
Liz mengangguk lemah, wajahnya sudah diwarnai birahi.
Aku menggerakkan pinggulku. Liz memejamkan matanya.
Kemaluan kami saling menggesek meski terhalang dua lembar kain. Aku merasakan vagina Liz yang membasahi celana dalamnya.
“Mmmh.. ooh! Ooh!”
“Ugh..”
Sebenarnya aku kurang menyukai petting, karena menyebabkan penisku terjepit, pernah juga keseleo. Tapi biarlah, selama Liz menikmatinya. Melihat wajahnya yang merona membuatku ingin membahagiakannya, meski untuk yang terakhir kali.
“Oooh! Oooh! ooH” Liz tampak menikmati permainanku.
“Enak?”
“Banget.. ooh! Ooh!” Liz tampak tersengal, sepertinya ia sudah tidak dapat menahan birahi lebih lama lagi. “Masukin, Jay.. h.. h.. h..…” Liz mengangkat pinggulnya, dan menurunkan celana dalamnya dengan cepat.
Lampu 15 watt itu berkedip, namun mataku tidak. Liz mencukur habis bulunya, sehingga vaginanya polos dan mulus seperti bayi.
Aku menelan ludah, belahan itu sungguh menggoda, seperti marshmallow. Aku menerkam vagina Liz, menjilatinya seperti kucing.
“Jay! Kamu ngapain?! Aaah!! Aah!!” Liz tampak terkejut, ia mendorong kepalaku. “Hah.. h.. Langsung aja…”
Ya sudah, aku melepas celana dalamku, semetara Liz membuka pahanya lebar-lebar. Aku mengambil posis berlutut di antara paha Liz.
Aku memandang mata Liz lekat-lekat, wajah itu, astaga aku ternyata tidak pernah bisa berhenti mencintainya.
Aku mengecup bibirnya sebelum melesakkan kejantananku ke dalam tubuh Liz. Liz memejamkan matanya, sambil mendesis.
Selama beberapa detik aku membiarkan kejantananku berada di dalam liang Liz, membiarkan dindingnya yang masih saja sempit, memijatku perlahan.
Dalam situasi ini, aku bisa merasakan hangat tubuhnya, dada Liz yang naik turun, dan jantungnya yang berdetak-detak.
Mata kami saling menatap, membuat kesepakatan untuk saling memompa. Untuk sesaat hanya terdengar suara nafas yang memburu dan ditimpali suara kipas angin diatas. Sesaat kemudian suara itu berganti dengan suara desah dan erangan.
“Ummmh... Jaaaaay.... ooooh..... uuuuh...” suara rintihan Liz yang seksi membuatku semakin bersemangat menggenjot pinggulku, sehingga menimpulkan suara paha yang beradu.
Liz memelukku erat, melingkarkan pahanya di pinggulku. “Ugh!” aku merasakan geli yang amat sangat di sekujur kejantananku. Meki liz begitu hangat, begitu nikmat, begitu memabukkan.
“Aah! Aah!” Liz menjerit saat aku menghujamkan kejantananku sekuat tenaga. Wajahnya begitu cantik, bertambah cantik apabila dimabuk birahi. Aku mengulum bibirnya.
“Mmmh!” kami berpagutan sambil menghisap.
Bbbbrrt…” BB-ku bergetar-getar di atas meja di samping kasur. Mungkin Senja menelponku. Aku tak menghiraukannya, aku terus memompa.

Bukan maksud aku
memaksa dirimu
masuk terlalu jauh
ke dalam kisah cinta
yang tak mungkin terjadi...

Bbbbrrt… Brrrt.. brrrt…. ” BB-ku terus bergetar-getar.
“Jay.. h.. h.. nggak diangkat?”
“H.. h.. h… nggak usah..” aku terus mencumbu Liz.
Brrrt… brrrt bbbrttt” BB terus bergetar, merusak konsentrasi kami. Aku meraihnya dan me-reject panggilan. Aku kembali memompa.
Bbbbrrt… Brrrt..” BB-ku kembali bergetar.
“Angkat, Jay..”
“Ng-nggak usah..”
“Angkat...”
“Nggak.”
“Angkat!!!” Liz setengah berteriak, ia mendorong tubuhku kuat-kuat.
Aku mengangkat telepon dengan kesal. Ternyata benar Senja, ia tidak bisa tidur karena kangen kepadaku. Aku berdiri mondar-mandir sambil membujuknya untuk tidur. Sementara Liz yang masih telanjang meringkuk di ujung dipan, memandangi jendela dengan tatapan nanar.
Begitu telepon ditutup, aku meloncat ke atas ranjang, namun Liz menepis tanganku.
“Jahat kamu, Jay!”
“Hah?”
“Kamu Jahat! Kamu sudah jahat sama Senja!”
Liz benar.
“Tapi aku cinta kamu, L-“
Aku belum sempat menyelesaikan kalimatku, ketika tamparan keras mendarat di pipiku.
“KAMU GA PUNYA HAK BUAT NGOMONG GITU!” Liz berteriak.
“Aku memang sayang kamu!” jeritku.
“AKU JUGA SAYANG KAMU, TAPI AKU SUDAH NGGAK PUNYA HAK UNTUK ITU!!” Liz berteriak histeris sebelum menangis sendiri.
Aku membelai wajahnya, namun Liz menepis tanganku kasar. Aku memaksakan memeluknya, Liz meronta namun akhirnya ia menyerah. Liz menangis dalam pelukanku.

Dan aku tak punya hati
Untuk menyakiti dirimu
Dan aku tak punya hati tuk mencintai
Dirimu yang selalu mencintai diriku
Meskipun kau tahu,
Kau tahu diriku
Masih bersamanya...

Malam semakin dingin, seperti suasana dalam kamar itu. Liz meringkuk di dekat jendela sambil memandangi kabut tipis yang mulai turun di luar sana.
Aku duduk di lantai di seberang kamar, menyalakan sebatang rokok. Aku menghembuskan asapnya ke langit-langit, membiarkannya dihapus oleh putaran kipas angin.
“Kamu.. sayang Senja?” tanya Liz.
“Sayang.”
“Cinta?”
“Cinta,” jawabku mantap.
“Kalau gitu, kamu nggak boleh kaya aku, Jay…”
Kami terdiam, hanya ada suara putaran kipas angin.
“Dulu, karena tidak bisa ngelupain Bang Igo, aku sudah nyakitin kamu, kan?”
Aku diam, menghisap rokok dalam-dalam, abunya jatuh ke lantai.
“Aku.. sudah belajar banyak hal dari itu…”
Aku masih diam, menghembuskan asapnya ke udara, sehingga kamar itu dipenuhi bau rokok.
“Kita… tidak boleh terjebak dalam nostalgia, Jay…”
Liz benar.
Liz bangkit dan duduk di sampingku. Ia mengambil sebatang rokok dan menyalakannya.
“Kita semua… terjebak dalam nostalgia…” kataku.
“Iya,” Liz menyahut lirih.
“Kenapa ya...” aku bertanya pada diriku sendiri.
Kami terdiam, Liz merebahkan kepalanya di pundakku. Aku menggenggam tangannya. Aku memejamkan mata, memunguti setiap keping kenangan bersama Liz.
“Karena kenangan itu indah..” aku mejawab pertanyaanku sendiri.
Liz terdiam dan mulai menangis, “Indah.. kenangan sama kamu memang indah, Jay..”
Dan semua kenangan berputar seperti film. Sementara kipas angin terus berputar seperti roda takdir Clotho, Lachesis, dan Athropos. Malam itu dipenuhi dengan percakapan sepasang insan. Kami saling berwacana dan berkontemplasi. Berbincang mengenai takdir, mengenai mimpi, mengenai masa yang tak dapat diputar ulang. Malam itu kami menangis, tertawa, melepas segala emosi ke udara.
“Kenangan itu indah, tapi esok hari bisa jadi lebih indah.” ucap kami bersamaan.
Kami tersenyum, menertawai takdir yang mempermainkan kami. Memang perpisahan memang sudah tidak bisa dielakkan, tapi inilah kenang-kenangan terakhir dari kisah kami.
Aku memandangi wajah Liz lekat-lekat, aku sangat mencintainya. Aku mengecup keningnya, Liz tersenyum. Aku mengecup bibirnya, merasakan lembut dan hangatnya, mungkin untuk yang terakhir kali.
Malam itu kami bercinta untuk terakhir kalinya, seolah menghapus jarak yang hilang selama ini. Aku memejamkan mata, membiarkan nafsu dan emosi mengambil alih.
Aku membiarkan tanganku bergerak, membelai sekujur tubuh Liz, menyusuri lekuk tubuhnya. Aku merasakan birahi yang menggelegak, bergolak-golak dalam dadaku.
Aku memejamkan mata, melarutkan diri dalam nafsu yang gemuruh.
Sementara kipas angin di langit-langit berputar resah, seolah tidak sanggup mendinginkan udara yang memanas oleh nafas kami.
“Jay.... sssh..... hah... h... h....”
“Liz.... hah... h.... h....”
Pengap, tubuh kami membasah oleh peluh.
I love you, Liz..”
I Love you, Jay..”
“Hmmh.. mmmmhhhh..” aku melumat bibir Liz, menghisapnya kuat kuat. Kami berpagutan sambil berpelukan di atas ranjang. Kami saling menghisap, lidah kami saling membelit dan membelai.
Hangatnya, lembutnya, mungkin besok aku tidak akan bertemu dengannya lagi.
Resah itu begitu... entah...
Kami bergelung dan bergumul di atas ranjang reot di kamar hotel itu, sehingga menimbulkan bunyi berderit-derit.
Sekarang Liz duduk di atas pangkuanku yang duduk bersila, ia melingkarkan pahanya di punggulku. Liz tersenyum, menciumi wajahku dengan emosional. Pingulnya bergerak-gerak, sehingga kejantananku menggesek di selangkangannya.
Nafas Liz memburu di wajahku, wajahnya sudah merona merah.
“Hah... h... h... h...” Liz menatap mataku dalam-dalam seolah menembus ke relung hatiku.
Aku sayang kamu Liz.
Kejantananku memasuki rahim Liz, seperti menjelajahi ruangan penuh kenangan yang misterius.
“Ssssh… hhh..” Liz mendesis, saat kejantananku bergesekan dengan dinding vaginanya.
Begitu...
Sempit....
Basah.....
Hangat.....
Geli....
Ngilu...
Rindu.....
Pilu...
Semua membaur seperti seribu perasaan yang bergolak di hatiku.
Lampu berkedip pelan, memulaskan warna kuning ke sekujur tubuh Liz yang penuh keringat. Aku memandangi wajahnya yang sayu, seluruh lekuk tubuhnya, sepasang payudara yang menggantung indah.
Liz melepas ikat rambutnya, ia menggerakkan kepala, mengibaskan rambutnya di udara. Ia tampak begitu menawan.
Liz memandangi mataku lekat-lekat. Kini rambutnya tergerai, menutupi pundaknya. Ia tersenyum, sebelum menggerakkan pinggulnya.
“Uuumh…” Liz memejamkan matanya.
Malam itu kami bersetubuh. Menyatukan dua tubuh yang berbeda, dua jiwa yang berbeda, menjadi satu. Membaurkan segala emosi dan segala kerinduan.
“Jaaaay... aku.... sayang... kamu.... ooooooh....”
“Liiizz.. aku... aku.... ooooh...” Aku mendekapnya erat, menciumi lehernya yang berkeringat.
Liz seperti menggelayut di pelukanku, tungkainya melingkar di pinggulku, dan tangannya mendekap erat punggungku. Dia menunggangi tubuhku dengan emosional, dadanya berguncang-guncang hebat, menghimpit di dadaku.
“Ooooohhhhh...” Liz memejam penuh kenikmatan, menciumi wajahku.
“Liiiiiiz.... aaaaaah...”
Pinggul Liz menandak-nandak, terkadang berputar, memilin kejantananku yang terjebak dalam kewanitaan yang licin. Sensasi geli ini, pijatan dinding vagina Liz, membuatku tidak bisa bertahan lebih lama lagi.
“Liiiiiiiz! Aku sudah mau.. aaaah!”
“Ssssssssshh.. Oooh! Tahan Jay! Aku juga bentar lagi! Aaah!”
Ada yang menggelegak, hendak meledak. Aku merasakan pinggulku bergerak diluar kesadaranku.
“Aaaaah!” aku berteriak, kejantananku berkedut-kedut, cairan cintaku memancar deras.
Namun Liz terus memompa, seakan tidak peduli. Batangku masih tegak, mungkin untuk beberapa saat lagi. Liz tidak mau menyianyiakan kesempatan ini. Ia terus mengayun dan mengayun.
“Aaaah.. aaah.. aaah.. aaah.. aaaaa...” ia mulai meracau penuh gairah, bersiap menyambut puncaknya.
Wajahnya yang basah sudah merona merah, sayu, penuh dengan birahi. Mata Liz memejam, dicakarnya punggungku. “Aaaaaaaaaah!” Liz berteriak panjang. Dadanya membusung, punggungnya melengkung. Sesaat kemudian seluruh tubuhnya bergetar hebat, menggelinjang ke sana kemari.
Kepalaku terasa ringan, kami seperti ambruk ke atas ranjang, dengan gerakan Slow motion. Kipas angin berputar resah, mengiringi nafas kami yang terenggah. Aku memeluknya, membelai rambut Liz yang kini sudah memanjang.
Lama kami berpelukan, kami membiarkan angin yang berhembus dari kipas angin membelai tubuh kami yang telanjang.
“Jay, Aku sayang kamu..”
Aku mengecup kening Liz yang berkeringat. “Aku juga…”
“Jay, kamu harus janji satu hal..." Liz menarik nafas panjang. “Kamu.. jangan pernah ngecewain Senja…”
“Pasti,” jawabku tegas.
Mata Liz tampak berbinar cerah. Liz tersenyum, namun kali ini bukan senyum yang dipaksakan.
“Kamu juga harus janji, Liz.. kamu harus bisa move on..”
“Pasti dong.. emang cowok cuma kamu doang, haha... manis sih manis... cinta sih cinta... tapi kere, hahahaha....”
“Hehe… Populasi cowok sekarang dikit lho, makanya banyak yang poligami.. kamu.. hehehehe..” Aku jadi membayangkan punya istri dua, win-win solution, happy ending wkwkwkwk...
Aku berkata lagi, “Liz... Kamu mau..?”
“Poligami? Ogah!”
“Bukaaan! Kamu mau berapa ronde?”
Liz menutup wajahku dengan bantal. “Dasar cowok mesuuuuuum!!”
“Hahaha” Tawa kami berderai, seolah lupa akan perpisahan yang menanti.
“12 Rondeee!!!” Liz menjawab sambil tersenyum.
“What?! Patah perkakas ane nanti!!”
Malam itu kami bercinta, bercinta, dan bercinta seolah tidak ada hari esok. Berkali-kali Liz mengerang, merintih, memprolamirkan puncak gairah yang membahana....

***

Masih pagi dini hari, ketika BB-ku bergetar. Telepon dari bengkel, mobil kami sudah bisa digunakan.
Aku mengecup pipi Liz yang terbaring di sampingku. Ia mengeliat malas, sambil tersenyum. Aku mengecup bibirnya.
“Yuk.. dah beres nie mobilnya.”
“Mandi dulu?”
“Hehe.. boleh..”
Dingin air di pagi buta seolah menghapuskan rasa sakit selama ini. Rasa sakit karena kenangan dan rindu.
Aku membiarkan air membasuh tubuh Liz, membuatnya berkilat-kilat penuh titik air. Aku melingkarkan tanganku di pinggangnya. Liz meletakkan tangannya di dadaku.
You came a long.. just like a song…” aku menyanyikan lagu buat Liz.
“Hahaha, lagu ini!!!” Liz tampak berbinar.
“Hehe, masih ingat?”
Liz mengangguk. Liz menoleh ke arahku dan tersenyum, kemudian ia menyandarkan kepalanya di dadaku, memelukku erat. “You brighten my day…” sahutnya.
You know I can’t smile without you… I can’t lough.. I can’t sing.. I find it hard to do anything..Kami bernyanyi sambil berdansa pelan. Berputar-putar di antara air keran yang menderu deras

***

Episode 15-3
One Last Kiss

Fajar sudah menyingsing ketika kami melewati Tugu Muda ke arah barat. Mobil Grace menggunakan transmisi otomatis, sehingga aku bisa dengan leluasa menggenggam tangan Liz. Aku menggenggamnya erat, karena ini adalah saat-saat terakhirku bersamanya.
“Jay..” kata Liz saat mobil kami berhenti di Lampu merah.
“Apa?”
“Di depan sana udah rumahku.”
“Oh..”
Begitu singkat kenangan kami.
“Liz, jangan pernah lupain aku..”
“Iya, kamu juga..”
Aku mengecupnya di bibir untuk terakhir kalinya. Manis bercampur getir pahit.
Lampu menyala hijau, tanda hidup harus terus berjalan.
Hampir pukul 6 ketika kami tiba di rumah Liz, dan disambut oleh orang tuanya.
Papa Liz tinggi besar, dan badannya penuh bulu lebat. Nyaliku langsung ciut melihatnya, namun sepertinya Papa Liz lebih takut kepadaku. Ia memandangku dengan takut-takut, karena kemarin malam Liz mengatakan bahwa aku suka cowok yang berbulu.
“Jaya, Oom,” aku memperkenalkan diri.
Ayah Liz cepat-cepat menarik tangannya setelah bersalaman denganku. ”Jaya? Kok mirip kaya nama mantan pacarnya Liz?”
“Oh itu teman saya, Jaya Mahardika.. kalau saya Jaya Suporno.” aku berbohong dan pura-pura kemayu.
Liz menahan tawa dari kejauhan.
Ternyata penerbangan Liz ditunda sampai jam 3 Sore. Hari itu aku seharian berkumpul dengan keluarga Liz -yang seharusnya menjadi keluargaku- ah sudahlah tidak usah diungkit-ungkit lagi.
Sore itu, aku ikut mengantar Liz ke Bandara. Liz berpelukan dengan Orang tua-nya sambil menangis, aku terharu melihatnya, aku teringat ibuku yang menunggu di rumah.
Liz menoleh ke arahku, dan tersenyum. Senyumnya bukan lagi senyum kehilangan, namun senyum yang indah dan lega.
“Dah, Ajay....”
Aku mengangguk.
“Makasih ya, Jay, makasih buat semua kenangan indah selama ini.”
Perih.
“Kamu kenanganku yang paling indah, Liz.”
Liz tersenyum. “Makasih Jay, tapi di Jogja menanti kenangan... bukan... masa depan yang lebih indah dari aku.”
Liz benar.
Aku memeluknya erat. Orang tua Liz ikut terharu, mungkin mengira anaknya berpisah dengan sahabat gay-nya.
I love You-“
I love you.
bisik kami berbarengan.
Liz tersenyum dan berlalu di balik pintu otomatis.
Au Revoir!” katanya.
Saat itu aku masih bisa tersenyum, saat Liz menghilang di balik kerumunan antrian orang di sana.
Tangisku baru pecah saat mobil yang kukendarai melaju meninggalkan Semarang. Garis-garis pembatas jalan bergerak dengan cepat, resah seolah memberi isyarat kenangan yang tak akan kembali lagi.
Aku menginjak pedal gas dalam-dalam, menaiki Bukit Gombel yang gelisah diterpa matahari senja. Mobil yang kunaiki perlahan menjauh dari kota Semarang, menjauh dari semua kenangan bersama Liz.
Aku menyalakan radio, mengalun lagu-nya Utada Hikaru yang dinyanyikan ulang oleh Boyz II Men. Panorama senja di depanku, membuatnya seperti ending sebuah film.

***

Episode 16
Menentukan Ending Terbaik

Mobil itu melaju kencang meninggalkan kota Semarang. Matahari sudah terbenam dan menyisakan Langit yang menghitam.
Pembaca mungkin bertanya-tanya, bagaimanakah akhir cerita ini? Bagaimana endingnya? Mari kita simak. Ending dalam sebuah film itu ada dua macam.
1. Happy Ending: tokoh utama cewe menyusul sang cowo ke bandara, mereka cipokan. Lalu sang cewe memandangi pesawat yang mengangkasa dengan galau, sambil teringat kata-kata terakhir sang cowo: “Aku akan kembali pada satu purnama.”
2. Sad ending: tokoh utama cewe dan cowo tidak bisa bersatu karena suatu alasan, seperti dalam film Cin(T)a, atau (500) Days of Summer.
Pembaca yang budiman, anda tidak bisa memungkirinya, saat membaca sebuah cerita atau menonton sebuah film, anda pasti berharap tokoh utama hidup bahagia selama-lamanya.
Semua orang ingin akhir yang bahagia. Semua orang ingin mencari happy endingnya, namun berapa persen yang menemukan? Banyak orang malah berputar-putar dalam labirin panjang tanpa akhir, hanya untuk: menemukan akhir bahagia.
Pertanyaannya adalah: apakah akhir bahagia itu? Apakah happy ending itu?
Seringkali kita merasa tidak puas dengan akhir yang kita peroleh dan berkata, “ini bukan happy ending gue!” lalu tetap mencari, dan terus mencari. Padahal kita tidak tahu saat itu kita sebenarnya sudah menemukan akhir bahagia. Kadang kita terlalu serakah, sehingga kehilangan happy ending yang sudah di depan mata.
Hidup bagaikan ribuan pencarian. Namun sampai kapan kita harus mencari?
Ke mana kita harus menuju?
Kadang kita terlalu sibuk mencari, namun ternyata yang kita cari ada di depan mata...
Ternyata kita hanya tinggal mengikuti ke mana takdir membawa. Kita -manusia- tidak pernah memiliki: nyawa, harta, cinta semua hanyalah titipan yang suatu saat bisa direnggut tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Kelahiran, kematian, pertemuan, perpisahan semua telah tertulis di Langit yang tak terjangkau akal manusia. Semuanya datang silih berganti seperti roda kehidupan, seperti siklus siang-malam. Segala yang hilang akan digantikan dengan yang baru. Pohon yang mati akan menjadi kehidupan bagi benih yang baru. Semuanya berputar, seperti Bumi. Hari akan selalu berganti. Semua yang terjadi tidak mungkin diulang lagi.
Mobil yang kukendarai terus melaju tanpa henti.
Situasi ini membuatku merenung dan berkontemplasi.
Aku sampai pada suatu kesimpulan: aku harus terus berjalan, berjalan dengan kepala tegak! Bukan dengan tertunduk. Terus berjalan ke depan, tanpa menoleh ke masa lalu, karena terjebak dengan masa lalu hanya akan membuat kita kehilangan masa depan.
Dadaku terasa sesak, namun bukan sesak karena putus asa. Melainkan sesak karena suatu semangat yang hendak meledak.
Aku menginjak pedal gas dalam-dalam. Aku berteriak sekuatnya. Tangisku pecah, namun bukan tangisan kesedihan. Melainkan air mata kelegaan. Dadaku terasa lapang. Aku telah menemukan pencerahan, aku telah melakukan katarsis! Aku telah mengalami penyucian jiwa!
Mobil ini melaju kencang di sepanjang Jalan Magelang, sehingga lampu jalanan berkelebat dan terlihat seperti garis lurus saja. Sangat cepat, seperti mobil d’Lorean dalam film Back to the Future. Ya, hari ini aku akan meninggalkan masa lalu menuju masa depan!
Mungkin inilah happy endingku.

***

Pukul 8 malam aku baru sampai jogja. Aku mengembalikan mobil di rumah Grace, sebelum pulang ke kost-anku.
Sampai di depan puntu kamar, tahu-tahu aku disambut bau harum. Kamar kost-ku kini rapi. Sprei diganti yang baru, sarang laba-laba di atap sudah hilang, dan buku-bukuku tertata rapi.
“Senja?”
“Lho eh? Kamu kok sudah pulang?” Senja menghambur memelukku, “I miss you so much!” Senja menghambur ke arahku, memelukku erat seperti tidak bertemu denganku bertahun-tahun.
“Hahaha.. awas remuk tulangku!” aku mengecup keningnya.
“Hehe, Gimana Kroya?” Senja masih belum melepaskan pelukannya.
“Jauh.”
“Haha.. Pos ronda tuh dekat!”
Aku menatap matanya dalam-dalam, sepasang mata yang membola jenaka. Hangat.... benar-benar mata orang yang mencintaiku. Menyelinap perasaan bersalah di hatiku. Pelan, menelusup dan bergema di relungnya.

Kamu Jahat, Jay…
Kamu Jahat, Jay…
Kamu Jahat, Jay…
Kamu Jahat, Jay…

Dasar Pengkhianat…
Dasar Pengkhianat…
Dasar Pengkhianat…
Dasar Pengkhianat…

Dadaku sesak, aku merasa bersalah. Aku telah menyakiti hati orang yang sangat mencintaiku ini, meski tanpa sepengetahuannya.
Aku sadar, apa yang akan kuucapkan berikut akan membawa implikasi yang besar terhadap kontinutas alam raya.
Senja mendekapku lebih erat, menggelendot manja. "Kangeeeen... nanti kalau nikah, Senja jangan sering ditinggal pergi yaaaa.."
Aku mengusap-usap poni-nya, Senja tersenyum lucu di pelukanku.
“Senja sayang Jay, aku merasa Jay yang akan jadi suami Senja..”
Aku menatap matanya, tatapan yang serius. “Kenapa begitu yakin?”
Senja tidak menjawab, ia tersenyum kepadaku. Sementara lampu neon di halaman membuat ilusi berupa garis-garis serupa sayap malaikat di belakangnya.
Tangisku pecah. Malam itu aku menangis seperti anak kecil di pangkuan Senja. Ia, dengan sabar membelai rambutku.
Hangat.

***

Demikianlah, kisahku dengan Liz usai sudah. Tabir pertunjukan telah ditutup. Aku menghela nafas panjang sebelum mematikan proyektor imajiner. Aku mengembalikan roll film 8 mm berisi kenangan bersama Liz ke tempatnya semula. Tak akan kubuang kenangan itu, namun tak akan kuingat-ingat lagi.
Katarsis, aku telah melakukan penyucian Jiwa. Setelah sekian lama akhirnya aku berdamai dengan masa laluku, dan menemukan kelegaan atas kenanganku bersama Liz.
Aku berjalan dengan mantap, keluar dari gedung teater imajinasi menuju kenyataan. Keluar dari ruang nostalgia menuju masa depan! Aku melangkah dengan toga yang gagah. Di luar orang-orang tak henti-henti menyalami dan memberi selamat, ada keluargaku ayah ibu dan adik-adikku. Datang juga teman-temanku: Jimmy, Buluk, Grace, KW dan Slamet.
Hari ini aku melangkah ke seberang, dari mimpi-mimpi menuju alam nyata. Tak lagi dengan pesimistis, namun dengan langkah tegap yang pasti.
Aku memeluk ibuku sambil menangis, aku merasa telah berbuat banyak dosa dan tidak bisa membanggakannya.
Slamet dan Grace menyelamatiku. “Congaratulations ya, masbro” Slamet nyengir. Slamet sendiri masih mengulang beberapa mata kuliah, kalau tahun depan ia tidak lulus juga, ia bakal di-D.O. Grace juga memberi selamat. Saat ini Grace sudah bekerja di perusahaan ayahnya.
“Selamat.” kata KW seperti biasa singkat-padat-jelas, sekarang ia sedang melanjutkan S2.
Di sekelilingku penuh dengan wisudawan dan keluarganya. Mataku memandang ke sekeliling. Aku tak lagi mencarinya, karena aku memang tak perlu lagi mencari. Aku sudah menemukannya, seorang wanita cantik yang mengenakan dress berwarna Jingga. Matanya bergerak lincah di atas pipinya yang bulat seperti kue mochi.
“Sayaaang maaf telat, aku tadi masih ada kuliah.” Senja menghambur ke arahku.
Aku memeluknya erat, aku tak ingin kehilangan lagi.

Ku menempuh sedalam lautan

Ku mencari arti kehidupan
Mendaki gunung kekecewaan
Melelahkan..

Kau menjelma seperti khayalan
Kau impian dalam kenyataan
Perjalanan yang penuh likunya
Kini telah tiba di sisimu selamanya

Lapangan itu penuh dengan wisudawan yang berfoto bersama keluarga atau pun teman-temannya. Aku berjalan bersama Senja di bawah pohon pacar air menyusuri jalan setapak yang mengitari gedung auditorium.
Aku memandangi langit kota Jogja yang tak lagi berwarna kelabu. Di kejauhan, Merapi berdiri dengan gagah, dipeluk langit yang membiru. Hari ini, hidupku kembali berwarna.
Aku memegang tangan Senja erat. Kami berjalan sambil berpegangan tangan. Semetara angin berhembus, menggugurkan kelopak bunga pacar yang berwarna merah muda, persis seperti bunga sakura.
“Gimana kabar Liz yah?” tanya Senja.
“Hah, aku gak tahu.. di sana kan ga ada sinyal.. kok tiba-tiba nanyain Liz?”
“Aku.. jadi kasihan sama Liz.” kata Senja.
Ia benar, kali ini aku yang terdiam.
“Udah gak cemburu lagi sama Liz?”
Senja menggeleng. “Karena Senja tahu, Jay sekarang cuma sayang sama Senja..”
Sepertinya Senja sudah lebih dewasa. Kita semua memang harus jadi dewasa.
“Yah.. mudah-mudahan Liz menemukan yang lebih baik dari aku..”
“Ye, berarti yang jelek-jelek buat aku gitu?” kata Senja.
“Hahaha… gak papa kan? Soalnya orang jelek biasanya dapat cewek yang lebih cantik..”
“Maksudmu?” Senja mencerna ucapanku.. “Iiiih Ajaaay!! Gombaaaal!!!” wajahnya tampak memerah.
Lama kami beduaan menikmati happy ending kami.
“Senja..”
“Iya?”
I love you..”
I love you too..” Senja tersenyum, dan mempererat pegangan tangannya.
“Senja..”
“Yah?
Will you marry me?
Senja tidak menjawab. Ia menangis sesenggukan, memelukku erat-erat.

Engkau bukan yang pertama
Tapi pasti yang terakhir
Di cintamu ku temui arti hidupku..

Engkau bukan yang pertama
Tapi pasti yang terakhir
Di cintamu ku temui arti hidupku.

***

6 Bulan Kemudian...

Aku dan Slamet sedang asyik memilih kartu undangan pernikahan. Slamet menunjuk desain undangan bertuliskan “S & J”. Eh, jangan salah sangka dulu, yang mau nikah bukan Slamet dan Jay lho! Aku terpaksa pergi bersama Slamet karena Senja sedang mengukur kebaya bersama ibunya. Semua harus dilakukan hari ini, untuk mengejar deadline pernikahan kami: sebelum kandungan Senja membesar dan membuat aib bagi keluarga.
“Met yang ini bagus ga?”
“Engga, bagusan yang ini. Yang ini Unyu lho,”
“Wah, iya! Unyu banget! Tapi yang ini juga imut.”
“Mana? Iyaa lutuuna..”
“Kyaaa…”
Kami histeris sendiri. Mbak-mbak penjaga counter percetakan itu memandang kami dengan tatapan aneh. Karena risih, Slamet kusuruh merokok di luar.
“Yang ini dijadiin warna jingga bisa ga, mbak?” jingga merupakan warna kesukaan Senja.
“Wah gak bisa, sudah dari sananya..”
“Yaah, tolong lah, mbak..”
“Gak bisa, mas..’
“Pleaseee..” aku merengek seperti anak cewek yang minta permen.
“Ya sudah, mas ngomong sama desainernya aja.”
Aku diantar ke ruang di belakang. Seorang wanita sedang mengerjakan Corel Draw di komputer.
Liz.
Jantungku seakan berhenti berdetak.

***

Epilog

Manusia bagaikan debu berukuran mikron dalam belantara semesta. Segala kejadian, setiap sepersekian persen kemungkinan, sebenarnya telah tertulis di Langit yang jauh dari nalar manusia. Begitu juga pertemuan ini.
“Umm.. Liz?”
“Jay?”
“Iya.. hehe.. eh.. apa kabar..?”
“Hehe.. baik.”
“Kukira kamu di Papua..”
Liz berbalik, perutnya tampak membuncit. “Perut segede gini, gimana mau hidup di sana, hehe..”
Aku manggut manggut sambil memandangi Liz. Kali ini Liz terlihat sangat feminim dengan rambut panjang tergerai dan perut yang membuncit itu.
Liz, sepertinya sekarang sudah punya suami. Aku lega, setidaknya ia menemukan orang yang lebih baik dari aku.
“Eh, undangannya mau digimanain..? Ah, kamu sama Slamet mau nikah kan?"
"Setan." Aku tertawa terbahak.
Liz ikut tertawa lebar. "Yang langgeng ya kalian. selamat yaaa…”
De ja vu, sepertinya aku pernah mengalami ini.
Liz tersenyum, tapi kali ini ia terlihat lega. Senyumnya sangat bahagia. “Ayo, Cepet nyusul punya momongan!”
“Amin,” kataku.
Liz tidak tahu kalau Senja sudah telat 3 bulan, wkwkwkwkw...
“Sudah lama ya..” kataku lagi.
“Iya, hehe.”
“Akhirnya..”
“Hehehe.” Kami ketawa-ketiwi mengingat kegilaan kami dulu.
“Kita harus dewasa, Jay.”
“Yup,”
“Gak bisa terus-terusan terjebak di ruang nostalgia.”
Liz benar, kita tidak bisa selamanya terikat dengan masa lalu. Setidaknya kini aku lega, Liz sekarang sudah menemukan kebahagiaannya. Aku dan Senja juga begitu.
“Nanti datang ya, Liz!”
“Iya, pasti dong!”
“Ajak suamimu juga…”
“Um…”
“Kenapa?”
“Jay..”
“Yah?”
“Ini anakmu lho.”
“Hah?”

TAMAT
Author : Jaya S.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar