Selasa, 28 Maret 2017

Tutur Tinular 12



Hak cipta © Buanergis Muryono & S.Tidjab

Burung-burung kutilang yang sedang berkicau di dahan pohon bengkereh terkejut ketika lelaki tua itu melintas dekat semak-semak. Unggas-unggas liar itu beterbangan dengan cericit panjang. Embun-embun pagi masih melumuri rerumputan dan pucuk-pucuk daun. Matahari semakin merayap menyingkir-kan kabut-kabut pagi yang menghalangi pandangan di cakrawala.
Lelaki tua itu menghentikan langkahnya saat mendengar derap kaki kuda mendekat. Ia melihat seorang pemuda tampan menunggang kuda perlahan menuju arahnya. Segera ia memasang kuda-kuda sambil bertolak pinggang. Tangan kanannya meraba gagang pedang. Ia menggeram dan mendengus panjang ketika penunggang kuda itu menghentikan kudanya tepat di depannya karena ia hadang. Binatang tunggangan itu meringkik saat tuannya melompat dari punggungnya.
"Ada apa, Paman? Mengapa Paman menghadang saya?"
"Anak muda. Apakah daerah ini sudah masuk desa Kurawan?"

"Ooo, Paman mau ke Kurawan? Sembilan pai jauhnya dari sini Paman akan menemukan tugu batas desa itu. Paman jalan saja terus ke arah selatan."
"Kau anak desa Kurawan?"
"Ya, Paman. Saya lahir dan dibesarkan di Kurawan."
"Kau tahu di mana rumah Mpu Hanggareksa?"
"Oh, Paman mau menemui ayah saya?"
Lelaki tua itu melotot, darahnya tersirap dan seperti mendidih. Seolah-olah ia ingin menelan pemuda di depannya itu mentah-mentah. Pemuda itu semakin tidak mengerti melihat gelagat semakin tidak ramah dari lelaki tua yang menghadangnya. Lelaki tua itu melangkah dua tindak mendekatinya.
"Anak muda! Jadi, kau anak Hanggareksa?"
"Benar, Paman. Saya anaknya. Nama saya Arya Kamandanu."
"Bagus! Kebetulan sekali. Aku tidak perlu berjalan jauh lagi. Aku bisa merampungkan urusanku di tempat ini. Kamandanu!"
"Ya, Paman."
"Kau jangan coba-coba memungkiri perbuatanmu yang tidak senonoh!"
"Eh, apa maksud Paman? Saya, saya..."
"Jangan berlagak bodoh. Kau tahu, dengan siapa kau sedang berhadapan sekarang ini? Akulah Rekyan Wuru."
"Oh, Paman Wuru dari Manguntur. Bukankah Paman adalah ayah Nari Ratih?"
"Ya. Aku ayah Nari Ratih. Aku ayah gadis yang sekarang ini sedang menderita akibat perbuatanmu. Hiaaaahh, mampus kau Kamandanu!"
"Oh, tunggu, tunggu.... Tungguuu... Paman! Tunggu..."
Lelaki tua itu sudah tidak mau mendengarkan lagi. Ia menyerang, menerjang dan menjotos Arya Kamandanu. Pemuda itu melompat ke sana kemari menghindari serangan lelaki tua itu. Ia benar-benar tidak mengerti apa sebetulnya yang telah terjadi. Arya Kamandanu berusaha tidak menyerang. Ia melompat mundur dan ingin mendapatkan penjelasan orang tua itu.
"Paman! Apa salah saya? Mengapa tiba-tiba Paman menyerang saya?" tanya Arya Kamandanu dengan terengah-engah. Lelaki tua di hadapannya pun napasnya tersengal-sengal dan melangkah beberapa tindak mendekatinya sambil meludah dan membuang muka.
"Kau sudah menodai kesucian anakku! Sekarang kau akan menerima balasan dari ayahnya! Hiaaaa, hiaaaaatthh...!" Kembali lelaki tua itu mencecarnya dengan pukulan-pukulan dahsyat.
Arya Kamandanu menangkis dan melompat menghindar bagaikan seekor burung Srikatan mengejar capung. Karena beberapa jurus pukulan lelaki tua itu tak ada yang bersarang padanya maka orang tua itu menghentikan serangannya. Berdiri memasang kuda-kuda sambil tersenyum menyeringai memendam amarah yang telah memuncak.
"Bagus! Kau cukup tangkas juga! Tapi jangan sebut Rekyan Wuru kalau aku tak mampu membuatmu mencium tanah dalam dua gebrakan ini!"
Selesai berkata, Rekyan Wuru menarik kaki kirinya selangkah. Tangannya membuka dan menutup di depan dada untuk membuka jurus serangannya. Gerakan-gerakan zig-zag itu tampak kokoh bagaikan banteng yang hendak menyeruduk. Kemudian lelaki tua itu benar benar menggebrak Arya Kamandanu dengan dua gebrakan panjang. Tangan kanannya yang mengepal keras bersarang pada dada dan perut pemuda itu.
Pemuda itu mundur terhuyung sambil mendekap perutnya yang mulas, mual seperti mau muntah. Sakit dan seperti diuntir-untir. Ia mendelik roboh di tanah. Terduduk dengan napas terengah-engah. Ia berusaha memandang lelaki tua yang kini menjambak rambutnya hingga memaksanya menengadah dengan mulut setengah terbuka. Lelaki tua itu pun terengah-engah. Tubuhnya basah, dahinya berkilat-kilat oleh keringat yang membanjir.
"Ayo, Kamandanu! Apa katamu sekarang?"
"Saya... saya tidak akan berkata apa-apa. Terserah Paman Rekyan Wuru!" jawab pemuda itu terbata karena menahan rasa sakit yang kian melilit.
"Jadi, kau sudah mengakui kesalahanmu?"
"Kesalahan mana yang Paman maksudkan?"
"Bedebah! Kau tikus busuk, masih juga mengaku tidak bersalah!"
"Saya benar-benar merasa tidak bersalah."
"Kau sudah menodai anakku. Kau rusak kehormatannya! Kau mau mengakui atau tidak?"
"Tidak!!"
"Kurang ajar! Hiiiiihh!" Lelaki tua itu menghempaskan Arya kamandanu hingga pemuda itu menggelosor di tanah.
Belum puas dengan satu hempasan, kembali tangannya menampar, kakinya menendang tubuh Arya Kamandanu yang tidak memberikan perlawanan. Pemuda itu mengaduh kesakitan. Laki-laki tua itu membiarkan Arya Kamandanu menggelosor di depannya. Bahkan kaki kanannya kini menginjak punggung pemuda itu.
"Dengar! Walaupun sudah tua, sudah beruban seluruh rambutku, tapi untuk membuatmu mampus aku masih sanggup."
"Apa sebenarnya yang Paman kehendaki dari saya?"
"Pengakuanmu! Kalau kau mau mengakui kesalahanmu, maka urusannya tidak akan terlalu panjang. Tapi kalau kau masih bertahan, mau memungkiri perbuatanmu, nah! Aku tidak segan-segan membuatmu cacat seumur hidup, Kamandanu!"
"Paman Wuru, saya tidak akan mengakui perbuatan yang tidak pernah saya lakukan."
"Apa? Coba kau ulangi sekali lagi!"
"Saya tidak akan mengakui perbuatan yang tidak pernah saya lakukan!"
"Kamandanu!" kaki kanan lelaki tua yang bertengger di punggung Kamandanu menjejak hingga pemuda itu kembali tersungkur mencium tanah.
Lelaki tua itu meraba gagang pedangnya dan menghunus senjata tajam yang menggantung di pinggangnya penuh amarah. Diangkatnya pedang itu tinggi-tinggi hingga mata senjata itu berkilat-kilat tertimpa cahaya matahari yang semakin merayap naik. Laki-laki tua itu menggeram bagaikan harimau hendak menerkam mangsanya.
"Kau jangan membuatku semakin naik darah.Walaupun orang tua, tapi aku bukanlah tergolong orang penyabar. Kalau kau masih berusaha mungkir, aku akan membunuhmu di tempat ini juga."
"Paman Wuru! Saya berani karena saya merasa benar. Kalau saya merasa benar dan tidak berani menghadapi keadaan, maka namanya saya pengecut," nada ucapan pemuda itu mantap dan berani.
Hal itu membuat lelaki tua itu semakin geregetan dan kesal. "Kurang ajar! Jadi, kau menantangku?"
"Paman Wuru tidak usah ragu-ragu! Saya tidak akan melawan. Saya tahu Paman Wuru sebenarnya orang yang baik. Saya justru kasihan sekali, mengapa Paman Wuru harus mengalami seperti ini. Saya kenal Nari Ratih. Saya pernah bersahabat dengannya."
"Sudah! Sudah! Jangan ngoceh ngalor-ngidul! Aku tidak butuh mendengar nasihatmu!"
"Jadi bagaimana? Kalau Paman menganggap saya bersalah dan mau membunuh saya, lakukanlah! Saya tidak akan melawan sedikitpun. Saya akan menyerahkan leher saya agar Paman Wuru merasa puas."
Rekyan Wuru tertegun mendengar kata-kata Arya Kamandanu. Suaranya terdengar jujur dan penuh keberanian. Tapi karena hatinya masih panas maka orang tua itu buru-buru mencampakkan pengaruh tersebut. Digenggamnya gagang pedang semakin erat. Tangannya gemetar menahan luapan amarah di dadanya.
"Kamandanu! Akuilah bahwa kau yang menodai anakku. Dengan begitu, persoalan ini bisa segera dibereskan. Barangkali kalau nasibmu mujur, aku akan mengawinkanmu dengan anakku. Tapi kalau tidak, aku akan menyerahkanmu kepada Kepala Desa Manguntur agar perbuatanmu ditangani yang berwajib."
"Sudah saya katakan, bahwa saya tidak mungkin mengakui apa yang tidak saya perbuat."
"Bedebah! Kubunuh kau sekarang juga! Hiyaaaaaaaahhhhh!"
Pedang Rekyan Wuru yang sudah tergenggam di tangannya dan menggantung di udara kini diangkat tinggi-tinggi. Berkelebat berkilat-kilat dengan deras meluncur ke arah leher pemuda itu. Kamandanu tidak mengelak, ia sudah pasrah pada nasibnya. Dalam hatinya ia hanya bisa memohon keadilan pada Hyang Widhi. Jantungnya menggemuruh menanti apa yang telah menimpanya. Teriakan dan pekikan suara Rekyan Wuru membuat bulu kuduknya merinding.
Lelaki tua itu matanya mendelik, seluruh tubuhnya gemetar hebat. Berbarengan dengan senjata tajamnya yang nyaris menyentuh kulit leher pemuda itu, namun bersamaan dengan itu berkelebatlah sesosok bayangan yang menangkis hunjaman senjata tajam itu. Terdengar dentingan keras. Dua senjata tajam beradu. Sekarang muncul di hadapannya seorang lelaki yang lebih tua darinya mencecarnya dengan sebilah pedang. Rekyan Wuru terkejut dan mundur beberapa tindak.
"Kunyuk jelek! Siapa kau berani turut campur urusanku?"
"Hehehehe, aku memang seperti kunyuk jelek. Tapi kau pun tidak lebih tampan dari seekor kambing buduk. Heheheheh!"
"Kau jangan membuka perkara denganku! Apa kau tidak kenal siapa diriku? Rekyan Wuru, bekas prajurit Singasari. Pernah menjabat sebagai perwira yang membawahi dua ratus orang."
"Hebat! Hebat yah? Tapi apa gunanya kau katakan hal itu padaku?"
"Supaya kau segera enyah dari sini."
"Hehehehe, jangan begitu. Menakut-nakuti orang dengan cara seperti itu tidak baik. Mengapa tidak kau katakan saja siapa dirimu yang sebenarnya?"
"Apa maksudmu?"
"Kau adalah Rekyan Wuru, warga desa Manguntur yang sudah peyot. Mungkin dulu waktu masih muda kau pernah jaya. Tapi sekarang ini kau tidak lebih dari orangtua yang kurang bijaksana."
"Kurang ajar! Kau menghina aku! Hiaaattthhh!" Rekyan Wuru menerjang dan menggebrak lelaki tua dengan pakaian compang camping dan kumal itu. Namun, lelaki jelek di hadapannya itu begitu trengginas, gesit melompat menjauhinya setelah menangkis sabetan pedangnya.
Rekyan Wuru menghentikan serangannya dengan napas terengah. Ia perhatikan betul-betul lelaki tua di hadapannya dengan mata melotot. Napasnya terengah-engah. Di bibirnya mencibir sebuah senyuman getir. Ia melangkah beberapa tindak dengan langkah kuda-kuda.
"Kau... kau punya kebisaan juga rupanya? Siapa namamu?"
"Nah, nah, Rekyan Wuru! Napasmu sudah kembang kempis seperti seekor ikan mujair kekeringan. Bagaimana kau masih berani menyombongkan diri?"
"Kalau kau masih belum pergi dari tempat ini, jangan salahkan aku kalau pedang ini akhirnya ikut bicara!"
Lelaki tua berpakaian kumal dan compang-camping itu tidak menghiraukan ancaman Rekyan Wuru, sebaliknya ia berpaling pada pemuda yang masih menggelesot di rumput. Serta merta pemuda itu bangkit dan mendekati lelaki tua yang memanggilnya dengan lambaian tangan.
"Kamandanu!"
"Eh, ya, Paman Ranubhaya."
"Menyingkirlah kau, berdiri agak jauh! Kambing peyot ini agaknya perlu diajar makan rumput yang benar."
"Baik, Paman," pemuda itu kemudian mundur beberapa langkah menjauh dari arena pertarungan.
Lelaki tua berpakaian compang-camping itu mengelus gagang pedangnya lalu bertolak pinggang dengan senyum sinis pada Rekyan Wuru yang dibuatnya penasaran. Dalam benak Rekyan Wuru terselip sekilas ingatan sebuah nama lelaki tua yang bertolak pinggang di depannya. Tetapi ia tidak mau ambil pusing, kepalang tanggung untuk mengurungkan niatnya.
"Hemh, jadi kau yang bernama Ranubhaya?"
"Nah, apa maumu sekarang, Rekyan Wuru? Jangan bocah kencur yang kau jadikan sasaran kesombonganmu, tapi marilah yang tua-tua ini mawas diri sedikit."
"Persetan dengan omonganmu! Hiaaaaatt... Hiaattthhh...!"
Dua gebrakan dilancarkan cukup gencar ke arah lelaki tua berpakaian compang-camping itu, namun apa yang diduga Rekyan Wuru sungguh meleset. Dua tebasan pedangnya hanya menebas udara hingga tubuhnya terpelanting. Tenaganya seperti terbetot hingga napasnya semakin terengah-engah. Kesal dan penasaran sekali Rekyan Wuru dibuatnya. Ia berdiri gamang, antara menyerang atau menghentikan percekcokan itu. Ia berdiri sambil menatap tajam Mpu Ranubhaya yang tersenyum dingin sambil menghela napas. Lucu sekali sinar wajah lelaki tua itu.
"Bagaimana, Rekyan Wuru?"
"Tunggu, kau menggunakan jurus Naga Puspa."
"Ayo, kerahkanlah seluruh tenagamu! Keluarkanlah seluruh sisa-sisa kepandaianmu."
"Dari mana kau peroleh jurus Naga Puspa, Ranubhaya?"
"Apa perlunya kau tahu asal-usul jurus kepunyaan orang lain? Kalau kau merasa gentar letakkanlah pedangmu, dan segera minta maaf pada anak muda itu."
"Setan belang! Jangan kau kira dapat menundukkan aku segampang itu! Hiaaaahhhh... hiaaaahhh...!"
Denting-denting pedang terus berlangsung setiap tebasan kedua lelaki tua itu berbenturan di udara. Keduanya sama-sama gesit dan lincah. Mula-mula Rekyan Wuru menyerang sangat gencar pada Mpu Ranubhaya, namun kemudian keadaan menjadi berbalik. Ia kerepotan melayani serangan-serangan menggigit lelaki tua renta itu. Ia terus mundur dan mencari tempat yang lebih longgar. Melompat dan menangkis sambil beberapa kali menyabetkan pedangnya dengan dahsyat, namun hanya udara yang disabetnya.
Sebaliknya, gerakan lincah Mpu Ranubhaya kian mantap. Seperti burung sriti menukik-nukik di udara mengejar nyamuk. Cepat dan gencar. Maka pada kesempatan berikutnya, Rekyan Wuru tak dapat menduga apa yang terjadi. Suara pedang berbenturan cukup keras. Tangan kanannya merasa seperti kesemutan dan sekali lagi tebasan pedang lawan mampu melepaskan genggamannya. Ia terbelalak dengan mulut setengah menganga. Pedangnya jatuh tertancap di tanah lalu lelaki tua berpakaian compang-camping itu mengangkanginya dengan tawa terkekeh-kekeh.
"Sudahlah, Rekyan Wuru! Apa perlunya kau marah-marah di sepanjang jalan? Menyombongkan sisa-sisa kepandaianmu di masa lalu? Rekyan Wuru yang sekarang bukanlah Rekyan Wuru tiga windu lalu."
Mendengar kata-kata Mpu Ranubhaya, Rekyan Wuru tercabik sudut kesadarannya. Ia berdiri seperti bocah yang sedang belajar berjalan. Tatap matanya berubah menjadi memelas dan mengiba. Tubuhnya yang bersimbah keringat bergetaran. Bibirnya meliuk-liuk, pandang matanya memudar, pelupuk matanya terasa hangat penuh dengan air mata. Ia mencuri pandang pada Mpu Ranubhaya yang membiarkannya berpikir.
"Yah... yaah... Rekyan Wuru yang sekarang adalah Rekyan Wuru yang sudah jompo. Rekyan Wuru yang sudah pikun," suara itu terdengar gemetar dan melemah. Serak dan tercekat di tenggorokan.
"Rekyan Wuru! Jadilah orang tua yang baik, yang bijak. Semakin tua seseorang harus semakin bijaksana, karena makin banyak yang dilihat. Kalau kau memiliki persoalan dengan anak muda itu, selesaikanlah dengan cara-cara yang seharusnya dipakai manusia. Kalau kau selalu menggunakan kekerasan, menggunakan pedangmu untuk menyelesaikan setiap persoalan, kau sama halnya dengan serigala yang bangga pada ketajaman taringnya. Tapi apa artinya seratus ekor serigala jika harus melawan manusia yang mempunyai akal budi, pikiran dan siasat?"
Mpu Ranubhaya kemudian berpaling kepada Arya Kamandanu yang masih berdiri agak jauh dari mereka. "Kamandanu!" panggilnya.
"Ya, Paman."
"Antarkan dia menemui ayahmu."
"Baik, Paman," pemuda itu melangkah mendekati Rekyan Wuru yang membisu seribu bahasa. Tidak mau memandang pemuda yang melangkah dua depa di sisinya. "Mari, Paman Wuru! Saya antarkan Paman Wuru menemui ayah saya. Paman bisa membicarakan persoalan Nari Ratih dengan Ayah."
Arya Kamandanu kemudian mendahului Rekyan Wuru. Pemuda itu menuntun kudanya sambil sesekali menoleh ke belakang di mana lelaki tua itu terus melangkah mengikutinya dengan wajah asam. Mereka menempuh perjalanan sepanjang delapan pai untuk mencapai rumah Mpu Hanggareksa, ayah Arya Kamandanu.
Mpu Ranubhaya memandang kepergian mereka dengan geleng-geleng kepala, mencabut pedang Rekyan Wuru dan membuangnya jauh ke belukar. Lalu ia pun melompat, lenyap di antara semak belukar.
Sesampai di rumah Mpu Hanggareksa, Rekyan Wuru segera menyampaikan maksud kedatangannya. Rekyan Wuru menuturkan dengan runtut semua peristiwa yang telah dialaminya dengan nada datar dan kurang bersahabat. Wajahnya merah padam, matanya sesekali melirik tak ramah pada Arya Kamandanu yang duduk menunduk di samping ayahnya.
"Demikianlah maksud kedatanganku ini, Hanggareksa. Ialah untuk menuntut pertanggungjawaban atas perbuatan yang telah dilakukan anakmu."
"Baiklah, Rekyan Wuru. Tapi aku belum bisa menerima tuduhanmu jika tidak ada bukti yang kuat. Kau juga harus ingat, bahwa tuduhan tanpa bukti bisa digolongkan fitnah."
"Tentu saja ada buktinya, Hanggareksa. Sekarang ini anakku jelas mengandung tiga bulan lamanya."
"Tapi laki-laki bukan hanya anakku, Rekyan Wuru. Bisa saja anak desa Manguntur sendiri yang berbuat tidak senonoh itu."
"Tidak, Hanggareksa. Ada keterangan seorang anak muda yang bisa kujadikan pegangan. Dangdi, anak Kepala Desa Manguntur mengatakan, bahwa Arya Kamandanu-lah pelakunya. Sering kali dia melihat anakmu bercanda di tepi padang ilalang bukit Kurawan bersama anakku."
Serta merta Mpu Hanggareksa melotot dan menatap tajam ke arah Arya Kamandanu yang masih duduk menunduk. Napas lelaki tua itu mendengus keras, bibirnya bergetar, "Apa benar begitu, Kamandanu?" tajam sekali pertanyaan itu Bahkan suaranya amat dalam dan menggetarkan.
"Eh, benar, Ayah," jawab Kamandanu jujur dan lugu.
"Benar? Jadi, kau yang telah menodai anak gadis Rekyan Wuru?" bentak Mpu Hanggareksa dengan mata semakin melotot. Bahkan laki-laki tua itu kini bangkit berdiri tepat di depan pemuda itu. "Kau yang berbuat tak senonoh itu, Kamandanu?" tanyanya lagi.
"Tidak, Ayah. Tidak."
"Kamandanu, kau jangan main-main! Kau sedang bicara dengan ayahmu. Apa benar kau telah melakukan perbuatan tidak senonoh itu?"
"Tidak, Ayah, saya tidak melakukannya."
"Awas! Kalau kau berani berdusta di depan ayahmu. Lebih baik kau jujur, mengaku apa adanya, jangan berbolak-balik seperti kelakuan orang tidak waras."
"Tapi saya benar-benar tidak melakukannya, Ayah."
"Kurang ajar! Anak sial!" bersama hentakan kaki, tangan lelaki tua itu melayang dan mendarat pada pipi putranya.
Pemuda itu mengaduh dan hampir terpelanting dari kursi. Ia pasrah pada apa yang akan dilakukan ayahnya padanya, namun laki-laki tua itu tidak jadi menampar untuk yang kedua kalinya. Tangannya menggantung di udara. Hanya suaranya yang menggeram bagaikan seekor singa yang ingin menerkam mangsanya.
"Kamandanu! Lebih baik aku tidak mempunyai anak seperti kamu." Bersamaan dengan itu, tangan kanan lelaki itu meraba gagang pedang yang terselip di pinggangnya, suaranya berdencing hingga Arya Kamandanu bergidik mendengarnya. Sebentar lagi ia akan menyusul ibunya, pikirnya dalam hati. Ia benar-benar pasrah saat pedang di tangan ayahnya telah diangkat tinggi-tinggi dan akan menebas lehernya. Bersamaan dengan itu ada seseorang yang berlari ke tengah-tengah mereka.
"Jangan, Ayah! Jangan!"
"Dwipangga, apa maksudmu?"
"Bukan Adi Kamandanu yang melakukannya. Oh, maafkan saya, Ayah, maafkan saya."
"Apa maksudmu, Dwipangga?"
"Sayalah yang melakukannya. Sayalah yang berbuat tidak senonoh. Kalau Ayah mau memukul, pukullah saya. Kalau ayah mau membunuh, bunuhlah saya." Arya Dwipangga berlutut di depan ayahnya. Ia menyembah ayahnya dan memeluk kaki Mpu Hanggareksa yang masih menggenggam pedang terhunus.
"Arya Dwipangga, jadi rupanya kau biang keladi kekacauan ini. Kau yang membuat onar di desa Manguntur lalu kau bawa ke rumah ini! Kurang ajar! Hiih, hihh, hiihhh!" tiga kali tamparan sangat keras mendarat pada wajah pemuda itu. Bibir Dwipangga retak hingga mengeluarkan darah. Darah itu dibiarkan mengalir seiring air mata yang menetes di pipinya karena merasa sesal.
Rekyan Wuru yang sejak tadi hanya diam menyaksikan lakon di depannya kini ia bangkit dengan rahang mengeras dan terdengar giginya menggeretak. Ia benar-benar tidak suka melihat Arya Dwipangga. Matanya merah dan melotot galak. "Apa benar kau yang menodai kesucian anakku?"
"Benar, Paman Wuru. Saya minta maaf atas kesalahan saya. Saya mencintai Nari Ratih, Paman."
"Cinta! Cinta! Itu bukan alasan untuk berbuat tidak pantas!" potong Mpu Hanggareksa keras dan marah pada putranya. Kaki kanannya dihempaskan untuk menendang perut hingga Arya Dwipangga hampir terjengkang jika tidak bertumpu pada dua tangannya.
"Saya mengaku salah, Ayah. Saya benar-benar menyesal."
"Menyesal, apa gunanya? Luka sudah meninggalkan bekas. Bagaimana kulit bisa mulus lagi? Aku yang malu, Dwipangga. Malu sekali. Mukaku kusembunyikan di mana, hah! Hoooh, kali ini perbuatanmu sungguh-sungguh keterlaluan."
"Baiklah, Hanggareksa. Semuanya sudah jelas. Selanjutnya tinggal bagaimana kita berdua sebagai orang tuanya."
"Aku mengerti, Rekyan Wuru. Memang anakku yang berbuat, maka aku sebagai orang tuanya harus ikut bertanggung jawab."
"Kalau begitu aku permisi dulu. Kita cari waktu yang baik untuk membicarakan masalah ini sebagaimana mestinya."
“Eh, tunggu sebentar, Rekyan Wuru. Jangan pulang dulu.”
“Ada apa lagi?”
Kamu sudah datang jauh-jauh. Akan ditaruh di mana mukaku bila tidak menjamu tamu dengan baik. Ayo ikut aku, anggap ini sebagai permintaan maafku.”
Hanggareksa mengajak Rekyan Wuru masuk ke bilik belakang. Di sana, di dalam sebuah kamar yang tertata rapi, Kinasih sudah nampak menunggu. Gadis cantik yang menjadi pelayan sekaligus teman tidur Hanggareksa itu tersenyum melihat kedatangan mereka.
“Masuklah, Tuan. Sudah saya siapkan semua.” Kinasih berkata sambil membungkuk.
“Ayo, Wuru.” Hanggareksa mempersilakan.
“Apa ini?” Rekyan Wuru berkata, nampak bingung sekaligus juga tertarik.
“Dia Kinasih, dan dia siap melayani setiap permintaanmu.”
Rekyan Wuru memandangi Kinasih yang saat itu mengenakan gaun hijau berbelahan dada rendah. Gadis itu menawarinya minuman, dan dia tersenyum penuh pengertian melihat Rekyan Wuru yang menikmati tonjolan buah dadanya ketika ia membungkuk menyajikan gelas-gelas di meja.
“Aku pergi dulu. Silakan nikmati persembahanku.” Hanggareksa pamit meninggalkan kamar.
Kini Rekyan Wuru hanya berdua dengan Kinasih. Agak kikuk gadis itu berhadapan dengan seorang lelaki tua yang pantas menjadi ayahnya, apalagi dengan kumis Rekyan Wuru yang tebal terlihat galak dan tegas. Mengingat waktunya tidak banyak, Rekyan Wuru segera mengutarakan keinginannya.
“Ayo sini, lemaskan otot-ototku yang kaku ini biar jadi segar.”
Ditariknya tubuh sintal Kinasih hingga duduk di pangkuannya. Ia ciumi pipi gadis itu, lalu bibirnya, sambil tangan Rekyan Wuru mulai meraba-raba di dada. Kinasih membalas dengan elusan dan remasan di selangkangan si lelaki tua, bisa dirasakannya kalau penis Rekyan Wuru mulai menegang dan menggeliat bangun.
Ciuman Rekyan Wuru kini turun ke leher dan bahu. Kinasih meremas lebih kuat kejantanan Rekyan Wuru yang telah mengeras. Tanpa melepaskan bibirnya, Rekyan Wuru menarik ikatan baju Kinasih. Dengan sedikit gigitan ia melorotkan kain hijau itu hingga turun ke perut. Tampaklah buah dada Kinasih yang bulat menantang hanya tertutup kemben.
“Montoknya,” Sedetik Rekyan Wuru memandangi buah dada itu, ada sorot mata kagum sebelum kepalanya ditanamkan di antara kedua bukitnya.
Tangannya dengan cekatan membuka ikatan kemben dan kembali dengan menggunakan gigi ia menarik penutup tubuh itu. Untuk kedua kalinya Rekyan Wuru memandang buah dada Kinasih dengan penuh kekaguman, tapi lagi-lagi tanpa banyak bicara kepalanya segera mengusap-usap kedua buah dada itu sambil meremas-remas gemas.
“Ughhh...” rintih Kinasih saat bibir Rekyan Wuru mulai menyentuh putingnya, ia rasakan kegelian karena kumis Rekyan Wuru yang tebal serasa menggelitik di dadanya.
Rekyan Wuru langsung menyedot puting itu seperti seorang bayi yang menetek, sambil lidahnya juga ikut bermain-main, sementara tangannya tak pernah lepas dari kedua bukitnya yang sintal dan indah. Begitu rakus Rekyan Wuru menyantap buah dada Kinasih, entah karena gemas atau mungkin sudah nafsu.
“Aghhh...” Kinasih mendesis perlahan, tubuhnya menggelinjang merasakan hisapan Rekyan Wuru yang bergantian mengulum dari satu puting ke puting yang lain. Ia remas-remas rambut laki-laki itu dan ditekannya kepala Rekyan Wuru ke dadanya. Dibantunya laki-laki itu melepas baju hingga tak lama Rekyan Wuru hanya tinggal mengenakan celana kain.
Kinasih perlahan berlutut, tangannya menggosok dan meremas-remas kejantanan Rekyan Wuru yang mulai menegang dari balik celana. Ia ciumi dada laki-laki itu, terasa napasnya menderu, tanda kalau Rekyan Wuru sedang menahan birahi. Tangan Rekyan Wuru juga sudah meraba-raba dada Kinasih kembali, meremas-remasnya, dan baru berhenti saat ciuman Kinasih beralih turun ke perut.
Pelan Kinasih mengeluarkan kejantanan Rekyan Wuru dari sarangnya, lumayan besar dan tegang. Gemas ia membelainya, lalu menciumi dan mengocoknya lembut. Sesekali ia jilat juga ujungnya yang tumpul, cairan bening nampak sudah meleleh dari lubangnya.
“Aghh.. terus, Nduk.” Rekyan Wuru mendesis sambil memperhatikan Kinasih yang mulai menjilat.
Lidahnya dengan pintar menjelajahi daerah kejantanan, dari ujung hingga ke pangkal, bahkan ke kantong telur Rekyan Wuru yang membikin desisannya menjadi semakin keras. Kombinasi antara jilatan dan kocokan tangan Kinasih membuatnya merem melek keenakan. Rekyan Wuru meremas-remas rambut gadis itu sambil menekan kepala Kinasih ke penisnya.
“Sini, Nduk.” Setelah beberapa saat, Rekyan Wuru menyuruh berhenti. Ia meminta agar Kinasih berdiri di atas tubuhnya.
Gadis itu menurut, dia kini berdiri di atas kursi menghadap tempat Rekyan Wuru duduk. Dikangkanginya laki-laki itu hingga belahan vaginanya tepat berada di depan wajah Rekyan Wuru. Kinasih mengangkat kakinya ke sandaran kursi, dengan begitu selangkangannya jadi terbuka semakin lebar.
“Hmm,” Lidah Rekyan Wuru langsung mendarat, menari-nari di kelentit dan lubang kencing Kinasih.
Gadis itu mendesah menikmati jilatannya, tanpa sadar pinggul Kinasih mulai ikut bergoyang. Bisa ia rasakan jilatan Rekyan Wuru yang menghebat menyapu liang vaginanya, membuatnya menggeliat dan menjepit kepala Rekyan Wuru di selangkangan. Ditekannya pantat ke muka laki-laki itu hingga Rekyan Wuru tertekan ke sandaran kursi.
 Dengan goyangan semakin tak terkontrol, vagina Kinasih seperti menyapu seluruh wajah Rekyan Wuru. Ia semakin kegelian ketika merasakan kumis Rekyan Wuru yang ikut menyapu daerah kewanitaannya. Diremasnya rambut laki-laki itu dan makin ia tekan pantatnya. Kinasih sudah tak peduli lagi bahwa yang ia kangkangi saat ini adalah seorang lelaki tua yang seharusnya ia hormati, yang dipedulikannya sekarang hanya menjemput kenikmatannya yang sebentar lagi tiba.
Ouh.. ohh.. sudah, Tuan. Nanti nanti s-saya... keluar!!” desah Kinasih tak tahan.
Rekyan Wuru lalu menuntun dan merebahkannya di ranjang. Ia tindih tubuh gadis muda itu sambil bibirnya menyusuri leher dan dada Kinasih yang sintal. Mereka saling melumat bibir ketika Rekyan Wuru mulai menyapukan batang penisnya di bibir kemaluan Kinasih yang sudah basah, lalu pelan-pelan mulai mendorong masuk. Makin lama makin dalam tertanam di liang kenikmatan. Tatapan mata Rekyan Wuru yang tajam tak pernah lepas dari wajah Kinasih saat penisnya melesak. Kembali ia mencium bibir gadis itu ketika mulai menarik dan mendorong pinggulnya.
“Ughhh... shhh...” Kinasih mendesis nikmat menerima kocokan ringan itu. Makin lama makin cepat penis Rekyan Wuru bergerak keluar masuk, membuat desahannya menjadi semakin keras.
Tubuh Rekyan Wuru menindih rapat tubuhnya, berkali-kali ciuman gemas mendarat di pipi dan bibir Kinasih. Dia menggeliat ketika bibir dan lidah Rekyan Wuru menyusuri leher dan telinganya, kumis Rekyan Wuru terasa menggelitik. Antara geli dan nikmat, Kinasih menjepitkan kakinya di pinggul laki-laki itu sambil memeluknya erat. Kejantanan Rekyan Wuru terasa semakin dalam melesak di liang vaginanya.
Aaaaaaaahhhhhh… aaaahhhhh...” jerit Kinasih ketika Rekyan Wuru menyodoknya keras.
Diremasnya rambut laki-laki itu, sodokan demi sodokan makin melambungkannya tinggi ke awan kenikmatan. Entahlah, Kinasih begitu menikmati cumbuan dan kocokan Rekyan Wuru, kini kedua kakinya sudah berada di pundak laki-laki itu. Pinggulnya sedikit terangkat, membuat Rekyan Wuru makin bebas dalam melesakkan kejantanannya, dan tentu saja makin nikmat yang Kinasih rasakan.
Lama Rekyan Wuru mengocok, tapi belum ada tanda-tanda akan keluar. Kinasih salut dengan fisik laki-laki itu, mengingat usia Rekyan Wuru yang sudah sekitar 50-an. Rekyan Wuru begitu pintar mengatur irama kocokan, saat akan keluar, ia tahan dengan menghentikan gerakan. Beberapa detik kemudian kembali mengocok dengan begitu cepat.
Mereka berganti posisi. Sekarang Rekyan Wuru menusuk dari arah belakang. Sambil mengocok, tangannya mengelus punggung Kinasih yang mulus. Kedua buah dada Kinasih yang menggantung dan bergoyang dengan bebasnya, diremas-remasnya dengan lembut seiring dengan irama kocokan.
Aaaaahh… terus, Tuan teruus!!” desah Kinasih sekeras kocokan Rekyan Wuru yang makin menghebat..
Dia menggoyangkan pinggul melawan gerakan laki-laki itu, dan efeknya sungguh hebat; vaginanya terasa diaduk-aduk oleh penis Rekyan Wuru. Laki-laki itu semakin dalam menancapkan penisnya, makin nikmat juga tentunya. Goyangan Kinasih jadi makin liar, dan tak lama kemudian tubuhnya menegang. Dia mencapai klimaks terlebih dahulu, vaginanya berdenyut kencang meremas-remas kejantanan Rekyan Wuru.
Laki-laki itu tak menghentikan kocokan, malah justru menjadi lebih cepat. Kinasih menjerit keras dalam kenikmatan, apalagi saat tiba-tiba ia rasakan denyutan hebat dari penis Rekyan Wuru yang menghantam dinding vaginanya, seperti pedang yang menusuk secara beruntun. Semprotan cairan sperma terasa hangat menyirami lorong vagina Kinasih.
“Ughh... hhuhh... ahhh...” Rekyan Wuru meremas pantat Kinasih erat-erat, sebelum kemudian tubuhnya melemas dan memeluk Kinasih dari belakang.
Mereka berdua jatuh telungkup dengan Rekyan Wuru masih berada di atas punggung Kinasih. Napas keduanya saling berpacu, lalu mereka telentang dalam kelelahan yang memuaskan.

***

Malam hari kian merayap perlahan, suasana sangat sepi bagaikan mati. Di rumah Mpu Hanggareksa, yang biasanya terdengar denting-denting kesibukan merawat dan membuat senjata, kini tampak bertabur kelengangan. Suara jengkerik dan belalang malam di luar pun tingkah meningkahi melengkapi kesunyian itu. Sekali-kali ada jeritan kelelawar jantan di kejauhan. Lolongan dan gonggongan anjing liar berebutan mangsa kadang meningkahi kesunyian malam itu.
Mpu Hanggareksa, lelaki tua yang rambutnya telah dihiasi uban itu kini duduk merenung bersandar pada kursi di ruang tengah. Dalam sekali ia mengisap cerutu hingga asapnya pun perlahan-lahan sekali keluar dari bibirnya yang hitam. Kadang-kadang lelaki tua yang tampak lelah itu terbatuk-batuk.
Saat itulah dari ruangan dalam muncul seorang pemuda tampan dengan wajah kuyu. Sinar matanya tampak meredup dan memandang lelaki tua di hadapannya dengan hormat dan ada perasaan takut. Kedua tangannya terjalin sambil memain-mainkan jemarinya untuk menghilangkan rasa segan. Beberapa saat ia kelihatan ragu-ragu sekali ingin membuka bibirnya yang sudah meliuk-liuk. Pada saat lelaki tua itu tiba-tiba berpaling kepadanya, buru-buru ia merunduk dan mengerjap-ngerjapkan matanya tidak berani membalas tatapan tajam mata ayahnya.
"Ayah memanggil saya?"
"Duduklah, Dwipangga!" Lelaki tua itu menghela napas dalam-dalam. Diperhatikannya putranya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Lelaki itu tersenyum dingin lalu mengangguk-angguk.
"Dwipangga."
"Ya, Ayah."
"Apa benar kau mencintai gadis itu?"
"Saya mencintainya, Ayah."
"Sungguh?"
"Sungguh, Ayah."
"Aku belum begitu yakin. Soalnya kau seringkali membuat onar karena perkara perempuan. Aku khawatir kali ini pun kau tidak bersungguh-sungguh."
"Kali ini saya bersungguh-sungguh, Ayah."
"Apa kau sudah mempersiapkan diri?"
"Saya sudah siap menikahi putri Rekyan Wuru. Saya berjanji akan menjadi suami yang baik."
"Kau tahu artinya menikahi seseorang? Artinya kau harus sadar, bahwa mulai saat itu kau sudah tidak bebas lagi. Kau mempunyai tanggung jawab yang lebih besar. Kau akan memasuki tahap kehidupan yang lebih rumit. Kau tidak bisa berbuat semaumu lagi. Kau harus bekerja untuk memberi makan keluargamu. Kau harus bisa membahagiakan anak isterimu. Kau harus bisa mendidik anak-anakmu agar nanti mereka mampu untuk hidup mandiri."
"Saya akan menuruti segala nasihat Ayah."
"Semua kebiasaanmu yang buruk mesti kau campakkan. Harus kau ganti dengan yang baik. Yang berguna untuk membangun keluarga. Nah, Dwipangga, kalau kau sudah paham dan sudah mempersiapkan itu semua, Ayah merestui pernikahanmu."
"Ohh, terima kasih, Ayah. Semua nasihat Ayah akan saya junjung tinggi." Wajah Arya Dwipangga tampak berseri-seri. Ia mengangguk hormat dan bersimpuh di kaki ayahnya sambil menciuminya penuh perasaan haru.
Lelaki tua itu mengulurkan tangan kirinya, mengusap dan membelai rambut putranya. Lalu meremasnya penuh kasih sayang. Anak dan ayah itu seolah-olah terlepas dari beban berat yang menindih selama ini. Wajah mereka berseri-seri ditimpa cahaya pelita yang remang-remang di ruangan itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar